Oleh: Penulis Sam | September 4, 2008

Bertobatlah, wahai sobat!

 

Tulisan sederhana ini bukan menyodorkan fatwa atau petunju-petunjuk agar bertobat, melainkan hanya beberapa kisah tentang Tobat! Baca, selami, pahami dan laksanakan!

“Dahulu ada seorang laki-laki sebelum kalian yang telah membunuh 99 orang, lalu ia bertanya tentang seorang yang paling mengerti agama. Ditunjukkanlah pada seorang pendeta, ketika sampai orang yang mengantarnya berkata, ‘wahai pendeta, orang ini telah membunuh 99 orang, apakah mungkin bagiNya untuk bertobat?’ Pendeta itu berkata, ‘tidak mungkin!’ maka pendeta itu dibunuh sampai genap 100 orang. Kemudian ditunjuki pada orang alim ‘wahai orang alim, orang ini telah membunuh 100 orang, apakah mungkin bagiNya untuk bertobat?’ orang alim itu berkata, ‘Mungkin, tidak ada yang menghalangi tobat hamba kepada Tuhannya. Lalu orang alim memberikan arahan, ‘Pergilah ke tempat itu, di sana penduduknya menyembah Allah, beribadahlah bersama mereka. Dan jangan kembali ke tempat asalmu karena itu merupakan tempat penuh kemaksiatan.’ Lalu pergilah laki-laki itu ke tempat yang diberitahu orang alim tadi. Ketika di perjalanan laki-laki itu meninggal dunia. Terjadilah perdebatan antara Malaikat Rahmat dengan Malaikat Adzab, Malaikat Rahmat berkata, ‘Orang ini datang untuk bertobat’ Malaikat Adzab menjawab, ‘Akan tetapi ia belum melakukan kebaikan sama sekali.’ Maka datanglah Malaikat yang berwujud sebagai manusia, yang berdiri sebagai penengah dan berkata, ‘Ukurlah jarak antara tempat tujuannya dengan tempat dia berasal, mana yang paling dekat itulah yang menentukannya.’ Ketika diukur, ternyata jarak tempat yang dituju lebih dekat dari tempat ia berasal, lalu Malaikat rahmat membawanya. (HR Bukhari Muslim) Dalam riwayat lain “Perbedaan jarak antara keduanya hanya sejengkal.” Riwayat lain menyebutkan “Allah memerintahkan tanah yang ia berasal untuk menjauh dan tanah yang tujuannya mendekat, lalu memerintahkan Malaikat untuk berkata, ‘Ukurlah mana yang paling dekat.’ Ketika diukur, tempat tujuannya lebih dekat sejengkal, maka dosa-dosanya diampuni Allah.
Abu Burdah bin Musa Al-Asy'ari meriwayatkan, ketika menjelang
wafatnya Abu Musa pernah berkata: "Wahai anakku, ingatlah kamu akan cerita tentang seseorang yang mempunyai sepotong roti."

Ada seorang lelaki yang sangat tekun beribadah kepada Allah selama lebih kurang tujuh puluh tahun. Tempat ibadahnya tidak pernah ditinggalkannya, kecuali pada hari-hari yang telah dia tentukan.

Akan tetapi pada suatu hari, dia digoda oleh seorang wanita sehingga
diapun tergoda dalam bujuk rayunya dan berzina selama tujuh hari
Lalu lelaki itu bertobat. Sewaktu melakukan perjalanan dia berteduh bersama pengemis berjumlah 9 orang, tapi waktu itu hanya ada sembilan potong roti, berarti 1 pengemis tidak mendapatkannya. Lelaki itu mengambil roti jatahnya dan memberikannya kepada pengemis yang tidak kebagian. Keesokan harinya, orang yang bertaubat itu meninggal  dunia.

 Di hadapan Allah, maka ditimbanglah amal ibadah yang pernah dilakukan oleh orang yang bertaubat itu selama lebih kurang tujuh puluh tahun dengan dosa yang dilakukannya selama tujuh malam, ternyata amal ibadat yang dilakukan selama tujuh puluh tahun itu dikalahkan oleh kemaksiatan yang dilakukannya selama tujuh malam. Akan tetapi ketika dosa yang dilakukannya selama tujuh malam itu ditimbang dengan sepotong roti yang pernah diberikannya kepada fakir miskin yang sangat membutuhkannya, ternyata amal sebuah roti tersebut dapat mengalahkan perbuatan dosanya selama tujuh malam itu.

Kepada anaknya Abu Musa berkata: "Wahai anakku, ingatlah olehmu akan orang yang memiliki sepotong roti itu!"

Sebaliknya, ada orang yang sombong dengan ibadah, ketaatan pada Allah, dan merasa paling mulia di dunia, lalu Allah mengujinya dengan wanita, dia mampu menolak, mengujinya dengan berjudi dia mampu menolak, tapi dengan ujian alkohol atau khamr dia akhirnya meminumnya, kemudian dia berjudi dan berzina dengan wanita tersebut, setelah itu Allah mencabut nyawanya. Ini contoh su’ul khatimah karena kesombongannya merasa sok suci.

Saya pribadi pernah juga bergelimang dosa; sombong dengan ilmu, suka berbohong, suka mengakalkan segala sesuatu, meremehkan dan melalaikan ibadah sholat lima waktu, serta dosa-dosa lainnya. Lalu Allah menunjukkan kebesaranNya dengan dua peristiwa dasyat dalam hidup saya;

1.      Saya dalam keadaan sekarat hampir meninggal dunia, di samping saya di Unit Gawat Darurat di rumah sakit, ada pasien yang baru saja meninggal dunia. Dengan meneteskan air mata saya berdoa “Ya, Allah! Jika hidup saya bermanfaat, panjangkan umur saya. Jika tidak, cabut sekarang juga!” Tapi Allah justru memanjangkan umur saya.

2.      Saya masih bandel, lalu datanglah mimpi dasyat itu, seumur hidup tidak akan saya lupakan. Saya mati, lalu dibawa dengan keranda mayat ke Kubur, setelah dikubut, datanglah dua Malaikat dengan membawa dua Godam yang besar langsung menyiksa saya sekeras-kerasnya tanpa ampun. Saya bangun dari tidur; dada bergemuruh keras, bayang-bayang mimpi itu nyata, saya melihat sekeliling apakah saya sudah mati atau masih hidup. Alhamdulillah, saya masih hidup sampai sekarang.

3.      Semenjak itu, saya bunuh Zamhari yang dulu, lalu menghidupkan sosok baru bernama Ahmad Zamhari Hasan. Ketika saya mau bandel, maksiat dan berbuat salah, saya selalu mengingat nama Ahmad di depan saya karena merupakan nama kecil Nabi Muhammad SAW.

Dengan semua kisah di atas, maka tobatlah wahai kawan, ikwan, ikhwah, dan siapa saja yang sampai saat ini bergelimang dosa tanpa mau keluar darinya. Bertobatlah! Mumpung belum terlambat, jika terlambat, Anda akan menyesalinya dan mendapat Adzab Allah yang luar biasa sangat dasyat sekali.

Oleh: Penulis Sam | September 4, 2008

Meraih Malam Lailatul Qodar

Salah satu Anugerah dan Rahmat Allah terbesar di bulan Ramadhan ialah Mendapatkan Malam Lailatul Qodar.

Hampir setiap Ceramah agama pada saat Tarawih dan Menjelang Sahur menyinggung hal ini dan mengutip hadis yang popular bahwa Malam Lailatul Qodar berada pada malam ganjil pada akhir-akhir bulan Ramadhan yakni antara 21,23,25,27,29 atau 31 jika ada.

Malam Lailatul Qodar insya Allah dapat diraih dengan cara;

1. Mampu melaksanakan ibadah shalat Tarawih secara konsisten, baik berjamaah atau sendirian, dari awal Ramadhan sampai akhir bulan Ramadhan.

2. Senantiasa shalat Tahajjud dari hari pertama Ramadhan sampai hari terakhir, dengan berusaha menjaga konsistensi jumlah Rakaat; misalkan 2 salam setiap malam, begitu terus menerus, malah dianjurkan semakin hari semakin meningkat.

3. Mampu melaksanakan puasa sebaik-baiknya selama bulan Ramadhan, kecuali sakit dan dalam perjalanan sangat jauh.

4. Berusaha membantu orang lain dengan ilmu, harta, makanan, kebaikan, sikap santun dan suri tauladan yang baik.

5. Memperbanyak ibadah pada malam-malam ganjil, khususnya; 21,23,25,27,29,31 dengan tanpa melalaikan malam-malam lainnya.

6. Berusaha melakukan amal sholeh yang bersifat permanen pengaruhnya, seperti mengajar anak yatim piatu atau fakir miskin tanpa pamrih, memberikan beasiswa pada mereka, dan memberikan modal usaha, walau hanya sekali, dan menolong orang lain saat benar-benar membutuhkan walau dengan tenaga atau saran. Ini akan menjadi amal jariyah di akhirat kelak.

7. Senantiasa memperbaiki niat bahwa ibadah yang dilakukan karena cinta pada Allah dan hanya pada Allah semata, bukan untuk malam Lailatul Qodar atau lainnya.

Insya Allah, dengan semua itu kita mendapatkan malam Lailatul Qodar. Bagiaman jika melalaikan salah satu atau dua di antara 7 Item? hanya Allahlah yang tahu kepada siapa malam Lailatul Qodar dianugerahkan. Ini hanya hasil perenungan hamba Allah agar kita mampu meraih malam Lailatul Qodar. Allhu ‘alam bis showaab!

* Penulis Buku Berniaga Dengan Iman, Kiat-Kiat Agamis Menjadi Saudagar Sukses Novel; Bidadari Posmodern, buku “BELAJAR OTODIDAK SAMPAI MATI, Pembelajaran Seumur Hidup Sebagai Kebutuhan Mendesak Saat Ini!” (belum terbit) yang merupakan edisi revisi dari buku “Mau Kuliah Alternatif? BELAJAR OTODIDAK, Dong!” 2007, Ka Tulis Tiwa Press Jakarta, yang bisa Anda beli langsung pada penulis, hubungi (08176956688) Segera terbit buku Pelatihan Learning For Living (LFL); 3 LANGKAH SEDERHANA MENUJU KESUKSESAN. Kini menjadi Trainer Pelatihan LFL untuk Pelajar, Mahasiswa dan Umum tentang Belajar Otodidak, Wira Usaha Islam dan Mukmin Sejati, bagi sekolah, pesantren atau Perguruan Tinggi yang tertarik, hubungi; Blog ; www. sampenulis.wordpress.com, Email;sam_penulis@yahoo.com, otodidaktor@yahoo.co.id. (08176956688)

Oleh: Penulis Sam | September 4, 2008

Meningkatkan Kualitas puasa

Hampir setiap tahun kita menjalankan rutinitas puasa, pertanyaannya sudahkah puasa yang kita lakukan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun? Atau jangan-jangan kita terjebak menjalankan kewajiban agama saja.

Dalam banya ayat AL-Qur’an Allah mengajak umat Islam untuk meningkatkan kualitas ketakwaan dan keimanan, salah satu medianya ialah meningkatkan kualitas puasa yang dilakukan. Untuk meningkatkan kualitas puasa, berikut beberapa langkah yang diambil (disarikan dari buku Tazkiyatun Nafs Sa’id Hawwa yang merupakan penjelasan ulang Ihya Ulumuddin Imam Ghazali):

1. Menundukkan pandangan dan menahan pandangan dari hal yang tercela, dibenci dan mengganggu hati untuk mengingat Allah. Tiada waktu untuk mengingat selain Allah. Ketika menjalankan berbagai aktivitas di kantor, rumah dan tempat lainnya, hati senantiasa mengingat Allah walau sedang mengerjakan hal lainnya.

2. Menjaga lisan untuk tidak berbicara hal-hal tercela; gibah (membicarakan kejelekan orang lain), namimah (adu domba), pertengkaran, perkelahian, perkataan kasar dan kekejian, lebih baik diam dan menyibukkan diri dengan berdzikir pada Allah. Begitu terlanjur berucap secepatnya membaca istigfar berulangkali.

3. Menahan pendengaran untuk mendengarkan hal-hal yang dilarang atau diharamkan. Telinga juga dijaga untuk tidak mendengarkan hal-hal di atas.

4. Menahan anggota tubuh yang lain dari berbagai perbuatan dosa dan maksiat. Terkadang angan-angan kosong mengajak kemaksitan dengan mengingat wanita cantik, makanan yang lezat dan hal-hal yang tidak bermanfaat lainnya, secepatnya alihkan dengan memperbanyak dzikir pada Allah atau mengerjakan hal lain yang positif.

5. Tidak memakan makanan yang halal secara berlebihan. Berusaha berbuka dan menikmati makan sahur secukupnya agar mampu menjalankan shalat Tarawih dan Tahajjud dengan Khusyu’.

6. Ketika berbuka hati berguncang karena cemas puasa tidak diterima oleh Allah, maka berusaha memperbanyak istigfar.

7. Memperbanyak amal sholeh dan sedekah (tambahan dari hamba Allah). Nabi Muhammad ketika Ramadhon sedekahnya seperti hembusan angin saking banyaknya. Amal sholeh dilakukan dengan membantu siapa saja yang membutuhkan sesuai kemampuan, syukur-syukur nilai bantuan bersifat langgeng seperti; memberi modal pada fakir miskin atau pengangguran, mengajak penjahat ke jalan yang benar atau mengajak non Muslim ke jalan Islam tanpa paksaan.

Makna puasa secara sosial

1. Hidup selama setahun 12 bulan, memanfaatkan sebulan untuk berpuasa pagi sampai matahari terbenam, tentu merupakan sesuatu yang wajar, malah jika melalaikan sama artinya dengan menyepelekan kehidupan kita yang 11 bulan, di samping itu, puasa sebulan memberi warna berbeda pada yang 11 bulan lainnya untuk menjalani hidup yang lebih baik.

2. Merasakan lapar untuk memiliki kepedulian pada orang-orang sekitar yang hidup kekurangan, terlantar dan teraniaya.

3. Mengendalikan mesin hasrat atau keinginan kita supaya membeli barang yang benar-benar penting, mendahulukan kebutuhan di atas keinginan, dan mengatur keinginan sebagai upaya menikmati hidup. Mengontrol emosi dengan baik untuk hidup yang harmonis.

4. Mengontrol hawa nafsu agar kita yang berkuasa bukan sebaliknya, sebab hidup lebih indah, coba dibuktikan jika tidak percaya.

* Penulis Buku Berniaga Dengan Iman, Kiat-Kiat Agamis Menjadi Saudagar Sukses Novel; Bidadari Posmodern, buku “BELAJAR OTODIDAK SAMPAI MATI, Pembelajaran Seumur Hidup Sebagai Kebutuhan Mendesak Saat Ini!” (belum terbit) yang merupakan edisi revisi dari buku “Mau Kuliah Alternatif? BELAJAR OTODIDAK, Dong!” 2007, Ka Tulis Tiwa Press Jakarta, yang bisa Anda beli langsung pada penulis, hubungi (08176956688) Segera terbit buku Pelatihan Learning For Living (LFL); 3 LANGKAH SEDERHANA MENUJU KESUKSESAN. Kini menjadi Trainer Pelatihan LFL untuk Pelajar, Mahasiswa dan Umum tentang Belajar Otodidak, Wira Usaha Islam dan Mukmin Sejati, bagi sekolah, pesantren atau Perguruan Tinggi yang tertarik, hubungi; Blog ; www. sampenulis.wordpress.com, Email;sam_penulis@yahoo.com, otodidaktor@yahoo.co.id. (08176956688)

Oleh: Penulis Sam | September 1, 2008

Profil Penulis dan Trainer

Ahmad Zamhari Hasan, 10-11-1974, aktif membaca dan menulis sejak kelas III pesantren TMI Al-Amien Madura atau setingkat kelas III SMP/MTs. Selepas mondok lebih banyak  Belajar Otodidak (BO) tentang; Pendidikan, sastra filsafat, Islam, dan politik.

Karya  tulis yang dihasilkan adalah novel : Bidadari Posmodern, Berniaga Dengan Iman, Kiat-Kiat Agamis Menjadi Saudagar Sukses (keduanya sudah terbit), novel Pengabdi Kemulyaan Cinta Sejati, tiga ontologi puisi; Menjangkau Tuhan, Aceh Tersenyum Bahagia, dan SMS TUHAN, satu kumpulan cerpen; Setitik Harapan 17 judul, sedang karya terbatu yakni “BELAJAR OTODIDAK SAMPAI MATI, Pembelajaran Seumur Hidup Sebagai Kebutuhan Mendesak Saat Ini!” yang merupakan edisi revisi dari buku “Mau Kuliah Alternatif? BELAJAR OTODIDAK, Dong!” Kha Tulis Tiwa Press Jakarta.

Pengalaman mengajar; Pondok Pesantren TMI Al-Amien Madura 2 tahun, Pondok Pesantren Daarul Ulum Bogor 1 tahun setengah, Pondok Pesantren Daarul Fattah Pecalongan Bondowoso, TPA dan MDA Wonosari Bondowoso 6 tahun.  (08176956688)

 

Kantor Sekretariat; Jl. Margonda No.58 Terminal Depok (Yayasan Bina Insan Mandiri).

Blog  ; www.sampenulis.wordpress.com,

Email; sam_penulis@yahoo.com, otodidaktor@yahoo.co.id

 

Oleh: Penulis Sam | September 1, 2008

Antara Kanan dan Kiri

 

Kanan

Kiri

Kanan tak boleh kiri

Kiri tak boleh kanan

Bersikap kanan kiri

Ketentuan disalahi

Kesalahan dialami

Kekeliriuan dijempatani

kesalahan dan kekeliruan merupakan kebenaran tertunda

Kanan

Kiri

Kanan tak boleh kiri

Kiri tak boleh kanan

Melakukan yang boleh

Sesuai keharusan tingkah laku

Meninggalkan yang harus

Berdiri dalam kesesatan

Aku kanan dalam beribadah

Aku kiri dalam pemikiran

Allah Maha Tahu kebenaran

 

Wonosari, 27 September 2004

Oleh: Penulis Sam | September 1, 2008

FORMULIR DONATUR PKBM INSAN MANDIRI

 

Kepada Yth.

Divisi Pendidikan

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)

Bina Insan Mandiri

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb.,

Bersama ini saya :

Alamat :

Telp./Hp. :

Email/Blog :

Bersedia menjadi Donatur dengan jumlah uang;

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Rp. 50.000

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Rp. 100.000

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Rp. 1.000.000

<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Rp. ………….

Penyaluran dana akan saya salurkan melalui:

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Transfer via Bank Syariah Mandiri Cab Depok No Rek. 0610065060 atas nama PKBM Bina Insan Mandiri*

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Harap dijemput ke rumah saya

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Datang ke Kantor PKBM Jl. Margonda No. 58 terminal Depok

*Mohon menghubungi Pengurus PKBM via Telepon/SMS 02192612047/081513299320 bila dana telah ditransfer

Demikian Pernyataan yang saya buat, semoga bermanfaat, dikelola dengan baik, transparan dan amanah

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.,

……………………,…..,……,……..

 

 

……………………………..

(tanda tangan dan nama jelas)

 

NB: Laporan diberikan pertiga bulan sekali berbentuk buletin


 

Kepada Yth.

Divisi Pendidikan

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)

Bina Insan Mandiri

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb.,

Bersama ini saya :

Alamat :

Telp./Hp. :

Email/Blog :

Bersedia untuk menjadi Donator Bulanan

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Rp. 20.000/bulan

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Rp. 50.000/bulan

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Rp. 100.000/bulan

<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Rp. ………./……..

Penyaluran dana akan saya salurkan melalui:

<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Transfer via Bank Syariah Mandiri Cab Depok No Rek. 0610065060 atas nama PKBM Bina Insan Mandiri*

<!–[if !supportLists]–>e. <!–[endif]–>Harap dijemput ke rumah saya

<!–[if !supportLists]–>f. <!–[endif]–>Datang ke Kantor PKBM Jl. Margonda No. 58 terminal Depok

*Mohon menghubungi Pengurus PKBM via Telepon/SMS 02192612047/081513299320 bila dana telah ditransfer

Demikian Pernyataan yang saya buat, semoga bermanfaat, dikelola dengan baik, transparan dan amanah

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.,

……………………,…..,……,……..

 

 

……………………………..

(tanda tangan dan nama jelas)

 

NB: Laporan diberikan pertiga bulan sekali berbentuk buletin

 

Oleh: Penulis Sam | September 1, 2008

“Belajar Otodidak Sebagai Kuliah Alternatif”

Jumladi[i]

Judul buku : “Mau Kuliah Alternatif? Belajar Otodidak, Dong!”

Penulis : Ahmad Zamhari Hasan

Penerbit : Ka-Tulis-Tiwa-Press Jakarta

Tebal : 294 Halaman

Cet. : I, Mei 2007

Selama ini masyarakat Indonesia dihadapkan permasalahan hidup yang bertambah kompleks, abad 21 yang semakin tidak jelas arahnya, dan kerancuan berbagai nilai yang ada dalam kehidupan. Salah satu penyebabnya ialah ruang belajar hanya dipersempit pada universitas formal, padahal mereka bisa belajar otodidak tentang berbagai macam ilmu pengetahuan dan hal-hal yang dibutuhkan guna menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.

Belajar pada intinya ialah upaya seseorang untuk memahami, mengerti, mendalami sesuatu, sehingga menjadi arif dan bijaksana dalam menjalani kehidupan. Jika ruang belajar dibatasi pada ruang universitas formal, maka pada intinya manusia membelenggu dirinya dengan penjara yang dibuatnya sendiri. Ruang belajar manusia ialah semesta dan kehidupan sehari-hari. Paling tidak ada dua hal yang harus dilakukan supaya berhasil belajar seumur hidup.

Pertama; memperluas ruang belajar pada hakikat aslinya. Dengan paradigma baru ini, setiap orang dapat belajar pada; makhluk hidup, pergantian siang dan malam, pagi hari yang cerah, matahari, bulan, bintang, dan seluruh tata surya, angin, awan, hujan, pegunungan, tanah, bukit, pohon, tanaman, dan segala sesuatu yang ada di dalam tanah dan di antara langit dan bumi. Bukankah ini terlalu besar dan banyak untuk dipelajari? Untuk itu, otodidaktor (orang yang belajar otodidak) berupaya mempelajari dan memperdalam salah satu di antaranya yakni yang paling disenangi.

Sebagai misal, otodidaktor yang senang memikirkan manusia, dapat memilih salah satu bidang ilmu tentang manusia, contoh psikologi. Sebagai proses pembelajaran awal, otodidaktor dapat mencari file-file di internet tentang psikologi, mempelajarinya secara teliti dengan membuang informasi yang kurang akurat dan salah. Melanjutkan dengan pergi ke toko-toko buku untuk membeli buku-buku utama yang harus dipelajari. Membaca buku yang dibeli secara kreatif dengan menulis poin-poin pentingnya. Membandingkan apa yang dibaca dengan memahami karakter suatu masyarakat sebagai bentuk studi lapangan. Terakhir, menulis dalam bentuk makalah sampai mampu menghasilkan sebuah buku kelak.

Kedua; kehidupan sehari-sehari dari luar kelihatan seperti menjalani rutinitas harian yang membosankan, padahal sebuah keberhasilan di suatu bidang yang dipelajari merupakan akumulasi dari proses menjalani kehidupan sehari-hari. Ini bermakna, menjalani kehidupan sehari-hari dengan berbagai macam aktivitas, menyediakan ruang untuk berkontemplasi lewat ibadah spiritual; shahadat, shalat, puasa, dan zakat (haji jika mampu seumur hidup sekali), menyediakan waktu untuk membaca buku atau keadaan sekitar, dan berolah raga secukupnya sebagai bentuk relaksasi.

Dengan dua langkah yang dilakukan secara konsisten di atas, otodidaktor akan mampu menerapkan prinsip long live education atau belajar seumur hidup. Kemampuan menerapkan prinsip ini dalam kenyataan hidup merupakan cara paling efektif untuk mengatasi kompleksitas permasalahan dalam abad 21, dan mendorong seseorang untuk menjalani hidup apa adanya.

Ini juga merupakan langkah yang tepat dalam rangka mengatasi berbagai macam permasalahan yang ditimbulkan karena jurang pemisah antara ruang belajar di universitas dengan realitas kehidupan sehari-hari, yang sering dikeluhkan selama ini. Para otodidaktor, yang senantiasa berbaur dengan kehidupan masyarakat, menyelami permasalahan yang mereka hadapi, sekaligus hidup di tengah-tengah masyarakat sambil belajar otodidak, dapat berhasil tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga bermanfaat untuk orang lain dan masyarakat luas.

Di samping itu, manusia perlu lebih memahami dirinya dari aspek semua potensi yang dimiliki seperti; imajinasi, pikiran, perasaan, hati, kesadaran dan tubuh. Pemahaman ini dilanjutkan dengan upaya melakukan sinergi antar seluruh potensi, sehingga setiap langkah yang diambil merupakan yang terbaik dari yang baik.

Semua uraian di atas, dijelaskan secara terperinci dalam buku “Mau Kuliah Alternatif? Belajar Otodidak, Dong!” Sebuah buku baru yang menawarkan cakrawala baru, sekaligus mengeksplorasi dunia baru yakni Belajar Otodidak. Selama ini banyak pertanyaan orang yang dilontarkan tentang belajar otodidak, namun jawaban yang diperoleh kurang memuaskan. Buku ini bisa memberikan jawaban yang memuaskan.

Salah satu pertanyaan yang sering dikemukan orang, bagaimana cara belajar otodidak, sehingga mampu melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Hamka, D. Zawawi Imron, Emha Ainun Nadjib, KH. Moh. Idris Jauhari, bahkan Muhammad Yunus? Buku ini, menawarkan cara yang paling tepat dan terbaik untuk berhasil sebagaimana tokoh-tokoh besar sukses dalam hidupnya. Apalagi, dalam awal setiap bab, diawali dengan puisi yang mampu menggugah perasaan, menghidupkan imajinasi, menimbulkan inspirasi dan melahirkan perenungan sebelum membaca secara terperinci.

Sekarang, kesempatan terbuka lebat bagi akademisi dan otodidaktor untuk terus menerus belajar sepanjang hayat, dengan caranya masing-masing. Ibarat sedang menuju kota Singapura, bisa dilakukan secepat mungkin dengan pesawat terbang atau sedikit lebih lambat dengan kapal laut, paling penting dapat mencapai tujuan dengan usaha yang benar, cara yang benar, dan melewati jalan yang benar. Tidak kuliah formal di universitas, tidak bisa lagi dijadikan alasan untuk berhasil.


[i] Editor film animasi dan mahasiswa Unindra Jakarta

Oleh: Penulis Sam | September 1, 2008

“Ngapain Kuliah? Belajar Otodidak Aja!”

Zubairi Hasan*

Dalam situasi krisis yang tanpa ujung pangkal ini, seharusnya biaya pendidikan diusahakan semurah mungkin, supaya setiap orang di Indonesia mendapatkan kesempatan yang sama untuk bisa belajar dan mengembangkan diri. Justru yang terjadi sebaliknya, biaya pendidikan semakin meningkat setiap tahun, sehingga susah dijangkau semua kalangan. Hal ini tidak hanya terjadi dalam pendidikan dasar dan menengah, juga terjadi di lingkungan universitas formal, malah kenaikannya bisa mencapai dua kali lipat dari sebelumnya.

Untungnya, kehidupan mengajarkan bahwa untuk berhasil tidak mesti melalui kuliah formal, sejumlah orang telah membuktikan; Bob Sadino, Emha Ainun Nadjib, Hamka, dan D. Zawawi Imron. Artinya setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk sukses dan berhasil, asal mau bekerja keras, menekuni pekerjaan dengan sepenuh hati, membaca keadaan dengan baik, menikmati kegagalan sebagai cambuk keberhasilan, mengoptimalkan pemikiran dan imajinasi, menghidupkan hati nurani, menghadapi tantangan dengan baik, mengelola masalah secara tepat, memiliki kemauan yang kuat untuk belajar seumur hidup dan memasrahkan hasil pada Allah. Inilah letak keadilan Allah terhadap semua manusia.

Untuk belajar seumur hidup sebagai prasyarat utama keberhasilan, bisa dilakukan dengan cara belajar otodidak atau sendiri. Itu berarti, belajar tidak terbatas dalam universitas formal, melainkan juga dalam kehidupan sehari-sehari. Cara belajar otodidak yang efektif ialah memahamai paradigma belajar otodidak secara utuh, menguasai beberapa ilmu tambahan untuk dapat belajar otodidak, memaksimalkan potensi diri yang dimiliki, mengelola waktu dengan baik, mendalami cara efektif membaca buku, semesta dan kehidupan, dan menguasai cara menulis. Semua itu secara lengkap dijelaskan dalam buku “Mau Kuliah Alternatif? Belajar Otodidak, Dong!”

Manusia memiliki potensi yang berupa imajinasi, pikiran, perasaan, kesadaran, hati nurani, dan tubuh. Sayangnya potensi yang dimiliki dimanfaatkan sendiri-sendiri, bukan disatukan secara integral untuk dapat membaca, memahami, mengerti, mendalami, menguasai dan melakukan sesuatu. Sebagai ilustrasi; abad pertengahan mengagungkan perasaan, abad pencerahan mengagungkan kesadaran, abad modern mengagungkan tubuh dan akal, abad posmodern mengagungkan imajinasi, sedang hati nurani tidak pernah mendapat tempat yang jelas. Padahal, wujud seluruh potensi ada dalam diri setiap manusia, entah mengapa justru setiap potensi seakan-akan memiliki sejarah masing-masing.

Dalam kehidupan masa kini, sudah waktunya mengintegralkan semua potensi di atas dalam kesatuan, yang akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa dalam kehidupan.

Jika orang-orang yang mau belajar seumur hidup melalui belajar otodidak mampu mengintegralkan semuanya, maka proses belajar yang dilakukan menjadi mudah; buku-buku yang dibaca mudah dipahami, realitas hakiki kehidupan akan nampak jelas, hokum atau fenomena alam menjadi ilmu pengetahuan, intuisi senantiasa hadir, ilmu berusaha dimanfaatkan dalam kehidupan, ide mengalir begitu saja dan dalam kurun waktu tertentu dapat memperoleh hikmah.

Apalagi, secara jenius penulis buku melengkapi uraiannya dengan; cara mengelola masa lalu, kini dan akan datang, cara membaca buku, semesta dan kehidupan sehari-hari, cara menulis artikel sampai buku, dan cara menyeimbangkan antara memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan tetap belajar otodidak.

Kehadiran buku ini memberikan harapan yang cerah pada siapa saja dari berbagai lapisan; atas, menengah dan bawah, untuk dapat belajar seumur hidup, sehingga dapat berhasil menjalani kehidupan. Jika akademisi dapat memperoleh gelar formal S1, S2, S3 secara formal dengan upacara yang megah, maka otodidaktor (orang yang belajar otodidak) bisa meraih gelar yang sama secara informal tanpa upacara sama sekali. Paling penting kualitas yang dihasilkan melalui pembelajaran otodidak setara dengan yang kuliah formal. Untuk mencapai semua itu, perlu membaca buku bagus ini, lalu merenungkan apa yang dibaca agar melekat dalam memori, mendalami setiap hal yang dibutuhkan untuk berhasil dalam belajar otodidak, dan berusaha dipraktekkan secara langsung sebagai ajang pembuktian.

Secara kebetulan, buku ini ditulis seseorang yang tidak kuliah formal, suatu taqdir Allah yang sangat indah dan mulia, sebab melalui proses belajar otodidak selama 14 tahun (efektifnya 10 tahun), penulis buku ini, mampu menghasilkan buku berkualitas yang benar-benar dibutuhkan masyarakat Indonesia.

Diharapkan dari buku ini akan lahir otodidaktor-otodidaktor sejati yang berhasil seperti Prof. Dr. Hamka, Emha Ainun Nadjib, D. Zawawi Imron, KH. Moh. Idris Jauhari, atau Muhammad Yunus yang berhasil meraih Nobel 2006 setelah memutuskan mencampakkan gelar formal untuk menjadi otodidaktor sejati, menyelami kehidupan fakir miskin untuk memberikan bantuan modal mereka melalui Graamen bank.

*Direktur Utama penertit Ka Tulis Tiwa Press Jakarta

Oleh: Penulis Sam | September 1, 2008

STUDI KULTURAL, Membuka Cakrawala baru

 

Zamhari Hasan*

 

 

Sastra dan Studi Kultural

Sastra merupakan salah satu aspek yang memegang peranan penting dalam kebudayaan karena; pertama; penyediaan sumber data, baik lisan maupun tulisan, sebagai sumber data sastra bersifat fiksi dan fakta beserta varian genrenya, dengan medium utamanya adalah bahasa yang direpresentasikan dalam wacana, yang mana sistem simbol bahasa selalu menunjuk sesuatu yang lain kedua; perananannya dalam pemunculan teori poststrukturalisme, sehingga melahirkan pendekatan studi kultural.

Sastra berarti sesuatu yang tertulis dari kata literature, sedang culture berarti mengolah, mengerjakan yang dalam arti luas diartikan cara manusia mengelola alam, kebudayaan mengolah alam melalui kemampuan akal, sedang sastra mengolah alam melalui kemampuan tulisan, Keduanya berfungsi sama yakni meningkatkan kehidupan manusia. Intensitas hubungan keduanya dilihat dengan dua cara, pertama; stagnasi dalam strukturalisme memunculkan keterkaitan antara sastra dan kebudayaan, sebab strukturalisme terlalu asyik dengan unsur instrinsik dan melalaikan unsur ekstrinsiknya kedua; lahirnya perhatian terhadap studi kebudayaan sebagai studi kultural, yang didalamnya banyak dibicarakan kritik sastra, studi kultural muncul pertama kali di Inggris lewat Centre of Contemporery Cultural Studies (CCCS) 1964, sedang di Indonesia melalui studi magister kultural studies di universitas Udayana Bali, 1996.

Menurut E.B Taylor kebudayaan adalah keseluruhan aktivitas manusia, termasuk pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan lainnya. Definisi mutakhir kebudayaan menurut Marvin Haris yakni seluruh aspek kehidupan manusia dalam masyarakat, yang diperoleh dengan cara belajar, termasuk pikiran dan tingkah laku. Tiga wujud kebudayaan menurut Koentjadiningrat; a)kebudayaan sebagai kompleks ide, gagasan, nilai, norma dan peraturan b) kebudayaan sebagai kompleks aktivitas kelakukan berpola manusia dalam masyarakat c) kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia Di samping kebudayaan dalam tradisi Barat dikenal peradaban (civilazation dari akar kata civis, civitas yang berarti warga negara, negara kota) yang dalam perkembangannya lebih dikenal sebagai bentuk kebudayaan dengan nilai-nilai yang lebih tinggi, seperti kesenian dan ilmu pengetahuan. Beberapa ciri peradaban menurut Huntington; secara entitas kultural peradaban berkaitan dengan agama-agama besar, sehingga mengatasi suku, ras, etnis dan negara, bersifat komprehensif sebab merupakan totalitas dan memiliki derajad integrasi tertentu, peradaban cepat berubah, hidup sangat lama, berkembang tetapi mengalami kemunduran, beradabtasi dan berpengaruh terhadap kehidupan manusia, peradaban merupakan entitas kultural bukan politik sehingga mencakup beberapa kesatuan politik, negara, federasi kekaisaran, bahkan juga multinasional.

 

a. Sastra dan Kebudayaan

Sastra dan kebudayaan memiliki obyek yang sama yaitu manusia dalam masyarakat, manusia sebagai fakta sosial dan manusia sebagai makhluk kultural. Dikaitkan dengan fungsinya, karya sastra melakukan secara tidak langsung dengan bahasa metaforis konotatif, sedang aspek-aspek kebudayaan lain menggunakan bahasa langsung, baku dan bahasa logis denotatif. Obyek formal karya sastra adalah teks itu sendiri, sedang obyek formal studi kebudayaan kejadian-kejadian empiris yang ada dilapangan, sebagais studi konteks. Karya sastra membangun dunia melalui kata-kata, melalui hubungan paradigmatis, sistem tanda dan sistem simbol, kata-kata menunjuk sestau yang lain di luar dirinya, sehingga peristiwa-peristiwa baru muncul secara terus menerus, kata-kata juga memiliki aspek dokumenter yang menembus ruang dan waktu, melebihi aspek-aspek kebudayaan lainnya.

Studi kultual dibangun atas dasar kompetensi sastra dan kebudayaan, keduanya memiliki bidang kajian masing-masing. Kajian sastra meliputi; teori, krtik dan sejarah sastra, dengan melibatkan proses produksi; pengarang, penerbit, pembaca, lembaga sensor dan maesenas, sebagai kualitas otonom sastra terdiri dari unsur intrinsik; inseden, plot, teknik cerita, komposisi cerita, perwatakan dan gaya bahasa, sedang unsur ekstrinsik; unsur historis, sosiologis, psikologis dan filsafat religius. Setiap aspek dikaji dengan metode tertentu sebagai alat yang hasilnya tergantung bagaimana penggunaannya.

Karya sastra memiliki dua ciri; a) otonom; yang diperoleh melalui hubungan unsur2 dengan totalitas b) komunikatif; yang diperoleh melalui hubungan karya dengan sistem kultural. Disinilah strukturalisme berubah menjadi semiotika, karya sastra sebagai petanda, yang menandai lahirnya studi kultural dan postrukturalisme. Sumbangan terpenting postrukturalisme adalah pergeseran paradigma dari pusat ke pinggiran-pinggiran yang mana banyak terdapat masalah-masalah kemasyarakatan yang belum terpecahkan.

Masalah lain yang perlu dipahami dari karya sastra dalam kaitannya dengan kebudayaan adalah  sudut pandang yang dilihat dari a) sebagai aktivitas kreatif karya sastra penuh dengan makna b) karya sastra merupakan entitas kosong, sebagai manifestasi bahasa biasa, bahkan disusun secara gramatikal.

Menurut Barker (2004:8) konsep kunci studi kultural adalah praktik pemaknaan, yang dibangun melalui tanda khususnya tanda-tanda bahasa, dengan kalimat lain memahami kebudayaan berarti memahami makna sebagaimana dihasilkan secara simbolis melalui bahasa. Beberapa indikator perkembangan sastra dan kebudayaan serta studi kultural: a) adanya perubahan paradigma bahwa sastra dan kebudayaan tidak sekedar berfungsi bagi pengarang secara induvidual melainkan juga masyarakat  b) karya sastra dan kebudayaan merupakan gejala kebudayaan terdiri dari unsur-unsur, totalitas, antarhubungan, sistem dan kemampuan mengadakan regulasi c) dengan menggabungkan dua disiplin berbeda yakni sastra dan kebudayaan sangat dimungkinkan ditemukannya teori-teori baru, misalnya yang sudah teruji kesahihannya adalah  resepsi, interteks, feminis, postkolonial dan dekontruksi d) letak geografis Indonesia yang sangat luas dimungkinkan untuk penelitian sastra dan kebudayaan.

Kehadiran studi kultural dipicu beberapa faktor; a) stagnasi relevansi teori-teori dengan asas strukturalisme yang melahirkan postrukturalisme b) stagnasi penelitian monidisplin yang melahirkan multidisiplin, akibat kemajuan teknologi yang pesat berimbas pada masalah2 estetika, etika dan nilai-nilai kebudayaan pada umumnya c) sekularisasi religi yang memerlukan keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan d) arus globalisasi memerlukan konservasi budaya lokal.

Perkembangan studi kultural pesat di Asia selatan, khusunya India dengan salah tokohnya Ashis Nandy dengan tesis bahwa untuk keluar dari hegemoni Barat maka budaya no-Barat harus mendifinisikan budaya mereka sesuai dengan kondisi, konsep dan kategori masing-masing.

Kaitan antara sastra dan studi kultural; a) sastra merupakan bagian integral kebudayaan b) teori-teori yang dimanfatkan dalam studi kultural adalah teori-teori postrukturalisme, sedangkan sebagian besar teori-teori tersebut diperoleh melalui  kompetensi sastra c) kelahiran studi kultural di Inggris diawali pergeseran paradima pemahaman sastra dari sastra tinggi ke sastra populer d) dengan anggapan dunia adalah teks, maka keseluruhan aspek kebudayaan dapat dijelaskan secara tekstual e) keraguan terhadap realitas, isu utama sebagaimana disajikan postmodernisme, dapat dijelaskan melalui independensinya dengan ciri-ciri fiksional yang terkandung dalam sastra.

 

b. Kematian Pengarang dan Kebangkitan Pembaca

Salah satu faktor penting dalam karya sastra adalah pengarang, maka kita perlu memahaminya sebagai salah satu elemen penting. Pengarang memiliki kekhasan, yang mungkin diperoleh dari proses belajar atau pembawaan, sehingga dia melahirkan sesuatu yang baru, yang berbeda, atas dasar peristiwa-peristiwa yang sudah ada, sehingga pengarang bisa disebut penemu dan pencipta dunia kehidupan. Tapi saat bersamaan pengarang dikondisikan secara sosial , sehingga karya sastra bersifat sosial, makanya dalam sastra lama nama pengarang tidak ditulis karena sastra dianggap milik masyarakat, sedang dalam sastra modern nama penulis dianominitaskan yang mengandung makna karya sastra sebagai sebagai dunia sosia kultural yang bisa menghasilkan dimensi-dimensi studi kultural.

Pengarang dalam karya sastra menciptakan karakter tokoh-tokoh yang bisa jadi merupakan imajinasinya, namun dalam kritik sastra dianalisa sejauh mana tokoh-tokoh khayalan memiliki keterkaitan dengan tokoh-tokoh yang ada dalam masyarakat. Dalam kaitan inilah terdapat hubungan antara sastra dan kebudayaan dalam studi kultural.

Bagi pengarang, orisinalitas didasarkan seberapa jauh karyanya berbeda dari orang lain, sedang bagi pembaca seberapa jauh karya tersebut dapat menghasilkan makna yang berbeda-beda. Jadi bahasa sastra merupakan bahasa biasa hanya yang luar biasa bagaimana bahasa diekploitasi dan bagaimana bangunan suatu cerita dibangun sebab susunan cerita harus merupakan susunan baru bagi pembaca dan pengarang.

Sastrawan berfungsi ganda; mengevokasi keindahan ke dalam kualitas estetis sekaligus menampilkan isi sebagai pergumulan manusia sejagat, juga melahirkan epigon-epigon yang pada gilirannya menampilkan arus sosial yang melahirkan genre, angkatan dan madzhab.

Secara sosiologis pengarang, karya sastra, semestaan yang diacu, dan pembaca, merupakan unit-unit fakta sosial yang saling berkaitan sebagai kualita interpendensi.

Dalam era kontemporer, munculnya teori resepsi menggeser pososi pengarang sebagai subjekl kreator menjadi objek, pembaca yang semula dianggap sebagai objek, kini menjadi subjek kreator baru. Pengarang yang pada masa kejayaan Romantik dianggap Dewa pencipta dunia rekaan baru, kini eksistensinya telah dianggap mati. Kematian pengarang ditandai dengan proses penyelesaian kegiatan menulisnya, begitu tulisan rampung, pengarang tidak dapat melakukan apapun terhadap karyanya yang menyebar dalam dunia pembaca. Berarti bermakna atau tidak sebuah karya, kini tergantung pada pembaca yang berusaha memahami, menelusuri makna-makna yang dikandungnya, dan melakukan penulisan baru dengan pembacaannya, disinilah maksud dari kematian pengarang, dan kehidupan baru pembaca. Pembaca menjadi sentral penemuan makna-makna baru, horison harapan baru, dan penciptaan dunia baru.

 

c. Sastra dan Masyarakat

Masyarakat sastra ditandai berbagai kepentingan; a) citra estetis b) ilmu pengetahuan c) manfaat pragmatis d) nilai ekonomis dan nilai dokumentasi. Sastra memiliki tujuan-tujuan tertentu sesuai dengan kecendrungan masyarakat yang melatarbelakanginya, terjadi tarik menarik anatara keduanya, silang sengketa antara hakikat dengan manfaat, visi, misi, kualitas emosiaonal dan intelektual, sastra sebagai proyek individu dan transindividual. Hubungan antara sastra dengan masyarakat pada tingkat teoritis bisa dilihat melalui proposisi orang lain pada uimumnya (Meadean) dan kaca cermin (Cooleyan). Unsur masyarakat; individu, sifat (karakterologi), peristiwa/kejadian, latar, interaksi, sedang unsur sastra; tokoh-tokoh, sifat (karakterisasi), peristiwa/kejadian, latar, bahasa (lisan/tulisan), plot dan sudut pandang, yang tidak terkandung dalam masyarakat adalah plot dan sudut pandang/fokalisasi.

Analisis peranan dalam karya sastra memiliki lima kemungkinan makna; a) berbeda dengan tokoh-tokoh, sebagai status, peranan mereupakan dimensi dinamis b) sebagai dimensi dinamis peranan berhubungan langsung dengan karakterisasi/penokohan c) sebagai karakterisasi, maka peranan akan berhubungan dengan sudut pandang d) melalui sudut pandanglah akan dihasilkan plot, pandangan dunia aspeks estetis lainnya e) aspek-aspek kultural lainnya dapat dilacak melalui peranan tersebut. Sastra modern lebih kompleks sebab menampilkan kehidupan manusia dari berbagai segi, yang pada gilirannya dapat dipecahkan dengan memanfaatkan berbagai cara. Keuntungan yang diperolah melalui status peranan dan fokalisasi; a) penelitian diperoleh melalui latar belakang sosiologi/status peranan, tetapi dalam rangka estetika karya sastra (fokalisasi) b) karya sastra tidak dianggap sebagai objek statis melainkan dinamis c) analisis karya sastra pada gilirannya akan menjadi studi kultural bukan semata-mata fiksional.

Sumbangan terpenting karya sastra adalah kemampuannya mentranformasikan sekaligus mengabadikan kejadian-kejadian dalam kehidupan sehari-hari, sebagai interaksi sosial, ke dalam peristiwa-peristiwa sastra, sebagai pelaku fiksional dan mengubah kualitas pragmatis sedemikian rupa ke dalam perinstiwa-peristiwa rekaan sebagai kualitas estetis, serta kemampuannya menyingkap dimensi-dimensi yang tersembunyi baik disengaja atau tidak.

 

d. Cara melakukan Penelitian

Dalam melakukan penelitian atau kritik terhadap karya sastra, sebaiknya menggunakan pendekatan multidisiplin ilmu bukan monodisiplin ilmu, agar menghasilkan sesuatu yang lebih bermakna. Dalam bahasa poststrukturalis, pembaca tidak sekedar menjadi konsumen tapi menjadi produsen sekaligus dengan cara menulis yang berkualitas. Cara menggunakan multidisiplin ilmi dalam penelitian adalah; a) menentukan terlebih dahulu disiplin ilmu utama yang akan digunakan sebagai payung penyangga b) tiap-tiap ilmu dimungkinkan untuk menggunakan teori dan metodenya masing-masing. Manfaatnya; a) bagi subyek peneliti memperluas wawasan pemahaman mengenai mengenai sastra secara keseluruhan b) bagi karya sastra yang diteliti akamn melahirkan dimensi-dimensi yang baru secara terus menerus c) bagi metode dan teori akan memungkin lahirnya metode dan teori baru.

Proses penelitian kualitatif menurut Denzin dan Lincoln ada lima tahapan; a) penetapan peneliti sebagai subyek multikultural, dengan etika dan politik penelitian b) penetapan paradigma dan sudut pandang interpretatif c) penetapan strategi penelitian d)penetapan pengumpulan data dan analisis data secara empiris d) penetapan cara-cara menginterpretasi- kan dan menyajikan hasil penelitian. Atas penjelasan ini Bogdan dan Biklen memberikan lima ciri metode kualitatif; a) setting penelitian yang bersifat alamiah sebagai sumber data langsung b) penelitian bersifat diskriptif, data berupa kata-kata dan gambar, bukan angka-angka c) lebih mengutamakan proses dari hasil luaran,  sebab hubungan bagian yang sedang diteliti jauh lebih jelas apabila diamati dalam proses penelitian d) makna merupakan tujuan utama e) penelitian cendrung bersifat induktif.

 

Modernisme dan Postmoderninsme

Ciri-ciri modernisme; a)industrialisasi b)kontrol/kekuasaan  c)kapitalisme d)modernisme, sedang keterputusan postmodernisme darinya dalam lima ciri; a) pengetahuan tidak bersifat universal, transeden dan metavisis, tapi spesifik dalam ruang waktu tertentu b) pengetahuan bersifat perspektifal, tidak ada pengetahuan total yang mampu memahami obyektifitas dunia ini c) pengetahuan bukanlah cara-cara pemahaman yang murni dan netral, pengetahuan terlibat dalam rezim kekuasaan d) dalam pemahaman yang dipentingkan bukan kedalaman, tapi diskripsi dan analisis permukaan dengan kondisi historis dan material tertentu d) pengetahuan bukanlah evolusi historis melainkan diskontinu, keterputusan epistimologis sepanjang waktu. Postmodernisme membedakan tiga realitas; realitas obyektif, realitas virtual (dianggap seolah-olah nyata dari kenyataan yang sesungguhnya, kenyataan dalam dunia TV) dan realitas sosial.

Dua alasan kuat bahwa postmodernisme dan postrukturalisme merupakan kelanjutan dari modernisme dan strukturalisme adalah pertama ciri-ciri penting yang ada dalam postmodernisme dan postrukturalisme hakekatnya sudah ada dalam modernisme dan strukturalisme, tapi postmodernisme dan postrukturalisme berusaha menyempurnakannya, meninggalkan ekses-ekses negatifnya dan mengungkapkan yang tersembunyi, terabaikan dan terpinggirkan, kedua; sebagain tokoh postmodernisme dan postrukturalisme juga tokoh strukturalisme dan modernisme.

 

Teori-Teori dalam Studi Kultural

Adalah poststrukturalisme yang memberi ruang pada karya sastra lewat berbagai macam metode pendekatan; semiotika, resepsi, interteks, feminis, postkolonial dan dekontruksi Derridean. Di samping beberapa pendekatan di atas, berikut akan dijelaskan teori-teori lainnya seperti; teori Marxis, Hegemoni, dan interaksi simbolik.

Konsep-konsep Marxis telah dimanfaatkan hampir pada semua bidang ilmu, khusunya humaniora. Marxisme memiliki konsep dasar  bahwa superstruktur ideologis, dalam hal ini karya sastra seolah-olah ditentukan oleh infrastruktur materialnya yakni masyarakat, jadi karya sastra bersifat historis. Jadi fungsi konsep Marxis terhadap karya sastra menunjukkan relevansi posisi karya sastra terhadap masyarakat. Seorang harus melibatkan diri secara langsung sehingga ia dapat mengetahui secara detil tentang masyarakat yang hendak dilukiskannya. Kelompok Marxis terbagi dalam; a) marxis ortodok yang menerima doktrin Karl Max sebagai kebenaran mutlak tokoh Georg Lukacs b) New Marxis (strukturalis; W Adorno, kontemporer; Mikhail Bakhtin, Gramsci) menganggap pandangan2 Marx sebagai sumber inspirasi. Warisan kelompok Marxis yang paling berharga adalah ideologi, menurut Eagleton, teks merupakan ideologi sebab teks tidak dimaksudkan untuk mencerminkan sejarah secara keseluruhan, melainkan untuk menghasilkan efek tertentu. Arti ideologi: a) ilmu pengetahuan mengenai cita-cita b) cara berpikir seseorang atau kelompok c) paham yang dikaitkan dengan kelompok tertentu. Perkembangan marxis di Indonesia dipengaruhi citra PKI yang terlanjur menjadi citra buruk bagi bangsa, sehingga seluruh nilai-nilai yang dibawanya ikut dibumi hanguskan. LEKRA suatu lembaga sastrawan untuk partai komunis mencetuskan ide karya sastra untuk masyarakat, muncul Manifest kebudayaan untuk menandinginya dengan semboyan humanisme universal. Pernyataan Marx yang berkaitan dengan sastra tahun 1840 “keberadaan sosial menentukan keberadaan manusianya,” mendasar seluruh kritik sastra. Studi kultural Inggris mengadopsi konsep Marxis melalui dua ciri; a. asumsi bahwa masyarakat kapitalis terbagi secara tdak seimbang atas kelas, gender dan etnis b. gagasan materialis tentang sejarah.

Hegemoni dari akar kata hegeisthai (Yunani) berarti memimpin, kepemimpinan, kekuasaan yang melebihi kekuasaan lainnya. Bagi Foucolt kekuasaan tidak memiliki asal usul dan tidak bersifat tunggal, sedangkan bagi Gramsci kekuasaan (hegemoni) mengalir ke bawah mengarah pada perjuangan kaum tertindas untuk menentang kekuasaan tunggal. Dengan menulis dalam penjara maka gagasan-gagasan Gramsci lebih orisinil sebab dia menulis dari sudut pandang yang tidak terlibat. Salah satu penjelasan teori hegemoni tentang pengaruh globalisasi adalah kesadaran untuk selalu waspada agar tidak terjebak dalam arena permainan yang sengaja disediakan oleh negara dominan, misalnya shoping centre, mall dan hiburan lain yang memanfaatkan teknologi canggih, tidak menutup kemungkinan di dalamnya terkandung maksud-maksud tersembunyi politik hegemoni (hal:186). Di samping itu, hegemoni wacana harus lebih diwaspadai menutur visi kontemporer sebab keseluruhan bentuk fisik dapat diubah ke dalam wacana, sebagai bentuk yang diceritakan. Contoh Hegemoni Barat pasca klonial yang dilihat dari teori postkolonial menunjukkan bahwa wacara Barat dan non-Barat, Barat dan Pribumi, negara maju dan negara berkembang, negara industri dan negara agraris dicekokkan sebagai bentuk hegemoni pertam terhadap yang kedua. Menurut Gramsci hegemoni dapat dicapai melalui kombinasi antara paksaan dan kerelaan. Menurutnya ada tiga bentuk gagasan; a) bahasa; sarana utama yang berpengaruh sangat besar b) pendapat umum; tempat dibangun dan melawan ideologi c) foklor; sistem kepercayaan, opini, takhayul yang berpengaruh menopang hegemoni, berfungsi mengingat masyarakat tanpa paksaan. Fungsi teori hegemoni dalam karya sastra adalah penelitian kaitannya dengan relasi-relasi sastra dengan masyarakat dan hubungan pengarang dengan masyarakat. Karya sastra adalah energi melaluinya keseluruhan aspek kultural termanivestasikan.

Ciri-ciri teori interaksi simbolik; a) Realitas tidak berada di luar dunia nyata, realitas diciptakan secara kreatif pada saat bertindak b) manusia mendasarkan pengetahuannya pada dunia nyata yang terbukti berguna; manusia mendifinisikan dunia sosial menurut kegunaannya, dan dalam memahami seorang aktor kita menganalisa apa yang dilakukannya. Empat tahapan teori interaksi simbolik; tahapan impuls ( gerak hati yang menampilkna rangsangan spontan dan kebutuhan untuk melakukannya sesuai rangsangan), tahapan resepsi (tindakan memahami obyek rangsangan sebagai akibat kemampuan aktor dalam memilih dan menolak rangsangan), tahapan manipulasi (tindakan jeda berkenaan dengan objek yang diterima, karena manusia berpikir), tahapan konsumsi (pelaksanaan untuk mengambil tindakan sebagai pemuasan dorongan hati). Melalui bahasa sebagai simbol manusia melakukan interaksi simbolik, hanya dengan interaksi simbolik yang memungkinkan terbentuknya masyarakat. Dampak interaksi simbolik terhadap karya sastra adalah dimanfaatkannya pemahaman dengan memberikan intensitas pada peranan tokoh-tokoh, bukan status. Mead mengiidentifikasikan self dalam I (saya, subjek yang bertindak) terkandung identitas psikologis, nonreflektif, diri dengan faktor-faktor impulsif dan kreatif, dan bertindak, sedang me (aku, diri sebagai objek) terkandung keseluruhan diri sosial, juga terkandung perspektif perbandingan dengan orang lain, dan memberikan pengarahan sesuai harapan dan difinisi masyarakat.. Menurut Ritzer I lebih diprioritaskan karena dalam proses sosial I merupakan sumber masalah baru, I terkandung nilai-nilaiterpenting, perubahan terjadi dalamn kompetensi I,  perwujudan diri yang memungkinkan untuk mengembangkan kepribadian, masyarakat primitif didominaisi me dan masyarakat modern didominasi oleh I. Peranan teori interaksi simbolik adalah meneliti tentang hubungan antarindividu beserta pengalamannya sebagai manusia budaya.

Teori aktor jaringan; jaringan sebagai kunci memahami suatu karya , sekaligus menggeser objek dan entitas lain ke posisi sekunder, mengubah pelaku biasa (tokoh) menjadi pelaku tindakan (actans) sehingga pelaku bukan semata-mata manusia sebagai tokoh melainkan juga benda-benda tak bernyawa lain, tokoh menjadi struktur luar sedang aktans menjadi struktur dalam. Pembaca akan memperoleh pengertian mengenai jaringan bila menempatkan para pelaku menurut kedudukan aktans. Ciri-ciri lain aktor jaringan adalah pertama; menurut Bakhtin konmstruksi dialogios karya sastra tidak bisa dianalisis secara linguistik melainkan translinguistik, kata-kata terpusat pada lokus jama sehingga terjadi dialog atas dialog, wacana atas wacana, bahkan struktur atas struktur, tokoh-tokoh bebas dari dominasi sang kreator, tokoh-tokoh merepresentasikan personalitasnya masing-masing, kedua: perhatian terhadap struktur mikro (aktor individual) dan struktur makro (berhubungan dengan aktor dengan sekala luas; kelompok, masyarakat, dan perusahaan. Perbedaan teks dialogis dan monologis, teks dialogis tidak berusaha mempersatukan kesadaran para tokoh sedang teks monologis memiliki logika tunggal, homogen dan relatif seragam.

Teori resepsi menempatkan pembaca ke posisi sentral, secara umumnya maknanya penerimaan, penyambutan, tanggapan, reaksi dan sikap pembaca terhadap suatu karya sastra, teori resepsi terbagi dua; a) secara sinkronis, penelitian dalam kaitannya pembaca sezaman b) secara diakronis, penelitian terhadap pembaca sepanjang zaman, yang kedua lebih utama karena pertama; perubahan pandangan terhadap karya  sebagai akibat perubahan horison harapan, paradigma dan sudut pandang, kedua; pergeseran penilaian ini menjadi tolok ukur seberapa jauh masyarakat telah berubah. Relevansi teori resepsi; pertama pembalikan fundamendal dari penulis sebagai pencipta pertama ke pembaca sebagai pencipta kedua, kedua pergeseran pemahaman dari pembaca individual ke pembaca transindividual, dari tunggal ke jamak. Tiga konsep yang diintrodusir dari teori resepsi: konkretisasi; relevansi secara bebas ruang-ruang kosong dalam karya sastra, kompetensi pembaca; perangkat konvensi dalam diri pembaca dalam rangka memahami karya sastra, horison harapan; kerangka pemahaman terhadap karya sastra atas dasar pembacaan terdahulu. Keindahan dalam karya sastra menurut teori resepsi bersifat nisbi bukan keindahan abadi, kualitasnya tergantung situasi sosial budaya pembaca, yang memaluinya pembaca dapat menggali dan memahami aktivitas kultural secara berbeda-beda. Menurut Zoetmulder pembaca modern ingin dikejutkan, ingin sesuatu yang sama sekali baru, estetita pertentangan menurut pemahaman Lotman. Tujuh ciri relevansi horison harapan dan peranan sejarah dalam teori resepsi menurut Jauss; a) sejarah sastra dibangun atas dasar pengalaman kesustraan sebelumnya b) pengalaman kesastraan harus bebas dari praduga yang skeptis, seperti kecurigaan terhadap kemampuan karya sastra dalam menghasilkan makna c) jarak antara horison harapan dengan karya sastra menjadi tolok ukur kualitas estetis d) horison harapan selalu membangkitkan pertanyaan, bagaimana manusia kontemporer dapat memahami karya masa lampau, sekaligus menolak diktum filologis, bahwa makna karya sastra ditentukan satu kali untuk selamanya e) kualitas pada saat memahami sebuah karya sastra sekaligus cara membandingkannya dengan karya-karya yang telah dibacanya f) karya sastra tidak dipahami semata-mata cermin atau proses sejarah, melainkan bagaimana ciri-ciri fiksional dan faktual tersebut dijembatani sehingga aspek2 penerimaan dan kesejarahan dapat menampilkan makna baru.

Kerangka teori interteks menurut Kristiva pencetusnya bahwa setiap teks harus dibaca dengan latar belakang teks lain, berarti tidak ada satu tekspun yang dapat dibaca secara mandiri. Agar pemahaman secara intertekstual bisa dicapai maksibal, ada beberapa konsep yang harus diperhatikan menurut strukturalis; recuperation (prinsip penemuan kembali), naturalitation ( prinsip untuk membuat yang semula asing menjadi biasa), motivaution ( prinsip penyesuaian, bahwa teks tidak arbiter atau tidak koheren) vraisamblation (integrasi satu teks dengan teks lainnya, menurut Totorov ada tiga ciri; a) sebagai model hubungan teks tertentu dengan teks lain yang tersebar di masyarakat, yang disebut opini umum b) hubungan teks dengan genre tertentu c) kedok yang menutupi teks itu sendiri, tetapi yang memungkinkannya untuk menghubungkan nya dengan realitas, bukan pada hukum-hukumnya sendiri). Culler mengungkapkan lima cara menghubungkan satu teks dengan teks lainnya; a. teks yang diambil langsung dari dunia nyata b. teks kultural general, teks dari dunia nyata yang tunduk terhadap pola pola kebudayaan tertentu c. teks sebagai konversi genre, sebagai teks artificial literer sehingga terjadi perjanjian anatara penulis dan pembaca d. teks yang dikutip secara implisit dan eksplisit dari genre-genre di atas, dengan menambah intensitas makna dan kualitas otoritasnya e. intertekstualitas secara khusus, dengan mengambil teks sebagai dasar dan titik pijak proses kreatif, misalnya teks sebagai parodi dan ironi. Proses peniruan dalam teori kontemporer sangat berlawanan dengan pandangan tradisional. Peniruan interteks adalah proses identifikasi objek ke dalam level yang lebih tinggi sekaligus karya yang dihasilkan menjadi baru, seolah-olah dilihat untuk pertama kali. Karya tiruan belum tentu lebih rendah, tergantung daru sudut pandang mana melihatnya. Suatu karya asli dalam pengertian kaya yang diciptakan dalam keadaan kosong tanpa referensi dunia lain, hakekatnya tidak ada. Dalam interteks tidak ada makna asli, makna tidak melekat pada objek, semua objek menjadi bermakna sebab makna diperoleh melalui perluasan, pergantian, dan pembaharuan dalam arti seluas-luasnya. Hipogram adalah kata-kata yang terikat dalam kalimat yang secara oragnisaatoris merefleksikan prasyarat matriks kata—kata inti, pengarang secara sadar atau tidak menggunakan hypogram untuk melahirkan matriks atau kata-kata kunci y7ang melahirkan model dan serial variannya. Teori interteks juga berkaitan dengan pastiche; karya yang disusun atas adaptasi dan persamaan2nya dengan masa lampau, bricotage, transformasi material melalui komposisi, juga berkaitan dengan simulasi (Baudrilard) proses penciptaan bentuk-bentuk yang baru, tetapi bentuk aslinya tidak ada, hasilnya disebut simulacrum, juga berkaitan dengan teori dialogis dari Bakhtin bahwa dari orang lain lewat dialog kita bisa memahami sesuatu, bahkan sesuatu yang tersembunyi bisa tersingkap.

Teori feminis dipelopori Virginia Woolf dan Simone de Beuvoir, fase pertama berarti emansipasi yakni perjuangan hak, kedua fase gender yakni perjuangan dalam kaitannya dengan degradsi perempuan sebagai akibat struktur sosio kultural. Teori feminis banyak memperjuangkan gender dalam karakterisasi tokoh-tokohnya dalam sastra.

Teori postkolonial memegang peranan dalam menghilangkan oposisi biner antara barat timur, juga menyingkap belang orientalis yang mengandung ideologi barat, dan menghancurkan mitologi ciptaan barat bahwa timur lemah, inferior, lebih percaya takhayul dan terlalu religius.

Dekonstruksi bisa diartikan pengurangan atau penurunan intensitas bentuk yang sudah tersusun, sebagai bentuk yang sudah baku, dalam teori kontemporer diartikan penghancuran, perlucutan pembongkaran, penolakan dan berbagai istilah dalam kaitannnya dengan penyempurnaan arti semula. Menurut Kristiva dekonstruksi merupaka gabungan antara hakikat destruktif dan konstruktif. Ketidakpastian makna dijelaskan Derrida dalam differ Ence/differ Ance yang berarti membedakan (dengan konotasi spasial) dan menunda (dengan konotasi temporal). Secara genealogis segala sesuatu adalah mungkin. Masa krisis adalah masa untuk membangun kembali menurut Gramsci, maka dekonstruksi harus diikuti dengan konstruksi, sekaligus menggantikannya dengan cara-cara yang baru sehingga memperoleh temuan-temuan yang baru.

 

Tiada Batas Fiksi dan Fakta

Selama ini timbul kesalahpahamanan menyangkut dikotomi fiksi dan fakta sebagaimana kesalahpahaman yang ditimbulkan akibat doktrin Barat bahwa mereka lebih segalanya dari Timur. Untuk mengatasi kesalahpahaman ini, maka perlu kita pahami lewat teori dekonstruksi Derridean, dekonstruksi menghancurkan sekat fiksi dan fakta dengan mendekonstruksi superioritas fakta sebab tidak ada fakta yang sesungguhnya artinya validitas fakta tergantung dari sudut mana melihatnya dan siapa yang melihatnya, berarti fakta bersifat subjektif, dalam sastra fakta dilihat dari sebagaimana penglihatan narator bukan kreator, sebab narator yang menghasilkan keberagaman aspek-aspek kultural, bukan pengarang secara faktual. Bolehlah pengarang disebut sebagai kreator yang mampu menghasilkan karya yang mempuni, tapi proses pemaknaan terhadap karya tergantung para pembaca, yang dalam hal ini terbagi dalam pembaca sezaman dan sepanjang zaman. Lewat proses perubahan waktu, ruang, kultur, dan pemahaman baru, makna karya yang semula dimaksudakan pengarang bisa berbeda  yang dipahami pembaca, disinilah pergeseran pembaca sebagai narator memegang peranan penting, tentu yang dimaksud adalah pembaca kritis, yang melakukan telaah ulang pada bacaan sekaligus menulis ulang karya baru sebagai hasil analisanya.

Dekonstruksi memberi pemahaman baru tentang Kebenaran (K besar), tak ada Kebenaran yang ada kebenaran-kebenaran, kebenaran hanya tersisa sebagai jejak sebab sudah ada kebenaran lain di belakangnya, demikian seterusnya. Fakta dianggap sebagai Kebenaran karena merujuk pada kenyataan yang sesungguhnya, sedang fiksi dianggap kebenaran (dengan k kecil) sebab merujuk pada kebenaran yang mungkin terjadi. Melalui kritik sastra, lantas sastra yang semula hanya dianggap fiksi semata lantas ditelanjangi, diteliti, dianalisa, dan dipahami sehingga kenyataan yang mungkin terjadi ternyata menjadi kenyataan yang sesungguhnya. Ini berkat jasa postrukturalis dan postmodernisme, yang dimanfaatkan studi kultural untuk meneliti karya sastra.

Kenyataan didekonstruksi sebagai bukan semata-mata legitimasi sejarah, sedang rekaan sebagai semata-mata legitimasi sastra, sebab kenyataan dalam sejarah adalah kenyataan yang dipilih sejarawan sebagai kajiannya, sehingga kenyataan tidak dibiarkan berbicara apa adanya. Jadi kenyataan dalam sejarah bersifat subjektif tergantung pada sejarawan yang menulis dalam memilih kenyataan-kenyataan yang ditulisnya. Di sisi lain sastra yang dianggap rekaaan semata-mata, juga mampu melakukan yang sama dengan sejarah dalam mengungkapkan kenyataan, seperti cerita Diponegoro dipuisikan oleh Khairil Anwar dengan muatan yang sama, bahkan kelebihan sastra bisa menceritakan masa yang akan datang, jadi lebih bersifat filosofis.

Dalam menghasilkan sebuah karya sastra; cerpen, drama, dan novel, pengarang memang mengembangkan kemampuan individual, namun dalam mengembangkan karakterisasi tokoh-tokoh, disesuaikan dengan yang ada dalam masyarakat, ini berarti bersifat transindividual. Karya sastra besar seperti Para Priyayi Umar Kayyam, Godlob Danarto dan Saman Ayu Utami, adalah karya-karya yang tetap berpijak pada masyarakat dimana mereka tinggal. Ini mengindikasikan bahwa karya sastra sebagai refleksi dari masyarakat yang melahirkannya. Sudah sewajarnya bila karya sastra tetap berpijak kepada kenyataan.

Memang karya sastra memanfaatkan imajinasi dan kreatifitas dengan perangkat bahasa konotatif, yang merupakan hakikat dari karya. Kebenaran-kebenaran yang dihasilkan secara keseluruhan berasal dari hakikat itu, sebagaimana kebenaran agama dengn keyakinan dan kebenaran pengetahuan dengan penemuan ilmiah. Imajinasi dalam menghasilkan suatu karya tetap berpijak kepada kenyataan yakni kenyataan yang mungkin terjadi. Jadi hakekatnya karya sastra tetap berpijak pada kenyataan. Misalnya cerpen dengan tokoh tanpa kepala, ini sebagai ilustrasi bahwa para pemimpin dalam memimpin rakyatnya tidak menggunakan otak lagi, jadi kepala diidentifikasi sebagai kebijaksanaan. Peranan karya sastra dalam studi kebudayaan, khususnya dalam mengungkap aspek-aspek kebudayaan tidak jauh berbeda dengan disiplin ilmu lain; sosiologi, arkeologi, sejarah, psikologi, dan ilmu bahasa. Relevansi masing-masing tergantung dari tujuan penelitian, obyek yang dikaji, teori dan metode yang digunakan.

Hubungan antara studi kultural, sosiologi dan antropologi sebagai berikut; hubungannya dengan sosiologi saling tumpang tindih karena mempermasalahkan manusia dalam masyarakat, perbedaaannya genesis masyarakat dalam sosiologi sastra adalah sosiologi, sedang genesis masyarakat dalam studi kultural adalah antropologi, sosialogi condong pada masyarakat modern, perkotaan, masyarakat industri, sedang antropologi condong pada mayarakat primitif, masyarakat sederhana, dan kesukuan. Sosiologi masuk ilmu sosial, sedang antropologi pada ilmu humaniora. Semua perbedaan ini berusaha dieliminil oleh studi kultural Ingris dengan seolah-olah menggabungkan antara keduanya sosiologi dan antropologi. Obyek penelitian meliputi; komponen ideal (intelektual dan nilai-nilai kreatif), komponen sosial (konstitusi dan pola-pola prilaku) dan kompenen material (benda-benda artefak yang dihasilkan kebudayaan) dengan menghilangkan sekat pemisah antardisiplin. Sedang dalam sastra dan kebudayaan tidak dibedakan antara sastra tinggi dan kelas dua, budaya tinggi dan budata populer. Segala aktivitas adalah teks sehingga bisa dikaji dan dianalisis sebagaimana membaca teks. Jadi studi kultural berhasil menjalin kembali hubungan antara kebudayaan tinggi dengan kebudayaan populer yang selama ini dilihat secara dikotomis.

 

Wonosari, 28 Januari 2006


* Telaah Ulang terhadap buku Sastra dan Cultural Studies, Representasi Fiksi dan Fakta, Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna, S.U. Pustaka Pelajar Yogyakarta, 2005

Oleh: Penulis Sam | September 1, 2008

Pelatihan Learning For Living (LFL)

“Tuntutlah ilmu dari pangkuan ibu sampai ke liang lahat,” Hadits

Lifelong Education (Pembelajaran seumur hidup)

LFL merupakan lembaga Pelatihan yang berupaya mengembangkan sumber daya manusia agar mampu menaklukkan abad 21, mengasah keterampilan kewirausahaan, menemukan potensi manusia dan mengembangkannya, membentuk kepribadian unggul yang tahan uji dan beramal sholeh, didukung Trainer dan Tim berpengalaman. 15% dari ketuntungan digunakan untuk mensubsidi Pelatihan Gratis bagi panti asuhan, anak yatim piatu dan fakir miskin.

Visi

Membentuk Generasi Visioner yang mau Belajar Otodidak seumur hidup, Mandiri, dan Beriman sempurna.

Misi

1. Membuka cakrawala baru bahwa kesuksesan mampu diraih dengan kemauan yang kuat untuk Belajar Otodidak seumur hidup.

2. Mengerti jenis Kecerdasan Berganda dan Gaya Belajar yang dimiliki, sehingga mampu mengembangkannya sesuai dengan kepribadian masing-masing untuk memudahkan dalam memilih profesi yang cocok.

3. Mampu bekerja sama dengan siapa saja, sehingga dapat hidup mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

4. Memiliki keimanan yang kuat sebagai benteng menghadapi kompleksitas zaman dan akselerasi perubahan.

5. Melakukan Perubahan Pendidikan di Indonesia dengan perubahan yang signifikan dalam diri pelajar dan mahasiswa, sehingga mereka berhasil dalam hidupnya.

Jenis Pelatihan LFL dan Outputnya:

I. Pelatihan Belajar Otodidak

1. Mengerti Belajar Bagaimana Belajar (BBB), sebab cara belajar sama pentingnya dengan belajar.

2. Belajar bukan sekadar untuk ujian melainkan guna menjalani kehidupan yang lebih baik

3. Meruntuhkan penghalang mental untuk berhasil dalam belajar di sekolah/pesantren

4. Meyakini setiap orang merupakan makhluk terbaik ciptaan Allah yang cerdas, ini dibuktikan dengan Tes Kecerdasan Berganda yang telah dipersiapkan.

5. Mampu belajar mandiri sesuai dengan gaya masing-masing anak yang memang unik dan khas, dibantu dengan Tes Mengetahui Gaya Belajar.

6. Memiliki semangat belajar seumur hidup

II. Pelatihan Wirausaha Islami

1. Memahami nilai-nilai Islam dalam kewirausahaan

2. Mengerti dunia entrepreneur dan makroprenuer

3. Motivasi untuk bekerja apa saja asal halal

4. Menguasai skill kewirausahaan

5. Sukses menekuni usaha secara Islami

III. Pelatihan Mukmin Sejati

1. Memahami Islam secara spiritual dan sosial

2. Membuang sifat-sifat buruk dan menggantinya dengan nilai-nilai Islam

3. Meneladani Nabi Muhammad dalam kehidupan sehari-hari

4. Menjadi Mukmin Sejati

5. Amal Sholeh sebagai pendukung kesuksesan

Segmentasi: Pelajar, Santri, Mahasiswa dan Masyarakat Umum

Pengalaman-Pengalaman:

1. Melakukan Pelatihan di tiga Pondok Pesantren di Sumatera Selatan, sekolah Mts/MA (Pondok Pesantren Aulia Cendikia Palembang, Pondok Pesantren Inayatullah Gasing Banyuasin, Pondok Pesantren Raudhatul Qur’an Banyuasin Sumsel)

2. Pelatihan Guru-guru TK Raudhatul Qur’an Banyuasin

3. Pondok Pesantren Syaichona Kholil Batu Besaung Samarinda (sekolah SMP/SMA).

4. MTs Normal Islam dengan 150 peserta di Samarinda Kalimantan Timur

5. Mahasiswa Institut Dirasah Islamiyah Al-Amien (IDIA) Prenduan Madura Jatim

6. Panti Asuhan Raksa Putra Sindang Barang Bogor Jawa Barat

7. Pondok Pesantren Al-Ma’sum (SMP/SMA Terpadu) Cianjur Jabar

8. Pelatihan Pelajar, Orang Tua dan Guru di SD Islam Yasiru Kebayoran Lama Jakarta

9. Pelatihan Mahasiswa dan Guru di Cisarua Bogor

10. Pelatihan Pelajar SMP Terpadu dan SMK serta guru di Cikampek Jabar

11. Pelatihan Santri Pondok Pesantren Nur’aliyah Cibubur Jawa Barat

Berhubung sedang dalam taraf Promosi, maka biaya murah meriah;

1. Membayar Trainer seikhlasnya

2. Setiap peserta membayar @Rp. 15.000,-; 3 jam (1 jenis Pelatihan), Games Pelatihan, foto copy Tes Kecerdasan dan Gaya Belajar, dan Power Point.

3. Setiap peserta membayar @Rp. 25.000,-; @Modul Pelatihan LFL, 4 jam (2 jenis Pelatihan), Games, Power point/LCD, Video Shooting dan 2 CD dokumentasi.

4. Setiap peserta membayar @Rp. 50.000,- @Buku Pelatihan LFL, 6 jam (3 jenis Pelatihan), SNACK, Power Point/LCD, Video Shooting + Editing + 10 CD dokumentasi.

PROFIL TRAINER

Ahmad Zamhari Hasan, 10-11-1974, aktif membaca dan menulis sejak kelas III pesantren TMI Al-Amien Madura atau setingkat kelas III SMP/MTs. Selepas mondok lebih banyak Belajar Otodidak (BO) tentang; Pendidikan, sastra filsafat, Islam, dan politik.

Karya tulis yang dihasilkan adalah novel : Bidadari Posmodern, Berniaga Dengan Iman, Kiat-Kiat Agamis Menjadi Saudagar Sukses (keduanya sudah terbit), novel Pengabdi Kemulyaan Cinta Sejati, tiga ontologi puisi; Menjangkau Tuhan, Aceh Tersenyum Bahagia, dan SMS TUHAN, satu kumpulan cerpen; Setitik Harapan 17 judul, sedang karya terbatu yakni “BELAJAR OTODIDAK SAMPAI MATI, Pembelajaran Seumur Hidup Sebagai Kebutuhan Mendesak Saat Ini!” yang merupakan edisi revisi dari buku “Mau Kuliah Alternatif? BELAJAR OTODIDAK, Dong!” Kha Tulis Tiwa Press Jakarta.

Pengalaman mengajar; Pondok Pesantren TMI Al-Amien Madura 2 tahun, Pondok Pesantren Daarul Ulum Bogor 1 tahun setengah, Pondok Pesantren Daarul Fattah Pecalongan Bondowoso, TPA dan MDA Wonosari Bondowoso 6 tahun. (08176956688)

Kantor Sekretariat; Jl. Margonda No.58 Terminal Depok (Yayasan Bina Insan Mandiri).

Blog ; www.sampenulis.wordpress.com,

Email; sam_penulis@yahoo.com, otodidaktor@yahoo.co.id

Oleh: Penulis Sam | September 1, 2008

Menuju SD Unggulan Dengan Bayaran Standar

Menuju SD Unggulan Dengan Bayaran Standar

Ahmad Zamhari Hasan*

 

Pendahuluan

            Untuk menjadi Sekolah Dasar unggulan, SD yang ada perlu merubah system yang ada dengan menerapkan metode-metode terbaru yang terbukti efektif dalam rangka menghasilkan lulusan yang berkualitas dengan kelulusan 100%. Tulisan ini mencoba merumuskan sebuah tawaran system baru yang cocok bagi SD Islam.

Visi dan Misi

Visi

Mencetak lulusan SD yang cerdas, pintar, kreatif dan berkepribadian yang baik, sehingga mampu berprestasi dan berhasil di tingkat lanjutan.

Misi

1.      Menjadikan pembelajaran sebagai kegiatan menyenangkan seumur hidup

2.      Membimbig setiap anak SD Islam untuk mampu mengembangkan kecerdasan dan kreativitas

3.      Menjadikan SD Islam sebagai sekolah unggulan dengan bayaran standar, malah gratis untuk anak yatim/piatu atau miskin.

4.      Mengelola SD Islam secara profesional

5.      Saling Bekerja sama antara Yayasan, guru, orang tua, dan masyarakat demi keberhasilan anak-anak SD Islamuntuk lulus 100%.

Kurikulum Pendidikan

   Menurut Jeanete Vos, Kurikulum Terpadu sangat cocok dengan zaman sekarang; pertama, kurikulum perkembangan pribadi, meliputi rasa bangga diri dan pembentukan keyakninan, kedua, kurikulum keterampilan hidup, meliputi pemecahan masalah kreatif dan manajemen diri, ketiga, kurikulum belajar-untuk-belajar dan belajar-untuk-berpikir, belajar bisa dilakukan dengan menyenangkan seumur hidup, kerikulum isi, pada umumnya dengan tema-tema terpadu, saya mengusulkan ditambah Kurikulum Keislaman.

Cara mewujudkan hal itu dalam Kurikulum SD Islam ialah;

1.      Setiap mata pelajaran diusahakan memiliki nilai tambah dalam pembentukan kepribadian setiap pelajar. Matematika; anak bisa menghitung kebaikan atau kesalahan yang dilakukan dalam satu hari, Bahasa Indonesia; anak-anak mampu bercakap-cakap dengan bahasa yang santun dengan memegang Tata Bahasa Indonesia sederhana, Olah raga; anak-anak berolah raga dengan pakaian yang sopan.

2.      Setiap pelajaran menimbulkan rasa bangga pada diri pelajar untuk menumbuhkan keyakinan. Matematika; membuat anak-anak yakin pada kebenaran berhitung yang dilakukan dengan metode dan rumus yang tepat,  bahasa Indonesia; anak-anak mampu menulis puisi dan cerita sederhana yang membuat mereka yakin bisa menulis.

3.      Setiap pelajaran diupayakan mampu membuat setiap pelajar bisa memecahkan masalah sederhana. IPS membuat anak-anak mampu memahami keadaan sekitar dan sejarah bangsanya, sehingga mereka paham bahwa untuk berbuat sesuatu pada Negara, mereka harus rajin belajar agar sukses. IPA membuat anak-anak memahami hukum alam sebagai Sunnah Allah, sehingga membuat mereka mau menjalankan shalat secara sukarela.

4.      Setiap anak dituntut memahami Gaya Belajar masing-masing dengan dibimbing guru yang telah memahami mereka terlebih dahulu. Setiap guru tidak boleh menyamaratakan setiap pelajar, sebab mereka terbagi dalam Pelajar Visual, Auditori dan Kinestetik, yang memiliki kebiasaan, kecendrungan dan minat berbeda.

5.      Setiap guru harus mampu menghargai kemampuan anak, sekecil apa pun prestasi yang dicapai. Puji mereka ketika berhasil, beri hukuman yang mengandung pendidikan ketika melanggar atau nakal, contah; membaca buku sambil berdiri.

6.      Kurikulum isi yang terdiri dari beberapa pelajaran yang ditentukan Diknas dan Yayasan Pendidikan harus saling mengisi dan terpadu, artinya setiap anak dibimbing guru untuk sedikit demi sedikit agar memahami kaitan antar semua mata pelajaran. Tekankan bahwa pelajaran sekolah sangat penting bagi anak-anak agar berhasil ketika dewasa, bahkan melebihi orang tua dan guru mereka.

7.      Memberikan insentif pada guru yang paling rajin atau datang tepat waktu dan mencapai target kelulusan 100%.

8.      Menambah jam sekolah sampai pukul 14.00 WIB dengan mengadakan kegiatan-kegiatan yang menarik, seperti; les musik atau bernyanyi, les menulis, les menggambar, les pidato, dan mendidik anak-anak yang tertinggal dari teman-temannya.

9.      Anak-anak shalat dhuha dan dhuhur di sekolah setiap hari, mampu memahami dan menerapkan rukun Islam (kecuali haji) bagi pelajar kelas IV-VI. Pelajaran keislaman diarahkan pada praktik bukan teori.

Ekstra Kurikuler

            SD Islam harus berupaya menyusun kegiatan Ekstra Kurikuler yang mendukung kegiatan Intra Kurikuler. Kegiatan Ekstra Kurikuler yang bisa dilakukan ialah;

1.      Latihan Pramuka seminggu sekali dengan tujuan; melatih kemampuan fisik, menumbuhkan rasa percaya diri dan bangga pada kemampuan yang dimiliki, serta sosialisasi antar teman.

2.      Upacara setiap Senin; merupakan sarana anak menampilkan diri. Saya mengusulkan biar anak-anak yang melaksanakan semua; mengatur barisan, pimpinan upacara dan tugas-tugas lainnya, dengan melatih terlebih dahulu anak-anak kelas VI untuk mampu melakukannya. Guru hanya mengawasi

3.      Panggung kreativitas setiap bulan sekali; anak-anak tampil membacakan puisi, cerita, humor dan karya mereka di depan umum, kemampuan pidato sederhana, dan lomba cerdas cermat.

4.      Tembok kreativitas harus diisi setiap pelajar dan mengganti isinya setiap bulan sekali, serta mendokumentasikan tulisan lama. 3 bulan sekali, tampilkan tulisan-tulisan terbaik dan memberikan penghargaan pada anak yang paling sering menulis.

5.      Mengikuti berbagai macam perlombaan di luar sekolah

6.      Memberikan insentif pada guru yang paling aktif dalam kegiatan Ekstra Kurikuler

Yayasan Sebagai Penasihat

            Selama ini ada sebagian sekolah yang mana antara Yayasan dengan Lembaga Pendidikan yang dibawah naungannya tidak saling akur, malah saling menyalahkan. Tentu hal ini tidak mungkin terjadi di SD Islam. Untuk itu, Yayasan lebih tepat bertindak sebagai penasehat yang memberikan masukan demi kebaikan lembaga pendidikan yang berada di bawah naungannya.

            Setiap kepala sekolah bertanggung jawab sepenuhnya pada pengelolaan sekolah dengan berusaha mendengarkan secara seksama nasihat dari Yayasan yang disampaikan dengan bijaksana. Artinya maju mundurnya sekolah ada di bawah tanggung jawab kepala sekolah, sedang pemenuhan kesejahteraan guru atau pegawai, kelengkapan alat, dan fasilitas yang memadai menjadi tanggung jawab yayasan.

            Insya Allah, dengan dua langkah di atas, keduanya saling mengisi demi kemajuan sekolah. Mustahil sebuah lembaga pendidikan maju, jika Yayasan bergerak sendiri dan Kepala sekolah bergerak sendiri seenaknya, hal ini berlaku sama untuk dewan guru. Tapi, jika bersatu dan saling mengisi, tentu memperkuat kekuatan. Di samping itu, manajeman terbaru menyebutkan bahwa perbedaan atasan bawahan sudah tidak umum lagi, yang cocok ialah partner kerja. Yayasan partner kerja kepala sekolah, kepala sekolah partner kerja para guru atau pegawai. Mereka semua menyatu seperti lingkaran.

Beberapa Langkah Penting

            Untuk menjadi sekolah unggulan, perlu beberapa langkah penting;

1.      Memiliki sumber dana yang memadai, baik dari iuran pelajar, bantuan Diknas, BEKERJA SAMA DENGAN PERUSAHAAN ATAU PENGUSAHA dan Yayasan mengelola bisnis untuk mendukung kemajuan lembaga pendidikan. Supaya iuran pelajar tidak terlalu mahal, maka Yayasan perlu berbisnis yang hasilnya separuh diberikan pada sekolah, sedang separuhnya dinikmati pihak Yayasan. Untuk melakukan hal ini, perlu keikhlasan dan ketulusan demi kemajuan pendidikan.

2.      Setiap orang yang terlibat dalam pendidikan di SD Islam; tidak boleh mengatakan anak bodoh, Nyeletuk dalam hati yang mengutuk pelajar, dan setelah menyangsi anak sangat keras, sehari kemudian diberi pengertian.

3.      Menghidupkan Kreativitas setiap pelajar, minimal seumur hidup setiap pelajar menghasilkan 3 karya.

4.      Meluluskan seluruh siswa atau lulus 100%. Untuk mengatasi penurunan jumlah siswa setiap kelas, perlu langkah-langkah; mendatangi keluarga yang anaknya berhenti atau pindah, melakukan kegiatan pembelajaran yang menyenangkan, pertemuan rutin setiap bulan sekali dengan orang tua para pelajar.

5.      Kesejahteraan guru ditingkatkan dan memberikan insentif pada guru-guru yang berprestasi

6.      Komunikasi yang baik dengan orang tua, perlu ditekankan; pada saat sekarang, jika ingin setiap anak sukses, maka 50% peran guru dan 50% peran orang tua, mereka harus saling berkomunikasi, memberi saran dan saling mengisi.

7.      Setiap keluhan/kritik menjadi bahan introspeksi diri, jika kritikan benar lakukan perbaikan, jika kritikan salah, maka bersabar dan tersenyumlah.

8.      Memiliki guru BP yang berperan aktif menangani anak-anak bermasalah dan mengalami kesulitan belajar

9.      Membimbing pelajar supaya; belajar 10 menit setelah pulang sekolah dan bangun tidur, mematikan televisi dari Magrib ke Isya’ dengan mengisinya untuk mengaji atau belajar, belajar setiap hari di rumah selama 1 jam (setelah Isya’ atau shalat Subuh). Perlu bekerja sama dengan orang tua.

10.  Menulsi kata-kata menarik di sekitar dinding sekolah yang dapat merangsang pelajar untuk berhasil, contoh;

KESUKSESAN AKAN DATANG SETELAH KERJA KERAS DAN CERDAS

JIKA ANDA INGIN MENJADI SISWA TELADAN, MAKA HARUS RAJIN BERLAJAR DAN MENJADI ANAK BAIK

KEMALASAN PANGKAL KEGAGALAN DAN KEMISKINAN

ALLAH MENCIPTAKAN MANUSIA DENGAN SEBAIK-BAIK CIPTAAN

SETIAP ANAK CERDAS DAN PINTAR, BUKTIKAN SENDIRI!

UNTUK MENDAPATKAN BAROKAH GURU, SETIAP PELAJAR HARUS MENGHORMATI MEREKA

CINTAI SEMUA PELAJARAN DAN GURU, BELAJAR JADI MUDAH

BELAJAR SUNGGUH ASYIK, LHO!

SAYA MENYESAL JIKA TIDAK MASUK SEKOLAH WALAU HANYA SEHARI

Lifelong Education (Belajar seumur hidup)

Learning For Living (Belajar untuk hidup)

INGAT! INGAT! INGAT!  

BELAJAR SENDIRI 1 JAM TIAP HARI DI RUMAH,

MEMBACA BUKU 10 MENIT SEPULANG SEKOLAH/BANGUN TIDUR

MATIKAN TELEVISI DARI MAGRIB KE ISYA’; MENGAJI ATAU BELAJAR

Kesimpulan

            Tulisan ini dibuat karena kegelisahan penulis terhadap mahalnya biaya sekolah dengan kualitas minim. Maka diharapkan SD Islam memberikan teladan sebagai Sekolah Unggulan dengan Bayaran Standar, jika bisa Murah semurahnya, bahkan gratis bagi anak miskin atau yatim/piatu. Tugas pendidikan ialah mencetak Sumber Daya Manusia berkualitas demi kesuksesan di dunia dan akhirat. Semoga pihak SD Islam mampu menerapkan apa yang ada di tulisan ini dan berhasil menjadi Sekolah Unggulan pada masa mendatang. Amien!

Depok, 30 Agustus 2008

 

* Penulis Buku Berniaga Dengan Iman, Kiat-Kiat Agamis Menjadi Saudagar Sukses Novel; Bidadari Posmodern, buku “BELAJAR OTODIDAK SAMPAI MATI, Pembelajaran Seumur Hidup Sebagai Kebutuhan Mendesak Saat Ini!” (belum terbit) yang merupakan edisi revisi dari buku “Mau Kuliah Alternatif? BELAJAR OTODIDAK, Dong!”  2007, Ka Tulis Tiwa Press Jakarta, yang bisa Anda beli langsung pada penulis, hubungi (08176956688) Segera terbit Learning For Living (LFL); 3 LANGKAH SEDERHANA MENUJU KESUKSESAN. Kini menjadi Trainer Pelatihan Learning For Living (LFL) untuk Pelajar, Mahasiswa dan Umum tentang Belajar Otodidak, Wira Usaha Islam dan Mukmin Sejati. Blog  ; www. sampenulis.wordpress.com,Email; sam_penulis@yahoo.com, otodidaktor@yahoo.co.id

 

 

Oleh: Penulis Sam | September 1, 2008

Promo Pelatihan LFL Seikhlasnya

 

Untuk Mengisi Bulan Romadhan dan setelahnya, Ayo Ikuti Pelatihan Mukmin Sejati!

Manfaat Mengikuti Pelatihan;

1.      Memahami Islam secara spiritual dan sosial

2.      Membuang sifat-sifat buruk dan menggantinya dengan nilai-nilai Islam

3.      Meneladani Nabi Muhammad dalam kehidupan sehari-hari

4.      Menjadi Mukmin Sejati

5.      Amal Sholeh sebagai pendukung kesuksesan

 

Atau jika ingin Cerdas dan dapat Belajar Otodidak, dengan manfaat:

1.      Mengerti  Belajar Bagaimana Belajar (BBB), sebab cara belajar sama pentingnya dengan belajar.

2.      Belajar bukan sekadar untuk ujian melainkan guna menjalani kehidupan yang lebih baik

3.      Meruntuhkan penghalang mental untuk berhasil dalam belajar di sekolah/pesantren

4.      Meyakini setiap orang merupakan makhluk terbaik ciptaan Allah yang cerdas, ini dibuktikan dengan Tes Kecerdasan Berganda yang telah dipersiapkan.

5.      Mampu belajar mandiri sesuai dengan gaya masing-masing anak yang memang unik dan khas, dibantu dengan Tes Mengetahui Gaya Belajar.

6.      Memiliki semangat belajar seumur hidup

 

Pelatihan dilakukan di Sekolahmu atau Kampusmu, undang aja Trainer LFL (Learning For Living) berikut ini lewat No. Hp. 08176956688 dengan bayaran seikhlasnya:

 

Ahmad Zamhari Hasan, 10-11-1974, aktif membaca dan menulis sejak kelas III pesantren TMI Al-Amien Madura atau setingkat kelas III SMP/MTs. Selepas mondok 8 tahun lebih banyak  Belajar Otodidak (BO) tentang; Islam, Pendidikan, sastra filsafat, dan politik.

Karya  tulis yang dihasilkan adalah novel : Bidadari Posmodern, Berniaga Dengan Iman, Kiat-Kiat Agamis Menjadi Saudagar Sukses (keduanya sudah terbit), novel Pengabdi Kemulyaan Cinta Sejati, tiga ontologi puisi; Menjangkau Tuhan, Aceh Tersenyum Bahagia, dan SMS TUHAN, satu kumpulan cerpen; Setitik Harapan 17 judul, sedang karya terbatu yakni “BELAJAR OTODIDAK SAMPAI MATI, Pembelajaran Seumur Hidup Sebagai Kebutuhan Mendesak Saat Ini!” yang merupakan edisi revisi dari buku “Mau Kuliah Alternatif? BELAJAR OTODIDAK, Dong!” Kha Tulis Tiwa Press Jakarta, segera terbit buku Pelatihan; Learning For Living; 3 Langah Sederhana Menuju Kesuksesan Dunia dan Akhirat (08176956688)

Blog  ; www.sampenulis.wordpress.com,

Email; sam_penulis@yahoo.com, otodidaktor@yahoo.co.id

 

 

 

 

Oleh: Penulis Sam | September 1, 2008

Pelatihan LFL

 

Untuk Mengisi Bulan Romadhan dan setelahnya, Ayo Ikuti Pelatihan Mukmin Sejati!

Manfaat Mengikuti Pelatihan;

1.      Memahami Islam secara spiritual dan sosial

2.      Membuang sifat-sifat buruk dan menggantinya dengan nilai-nilai Islam

3.      Meneladani Nabi Muhammad dalam kehidupan sehari-hari

4.      Menjadi Mukmin Sejati

5.      Amal Sholeh sebagai pendukung kesuksesan

 

Atau jika ingin Cerdas dan dapat Belajar Otodidak, dengan manfaat:

1.      Mengerti  Belajar Bagaimana Belajar (BBB), sebab cara belajar sama pentingnya dengan belajar.

2.      Belajar bukan sekadar untuk ujian melainkan guna menjalani kehidupan yang lebih baik

3.      Meruntuhkan penghalang mental untuk berhasil dalam belajar di sekolah/pesantren

4.      Meyakini setiap orang merupakan makhluk terbaik ciptaan Allah yang cerdas, ini dibuktikan dengan Tes Kecerdasan Berganda yang telah dipersiapkan.

5.      Mampu belajar mandiri sesuai dengan gaya masing-masing anak yang memang unik dan khas, dibantu dengan Tes Mengetahui Gaya Belajar.

6.      Memiliki semangat belajar seumur hidup

 

Pelatihan dilakukan di Sekolahmu atau Kampusmu, undang aja Trainer LFL (Learning For Living) berikut ini lewat No. Hp. 08176956688 dengan bayaran seikhlasnya:

 

Ahmad Zamhari Hasan, 10-11-1974, aktif membaca dan menulis sejak kelas III pesantren TMI Al-Amien Madura atau setingkat kelas III SMP/MTs. Selepas mondok 8 tahun lebih banyak  Belajar Otodidak (BO) tentang; Islam, Pendidikan, sastra filsafat, dan politik.

Karya  tulis yang dihasilkan adalah novel : Bidadari Posmodern, Berniaga Dengan Iman, Kiat-Kiat Agamis Menjadi Saudagar Sukses (keduanya sudah terbit), novel Pengabdi Kemulyaan Cinta Sejati, tiga ontologi puisi; Menjangkau Tuhan, Aceh Tersenyum Bahagia, dan SMS TUHAN, satu kumpulan cerpen; Setitik Harapan 17 judul, sedang karya terbatu yakni “BELAJAR OTODIDAK SAMPAI MATI, Pembelajaran Seumur Hidup Sebagai Kebutuhan Mendesak Saat Ini!” yang merupakan edisi revisi dari buku “Mau Kuliah Alternatif? BELAJAR OTODIDAK, Dong!” Kha Tulis Tiwa Press Jakarta, segera terbit buku Pelatihan; Learning For Living; 3 Langah Sederhana Menuju Kesuksesan Dunia dan Akhirat (08176956688)

Blog  ; www.sampenulis.wordpress.com,

Email; sam_penulis@yahoo.com, otodidaktor@yahoo.co.id

 

 

Oleh: Penulis Sam | September 1, 2008

Semoga Jabodetabek Bebas Banjir!

 

Jakarta kena banjir, sudah biasa.

Jakarta kena banjir bandang, biasa.

Jakarta lumpuh total oleh banjir bandang, luar biasa.

Jakarta tersapu banjir lima tahunan, luar biasa.

Jakarta hampir seluruhnya kena banjir, luar biasa.

(puisi banjir tahun 2007)

Tahun kemarin, sejak 1 Februari sampai 5 Februari 2007, Jakarta mandi besar oleh banjir, baik yang berasal dari hujan di wilayah Jakarta sendiri, maupun kiriman dari Bogor dan Depok. Orang membandingkan dengan banjir 2 Fenruari 2002, ternyata hal ini lebih besar lagi, bahkan ada yang berpendapat, bahwa banjir ini merupakan yang terbesar dalam kurun waktu 20 tahun terakhir ini. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi, padahal teknologi semakin maju, Jakarta semakin kaya dan merupakan ibu kota dari bumi pertiwi Indonesia?

Alam adalah ciptaaan Allah yang dibentuk sedemikian rupa supaya nyaman didiami manusia. Allah tidak berhenti disitu, melainkan juga membuat “sunnatullah” di jagad raya, yang sebagian di antaranya dibaca oleh Newton sebagai teori gravitasi, Enstein dengan teori relativitas, munculnya nanoteknologi dan berbagai penemuan lainnya yang bermanfaan bagi manusia. Musim hujan dan kemarau juga bagian dari sunnatullah.

Sayangnya anugerah alam yang luar biasa ini dieksploitasi manusia dengan mengatasnamakan pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan rakyat, pertambahan penduduk, dan setumpuk alasan lainnya, sehingga penebangan hutan secara berlebihan dibolehkan, hutan dirubah menjadi pemukiman penduduk, pohon-pohon ditebang untuk membuat mall, rumah mewah dan “kota baru”, wilayah yang seharusnya menjadi resapan air dirubah fungsinya, sehingga bisa ditebak jika kemudian alam yang kokoh menjadi lemah.

Ketika alam melemah, maka hujan yang seharusnya menjadi rahmat, sebab dengan hujan tanaman tumbuh subur, ketersediaan air bagi manusia mencukupi, dan seluruh makhluk hidup dapat eksis di bumi, tapi kini justru hujan berubah menjadi prahara, bencana dan musibah. Setiap kali musim hujan, orang-orang diresapi rasa takut terkena banjir. Alhasil, seharusnya mereka bersyukur, malah meratapi diri dengan bencana yang dialami.

Jika Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) hujan secara bersamaan atau berbeda hitungan jam saja, bisa ditebak Jakarta pasti banjir, hanya tinggal melihat besar kecilnya banjir. Jika intensitas hujan tinggi dan berlangsung sehari atau dua hari, maka banjir bandang tinggal ditunggu kedatanggannya oleh masyarakat Jakarta.

Salah seorang pakar lingkungan mengatakan bahwa sebuah wilayah harus memiliki 40% sebagai daerah resapan air, sedang di Jakarta wiliayah ini hanya tinggal 6%. Wilayah puncak Bogor yang seharusnya menjadi penahan air, kini dipenuhi bangunan sehingga air otomatis turun ke sungai. Beberapa “kota baru” bermunculan di wilayah Jabodetabek, yang sebagian besar di antaranya tidak memperhatikan pembangunan saluran air yang memadai, dan memanfaatkan lahan yang seharusnya diperuntukkan bagi pemohonan. Alhasil, banjir paling dasyat menimpa Jakarta selamaempat hari berturut-turut, suatu “prestasi yang menyedihkan.”

Ketika banjir melanda, para pejabat sibuk melakukan kunjungan; mulai presiden, wakil presiden, menteri Gubernur, walikota, Bupati sampai artis berlomba-lomba membantu, sayangnya “niat baik” saja tidak cukup tanpa dibarengi sebuah skema atau konsep kerja yang jelas, sehingga warga yang tertimpa musibah banjir seharunya makan secara teratur, tidur di tempat yang nyaman –minimal tidak terkena hujan atau angin malam-, mendapatkan pengobatan gratis, mendapatkan pakaian yang memadai, dan semua hal yang menjadi hak mereka, justru yang terjadi sebaliknya. Para pengungsi tidur di tempat terbuka, bahkan ada yang tidur di pekuburan, tempat pengungsian mereka sangat memprihatinkan, mereka makan secara tidak teratur, dua orang meninggal karena kedinginan, layanan kesehatan hanya ada tempat tertentu, dan setumpuk kesialan lainnya, sehingga musibah banjir ini demikian memprihatinkan dilihat dari berbagai aspek, padahal bantuan datang seperti “banjir yang tidak beraturan”.

Tanpa bermaksud menyalahkan pemerintah, hanya bermaksud memberi masukan. Seharusnya pemerintah memiliki sebuah sentral penanganan bencana, memang sudah ada Satkorlak, tapi fungsinya kurang optimal. Dari pusat penanganan bencana ini, pemerintah membentuk hal serupa di tingkat Propinsi, Kabupaten dan Kecamatan, khususnya di wilayah-wilayah rawan bencana. Ketika musibah berlangsung, pusat penanganan bencana yang ada di Kabupaten atau Kecamatan langsung bertindak sesuai situasi kondisi yang ada dengan mengerahkan sumber daya yang dimiliki seluruhnya. Sedang pusat penanganan bencana yang ada di Propensi atau pusat mengadakan rapat secara intesif untuk memikirkan strategi yang tepat dalam menangani bencana dengan mengantisipasi segala kemungkinan yang ada. Selesai rapat bagi tugas dan laksanakan dengan berkoordinasi dengan satuan penanganan bencana yang ada di Kabupaten dan Kecamatan. Pusat komonda tetap di tangan Pusat Penanganan Bencana Propensi atau pemerintah pusat. Sehingga seluruh wilyayah dan masyarakat yang tertimpa bencana dapat diberi “pelayanan”, tempat pengungsian yang layak, dan makan secara teratur, sedang bagi yang sakit memperoleh pengobatan gratis.

Untuk daerah yang rawan banjir, di gudang Pusat Penanganan Bencana tingkat kecamatan dan kabupaten terdapat persediaan; perahu karet yang cukup, tenda yang memadai (sesuai dengan jumlah penduduk), truk khusus banjir, makanan, air bersih dan obat-obatan disediakan “sebulan menjelang banjir tiba”, dan peralatan lainnya yang dibutuhkan masyarakat. Seluruh aset ini dijaga dengan baik dan dikembalikan ke tempat semula selesai musibah banjir. Sehingga jika dibutuhkan di wilayah lainnya tinggal memindahnya dengan truk.

Begitu musibah selesai di atasi, pemerintah secepatnya mengambil langkah-langkah agar tidak terulang kembali; melarang penebangan pohon, melarang penggantian lahan resapan air menjadi wilayah pemukiman atau “kota baru”, melarang membuang sampah sembarangan dengan sanksi yang berat, melarang pembangunan di sekitar sungai, mengeruk sungai-sungai yang ada di seluruh Jabodetabek, menanam pohon sebanyak-sabanyaknya, membangun rumah susun bagi masyarakat yang tinggal di pinggir sungai dan bangunan mereka harus dihancurkan rata dengan tanah, membangun kembali seluruh sungai yang ada di Jabodetabek, melihat tata letak kota secara keseluruhan dengan memperbaiki yang selama ini telah keliru, memperbaiki seluruh saluran air yang ada, menyelesaikan pembangunan banjir kanal Timur dan Utara, dan Jakarta berkoordinasi dengan Jawab Barat dan Banten dalam rangka menyelamatkan Jakarta sebagai ibukota propinsi dari musibah banjir.

Sebagian agenda pemerintah, baru melaksanakan sebagian kecil di antaranya, sehingga terbukti tidak pernah mampu menangani banjir. Sudah tiba waktunya bekerja, bekerja dan bekerja untuk menangani banjir, di banding rapat, rapat, dan rapat yang “kerjanya amburadul”. Ada kalanya menyelesaikan masalah yang besari dimulai dengan menyelesaikan masalah-masalah kecil, berkembang pada yang menengah dan menyelesaikan masalah yang besar, sehingga seluruhnya dapat diatasi dengan baik. Kapan hal ini dapat berlangsung? Tentu saat ini juga. Jika tidak, siklus lima tahunan akan menjadi siklus tahunan. Lho! Hah! Wah! Aduuh!

Siapa tahu dengan langkah-langkah di atas, pada tahun 2008-2009 Jakarta terbebas dari banjir. Pada warga Jabodetabek, mari berdoa bersama-sama agar wilayah tersebut bebas dari banjir.

Ya Allah, bebaskanlah Jabodetabek dari banjir! Alfattehah!

Amien!

 

Depok, 30 Agustus 2008

 

* Penulis Buku Berniaga Dengan Iman, Kiat-Kiat Agamis Menjadi Saudagar Sukses Novel; Bidadari Posmodern, buku “BELAJAR OTODIDAK SAMPAI MATI, Pembelajaran Seumur Hidup Sebagai Kebutuhan Mendesak Saat Ini!” (belum terbit) yang merupakan edisi revisi dari buku “Mau Kuliah Alternatif? BELAJAR OTODIDAK, Dong!”  2007, Ka Tulis Tiwa Press Jakarta, yang bisa Anda beli langsung pada penulis, hubungi (08176956688) Segera terbit Learning For Living (LFL); 3 LANGKAH SEDERHANA MENUJU KESUKSESAN. Kini menjadi Trainer Pelatihan Learning For Living untuk Pelajar, Mahasiswa dan Umum tentang Belajar Otodidak, Wira Usaha Islam dan Mukmin Sejati. Blog  ; www. sampenulis.wordpress.com, Email;sam_penulis@yahoo.com, otodidaktor@yahoo.co.id

 

Oleh: Penulis Sam | September 1, 2008

Hikmah Zakat Fitrah dan Harta

Kadang sebagian umat Islam mengeluh, kenapa harus ada zakat harta? (untuk zakat fitrah, ngapai mengeluh, sebab hanya 2,5 Kg). Marilah kita pahami hikmah zakat Fitrah dan Harta.

Pertama; Zakat fitrah barang kebutuhan pokok, untuk di Indonesia sebagian besar beras, ditujukan untuk mensucikan makanan pokok yang kita makan setiap hari. Sebab terkadang dalam memperolehnya sedikit berbaur dengan barang “Subhat” atau antara halal dan haram, meski kita merasa halal. Alangkah nikmatnya, jika kebutuhan pokok kita disucikan. Bukankankah orang yang paling berbahagia adalah orang yang mensucikan diri?

Kedua; sudah bayar pajak, zakat fitrah, zakat harta lagi? Harta dan kekayaan merupakan sesuatu yang halal dicari, malah umat Islam dituntut berusaha untuk kaya agar mandiri dan beribadah dengan tenang atau khusyu’. Sadarkah kita harta yang dikumpulkan, kadang-kadang disadari atau tidak diperoleh dengan berbohong dan mendfzalimi orang lain walau secara tidak sengaja. Dengan zakat harta, maka hal-hal yang tidak disengaja dan terjadi begitu saja saat berbisnis, insya Allah dimaafkan Allah. Di samping itu, umat Islam dapat berharap agar dengan zakat harta, maka seluruh harta yang dimiliki menjadi halal dan penuh barokah, sehingg saat menikmatinya bersama keluarga penuh rasa tentram dan tenang.

Ketiga; inilah cara Islam membuat system keadilan ekonomi yang berbeda dengan system Kapitalis dan Sosialis yang jelas-jelas melawan fitrah manusia. Hasil pengumpulan zakat diberikan pada orang-orang yang membutuhkan, fakir miskin, muallaf (orang baru masuk Islam agar bertambah yakin), pejuang fi sabilillah (relawan guru dalam pendidikan gratis, pejuang di ranah sosial dan guru ngaji), pengelola zakat (hati-hati nanti menjadi senjata makan tuan), yatim piatu. Setiap orang merasakan bahagia pada hari raya Idul Fitri karena mendapatkan harta untuk kebutuhan hidupnya.

Keempat; Islam juga sangat menganjurkan sedekah agar kebaikan itu tidak hanya dilakukan pada bulan Romadhan, tapi 11 bulan lainnya setiap orang dapat menyumbang atau membantu orang lain atau pembangunan tempat ibadah. Dalam hal ini, saya ingin memberikan catatan agar sumbangan sebaiknya diberikan pada orang yang membutuhkan dari pada bentuk bangunan. Sebab masjid atau Mushollah di Indonesia sangat banyak, tapi belum dimanfaatkan dengan optimal untuk mencerdasakan dan memberdayakan umat Islam.

Kelima; Zakat fitrah, zakat harta dan sedekah justru menjadi rahasia sukses pengusaha-pengusaha muslim yang kaya, sebab hal itu membuat harta yang dimiliki semakin banyak dan berlimpah. Tidak ada ceritanya orang jatuh miskin karena rajin sedekah. Maka, jika Anda ingin kaya dan sukses, rajinlah sedekah mulai detik ini juga.

Keenam; dengan zakat dan sedekah keharmonisan hubungan sosial tercipta. Tidak ada kecemburuan sosial dari pihak si miskin terhadap si kaya, semuanya hidup dengan harmonis. Bukankah untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat degan menciptakan hidup yang harmonis dalam keluarga, lingkungan masyarakat dan bernegara.

* Penulis Buku Berniaga Dengan Iman, Kiat-Kiat Agamis Menjadi Saudagar Sukses Novel; Bidadari Posmodern, buku “BELAJAR OTODIDAK SAMPAI MATI, Pembelajaran Seumur Hidup Sebagai Kebutuhan Mendesak Saat Ini!” (belum terbit) yang merupakan edisi revisi dari buku “Mau Kuliah Alternatif? BELAJAR OTODIDAK, Dong!” 2007, Ka Tulis Tiwa Press Jakarta, yang bisa Anda beli langsung pada penulis, hubungi (08176956688) Segera terbit Learning For Living (LFL); 3 LANGKAH SEDERHANA MENUJU KESUKSESAN. Kini menjadi Trainer Pelatihan Learning For Living untuk Pelajar, Mahasiswa dan Umum tentang Belajar Otodidak, Wira Usaha Islam dan Mukmin Sejati. Blog ; www. sampenulis.wordpress.com,Email; sam_penulis@yahoo.com, otodidaktor@yahoo.co.id

Oleh: Penulis Sam | September 1, 2008

Hikmah Puasa Ramadhon

Hari senin, 1 Sepetember 2008, awal bulan puasa, itu berarti setiap umat Islam dituntut menunaikan ibadah puasa sebulan penuh. Apa makna kewajiban puasa bagi umat Islam?

Pertama; ibadah puasa sebenarnya tidak hanya diwajibkan pada umat Nabi Muhammad SAW, umat-umat sebelum beliau juga pernah diwajibkan berpuasa. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah puasa merupakan sesuatu yang bisa dilakukan manusia asal ada kemauan dan tekad bulat untuk melaksanakannya. Tidak ada alasan untuk tidak berpuasa.

Kedua; bulan puasa merupakan anugrah bulan terbaik yang dikaruniakan Allah pada umat manusia. Salah satu malam Lailatul Qodar saja lebih baik dari 1000 bulan, padahal usia manusia di zaman modern tidak akan sampai selama itu. Setiap ibadah, amal sholeh, sedekah, dan kebaikan yang dilakukan bernilai berlipat ganda melebihi hari-hari biasa. Puasa sebulan penuh dengan benar dalam sebulan dapat menebus kesalahan 11 bulan lainnya. Makanya, dalam sebuah hadis dikemukan bahwa seandainya umat Islam tahu keutamaan Ramadhan (secara nyata dan pragmatis), tentu mereka akan mengharap seluruh bulan adalah Ramadhon.

Ketiga; puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, sekaligus mengontor hawa nafsu dan mampu mengendalikan sifat-sifat buruk dalam diri. Ketika timbul hasrat membicarakan orang lain, secepatnya dihentikan. Ketika senang melihat orang lain jatuh, bangkrut atau sengsara, secepatnya dihapus dengan istigfar. Ketika merasa paling hebat di dunia, ilmu manusia seperti buih di tengah lautan. Ketika hendak bertengkar dengan orang lain walau benar, berusaha menghindar karena sedang berpuasa. Ketika melakukan kesalahan, secepatnya bertobat.

Keempat; Menahan lapar dan haus merupakan pekerjaan sehari-hari masyarakat marjinal; miskin, yatim piatu, janda miskin, pengasong, pemulung, pengamen dan anak jalanan. Mereka kadang dalam sehari semalam terpaksa makan sekali. Merasakan apa yang mereka rasakan, sehingga timbul kepedulian untuk membantu orang lain yang membutuhkan adalah hikmah puasa dalam konteks hubungan dengan sesama manusia. Bahkan, tidak masuk surga orang alim atau ahli ibadah yang membiarkan tetangganya kelaparan.

Kelima; puasa merubakan bentuk ibadah yang pahalanya langsung diterima Allah. Itu berarti bahwa ibadah ini sangat penting dan besar nilainya di sisi Allah. Bukankah kita hidup di dunia untuk berjumpa dengan Allah di Akhirat sekaligus mendapat RidhaNya? Maka puasa adalah bentuk yang disediakan Allah untuk mendapatkan semua itu.

Keenam; sudah banyak buku yang menulis tentang pengaruh positif puasa pada kesehatan dan ini sudah dibuktikan secara ilmiah di bidang kedokteran. Sungguh Allah Maha Segala, kita sudah diberi berbagai keutamaan, pahala, dan ketenangan batin, eh masih ditambah dengan anugrah kesahatan. Ini semakin menguatkan bukti nyata bahwa kewajiban ibadah dalam Islam; Syahadat, Shalat, Puasa, Zakat dan Haji, hakikatnya demi kebaikan manusia sendiri. Masihkah Anda “berani”melalaikan ibadah?

Ketujuh; ketika bulan puasa biasanya juga disalurkan zakat fitrah 2 kilogram setengah, biasanya juga zakat harta diberikan pada bulan ini (Haul atau jatuh tempo setahun hitungan mudahnya dari Romadhon ke Romadhon, meski tidak harus bulan ini). Untuk Hikmah zakat diuraikan dalam tulisan setelah ini.

* Penulis Buku Berniaga Dengan Iman, Kiat-Kiat Agamis Menjadi Saudagar Sukses Novel; Bidadari Posmodern, buku “BELAJAR OTODIDAK SAMPAI MATI, Pembelajaran Seumur Hidup Sebagai Kebutuhan Mendesak Saat Ini!” (belum terbit) yang merupakan edisi revisi dari buku “Mau Kuliah Alternatif? BELAJAR OTODIDAK, Dong!” 2007, Ka Tulis Tiwa Press Jakarta, yang bisa Anda beli langsung pada penulis, hubungi (08176956688) Segera terbit Learning For Living (LFL); 3 LANGKAH SEDERHANA MENUJU KESUKSESAN. Kini menjadi Trainer Pelatihan Learning For Living untuk Pelajar, Mahasiswa dan Umum tentang Belajar Otodidak, Wira Usaha Islam dan Mukmin Sejati. Blog ; www. sampenulis.wordpress.com,Email; sam_penulis@yahoo.com, otodidaktor@yahoo.co.id

Oleh: Penulis Sam | September 1, 2008

FORMULIR DONATUR PKBM INSAN MANDIRI

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Book Antiqua”; panose-1:2 4 6 2 5 3 5 3 3 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face {font-family:”Arial Narrow”; panose-1:2 11 5 6 2 2 2 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; mso-font-alt:”Century Gothic”; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} p.ListParagraph, li.ListParagraph, div.ListParagraph {mso-style-name:”List Paragraph”; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:36.0pt; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} p.ListParagraphCxSpFirst, li.ListParagraphCxSpFirst, div.ListParagraphCxSpFirst {mso-style-name:”List ParagraphCxSpFirst”; mso-style-type:export-only; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:0cm; margin-left:36.0pt; margin-bottom:.0001pt; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} p.ListParagraphCxSpMiddle, li.ListParagraphCxSpMiddle, div.ListParagraphCxSpMiddle {mso-style-name:”List ParagraphCxSpMiddle”; mso-style-type:export-only; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:0cm; margin-left:36.0pt; margin-bottom:.0001pt; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} p.ListParagraphCxSpLast, li.ListParagraphCxSpLast, div.ListParagraphCxSpLast {mso-style-name:”List ParagraphCxSpLast”; mso-style-type:export-only; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:36.0pt; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:595.45pt 841.7pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:1030447970; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-719813766 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l1 {mso-list-id:1732383584; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-719813766 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l2 {mso-list-id:1871141096; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:861861630 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;}

Kepada Yth.

Divisi Pendidikan

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)

Bina Insan Mandiri

Assalamu’alaikum Wr. Wb.,

Bersama ini saya :

Alamat :

Telp./Hp. :

Email/Blog :

Bersedia menjadi Donatur dengan jumlah uang;

a. Rp. 50.000

b. Rp. 100.000

c. Rp. 1.000.000

d. Rp. ………….

Penyaluran dana akan saya salurkan melalui:

a. Transfer via Bank Syariah Mandiri Cab Depok No Rek. 0610065060 atas nama PKBM Bina Insan Mandiri*

b. Harap dijemput ke rumah saya

c. Datang ke Kantor PKBM Jl. Margonda No. 58 terminal Depok

*Mohon menghubungi Pengurus PKBM via Telepon/SMS 02192612047/081513299320 bila dana telah ditransfer

Demikian Pernyataan yang saya buat, semoga bermanfaat, dikelola dengan baik, transparan dan amanah

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.,

……………………,…..,……,……..

……………………………..

(tanda tangan dan nama jelas)

NB: Laporan diberikan pertiga bulan sekali berbentuk buletin


Kepada Yth.

Divisi Pendidikan

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)

Bina Insan Mandiri

Assalamu’alaikum Wr. Wb.,

Bersama ini saya :

Alamat :

Telp./Hp. :

Email/Blog :

Bersedia untuk menjadi Donator Bulanan

a. Rp. 20.000/bulan

b. Rp. 50.000/bulan

c. Rp. 100.000/bulan

d. Rp. ………./……..

Penyaluran dana akan saya salurkan melalui:

d. Transfer via Bank Syariah Mandiri Cab Depok No Rek. 0610065060 atas nama PKBM Bina Insan Mandiri*

e. Harap dijemput ke rumah saya

f. Datang ke Kantor PKBM Jl. Margonda No. 58 terminal Depok

*Mohon menghubungi Pengurus PKBM via Telepon/SMS 02192612047/081513299320 bila dana telah ditransfer

Demikian Pernyataan yang saya buat, semoga bermanfaat, dikelola dengan baik, transparan dan amanah

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.,

……………………,…..,……,……..

……………………………..

(tanda tangan dan nama jelas)

NB: Laporan diberikan pertiga bulan sekali berbentuk buletin

Oleh: Penulis Sam | September 1, 2008

Pendidikan Gratis Berprestasi, Hebat sekali!


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Book Antiqua”; panose-1:2 4 6 2 5 3 5 3 3 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face {font-family:”Arial Narrow”; panose-1:2 11 5 6 2 2 2 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; mso-font-alt:”Century Gothic”; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} p.ListParagraph, li.ListParagraph, div.ListParagraph {mso-style-name:”List Paragraph”; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:36.0pt; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} p.ListParagraphCxSpFirst, li.ListParagraphCxSpFirst, div.ListParagraphCxSpFirst {mso-style-name:”List ParagraphCxSpFirst”; mso-style-type:export-only; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:0cm; margin-left:36.0pt; margin-bottom:.0001pt; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} p.ListParagraphCxSpMiddle, li.ListParagraphCxSpMiddle, div.ListParagraphCxSpMiddle {mso-style-name:”List ParagraphCxSpMiddle”; mso-style-type:export-only; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:0cm; margin-left:36.0pt; margin-bottom:.0001pt; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} p.ListParagraphCxSpLast, li.ListParagraphCxSpLast, div.ListParagraphCxSpLast {mso-style-name:”List ParagraphCxSpLast”; mso-style-type:export-only; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:36.0pt; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:1030447970; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-719813766 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l1 {mso-list-id:1732383584; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-719813766 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l2 {mso-list-id:1871141096; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:861861630 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;}

Pendidikan Gratis Berprestasi, Hebat sekali!

Ahmad Zamhari Hasan

PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Bina Insan Mandiri Terminal Depok merupakan lembaga pendidikan yang focus pada pendidikan, pemberdayaan dan pembinaan kaum Marjinal (anak jalanan, pengasong, pengamen, pemulung, yatim piatu, dan fakir miskin).

Mahalnya biaya pendidikan yang tidak terjangkau masyarakat miskin, membuat PKBM Insan Mandiri menyelenggarakan sekolah Gratis dati tingkat PAUD, TK, SD, SMP, SMU dan sedang merintis Kuliah Alternatif program Diploma I.

Anak-anak dapat belajar benar-benar secara gratis. Sekali lagi, mereka benar-benar belajar secara gratis tanpa dipungut biaya sepeserpen.

Pada waktu dimulai pertama tahun 2001 jumlah siswa 300 anak yang diterima, padahal yang mendaftar 700 anak. Pada tahun 2005 jumlah siswa TK 120 anak, SD 70 anak, SMP 160, dan SMA 90. Pada Desember 2006 siswa mencapai 1240 pelajar dengan perincian; 160 PAUD dan TK, 100 TPA, 150 SD, 350 SMP dan 400 SMA. Tahun ajaran 2007-2008 ; SLTP 281 dan SMU 517. Tahun ajaran 2008-2009; PAUD 43, SD 200, SLTP 295, SMU 269.

Sejuta prestasi mereka raih seperti : Juara harapan III dan Juara harapan II Kategori A (kelas IV-VI Paket A setara SD/MI), pada hari Minggu 17 Desember 2006. Sedang pada Lomba Peserta Didik Pendidikan kesetaraan Berprestasi untuk Program Paket A, Bogor Jabar berhasil menjadi Juara I dan Juara harapan III Lomba Peserta Didik Pendidikan Kesetaraan Berprestasi Untuk Program Paket C Bogor Jabar. Juga berhasil Juara I Lomba Musik barang bekas Se Jabodetabek, Juara I lomba menulis surat untuk presiden RI, BAZNAS, 2005, Juara II lomba, menulis surat untuk presiden RI, BAZNAS, 2005, Juara III Membaca puisi KWARCAB kota Depok, 2006 , dan Juara I Festival Band Piara Mayjen Asril Tanjung.

Tahukah Anda, dibalik prestasi dan pencapaian yang luar biasa di atas, PKBM Bina Insan Mandiri terlilit hutang Rp. 107.000.000,- yang harus lunas sebelum Idul Fitri. Maka jika hati nurani Anda terketuk untuk membantu, berikut formulir yang harus diisi; (saya hanya membantu menyebarkan info ini, dana yang masuk sepeserpun tidak masuk ke kantong saya, inilah cara saya membantu PKMB Bina Insan Mandiri yang pantas dibantu).

Kepada Yth.

Divisi Pendidikan

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)

Bina Insan Mandiri

Assalamu’alaikum Wr. Wb.,

Bersama ini saya :

Alamat :

Telp./Hp. :

Email/Blog :

Bersedia menjadi Donatur dengan jumlah uang;

a. Rp. 50.000

b. Rp. 100.000

c. Rp. 1.000.000

d. Rp. ………….

Penyaluran dana akan saya salurkan melalui:

a. Transfer via Bank Syariah Mandiri Cab Depok No Rek. 0610065060 atas nama PKBM Bina Insan Mandiri*

b. Harap dijemput ke rumah saya

c. Datang ke Kantor PKBM Jl. Margonda No. 58 terminal Depok

*Mohon menghubungi Pengurus PKBM via Telepon/SMS 02192612047/081513299320 bila dana telah ditransfer

Demikian Pernyataan yang saya buat, semoga bermanfaat, dikelola dengan baik, transparan dan amanah

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.,

……………………,…..,……,……..

……………………………..

(tanda tangan dan nama jelas)

NB: Laporan diberikan pertiga bulan sekali berbentuk buletin

Kepada Yth.

Divisi Pendidikan

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)

Bina Insan Mandiri

Assalamu’alaikum Wr. Wb.,

Bersama ini saya :

Alamat :

Telp./Hp. :

Email/Blog :

Bersedia untuk menjadi Donator Bulanan

a. Rp. 20.000/bulan

b. Rp. 50.000/bulan

c. Rp. 100.000/bulan

d. Rp. ………./……..

Penyaluran dana akan saya salurkan melalui:

d. Transfer via Bank Syariah Mandiri Cab Depok No Rek. 0610065060 atas nama PKBM Bina Insan Mandiri*

e. Harap dijemput ke rumah saya

f. Datang ke Kantor PKBM Jl. Margonda No. 58 terminal Depok

*Mohon menghubungi Pengurus PKBM via Telepon/SMS 02192612047/081513299320 bila dana telah ditransfer

Demikian Pernyataan yang saya buat, semoga bermanfaat, dikelola dengan baik, transparan dan amanah

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.,

……………………,…..,……,……..

……………………………..

(tanda tangan dan nama jelas)

NB: Laporan diberikan pertiga bulan sekali berbentuk buletin

Oleh: Penulis Sam | Agustus 28, 2008

Ayo Kuliah Alternatif Gratis!

Jika ingin kuliah yang berbeda dari yang lain,

Jika ingin kuliah tanpa SKS

Jika ingin tahu Cara Belajar Otodidak

Jika ingin mengembangkan kecerdasan

Jika ingin menjadi orang hebat

Ayo Kuliah Alternatif di belakang Terminal Depok YABIM Master

Kuliah Pertama; 14 September 2008

Kuliah aktif secara Normal pada bulan Oktober atau akhir bulan syawal

Oleh: Penulis Sam | Agustus 28, 2008

Mari Belajar Otodidak

Ketika pendidikan semakin mahal. maka sosulis yang terbaik yakni belajar atas kemauan sendiri dengan usaha sendiri, baik belajar dari buku, orang lian, kenyataan atau kehidupan, lebih dikenal dengan Belajar Otodidak (BO). Sebab jika ingin hidup survife dalam abad 21 harus mau belajar sendiri.

Setiap Anda harus belajar untuk dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan yang semakin kompleks. selamat belajar

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »

Kategori