Khusus buat Umat Islam;
Kelemahan Umat Islam Indonesia
Umat Islam Indonesia sebenarnya diharapkan memainkan peran yang besar dalam kancah ragional dan internasional mengingat menjadi pemeluk Islam terbesar di dunia. Namun, sayangnya harapan tersebut tinggal mimpi di siang bolong, sebab kenyataan yang terjadi sebaliknya. Bagaimana keterlibatan Umat Islam dalam berbagai organisasi Regional dan Internasional? Hal ini tidak lebih sebuah upaya elitis yang kurang signifikan dapam upaya meningkatkan kualitas umat Islam dalam berbagai aspek kehidupan.
Menghadapi kenyataan ini, perlu dirumuskan kembali kelemahan umat Islam Indonesia, untuk kemudian dicarikan dan dipraktikkan solusi terbaik dalam mengatasinya.
1. Semangat kesukuan lebih kuat dibanding semangat keislaman; Indonesia terdiri dari berbagai macam Suku yang beraneka ragam; Jawa, Sunda, Betawi, Padang, Bugis, Sasak, Madura, China, India, Arab dan lain-lain. Sepertinya umat Islam Indonesia kembali ke masa Jahiliyah dulu yang mana semangat kesukuan demikian kuat mengalahkan semangat keislaman. Dalam keadaan demikian, Indonesia butuh Tokoh Pembaharu, tapi sayangnya beberapa tokoh hebat yang saat ini ada tidak memenuhi syarat untuk itu. Atau seiring dengan wafatnya banyak Ulama’ Mukhlish di Indonesia, kini adalah waktu yang tepat untuk mengharapkan kehadiran Al-Mahdi? Sebab hanya Al-Mahdi yang sanggup mempersatukan umat Islam yang terjebak dalam Sukuisme Jahiliyah. Marilah berdoa pada Allah agar hal ini terwujud, mengingat tanda-tanda akhir zaman seperti yang digambarkan berbagai macam hadits mulai terwujud menjadi kenyataan. Lihat video atau tulisan Harun Yahya atau makalah Kebangkitan Islam Kedua, klik aja www.google.co.id lalu ketik item tersebut.
2. Mudah diadu domba dengan alasan-alasan yang sepele dan hanya demi sesuap nasi. Mentalitas yang belum hilang setelah penjajahan Belanda 350 tahun dan Jepang 3,5 tahun ialah mudahnya masyarakat Indonesia diadu domba. Sehingga konflik mudah terjadi dengan alasan-alasan sederhana, jika ada “tokoh” yang tulus berjuang demi Islam justru dapat dengan mudah dihancurkan oleh umat Islam sendiri berkat campur tangan kelompok luar, dan tokoh-tokoh Islam terjebak kepentingan Individu di atas kepentingan Islam.
3. Organisasi-organisasi Islam lebih mementingkan kepentingan kelompok disbanding Islam. Tengoklah fakta betapa kita terpecah belah melaksanakan Idul Fitri dengan berlindung di balik perbedaan cara menyimpulkan 1 Syawal setelah masa Reformasi, padahal Islam dikenal prinsip Musyawarah demi Islam. Belum lagi fakta-fakta lain; masyarakat bawah lebih bangga baju organisasi yang dipakai dibanding Islam, antar organisasi Islam kadang saling menjatuhkan –terang-terangan atau tersembunyi-, dan berlomba-lomba “bersaing” dalam arena politik.
4. Umat Islam lebih senang berpolitik praktis demi kepentingan jangka pendek dibanding memberdayakan diri di lapangan sosial, budaya dan ekonomi yang memiliki manfaat jangka panjang, bukankah politik praktis hanya dirayakan 5 tahun sekali? Padahal, sudah diketahui umum bahwa dalam bidang inilah rentan perpecahan, adu domba, dan kepentingan sempit. Sayangnya hal ini hampir melibatkan seluruh energi tokoh-tokoh Islam elit dan menengah, sehingga masyarakat bawah merasa dianaktirikan dan dikorbankan. Parahnya lagi, Islam dijadikan sarana membela kepentingan politik partai dibanding membela kepentingan Islam melalui partai. Hanya satu di antara banyak partai Islam yang “kelihatan” membela Islam dalam arti yang sesungguhnya.
5. Problem kemiskinan dan pengangguran yang dialami puluhan juta umat Islam dianggap sebagai urusan pemerintah, sedang inisiatif dari tokoh-tokoh Islam dan ormas Islam justru sangat minim sekali. Hasilnya, umat Islam tidak mampu keluar dari kedua problem tersebut, malah seperti “lingkaran setan” yang sulit dihapus jejaknya. Padahal dalam bidang-bidang inilah, umat Islam dapat berperan aktif mampu beramal shaleh –mampu memberdayakan orang lain yang bermanfaat lama, bahkan seumur hidup-, manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat, dan orang yang paling bertakwa merupakan hamba Allah terbaik –takwa bukan sekadar berkaitan dengan ibadah spiritual, namun juga social seperti memberantas kemiskinan dan pengangguran-
6. Umat Islam terlalu mencintai kehidupan dunia dibanding akhirat. Seakan-akan kehidupan dunia kekal, abadi dan berlangsung selamanya. Padahal umur manusia terbatas kematian, orang yang paling kaya dan paling kuat teknologinya tidak mampu menolak kematian, apalagi umat Islam Indonesia. Jika kita akan mati, padahal ada kehidupan setelah kematian yakni alam kubur, padang Mahsyar dan Surga atau Neraka, maka selayaknya untuk mempersiapkan bekal yang banyak demi menjalani kehidupan setelah kematian yang berlangsung jauh lebih lama, tengoklah fakta; umat-umat dulu yang durhaka pada Allah, puluhan ribu tahun berada dalam siksa kubur, umat Nabi Muhammad yang munafik, fasik dan keluar dari Islam sudah 1430 tahun mengalami siksa kubur, belum lagi kita menghitung padang Mahsyar yang sebagian riwayat mengatakan selama 50000 ribu tahun, dan belum lagi kita hitung siksa neraka yang tiada siksa lebih dasyat dari hal ini. Masihkah Anda menjujung tinggi kehidupan dunia di atas kehidupan akhirat? Bekal apa yang Anda bawa untuk kehidupan akhirat Anda?
7. Keimanan umat Islam sangat lemah sekali. Dulu Nabi Muhammad SAW membina dan membentuk keimanan para sahabat Nabi selama 13 tahun. Pertanyaannya, berapa tahun Anda habiskan untuk memperkuat keimanan Anda? “Maaf tidak sempat, sibuk bisnis. Tidak sempat karena sibuk mengurus keluarga. Tidak sempat karena hidup susah. Tidak sempat karena bekerja. Tidak sempat karena …..?” Padahal Anda masih sempat bersantai nonton televisi. Niatkan mulai detik ini “Ya, Allah saya berniat memperkuat keimanan saya, semoga Engkau memberi kekuatan, Taufik dan HidayahMu,” lalu praktikkan cara beriman yang benar seperti tertera dalam Rukun Iman, dan nikmati hasilnya 2021. Tidak ada yang terlambat untuk memulai, berapa pun umur Anda sekarang. Jika dalam proses menjalani ini, Allah memanggil kita, maka insya Allah pintu rahmat dan ampunanNya terbuka, sehingga kita selamat dalam kehidupan akhirat kelak. Amien!
8. Umat Islam lemah dalam bidang Keilmuan, Sains, dan teknologi. Cendikiawan Muslim, Intelektual Muslim, dan Ulul Albab, lebih banyak sebagai “menjibplak” karya orang lain dibanding menghasilkan “karya sendiri,” kita terlena menerjemahkan Kitab Klasik dibanding menghasilkan Kitab Baru yang sesuai konteks zaman ini, kita pintar “mengutip” pendapat pakar dibanding pendapat kita yang dikutip orang lain. Adakah lahir sekelas Adnan Oktar atau Harun Yahya di Indonesia? Apakah lahir Hamka baru di Indonesia? Apakah lahir Hasan Al Banna baru dari Indonesia? Apakah lahir Ibnu Shina, Imam Ghazali, dan Al-Khawarizmi baru? Tentu jawabannya tidak dan tidak. Siapakah yang mau dan mampu memperdalam ilmu seumur hidup, padahal tidak menjanjikan kekayaan?
9. Daya juang atau mental kuat dalam menolong agama Allah melalui pendidikan, kegiatan sosial, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan membela kepentingan masyarakat bawah, sangat lemah di kalangan umat Islam. Banyak anak-anak muda idealis dan berusaha sekuat tenaga pada tahab awal, tapi kemudian hanyut dan hancur karena materi atau kekayaan, tidak kuat menghadapi tantangan dan cacian, dan tidak mampu bertahan laman. Padahal janji Allah jelas “Jika kalian menolong Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kaki-kali kalian”. (Muhammad:7)
10. Menjauh dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an dibaca, tapi tidak dipahami maknanya, tidak dimasukkan dalam hati dan tidak dipraktikkan dalam kehidupan sehari-sehari. Demikian juga Sunnah Nabi Muhammad SAW. Wajar jika umat Islam lemah dan tidak berdaya.
Menghadapi berbagai macam kelemahan umat Islam di atas, langkah apa yang harus diambil setiap umat Islam. Beriktu ini beberapa sumbangsih saran dan perenungan diniatkan karena Allah semata.
1. Marilah kita kurangi semangat Kesukuan perlahan-lahan, malah meninggalkannya suatu waktu nanti dan menggantinya dengan semangat Islam. Sesama Muslim adalah saudara, sedang Non Muslim merupakan tetangga yang hidup berdampingan secara damai dan tentram.
2. Jika mendapatkan informasi dari luar atau dari siapa pun saja, perjelas dulu sumber informasi, usut pemberi informasi awal, dan pikirkan secara matang. Hal ini sebagai cara paling efektif agar tidak mudah diadu domba. Jika ada orang yang “kelihatan” baik, tapi mengajak berbuat kerusakan, anarkis dan kerusuhan, maka orang tersebut adalah pengadu domba yang harus segera diserahkan ke kepolisian. Tapi jika ada umat Islam yang baik, mengajak amal Sholeh, memperkuat keimaman atau keislaman, dan memperdayakan ekomomi orang miskin, maka harus didukung sepenuhnya.
3. Organisasi-organisasi Islam untuk introspeksi diri; demi kepentingan Islam atau kelompok, demi kepentingan masyarakat Muslim atau kepentingan sendiri, dan terjun politik praktis atau organisasi sosial kemasyarakatan.
4. Umat Islam yang berpolitik praktis, tolong bela kepentingan umat Islam Indonesia dan jangan korbankan umat Islam. Sedang sebagian besar umat Islam sebaiknya sibuk dalam sosial, ekonomi, budaya dan beribadah pada Allah.
5. Marilah berlomba-lomba menunaikan zakat fitrah, harta dan sedekah demi mambantu umat Islam yang terjebak dalam kemiskinan dan merumuskan strategi atau rencara aksi untuk mengatasi masalah pengangguran.
6. Yakinlah bahwa kehidupan dunia merupakan upaya mengumpulkan bekal demi menjalani kehidupan akhirat yang luar biasa lama, kekal dan dasyat sekali. Dalam mengumpulkan bekal untuk akhirat, tentu tidak melupakan kehidupan dunia. Sebab sudah menjadi sunnatullah manusia butuh langkah-langkah nyata agar kebutuhan dunia terpenuhi dengan cara-cara yang halal dan baik.
7. Mulai saat ini berjanji pada diri sendiri masing-masing untuk memperkuat keimanan (lihat makalah Beriman dengan Benar), dan praktikkan. Kita terlalu banyak mengetahui, tapi hanya sedikit yang dipraktikkan. Seharusnya mengetahui sesuatu, langsung praktik.
8. Harus ada sebagian umat Islam yang hidupnya diabdikan diri untuk menekuni bidang keilmuan Islam sampai benar-benar mendalam (minimal 10 tahun), bidang sains atau ilmu pengetahuan (ilmiah) untuk kemudian mencari kebenaran sejati seperti yang dilakukan Harun Yahya dengan ilmunya, dan teknologi tepat guna yang dapat digunakan untuk menghasilkan barang murah yang berkualitas atau barang berkualitas sangat tinggi tapi harga standar.
9. Mengasah mental dilakukan dengan bersabar menghadapi masalah atau hinaan, menjadikan ujian sebagai cara Allah mendidik mental, dan belajar seumur hidup agar mampu bersikap benar sesuai situasi dan kondisi yang ada.
10. Berusaha mempraktikkan apa yang dipahami dan dihapalkan dari Al-Qur’an dan Sunnah, sehingga menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang mampu membentuk kepribadian Mukmin sejati yang tangguh, kuat, tahan banting, mampu mengisi kehidupan dunia dengan Tinta Emas, beriman penuh keyakinan dan beramal shaleh tanpa pamrih.
Insya Allah dengan 10 langkah di atas yang merupakan solusi dari 10 kelemahan umat Islam Indonesia, perlahan-lahan umat Islam bangkit dari keterpurukan, mati suri atau jalan di tempat. Saatnya untuk bangkit agar kehidupan di dunia berlangsung harmonis, damai, tentram dan dunia semakin nyama didiami, bukan semakin membawa petaka dan musibah.
Tulisan ini bukan hanya berlaku pada Anda umat Islam, melainkan juga berlaku pada hamba Allah yang menulis tulisan ini. Semoga kita semua dapat menjalankannya agar Islam menjadi rahmat bagi semesta alam. Amien ya Robbal ‘alamien!
Bumi Allah, 14 Romadhan
Hikmah
Ahmad Zamhari Hasan
Dzun Nun Al-Misri diejek dan dihina orang hampir setiap hari, tapi beliau bersabar dan malah mendoakan orang yang menghina dirinya. Hal ini terus terjadi sampai beliau meninggal dunia. Berkat kesabaran, setiap kali beliau berdoa langsung dikabulkan Allah, orang yang sakit disembuhkan dengan izin Allah hanya melalu tulisan lafadz Nun, dan derajat beliau di sisi Allah sangat tinggi sekali, saat meninggal seluruh penjuru Mesir merasakan kehilangan.
Sabar, mudah diucapkan sulit dipraktikkan. Sabar, sikap utama para Nabi, Sufi dan Ulama’ “Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar” (QS Al-Anbiya’ 85). Sabar, sikap hidup yang membutuhkan ketundukan emosi, akal dan hati. Sabar, buah mujahadah melawan hawa nafsu. Sabar, cahaya hati menuju Maha Cahaya. Sabar, merubah batu menjadi debu. Sabar, sebentuk sifat yang dicintai Allah.
Harga minyak melambung tinggi, tersenyum sambil meningkatkan usaha untuk mendapatkan penghasilan lebih. BBM naik, tersenyum sambil mengatur ulang pengeluaran harian. Harga sembako naik, tersenyum sambil mencari celah merasakan luasnya rizki Allah. Krisis ekonomi tak kunjung selesai, tersenyum sambil mencari jalan keluar terbaik. “Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS Huud 11)
Kesabaran akhir-akhir ini dijadikan ujian bagi setiap Muslim di berbagai penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Jika umat Islam lulus dari ujian ini, insya Allah doa apa pun –asal baik tentunya- akan dikabulkan Allah dan derajat umat Islam terangkat tinggi.
Apa yang sudah terjadi, tidak perlu diratapi terus menerus, apalagi mencari kambing hitam, sebab menunjukkan jiwa yang lemah tanpa memiliki sifat sabar. Paling penting yakni meningkatkan kualitas keimanan, ketakwaan, dan kesabaran, sehingga bersikap benar di masa kini dengan mempersiapkan masa depan yang lebih baik. “Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An Nahl 96)
Semoga kita semua memiliki sikap sabar yang menghujam sanubari, menyatu dalam jiwa, dan menguasai akal, sehingga rahmat Allah menaungi bumi Indonesia yang mulai gersang. Amien!
Bertobatlah, wahai sobat!
Ahmad Zamhari Hasan
Tulisan sederhana ini bukan menyodorkan fatwa atau petunju-petunjuk agar bertobat, melainkan hanya beberapa kisah tentang Tobat! Baca, selami, pahami dan laksanakan!
“Dahulu ada seorang laki-laki sebelum kalian yang telah membunuh 99 orang, lalu ia bertanya tentang seorang yang paling mengerti agama. Ditunjukkanlah pada seorang pendeta, ketika sampai orang yang mengantarnya berkata, ‘wahai pendeta, orang ini telah membunuh 99 orang, apakah mungkin bagiNya untuk bertobat?’ Pendeta itu berkata, ‘tidak mungkin!’ maka pendeta itu dibunuh sampai genap 100 orang. Kemudian ditunjuki pada orang alim ‘wahai orang alim, orang ini telah membunuh 100 orang, apakah mungkin bagiNya untuk bertobat?’ orang alim itu berkata, ‘Mungkin, tidak ada yang menghalangi tobat hamba kepada Tuhannya. Lalu orang alim memberikan arahan, ‘Pergilah ke tempat itu, di sana penduduknya menyembah Allah, beribadahlah bersama mereka. Dan jangan kembali ke tempat asalmu karena itu merupakan tempat penuh kemaksiatan.’ Lalu pergilah laki-laki itu ke tempat yang diberitahu orang alim tadi. Ketika di perjalanan laki-laki itu meninggal dunia. Terjadilah perdebatan antara Malaikat Rahmat dengan Malaikat Adzab, Malaikat Rahmat berkata, ‘Orang ini datang untuk bertobat’ Malaikat Adzab menjawab, ‘Akan tetapi ia belum melakukan kebaikan sama sekali.’ Maka datanglah Malaikat yang berwujud sebagai manusia, yang berdiri sebagai penengah dan berkata, ‘Ukurlah jarak antara tempat tujuannya dengan tempat dia berasal, mana yang paling dekat itulah yang menentukannya.’ Ketika diukur, ternyata jarak tempat yang dituju lebih dekat dari tempat ia berasal, lalu Malaikat rahmat membawanya. (HR Bukhari Muslim) Dalam riwayat lain “Perbedaan jarak antara keduanya hanya sejengkal.” Riwayat lain menyebutkan “Allah memerintahkan tanah yang ia berasal untuk menjauh dan tanah yang tujuannya mendekat, lalu memerintahkan Malaikat untuk berkata, ‘Ukurlah mana yang paling dekat.’ Ketika diukur, tempat tujuannya lebih dekat sejengkal, maka dosa-dosanya diampuni Allah.
Abu Burdah bin Musa Al-Asy'ari meriwayatkan, ketika menjelang
wafatnya Abu Musa pernah berkata: "Wahai anakku, ingatlah kamu akan cerita tentang seseorang yang mempunyai sepotong roti."
Ada seorang lelaki yang sangat tekun beribadah kepada Allah selama lebih kurang tujuh puluh tahun. Tempat ibadahnya tidak pernah ditinggalkannya, kecuali pada hari-hari yang telah dia tentukan.
Akan tetapi pada suatu hari, dia digoda oleh seorang wanita sehingga
diapun tergoda dalam bujuk rayunya dan berzina selama tujuh hari
Lalu lelaki itu bertobat. Sewaktu melakukan perjalanan dia berteduh bersama pengemis berjumlah 9 orang, tapi waktu itu hanya ada sembilan potong roti, berarti 1 pengemis tidak mendapatkannya. Lelaki itu mengambil roti jatahnya dan memberikannya kepada pengemis yang tidak kebagian. Keesokan harinya, orang yang bertaubat itu meninggal dunia.
Di hadapan Allah, maka ditimbanglah amal ibadah yang pernah dilakukan oleh orang yang bertaubat itu selama lebih kurang tujuh puluh tahun dengan dosa yang dilakukannya selama tujuh malam, ternyata amal ibadat yang dilakukan selama tujuh puluh tahun itu dikalahkan oleh kemaksiatan yang dilakukannya selama tujuh malam. Akan tetapi ketika dosa yang dilakukannya selama tujuh malam itu ditimbang dengan sepotong roti yang pernah diberikannya kepada fakir miskin yang sangat membutuhkannya, ternyata amal sebuah roti tersebut dapat mengalahkan perbuatan dosanya selama tujuh malam itu.
Kepada anaknya Abu Musa berkata: "Wahai anakku, ingatlah olehmu akan orang yang memiliki sepotong roti itu!"
Sebaliknya, ada orang yang sombong dengan ibadah, ketaatan pada Allah, dan merasa paling mulia di dunia, lalu Allah mengujinya dengan wanita, dia mampu menolak, mengujinya dengan berjudi dia mampu menolak, tapi dengan ujian alkohol atau khamr dia akhirnya meminumnya, kemudian dia berjudi dan berzina dengan wanita tersebut, setelah itu Allah mencabut nyawanya. Ini contoh su’ul khatimah karena kesombongannya merasa sok suci.
Saya pribadi pernah juga bergelimang dosa; sombong dengan ilmu, suka berbohong, suka mengakalkan segala sesuatu, meremehkan dan melalaikan ibadah sholat lima waktu, serta dosa-dosa lainnya. Lalu Allah menunjukkan kebesaranNya dengan dua peristiwa dasyat dalam hidup saya;
1. Saya dalam keadaan sekarat hampir meninggal dunia, di samping saya di Unit Gawat Darurat di rumah sakit, ada pasien yang baru saja meninggal dunia. Dengan meneteskan air mata saya berdoa “Ya, Allah! Jika hidup saya bermanfaat, panjangkan umur saya. Jika tidak, cabut sekarang juga!” Tapi Allah justru memanjangkan umur saya.
2. Saya masih bandel, lalu datanglah mimpi dasyat itu, seumur hidup tidak akan saya lupakan. Saya mati, lalu dibawa dengan keranda mayat ke Kubur, setelah dikubut, datanglah dua Malaikat dengan membawa dua Godam yang besar langsung menyiksa saya sekeras-kerasnya tanpa ampun. Saya bangun dari tidur; dada bergemuruh keras, bayang-bayang mimpi itu nyata, saya melihat sekeliling apakah saya sudah mati atau masih hidup. Alhamdulillah, saya masih hidup sampai sekarang.
3. Semenjak itu, saya bunuh Zamhari yang dulu, lalu menghidupkan sosok baru bernama Ahmad Zamhari Hasan. Ketika saya mau bandel, maksiat dan berbuat salah, saya selalu mengingat nama Ahmad di depan saya karena merupakan nama kecil Nabi Muhammad SAW.
Dengan semua kisah di atas, maka tobatlah wahai kawan, ikwan, ikhwah, dan siapa saja yang sampai saat ini bergelimang dosa tanpa mau keluar darinya. Bertobatlah! Mumpung belum terlambat, jika terlambat, Anda akan menyesalinya dan mendapat Adzab Allah yang luar biasa sangat dasyat sekali.
Nikmatnya shalat Tahajjud
Salah satu shalat sunnah yang mendekati shalat wajib 5 waktu ialah Shalat Tahajjud pada malam hari. Di samping itu, bagi yang telah menjadikan shalat Tahajjud sebagai kebutuhan seperti halnya shalat Lima waktu, maka akan merasakan kenikmatan shalat Tahajjud yang tak terkirat. Hal ini karena beberapa alasan:
1. Ayat tentang shalat Tahajjud merupakan bentuk perintah “Fatahajjad bihi naafidatal laik ..” maka shalat tahajjudlah kamu pada sebagian malam. Ini menunjukkan tingginya derajat shalat Tahajjud.
2. Shalat tahajjud yang paling utama dilakukan setelah bangun tidur pada pertengahan malam atau seperti malam terakhir antara pukul 03.00-04.30 WIB. Pada waktu itu malam sunyi, tenang dan orang-orang sedang terlelap tidur, sehingga saat melaksanakan sholat penuh ketenangan, ketentraman dan focus pada ibadah hanya pada Allah. Dianjurkan sambil shalat menitikkan air mata karena takut dasyatnya siksa kubur, padang Mashsyar, Syirat (jembatan penitian) dan azab neraka, karena takut Allah tidak sudi berjumpa dengan kita di akhirat, takut amal-amal kebaikan menjadi fatamorgana karena ketidaktahuan dan dicampur dengan amal-amal yang merusak ibadah, taku dosa yang sangat luar biasa banyak tidak diampuni Allah.
3. Sebagai pengikat istiqomah shalat Tahajjud setiap malam, dapat dilakukan sebelum tidur dua rakaat dan dilanjutkan ketika bangun tidur sebelum waktu subuh datang.
4. Shalat Tahajjud yang dilakukan tanpa pamrih dan hanya mengharap ridha Allah semata, insya Allah membawa pada kesuksesan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
5. Shalat Tahajjud secara ikhlas terbukti dapat menjadi terapi penyakit stroke atau darah tinggi, hal ini telah dibuktikan kebenarannya oleh penulis buku Shalat Tahajjud.
6. Sahabat-sahabat saya yang sekarang berhasil di berbagai bidang yang digelutinya karena rajin shalat Tahajjud ketika di Pesantren, seperti Dr. Agus Wedi, pakar Teknologi pendidikan dari Malang.
Mari kita berlomba-lomba melaksanakan shalat Tahajjud secara ikhlas, insya Allah keberhasilan akan datang bersama usaha yang dilakukan. Jika pun tidak menikmati kesuksesan di dunia, di akhirat kelak kita menikmatinya. Bukankah kehidupan akhirat jauh lebih baik dari kehidupan dunia?
“Ingin Mendapatkan Rizki! Shalat Dhuha, Dong!”
Shalat Dhuha di pagi hari antara 2 rakaat sampai 12 rakaat (setiap 2 rakaat satu salam), sudah terbukti memurahkan rizki yang diperoleh asal usaha yang dilakukan sudah benar.
Luar biasanya Islam ialah setiap ibadah yang dilakukan memiliki keutamaan tersendiri, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Bukankah banyak di antara kita yang mengeluh bahwa usaha sudah pontang-panting, namun hasil yang diperoleh sama saja? Salah satu masalahnya ialah karena tidak pernah shalat Dhuha antara pukul 06.00-11.00 WIB. Sebab shalat Dhuha salah satu keutamaannya ialah memudahkan rizki yang diperoleh.
Di samping itu, kita harus introspeksi diri pada usaha yang dikelola, sudahkah menggunakan cara-cara yang benar sesuai ajaran agama Islam atau malah kita menghalalkan segala acara untuk mendapatkan rizki, sehingga kehilangan barokah harta.
Usaha yang dikelola harus dilakukan dengan perhitungan yang matang (pikiran), manajeman waktu yang baik (7-12 jam setiap hari), perhitungan antara pengeluaran dan pemasukan (mengatur keinginan), melayani kunsomen super terbaik, membaca keadaan dengan cerdas dalam meraih peluang atau melakukan perubahan dan pasrah pada Allah melalui Shalat Dhuha.
Hikmah di balik Musibah
Ahmad Zamhari Hasan*
Apa yang terjadi dalam pembagian zakat harta di Pasuruan yang menimbulkan korban jiwa puluhan orang, sungguh merupakan “tanda-tanda” Allah pada umat Islam untuk memahami dan mengambil hikmah darinya supaya peristiwa yang sama tidak terulang dan umat Islam lebih mampu mengambil multi manfaat dari zakat harta/fitrah.
Dalam tulisan ini, saya mencoba merumushkan hikmah di balik pertistiwa tersebut.
1. Ini merupakan teguran keras pada umat Islam supaya mengelola zakat harta dengan cara yang lebih baik, multi manfaat dan tepat guna. Contoh; seandainya uang yang dizakatkan diberikan pada lebih sedikit fakir miskin, namun digunakan untuk modal usaha, sehingga manfaatnya dirasakan terus menerus seumur hidup, ini tentu lebih baik dan menjadi amal jariah yang pahalanya terus mengalir.
2. Berbuat baik saja tidak dicukup jika tidak diiringan dengan strategi, cara mengatur dan mencari bentuk-bentuk terbaik yang terbukti berhasil. Sebagai contoh; Habib Muhdhar di Bondowoso memberikan sedekah diam-diam ke rumah-rumah fakir miskin pada saat mereka terlelap tidur, sumbangan berupa beras dan sejumlah uang di taruh di depan pintu, para penerima zakat tidak mengetahui siapa yang memberi zakat di depan pintu mereka, sampai sang habib meninggal dunia baru ketahuan, sebab tidak ada lagi yang bungkusan di depan pintu. Sebua strategi menyumbang jenius, dilandasi keikhlasan tulus, dan insya Allah diterima di sisiNya.
3. Mengeluarkan zakat tidak perlu dipamerkan terus menerus di depan banyak orang. Faktanya; zakat ini sudah diberikan bertahun-tahun, kenapa baru sekarang terjadi hal menggenaskan yang dasyat? Seharusnya, cukup tiga kali zakat diberikan pada kerumunan orang dan diliput berbagai media, selanjutnya ditempuh cara lain; menyuruh orang lain (orang kaya tentu mudah menyuruh orang) untuk membagikan zakat harta ke rumah-rumah yang berhak menerima dengan dibantu saksi terpercaya, tidak masalah hal ini membutuhkan waktu seminggu. Paling penting, tanpa korban jiwa, tanpa ada yang terjepit, tanpa ada tangis, dan tanpa menyusahkan yang berhak menerima.
4. Pelajaran berharga pada pemerintah dalam membagikan BLT dengan cara yang sama, bukankah dalam pembagiannya juga pernah jatuh korban lagi? Harusnya pemerintah lebih cerdas dengan menempuh strategi berbeda, namun tepat sasaran.
5. Wujudkan zakat harta di lapangan pendidikan, panti asuhan yang amanah, dan lembaga sosial terpercaya yang digunakan untuk memberdayakan fakir miskin, yatim piatu dan anak jalanan. Saat ini pendidikan gratis di sekolah umum/pesantren sangat banyak dan butuh bantuan agar berjalan dengan baik dan dikelola secara professional.
6. Salurkan zakat harta pada Amil Zakat terdekat, tapi minta laporan digunakan untuk apa saja zakat harta tersebut jika berjumlah sangat besar. Biarkan Amil Zakat yang mensosialisasikan bahwa sumbangan ini dari zakar harta dari fulan yang kaya raya.
Banyak hal sebenarnya di kalangan umat Islam yang sangat lemah sekali, bukan hanya dalam mengelola zakat harta untuk memberantas kemiskinan, namun hampir berbagai aspek kehidupan lain seperti pendidikan, sosial, ekonomi, politik dan budaya, umat Islam sangat lemah dalam manajerial atau pengaturannya. Peristiwa di atas merupakan “teguran kasar” agar umat Islam secepatnya memberbaiki dan menyempurnakan hal tersebut.
* Penulis Buku Berniaga Dengan Iman, Kiat-Kiat Agamis Menjadi Saudagar Sukses Novel; Bidadari Posmodern, buku “BELAJAR OTODIDAK SAMPAI MATI, Pembelajaran Seumur Hidup Sebagai Kebutuhan Mendesak Saat Ini!” (belum terbit) yang merupakan edisi revisi dari buku “Mau Kuliah Alternatif? BELAJAR OTODIDAK, Dong!” 2007, Ka Tulis Tiwa Press Jakarta, Segera terbit buku Pelatihan Learning For Living (LFL); 3 LANGKAH SEDERHANA MENUJU KESUKSESAN. Kini menjadi Trainer Pelatihan LFL untuk Pelajar, Mahasiswa dan Umum tentang Belajar Otodidak, Wira Usaha Islam dan Mukmin Sejati. Blog; www.sampenulis.wordpress.com
Shalat Hajat Agar Doa dikabulkan Allah!
Setiap orang ingin agar setiap doa-doanya dikabulkan Allah SWT., sayangnya keinginan ini tidak diikuti dengan beberapa hal yang harus dilakukan agar doaNya dikabulkan Allah. Beberapa hal tersebut ialah;
1. Berdoa hanya pada Allah semata, sebelum berdoa harus memperbanyak istigfar dulu, ingat Nabi Muhammad SAW yang dosanya diampuni Allah membaca 100 istigfar setiap hari.
2. Memakan makanan yang halal agar tubuh menjadi suci, sehingga jiwa juga suci.
3. Berdoa dengan tata karma yang benar; memahami isi bacaan doa, menghayati maknanya, menundukkan kepala sambil mengadahkan tangan, dan berusaha meneteskan air mata.
4. Berdoa hal-hal yang baik dan positif
5. Mengulang-ulang doa, sebab sebagai manusia kita makhluk yang penuh dosa, karena itu doa harus diulang-ulang setiap kali selesai shalat.
6. Berdoa secara khusyu’ dan penuh kerendahan hati
7. Ini yang penting, membiasakan shalat hajat agar doa dikabulkan Allah. Shalat hajat merupakan upaya yang paling efektif agar doa dikabulkan Allah, sebab shalat hajat memang diperuntukkan untuk itu.
8. Yakinlah bahwa doa dikabulkan Allah; satu jam kemudian, satu hari kemudian, satu minggu kemudian, satu bulan kemudian, satu tahun kemudian, satu dekade kemudian, satu dasawarsa kemudian, satu hari sebelum meninggal dan saat meninggal dunia karena dinikmati anak cucu/ generasi mendatang.
Semoga Allah mengabulkan doa-doa kita, sehingga kita dapat menikmati hidup yang bahagia, baik di dunia maupun di akhirat. Amien!
Sumbagan Pemikiran
Untuk Santri Kelas Akhir TMI/TMaI Al-Amien
Ahmad Zamhari Hasan
Pendahuluan
Dalam tulisan pendek ini, saya akan menulis tentang sumbangan pemikiran yang ingin diberikan pada Al-Mamater tercinta Al-Amien, khususnya santri kelas akhir/alumni pesantren. Hal-hal yang saya tulis merupakan hasil pemikiran, pengalaman, pemahaman dan pembacaan saya terhadap perkembangan yang ada di masyakarat, kondisi alumni Al-Amien dan beberapa literatur yang saya baca, sehingga diharapkan bisa dipahami sekaligus dimanfaatkan para alumni dalam rangka terjun di tengah-tengah masyarakat.
Penjelasan saya diawali dengan klasifikasi umum santri kelas akhir calon alumni pesantren Al-Amien agar diperoleh peta umum tentang tingkah laku, kelemahan dan kelebihan mereka, dilanjutkan dengan tulisan belajar dari pengalaman pribadi saya dalam menghadapi berbagai kegagalan, mengatasi tekanan, meningkatkan motivasi untuk perbaikan diri dan cara melakukan aktualisasi diri atau realisasi diri, diakhiri dengan klasifikasi Islam di Indonesia pada masa kini yang memusatkan perhatian pada perkembangan Islam di Indonesia agar para alumni bisa memahami, bersikap benar dan tidak terlalu kaget dan awam saat berhadapan dengan berbagai kelompok yang berbeda.
Klasifikasi Alumni Pesantren
Sebagai mantan ketua kelas VI, saya berpengalaman menghadapi teman sebaya dan mengetahui karakteristik mereka, maka dalam kesempatan ini, saya akan mengklasifikasikan kelompok-kelompok yang ada dalam anak-anak kelas VI agar bisa disikapi dengan benar dan para alumni bisa memperbaiki diri tak peduli termasuk dalam kelompok manapun. Mungkin sekarang keadaan mereka berbeda karena perubahan waktu dan zaman, tapi sifat umum dari kelompok kelompok tersebut tidak berubah seperti:
Pertama; kelompok taat. Kelompok ini adalah idaman Bapak Kiai dan guru, karena mereka mudah diarahkan dan mematuhi apa yang diperintahkan, hanya kelemahan kelompok ini kurang bergaul dan cendrung mengurus dirinya sendiri. Alumni Al-Amien yang masuk kriteria taat ini sebagian besar berhasil saat terjun di tengah-tengah masyarakat seperti Agus Wedi yang sukses studinya adalah kelompok ini atau Lalu Mas’ud yang jadi dosen di NTB. Kriteria kelompok ini; rajin shalat jamaah tanpa paksaan, rajin tahajjud dan dhuha, patuh tanpa bantahan pada perintah guru dan Kiai, ada yang pintar dan kurang pintar, dan rendah hati. Bergaul dan bantu orang lain kata kuncinya. Kelompok ini yang kasat mata berhasil, tapi hakikatnya gagal yakni Suhairi Misrawi tangan kanan Ulil Absar Abdallah (mungkin ketua baru karena digodok di AS) di Jaringan Islam Liberal yang membawa banyak kemudzaratan dari kemanfaatannya.
Kedua; kelompok nakal. Kelompok ini adalah “musuh” dari para guru karena jika diperintah menerima sambil menggerutu dan malah membantah, tidak senang belajar di kelas, meninggalkan shalat di luar pondok adalah biasa bahkan dipondok mencuri-curi untuk tidak shalat, senang membantah guru atau teman, jika shalat jamaah dalam keadaan terpaksa, tidak pernah shalat dhuha dan tahajjud sendiri, senang melakukan sesuatu yang berbeda meski berseberangan siapapun, positifnya senang bergaul, membantu orang lain dan solider pada teman. Kenakalan ada beberapa sebab; latar belakang keluarga yang rusak akibat bercerai, anak broken home, anak yang kurang disayangi kedua orang tuanya, punya penyakit kinestetik; tidak suka diam tapi senang bergerak, punya penyakit kejiwaan tapi tetap bersikap normal. Karena sebab-sebabnya berbeda-beda, sudah seharusnya dihadapi secara berbeda-beda pula. Introspeksi diri bagi para alumni yang termasuk kelompok ini kata kuncinya. Tidak semua anak nakal gagal di tengah masyarakat, malah banyak yang berhasil karena mereka berani, banyak teman, senang bergaul dan mudah menyesuaikan diri, tentu setelah mampu mengatasi “kenakalannya” dan menyalurkan pada hal-hal yang positif.
Kelompok ketiga; Kelompok antara taat dan nakal. Kelompok ini biasanya shalat jamaah karena terpaksa atau sukarela, bila pulang ke rumah kadang tidak shalat, kadang patuh tapi kadang membangkang, suka bersikap kritis pada teman dan guru, kadang bergaul dan tidak, bergaul meski kalah gaul dengan kelompok nakal. Kelompok ini adalah kelompok persimpangan, hidupnya dipenuhi berbagai kebimbangan, dan selalu antara dua dunia berbeda. Orang dengan tipe ini yang berhasil adalah Soekarno dan Umar Kayyam, yang gagal seperti saya ini, untuk alumni pesantren yang sukses mungkin Jamal D. Rahman. Orang dengan tipe ini kadang angin-anginan, tapi bila menemukan sesuatu yang disenangi, dia akan mengerjakannya sepenuh hati. Jika alumni merasa masuk tipe kelompok ini harus berhati-hati, berusaha membangkitkan motivasi dengan melihat orang yang berhasil, dan berkayalah menurut bidang yang disenangi tanpa paksaan. Inisiatif diri kata kuncinya.
Belajar dari Pengalaman Orang Biasa
Sebagai alumni pesantren Al-Amien yang telah merasakan pahit getirnya menjalani hidup di tengah-tengah masyarakat, kurang lebih 10 tahun setelah lulus dari PTA 1996, saya merasakan dinamika berhubungan dengan masyarakat. Memang dilihat beberapa aspek, saya bukan termasuk orang yang sukses malah mungkin dianggap gagal, sebab tidak mampu menjadi tokoh masyarakat dan hasil karya tulis tidak ada yang diterbitkan, tapi dilihat dalam konteks aktualisasi diri sebagai tujuan hidup menurut psikologi kontemporer mungkin saya dianggap berhasil, sebab di tengah kegagalan kuliah, saya tetap rajin membaca buku (setiap tahun menyisihkan uang antara Rp. 150.000,- dan 250.000 ribu untuk membeli buku), menghasilkan dua ontologi puisi, satu kumpulan cerpen, dua novel, dan empat skenario film/FTV/ sinetron, serta satu kumpulan tulisan hasil pembacaan kreatif terhadap buku-buku yang pernah dibaca. Terserah penilaian anda, paling penting dalam hidup saya menghasilkan karya tulis, tidak peduli diterbitkan atau tidak, menghasilkan materi atau tidak.
Melihat ketidakjelasan apakah saya berhasil atau gagal, kesimpulan yang paling utama adalah saya orang biasa. Ini perlu ditekankan, karena dari ratusan alumni Al-Amien yang wisuda tiap tahun (berarti sekarang ratusan ribu alumni telah lahir), hanya sebagian kecil yang sukses dan dianggap sebagai tokoh penting, sebagian besar di antaranya sama dengan saya yakni menjadi orang biasa-biasa saja atau dalam istilah Bapak Kiai menjadi orang awam. Dalam beberapa kesempatan Bapak Kiai berpesan bahwa “Haram muridku menjadi orang awam?” Menurut saya, haram yang dimaksud Bapak Kiai di sini dalam konteks kita hidup untuk diri kita sendiri, istri atau anak saja, dan kita tidak melakukan apapun agar bermanfaat di tengah-tengah masyarakat. Dalam konteks saya, agar tidak menjadi “orang awam yang awam” saya pernah mengajar di beberapa pesantren meski kemudian berhenti, terakhir mengajar anak Madrasah seminggu dua kali dan ini yang lebih penting saya menulis. Hasil karya tulis saya, saya berikan secara cuma-cuma pada guru, teman, orang yang membutuhkan dan siapapun yang minta akan saya berikan asal bermanfaat. Jadi saya tetap orang awam, namun saya tetap mampu mengaktualisasikan diri dalam keterbatasan yang dimiliki.
Kembali pada pembahasan sebagai orang biasa, masing-masing dari kita bercita-cita tinggi; ingin jadi presiden, tokoh masyarakat, Kiai, Ulama, pejabat, ilmuan, sastrawan, penulis, pengusaha dan cita-cita mulia lainnya, namun terkadang beberapa kenyataan yang dihadapi mengharuskan kita memiliki sikap yang berbeda. Sebagai contoh; biarkan saya yang jadi kelinci percobaan, sebab garis hidup saya memang menjadi kelinci percobaan, para alumni bisa mengambil manfaat dari pengalaman ini. Keuntungan belajar dari pengalaman orang biasa adalah antara kita tidak ada jarak, yang membedakan hanyalah saya lebih dahulu lulus dari para alumni, ini penting agar lebih mudah memahami dan menerapkan daripada belajar dari pengalaman tokoh besar yang sulit kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Saya alumni Al-Amien dengan segudang prestasi yang sulit ditandingi siapapun ketika mondok; selama mondok selalu berada di rengking 5 besar bahkan pernah sekali rengking satu, membaca buku mulai kelas I, kelas III dan IV saya merajai lomba karya tulis di Al-Amien dengan menjadi juara I lomba menulis cerpen dan karya ilmiah, kelas IV dan VI aktif baca filsafat sehingga salah jalan meremehkan shalat dan ketika jadi guru dua tahun tidak pernah sekalipun shalat jamaah (baru sadar 1999 setelah bermimpi disiksa dalam kubur tanpa pertanyaan, menjadi sadar kembali), mempelopori penerbitan SUASA (Suara Sastra Al-Amien) hampir sebagian besar isi SUASA adalah karya tulis saya, yang rutin menulis kolom setiap minggu dan mempelopori penerbitan majalah Al-Hikam PTA, ketika menjadi guru di Al-Amien; karya tulis saya dimuat di Harian Surya, penjadi peserta penulis karya ilmiah ICMI, dan juara I lomba baca tulis cerpen se Madura, pernah menjabat sebagai bagian pengajaran, ketua fasilitator dan ketua kelas VI. Dengan segudang prestasi dan piagam, garis nasib menaqdirkan saya pada sejumlah kegagalan; gagal kuliah di Undip Semarang, padahal sudah ada jaminan beasiswa ICMI, tidak bisa kuliah di tempat lain, sebab orang tua usahanya jatuh bangkrut dan saya menerima takdir untuk tidak kuliah, sedang ICMI tidak memberi jaminan jika kuliah di tempat lain. Mulai tahun 1999 aktif membaca dan menulis, sehingga menghasilkan banyak karya tulis, tapi tidak ada satupun yang diterbitkan atau berhasil.
Masa depan yang cerah berganti menjadi suram, pertanyaannya, apakah saya harus berhenti menulis dengan segala kegagalan dan keterbatasan saya? Jawabannya Tidak, saya tetap menulis meski harus berkorban dengan membeli komputer 5 juta, membeli buku sampai 1 juta, dan usaha lain yang banyak mengorbankan materi, tenaga, dan air mata. Apa yang dapat dipetik dari cerita kelinci percobaan ini;
Pertama; ketika mondok di Al-Amien kita harus mempersiapkan skill khusus agar bisa hidup di tengah-tengah masyarakat, kita tidak sekedar belajar banyak ilmu tapi sedikit, melainkan sedikit ilmu melainkan banyak. Misalnya; lebih baik kita ahli dalam bahasa Arab dari pada tahu bahasa Ingris sedikit, bahasa Arab sedikit, ilmu tafsir sedikit atau ilmu hadis sedikit, ilmu kalam sedikit dan lain-lain. Salah satu kegagalan saya adalah tahu banyak hal tapi sedikit. Bagaimana jika terlanjur? Jika ada pilihan mengajar di Al-Amien atau di luar, pilih mengajar di Al-Amien, lantas kita perdalam ilmu yang akan kita jadikan skill dalam hidup (banyak guru yang sangat berkualitas di Al-Amien, namun kurang dimanfaatkan para alumni/guru yunior), syukur syukur bisa menyelesaikan S1, ingat lho! Gaji guru PNS naik tiga kali lipat tahun 2008. Jika terlanjur mengajar di luar, cari pesantren yang bisa tetap kuliah, jika tak ada, kita terima pilihan yang ada dengan tetap berkomitmen untuk senantiasa belajar, memperdalam ilmu yang akan dijadikan skill. Tapi jika kita dikader mengasuh pesantren sebaiknya mottonya dirubah tahu banyak hal walau sedikit, sebab jika kita jadi Kiai suatu saat, kita dituntut untuk tahu banyak hal, dengan tahu banyak hal kita bisa bersikap bijaksana, dan mengambil keputusan yang tepat pada saat yang tepat.
Kedua; dengan filsafat saya salah jalan sehingga meremehkan ibadah shalat, maka saya harap para alumni tidak melakukan kesalahan yang sama, artinya sebaiknya tidak belajar filsafat sebelum keislaman dan keimanan kita benar-benar kuat. Kelalaian kita terhadap shalat atau ibadah spritual membawa konsekwensi yang banyak dalam hidup saya, sehingga mengalami kegagalan demi kegagalan. Apalagi sikap saya yang sombong dan angkuh membuat saya pernah menentang kebijakan Bapak Kiai dan guru lainnya, jika melakukan hal ini segeralah minta maaf, sehingga kita keluar pondok dengan hati lapang. Para alumni yang berhasil seperti Agus Wedi teman seperiode yang sedang menyelesaikan program Doktor di IKIP Malang adalah orang yang rajin shalat tidak hanya lima waktu, tapi juga tahajjud dan Dhuha, padahal dia dari keluarga miskin seperti saya.
Ketiga; meski punya banyak prestasi dan pintar, itu belum cukup tanpa diimbangi dengan kerja keras dan mental baja. Kelemahan saya adalah mudah menyerah pada kenyataan yang ada, gagal kuliah di Undip, saya menyerah untuk kuliah, padahal saya bisa kuliah di Universitas Syarif Hidayatullah Jakarta dengan cara bekerja sambil belajar, tapi saya tidak menempuh alternatif ini; ada mahasiswa di Yogyakarta yang bekerja mengayuh becak agar bisa tetap kuliah di UGM, alumni Al-Amien bisa menempuh hal ini. Saya juga bukan seorang pekerja keras, malah cendrung pemalas, sehingga seharusnya banyak hal yang dilakukan menjadi sedikit hal yang dilakukan.
Keempat; lulus Al-Amien sama dengan anak SMU atau MA lulus sekolah, jadi hakikatnya kemampuan kita terbatas, atau meminjam istilah pondok, apa yang kita pelajari baru dasar atau kita baru memegang kunci sedang banyak lemari yang akan dibuka, maka melanjutkan kuliah adalah pilihan utama yang harus dilakukan, dengan S1 kita bisa paling tidak menjadi guru kontrak, mengikuti ujian PNS dan mengajar di pesantren dengan gaji standar jika materi tujuannya, jika tujuan ilmu, kita bisa memperdalam ilmu yang kita inginkan dan memanfaatkannya di tengah-tengah masyarakat. Masyarakat semakin kompleks, kita harus memiliki pengetahuan yang cukup agar bisa beradaptasi.
Kelima; jika tidak kuliah, bukan berarti hidup kita berakhir, kita bisa tetap belajar dengan cara yang berbeda; belajar bukan hanya dari buku melainkan kita bisa belajar dari masyarakat; bagaimana berinteraksi yang baik, membina hubungan dengan orang lain, memahami budaya setempat dan bertindak secara bijaksana, belajar cara orang miskin bertahan hidup dengan keterbatasan, dan belajar hal lainnya. Jika kita terpaksa bekerja, cintailah pekerjaan kita, kembangkan sampai taraf maksimal dengan tetap rajin bersedekah, dan gunakan hasil kerja untuk hal-hal yang bermanfaat. Saya bekerja menjadi pedagang kecil dengan modal awal Rp. 800.000, ribu yang diterima dari orang tua sebagai modal tahun 1998, tahun pertama berdagang pindah-pindah tempat karena tidak punya kios sendiri, tahun ketiga bisa membeli kios sendiri seharga 10 juta, sampai sekarang mampu membiayai kegiatan otodidak saya atau belajar sendiri dan bisa membeli komputer agar tetap menulis. Di samping itu Kiai kita, KH. Moh. Idris Djauhari juga dipaksa keadaan untuk tidak kuliah, bukan tidak mau kuliah, tapi beliau mampu mengembangkan Al-Amien sampai sebesar sekarang dan pengetahuan beliau luar biasa, sebab disamping belajar otodidak, intuisi (pengetahuan yang diperoleh tanpa belajar atau diterima secara langsung dari Allah) beliau sangat hidup sehingga nasihat-nasihatnya sangat mempuni, pidatonya luar biasa dan mampu mengembangkan Al-Amien seperti sekarang. Jika keadaan memaksa kita menjadi petani, nelayan, pemulung, penarik becak, kernek, sopir angkutan, terimalah dengan penuh ketekunan dan kesabaran, jangan gengsi (gengsi penyakit alumni Al-Amien yang harus dimusnahkan, karena sangat berefek negatif) dengan kerja keras semua akan berubah lebih baik. Ingat meski jadi orang awam, tapi kita bukan orang awam biasa.
Keenam; Latar belakang keluarga menentukan kesuksesan seseorang meski bukan yang paling menentukan. Para santri yang berasal dari keluarga yang kaya, mampu dan berkecukupan bisa lebih mudah untuk bisa mengembangkan diri dibanding yang berasal dari keluarga miskin, namun modal ini tidak akan ada artinya seandainya santri yang bersangkutan tidak memiliki semangat belajar yang bagus, motivasi yang kuat dan kemauan untuk meningkatkan kemampuan diri. Justru terkadang anak yang dari keluarga miskin lebih berhasil karena terbiasa bekerja keras membantu orang tua, biasa hidup dalam kekurangan dan punya kemauan untuk bekerja sambil kuliah. Jadi yang paling menentukan tetap diri sendiri bukan keluarga, meskipun keluarga juga punya peran yang penting. Seperti dalam kasus saya, keluarga jatuh bangkrut ketika hendak kuliah, saat bersamaan saya tidak memiliki kemauan untuk bekerja keras, jadilah saya gagal kuliah.
Ketujuh; Hidup di tengah-tengah masyakarat lebih berat dari hidup di pondok, sebab hidup dengan orang lain dengan berbagai sifat tamak, iri, dengki, cemburu dan sifat buruk lainnya senantiasa bertarung sepanjang waktu. Kita meski ingin berbuat baik kadang ditanggapi keliru oleh masyarakat, sehingga kita harus pintar-pintar menahan diri. Maka belajar sabar, rendah hati, saling menghormati, dan akhlak yang baik lainnya harus diintegrasikan dalam diri agar kita bisa bertindak benar dalam waktu yang benar dan kondisi yang benar pula. Bila menghadapi kecaman, hujatan atau makian kita harus intropeksi diri, apa yang salah dengan sikap kita, jika tak ada yang salah berarti kita harus bersabar dan tetap menyempurnakan diri meski kesempurnaan tak akan pernah dicapai.
Kedelapan; Masalah lain yang akan dihadapi para alumni adalah bagi laki-laki masalah perempuan, bagi perempuan masalah laki-laki, sebagai contoh ada alumni Al-Amien yang meninggalkan pesantren yang dibinanya karena seorang perempuan, amat sangat terlalu luar biasa bukan? Kita terbiasa hidup dengan lelaki dan putri terbiasa hidup dengan sesama perempuan, sehingga saat lulus pesantren seperti kuda yang lama hidup di kandang, sehingga manakala bebas ingin melampiaskan pada apa yang ada didepannya, jadi jika ada alumni Al-Amien yang menyalurkan sembarangan seperti kuda tadi hakikatnya, seandainya ini yang terjadi untuk apa capek-capek mondok selama enam tahun; padahal kita mengorbankan tenaga, pikiran, orang tua bersusah payah mencari uang membiayai kita, dan lebih banyak menderita dari senang di pondok. Agar tidak menjadi kuda, kita harus belajar pelan-pelan bagaimana bergaul dengan lawan jenis dengan mengingat rambu utama Jangan berzina! Berzina tidak akan diampuni dosanya selama 40 tahun, belum lagi efek yang ditimbulkan; kita kawin sebelum waktunya, penyakit Aids, spilis dan Harimau, bahkan ada keyakinan di masyarakat (saya melihat sendiri) orang yang berhubungan seks sebelum menikah rizkinya jadi terhambat, sehingga hidupnya susah memperoleh rizki, bagi mahasiswa kesulitan memperoleh ilmu. Di kos-kosan mahasiswa Ciputat Jakarta, mahasiswi berkerudung keluar masuk tempat kos laki-laki, demikian sebaliknya, jika iman tidak kuat kita akan hancur. Bagi perempuan, jangan mudah melepas kerudung dengan alasan apapun, bagi laki-laki perempuan berkerudung lebih anggun dan memikat, doktrin Islam Liberal bahwa kerudung tidak wajib adalah kesalahan dan kebohongan belaka, jika kita mengikutinya sama saja dengan kita mengikuti ajaran yang salah. Marilah kita jadikan kerudung sebagai pelindung dan sekaligus gaya hidup kita, sebab orang melepas kerudung karena alasan gaya. Bagi perempuan yang harus diperhatikan juga, seks sebelum menikah adalah prahara dalam kehidupan perkawinan pada masa mendatang, maka hindarilah. Bagi laki-laki jangan mudah mempermainkan hati perempuan karena ada balasannya di dunia dan akhirat. Masalah ini perlu dibahas karena menjadi salah satu masalah yang sangat rawan, apalagi usia para alumni dimungkinkan untuk mengenal hal ini, dari pada mereka mengenal dari sumber yang salah, lebih baik dijelaskan terlebih dahulu, apalagi terdapat beberapa fakta meyakinkan bahwa para alumni kita gagal menangani hal ini sehingga gagal di masyarakat. Percayalah jika sudah tiba waktunya kita akan memperoleh jodoh masing-masing yang terbaik untuk dunia dan akhirat kita!
Kesembilan; faktor peluang/kesempatan dan keberuntungan juga memegang peranan tak kalah penting. Berapa banyak orang hebat di dunia yang sangat ahli di bidangnya, tapi tetap gagal meraih kesuksesan karena tidak memiliki kesempatan atau peluang untuk menunjukkan kemampuannya, maka para alumni yang mendapatkan peluang bagus langsung mengambil peluang tersebut dan mengerjakan dengan sungguh-sungguh, sebab peluang tidak datang dua kali dalam hidup. Jangan ragu mengambil peluang karena alasan tidak mampu, kurang ahli atau merasa rendah diri, sebab semua itu bisa dilakukan dengan belajar terus menerus sambil memanfaatkan peluang yang ada. Keberuntungan juga menentukan meski bukan segalanya, keberuntungan diperoleh dengan cara mendekatkan diri pada Allah lewat berbagai cara; ibadah spritual, membantu orang lain, rajin bersedekah dan tawakkal. Bila keberuntungan tidak datang dalam hidup kita, bukan berarti kita harus berhenti meneruskan cita-cita mulia, melainkan berusaha bekerja lebih keras lagi, sebab siapa tahu keberuntungan datang setelah kita meninggal. Sebagai ilustrasi; semasa hidup Khairil Anwar puisi-puisinya kurang dihargai malah dianggap plagiator, tapi sekarang siapa yang tidak kenal Khairil Anwar? Bahkan disebut pelopor puisi angkatan 45, Frans Kafka yang menghasilkan tiga kumpulan cerpen dan tiga novel, semasa hidup tulisannya tidak ada yang diterbitkan, setelah meninggal, lewat jasa teman sejatinya karya tulisnya diterbitkan, hasilnya Frans Kafka disebut sebagai pelopor sastra postmodern. Ini menunjukkan bahwa keberuntungan seseorang tertunda setelah kematiannya, saya meyakini hal ini, maka tetap terus berkarya meski kegagalan demi kegagalan selalu menyertai langkah saya.
Islam di Indonesia Masa Kini
Para alumni harus mengetahui perkembangan Islam di Indonesia agar bisa bersikap yang benar. Perkembangan Islam di Indonesia berlangsung sangat cepat, satu aspek bergerak maju, ditinjau aspek yang berbeda bergerak mundur atau lebih tepatnya stagnan. Berikut akan saya gambaran kenyataaan yang ada di masyarakat dan bagaimana para alumni harus menyikapinya, serta memahami apa yang akan dihadapi. Munurut saya Islam di Indonesia diklasifikasikan pada beberapa kelompok:
Pertama; kelompok Islam politik, yakni umat Islam yang menerjunkan diri ke arena politik sebagai medan juangnnya. Kelompok ini terbagi dalam kelompok yang menjadikan Islam sebagai alat politik seperti yang dilakukan orang-orang yang memperkaya diri dengan memanfaatkan Islam lewat jalur politik, dan kelompok yang memperjuangkan Islam lewat politik; ini sangat jarang, yang kelihatan di Jakarta adalah kelompok PKS dengan pembinaan kadernya yang memang diniatkan untuk Islam, sebagian kecil orang PAN, PKB dan PPP. Para santri yang akan terjun di arena ini tetap berkomitmen untuk menjadikan politik sebagai sarana perjuangan Islam.
Kedua; Islam strutural, yakni umat Islam yang terjun dalam orgnisasi masyarakat seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad, dan organisasi Islam lainnya. Kelemahan kelompok ini terlalu membela kepentingan kelompoknya dari kepentingan Islam, meski sekarang sudah ada pendekatan antara NU dan Muhammadiyah misalnya agar lebih mengedepankan Islam daripada kelompoknya. Ketika terjun dalam masyarakat, kita harus tahu peta organisasi ini agar bisa menyesuaikan diri, jangan terlalu memakasakan diri dengan misi kita yang ingin mengedepankan Islam, jika harus mengikuti salah satu kelompok, bergabunglah tanpa terlibat dalam fanatik buta.
Ketiga; Islam budaya yang terbagi dalam Islam Radikal, Islam Liberal dan Islam ala Al-Amien dan Gontor.
Islam radikal adalah umat Islam yang berusaha memperjuangkan Islam dengan segala cara, baik lewat kekerasan fisik, pemikiran dan sikap hidup. Sebagian pengikut Islam radikal terjebak dalam kelompok terorisme yang melakukan tindakan destruktif untuk mencapai tujuan. Ikut kelompok ini tidak baik bagi kehidupan kita dan orang lain, sebab mereka menerapkan konteks jihad dalam pengertian perang, padahal makna jihad berarti berjuang tanpa pamrih, kerja keras, dan bila diserang baru balas menyerang.
Islam Liberal; umat Islam yang menginginkan Islam di Indonesia meniru Barat yakni bersikap liberal dalam segala aspek kehiudpan; politik, ekonomi, budaya dan sosial, padahal liberalisme Barat ditolak oleh masyarakat AS tahuan 70-an lewat gearakan Kiri Baru dan sebagian besar pemikir postmodern dan psotrukturalis menolak pemikiran mereka, mereka memperjuangkan nilai-nilai Barat dalam Islam konsekwensinya mereka mendapatkan dana berlimpah dari Barat; Eropa dan AS. Liberalisme dalam berbagai aspek kehidupan adalah kemustahilan sebab tidak mungkin manusia bebas sebebasnya selama hidup dengan orang lain atau masyarakat. Banyak kelemahan-kelemahan pemikiran mereka yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu karena keterbatasan makalah ini, intinya Islam Liberal adalah sampah yang harus dibuang ke tong sampah. Para alumni jangan terlalu kaget bila menghadapi mereka di luar.
Kelompok ketiga adalah impian kita, saya menyebutnya Islam ala Gontor dan Al-Amien, sebab Islam mereka berdiri di atas semua golongan, Islam mereka adalah hakikat Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW, tentu para alumni telah memahami Islam yang saya maksudkan ini. Jangan ragu untuk memperjuangkan Islam ala Al-Amien dan Gontor, sebab dalam prediksi saya, kemajuan Islam di Indoensia akan dibawa oleh Islam kelompok ketiga ini asal para alumninya tidak terjebak dalam Islam Liberal dan Radikal. Hanya waktu yang akan membenarkan tesis ini.
Saya pernah mencoba bersikap liberal dalam hidup saya, tapi yang saya temukan kebingungan, kegelisahan, depresi dan frustasi, justru saya mendapatkan ketenangan setelah kembali pada Islam yang diajarkan di pondok. Bahkan mungkin sikap liberal saya telah dimulai di pondok saat kelas IV dan jadi guru, kalian tahu sendiri bagaimana kehidupan saya selanjutnya. Islam radikal juga kurang baik karena memperjuangkan Islam dengan kekerasan, padahal Islam itu lemah lembut seperti cara Nabi mengajarkan Islam. Maka yang terbaik adalah Islam seperti ala Al-Amien dan Gontor; Islam yang rahmatan lil ‘alamien, tidak mencampur adukkan ajaran Islam dengan nilai-nilai Barat, amar ma’ruf nahi munkar, derajat antar manusia sama kecuali yang paling bertakwa, tidak ada sistem pastoral seperti Kristen (Ulama bukan seperti pastor) dan membawa kebahagian, kedamaian, ketenraman dan kemulyaan di dunia dan akhirat.
Penutup
Apa yang saya sampaikan ini adalah hasil perenungan, pembacaan dan pemahaman saya terhadap berbagai aspek kehidupan selama 10 tahun terjun di tengah-tengah masyarakat. Seperti yang saya katakan di awal, para alumni beruntung membaca pengalaman dari orang biasa ini, tapi tetap mengaktualisasikan diri lewat tulisan meski tulisan-tulisannya banyak yang gagal. Belajar dari kegagalan orang lain akan menjadi hikmah jika kita melakukan introspeksi diri, bisa menjadi barokah ketika kita mencoba menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, menjadi rahmat jika para alumni tahu apa yang harus dilakukan pada masa yang akan datang, menjadi sia-sia jika tidak berpengaruh apapun pada kehidupan para alumni.
Sekarang sampailah pada beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan para alumni dalam rangka hidup di tengah-tengah masyarakat, menyelesaikan studi atau kuliah, dan menatap masa depan yang masih remang-remang. Masa depan remang-remang akan menjadi semakin jelas kita kita membuat perencanaan yang matang, meski jalan kehidupan terkadang tidak sesuai dengan rencana.
Pertama; susunlah rencana jangka pendek, menengah dan panjang -masing-masing berisi rencana utama dan alternatif, contoh; rencana utama jangka pendek; menguasai bahasa Inggris dalam 6 bulan, rencana alternatif; menguasai bahasa Arab, menguasai bahasa Indonesia, menguasai ilmu tafsir, menguasai ilmu hadits ( artinya dalam 6 bulan kita banyak membaca buku yang ingin diperdalam), rencana utama menengah; ingin kuliah biaya orang tua, rencana alternatif; bekerja sambil kuliah, bekerja dulu dua tahun baru kuliah, bekerja sambil belajar, rencana utama jangka panjang; menjadi dosen, rencana alternatif; menjadi guru SMU/MA, menjadi guru di pesantren, menjadi tokoh masyarakat, menjadi penulis, menjadi pedagang/wiraswastawan/nelayan/petani-, dalam menyusun rencana sesuaikan dengan kemampuan diri, keadaan orang tua, lingkungan masyarakat yang akan dituju dan kenyataan yang ada, ketika saya menulis 10 rencana jangka pendek, menengah dan panjang misalnya, ternyata sebagian terlaksana, tapi ada yang tidak, kedua; Dalam menyusun rencana, buat alternatif yang banyak, sehingga ketika gagal yang satu kita bisa melakukan rencana lainnya, minimal tiga rencana alternatif jika rencana utama gagal, ketiga; susun beberapa kelemahan dan kelebihan kita sehingga mampu melaksanakan rencana yang akan dibuat, kelemahan harus diatasi dan kelebihan harus dimanfaatkan maksimal, jujurlah pada diri sendiri saat menuliskannya sebab ini demi kebaikan kita di masa yang akan datang, keempat; kita tulis apa saja yang harus dipersiapkan agar rencana kita terlaksana, persiapan terdiri dari fisik, mental, pikiran dan skill (seperti dijelaskan di atas), dan kita harus berupaya melaksanakan komitmen yang dibuat untuk masa depan kita sendiri, kelima; jika menghadapi kendala dan rintangan, hadapi dengan tenang, pikiran jernih, kesabaran dan tawakkal pada Allah (bentuk tawakkal menurut saya diwujudkan dalam do’a, shalat tahajjud, shalat dhuha dan dzikir). Selamat mempraktekkan! Semoga alumni Al-Amien lebih berhasil dari saya pada masa mendatang! Amien!
Kolom:
BARAT STRES DAN PARANOID
Ahmad Zamhari Hasan*
“Semua yang berasal dari Barat Benar dan dari Timur pasti salah,” seru Gembrot.
“Jangan begitu dong, Barat tak lebih dari sebuah arah, sebab masih ada Selatan, Utara dan Timur,” Ceking menimpali.
“Ha ha ha! Buktinya apa-apa yang dari Barat diterima dengan lapang dada, perasaan gembira, penuh gengsi, dan semangat berapi-api. Na na na!” Gembrot menari-nari gembira.
“Jangan ngomong api, jika tidak ingin terbakar!” Bentak Ceking
“Api bukan membakar, malah menyejukkan.” Gemrot menhentikan tariannya.
:”Tidak, untuk membakar.”
“Untuk menyejukkan kataku!”
Gemrot dan Ceking bertengkar hebat terhadap masalah yang bukan masalah, untung petugas rumah sakit jiwa datang melerai, sehingga mereka bisa dilerai. Semoga saja masalah yang dibawa kelompok yang mengatasnamakan Islam Liberal, bukan masalah yang dibawa dari rumah sakit jiwa. Nah! Lho! Hah?
**********************
Para Orientalis telah berabad-abad silam menanamkan pemahaman di kalangan basyarakat Barat bahwa Islam identik dengan perang, darah dan pembantaian. Penyebaran Islam yang sangat luar biasa di berbagai penjuru dunia dianggap sebagai hasil dari perang. Bahkan digambarkan seakan-akan Islam tidak akan menyebar pesat tanpa perang. Bahkan tidak kurang dari Max Weber seorang ilmuan terkemuka Barat turut menggambarkan Islam identik dengan perang, padahal Max Weber adalah produk ilmu pengetahuan Barat dengan metodologi ilmiahnya yang bebas nilai, netral dan membiarkan fakta berbicara apa adanya, tapi mengapa kesimpulannya tidak jauh berbeda dengan pemahaman orang awam Barat yang mengidentikkan Islam dengan perang? Ini dikarenakan upaya orientalis untuk memberikan pemahaman terhadap Islam telah tertanam dalam dalam jiwa, sendi-sendi kehidupan, dan berpengaruh terhadap pemikiran dan sikap hidup masyarakat Barat, mulai kalangan masyarakat awam sampai masyarakat intelektual, mulai kalangan masyarakat bawah sampai masyarakat kelas menengah dan atas. Ini diperkuat dengan jasa media Barat mulai media elektronik seperti CNN, BBC, Voice of Amerika, media masssa seperti Times, New York Times, Washington Post, media film, sinetron, talk show, dan berbagai media berteknologi canggih lainnya dimanfaatkan untuk memperkuat pemahaman bahwa Islam identik dengan kekerasan, perang dan terorisme.
Pemahaman yang mendarah daging ini melahirkan ketakutan dan kecemasan di kalangan masyarakat Barat terhadap Islam. Pada waktu seseorang mengalami ketakutan dan kecemasan yang berlebihan, maka yang terjadi adalah sikap-sikap irrasional masyarakat Barat terhadap Islam. Bukti dari sikap irrasional ini adalah perang yang dilakukan Inggris dan AS terhadap Irak, padahal jelas-jelas senjata biologis yang ditakutkan telah diproduksi Irak sebagai dasar untuk menyerangnya, ternyata tidak terbukti. Bukti kedua setiap terjadi pemboman di bumi AS dan Eropah tertuduh pertamanya adalah umat Islam, padahal dalam penyelidikan terbukti hanya sedikit kejadian yang dilakukan umat Islam, sedang pelakukanya adalah masyarakat Barat sendiri yang tidak puas terhadap kebijakan pemerintahnya. Dalam pemboban yang paling dasyat di muka bumi yakni pemboman WTC, sampai sekarang tidak ada bukti kongrit bahwa pelakukan adalah Osamah bin Laden (tokoh jahat yang diciptakan Barat sebagai alat untuk dijadikan kambing hitam), bahkan banyak muncul kemudian buku-buku yang ditulis penulis Barat sendiri yang menganalisis bahwa hal itu adalah kerjaan orang profesional dari Israel, karena waktu kejadian sebagian besar orang Yahudi yang bekerja di dalamnya tidak masuk kantor sehingga selamat dari kematian. Tidak masuk akal para teroris anak buah bin Laden mampu melakukan penyerangan terencana yang rapi dengan target-target yang merupakan simbol kejayaan AS seperti Pentagon, WTC dan istana kepresidenan, tanpa terendus oleh FBI dan CIA, dua lembaga intelegen yang paling canggih dan hebat di seluruh dunia. Padahal seperti yang diketahui orang banyak, meski takut mengatakannya, penguasa di balik layar di AS yang mengatur segalanya adalah orang-orang Yahudi. Semua orang paham bahwa Yahudi dalam sejarahnya senantiasa memusuhi Islam. Jika dulu Nazi membunuh orang-orang Yahudi dengan kejam, kini balik orang-orang Yahudi yang membunuhi orang-orang tak berdosa di Palestina yang menjadi simbol Islam, mengapa mereka tidak melakukan terhadap orang-orang Jerman yang merupakan pusat Nazi?
Masih segar dalam ingatan, bagaimana seorang intelektual Barat yakni Huntington yang membuat tesis bahwa yang terjadi pada masa mendatang adalah perang peradaban antara Barat dengan Islam setelah komunisme bukan merupakan ancaman berarti bagi Barat. Tesis ini sebenarnya merupakan metaformosis baru dari ketakutan Barat terhadap Islam, sebuah peradaban yang pernah jaya di dunia sebagaimana Barat kini juga jaya bahkan dianggap sebagai kekuatan tunggal di dunia. Dengan tesis ini lantas Barat melancarkan serangan-serangan baru, baik secara halus maupun perang terbuka. Bentuk serangan secara halus adalah Barat dikomondoi AS berusaha menanamkan nilai-nilai modernisme, pengetahuan ilmiah, ilmu pengetahuan, kapitalisme dan globalisasi dalam seluruh sendi di semua negara Islam; baik negara Islam Timur Tengah atau negara-negara yang mayoritasnya berpenduduk Islam seperti Indonesia dan Malaysia, cara penyebarannya melalui bantuan ekonomi, pendidikan bagi intelektual-intelektual jenius di kalangan umat Islam di negara-negara Barat, melalui hutang pada negara-negara Islam, dan berbagai cara halus lainya. Ajaibnya intelektual-intelektual jenius Muslim berlomba-lomba untuk belajar di Barat, ketika mereka belajar ilmu pengetahuan dan teknologi tak masalah, yang jadi masalah adalah mereka belajar Islam di Barat yang mana pemahaman-pemahaman mereka terhadap Islam sudah keliru. Sehingga ketika kembali ke negara asalnya, mereka berusaha menyebarkan nilai-nilai Barat dalam Islam, salah satu wadahnya adalah kelompok Islam Liberal yang hampir ada di semua negara Islam dengan memakai nama yang berbeda-beda. Sedang perang terang-terangan seperti perang Tuluk dan perang terhadap Irak, serta kemungkinan menyerang Iran di masa mendatang. Lucunya lagi, sebelum dan sesudah menyerang Irak rakyat AS di segala penjuru negara bagian berbondong-bondong melakukan demo terhadap George Bush agar menghentikan perang, namun dalam pemilu di AS setelah perang Irak dimenangkan AS, George Bush kembali terpilih menjadi presiden, wajar jika VH1 salah satu televisi musik di AS mengganggap terpilihnya Bush adalah kebodohan terbesar pada tahun 2005.
Kembali pada masalah penghinaan terhadap Nabi Muhammad, pernyataan Tayyid Edrogan perdana menteri Turki cukup menarik tentang kartun penghinaan pada Nabi Muhammad “Sebuah provokasi terbuka, sebuah jebakan (yang bertujuan) menunjukkan pada dunia gambaran kekerasan dari dunia Muslim,” (Jawa Pos 08/02/2006). Artinya jika umat Islam terpancing untuk melakukan kekerasan dalam melakukan aksi protes terhadap kedubes Denmark di seluruh dunia, umat Islam Suriah dan Libanon telah melakukan pengrusakan terhadap keduataan besar Denmark di kedua negara tersebut, sedang di Indonesia protes FPI juga berlangsung keras walau tidak sampai membakar dan menghancurkan sehingga kedutaan besar Denmark terpaksa ditarik, berarti hakikatnya umat Islam masuk dalam jebakan yang dibuat Barat, sehingga pencitraan Islam dengan kekerasan seakan-akan dibenarkan aksi-aksi anarkis ini. Ini bisa kontra produktif terhadap kebangkitan Islam di Eropa dan AS, dan menjadi serangan balik yang bisa menodai umat Islam di mata Barat.
Bahkan menurut perdana menteri Denmark Fogh Ragmussen, protes terhadap karikatur Nabi Muhammad telah menjadi krisis global “Saat ini kita menghadapi krisis global. Hal tersebut telah menjadi masalah politik internasional. Saya himbau masyarakat untuk tenang,” ungkatnya. Ini juga disebabkan karena hampir seluruh negara Eropa memuat karikatur Nabi, sehingga timbul stigma seakan-akan Eropa sengaja memprovokasi umat Islam di seluruh dunia, sehingga yang semula menjadi krisis dalam negeri Denmark menjadi krisis global. Menurut saya krisis global sengaja diciptakan untuk memperkuat klaim Huntington bahwa musuh peradaban Barat adalah Islam. Kita umat Islam di dunia tidak boleh terjebak dalam permainan dari karikatur Nabi Muhammad, yang sekedar dijadikan pancingan oleh Barat untuk memperkuat klaimnya bahwa Islam identik dengan kekerasan.
Berhubung seluruh penjuru dunia melakukan protes terhadap media Denmark dan pemerintah Denmark, lantas pemimpin redaksi koran tersebut meminta maaf, ini belum cukup menteri luar negeri Denmark Moeller meminta turut meminta maaf, ini dianggap belum cukup sehingga seluruh duta besar di negara-negara Islam meminta maaf. Permintaan maaf koran tersebut di samping takut pada kekuatan umat Islamdi dunia, juga takut korannya tidak laku, sedang permintaan maaf pemerintah Denmark karena takut pada ancaman-ancaman terorisme di masa mendatang, juga takut aset-aset ekonominya di dunia Islam menjadi terancam. Bagi sebagian umat Islam di muka bumi yang merasa tersakiti, insya Allah akan memaafkan sebab ajaran mereka mengajarkan untuk selalu memberi maaf –pelaku-pelaku pengrusakan terhadap kantor kedubes Denmark hanya terjadi di dua negara Suriah dan Libanon, sedang aksi anarkis FPI di Indonesia dalam tahap yang wajar- ini menunjukkan hanya sebagian kecil dari dunia Islam yang besar di dunia yang melakukan kekerasan. Bagaimana mungkin umat Islam yang pemaaf ini diidentikkan dengan perang, kekerasan, dan pembunuhan? Memang ada sebagian umat Islam yang terjebak melakukan tindakan anarkis dalam protes terhadap karikatur Nabi, terjebak dalam terorisme, tapi sebagian besar umat Islam di dunia pasti mengutuk aksi-aksi terorisme dan pembakaran terhadap kedubes Denmark. Saat bersamaan mampukah AS yang “membesarkan Osamah bin Laden” untuk secara murni menyerang para teroris saja, bukan menyerang umat Islam seperti yang mereka lakukan dalam perak Teluk, perang Irak, dan kemungkinan menyerang Iran dan Sudan dengan alasan yang dibuat-buat?
Penghinaan Barat terhadap Islam bukan hanya lewat karikatur yang muncul di Denmark, sebelumnya muncul penghinaan terhadap Al-Qur’an di penjara Guntanamoa AS dan penghinaan tentara wanita AS terhadap tahanan-tahanan di Irak. Jadi berbagai penghinaan ini dilakukan seperti terstruktur, meski setelah terungkap ramai-ramai meminta maaf. Dengan berbagai penghinaan terhadap Islam ini, apakah Islam akan kalah? Apakah umat Islam akan semakin berkurang di muka bumi? Apakah kemulyaan Nabi Muhammad akan berkurang?
Nabi Muhammad adalah orang biasa seperti orang kebanyakan yang diangkat menjadi Rosul oleh Allah untuk menyebarkan Islam. Sebagai orang biasa dia makan, minum, tidur, beristri, dan melakukan kegiatan sehari-hari. Meski orang biasa, tapi sifat-sifatnya sebagai manusia luar biasa; sikap jujur dilakukan dari kecil sampai meninggal, baik hati (dihina oleh orang malah mendoakan yang menghinanya), bisa dipercaya dan melaksanakan kepercayaan dengan baik, bijaksana dalam segala hal, dan menyebarkan ajaran-ajaran Islam dengan lemah lembut dan damai, penyebaran Islam di Mekkah dan awal di Madinah buktinya. Kalaupun sesudahnya berperang, itu karena masyarakat Qurayse di Makkah berulang-ulang menyerang umat Islam dan tidak lama orang-orang Yahudi di Madinah ikut berkomplot, makanya konsep perang adalam Islam setelah diserang. Bukti lain bahwa Islam disebarkan dengan damai adalah penyebaran Islam di Asia Tenggara. Meskipun berperang umat Islam menerapkan peraturan-peraturan perang yang sangat ketat dalam upaya menjaga agar rakyat sipil, wanita dan anak-anak tidak menjadi korban, bedakan dengan AS dan Inggris yang membunuhi rakyat sipil, wanita dan anak-anak di Irak atau Rusia yang menyerang Chechnya secara membabi buta? Dengan kehebatan nabi Muhammad yang luar biasa dan penyebaran Islam yang pesat di berbagai penjuru dunia, maka tanpa ragu-ragu beliau dinobatkan sebagai 100 tokoh terbaik pertama melebihi, Isa, Budha, Alexander yang agung, Julius Cecas, Napoleon Bonaparte serta berbagai tokoh-tokoh hebat lainnya yang pernah lahir di dunia. Tidak ada satu tokoh legenda, paling hebat, dan paling dihormati di Barat dan Timur yang mampu mengalahkan beliau.
Mungkin hal ini diam-diam menimbulkan sikap iri terhadap Nabi Muhammad dan agama yang dibawanya yakni Islam, sehingga berulang kali mereka berusaha mendiskreditkan Nabi Muhammad, mulai dari penghinaan kebiasaan kawin Nabi, ayat-ayat setan Salman Rusdhi sampai karikatur Nabi Muhammad. Meski dihina, dicaci maki dan didiskreditkan sedemikian rupa, Nabi Muhammad tetaplah seorang manusia yang paling sempurna yang pernah ada di dunia, beliau tetap dihormati banyak orang baik muslim maupun non muslim meski secara diam-diam. Di Indonesia pada masa lalu Arswendo Atmowiloto pernah membuat lelucon dengan menempatkan Nabi Muhammad di posisi bawah pada tokoh terkemuka di Indonesia, sehingga dia dihujat dan dipenjara. Namun sekarang terselip pertanyaan, kenapa beliau tidak mau divisualisasikan?
Nabi tidak mau divisualisasikan karena meskipun diangkat menjadi Nabi yang paling akhir dan menerima wahyu Allah, beliau tetap ingin dikenang sebagai manusia yang menjadi Nabi. Maksudnya adalah beliau tidak ingin dituhankan seperti Nabi Isa yang dilakukan umat Kristen, simbolisasi penyalipan justru dijadikan sesembahan, Nabi tidak ingin kesalahan masa lalu terulang padanya, makanya beliau ingin dikenang sebagai manusia. Bahkan untuk mendukung hal ini, Allah tidak mengislamkan salah seorang yang dicintai Nabi Muhammad dan pembela beliau yang paling utama yakni kakeknya. Ini menjadi indikasi kuat bahwa urusan hidayah Islam, hanya Allah yang punya hak sedang nabi Muhammad tidak memilikinya. Bagimana mungkin tokoh mulya yang rendah hati, baik hati, jujur, lemah lembut, tenang dan bijaksana ini dikarikaturkan menjadi seorang yang haus perang dengan simbol pedang dan haus darah dengan simbol bom?
Belum hilang dalam benak peristiwa penghinaan terhadap Nabi Muhammad, umat Islam di dunia kini di hadapkan pada masalah baru yang sengaja diciptakan Barat yakni adanya upaya-upaya untuk menyerang negara-negara Islam. Setelah “sukses” di Afganistan dan Irak, kini beralih pada Iran, mungkin Sudan nantinya atau malah Indonesia akan menjadi sasaran tembak juga? Dalam konteks Iran, beruntung masih memperoleh dukungan dari Rusia dan China, sehingga perang terhadap Irak akan menjadi perang secara global, yang tentu saja tidak diinginkan semua pihak.
Sedang untuk Indonesia, Barat tidak akan berani berperang secara terang-terangan. Paling-paling mereka lembar bola sembunyi tangan, artinya mereka “menundukkan” Indonesia dengan uang, materi dan simulasi media. Jadi hakikatnya dari luar mereka baik, tersenyum manis, dan “senang membantu”, padahal menyumbunyikan sesuatu untuk menjadikan bangsa Indoenesia senantiasa tergantung pada mereka tanpa kehendak apapun.
Berbagai upaya untuk mendiskreditkan Islam, tidak akan mengurangi pemeluk agama Islam di dunia malah bisa berakibat sebaliknya. Sebagai bukti, jumlah umat Islam di AS meningkat dua kali lipat setelah peledakan WTC, sebab waktu itu Al-Qur’an disebarkan secara bebas, sehingga banyak masyarakat AS yang semula memiliki pandangan-pandangan keliru pada Islam menjadi sadar akan kemulyaan ajaran Islam dan mengungkap kedok-kedok Barat yang mendiskreditkan Islam. Bahkan di berbagai negara Eropa, terdapat kenaikan jumlah umat Islam yang signifikan. Islamnya mereka berbeda dengan proses kristenisasi yang di lakukan di Indonesia secara sembunyi-sembunyi, sebab kristenisasi di Indonesia menggarap orang-orang miskin dengan janji-janji ekonomi, sedang Islamisasi orang-orang Barat karena lewat proses pembelajaran dan kesadaran sendiri, sehingga menjadi lebih kuat, yakin dan tak tergoyahkan.
Bagi umat Islam di berbagai penjuru dunia, penghinaan terhadap Nabi Muhammad membuat mereka lebih ingin mendalami pribadi Nabi Muhammad, memahaminya secara utuh dan menjadikannya suri tauladan dalam hidup. Bagi umat Islam yang abangan dan memeluk Islam karena KTP atau orang tua, mereka akan membaca lagi sejarah Nabi Muhammad dan berupaya memahami Islam lagi, sehingga keyakinannya pada Islam menjadi lebih kokoh. Makna lain bagi umat Islam adalah untuk memahmi Islam mereka tidak usah capek-capek belajar di Barat, sebab Islam berasal di Timur Tengah, tumbuh di sana dan menyebar di sana, bukankah lebih baik belajar Islam di Timur Tengah dari pada di Barat?
Penghinaan dalam terhadap Nabi Muhammad menjadikan masyarakat Muslim seluruh dunia sadar bahwa pengidolaan terhadap tokoh-tokoh seperti; ilmuan, penguasa, artis, aktor, penyanyi, olahragawan, politikus, grup musik dan tokoh-tokoh idola laiannya yang menjadi produk media Barat, sudah harus ditinggalkan. Sebab tak ada satu tokoh Baratpun di masa lalu dan kini yang akan menandingi ketokohan Nabi Muhammad dari berbagai aspek kehidupan, sehingga wajar bila dijadikan suri tauladan bagi seluruh umat Islam dalam menjalani kehidupn sehari-hari. Idola-idola seperti Enstein, Karl Max, Hegel, Nietsche, Puff Daddy, Jay Z, Beyonce, Madonna, Michael Jordan, David Backham, Briteney Spers, Justin Timberlake, Bill Clinton, Tony Blair, Grum musik Grand Day, dan lain sebagainya tidak pantas dijadikan idola oleh umat Islam, sebab kehidupan mereka penuh kontradiksi, menabrak etika ketimuran, mementingkan individualisme, dan bukan idola-idola yang pantas ditiru dalam kehidupan umat Islam.
Dengan berbagai pemnghinaan, serangan, dan hujatan terhadap Islam justru membuat efek penyadaran di kalangan umat Islam, dan meningkatkan kuantitas dan kualitas umat Islam di seluruh penjuru dunia. Benarkah kita semakin sadar dengan keislaman kita?
Wonosari, 16 Mei 2006
*Penulis buku “Mau Kuliah Alternatif, Belajar Otodidak Dong” 2007 yang beredar di Gramedia seluruh Indonesia, Berniaga Dengan Iman dan novel Bidadari Posmodern. Kini sedang merintis Pelatihan LFV (Learning For Living) untuk pelajar, mahasiswa dan umum. Alamat; Jl. Stasiun Depok Lama No. 08 Pancoran Mas Depok.
Kolom:
KRISIS OH! SAKIT OH! SEKARAT OH!
Ahmad Zamhari Hasan
“Apa-apa bertambah mahal, ya?” Keluh Gemrot sambil mengusap perutnya.
“Ya, yaa!” Bala ceking sambil memperlihatkan giginya yang bolong di tengah.
“Kenaikan berbagai kebutuhan pokok akhir-akhir ini benar-benar menyengsarakan rakyat kecil. Yang turun hanya sandal jepit karena dipakai di kaki. Ha ha ha!”
“Kau ini dalam kondisi susah malah bercanda, kita harus sedih dan prihatin terus dengan keadaan ini.”
“Pantas badanmu kurus, keadaan yang menyusahkan kita tidak usah dipikirkan dan dirasakan, tapi dijalani apa adanya. Lihat tubuhku yang gemrot karena menganggap masalah bukan masalah, sedang kau senantiasa terjebak dalam masalah, makanya kutilang; kurus tinggal tulang.”
“Dasar gembrot!” Ceking berpikir sejenak, keningnya mengkerut dan salah satu jarinya menekan kepalanya, lantas dia mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum. “Kau benar juga, Rot. Menjadikan masalah bukan masalah adalah salah satu bentuk penyelesaian masalah. Eh! Ngomong-ngomong, apa rahasia gemrotmu karena itu atau terlalu banyak makan makanan berformalin, bakso tikus dan saos murah yang berisi zat pewarna dan menggunakan cabe busuk sebagai bahan baku.”
“Kau ini jangan keterlaluan jika bercanda, mana mungkin aku makan makanan yang menjijikkan dan berpenyakit itu.”
“Mana mungkin, katamu. Bukankah kau doyan bakso dengan saos murahnya, mie ayam, ikan asin, ikan segar dan tahu, semua jenis makanan tersebut terbukti menurut penelitian badan POM mengandung formalin yang merupakan zat kimia untuk mengawetkan mayat.”
“Benarkah?” Gemrot menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal.
“Jika tak percaya, ayo ikut aku nonton TV.”
“Ayo! Awas jika kau membohongiku.” Mereka bergegas menonton TV, mereka lantas menyetel berita, berita formalin memang sedang hangat-hangatnya sehingga hampir setiap setasiun televisi menyajikannya. Saat nonton, mereka melihat opera sabun antara ketua badan POM dengan menteri kesehatan yang sampai menangis dalam sidang di DPR karena membela nasib pedagang bakso yang tidak karuan. Mereka bukannya ikut sedih, malah tertawa terbahak-bahak seperti melihat adegan Aming dengan Tora Sudiro di Ekstravaganza.
********
Kehiduapan masyarakat Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, secara kebetulan mereka terpinggirkan di bidang ekonomi sehingga hanya menjadi pemeran figuran, sedang aktor-aktor utama diperankan orang-orang dari negeri antah berantah, yang jika belangnya ketahuan tinggal balik ke negerinya. Umat Islam yang besar hanya menerima nasib, ketika sebagian besar di antaranya menjadi masyarakat penerima BLT karena kondisinya yang memprihatinkan. Kehidupan yang sangat sulit ini diperparah dengan ditemukannya kasus formalin dalam makanan; ikan asin, ikan segar, mie basah, dan bakso, serta kasus bakso boraks, dan bakso tikus, semua jenis makanan yang sangat disukai masyarakat.
Di tengah semakin sulitnya kehidupan masyarakat, di tengah semakin terpuruknya sendi-sendi kehidupan, di tengah semakin mahalnya berbagai kebutuhan pokok, di tengah semakin mahalnya berobat ke rumah sakit dan dokter, masyarakat muslim dikejutkan dengan ditemukan formalin dalam makanan. Zat yang digunakan untuk mengawetkan mayat, dimanfaatkan untuk makanan, suatu bentuk kedzoliman yang sangat luar biasa yang dilakukan sebagian masyarakat untuk memperoleh penghasilan berlebih. Penggunaannya memang sedikit, tapi karena masyarakat menkonsumsi tiap hari, padahal menurut Menkes kasus ini mulai merebak tahun 2003 dan menurut sumber lain merupakan kasus yang sangat lama, berarti formalin yang ada dalam tubuh-tubuh masyarakat sudah menumpuk, dan secara otomatis menimbulkan berbagai macam penyakit yang disadari atau tidak, bahkan menyebabkan kematian sehingga tubuh mereka diawetkan dengan formalin lagi.
“Lebih baik terlambar dari pada tidak sama sekali,” mungkin motto utama badan POM, meski tahu sudah lama baru mengungkapkan pada akhir 2005, berhubung menimbulkan ekses-ekses negatif yang luar biasa di tengah-tengah masyarakat, maka antara badan POM dan Menkes saling melempar tanggung jawab, sehingga memunculkan opera sabun di atas. Meski terlambat lebih baik dari tidak sama sekali, tapi tidak terlambat, amat sangat lebih baik. Jadi bagi badan POM kejadian ini harus dijadikan bahan introspeksi, sebab peran badan POM dalam halalisasi produk sangat penting bagi umat Islam, tapi harus diingat umat Islam tidak hanya butuh produk halal melainkan juga produk-produk yang menyehatkan.
Klaim Menkes bisa jadi benar, bahwa salah satu penyebab banyaknya efek-efek negatif terhadap perusahaan kecil mie basah, perusahaan kecil tahu, pedagang mie ayam, pedagang bakso dan pedagang berbagai jenis ikan yang diawetkan, yang nasibnya semakin terpuruk dengan pengungkapan kasus formalin, sebab masyarakat ramai-ramai tidak menkonsumsinya, hanya sedikit orang dengan berbagai alasan yang tetap menkonsumsinya dan jumlahnya sedikit. Tapi saya punya pertanyaan menggelitik pada Menkes, apakah Menkes juga tidak tahu jauh hari sebelumnya? Jika sudah mengetahuinya, apakah Menkes tidak punya kemampuan untuk mengungkapkan sendiri atau memaksa badan POM untuk mengungkapkan waktu itu? Berbagai portanyaan balik yang tak menemukan jawaban pasti ini, bukan ingin memperpanjang opera sabun ekstravaganza di atas, melainkan ingin mengungkapkan bahwa saling melemparkan tanggung jawab adalah tindakan paling bodoh yang harus dihindari.
Opera sabun itu tidak akan mampu mengembalikan kesehatan masyarakat, yang secara tidak sadar telah mengkonsumsi berbagai makanan yang mengandung formalin. Pantas saja, Puskemas, RSUD dan rumh sakit swasta, penuh sesak dengan masyarakat yang terserang berbagai penyakit yang salah satu sebabnya terlalu banyak mengkonsumsi makanan berformalin. Mereka akan senantiasa kembali berobat karena penyakitnya kambuh lagi akibat mengkonsumsi makanan-makanan berformalin setiap saat. Masyarakat yang sudah hidup dengan susah payah agar tetap surfive, kini kehidupannya bertambah menyedihkan, memerikan, menderita, dan memilukan.
Para pengusaha kecil dan pedagang yang terkena imbas dari kasus formalin, salah satu aspek harus mendapat ganjaran bagi yang menggunakan formalin, tapi dalam aspek berbeda, sebagian dari mereka yang tidak menggunakan formalin terkena imbasnya. Tindakan tegas pada para pemakai formalin oleh aparat hukum adalah keharusan yang tidak boleh ditunda, tindakan tegas harus disertai pengawasan yang rutin dari badan POM, sehingga begitu muncul kasus langsung ditangani agar tidak terlanjur menjadi “wabah nasional” yang mengerikan. Para pengusaha kecil dan pedagang kaki lima yang terlanjur memakai formalin, baik disadari atau tidak, harus segera bertobat dan menghentikannya, sebab banyak orang yang telah merasakan efek negatifnya, sebagian besar di antaranya adalah saudara Muslim mereka, menyakiti sesama saudara Muslim adalah menjadi dosa besar jika dilakukan terus menerus. Mereka tidak perlu berhenti total mencari penghasilan, tapi berhenti total menggunakan formalin agar tidak merasa berdosa di dunia dan akhirat.
Belum lagi kasus formalin mereda, ada pedagang bakso yang menggunakan zak kimia lainnya yang berbahaya bagi tubuh manusia yakni boraks. Ini belum berakhir terungkap bakso tikus, mengganti daging sapi dengan tikus menjijikkan adalah tindakan menghalkan segala cara agar mendapatkan penghasilan. Menghalalkan segala cara adalah salah satu tindakan komunis yang anti Tuhan, bagaimana mungkin kita sebagai Muslim melakukan hal yang serupa. Boraks dan bakso tikus adalah rangkaian kejadian yang menyatu dengan kasus formalin, sama-sama membuat masyarakat menderita dan terserang berbagai penyakit.
Beberapa kasus di atas ternyata masih memunculkan kasus-kasus lainnya seperti saos yang memakai zat pewarna dan cabe busuk, dan terungkapnya modus operandi penjualan obat bekas dari pembuangan sampah dan sisa rumah sakit, yang menurut penelusuran tim Tran TV, 90% apotik di Jakarta memanfaatkannya. Sebuah prestasi yang mencengangkan, belum lagi di berbagai daerah yang bisa jadi terjadi hal serupa. Masyarakat kita menyenangi saos yang tanpa mereka sadari ternyata menggunakan cabe busuk dan yang lebih berbahaya lagi menggunakan zat pewarna untuk pakaian agar tampak merah seperti saos asli yang lebih mahal, akibatnya bisa ditebak tubuh-tubuh mereka sekuat apapun, akan mudah terserang penyakit. Ketika terserang penyakit, mereka membeli obat bekas di apotik agar mendapat harga yang lebih murah, padahal kualitas obat bekas yang kadaluarsa, kotor dan tidak layak dipakai meski kulit luarnya dibuat bagus dan serupa dengan obat-obat baru, bisa ditebak penyakit mereka tidak sembuh-sembuh dan sering kumat lagi.
“Penyakit mudah terserang, berobat berharga mahal, dan penyakit belum tentu sembuh malah kumat lagi” adalah pepatah yang pantas untuk kondisi bangsa Indonesia sekarang. Bagaimana mungkin masyarakat yang butuh tubuh-tubuh yang sehat agar bisa tetap surfive dalam suatu keadaan yang sangat menyulitkan, justru tubuh-tubuh tersebut berpenyakitan, berobat pakai obat bekas, kesehatan tak kunjung datang.
Untuk mengatasi berbagai problematika di atas, diperlukan kesadaran nasional dan tindakan pemerintah yang tegas tanpa pandang bulu. Masyarakat secara nasional, khususnya umat Islam harus menyadari tentang pola-pola makanan yang sehat, para pedagangnya menyadari kesalahannya dan tidak mengulang hal yang sama saat pemberitaan dan pengawasan mengendar, mereka harus bahu membahu agar tubuh-tubuh mereka menjadi lebih kuat dan sehat, sehingga keadaan yang sesulit apapun akan bisa di atasi. Bagi pemerintah dan berbagai instansi yang bertanggung jawab terhadap kesehatan masyarakat, diperlukan perencanaan-perencanaan yang matang agar kasus serupa tidak terulang, pengawasan yang ketat, dan tindakan tegas terhadap kasus yang muncul dengan meninggalkan prinsip lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Pemerintah juga harus senantiasa memberikan Jaringan Pengaman Sosial pada orang-orang miskin yang berhak, bukan pada para PNS yang telah menikmati gaji dari pemerintah. JPS benar-benar sangat bermanfaat bagi masyarakat miskin, sebab mereka tak mampu membeli obat yang mahal, membayar biaya rumah sakit dan Puskesmas. Pengayoman pemerintah pada rakyatnya, menjadikan makna pemerintah bagi rakyat kecil menjadi benar-benar nyata, bukan cerita di negeri dongeng semata.
Wonosari, 06 Februari 2006
Opini:
Islam dalam Desa Global
Zamhari Hasan*
Perang di beberapa bagian “kampung dari desa dunia” tetap berlangsung seperti yang terjadi di Irak dan Palestina, akselarasi perubahan dunia berlangsung cepat, perkembangan sains dan teknologi sangat pesat sekali, nilai-nilai yang dianut menjadi rancu dan manusia semakin dalam mempertanyakan eksistensi dirinya. Dalam keadaan demikian, dimanakah Islam? Sebuah pertanyaan sederhana yang menyimpan sejumlah jawaban kompleks.
Jika tulisan ini berbicara Islam, bukan berarti fundamentalis dan tidak nasionalis, sebab para pejuang Islam di masa lalu, seperti; Hamka, M Natsir, Jendral Sudirman, dan Hatta merupakan cerminan Muslim taat, tapi semangat nasionalisme mereka tidak bisa disamakan dengan kelompok ‘nasionalis’ yang hanya pandai menjual aset berharga Indonesia. Intinya, kita tetap memiliki keyakinan teguh sebagai seorang Muslim sekaligus memiliki jiwa nasionalis sebagai warga Indonesia.
Desa Global Bernama Dunia
Ketika isu pemanasan global yang berakibat semakin panasnya suhu di bumi, meningkatnya debit air laut, dan cuaca tidak teratur yang berakibat banjir, angin topan, gempa bumi dan sejumlah malapetaka lainnya, orang-orang baru menyadari bahwa kita bukan berdiam di sebuah hambaran bumi tak terbatas, melainkan berdiam di sebuah ‘desa’ yang sama. Ketika digitalisasi melingkupi berbagai aspek kehidupan manusia, tidak ada lagi jarak, tidak ada lagi pembatas, desa dunia menjadi semakin kecil. Ketika sebuah program Microsoft yang diperagakan Bill Gates, hanya sekali klik dengan waktu tidak sampai satu menit, angkasa dan langit kini dapat hadir di depan mata.
Inilah desa Global bernama dunia; yang didiami berbagai macam ras, bangsa, suku, agama, dan latar belakang, yang didiami orang kulit putih, hitam, sawo matang, dan berbagai warna kulit lainnya, yang didiami bukan sekadar orang Amerika dan Eropa, tapi juga orang Asia, Afrika, Amerika Latin, Oceanea, dan Timur Tengah. Sekarang semua tersentak kaget! Amerika dan Eropa yang awalnya mengekploitasi dunia lewat penjajahan, industrialisasi, menghiasi bangunan dengan rumah kaca, dan merampas milik siapa pun menjadi milik mereka meski mengorbankan darah dan nyawa. Lalu mereka bangkit “mempelopori” rasionalisasi, Hak Asasi Manusia, save our world, mencegah pemanasan global, dan menyebarkan demokrasi ke berbagai belahan dunia sebagai sistem terbaik.
Berhubung umat Islam di berbagai dunia merupakan tipikal manusia latah, yang tentu saja bertentangan dengan nilai Islam yang diperjuangkan Nabi Muhammad SAW, lantas ramai-ramai mengibarkan bendera; modernisasi, liberalisasi, privatisasi, sainisasi, ilmiahisasi, kapitalisasi, dan industrialisasi. Akibatnya bisa ditebak, dunia semakin tidak nyaman didiami karena keseimbangan yang diatur melalui sunnatullah dalam Islam atau hukum alam dalam pandangan Barat tidak lagi memadai. Ketika Barat berputar haluan, umat Islam ramai ikut-ikutan seakan-akan tanpa memiliki sandaran nilai, sehingga Islam sama sekali tidak berbuat apa-apa melihat ketidak adilan, ketimpangan, kehancuran dan krisis dunia, jika pun ingin berbuat paling banter demonstrasi dan protes saja. Mengapa hal ini sampai terjadi? Apa yang mesti dilakukan umat Islam? Bisakah Islam menjadi alternatif Desa Glonal di masa depan?
Islam Sebagai Alternatif Desa Global
Barat berhasil menguasai dunia pada abad 20 dan awal abad 21, meski sekarang China sedang berlomba untuk turut bersaing. Kemajuan mereka di segala bidang, justru dengan cara menjauhkan diri dari agama mereka, hal ini berbeda dengan Islam yang mampu Berjaya justru dengan berpegang teguh pada nilai-nilai Islam. Memang harus diakui prestasi mencengangkan yang mereka capai di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, digitalisasi, dan menciptakan pasar Global yang tidak stabil, walau seungguhnya dicapai dengan biaya dari tetesan darah, keringat dan air mata bangsa lain, khususnya negara terbelakang dan berkembang, baik melalui penjajahan tradisional maupun penjajahan tersembunyi seperti yang terjadi akhir-akhir ini.
Pada saat bersamaan, umat Islam di berbagai belahan dunia berupaya sekuat tenaga untuk bangkit dari keterpurukan. Sayangnya, apa yang mereka perjuangkan sebatas retorika seperti yang dipelopori Jamaluddin Al Afghani dan Muhammad Abduh, sebatas inpirasi seperti yang dilakukan Muhammad Iqbal, menyentak pemikiran seperti yang dilakukan Hasan Hanafi, menyebarkan aroma seperti yang dilakukan Fazlur Rahmad dan Nurkholis Madjid, Islam pergerakan seperti yang dilakukan Hasan Al Bana, simbolisasi Islam seperti yang dilakukan Hisbut Tahrir dan kelompok-kelompok Islam lainnya. Walhasil, Islam hanya kelihatan dalam kemegahan masjid yang kosong subtansi, majlis-majlis taklim yang hambar dari keislaman hakiki, bisnis syari’ah yang terkadang praktiknya menjauh dari Islam dan simbol-simbol Islam yang terpampang dimana-mana, namun, sesungguhnya tidak menawarkan apa-apa untuk menjadi alternatif baru dalam era global.
Supaya Islam menjadi alternatif baru dalam era global ini, maka beberapa langkah berikut ini ditempuh perlahan-lahan.
Pertama; mencetak ilmuan Muslim di berbagai bidang, khususnya sains, teknik dan informasi. Para santri di berbagai pesantren, baik salaf, modern maupun postmodern, sebaiknya melanjutkan ke bidang-bidang di atas supaya mereka mampu menjadi ilmuan-ilmuan yang tetap mampu berpegang teguh pada ajaran Islam. Mengapa memasuki bidang ‘umum’? Sebab inilah yang dibutuhkan umat manusia untuk menjadi bangsa yang maju dan berkembang. Para ilmuan inilah yang mengembangkan bidang kedokteran, bioenergi atau bioteknologi, nanoteknologi, digitalisasi, dan manufaktur.
Kedua; menghilangkan sekat-sekat pemisah di bidang politik, organisasi kemasyarakatan -NU, Muhammadiyah, Persis, Jamaah Tablig, Hisbut Tahrir -, ekonomi, budaya –Jawa, Bugis, Madura, Tionghoa, Dayak, Asmat, dan lain sebagainya-, dan sosial. Sekat-sekat inilah yang dulu dimanfaatkan Belanda dengan politik adu domba, dan dimanfaatkan untuk melemahkan Islam seperti yang terjadi sekarang. Baju boleh berbeda, tapi keyakinan tetap Islam dan tetap menjadi warga Indonesia yang baik.
Ketiga; membuka ruang kerja sama dengan berbagai pihak secara terbuka, ingat masa persaingan pada abad 20 sudah kuno, sekarang hanya yang mampu bekerja sama akan mampu bertahan. Maka, mari kita lihat sekeliling, raih tangan-tangan orang sekitar untuk bisa bergandengan tangan. Jika ini terpelihara, maka persatuan dan kesatuan Islam akan tercipta. Kerja sama juga dibangun dengan berbagai umat manusia di berbagai penjuru dunia dengan menyusun agenda-agenda sederhana yang aplikatif, bukan terjebak kegiatan seremonial semata.
Keempat; fokus pada pengembangan SDM berkualitas yang memiliki semangat pantang menyerash, Cerdas secara ESQ (Emotional, Spritual dan Intelegentia Quistion), meyakini Islam ke lubuk hati, senantiasa berkarya, berkarya dan berkarya, dengan memikirkan pemenuhan kebutuhan hidup mereka. Tidak bisakah umat Islam yang berjumlah ratusan juta ini membiayai 100 orang muda Muslim berbakat di segala bidang yang akan menjadi garda depan untuk melahirkan Bill Gates, Matshushita, Honda, Enstein, Thomas Alva Edison, Stephen Hawking, Abdurrahman bin Auf, Ibnu Khaldun, Ibnu Shina, Ibnu Taymiyah dan Al-Ghazali baru yang dibutuhkan era global dan informasi. Tentu 100 generasi muda itu melewati seleksi ketat berlapis-lapis sebelum dipilih. Jamin hidup mereka supaya mengembangkan segala macam ilmu sesuai dengan bidang yang mereka kuasai secara mendalam. Dari kelompok 100 orang nanti melahirkan 1000 orang, dari 1000 melahirkan 1 juta, dari 1 juta melahirkan 300 juta orang.
Kelima; Al-Qur’an merupakan mu’jizat Allah pada seluruh umat manusia, penemuan ilmiah mutakhir justru membenarkan Al-Qur’an seperti teori Ledakan Besar, proses janin di dalam rahim dan Genetika, mengapa yang menemukan hal ini bukan umat Islam yang setiap hari, jam dan detik bersentuhan dengan Al-Qur’an, justru orang Barat yang menjauh dari nilai-nilai agama. Hal ini merupakan ‘shock terapi’ agar umat Islam membuka mata, bangun dari tidur, duduk menatap sekitar, melakukan penelitian mendalam, melangkah selangkah demi selangkah, dan terbang menembus angkasa. Sayangnya, umat Islam baru sampai pada tahap duduk menatap sekitar tanpa melanjutkan ke tahap selanjutnya. Lebih baik kita memahami 1 ayat Al-Qur’an dengan berbagai macam dimensinya seperti yang dibuktikan teori Ledakan Besar –butuh 14 abad untuk membenarkan 1 ayat Al-Qur’an-, hal inilah yang membuat Imam Syafi’ie menyatakan bahwa surat Al-Ikhlas sebenarnya cukup memadai untuk umat Islam.
Keenam; menciptakan kelas menengah baru dari beberapa pengusaha Muslim yang saat ini dalam proses mengembangkan usaha, bantu mereka melalui kerja sama dengan Bank Syari’ah, beri mereka akses informasi yang menunjang usaha, buka hubungan dengan pengusaha Timur Tengah, Jepang, China dan Barat yang saling menguntungkan, dan ketika berhasil, buat MOU agar 20% keuntungan diberikan pada fakir miskin melalui permodalan, memberikan beasiswa pada yatim piatu, dan membuka lapangan kerja bagi pengangguran.
Jika keenam langkah ini mampu dilakukan secara komphrehensip oleh umat Islam Indonesia, maka Kebangkitan Islam di Indonesia akan menjadi nyata dalam kurun waktu 25 tahun, dan Islam akan benar-benar menjadi alternatif Desa Global. Namun, jika sebaliknya yang terjadi, kita hanya bermimpi menikmati kejayaan Islam dan hidup dalam fatamorgana yang sia-sia. Apa Anda tidak bosan hidup dalam mimpi dan fatamorgana?
Langkah nyata yang bisa dilakukans setiap orang saat ini ialah memiliki kemauan yang kuat untuk terus menerus belajar agar tidak tergilas perubahan zaman, bekerja keras dan cerdas sesuai bidang yang ditekuni, membantu orang lain sesuai kemampuan, dan memperkuat keyakinan terhadap Islam agar menjadi benteng yang kokoh menghadapi kompleksitas Desa Global.
*Penulis buku “Mau Kuliah Alternatif, Belajar Otodidak Dong” 2007 yang beredar di Gramedia seluruh Indonesia, Berniaga Dengan Iman dan novel Bidadari Posmodern. Kini sedang merintis Pelatihan LFV (Learning For Living) untuk pelajar, mahasiswa dan umum. Alamat; Jl. Stasiun Depok Lama No. 08 Pancoran Mas Depok.
Hikmah:
“Kesabaran Hakiki”
Zamhari Hasan
Dzun Nun Al-Misri diejek dan dihina orang hampir setiap hari, tapi beliau bersabar dan malah mendoakan orang yang menghina dirinya. Hal ini terus terjadi sampai beliau meninggal dunia. Berkat kesabaran, setiap kali beliau berdoa langsung dikabulkan Allah, orang yang sakit disembuhkan dengan izin Allah hanya melalui tulisan lafadz Nun, dan derajat beliau di sisi Allah sangat tinggi sekali, saat meninggal seluruh penjuru Mesir merasakan kehilangan.
Sabar, mudah diucapkan sulit dipraktikkan. Sabar, sikap utama para Nabi, Sufi dan Ulama’ “Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar” (QS Al-Anbiya’ 85). Sabar, sikap hidup yang membutuhkan ketundukan emosi, akal dan hati. Sabar, buah mujahadah melawan hawa nafsu. Sabar, cahaya hati menuju Maha Cahaya. Sabar, merubah batu menjadi debu. Sabar, sebentuk sifat yang dicintai Allah.
Harga minyak melambung tinggi, tersenyum sambil meningkatkan usaha untuk mendapatkan penghasilan lebih. BBM naik, tersenyum sambil mengatur ulang pengeluaran harian. Harga sembako naik, tersenyum sambil mencari celah merasakan luasnya rizki Allah. Krisis ekonomi tak kunjung selesai, tersenyum sambil mencari jalan keluar terbaik. “Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS Huud 11)
Kesabaran akhir-akhir ini dijadikan ujian bagi setiap Muslim di berbagai penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Jika umat Islam lulus dari ujian ini, insya Allah doa apa pun –asal baik tentunya- akan dikabulkan Allah dan derajat umat Islam terangkat tinggi.
Apa yang sudah terjadi, tidak perlu diratapi terus menerus, apalagi mencari kambing hitam, sebab menunjukkan jiwa yang lemah tanpa memiliki sifat sabar. Paling penting yakni meningkatkan kualitas keimanan, ketakwaan, dan kesabaran, sehingga bersikap benar di masa kini dengan mempersiapkan masa depan yang lebih baik. “Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An Nahl 96)
Semoga kita semua memiliki sikap sabar yang menghujam sanubari, menyatu dalam jiwa, dan menguasai akal, sehingga rahmat Allah menaungi bumi Indonesia yang mulai gersang. Amien!