RSS

Puasa, Idul Fitri dan Idul Adha

SELAMAT IDUL FITRI 1429 H. SEMOGA IBADAH PUASA DITERIMA ALLAH! AMIN!

SELAMAT MENJADI ORANG BARU YANG LEBIH BAIK, MANFAAT DAN SUKSES! AMIN!

 

 “Membudayakan Menunda?”

 

            Alhamdulillah puasa Ramadhan berusaha dijalani sebaik-baiknya, meski diakui masih penuh kekurangan untuk disejajarkan sebagai puasa orang-orang shaleh. Paling tidak, ada upaya sungguh-sungguh untuk melakasanakannya sepenuh hati, jiwa dan raga. Allah melihat sejauh mana usaha yang dilakukan untuk menyempurnakan puasa.

            Bagi yang puasanya bolong-bolong karena alasan fisik lemah, haid, sakit, musafir dan (cuaca yang tidak bersahabat, lingkungan yang tidak mendukung, alasan pekerjaan, tanyakan pada Ustads yang ahli Fiqih, boleh nggak tidak berpuasa alasan dalam kurung ini), gantilah di lain hari; ada waktu 11 bulan untuk mengganti puasa Ramadhan. Jangan remehkan “kelalaian yang dilakukan” dengan tidak mengganti puasa, sebab jika diremehkan justru membuatnya menjadi dosa besar yang sulit diampuni Allah. Gantilah puasa yang bolong secepatnya di luar bulan Ramadhan.

            Sebelumnya telah ditulis beberapa hikmah dari puasa Ramadhan, namun rasanya ada sesuatu yang kurang yakni apa makna hakiki dari puasa? Setelah merenung lama untuk menemukan kebenaran, mendadak berkelebat ilham yakni inti puasa adalah Menunda. Lho, kok bisa?

            Ketika berpuasa, kita dilarang makan,minum dan menuruti kehendak hawa nafsu yang halal sampai waktu berbuka puasa Magrib. Ini berarti, sebenarnya waktu makan dan minum ditunda pada waktu Magrib, waktu menyalurkan kebutuhan biologis ditunda pada malam hari (shalat Tarawih dulu biar tenang), dan waktu menikmati yang halal lainnya ditunda.

            Dengan memaknai puasa sebagai upaya menunda sesuatu yang dilakukan dalam kurun waktu tertentu, membuat setiap Muslim tidak lagi menjadikan puasa sebagai beban, justru lebih santai melakukannya karena hanya menunda kok, tidak lebih dan kurang. Pekerjaan menunda berkaitan dengan kesabaran, tanpa kesabaran, maka pekerjaan menunda bisa berantakan; penuh keluhan, protes karena perut memberiontak, ngomel sana sini tanpa alasan, dan ujung-ujungnya tidak melakukan puasa.

   Nilai utama puasa berarti bersabar menghadapi segala sesuatu yang dialami, dirasakan, dilihat dan dilalui. Itu berarti salah satu tanda puasa seseorang diterima ialah lebih bersikap sabar dari sebelumnya. Nabi Muhammad SAW bersabda; “Orang yang kuat itu bukan diukur dengan keperkasaan fisik melainkan yang mampu mengendalikan hawa nafsunya pada saat marah.” (HR. Bukhari Muslim). Inilah hakikat sabar. Malah, jika ingin meneladani Nabi Muhammad; Suku Thaif yang melempari beliau dengan batu sambil menghina dan memaki-maki, justru didoakan agar mendapatkan hidayah Allah. Inilah tingkat sabar yang tertinggi di hadapan Allah SWT.

            Seandainya kita berpikir lebih dalam, sebenarnya bukan hanya puasa yang bermakna menunda, melainkan kehidupan akhirat diperoleh dengan menunda kesenangan di dunia, meski sebagian kesenangan dibolehkan seperti makan, minum dan hubungan suami istri. Umat Islam disuruh menunda minum minuman keras (khamr), sebab nanti di akhirat dapat meminum sepuas-puasnya. Bagi yang belum menikah dianjurkan berpuasa agar mampu menahan hawa nafsu -jika sudah mampu menikah dianjurkan menikah-, sebab nanti Bidadari yang luar biasa cantik tiada banding dengan gadis tercantik di dunia (Dian Sastro, Paris Hilton, dan Ais Rawaray tidak ada apa-apa, deh! Dijamin 100% jika bersabar menunda), perawan terus menerus lagi. Ketika di dunia diminta menikmati makan secukupnya, nanti di surga apa saja dapat dimakan sepuasnya dengan tanpa repot-repot buang air besar dan kecil. Jika berpakaian dianjurkan yang sederhana, bersih dan harum, nanti memakai baju sutra terbaik yang pernah ada. Jika membangun rumah jangan terlalu mewah karena bisa berlebihan, nanti bangunan kita berasal dari emas. Jika menggunakan alat dapur yang penting bersih dan suci, nanti semuanya terbuat dari emas. Jika rumah di dunia paling luas 1000 meter persegi (milik artis dan orang kaya raya di dunia), nanti hamba Allah yang dikasihi memiliki rumah seluas langit dan bumi. Jika demikian, bukankah mulai sekarang kita harus membudayakan “Menunda.”

            Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa beliau dan Ahlul Bait (keturunan Nabi) sudah menukar Dunia dengan Akhirat. Ini bermakna, beliau beserta seluruh keturunannya (yang mengaku keturunan Nabi harus memperhatikan hal ini) sudah mengganti kehidupan dunia yang palsu dengan akhirat. Menukar lebih utama dari menunda, sebab dengan menukar berarti kehidupan dunia sama sekali diindahkan, kecuali sebagian kecil saja, ditukar dengan akhirat. Jadi setelah mampu menunda, kita tingkatkan diri dengan menukar kehidupan dunia dengan akhirat seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Jangan terbalik! Sebab ada sebagian umat Islam yang belum apa-apa sudah menukar, padahal belum mampu melakukan penundaan dengan baik, dan lahir/batin belum siap. Akibatnya justru tidak mampu bertahan seumur hidup, malah membawa kemudharatan.

            Dalam meraih kesuksesan di kehidupan dunia, ternyata prinsip menunda ini sangat penting sekali. Cobalah selidiki orang-orang yang kaya raya, berprestasi, dan tokoh hebat di dunia, mereka mampu menunda kehidupan yang lebih baik selama puluhan tahun. Walt Disney, baru menjelang tua mampu mewujudkan mimpinya membuat Disney Land, Bill Gates menunda beberapa tahun dengan hidup di garasi guna melahirkan Dos dan Microsoft, Ibnu hajar menunda 10 tahun untuk menjadi seorang Alim Ulama’, dan Hamka menunda puluhan tahun sebelum diakui sebagai Prof. Dr. tanpa kuliah formal. Seberapa kuat Anda menunda sesuatu, seberapa lama Anda bertahan, dan seberapa tangguh mental Anda menghadapi godaan-godaan yang menggagalkan upaya menunda, maka sebesar itu pula bayaran berupa kesuksesan di dunia. Bagaimana dengan yang berusaha untuk sukses, tapi tetap miskin atau gagal?

            Jawabannya sederhana, bagi hamba-hamba Allah pilihan yang berusaha sekuat tenaga untuk berhasil demi kebaikan sesama, demi mensucikan diri, demi kemaslahatan keluarga atau masyarakat, dan mencapai Ridha Allah, maka kesuksesan yang lebih besar ditukar untuk hari akhirat kelak, asal tetap dalam keadaan Muslim dan Mukmin sampai menjelang ajalnya. Contohnya; Uwais Al-Qarni yang hidup biasa-biasa saja, malah bekerja pada orang lain dengan mengambil jasa dari menggembalakan kambing, tapi mengabdikan hidup untuk melayani Ibunya tercinta, bahkan karena itu sampai tidak mampu berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW semasa hidup. Tahukah Anda keutamaan Uwais Al-Qarni? Umar bin Khattab (istananya di surga sangat megah dan Khalifah terbaik umat Islam) dan Ali Bin Abi Thalib (yang berhasil mempersunting Siti Fatimah putri Nabi Muhammad, sehingga mempertahankan garis keturunan beliau dan paling tinggi ilmunya di antara sahabat-sahabat yang lain), diharap oleh Nabi Muhammad untuk meminta doa pada Uwais karena beliau merupakan Penduduk Langit. Subhanallah! Allahu Akbar! Laa Haula Wala Quwwata Illah Billah!

            Puasa hakiki diperoleh dengan kemampuan menunda yang hebat. Kesuksesan dunia diraih dengan menunda puluhan tahun. Kehidupan akhirat dicapai dengan menunda seumur hidup, malah jika bisa kehidupan dunia ditukar dengan akhirat. Intinya ialah, mari berlatih, membiasakan dan menjadikan budaya menunda sebagai bagian terpenting kehidupan kita. Semoga kita semua mampu memegang prinsip “menunda” ini, sehingga mencapai kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat. Amien!

 

Catatan: Tapi ingat menunda-nunda pekerjaan sehari-hari bukan bagian dari makna “menunda” di atas.

 

Beislam Dengan Benar

        Untuk menjadi Muslim yang benar, marilah kita berupaya mempraktikkan rukun Islam; Shahadat, Shalat, Puasa, Zakat dan Haji, dalam kehidupan sehari-hari. Berikut ini cara-caranya.

Pertama: Syahadat merupakan komitmen seorang Muslim untuk menyembah satu Tuhan yakni Allah, ini menjadi sarana memperkuat ketauhidan,  dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah yang menjadi Rasul akhir zaman. Dalam mengucapkan syahadat diserap maknanya dalam pikiran, diteguhkan sebagai keyakinan dalam hati, dan diperkuat dengan mengucapkannya sebanyak 14X setiap hari melalui shalat 5 waktu, sehingga keyakinan mengakar dalam jiwa.

Kedua; Shalat merupakan sarana, tanda dan ukuran penyucian jiwa, serta upaya menjadi benteng dari perbuatan dosa, keji dan kejahatan; “… Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar …” (QS Al-Ankabuut; 49).

Kehadiran hati dalam shalat dapat dilakukan dengan cara; keinginan yang kuat dalam diri untuk menghadirkan hati dalam shalat, pemahaman makna dengan benar membuat seseorang lebih yakin, melakukan penghormatan pada Allah yang Maha Segala dan merasakan kekurangan seorang hamba di hadapaNnya, takut kerena hormat pada Allah dalam arti yang sebenarnya, malu karena shalat yang dilakukan tidak sebanding dengan karunia Allah.

Shalat Khusu’ (IPHS); pertama, berusaha senantiasa mengingat Allah semata saat shalat, bila mengingat yang lain cepat dialihkan dengan mengingat Allah kembali, “….. dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaaha:14) kedua, memahami makna bacaan-bacaan dalam shalat dan menyelaminya, sehingga dapat lebih berkonsentrasi, “…. Sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan…” (QS An-Nisaa’:43) ketiga, pikiran, perasaaan dan hati hadir bersamaan saat membaca setiap lafadz sepanjang melaksanakan shalat, keempat, Syahadah yakni merasakan kehadiran Allah langsung, bulu kuduk sampai berdiri merasakan dasyatnya peristiwa itu. Untuk mencapai khusyu’ dalam taraf kedua, ketiga dan keempat perlu latihan terus menerus sepanjang hayatnya. “Ilmu yang pertama kali diangkat dari muka bumi adalah kekyusu’an.”(HR Thabrani)

Pengaturan waktu shalat disesuaikan dengan keadaan manusia di sela-sela melakukan aktivitas yang super sibuk. Subuh dilakukan waktu pagi buta agar kita menikmati indahnya pagi hari, menghirup udara segar, mengingat perjalanan tidur yang berisi mimpi berkesan, dan mengatur kegiatan satu hari dengan baik. Dhuhur dilakukan siang hari bertepatan dengan istirahat dari aktivitas untuk memulihkan tenaga dengan menikmati makan siang, dan menyegarkan batin dengan melakukan shalat, sehingga merasa segar kembali untuk melanjutkannya. Asyar dilaksanakan sore hari supaya rutinitas kerja dan aktivitas tidak membuat seseorang lupa diri, melainkan ingat bahwa bekerja merupakan sarana menjalani hidup yang lebih baik, bukan tujuan. Magrib dilaksanakan setelah matahari terbenam sebagai penyempurnaan aktivitas satu hari karena telah melaksanakannya dengan baik, mengisi batin dengan “baterai yang kuat” (ibarat baterai Hp atau Laptop, senantiasa diisi untuk dapat dipakai kapan saja). Isya’ waktu terbaik untuk melupakan aktivitas dan sarana melakukan perenungan terhadap perjalanan hidup yang dijalani, dan evaluasi terhadap aktivitas yang telah dijalani, sehingga hari esok lebih baik dari hari ini.

Ketiga; Zakat secara lahiriah yakni niat untuk menunaikan zakat fitrah dan harta, segera berzakat setelah Haul untuk zakat harta, mengeluarkan zakat sesuai perintah dari nash Al-Qur’an dan hadits, sedang sedekah yakni memberiikan sesuatu pada orang lain karena mengharap pahala dan ridha Allah.

Tiga tingkatan pemberi zakat; pertama, memberiikan seluruh hartanya tanpa tersisa untuk digunakan berjuang di jalan Allah (dalam arti positif sesuai zaman kekinian), seperti halnya Abu Bakar yang menyerahkan seluruh hartanya untuk Islam, kedua, mengeluarkan sedekah atau infaq sesuai kebutuhan dan kemampuan diri, ketiga, mengeluarkan zakat yang wajib saja.

Makna Zakat dalam Islam (KSuc SAdP)

Pertama: dalam bertauhid yang benar, umat Islam perlu berkorban yang dicintainya yakni harta, untuk itu diwajibkan zakat.

Kedua; menyucikan jiwa dari sifat kikir dan pelit karena merupakan salah satu penyakit yang paling berbahaya bagi umat Islam.

Ketiga; syukur nikmat, sebab nikmat Allah tidak terhingga banyaknya, jadi wajar bila menyedekahkan sebagian harta,

Keempat; upaya Islam untuk menyebarkan keadilah di muka bumi, mengingat perbedaan kelas merupakan sesuatu yang wajar, sebab ada perbedaan usaha, kerja keras, kegigihan, dan rizki yang diperoleh.

Kelima; sedekah dan zakat merupakan bentuk riil umat Islam untuk peduli pada orang-orang miskin, terlantar, dan membutuhkan pertolongan, sehingga Islam dibangun dari kepedulian dan kasih sayang. Sehingga zakat dan sedekah diharapkan mampu mengatasi problem kemiskinan dan pengangguran di Indonesia. Ketika Anda mengikuti Pelatihan ini, hakikatnya Anda turut bersedekah karena sebagian dana digunakan untuk mensubsidi pelatihan dan kuliah gratis sebagai amal shaleh langsung.

Kode etik zakat/sedekah; Tidak boleh menyebut-nyebut yang disedekahkan kecuali untuk kebaikan, tidak menyakiti orang yang kita beri, riya’ atau mengharap pujian dari orang lain, sebab semua itu akan mengurangi pahala dari sedekah yang kita berikan. Sesuai firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan  sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih. Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberii petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Q.S. Al-Baqaroh: 264)

Menyedekahkan sesuatu pada mereka yang membutuhkan.“Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (Q.S Al-Baqoroh 215)

Tahapan-tahapan dalam bersedekah (APTKSI)

Pada awal bersedekah, boleh saja kita lakukan di depan orang banyak agar mendapat pujian, lalu terus membiasakan sedekah dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi para Wiraswasta, sehingga sedekah menjadi kebiasaan seperti halnya membiasakan diri makan dan minum. Lewat proses pembiasaan, rasanya kita merasa risih bila bersedekah sekadar mengharap pujian, maka perlahan-lahan kita berlatih untuk bersedekah tanpa diketahui orang banyak, hal ini dilakukan terus menerus.

Bersedekah mengharap imbalan pahala di akhirat seperti yang dijanjikan Allah dalam beberapa ayat Al-Qur’an, sehingga diharapkan pahala-pahala yang diperoleh bisa menghilangkan dosa-dosa yang dibuatnya atau mengharap lepas dari siksa kubur dan api neraka. Dalam tahap ini, sedekah seseorang telah mengalami peningkatan dari sekadar mengharap pujian, imbalan berlipat di dunia sampai mengharap pahala di akhirat. Sebagai muslim yang baik kita memang harus mengumpulkan pahala sebesar-besarnya sebagai bekal dalam kehidupan di akhirat nantinya.

Menyumbang tanpa mengharap yang lebih banyak. “Dan janganlah kamu memberii  memperoleh  yang lebih banyak,” (Q.S. Al-Muddatsir:6) Ayat ini tidak bertentangan dengan ayat yang menyatakan bahwa setiap sedekah atau infaq yang diberikan umat Islam akan mendapatkan imbalan yang berlipat-lipat di dunia dan akhirat. Bila ayat sebelumnya berupaya mengajak umat Islam berlomba-lomba bersedekah dengan tawaran yang sangat menarik, sedang ayat ini merupakan harapan Allah agar umat Islam tidak berhenti sampai di situ, melainkan meningkatkan tingkatan sedekahnya dengan bersedekah tanpa mengharap yang lebih banyak.

Bersedekah dalam segala kondisi; krisis atau bukan, buruk atau baik, lapang atau sempit, miskin atau kaya, sepi atau ramai. Orang-orang akan bersimpati pada wiraswasta tetap menyumbang padahal dalam keadaan serba sulit, simpati ini akan mendatangkan keinginan dari orang tersebut, keluarganya dan tetangga sekitar untuk membeli sesuatu. Inilah indahnya Islam, umat Islam yang memberiikan manfaat pada orang lain, maka Allah pasti membantunya dengan cara yang bermacam-macam, termasuk memberii kelapangan saat dalam keadaan sempit, tetap jalan walau pasar sepi, dan memperoleh rizki yang tak terduga dalam hidup kita.

Bersedekah secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan orang lain. Saat hendak bersedekah kita cari tempat yang sepi dari penglihatan orang, menaruh di depan pintu rumah fakir miskin dan kita langsung melangkah pergi, bahkan diusahakan saat tangan kanan menyumbang tangan kiri tidak melihatnya. Ada kepuasan batin yang berbeda saat bersedekah secara sembunyi-sembunyi dibanding bersedekah secara terang-terangan, karena itu harus lebih sering dilakukan. Allah berfirman: “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: “Hendaklah mereka  mendirikan shalat, menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan  sebelum  datang hari  yang pada bari itu tidak ada jual beli dan persahabatan.” (Q.S. Ibrohim:31)

Bersedekah secara ikhlas yakni bersedekah hanya mengharap ridha Allah. Orang yang mampu mencapai taraf keihkhlasan, perasaannya tenang, pikirannya jernih, hatinya bersih, buah tutur katanya halus dan penuh makna, nasihat-nasihatnya manjur dan sikap hidupnya penuh kebijaksanaan. Dengan kondisi demikian, pintu hidayah dan rahmat Allah sampai kepadanya, sehingga perlahan-lahan dia membentuk dirinya menjadi manusia paripurna mendekati Nabi Muhammad SAW. Intuisi atau pengetahuan yang diperoleh secara langsung tanpa proses pengindraan atau pengalaman, muncul dengan mudah dari dirinya. Orang yang mampu mencapai keikhlasan secara sempurna adalah orang yang pantas diikuti umat Islam dimana pun mereka berada, dan dialah pemimpin sejati umat Islam. Hal ini sesuai firman Allah: “Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S Yaasin:21)

Keempat; Puasa merupakan sarana penyucian jiwa melawan hawa nafsu, sebab perut dan kemaluan merupakan shyahwat terbesar yang harus dilawan, cara yang paling efektif dengan berpuasa, dan merasakan penderitaan orang-orang yang hidup serba kekurangan atau di bawah garis kemiskinan.

Makna puasa secara sosial. Hidup selama setahun 12 bulan, memanfaatkan sebulan untuk berpuasa pagi sampai matahari terbenam, tentu merupakan sesuatu yang wajar, malah jika melalaikan sama artinya dengan menyepelekan kehidupan kita yang 11 bulan, di samping itu, puasa sebulan memberii warna berbeda pada yang 11 bulan lainnya untuk menjalani hidup yang lebih baik. Merasakan lapar untuk memiliki kepedulian pada orang-orang sekitar yang hidup kekurangan, terlantar dan teraniaya. Mengendalikan mesin hasrat atau keinginan kita supaya membeli barang yang benar-benar penting, mendahulukan kebutuhan di atas keinginan, dan mengatur keinginan sebagai upaya menikmati hidup. Mengontrol emosi dengan baik untuk hidup yang harmonis. Mengontrol hawa nafsu agar kita yang berkuasa bukan sebaliknya, sebab hidup lebih indah, coba dibuktikan jika tidak percaya.

Kelima; Haji merupakan pembiasaan jiwa melakukan sejumlah nilai; pasrah dan menyerahkan diri pada Allah, mencurahkan segenap harta dan kemampuan pada Allah, saling tolong menolong dan berkenalan dengan berbagai suku, ras dan bangsa di dunia, dan syi’ar-syi’ar ketundukan pada Allah.

Cara menunaikan ibadah haji menurut Said Hawwa (Kitab Penyucian Jiwa)

Mampu menunaikan haji yang berasal dari sumber-sumber yang halal, dan bekal mencukupi selama menunaikan ibadah haji, meninggalkan Rafats (kemesuman, perbuatan jorok, dan kesia-siaan), fusuq (pelanggaran terhadap ketaatan pada Allah), jidal (pertengkaran atau berdebat yang berlebihan), lebih utama menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki dari Mekkah ke Arafah kemudian Mina, memakai pakaian yang suci dan bersih, mendekatkan diri pada Allah dengan menyembelih binatang kurban, dan merasa senang dan ikhlas dengan mengeluarkan harta dan tenaga untuk menunaikan ibadah haji, serta menyucikan jiwa dari syahwat yang tercela dan menahannya dengan baik karena mengharapkan ridha Allah.

Melakukan niat haji : “Aku penuhi panggilan-Mu dengan haji sebagai hak, ketundukan dan kehambaan,” merupakan wujud penghambaan seseorang pada Allah, ketundukan tanpa syarat, dan menaatinNya tanpa bantahan.

Adanya kerinduan pada Ka’bah sebagai rumah Allah, bagi yang sudah pernah menunaikan ibadah haji terdapat kerinduan mendalam untuk mau menunaikan haji kembali, karena orang yang berangkat ke sana seperti berangkat menuju Allah.

Bertekad untuk meninggalkan semua urusan; keluarga, harta, sosial dan semua hal untuk berkonsentrasi menunaikan ibadah haji.

Berusaha memohon maaf pada orang-orang yang pernah didzalimi, memberiikan maaf pada orang yang bersalah pada kita, dan bertobat dalam arti yang sebenarnya.

Saat berangkat diniatkan untuk hijrah di jalan Allah dengan menunaikan ibadah haji.

Dari sahara menuju Miqat dan menyaksikan berbagai rintangan, membayangkan keluar dari dunia setelah kematian menuju Miqat hari kiamat dengan berbagai peristiwa yang mengerikan.

Sewaktu Ihram dan Talbiyah memasrahkan diri pada Allah secara total, sambil membayangkan tiupan sangsakala pada hari kiamat, kebangkitan dari kubur, hari perhitungan, jembatan penyebarangan dan nasib di surga atau neraka.

Ketika memasuki kota Mekkah timbulkan rasa aman dan tentram dalam jiwa, rasakan seakan-akan Allah hadir waktu itu, saat melihat keagungan Ka’bah, berharaplah untuk bertemu denganNya secara tulus.

Ketika thawaf dilakukan secara khusyu’, bayangkan seperti para Malaikat yang berkumpul di sekitar ‘Arsy Allah, alangkah indahnya. Hati benar-benar hadir saat twawaf bersamaan dengan fisik, sehingga keduanya menikmati hari yang indah bersama-sama.

Mencium hajar Aswad seperti mencium sesuatu yang paling harum, indah dan semerbak, hadirkan seperti mencium “tangan Allah” “Hajar Aswad adalah tangan kanan Allah di muka bumi, denganNya dia menyalami makhluk-Nya sebagaimana seseorang menyalami saudaranya.” (HR. Hakim dari Ibnu Abbas).

Sa’i dari Shafa ke Marwah membayangkan Nabi Ismai’il yang berada di pangkuan Siti Hajar untuk mencari air, alangkah susah dan melelahkan, tapi terus menerus sampai menemukan air Zam Zam yang bermanfaat sampai sekarang, sedang dalam batin bayangkan seakan berdiri di antara surga dan neraka.

Wukuf di Arafah seperti lautan manusia berbaju putih dengan kedudukan yang sama, bayangkan di padang Mahsyar kita berkumpul seperti itu bersama Nabi masing-masing, semoga kita mendapat syafaat dari Nabi Muhammad SAW, memperbanyak istigfar karena Allah akan mengampuni dosa-dosa.

Melempar kerikil diniatkan untuk taat pada Allah dengan memusuhi setan dan iblis, bayangkan Nabi Ibrahim ketika melempar iblis dengan kerikil untuk mampu menjalankan perintah Allah sebaik-baiknya.

Menyembelih seekor hewan kurban sebagai pengorbanan kecil, sebab banyak sahabat Nabi yang berkurban melebihi yang dilakukan, bahkan Nabi Ibrahim rela mengorbankan anaknya Nabi Isma’il karena mengharap ridha Allah.

Ziarah ke Madinah merupakan cara untuk membayangkan masa-masa sulit Nabi saat hijrah, awalnya membangun masjid, memperkokoh persatuan antar berbagai macam suku dan agama, kesusahan yang dihadapi muhajirin dan ansor dalam berbagai peperangan, tegaknya Islam secara perlahan-lahan sebagai kekuatan dunia baru. Ketika berziarah ke makam Nabi, bayangkan seakan-akan berhadapan dengan beliau, mendengarkan nasihat-nasihatnya dengan mengingat hadits yang dihafal, memperbanyak shalawat dan berkomitmen meneladani beliau.

Makna sosial ibadah haji. Haji menjadi sarana umat Islam berkomunikasi dengan sesama dari berbagai macam latar belakang, ras, warna kulit dan bangsa, sehingga dapat saling bekerja sama. Dalam era globalisasi ini, seharusnya umat Islam menjadi “penguasa dunia” sebab haji merupakan bentuk kehidupan dunia dalam satu kampung yakni Mekkah, orang dari berbagai bangsa berkumpul bersama untuk beribadah pada Allah. Sayangnya hal ini dimaknai ibadah semata, padahal Allah sendiri menginginkan lebih dari itu. Buktinya, haji merupakan ibadah yang mewarisi tradisi Nabi Ibrahim yang mengikrarkan tauhid dengan benar dari dimensi intelektual dan hati, perjalanan Nabi Isma’il dan Siti Hajar yang diwujudkan dalam Sa’i. Ini berarti, Islam adalah agama yang berusaha melengkapi agama-agama sebelumnya, sekaligus supaya umat Islam mampu mensinergikan diri sesama umat Islam di seluruh dunia, sehingga menjadi kekuatan ekonomi, sosial budaya, dan politik yang besar. Tugas generasi Muslim saat ini ialah merakit benang-benang kusut yang menghalangi semua itu menjadi nyata secara perlahan-lahan agar generasi mendatang dapat mewujudkannya menjadi nyata.

 

Percaya adalah Harta Terbesar Manusia

 

            Dalam dunia bisnis, modal kepercayaan sangat besar pengaruhnya terhadap kesuksesan usaha. Jika modal uang nilainya dapat diukur, sedangkan modal kepercayaan nilainya tak terukur. Sebab orang dipercaya akan terus menerus mendapatkan modal kapan pun membutuhkannya, sebab pemberi kepercayaan telah benar-benar yakin bahwa pinjamannya akan kembali berikut kesuksesan orang yang dipercaya. Jika dalam bisnis demikian, apalagi percaya pada Allah.

            Setiap orang mengaku Muslim, baik karena orang tua Muslim atau karena ikut-ikutan mengingat Umat Islam di Indonesia adalah mayoritas. Setiap Muslim wajib beriman sesuai yang termaktub dalam rukun iman, bahasa sederhana dari iman adalah percaya (tulisan ini hanya membahas sampai percaya dulu, nanti tulisan lain membahas Yakin sebagai inti iman). Pertanyaan seberapa besar kepercayaan Anda pada Islam? Seberapa besar kepercayaan Anda pada Allah?

            Kehidupan sehari-hari sebernarnya merupakan sarana yang tepat untuk terus menerus memupuk rasa percaya pada Allah.

            Seorang pegawai negeri tingkat rendah, hidup mengandalkan gaji, padahal memiliki 3 anak yang telah memasuki sekolah dengan biaya mahal, belum dipotong uang kontrakan dan kebutuhan lainnya, walhasil gaji hanya cukup hidup pas-pasan. Karena hidup pas-pasan, maka malas beribadah karena menganggap tidak ada gunanya, naudzubillah mindzalik. Jadi, ibadah yang dilakukan seakan-akan harus seiring dengan besarnya rizki yang diperoleh, jika demikian, maka Akhirat telah ditukar dengan dunia, padahal seharusnya dibalik dunia ditukar dengan akhirat. Seharusnya, sang pegawai memberi contoh pada seluruh anggota keluarga dengan rajin ibadah karena percaya bahwa Allah membantu hambaNya yang memohon, ruku’ dan sujud padaNya. Dengan percaya yang diwujudkan dalam tindakan, insya Allah rizki tak terduga  diterima. Sehingga hidup dijalani lebih baik.

Seorang pedagang kecil pindah dari satu bus ke bus lain, dari satu terminal ke terminal lain untuk mencari sesuap nasi demi diri dan keluarga, terkadang hasil yang diperoleh hanya cukup untuk makan dua kali sehari, bukan tiga kali. Sang pedagang, mengeluh karena ditaqdirkan menjalani hal itu, bahkan naudzibillah terbersit bahwa Tuhan tidak adil. Buruk sangka pada Allah pertanda tidak percaya, ini berarti sang pedagang walau Muslim, namun belum beriman. Seharusnya, sang pedagang menysukuri nikmat Allah karena hasil usaha cukup untuk makan hanya 2 kali, tengoklah yang diuji dengan kelaparan di luar sana, bukankah keadaan lebih baik. Seharusnya sang pedagang berkata “Alhamdulilah rizki Allah masih kita nikmati karena karuniaNya, besok saya berusaha lagi.”

            Seorang buruh tani bekerja dari pagi sampai terik matahari, hanya mendapat imbalan Rp. 6.000,- (di beberapa daerah, hal ini biasa, mungkin di Jabodetabek lebih besar), padahal dia punya 2 orang anak dan istri, beli beras saja 1 liter paling murah Rp. 4.000,- berarti masih ada sisa Rp. 2.000,- untuk membeli tahu. Dia mengeluh, mengapa kerja kerasnya hanya membuat dirinya hidup pas-pasan, terbersit dalam hatinya “Ah Tuhan hanya bersama orang kaya,” Naudzubillah! Padahal tahukah buruh tani itu, orang yang ditaqdirkan miskin namun tetap berusaha, beribadah dan bersabar, Allah memasukkan ke surga tanpa dihisap. Jika tahu, percayakah pada hal itu? Jika percaya, wujudkan dalam tingkah laku dan ucapan “Alhamdulillah dengan uang Rp. 6.000,- kami masih dapat makan walau sedikit-sedikit!” Setelah itu berusahalah memanfaatkan pekarangan rumah dengan memelihara ayam atau kambing jika sudah punya uang.

            Seorang buruh pabrik, bekerja pontang-panting, hanya memperoleh hasil sesuai UMR, padahal UMR tidak lagi memadai untuk mencukupi kebutuhan hidup. Walau bekerja keras, waktu shalat dhuhur lalai, shalat Asyar demikian juga, malah jika ada lembur, shalat Magrib dan Isya’ juga ditinggal, Subuh apalagi kecapean bangun kesiangan dan harus berangkat kerja. Hasilnya, dia bingung karena harta yang dicari dengan susah payah seperti “menguap,” sebab hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, tidak ada simpanan, apalagi menambah perabotan rumah tangga dan membeli kendaraan. Padahal jika dia percaya adanya “barokah harta” yakni  harta sedikit namun bernilai banyak karena karunia Allah, yang diwujudkan dengan rajin ibadah karena Allah, mengatur keuangan sebaik-baiknya, berusaha hidup hemat, insya Allah hidup yang dijalani lebih baik di dunia, dan di akhirat kelak mendapat yang sangat jauh lebih baik lagi.

            Seorang pemulung, mengais-ngais barang-barang yang bisa yang dijual nantinya, setelah bekerja seharian (tidak ingat shalat lagi), sampai di rumah memilah-milah hasil hari itu, nonton televisi dan istirahat. Begitulah yang dijalani setiap hari. Seorang pemulung lain sama bekerja seharian, tapi dia menyembunyikan bundelan alat shalat, setiap waktu shalat dia shalat, lau meneruskan usahanya, dia percaya shalat merupakan kewajiban yang harus dijalani. Jika orang pertama tetap hidup seperti itu tidak berubah, sedang pemulung yang kedua keadaan tidak jauh beda, tapi mendapatkan sesuatu yang lain yakni ketenangan batin, jauh dari musibah yang macam-macam dan menikmati hidup apa adanya. Malah ada pemulung yang mampu menjadi bos karena bertakwa pada Allah.

            Dengan beberapa kenyataan di atas, masihkah Anda tidak percaya? Masihkah Anda melalaikan ibadah wajib shalat 5 waktu? Masihkah Anda mengeluh bahwa Allah tidak adil? Jika masih, Anda tidak mampu belajar sekaligus tidak mempercayai kehidupan setelah kematian. “Lho, saya percaya, kok!” Jika percaya, rubah tingkah laku Anda, perbaiki ibadah shalat wajib 5 waktu, dan percaya bahwa usaha yang Anda lakukan demi kebahagiaan di dunia dan akhirat.

            Tulisan ini dibuat karena perasaan miris melihat orang-orang yang hidup miskin, pas-pasan, bekerja hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari, anak jalanan, pemulung dan pengasong, tapi justru menjauh dari Allah; ada yang tidak percaya, ada yang percaya tapi di mulut saja, dan ada yang memang telah berhati keras sehingga terjebak pada kesalahan demi kesalahan tanpa mau bertobat. Saya tidak dapat membayangkan; mereka hidup di dunia sudah susah, tapi di akhirat akan hidup lebih susah lagi sebab siksaan Allah sangat pedih tiada bandingannya di dunia ini. Padahal, seharusnya mereka lebih bersabar, ikhlas menerima taqdir Allah dengan tetap berusaha, rajin ibadah 5 waktu, bertingkah laku yang benar dan mendekatkan diri pada Allah. Jika demikian, maka di dunia hidup susah, tapi menikmati kebahagiaan sejati di akhirat kelak!

Siapa saja yang membaca tulisan ini, semoga menyebarkan tulisan sederhana ini, sekaligus mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari! Hamba-Hamba Allah pilihan yang dicintaiNya, orang-orang shaleh, dan sebagian besar para Nabi merupakan orang biasa yang tidak kaya, kecuali Nabi Daud dan Sulaiman, makanya mereka sangat mencintai orang-orang yang tidak mampu, tapi bersabar, bertingkah laku baik dan taat beribadah.

 

Percaya Merupakan Sarana Hidup Bahagia

 

            Seorang pengusaha kelas atas yang memiliki beberapa perusahaan di berbagai daerah di Indonesia, jadualnya sanga padat dan diatur oleh beberapa asistennya. Saking padatnya, jadual bercengkrama dengan keluarga hampir tidak ada. Hasilnya; seorang anaknya terjebak dalam Narkoba, seorang anaknya hidup bebas tanpa arah dan tujuan, istrinya juga sibuk dengan urusannya sendiri, jika pulang ke rumah seperti pulang ke tempat yang tidak nyaman; pertengkaran, masalah keluarga dan berbagai masalah lain bermunculan. Dalam kesibukan sang pengusaha lupa membina keluarga dan lupa pada Allah. Untuk menenangkan hidupnya, tinggal panggil Ustads yang dibayar mahal, tenang sebentar dan kacau kemudian. Untuk mendekatkan diri pada Allah dan percaya padaNya, tidak bisa diwakili siapa pun hanya diri sendiri yang bisa melakukan. Seandainya, jadual kesibukan usaha, jadual mendekatkan diri pada Allah, dan jadual membina kehidupan keluarga diatur dengan baik dengan cara yang Islami, insya Allah kehidupan di dunia akan bahagia, syukur-syukur juga di akhirat kelak.

            Seorang pejabat yang sibuk mengurus orang lain, sedang keluarga dibiarkan tidak terurus, walhasil cemerlang ke luar dan tenggelam dalam kehidupan keluarga. Kelihatan beribadah pada waktu dilihat orang banyak dan menghadiri perayaan, sedang dalam rutinitas sehari-hari, ibadah ditinggalkan. Hasilnya kekayaan duniawi dan pujian manusia di peroleh, tapi kehidupan rumah tangga kacau, akibatnya melakukan pelarian pada istri simpanan dan pelacur. Hidup seakan-akan di dunia saja, sedang kehidupan akhirat tidak pernah diindahkan. Kesenangan semu diperoleh, sedang kebahagiaan menjauh karena tidak percaya dengan kehidupan akhirat.

            Seorang mantan perwira atau Mayor Jendral, hidup penuh harta berlimpah, banyak orang takut padanya, tapi kehidupan yang dijalani hampa. Agama Islam yang dianutnya hanya dalam KTP saja, sedang praktik menjauh dari Islam. Suatu waktu, terjebak dalam Pilkada dan kalah, akhirnya hidup penuh putus asa. Padahal dengan percaya pada Allah, tidak perlu putus asa, sebab masih banyak peluang di bidang lain dan jagad raya yang merupakan karunia Allah sangat luas. Sayang sekali, seharus dia sangat bermanfaat untuk umat Islam lainnya.

            Seorang intlektual yang dibesarkan dengan kehidupan Barat, dengan bangga menyebarkan kehidupan  gaya Barat di bumi Indonesia. Dalam pandangannya “semua yang tidak rasional dianggap tidak ada.” Ibadah sehari-hari ditinggalkan karena dianggap tidak perlu. Dari luar kehidupan senang, padahal penuh kekosongan dan kehampaan. Sewaktu terkena penyakit jantung; keadaan antara hidup dan mati, justru yang “tidak rasional” menyelimutinya. Untunglah Allah berbesar hati untuk memanjangkan umur, sehingga operasi jantung berhasil dengan baik. Saat sehat, mulailah tobat dilakukannnya; didatangi kedua orang tua bersimpuh minta maaf, didatangi guru-gurunya di pesantren dan meminta maaf, menulis di Blognya tentang kesalahan-kesalahan pandangan berpikirnya, padahal banyak orang yang sudah teracuni. Lalu dia mulai kehidupan baru yang penuh dengan ibadah dan percaya pada Rukun Iman tanpa bantahan sedikit pun. Perlahan-lahan kebahagian mulai mengalir sedikit demi sedikit. Bagaimana seandainya operasi jantung gagal dan kematian menjemput? Tentu siksa Allah di kubur dan Neraka siap-siap menantinya. 

            Seorang Ustads yang terkenal, jadualnya sangat padat sekali, demikian juga kesibukannya sangat padat. Dulu sebelum Allah memberiikan keberhasilan, dia berjanji untuk membantu anak-anak yatim melalui panti asuhan yang dibuatnya. Tapi saat berhasil, dia hanya mengirim uang agar panti asuhan diurus, sedang dirinya tidak pernah muncul walau sehari dalam sebulan. Suatu malam, dirinya bermimpi melihat anak-anak yatim masuk ke surga satu persatu, dia melihat sebagian kecil jamaahnya yang mampu mempraktikkan isi ceramahnya juga masuk surga, tapi anehnya justru dia dimasukkan ke neraka, dia protes, tapi terdengarlah jawaban “Kamu pintar berbicara, sedang kamu tidak pernah mengamalkan yang dibicarakan, minimal berusaha untuk mempraktikkan. Kamu berjanji mengasuh sendiri anak-anak yatim, tapi kamu biarkan orang lain mengurus tidak dengan baik. Inilah ganjaranmu.” Saat siksaan mendera tubuh yang lemah, rasa sakit yang luar biasa dasyat dialami. Saat itulah dia bangun dari tidur. Waktu itu masih jam 3 pagi; dia membangunkan sopirnya untuk menemani ke panti asuhan, dibangunkan anak panti, lalu dengan besar hati meminta maaf, ke depan seminggu dua kali dia akan datang ke panti, memperbaiki system pengelolaannya dan mengajar langsung anak-anak yatim. Di samping itu, dia mulai berusaha melaksanakan apa yang diceramahkan sebelum disampaikan pada orang lain. Dia percaya dengan yakin siksa kubur dan surga/neraka tanpa secuil pun keraguan.

            Seorang pengusaha Muslim yang dulunya hidup susah, tapi Allah memberii keberhasilan berkat usaha dan tawakkalnya. Dalam kesibukan yang dijalani, justru semakin mendekat pada Allah. Seminggu sekali dia datangkan Ustads ke rumahnya agar membina keislaman keluarga, bahkan seminggu sekali dia mengadakan pengajian untuk seluruh karyawannya. Dia sendiri memaksakan untuk pulang sebelum Magrib karena memimpin kebiasaan shalat jama’ah dalam keluarga berikut dengan Isya’, di sela-sela keduanya; mereka sekeluarga berlomba-lomba untuk mengaji, membaca buku Islam dan berdzikir pada Allah. Kesejahteraan karyawan dibayar Tiga kali UMR dan ditambah bonus saat Lebaran, Idul Adha dan 17 Agustus, secara rutin dia menyumbang pada pendidikan gratis yang hanya 2 KM dari rumahnya, dia pernah membiayai pembangunan sebuah masjid dengan uangnya sendiri, dia juga memberiikan modal usaha pada 20 anak-anak muda yang menganggur di sekitar lingkunggannya, dan membiayai penuh panti asuhan khusus anak yatim atau piatu yang dikelolanya. Kehidupan keluarga berlangsung harmonis, kebahagiaan menyelimuti mereka di dunia, dan di akhirat Surga sudah menantinya, Itu berarti kebahagian sejati dan sesungguhnya yang kekal di akhirat akan dinikmatinya juga.  Sebab beliau percaya dengan yakin pada Allah, dan kepercayaanya diwujudkan pada kenyataan.

            Pilihannya ialah meniru beberapa cerita di awal atau meneladani Pengusaha Muslim yang benar, sehingga mampu meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Tentu setiap kita memilih yang terakhir. Jika demikian atur kembali kehidupan Anda, buatlah rumah sebagai istana dalam bentuk ketenangan hidup bukan kemewahan, percaya dengan yakin pada Alllah dengan segala janji-janjiNya, dan rajinlah beramal sholeh.

 

 

 

Beriman dengan Benar

 

            Sebelumnya, kita telah berusaha percaya dalam konteks beriman dengan membaca dan mempraktikkan tulisan Berislam dengan Benar, Percaya Merupakan Harta Terbesar dan Percaya Merupakan Sarana Hidup Bahagia. Tibalah saatnya untuk beriman dengan penuh keyakinan tanpa keraguan sedikit pun. Untuk itu, kita perlu memahami dan mempraktikkan Rukun Iman.

Kita semua sudah mengetahui macam-macam Rukun Iman; beriman pada Allah, Malaikat, Nabi dan Rasul khususnya yang berjumlah 25, Kitab-kitab Allah; Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur’an (khususnya Al-Qur’an karena sudah meliputi kitab-kitab sebelumnya), hari kemudian, percaya pada ketentuan Allah.

Beriman pada Allah diwujudkan dalam aspek kehidupan yang dijalani. Saat tertimpa musibah, seberat apa pun musibah tersebut, kembali pada Allah dengan mengucap “Inna Lillahhi Wa Inna Ilaihi Roji’uun,” bersabar, dan yakin Allah sedang menguji keimanan kita agar meningkat ke derajat yang lebih tinggi. Saat mendapatkan rizki, karunia dan kebahagian, bersyukur pada Allah dengan semua itu, dan berbagi pada hamba-hamba Allah yang membutuhkan. Saat hendak putus asa, ingatlah tidak mengenal kata putus kecuali orang kafir, kita sebagai Muslim tidak boleh putus asa, bangkitlah dan berusaha kembali. Manakala berusaha berbuat baik, namun justru dimaki, dihina, dilecehkan dan dianiaya lahir atau batin, yakin pada Allah bahwa setiap musibah dan ujian atas seizinNya, sehingga berusaha bersabar sekuat tenaga dan tetap berbuat baik. Manakala terjebak dalam dosa dan kesalahan, baik di sengaja atau tidak, cepatlah bertobat pada Allah, hanya dengan ampunanNya kita semua selamat di dunia dan akhirat.

Beriman pada Malaikat diwujudkan dengan kesadaran bahwa ada Malaikat Roqib Atid yang standby setiap waktu dan detik mencatat kebaikan dan keburukan yang dilakukan. Saat mensucikan hati dengan istigfar, bertobat dari dosa, merenung untuk menemukan kebenaran dan berbicara dengan hati nurani, percayalah Malaikat Jibril terkadang diutus Allah untuk membisikkan sesuatu, petunjuk dalam bentuk ilham inilah yang berusaha dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Demikian juga penumbuhan kepercayaan pada Malaikat-Malaikat yang lain, minimal berjumlah 10 Malaikat. Meski sebenarnya jumlah Malaikat luar biasa banyak, melebihi umat manusia. Sebab ada Malaikat yang hanya sujud saja pada, Ruku’ saja, berdzikir saja, menjaga ArsyNya, menjaga semesta, menemani manusia dan lain-lain.

Allah mengutus para Nabi dan Rasul mulai Nabi Adam AS sampai Nabi Muhammad, sebagian ahli Tauhid menganjurkan beriman dengan 25 Nabi yang disebutkan dalam Al-Qu’an, meski jumlah sebenarnya jauh lebih banyak, sebab banyak yang sengaja tidak disebutkan dalam Al-Qur’an. Beriman dengan para Nabi diwujudkan dengan berusaha meneladani mereka. Ketika meneladani proses dan perjuangan dalam keimanan contohlah Nabi Ibrahim, ketika ingin meneladani penguasa yang bijaksana contohlah Nabi Sulaiman, ketika ingin meneladani pemuda yang tangguh, kuat dan sabar contohlah Nabi Yusuf dan Nabi Isma’il, ketika menghadapi penyakit contohlah Nabi Ayyub, ketika berdakwah dan berusaha menjadi manusia paripurna contohlah Nabi Muhammad SAW. Teladan para Nabi yang diwujudkan dalam tingkah laku sehari-hari merupakan bentuk nyata dari beriman dengan pada para Nabi.

Beriman pada Kitab-kitab yang ditutunkan Allah pada para Nabi dan Rosulnya; Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur’an. Berhubung semuanya lengkap dalam Al-Qur’an, maka cukup beriman pada Al-Qur’an saja. Umar bin Khattab pernah dimarahi Nabi karena mempelajari Kitab selain Al-Qur’an dengan menyatakan bahwa Nabi yang dahulu pasti beriman pada Al-Qu’an jika hidup di zaman beliau. Al-Qur’an berusaha dibaca, dipelajari maknanya dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari agar kualitas keimanan dan ketakwaan meningkat. Saat mendapatkan ujian dalam keimanan atau sedang mengalami penurunan, bacalah surat Al-Iklash berulang kali, ini adalah contoh kecil. Apa yang ada dalam Al-Qur’an kini sudah dibenarkan ilmu pengetahuan modern, baik tentang penciptaan Al-Qur’an yang dibuktikan teori Big Bang (Teori Ledakan Besar), jagad raya mengembang dan meluas juga sudah dibuktikan, dan proses penciptaan manusia dibuktikan teori Genetika, sehingga Harun Yahya berani membantah kesalahan teori Evolusi Darwin. Ke depan semakin banyak misteri kebenaran yang terungkap. Padahal Al-Qur’an disampaikan Allah pada Nabi Muhammad SAW 15 Abad lalu, tapi akhir-akhir ini beberapa misterinya terungkap. Alangkah luasnya ilmu Allah dan kecilnya atau sedikitnya ilmu manusia. Seorang Fisikawan Prancis Claude Leroy mengungkapkan bahwa baru 4% misteri jagad raya terungkap, sedang 96% masih teka-teki yang berusaha diungkap. Allahu Akbar!

Beriman pada hari kemudian atau Ghaib merupakan sebuah bentuk pengakuan manusia bahwa ada alam lain selain di dunia ini yang tidak terlihat oleh panca indera tapi benar adanya. Hanya orang-orang sholeh yang suci dan para Nabi yang mampu mengetahuinya dengan pasti dan benar. Saya teringat ceramah Prof. Dr. Quraish Shihab di Metro TV Romadhan lalu berkenaan dengan hal ini “jika Anda tidak tahu pasti apa yang ada di saku saya, bagaimana mungkin Anda melihat yang ghaib.”  Ini contoh sederhana yang tepat sekali. Jika disedikit diperluas, jika kita tidak tahu apa yang terbersit di hati orang lain, bagaimana mungkin mengetahui sesuatu yang ghaib. Sebenarnya sebagian mimpi adalah bentuk alam ghaib yang hanya sedikit dibuka. Bentuk riil dari beriman pada hari kemudian ialah berusaha beribadah spiritual dan sosial sebanyak-banyaknya, rajin beramal shaleh dan berbuat baik pada sesama sebagai bekal menuju hari kemudian yang luar biasa dasyat. Sesulit-sulitnya kehidupan dunia tiada sebanding dengan kehidupan akhirat kelak.

Terakhir, beriman dengan ketentuan Allah, baik atau buruk. Terkadang ketika menerima taqdir baik kita beriman, tapi saat menerima taqdir buruk kita menggerutu, malah naudzubillah menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi atau dialami. Seharusnya keduanya diterima dengan lapang ada. Catatan untuk taqdir ialah baru diketahui setelah benar-benar terjadi, setelah itu batu berusaha ditelusuri maknanya dan pelajaran apa yang bisa diperoleh. Ingatlah “kadang seduatu yang kelihatan buruk, tapi ternyata baik, sebaiknya sesuatu yang kelihatan baik ternyata baik.” Meski demikian, hanya Allah yang menentukan Qodha dan dodarnya, kita sebagai manusia tinggal menjalani dan berusaha melakukan yang terbaik dalam hidup, inilah bentuk riil beriman pada ketentuan Allah.

Dalam menjalankan rukum Iman di atas berusaha ditingkatkan dari waktu-waktu dengan meneladani apa yang dilakukan Nabi Ibrahim AS. Nabi Ibrahim AS memberii tauladan dalam proses keimanan yakni awalnya sebelum diangkat menjadi Nabi percaya pada ciptaan Allah, lalu percaya dengan dengan benar pada Allah setelah melihat sunnatullah pada bulan, matahari, dan bintang, atau siang dan malam, percaya dengan yakin setelah melihat langsung mukjizat berupa burung yang dipotong-potong dan disebar ke beberapa gunung tapi bersatu kembali dan terbang ke hadapan beliau, percaya dengan haqqul yakin manakala beliau bersedia mengorbankan anaknya Nabi Isma’il karena Allah semata (padahal sebelumnya Siti Hajar dan bayi Isma’il dibiarkan di pada tandus Mekkah atas perintah Allah yang dilaksanakan sepenuh hati walau menyakitakan), meski kemudian diganti kambing atau domba sebagai bentuk rahmat Allah, dan puncaknya beliau istiqomah dalam haqqul yakin sehingga mendapatkan gelar Khalilullah. Untuk sahabat Nabi Abu Bakr Shiddiq percaya dengan keyakinan apa pun yang disampaikan Nabi dan ada dalam Al_Qur’an, ketika sahabat lain masih sedikit ragu-ragu, contoh; peristiwa Isra’ Mi’raj, meninggalnya Nabi Muhamamd SAW, dan perang melawan umat Islam Murtad gara-gara tidak mau membayar zakat.

Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad mendidik keimanan para sahabat Nabi selama 13 tahun semasa di Makkah, hasilnya; pribadi-pribadi unggul yang beriman dengan penuh keyakinan tanpa keraguan sedikit pun. Bahkan, kita umat Nabi Muhammad SAW dengan hidayah Allah juga memiliki keimanan tersebut. Jika Anda berusaha untuk mulai meningkatkan keimanan mulai detik ini, maka 13 tahun kemudian Anda akan benar-benar menjadi Mukmin sejati, tidak peduli Anda mulai dari usia 15 tahun, 17 tahun, 20 tahun, 25 tahun, 30 tahun, 40 tahun atau 50 tahun, bahkan 60 tahun. Sebab Anda baru memulai dan berusaha sungguh-sunggu beriman penuh keyakaninan. Mari bersama-sama berniat meningkatkan keimanan, termasuk penulis sendiri yang masih berusia 34 tahun.

Apa yang ditulis kelihatan berat atau susah saat dibaca, padahal ketika berusaha dipraktikkan satu persatu, melakukan yang bisa dilakukan dulu, dan terus menerus istiqomah dalam kehidupan, insya Allah terasa mudah dan mendatangkan ketenangan batin yang luar biasa. Silahkan dibuktikan!

 

Bersyukur Atas Kesuksesan Orang Lain

 

            Suatu hari Nabi Muhammad bersiap-siap mengajar para sahabat. Tapi “pengajian atau majlis taklim” dalam bahasa orang sekarang, belum juga dimulai. Melihat kekhawatiran para sahabat, Nabi mengatakan bahwa sebentar lagi ahli surga akan muncul di tengah-tengah mereka.

            Mendengar hal itu, tentu saja para sahabat menunggu dengan rasa penasaran yang luar biasa. Muncullah Abu Bakr Shiddiq yang keimanannya melebihi seluruh penduduk langit dan bumi, tapi bukan beliau yang dimaksud. Muncullah Umar bin Khattab yang membuat umat Islam berani beribadah terang-terangan, tapi bukan beliau yang dimaksud. Muncullah Usman Bin Affan yang dermawan, tapi bukan beliau yang dimaksud. Muncullah Ali bin Abi Thalib, pasti beliau seru para sahabat sebab merupakan singa Allah yang ahli ilmu, tapi ternyata bukan. Tiada beberapa lama, muncullah seorang pemuda biasa yang kurang dikenal, tapi ternyata pemuda tersebutlah yang termasuk ahli surga. Tentu saja para sahabat bingung tidak mengerti. Nabi mengatakan bahwa pemuda tersebut sujud syukur setiap kali tetangganya mampu membeli sesuatu atau merasakan kebahagiaan.

(Maaf cerita ini saya peroleh dari seorang penceramah di Depok, jadi belum tahu haditsnya, jika ada pembaca yang mengetahui atau mempelajari hadits tersebut, mohon saling berbagi ilmu demi kebenaran)

Walau mendengar cerita tersebut sekitar setahun lalu lebih, tapi saya tidak pernah melupakannya. Entah mengapa, saya tercenung lama mendengar kisah penuh hikmah tersebut. Saya benar-benar merasa tersentuh bukan sekadar karena pemuda tersebut yang disebut ahli surga, bukannya para sahabat Nabi terkemuka, tapi lebih itu ialah kebesaran hatinya sesuatu yang perlu kita teladani.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa hubungan antara satu tetangga dengan tetangga lainnya berlangsung kurang harmonis karena sifat iri dan dengki yang ada pada setiap orang. Jika tetangga mampu membeli mobil, maka tetangga sebelah merasa iri dan bergosip macam-macam tentang tetangganya. Malah suatu waktu memaksakan diri untuk membeli mobil walau sebenarnya tidak mampu. Hasilnya, sebuah kehidupan yang tidak nyaman dan tentram tentunya. Sedang pemuda ahli surga justru merasa bahagia, malah bersujud syukur ketika tetangganya mampu membeli sesuatu.

Hubungan antar teman yang akrab terkadang rusak karena sifat iri atas kemampuan temannya yang lebih secara finansial, emosional atau intelektual, sehingga persahabatan bisa menjadi musuh abadi. Sedang pemuda di atas justru berharap sahabatnya untuk lebih berhasil dari dirinya dengan bersujud syukur jika mendapatkan sesuatu atau meraih prestasi.

Hubungan antar saudara terkadang terjadi saling iri atau dengki, sehingga ada hasrat menjatuhkan atau minimal tidak mau membantu saudaranya karena takut lebih hebat dari dirinya. Sedang sang pemuda justru bersujud syukur kalau saudaranya berhasil, malah bersedia membantu dengan ilmu, harta dan doa untuk mendukungnya.

Hubungan antara ustads dengan ustads lain yang ahli ceramah, antara satu tokoh masyarakat dengan tokoh masyarakat lain, dan antara satu Kiai dengan Kiai lain, terkadang rusak jika salah satu pihak memiliki jamaah lebih banyak, punya hubungan yang dekat dengan kekuasaan atau lebih terkenal. Sedang pemuda ahli surga justru membantu dengan ilmu yang dimiliki agar Ustad, tokoh masyarakat dan Kiai lebih bermanfaat bagi masyarakat luas.

Hubungan antar teman sekantor, berusaha mencari muka pada bos dan terkadang saling menjatuhkan. Sedang sang pemuda malah berharap temannya lebih cepat dipromosikan dan naik jabatan supaya mampu menghidupi keluarganya, sebab sang pemuda masih bujangan.

Hubungan antar pegawai negeri terkadang rusak karena berharap lebih cepat naik jabatan, jika ada yang dipromosikan, kasak kusuk beredar dengan cepat dan fitnah pun menyebar. Sedang pemuda ahli surga justru memberiikan dukungan moril agar orang lain sukses, malah ditambah bersujud pada Allah karena memperoleh karuniaNya.

Inilah daftrar alasan kenapa pemuda tersebut menjadi ahli surga. Jika Anda ingin menjadi ahli surga, maka tirulah daftar sikap hidup di atas dalam kehidupan sehari-hari. Insya Allah Anda mendapatkan keistimewaan yang sama dari Allah. Mudah saat membacanya, tapi Anda akan berhadapan dengan “musuh” dari dalam diri sendiri saat berusaha melaksanakannya. Taklukkan “musuh” dalam diri Anda, surga merindukan kehadiran Anda. Hikmah yang dapat dipetik dari hal di atas ialah;

1.      Lawan sifat iri dan dengki yang ada dalam diri kita masing-masing, malah harus dihancurkan berkeping-keping tanpa sisa.

2.      Berbahagialah saat orang lain bahagia dan tersenyumlah saat orang lain tersenyum

3.      Bersujud syukur setiap mendengar sahabat, teman, saudara, kerabat, tetangga, dan orang lain memperoleh sesuatu yang menyenangkan atau meraih kesuksesan.

4.      Berbesar hati untuk membantu orang lain walau diri sendiri lebih membutuhkan

5.      Sebarkan kebaikan di muka bumi dengan menyenangi kelebihan orang lain dan menutupi kekurangannya

Marilah kita berlomba-lomba menjadi ahli surga dengan meneladani pemuda di atas. Ini merupakan sebuah dorongan motivasi bagi generasi muda agar melakukan sesuatu yang bermanfaat pada orang lain dengan langkah sederhana dan biasa saja, namun bernilai luar biasa. Semoga kita semua mampu mengamalkan hal ini! Amien!

 

Mempraktikkan Ayat Al-Qur’an dan Sunnah Nabi

Salah satu nasihat Nabi Muhammad SAW dalam Khutbah Wada’. “Wahai manusia ! Dengarlah kata-kata saya dengan cermat dan pikirkanlah. Saya akan meninggalkan kepada Anda sekalian dua hal penting, yang satu adalah Kitab ALLAH dan yang lainnya adalah kata-kata dan sunnah saya. Apabila Anda mentaati keduanya maka Anda tak akan pernah tersesat.”

Dalam hadits lain yang diriwayatkan Imam Malik dan Anas;

 

Aku Tinggalkan untukmu dua perkara. Tidak akan sesat selamanya selagi kamu menuruti keduanya. Yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.

            Sebagian Ulama’ dan Intelektual Muslim melihat apa yang terjadi terhadap umat manusia terakhir-terakhir ini sebagai tanda-tanda datangnya akhir zaman. Hal ini diperkuat dengan analisa Prof. Dr. Harun Yahya melaui CD/DVD dan bukunya, mengulas hadits-hadits yang berkenaan dengan tanda-tanda akhir zaman, hasilnya; hampir semua tanda-tanda akhir zaman telah terjadi. Sesuatu yang menarik ialah bahwa sebelum akhir zaman atau kiamat datang, Islam mengalami kebangkitan dan kejayaan yang kedua.

            Kebangkitan Islam sudah didengungkan lama, mulai Muh. Abduh, Jamaluddin Al-Afghani, Iqbal, Fazlurrahman dan Hasan Hanafi, namun apa yang terjadi pada umat Islam justru sebaliknya; Afganistan dan Irak dijajah kekuatan asing, khususnya AS, Palestina mengalami penindasan yang dasyat dari Israel sejak tahun 1946 sampai sekarang tanpa mampu dicegah, apalagi dihentikan. Padahal jumlah penduduk Muslim milyaran di bumi ini. Salah satu masalahnya ialah umat Islam menjauh dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, padahal dengan keduanyalah Islam dulu mencapai kejayaan.

            Al-Qur’an sekadar dijadikan pajangan, jika dibaca hanya sesekali tanpa berupaya mengerti maknanya, apalagi menindaklanjuti dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, saat pemilu ayat-ayat Al-Qur’an sekadar dikutip untuk menarik massa, semoga Allah mengampuni umat Islam yang melakukan hal ini. Amien!

            Sunnah Nabi; perbuatan, isyarat dan perkataan beliau dikutip para penceramah dimana-mana dan dengan semangat yang membara, namun hanya sedikit yang diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan Nabi Muhammad SAW yang merupakan suri tauladan terbaik karena beliau Al-Qur’an berjalan atau tingkah laku beliau mencerminkan ayat-ayat Al_Qur’an, anehnya tidak berusaha diteladani sebaik-baiknya. Justru para artis (hanya Allah yang tahu tingkah laku mereka yang sebenarnya), hendak dijadikan tiruan, padahal belum pantas ditiru. Justru tokoh-tokoh Barat yang penuh kemunafikan yang ingin diteladani. Justru tokoh-tokoh palsu yang menggadaikan agama dan intelektualnya demi harta yang hendak ditiru. Wajar jika banyaknya jumlah umat Islam seperti buih di tengah lautan; keberadaannya seperti tidak ada.

            Sebenarnya ayat Al-Qur’an yang kita hapal, demikian juga hadits Nabi sudah banyak, namun yang mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari hanya sedikit. Sudahlah, untuk sementara mimpi kebangkitan Islam kita tunda dulu (Allah pasti mengutus Al-Mahdi jika hal ini akan diwujudkan menjadi nyata), sementara ini; sedikit demi sedikit kita terapkan ayat dan hadits yang telah dihapal di luar kepala.

Misalkan kita hapal ayat berikut ini yang artinya; “Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (Yusuf:87). Saat menghadapi masalah berat, ujian yang sangat besar sehingga otak seakan-akan mau pecah, dipecat dari pekerjaan dan mengalami sesuatu yang sangat buruk, janganlah berputus asa, sebab rahmat Allah lebih besar dari murkaNya, rizki Allah sangat luas dan berusahalah kembali, karunia Allah ada dalam jagad raya yang luas, maka carilah. Saat kita benar-benar putus asa dan terjebak di sana terus menerus itu berarti kita termasuk orang-orang yang kafir. Naudzubillah min dzaalik!

Bagi sesama saudara Muslim yang berjuang di jalan Allah melalui pendidikan, kegiatanh sosial, mengelola yatim piatu, dan membantu fakir miskin, praktikkan ayat ini “Jika kalian menolong Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kaki-kali kalian”. (Muhammad:7).

Kita merasa banyak melakukan kesalahan, dosa menumpuk, dan terjebak melakukan maksiat walau berusaha menghindar, maka sebagai obatnya lakukan amal kebajikan, kebaikan dan amal sholeh, sebab Allah berfirman; “…..sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang yang ingat.” (QS. Huud; 114)

            Nabi Muhammad bersabda; “Tuntutlah ilmu dari pangkuan ibu sampai ke liang lahat.” Saat ini di Eropa dan AS, khususnya Inggris menjadikan pembelajaran seumur hidup “Lifelong Education” sebagai keharusan untuk menyesuaikan diri dan menaklukkan abad 21, padahal itu semua merupakan aplikasi dari hadits di atas. Marilah mulai detik ini kita terus menerus belajar, tidak peduli berapa usia dan gelar apa yang kita sandang. Gunakanlah setiap hari minimal 2 jam untuk membaca buku, keadaan atau kenyataan hidup. Informasi di internet tumpah ruah, tinggal dipelajari dengan seksama. Blog saya ini; www.sampenulis.wordpress.com merupakan sarana pembelajaran bagi siapa saja, termasuk diri saya sendiri. Saya senang jika ada yang memberikan masukan, saran, kritik dan menyampaikan kebenaran, sebab saya sendiri, insya Allah berusaha terus belajar seumur hidup.

“Kesederhanaan adalah sebagian dari iman,” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah). Maka janganlah bermewah-mewah dalam berpakaian, berkendaraan, memiliki rumah. bergaul dan melakukan gaya hidup. Dengan menjalani hidup sederhana, insya Allah hidup tenang dan bahagia.

Ketika berbisnis praktikkan hadits ini; “Allah menyayangi orang yang bersikap murah hati, baik ketika menjual, membeli atau menagih (hutang).” (HR. Bukhari) Bukankah konsumen dalam abad 21 seperti raja yang dilayani sebaik-baiknya? Salah satunya dengan menerapkan hadits ini.

Marilah kita berlomba-lomba berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadits, minimal mempraktikkan ayat dan hadits di atas dalam kehidupan sehari-hari. Semoga hal ini seiring hidayah dan kehendak Allah. Amien ya robbal ‘alamien!

 

Bumi Allah, 11 Ramadhan

 

 

 

 

 

Hikmah Puasa Ramadhon

Ahmad Zamhari Hasan*

Hari senin, 1 Sepetember 2008, awal bulan puasa, itu berarti setiap umat Islam dituntut menunaikan ibadah puasa sebulan penuh. Apa makna kewajiban puasa bagi umat Islam?

Pertama; ibadah puasa sebenarnya tidak hanya diwajibkan pada umat Nabi Muhammad SAW, umat-umat sebelum beliau juga pernah diwajibkan berpuasa. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah puasa merupakan sesuatu yang bisa dilakukan manusia asal ada kemauan dan tekad bulat untuk melaksanakannya. Tidak ada alasan untuk tidak berpuasa.

Kedua; bulan puasa merupakan anugrah bulan terbaik yang dikaruniakan Allah pada umat manusia. Salah satu malam Lailatul Qodar saja lebih baik dari 1000 bulan, padahal usia manusia di zaman modern tidak akan sampai selama itu. Setiap ibadah, amal sholeh, sedekah, dan kebaikan yang dilakukan bernilai berlipat ganda melebihi hari-hari biasa. Puasa sebulan penuh dengan benar dalam sebulan dapat menebus kesalahan 11 bulan lainnya. Makanya, dalam sebuah hadis dikemukan bahwa seandainya umat Islam tahu keutamaan Ramadhan (secara nyata dan pragmatis), tentu mereka akan mengharap seluruh bulan adalah Ramadhon.

Ketiga; puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, sekaligus mengontor hawa nafsu dan mampu mengendalikan sifat-sifat buruk dalam diri. Ketika timbul hasrat membicarakan orang lain, secepatnya dihentikan. Ketika senang melihat orang lain jatuh, bangkrut atau sengsara, secepatnya dihapus dengan istigfar. Ketika merasa paling hebat di dunia, ilmu manusia seperti buih di tengah lautan. Ketika hendak bertengkar dengan orang lain walau benar, berusaha menghindar karena sedang berpuasa. Ketika melakukan kesalahan, secepatnya bertobat.

Keempat; Menahan lapar dan haus merupakan pekerjaan sehari-hari masyarakat marjinal; miskin, yatim piatu, janda miskin, pengasong, pemulung, pengamen dan anak jalanan. Mereka kadang dalam sehari semalam terpaksa makan sekali. Merasakan apa yang mereka rasakan, sehingga timbul kepedulian untuk membantu orang lain yang membutuhkan adalah hikmah puasa dalam konteks hubungan dengan sesama manusia. Bahkan, tidak masuk surga orang alim atau ahli ibadah yang membiarkan tetangganya kelaparan.

Kelima; puasa merubakan bentuk ibadah yang pahalanya langsung diterima Allah. Itu berarti bahwa ibadah ini sangat penting dan besar nilainya di sisi Allah. Bukankah kita hidup di dunia untuk berjumpa dengan Allah di Akhirat sekaligus mendapat RidhaNya? Maka puasa adalah bentuk yang disediakan Allah untuk mendapatkan semua itu.

Keenam; sudah banyak buku yang menulis tentang pengaruh positif puasa pada kesehatan dan ini sudah dibuktikan secara ilmiah di bidang kedokteran. Sungguh Allah Maha Segala, kita sudah diberi berbagai keutamaan, pahala, dan ketenangan batin, eh masih ditambah dengan anugrah kesahatan. Ini semakin menguatkan bukti nyata bahwa kewajiban ibadah dalam Islam; Syahadat, Shalat, Puasa, Zakat dan Haji, hakikatnya demi kebaikan manusia sendiri. Masihkah Anda “berani”melalaikan ibadah?

Ketujuh; ketika bulan puasa biasanya juga disalurkan zakat fitrah 2 kilogram setengah, biasanya juga zakat harta diberikan pada bulan ini (Haul atau jatuh tempo setahun hitungan mudahnya dari Romadhon ke Romadhon, meski tidak harus bulan ini). Untuk Hikmah zakat diuraikan dalam tulisan setelah ini.

Meningkatkan Kualitas puasa

Ahmad Zamhari Hasan

 

Hampir setiap tahun kita menjalankan rutinitas puasa, pertanyaannya sudahkah puasa yang kita lakukan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun? Atau jangan-jangan kita terjebak menjalankan kewajiban agama saja.

Dalam banya ayat AL-Qur’an Allah mengajak umat Islam untuk meningkatkan kualitas ketakwaan dan keimanan, salah satu medianya ialah meningkatkan kualitas puasa yang dilakukan. Untuk meningkatkan kualitas puasa, berikut beberapa langkah yang diambil (disarikan dari buku Tazkiyatun Nafs Sa’id Hawwa yang merupakan penjelasan ulang Ihya Ulumuddin Imam Ghazali):

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Menundukkan pandangan dan menahan pandangan dari hal yang tercela, dibenci dan mengganggu hati untuk mengingat Allah. Tiada waktu untuk mengingat selain Allah. Ketika menjalankan berbagai aktivitas di kantor, rumah dan tempat lainnya, hati senantiasa mengingat Allah walau sedang mengerjakan hal lainnya.

Menjaga lisan untuk tidak berbicara hal-hal tercela; gibah (membicarakan kejelekan orang lain), namimah (adu domba), pertengkaran, perkelahian, perkataan kasar dan kekejian, lebih baik diam dan menyibukkan diri dengan berdzikir pada Allah. Begitu terlanjur berucap secepatnya membaca istigfar berulangkali.

<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Menahan pendengaran untuk mendengarkan hal-hal yang dilarang atau diharamkan. Telinga juga dijaga untuk tidak mendengarkan hal-hal di atas.

<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–>Menahan anggota tubuh yang lain dari berbagai perbuatan dosa dan maksiat. Terkadang angan-angan kosong mengajak kemaksitan dengan mengingat wanita cantik, makanan yang lezat dan hal-hal yang tidak bermanfaat lainnya, secepatnya alihkan dengan memperbanyak dzikir pada Allah atau mengerjakan hal lain yang positif.

<!–[if !supportLists]–>5. <!–[endif]–>Tidak memakan makanan yang halal secara berlebihan. Berusaha berbuka dan menikmati makan sahur secukupnya agar mampu menjalankan shalat Tarawih dan Tahajjud dengan Khusyu’.

<!–[if !supportLists]–>6. <!–[endif]–>Ketika berbuka hati berguncang karena cemas puasa tidak diterima oleh Allah, maka berusaha memperbanyak istigfar.

<!–[if !supportLists]–>7. <!–[endif]–>Memperbanyak amal sholeh dan sedekah (tambahan dari hamba Allah). Nabi Muhammad ketika Ramadhon sedekahnya seperti hembusan angin saking banyaknya. Amal sholeh dilakukan dengan membantu siapa saja yang membutuhkan sesuai kemampuan, syukur-syukur nilai bantuan bersifat langgeng seperti; memberi modal pada fakir miskin atau pengangguran, mengajak penjahat ke jalan yang benar atau mengajak non Muslim ke jalan Islam tanpa paksaan.

Makna puasa secara sosial

Hidup selama setahun 12 bulan, memanfaatkan sebulan untuk berpuasa pagi sampai matahari terbenam, tentu merupakan sesuatu yang wajar, malah jika melalaikan sama artinya dengan menyepelekan kehidupan kita yang 11 bulan, di samping itu, puasa sebulan memberi warna berbeda pada yang 11 bulan lainnya untuk menjalani hidup yang lebih baik.

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Merasakan lapar untuk memiliki kepedulian pada orang-orang sekitar yang hidup kekurangan, terlantar dan teraniaya.

<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Mengendalikan mesin hasrat atau keinginan kita supaya membeli barang yang benar-benar penting, mendahulukan kebutuhan di atas keinginan, dan mengatur keinginan sebagai upaya menikmati hidup. Mengontrol emosi dengan baik untuk hidup yang harmonis.

<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–>Mengontrol hawa nafsu agar kita yang berkuasa bukan sebaliknya, sebab hidup lebih indah, coba dibuktikan jika tidak percaya.

Meraih Malam Lailatul Qodar

Ahmad Zamhari Hasan

Salah satu Anugerah dan Rahmat Allah terbesar di bulan Ramadhan ialah Mendapatkan Malam Lailatul Qodar.

Hampir setiap Ceramah agama pada saat Tarawih dan Menjelang Sahur menyinggung hal ini dan mengutip hadis yang popular bahwa Malam Lailatul Qodar berada pada malam ganjil pada akhir-akhir bulan Ramadhan yakni antara 21,23,25,27,29 atau 31 jika ada.

Malam Lailatul Qodar insya Allah dapat diraih dengan cara;

Mampu melaksanakan ibadah shalat Tarawih secara konsisten, baik berjamaah atau sendirian, dari awal Ramadhan sampai akhir bulan Ramadhan.

Senantiasa shalat Tahajjud dari hari pertama Ramadhan sampai hari terakhir, dengan berusaha menjaga konsistensi jumlah Rakaat; misalkan 2 salam setiap malam, begitu terus menerus, malah dianjurkan semakin hari semakin meningkat.

<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Mampu melaksanakan puasa sebaik-baiknya selama bulan Ramadhan, kecuali sakit dan dalam perjalanan sangat jauh.

<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–>Berusaha membantu orang lain dengan ilmu, harta, makanan, kebaikan, sikap santun dan suri tauladan yang baik.

<!–[if !supportLists]–>5. <!–[endif]–>Memperbanyak ibadah pada malam-malam ganjil, khususnya; 21,23,25,27,29,31 dengan tanpa melalaikan malam-malam lainnya.

<!–[if !supportLists]–>6. <!–[endif]–>Berusaha melakukan amal sholeh yang bersifat permanen pengaruhnya, seperti mengajar anak yatim piatu atau fakir miskin tanpa pamrih, memberikan beasiswa pada mereka, dan memberikan modal usaha, walau hanya sekali, dan menolong orang lain saat benar-benar membutuhkan walau dengan tenaga atau saran. Ini akan menjadi amal jariyah di akhirat kelak.

<!–[if !supportLists]–>7. <!–[endif]–>Senantiasa memperbaiki niat bahwa ibadah yang dilakukan karena cinta pada Allah dan hanya pada Allah semata, bukan untuk malam Lailatul Qodar atau lainnya.

Insya Allah, dengan semua itu kita mendapatkan malam Lailatul Qodar. Bagiaman jika melalaikan salah satu atau dua di antara 7 Item? hanya Allahlah yang tahu kepada siapa malam Lailatul Qodar dianugerahkan. Ini hanya hasil perenungan hamba Allah agar kita mampu meraih malam Lailatul Qodar. Allhu ‘alam bis showaab!

Hikmah Zakat Fitrah dan Harta

Ahmad Zamhari Hasan*

Kadang sebagian umat Islam mengeluh, kenapa harus ada zakat harta? (untuk zakat fitrah, ngapai mengeluh, sebab hanya 2,5 Kg). Marilah kita pahami hikmah zakat Fitrah dan Harta.

Pertama; Zakat fitrah barang kebutuhan pokok, untuk di Indonesia sebagian besar beras, ditujukan untuk mensucikan makanan pokok yang kita makan setiap hari. Sebab terkadang dalam memperolehnya sedikit berbaur dengan barang “Subhat” atau antara halal dan haram, meski kita merasa halal. Alangkah nikmatnya, jika kebutuhan pokok kita disucikan. Bukankankah orang yang paling berbahagia adalah orang yang mensucikan diri?

Kedua; sudah bayar pajak, zakat fitrah, zakat harta lagi? Harta dan kekayaan merupakan sesuatu yang halal dicari, malah umat Islam dituntut berusaha untuk kaya agar mandiri dan beribadah dengan tenang atau khusyu’. Sadarkah kita harta yang dikumpulkan, kadang-kadang disadari atau tidak diperoleh dengan berbohong dan mendfzalimi orang lain walau secara tidak sengaja. Dengan zakat harta, maka hal-hal yang tidak disengaja dan terjadi begitu saja saat berbisnis, insya Allah dimaafkan Allah. Di samping itu, umat Islam dapat berharap agar dengan zakat harta, maka seluruh harta yang dimiliki menjadi halal dan penuh barokah, sehingg saat menikmatinya bersama keluarga penuh rasa tentram dan tenang.

Ketiga; inilah cara Islam membuat system keadilan ekonomi yang berbeda dengan system Kapitalis dan Sosialis yang jelas-jelas melawan fitrah manusia. Hasil pengumpulan zakat diberikan pada orang-orang yang membutuhkan, fakir miskin, muallaf (orang baru masuk Islam agar bertambah yakin), pejuang fi sabilillah (relawan guru dalam pendidikan gratis, pejuang di ranah sosial dan guru ngaji), pengelola zakat (hati-hati nanti menjadi senjata makan tuan), yatim piatu. Setiap orang merasakan bahagia pada hari raya Idul Fitri karena mendapatkan harta untuk kebutuhan hidupnya.

Keempat; Islam juga sangat menganjurkan sedekah agar kebaikan itu tidak hanya dilakukan pada bulan Romadhan, tapi 11 bulan lainnya setiap orang dapat menyumbang atau membantu orang lain atau pembangunan tempat ibadah. Dalam hal ini, saya ingin memberikan catatan agar sumbangan sebaiknya diberikan pada orang yang membutuhkan dari pada bentuk bangunan. Sebab masjid atau Mushollah di Indonesia sangat banyak, tapi belum dimanfaatkan dengan optimal untuk mencerdasakan dan memberdayakan umat Islam.

Kelima; Zakat fitrah, zakat harta dan sedekah justru menjadi rahasia sukses pengusaha-pengusaha muslim yang kaya, sebab hal itu membuat harta yang dimiliki semakin banyak dan berlimpah. Tidak ada ceritanya orang jatuh miskin karena rajin sedekah. Maka, jika Anda ingin kaya dan sukses, rajinlah sedekah mulai detik ini juga.

Keenam; dengan zakat dan sedekah keharmonisan hubungan sosial tercipta. Tidak ada kecemburuan sosial dari pihak si miskin terhadap si kaya, semuanya hidup dengan harmonis. Bukankah untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat degan menciptakan hidup yang harmonis dalam keluarga, lingkungan masyarakat dan bernegara.

Menjadi “Orang Baru” dalam Idul Ftri Kali Ini!

Bagi yang berpuasa penuh selama 30 hari, kecuali berhalangan karena sakit, musafir atau Haid, tentu merayakan Idul Fitri kali ini tidak sekadar gegap gembita dengan menikmati makanan lezat, pakaian baru, dan kegembiraan berkumpul dengan keluarga, jauh lebih penting ialah mentranformasikan diri menjadi Orang Baru.

Tiada pahala yang lebih besar selain ampunan Allah dari segala kesalahan yang telah dilakukan pada masa lalu dengan berpuasa penuh selama 30 hari. Dengan terhapusnya dosa, maka diri seperti bayi yang baru lahir; suci lahir batin. Untuk itulah disebut ‘Idul fitri atau makna bahasanya kembali pada fitrah awal yakni yakni manusia suci tanpa salah dan dosa. Sungguh ini merupakan anugerah yang luar biasa sekali. Eeet, tunggu dulu jangan buru-buru!

Asal puasa yang dilakukan selama 30 hari bukan hanya menahan lapar dan haus, melainkan juga mampu mengontrol hawa nafsu, menahan amarah, menahan anggota tubuh dari kesalahan-kesalahan, dan melaksanakan beberapa tips yang ada dalam tulisan “Meningkatkan Kualitas Puasa Kita.” Barulah nikmat; dosa diampuni Allah, pahala yang besar menanti di akhirat kelak, dan surge rindu kedatangan kita.

Kita berharap saja, Allah mengampuni kita walau puasa yang dilakukan belum benar-benar sempurna. Amien! Bagaimana selanjutnya?

Berbekal ampunan dosa, bukan lantas kita seperti kuda yang lepas dari kadang yakni menikmati hidup sebebas-bebasnya tanpa batas. Justru ampunan Allah merupakan bekal agar kita senantiasa meningkatkan kualitas ketakwaan dan keimanan, serta memiliki kepedulian yang besar untuk membantu orang lain.

Nilai puasa 30 hari atau 1 bulan diharapkan mengalir pada 11 bulan lainnya, sehingga kita senantiasa menjadi “Orang Baru” yang senantiasa berusaha menjalani kehidupan sehari-hari dengan makna dan nilai, memperbaiki sikap hidup yang keliru, mengindarkan diri untuk tidak berbuat maksiat atau kejahatan, dan mampu mengontrol hawa nafsu.

Musuh terbesar kita bukan orang lain, melainkan hawa nafsu yang ada dalam diri kita, yang senantiasa mengajak untuk menuruti keinginan demi keinginan, terlena dalam buaian iklan, hidup bermewah-mewahan, menghalalkan segala cara untuk berhasil, dan berbisik agar menjauh dari Allah. Dengan puasa Romadhan kita sudah berhasil menaklukkan hawa nafsu, sekarang tiba saatnya untuk selamanya kita menjadi Raja terhadap hawa nafsu kita.

Di samping itu, umat Islam harus bersatu padu dan saling tolong menolong tanpa melihat latar belakang sukunya. Kita tidak melihat, apakah orang Betawi, Jawa, Sunda, Padang, Batak, Bugis, Madura, China, India, Arab, Sasak, atau suku lainnya, untuk menolong dengan kemampuan yang dimiliki. Umat Islam sudah lama terjebak dalam Sukuisme sempit dalam masa Jahiliah sehingga tidak maju-maju sampai sekarang. Mari kita lepas baju Sukuisme dan menggantinya Islam. Kita sebagai umat Islam bersatu padu demi Kejayaan Islam di abad 21 ini. Apa enak menjadi orang yang tertindas dan terpinggirkan terus menerus?

Sedang bagi yang beragama Kristen Khatolik atau Protestan, Hindu, Budha dan Khonghuchu, Islam memegang prinsip sebagai Rahmat bagi semesta “Islam rahmatan Lil’alamien”. Marilah kita hidup damai berdampingan, saling bekerja sama di bidang bisnis, saling tolong menolong, tapi kita tetap dengan keyakinan beragama masing-masing. Marilah berlomba-lomba untuk menjadi pemeluk agama yang baik, sehingga saling pengertian terjalin dengan baik.

Inilah makna Idul Fitri bagi kita semua umat Islam, sekaligus sebagai bagian masyarakat Indonesia yang majemuk. Semoga kita semua mampu menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari. Amien!

Refleksi Iedul Adha

Ahmad Zamhari Hasan

 

Jika Iedul fitri merupakan sarana mensucikan lahir batin guna menjadi manusia baru, maka Iedul Adha merupakan hari raya mengorbankan apa yang kita punyai, bahkan sesuatu yang kita cintai untuk Allah semata.

Sejarah pengorbanan umat manusia dimulai dengan Qabil dan Habil yang sama-sama mengorbankan hartanya untuk Allah; Habil mengorbankan kambing tergemuk dan terbaiknya, sedang Qabil yang petani mengorbankan gandum terburuk. Alhasil, Qurban dari Habil diterima Allah karena dilakukan secara tulus dan mengorbankan harta terbaik yang dimilikinya, sedang Qabil tidak diterima karena berkorban dengan gandum yang buruk, mungkin diri sendiri enggan untuk memakannya.

Sedang pengorbanan Nabi Ibrahim AS adalah sebuah bentuk riil yang diperingati sebagai Iedul Qurban setiap tahun oleh umat Islam. Sebab Nabi Ibrahim bukan sekadar mengorbankan hartanya, melainkan justru mengorbankan anak satu-satunya yang sangat disayangi. Perintah penyembelihan diperoleh dari mimpi selama tiga malam berturut-turut, sehingga diyakini bahwa itu adalah perintah Allah. Tanpa keraguan Nabi Ibrahim mengajak anaknya ke tempat yang sepi, saat dikatakan perintah Allah pada anaknya dengan tegas Nabi Ismail berkata; “Lakukan apa yang diperintahkan Allah….” Ketika Nabi Ibrahim menyembelih anaknya, tapi pedang yang tajam dibuat tidak mempan atas izin Allah, padahal dicoba pada benda lain berfungsi seperti biasa. Setelah berlangsung tiga kali, datanglah Malaikat Jibril dengan membawa domba/kambing dan memerintahkan supaya disembelih sebagai pengganti Nabi Isma’il.

Meski kisah di atas sekadar potongan kisah sederhana dari sebuah peristiwa yang sangat dasyat bagi umat manusia. Namun, insya Allah beberapa hikmah dari hari raya Qurban dapat petik.

Pertama; Nabi Ibrahim merupakan Nabi yang tingkat keimanan pada Allah luar biasa sangat tinggi. Peristiwa ini terjadi setelah beliau mengalami serentetan peristiwa untuk hanya menyembah satu Tuhan yakni Allah SWT; pencarian Tuhan pada ciptaan Allah (Bulan, Matahari), mempercayai satu Tuhan, sehingga berani menghancurkan berhala-berhala akibatnya dihukum bakar, tapi api menyalahi kodratnya atas izin Allah, beriman dengan keyakinan setelah melihat sendiri burung dipotong kecil-kecil dan ditaruh dibeberapa gunung, namun terbang kembali ke hadapannya seperti sedia kala. Ini menunjukkan bahwa pada hari Idul Adha kita harus mempertanyakan keimanan kita pada Allah, apakah sekadar percaya tanpa pembuktian, percaya dengan ilmu, percaya dengan keyakinan atau yakin seyakin-yakinnya. Hanya Anda sendiri yang tahu! Introspeksi diri!

Kedua; ketika diam-diam kita lebih mencintai harta yang dimiliki; emas, rumah, kendaraan, perak, berlian, uang dan surat berharga, maka kita gagal menghayati makna Iedul Adha. Ketika kita lebih mencintai anak dan istri melebihi cinta kita pada Allah, maka kita gagal menghayati makna Iedul Adha. Ketika kita mencintai kedudukan, jabatan dan prestasi duniawi disbanding derajat yang tinggi di akhir kelak, maka kita gagal menghayati makna Iedul Adha. Maukah Anda menjadi orang gagal? Jika tidak, tobatlah! Mumpung belum terlambat.

Ketiga; Apa yang kita korbankan diupayakan yang terbaik, jika sekarang disunnahkan mengorbankan binatang; sapi atau kambing, maka carilah yang tergemuk dan terbaik, dan korbankanlah. Ketika pengorbanan, perbaikilah niat, sebab terkadang muncul godaan-godaan untuk meniatkan karena ingin dipuji, ingin disebut kaya raya dan ingin disebut orang sukses. Niatkanlah karena Allah semata.

Keempat; Isma’il memberi contoh pemuda yang luarbiasa tegar dan sabar, sehingga justru memberi keyakinan pada Abanya Nabi Ibrahim untuk melakanakan perintah Allah tanpa keraguan.Hal ini memberi suri tauladan yang baik, pada generasi muda bahwa ketika mereka membulatkan tekad untuk melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat demi mencapai Ridha Allah, lakukanlah dengan keyakinan. Ingat! Masa depan Indonesia berada di tangan generasi muda.

Kelima; Siti Hajar merupakan potret ibu yang luar biasa tegar, kuat dan hebat. Ketika ditinggal berdua dengan anaknya yang masih bayi yakni Isma’il, beliau menerima lapang dada. Saat anaknya menangis karena haus, beliau berlari-lari kecil selama tujuh kali dari Shafa ke Marwah untuk mencari air demi anaknya. Setelah capek beristirahat, lalu sang anak mengetuk-ngetukkan kakinya ke tanah, dengan izin Allah mengalirlah air Zam-Zam. Saat sang anak tumbuh menjadi pemuda, justru suaminya meminta agar anaknya dikorbankan atas perintah Allah, beliau menerima dengan senang hati walau hati sakit tertusuk sembilu. Ya Allah! Andaikata para ibu umat Islam seperti Siti Hajar semua, insya Allah Islam kembali jaya di muka bumi ini. Kini sadarlah kita bahwa dibalik sosok pemuda yang hebat dalam diri Nabi Isma’il karena didikan ibunya yang sangat luar biasa. Di balik kehebatan Nabi Ibrahiem, ada istri yang setia dan sangat tabah dalam diri Siti Hajar.

Keenam; hari raya Iedul Adha merupakan hadiah terbesar bagi fakir miskin, yatim piatu, pejuang di jalan Allah, dan orang-orang tertindas/terlantar, sebab merekalah yang lebih diprioritaskan untuk menikmati hewan Qurban, baru pengelola hewan Qurban dan yang berqurban. Islam selalu membela kepentingan mereka bukan hanya dengan Iedul Adha, namun juga melalui zakat fitrah, zakat harta dan sedekah. Maka, katakanlah dengan keras; ALLAH MAHA ADIL. Bukankah tiada beda dihadapan Allah, kecuali yang paling bertakwa. Katakanlah sekali lagi ; ALLAH MAHA ADIL. Bukankah tiada beda kenikmatan tidur dan makan di manapun dan menu apa pun. Katakanlah sekali lagi ; ALLAH MAHA ADIL. Bukankiah kita masih seorang Muslim dan Mukmin? Katakanlah sekali lagi ; ALLAH MAHA ADIL. Bukankah kita masih bernafas atas karunia dan izin Allah? Katakanlah sekali lagi ; ALLAH MAHA ADIL.

Ketujuh; kepedulian kepada orang miskin/yatim piatu/pengemis harus dilakukan secara konsisten seumur hidup. Sebab bisa jadi, inilah yang menolong kita untuk selamat di akhirat kelak. Simaklah kisah sepotong roti berikut ini.

Ada seorang lelaki yang sangat tekun beribadah kepada Allah selama lebih kurang tujuh puluh tahun. Tempat ibadahnya tidak pernah ditinggalkannya, kecuali pada hari-hari yang telah dia tentukan.

Akan tetapi pada suatu hari, dia digoda oleh seorang wanita sehingga
diapun tergoda dalam bujuk rayunya dan berzina selama tujuh hari Lalu lelaki itu bertobat. Sewaktu melakukan perjalanan dia berteduh bersama pengemis berjumlah 9 orang, tapi waktu itu hanya ada sembilan roti, 1 pengemis tidak mendapatkannya. Lelaki itu mengambil roti dan memberikannya kepada orang yang tidak kebagian. Keesokan harinya, orang yang bertaubat itu meninggal dunia.

Di hadapan Allah, maka ditimbanglah amal ibadah yang pernah dilakukan oleh orang yang bertaubat itu selama lebih kurang tujuh puluh tahun dengan dosa yang dilakukannya selama tujuh malam, ternyata amal ibadat yang dilakukan selama tujuh puluh tahun itu dikalahkan oleh kemaksiatan yang dilakukannya selama tujuh malam. Akan tetapi ketika dosa yang dilakukannya selama tujuh malam itu ditimbang dengan sepotong roti yang pernah diberikannya kepada fakir miskin yang sangat membutuhkannya, ternyata amal sepotong roti tersebut dapat mengalahkan perbuatan dosanya selama tujuh malam itu. Kepada anaknya Abu Musa berkata: "Wahai anakku, ingatlah olehmu akan orang yang memiliki sepotong roti itu!"

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: