Mahasiswa dan Perguruan Tinggi

Mencetak Sarjana Abad 21

Ahmad Zamhari Hasan

Sebelum kita bahas lebih jauh tentang upaya menghasilkan sarjana yang mampu menaklukkan sekaligus berada di garda terdepan abad 21, terlebih dahulu kita kenali abad tersebut. Setelah mengenali, baru melangkah kepada kebijakan-kebijakan apa yang dapat ditempuh agar berhasil, dan diakhiri dengan pentingnya Belajar Otodidak seumur hidup.

Memahami Abad 21

Realitas kehidupan masa kini menurut Colin Rose & Malcolm J Nicholl;

Dunia berubah dengan laju semakin kencang

Kehidupan, masyarakat, dan perekonomian, menjadi lebih kompleks

Sifat dasar pekerjaan berubah dengan cepat

Jenis-jenis pekerjaan menghilang dengan kecepatan tak terbayangkan

Inilah zaman ketidakpastian

Tidak usah jauh tentang perubahan dasyat di berbagai sendi kehidupan, liha saja Hp yang dipakai saat ini; semakin tipis, tapi kualitas lebih baik, malah ada terobosan Ipod yang menggunakan teknologi sentuh dan memberi kebebasan berinternet ria. Ini baru contoh kecil. Bagaimana dengan perubahan pemanfaatan energy? Bagaimana dengan perubahan tingkah laku masyarakat? Bagaimana dengan perubahan dunia global? Bagaimana dengan perubahan teknologi militer? Bagaimana dengan perubahan ….. yang sangat panjang untuk ditulis di sini. Pertanyaannya, sudah perubahan yang dasyat ini diikuti dengan perubahan pola pikir, kebijakan, dan sikap hidup?

Dulu orang barat bermimpi bahwa dengan pasar bebas dunia bertambah adil, lebih tentram dan nyaman didiami, namun yang terjadi sebaliknya. Pemanasan global mengancam kehidupan manusia, 5% orang terkaya di dunia menguasai 80% kekayaan seluruh penduduk, berarti 95% berebut “kue” yang hanya 20%, kecendrungan perang dunia ketiga akan pecah mulai tampak dengan keinginan Israel yang didukung AS hendak menyerang Irak, sementara Rusia dengan berani menghancurkan Gorgia sebagai penghasil minyak bagi Barat, tentu saja potensi konflik Eropa dan AS melawan Rusia rentan untuk terjadi. Lihatlah! Masyarakat miskin di Asia dan Afrika, malah sebagian hidup kelaparan dan dalam konflik Terus menerus, mereka hidup dengan memprihatinkan, sedang orang Eropa dan AS tinggal memijit tombol untuk menikmati hidupnya. Belum lagi dengan krisis akibat melambungnya harga minyak dunia dan masalah pemanasan global yang berefek besar perekonomian. Ini menunjukkan semakin kompleksnya kehidupan masyarakat dari berbagai aspek.

Bagi masyarakat Indonesia, semenjak krisis; PHK, pemecatan massal, perusahaan outsorsing yang lari ke India, China dan Vietnam karena lebih menjanjikan upah buruh murah, dan beberapa pekerjaan lama yang mulai tergusur dengan pekerjaan baru, khususnya di kota-kota Metropolis seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Jika sifat dasar dan orientasi pekerjaan berubah, sedangkan Universitas sebagai penghasil sarjana yang hendak memasuki bidang tersebut tidak berubah, maka bisa ditebak “Pengangguran Intelektual bermunculan di mana-mana”. Masihkah mau bertahan dengan pola lama?

Untuk jenis-jenis pekerjaan yang menghilang dengan cepat, memang baru fenomena yang terjadi “di wilayah permukaan” untuk di Indonesia, sedang di Eropa, AS, dan Jepang sudah berlangsung. Tidak menutup kemungkinan hal ini juga berlangsung di Indonesia manakala pasar Global terbuka lebar 2 tahun lagi yakni 2010. Sudah siapkah Perguruan Tinggi Indonesia mengantisipasi hal ini?

Untuk mendapatkan kepastian, dulu orang memberi nasihat untuk menjadi pegawai negeri, tapi ketika KPK aktif memburu korupsi banyak pegawai tidak dapat duduk tenang. Apalagi, fenomena perampingan jabatan mulai menjalar, sehingga peluang untuk memasukinya di masa depan kecil. Sistem kerja di perusahaan sudah menjadi system kontrak, jika kontrak habis, siap-siap tidak diperpanjang dengan alasan yang tidak jelas. Lantas, apa yang pasti? Kematian dong. Lho? Bukankah hanya kematian yang pasti datang, sedang segala sesuatu yang dijalani dalam kehidupan menjadi tidak pasti kembali.

Abad 21 merupakan abad informasi. Jika abad 20 orientasi bisnis pada sektor jasa, maka abad 21 beralih pada informasi, meski jasa tetap dominan. Secara sederhana, informasi tumpah ruah di internet, tapi hal itu tidak bermakna tanpa kemampuan berpikir kritis, kreatif dan analisa mendalam. Mahasiswa abad 21 ialah yang mampu memanfaatkan informasi sebagai mesin uang baru, menciptakan teknologi sebagai pendukung, dan mengelolanya supaya bermanfaat bagi umat manusia, bukan justru menjadi penghancur dan penjerumus manusia pada kesesatan.

Perubahan Kebijakan Universitas atau PT

Di Indonesia, Universitas atau Perguruan Tinggi (PT) Umum dan Agama luar biasa banyak, sedang yang berorientasi Pragamatis sesuai kebutuhan pasar dan masyarakat masih dapat dihitung dengan jari, semisal PT Kewirausahaan yang dimiliki Ciputra atau orang lain, Sekolah Tinggi Kreatif, bidang Komputer, bidang Tekonologi yang hanya diwakili ITS dan ITB, meskipun masih kurang aktif untuk menciptakan teknologi yang dibutuhkan pasar dan masyarakat, paling yang ditonjolkan keikutsertaan dalam lomba Robot. Mungkin ada yang membantah pernyataan ini dengan menyatakan bahwa ilmu bukan untuk kebutuhan pragmatis, tapi untuk “idealisme” dan kebutuhan hidup batiniah manusia.

Bukankah “idealisme” dan kebutuhan batiniah digadaikan dengan alasan “kebutuhan pragmatis,” inilah yang melahirkan para sarjana yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan seperti yang dilakukan PKI dulu? Di samping itu, bukankah Pendidikan di Universitas, baik umum atau agama, sekadar berlomba transfer ilmu dan mengejar IP, tanpa ada transfer keperibadian Bermartabat, tanpa ada pembentukan “batiniah” yang benar kokoh, dan tanpa menghasilkan mental tangguh yang tahan uji.

Sebenarnya, tulisan ini bukan berharap agar seluruh Universitas atau PT berubah menjadi Untivesitas IT demi menyesuaikan diri dengan abad 21, tapi mempertanyakan system yang dianut Universitas, sehingga melahirkan sarjana-sarjana yang pengangguran, pemalas dan mental seperti “krupuk” yang diremas. Lho apa dong jika demikian?

Universitas Umum dan PT harus mengadakan perubahan total menyangkut system yang selama ini dipakai. Misalkan dibidang penilaian, penilaian terhadap kemampuan menyerap ilmu seperti yang diwujudkan dalam IP, sudah kadaluarsa, perlu penambahan penilaian dari aspek berbeda yakni Emositional dan Spritual.

Aspek emosional berkenaan dengan, bagaimana kemampuan mahasiswa dalam mengelola masalah yang dihadapi, cara mengontrol emosi (jika “perang” antara mahasiswa, jelas tidak lulus, dong), cara bergaul dan berhubungan dengan masyarakat, dan mengukur kekuatan mental dengan memberi ujian yang bersifat psikis.

Untuk aspek spiritual tanpa melihat agama yang dianut. Pertama; bagaimana mahasiswa dalam beribadah sehari-hari, jika penganut “liberalisme barat”, bukankah orang-orang barat sudah mulai meninggalkan dan lari pada spritualitas, mahasiswa yang rajin beribadah dapat nilai plus. Kedua; apakah menjalani kehidupan sesuai dengan nilai-nilai moral agama atau sebaliknya. Ketiga; kemampuan dalam membentengi diri godaan hawa nafsu. Barometernya ialah; jika kesulitas keuangan diatasi dengan menjadi “ayam kampus”, jelas mahasiswa tidak lulus, jika mahasiswa menjadi provokator “seks bebas dan Narkoba”, maka tidak lulus, jika mahasiswa menggunakan skripsi “belian”, maka tidak lulus, jika bermasalah dengan absensi lantas memberikan “pelayanan khusus pada dosen,” maka tidak lulus dan dosennya harus dipecat .

Mungkin apa yang dikemukan di atas akan ditertawakan mahasiswa, sebab fenomena tersebut dianggap “biasa” sehingga berlakulah hokum “boleh.” Padahal, jika hal ini dibiarkan, maka bukan sekadar mereka akan menjadi pengangguran intelektual, malah menjadi sumber masalah baru bagi masyarakat. Apalagi, jika kepintaran hasil kuliah digunakan untuk melakukan kejahatan dan tindakan-tindakan amoral lainnya.

Saya mengusulkan agar semua Universitas Umum dan Agama memberikan skill tambahan berupa kewirausahaan sebanyak 1 SKS tidak peduli jurusan apa pun yang ditempuh. Kenapa hal ini perlu? Dengan skill kewirausahaan, maka para sarjana nantinya dapat berwirausaha apa saja yang penting halal, sebelum menekuni pekerjaan yang cocok sesuai bidang ilmu yang dipelajari di Universitas atau PT. Para wirausahawan, jangan takut “kalah saing” atau menjadi penghalang proyek ini, sebab sesungguhnya, Wirausaha di Indonesia masih terbuka lebar dan sangat luas. Apalagi nanti dalam era global, justru kebutuhan terhadap wirausahawan sangat luar biasa banyak. Inilah alasan Ciputra mengkampanyekan Universitas Entreprenership milikinya. Ini mungkin menjadi solusi “pengangguran Intelektual.”

Ingat, abad 21 adalah abad kerja sama bukan persaingan, oleh karena antar berbagai komponen masyarakat harus mampu bekerja sama demi kemajuan Indonesia pada masa mendatang.

Juga perlu ditambah dengan pembinaan “mental” 1 SKS agar mereka benar-benar tahan uji, bermental kuat seperti baja dan memiliki semangat pantang menyerah dalam menjalani kehidupan. Penambahan 2 SKS; kewirausahaan dan pembinaan mental, dilakukan pada sebelum semester akhir -sebelum mahasiswa sibuk dengan KKN atau Skripsi-.

Sedang perubahan dari aspek penjurusan, diperlukan untuk membuka jurusan-jurusan baru sebagai alternatif bagi masyarakat dan generasi muda yang benar-benar dibutuhkan abad 21. Negara China mampu mencapai kemajuan mencengangkan karena berbanding terbalik dengan kita; Universitas dan PT bidang Teknologi tepat guna lebih banyak disbanding Umum. Memang, kita tidak sepenuhnya untuk meniru Negara China yang komunis, tapi kebutuhan tentang PT bidang Teknologi tepat guna adalah kebutuhan riil untuk bersaing dalam era global.

PT bidang computer sudah harus mengembangkan diri sesuai perkembangan zaman, jika selama ini hanya Diploma I, II dan III, ke depan harus berupaya Sarjana SI dengan kemampuan lebih, jangan sampai sarjana S1 tapi kemampuan sama dengan anak-anak Diploma, bahkan kalah karena yang Diploma lebih rajin belajar sendiri, sedang S1 hanya mengandalkan Mata Kuliah.

Saya begitu tertarik dengan Jurusan Kreatif yang baru diiklankan di Jakarta, sehingga “mengaku” satu-satunya di Indonesia. Jurusan ini harus secepatnya diperbanyak di Indonesia, karena ke depan bidang “Kreativitas” sangat terbuka lebar. Tapi jangan asal membuat dengan minim kualitas, tapi sebaliknya Kualitas terbaik walau baru muncul.

Dengan melakukan langkah-langkah di atas, maka para sarjana masa depan dapat menjadi solusi yang membantu masyarakat Indonesia seluruhnya tanpa mengenal latar belakang ras/suku; Batak, Jawa, Bugis, Sasak, Madura, Padang, China, India, Arab dan lain-lain, untuk mampu bersaing dalam era global dengan sesama Negara Asia Tenggara awalnya, Asia, Eropa dan AS pada akhirnya. Hal ini tidak bisa dilakukan, jika masih terpecah-pecah dalam semangat Sukuisme atas Rasisme. Kita semua adalah masyarakat Indonesia, maka bersatulah!

Menumbukan Semangat Belajar Otodidak dalam Diri Mahasiswa

Menumbuhkan Semangat Belajar Otodidak dalam diri setiap mahasiswa sangat mendesak untuk dilakukan. Saya berpendapat demikian, bukan karena menulis buku “Mau Kuliah Alternatif? BELAJAR OTODIDAK, Dong!”, tapi karena semangat Belajar Otodidak mulai hilang dari mahasiswa, padahal inilah rahasia Tokoh-Tokoh hebat di masa lalu. Di samping itu, system perkuliahan sebenarnya hanya 30% interaksi dengan dosen atau mendapat bimbingan, sedang 70% tergantung kemandirian mahasiswa dalam belajar. Bagaimana jika hanya mengandalkan kebijakan kampus yang bernilai 30%, otomatis gagal melahirkan mahasiswa unggulan yang sukses.

Sebagian besar mahasiswa hanya belajar demi mengejar IP yang tinggi, bukan belajar untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Padahal, belajar adalah sarana paling efektif untuk hidup dalam zaman bagaimana pun adanya. Nenek moyang kita belajar dengan batu, belajar berburu, belajar lewat huruf cetak, dan sekarang kita belajar dengan digital. Kita sudah dapat belajar lebih mudah, cepat dan canggih, justru hal inilah yang membuat malas, padahal informasi bukan ilmu kata Enstein.

Belajar atas inisiatif atau kemauan sendiri agar menjajalani kehidupan yang lebih baik, adalah inti dari belajar otodidak. Awalnya, saya menganggap Belajar otodidak hanya diperlukan bagi anak-anak lulusan SMU/MA atau Pesantren, tapi ternyata; mahasiswa sangat perlu Belajar Otodidak, dosen sangat perlu belajar otodidak agar ilmuanya diperbaharui, bahkan Dr. pun juga perlu agar tidak berhenti berkarya melainkan mampu melahirkan teori atau ilmu baru karya bangsa Indonesia.

Pandangan ini berubah setelah berdiskusi dengan seorang Dr. yang kaya bukan dengan gelar Doktoralnya melainkan Belajar otodidak software computer dan seorang dosen yang telah bekerja selama 18 tahun yang juga mengakui bahwa belajar otodidak sangat diperlukan siapa saja. Apalagi seorang fisikawan terkemuka Claude Leroy mengemukakan bahwa 4% misteri Jagad raya yang terungkap, sedang yang 96% masih menjadi misteri yang berusaha dibukan ribuan Fisikawan yang berkumpul di Prancis akhir-akhir ini. Sahabat saya, Dr. Agus Wedi yang mempersiapkan mata kuliah hampir semalaman supaya berhasil mengajar secara professional, juga membenarkan pandangan tersebut. Masih menurut Dr. Agus Wedi, 60% mahasiswa Indonesia FD (Feel Dependent) tergantung pada dosen atau kebijakan kampus, sedang 40% sisanya yang memiliki FI (Feel Independent) kemampuan memecahkan masalah sendiri, kemampuan belajar sendiri (Belajar otodidak), dan kemampuan berpikir kreatif atau analisa secara mandiri. Ini menunjukkan semakin urgensinya peran Belajar Otodidak dalam keberhasilan mahasiswa ke depan, sebab Belajar Otodidak merupakan bentuk nyata dari FI.

Fakta ini didukung oleh kenyataan yang dialami Muhammad Yunus, peraih Nobel perdamaian pada tahun 2006. Dia berhasil menghasilkan Grameen Bank, kredit tanpa anggunan bagi keluarga miskin, pengemis dan kaum dhu’afa, setelah melepas gelar Prof. Dr.nya karena teori-teori ekonomi tak mampu mengatasi kelaparan dan kemiskinan, lalu Belajar Otodidak kehidupan orang-orang miskin, sehingga melahirkan ilham berupa Grameen Bank.

Jika Prof. Dr. saja membutuhkan untuk belajar otodidak, apalagi para mahasiswa di manapun mereka berada. Maka, mulailah belajar atas kemauan dan tekad sendiri untuk memperdalam suatu bidang ilmu yang bermanfaat bagi diri sendiri dulu, bagi keluarga dan bagi masyarakat banyak. Dengan cara ini, kualitas para sarjana dapat ditingkatkan dalam taraf maksimal, sehingga mereka berhasil kelak di kemudian hari. Amien!

Kesimpulan

Perubahan mendesak di lingkungan Universitas dan PT harus secepatnya dilaksanakan supaya tidak melahirkan pengangguran intelektual dan lebih penting dari itu yakni supaya “Indonesia tidak gulung tikar” pada masa depan. Jika masyarakat Indonesia tidak bangkit-bangkit dipelopori para sarjananya, maka bisa jadi istilah “gulung tikar” akan benar-benar terjadi.

Insya Allah, jika kebijakan Universitas dan PT berubah seiring dengan “Kue” APBN pedidikan yang mulai diberlakukan 20% mulai tahun 2009, didukung dengan perubahan internal mahasiswa dengan Belajar Otodidak (BO) seumur hidup, maka Indonesia akan siap menjadi masyarakat masa depan seperti yang dicita-citakan Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl: “Suatu masyarakat pembelajar berkesinambungan dan kreatif analitis (Belajar Otodidak) dengan keterampilan untuk tidak tergantung secara ekonomi (pentingnya skill kewiraswastaan). Suatu masyarakat dimana perolehan produktivitas dibagikan secara adil hingga memungkinkan baik waktu kerja maupun waktu luang menjadi sarana memenuhi potensi personal maksimal.”

Selamat meraih masa depan yang cerah! Amien!

Menumbuhkan Kemandirian Mahasiswa

Selama ini mahasiswa Indonesia “terlalu manja” dengan berbagai kemudahan dan fasilitas yang disediakan kampus. Satu aspek hal ini positif, namun dalam aspek berbeda, hal inilah yang membunuh karakter, mental dan kemandirian mahasiswa.

Sebagai perbandingan, perkuliahan yang dilakukan di luar negeri justru kelebihannya ialah pada program “pemaksaan” pada mahasiswa agar mandiri dalam berbagai aktivitasnya, sehingga secara mental terasah dengan berbagai problematika, secara karakter membentuk pribadi yang mampu bertahan dalam berbagai keadaan, dan mendidik kemandirian dalam menjalani kehidupan. Sebenarnya, inilah nilai plus mahasiswa yang kuliah di luar negeri, di samping karena manajeman dikelola secara profesional.

Jika menengok pada sejarah, dulu lulus SR (sekolah rakyat) sudah mampu mengajar, padahal setingkat SD atau katakanalah SMP. Mengapa berhasil? Karena siapa saja yang tidak bisa belajar mandiri, maka gagal dalam SR. Ini berarti pembelajaran kemandirian menjadi prioritas. Hal inilah yang sukses melahirkan Hamka, M Natsir dan lain-lain. Padahal zaman dulu penuh keterbatasan.

Hilangnya aspek kemandirian dalam diri mahasisiwa Indonesia merupakan sebuah kehilangan besar, sebab bisa jadi inilah yang menyebabkan Universitas di tanah air hanya mampu melahirkan “pengangguran Intelektual”. Meski perlu penelitian lebih dalam untuk membuktikannya.

Melihat realitas ini, tolonglah pada pihak Universitas atau Perguruan Tinggi, jangan “manja” mahasiswa, justru mereka berusaha dipacu dengan berbagai macam aktivitas yang menantang kecerdasan, kreativitas, keuletan, dan kegigihan dalam mencapai sesuatu. Dosen pembimbing jangan jadi “Hakim” yang mengarahkan masasiswa pada pemikiran yang sesuai dengan dirinya sendiri, padahal mahasiswa memiliki pemikiran sendiri, biarkan hal ini berkembang asal sang mahasiswa mampu mempertanggung jawabkan secara intelektual. Program yang disusun bukan disesuaikan dengan kemauan mahasiswa, melainkan disesuaikan dengan standar nasional dan internasional, sehingga kualitas mahasiswa ditingkatkan. Jangan pernah berkompromi dalam masalah nilai, tugas dan program yang dijalankan.

Para mahasiswa jangan keenakan dengan program yang “memanjakan mereka.” Sebab hakikatnya hal itu sebenarnya merupakan “proyek pembodohan abad 21” yang jika dibiarkan, maka saat meraih gelar sarjana seperti anak TK yang “diwisuda” dengan baju kebesaran. Padahal uang yang dikeluarkan puluhan juta, bahkan ratusan juta rupiah untuk gelas sarjana S1. Belum lagi tenaga, pikiran dan energy yang dibutuhkan selama bertahun-tahun untuk mencapainya. Tapi apalah arti semua itu jika “menguap” tanpa makna.

Mulai saat ini setiap mahasiswa berkomitmen untu mandiri dalam hal;

1. Aktif membaca buku minimal 2 jam setiap hari, entah di perpustakaan, rumah atau internet

2. Menjalankan tugas perkuliahan dengan usaha sendiri, jika pun meminta pertimbangan orang lain, hanya meminta saran, bukan minta dituliskan. Setiap orang cerdas dan bisa melakukan apa saja, asal berusaha sekuat tenaga dan memanfaatkan pikiran atau imajinasi dengan benar.

3. Menguasai cara berpikir kritis, kreatif, analitis, cara melakukan hipotesa, dan dialektika Hegel (Tesis, Antitesis dan Sintesis) sebagai bekal untuk mampu mengelola “membanjirnya” informasi melalui Dunia Maya, ingat “informasi bukan ilmu pengetahuan” kata Enstein. Jika belum tahu, bertanyalah. Jika sudah tahu, praktikkan. Anda saya sarankan membaca buku “Think” Mechael Le Beuf, “Cara Belajar Cepat Abad 21” Colin Rose & Malcolm J Nicholl dan “Mau Kuliah Alternatif? BELAJAR OTODIDAK,Dong” karya saya sendiri.

4. Terlibat dalam kelompok diskusi kecil, khususnya tentang materi perkuliahan, baik melalui internet atau diskusi langsung. Kelompok keci 3-5 orang lebih efektif dibanding seminar dan serasehan karena suasa dialogis yang cair. Coba buktikan! Jangan ngumpul buat pesta, ngerumpi atau “gaul” saja. Tapi otak perlu diasah agar tidak “karatan”.

5. Menangani problematika kehidupan sehari-hari dengan mencari solusi menggunakan pemikiran sendiri, inilah manfaatnya menguasai beberapa cara atau teknik berpikir. Jika hal ini dibiasakan, maka ini akan menjadi nilai positif yang sangat berpengaruh pada kesuksesan masa depan. Buktikan bahwa Anda adalah makhlu terbaik ciptaan Allah! “Sungguh kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik ciptaan,” (QS At-Thien; 4). Setelah menemukan solusi sendiri, baru perbandingkan dengan pendapat orang lain (teman, dosen, orang tua atai siapa saja) untuk dirumuskan solusi terbaik. Lalu jalankan!

6. Tumbuhkan motivasi “Jika saya tergantung orang lain, saya pasti gagal” tapi “jika saya tergantung pada diri sendiri, saya pasti sukses.”

7. Tulis skripsi sendiri, sebab ini akan menjadi kenang-kenangan seumur hidup yang diwarikan pada anak cucu, syukur-syukur menarik untuk diterbitkan dalam bentuk buku. Maukah Anda mewariskan “Skripsi bajakan atau karya orang lain yang diakui sendiri?” Hanya Anda yang tahu jawabannya!

Demikian beberapa langkah sederhana agar sukses menumbuhkan dan mempraktikkan kemandirian dalam diri setiap mahasiswa. Diharapkan hal ini bukan sekadar dibaca dan dipahami, melainkan praktik langsung jauh lebih penting. Memang awalnya akan menghadapi “sedikit kendala,” namun insya Allah setelah itu menjadi mudah. Selamat bereksplorasi!

Bertobatlah, wahai Akademisi!

Tulisan sederhana ini bukan menyodorkan fatwa atau petunju-petunjuk agar bertobat, melainkan hanya beberapa kisah tentang Tobat! Baca, selami, pahami dan laksanakan!

“Dahulu ada seorang laki-laki sebelum kalian yang telah membunuh 99 orang, lalu ia bertanya tentang seorang yang paling mengerti agama. Ditunjukkanlah pada seorang pendeta, ketika sampai orang yang mengantarnya berkata, ‘wahai pendeta, orang ini telah membunuh 99 orang, apakah mungkin bagiNya untuk bertobat?’ Pendeta itu berkata, ‘tidak mungkin!’ maka pendeta itu dibunuh sampai genap 100 orang. Kemudian ditunjuki pada orang alim ‘wahai orang alim, orang ini telah membunuh 100 orang, apakah mungkin bagiNya untuk bertobat?’ orang alim itu berkata, ‘Mungkin, tidak ada yang menghalangi tobat hamba kepada Tuhannya. Lalu orang alim memberikan arahan, ‘Pergilah ke tempat itu, di sana penduduknya menyembah Allah, beribadahlah bersama mereka. Dan jangan kembali ke tempat asalmu karena itu merupakan tempat penuh kemaksiatan.’ Lalu pergilah laki-laki itu ke tempat yang diberitahu orang alim tadi. Ketika di perjalanan laki-laki itu meninggal dunia. Terjadilah perdebatan antara Malaikat Rahmat dengan Malaikat Adzab, Malaikat Rahmat berkata, ‘Orang ini datang untuk bertobat’ Malaikat Adzab menjawab, ‘Akan tetapi ia belum melakukan kebaikan sama sekali.’ Maka datanglah Malaikat yang berwujud sebagai manusia, yang berdiri sebagai penengah dan berkata, ‘Ukurlah jarak antara tempat tujuannya dengan tempat dia berasal, mana yang paling dekat itulah yang menentukannya.’ Ketika diukur, ternyata jarak tempat yang dituju lebih dekat dari tempat ia berasal, lalu Malaikat rahmat membawanya. (HR Bukhari Muslim) Dalam riwayat lain “Perbedaan jarak antara keduanya hanya sejengkal.” Riwayat lain menyebutkan “Allah memerintahkan tanah yang ia berasal untuk menjauh dan tanah yang tujuannya mendekat, lalu memerintahkan Malaikat untuk berkata, ‘Ukurlah mana yang paling dekat.’ Ketika diukur, tempat tujuannya lebih dekat sejengkal, maka dosa-dosanya diampuni Allah.

Abu Burdah bin Musa Al-Asy'ari meriwayatkan, ketika menjelang wafatnya Abu Musa pernah berkata: "Wahai anakku, ingatlah kamu akan cerita tentang seseorang yang mempunyai sepotong roti."

Ada seorang lelaki yang sangat tekun beribadah kepada Allah selama lebih kurang tujuh puluh tahun. Tempat ibadahnya tidak pernah ditinggalkannya, kecuali pada hari-hari yang telah dia tentukan.

Akan tetapi pada suatu hari, dia digoda oleh seorang wanita sehingga diapun tergoda dalam bujuk rayunya dan berzina selama tujuh hari, Lalu lelaki itu bertobat. Sewaktu melakukan perjalanan dia berteduh bersama pengemis berjumlah 9 orang, tapi waktu itu hanya ada sembilan potong roti, berarti 1 pengemis tidak mendapatkannya. Lelaki itu mengambil roti jatahnya dan memberikannya kepada pengemis yang tidak kebagian. Keesokan harinya, orang yang bertaubat itu meninggal dunia.

Di hadapan Allah, maka ditimbanglah amal ibadah yang pernah dilakukan oleh orang yang bertaubat itu selama lebih kurang tujuh puluh tahun dengan dosa yang dilakukannya selama tujuh malam, ternyata amal ibadat yang dilakukan selama tujuh puluh tahun itu dikalahkan oleh kemaksiatan yang dilakukannya selama tujuh malam. Akan tetapi ketika dosa yang dilakukannya selama tujuh malam itu ditimbang dengan sepotong roti yang pernah diberikannya kepada fakir miskin yang sangat membutuhkannya, ternyata amal sebuah roti tersebut dapat mengalahkan perbuatan dosanya selama tujuh malam itu.

Kepada anaknya Abu Musa berkata: "Wahai anakku, ingatlah olehmu akan orang yang memiliki sepotong roti itu!"

Sebaliknya, ada orang yang sombong dengan ibadah, ketaatan pada Allah, dan merasa paling mulia di dunia, lalu Allah mengujinya dengan wanita, dia mampu menolak, mengujinya dengan berjudi dia mampu menolak, tapi dengan ujian alkohol atau khamr dia akhirnya meminumnya, kemudian dia berjudi dan berzina dengan wanita tersebut, setelah itu Allah mencabut nyawanya. Ini contoh su’ul khatimah karena kesombongannya merasa sok suci.

Saya pribadi pernah juga bergelimang dosa; sombong dengan ilmu, suka berbohong, suka mengakalkan segala sesuatu, meremehkan dan melalaikan ibadah sholat lima waktu, serta dosa-dosa lainnya. Lalu Allah menunjukkan kebesaranNya dengan dua peristiwa dasyat dalam hidup saya;

1. Saya dalam keadaan sekarat hampir meninggal dunia, di samping saya di Unit Gawat Darurat di rumah sakit, ada pasien yang baru saja meninggal dunia. Dengan meneteskan air mata saya berdoa “Ya, Allah! Jika hidup saya bermanfaat, panjangkan umur saya. Jika tidak, cabut sekarang juga!” Tapi Allah justru memanjangkan umur saya.

2. Saya masih bandel, lalu datanglah mimpi dasyat itu, seumur hidup tidak akan saya lupakan. Saya mati, lalu dibawa dengan keranda mayat ke Kubur, setelah dikubur, datanglah dua Malaikat dengan membawa dua Godam yang besar langsung menyiksa saya sekeras-kerasnya tanpa ampun. Saya bangun dari tidur; dada bergemuruh keras, bayang-bayang mimpi itu nyata, saya melihat sekeliling apakah saya sudah mati atau masih hidup. Alhamdulillah, saya masih hidup sampai sekarang.

3. Semenjak itu, saya bunuh Zamhari yang dulu, lalu menghidupkan sosok baru bernama Ahmad Zamhari Hasan. Ketika saya mau bandel, maksiat dan berbuat salah, saya selalu mengingat nama Ahmad di depan saya karena merupakan nama kecil Nabi Muhammad SAW.

Dengan semua kisah di atas, maka tobatlah wahai mahasiswa/wi, akademisi dan siapa saja yang sampai saat ini bergelimang dosa tanpa mau keluar darinya. Bertobatlah! Mumpung belum terlambat, jika terlambat, Anda akan menyesalinya dan mendapat Adzab Allah yang luar biasa sangat dasyat sekali; Bayangkan matahari dengan jarak sejengkal, bayangkan tubuh hangus terbakar api (unsur api di Neraka sanga jauh lebih dasyat sekali), bayangkan tubuh yang lemah disiksa tiada henti di alam kubur dengan godam oleh Malaikat, dan bayangkan dasyatya Kiamat yang kengeriannya tiada banding (Tsunami Aceh/Dunia hanya sepersekian inci saja).

MASA DEPAN INDONESIA, DI PUNDAK MAHASISWA

Soekarno pernah berkata”Beri saya 10 pemuda, maka akan saya goncangkan dunia,” mengapa demikian? Pertama; pemuda adalah sosok yang menyukai tantangan untuk meraih keberhasilan di masa depan. Kedua; pemuda memiliki energy, kecerdasan dan semangat membara dalam melakukan segala sesuatu. Ketiga; pemuda berani melakukan sesuatu dengan segala resikonya. Keempat; pemuda senantiasa berinovasi dan kerkreativitas dalam kehidupan sehari-hari. Kelima; mentalitas pemuda sangat kuat dan kokoh. Ini kerangka ideal sosok pemuda yang mampu menggoncangkan dunia.

Kenyataannya, sebagian besar pemuda; terjebak dalam Narkoba (lingkaran Setan yang mencengkram kuat dan sulit keluar darinya), asyik dalam pergaulan bebas karena mengikuti gaya hidup Barat (padahal di sana sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan karena terbukti menghancurkan dan merusak), ingin meraih kesuksesan dengan santai, mencari lapangan pekerjaan bukan menciptakannya, terjebak menjadi pengangguran, tawuran, dan sejumlah masalah lainnya. Jika demikian, berarti pemuda adalah “perusak dunia!” Mungkin Anda terseinggung?

Itulah yang diharapkan. Sebab selama ini, semua itu dianggap sebagai sesuatu yang boleh dan biasa saja, sehingga dijalani dengan tanpa rasa bersalah dan dosa. Padahal, pada titik inilah rusaknya generasi muda Indonesia.

Mahasiswa sebagai garda terdepan pemimpin generasi muda, tentu diharapkan mampu mengatasi berbagai problematika yang dihadapinya, menggantinya dengan berupaya menonjolkan sosok generasi muda idel di atas. Sebab, di pundak merekalah harapan Indonesia untuk mencapai “mimpi” Indonesian Gold 2015 dan menjadi Negara maju 2035.

Sebenarnya mahasiswa beruntung menikmati bangku kuliah dan mampu memperdalam suatu ilmu dengan dibimbing dosen atau Civitas Akademika, padahal puluhan juta generasi muda lainnya tidak mampu melakukan hal yang sama karena alasan uang dan ketidakmampuan mencapai “standar nilai.” Keberuntungan yang seharusnya dimanfaatkan sebaik-baiknya, untuk nantinya mampu mengajak anak muda-anak muda yang tidak mampu kuliah guna bahu membahu mencapai “mimpi” indah Republik tercinta.

Bagaimana mau mengajak atau menjadi pelopor, jika terjebak dalam pengangguran, Narkoba, seks bebas dan tidak mampu memanfaatkan hasil kuliah dalam kehidupan sehari-hari? Artinya para mahasiswa harus mampu merubah diri menjadi “Sosok Baru” setelah menjadi sarjana, bukan sekadar menguasai setumpuk teori atau informasi yang cepat sekali berubah dan usang. Untuk mampu melakukan hal ini, diperlukan beberapa langkah.

1. Lakukan perubahan diri sedikit demi sedikit mulai sekarang, misal; jika sebelumnya malas membaca buku, paksa untuk ke perpustakaan dan membaca buku yang bermanfaat 30 menit dulu, lalu tingkatkan menjadi 1 jam, lalu tingkatkan menjadi 2 jam setiap hari.

2. Lawan diri sendiri yang senantiasa mengajak untuk melakukan kemaksitan, kejahatan, dan kerusakan. Sebab orang hebat ialah orang yang mampu mengalahkan diri sendiri dan mengontrol hawa nafsunya.

3. Kontrol keinginan Anda, jangan dituruti, sebab inilah pangkal semua masalah.

4. Lakukan kegiatan-kegitan spiritual; shalat 5 waktu, istigfar 100X setiap hari, sesekali bersedekah, berpuasa Romadhan atau Sunnah Senin/Kamis atau hari kelahiran. Sebab hal ini mampu menjadi benteng hawa nafsu dan keinginan.

5. Lakukan kegiatan-kegiatan yang positif; menjadi relawan guru di sekolah/pesantren gratis, menjadi relawan korban bencana alam, membantu LSM yang bersifat sosial, terlibat dalam organisasi kemahasiswaan, aktif dalam media kampus, dan kelompok-kelompok diskusi. “Waktu kosong adalah pintu masuk kerusakan atau kemaksiatan.”

6. Berusaha terlibat dalam berbagai kegiatan kemasyarakat agar lebih hidup dan bermanfaat lebih besar. Selama ini, mahasiswa atau akademisi seperti hidup di balik “tembok,” sehingga enggan untuk bersosialisasi dengan masyarakat, padahal apa gunanya teori dan ilmu jika tidak mampu diterapkan dalam masyarakat atau kehidupan sehari-hari.

7. Motivasi diri dengan “Saya adalah generasi muda harapan Indonesia,” sebab “jika saya rusak dan gagal, maka Indonesia bisa GULUNG TIKAR.”

Ketika membaca profil tokoh-tokoh bangsa, cobalah tiru yang bisa dilakukan. Sebagai misal, Moh. Hatta ke mana-mana membawa buku, bahkan saat di penjara pun berdos-dos buku dibawanya. Jendral Sudirman taat beribadah dan berpegang teguh pada nilai-nilai Islam. Hidayat Nurwahid menunjukkan sosok yang santun, “bersih” dan baik. Habibie mampu memanfaatkan kecerdasan yang dimiliki sebesar 20% (kita mungkin hanya 1%, padahal anugerah Allah pada setiap orang sama), maka asalah otak Anda.

Semoga mahasiswa Indonesia mampu menjalankan tugas dengan baik sebagai generasi muda harapan bangsa guna mencapai Cita-Cita besar Republik tercinta ini. Amien!

Bumi Allah, 22 September 2008

Percayakah Anda dengan Akhirat?

Mengapa generasi muda mudah sekali untuk berbuat dosa; Narkoba, Seks Bebas, tindakan anarkis, dan lain-lain? Salah satu masalahnya ialah karena tidak percaya dengan Akhirat. Lho! Mereka Muslim, lho!

Jika melihat kartu mahasiswa atau KTP mereka memang Muslim, tapi belum tentu Mukmin. Sebab seorang Mukmin tidak mungkin melakukan dosa terus menerus tanpa pernah mau bertobat. Seorang Mukmin takut siksa Akhirat yang sangat pedih, sehingga mereka takut berbuat dosa.

Kadang dalam bahasa guyon atau diskusi informal terlepas kata-kata; “jika tubuh kita hancur berkeping-keping di alam kubur, apa akan bangkit lagi? Akhirat urusan nanti, yang penting menikmati hidup hari ini. Masalah dosa itu urusan agama, bukan urusan kita. Manusia setelah mati, lalu selesai.” Mari kita bahas hal ini satu-persatu, sebab semua percakapan ini bermuara pada ketidakpercayaan pada akhirat.

Bukti-bukti sudah Nampak jelas bahwa sebagian besar tubuh hancur tinggal sedikit tulang belulang setelah meninggal dunia beberapa lama. Secara “kasat mata” sulit rasanya tubuh ini berwujud kembali menjadi “manusia utuh” (hari kebangkitan), namun kenyataan justru berkata sebaliknya. Cobalah lihat proses manusia dari jutaan sel, hanya satu yang hidup. Lihatlah proses pembentukan janin yang berlangsung sesuai “sunnatullah” sampai berwujud menjadi bayi, dari bayi menjadi anak-anak, remaja, dewasa dan mati. Jika proses kelahiran manusia berlangsung demikian rumit dan luar biasa canggih, tapi berhasil, apalagi membangkitkan tulang belulang yang hancur, hal itu amat mudah bagi Allah. Ada beberapa fakta lain; mayat yang dikubur tahunan, tapi masih utuh jasadnya, bagaimana dengan fakta ini? Sebuah Video tentang alam kubur mengeluarkan sebuah bukti seorang pemuda yang bejat dan hidup bergelimang dosa, digali dari kuburnya setelah 3 hari, hasilnya; kepala hancur dan darah segar masih mengalir, demikian juga keadaan sekujur tubuhnya, bagaimana dengan fakta ini? Belum lagi, jika melihat kubur orang-orang sholeh atau Wali, di dalamnya kosong melompong, bagaimana dengan fakta ini? Bagaimana dengan sebuah penelitian terhadap perut bumi yang justru memperdengarkan “jeritan-jeritan orang-orang yang sedang di siksa”? Jangan pertahankan sebuah pendapat hanya karena persepsi, hipotesa atau pendapat keliru!

Setiap kita memang menikmati kehidupan sekarang, tapi dengan menafikan keberadaan hari akhirat, sehingga menjalani kehidupan secara “bebas” seperti dijalani masyarakat Barat, maka ini sama artinya; “hidup hanya hari ini saja, besok tidak ada, padahal kenyataannya besok tetap ada.” Lihatlah kehidupan Barat yang kaya secara materi, hidup mewah dan menikmati “kebebasan,” apakah mereka bahagia? Faktanya justru berbalik; perceraian, perselingkuhan, aborsi, lesbian, homoseksual, stress, dan depresi menyelimuti kehidupan mereka. Lalu setelah “sadar” mereka berusaha lari pada spritualitas, lihatlah fakta bahwa pemeluk agama Islam meningkat tajam di Eropa dan AS. Sedang kita? Mau meniru kehidupan “sampah” dari Barat yang justru mulai ditinggalkan? Apakah kita tidak lebih buruk dari keledai yang terjerembab di lubang yang sama. Ingatlah hari akhirat; siksa kubur, padang Mahsyar, hari perhitungan, dan pembalasan di neraka atau surga benar-benar nyata.

Dosa itu bukan hanya urusan agama, namun berkaitan dengan tanggung jawab individu sebagai pemeluk agama. Cobalah renungkan setelah dosa dilakukan; “kenikmatan semu hilang”, belum lagi akibat perbuatan tersebut jika ternyata membuahkan janin, bagaimana dengan aborsi yang justru membuat seseorang terjebak pada kesalahan lainnya, benarkah yang saya lakukan? Sebejat apa pun, serusak apa pun, sebrengsek apa pun kita, pasti nurani berbicara walau pelan sekali “Kamu telah melakukan kesalahan dan dosa, bertobatlah!” Hanya saja suara nurani ini sering kali diabaikan, sehingga menjadi bisu dan tuli, Akibatnya hati seseorang lebih keras dari batu terkeras sekali pun. Jika hal ini terjadi; “dosa jadi biasa, apa saja boleh, dan untuk apa peduli dosa?” Jika Anda membiarkan terjadi ini tanpa mau bertobat, percayalah, di dalam kubur Anda akan di siksa dengan pedih sekali, saat di padang Mahsyar Anda mandi keringat dan tubuh seperti terbakar karena matahari berjarak sejengkal, saat hari perhitungan dosa-dosa Anda jauh lebih berat dari ibadah atau kebaikan Anda, sehingga ganjarannya adalah Neraka yang ganas menyala-nyala.

Benarkah setelah mati, kehidupan kita selesai? Tentu saja salah, malah amat sangat salah. Mengapa dalam tidur ada mimpi? Anda yang akademisi akan menjawab karena sebelum tidur membayangkan sesuatu, sehingga bermimpi, tapi pernahkah Anda tidur dan tidak membayangkan apa-apa, tapi bermimpi? Pasti pernah, saya saja berulangkali mengalaminya. Mengapa di kuburan ada mayat yang hancur tinggal tulang, ada yang masih utuh, dan ada yang hilang tidak bersisa? Secara “ilmiah” tubuh hancur semua, bukan? Mengapa di dunia ini ada orang yang sangat baik dan beriman, ada orang baik, ada orang cukup baik, ada orang jahat, dan ada orang yang sangat jahat. Jika kehidupan selesai setelah kematian, untuk apa kebaikan atau kejahatan? Mengapa banyak hal ghaib yang susah diuraikan dalam bahasa “ilmiah”? Mengapa agama-agama besar dunia seperti Islam, Kristen, Yahudi, Hindu dan Budhha masih bertahan? Jawablah semua pertanyaan ini! Insya Allah jawaban Anda akan menggiring pada kepercayaan adanya kehidupan setelah kematian asal Anda jujur pada diri sendiri dan tidak berlindung di balik ilmiah yang tidak ilmiah (sebab jauh dari fakta yang sebenarnya).

Dengan semua hal di atas, marilah mulai saat ini, kita tumbuhkan kepercayaan adanya hari akhirat. Dengan kepercayaan ini, insya Allah perlahan-lahan kita merubah diri kita menjadi manusia yang sesungguhnya, berusaha mengendalikan hawa nafsu, dan tidak mudah terjerembab dalam dosa. Suatu hari, kepercayaan ini dipupuk untuk menjadi sebuah keyakinan yang tidak luntur oleh apa pun jua. Insya Allah kita dapat hidup bahagia di dunia dan akhirat kelak. Amien, ya robbal ‘alamien!

Bumi Allah, 22 Ramadhan

Email;sam_penulis@yahoo.com, otodidaktor@yahoo.co.id.

Tokoh Hebat dari Rahim Universitas

Prof. Dr. Qomaruddin Hidayat adalah sosok yang dibesarkan dunia kampus UIN, merintis karir mulai dari bawah, menjadi dosen biasa, dosen pasca sarjana, sampai menjadi Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Banyak prestasi hebat lainnya yang telah dicapai di tingkat nasional dan internasional. Padahal bung Qobar merupakan santri desa yang sederhana, namun berkat ketekunan, keuletan, kerja keras dan cerdas, akhirnya berhasil seperti sekarang. Ingat, bang Qomar taat beribadah dan santun.

Prof. Dr. Gumira merupakan Rektor UI yang siapa nyana mampu mencapai hasil seperti sekarang ini, sebab berasal dari keluarga miskin. Bang Gumira merupakan potret dari emas yang berasal dari gunung, berkat diasah dalam kawah candradimuka akademis akhirnya berhasil mencapai sesuatu yang diimpikan banyak orang. Ingat! Bang Gumira kuat secara spiritual dan sederhana!

Prof. Dr. Hidayat Nurwahid, merupakan sosok intelektual yang dibesarkan di kampus Timur Tengah, namun mampu beradabtasi dengan masyarakat Indonesia tanpa kehilangan identitas dirinya. Meski memasuki dunia politik yang “abu-abu dan penuh godaan”, namun ketua MPR ini menunjukkan suri tauladan dengan “gembrakan-gebrakan” yang dilakukan, seperti menggunakan mobil biasa, mendatangkan KPK ke pesta perkawinannya, dan menunjukkan Mukmin sejati yang anti korupsi, kolusi atua nepotisme. Banyak orang berharap pada kiprahnya untuk kemajuan Indonesia di masa mendatang.

Prof. Dr. Habibie salah satu Tokoh terbaik Indonesia yang memiliki reputasi Internasional dan pernah menjabat presiden di saat krisis, waktu itu Republik hampir “Ambruk” tapi Habibie mampu mengambil langkah-langkah luar biasa, sehingga Indonesia tetap tegak berdiri. Tahukah Anda bahwa ekonomi kita hancur berkeping-keping, tapi Habibie mampu menatanya? Saat kuliah di Jermat terpaksa tinggal di sebuah ruang sempit tanpa AC, sehingga terserang pernyakit. Namun, dengan semangat pantang menyerah, kerja cerdas dan kekuatan spritualitas Islam, jadilah Habibie sebagai manusia paling jenius yang pernah dilahirkan Republik Indonesia.

Masih banyak daftar orang-orang hebat lainnya yang lahir dari rahim Universitas, namun dengan beberapa tokoh di atas, beberapa hal dapat disimpulkan.

Pertama; dalam menempuh jenjang pendidikan Akademis harus sampai batas akhir; mulai S1, S2, Dr. dan berusaha meraih Prof. dengan cara yang benar. Artinya, mengerahkan segenap kemampuan yang dimiliki untuk mencapai cita-cita akademis.

Kedua; jangan merasa puas dengan gelar yang disandang, begitu menjadi Dr. atau Prof. dituntut memiliki karya nyata di tengah-tengah masyarakat melalui sarana atau media yang ada, baik di bidang sosial, politik, ekonomi, agama maupun budaya.

Ketiga; mereka mampu menunjukkan kemandirian dalam berintelektual, berinteraksi dan dalam hal ekonomi, sehingga mampu mempertahan idealisme di tengah banyak godaan untuk “melacurkan diri secara intelektual.”

Keempat; mampu mengembangkan semua potensi yang dianugrahkan Allah berupa; imajinasi, pikiran, kesadaran, pengalaman, hati dan rubuh secara optimal, sehingga meraih kesuksesan seperti sekarang ini.

Kelima; memiliki kekuatan Spritualitas, taat beribadah dan shaleh secara sosial. Ini menunjukkan bahwa nilai-nilai agama yang dipahami, dianut dan dipraktikkan mampu membimbing pada kesuksesan di dunia dan akhirat.

Keenam; mereka mampu memanfaatkan keterbatasan; miskin atau wong ndeso, sebagai sarana meraih keberhasilan, bukan alasan untuk gagal. Ini akan menjadi sumber motivasi yang tak pernah padam.

Ketujuh; mereka mampu mempraktikkan Lifelong Education atau “Tuntutlah ilmu dari pangkuan Ibu sampai ke liang lahat,” (hadits) atau pembelajaran seumur hidup, sebuah prinsip yang harus mampu dipahami dan dipraktikkan setiap mahasiswa.

Semoga para mahasiswa mampu meneladani sisi-sisi baik mereka dengan membuang jauh-jauh sisi-sisi buruk manusiawinya, sehingga mampu meraih keberhasilan di masa mendatang. Amien!

Beri tanggapan

Your response: