Kebiasaan 10 Tahun = Kesuksesan?
Dalam penglihatan sesaat, seakan-akan antara kebiasaan dan kesuksesan merupakan dua bentuk yang berbeda dan sulit dipersatukan, tapi dalam kenyataan justru antara keduanya berjalan beriringan, malah saling mendukung antara satu yang lain; kesuksesan tidak akan diraih tanpa kebiasaan melakukan sesuatu yang konsisten minimal dalam 10 tahun. Lho kok bisa?
Seorang Thomas Alva Edison membiasakan diri melakukan percobaan untuk menemukan lampu listrik setelah “kursus” kilat dengan ibunya selama 3 bulan –ibunya hanya mengajak bermain sambil belajar setelah tidak sekolah karena dianggap bodoh-. Kebiasaan yang dilakukan, berlangsung bertahun-tahuan, lalu setelah gagal dalam 9944 percobaan, dia berhasil dalam kebiasaan yang 9945, hasilnya; berhak atas 1093 hak paten, tujuh turunan kaya raya.
Seorang Ibnu Hajar Al-Haithami mondok selama 10 tahun tidak pintar-pintar, awalnya bersabar, tapi pada tahun ke 10 saat sisi manusia tidak tahan, dengan penuh rasa putus keluar dari pondok berjalan tanpa arah tujuan sampai di sebuah gua, dia istirahat. Di dalam gua, dia melihat air menetes perlahan-lahan dan ketika memindahkan pandangan ke tempat lain, ada batu berlubang akibat tetesan air. Dari sini muncul ilham “Masa manusia kalah dengan air, pasti dengan usaha yang gigih pantang menyerah akan berhasil juga.” Akhirnya beliau kembali ke pondok lagi, mulai kebiasaan baru yakni belajar lebih tekun dengan memanfaatkan semua potensi yang dimiliki. Hasilnya, belajar jadi mudah, sehingga banyak ilmu yang diserap. Wajar jika beliau mampu melahirkan Ulama’ dan Ilmuan di masanya.
Prof. Dr. Komaruddin Hidayat awalnya berasal dari desa yang berusaha merantau ke Jakarta saat kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Aktif di majalah Panji Masyarakat karena semenjak remaja di Pesantren memang sudah terbiasa menulis. Kini beliau aktif sebagai Rektor di almamaternya tersebut. Pemikiran beliau merupakan sintesis antara filsafat dan sufistik, sehingga memiliki keunikan berpikir sendiri yang khas. Untuk lebih lengkap, baca di TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia). Hikmah dari beliau adalah keberhasilan masa sekarang dicapai karena kebiasaan di masa remaja dan pendidikan keagamaan yang baik dalam lingkungan keluarga.
Ibnu Taimiyah, Mujaddid Islam pada masayanya yang berpengaruh hingga sekarang melalui karya tulisnya. Beliau membiasakan diri menulis setiap hari sebanyak 10 halaman, sehingga wajar jika karya beliau dalam bentuk buku sangat banyak sekali. Coba kita kalkulasi 10X30X12=3.600 halaman setiap tahun. Hal ini dilakukan sepanjang hidup sampai meninggal dunia, tentu puluhan ribu halaman yang telah beliau hasilkan. Suatu pencapaian yang luar biasa sekali.
Apa hikmah semua itu? Jika Anda ingin sukses, mulailah rintis sebuah kebiasaan yang konsisten atau istiqomah selama 10 tahun; misal ingin menjadi pakar kompoter, pelajarilah dan praktik langsung di bidang computer selama 10 tahun, lalu berusahalah shalat Tahajjud dan Dhuha dengan mengutamakan shalat wajib 5 waktu tentunya juga selama 10 tahun, maka kesuksesan terbuka lebar bagi Anda. Buktikan hal ini, baru memberi tanggapan. Mengapa kita mesti didukung shalat? Sebab bagi umat Islam kesuksan dalam dua hal; kesuksesan di dunia dengan usaha 10 tahun di bidang computer, kesuksesan di akhirat dengan shalat 10 tahun istiqomah (tentu tidak melalaikan ibadah lain, puasa Romadhan 30 hari, zakat fitrah/harta dan haji jika mampu). Setelah 10 tahun kemana?
Mulailah merintis bidang baru atau memperkuat bidang lama yang digeluti, sedang secara spiritual (semua bentuk ibadah pada Allah), tentu meningkatkan kualitasnya. Sebagaimana derajat di dunia bertingkat-tingkat, maka di akhirat demikian pula. Jika sudah menjadi Muslim yang benar dan baik, meningkatkan diri menjadi Mukmin sejati, jika sudah lulus tingkatkan diri menjadi hamba Allah yang shaleh. Tingkatan ini mudah ditulis atau dikatakan sulit pada praktiknya. Tapi jika ada kemauan setiap orang dapat meraihnya.
Beberapa Tokoh Inspirasi
Anda Ingin Sukses? Tirulah Tokoh-Tokoh Berikut Ini!
Fauzi Sholeh hanya lulusan SMP, pernah luntang-lantung hidup susah di Jakarta. Beberapa profesi pernah ditempuh seperti penyemir sepatu dan satpam, sebelum akhirnya terjun dalam bisnis perumahan. Awalnya berbekal uang 30 juta membeli tanah dan membangun rumah di atasnya. Saat membangun rajin membaca Yasin bersama tukangnya sebagai bentuk Tawakkal pada Allah. Alhamdulillah laku sebesar 50 Juta yang diinvestasikan pada tanah dan perumahan. Hal ini terus berkembang, sehingga beliau memiliki Perumahan Pesona Depok dan Pesona Kahyangan yang jumlahnya ribuan dengan harga rumah ratusan juta rupiah. Hebatnya lagi, beliau memberikan kesejahteraan pada karyawannya sebanya 22 gaji (normalnya 12, jika ikut PNS 13 gaji), bahkan 100 Karyawan Tetap diberi mobil. Luar biasanya lagi, sedekah beliau beberapa tahun terakhir hampir mencapai 100 milyar. Semoga Allah menerima amal baik beliau! Amien! Inilah teladan bagi pengusaha Muslim di Indonesia dan Dunia. Bagi saya, beliau adalah Abdurrahman Bin Auf Modern.
Frans Kafka suka menulis cerpen, novel dan tulisan lepas di sela-sela pekerjaannya di perusahaan asuransi, kebiasaan dipertahankan sampai meninggal dunia. Sebelum meninggal berpesan pada sahabatnya Max Brod untuk membakar karya-karyanya, tapi justru Max Brod menerbitkan karyanya. Hasilnya, jusrtu dia disebut pelopor sastra Posmodern (itu lho, zaman setelah modern). Padahal seumur hidup karyanya tidak ada yang dimuat media dan diterbitkan. Tapi setelah kematian, kesuksesan diraihnya.
Hamka hanya lulusan SR, tapi berkat kegigihan belajar seumur hidup, belajar dari satu langgar ke langgar lain pada Ustads di masanya, belajar sendiri ilmu yang berasal dari Timur Tengah dan Barat, akhirnya membuat beliau mampu menulis Tafsir Al-Azhar, padahal penafsir 30 Juz baru bisa dilakukan oleh Prof. Dr. Quraish Shihab. Hamka berhasil karena meneladani Nabi Muhammad SAW yakni Belajar Otodidak Seumur Hidup. Kisah lengkap ada di buku “Mau Kuliah Alternatif? BELAJAR OTODIDAK, Dong!”
Emha Ainun Jadjib selama 5 tahun “kuliah” di jalanan Marboro Jokjakarta bersama anak jalanan, pengasong dan orang terlantar. Cak Nun banyak belajar sendiri berbagai macam ilmu, sehingga rumahnya penuh dengan buku. Rumahnya dijadikan sarana berkumpul, berdiskusi dan berkaraya bagi banyak orang sekitar. Kebiasaan membaca dan belajar otodidak inilah yang membimbingnya meraih keberhasilan sebagai penyair, kolomnis, dan sastrawan tingkat Nasional dan Regional. Anak jalanan atau masyarakat marjinal dapat mengikuti jejaknya. Kisah lengkap ada di buku “Mau Kuliah Alternatif? BELAJAR OTODIDAK, Dong!”
Ibnu Hajar Al-Haithami mondok selama 10 tahun tapi merasa bodoh, awalnya bersabar, tapi pada tahun ke 10 saat sisi manusianya tidak tahan, dengan penuh rasa putus keluar dari pondok berjalan tanpa arah tujuan sampai di sebuah gua, dia istirahat. Di dalam gua, dia melihat air menetes perlahan-lahan dan ketika memindahkan pandangan ke tempat lain, ada batu berlubang akibat tetesan air. Dari sini muncul ilham “Masa manusia kalah dengan air, pasti dengan usaha yang gigih pantang menyerah akan berhasil juga.” Akhirnya beliau kembali ke pondok lagi, mulai belajar lebih tekun dengan pandangan baru yang terbuka. Hasilnya, belajar jadi mudah, sehingga banyak ilmu yang diserap. Wajar jika beliau mampu melahirkan Ulama’ dan Ilmuan di masanya.
Jika kisah hidup Anda ada kemiripan dengan salah satu tokoh di atas, tirulah langkah-langkah mereka dalam meniti tangga kesuksesan. Meniru sesuatu yang baik dari orang lain adalah sesuat yang dianjurkan, meski suri tauladan kita yang hakiki adalah Nabi Muhammad SAW. Sebab beliau merupakan manusia paripurna bagi segenap umat manusia sepanjang zaman.
Bersyukur Atas Kesuksesan Orang Lain
Suatu hari Nabi Muhammad bersiap-siap mengajar para sahabat. Tapi “pengajian atau majlis taklim” dalam bahasa orang sekarang, belum juga dimulai. Melihat kekhawatiran para sahabat, nabi berujar; “Tunggu, ahli surga sebentar lagi muncul.”
Mendengar hal itu, tentu saja para sahabat menunggu dengan rasa penasaran yang luar biasa. Muncullah Abu Bakr Shiddiq yang keimanannya melebihi seluruh penduduk langit dan bumi, tapi bukan beliau yang dimaksud. Muncullah Umar bin Khattab yang membuat umat Islam berani beribadah terang-terangan, tapi bukan beliau yang dimaksud. Muncullah Usman Bin Affan yang dermawan, tapi bukan beliau yang dimaksud. Muncullah Ali bin Abi Thalib, pasti beliau seru para sahabat sebab merupakan singa Allah yang ahli ilmu, tapi ternyata bukan. Tiada beberapa lama, muncullah seorang pemuda biasa yang kurang dikenal, tapi ternyata pemuda tersebutlah yang termasuk ahli surga. Tentu saja para sahabat bingung tidak mengerti. Nabi mengatakan bahwa pemuda tersebut sujud syukur setiap kali tetangganya mampu membeli sesuatu atau merasakan kebahagiaan.
(Maaf cerita ini saya peroleh dari seorang penceramah di Depok, jadi belum tahu haditsnya, jika ada pembaca yang mengetahui atau mempelajari hadits tersebut, mohon saling berbagi ilmu demi kebenaran)
Walau mendengar cerita tersebut sekitar setahun lalu lebih, tapi saya tidak pernah melupakannya. Entah mengapa, saya tercenung lama mendengar kisah penuh hikmah tersebut. Saya benar-benar merasa tersentuh bukan sekadar karena pemuda tersebut yang disebut ahli surga, bukannya para sahabat Nabi terkemuka yang disebut di atas, tapi lebih itu ialah kebesaran hati pemuda sesuatu yang perlu kita teladani.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa hubungan antara satu tetangga dengan tetangga lainnya berlangsung kurang harmonis karena sifat iri dan dengki yang ada pada setiap orang. Jika tetangga mampu membeli mobil, maka tetangga sebelah merasa iri dan bergosip macam-macam tentang tetangganya. Malah suatu waktu memaksakan diri untuk membeli mobil walau secara financial tidak mampu. Hasilnya, sebuah kehidupan yang tidak nyaman dan tentram tentunya. Sedang pemuda ahli surga justru merasa bahagia, malah bersujud syukur ketika tetangganya bahagia.
Hubungan antar teman yang akrab terkadang rusak karena sifat iri atas kemampuan temannya yang secara financial, emosional atau intelektual, sehingga persahabatan bisa menjadi musuh abadi. Sedang pemuda di atas justru berharap sahabatnya untuk lebih berhasil dari dirinya dengan bersujud syukur jika mendapatkan sesuatu atau meraih prestasi.
Hubungan antar saudara terkadang terjadi saling iri atau dengki, sehingga ada hasrat menjatuhkan atau minimal tidak mau membantu saudaranya karena takut lebih hebat dari dirinya. Sedang sang pemuda justru bersujud syukur kalau saudaranya berhasil, malah bersedia membantu dengan ilmu, harta dan doa untuk mendukungnya.
Hubungan antara ustads dengan ustads lain yang ahli ceramah, antara satu tokoh masyarakat dengan tokoh masyarakat lain, dan antara satu Kiai dengan Kiai lain, terkadang rusak jika salah satu pihak memiliki jamaah lebih banyak, punya hubungan yang dekat dengan kekuasaan atau lebih terkenal. Sedang pemuda ahli surga justru membantu dengan ilmu yang dimiliki agar Ustad, tokoh masyarakat dan Kiai lebih bermanfaat bagi masyarakat luas.
Hubungan antar teman sekantor, berusaha mencari muka pada bos dan terkadang saling menjatuhkan. Sedang sang pemuda malah berharap temannya lebih cepat dipromosikan dan naik jabatan supaya mampu menghidupi keluarganya, sedang sang pemuda masih bujangan.
Hubungan antar pegawai negeri terkadang rusak karena berharap lebih cepat naik jabatan, jika ada yang dipromosikan, kasak kusuk beredar dengan cepat dan fitnah pun menyebar. Sedang pemuda ahli surga justru memberikan dukungan moril agar orang lain sukses, malah ditambah bersujud pada Allah karena memperoleh karunia Allah.
Inilah daftrar alasan kenapa pemuda tersebut menjadi ahli surga. Jika Anda ingin menjadi ahli surga, maka tirulah daftar sikap hidup di atas dalam kehidupan sehari-hari. Insya Allah Anda mendapatkan keistimewaan yang sama dari Allah. Mudah saat membacanya, tapi Anda akan berhadapan dengan “musuh” dari dalam diri sendiri saat berusaha melaksanakannya. Taklukkan “musuh” dalam diri Anda, surga merindukan kehadiran Anda. Hikmah yang dapat dipetik dari hal di atas ialah;
Lawan sifat iri dan dengki yang ada dalam diri kita masing-masing, malah harus dihancurkan berkeping-keping tanpa sisa.
Berbahagialah saat orang lain bahagia dan tersenyumlah saat orang lain tersenyum
Bersujud syukur setiap mendengar sahabat, teman, saudara, kerabat, tetangga, dan orang lain memperoleh sesuatu yang menyenangkan atau meraih kesuksesan.
Berbesar hati untuk membantu orang lain walau diri sendiri lebih membutuhkan
Sebarkan kebaikan di muka bumi dengan menyenangi kelebihan orang lain dan menutupi kekurangannya
Marilah kita berlomba-lomba menjadi ahli surga dengan meneladani pemuda di atas. Ini merupakan sebuah dorongan motivasi bagi generasi muda agar melakukan sesuatu yang bermanfaat pada orang lain dengan langkah sederhana dan biasa saja, namun bernilai luar biasa. Semoga kita semua mampu mengamalkan hal ini! Amien!
1000 Kegagalan 1000 Kesuksesan
Selama ini banyak di antara kita yang senantiasa mengalami kegagalan demi kegagalan, baik karena faktor diri sendiri, maupun dari luar. Tahukah Anda semakin banyak Anda gagal, maka kesuksesan akan Anda raih semakin besar asal tidak mengenal kata menyerah. Buktinya?
Ibnu Hajar belajar 10 tahun, berarti ribuan kali gagal belajar, tapi tetap merasa bodoh, padahal teman-temannya banyak lulus dan berhasil. Justru karena tidak menyerah dan mampu mengambil ilham dari air yang menembus batu, hasilnya beliau menjadi Ulama’ terkemuka di zamannya dan banyak menghasilkan Ulama’ lainnya. Thomas Alva Edison gagal dalam 9944 percobaan, ketika berhasil pada percobaan yang ke 9945, maka kesuksesan besar diraih; dunia menyala terang berkat jasanya, 1033 hak paten berkaitan dengan bidang tersebut dimilikinya, dia kaya untuk diri sendiri, sekaligus anak keturunannya kaya raya.
Saya pribadi mengalami ribuan kali kegagalan dalam hidup ini, tapi Alhamdulillah justru mengalami perkembangan yang hebat dalam kehidupan spiritual dan hasil karya tulis. 3 buku terbit karena kegagalan; “Berniaga Dengan Iman,” “Mau Kuliah Alternatif? Belajar Otodidak, Dong!”, dan novel Bidadari Posmodern. Sudah selesai ditulis buku Pelatihan Learning For Living (LFL) 3 Langkah Sederhana Menuju Kesuksesan Dunia dan Akhirat. Alhamdulillah, blog saya ini semakin padat isinya karena selama bulan Ramadhan, Allah memberi ide dan ilham yang banyak untuk ditulis. Belum lagi karya tulis lain yang telah saya tulis. Untuk hal spiritual, biarlah Allah yang tahu karena bukan buat konsumsi publik.
Hal inilah yang membimbing saya guna menulis Rumus Kegagalan; 1000 Anda Gagal, maka 1000 kesuksesan menanti Anda. Dasarnya dalam Al-Qur’an “Sesunguhnya setelah kesulitan ada kemudahan” diulang kembali pada ayat selanjutnya; “Maka sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan,” tidak mungkin Allah mengulang dua kali jika tidak karena ingin meyakinkan hamba-hambaNya bahwa di balik kesulitan yang dihadapi, ada kemudahan, dan dibalik kegagalan ada kesuksesan, asal tentu saja terus berusaha mengerahkan segenap potensi yang dimiliki dengan tidak mengenal kata “PUTUS ASA”.
Cobalah Anda hitung berapa kali Anda gagal dalam mencapai sesuatu seumur hidup, lalu hitung juga berapa kenikmatan, kebahagiaan, dan keindahan yang Anda peroleh? Insya Allah Anda mulai menyadari rumus baru ini.
Bagimana dengan orang yang hidup miskin, terlantar dan teraniaya! Coba selidiki mendalam, mereka masih bernafas, masih dapat merasakan nikmatnya makan, masih dalam keadaan Muslim dan Mukmin. Bukankah cobaan berupa kemiskinan, penganiaayaan dan tersingkirkan sudah mendapatkan Tiket Gratis ke surga asal Muslim atau Mukmin? Kebahagiaan akhirat tiada bandingan dengan kebahagiaan di dunia ini.
Terburu-Buru Pangkal Kegagalan
Selama ini banyak orang Indonesia yang ingin sukses, berhasil dan meraih cita-cita yang mereka idam-idamkan sejak kecil. Sayangnya, dalam proses mencapai semua itu, banyak masyarakat Indonesia yang berjatuhan di tengah jalan.
Awalnya mereka sungguh merusaha mencapai sesuatu, bekerja sekuat tenaga, mengerahkan pikiran, imajinasi dan hati, setelah ada titik terang, di sinilah kesalahan timbul. “Titik terang” sudah dianggap penemuan baru yang segera berusaha dipublikasikan, disebarkan dan dipasarkan.
Setelah tersebar, bahkan dipublikasikan di media cetak atau elektronik, justru banyak masalah bermunculan pada pada produk yang “terlanjur” dipasarkan. Hasilnya, semua menjadi hancur, kacau dan menghasilkan kegagalan yang menimbulkan frustasi. Inilah yang terjadi pada Blue energy dan banyak kegagalan lainnya.
Salah satu masalahnya, orang Indonesia serba terburu-buru dalam melakukan dan menghasilkan sesuatu, hasilnya kegagalan. Seharusnya sebuah produk yang dihasilkan, diuji coba dulu dalam berbagai macam situasi dan kondisi, lakukan hal ini sampai-sampai tidak ada celah kekurangan. Sebab inilah yang dikenal Jepang dengan prinsip Kaizen yakni;
“Kaizen” adalah sebuah metode yang sangat dipegang teguh di Jepang. Ia adalah proses penyempurnaan secara terus menerus dan tiada henti. Kaizen inilah yang telah mengubah Jepang menjadi sebuah bangsa yang memiliki peradaban sangat maju, serta memiliki teknologi yang mengalahkan “Barat”… (ESQ, Ary Ginanjar Agustian, hal 184).
Setelah produk ini dipasarkan, jangan lalu ongkang-ongkang kaki menikmati keberhasilan, melainkan berusaha menyempurnakan produk yang dihasilkan, sehingga nantinya mampu menarik investor “Berkantong Tebal.” Bahkan sampai tahap ini pun, perbaikan dan penyempurnaan terus menerus dilakukan.
Di samping itu, masalah lain yang dihadapi ialah proses pemasaran di 3 bulan atau tahun pertama biasanya mengalami kesulitan, tapi setelah itu pintu kesuksesan terbuka perlahan-lahan. Buatlah produk Anda menjad “Brand” yang mudah diingat orang, saat menggunakan produk Anda orang merasa “inilah yang dibutuhkan selama ini”, dan perkuat brand dengan melakukan hal-hal yang bersifat sosial agar menimbulkan simpati.
Bumi Allah, 17 Ramadhan
Kurikulum Pesantren Gratis
Model untuk kurikulum empat bagian yang terpadu menurut Jeanete Vos; pertama, kurikulum perkembangan pribadi, meliputi rasa bangga diri dan pembentukan keyakninan, kedua, kurikulum keterampilan hidup, meliputi pemecahan masalah kreatif dan manajemen diri, ketiga, kurikulum belajar-untuk-belajar dan belajar-untuk-berpikir, belajar bisa dilakukan dengan menyenangkan seumur hidup, kerikulum isi, pada umumnya dengan tema-tema terpadu.
Kurikulum yang disusun untuk Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Fakir Miskin Gratis ini sesuai dengan prinsip-prinsip di atas agar mampu menghadapi tantangan masa kini dan mendatang, malah disempurnakan dengan spritualitas Islam dan Amal Shaleh sebagai penguatan batin dan karya nyata pada manusia, makhluk lain dan semesta.
I. Nilai
Nilai yang dijadikan acuan Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Fakir Miskin Gratis ialah berusaha memadukan antara nilai-nilai lama yang baik dengan nilai-nilai baru yang lebih baik. Nilai-nilai lama yang berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah dijadikan sandaran utama, ditambah dengan beberapa ajaran kitab Kuning yang masih kontekstual dengan zaman kekinian, pengalaman sahabat, ulama’ salaf, dan tabi’ien. Tapi tetap berupaya mencari, menemukan dan memanfaatkan nilai-nilai baru yang lebih baik seperti; dialog, belajar secara sistematis, memahami cara belajar sama pentingnya dengan belajar, menjadikan belajar otodidak sebagai pegangan hidup, menguasai empat pilar pembelajaran UNESCO dan memanfaatkan seluruh potensi yang dimiliki agar berhasil dalam kehidupan dunia dan akhirat. “Tujuan terpenting pendidikan adalah belajar bagaimana belajar.” Luis Alberto Machado, Ph.D.
Empat pilar belajar dan pembelajaran UNESCO; Learning to Know (mengetahui, memahami dan mendalami) Learning to Do (bertindak, praktik, melakukan sesuatu, berusaha) Learning to Be (membangun jati diri, profesi) Learning to Live Together (hidup bersama secara harmonis).
Adapun bentuk riil dari nilai-nilai tersebut ialah (2M 3B):
<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Memiliki semangat belajar yang tinggi seumur hidup dengan pemahaman utuh terhadap berbagai macam cara pembelajaran yang efektif.
<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Memiliki kemauan keras untuk dapat hidup mandiri dengan mencari rizki yang halal dengan cara yang baik sesuai ajaran Islam.
<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Berusaha menjadi Muslim yang baik dengan menjalankan ajaran-ajaran dan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, dan meningkatkan diri menjadi Mukmin Sejati.
<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–>Berupaya menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain sesuai kemampuan yang dimiliki.
<!–[if !supportLists]–>5. <!–[endif]–>Berbakti pada kedua orang tua, umat Islam dan bangsa Indonesia.
II. Tujuan Pendidikan
Pada umumnya tujuan-tujuan pendidikan dijabarkan dalam bentuk empat jenis tujuannya menurut KH. Moh. Idris Jauhari yaitu : Tujuan Pendidikan Nasional, Tujuan Institusional (kelembagaan), Tujuan Kurikuler (Bidang Studi), dan Tujuan Instruksional (Pengajaran).
Tujuan Pendidikan Nasional dijadikan salah satu perbandingan dalam mengelola Pondok Pesantren, sehingga seluruh kegiatan yang dilakukan merupakan bentuk sumbangsih nyata pada bangsa dan negara di bidang pendidikan. Manusia Indonesia menurut UU Sisdiknas (UU RI Nomor 20 tahun 2003) adalah sosok manusia yang; beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Tujuan Institusional (kelembagaan):
- Membentuk remaja dan generasi muda Muslim yang kuat luar dalam, sehingga mampu menghadapi tantangan zaman.
- Secara perlahan akan membentuk sebuah lingkungan baru yang memiliki semangat belajar seumur hidup, bekerja keras untuk berhasil dengan usaha sendiri, dan memiliki keyakinan Islam yang tidak goyah oleh apa pun jua.
- Mencetak generasi baru yang arif dan bijaksana dalam menghadapi berbagai macam permasalahan hidup.
- Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Fakir Miskin Gratis tidak memungut biaya bagi keluarga tidak mampu atau yatim piatu,
Tujuan kurikuler terdiri dari tujuan umum dan khusus. Tujuan umum ialah menjadi lembaga pendidikan alternatif bagi yang putus Sekolah atau lulusan SMU atau Pesantren yang tidak mampu untuk belajar (learning) ke perguruan tinggi. Sedang tujuan khusus ialah pembelajaran tentang cara Belajar otodidak, cara berwiraswasta, dan cara menjadi Mukmin Sejati.
Tujuan Pengajaran terdiri dari Tujuan Umum dan Tujuan Khusus. Tujuan Umum pengajaran ialah mendidik remaja dan generasi muda supaya bisa belajar sendiri, menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan, mampu membaca dan menulis dan memiliki keyakinan terhadap Islam. Sedang Tujuan Khusus diuraikan secara terperinci dalam uraian berikut ini.
Tingkat Awwaliyah (Lulusan SD/MI)
Pengajaran materi umum dasar yang wajib yakni Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris supaya manguasai cara berhitung dengan baik, mampu berbahasa Indonesia dan Inggris dengan baik, serta mampu melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi.
Pengajaran materi Islam seperti Fiqih, Hadits, Al-Qur’an, Tauhid, akhlak, dan bahasa Arab, supaya mampu menjadi Muslim yang baik, bertingkah laku dengan benar, menguasai cara berbahasa Arab, meneladani Nabi, Sahabat dan Ulama’ yang shaleh, serta berusaha memperdalam Al-Qur’an dan Hadtis.
Antara materi umum dengan Islam disatukan dalam satu kesatuan pengajaran yakni mencetak remaja Muslim memiliki semangat belajar tinggi, bersungguh-sungguh dalam mencapai cita-cita, dan berakhlak mulia.
Tingkat Mutawassith (Lulusan MTs/SMP)
Pendalaman dan melanjutkan materi umum dasar Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris ditambah dengan Fisika, Kimia dan biologi untuk yang bidang ilmu alam, Sejarah, Geograrfi, sosiologi untuk bidang ilmu sosial, plus kewiraswastaan.
Pendalaman Fiqih, Hadits, Tafsier, Tauhid, akhlak, dan bahasa Arab, ditambah Sejarah Islam, supaya mampu menjadi Mukmin sejati, menjadi teladan bagi adik kelas, keluarga dan masyarakat.
Kedua materi Ilmu disinergikan dalam diri santri/wati, sehingga mereka mampu beradabtasi dengan masyarakat, mampu memahami masalah riil keindonesiaa, mampu belajar seumur hidup melalui belajar (learning) formal atau belajar otodidak.
Tingkat Ma’had Ali
Pembelajaran tentang cara belajar otodidak, cara menjadi Mukmin Sejati dan menjadi wiraswasta yang tangguh sesuai perkembangan zaman.
Materi utama yang diajarkan yakni “Mau Belajar (learning) Alternatif? Belajar Otodidak, Dong!” Ahmad Zamhari Hasan, Cara Belajar Cepat Abad 21 Colin Rose & Malcolm J. Nicholl, dan Revolusi Cara Belajar Dryden & Vos, Cara Berniaga Dengan Iman Zamhari Hasan, Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian Valentino Dinsi, The Perfect Business Michael Leboeuf, Change Rhenald Kasali Ph.D, ESQ Ary Ginanjar Agustia, Kitab Penyucian Jiwa Tazkiyatun Nafs Sa’id Hawwa sebagai intisari dari kitab Ihya’ ‘Ulumuddin Imam Ghazali.
Materi Tambahan; Kitab Durratun Nasihien, Tafsir Al-Azhar Hamka, Tafsir Al-Misbah Prof. Dr. Qurais Shihab, Esklopedi Islam, Cahaya Pencerahan Dr. Aid Al-Qarni, Psikologi Kepribadian Alwisol, Komposisi Prof. Dr. Gorys Keraf, Sastra dan Cultural Studies Prof. Dr. Nyoman Ratna S.U, Kritik Sastra Indonesia Modern karya Prof. Dr. Rahmad Joko Pradopo, Batas Nalar Donald B. Calne, ilmu bahasa; bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa Arab, dan ilmu komputer.
Arah dari semua materi terbagi dalam tiga hal yakni keilmuan (upaya belajar seumur hidup) untuk mampu mensejajarkan diri dengan sarjana S1, kewiraswastaan yakni memulai usaha dari nol sampai berhasil (baik menggunakan entreprenuer atau macroprenuer), dan Keislaman yakni berusaha menjadi Mukmin sejati; menguasai ilmu-ilmu keislaman sesuai bidang yang disukai, menerapkan yang diketahui dalam hidup sehari-hari, beramal shaleh sesuai kemampuan, dan berusaha menjadi manusia paripurna meneladani Nabi Muhammad SAW.
Sedang sistem penjurusan dilakukan sendiri oleh anak didik setelah menguasai 9 buku materi utama dan satu atau tiga buku tambahan (boleh memilih meteri kitab/buku tambahan yang ingin dikuasai), khususnya berkaitan dengan bidang ilmu yang akan dijadikan skil utama dalam; berwira usaha, memperluas cakrawala ilmu, mencari pekerjaan yang layak dan menekuni karir yang lebih baik lagi.
III. Tradisi Pondok Pesantren
Berhubung Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Fakir Miskin Gratis berusaha merintis program baru, maka para pendidik dan Santri/wati sama-sama berusaha menciptakan tradisi baru yang sesuai dengan zaman ini, dengan tanpa melupakan untuk mengambil tradisi-tradisi lama yang baik seperti; patuh pada pendidik, akhlak mulia, tradisi hubungan timbal balik antara pendidik dan santri/wati, tradisi belajar kitab kuning meski lewat buku terjemahan. Adapun tradisi baru yang paling ditekankan ialah membudayakan dialog dalam proses pembelajaran, belajar menggunakan teknologi atau komputer, dan menggali ilmu pengetahuan baru.
Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Fakir Miskin Gratisdi tuntut memiliki tradisi baru yakni senantiasa belajar dalam kehidupan sehari-hari, berusaha sampai taraf maksimal dalam mengelola suatu usaha, mengisi waktu kosong dengan kegiatan yang bermanfaat, menjadikan ibadah sebagai salah satu kesenangan hidup, menggali ilmu pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat bagi diri dan masyarakat.
Agar tradisi ini semakin mengakar, maka diwujudkan dalam bentuk organisasi pembelajaran masa depan.
Adapun Model organisasi pembelajaran menurut Gordon Dryden. Berorientasi ke masa depan; bentuk masa depan, revolusi belajar, revolusi berpikir, dan revolusi komunikasi internet. Fokus-kembar ekskutif senior; manajemen menentukan dan mencapai sasaran lewat orang lain; kepemimpinan menciptakan dan mempelopori masa depan baru yang mampu berjalan sendiri dengan sasaran yang bahkan lebih besar. Budaya organisasi; setiap orang adalah pembelajar yang antusias, setiap orang menjadi guru, pembimbing dan pelatih, setiap orang adalah kontributor positif, setiap orang adalah manajer mandiri, setiap pemegang kepentingan dilibatkan. Pelatihan dan pengembangan; Dorong setiap orang untuk menentukan dan mencapai tujuan pribadi dan tujuan organisasi. Setiap pelatihan tidak perlu mengarah ke keterampilan kerja tertentu. Cukuplah dengan peningkatan keterampilan pengetahuan dan belajar untuk belajar. Aliran informasi; mudahkan menciptakan, penyederhanaan, dan penyimpanan infromasi penting. Mudahkan akses informasi bagi semua orang. Hargailah orang yang telah menyumbang ide. Hancurkan sindrom “tak ditemukan di sini.”
Sedang 8 Langkah menuju organisasi pembelajaran menurut Jeanete Vos. Periksalah gambaran umum yang mungkin terjadi. Carilah model untuk masa depan. Apa yang kini terjadi? Nilailah realitas Anda saat ini. Singkirkan hal-hal negatif. Apa yang menghalangi Anda? Kegagalan = umpan balik. Apa yang Anda inginkan? Bermimpilah! Ciptakan visi tersebut! Fokuskan diri padanya! Periksalah ekologi. Apa saja sumber daya yang Anda miliki? Adakah tempat kerja (tempat tinggal) Anda nyaman untuk berpikir? Padukan prilaku dan sikap Anda dengan tujuan Anda. Lakukan! Tentukan sasarannya secara spesifik. Visualisasikan dengan semua indera. Raih dukungan. Bangun struktur tim. “setiap orang mengajar satu orang.” Evaluasi, tinjau, rayakan. Apakah Anda mencapai sasaran? Sukseskah Anda? Seberapa sukses? Petakan kembali jika perlu. Daur ulang. Gandakan keberhasilan Anda!
IV. Substansi/Materi
Kegiatan Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Fakir Miskin Gratis secara umum terbagi dalam kegiatan Intra Kurikuler dan Ko-kurikuler.
Kegiatan Intrakurikuler yaitu materi kurikulum yang dilaksanakan pada jam-jam terjadwal, dengan tujuan agar tujuan dari setiap bidang studi dapat tercapai. Kegiatan intrakuler ini dilaksanakan pagi dan malam hari sesuai dengan komitmen yang dibuat antara pendidik dengan santri/wati. Materi intra kurikuler ditekankan pada cara belajar otodidak, cara berwiraswasta, dan cara menjadi muslim yang baik.
Kegiatan Ko-kurikuler yaitu berlatih belajar sendiri di rumah masing-masing, dengan tujuan agar santri/wati lebih mendalami dan menghayati pelajaran yang diberikan pada kegiatan intra-kurikuler. Kegiatan Ko-Kurikuler dilaksanakan di rumah masing-masing, sebab prinsip utama Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Fakir Miskin Gratisialah memindah tempat belajar ke rumah.
V. Program Pendidikan Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Fakir Miskin Gratis
A. Program Sesuai Jangka Waktu
- Jangka Pendek;
-
- Memulai Pendafataran anak-anak yatim piatu dan fakir miskin.
- Menyempurnakan dan mengesahkan Kurikulum Pendidikan Pesantren
- Mengadakan Pembenahan secara internal, struktur organisasi, distribusi kerja, asrama dan ruang pembelajaran.
- Jangka menengah;
- Bekerja sama dengan pemerintah, pengusaha dan dermawan Muslim yang peduli pada pemberantasan kemiskinan dan pengangguran.
- Membentuk Ma’had Ali yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.
- Menghasilkan alumni-alumni pesantren yang siap terjun di tengah-tengah masyarakat sambil belajar otodidak atau belajar (learning) formal.
- Memperkuat sumber dana agar bisa dikelola secara profesional, meski gratis, tapi harus dikelola dengan sangat baik dan profesional, bukan asal-asalan.
- Menjadikan Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Fakir Miskin Gratis yang benar-benar menjadi alternatif dengan pengelolaan yang berbeda.
- Jangka panjang
- Membentuk Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Fakir Miskin Gratis serupa di kabupaten-kabupaten lain di Indonesia, setelah berhasil di suatu tempat.
- Dalam 10 tahun diharapkan sudah ada di 10 kota besar di Indonesia, minimal 5 Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Fakir Miskin Gratisdi lima kota besar.
- Dalam 25 tahun sudah menyebar di seluruh Indonesia
B. Pembelajaran
- Pembelajaran secara umum terdiri dari teori dan praktik.
- Gabungan antara klasikal dan non klasikal sesuai kebutuhan.
- Mencari bentuk-bentuk pembelajaran baru yang sesuai perkembangan zaman.
C. Jadual Pelajaran
Intra Kurikuler
Awwaliyah
Kelas I
Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, Fiqih, Hadits, Al-Qur’an, Tajwid, Tauhied, Bahasa Arab, muthala’ah, mahfudhzat, Adab Sopan Santun.
Kelas II
Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, Fiqih, Hadits, Al-Qur’an, Tajwid, Tauhied, Bahasa Arab, Nahwu, muthala’ah, mahfudhzat, ta’limul muta’allim.
Kelas III
Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, Fiqih, Hadits, Al-Qur’an, Tajwid, Tauhied, Bahasa Arab, Nahwu, Sorrof, muthala’ah, mahfudhzat.
Mutawassith
Kelas I
Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, Fiqih, Hadits, Al-Qur’an, Tajwid, Tauhied, Bahasa Arab, muthala’ah, mahfudhzat, Bidayatul Mujtahid
Kelas II
Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, Fiqih, Hadits, Al-Qur’an, Tajwid, Tauhied, Bahasa Arab, Nahwu, muthala’ah, mahfudhzat, Riyadunnaashihien.
Memilih jurusan = bahasa (Arab, Inggris, China, Indonesia, dan Jepang) ilmu sosial (sejarah, geografi, dan sosiologi), ilmu alam (Biologi, Fisika dan Kimia), dan ilmu keislaman (Tafsier Al-Misbah/Al-Azhar)
Kelas III
Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, Fiqih, Hadits, Al-Qur’an, Tajwid, Tauhied, Bahasa Arab, Nahwu, Sorrof, muthala’ah, mahfudhzat, Ihya’ Ulumuddien, dan Komputer program Microsoft Word. Memperdalam sesuai dengan jurusan yang dipilih.
Ekstra Kurikuler (Sore); Pertanian, Perdagangan, Tulis Menulis, Khat, Menjahit, Kerajinan Tangan, dan Komputer
Ko Kurikuler (Malam); Belajar bersama wali kelas, baik di dalam kelas atau luar kelas, tapi tidak boleh di kamar.
D. Sumber Dana
<!–[if !supportLists]–>1) <!–[endif]–>Bekerja sama dengan pengusaha atau dermawan yang peduli pada pemberantasan pengangguran dan kemiskinan.
<!–[if !supportLists]–>2) <!–[endif]–>Meminta bantuan dari pemerintah dan swasta.
<!–[if !supportLists]–>3) <!–[endif]–>Meminta sumbangan donatur yang mau menyumbang secara ikhlas
<!–[if !supportLists]–>4) <!–[endif]–>Sumber dana dikelola secara baik, transparan dan terbuka, sebab ini untuk kepentingan umat Islam, ikhlas karena Allah dan supaya mendapat ridha Allah.
<!–[if !supportLists]–>5) <!–[endif]–>Sumbangan dalam bentuk apa pun diterima dan akan dipertanggung jawabkan secara tertulis berikut nota pembayaran, tapi tanggung jawab yang lebih besar pada Allah.
E. Tempat Belajar (learning) Gratis
Tempat Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Fakir Miskin Gratis di Pesantren yang sudah ada asrama dan ruang kelas sederhana
F. Prosedur Mengikuti kegiatan
- Pendaftaran
- Setiap calon santri diharapkan mendaftar tanpa dipungut biaya apa pun.
- Menerima formulir dan mengisinya, lalu menyerahkan pada panitia pendaftaran.
- Mengikuti kegiatan pembinaan mental dan pengenalan Pondok Pesantren.
VI. Strategi/Metode
Strategi dan metode adalah cara-cara yang akan ditempuh dalam melaksanakan program pendidikan dan pengajaran di suatu Pembelajaran; seperti proses pembelajaran, cara penilaian (Evaluasi), cara pelaksanaan Bimbingan, dan cara-cara lain yang berhubungan dengan strategi Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Fakir Miskin Gratisdalam upaya mencapai tujuan-tujuan pendidikan dan pengajaran secara maksimal.
Metode pembelajaran dalam Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Fakir Miskin Gratis ialah gabungan antara intsruksional atau monolog dengan dialog yang menuntut keaktifan Santri/wati, sehingga mereka tertuntut untuk membaca, berbicara, dan menulis. Evaluasi lebih ditekankan pada tes tulis dan lisan, dengan memfokuskan pada kemampuan Santri/wati dalam menerjemahkan apa yang diketahui dalam suatu tindakan nyata. Sedang pelaksanaan bimbingan pembelajaran disesuaikan dengan kemauan dan keadaan Santri/wati.
Pembelajaran memanfaatkan teori reseptif yang terdiri dari membaca dan mendengar dan aktif yang terdiri dari berbicara dan menulis. Dengan penerapan metode ini secara intensif, maka hasil yang diperoleh lebih maksimal.
Proses pembelajaran dilakukan dengan dua metode yakni belajar cepat dan belajar lambat. Belajar cepat diperuntukkan bagi santri/wati yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata, sedang belajar lambat diperuntukkan bagi santri/wati yang memiliki kecerdasan di bawah rata-rata. Kelemahan metode cepat adalah kurang mendalam, sedang metode lambat bisa lebih mendalam. Kelemahan belajar lambat butuh waktu lebih lama dari pada belajar cepat. Namun tidak menutup kemungkinan keduanya dilaksanakan pada semua santri/wati secara fleksibel, tergantung kemampuan pendidik dalam mengajar.
Strategi umum pembelajaran untuk menjawab arah tujuan pembelajaran; memberikan kesempatan pada santri/wati untuk menampilkan, menciptakan, menghasilkan, atau melakukan sesuatu, mendorong tingkat berpikir yang lebih tinggi dan keterampilan pemecahan masalah, memberikan tugas-tugas yang menuntut aktivitas belajar yang bermakna, dan menerapkan apa yang dipelajari.
Penerapan teori Konstruktivistik dalam pembelajaran diuraikan berikut ini menurut Agus Wedi, Kandidat Doktor IKIP Malang.
Pengetahuan yang disimpan dalam ingatan adalah terstruktur, sebab belajar merupakan proses pemaknaan (pengaitan) informasi baru ke struktur pengetahuan yang telah dimiliki. Langkah yang diambil; mendorong diskusi terhadap pengetahuan baru, berpikir diverigen, kaitan dan pemecahan ganda, menerapkan keterampilan analisis, membandingkan, generalisasi, memprediksi, menghipotesis dan menggunakan informasi pada situasi baru.
Gaya belajar, rentangan perhatian, ingatan, tahap perkembangan, dan kecerdasan santri/wati sangat bervariasi, maka perlu langkah-langkah; menyediakan beberapa pilihan tugas untuk satu kesempatan, menyediakan pilihan cara menguasai apa yang dipelajari, menyediakan waktu untuk berpikir dan mengerjakan tugas, memberikan kesempatan berpikir ulang, dan melibatkan pengalaman-pengalaman kongkrit.
Santri/wati akan belajar lebih baik apabila ia tahu tujuan pembelajaran dan bagaimana untuk kerjanya dibandingkan dengan standar yang ditetapkan. Langkah-langkah yang diambil; memberitahu dan mendiskusikan tujuan pembelajaran, memberikan contoh hasil kerja santri/wati, dan mendiskusikan kriteria kerja.
Strategi yang dipakai anak dalam belajar akan menentukan proses dan hasil belajarnya, maka langkah-langkah yang diambil ialah memberikan kesempatan untuk menerapkan cara berpikir dan belajar yang cocok dengan dirinya, meminta santri/wati melakukan evaluasi tentang cara berpikirnya, cara belajaranya dan alasan menyukai tugas tertentu.
Motivasi dan usaha mempengaruhi belajar sebagai bekal untuk kerja. Langkah-langkah yang diambil yakni memotivasi anak tentang dunia masa kini dan depan, memberikan tugas-tugas yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari dan pengalaman pribadi, dan mendorong santri/wati memahami kaitan antara usaha atau proses dan hasil.
Belajar pada dasarnya memiliki aspek sosial, maka kerja kelompok sangat penting dan berharga, untuk itu; memberikan kesempatan untuk melakukan kerja kelompok, menggabungkan kelompok-kelompok yang heterogen, mendorong santri/wati untuk memainkan berbagai peran yang berbeda, dan memperhitungkan proses dan hasil kelompok.
VII. Kepemimpinan dan Pendidik
Pengelola berupaya untuk meneladani bentuk-bentuk kepemimpinan yang telah dicontohkan Rasulullah, sahabat Nabi, Tabi’in, ulama salaf dan khalaf, dan mengambil nilai-nilai baik dari pemimpin formal yang baik.
Pengelola dan pendidik harus memiliki jiwa dan praktik profesionalisme. Makna jiwa profesionalisme ialah menjadikan profesi mengajar di Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Fakir Miskin Gratissebagai fokus utama atau pekerjaan utama yang diprioritaskan, sehingga setiap tugas dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, kerja keras dan sepenuh hati.
Sedang profesionalisme dalam kaitan proses pembelajaran meliputi tiga variabel menurut Reitgeluth dan Stein (1983) via Agus Wedi; Kondisi Pembelajaran (faktor yang mempengaruhi efek metode dalam meningkatkan hasil pembelajaran meliputi; tujuan pembelajaran, karakteristik bidang studi, sumber belajar, dan karakteristik pembelajar), Metode Pembelajaran (cara-cara yang berbeda untuk mencapai hasil pembelajaran yang berbeda di bawah kondisi yang berbeda, meliputi; strategi penyampaian, strategi pengelolaan, dan strategi pengorganisasian), Hasil Pembelajaran (Semua efek yang dapat dijadikan sebagai indikator tentang nilai dari penggunaan metode pembelajaran di bawah kondisi yang berbeda, meliputi; efektivitas, efisiensi dan daya tarik).
Adapun kompetensi profesi guru yang harus dimiliki sesuai UU N0. 14 th. 2005 pasal tujuh ayat 2 yakni : kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial yang bermuara didikan kepribadian, didikan ilmu pengetahuan, dan didikan sosio-civics. Sedang kompetensi yang dibutuhkan dalam era global menurut Agus Wedi, kandidat Doktor di IKIP Malang; berpikir kreatif, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, belajar bagaimana belajar, kolaborasi dan pengelolaan diri.
Beberapa keahlian penunjang yakni; Pengantar pendidikan, perkembangan pembelajar, teori belajar dan pembelajaran, desain dan strategi pembelajaran, evaluasi belajar dan pembelajaran, pengajaran micro-supervisi klinis, pengembangan kurikulum, kapita selekta pendidikan.
Pendidik di Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Fakir Miskin Gratis diambil dari orang-orang yang ingin mengajar secara ikhlas meski akan mendapatkan gaji yang sesuai (tergantung keuangan dari lembaga pendidikan Belajar (learning) Gratis) dengan keahlian tertentu, yang dapat menyempurnakan kekurangan yang dimiliki pengelola, seperti; pakar teknologi, ahli bahasa Arab dan Inggris, ahli komputer, ahli administrasi dan ahli perbankan.
VIII. Santri/wati
Santri/wati berasal dari lulusan SD/MI untuk tingkat Awwaliyah, MTs/SMP untuk tingkat Mutawassith, MA/SMA/Mutawassith untuk tingkat Ma’had Ali, mereka mengikuti pelajaran tanpa dipungut biaya.
Santri/wati merupakan subyek sekaligus obyek dari pendidikan. Antara fungsinya sebagai subyek dan obyek, saling mengisi satu sama lain. Suatu waktu sebagai obyek mereka bersikap pasif dengan mematuhi perintah pendidik dan pengelola, namun di lain waktu mereka dituntut aktif dalam proses pembelajaran lewat bertanya dan mengadakan telaah kritis. Sehingga mereka diharapkan bisa berpikir konstruktif, bukan berpikir destruktif.
Setiap Santri/wati memiliki bakat yang berbeda, bakat ini dikembangkan sesuai minat mereka masing-masing, tidak perlu pemaksaan dalam pengembangan bakat. Maka para pendidik harus memiliki pengetahuan memadai tentang kemampuan intelektual, kecerdasan spritul, kecerdasan perasaan, live Skill dan potensi mereka.
IX. Sarana
Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Fakir Miskin Gratisdiharapkan secara perlahan-lahan melengkapi semua sarana yang dibutuhkan, sehingga menjadi lembaga pendidikan yang profesional meski digratiskan.
Adapun Sarana meliputi beberapa aspek seperti yang disampaikan KH. Moh. Idris Jauhari; sarana personal, manajerial/kepemimpinan, material, dan sarana-sarana yang berhubungan dengan bidang administrasi. Perinciannya dijelaskan dalam uraian berikut.
<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Sarana Manajerial/Kepemimpinan, terdiri dari :
<!–[if !supportLists]–>a.1. <!–[endif]–>Pengelola/Pendiri/Direktur
<!–[if !supportLists]–>a.2. <!–[endif]–>Kabag Pelatihan
<!–[if !supportLists]–>a.3. <!–[endif]–>Kabag Pembelajaran
<!–[if !supportLists]–>a.4. <!–[endif]–>Kabag Unit Usaha
<!–[if !supportLists]–>a.5. <!–[endif]–>Kabag IT (Informasi dan Teknologi)
<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Sarana Personal/Pelaksana, terdiri dari :
<!–[if !supportLists]–>b.1. <!–[endif]–>Pendidik/Dosen
<!–[if !supportLists]–>b.2. <!–[endif]–>Tenaga Teknis Non-edukatif seperti; Skretaris dan Bendahara
<!–[if !supportLists]–>b.3. <!–[endif]–>Tenaga-tenaga khusus yang diperlukan seperti ahli agro bisnis/industri
<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Sarana material, terdiri dari :
<!–[if !supportLists]–>c.1. <!–[endif]–>Bahan-bahan Pengajaran, seperti buku pegangan, referensi, teksbook, peralatan laboratorium, alat-alat keterampilan dan olahraga serta media pendidikan lainnya.
<!–[if !supportLists]–>c.2. <!–[endif]–>Sarana fisik; rumah pengelola, ruang Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Fakir Miskin Gratis(ruang belajar, perpustakaan, dan mushalla), ruang pelatihan, hotel sederhana, supermaket, laboratorium komputer, lapangan olah raga, unit simpan pinjam dan tempat usaha lainnya.
<!–[if !supportLists]–>c.3. <!–[endif]–>Dana atau Biaya Operasional; baik yang bersifat rutin maupun yang tidak rutin.
<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Sarana Administratif, terdiri dari :
<!–[if !supportLists]–>d.1. <!–[endif]–>Administrasi Pengelola meliputi :
- Dokumen pendirian Belajar (learning) Gratis - Notulasi Rapat
- Program kerja - Buku Perkembangan Santri/wati
- Kalender Akademik - Buku Perkembangan Pendidik
- Daftar Pembagian Tugas - Buku Perkembangan Pegawai
- Jadwal Pembelajaran - Buku Tamu
<!–[if !supportLists]–>d.2. <!–[endif]–>Administrasi Pendidik :
- Kurikulum - Buku Induk Pendidik
- Daftar Nilai - Buku kumpulan bahan tes
- Daftar buku Pegangan - Daftar Buku Referensi
- Buku Presensi
<!–[if !supportLists]–>d.3. <!–[endif]–>Administrasi Santri/wati :
- Buku Induk Santri/wati - Buku kumpulan nilai santri/wati
- Daftar Ruang Belajar (learning) - Buku Absensi Santri/wati
<!–[if !supportLists]–>d.4. <!–[endif]–>Administrasi Bimbingan Pembelajaran
- Kartu Pribadi Santri/wati ( Data Kumulatif )
- Catatan Prestasi dan Perkembangan
<!–[if !supportLists]–>d.5. <!–[endif]–>Administrasi Surat Menyurat :
- Agenda Surat menyurat
- File untuk arsip surat menyurat
<!–[if !supportLists]–>d.6. <!–[endif]–>Administrasi Keuangan :
- Buku Kas Umum/Kas Besar - Buku Kas Pembantu/Tabelaris
- Peti besi/kotak Uang - Kotak Penyimpan kwitansi
<!–[if !supportLists]–>d.7. <!–[endif]–>Administrasi Perlengkapan/Inventaris :
- Daftar seluruh inventaris - Daftar inventaris tiap ruangan
- Nomor dan Kode inventaris pada setiap barang/perlengkapan.
<!–[if !supportLists]–>d.8. <!–[endif]–>Administrasi Perpustakaan
- Daftar seluruh bahan pustaka - Katalog
- Daftar Anggota dan Peminjam - Kartu Buku
<!–[if !supportLists]–>d.9. <!–[endif]–>Administrasi Laboratorium/Workshop :
- Daftar peralatan yang dimiliki
- Data penggunaan
- Daftar hasil percobaan/praktek santri/wati
X. Evaluasi
Secara garis besar evaluasi pendidikan di Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Fakir Miskin Gratismemiliki beberapa fungsi pokok seperti yang disampaikan KH. Moh. Idris Jauhari : fungsi selektif, fungsi bimbingan dan dan fungsi diagnostik. Fungsi selektif yaitu melakukan pilihan terhadap berbagai alternatif yang ada, terutama yang berhubungan dengan keadaan santri/wati seperti: mengetahui tingkat kecerdasan santri/wati secara emosi, intelegensia dan spritual. Fungsi bimbingan digunakan untuk membantu dan membimbing santri/wati dalam mengatasi segala kesulitan yang dihadapinya; baik menyangkut masalah-masalah pribadi ataupun masalah-masalah sosial. Fungsi diagnostik yaitu upaya mengetahui secara pasti berbagai kendala dan kelemahan yang terdapat dalam aspek-aspek pendidikan; menyangkut tujuan, materi, metode struktur program atau sarana, dan berhubungan dengan kondisi kesiapan pendidik atau santri/wati-santri/wati itu sendiri, sehingga bisa diambil langkah-langkah perbaikan dan penyempurnaan.
Evaluasi terdiri dari evaluasi intelegensia yakni kemampuan menyerap materi-materi belajar (learning) yang telah digariskan, diikuti dengan evaluasi pada kecerdasan emosi; bagaimana mengendalikan perasaan, memacu motivasi, membentuk kesabaran dan menjadi manusia yang berkepribadian, evaluasi keterampilan yakni keterampilan dalam suatu bidang tertentu yang dikuasainya seperti entrprenuer atau macroprenuer, dan evaluasi kecerdasan spritual yakni penyerapan rukun Islam dalam kehidupan sehari-hari, menjadikan iman sebagai keyakinan yang tidak akan goyah oleh apa pun jua; pemikiran modern dan posmodern, perubahan zaman, kekuatan kapitalisme, dan kekuatan lainnya, dan senantiasa menghadirkan Allah dalam berbagai aspek kehidupan yang dijalani.
Catatan paling penting untuk untuk evaluasi ialah memanfaatkan Sistem Penilaian yang disarankan untuk abad 21 yakni 50% penilaian diri sendiri, 30% penilaian teman, 20% penilaian guru atau atasan, Jeanete Vos.
XI. Struktur Organisasi Pondok Pesantren dan Pembagian Tugas
Dewan Pembina :
Pendiri :
Pengasuh :
Wakil Pengasuh :
Sekretariat :
Bendahara :
Kepala Awwaliyah: ………………………………………………
Kepala Mutawassith: ………………………………………………
Kepala Ma’had Ali: ………………………………………………
Kabag Sarana dan Prasarana:
Kabag Unit Usaha :
Dewan Pembina bertanggung jawab untuk mengumpulkan dana operasional dan pembangunan Kompleks Belajar (learning) Gratis.
Pendiri/Pengelola bertanggung jawab pada proses pendirian Pesantren, sehingga dapat diwujudkan dalam kenyataan, dan mengelolanya dengan baik.
Direktur bertanggung jawab terhadap manajemen secara keseluruhan dan pelaksanaan program-program yang telah disusun dan disepakati bersama.
Skretariat bertanggung jawab terhadap masalah-masalah keskretariatan; administrasi, surat menyurat dan mendampingi direktur.
Bendahara bertanggung jawab terhadap administrasi keuangan, pencarian dana tambahan dan pengaturannya.
Kabag Sarana dan Prasarana; bertanggung jawab terhadap seluruh sarana dan prasarana yang dimiliki pondok pesantren, serta menambahnya.
Kabag Unit Usaha : mengelola unit-unit usaha yang ada, sehingga mampu memberikan kesejahteraan pada orang-orang yang terlibat dalam pengelolaan Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Fakir Miskin.
XII Amal Shaleh
Amal shaleh ialah perbuatan baik yang dapat memberikan manfaat pada orang lain dalam kurun waktu yang lama, bahkan seumur hidup. Setiap orang yang terlibat dalam Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Fakir Miskin Gratis, mulai level paling atas sampai paling bawah dan santri/wati yang merupakan hasil proses pembelajaran, berkomitmen untuk beramal shaleh langsung, minimal membantu tiga orang secara tulus tanpa pamrih untuk; keluar dari kemiskinan, pengangguran, keterbelakangan, keterpurukan, masalah, musibah, bencana alam, penggusuran dan ketersingkiran.
Bentuk dari amal shaleh yakni zakat fitrah dan harta, sedekah dalam segala keadaan, berbagi ilmu secara ikhlas, mengorbankan tenaga jika tidak punya ilmu atau harta, melayani orang tua sebaik-baiknya, dan berjuang di jalan Allah melalui cara, sarana dan disesuaikan dengan keadaan.
Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Fakir Miskin Gratisdan Pelatihan Gratis adalah bentuk amal shaleh dari kita untuk kita demi memperoleh ridha Allah SWT.
Depok, 11 September 2008
Menyempurnakan Pandangan Lama
Para santri, tentu sudah sangat familiar dengan dua peribahasa dalam bahasa Inggris berikut ini; THINK GLOBALY, ACT LOCALY dan THINK THE BIG, DO THE BIG, BEGIN NOW. Kedua konsep ini, menurut saya perlu disempurnakan dalam abad 21 ini.
THINK GLOBALY, ACT LOCALY; yang bermakna agar kita berpikir secara global, internasional, umum dan meyeluruh, namun demikian harus bertindak secara lokal atau sesuai dalam konteks daerah, desa atau kota tempat domisili seseorang. Mengapa konsep ini harus disempurnakan?
Pertama: dengan prinsip ini, kita dituntut memikirkan masalah global yang melanda umat manusia, padahal kita juga dituntut bertindak lokal atau sesuai daerah domisili, sehingga timbul jarak antara apa yang dipikirkan dengan apa yang dilaksanakan. Inilah yang menjadi penyebab, mengapa banyak alumni pesantren yang terjebak dalam pemikiran globalnya, sehingga kurang mampu menyesuaikan diri, bertindak, bertingkah laku, dan menempatkan diri di mana mereka tinggal.
Kedua; berapa banyak santri yang gagal di dalam masyarakat, karena mereka “dibiasakan” untuk memikirkan sesuatu yang kurang pragmatis, sehingga masalah-masalah pragmatis menelan diri mereka sendiri. Ketika ada perang Irak atau Afganistan mereka merasa terpanggil untuk berjihad di sana dengan think globalynya, padahal banyak masalah-masalah di sekitar mereka yang memerlukan jihad mereka dibandingkan ikut berperang ke negara lain. Ada alumni Gontor yang memegang prinsip yang sama menjadi gila, karena tak mampu menahan perasaan melihat penindasan AS terhadap Irak.
Ketiga; bertindak secara lokal, tidak memerlukan “think globaly”, sebab bertindak lokal berarti menyesuaikan diri dengan nilai-nilai setempat yang juga memerlukan “think localy” juga, sehingga antara yang dipikirkan dengan yang hendak dilaksanakan menjadi sesuai. Lokal di sini dalam makna suatu desa atau kecamatan, sedang untuk kota bermakna kelurahan dan kecamatan.
Keempat; baru ketika seorang santri bisa menjadi “tokoh kecil” dalam suatu tempat berkat “think localy and act localy” berpikir lokal dan bertindak lokal, mereka dituntut mengembangkan diri ke “think regionaly, act regionaly” mereka berpikir dari “tokoh kecil” di suatu desa atau Kecamatan misalnya, menjadi “tokoh menengah” yang bisa dalam makna Kabupaten atau Propinsi. Namun perkembangan dilakukan dengan cara-cara yang alami, bermartabat, halal, dan tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Sehingga ketokohan seseorang menjadi langgeng dan membekas di hati dan benak masyarakat.
Kelima; Pada tingkat selanjutnya, mereka perlu meningkatkan diri menjadi tokoh nasional dan internasional, dalam konteks ini “think globaly, act globaly” bisa mulai diterapkan. Para santri/wati perlu mempelajari perkembangan nasional sesuai bidang yang digelutinya, memanfaatkan kemajuan teknologi secara maksimal, berpikir dalam konteks Islam yang lebih luas dan berusaha mencari penerapan yang tepat bagi umat Islam di Indonesia dan seluruh dunia.
Paradigma yang benar adalah “THINK LOCALY, ACT LOCALY. THINK REGIONALY, ACT REGIONALY. THINK GLOBALY, ACT GLOBALY.” Berpikir lokal, bertindak lokal, berpikir regional, bertindak regional, berpikir global, bertindak global, insya Allah para santri yang memiliki perspektif baru ini akan lebih bijaksana, bisa menyesuaikan diri lebih cepat dengan masyarakat, bertindak tepat dengan cara dan konteks yang tepat, dan bisa berhasil di tengah-tengah masyarakat. Sehingga cita-cita kebangkitan Islam di Indonesia menjadi nyata di tangan mereka. Amien!
Paradigma kedua yang harus disempurnakan adalah THINK THE BIG, DO THE BIG, BEGIN NOW maknanya adalah berpikir yang besar, melakukan sesuatu yang besar dan mulai sekarang. Mengapa ini juga harus disempurnakan?
Pertama: dengan paradigma ini, banyak santri yang “berangan-angan” melakukan sesuatu yang besar, berkhayal tentang hal yang besar dengan meremehkan yang kecil-kecil dan sepele, sehingga mereka menjadi orang yang tidak mampu berpijak di mana mereka tinggal. Ibaratnya mereka ingin meraih bulan, padahal mereka tinggal di bumi atau dalam bahasa lain, mereka menumpuk kertas seminar dan diskusi untuk sampai ke bulan, pasti tidak akan pernah sampai.
Kedua; fenomena santri yang melibatkan diri, bahkan menjadi tokoh teras Jaringan Islam Liberal, hakikatnya orang-orang yang terjebak untuk memikirkan suatu yang besar, melakukan sesuatu yang besar, dan berhubung harus dimulai sekarang, maka mereka menghalalkan segala cara, tak peduli mendiskreditkan Islam, menghancurkan Islam, merusak tatanan Islam dari dalam, bahkan parahnya lagi mereka berprinsip “Saya hamba bagi yang mau membayar saya”. Ya Allah! Separah itukah tinggah sebagian santri kita? Apa bedanya mereka dengan pelacur yang menjual harga diri demi uang atau materi? Semoga mereka cepat sadar, agar tidak menyesatkan orang lebih banyak lagi. Sebab bukan hanya santri yang tidak kuat dengan imbalan materi yang mencengangkan, melainkan sampai dalam level orang-orang yang disebut “Tokoh Masyarakat/Kiai”pun tergiur menggadaikan dirinya dengan materi, naudzubillah mindzalik.
Ketiga; banyak santri yang pulang ke desa atau kota, tapi mereka tak mampu mengelola hal-hal kecil, sepele dan remeh menjadi sesuatu yang besar. Padahal tokoh yang berhasil sebenarnya adalah tokoh-tokoh yang mampu menjadikan sesuatu yang kecil, sepele dan remeh menjadi sesuatu yang besar. Bukankah menjadikan sesuatu yang besar dari hal yang besar hakikatnya suatu kewajaran, tidak punya nilai lebih.
Keempat; ketika pulang kampung/kota, santri sebaiknya “berani” tanpa gengsi untuk mau belajar usaha yang dikelola orang tuanya, tidak menempatkan diri untuk melakukan sesuatu yang besar, padahal tak bisa dilakukan. Mereka tidak malu berangkat ke laut menangkap ikan, bertani di sawah dalam terik matahari, menjadi pedagang kaki lima, menjadi guru honorer atau kontrak, menjadi pesuruh di sekolah, menjadi penjaga toko, dan melakukan hal-hal “biasa” lainnya. Jika mendapat warisan, baru bersedia mengelola. Bagaimana caranya mereka mampu mengembangkan diri jika begitu. Inilah yang membedakan antara santri dengan yang bukan santri. Jadi prinsip THINK THE BIG, DO THE BIG, BEGIN NOW bisa dilaksanakan, setelah sebelumnya menerapkan prinsip THINK THE LITTLE, DO THE LITTLE, BEGIN NOW. Tanpa paradigma yang kedua, paradigma yang pertama tanpa makna sama sekali.
Kelima: zaman ini menawarkan banyak hal yang rancu, ambigu, abu-abu, samar-samar, dan semakin sulitnya memenuhi kebutuhan hidup atau dalam bahasa yang keren adalah kebutuhan pragmatis. Ketika para santri tidak mampu memenuhi kebutuhan pragmatis, maka mereka siap-siap menjual apapun, termasuk keimanan dan keislamannya. Ini karena tuntutan THINK THE BIG, DO THE BIG, BEGIN NOW.
Keenam; saya menawarkan jalan keluar diilhami oleh film Barat (seseorang yang mampu belajar dari apapun adalah orang yang bijak, cerdas, dan muslim sejati); dalam film tersebut diceritakan seorang anak kecil berusia antara 12-15 tahun mendapat ilham dari cara gurunya mengajarkan materi tentang lingkungan sosial, dengan cerdas anak tersebut memaknai maksud gurunya dengan teorinya sendiri yang dia praktekkan yakni dia membulatkan tekad untuk melakukan 3 kebaikan tanpa pamrih; orang pertama yang dia dekati adalah seorang pemabuk berat yang frustasi, dia mengajak bermain, mengajak melakukan sesuatu yang berguna dan mengajaknya untuk menemui orang-orang terdekatnya, setelah beberapa waktu orang itu menjadi sadar dan berbuat yang sama terhadap 3 orang lainnya, orang kedua adalah gurunya yang trauma dengan kebakaran dan bercerai dengan istrinya, sang murid mengajak gurunya untuk melupakan trauma dengan caranya yang lucu dan berusaha mempertemukan dengan istrinya, awalnya gagal, tapi lama kelamaan dia berhasil, sehingga sang guru melakukan 3 kebaikan tanpa pamrih, orang ketiga yang ingin dibantunya adalah teman sekolah yang senantiasa dikeroyok oleh anak-anak lain yang lebih besar dan berkelompok, berhari-hari berpikir dia tak mampu membantu temannya, dia sedih sekali.
Sementara kebaikannya pada 2 orang telah menyebar ke mana-mana, setiap orang mempengaruhi tiga orang lainnya, sehingga suatu hari seorang wartawan terkejut ketika mobilnya menjadi rongsokan diganti seorang pengusaha tanpa pamrih, sang wartawan yang tinggal (saya Indonesiakan agar menjadi mudah) Loksomawe Aceh menyelidiki kebaikan tanpa pamrih, sampai akhirnya dia menemukan pelopornya berasal dari daerah Manokwari Papua, hebatnya lagi yang melakukan hal jenius tersebut adalah anak kecil yang masih sekolah setingkat SMP, kebaikan tanpa pamrihnya telah mampu mempengaruhi ribuan orang di seluruh Indoensia, lalu sang wartawan mewawancarainya, dengan lugu dia menjawab bahwa hatinya tersentuh untuk memperbaiki lingkungan sekitar dengan melakukan sesuatu yang bermakna bagi tiga orang, siapa tahu tiga orang tersebut melakukan hal yang sama pada orang lain, sehingga kebaikan menyebar di muka bumi.
Keesokan hari setelah wawancara dia melihat temannya dianiaya, dengan sekuat tenaga, membulatkan tekad dan pikiran, dia melawan orang yang menganiaya, meski tubuhnya lebih besar, dia mampu mengalahkan yang mengeroyok temannya, namun malang saat pulang sekolah ketika hendak naik sepeda, orang yang menganiayanya menusuk pisau, dia tertusuk dan perutnya mengeluarkan darah, dalam perjalanan dari rumah sakit dia meninggal dengan senyum. Mengetahui anak jenius yang melakukan 3 kebaikan tanpa pamrih mati, orang-orang berdatangan dari seluruh penjuru Indonesia memberikan penghormatan terakhir. Dia mati sebagai tokoh Hakiki, dia mampu MENJADI TOKOH TANPA MENJADI TOKOH.
Ketujuh; saya tidak bisa membayangkan bila setiap santri disentuh hatinya untuk melakukan 3 kebaikan tanpa pamrih, melakukan 3 kebaikan yang kecil bukan hal yang besar, melakukan 3 hal sepele yang bermakna. Berapa juta kebaikan yang akan tersebar di bumi Indonesia? Berapa juta orang yang bisa dibantu dengan hanya melakukan 3 kebaikan? Berapa banyak orang yang tertolong dengan 3 kebaikan kecil? Inilah yang mendorong saya untuk mengatakan bahwa kebangkitan Islam akan lahir dari pesantren yang berdiri di atas semua golongan asal mereka mau melakukan 3 kebaikan tanpa pamrih di seluruh penjuru Indonesia. Bisakah? Saya yakin, pasti dan harus bisa. Jika tidak, kita akan menjadi umat Islam yang tertindas sepanjang zaman.
Jadi paradigma yang benar adalah THINK THE LITTLE, DO THE LITTLE, BEGIN NOW, setelah berhasil minimal dengan 3 kebaikan tanpa pamrih di sekitar lingkungan sekitar, baru memulai paradigma THINK THE BIG, DO THE BIG, BEGIN NOW.
Saya menyampaikan hal ini secara tulus, sebagaimana tokoh dalam film itu melakukan hal yang sama. Dia melakukan hal itu karena dibimbing Allah, sebagaimana saya dimbimbingNYA untuk menyampaikan hal ini. Maka, jika diterima alhamdulillah, tidak juga alhamdulillah.
Saya memikirkan hal ini, merenungkan dalam kesendirian, berimajinasi, dan menganalisa dalam waktu yang lama, meski hanya butuh 2 jam untuk menuliskannya dan 30 mengedit kembali di Depok. Kadang saya susah tidur ketika merenungkan hal ini, yang itu bisa terjadi berulang kali, sebab saya tahu ini menyangkut masa depan Pesantren khsusunya, dan masa depan umat Islam umumnya, baik dalam lingkup kecil, menengah maupun besar.
Depok, 8 September 2008
KURIKULUM PENDIDIKAN KULIAH ALTERNATIF
Hamba Allah
Model untuk kurikulum empat bagian yang terpadu menurut Jeanete Vos; pertama, kurikulum perkembangan pribadi, meliputi rasa bangga diri dan pembentukan keyakninan, kedua, kurikulum keterampilan hidup, meliputi pemecahan masalah kreatif dan manajemen diri, ketiga, kurikulum belajar-untuk-belajar dan belajar-untuk-berpikir, belajar bisa dilakukan dengan menyenangkan seumur hidup, kerikulum isi, pada umumnya dengan tema-tema terpadu.
Kurikulum yang disusun untuk Kuliah Alternatif ini sesuai dengan prinsip-prinsip di atas agar mampu menghadapi tantangan masa kini dan mendatang, malah disempurnakan dengan spritualitas Islam dan Amal Shaleh sebagai penguatan batin dan karya nyata pada manusia, makhluk lain dan semesta.
I. Nilai
Nilai yang dijadikan acuan Kuliah Alternatif ialah berusaha memadukan antara nilai-nilai lama yang baik dengan nilai-nilai baru yang lebih baik. Nilai-nilai lama yang berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah dijadikan sandaran utama, ditambah dengan beberapa ajaran kitab Kuning yang masih kontekstual dengan zaman kekinian, pengalaman sahabat, ulama’ salaf, dan tabi’ien. Tapi tetap berupaya mencari, menemukan dan memanfaatkan nilai-nilai baru yang lebih baik seperti; dialog, belajar secara sistematis, memahami cara belajar sama pentingnya dengan belajar, menjadikan belajar otodidak sebagai pegangan hidup, menguasai empat pilar pembelajaran UNESCO dan memanfaatkan seluruh potensi yang dimiliki agar berhasil dalam kehidupan dunia dan akhirat. “Tujuan terpenting pendidikan adalah belajar bagaimana belajar.” Luis Alberto Machado, Ph.D.
Empat pilar belajar dan pembelajaran UNESCO; Learning to Know (mengetahui, memahami dan mendalami) Learning to Do (bertindak, praktik, melakukan sesuatu, berusaha) Learning to Be (membangun jati diri, profesi) Learning to Live Together (hidup bersama secara harmonis).
Adapun bentuk riil dari nilai-nilai tersebut ialah (2M 3B):
<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Memiliki semangat belajar yang tinggi seumur hidup dengan pemahaman utuh terhadap berbagai macam cara pembelajaran yang efektif.
<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Memiliki kemauan keras untuk dapat hidup mandiri dengan mencari rizki yang halal melalui wira usaha atau menekuni pekerjaan lainnya.
<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Berusaha menjadi Muslim yang baik dengan menjalankan ajaran-ajaran dan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, dan meningkatkan diri menjadi Mukmin Sejati.
<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–>Berupaya menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain sesuai kemampuan yang dimiliki.
<!–[if !supportLists]–>5. <!–[endif]–>Berbakti pada kedua orang tua, umat Islam dan bangsa Indonesia.
II. Tujuan Pendidikan
Pada umumnya tujuan-tujuan pendidikan dijabarkan dalam bentuk empat jenis tujuannya menurut KH. Moh. Idris Jauhari yaitu : Tujuan Pendidikan Nasional, Tujuan Institusional (kelembagaan), Tujuan Kurikuler (Bidang Studi), dan Tujuan Instruksional (Pengajaran).
Tujuan Pendidikan Nasional dijadikan salah satu perbandingan dalam mengelola lembaga pendidikan Kuliah Alternatif, sehingga seluruh kegiatan yang dilakukan merupakan bentuk sumbangsih nyata pada bangsa dan negara di bidang pendidikan. Manusia Indonesia menurut UU Sisdiknas (UU RI Nomor 20 tahun 2003) adalah sosok manusia yang; beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Tujuan Institusional (kelembagaan):
- Mengurangi kemiskinan dan pengangguran lewat jalur pendidikan Kuliah Alternatif yakni melalui pendidikan kewiraswastaan, belajar otodidak dan menjadi Mukmin Sejati.
- Secara perlahan akan membentuk sebuah lingkungan baru yang memiliki semangat belajar seumur hidup, bekerja keras untuk berhasil dengan usaha sendiri, dan memiliki keyakinan Islam yang tidak goyah oleh apa pun jua.
- Menjadi salah satu pendukung dalam rangka mewujudkan kebangkitan Islam di Indonesia dalam makna yang hakiki.
- Mencetak generasi baru yang arif dan bijaksana dalam menghadapi berbagai macam permasalahan hidup.
- Kuliah Alternatif tidak memungut biaya bagi otodidaktor yang ingin belajar, khususnya yang berasal dari keluarga tidak mampu atau pengangguran, sedang yang memiliki cukup uang diharapkan membayar seikhlasnya, sehingga setiap orang mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar dan berhasil dalam hidupnya.
Tujuan kurikuler terdiri dari tujuan umum dan khusus. Tujuan umum ialah menjadi lembaga pendidikan alternatif bagi yang putus Sekolah atau lulusan SMU atau Pesantren yang tidak mampu untuk kuliah ke perguruan tinggi. Sedang tujuan khusus ialah pembelajaran tentang cara Belajar otodidak, cara berwiraswasta, dan cara menjadi Mukmin Sejati.
Tujuan Pengajaran terdiri dari Tujuan Umum dan Tujuan Khusus. Tujuan Umum pengajaran ialah mendidik otodidaktor supaya bisa belajar sendiri, menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan, mampu membaca dan menulis fenomena sosial, sebagian isi kandungan Al-Qur’an dan Hadits, hidup mandiri tanpa tergantung orang lain, dan memiliki keyakinan terhadap Islam. Sedang Tujuan Khusus diuraikan secara terperinci dalam uraian berikut ini.
Tujuan pengajaran Belajar Otodidak
Pertama; perlu pemahaman utuh mengenai segala sesuatu yang berkenaan dengan belajar otodidak. Dimulai dengan penjabaran maknanya, prinsip utama dalam belajar otodidak, proses penumbuhan sikap percaya diri, penyusunan rencana dan tujuan, beberapa hal yang perlu dilakukan dalam belajar otodidak, diakhiri dengan cara memaknai sesuatu, cara menafsirkan sesuatu, memahami dialektika Hegel, dan cara melakukan kritik yang yang menawarkan alternatif atau solusi. Dari uraian ini otodidaktor dapat mengetahui apa saja yang harus dilakukan supaya berhasil dalam Belajar Otodidak.
Kedua; mengulas tentang berbagai hal yang berkenaan dengan potensi yang dimiliki manusia. Seluruh potensi yang berupa; pikiran, imajinasi, perasaan, kesadaran, hati nurani dan tubuh, dipahami maknanya, dimanfaatkan dengan baik, difungsikan dengan tepat, dan dikembangkan sampai ambang batas, sehingga proses belajar otodidak nantinya bisa mencapai hasil yang maksimal. Suatu proses yang terus menerus menghasilkan hasil baru, sebab bagi otodidaktor (orang yang belajar sendiri), puas pada hasil hanya bisa dilakukan saat kematian datang menjemput. Dengan demikian otodidaktor mampu mengoptimalkan seluruh potensi yang dimiliki. Hal ini dapat memudahkan otodidaktor dalam belajar otodidak.
Ketiga; mengulas tentang cara-cara mengelola kehidupan masa lalu, menjalani hidup masa kini penuh arti, dan meneropong masa depan untuk mewarnainya dengan “karya-karya” para otodidaktor, serta upaya untuk mempelopori perubahan. Inilah yang akan bisa mengabadikan hidup di dunia dalam nilai dan makna, sedang di akhirat menikmati hasilnya dalam kebahagiaan yang berlimpah ruah. Kemampuan ini dapat membimbing otodidaktor mampu mengelola pengalamannya dengan baik.
Keempat: Belajar otodidak berkenaan dengan proses pembacaan tentang berbagai hal; semesta, Al-Qur’an dan Sunnah, buku, fenomena alam, kenyataan, dan segala sesuatu yang mengitari kehidupan manusia. Diawali dengan upaya memahami buku, beragam buku; mulai buku how to, sastra, sampai buku karya ilmiah, dilanjutkan dengan pembacaan terhadap semesta dan kehidupan. Kompetensi membaca ini menjadi prasyarat utama untuk berhasil belajar, maka otodidaktor dituntut mampu menguasai sekaligus mempraktekkannya dalam proses belajar otodidak.
Kelima: Berhubung membaca memiliki hubungan yang erat dengan menulis seperti halnya dua sisi mata uang, maka perlu pemahaman cara-cara praktis menulis; puisi, cerpen, kolom, kritik sastra, karya ilmiah populer dan cara menulis buku. Ini diharapkan membimbing para otodidaktor untuk menghasilkan karya-karya yang beragam dan berkualitas, sehingga membantu proses kebangkitan Islam di Indonesia, sekaligus membantu Indonesia menjadi negara adidaya di masa mendatang. Kemampuan ini sebagai bentuk aplikatif dari kompetensi memahami paradigma belajar otodidak, potensi diri, mengelola pengalaman, dan membaca.
Keenam; upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup, sekaligus tetap berupaya untuk terus menerus belajar otodidak. Dengan belajar otodidak, maka hasil dari usaha pemenuhan kebutuhan hidup semakin baik, salah satunya kerena menggabungkan antara pengetahuan dengan kerja atau antara belajar dengan karir. Dilanjutkan dengan uraian tentang menjalani hidup apa adanya, uraian ini penting, sebab bisa jadi para otodidaktor menjadi “orang-orang biasa” yang bersikap luar biasa; memiliki semagat membara, mentalitas yang kuat, bekerja keras, kreatif, selalu menawarkan solusi bukan masalah, dan melakukan sesuatu yang terbaik sebagaimana orang-orang besar atau tokoh-tokoh nasional/internasional berusaha, meski hasil yang diperoleh tidak sama. Inilah wujud hakiki dari otodidaktor yakni menjadi Tokoh tanpa Menjadi Tokoh. Di samping itu, untuk meneladani orang-orang yang berhasil belajar otodiak, maka dipaparkan empat cerita menarik; KH. Moh. Idris Jauhari, HAMKA, Emha Aninun Nadjib, dan Muhammad Yunus. Diharapkan otodidaktor mampu mentranformasikan diri menjadi Tokoh yang hakiki sesuai bidang yang hendak dikuasainya nanti.
Ketujuh; otodidaktor memperdalam suatu bidang ilmu sampai mendalam, minimal menguasai 15 buku (teori dan praktek), dalam kurun waktu 3-5 tahun, sehingga mampu menulis skipsi S1 mereka, dilanjutkan dengan tesis S2, dan disertasi Doktor sampai Profesor.
Tujuan Pengajaran Revolusi Cara Belajar
Pertama; memahami cara belajar yang benar sesuai dengan tuntutan keadaan sekitar dan sesuai dengan minat masing-masing.
Kedua; menguasai perspektif baru dalam belajar yakni melakukannya secara menyenangkan, baik melalui super champ (perkemahan/wisata alam), memainkan permainan belajar, dan belajar sambil mendengarkan musik.
Ketiga; cara mengejar ketertinggalan dalam belajar, sehingga diri merasa percaya diri, mampu mengatasi problem-problem dalam belajar, dan berhasil belajar seumur hidup.
Keempat; merancang pendidikan masa depan yang diharapkan menginspirasi pengelolaan pendidikan secara nasional, sehingga hasil pendidikan universitas mampu hidup dalam masyarakat dan memberi warna pada kehidupan yang lebih baik.
Kelima; memahami dunia bisnis masa depan, sehingga generasi muda menyiapkan diri pada perubahan yang terjadi.
Tujuan Pengajaran Cara Belajar Cepat dalam abad 21
Pertama; memahami abad 21 yang sedang berlangsung dari berbagai macam sudut pandang, sehingga dapat beradabtasi, mewarnai dan menjalani hidup yang lebih baik.
Kedua; menguasai beberapa skill yang dibutuhkan supaya berhasil dalam belajar seumur hidup; enam rencana M-A-S-T-E-R, mampu menerapkan konsep M-A-S-T-E-R dalam pembelajaran, berpikir kreatif dan analitis, menguasai cara belajar dengan cepat, dan organisasi pembelajaran di perusahaan.
Ketiga; Mempraktikkan apa yang diketahui dalam menekuni pekerjaan, meningkatkan karir, menjalani hidup sehari-hari, mengantisipasi masa depan dengan baik, mendidik anak dan mengatasi tantangan zaman yang semakin kompleks.
Tujuan buku Berniaga dengan Iman sebagai alternatif dari sistem kapitalis
Pertama: merubah paradigma yang salah dari otodidaktor tentang rizki Allah, sehingga perlahan-lahan mereka berusaha memperbaiki usaha yang dikelola, menggali nilai-nilai Islam dalam Al-Qur’an dan Hadits, menerapkan nilai-nilai Islam dalam usaha yang dikelola, dan bertawakkal atas hasil yang diperoleh. Orang-orang Jepang berhasil dalam berbagai bidang industri mobil, alat-alat elektronik, Video Game, Play Stasion, dan bidang ekonomi lainnya yang menguasai pasar-pasar berbagai penjuru dunia, mereka tetap berpegang teguh pada budaya setempat dalam menjalankan setiap usaha yang dikelola. Sekarang China yang menjadi kekuatan baru ekonomi dunia dengan prinsip kualitas barang sama dengan harga yang lebih murah, mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh pada nilai-nilai budaya yang dianut, dengan tetap mencari, merumuskan dan melaksanakan nilai-nilai baru yang lebih baik tanpa meninggalkan sama sekali budaya yang dianut. Tidak ada alternatif lain bagi umat Islam yang ingin berhasil di berbagai bidang usaha yang ditekuni, dengan tetap berpegang teguh pada ajaran-ajaran dan nilai-nilai Islam dalam mengelola berbagai usaha tersebut, sedang nilai-nilai baru yang berasal dari peradaban modern atau posmodern harus disaring sebaik-baiknya dan diambil yang terbaik. Hanya dengan inilah mereka akan berhasil sebagai pedagang, wiraswasta, dan pengusaha di masa mendatang. Ini akan membuat otodidaktor mampu memahami paradigma rizki dalam Islam.
Kedua; beberapa prinsip dasar dari nilai-nilai Islam dalam menekuni usaha perdagangan atau wiraswasta, nilai-nilai tersebut seperti; makna wiraswasta sejati, meneladani Nabi Muhammad dalam berdagang, berusaha hidup mandiri, cara mengelola usaha dari awal, kejujuran modal utama dalam berdagang, menerangkan kondisi barang yang sebenarnya, perhitungan salah satu kunci keberhasilan dalam berdagang, mengembangkan usaha pelan-pelan, cara bersaing yang sehat, lancar lebih utama dari keuntungan besar, mempermudah proses tawar menawar, bangga dengan kesuksesan orang lain, kesabaran salah satu kunci sukses berdagang, memenuhi hak pekerja, memahami kebutuhan pembeli, dan melayani pembeli seperti raja. Nilai-nilai tersebut yang sebagian besar diambil dari ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad, dipahami, dimengerti, dilaksanakan, dan dipraktekkan dalam menjalani usaha setiap hari. sehingga bisa dibuktikan kebenarannya. Ini merupakan teori dan praktik bagi otodidaktor yang berhasrat untuk menekuni usaha perdagangan.
Ketiga: upaya para pedagang atau wiraswasta agar mampu mengelola hutang piutang dengan baik, memaksimalkan modal usaha untuk barang-barang yang cepat laku terjual, lancar, menguntungkan, dan memberikan laba yang banyak. Modal usaha yang diperoleh pedagang, ada yang berasal dari diri sendiri atau keluarga, pinjaman dari juragan atau grosir, dan pinjaman dari Bank. Modal yang berasal dari diri atau keluarga saja dikelola dengan baik, memperhitungkan pemasukan dengan pengeluaran dan digunakan semanfaat mungkin, apalagi modal dari juragan atau grosir dan pinjaman dari Bank. Kemampuan ini penting, supaya usaha perdagangan yang dikelola semakin berkembang.
Empat; tata cara wiraswasta atau pedagang Muslim mengembangkan diri menjadi pengusaha yang sukses. Pengembangan dilalui secara alamiah dari pedagang kecil menjadi pengusaha menengah, lantas berusaha menjadi pengusaha elit. Dengan pengembangan secara alamiah akan membuat para pengusaha Muslim mampu bertahan atas segala kondisi, asal senantiasa kreatif, melakukan inovasi yang tepat, memberdayakan setiap divisi dalam perusahaan seoptimal mungkin, dan membentuk perusahaan yang tangguh. Otodidaktor diharapkan mampu mengembangkan usaha yang dikelola seoptimal mungkin.
Kelima: Memahami konsep sedekah dalam Islam. Konsep sedekah dalam Islam adalah merupakan upaya-upaya yang konstruktif, kreatif, dan istiqamah agar harta yang dimiliki seseorang menjadi bertambah banyak, penuh barokah, berdaya guna, bermanfaat, dan memberi makna pada pemiliknya. Para pedagang atau wiraswasta yang rajin bersedekah pada para pengemis, pengamen, anak jalanan, yatim piatu dan orang-orang miskin, akan mendapatkan simpati dari orang lain, sehingga menumbuhkan minat mereka untuk membeli pada pedagang yang bersangkutan. Allah berfirman “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (Q.S Al-Baqoroh 261) Otodidaktor diharapkan untuk rajin bersedekah supaya memperoleh keberhasilan dalam usaha yang dikelola, dibanding para pedagang yang kikir bersedekah.
Tujuan Pengajaran Jangan Mau Seumur Hidup Menjadi orang Gajian
Pertama; memahami potret entrepreneurship di Indonesia, sehingga tergerak untuk menekuni usaha kecil sekarang juga, sebab terbukti mampu bertahan dalam krisis multi dimensi.
Kedua; memahami spirit dari entrepreneurship sejati yang diwujudkan dalam kepribadian seseorang, sehingga mampu mengelola usaha dengan baik.
Ketiga; membaca kisah sukses entrepreneur Indonesia dan dunia, sehingga dapat memetik pelajaran berharga dan dapat meniru jejak mereka yang sesuai dengan minat, kepribadian, situasi dan kondisi riil saat ini.
Keempat; cara melakukan kredit terhadap perbankan yang membuka pintu lebar-lebar bagi usaha kecil dan menengah, serta komunitas virtual yang bisa diikuti untuk memperkuat jaringan usaha.
Tujuan Pengajaran The Perfect Business
Pertama; memahami Makroprenuer sebagai peluang usaha baru dalam abad 21 yakni berbisnis dari rumah atau menjadikan rumah sebagai pusat bisnis baru.
Kedua; seluk beluk pengelolaan bisnis di rumah; memilih bisnis yang sesuai, cara meningkatkan potensi yang dibutuhkan, pemasaran Magnetic, menciptakan yang baru, mengubah waktu menjadi uang.
Ketiga; upaya pemanfatan teknologi atau peralatan baru, cara menjadi milliader, memperluas jaringan dan menjadi bos untuk diri sendiri.
Tujuan Pengajaran Change
Pertama; memahami folosofi, sejarah dan konsep dasar perubahan agar mampu berkaca dari masa lalu menuju masa kini yang lebih baik.
Kedua; melihat perubahan yang terjadi dengan kaca mata yang benar dan mempercayai perubahan, sehingga menimbulkan sikap optimis yang penuh perhitungan dan penjabaran visi, misi, paradigma, tujuan perubahan yang benar.
Ketiga; memulai perubahan dengan langkah-langkah yang taktis, benar, dan sesuai dengan kondisi zaman, menjalankan perubahan sebaik-baiknya, dan menyelesaikan perubahan dengan penuh prestasi.
Keempat; memahami nilai-nilai baru dalam korporasi, memberi warna dengan nilai-nilai yang lebih baik, membentuk kebudayaan korporat, dan memperkuatnya.
Kelima; menghadiahi prestasi yang dicapai dengan pesta perubahan yang dapat membangkitkan motivasi dan menimbulkan harapan yang lebih baik pada masa mendatang.
Tujuan pengajaran ESQ
Pertama; memahami konsep Zero Mind Proses, sehingga seseorang terbuka terhadap nilai-nilai Islam yang sesuai dengan zaman baru.
Kedua; Membentuk Mental building yang kuat melalui penerapan Rukun Iman dengan benar.
Ketiga; Membentuk ketangguhan pribadi sebagai upaya menjadikan shalat sebagai sarana paling efektif mencapai hal itu.
Keempat; memiliki ketangguhan sosial, sehingga diri dapat melakukan kebaikan, beramal shaleh dan mendukung kemajuan usaha yang dikelola.
Kelima; melakukan sinergi terhadap semua elemen di atas dalam bingkai ihsan yakni melakukan segala sesuatu karena Allah dan senantiasa bekerja sama dengan orang-orang yang mampu melaksanakan semua itu dalam kenyataan.
Tujuan pengajaran Kitab Lengkap Penyucian Jiwa Taskiyatun Nafs
Pertama; cara menjadi otodidaktor dan guru yang benar, sehingga proses penyucian hati berlangsung dengan baik.
Kedua; memanfaatkan potensi hati manusia secara mendalam, sehingga membentuk kesadaran diri yang kuat, muaranya ialah akhlak yang mulia dalam kehidupan sehari-hari.
Ketiga; membersihkan diri dari penyakit-penyakit hati, sehingga suci untuk mendapatkan nilai-nilai baru.
Keempat; memasukkan nilai-nilai Islam seperti tauhid, ikhlas, raja’ dan khauf, tawakkal dan lain-lain dalam kepribadian seseorang.
Kelima ; berakhlak dengan sifat-sifat Allah yang ada dalam Asma’ul Husna, sehingga memiliki kepribadian yang sempurna, meski kesempurnaan dicapai setelah kematian.
Keenam; menjadi Mukmin Sejati yang kuat agar mampu menghadapi kompleksitas kehidupan.
III. Tradisi Kuliah Alternatif
Berhubung Kuliah Alternatif dengan kurikulum seperti ini merupakan lembaga baru yang belum pernah ada di Indonesia, maka para pendidik dan Otodidaktor sama-sama berusaha menciptakan tradisi baru yang sesuai dengan zaman ini, dengan tanpa melupakan untuk mengambil tradisi-tradisi lama yang baik seperti; patuh pada pendidik, akhlak mulia, tradisi hubungan timbal balik antara pendidik dan otodidaktor, tradisi belajar kitab kuning meski lewat buku terjemahan. Adapun tradisi baru yang paling ditekankan ialah membudayakan dialog dalam proses perkuliahan, belajar menggunakan teknologi atau komputer, dan menggali ilmu pengetahuan baru.
Kuliah Alternatif dituntut memiliki tradisi baru yakni senantiasa belajar dalam kehidupan sehari-hari, berusaha sampai taraf maksimal dalam mengelola suatu usaha, mengisi waktu kosong dengan kegiatan yang bermanfaat, menjadikan ibadah sebagai salah satu kesenangan hidup, menggali ilmu pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat bagi diri dan masyarakat.
Agar tradisi ini semakin mengakar, maka diwujudkan dalam bentuk organisasi pembelajaran masa depan.
Adapun Model organisasi pembelajaran menurut Gordon Dryden. Berorientasi ke masa depan; bentuk masa depan, revolusi belajar, revolusi berpikir, dan revolusi komunikasi internet. Fokus-kembar ekskutif senior; manajemen menentukan dan mencapai sasaran lewat orang lain; kepemimpinan menciptakan dan mempelopori masa depan baru yang mampu berjalan sendiri dengan sasaran yang bahkan lebih besar. Budaya organisasi; setiap orang adalah pembelajar yang antusias, setiap orang menjadi guru, pembimbing dan pelatih, setiap orang adalah kontributor positif, setiap orang adalah manajer mandiri, setiap pemegang kepentingan dilibatkan. Pelatihan dan pengembangan; Dorong setiap orang untuk menentukan dan mencapai tujuan pribadi dan tujuan organisasi. Setiap pelatihan tidak perlu mengarah ke keterampilan kerja tertentu. Cukuplah dengan peningkatan keterampilan pengetahuan dan belajar untuk belajar. Aliran informasi; mudahkan menciptakan, penyederhanaan, dan penyimpanan infromasi penting. Mudahkan akses informasi bagi semua orang. Hargailah orang yang telah menyumbang ide. Hancurkan sindrom “tak ditemukan di sini.”
Sedang 8 Langkah menuju organisasi pembelajaran menurut Jeanete Vos. Periksalah gambaran umum yang mungkin terjadi. Carilah model untuk masa depan. Apa yang kini terjadi? Nilailah realitas Anda saat ini. Singkirkan hal-hal negatif. Apa yang menghalangi Anda? Kegagalan = umpan balik. Apa yang Anda inginkan? Bermimpilah! Ciptakan visi tersebut! Fokuskan diri padanya! Periksalah ekologi. Apa saja sumber daya yang Anda miliki? Adakah tempat kerja (tempat tinggal) Anda nyaman untuk berpikir? Padukan prilaku dan sikap Anda dengan tujuan Anda. Lakukan! Tentukan sasarannya secara spesifik. Visualisasikan dengan semua indera. Raih dukungan. Bangun struktur tim. “setiap orang mengajar satu orang.” Evaluasi, tinjau, rayakan. Apakah Anda mencapai sasaran? Sukseskah Anda? Seberapa sukses? Petakan kembali jika perlu. Daur ulang. Gandakan keberhasilan Anda!
IV. Substansi/Materi
Kegiatan Kuliah Alternatif secara umum terbagi dalam kegiatan Intra Kurikuler dan Ko-kurikuler.
Kegiatan Intrakurikuler yaitu materi kurikulum yang dilaksanakan pada jam-jam kuliah terjadwal, dengan tujuan agar tujuan dari setiap bidang studi dapat tercapai. Kegiatan intrakuler ini dilaksanakan pagi dan malam hari sesuai dengan komitmen yang dibuat antara pendidik dengan otodidaktor. Materi intra kurikuler ditekankan pada cara belajar otodidak, cara berwiraswasta, dan cara menjadi muslim yang baik.
Kegiatan Ko-kurikuler yaitu berlatih belajar sendiri di rumah masing-masing, dengan tujuan agar otodidaktor lebih mendalami dan menghayati pelajaran yang diberikan pada kegiatan intra-kurikuler. Kegiatan Ko-Kurikuler dilaksanakan di rumah masing-masing, sebab prinsip utama Kuliah Alternatif ialah memindah tempat belajar ke rumah.
Materi utama yang diajarkan yakni “Mau Kuliah Alternatif? Belajar Otodidak, Dong!” Ahmad Zamhari Hasan, Cara Belajar Cepat Abad 21 Colin Rose & Malcolm J. Nicholl, dan Revolusi Cara Belajar Dryden & Vos, Cara Berniaga Dengan Iman Zamhari Hasan, Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian Valentino Dinsi, The Perfect Business Michael Leboeuf, Change Rhenald Kasali Ph.D, ESQ Ary Ginanjar Agustia, Kitab Penyucian Jiwa Tazkiyatun Nafs Sa’id Hawwa sebagai intisari dari kitab Ihya’ ‘Ulumuddin Imam Ghazali.
Materi Tambahan; Kitab Durratun Nasihien, Tafsir Al-Azhar Hamka, Tafsir Al-Misbah Prof. Dr. Qurais Shihab, Esklopedi Islam, Cahaya Pencerahan Dr. Aid Al-Qarni, Psikologi Kepribadian Alwisol, Komposisi Prof. Dr. Gorys Keraf, Sastra dan Cultural Studies Prof. Dr. Nyoman Ratna S.U, Kritik Sastra Indonesia Modern karya Prof. Dr. Rahmad Joko Pradopo, Batas Nalar Donald B. Calne, ilmu bahasa; bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa Arab, dan ilmu komputer.
Arah dari semua materi terbagi dalam tiga hal yakni keilmuan (upaya belajar seumur hidup) untuk mampu mensejajarkan diri dengan sarjana S1, kewiraswastaan yakni memulai usaha dari nol sampai berhasil (baik menggunakan entreprenuer atau macroprenuer), dan Keislaman yakni berusaha menjadi Mukmin sejati; menguasai ilmu-ilmu keislaman sesuai bidang yang disukai, menerapkan yang diketahui dalam hidup sehari-hari, beramal shaleh sesuai kemampuan, dan berusaha menjadi manusia paripurna meneladani Nabi Muhammad SAW.
Sedang sistem penjurusan dilakukan sendiri oleh anak didik setelah menguasai 9 buku materi utama dan satu atau tiga buku tambahan (boleh memilih meteri kitab/buku tambahan yang ingin dikuasai), khususnya berkaitan dengan bidang ilmu yang akan dijadikan skil utama dalam; berwira usaha, memperluas cakrawala ilmu, mencari pekerjaan yang layak dan menekuni karir yang lebih baik lagi.
Masing-masing otodidaktor dalam penjurusan selanjutnya memperdalam sendiri satu yang bidang ilmu secara mendalam, paling tidak membaca dan menguasai 15 buku tentang bidang tersebut, setelah itu berupaya untuk menulis buku sebagai skripsi S1 sebanyak 100 halaman Times New Roman diketik dua spasi kertas A4.
V. Program Pendidikan Kuliah Alternatif
A. Program Sesuai Jangka Waktu
- Jangka Pendek (sudah dilakukan);
-
- Memulai Kuliah Alternatif
- Mengajak para otodidaktor yang tidak dapat melanjutkan kuliah untuk bisa belajar di lembaga pendidikan Kuliah Alternatif.
- Jangka menengah;
- Bekerja sama dengan pengusaha dan dermawan Muslim yang peduli pada pemberantasan kemiskinan dan pengangguran.
- Mengeluarkan otodidaktor hasil didikan minimal 3 bulan dan maksimal 1 tahun yang punya ilmu, keahlian dan jiwa wiraswasta.
- Para otodidaktor diharapkan berupaya menemukan, membuat dan mencari pekerjaan sendiri yang halal
- Memperkuat sumber dana agar bisa dikelola secara profesional, meski gratis, tapi harus dikelola dengan sangat baik dan profesional, bukan asal-asalan.
- Menjadikan Kuliah Alternatif yang benar-benar menjadi alternatif dengan pengelolaan yang berbeda.
- Jangka panjang
- Membentuk Kuliah Alternatif yang berkualitas dan professional
- Mengusahakan gelas Diploma untuk memperoleh akreditasi dari Departemen Pendidikan
- Mengatasi pengangguran dan kemiskinan melalui pendidikan
B. Pembelajaran
- Pembelajaran secara umum terdiri dari teori dan praktik.
- Gabungan antara klasikal dan non klasikal sesuai kebutuhan.
- Proses pembelajaran terbagi dalam sesekali bagi Otodidaktoryang hanya hadir dalam kurun waktu tertentu secara tidak teratur (sekali hadir dan tidak datang lagi), tiga bulan waktu minimal yang ingin menguasai tiga bidang studi, dan satu tahun bagi yang ingin memperdalam ilmunya atau menambah dengan ilmu yang lain.
C. Jadual Kuliah Sabtu dan Minggu
14.00-16.30 Kuliah Sore
18.30 WIB Kuliah Malam
19.15 WIB Shalat Isya’ berjamaah
19.30 WIB Lanjutan Kuliah Malam
21.00 Akhir kuliah malam
D. Sumber Dana
<!–[if !supportLists]–>1) <!–[endif]–>Melakukan Pelatihan Learning For Living, 15% keuntungan digunakan untuk mendukung Kuliah Alternatif
<!–[if !supportLists]–>2) <!–[endif]–>Bekerja sama dengan pengusaha atau dermawan yang peduli pada pemberantasan pengangguran dan kemiskinan.
<!–[if !supportLists]–>3) <!–[endif]–>Meminta bantuan dari pemerintah dan swasta.
<!–[if !supportLists]–>4) <!–[endif]–>Meminta sumbangan donatur yang mau menyumbang secara ikhlas
<!–[if !supportLists]–>5) <!–[endif]–>Kotak Kuliah yang disediakan di Ruang Kuliah (Mahasiswa yang punya uang silahkan menaruh uang, yang tidak punya tidak usah).
<!–[if !supportLists]–>6) <!–[endif]–>Sumber dana dikelola secara baik, transparan dan terbuka, sebab ini untuk kepentingan umat Islam, ikhlas karena Allah dan supaya mendapat ridha Allah.
<!–[if !supportLists]–>7) <!–[endif]–>Sumbangan dalam bentuk apa pun diterima dan akan dipertanggung jawabkan secara tertulis berikut nota pembayaran, tapi tanggung jawab yang lebih besar pada Allah.
E. Tempat Kuliah Alternatif
<!–[if !supportLists]–>1) <!–[endif]–>Kuliah Alternatif dilaksanakan di ………………………………………………
F. Prosedur Mengikuti Kegiatan Kuliah Alternatif
- Pendaftaran
- Otodidaktor diharapkan mendaftar tanpa dipungut biaya apa pun, kecuali bagi yang mampu.
- Setiap otodidaktor menerima formulir dari Lembaga yang diisi dalam kurun waktu maksimal tiga hari
- Otodidaktor boleh memutuskan untuk ikut program pendidikan tiga bulan atau satu tahun.
- Program untuk masa pendidikan tiga bulan
- Bulan pertama belajar Bahasa Indonesia dan cara belajar otodidak.
- Bulan kedua belajar Cara berwiraswasta dari Buku Berniaga Dengan Iman, dan prakteknya.
- Bulan ketiga belajar buku Penyucian Jiwa karya Said Hawwa yang merupakan intisari kitab Ihya’ Ulumuddin.
- Program Pendidikan 1 tahun
- Berkomitmen untuk berusaha belajar seumur hidup dan wiraswasta sejati dalam praktik langsung.
- Memperdalam ilmu tentang belajar dari buku Cara Belajar Cepat Abad 21 dan Revolusi Cara Belajar.
- Memperdalam dunia Wiraswasta dengan mempelajari buku Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian karya Valentino Dinsi, The Perfect Business Michael Leboeuf, dan Change karya Rhenald Kasali, P.hd
- Menguasai satu sampai tiga Materi Tambahan; Kitab Durratun Nasihien, Tafsir Al-Azhar Hamka, Tafsir Al-Misbah Prof. Dr. Qurais Shihab, Esklopedi Islam, Cahaya Pencerahan Dr. Aid Al-Qarni, Psikologi Kepribadian Alwisol, Komposisi Prof. Dr. Gorys Keraf, Sastra dan Cultural Studies Prof. Dr. Nyoman Ratna S.U, Kritik Sastra Indonesia Modern karya Prof. Dr. Rahmad Joko Pradopo, Batas Nalar Donal B. Calne, ilmu bahasa; bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa Arab, dan ilmu komputer.
- Program pembacaan buku di perpustakaan dalam teori dan praktik, artinya masing-masing otodidaktor dituntut untuk memperdalam satu bidang ilmu pengetahuan.
- Belajar Bahasa Indonesia, Inggris atau Arab
- Mengikuti program pembelajaran komputer, pelatihan teknik-teknik, dan pelatihan kerja jika sudah ada.
- Pembelajaran tentang filsafat hidup dan hati nurani.
- Magang sesuai dengan tempat yang menampung para otodidaktor selama 1 bulan, jika diminta boleh dilanjutkan sesuai kesepakatan kontrak.
VI. Strategi/Metode
Strategi dan metode adalah cara-cara yang akan ditempuh dalam melaksanakan program pendidikan dan pengajaran di suatu Perkuliahan; seperti proses perkuliahan, cara penilaian (Evaluasi), cara pelaksanaan Bimbingan, dan cara-cara lain yang berhubungan dengan strategi Kuliah Alternatif dalam upaya mencapai tujuan-tujuan pendidikan dan pengajaran secara maksimal.
Metode pembelajaran dalam Kuliah Alternatif ialah intsruksional atau monolog pada tahap awal, lalu secara perlahan membudayakan dialog yang menuntut keaktifan Otodidaktor, sehingga mereka tertuntut untuk membaca, berbicara, dan menulis. Evaluasi lebih ditekankan pada tes tulis dan lisan, dengan memfokuskan pada kemampuan Otodidaktor dalam menerjemahkan apa yang diketahui dalam suatu tindakan nyata. Sedang pelaksanaan bimbingan pembelajaran disesuaikan dengan kemauan dan keadaan Otodidaktor.
Pembelajaran memanfaatkan teori reseptif yang terdiri dari membaca dan mendengar dan aktif yang terdiri dari berbicara dan menulis. Dengan penerapan metode ini secara intensif, maka hasil yang diperoleh lebih maksimal.
Proses pembelajaran dilakukan dengan dua metode yakni belajar cepat dan belajar lambat. Belajar cepat diperuntukkan bagi otodidaktor yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata, sedang belajar lambat diperuntukkan bagi otodidaktor yang memiliki kecerdasan di bawah rata-rata. Kelemahan metode cepat adalah kurang mendalam, sedang metode lambat bisa lebih mendalam. Kelemahan belajar lambat butuh waktu lebih lama dari pada belajar cepat. Namun tidak menutup kemungkinan keduanya dilaksanakan pada semua otodidaktor secara fleksibel, tergantung kemampuan pendidik dalam mengajar.
Strategi umum pembelajaran untuk menjawab arah tujuan pembelajaran; memberikan kesempatan pada otodidaktor untuk menampilkan, menciptakan, menghasilkan, atau melakukan sesuatu, mendorong tingkat berpikir yang lebih tinggi dan keterampilan pemecahan masalah, memberikan tugas-tugas yang menuntut aktivitas belajar yang bermakna, dan menerapkan apa yang dipelajari.
Penerapan teori Konstruktivistik dalam pembelajaran diuraikan berikut ini menurut Agus Wedi, Kandidat Doktor IKIP Malang.
Pengetahuan yang disimpan dalam ingatan adalah terstruktur, sebab belajar merupakan proses pemaknaan (pengaitan) informasi baru ke struktur pengetahuan yang telah dimiliki. Langkah yang diambil; mendorong diskusi terhadap pengetahuan baru, berpikir diverigen, kaitan dan pemecahan ganda, menerapkan keterampilan analisis, membandingkan, generalisasi, memprediksi, menghipotesis dan menggunakan informasi pada situasi baru.
Gaya belajar, rentangan perhatian, ingatan, tahap perkembangan, dan kecerdasan otodidaktor sangat bervariasi, maka perlu langkah-langkah; menyediakan beberapa pilihan tugas untuk satu kesempatan, menyediakan pilihan cara menguasai apa yang dipelajari, menyediakan waktu untuk berpikir dan mengerjakan tugas, memberikan kesempatan berpikir ulang, dan melibatkan pengalaman-pengalaman kongkrit.
Otodidaktor akan belajar lebih baik apabila ia tahu tujuan pembelajaran dan bagaimana untuk kerjanya dibandingkan dengan standar yang ditetapkan. Langkah-langkah yang diambil; memberitahu dan mendiskusikan tujuan pembelajaran, memberikan contoh hasil kerja otodidaktor, dan mendiskusikan kriteria kerja.
Strategi yang dipakai anak dalam belajar akan menentukan proses dan hasil belajarnya, maka langkah-langkah yang diambil ialah memberikan kesempatan untuk menerapkan cara berpikir dan belajar yang cocok dengan dirinya, meminta otodidaktor melakukan evaluasi tentang cara berpikirnya, cara belajaranya dan alasan menyukai tugas tertentu.
Motivasi dan usaha mempengaruhi belajar sebagai bekal untuk kerja. Langkah-langkah yang diambil yakni memotivasi anak tentang dunia masa kini dan depan, memberikan tugas-tugas yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari dan pengalaman pribadi, dan mendorong otodidaktor memahami kaitan antara usaha atau proses dan hasil.
Belajar pada dasarnya memiliki aspek sosial, maka kerja kelompok sangat penting dan berharga, untuk itu; memberikan kesempatan untuk melakukan kerja kelompok, menggabungkan kelompok-kelompok yang heterogen, mendorong otodidaktor untuk memainkan berbagai peran yang berbeda, dan memperhitungkan proses dan hasil kelompok.
VII. Kepemimpinan dan Pendidik
Pengelola berupaya untuk meneladani bentuk-bentuk kepemimpinan yang telah dicontohkan Rasulullah, sahabat Nabi, Tabi’in, ulama salaf dan khalaf, dan mengambil nilai-nilai baik dari pemimpin formal yang baik.
Pengelola dan pendidik harus memiliki jiwa dan praktik profesionalisme. Makna jiwa profesionalisme ialah menjadikan profesi mengajar di Kuliah Alternatif sebagai fokus utama atau pekerjaan utama yang diprioritaskan, sehingga setiap tugas dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, kerja keras dan sepenuh hati.
Sedang profesionalisme dalam kaitan proses pembelajaran meliputi tiga variabel menurut Reitgeluth dan Stein (1983) via Agus Wedi; Kondisi Pembelajaran (faktor yang mempengaruhi efek metode dalam meningkatkan hasil pembelajaran meliputi; tujuan pembelajaran, karakteristik bidang studi, sumber belajar, dan karakteristik pembelajar), Metode Pembelajaran (cara-cara yang berbeda untuk mencapai hasil pembelajaran yang berbeda di bawah kondisi yang berbeda, meliputi; strategi penyampaian, strategi pengelolaan, dan strategi pengorganisasian), Hasil Pembelajaran (Semua efek yang dapat dijadikan sebagai indikator tentang nilai dari penggunaan metode pembelajaran di bawah kondisi yang berbeda, meliputi; efektivitas, efisiensi dan daya tarik).
Adapun kompetensi profesi guru yang harus dimiliki sesuai UU N0. 14 th. 2005 pasal tujuh ayat 2 yakni : kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial yang bermuara didikan kepribadian, didikan ilmu pengetahuan, dan didikan sosio-civics. Sedang kompetensi yang dibutuhkan dalam era global menurut Agus Wedi, kandidat Doktor di IKIP Malang; berpikir kreatif, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, belajar bagaimana belajar, kolaborasi dan pengelolaan diri.
Beberapa keahlian penunjang yakni; Pengantar pendidikan, perkembangan pembelajar, teori belajar dan pembelajaran, desain dan strategi pembelajaran, evaluasi belajar dan pembelajaran, pengajaran micro-supervisi klinis, pengembangan kurikulum, kapita selekta pendidikan.
Pendidik di Kuliah Alternatif diambil dari orang-orang yang ingin mengajar secara ikhlas meski akan mendapatkan gaji yang sesuai (tergantung keuangan dari lembaga pendidikan Kuliah Alternatif) dengan keahlian tertentu, yang dapat menyempurnakan kekurangan yang dimiliki pengelola, seperti; pakar teknologi, ahli bahasa Arab dan Inggris, ahli komputer, ahli administrasi dan ahli perbankan.
VIII. Otodidaktor (Maha siswa/wi)
Otodidaktor/Mahasiswa/wi terdiri dari orang-orang yang putus sekolah di SMU/MA/Pesantren dan yang tidak mampu melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi atau universitas, mereka mengikuti pelajaran tanpa dipungut biaya, khususnya yang berasal dari keluarga tidak mampu atau pengangguran, sedang yang mampu dipungut biaya seikhlasnya.
Otodidaktor merupakan subyek sekaligus obyek dari pendidikan. Antara fungsinya sebagai subyek dan obyek, saling mengisi satu sama lain. Suatu waktu sebagai obyek mereka bersikap pasif dengan mematuhi perintah pendidik dan pengelola, namun di lain waktu mereka dituntut aktif dalam proses perkuliahan lewat bertanya dan mengadakan telaah kritis. Sehingga mereka diharapkan bisa berpikir konstruktif, bukan berpikir destruktif.
Setiap Otodidaktor memiliki bakat yang berbeda, bakat ini dikembangkan sesuai minat mereka masing-masing, tidak perlu pemaksaan dalam pengembangan bakat. Maka para pendidik harus memiliki pengetahuan memadai tentang kemampuan intelektual, kecerdasan spritul, kecerdasan perasaan, live Skill dan potensi mereka.
IX. Sarana
Kuliah Alternatif diharapkan secara perlahan-lahan melengkapi semua sarana yang dibutuhkan, sehingga menjadi lembaga pendidikan yang profesional meski digratiskan.
Adapun Sarana meliputi beberapa aspek seperti yang disampaikan KH. Moh. Idris Jauhari; sarana personal, manajerial/kepemimpinan, material, dan sarana-sarana yang berhubungan dengan bidang administrasi. Perinciannya dijelaskan dalam uraian berikut.
<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Sarana Manajerial/Kepemimpinan, terdiri dari :
<!–[if !supportLists]–>a.1. <!–[endif]–>Pengelola/Pendiri/Direktur
<!–[if !supportLists]–>a.2. <!–[endif]–>Kabag Pelatihan
<!–[if !supportLists]–>a.3. <!–[endif]–>Kabag Perkuliahan
<!–[if !supportLists]–>a.4. <!–[endif]–>Kabag Unit Usaha
<!–[if !supportLists]–>a.5. <!–[endif]–>Kabag IT (Informasi dan Teknologi)
<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Sarana Personal/Pelaksana, terdiri dari :
<!–[if !supportLists]–>b.1. <!–[endif]–>Pendidik/Dosen
<!–[if !supportLists]–>b.2. <!–[endif]–>Tenaga Teknis Non-edukatif seperti; Skretaris dan Bendahara
<!–[if !supportLists]–>b.3. <!–[endif]–>Tenaga-tenaga khusus yang diperlukan seperti ahli agro bisnis/industri
<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Sarana material, terdiri dari :
<!–[if !supportLists]–>c.1. <!–[endif]–>Bahan-bahan Pengajaran, seperti buku pegangan, referensi, teksbook, peralatan laboratorium, alat-alat keterampilan dan olahraga serta media pendidikan lainnya.
<!–[if !supportLists]–>c.2. <!–[endif]–>Sarana fisik; rumah pengelola, ruang Kuliah Alternatif (ruang belajar, perpustakaan, dan mushalla), ruang pelatihan, hotel sederhana, supermaket, laboratorium komputer, lapangan olah raga, unit simpan pinjam dan tempat usaha lainnya.
<!–[if !supportLists]–>c.3. <!–[endif]–>Dana atau Biaya Operasional; baik yang bersifat rutin maupun yang tidak rutin.
<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Sarana Administratif, terdiri dari :
<!–[if !supportLists]–>d.1. <!–[endif]–>Administrasi Pengelola meliputi :
- Dokumen pendirian Kuliah Alternatif - Notulasi Rapat
- Program kerja - Buku Perkembangan Otodidaktor
- Kalender Akademik - Buku Perkembangan Pendidik
- Daftar Pembagian Tugas - Buku Perkembangan Pegawai
- Jadwal Perkuliahan - Buku Tamu
<!–[if !supportLists]–>d.2. <!–[endif]–>Administrasi Pendidik :
- Kurikulum - Buku Induk Pendidik
- Daftar Nilai - Buku kumpulan bahan tes
- Daftar buku Pegangan - Daftar Buku Referensi
- Buku Presensi
<!–[if !supportLists]–>d.3. <!–[endif]–>Administrasi Otodidaktor :
- Buku Induk Otodidaktor - Buku kumpulan nilai otodidaktor
- Daftar Ruang Kuliah - Buku Absensi Otodidaktor
<!–[if !supportLists]–>d.4. <!–[endif]–>Administrasi Bimbingan Pembelajaran
- Kartu Pribadi Otodidaktor ( Data Kumulatif )
- Catatan Prestasi dan Perkembangan
<!–[if !supportLists]–>d.5. <!–[endif]–>Administrasi Surat Menyurat :
- Agenda Surat menyurat
- File untuk arsip surat menyurat
<!–[if !supportLists]–>d.6. <!–[endif]–>Administrasi Keuangan :
- Buku Kas Umum/Kas Besar - Buku Kas Pembantu/Tabelaris
- Peti besi/kotak Uang - Kotak Penyimpan kwitansi
<!–[if !supportLists]–>d.7. <!–[endif]–>Administrasi Perlengkapan/Inventaris :
- Daftar seluruh inventaris - Daftar inventaris tiap ruangan
- Nomor dan Kode inventaris pada setiap barang/perlengkapan.
<!–[if !supportLists]–>d.8. <!–[endif]–>Administrasi Perpustakaan
- Daftar seluruh bahan pustaka - Katalog
- Daftar Anggota dan Peminjam - Kartu Buku
<!–[if !supportLists]–>d.9. <!–[endif]–>Administrasi Laboratorium/Workshop :
- Daftar peralatan yang dimiliki
- Data penggunaan
- Daftar hasil percobaan/praktek otodidaktor
X. Evaluasi
Secara garis besar evaluasi pendidikan di Kuliah Alternatif memiliki beberapa fungsi pokok seperti yang disampaikan KH. Moh. Idris Jauhari : fungsi selektif, fungsi bimbingan dan dan fungsi diagnostik. Fungsi selektif yaitu melakukan pilihan terhadap berbagai alternatif yang ada, terutama yang berhubungan dengan keadaan otodidaktor seperti: mengetahui tingkat kecerdasan otodidaktor secara emosi, intelegensia dan spritual. Fungsi bimbingan digunakan untuk membantu dan membimbing otodidaktor dalam mengatasi segala kesulitan yang dihadapinya; baik menyangkut masalah-masalah pribadi ataupun masalah-masalah sosial. Fungsi diagnostik yaitu upaya mengetahui secara pasti berbagai kendala dan kelemahan yang terdapat dalam aspek-aspek pendidikan; menyangkut tujuan, materi, metode struktur program atau sarana, dan berhubungan dengan kondisi kesiapan pendidik atau otodidaktor-otodidaktor itu sendiri, sehingga bisa diambil langkah-langkah perbaikan dan penyempurnaan.
Evaluasi terdiri dari evaluasi intelegensia yakni kemampuan menyerap materi-materi kuliah yang telah digariskan, diikuti dengan evaluasi pada kecerdasan emosi; bagaimana mengendalikan perasaan, memacu motivasi, membentuk kesabaran dan menjadi manusia yang berkepribadian, evaluasi keterampilan yakni keterampilan dalam suatu bidang tertentu yang dikuasainya seperti entrprenuer atau macroprenuer, dan evaluasi kecerdasan spritual yakni penyerapan rukun Islam dalam kehidupan sehari-hari, menjadikan iman sebagai keyakinan yang tidak akan goyah oleh apa pun jua; pemikiran modern dan posmodern, perubahan zaman, kekuatan kapitalisme, dan kekuatan lainnya, dan senantiasa menghadirkan Allah dalam berbagai aspek kehidupan yang dijalani.
Catatan paling penting untuk untuk evaluasi ialah memanfaatkan Sistem Penilaian yang disarankan untuk abad 21 yakni 50% penilaian diri sendiri, 30% penilaian teman, 20% penilaian guru atau atasan, Jeanete Vos.
XI. Strutur Organisasi dan Pembagian Tugas
Dewan Pembina : ………………………………………………
Pendiri/pengelola : ……………………………………………
Direktur : ………………………………………………
Sekretariat : ………………………………………………
Bendahara : ………………………………………………
Kabag Pelatihan : ………………………………………………
Kabag Perkuliahan : ………………………………………………
Kabag Unit Usaha : ………………………………………………
Kabag IT (Informasi dan Teknologi): ………………………………………………
Dewan Pembina bertanggung jawab untuk mengumpulkan dana operasional dan pembangunan Kompleks Kuliah Alternatif.
Pendiri/Pengelola bertanggung jawab pada proses pendirian Kuliah Alternatif, sehingga dapat diwujudkan dalam kenyataan, dan mengelolanya dengan baik.
Direktur bertanggung jawab terhadap manajemen keseluruhan pelaksanaan program-program yang telah disusun dan disepakati bersama.
Skretariat bertanggung jawab terhadap masalah-masalah keskretariatan
Bendahara bertanggung jawab terhadap administrasi keuangan, pencarian dana tambahan dan pengaturannya.
Kabag Pelatihan : Bertanggung jawab terhadap terlaksananya kegiatan-kegiatan pelatihan, baik yang bersifat komersial maupun gratis, yang sebagian hasil dimanfaatkan untuk mendukung perkuliahan gratis.
Kabag Perkuliahan : melaksanakan program-program perkuliahan sebaik-baiknya, sehingga mampu menghasilkan otodidaktor-otodidaktor sejati.
Kabag Unit Usaha : mengelola unit-unit usaha yang ada, sehingga mampu memberikan kesejahteraan pada orang-orang yang terlibat dalam pengelolaan Kuliah Alternatif dan pendukung utama perkuliahan.
Kabag IT (Informasi dan Teknologi); mengelola teknologi berbasis digital, internet (web site, situs,email), teknologi pelatihan dan laboratorium komputer.
XII Amal Shaleh
Amal shaleh ialah perbuatan baik yang dapat memberikan manfaat pada orang lain dalam kurun waktu yang lama, bahkan seumur hidup. Setiap orang yang terlibat dalam Kuliah Alternatif mulai level paling atas sampai paling bawah dan otodidaktor yang merupakan hasil proses perkuliahan, berkomitmen untuk beramal shaleh langsung, minimal membantu tiga orang secara tulus tanpa pamrih untuk; keluar dari kemiskinan, pengangguran, keterbelakangan, keterpurukan, masalah, musibah, bencana alam, penggusuran dan ketersingkiran.
Bentuk dari amal shaleh yakni zakat fitrah dan harta, sedekah dalam segala keadaan, berbagi ilmu secara ikhlas, mengorbankan tenaga jika tidak punya ilmu atau harta, melayani orang tua sebaik-baiknya, dan berjuang di jalan Allah melalui cara, sarana dan disesuaikan dengan keadaan.
Kuliah Alternatif dan Pelatihan Gratis adalah bentuk amal shaleh dari kita untuk kita demi memperoleh ridha Allah SWT.
Depok, 8 Agustus 2008