RSS

Bahasa Indonesia SMA/MA

MATERI SMA/MA

Kesimpulan Buku Bahasa Indonesia

Kelas X, XI dan XII : Semester I dan II

 

A. Membaca

Rumus membaca cepat; Jumlah kata yang dibaca  x 60 = jumlah kata permenit (kpm)

                                       Jumlah detik untuk membaca

Contoh                           900           x 60 = 300 kata permenit

                                       180 (3 menit)

Membaca ialah melihat dan memahami dari apa yang tertulis atau melafalkan apa yang ditulis.

Tips membaca nyaring;

1. Jangan membaca dengan cepat dan tergesa-gesa

2. Suara yang keras dan jelas

3. Lafal atau pengucapan yang jelas

4. Menggunakan jeda, intonasi, dan tekanan yang tepat

Membaca cepat berarti adanya pemahaman, dalam konteks pemahaman inilah makna sesungguhnya, bukan pada kecepatan bacaan. Agar dapat membaca cepat (BIPS/contoh kata kunci);

1. Bacalah sebuah tulisan sampai selesai

2. Beri tanda poin-poin penting

3. Catat point-point penting dan buat kata kunci

4. Pahami penjelasan kata kunci

5. Sampaikan pada orang lain atau membaca dengan keras

Regresi adalah kebiasaan kembali ke belakang untuk melihat kata atau beberapa kata yang baru dibaca

Subvokalisasi melafalkan dalam batin atau pikiran kata-kata yang dibaca

Membaca ekstensif; membaca sebanyak-banyaknya dalam waktu yang singkat

1. Membaca survei

2. Skiming ialah membaca sekilas 

3. Membaca dangkal; membaca yang dilakukan untuk mendapatkan hiburan dan rekreatif, misalnya membaca, komik, cerpen dan novel ringan.

4. Membaca cepat/memindai (scanning); tujuannya mendapatkan informasi lebih tepat dan cepat.

Membaca intensif ialah membaca secara sungguh-sunguh dan mendalam untuk memperoleh informasi

Membaca intensif;

1. Mengembangkan pertanyaan pemandu; pentingkah buku ini? Berapa banyak informasi pentingnya?

2. Membaca buku secara teliti dari awal sampai akhir

3. Mengendapkan apa yang dibaca

4. Melihat ulang yang belum dipahami

5. Mencatat dengan benar, ingat teori 5M

Sistem Cornel ditemukan Dr. Walter Pauk yakni 5 C sebagai cara mencatat;

Catat; hal-hal menarik

Ciutkan; sederhanakan dengan kata kunci

Ceritakan ulang; sampaikan ulang pada orang lain agar langgeng dalam ingatan

Congak; tanpa melihat catatan, ingatlah kembali apa yang dicatat dan disampaikan (jeda untuk mengingat) Tanda-tanda

Ragam bahasa baku; ragam bahasa tinggi yang digunakan sesuai kaidah kebahasaan, biasanya digunakan di dunia pendidikan dan karya ilmiah.

Ragam bahasa lisan; menggunakan media lisan yang terikat dengan ruang dan waktu, dalam penulisan biasanya diapit dengan tanda petik

Ragam bahasa tulisan; menggunakan media tulis dalam menyampaikan sesuatu

Ragam bahasa resmi yang digunakan calam acara resmi, surat resmi dan pengadilan

Ragam bahasa tifak resmi yakni penggunaan bahasa pasaran, okem dan jenis bahasa lainnya

Iklan ialah pemberitahuan pada khalayak ramai mengenai barang atau jasa yang di pasang di media cetak dan elektronik.

Dari segi sifat, iklan dibedakan dalam;

1. Iklan pengumuman

2. Iklan penawaran/permintaan

3. Iklan reklame; memuji suatu produk agar orang membeli

 

Peran Grafik dan Indeks;

1.memberikan daya tarik pada pembaca

2.memperkuat gagasan yang terdapat dalam teks

3.meyakiinkan pembaca

4.menegaskan keterangan dalam teks

5.memberikan gambaran realita berita

Internet yang lebih dikenal dengan Net yakni jaringan komputer terbesar di dunia, dalam salah tulisan Harun Yahya disebut bahwa jaringan internet mengambil ilham dari cara lebah membangun sarang.

Fasilitas yang ada di internet

Surat elektronik (email); surat menyurat melalui dunia maya

Word Wide Web (www); menggabungkan teks, gambar-gambar, suara, dan animasi yang memungkinkan berpindah-pindah dengan hanya mengklik mouse (alat sentuh untuk ipod)

Pemanggilan informasi; informasi di internet disuguhkan secara bebas

Mesin pencari; caranya clik www.google.co.id lalu ketik informasi yang hendak dicari, misal belajar otodidak. Bisa juga dengan mengklik www.yahoo.co.id.

Bulletin Board; sebuah system yang dinamai Usenet adalah bulletin board yang hebat terdistribusikan secara online, seperti Usernet Group

Games, Gosip dan berita Online; kamu bisa bermain games secara online dengan bermacam-macam orang di dunia, mencari berita gosip dan membaca berita online dari surat kabar Republika, Kompas, SCTV, Indosiar, dan lain-lain.

Kalimat utama dalam sebuah paragraf terdapat;

1. Awal paragraf disebut paragraf Deduktif

2. Akhir paragraf disebut paragarf Deduktif

3. Paragraf Campuran antara awal dan akhir paragraf

4. Paragraf Tersirat (tidak ada antara ketiganya)

Paragraf narasi ialah kalimat-kalimat yang berisi rangkaian peristiwa, waktu, atau tempat. Terbagi;

a. Paragraf ekspositoris; rangkaian perbuatan/peristiwa yang disampaikan secara informatif agar pembaca mengetahuinya.

b. Paragraf sugestif; rangkaian perbuatan/peristiwa yang dibuat sedemikian rupa untuk membangkitkan daya khayal tentang hal tersebut.

Macam-macam paragraf deskripsi

1.Paragraf diskripsi spasial; paragraf yang melukiskan ruang atau tempat berlangsungnya suatu peristiwa, membuat subuah ruang seakan-akan hadir di hadapan pembaca.

2.Paragraf deskripsi objektif; menggabarkan suatu hal atau orang apa adanya tanpa dibumbuhi khayalan atau sesuai keadaan aslinya.

Paragraf eksposisi ialah paparan tentang sesuatu secara sistematis (urutan tertentu), logis dan pertautan antarkalimat. Terbagi dalam;

1. Paragraf eksposisi pengembangan proses; menganilasi sesuatu dari suatu bagian ke bagian lainnya, setiap bagian diuraikan secara bertahap.

2. Paragfraf eksposisi pengembangan ilustrasi; memberikan pemaparan dengan memberikan ilustrasi, contoh; makhluk hidup – manusia, binatang, tumbuhan atau pohon – mangga, durian, dan apel

Paragraf Argumentasi yakni uraian tentang sesuatu disertai alasan yang kuat, logis dan pendapat yang didasarkan fakta.

Tesis; praduga seseorang tentang suatu hal; setiap manusia pintar

Anti tesis; lawan dari praduga sebelumnya (tesis); tidak setiap manusia pintar

Sintesis; menggabung antara keduanya dalam sebuah pendapat baru; hakikatnya setiap manusia pintar, hanya saja sebagian yang tidak mampu memanfaatkan dan mengembangkan kecerdasan, terjebak dalam kebodohan.

Pola pengembangan paragraf induktif  yaitu generalisasi, analogi, sebab akibat kausal.

1. Generalisasi

a. Budi, Surti, Andri dan Yuli dalam satu kelas yakni keluarga A

b. Jumlah anggota keluarga 4 orang

c. Di antara 4 anggota keluarga, terdapat 3 orang sakit dan satu sehat

d. Sakit adalah ciri umum dari keluarga A

e. Disimpulkan; keluarga A sakit

2. Analogi

a. Kertas putih; masih bersih, masih polos, belum bermanfaat, berpotensi ditulis

b. Bayi; masih bersih, masih polos, belum bermanfaat, berpotensi dididik, dibimbing

Perbandingan antara dua objek yaitu kertas putih dan bayi

Terdapat kesamaan antara kertas putih dan bayi

Kesimpulan; Antara kertas putih dan bayi terdapat persamaan di samping perbedaan keduanya. Jika kertas putih ditulis dengan ilmu pengetahuan, tentu akan bermanfaat, demikian juga bayi yang dididik atau dibimbing dengan baik, tentu akan bermanfaat saat dewasa nantinya.

3. Sebab Akibat (Kausal)

Contoh sebab akibat; A. Rajin belajar                                            A. Selalu rengking satu di kelasnya

Contoh akibat sebab; A. Selalu selalu rengking satu di kelasnya   A. Rajin belajar

Pola pengembangan deduktif

I. Silogisme kategorial; suatu argumen deduktif yang mengandung suatu rangkaian yang  terdiri dari tiga preposisi, dua preposisi premis mayor dan premis minor, dan sebuah konklusi atau kesimpulan

Premis mayor; preposisi dianggap benar bagi semua anggota kelas golongan tertentu (A) memiliki sifat hal ter tertentu (B), contoh; semua buruh (A) adalah manusia pekerja (B)

Premis minor; preposisi yang mengidentifikasi seluruh peristiwa (fenomena) yang khusus (sebagai anggota kelas tersebut) atau premis yang menyatakan bahwa sesuatu atau seseorang C anggota   

dari kelas tertentu (A), Premis mayor; semua buruh (A) adalah manusia pekerja (B)

Premis minor ; Andi C adalah seorang buruh (A)

Kesimpulan; preposisi yang menyatakan bahwa yang benar tentang seluruh kelas, juga benar atau berlaku bagi anggota tertentu atau pernyataan yang menyatakan bahwa sesuatu atau seseorang (C) juga memiliki sifat atau hal tersebut dalam bagian B (B)

Premis mayor; semua buruh (A) adalah manusia pekerja (B)

Premis minor ; Andi (C) adalah seorang buruh (A)

Kesimpulan; Andi (C) adalah manusia pekerja (B)

Kaidah silogisme

a. Sebuah silogisme harus terdiri dari 3 preposisi yaitu premis mayor, premis minor, dan kesimpulan

b. Ketiga preposisi terdiri dari 3 term; term mayor (yang merupakan predikat kesimpulan), term minor (yang merupakan subjek kesimpulan), dan term tengah (yang menghubungkan premis mayor dan premis minor) lihat contoh di atas.

c. Bila salah satu premisnya universal atau umum dan yang lainnya partikular atau khusus, kesimpulannya harus bersifat partikular atau khusus.

Premis mayor; semua manusia berakal budi (universal)

Premis minor; Kusno adalah manusia (partikular)

Kesimpulan; Kusno berakal budi (partikular)

d. Bila salah kedua premisnya universal, kesimpulannya harus universal

Premis mayor; semua buruh adalah manusia pekerja

Premis minor; semua tukang batu adalah buruh

Kesimpulan; semua tukang batu adalah manusia pekerja

e. Dari dua premis negatif tidak dapat ditarik kesimpulan

Premis mayor; Semua anggota PKI bukan warga negara yang baik

Premis minor; Ia bukan anggota PKI

Kesimpulan; Ia warga negara yang baik (kesimpulan yang dibuat salah, apakah hanya PKI yang merupakan warga negara yang baik?)

f. Dari dua presmis yang bersifat partikular tidak dapat diturunkan kesimpulan

Premis mayor; Muhammad Ali adalah seorang petinju

Premis minor; Muhammad Ali adalah warga negara AS

Kesimpulan; Muhammad Ali …..?

II. Entimem adalah silogisme yang dipersingkat. Entimen hanya terdiri atas premis khusus dan kesimpulan dari silogisme kategorial. Entimen mengandung penyimpulan sebab akiba dari kedua preposisi tersebut, yaitu preposisi khusus (premis khusus) merupakan sebab bagi apa yang terkandung di dalam preposisi kesimpulan. Rumus Entinem ialah; E : C = B karena C = A

                                                                                                 K                  PK

Perhatikan contoh berikut ini

Silogisme kategorial : PU : Semua buruh (A) adalah manusia pekerja (B)

                                    PK : Susilo C adalah seorang buruh (A)

                                    K   : Susilo C adalah manusia pekerja (B)

Entinem                    : Susilo adalah manusia pekerja karena ia seorang buruh

                                                          K                                            PK

III. Silogisme hipotesis; proses penalaran yang mengandung hipotesis; silogisme yang bertolah dari suatu pendirian bahwa ada kemungkinan yang disebut preposisi itu tidak ada atau tidak terjadi.

Rumus;

Premis mayor; Jika P (maka) Q

Premis minor; P

Kesimpulan; Q

Contoh;

Premis mayor; Jika tidak turun hujan (P), panen akan gagal (Q)

Premis minor; Hujan tidak turun (P)

Kesimpulan; Panen akan gagal (Q)

              atau

Premis mayor; Jika tidak turun hujan (P), panen akan gagal (Q)

Premis minor; Hujan turun (P)

Kesimpulan; Panen tidak gagal (Q)

IV. Silogisme Alternatif; preposisi yang mengandung kemungkinan-kemungkinan atau pilihan-pilihan. Jika premis minor menerima satu alternatif, alternatif lain ditolak.

Premis mayor; Ayah ada di rumah atau di kantor

Premis minor; Ayah ada di rumah

Kesimpulan; Ayah tidak ada di kantor

                    atau

Premis mayor; Ayah ada di rumah atau di kantor

Premis minor; Ayah ada di kantor

Kesimpulan; Ayah tidak ada di rumah

 

B. Menulis

Struktur surat lamaran pekerjaan:

a. tanggal surat

b. lampiran

c. perihal

d. alamat

e. salam pembuka

f. isi

g. salam penutup

h. nama serta tanda tangan

Unsur-Unsur dalam Notulen Rapat; nama kegiatan, nama organisasi penyelenggara, tanggal penyelenggaraan, tempat, waktu, peserta, pemimpin, ringkasan jalannya rapat, hasil rapat dan catatan khusus.

Menyimak ialah mendengarkan isi bahan simakan. Tujuannya untuk memahami dan menghayati pesan yang tersirat dalam bahan simakan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan;

1.Kondisi mental dan fisik dalam keadaan baik

2.Mampu memusatkan pikiran dan pendengaran

3.Memiliki tujuan saat menyimak sesuatu

4.Mempunyai minat pada apa yang disimak

5.Kemampuan linguistik (kebahasaan) yang memadai

6.Memiliki pengalaman dan pengetahuan memadai

Naskah berita terbagi dalam empat bagian; judul, teras berita/ringkasan berita (lead, intro, paragraf pembuka), tubuh berita (detail) dan penutup berita (ending).

Cara menulis berita;

1.Memulai menulis paragraf pertama yang dapat berupa ringkasan berita atau ucapan seorang tokoh

2.Melengkapi tulisan berita berdasarkan bahan yang dikumpulkan dengan cara 5 W 1 H (What, Where, When, Who, Why dan How).

3.Usahakan menulis berita dengan Piramida Terbalik unsur-unsur penting dalam teras berita, penjelasan dalam tubuh berita, dan semakin ke bawah berkurang hal penting yang diungkapkan.

4.Bahasa yang digunakan singkat, padat, sederhana dan teratur.

Esai yakni karangan berbentuk prosa yang mengupas suatu hal/masalah dengan topik tertentu untuk mendorong pembaca meneripa suatu pandangan.

Esai yang baik harus berisikan antara lain: pendapat atau pandangan, pembuktian atas pandangan tersebut, dan ilustrasi atau contoh. Formatnya sebagai berikut ini.

Topik

1. Pendapat 1

a. penjelasan

b. pembuktian

c. contoh

2. Pendapat 2

a. penjelasan

b. pembuktian

c. contoh

3. dan seterusnya

Menurut bentuknya, esai dibedakan menjadi beberapa macam.

1. Esai formal (formal essay) adalah esai yang tujuan dan situasinya resmi, misalnya topik yang ditujukan pada pembaca yang serius. Penulis mengupas secara ilmiah dan sistematis

2. Esai informal (informal essay) adalah esai yang tujuan dan situasinya tidak resmi, biasanya ditujukan pada pembaca umum. Penulis menulis secara familiar, ringan, santai dan dibumbui humor/cerita.

3. Esai kritik (critical essay) adalah esai yang memberikan penilaian baik atau buruk pada suatu karya disertai alasan kuat, misal; kritik sastra.

4. Esai naratif (narratif essay) atau esai cerita yang berusaha menghadirkan sesuatu nampak nyata di hadapan pembaca seakan-akan turut merasakan, menyaksikan dan menyentuhnya.

5. Esai argumentatif (argumentative essay) bertujuan meyakinkan pembaca untuk menerima ide, pandangan, sikap atau kepercayaan penulis.

6. Esai paparan (exposisive essay) bertujuan memaparkan suatu hal kepada pembaca

7. Esai lukisan (deskriptive essay) adalah esai yang berusaha menggambarkan sesuatu pada pembaca agar mereka mengetahui dan memahaminya.

8. Esai ajakan (persuasive essay) adalah esai yang bertujuan mengajak pembaca agar menyetujui pendapat, melakukan sesuatu atau berpikiran sama.       

Merangkum yakni kegiatan menyatukan (merangkai) pokok-pokok pembahasan/ pembicaraan yang terpencar. Langkah-langkah merangkum yakni;

1.Tentukan gagasan utamanya dulu

2.Tulis pokok-pokok bahasan/wicara

3.Urutkan pokok-pokok bahasan/wicara

4.Pertahankan sudut pandang penulis/penyampai

Tulis kembali dalam sebuah karangan yang singkat

Ringkasan ialah bentuk ringkas yang mempertahankan isi dengan memperhatikan urutannya, sedang ikhtisar ialah bentuk ringkas yang tanpa harus memperhatikan urutannya.

Dalam membuat ringkasan, langkah yang harus diambil;

1. Membaca naskah asli secara lengkap

2. Mencatat gagasan inti; memberi tanda poin-poin penting

3. Melakukan Reproduksi; menyusun ulang ringkasan berdasarkan poin-poin penting yang dicatat

4. Menggunakan bahasa yang singkat dan padat; berusaha menggunakan kalimat tunggal dan malah dianjurkan dipadatkan dalam dua kata atau tiga kata.

Cara membuat ringkasan;

1.Ringkas dan padat

2.Menggunakan kalimat efektif

3.Jelas urutan pokok masalah

4.Menggunakan pola pikir logis dan berkesinambungan

5.Tidak menyimpang dari pokok masalah

Perbedaan ikhtisar dengan ringkasan;

1.Ringkasan menyajikan tiap bagian secara proporsional, mirip dengan aslinya, sedang ikhtisar memusatkan pada bagian yang penting saja.

2.Urutan penyajian mengikuti urutan karangan asli, sedang ikhtisar tidak mesti mengikuti yang asli, hanya menyajikan yang terpenting

3.sama sama berpusat pada setiap paragraf

Tema; pokok pikiran yang mewakili keseluruhan karangan

Topik; pokok pikiran

Judul; nama yang mewakili isi

Langkah-langkah dalam menyusun resensi kumpulan cerpen:

1. Pengenalan terhadap buku yang dirensisi; tema dan diskripsi isi buku, penerbit, pengarang, dan penggolongan buku.

2. Membaca buku yang diresensi secara komprehensif, cermat dan teliti

3. Menandai bagian-bagian penting yang hendak dikutip/dibahas

4. Membuat sinopsis buku

5. Menentukan sikat atas; kerangka penulisan, isi pernyataan, bahasa dan aspek teknis

6. Mengoreksi dan merevisi hasil resensi

Tujuan resensi:

1. Memberikan informasi apa yang ada dalam sebuah buku

2. Memberikan pertimbangan pada pembaca tentang sebuah buku

3. Mengajak pembaca berpikir dan membahas masalah atau isi buku

Resensi adalah tulisan yang memberikan penilaian atau pertimbangan terhadap sebuah karya.

Unsur-Unsur Resensi buku

1.Identitas buku; judul, nama pengarang, tahun terbit, nama penerbit, kota dan tempat terbit

2.Pokok-pokok isi buku (poin-poin penting yang diungkapkan dalam resensi)

3.Keunggulan isi buku; kemurnian ide, gaya bahasa, dan jenis karangan

4.Kekurangan isi buku

5.Memberi saran yang dapat ditambahkan pada isi buku

6.Perbandingan dengan buku lain dengan tema sama

7.Kesimpulan

Contoh identitas buku:

Judul buku  : “Mau Kuliah Alternatif? Belajar Otodidak, Dong!”

Penulis        : Ahmad Zamhari Hasan

Penerbit      : Ka-Tulis-Tiwa-Press Jakarta

Tebal          : 294 Halaman

Cet.            : I, Mei 2007

Berikut ini format baku penulisan Resensi Buku

1. judul resensi harus meliputi keseluruhan isi resensi

2. data buku; judul buku, pengarang, penerbit, tahun terbit beserta cetakannya, tebal buku, harga buku

3. Pembukaan; membahas tentang pengarang, karya dan prestasinya, membandingkan buku yang sejenis, memaparkan kekhasan buku atau pengarang, memaparkan tema buku, kritik terhadap kelemahan buku, kesan terhadap buku, memperkenalkan penerbit, mengajukan pertanyaan, dan membuka dialog.

4. Tubuh/isi resensi; sinopsis, ulasan singkat, keunggulan buku, kelemahan buku, kerangka buku, Tinjauan bahasa dan kesalahan cetak

5. Penutup; untuk siapa dan mengapa buku tersebut.

Karya Tulis Ilmiah!

Karya tulis yang ditulis berdasarkan peneliatian disebut Karya Ilmiah. Secara garis besar Karya Ilmiah terdiri dari; bagian pelengkap pendahuluan, bagian isi atau pembahasan, dan bagian pelengkap penutup.

Bagian Pelengkap Pendahuluan; Halaman Judul,  Halaman Motto (boleh dicantumkan/tidak), Halaman Pengesahan, Kata Pengantar (Ucapan syukur, tujuan, kesulitan dan terima kasih) Daftar Isi (Pendahuluan, judul bab, bagian pelengkap penutup; tulis dengan hruf kapital) Daftar Tabel, dan Abstrak (judul dan isi, tujuan, metode, dan hasil penelitian)

Unsur-unsur isi Karya Ilmiah;

1. Pendahuluan; latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, metode penelitian, dan sistematika tulisan.

2. Tujuan penelitian; maksud penulisan dan sasaran yang dicapai disesuaikan dengan perumusan masalah

3. Metode penelitian berisi cara melaksanakan penelitian untuk memperoleh data dan cara mengolah data

4. Hipotesis jawaban sementara terhadap sebuah masalah yang perlu diuji kebenarannya

5. Bab pembahasan; solusi permasalahan yang diungkapkan dalam inti penelitian

6. Kesimpulan akhir

Penelitian ialah kegiatan mengumpulkan, mengolah, menganalisa dan menyajikan data yang dilakukan secara sistematis dan obyektif untuk memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesa.

Unsur-Unsur dalam penelitian terdiri dari; judul penelitian, obyek atau tujuan penelitian, landasan teori yang mendasari penelitian, hasil penelitian, pembahasan hasil penelitian, kesimpulan, dan data hasil penelitian.

Teknik Penulisan Karya Ilmiah

Karya ilmiah diketik di atas kertas kuarto atau A4 dengan jarak 2 spasi, ukuran pias atas dan kiri 4 cm, dan pias bawah dan kanan 3 cm

Penyusunan judul bab dan subjudul diberi nomor beraturan dan konsisten ( Bab I. A. 1.  a. 1). a) )

Judul bab ditulis dengan huruf kapital seluruhnya, sedang subjudul ditulis huruf awalnya saja kapital

jarak judul bab ke sub judul 4 spasi, sedang sub judul ke uraian berjarak 2 spasi

Dari urutan terakhir ke subbab diberik jarak 4 spasi

Pengetikan nomor di halaman bahwah ditaruh di tengah (centre) sedangkan untuk halaman selanjutnya  nomor halaman diletakkan di atas sebelah kanan.

Teknik penulisan kutipan;

Deskripsi ialah menggambarkan atau melukiskan bagaimana bentuk atau wujud suatu objek (Keraf, 1995;7),  Keraf (1995;7) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan deskripsi ialah menggambarkan atau melukiskan bagaimana bentuk atau wujud suatu objek.

Bagian pelengkap penutup berisi daftar pustaka dan lembar lampiran (misalnya tabel, grafik, gambar, denah dan sebagainya).

Dalam menyusun daftar pustaka harus memperhatikan;

1.Nama dengan dua unsur atau lebih di balik, misal Zamhari Hasan ditulis Hasan, Zamhari

2.Jika terdiri dari dua orang, nama pertama yang dibalik, misal Jakob Sumardjo dan Saini K.M ditulis Sumardjo, Jakob Saini K.M

3.Jika lebih dari 3 orang, hanya nama pertama yang ditulis Singarimbun, Mastri Dkk

4.Jika pada urutan daftar pustaka terdapat nama penulis atau lembaga yang sama, daftar urutan penulis atau lembaga pada urutan berikutnya ditulis 7 ketukan dan diberi titik, misal

Keraf, Gorys, 1995, Eksposisi Komposisi Lanjutan II. Jakarta, Gramedia. ——-. 1982. Argumentasi dan Narasi. Jakarta; Gramedia.

Di samping dari buku dapat mengambil daftar pustaka dari buku ilmiah di internet atau informasi lain di dunia maya, caranya;

1. Jika perorangan, ditulis pengarang/penyunting. Tahun. Judul (edisi). [jenis medium). Tersedia alamat di internet. [tanggal akses]. Contoh;

Thomson A. 1998. The Adult and The Curriculum. [online]. Tersedia; Http://www.wduluc.edu/EPS/PES-Yearbook/1998/thomson.html. 30 maret 200

2. Jika bagian dari karya kolektif, ditulis pengarang/penyunting. Tahun. Dalam sumber (edisi). [jenis medium). Tersedia alamat di internet. [tanggal akses]. Contoh; 

Daniel R.T. 1995. The History Of Western Music, In Britanica Online; Macropedia. [Online] . Tersedia; htto://www.eb.com.180/cgi-bin/g:Dog F=macro/5004/45/O.html. [28 Maret 2000]

3. Jika artikel surat kabar yang dimuat di internet, ditulis; Pengarang. (Tahun, tanggal, bulan). Judul. Nama surat kabar. [jenis media], jumlah halaman. Tersedia; alamat di internet. [tanggal akses]

Cipto, B (2000, 27 April) “Akibat Perombakan Kabinet Berulang, Fondasi Reformasi dapat runtuh”. Pikiran Rakyat [online], 8 halaman. Tersedia; http://www.pikiranrakyat.com. [9 Maret 2000]

4. Jika pesan dari email, ditulis; Pengirim (alamat email). (tahun, tanggal, bulan). Judul pesan. Email kepada penerima (alamat email penerima). Contoh; Musthafa, Bahruddin (musthafa@indo.net.id). (2000, 25 April). Bab V Laporan Penelitian. Email: Dedi Supriadi (Supriadi@indo.net.id)

Novel Winnetou Kepala Suku Apache karya Karl May penulis fiksi Jerman, yang karyanya paling banyak diterbitkan di negaranya yakni 80 judul buku, terjual lebih dari 125 juta buah, belum termasuk yang diterjemahkan dalam 35 bahasa dunia. Dirinya terpengaruh dengan kisah 1001 malam. Tujuan menulis baginya ialah demi perdamaian antarbangsa, keagungan ras manusia yang mulia dan menjadikan masyarakat lebih berkemanusiaan.

Laporan; pemberian informasi pada pihak yang lebih tinggi atau atasan

Dari sudut isi dan fungsinya, laporan terbagi menjadi;

1.Laporan informatif; memberikan informasi pada pembaca

2.Laporan Pertanggungjawaban

3.Laporan rekomendasi; memberikan penilaian tentang suatu hal sesuai hasil pengamatan

4.Laporan analitis; informasi yang diberikan mendalam dengan menyertakakan pendapat

Sebelum melakukan penelitian dan menulis laporannya, para siswa/siswi harus;

1. Tempat yang akan dituju, sudah dihubungi sebelumnya untuk memohon izin jika bukan tempat umum

2. Mengungkapkan tujuan

3. Menyiapkan peralatan yang dibutuhkan

4. Melaksanakan pengamatan dengan memperhatikan setiap objek secara teliti

5. Mencatat hasil pengamatan

6. Membuat laporan hasil penelitian

Unsur-Unsur dalam Proposal ; Nama Kegiatan, Dasar pemikiran, Tujuan, Ruang lingkup Kegiatan, Pelaksanaan, Kepanitiaan, Penganggaran, Acara Kegiatan (terlampir), Penutup.

Proposal atau rencana kegiatan ialah rencana kerja yang dituangkan dalam bentuk rancangan kerja. Berdasarkan bentuknya, proposal terbagi dalam;

a. Proposal berbentuk formal

b. Proposal berbentuk semiformal

c. Proposal berbentuk nonformal

Proposal berbentuk formal, terdiri tiga bentuk besar;

a. Bagian Pendahuluan

1)halaman judul

2)kata pengantar

3)ikhtisar/abstrak

4)daftar isi

5)Penegasan permohonan

b. Isi proposal

1) Pembatasan masalah

2) latar belakang

3) tujuan

4) ruang lingkup

5) anggaran dasar

6) metodologi

7) kepanitiaan

8) keuntungan dan kerugian

9) waktu

10) biaya

c. Bagian Penutup

1) daftar pustaka

2) lampiran

3) tabel

Proposal semiformal dan nonformal merupakan variasi dari proposal bentuk formal. Dilihat dari segi isinya terbagi dalam bentuk komples dan sederhana, proposal yang kompleks sama dengan proposal formal, sedang proposal yang sederhana meliputi;

a. nama kegiatan

b. dasar pemikiran

c. tujuan kegiatan

d. manfaat kegiatan

e. ruang lingkup

f. waktu dan tempat kegiatan

g. kepanitiaan

h. anggaran biaya, dan

i. penutup

 

C. Tata Bahasa

Bentuk terikat adalah kata yang tidak dapat berdiri sendiri; adi (menyatakan sesuatu yang luar biasa) antar (menyatakan hubungan) anti (menyatakan perlawanan) swa (menyatakan kemandirian) semi (menyatakan setengah atau tengah-tengah) mono (menyatakan satu/tunggal) pasca (menyatakan sudah) de (menyatakan mengurangi, keluar dari, suatu ubahan dari) maha (menyatakan yang paling/lebih)

Fungsi imbuhan/Afiks ke-an

1.Membentuk kata kerja

2.Membentuk kata benda

Makna imbuhan ke-an;

1.Menyatakan peristiwa yang telah terjadi; kenyataan itu sungguh pahit

2.Menyatakan tempat atau daerah; Andri bekerja di kedutaan RI

3.Menyatakan kena atau menderita suatu hal; Ia kehujanan semalam

4.Menyatakan perbuatan yang tidak sengaja; Ia ketiduran semalam

5.Menyatakan terlalu; baju Narji kebesaran

6.Menyatakan menyerupai; kebarat-baratan

Konjungsi atau penghubung antarkalimat ialah kata atau gtabungan kata yang menghubungkan satu kalimat dengan kalimat lain.

Fungsi konjungsi antarkalimat:

1. Konjungsi yang menyatakan pertentangan dengan kalimat sebelumnya, konjungsinya; biarpun demikian/ begitu, sekalipun demikian/begitu, walaupun demikian/begitu, meskipun demikian/begitu, sungguhpun demikian/begitu.

2. Konjungsi yang menyatakan hal, peristiwa, atau keadaan lain di luar yang dinyatakan sebelumnya; tambahan pula, lagi pula, selain itu.

3. Konjungsi yang menyatakan keadaan yang sebenarnya; sesungguhnya, bahwasanya.

4. Konjungsi yang menyatakan akibat; oleh karena itu, oleh sebab itu

5. Konjungsi yang menyatakan kebalikannya; sebaliknya

6. Konjungsi yang menguatkan keadaan sebelumnya; bahkan

7. Konjungsi yang pertentangan dengan keadaan sebelumnya; namun, akan tetapi

8. Konjungsi yang menyatakan konsekswensi; dengan demikian

9. Konjungsi yang yang menyatakan mendahului keadaan sebelumnya; sebelum itu

10. Konjungsi yang menyatakan lanjutan dari peristiwa atau keadaan kalima; sedudah itu, setelah itu, selanjutnya.

Sinonem dapat terjadi antara; morfem dengan morfem, morfem dengan kata, kata dengan frasa, frasa dengan frasa, serta antarkalimat dengan kalimat.

Buku itu kepunyaanku = yang merupakan morfem terikat besinonem dengan saya (morfem bebas). Kalimat aktif dapat bersinonim dengan kalimat pasif. Contoh frasa; meninggal dunia, berpulang ke rahmatullah.

Kata berantonim tidak mutlak berlawanan, sebab yang berlawanan adalah maknanya. Kata antonim diganti dengan Opisi oleh Verhaar sebab misalkan kata putuh bukan sekadar berlawanan dengan hitam, tapi juga dengan kuning, hijau dan lain-lain. Berdasarkan sifatnya oposisi dibedakan menjadi:

1. Oposisi mutlak pada dua kata; hidup X mati

2. Oposisi kutub atau gradual; pertentangan yang bersifat gradasi (tinggkat-tingkat makna kata), contoh; jauh dekat, panjang pendek, tinggi rendah.

3. Oposisi hubungan/ralasional; mengandung hubungan kebalikannya, contoh; mundur maju, pergi pulang, ayah-ibu, guru-murid

4. Oposisi majemuk mencakup perangkat yang terdiri dari dua kata atau lebih, khususnya berhubungan dengan hiponim-hiponim dalam satu kelas, misal; berdiri, duduk, berbaring, tiarap dan jongkok.

5. Oposisi hirarkial; mirip dengan oposisi majemuk, hanya terdapat kriteria tambahan yaitu tingkatan, misal milimeter x kilometer, Januari x Februari.

Polisemi yakni kata yang memiliki makna lebih dari satu, contoh kepala bermakna; bagian tubuh dari leher ke atas, bagian sebelah atas, pemimpin, jiwa, akal budi

Membedakan Kalimat Tunggal dan Kalimat majemuk

1. Anda melakukan kontak dengan penderita penyakit SARS

    S            P                                        O

Merupakan contoh dari kalimat tunggal karena terdiri dari satu Subjek (S) satu Predikat (P) dan satu Objek (O)

2. Dalam perawatan      Anda   tidak perlu khawatir    sebab             SARS  

            Keterangan           S                  P                    Konjungsi          S

bukan penyakit yang tidak bisa disembuhkan.

                      P

Merupakan contoh kalimat majemuk karena terdiri dari 2S 2P dan 1 K atau terdiri dari pola atasan yakni (K-S-P) dan satu pola bawahan yaitu konjungsi-S-P.

Sebuah kalimat tunggal dapat diperluas menjadi kalimat majemuk. Perluasan tersebut dapat terjadi pada subjek, predikat, objek, pelengkap, atau keterangan

Contoh; Murid itu pintar (tunggal), murid itu sakit (tunggal) digabung menjadi; murid yang pintar itu sakit (majemuk dengan perluasan anak kalimat subjek).

Contoh; Bibi Hana mencuci pakaian (tunggal) Bibi Hana menyetrika pakaian (tunggal), digabung menjadi; Bibi Hana mencuci dan menyetrika pakaian (majemuk dengan perluasan anak kalimat predikat).

Kalimat majemuk koordinatif ialah dua klausa yang digabungkan oleh konjungsi sebagai tanda hubungan dua klausa tersebut. Contoh; Gempa bumi menggoncang Poso dan (gempa bumi) menewaskan 5 orang.

Macam kalimat majemuk setara koordinatif:

1. Kalimat majemuk setara menggabungkan. Konjungsinya; dan, serta, lagi, pula, juga

2. Kalimat majemuk setara mempertentangkan. Konjungsinya; tetapi, namun, sedangkan, melainkan

3. Kalimat majemuk setara memilih. Konjungsinya; atau

4. Kalimat majemuk setara menguatkan. Konjungsinya; bahkan, malahan

5. Kalimat majemuk setara mengurutkan. Konjungsinya; lalu, kemudian, setelah itu, sesudah itu

6. Kalimat majemuk setara menjelaskan isi. Konjungsinya; bahwa, yaitu, ialah, adalah, yakni

Kalimat majemuk bertingkat (subordinatif) ialah jika terdapat klausa induk dan klausa bawahan, contoh; Pencuri sepeda motor itu dibakar massa  sebelum (ia) ditangani polisi setempat.

                                          Klausa induk                                             Klausa bawahan/klausa anak

 

Macam kalimat majemuk bertingkat (selanjutnya disingkat KMB) ditentukan oleh sifat konjungsi yang menghubungkan klausa-klausanya.

Menyatakan hubungan waktu; saat, sebelum, selama, setelah, seraya

Menyatakan hubungan syarat; jika, kalau, bila, jikalau

Menyatakan hubungan tujuan; untuk, demi, bagi, supaya, agar

Menyatakan perbandingan; daripada, bagai, umpama, seperti, bak

Menyatakan hubungan sebab; karena, sebab, oleh sebab, karena itu

Menyatakan hubungan akibat; sehingga, maka

Menyatakan hubungan pengandaian; seandainya, sekiranya

Menyatakan hubungan pengecualian; kecuali, selain

Menyatakan hubungan cara; dengan

Menyatakan hubungan alat; dengan

Menyatakan hubungan  kemiripan; seolah-olah, seakan-akan

Perbedaan kalimat aktif dan pasif

1. Kalimat aktif terdiri dari subjek, predikat dan objek. Contoh; Adik mencuri uang ayah

2. Kalimat pasif terdiri dari objek, predikat dan subjek. Contoh; Uang ayah dicuri (oleh) adik

Kalimat aktif dibedakan dalam dua macam

1. Kalimat aktif transitif yakni yang bercirikan; predikatnya berupa verba transitif atau verba yang berawal meN-, dan memiliki objek. Contoh; Dokter memeriksa pasiennya (S-P-O) Henny menjalani operasi kanker otak (S-P-O). Kalimat aktif transitif dibedakan atas;

a. Kalimat aktif ekatransitif, yaitu kalimat yang hanya memiliki satu objek. Contoh; Petani mengairi sawah.

b. Kalimat aktif bitransitif yaitu kalimat yang hanya memiliki dua objek. Contoh; Kakek membelikan adik   boneka

  O         O

2. Kalimat aktif intransitif; predikatnya dapat berupa verba berawalan selain meN-, kata dasar, baik itu verba maupun nonverba, dan tidak memiliki objek. Contoh; Kami    duduk-duduk    di depan teras

                                                                                                     S                 P                       K

Kalimat korelatif ialah kalimat yang hubungan antarbagiannya bersifat sederajat, hal ini ditandai dengan konjungtif korelatif (pasangan konjungsi yang secara tetap yang menguhubungkan dua klausa atau lebih). Pasangan-pasangan konjungsi tersebut ialah;

baik …… maupun……….

tidak hanya …… tetapi (…) juga …..

apakah ….. atau ….

entah ….. entah ….

jangankan …. pun ….

semakin ….. semakin …..

bertambah …. bertambah ….

kian …. kian ….

bukanlah … melainkan …..

selain …. juga ……

Denotasi; makna kata sesungguhnya. Contoh; saya makan nasi

Konotasi; bukan makna kata sesungguhnya. Contoh; kamu secantik rembulan di angkasa

Bentuk ulang atau kata ulang ialah bentuk bentuk gramatikal yang berwujud penggandaan sebagian atau seluruh bentuk dasar, contoh; anak-anak berkumpul di depan kelas,

Jenis-jenis kata ulang:

1. kata ulang dwipurwa (kata ulang dari suku kata pertama dari sebua kata), contoh; laki  (lalaki) lelaki. 

2. Kata ulang dwilinga; pengulangan bentuk dasar seutuhnya, contoh; pedagang-pedagang

3. Kata ulang dwilinga salin suara; pengulangan bentuk dasar seutuhnya, tapi ada perubahan bunyi pada salah satu fonem, contoh; ramah-tamah, corat coret.

Makna-makna kata ulang dikategorikan berdasarkan golongan bentuk dasarnya berikut ini.

1. Bentuk dasar nomina (kata benda)

a. Menyatakan jamak, contoh; buku-buku, acara-acara

b. Menyatakan menyerupai atau tiruan hal yang disebut dalam kata dasar

2. Bentuk dasar verba (kata kerja)

a. Intensitas atau pekerjaan yang dilakukan berulang-ulang, contoh; memukul-mukul, mencari-cari

b. menyatakan saling (resiprok) atau pekerjaan berbalasan, contoh; tolong menolong,

c. Menyatakan perbuatan yang dilakukan seenaknya, contoh; jalan-jalan, membaca-baca

d. Menyatakan pekerjaan seperti yang ada pada bentuk dasar, contoh; tulis menulis, karang mengarang

3. Bentuk dasar adjektiva (kata sifat)

a. menyatakan kesangatan, contoh; kuat-kuat, dalam-dalam

b. Menyatakan agak, contoh; kemerah-merahan

c. Menyatakan paling, contoh; sekuat-kuatnya, setinggi-tingginya

4. Bentuk dasar Numeral (kata bilangan), contoh; dua-dua, tujuh-tujuh

Memahami indeks dalam buku

al-salih, Ahmad, 14   (sesuatu yang berhubungan dengan Ahmad al shalih ada di halanan 14)

Alas dialek, 34

Ali Topan Detektif Partikelir, 132

al-Nawawi, 21

Alisjahbana, Sutan taqdir, 93, 94, 98, 103

Kata penghubung ialah kata yang berfungsi menghubungkan kata yang mendahuluinya atau sebuah kalimat dengan kalimat yang mendahuluinya. Beberapa jenis kata penghubung;

1. Kata penghubung gabungan; dan, lagi, lalu, kemudian\

2. Kata penghubung penunjuk waktu; saat, ketikwa, waktu, sejak

3. Kata penghubung penunjuk tujuan; agar, supaya, biar

4. Kata penghubung penunjuk perlawanan; tetapi, hanya, padahal

5. Kata penghubung penunjuk sebab; sebab, karena

6. Kata penghubung penunjuk syarat; jika, kalau, asal

7. Kata penghubung penunjuk pelaku; bahwa

8. Kata penghubung penunjuk sebab yang tidak dipedulikan; biarpun, meskipun, walaupun

Puisi Balada terbunuhnya Atmo Karpo karya W.S. Rendra

Parafrase ialah penguraian kembali suatu teks dalam bentuk sususan kata yang lain supaya supaya dapat menjelaskan makna yang tersembunyi

Awalan pe berfungsi membentuk kata benda

1. Menyatakan pelaku; perampok, penulis, pembuat

2. Menyatakan orang yang di ….; pesuruh, petatar

3. Menyatakan orang yang biasa bekerja di suatu tempat; peladang, pelaut

4. Menyatakan orang yang gemar sesuatu; pecandu, pemakan

5. Menyatakan orang yang memiliki sifat seperti dalam kata dasar; pemalas, pemurah, pendendam

Notulen rapat ialah catatan singkat dan padat mengenai jalannya rapat dan hal yang diputuskan dalam rapat.

Fungsi awalan me- membentuk kata kerja, baik transitif maupun intransitif dengan menekankan pelaku (S) kalimat. Makna awalan me-;

1. Melakukan suatu perbuatan; menari, menyanyi, melangkah

2. menuju ke bila kata dasar menunjukkan tempat; melaut, menepi, mengangkasa

3. menghasilkan atau membuat suatu hal; menguak, menyalak

4. berlaku atau menjadi seperti; membantu

5. menjadi bila kata dasarnya kata sifat atau bilangan; menyatu, memerah, mengecil

6. mempergunakan atau bekerja dengan apa yang disebut dalam kata dasar; menyapu, mencangkul

7. membuat atau menghasilkan seperti dalam kata dasar; menggulai, menyambal, merujak

Imbuhan pe-an mempunyai alomorf pem-an, pen-an, peny-an, peng-an, dan pnge-an. Alomorf ialah morfem yang sama, yang bervariasi bentuknya akibat pengaruh lingkungan yang dimasukinya. Fungsi pe-an ialah membentuk kata benda. Makna imbuhan pe-an

1. Menyatakan proses atau pembuatan me-, contoh; pelatihan, pendaftaran

2. Menyatakan hasil, contoh penghargaan

Kata-kata yang berasal dari bahasa Arab seperti bismillah, silaturrahmi, wassalam, jika dimasukkan dalam bahasa Indonesia, maka tidak ada penulisan dobel atau ganda, berarti yang benar; bismilah, silaturahmi, wasalam.

Penggunaan kata-kata salah yakni penggunaan dua kata dengan makna sama, seharusnya hanya mengunakan salah satu, misal;

1.Menuntut ilmu adalah merupakan kewajiban kita semua. (Buang salah satu)

2.Kita harus menguasai beberapa bidang ilmu, seperti misalnya Agama, IPA dan Bahasa

3.Sayang amat sangat setuju pendapatmu!

Penggunaan bahwa merupakan penanda subjek (berupa anak kalimat) dalam kalimat pasif, juga merupakan penanda subjek yang berupa anak kalimat pada kalimat yang menggunakan adalah, merupakan, atau ialah.  Contoh; Bahwa awan tebal itu pertanda akan hujan, Bahwa karangan ini memiliki kekurangan adalah kelemahan saya.

Kata pukul untuk menunjukkan waktu, sedang jam menunjukkan jangka waktu/masa/berapa lama, contoh; Pukul berapa Tante Ria datang? Tante Ria datang pukul 10.00. Aria belajar 2 jam setiap hari.

Dalam menggunakan pasangan kata yang benar yakni antara dan dan bukan antara dan melawan

Salah: Nanti malam berlangsung pertandingan antara kesebalasan Indonesia melawan Brasil

Benar; Nanti malam berlangsung pertandingan antara kesebalasan Indonesia dan Brasil

Kata-kata umum yang salah, Sambutan Bapak Wanto, kepala sekolah SMA Master, waktu dan tempat kami persilahkan! Hal ini mengandung makna seadakan-akan yang diundangkan waktu dan tempat. Contoh yang benar; Sambutan Bapak Wanto, selaku kepala sekolah SMA Master, kepadanya persilahkan!

Bentuk Resiprokal adalah bahasa yang mengandung arti berbalasan, hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan kata saling dan kata berimbuhan, contoh;

1.Sesama sopir dilarang saling mendahului

2.Sesama sopir dilarang dahulu mendahului

Contoh penulisan jamak yang salah;

1. Hadir beberapa menteri-menteri ke Master

2. Kita harus mematuhi beberapa aturan-aturan

3. Para siswa-siswa harus rajin belajar

Ingatlah! Kata beberapa, berbagai, dan para bermakna banyak, maka penulisan yang benar

1. Hadir beberapa menteri ke Master

2. Kita harus mematuhi beberapa aturan

3. Para siswa harus rajin belajar

Perusahaan banyak yang gulung tikar (bangkrut) dalam krisis global, sehingga banyak orang yang banting stir (mengubah sikap atau cara hidup) menjadi wirausahawan. Gelombang besar (perkembangan pesat) informasi dan teknologi turut andil memperparah keadaan.

Kata yang dicetak miring disebut idiom atau ungkapan.

Idiom dilihat dari segi makna, yaitu penyimpangan

Ungkapan lebih pada ekspresi kebahasaaan dan emosinya dalam bentuk yang dianggap paling tepat dan paling kena.

Metafora digunakan untuk membandingkan sesuatu yang lain dari yang lain, contoh matahari disebut raja siang

Peribahasa dan artinya;

1. Hidup segan mati tak mau (keadaan kritis atau gawat)

2. Melihat fajar di ufuk Timur (harapan untuk keluar dari krisis)

3. Lepas dari mulut harimau dan masuk ke mulut buaya (keluar dari masalah pertama dan terjerumus pada masalah lainnya)

4. Besar pasak daripada tiang (lebih banyak pengeluaran dari penghasilan)

5. Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup dijajah bangsa asing (mempertahankan harga diri sampai mati.

6. Makin hari makin menggunung (makin lama makin bertambah banyak).

7. Bak telur di ujung tanduk (terdesak atau terjepit)

8. Keledai pun tak akan jatuh ke masalah yang sama kedua kalinya (belajar dari pengalaman)

Konjungsi atau penghubung antarkalimat ialah kata atau gtabungan kata yang menghubungkan satu kalimat dengan kalimat lain.

Fungsi konjungsi antarkalimat:

1. Konjungsi yang menyatakan pertentangan dengan kalimat sebelumnya, konjungsinya; biarpun demikian/ begitu, sekalipun demikian/begitu, walaupun demikian/begitu, meskipun demikian/begitu, sungguhpun demikian/begitu.

2. Konjungsi yang menyatakan hal, peristiwa, atau keadaan lain di luar yang dinyatakan sebelumnya; tambahan pula, lagi pula, selain itu.

3. Konjungsi yang menyatakan keadaan yang sebenarnya; sesungguhnya, bahwasanya.

4. Konjungsi yang menyatakan akibat; oleh karena itu, oleh sebab itu

Frasa verbal ialah satuan bahasa yang terbentuk dari dua kata atau lebih dengan verba/kata kerja sebagai intinya, tapi bukan klausa, misalkan; sudah dapat, belum datang, akan datang, tidak dapat ditulis sebaliknya; dapat sudah, datang belum, datang akan.

1. Sejak kecil mereka sudah dilatih disiplin oleh sang Ibu

2. Agenda reformasi belum tercapai

3. Kita dapat melakukan kegiatan bermanfaat setiap hari

Verba inti kalimat di atas ialah dilatih, tercapai, dan melakukan, sedang sudah, belum, dapat merupakan pewatas yang termasuk kategori adverbia. Adverbia berfungsi menjelaskan verba, misal adverbia belum menjelaskan verba tercapai. Adverbia lainnya ialah; masih, telah, sedang, tengah, akan, pernah, baru, mulai, tidak, harus, mungkin, boleh dan lain-lain.

Unsur-unsur bahasa antara lain, adalah, yaitu, di antara, seperti, di samping sebagai penanda hubungan contoh dan penanda transisi untuk sebuah perincian, juga berfungsi menyatakan dan menjelaskan dua uncur yang sama, contoh; Sebagian besar dari mereka adalah juga warga ibu kota karena orang tuanya memiliki KTP DKI.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menulis alasan, perincian dan contoh.

1. Jika perincian berupa kalimat, setelah penanda hubungan contoh atau rincian diberi tanda (.)

Contoh : Ajib Rosidi (1985) membuat periodisasi sastra Indonesia sebagai berikut.

a. Periode kelahiran hingga (1945)

b. Periode perkembangan (1945-kini)

2. Jika rincian berupa kata atau frasa, setelah penanda hubungan contoh atau rincian diberi tanda (:)

Contoh: Mempelajari suatu bahasa dapat dilakukan dengan cara: menyimak, meniru, dan mempraktikkan.

Penanda-penanda perincian dan contoh yang sering dipakai untuk memberikan alasan terhadap suatu konsep adalah sebagai berikut.

antara lain: ….,……, dan …….

sebagai berikut ini: (a)…., (b)……, dan (c)…….

adalah: ….,……, dan …….

adalah: (a)…., (b)……, dan (c)…….

yaitu: ….,……, dan …….

ialah: (1)…., (2)……, dan (3)…….

yakni: (a)…., (b)……, dan (c)…….

di antaranya: ….,……, dan …….

seperti: ….,……, dan …….

meliputi: (a)…., (b)……, dan (c)…….

Perubahan Makna

Kata perempuan dan laki-laki seringkali diganti dengan kata wanita dan pria karena dianggap lebih tinggi nilai rasanya. Perubahan makna dalam bahasa Indonesia karena beberapa faktor menurut Chaer.

a. Perkembangan di bidang ilmu pengetahuan, sastra dari makna tulisan menjadi karya imajinatif

b. Perkembangan sosial budaya, misal saudara menjadi siapa saja yang dianggap sederadat dan berstatus sosial sama

c. Perbedaan bidang pemakaian misal menggarap (sawah) menjadi mengerjakan

d. Adanya asoiasi, misal amplop menjadi uang suap/pelicin

e. Adanya pertukaran tanggapan indera, pedas (lidah) menjadi pedas (pendengaran)

f. Perbedaan tanggapan, adanya nilai rasa dan halus, misal kamu menjadi sampean

g. Adanya penyingkatan,misal dokter menjadi dok, bukti pelanggaran menjadi tilang

h. Proses gramatikal

i. Pengembangan istilah; papan yang bermakna lempengan kayu tipis menjadi perumahan

Jenis perubahan makna

1. Perluasan makna (generalisasi); dari makna khusus menuju makna umum/luas. Cakupan makna sekarang lebih luas dari dahulu. Misal kakak bisa bermakna saudara kandung tua atau orang yang lebih tua dan dihormati.

2. Penyempitan makna (spesialisasi); dari makna lebih umum ke makna khusus/sempit. Cakupan makna sekarang lebih sempit dari dahulu. Contoh; sastra dulu semua karya tulis disebut sastra, sekarang makna sastra udah menyempit pada karya-karya tertentu.

3. Peningkatan makna (ameliorasi); pergeseran makna yang mana makna baru dianggap lebih tinggi/hormat/halus dari makna sebelumnya. Contoh; Jika ingin ke WC atau buang air besar/buang air kecil, lebih baik menggunakan kata-kata ke belakang.

4. Penurunan Makna (peyorasi); kebalikannya yakni makna baru dianggap lebih rendah/kurang baik. Contoh; kata bunting lebih kasar dari hamil, mengandung, berbadan dua.

5. Persamaan sifat (asosiasi); makna kiasan. Contoh; amplop atau sampul surat diasosiasikan sekarang dengan uang sogok atau uang pelicin.

6. Sinestesia; pergeseran makna akibat pertukaran tanggapan dua indera. Contoh; Suaranya hambar (pergeseran indera pendengar ke indera rasa)

7. Perubahan total; misalkan kata ceramah dulunya bermakna cerewet, sekarang berarti pidato/arahan

Kata namun, akan tetapi, dan sedangkan menandai hubungan perlawanan. Akan tetapi terdapat perbedaan fungsi; Penanda namun dan akan tetapi menghubungkan kalimat atau paragraf sebelum dan sesudahnya, sedangkan penanda sedangkan menghubungkan klausa. Akan tetapi menghubungkan kedua kalimat, sedang namun menghubungkan antara kedua paragraf. Penanda hubungan perlawanan lainnya; tetapi, melainkan, walaupun, begitu, kendatipun demikian, hanya, sekalupun, sungguhpun, walau, sebaliknya dan padahal.

Contoh; Namun, siapa yang dapat melakukan semua itu?

Penanda hubungan perbandingan dapat menggunakan; seperti, sebabgaimana, daripada, bagai, seakan-akan, seolah-olah, serasa, seumpama, baik, seolah, sama halnya, berbeda dengan.

Contoh; Kita berharap Indonesia menjadi negara maju, seperti; Jepang, China, AS dan India

 

D. Wicara

Pembawa acara harus memperhatikan;

1.Menguasai situasi

2.Menguasai kaidah bahasa resmi, umum dan bahasa pasaran sesuai acara

3.Mempunyai kepercayaan diri

4.Menggunakan gerak gerik yang wajar

5.Memiliki penampilan yang luwes dan penuh improvisasi

Persiapan rancangan acara yang matang

1.Pembukaan

2.Pembacaan ayat suci Al-Qur’an

3.Sambutan

4.Acara Inti

5.Doa/Penutup

Tuntunan bagi pembawa acara

1.Memulai acara dengan Basmalah (Bismillahirrahmanirrahiem)

2.Memperkenalkan diri secara singkat

3.Menyapa massa atau hadirin, kalimat-kalimat sapaan diungkapkan dengan penuh rasa hormat

4.Menyampaikan komentar di sela-sela antara satu acara dengan lainnya

5.Menyelesaikan acara dengan ucapan terima kasih dan ucapan hamdalah (Alhamdulillah)

Hal-hal yang perlu diperhatikan saat menyampaikan pidato;

1. sampaikan dengan intonasi dan artikulasi yang tepat

2. berikan tekanan dinamik pada kata-kata yang menonjolkan pikiran tertentu

3. gunakan gerak mimik yang sesuai dengan ekpresi komunikasi pada audiens

4. Yakinkan diri bahwa sedang menyampaikan sesuatu yang baru dan belum pernah didengar audiens

Secara sederhana isi keseluruhan pidato;

1. Pembukaan; syukur, salawat, perkenalan tema pidato, gambaran umum isi pidato, humor sebagai pengantar.

2. Isi pidato; ayat/hadits, penjelasan, alasan, bukti pendukung, ilustrasi, contoh, Angka, perbandingan, kontras, diagram, cerita yang relevan dan humor.

3. Penutup; kesimpulan isi pidato, ajakan melakukan sesuatu, penegasan isi pidato, permohonan maaf, dan pantun.,

Melaporkan hasil diskusi

a. judul diskusi

b. waktu dan tempat

c. peserta

d. jalannya diskusi

e. hasil kesimpulan diskusi

Manfaat mengajukan pertanyaan dalam diskusi:

1. merangsang kemampuan berpikir kreatif peserta;

2. membantu meningkatkan rasa percara diri; dan

3. membantu pencapaian tujuan diskusi yang ditetapkan

Ketika mengajukan pertanyaan, sejumlah hal harus diperhatikan:

a. Pertanyaan harus jelas dan singkat

b. Pertanyaan bersifat kritis, sistematis dan logis

c. Pertanyaan bersifat memecahkan masalah

d. Tidak mengulang pertanyaan yang sama

Diskusi berasal dari bahasa latin discutio atau discusum yang berarti bertukar pikiran. Macam-macamnya ialah

1. Diskusi kelompok; bertukar pikiran secara kelompok untuk memahami dan memecahkan masalah dalam satu disiplin ilmu atau permasalahan kehidupan.

2. Diskusi panel; bertukar pikiran antara tiga sampai enam orang ahli di suatu bidang ilmu yang dipandu oleh seorang moderator dan disaksikan sejumlah pendengar.

3. Seminar; bertukar pikiran tentang suatu masalah yang diangkat dari penelitian atau hasil kajian literatur (kepustakaan). Dalam seminar terdapat; moderator, notulis, pemrasaran, pembanding, partisipan, dan pembimbimbing (guru/tenaga ahli).

Dalam diskusi  terdiri dari;

a. Pembicara; penyaji/penyampai makalah

b. Moderator; pengatur jalannya diskusi/seminar

c. Notulis; pencatat hasil seminar

d. Peserta; pengikut seminar, bisa aktif (bertanya/menanggapi) atau pasif (mendengarkan saja)

Kegiatan seminar merupakan salah satu aktivitas ilmiah, maka laporan yang dibuat harus ilmiah. Berikut ini cara menuli hasil laporan ilmiah

(Nama Lembaga Penyelenggara)

Laporan Hasil Seminar

(Judul Seminar)

I.Pendahuluan

a. Latar belakang seminar

b. Tujuan seminar

c. Hari/tanggal dan tempat seminar

II.Pelaksanaan seminar

a. Pembicara

b. Moderator

c. Notulis

d. Peserta

III.Hasil Seminar (deskripsikan rangkuman hasil seminar)

IV.Kesimpulan Seminar

V.Lampiran

a. Susunan panitia

b. Makalah

c. Daftar hadir

d. Surat izin pelaksanaan (jika ada)

 

(tempat, tanggal, bulan, tahun)

                                          Mengetahui

                                          Pembicara,                                                  Notulis

 

(nama terang)                                           (nama terang)

 

 

E. Puisi

Bait; satu kesatuan puisi yang terdiri dari beberapa baris

Rima; persamaan atau pengulangan bunyi

Irama mirip irama musik sama-sama diatur oleh ukuran waktu dan tempo. Definisinya; alunan yang tercipta oleh kalimat yang berimbang, selingan bangun kalimat, dan panjang pendek (kemerduan) bunyi (dalam prosa).

Bentuk-bentuk puisi lama:

1.Mantra; puisi yang berisi puji-pujian terhadap hal ghaib atau dikramatkan

2.Bidal; bahasa kiasan dalam mengungkapkan sesuatu, seperti; pepatah, tamsil, kiasan, perumpamaan dan pameo.

3.Pantun; empat baris dalam satu bait, pertama dan kedua sampiran, ketiga dan keempat isi

4.Talibun merupakan jenis pantun yang tiap baris lebih dari empat baris, jumlah baris dalam tiap bait selalu genap.

5.Gurindam; tiap-tiap bait terdiri dari dua baris, persajakannya a a.

6.Seloka; Pantun berbingkai

7.Syair; empat baris dalam satu bait dengan persajakan aa-aa

8.Kit’ah puisi Arab yang berisi nasihat-nasihat

9.Gasal puisi Arab yang berisi cinta kasih

10.Nazam puisi Arab yang cerita hamba sahaya, sultan, pangeran atau bangsawan

11.Ruba’i puisi-puisi Arab yang berkaitan dengan nasihat-nasihat

12.Masnawi puisi Arab yang merupakan pujian terhadap orang-orang yang dimulyakan

Sastra lama Indonesia dipengaruhi sastra Arab, sedang sastra baru dipengaruhi Barat, adapun kaidah mutlak puisi lama;

a. Jumlah baris atau kalimat dalam setiap bait

b. jumlah suku kata atau kata dalam setiap kalimat

c. rima atau persamaan bunyi

d. irama

Puisi adalah karya sastra dengan bahasa dipadatkan, dipersingkat, diberi irama dan pemilihan kata-kata kias atau imajinatif.

Ciri-ciri Kebahasaan Puisi menurut Herman J. Waluyo;

1.Pemadatan bahasa; kata-kata membentuk larik dan bait atau bahasa dipadatkan.

2.Pemilihan kata khas puisi bukan bahasa prosa dan sehari-hari; kelam sunyi

           a. Makna kias atau yang bukar arti sebenarnya; hari mudaku telah pergi

     b. Lambang; pengantian suatu hal/benda dgn hal/benda lain; Burung dara jantan

     c. Persamaan bunyi/rima; persamaan bunyi yang harmonis

3.Kata kongkret; kuku-kuku besi bermakna kuda bersepatu besi

4.Pengimajian (pencitraan dalam puisi); kata atau susunan kata-kata dapat memperjelas apa yang dinyatakan penyair. Apa yang digambarkan seolah-olah dilihat (imaji visual), didengar (imaji auditif) dan dirasa (imaji taktil).

5.Irama atau Ritme

6.Tata wajah atau tata letak kata yang tidak lazim (mutakhir)

Judul puisi CINTA RUPIAH karya Taufik Isma’il

Judul puisi DI PANTAI LOSARI karya Eka Budianta

Judul puisi SAWAH karya Ali Hasjmy

Judul puisi SURAT DARI IBU karya Asrul Sani

Judul puisi Indonesia, Masihkah Engkau Tanah Airku karya Husni Djamaluddin

Judul puisi DOA karya Budiman S Hartoyo

Judul puisi Dieng karya Anita Rose Pantiana Saparjiman

Judul Soneta SAWAH karya Sanusi Pane

Judul Soneta CANDI karya Sanusi Pane

Judul Soneta TERATAI karya Sanusi Pane

Judul Soneta PAGI-PAGI karya Muhammad Yamin

Pelopor Soneta M. Yamin membawa dari Italia. Soneta terdiri dari 14 baris, tiga bait terdari empat baris, satu bait terdiri dari dua baris atau dua bait empat baris dan dua bait tiga baris)

Puisi baru bersifat bebas, meski demikian, dalam penelitian terdapat beberapa ciri khusus.

Berdasarkan jumlah baris, puisi baru dibedakan dengan;

1. Distikon; terdiri dari dua baris dalam setiap baitnya, bersajak a-a

2. Tarzina; setiap bait terdiri dari tiga buah kalimat. Bersajak; a-a-a, a-a-b, a-b-a, a-b-b.

3. Kuatrin sajak empat seuntai, setiap baris terdiri dari empat kalimat, bersajak ab\ab, aa-aa, atau aa\bb

4. Kuint; terdiri diri lima baris kalimat setiap baitnya, bersajak a-a-a-a-a

5. Sektet; enam buah kalimat setiap baitnya, tidak beraturan

6. Septina; tujuh buah kalimat setiap baitnya, sajaknya tidak beraturan

7. Stanza; sajak delapan seuntai, setiap bait terdiri dari delapan buah kalimat, disebut juga oktava/

Berdasarkan isinya terdiri dari

1.Ode; sajak yang mengandung pujian

2.Himne; sajak pujian pada Tuhan

3.Eligi; sajak duka nestapa

4.Epigram; saja yang berisi ajaran-ajaran moral

5.Satire; sajak yang isinya mengecam, mengejek dengan kasar dan sinis

6.Romanse; sajak cinta kasih

7.Balada; saja yang berisi kisah atau cerita bisa kisah nyata atau khayalan penyair

Puisi Mendalawangi Pangranggo karya Soe Hok Gie

Puisi Dalam Pasang karya Abdul Hadi WM

Majas; membandingkan dengan sesuatu yang lain secara halus atau berlebihan

1.Majas perumpamaan (simile) perbandingan dua hal yang dianggap sama walau sebenarnya berbeda, contoh; hidupnya seperti benalu yang menempel pada batang kayu. Biasanya mengunakan kata batu seperti, bagai, bagaikan, laksana, ibarat dan bak.

2.Majas Personifikasi; mengungkapkan benda mati seakan-akan hidup, Contoh; tanah ini merindukan hujan.

3.Majas Metafora; perbandingan diungkapkan secara singkat dan padat, tanpa penggunaan kata bantu.  contoh; jangan bergaul dengan lintah darat!

4.Majas Perbandingan yang bertautan dengan sesuatu yang lainnya. Misal; pernikahan, suami istri, bahtera kehidupan, kelahiran dan kematian.

Majas Pertentangan

1.Hiperbola; pernyataan yang berlebihan, contoh; tubuhnya kurus kering tinggal tulang belulang

2.Litotes; mengecilkan kenyataan yang sesungguhnya, contoh; pengorbananku tidak berarti dibanding kesuksesan yang kamu raih

3.Ironis; bertentangan dengan maksud sebenarnya dengan maksud menyindir atau mengolok-olok

contoh; rajin sekali kamu, jam 11.00 WIB baru bangun

4.Sinisme; sindiran secara langsung, contoh; perilakumu membuatku muak

5.Oksimoron; antarbagiannya menyatakan suatu pertentangan; cinta terkadang membuat bahagia, tapi terkadang juga membuat kesedihan.

Majas Pertautan

1.Matonimia; memakai nama ciri/hal yang ditautkan dengan nama orang, barang atau hal lain sebagai pengganti, conoh; Kami ke Bogor mengendarai Toyota

2.Sinekdoke; menyebutkan nama sebagainsebagai pengganti nama keseluruhan atau sebaliknya

a. Pars Pro toto; menyebutkan nama sebagian benda untuk benda itu secara keseluruhan, contoh; Ayah menyembelih dua ekor kambing pada Idul Adha kali ini

b. Pars pro parte; menyebutkan keseluruhan untuk sebagiannya, contoh; kelas kami medapat menghargaan kelas terbersih tahun ini.

3.Alusi; menunjuk secara tidak langsung pada suatu tokoh atau peristiwa yang diketahui bersama, contoh; Peristiwa ini mengingtkan kekejaman penjajahan Jepang di Indonesia

4.Eufimisme; penghalusan kata atau kalimat, “Bolehkah saya izin ke kamar kecil?”

5.Elipsis; menghilangkan satu unsur kalimat, tapi tetap dimengerti, contoh; Kami ke Yokyakarta dengan kereta api (menghilangkan predikat pergi).

6.Inversi; perubahan susunan kalimat, contoh; Aku dan dia telah berpisah – Telah berpisah aku dan dia.

Majas penegasan

1.Pleonasme; menggunakan kata-kata berlebihan dengan maksud menegaskan arti, contoh; Mari, naik ke atas, agar Anda dapat melihat pemandangan yang indah

2.Klimaks; menyatakan bebeberapa hal secara berurutan yang makin lama, makin menghebat, contoh; anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua memenuhi Pekan Raya Jakarta

3.Antiklimaks menyatakan bebeberapa hal secara berurutan yang makin lama, makin menurun, contoh; Bupati, para camat, dan para kepala desa mematuhi Undang-Undang Dasar

4.Retoris; bentuk pertanyaaan yang jawabannya sudah diketahui, contoh; siapakah yang tidak ingin hidup senang?

5.Aliterasi; memanfaatkan kata-kata yang bunyi awalnya sama, contoh; inikah indahnya impian?

6.Antanaklasis; ulangan makna kata sama dengan makna berbeda, contoh; ibu membawa buah tangan dari Malang yakni buah apel segar.

7.Repetisi; pengulangan kata untuk menegasan, contoh; selamat tinggal sahabat, selamat tinggal kawan, selamat tinggal sobat!

8.Paralelisme; sebagaimana repetisi, tapi dalam baris berbeda

Hati ini biru

Hati ini lagu

Hati ini debu

9.Kiasmus; berisi perulangan sekaligus inversi, contoh; mereka yang kaya merasa dirinya miskin, sedang mereka yang miskin merasa dirinya kaya.

Ajib Rosidi (1985) membuat periodisasi sastra Indonesia sebagai berikut

a. Periode kelahiran hingga (1945)

1) periode 1900 – 1933 Muhammad Yamin, Marah Rusli, Abdul Muis, Sanusi Pane

2) periode 1933 – 1942 STA, Amir Hamzah, JE Tatengkeng

3) periode 1942 – 1945 Umar Ismail, Idrus, El Hakim

b. Periode perkembangan (1945-kini)

1) periode 1945 – 1953 Chairil Anwar, Asrul Sani, Pramudya Ananta Toer, Mukhtar lubis

2) periode 1953 – 1961 WS Rendra, Ramadhan KH, Motinggo Busye, NH Dini, Sitor Situmorang

3) periode 1961 – sekarang; Taufik Ismail, A.A Nafis, Supardi Joko Damono, Danarto, Arifin C Noer

Novel Layar terkembang karya Sutan Taqdir Alisyahbana (STA) Tokoh utama; Yusuf dan Maria

Puisi Tanah Air karya Muhammad Yamin

Puisi Padamu Jua karya Amir Hamzah

Puisi Cocktail Party karya Toety Herati

Puisi Karangan Bunga karya Taufik Ismail

Puisi Awan karya Sanusi Pane

Puisi Salju karya Wing Kardjo

Puisi Ketika Senja Pergi dari Halaman ini karya Aslan A Abidin

Cerpen Perjalanan Dua Pencari Alamat karya Jujur Prananto

Puisi Kita Pemilik Sah Republik Ini karya Taufik Ismail dari kumpulan puisi Benteng dan Tirani 1993

Menurut Umar Kayam, pengaruh televisi harus dilihat dari sudut pandang agama, moral, etika dan sudut pandang pendidikan. Setelah itu perlu dirumuskan kembali kebudayaan Indonesia agar generasi muda tidak kehilangan jati diri menghadapi serbuan budaya asing melalui media. Inilah pentingnya bersikap kritis terhadap perkembangan dan pengaruh perubahan zaman.

Analisa sebuah puisi minimal terdiri dari

1.Deskripsi tentang tema

2.Melukiskan fungsinya

3.Mengungkapkan perasaan penyair

mengungkapkan harapan penyair

Diksi atau pemilihan kata harus memperhatikan:

a. Pilihan kata mencakup pengertian kata atau kalimat dalam mengungkapkan sebuah gagasan

b. Mampu membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dan gagasan yang ingin disampaikan; bentuk yang sesuai dengan nilai rasa

c. Memiliki perbendaharaan kata yang banyak dan luas.

 

F. Cerita

Sastra lama

Sastra Kuno; sastra sebelum adanya Sastra Hindu; mantra2, dongeng, kepercayaan terhadap arwah nenek moyang. Tokoh sastranya; dukun dan pendongeng.

Sastra

Sastra zaman Hindu antara abad 7-13 munculnya kerajaan Hindu. Hasil sastra berupa;

Adat istiadat, silsilah raja, asal usul manusia, keagamaan dan cerita2 kependidikan.

Sastrawan terkenal;

a)Empu Kanwa mengarang Arjunawijaya

b)Empu Tantular mengarang Sutasoma

c)Empu Prapanca mengarang  Negarakertagama

Sastrawan zaman Islam antara abad 14-19. Puisi pengaruh Islam yakni berbentuk syair pada awalnya. Pujangga zaman ini; Hamzah Fansuri syair Perahu, syair dagang dan Raja Ali karya Gurindam dua belas, syair Abdul Malik

Sastra Peralihan bercorak Melayu lama dengan tokoh Abdul Kadir Munsyi

Sastra baru yang diperngaruh corak sastra Barat

a)Balai pustaka 1917-1933

b)Pujangga baru 1933-1945 M Yamin, JE Tatengkeng, Rustam Efendi

c)Angkatan 45 Chairil Anwar

d)Angkatan 66 HB Yasin, Taufik Islmail, WS Rendra

e)Angkatan 80 Emha Ainun Nadjib, Musthafa Bisri

f)Angkatan 2000 Wiji Thukul

Cerpen Bulan Angka 11 karya Arie MP Tanpa

Cerpen Pohon Keramat karya Yus R. Ismail

Cerpen Kisah di Kantor Pos karya Muhammad Ali

Majas terdiri dari; majas perbandingan, pertentangan, Pertautan dan Penegasan

Novel di Bawah Lindungan Ka’bah karya Hamka (Haji Abdul Kariem Amrullah)

Sanusi Pane lahir 14 Oktober 1905 di Muarasipongi Sumut, meninggal 2 Januari 1968, di antara karyanya berbentuk drama (Manusia Baru) dan Puisi (Puspa Mega, Madah Kelana).

Surat berdasarkan bentuknya dibagi dalam surat resmi dan surat tidak resmi.

AA Nasis lahir 17 November 1924 di Padangpanjang Sumbar, meninggal 22 Maret 2003 dalam usia 79 tahun. Karyanya yang paling terkenal yakni Robohnya Surau Kami (Cerpen/Novel).

Film karya Asrul Sani 10 Juni 1927, Titian Serambut di Belah Tujuh, Apa yang Kau Cari Palupi, skenario Sinetron Kejarlah Daku Kau Kutangkap, dan menulis Ontologi Puisi Tiga Menguak Taqdir

Kiat menulis Cerpen;

1.Menulis karakter tokoh dalam cerita atau garis besar dari cerita

2.Tunjukkan karakter tokoh dengan tanpa memberitahukan pada pembaca

3.Jangan buat karakter yang sempurna

4.Gambarkan setting cerita seakan-akan pembaca mengalami langsung

5.Tulis apa saja yang ada di benak

6.Perbaiki tulisan

7.Buat awal dan akhir cerita yang menarik

8.Kirim tulisan ke media yang cocok

Unsur Instrisik cerpen

1. Tema; inti cerita yang mewakili keseluruhannya

2; Alur; jalannya cerita atau rangkain peristiwa yang susul menyusul dalam cerita

a. Peralihan dari suatu keadaan ke keadaan lain (peristiwa)

b. Konflik atau benturan masalah, pertarungan dua kekuatan dan aksi balas membalas

c. Klimaks; puncak konflik

3. Setting; latar belakang tempat, waktu dan suasana yang ada dalam cerita

4. Gaya bahasa; cara menulis mengungkapkan cerita dalam bahasa tertentu yang menarik

5. Tokoh; pemeran yang bermain dalam cerita. Biasanya terdiri dari tokoh utama, pembantu, figuran (pelengkap) dan antogonis (musuh/lawan).

6. Penokohan/Karakter; sifat atau watak tokoh dalam cerita

a. Berdasarkan peranan tokoh; tokoh utama dan tokoh tambahan

b. Berdasarkan fungsi penampilan tokoh; Protagonis (yang kita kagumi/jagoan/pahlawan) dan antagonis (lawan/tokoh jahat).

7. Ending; akhir dari cerita

Unsur Ekstrinsik ialah unsur-unsur yang berada di luar cerpen

1. Ekonomi

2. Sosial budaya

3. Politik

4. Agama

5. Pengarang

Penulisan naskah drama mengandung unsur-unsur;

1. Penulisan judul

2. Penetapan pelaku

3. Catatan penunjuk

4. Penetapan babak/lakon

5. Prolog (pengantar cerita), monolog (keterangan), dialog dan epilog (akhir)

6. Penulisan bagian-bagian naskah drama;

a. Pengenalan atau pemaparan (eksposisi)

b. Penggawatan atau insiden permulaan (konplikasi)

c. Penanjakan waktu atau konflik (rising action)

d. Krisis, titik balik atau puncak (klimaks)

e. Peleraian (falling action)

f. Penyelesaian atau keputusan (resolusi/katastrope)

Konflik dalam drama;

a. Konflik batin; adanya pertentengan, konlik dan masalah

b. Konlik kebudayaan; benturan dua suku dalam masyarakat atau lebih

c. Konflik sosial; pertentangan antar anggota masyarakat

Tokoh dan Penokohan

Pengarang melukiskan sifat-sifat tokoh/karakter dengan cara;

1. Secara langsung

a. Melukiskan secara langsung raut muka, tubuh, dan rambut

b. Pengarang mengatakan secara langsung bahwa sang tokoh; ramah, baik, pemarah, sombong

2. Secara tidak langsung

a. Melukiskan jalan pikiran atau apa yang ada dalam hati, misal keinginan menjadi penulis

b. Memperlihatkan reaksi tokoh terhadap suatu kejadian; marah atau diam

c. Melukiskan keadaan lingkungan sekitar kamar, rumah dan masyrakat

d. Melukiskan pandangan tokoh lain tentang tokoh utama/pembantu utama

e. Melalui dialog dalam cerita

Kelompok drama paling terkenal di Indonesia yakni Teater Koma pimpinan N Riantiarno

Unsur-unsur dalam drama; tema, alur/plot, tokoh dan karakter, dialog, latar/setting, sedang jika dipentaskan ditambah; gerak atau action, tata busana dan tata rias, tata panggung, tata bunyi dan tata lampu, dan amanat yang disampaikan.

Armijn Pane lahir di Muara Sipongi Sumut 18 Agustus 1908, meninggal di Jakarta 1970. Novel Belenggu dianggap sebagai perintis penulisan novel Indonesia Modern. Pernah menjadi redaktur majalah Pujangga Baru.

Novel Laskar Pelangi karya Andre Hinata

Novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman As Shirazi

Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari

Novel Salah Asuhan karya Abdul Muis dengan tokoh utama Hanafi (Pribumi) dan Corrie (Belanda)

Abdul Muis lahir di Solok Sumatera Barat 1886, di antara karyanya Salah Asuhan, Pertemuan jodoh dan Surapati. Beliau dianggap sebagai pahlawan nasional

Novel Pulang karya Toha Mohtar.

Novel terjemahan Lelaki Tua dan Laut karya Ernest Hemingway

Ernest Hemingway lahir di Oak Park AS tahun 1899, bukunya yang paling terkenal The Old Man And The Sea  (Lelaki Tua dan Laut) mendapat hadiah Pulitser Prize 1953 dan Nobel Praize in literature 1954.

Mengapresiasi karya sastra ialah upaya seseorang untuk memahami, menghayati, menafsirkan dan menulai sebuah karya sastra. Caranya ialah;

1.Mempersiapkan keterlibatan jiwanya/perasaan saat membaca

2.Memahami dan menghayati apa yang ditulis sebagai sebuah karya pantas dibaca

3.Memasalahkan dan menemukan hubungan dengan pengalaman nyata dalam kehidupan

Intrepretasi kehidupan; berusaha memotret kehidupan secara riil atau nyata, sehingga menonton merasa bahwa diri merekalah yang sedang dipentaskan.

Nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra

1. Nilai budaya menurut kontjoroningrat (1995;25) ide-ide yang mengkonsepsikan hal-hal yang paling bernilai dalam kehidupan masyarakat dan biasanya berakar dalam bagian emosional dari alam jiwa manusia.

2. Nilai sosial yang berkaitan dengan kehidupan kemasyarakatan

3. Nilai moral yang berhubungan dengan adab sopan santun, kesusilaan dan norma umum

4. Nilai agama yang berkaitan dengan keagaamaan dan norma hukum agama

5. Nilai sejarah

6. Nilai politik yang berhubungan dengan kekuasaan, partai politik dan pemerintahan

7. Nilai pendidikan

Novel Harimau karya Mukhtar Lubis

Novel Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer

Sudut pandang ialah menghubungkan antara pencerita sendiri dan ceritanya. Sudut pandang terbagi dalam tiga baian;

1. Pengarang menggunakan sudut pandang tokoh dan kata ganti orang pertama, mengisahkan apa yang terjadi pada dirinya dan perasaannya sendiri dengan kata-kata sendiri.

2. Pengarang menggunakan sudut pandang tokoh bawahan, ia lebih banyak mengamati dari luar cerita, biasanya menggunakan kata ganti orang ketiga.

3. Pengarang menggunakan sudut pandang impersonal, ia sama sekali berdiri di luar cerita, serba melihat, serba mendengar dan serba tahu.

Cerpen Mesin Cuci karya Wahyu Wibowo

Hikmah “Sebagian besar dari perkembangan mental kita dan disiplin studi kita berasal dari pendidikan formal. Akan tetapi, segera sesudah kita meninggalkan disiplin eksternal sekolah, banyak dari kita membiarkan otak kita berhenti pertumbuhannya. Kita tidak lagi membaca secara serius, kita tidak menjajaki subjek baru secara mendalam di luar bidang tindakan kita, kita tidak berpikir secara analitis, kita tidak menulis -sedikitnya tidak kritis atau tidak dengan cara yang menguji kemampuan kita mengekspresikan diri di dalam bahasa yang baik,jelas dan ringkas. Sebaliknya, kita malah menghabiskan waktu kita untuk menonton televisi.” (Stephen R. Covei)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: