puisi

i-duri menghalangi setiap langkah

Menghambat rencana-rencana yang dibuat

Menjauhkan cita dari harapan

Aku berjalan di lereng bukit terjal

Jalan setapak sempit berkelok-kelok

Memandang ke bawah, rasa ngeri datang

Melihat ke depan, tujuan yang ingin dicapai menjauh

Aku menelusuri tepi jurang

Senantiasa bersama ketakutan dalam derap langkah

Memandang ke belakang yang tampak kegelapan

Menengok ke samping tak ada jalan keluar

Melongok mata tak menemukan yang dicari

Aku hidup bersama kecemasan

Menyelimuti malam, memeluk siang

Tak ada waktu tersisa

Semua sirna dalam kewas-wasan

Aku ingin meraih bintang di angkasa

Memperssembahkan pada bumi

Sebagai sumbangsih pada dunia

Bintang menjauh, kabut hitam menemani

Aku asa pada pelukan rembulan

Hangat menyejukkan jiwa

Gelisah terhadap ketidakpastian

Rindu belaian kasih tak kunjung sampai

Aku adalah sahabat ketidakberuntungan

Memiliki pikiran tak terasah

Dikaruniai pisau tak dapat ditajamkan

Memiliki tambang emas tak tersentuh

Menyerah pada keadaan, sikap paling kubenci

Aku teman kegagalan

Setiap jalan yang ditempuh buntu

Berusaha keluar tak menemukan jalan

Melewati berkelok-kelok tak mendapatkan pintu

Membelai buaian mimpi

Mencium bau ranum dunia khayal

Aku berkeras melahirkan karya

Pasar tak mampu menerima

Hasil orang-orang tak berguna

Media milik siapa-siapa

Bukan siapa tak dapat tempat

 

 

 

Kemana harus kucari jalan

Sementara semua sisi saling menutup

Melingkupi diri dalam penjara

Kunci terali hilang entah ke mana

Kehidupan masih menyisakan asa

Asal peras keringat tanpa pamrih

Melahirkan sesuatu berarti kelak

Demi anak cucu tercinta

Menanam pohon kehidupan

Tak dapat dinikmati diri

Memetik buah dari sorga

Hidup bahagia bersama bidadari

Memetik prahara di neraka

Hidup sengsara bersama setan

Siapa dapat memilih mendapat apa

Tidak mendapat apa-apa tanpa kuasa

Aku bisa menggapai dunia pada hari ini

Bernyanyi lagu-lagu ceria

Menari di atas derita

Nurani diliputi sengsara

Pilihan yang tak diharapkan

Nasib

     Sial

        Buntu

             Gagal

Adalah teman sejati dalam kehidupan

Aku tak pernah menyerah pada nasib

Aku tak takut kesialan

Aku tak khawatir jalan buntu

Aku tak cemas kegagalan

Menghasilkan gading dalam belaian ajal

 


 

Aceh Pahlawan KeManusiaan

 

Bumi bergumam resah

Menggoncangkan Rencong

Bangunan runtuh

Tanah bergoncang

Menimbulkan pasrah

Orang-orang bergoyang

Tak tentu arah

 

Lempengan tanah di laut terbuka lebar

Menelan air ke batas patahan

Tanah-tanah terangkat sesaat

Orang-orang ngeri menatap reruntuhan

Berbondong-bondong melihat hasil gumaman bumi

Tak menyadari apa yang kan terjadi

Ambulan datang menghampiri

Paramedis menolong yang selamat

Tentara berlalu lalang mengamankan situasi

Polisi membuat garis pembatas

Membuat masyarakat tak mendekati

 

Lempengan menutup perlahan

Memuntahkan air ke atas

Menghasil deru gelombang tanpa batas

Menerjang apa saja tanpa mengenal welas

Perahu

  Kapal

    Rumah

      Pohon

       Manusia

          Kayu

            Bata

              Pasir

Tersapu gelombang pasang

 

Orang tercengang

Berteriak nyaring

Memngeluarkan suara dering

Memekakkan sekeliling

Tanpa ada yang menyahut

Suasana hening

Suara-suara jadi bening

Sekelebat bayang-bayang

Menghadirkan Allah

Dzat yang sempat hilang

Dari ingatan manusia

 

Bukankah manusia bisa membuat cloning

Bukankah manusia bisa menembus Mars

Bukankah manusia bisa menjelajahi bulan

Bukankah manusia bisa menciptakan robot

Bukankah manusia bisa merekayasa gen

Bukankah manusia sanggup mengganti tuhan

Bukankah manusia penguasa bumi

 

Mana kekuasaan manusia

Mana kecerdasan mencengangkan manusia

Mana kejeniusan manusia

Mana arogansi manusia

Mana nalar-nalar manusia

Mana teknologi manusia

Mana komputer ciptaan manusia

Mana sains rekayasa manusia

Mana penelitian ilmiah manusia

Mana, mana, mana, mana, mana?

 

Lempengan bumi kembali memuntahkan tsunami

Manusia yang panik tak tahu lari ke mana

Tubuh-tubuh berserakan

Mayat-mayat bergelimpangan

Bangkai-bangkai bertebaran

Rongsokan-rongsokan berkeliaran

Di pantai-pantai

Di kota-kota

Di desa-desa

Di pedalaman-pedalaman

Mulai Meulabuh, Banda Aceh sampai Loksomawe

Melintasi sebagian Sumatera Utara

Melewati Malaysia

Mengitari Thailand

Meresapi Srilanka

Menepi di India

Mendekati Somalia

 

Mengurus mayat-mayat di mana-mana

Dibiarkan berlarut-larut

Bantuan-bantuan terlambat

Orang-orang tak tahu berbuat apa

Bau busuk menusuk hidung

Menebarkan virus-virus penyakit

Hantu-hantu epedemi mengintai

Lebih menakutkan dari tsunami

Bila salah menyelami

 

Dari pesawat televisi

Seluruh menjuru dunia menyaksikan

Dari berita-berita koran

Semua turut merasakan

Dari komputer-komputer maya

Tersaji peristiwa-peristiwa

Menikmati bir, memakan sphageti

Meminum kopi hanyat

Menghirup teh celup

Sarapan roti susu

Makan siang di restoran mewah

Makan malam dengan kekasih

Memakan cumi, ikan, dan kerang

Muntahan air laut

 

Seribu puisi terlahir kembali

Sejuta cerita menyelimuti

Selaksa buku menghadiri

Seratus film menikmati

Menguak tabir-tabir peristiwa

Memaknai hakekat makna

Demi kelangsungan masa

 

Insan yang Islam tanpa Islam

Membuka selimut usang

Menengadahkan tangan penuh doa-doa

Meneteskan air mata di masjid-masjid

Orang-orang Kristen tanpa Kristen

Bergegas ke gereja

Walau tak pernah melewati pintunya sekalipun

Orang-orang Budha tanpa Budha

Mengingat ajaran-ajaran luhur

Meski tak pernah disentuh

Orang-orang Hindu tanpa Hindu

Ramai-ramai ke Pure

Padahal tak pernah hadir dalam ibadat

Manusia tak beragama

Merenung lama tak mengerti apa-apa

Melihat ketidakmampuan manusia

Kesombongan-kesombongan sirna

Membuka buku-buku agama

Meluruskan kepercayaan

Menebalkan keyakinan

Mengingat Tuhan

 

Orang-orang Aceh berbahagialah

Dukamu mengingatkan semua

Nestapamu membangkitkan jiwa-jiwa

Ratapanmu membangunkan akalbudi

Tangismu menyadarkan nalar-nalar

Rintihanmu meneguhkan iman

Kepanikanmu mengukuhkan hati

Tak peduli baju-baju agama

Wonosari, 31 Desember 2004

 

ACEH TERSENYUM BAHAGIA

 

Prahara tiba

Menghantantam anak negeri yang terlena

Beras

  Ikan

    Daging

      Minyak

        Bensin

          Solar

            Pakaian

Membumbung tinggi tak terjangkau

Penjarahan meliputi pelosok negeri

Dengan alasan kelaparan apapun boleh

Hati nurani diletakkan di tong sampah

 

Seperti kuda yang lama di kandang

Begitu terlepas menumpahkan apa saja

Tak peduli siapa-siapa

Orang-orang banyak yang mengaku pahlawan

Padahal menjarah isi lumpung padi

Tokoh-tokoh baru bermunculan

Bagai anak panah terlepas dari busur

Kursi yang muat diduduki seseorang

Diperebutkan bayak orang

 

Politik jadi ajang saling menjegal

Tak punya kemampuan terlempar

Orang yang membusungkan dada

Menganggap semua lawan

Kejatuhan tinggal menunggu waktu

Punya kemampuan atau tidak

Asal memimpin gerbong orang-orang kebingungan

Bisa duduk di atas kursi

Menikmati hari-hari singgasana negeri

 

Waktu itu

Pengorbanan nyawa tak terhitung

Harta benda menjadi tak bernilai

Uang jatuh pada rongsokan

Kekacauan sesuatu yang biasa

Bom-bom meledak di mana-mana

Penjahat-penjahat menjadi penguasa

Nilai-nilai tak bermakna

Etika yang dianut terbuka

Tersenyum simpul tak terjadi apa-apa

Terjaga sebentar, lantas tidur pulas kembali

 

 

 

Dalam hal ketabahan

Ibu pertiwi adalah jagonya

Dalam hal sikap pasrah

Anak negeri pendekarnya

Dalam hal banyak bicara

Nusantara ahlinya

Dalam hal korupsi

Tidak ada duanya

 

Pemilu demi pemilu

Menghasilkan pemimpin berbeda

Jauh harapan dari janji

Meski penganut demokrasi sejati

Kesejahteraan menjauhi

Teori-teori tak berarti

 

Hampir satu dekade tak menentu

Hidup menjadi tak tentu

Orang-orang menggerutu

Dalam suasana menyambut hari tawa sedunia

Bumi batuk dengan keras

Fenomena ratusan tahun melanda

Bumi penganut syariat Islam

Membawa terdasyat petaka

Monster tsunami menerpa

 

Ada apa gerangan di balik jendela

Misteri-mesteri kelabu tak terungkap

Memori menghadirkan selaksa peristiwa

Menimpa ibu pertiwi mayoritas Muslim

Agama yang tidak hanya mengajarkan pasrah

Berbuat dengan segenap jerih payah

Menghargai karya manusia

Berhasrat rubah nasib demi umatNYA

Manusia Indonesia benar-benar payah

 

Bencana dari segala bencana

Menyadarkan orang-orang yang terlena

Dalam buaian kehidupan malam

Rayuan kenikmatan-kenikmatan semu

Kemolekan wajah dunia yang mengkerut

Kesilauan budaya aing yang tak berbudaya

Nilai-nilai agungnya tak lebih sampah

Penuh sumpah serapah

Tidak diterima di negeri sendiri

Kita terima dengan lapang dada

Ha ha ha ha

Dunia dibiarkan menelan jiwa-jiwa

Tak punya akal budi

 

Bencana dari segala bencana

Meniupkan ruh dalam hati

Dipenuhi bintik-bintik hitam

Tak pernah dibersihkan sepanjang hidup

Menghirup udara segar dalam-dalam

Shahadat pengakuan diri

Pada Dzat Agung dan teladan manusia

Menjadi sebaik-baik hamba

Shalat menjauhkan keburukan

Menenangkan batin yang gelisah

Menyatu dengan Dzat Paripurna

Puasa menyelami derita

Mengosongkan perut dari durjana

Kebutuhan tak berubah dari homo sapiens

Zakat adalah konsep bersama

Tak ada yang kaya dan miskin

Semua hamba Allah

Haji penyempurnaan batin

Tak sanggup berhaji, Jum’at adalah haji kecil

Orang papa dan kaya sama merasakan

Iman adalah sebentuk kepercayaan

Tumbuh dengan keyakinan kuat dalam diri

Menebalkan nurani, memperkuat akalbudi

 

Bencana dari segala bencana

Petani bertani dengan peluh keringat

Pedagang berjuang gigih

Nelayan berusaha sekuat tenaga

Buruh menghasilkan produktivitas kerja

Pekerja memperindah suasana

Ulama-ulama pejuang tanpa pamrih

Pegawai pelayan rakyat jelata

Pejabat ketua dari para pelayan

Pengusaha berbagi dengan sesama

Kejayaan Indonesia tidak akan lama

Bencana segala bencana

Menjadi rahmat bagi negara

Aceh tersenyum bahagia


 

Hidup demi Waktu, Waktu Mengendalikan Hidup

 

Dalam hitungan detik putaran tahun lewat, menghilang tanpa terasa

Waktu yang baru datang berputar perdetik, detak jantung ikut berputar

Nafas mengalir teratur dipompa jantung, kehidupan tetap bisa berjalan

Manusia hidup mengisi putararan waktu, kehidupan mengalir dalam waktu

Pagi bekerja keras sampai sore, malam menikmati hiburan demi kepuasan

Tubuh dipaksa melakukan pekerjaan, memperoleh Imbalan berupa uang

Manusia bekerja demi mendapat uang, siapa yang paling berkuasa di antara

Uang penguasa manusia atau manusia penguasa uang, tak pasti

Tanpa secarik kertas tak berguna di masa purba, manusia di bawah kendali

Kemiskinan, kemelaratan, pengangguran, kelaparan, kehancuran

Adalah bahasa uang tak dimiliki diri, dipaksa budaya atau tak mampu

Nilai baik buruk, adil zalim, benar salah, tergantung kendali uang

Hukum dapat dibeli dengan harga mahal, nurani dijual berbandrol mahal

Jabatan diperjual belikan, bagai pedagang menawarkan barang

Ini menunjukkan uang berkuasa atas manusia bukan sebaliknya

Sejarah manusia mencatat, ciptaan manusia sering mengendalikan penciptanya

Komputer super canggih yang dirancang, sanggup mengalahkan manusia

Senjata yang dibuat melindungi diri, berhasil membunuh manusia

Ilmu pengetahuan sarana mendekati Ilahi, malah menghantar durhaka manusia

Keberhasilan di bidang tes DNA, manusia merasa bisa menciptakan manusia

Nalar sarana menjalani hidup, nalar disembah bagai dewa

Kesenangan hidup demi kebahagiaan, menjalani hidup demi kesenangan

Ketika manusia bersikap rasional, yang tampak irrasional

Ketika manusia bersikap irrasional, yang tampak sikap rasional

Kebingungan senantiasa melanda setiap waktu, sejumlah tanya tak terjawab

Kecemasan menghantui hidup, mencemasi sesuatu yang tak dicemasi

Ketakutan melingkupi ruang dan waktu, tak mampu dilepaskan

Harapan pada sesuatu yang besar, tak dapat yang kecil sekalipun

Melakukan sesuatu yang kecil, mendapatkan hasil yang besar

Orang menghiasi halaman koran, muncul sebentar lantas hilang

Orang mempesona di televisi, hilang dari peredaran dalam sekejap

Demi popularitas hidup, segala sesuatu halal hukumya

Demi kejayaan diri, tak ada yang mampu menghalangi

Seperti tsunami menghantam dararan, manusia tak mampu menangani

Kini era kemajuan manusia mencengangkan, kemajuan tak terkendali

Makna kemajuan yang tak bermakna, bila manusia tak berprikemanusiaan

Perang antar manusia, ketika pemikiran telah sangat maju

Negara penegak demokrasi dunia, menghancurkan negara lain dibolehkan

Negara penguasa jagad raya, satu kematian sama dengan kematian sebuah negara

Kera berkelahi memperebutkan wilayah, manusia berperang demi wilayah

Apa perbedaan manusia dengan kera, atau kera dan manusia satu nenek moyang

Kehidupan senantiasa menyimpan misteri, tanpa misteri tak ada kehidupan

Pusing dengan berbagai misteri, menjalani hidup apa adanya

Hidup demi sesama, sesama hidup dalam bahagia

 

Wonosari, 1 Januari 2005

 

 

ANTARA LUAS DIRI DAN BUMI

 

Dunia menyempit diri meluas

Bundar mengelingi jagad raya

Mata semata tak mampu memandang

Zaman berubah cepat

Benda bumi semakin mengecil

Komputer bisa menjangkau segala tempat

Mata bisa menatap segala arah

Peristiwa dalam hitungan detik tersaji

Berita dalam sekejap mata lahir

Keaadaan di tempat jauh menampakkan diri

Informasi berkelebat tak terhentikan

Manusia merasa bisa melakukan segala hal

Kuasa Tuhan ada di genggaman tangan

Sanggup menciptakan sesama

Kloning menunjukkan kemajuan

Manusia tercipta di tangan manusia

Kepala membesar

Pikiran membara

Otak mengembara

Hati di ruang sunyi

Peraaan tak peduli

Dunia menyempit, manusia terlena

Dalam buaian pikiran yang merana

Badai di Jepang, Amerika dan Hongkong

Banjir di Cina, Bangladesh dan Indonesia

Gempa bumi  India, Turki dan Iran

Kelaparan di Afrika, Amerika Latin dan Asia

Perang di Sudan, Irak, dan Afganistan

Manakah kuasa manusia terhadap alam

Alam ciptaan Tuhan

Manusia ciptaan manusia

Bagaimana mungkin manusia menciptakan manusia

Sedang alam tak bisa dikendalikan

Manusia tertunduk lesu

Menatap relung-relung diri yang dibiarkan menyempit

Pikiran menerawang segala sesuatu

Membaca drama-drama kehidupan

Memahami keterbatasan

Perasaan menyelami berbagai tanda-tanda

Menyentuh lewat balutan damai dalam rasa

Memeluk dunia dalam dekapan

Imajinasi terbang tinggi ke langit

Menjangkau yang tak terjangkau

Melahirkan citra-citra tentang segala

Meneropong bagian-bagian tersembunyi

Hati merintih pilu

Memandang kejadian demi kejadian

Menangis sedih tak terperkirakan

Meraba-raba sesal tiada terkira

Manusia menatap diri dari segala sudut

Membaca bintik-bintik hitam

Menerawang sampah-sampah kehidupan

Menghirup udara penuh polusi

Melewati hari demi hari

Dalam diri banyak sudut-sudut ruang

Selama ini dibiarkan terbengkalai

Gudang-gudang penuh misteri

Rumah-rumah tak terawat diselumuti sawang-sawang

 

 

 

 

 


 

MENGHIAS DUNIA

 

Topeng peng peng

Kedok dok dok

Perisai sai sai

Tirai rai rai

Menutup mata dunia

Memperindah pandangn

Menghalangi hakekat

Menelanjangi kepalsuan

Topeng peng peng

Kedok dok dok

Perisai sai sai

Tirai rai rai

Menjalani hidup sampai mengkerut

Menghias mulut dengan pemanis rasa

Merekah bibir gincu-gincu merah

Warna permukaan warna tersembunyi

Kebaikan-kebaikan terselimuti

Kebenaran-kebenaran ternodai

Keburukan-keburukan terwujudi

Kesamaran-kesamaran memenuhi

Topeng peng peng

Kedok dok dok

Perisai sai sai

Tirai rai rai

Hidup zaman ini

Membongkar topeng mengingkari

Memusnahkan kedok melangkahi

Meremukkan perisai menyalahi

Menghancurkan tirai melewati

Norma-norma zaman tak berbentuk

Bersikap arif pada yang tampak

Bijaksana melihat yang tertangkap

Mampu menyingkap yang tersingkap


 

ZAMAN KEANEHAN

 

Bersikap tulus sesama

Tanpa harap imbal jasa

Barang aneh dalam masa

Orang berbuat mendapat apa

Tanpa apa-apa sikap tak ada

Seorang tak berpamrih

Dianggap gila

Seorang bersikap ikhlas

Diduga menyimpan sesuatu di balik muka

Seorang tak ingin apa-apa

Diklaim menginginkan apa-apa

Zaman ini adalah keanehan-keanehan

Menjelma menjadi nyata

Menjarah adalah biasa

Korupsi adalah nyata

Maling berdasi adalah pahlawan

Diagungkan semua dapat bagian

Kebohongan milik semua

Kelicikikan  alat kesuksesan

Keangkuhan bekal kebenaran

Kecongkakan suara kenyataan

Kejujuran barang langka

Ketulusan jadi legenda

Kebaikan perlahan sirna

Dalam zaman penuh gelora 


 

MENELUSURI PILIHAN

 

Persimpangan jalan menghadang di depan pelupuk mata

Melangkah ke barat, hati gelisah

Melangkah ke timur, pikiran resah

Melangkah ke selatan, nafsu bergelora

Melangkah ke utara, badan merona

Memilih tidak melangkah, menyalahi norma

Dalam kebingungan

Kaki melangkah mengikuti naluri

Diri patuh pada arah yang dituju

Sesekali ke barat, menghasilkan karya

Sesekali ke timur, melahirkan karsa

Sesekali ke selatan, menciptakan ceria

Sesekali ke utara, menghadirkan sejahtera

Semua arah ada dalam ada

Tidak bisa menafikan salah satu

Masing-masing berjalan sesuai irama

Melantunkan arti seribu satu

Persimpangan jalan memiliki banyak makna

Seperti kata yang mengalir memenuhi berbagai penafsiran

Memenjaran pilihan ke salah satu arah

Sama dengan memenjarakan kata dalam kamus

Biarlah kata menunjukkan diri sendiri

Seperti yang digagas presiden penyair

Atau penjara-penjara kata kita musnahkan

Sehingga kata-kata berbicara tentang dirinya sendiri

Hidup adalah memilih berbagai pilihan

Tidak memilih bukan berarti mati

Memilih segala pilihan bukan berarti bunglon

Memutuskan satu pilihan bukan berarti picik

Biarkan diri-diri memutuskan yang dikehendaki

 

Wonosari, 14 Oktober 2004


 

 MATI CERIA

 

Aku pemuja kesenangan

Gerik gerik menuju keceriaan

Tingkah laku tentang kegembiraan

Senyum

Sumringah

Tawa

Terbahak

Ceria

Adalah detik-detik waktu yang dilewati

Diskotik

Cafe

Dunia gemerlap

Pesta

Mall

Dolly

Konser

Pertunjukkan

Bioskop

Tempat-tempat keramat sehari-hari

Hidup hanya sebentar tuk menikmati

Segala yang tersedia

Kerja alat kesenangan

Kreatifitas alat keceriaan

Peras otot alat kegembiraan

Pikiran alat kebahagiaan

Inilah alasan hidup

Bekal mati yang tak berarti

Hidup sesaat dihayati

Mati ketiadaan hakiki


 

MERANA

 

Penjarah menjadi raja

Menguasai kerajaan

Memerintah sekehendak hati

Tak peduli hati nurani

 

Para pemimpin bermunculan

sebagai pemimpin kelompok

Bukan negarawan

Bukan pemimpin rakyat

Penghamba kekuasaan

 

Pengamat berbicara sampai berbusa

Ekonom berdebat sampai berbisa-bisa

Cendikiawan mengabdi pada harta

Intelektual berlomba-lomba menghamba

Pejabat  berpikir tetap berkuasa

Pegawai tuan yang tidak ingin menjadi hamba

Petani menjadi budak keserakahan

Nelayan menjadi babu di lautan

Pedagang kecil menjadi sapi perahan

Pengusaha merampok kekayaan

Republik tidak menyisakan sisa-sisa

 


 

KEJAHATAN RAJA DUNIA

 

Kebenaran berada di atas puncak gunung

Berdiri agung di bawah langit

Terbang tinggi di angkasa

Menjauh dari bumi

Tempat manusia bersemayam

 

Kebenaran menyimpan kepalsuan

Butuh waktu menyingkap topengnya

Maka klaim pada kebenaran

Adalah klaim pada kepalsuan

Apa yang benar sekarang

Menjadi kekeliruan esok hari

Menjadi abu-abu pada masa depan

Menjadi barang rongsokan dalam kehidupan

 

Orang-orang berilusi

“Kejahatan tidak pernah menang melawan kebenaran”

Legenda

Cerita

Mitos

Media

Mengamini secara patuh

Kenyataan tak pernah mengamini

 

Kenyataan mengungkapkan apa yang ingin dinyatakan

Bertahun-tahun diperintah seperti budak adalah kejahatan

Kita diam seribu bahasa

Sudah tahu wakil rakyat hendak menjarah

Kita memilihnya atas nama agama

Sadar orang yang memimpin adalah Durna

Kita terpesona

 

Kita membanggakan Durna masa kini

George Bush

Tony Blair

Fidel Castro

Hambali

Dr. Azhari

Osamah bin Laden

         “Bukankah kejahatan lebih unggul dari kebenaran?”

 

 

 

 

 

 

 

 

MENDALAMI PUASA

 

Cahaya bulan menyinari hari

Menerbitkan rentetan waktu terbaik sepanjang tahun

Menyambut senyum, mendapat pahala

Menyambut bahagia, mendapat sorga

Menyambut sedih, mendapat neraka

Cahaya bulan menyinari hari

Kumpulan waktu paling bermakna dalam hidup

Menahan lapar dari nasi

Menahan haus dari air

Menahan diri dari yang halal dalam sinar matahari

Menahan mulut dari bisa

Menahan suara dari kata

Menahan bisikan dari nafsu

Cahaya bulan menyinari hari

Sejumlah hari dalam bulan menyinari yang lain

Membaca ayat-ayat tertulis rapi

Menemukan hakekat makna bagi diri

Membaca ayat-ayat tak tertulis

Menemukan jati diri

Menundukkan wajah di atas sajadah

Melantunkan dzikir setiap waktu

Menyatukan diri dengan Ilahi

Mendekatkan hati pada yang punya

Memperoleh segala harapan berupa ridha

Abadi sepanjang masa

 


 

SIMBOL MAKNA

 

Mata sendu menyiratkan luka

Kerut di kening menyuratkan gelisah

Muka masam menandakan marah

Senyum manis menunjukkan bahagia

Tawa renyuh menciptakan senang

Senyum sinis menggambarkan dendam

Makna tanda-tanda dari berbagai zaman

Tak mengalami perubahan sampai kini

Padahal segala sesuatu berubah

Sistem tanda yang dibakukan tertulis

Tercetak abadi

Dalam kehidupan sehari-hari

Berbagai tanda-tanda mengalami perombakan total

Dalam buku tidak ada yang berubah

Kehidupan sehari-hari lebih menawarkan banyak kemungkinan dari buku

Belajar dari kehidupan sehari-hari keharusan tak terbantahkan

Pelajar

Mahasiswa

Guru

Dosen

Profesor

Masyarakat

Senantiasa menggali tanda-tanda yang ada

Tidak terjebak dalam buku-buku mati

Hidup yang mengalir sungai-sungai perubahan

Jangan dihambat mengatasnamakan perpustakaan

Punya makna dalam kurun waktu tertentu

Mata sendu belum tentu bermakna luka

Kerut belum tentu bermakna gelisah

Muka masam belum tentu bermakna marah

Senyum belum tentu bermakna bahagia

Tawa renyah belum tentu bermakna senang

Senyum sinis belum tentu bermakna dendam

Kehidupan sehari-hari menawarkan makna berbeda-beda

 


 

paham butuh

 

raih malam raup siang

peras keringat alir darah

kencang otot keluar tenaga

puncak pikir segenap rasa

korban hati manis mulut

gapai cita capai mimpi

penuhi lumbung isi sesuap

 

 

 

kesempurnaan

 

menerangi manusia butiran-butiran cahaya

menyentuh hati nurani

membangkitkan pikiran

mengendalikan perasaan

mencapai kesempurnaan

 

 

ANGKA-ANGKA MUKJIZAT

 

Di antara kegelapan-kegelapan, terdapat cahaya

Dalam kesunyian malam-malam, mengandung sinar kehidupan

Di atas hitam-hitam, ada sebekarkas terang yang diharapkan

Asa yang datang, menunggu waktu sekali setahun

Konon antara tanggal ganjil di akhir bulan

21, 23, 25, 27, 29

Angka-angka mukjizat

Terkjebak angka tak dapat apa-apa

 

 


 

HIDUP ABADI

 

Usia berkurang setiap saat

Karya turut berkurang

Hidup menjalani taqdir

Melewati hari tanpa arti

Padi menguning ingin dipetik

Dinikmati memenuhi kebutuhan

Memanen padi yang kempes

Usia dibiarkan lewat tanpa makna

Umur boleh berkurang

Badan boleh bertambah rusak

Raga boleh menua

Karya tak ikut mati

Kreasi tak ikut sirna

Hidup jadi abadi0


 

PUNCAK KESEDIHAN

 

Bukit runtuh

Menyebar jatuh

Menimbulkan resah

Meningggalkan keluh kesah

Mata-mata merona merah

Hujaman pisau-pisau kepiluan menancap

Berdararah-darah

Tercabik-cabik

Terkoyak-koyak

Menghujam ulu kesedihan

Hujan air mata menerpa

Kecewa

Sengsara

Merana

Menyatu dalam syahdu

Bersatu di lain waktu

 

Wonosari, 10 Oktober 2004


 

menemani hari-hari

 

berjalan di jalan sunyi

menikmati cuaca berseri

menghirup udara pagi

melewati pematang sawah petani

siluet muncul dari ufuk timur

sinar sendu menghidupkan suasana

membangun makhluk dari tidur

awal hidup dimulai

awal mati dirintis

merasa hidup, merasa mati

senantiasa menemani hari-hari

 


 

 KATA

 

Kilau

Silau

Risau

Parau

Dunia

 

Rasa

Karsa

Cipta

Karya

Jelma

Hidup

 

Pulas

Mimpi

Malas

Sepi

nafas

Mati

 

Dunia

Hidup

Mati

Karib

Manusia

 

Akhirat

Hidup

Hidup

Hidup

Manusia

 


 

Kursi

 

Kursi

Tahta

Asa

Segala

 

Usaha

Gigih

Dapat

Mimpi

 

Halal

Boleh

Anjur

Ajak

Suruh

Perintah

Duduk

Kursi

Hilang nurani

 

 

 

 

 

Wonosari, 19 Agustus 2004

 

 


 

 

Terali

 

Sepi

Sendiri

Sunyi

Damai

Gemuruh

Baur

Dalam

Diri

 

 

 

 

 

OH

 

Oh

Ah

Dah

Ku

Pah

 

 

 

 

 

Wonosari, 16 Oktober 2004

 

 

 

 

 

 


 

Hidup

 

Bangun

Kerja

Peras

Biasa

Hari

 

Waktu

Menggilas

Menghantam

Menerjang

Melahap

Tahun

 

Sesuap

Segar

Sehat

Nikmati

Keadaan

 

Hirup

Nafas

Tenang

Buaian

Tidur

 

 

 

 


 

Kosong

 

Gelap

Cahaya

Terangi

Kalbu

Tentram

 

Terang

Selimuti

Hati

Hitam

Kelabu

Kalut

 

Malam

Bulan

Bintang

Dekat

Dzat

Maha

 

Siang

Matahari

Sibuk

Perut

Jauh

Maha

 

Gelap

Maha

Terang

Manusia

 

Wonosari, 1 Januari 2005

 

 

 

 

Beri tanggapan

Your response: