Siapa Pembela Pedagang Kecil?
Ahmad Zamhari Hasan
Jumlah pedagang kecil di Indonesia, mungkin hanya bisa disaingi dengan jumlah petani. Puluhan juta orang menekuni profesi tersebut. Mereka berdagang untuk mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, hidup dengan “gali lobang tutup lobang”, dan sebenarnya “tidak ada yang peduli” pada nasib mereka. Bukankah ada pinjaman lunak dari pemerintah melalui Departemen Koperasi? Bukankah banyak kridet mikro untuk usaha kecil? Bukankah UKM selalu menjadi bahan “Kampanye, diskusi dan Headline?”
Itu semua hanya permukaan saja. Coba selidiki lebih dalam, berapa persen usaha kecil yang mendapat bantuan? Benarkah “kredit mikro” memberi bantuan atau justru mencari keuntungan sebesar-besarnya? Jika hanya bahan diskusi, kampanye dan berita, itu berlalu dengan sendiri setelah beberapa hari saja. Siapa pembela pedagang kecil? Mereka menjadi pembela bagi diri sendiri bukan orang lain.
Lihatlah berapa banyak pedagang kecil yang gulung tikar di pasar-pasar tradisional karena kalah bersaing dengan Mall, Supermaket, Hipermaket dan Minimarket! Lihatlah berapa banyak pedagang kaki lima yang digusur di disingkirkan! Lihatlah berapa banyak pasar tradisional terbakar! Lihatlah berapa banyak pedagang yang terpaksa gigit jari karena usaha terhimpit dan terdesak.
Berhubung pedagang kecil menjadi pembela diri sendiri, saya berusaha memberikan beberapa tips sederhana pada mereka;
1. Jika usaha mengalami kemunduran atau tidak laku, padahal orang ramai berlalu lalang, maka Anda harus mulai berpikir mengganti usaha yang ada dengan usaha baru yang lebih dibutuhkan pembeli di sekitar tempat dagangan Anda. Rubahlah dagangan Anda jika memang benar-benar dibutuhkan! Jual dulu sisa barang pada pedagang lain, sehingga Anda masih memilliki modal.
2. Berhubung rizki ditentukan Allah, shalat Istikharah 2 raka’at agar Anda mendapat gambaran tentang barang apa yang hendak dijual, kaitkan hasil istikharah dengan survey pasar (lihat tulisan Memulai Usaha dari Nol)
3. Tekuni usaha sebaik-baiknya; mengatur waktu berjualan dengan baik, melakukan pencatatan setiap hari, melakukan penghematan dalam memenuhi kebutuhan hidup, menyimpan 10% dari penghasilan dan tidak mengambilnya selama 3 tahun (setelah 3 tahun akan menjadi modal baru yang besar), dan Tawakkal pada Allah dalam bentuk shalat 5 waktu, shalat Dhuha, dan rajin sedekah karena mempermurah rizki.
4. Jangan bersaing dengan orang lain! Artinya berusaha berjualan sesuatu yang berbeda, jika terpaksa bersaing, lakukan secara sehat, malah barang yang tidak ada di Anda, ambilkan pada pesaing Anda. Insya Allah, rizki Anda menjadi murah dan hubungan sosial berlangsung baik.
5. Jangan pernah marah pada pembeli, beri pelayanan dengan bungkusan yang baik, beri senyum, dan ucapkan terima kasih. Bersabarlah jika ada pembeli yang menyebalkan.
6. Jadilah orang baik! Sebab pengusaha yang sukses besar adalah orang-orang baik yang peduli, Fauzi Sholeh bersedekah 70 milyar dalam 4 tahun, wajar beliau sukses sebagai pengusaha Real Estate.
7. Jika memiliki karyawan/pekerja, penuhi haknya dengan baik. Berilah gaji yang sesuai dan dibayar tepat waktu. Malah, semakin besar gaji mereka akan semakin menguntungkan. Bukan malah dijadikan sapi perahan.
Silahkan terapkan tip-tip ini agar Anda berhasil menjadi pedagang dan mampu survife dalam keadaan bagaimanapun. Jika berhasil dengan tip ini, berbagilah dengan fakir miskin, yatim piatu atau anak jalanan, atau Lembaga Pendidikan Gratis.
Memulai Usaha dari Nol
Setiap orang ingin berwirausaha, namun terkadang menghadapi kesulitan saat hendak memulainya. Cobalah tip-tip berikut dalam memulai wirausaha.
Pertama; lakukan survei pasar dan produk yang hendak dijual. Survei pasar berhubungan dengan; apa yang dibutuhkan masyarakat sekitar, di mana mereka biasanya membeli produk tersebut, harga berapa yang mereka inginkan, dan bagaimana ketersediaan barang dari produsen. Sedang survey produk berhubungan dengan; produk apa yang hendak dijual, benarkah produk itu dijual, apa yang harus dilakukan agar produk laku terjual, dan persaingan harga.
Kedua; lokasi yang dipilih setrategis, cukup strategis, atau biasa-biasa saja.Jika strategis, kemungkinan berhasil besar. Jika cukup strategis kemungkinan 50%-50%. Sedang jika biasa-biasa atau tidak strategis, maka hanya produk yang sulit didapat orang yang akan dicari atau dibeli. Anda yang lebih tahu setelah melakukan langkah pertama.
Ketiga; pedagang baru perlu melakukan promosi sederhana dengan papan nama yang bagus dan menarik, tulisan Banner, atau jika diperlukan buatlah brosur, even, iklan di Koran atau televise.
Keempat; layani pelanggan pertama super terbaik, dan layani pelanggan selanjutnya seperti raja.
Kelima; jika memiliki modal yang besar, atur dengan baik. Misal modal yang dimiliki 10 juta, usahakan belanja produk yang dijual pertama kali sebesar 5 juta, sedang sisa uang 5 juta diinvestasikan perlahan-lahan pada produk yang jelas laku terjual dalam harian, tiga harian, dan mingguan, yang laku bulanan asal ada saja. Bagaimana dengan yang kesulitan modal. Anda harus menjadi orang yang dipercaya orang lain, sehingga modal diperoleh dari pinjaman. Jadilah orang yang jujur, maka modal datang sendiri.
Keenam; bersabarlah dalam bulan-bulan awal atau tahun pertama mengelola usaha, selanjutnya nanti Anda akan dalam belajar sambil berwirausaha, sehingga berhasil. Jika butuh ilmu tambahan, klik saja; www.pengusahamuslim.com, www.pembelajar.com, disamping pelajari mendalam dalam blok ini.
Ketujuh; segera lakukan, jangan menumpuk teori terus. Bob Sadino justru melakukan dulu, baru belajar dari apa yang dialami, sehingga sekarang menjadi pengusaha sukses. Anda juga dapat melakukan hal yang sama.
Terburu-Buru Pangkal Kegagalan
Selama ini banyak orang Indonesia yang ingin sukses, berhasil dan meraih cita-cita yang mereka idam-idamkan sejak kecil. Sayangnya, dalam proses mencapai semua itu, banyak masyarakat Indonesia yang berjatuhan di tengah jalan.
Awalnya mereka sungguh merusaha mencapai sesuatu, bekerja sekuat tenaga, mengerahkan pikiran, imajinasi dan hati, setelah ada titik terang, di sinilah kesalahan timbul. “Titik terang” sudah dianggap penemuan baru yang segera berusaha dipublikasikan, disebarkan dan dipasarkan.
Setelah tersebar, bahkan dipublikasikan di media cetak atau elektronik, justru banyak masalah bermunculan pada pada produk yang “terlanjur” dipasarkan. Hasilnya, semua menjadi hancur, kacau dan menghasilkan kegagalan yang menimbulkan frustasi. Inilah yang terjadi pada Blue energy dan banyak kegagalan lainnya.
Salah satu masalahnya, orang Indonesia serba terburu-buru dalam melakukan dan menghasilkan sesuatu, hasilnya kegagalan. Seharusnya sebuah produk yang dihasilkan, diuji coba dulu dalam berbagai macam situasi dan kondisi, lakukan hal ini sampai-sampai tidak ada celah kekurangan. Sebab inilah yang dikenal Jepang dengan prinsip Kaizen yakni;
“Kaizen” adalah sebuah metode yang sangat dipegang teguh di Jepang. Ia adalah proses penyempurnaan secara terus menerus dan tiada henti. Kaizen inilah yang telah mengubah Jepang menjadi sebuah bangsa yang memiliki peradaban sangat maju, serta memiliki teknologi yang mengalahkan “Barat”… (ESQ, Ary Ginanjar Agustian, hal 184).
Setelah produk ini dipasarkan, jangan lalu ongkang-ongkang kaki menikmati keberhasilan, melainkan berusaha menyempurnakan produk yang dihasilkan, sehingga nantinya mampu menarik investor “Berkantong Tebal.” Bahkan sampai tahap ini pun, perbaikan dan penyempurnaan terus menerus dilakukan.
Di samping itu, masalah lain yang dihadapi ialah proses pemasaran di 3 bulan atau tahun pertama biasanya mengalami kesulitan, tapi setelah itu pintu kesuksesan terbuka perlahan-lahan. Buatlah produk Anda menjad “Brand” yang mudah diingat orang, saat menggunakan produk Anda orang merasa “inilah yang dibutuhkan selama ini”, dan perkuat brand dengan melakukan hal-hal yang bersifat sosial agar menimbulkan simpati.
Cara Mendapatkan Pinjaman
Setiap pedagang yang telah menekuni usaha dalam kurun waktu tertentu, pasti membutuhkan pinjaman modal. Apa yang harus dilakukan agar mendapatkan pinjaman modal?
Buat beberapa pertanyaan cerdas seperti yang dilakukan Martin. “Semua bentuk pendanaan yang telah kita diskusikan tadi pada akhirnya akan bermuara pada pertanyaan-pertanyaan berikut: (1) Uang itu digunakan untuk apa? (2) Apa yang dipertaruhkan oleh si peminjam? (3) Bagaimana si peminjam akan membayar utangnya. Jika anda bisa memberikan jawaban yang tepat atas pertanyaan-pertanyaan di atas, Anda pasti akan mendapatkan pinjaman uang itu.” (Cara Gampang Menjadi Kaya Melalui Bisnis, Martin J. Grunder Jr. hal 91)
Tentu setiap pertanyaan harus mendapatkan jawaban yang terperinci dan baik, jawaban tersebut ditulis dalam Rencana Aksi bisnis yang sedang Anda kelola. Lalu ajukan pinjaman pada berbagai pihak yang cocok bagi Anda.
Beberapa institusi yang menawarkan pinjaman dengan bagi hasil sangat ringan ialah Departemen Koperasi dan Pegadaian. Alternatif lain ialah meminjam pada Bank Muamalat dengan memperhatikan system bagi hasilnya, pahami dulu sebelum meminjam.
Tips agar Anda mampu mengembalikan pinjaman;
1. Sebelum meminjam, yakinkan diri Anda bahwa investasi yang dilakukan benar-benar menguntungkan.
2. Hitung berapa penghasilan bersih setiap bulan, dipotong kebutuhan hidup sehari-hari dan modal. Misal; penghasilan kotor setiap hari Rp. 100.000,- berarti penghasilan kotor sebulan Rp. 3.000.000,- sedang modal yang dikeluarkan Rp. 2.000.000,- berarti keuntungan tinggal Rp. 1.000.000,- biaya hidup hemat Rp. 700.000,-. Keuntungan bersih hanya Rp. 300.000,-
3. Rp. 300.000X12 bulan = 3.600.000. Berarti Anda dapat mengajukan pinjaman sebesar 10 juta yang akan dicicil selama 3 tahun. Jangan meminjam lebih dari ini! Kurang dari 10 juta tidak apa-apa sebagai bentuk kehati-hatian.
4. Gunakan pinjaman untuk kebutuhan produktif yakni menambah modal usaha, jangan buat beli motor (kecuali motor digunakan untuk bisnis antar barang atau kebutuhan mendesak), bangun rumah atau membeli peralatan rumah tangga.
5. Perbanyaklah beribadah, berdzikir dan bersedekah agar Allah memurahkan rizki Anda, sehingga Anda mampu membayar hutang dan usaha berkembang.
Tips-tips di atas sangat sederhana bukan? Tinggal adakah kemuan Anda untuk mempraktikkannya. Jika Anda ingin berhasil, silahkan praktikkan!
Tiga Hukum Pemasaran
1. Manfaat Nyata; apa manfaat yang dirasakan pembeli saat memakai atau membeli produk Anda, apakah di tempat lain pembeli tidak bisa mendapatkan barang dengan manfaat sama dengan harga yang lebih murah, apa pembeli merasakan langsung sebuah manfaat yang membuat mereka puas, apa manfaat ini sekejab, beberapa jama atau beberapa hari atau bulanan dan tahunan. Semua manfaat tersebut harus ada dalam sebuah produk atau barang yang dijual.
2. Alasan Kuat untuk percaya, tahukah Anda bahwa pembeli terkadang membeli sebuah produk atau barang karena percaya terhadapnya, maka saat kepercayaan ini jangan dikhianati dengan kualitas buruk dan apa yang tertulis tidak sama dengan isinya, habislah bisnis Anda. Kepercayaan pembeli harus diiringi dengan kualitas produk yang terjamin, kesesuaian antara yang ditawarkan dengan yang diperoleh, dan pelayanan jika ada barang yang rusak atau kadaluarsa secara tidak sengaja.
3. Perbedaan Mencolok. Brand yang menjadi citra jualan sebuah produk di hadapan konsumen dibangun karena mampu membuat sebuah perbedaan yang nyata dan mencolok dengan lainnya. Buatlah sebuah produk yang benar-benar berbeda, bekualitas tinggi dengan harga bersaing, maka Anda akan berada di garis depan penjualan. Tentu Anda juga harus punya mata rantai distribusi efisien mengingat kawasan Indonesia yang luas.
Selamat datang Era Global!
Percaya adalah Harta Terbesar Manusia
Dalam dunia bisnis, modal kepercayaan sangat besar pengaruhnya terhadap kesuksesan usaha. Jika modal uang nilainya dapat diukur, sedangkan modal kepercayaan nilainya tak terukur. Sebab orang dipercaya akan terus menerus mendapatkan modal kapan pun membutuhkannya, sebab pemberi kepercayaan telah benar-benar yakin bahwa pinjamannya akan kembali berikut kesuksesan orang yang dipercaya. Jika dalam bisnis demikian, apalagi percaya pada Allah.
Setiap orang mengaku Muslim, baik karena orang tua Muslim atau karena ikut-ikutan mengingat Umat Islam di Indonesia adalah mayoritas. Setiap Muslim wajib beriman sesuai yang termaktub dalam rukun iman, bahasa sederhana dari iman adalah percaya (tulisan ini hanya membahas sampai percaya dulu, nanti tulisan lain membahas Yakin sebagai inti iman). Pertanyaan seberapa besar kepercayaan Anda pada Islam? Seberapa besar kepercayaan Anda pada Allah?
Kehidupan sehari-hari sebernarnya merupakan sarana yang tepat untuk terus menerus memupuk rasa percaya pada Allah.
Seorang pegawai negeri tingkat rendah, hidup mendandalkan gaji, padahal memiliki 3 anak yang telah memasuki sekolah dengan biaya mahal, belum dipotong uang kontrakan dan kebutuhan lainnya, walhasil gaji hanya cukup hidup pas-pasan. Karena hidup pas-pasan, maka malas beribadah karena menganggap tidak ada gunanya, naudzubillah mindzalik. Jadi, ibadah yang dilakukan seakan-akan harus seiring dengan besarnya rizki yang diperoleh, jika demikian, maka Akhirat telah ditukar dengan dunia, padahal seharusnya dibalik dunia ditukar dengan akhirat. Seharusnya, sang pegawai member contoh pada seluruh anggota keluarga dengan rajin ibadah karena percaya bahwa Allah membantu hambaNya yang memohon, ruku’ dan sujud padaNya. Dengan percaya yang diwujudkan dalam tindakan, insya Allah rizki tak terduga diterima. Sehingga hidup dijalani lebih baik.
Seorang pedagang kecil pindah dari satu bus ke bus lain, dari satu terminal ke terminal lain untuk mencari sesuap nasi demi diri dan keluarga, terkadang hasil yang diperoleh hanya cukup untuk makan dua kali sehari, bukan tiga kali. Sang pedagang, mengeluh karena ditaqdirkan menjalani hal itu, bahkan naudzibillah terbersit bahwa Tuhan tidak adil. Buruk sangka pada Allah pertanda tidak percaya, ini berarti sang pedagang walau Muslim, namun belum beriman. Seharusnya, sang pedagang menysukuri nikmat Allah karena hasil usaha cukup untuk makan hanya 2 kali, tengolah yang diuji dengan kelaparan di luar sana, bukankah keadaan lebih baik. Seharusnya sang pedagang berkata “Alhamdulilah rizki Allah masih kita nikmati karena karuniaNya, besok saya berusaha lagi.”
Seorang buruh tani bekerja dari pagi sampai terik matahari, hanya mendapat imbalan Rp. 6.000,- (di beberapa daerah, hal ini biasa, mungkin di Jabodetabek lebih besar), padahal dia punya 2 orang anak dan istri, beli beras saja 1 liter paling murah Rp. 4.000,- berarti masih ada sisa Rp. 2.000,- untuk membeli tahu. Dia mengeluh, mengapa kerja kerasnya hanya membuat dirinya hidup pas-pasan, terbersit dalam hatinya “Ah Tuhan hanya bersama orang kaya,” Naudzubillah! Padahal tahukah buruh tani itu, orang yang ditaqdirkan miskin namun tetap berusaha, beribadah dan bersabar, Allah memasukkan ke surge tanpa dihisap. Jika tahu, percayakah pada hal itu? Jika percaya, wujudkan dalam tingkah laku dan ucapan “Alhamdulillah walah hanya Rp. 6.000,- tapi kami masih dapat makan walau sedikit-sedikit!” Setelah itu berusahalah memanfaatkan pekarangan rumah dengan memelihara ayam atau kambing jika sudah punya uang.
Seorang buruh pabrik, bekerja pontang-panting, hanya memperoleh hasil sesuai UMR, padahal UMR tidak lagi memadai untuk mencukupi kebutuhan hidup. Walau bekerja keras, saat waktu shalat dhuhur justru lalai, shalat Asyar demikian juga, malah jika ada lembur, shalat Magrib dan Isya’ juga ditinggal, Subuh apalagi kecapean bangun kesiangan dan harus berangkat kerja. Hasilnya, dia bingung karena harta yang dicari dengan susah payah seperti “menguap,” sebab hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, tidak ada simpanan, apalagi menambah perabotan rumah tangga dan membeli kendaraan. Padahal jika dia percaya adanya “barokah harta” yakni harta sedikit namun bernilai banyak karena karunia Allah yang diwujudkan dengan rajin ibadah karena Allah, mengatur keuangan sebaik-baiknya, berusaha hidup hemat, insya Allah hidup yang dijalani lebih baik di dunia, dan di akhirat kelak mendapat yang sangat jauh lebih baik lagi.
Seorang pemulung, mengais-ngais barang-barang yang bisa yang dijual nantinya, setelah bekerja seharian (tidak ingat shalat lagi), sampai di rumah memilah-milah hasil hari itu, nonton televise dan istirahat. Begitulah yang dijalani setiap hari. Seorang pemulung lain sama bekerja seharian, tapi dia menyembunyikan bundelan alat shalat, setiap waktu shalat dia shalat, lau meneruskan usahanya, dia percaya shalat merupakan kewajiban yang harus dijalani. Jika orang pertama tetap hidup seperti itu tidak berubah, sedang pemulung yang kedua keadaan tidak jauh beda, tapi mendapatkan sesuatu yang lain yakni ketenangan batin, jauh dari musibah yang macam-macam dan menikmati hidup apa adanya. Malah ada pemulung yang mampu menjadi bos karena bertakwa pada Allah.
Dengan beberapa kenyataan di atas, masihkah Anda tidak percaya? Masihkah Anda melalaikan ibadah wajib shalat 5 waktu? Masihkah Anda mengeluh bahwa Allah tidak adil? Jika masih, Anda tidak mampu belajar sekaligus tidak mempercayai kehidupan setelah kematian. Lho, saya percaya, kok! Jika percaya, rubah tingkah laku Anda, perbaiki ibadah shalat wajib 5 waktu, dan percaya bahwa usaha yang Anda lakukan demi kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Tulisan ini dibuat karena perasaan miris melihat orang-orang yang hidup miskin, pas-pasan, bekerja hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari, anak jalanan, pemulung dan pengasong, tapi justru menjauh dari Allah; ada yang tidak percaya, ada yang percaya tapi di mulut saja, dan ada yang memang telah berhati keras sehingga terjebak pada kesalahan demi kesalahan tanpa mau bertobat. Saya tidak dapat membayangkan; mereka hidup di dunia sudah susah, tapi di akhirat akan hidup lebih susah lagi sebab siksaan Allah sangat pedih tiada bandingannya di dunia ini. Padahal, seharus mereka lebih bersabar, ikhlas menerima taqdir Allah dengan tetap berusaha, rajin ibadah 5 waktu, bertingkah laku yang benar dan mendekatkan diri pada Allah. Jika demikian, maka di dunia hidup susah, tapi menikmati kebahagiaan sejati di akhirat kelak!
Siapa saja yang membaca tulisan ini, semoga menyebarkan tulisan sederhana ini, sekaligus mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari! Hamba-Hamba Allah pilihan yang dicintaiNya, orang-orang shaleh, dan sebagian besar para Nabi merupakan orang biasa yang tidak kaya, kecuali Nabi Daud dan Sulaiman, makanya mereka sangat mencintai orang-orang yang tidak mampu, tapi bersabar, bertingkah laku baik dan taat beribadah.
EVALUASI SANGAT PENTING DALAM BISNIS
Di Indonesia, masyarakat yang berwirausaha sangat banyak sekali, tapi sayangnya mereka hanya mampu bersaing di dalam negeri, merasa cukup mengelola usaha dengan pengalaman semata, dan tidak mau belajar seumur hidup. Padahal untuk bersaing dalam era global setiap pedagang harus mau dan mampu belajar seumur hidup. Pengalaman saat ini tidak cukup jika tidak diikuti dengan mempraktikkan teori-teori bisnis baru yang terbukti berhasil membuat orang lain meraih kesuksesan. Salah satu kelemahan lainnya ialah lemah dalam melakukan EVALUASI usaha.
Berhubung hanya mengandalkan pengalaman, mereka kaget ketika usaha yang awal maju, tiba-tiba muncur. Akibatnya menyalahkan para pesaing dan orang lain. Padahal sebenarnya ialah tidak mampu melakukan evaluasi yang tepat dan melakukan antisipasi terhadap beberapai hal dari hasi evaluasi tersebut. Renungkan nasihat bisnis berikut ini!
“Anda harus secara terus menerus mengevaluasi bisnis Anda dan senantiasa memfokuskan diri pada apa yang menjadi kekuatan Anda. Bagian dari proses ini adalah dengan meninggalkan bisnis yang tidak perlu saat Anda sedang berkembang. Anda harus meninggalkan bisnis Anda yang: (1) Tidak menguntungkan. (2) sebenarnya berjalan baik, namun bisa merusak reputasi yang Anda miliki. Misalnya, jika Anda dikenal sebagai ahli pemugaran rumah berkualitas tinggi, Anda harus benar-benar mulai meninggalkan pekerjaan-pekerjaan yang tak sesuai dengan dengan diskripsi itu. Bayangkan saja apa yang akan terjadi pada reputasi jam Rolex jika Anda bisa membeli jam itu di Matahari Departemen Store, misalnya. (Anda juga jangan melakukan pekerjaan yang menyerap terlalu banyak sumber daya untuk memperoleh keuntungan. Dengan kata lain, tanyakan pada diri Anda sendiri adakah hal-hal yang lebih baik Anda kerjakan daripada mengalokasikan sumber dana sebanyak itu pada sebuah pekerjaan yang berkeuntungan rendah. (4) Tinggalkan juga semua pelayanan atau produk apa pun yang tak bisa menjadikan Anda sebagai penguasa pasar. Jika Anda tak bisa menjadi yang terbaik, jangan lakukan. (Cara Gampang Menjadi Kaya Melalui Bisnis, Martin J. Grunder Jr. hal 187-188)”
Evaluasi minimal sebulan sekali dengan melihat hasil pencatatan, pembacaan pada keadaan sekitar, perkembangan produk yang saat ini sedang dijual, dan perubahan harga di pasar akibat persaingan yang semakin ketat. Itu berarti evaluasi sangat penting sekali. Mulai sekarang, Evaluasi kembali usaha Anda!
Bumi Allah, 17 Ramadhan
WIRASWASTA KUNCI UTAMA KELUAR DARI KRISIS
Ahmad Zamhari Hasan
Makna Wiraswasta
Menurut Zimmerer dan Scarborough bahwa wiraswasta merupakan keahlian seseorang menghadapi resiko di masa medatang dan bertumbuh mendapatkan profit dengan menggunakan seluruh sumber daya yang dimiliki sehingga mengalami peningkatan terhadap usaha tersebut.
Berbekal definisi tersebut, bisa dipahami bahwa seorang wiraswasta adalah seseorang yang melakukan sesuatu dengan perhitungan matang dalam menjalankan usaha, sehingga resiko kerugian bisa diminimalisir. Meski demikian, sang wiraswasta harus memiliki keberanian untuk menghadapi resiko apapun, tanpa keberanian mengambil resiko tak pantas disebut wiraswasta.
Dengan perencanaan dan perumusan tujuan dari berbagai aspek, baik dari dalam internal perusahaan maupun pengaruh eksternal akibat perkembangan ekonomi mikro dan makro. Hal ini diikuti dengan kalkulasi matang dalam menjalankan usaha. Semua itu dapat membimbing sang wiraswasta berhasil mengatasi resiko kerugian, menggantinya dengan pertumbuhan usaha yang dikelola. Pertumbuhan yang secara otomatis memberikan keuntungan pada perusahaan.
Untuk itu sumber daya yang dimiliki sang wiraswasta harus dioptimalkan. Semua orang di dalam perusahaan memiliki tanggung jawab sama untuk bekerja keras agar perusahaan tumbuh berkembang, sebab mereka menggantungkan hidupnya dari hasil kerjanya. Perusahaan yang baik adalah perusahaan yang mampu memperlakukan orang-orang di dalam perusahaan sebagai rekan kerja bukan bawahan, memenuhi kesejahteraan mereka, dan membantu kesulitan yang dihadapi, bukan malah memeras keringat tanpa disesuaikan dengan upah yang sepantasnya.
Perusahaan juga dituntut mampu menghasilkan brand dari produk-produk yang dikeluarkan. Brand atau citra kuat konsumen tentang suatu produk yang khas, sehingga susah dihilangkan dalam benaknya. Hermawan Kertajaya memaknai Brand ialah “Branding is avoid the comodity like trap” artinya untuk menghindari supaya produk yang dihasilkan tidak seperti yang dihasilkan kebanyakan perusahaan lain. Brand dibuat dengan menawarkan kualitas produk bermutu tinggi, menyehatkan, dan diperkuat dengan iklan jitu yang cocok, berbeda, bagus, sesuai kebutuhan masyarakat dan produk yang ditawarkan. Agar berjalan sukses, maka harus didukung dengan bentuk pelayanan yang terbaik, sehingga konsumen merasa puas.
Belajar Dari Kesuksesan Wiraswasta Lain
Contoh wiraswata yang berhasil merintis usaha dari nol adalah Marin J. Grunder Jr. yang akrab dipanggil Marty, penulis buku The 9 Super Simple Steps to Enterpreneurial Success atau Cara Gampang Menjadi Kaya Melalui Bisnis, 9 Strategi Praktis Membangun Bisnis yang Sukses. Marty berhasil menjalankan perusahaan Grunder Landscaping, yang mampu mengembangkan usaha pemotongan rumput sewaktu menjadi mahasiswa di Universitas Dayton AS dari modal awal alat pemotong rumput senilai $25 X Rp. 9.000,- (jika kurs rupiah terhadap dollar AS sebesar Rp. 9.000,-) = 225.000,- yang dibeli di sebuah pasar loak, pada akhir semester omsetnya meningkat menjadi $ 300.000, X Rp. 9.000,- = 270.000.000,-, saat dikelola dengan profesional dalam pengertian sebenarnya, omsetnya meningkat menjadi $ 3 juta pertahun, lalu meningkat menjadi $4 juta dollar pertahun, dengan pegawai berjumlah 40 orang.
Berkat kesuksesannya, dia mendapat sekitar tiga puluh penghargaan lokal dan nasional di AS. Tahun 1995 Marty mengembangkan sayap dengan membuat perusahaan Marty Grunder Inc. sebuah perusahaan konsultan bisnis yang memberikan bantuan bagi para wiraswasta dalam bidang pemasaran, manajemen, dan menjadi motivator mereka. Dengan perusahaan keduanya, dia telah berbicara di berbagai seminar di seantero Amerika dan Kanada dengan penuh semangat disertai humor-humornya di hadapan ribuan orang. Bagaimana cara dirinya meraih kesuksesan?
Trik kesuksesannya sangat sederhana yakni menerapkan 9 langkah strategis dalam menjalankan perusahaan; menekuni usaha sesuai minatnya terhadap sesuatu dan mencintai yang dikerjakannya, berorientasi pada tujuan yang ingin dicapai dalam jangka pendek, menengah dan panjang, mengawali usaha dengan modal orang lain, mengelilingi diri dengan orang-orang sukses, memiliki rasa percaya diri yang sangat besar, banyak bertanya tentang segala sesuatu sekitar usaha yang ditekuni atau hal-hal yang tak terpahami, memfokuskan diri maksimal pada dua ceruk bisnis yakni usaha pemotongan rumput dan konsultan (dianjurkan menekuni satu ceruk usaha dengan menjadi yang terbaik di bidangnya), melakukan pekerjaan dengan cara yang berlawanan dari norma umum –dalam makna norma-norma keliru yang banyak dijalankan perusahaan-perusahaan lain-, dan terakhir bekerja dengan sangat, sangat, sangat keras.
Dengan prinsip-prinsip di atas dia sukses menjalankan usaha pemotongan rumput, para wiraswasta Indonesia perlu mencontoh dirinya, mencoba menerapkan prinsip-prinsip di atas dalam menjalankan usaha, melakukan evaluasi terhadap pelaksanaannya di lapangan, maka kebangkitan dunia usaha di Indonesia tinggal menunggu momentum saja. Jika sebaliknya yang terjadi, maka perusahaan-perusahaan yang gulung tikar, terpaksa melakukan efisiensi dengan pemecatan massal, dan pabrik-pabrik yang ditutup karena tak mampu bertahan di dalam kondisi sulit, akan menjadi pemandangan biasa pada masa mendatang.
Bangkit Dari Krisis atau Mati
Keadaan ekonomi Indonesia belum ada tanda-tanda untuk membaik, hutang luar negeri bertambah menumpuk, daya beli masyarakat menurun, pengangguran dan kemiskinan tumbuh subur, apalagi ekonomi makro punya kecendrungan memburuk pada masa mendatang, sehingga dunia usaha di Indonesia terus menerus dalam keadaan yang menyulitkan. Ini jangan dijadikan kambing hitam bagi perusahaan-perusahaan yang gulung tikar, bangkrut, gagal mengembangkan diri, melainkan sumber motivasi meraih kesuksesan, sarana memperbaiki diri di segala bidang.
Di sinilah urgensi wiraswasta-wiraswasta sejati diperlukan kehadirannya di bumi pertiwi tercinta. Wiraswasta-wiraswasta yang mampu menjadikan krisis sebagai sarana menemukan kreativitas baru, inovasi baru, menemukan ceruk bisnis baru, mencari peluang baru, menciptakan kondisi yang baik dalam menjalankan usaha, mengembangkan potensi yang ada dalam perusahaan sampai batas maksimal dalam semua lapisan, memberikan pelayan super terbaik, melahirkan sekaligus mengaplikasikan ide-ide baru yang realistis, menguntungkan, berkualitas dan dibutuhkan konsumen.
Kehadiran mereka akan menjadi kunci utama keberhasilan dunia usaha di masa mendatang. Masalahnya dunia usaha kita terbiasa diproteksi, dikeloni, dininabobokkan, dan puas pada apa yang dicapai tanpa upaya berinovasi dan mengembangkan diri, sehingga keadaan yang memburuk justru menjadikan mereka sekarat. Tiba waktunya bagi mereka untuk mentranformasikan diri menjadi wiraswasta-wiraswasta baru, meski telah lama mengelola suatu perusahaan.
Bagi para lulusan sekolah umum atau Pesantren memberanikan diri menjadi wiraswasta dengan mengelola usaha kecil, sarjana-sarjana ekonomi harus mau menjadi wiraswasta, bukan malah seumur hidup mengabdikan diri menjadi “budak-budak” di perusahaan, bekerja di perusahaan yang mapan adalah sarana belajar untuk kemudian mengola usaha sendiri, para pengangguran intelektual di segala bidang, mencari celah-celah bisnis atau usaha dari ilmu yang dimiliki, mereka dituntut berani memulai usaha dari nol dan mengembangkan perlahan sampai menjadi besar, dan para buruh/pekerja yang dipecat perusahaan –jumlahnya semakin hari semakin banyak- berusaha juga menjadi wiraswasta. Di Indonesia, sumber daya alam melimpah, hasil kerajinan banyak yang bagus namun kurang bisa dipasarkan, produk-produk makanan yang khas luar biasa beragam, dan banyak kelebihan-kelebihan lain yang belum dioptimalkan, sebab wiraswasta-wiraswasta yang ada lemah dalam memproduksi barang yang berkualitas, pemalas, hidup enak tanpa kreasi, mudah puas diri, tidak mampu mengemas barang dengan baik, dan tidak mampu memanfaatkan potensi yang dimiliki.
Kini waktu yang tepat untuk Bangkit atau Mati. Kata-kata keras yang menggugah motivasi ini perlu ditanam kuat-kuat dalam diri setiap orang di Indonesia. Jika ada film yang disinetronkan Kiamat Sudah Dekat, sedang untuk wiraswasta istilah yang tepat adalah Kiamat Dunia Usaha Sudah Dekat karena pasar bebas sudah tinggal 2 tahun lagi, mereka dituntut berkreasi, bekerja keras, gigih pantang menyerah, berinovasi sebagai antisipasi saat kiamat benar-benar datang.
CARA MENGELUARKAN ZAKAT NIAGA
Zakat adalah kewajiban yang harus dikeluarkan pedagang, pengusaha, wiraswasta, setahun sekali atau sampai Nisab. Zakat ini wajib diberikan pada yang berhak menerima agar harta yang dimiliki menjadi lebih barokah, bermanfaat pada orang lain, dan demi kemaslahatan umat Islam secara keseluruhan. Jika sedekah diberikan kapanpun melihat orang yang membutuhkan, sedang Zakat Niaga atau perdagangan wajib dikeluarkan setahun sekali.
Dalil yang mewajibkan zakat niaga adalah firman Allah: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (Q.S At-Taubah: 103) Dalam ayat berbeda Alllah berfirman: “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih pada hari dipanaskan emas perak itu dalam Neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang akibat dari yang kamu simpan itu”. (Q.S At-Taubah: 34-35) Ini diperkuat dengan pernyataan Nabi Muhammad SAW : “Tidaklah seseorang yang memiliki simpanan harta lalu tidak mengeluarkan zakatnya melainkan akan dipanaskan dalam Neraka Jahannam, lalu dijadikan lempengan-lempengan yang akan disetrikakan di punggung dan dahinya hingga Allah memutuskan perkara di antara hamba-Nya pada suatu hari yang dihitung sehari sama dengan lima puluh ribu tahun”. (Muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairah)
Zakat niaga yang dikeluarkan bukan demi kebaikan orang-orang yang berhak menerimanya, melainkan juga demi kebaikan para pemberi zakat. Sebab zakat harta bisa mensucikan harta yang dimiliki. Artinya, siapa tahu dalam mengelola usaha perdagangan secara sengaja atau tidak, para pedagang atau wiraswasta melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, sehingga dalam penghasilan yang diperoleh hakikatnya terdapat yang haram. Untuk membersihkan yang haram tersebut, sehingga harta menjadi halal dan suci, maka dikeluarkanlah zakat harta.
Di samping itu, zakat harta yang dikeluarkan akan membantu para pedagang atau wirawasta untuk bisa selamat dari api neraka, sehingga bisa hidup bahagia di surga. Meraih kebahagiaan di dunia, lebih-lebih di akhirat adalah cita-cita setiap pedagang atau wiraswasta Muslim. Jadi dalam Islam setiap usaha yang dikelola, diupayakan bermanfaat di dunia dan akhirat, hal inilah yang tidak dimiliki sistem kapitalisme yang membawa dunia pada jurang kehancuran.
Konsep sedekah dan zakat dalam Islam adalah cara efektif mengurangi ketidak adilan sosial, membangun keseimbangan dalam masyarakat Muslim, membela orang-orang yang fakir, miskin, para pejuang di jalan Allah yang ikhlas, memberikan keyakinan pada orang yang baru masuk Islam, meringankan beban orang yang terlilit hutang dan tak sanggup membayarnya, membantu memberikan kemerdekaan pada perbudakan, membantu orang yang dalam perjalanan di jalan yang lurus, dan pengelola zakat agar tidak menyelewengkan harta yang dikelolanya.
Adapun cara mengeluarkan zakat niaga adalah menghitung nilai barang dagangan dengan harga asli atau harga di grosir/juragan, ini digabungkan dengan keuntungan bersih setelah dipotong hutang. Jadi yang yang wajib dizakati adalah modal berjalan dan keuntungan bersih yang diperoleh pedagang setelah satu tahun atau sampai Nisab, sedang kadar zakatnya 2½ %. Modal tetap tidak wajib dizakati seperti gedung, perkakas dan alat operasional perdagangan. Misalnya seorang pedagang menjumlah barang dagangan di akhir tahun dengan jumlah total Rp. 200.000.000,- dan laba bersih sebesar Rp.50.000.000,- sementara dia mempunyai hutang sebesar Rp.100.000.000,-. Modal dikurangi hutang: Rp.200.000.000,- – Rp. 100.000.000,- = Rp.100.000.000,- Jumlah harta zakat: Rp.100.000.000,- + Rp. 50.000.000,- = Rp.150.000.000,-
|
Zakatnya: Rp.150.000.000,- |
x |
25 1000 |
= |
Rp.3.750.000,- |
Besarnya zakat yang harus dikeluarkan adalah Rp. 3.750.000,-. Zakat dikeluarkan pada orang-orang yang berhak menerima yakni fakir, miskin, orang yang tidak mampu bekerja dan pengangguran yang lemah, amil zakat atau badan pengelola zakat, orang yang baru masuk Islam, memerdekakan budak atau membebaskan sandera, membayar hutang orang-orang yang terlilit hutang, orang yang berjuang di jalan Allah tanpa pamrih, orang yang sedang bepergian ke jalan yang benar.
Allah berfirman: “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengeta-hui lagi Maha Bijaksana”. (At-Taubah: 60)
Di samping sedekah dan zakat niaga atau zakat harta, sebelum hari raya Idul Fitri para pedagang atau wiraswasta wajib mengeluarkan zakat fitrah berupa makanan pokok atau beras seberat 2 ½ kg setiap orang. Zakat fitrah diberikan pada yang berhak menerima, sehingga bisa sama-sama merasakan keindahan, kemulyaan dan keagungan hari raya Idul Fitri.
Menjalankan kewajiban membayar zakat jangan dijalani dengan keterpaksaan, sebab akan merugikan para pemberi zakat. Makanya dalam pembahasan sedekah berlatih untuk memberi secara ikhlas harap ridha Allah semata. Ketika mampu bersedekah secara ikhlas, dalam berzakat pun bisa dilakukan secara ikhlas, sehingga pikiran tenang, perasaan gembira, hati lapang, dan diri bahagia melihat orang-orang yang menerimanya merasakan kebahagiaan, bahkan mereka secara tulus mendoakan para pemberinya. Doa orang-orang yang dalam kekurangan atau kesulitan mudah dikabulkan Allah, sehingga usaha yang dikelola menjadi berkembang dan berhasil.
Meraih Kesuksesan Dengan Berdagang Secara Islami
Selama ini dunia usaha, baik kecil menengah dan besar, masih terjebak dalam paradigma kapitalis dalam mengelola suatu usaha, seakan-akan tidak ada alternatif lain. Akibatnya, gaya hidup, tingkah laku, pandangan hidup, dan dalam menjalani hidup berjalan dalam rambu-rambu yang ditentukan kapitalisme. Lalu kapitalisme mempercanggih semua itu melalui globalisasi dan digitalisasi, sehingga segenap manusia disadari atau tidak, dipaksa untuk mengikutinya secara patuh.
Hal ini juga berlaku pada Umat Islam di Indonesia, mereka yang seharusnya berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah dalam menjalani hidup dan usaha, dipaksa untuk meninggalkan keduanya dan menggantinya dengan sistem kapitalis. Di sinilah perlunya suatu alternatif dalam mengelola suatu usaha, yakni mengelola usaha dengan cara-cara yang Islami dan berhasil. Di sinilah urgensi buku; Berdagang Dengan Iman, Kiat-Kiat Agamis Menjadi Saudagar Sukses. Artinya buku ini bisa menjadi alternatif bagi pengusaha, pedagang, dan saudagar Muslim dalam mengelola usahanya.
Prinsip utama dalam berdagang secara Islami ialah berusaha menerapkan nilai-nilai Islam seperti; pandangan Islam tengang Rizki, merintis usaha sendiri, kerja keras, mengelola hutang piutang dengan baik, sabar, memberikan pelayanan yang terbaik, berdoa hanya pada Allah, bertawakkal dalam makna hakiki dan menjadikan sedekah atau zakat sebagai sarana melancarkan usaha.
Dalam Islam masalah rizki adalah sesuatu yang ditentukan Allah, tapi setiap orang tidak mengetahui seberapa besar kadar rizkinya, maka usaha yang optimal, memanfaatkan pikiran dalam melakukan kalkulasi terhadap usaha yang dikelola, dan berdoa hanya pada Allah yang akan membawa seseorang bisa memperoleh rizkinya. Jadi besar kecilnya yang diperoleh tergantung pada semua itu, sedang paradigma ditentukannya besar kecilnya rizki bisa diketahui setelah memperoleh hasil usaha, maka tidak perlu dijadikan pemikiran berkepanjangan, melainkan dijalani dengan sepenuh hati dan jiwa.
Seorang Muslim dan Mukmin yang kuat akan berusaha untuk hidup mandiri. Kemandirian diperoleh dengan berusaha merintis usaha sendiri dari nol. Supaya berhasil dalam merintis usaha, umat Islam harus menumbuhkan jiwa wiraswasta dalam dirinya dengan cara berlatih berdagang kecil-kecilan. Latihan ini bisa dilakukan dengan modal kecil, tapi yang terpenting membiasakan diri berjualan, sehingga perlahan-lahan jiwa wirawasta tumbuh. Dengan tumbuhnya jiwa wiraswasta, melakukan pembacaan terhadap usaha yang akan ditekuni, perlu survei ke beberapa pasar tradisional dan swalayan sebelum memutuskan menekuni usaha secara sungguh-sungguh. Kita tibalah waktu untuk mengelola usaha sendiri.
Dalam mengelola usaha dilakukan secara gigih, semangat pantang menyerah, dan bekerja keras sampai ambang batas yang dilakukan. Jika pedagang lain berdagang dari pukul 07.00-15.00 WIB, maka berdaganglah mulai pukul 06.00-17.00 WIB. Sewaktu berdagang, baca secara kretatif; keinginan, kebutuhan, dan kesenangan pembeli, lalu penuhi semua itu dalam bentuk pelayanan yang terbaik. Insya Allah usaha yang dikelola akan berkembang secara perlahan-lahan.
Setiap pedagang pasti akan berhadapan dengan masalah hutang piutang, ini hal lumrah yang tidak perlu dikhawatirkan. Justru dengan adanya hutang, seseorang bertambah semangat dalam mengelola usaha. Tentu saja semua hutang dikelola dengan sebaik-baiknya; ada perhitungan matang sebelum berhutang, berhutang sesuai kebutuhan dan kekuatan yang dimiliki, dan mencatat hutang dengan baik. Dalam tahap awal mengelola usaha, tidak usaha memberi piutang pada pembeli, artinya proses jual beli dilakukan secara tunai.
Kesabaran adalah senjata utama umat Islam, senjata ini harus dimanfaatkan dalam mengelola usaha. Sebagai ilustrasi; berusaha bersabar menghadapi pasar sepi atau daya beli masyarakat yang menurun, bersabar dalam melayani pembeli, bersabar berhadapan dengan juragan atau grosir, dan bersabar dalam menghadapi persaingan usaha. Semua kesabaran ini akan menimbulkan barokah dalam perdagangan yang dikelola, sebab menimbulkan simpati dari orang lain, sehingga dalam memenuhi kebutuhan hidup akan membeli pada pedagang yang sabar.
Umat Islam biasanya meminta bantuan dukun, paranormal, dan kiai agar usahanya berjalan lancar atau bertambah ramai. Cara seperti ini harus dihentikan mulai detik ini, diganti dengan berdoa secara langsung pada Allah. Luar biasanya Islam yakni tidak ada perantara dalam berdoa pada Allah, hal ini berbeda dengan agama-agama lainnya. Sayangnya umat Islam tidak mampu memanfaatkan hal ini secara optimal. Seharusnya mereka meminta pada Allah secara langsung dengan cara-cara yang benar, insya Allah akan dikabulkanNYA.
Makna tawakkal yang hakiki dalam Islam ialah memasrahkan pada Allah berkaitan dengan besar kecilnya hasil usaha melalui ibadah spritual; shalat lima waktu, puasa, zakat, dan haji, dan ibadah sosial; mengeluarkan zakat harta, bersedekah, beramal sholeh dan melakukan kebajikan. Inilah bentuk tawakkal yang sebenarnya, bukan memasrahkan pada Allah dengan berdiam diri tak berbuat apa-apa. Coba perhatikan para pedagang, pengusaha dan saudagar Muslim yang sukses, mereka rata-rata memiliki ketaatan yang kuat dalam menjalankan syariat Islam, rajin beramal dan bersedekah.
Sedekah dan zakat dalam Islam bukan mengurangi penghasilan seseorang, melainkan justru menambah penghasilan yang diperoleh. Ketika seorang pedagang bersedekah, orang-orang yang menerima akan mendoakan agar usahanya lancar dan berhasil, doa mereka akan dikabulkan Allah. Di samping itu, Dalam Al-Qur’an sendiri disebutkan bahwa setiap sedekah yang dikeluarkan akan diganjar berlipat-lipat di dunia dan akhirat. Lebih rajinlah dalam bersedekah agar usaha yang dikelola semakin berkembang dan berhasil.
Dengan semua itu, seorang pedagang akan berhasil dalam mengelola usahanya, sehingga mereka berusaha mengembangkan diri untuk menjadi pedagang menengah dan sampai mampu menjadi saudagar kelas atas. Hal ini dilakukan melalui proses yang panjang dan penerapan nilai-nilai Islam dalam mengelola usaha. Inilah nantinya yang akan melahirkan kelas-kelas menengah baru di Indonesia.
Menilik isi buku secara global di atas, tampaknya buku; Berdagang Dengan Iman, Kiat-Kiat Agamis Menjadi Saudagar Sukses, merupakan kelanjutan dari buku best seller Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajiani karya Valentino Dinsi, SE, MM, MBA dkk. Jika buku kedua diarahkan untuk memotivasi orang agar mau mengelola usaha sendiri, sedang buku pertama berusaha menjabarkan cara-cara mengelola usaha dari nol menjadi usaha besar yang berhasil. Jika kedua lebih bersifat paradigma umum, sedang buku pertama bersifat paradigma khusus yakni berdagang dengan cara-cara Islami dan berhasil.
Anda Ingin Menjadi Anggota Dewan, Baca dan Praktikkan Tulisan ini!
Ahmad Zamhari Hasan*
Menurut Nursyamsi Nurlan, SH, dalam buku Kiat-Kiat Menjadi Anggota DPR.DPD.DPRD (hal 2-4), ada beberapa hal yang mesti diperhatikan bagi yang ingin menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat;
<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Bagaimana membangun dan mempertahankan reputasi.
Brand image (reputasi) tidak hanya penting dalam dunia marketing untuk menjual produk supaya laku terjual dengan baik, tapi juga penting bagi seorang wakil rakyat. Brand Image seorang calon anggota dewan harus dibangun sesuai kepribadian, keseharian dan jati dirinya. Sebagai misal, seorang yang berlatar belakang kampus dan aktif di organisasi kemahasiswaan dan kemasyarakatan, dapat memanfaatkannya menjadi brand image sebagai tokoh yang peduli pada masyarakat. Jika target massa merupakan masyarakat awam yang agamis, maka menempatkan diri sebagai wanita Muslimah teladan yang berusaha memperjuangkan kaum wanita/ibu-ibu dan masyarakat biasa supaya mampu meningkatkan kualitas hidup.
Untuk menjaga brand Image; jangan pernah melakukan kesahalan yang diketahui orang banyak, jangan bertingkah-laku yang sembarangan, jangan pernah korupsi, jangan menyakiti hati rakyat, dan jangan menyalahi janji yang dibuat.
<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Bagaimana mengatur strategi yang sesuai dengan etika dan aturan main yang ada
Strategi yang dibuat disesuaikan dengan brand imagenya yakni; membuat organisasi-organisasi kecil yang berguna bagi masyarakat seperti majlis taklim, menggerakkan organisasi-organisasi remaja masjid (jika belum ada, diadakan secepatnya), mengadakan silaturrahmi dengan seluruh komponen masyarakat, menyalurkan aspirasi mereka dan memperjuangkan di hadapan Anggota Dewan nantinya (jika jadi, laporkan pada masyarakat bahwa sudah diperjuangkan meski gagal). Sedang aturan main yang ditetapkan KPU diikuti sebaik-baiknya dengan berusaha tidak melanggar aturan yang ada.
<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Menyusun dan mensosialisasikan program kerja pada rakyat
Untuk masyarakat pedesaan, program yang dibuat sesederhana mungkin dan menyentuh kepentingan mereka. Pertama; mengusahakan kredit sebesar 500 ribu rupiah untuk 20 orang dulu saat diangkat menjadi anggota dewan, diprioritaskan yang tidak mampu dan keluarga miskin, 3 bulan pertama menjadi anggota Dewan, 3 bulan selanjutnya, ditingkatkan dengan 50 orang, 1 tahun kemudian ditingkatkan menjadi 100 orang, kredit tanpa bunga dan anggunan, masyarakat diminta membayar setelah panen. Kedua; memperjuangkan nasib petani tembakau agar harga bisa stabil (memberikan laporan hasil perjuangan pada ketua-ketua organisasi remas, majlis taklim dan tokoh masyarakat nantinya). Ketiga; menjalin kerja sama dengan pengusaha agar hasil pertanian rakyat dapat mereka beli sesuai standar, perlu bertanya standar kualitas barang, harga jual yang sesuai dan bagaimana seharusnya petani bersikap, jadi pengusaha tetap diuntungkan dan petani juga untung. Keempat; meningkatkan kuantitas dan kualitas Jagung dengan mengusahakan benih unggul dengan bekerja sama lewat LIPI dan Depertemen Pertanian, uji coba dulu pada beberapa petani, jika berhasil yang lain ikut. Kelima; mengusahakan penyuluhan pertanian bekerja sama dengan Departemen Pertanian. Bentuk sosialisasi; datangi masyarakat satu persatu walau hanya sebentar, ajak rembuk ketua-ketua Remas, majlis taklim dan tokoh masyarakat, dan jika memiliki dana mencukupi biayai kegiatan organisasi kemasyarakatan atau kebutuhan masyarakat; misal tong sampah, cat untuk masjid atau mushalla, dan membelikan alat “passat” baru untuk 10 orang, tapi dilombakan.
<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–>Mengumpulkan dana kampanye
Usahakan dana kampanye berasal dari anggota masyarakat atau tokoh masyarakat yang mampu, imbal baliknya ketika menjadi anggota Dewan akan benar-benar memperjuangkan nasib rakyatnya.
Ajak pengusaha Muslim lokal yang berpengaruh untuk turut menyumbang dana, nanti jika dapat Link di daerah lain atau Jakarta akan bekerja sama dengan pengusaha tersebut, missal program penjualan benih murah berkualitas.
Jangan memberi uang pada masyarakat langsung, sedikit banyak mereka mulai cerdas, anggota Dewan yang member uang, pasti jika jadi untuk kekayaan dirinya dan tidak memperjuangkan nasib rakyat.
<!–[if !supportLists]–>5. <!–[endif]–>Cara berkampanye yang efektif dan efisien, sehingga membuat masyarakat simpatik dan memilih sang calon nantinya dalam pemilihan.
Kampanye yang efektif ialah; door to door dari pintu ke pintu, mengadakan bermacam-macam lomba dengan menyediakan hadiahnya dalam bentuk piala dan barang (bukan uang), jalan-jalan ke pasar untuk memperhatikan kondisi pasar, jika kotor nanti berjanji untuk mengusahakan supaya bersih (tidak butuh dana besar), memberi nasihat pada pedagang agar tawakkal pada Allah dengan mengaji Surat Waqi’ah dan memperbanyak istigfar, mengadakan kegiatan di masjid-masjid atau musholla dengan memberikan ceramah tanpa kampanye, berdayakan teman santri.
Cara Memomativasi Diri;
<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Yakin akan menang dengan niat, usaha, proses dan tujuan yang benar, jika tidak tersenyumlah masih ada waktu di masa mendatang dan teruslah berkarya untuk masyarakat.
<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Inilah jalan terbaik yang harus diusakan sebaik-baiknya, bukan demi kepentingan diri, melainkan demi kepentingan rakyat banyak dan Islam
<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Lakukan hal ini sebagai bentuk pengabdian pada Allah
Apa yang Anda lakukan secara Spritual agar usaha seiring dengan Kehendak Allah;
<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Istiqomah shalat Tahajjud satu salam sebelum tidur dan 2 salam setelah bangun tidur, dalam sujud saat shalat Tahajjud meminta pada Allah agar mampu memperjuangkan nasib rakyat miskin atau tidak mampu dengan menjadi anggota Dewan.
<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Supaya dikabulkan Allah, tambah dengan shalat Hajat 2 Rakaat!
<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Shalat Dhuha, minimal 2 salam setiap hari karena hal itu dapat memurahkan rizki dan karir atau pekerjaan
<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–>Mengaji Al-Qur’an walau hanya 5 ayat setiap hari sambil memperhatikan maknanya
<!–[if !supportLists]–>5. <!–[endif]–>Membaca istigfar 1000 setiap hari
<!–[if !supportLists]–>6. <!–[endif]–>Berdoa secara khusyu’ hanya pada Allah dan yakin doa dikabulkan Allah
Beberapa Tips di atas, Nampak sulit ketika dibaca dan dipelajari, tapi terasa mudah jika mulai dilakukan satu persatu, sehingga semuanya dapat dilaksanakan dengan baik. Selamat berjuang, berusaha dan sukses demi rakyat Indonesia! Semoga seiring dengan kehendak dan ridho Allah! Amin!
Kebiasaan untuk menjadi kaya Menurut Robert Kyosaki;
1. Pekerjakan pemegang buku (khususnya finansial)
2. Bentuklah tim pemenang
3. Teruslah memperluas konteks dan isi
4. Tetaplah tumbuh (orang dewasa yang mandiri)
5. Bersedia gagal lebih banyak untuk berhasil lebih banyak juga
6. Dengarkanlah diri sendiri (suara hati/pikiran)
Tips memulai usaha menurut Ir. Hendro, M.M. & Chandra W.W., M.Com;
1. Persiapan blue print strategi setelah melakukan riset
2. Tentukan nama dan logo perusahaan
3. Persiapkan dokumen-dokumen dari awal;
a. Alamat bisnis dan perusahaan
b. Membuat domisili (silaturrahmi dengan lingkungan)
c. Menentukan modal minimal
d. Pergi ke Notaris untuk pengurusan Akte, TDP, SIUP atau pendaftaran kehakiman dan lembar Negara
e. Setelah dokumen selesai, dilanjutkan persiapan infrastruktur;
• perektrutan SDM
• Lay out kantor
• Peralatan kantor
• Kendaraan operasional
• Dokumen-dokumen operasional (DO, invoice, Faktur, PO, cap/stempel, kop surat, amplop dll)
4. Pemilihan tempat yang strategis
5. Melakukan berbagai strategi untuk bertahan dan berkembang