RSS

Buku Belajar Otodidak Sampai Mati

 

 

hakikat wiraswasta

Ahmad Zamhari Hasan

 

warna gelap warnai dunia, warna terang tertutup awan, semesta penuh sendu pilu, semesta selimuti wajah rindu, semua kabur tak pasti

gegap penuh gelora jiwa, kuak gelap dengan usaha, geser awan segenap karsa, jaga semesta senyum manis, semesta rindu rubah cinta, kabur makna dengan agama

langkah pasti raup khayal, susun rencana capai tujuan, kerja siang raih malam, kerah otot rengkuh asa, diri tegap hadapi tantangan, yakin mimpi jadi nyata

hidup datang kurang usia, tidur lelap tetap di tempat, malas kerja hilang nyawa, perut kerempeng tak dapat sesuap, tulang berjalan daerah kotor

 

jiwa-jiwa gersang, imajinasi-imajinasi kosong, pikiran-pikiran hampa, nurani-nurani sepi, bangunlah!

jiwa-jiwa gersang, imajinasi-imajinasi kosong, pikiran-pikiran hampa, nurani-nurani sepi, bangkilah!

jiwa-jiwa gersang, imajinasi-imajinasi kosong, pikiran-pikiran hampa, nurani-nurani sepi, berkreasilah!

jiwa-jiwa gersang, imajinasi-imajinasi kosong, pikiran-pikiran hampa, nurani-nurani sepi, berkaryalah!

selamat atau kiamat!

 

 

 

 

 

 

Buku ini dipersembahkan bagi generasi muda, generasi baru, pedagang, wiraswasta dan pengusaha Muslim. Hadapi masa depan cerah lewat liku-liku yang dikuak dengan kerja keras, kreativitas, ide-ide brilian, perhitungan matang, pelayanan kelas dunia, dan optimalkan segenap potensi, dunia usaha akan jaya.

 

 

DAFTAR ISI

 

hakikat wiraswasta ………………………………………………………….   i

DAFTAR ISI ……………………………………………………………………. ii

SEKAPUR SIRIH PENULIS …………………………………………………. iv

PENDAHULUAN ………………………………………………………………viii

 

BAB I

MEMAHAMI PARADIGMA RIZKI DALAM ISLAM

 

Antara Usaha dan Tawakkal ……………………………………………..   1

Memahami Ketentuan Rizki Allah ……………………………………….   6

Ketentuan Rizki Allah Bisa dirubah ……………………………………… 8

Rizki Allah Sangat Luas …………………………………………………..   12

Berdoa Hanya Pada Allah ………………………………………………… 14

Bersyukur Pada Allah, Rizki akan Bertambah ………………………. 18

Allah Maha Pemberi Rizki ………………………………………………..   20

Umat Islam Harus Berusaha Untuk Kaya ………………………………23

Keseimbangan Kehidupan Dunia dan Akhirat ………………………. 27

 

BAB II

CARA BERDAGANG SECARA ISLAMI,

Alternatif Mengelola Usaha Perdagangan Pada Masa Mendatang

 

Makna Wiraswasta Sejati ………………………… ……………………. 31

Meneladani Nabi Muhammad dalam Berdagang …………………… 34

Berusaha Hidup Mandiri …………………………………………………. 39

Mengelola Usaha Kecil dari Awal ………………………………….. …… 43

Cara Efektif dalam Berkomunikasi ……………………………………….48

Kejujuran Modal Utama dalam Berdagang …………………………… 52

Menerangkan Kondisi Barang yang Sebenarnya ……………………   55

Perhitungan Salah Satu Kunci Sukses dalam Berdagang …….…… 58

Mengembangkan Usaha Pelan-Pelan …………………………………..   61

Cara Bersaing yang Sehat ………………………………………………… 65

Lancar Lebih Utama dari Keuntungan Besar ………………………..   68

Mempermudah Proses Tawar Menawar ………………………………    71

Sumpah Dapat Menghilangkan Barokah ……………………………   73

Bangga Dengan Kesuksesan Orang Lain ……………………………..   76

Bersabar dalam Menekuni Usaha Perdagangan .……………………   79

Memenuhi Hak Pekerja ……………………………………………………   83

Memahami Kebutuhan Pembeli ………………………………… …….. 87

Melayani Customer Seperti Raja …………………………………..……. 91

Cerita Sukses Pedagang Kecil …………………………………………… 94

 

 

BAB III

MENGELOLA HUTANG PIUTANG DENGAN EFEKTIF

 

Mencatat Hutang Piutang Merupakan Kewajiban …………………. 107

Memanfaatkan Pinjaman Bank Guna Mengembangkan Usaha…. 112

Memberi Hutang Lebih Utama dari Sodaqoh …………..…………… 116

Hutang Tak Dibayar Tak Dapat Ampunan. …… …………………… 119

 

BAB IV

SEDEKAH SEBAGAI UPAYA MELARISKAN PERDAGANGAN

 

Sedekah Bisa Meningkatkan Penghasilan …………………………….123

Kode Etik Bersedekah………………………………………………………127

Bersedekah pada Mereka Yang Membutuhkan ……………………. 131

Ikhlas Dalam Bersedekah ……………………………………………….. 133

Bersedekah dalam Segala Kondisi ………………………….………… 138

Sedekah Sebagai Penyelamat Manusia ………………………………. 143

BAB V

MENGEMBANGKAN DIRI MENJADI PENGUSAHA ELIT

 

Dari Pedagang Kecil Menjadi Pengusaha Menengah ………………. 146

Dari Pedagang Kecil Menjadi Pengusaha Elit ……………………….. 154

Bangkit di Saat Krisis ….……………………………………………..………159

Beberapa Unsur Penting dalam Dunia Usaha ……………………….161

Cara Menghadapi Persaingan Usaha ………………………………… 163

Membentuk Perusahaan yang Tangguh ……………………………… 169

  1. Stakholder Sebagai Sang Penentu …………………….……..   171
  2. Filosofi Perusahaan ………………………………………………   173
  3. Mengatur Nilai, Strategi dan Taktik ….……………………..   175
  4. Memahami Customer Lebih Dalam……………………………   177

Penutup ……………………………………..………………………………   180

 

BAB VI

ZAKAT SEBAGAI SOLUSI BAGI UMAT.…………. .……….…………. 183

KESIMPULAN ………………………………………………………………… 198

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………….. 204

SEKILAS TENTANG PENULIS ……………………………………………… 206

 

 

SEKAPUR SIRIH PENULIS

Apa yang ada di hadapan pembaca ini, bisa disebut kumpulan tulisan yang dibukukan, namun bisa juga disebut buku utuh. Ini disebut kumpulan tulisan, sebab sub judul yang ada merupakan tulisan yang sebagian disebut kolom, karangan deduktif dan induktif, campuran dan sebagian bisa disebut tulisan ilmiah. Ini disebut buku utuh, sebab tema-tema yang disampaikan dalam setiap bab, berbeda-beda yang dibahas, namun dalam satu kesatuan tema yakni bagaimana cara pedagang Muslim supaya sukses dalam usahanya, sehingga diharapkan mampu mentransformasikan diri menjadi pengusaha menengah dan pengusaha elit.

Beberapa tulisan sengaja dibuat kolom, agar diperoleh pemahaman bahwa apa yang disampaikan merupakan persoalan sehari-hari para pedagang, wiraswasta dan pengusaha, yang dengan medium kolom akan mudah tersampaikan maksud yang saya inginkan, mudah untuk dipahami, sehingga bisa dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Tiada maksud lain dari penulisan kolom-kolom tersebut, khususnya menyangkut nilai-nilai Islam yang harus dipahami, dijiwai, dan direalisasikan dalam kenyataan, bukan sekedar teori-teori di atas kertas yang tak pernah bisa dilaksanakan, kecuali demi kepentingan umat Islam.

Karangan deduktif atau tema utama yang berupa ayat Al-Qur’an dan hadits diletakkan di awal tulisan, sedang ilustrasi, contoh, interpretasi dan penjelasan, diletakkan dalam paragraf-paragraf selanjutnya. Dengan demikian kita bisa memahami ayat Al-Qur’an atau hadits dengan cara memahami makna ayat sebelum mencari penjelasannya dalam realitas yang ada di sekitar kita.

Sebaliknya dengan karangan induktif, kita memberikan ilustrasi, contoh, interpretasi dan penjelasan di awal-awal tulisan, baru pada akhir tulisan diperkuat dengan ayat AL-Qur’an dan hadits. Ini berarti apa yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, yang merupakan perwujudan dari upaya diri untuk bertindak benar, bertingkah laku sesuai norma yang ada, dan berusaha berbuat baik, ternyata didukung dalam ayat Al-Qur’an dan hadits, baik disadari atau tidak.

Gabuangan keduanya biasa disebut dengan karangan campuran, bisa jadi pokok pembahasan ada di awal dan diperkuat di akhir tulisan, sedang contoh, ilustrasi, dan interpretasi ada di tengah-tengah. Dengan cara ini, diharapkan apa yang dibahas menjadi lebih lengkap.

Tulisan ilmiah yang biasanya terdiri dari pendahuluan, pengembangan tulisan, penjelasan, dan penutup, merupakan sebuah tulisan yang mengandung kesatuan tema dari awal sampai akhir secara konsisten, menggunkan pendekatan dengan metode tertentu. Tulisan ilmiah bukan satu-satunya cara penulisan yang terbaik untuk mengungkapkan kebenaran, hakikat sesuatu, dan mengungkap fakta yang sebenarnya, malah terkadang tulisan ilmiah berdiri di bawah “kekuasaan” para pemberi modal penelitian agar menulis seperti keinginannya meski penulis berusaha menolaknya. Dengan demikian, setiap tulisan yang kita baca harus dianalisa secara teliti, diungkap maksud tersembunyi dari penulis atau penerbit, misi apa yang diemban dan bagaimana cara kita menyikapinya, agar tidak terjebak dalam perangkap yang dibuat. Ini untuk menunjukkan bahwa tulisan ilmiah tidak jauh lebih unggul dari esai, kolom, artikel, puisi, novel, drama dan jenis kesenian lainnya. Masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan sendiri.

Hal ini penting untuk disampaikan, agar para penulis atau pembaca yang ingin menulis tidak memiliki ketakutan yang berlebihan kalau-kalau tulisannya tidak disebut ilmiah. Kita bebas menulis apa saja yang diinginkan, bebas menentukan cara apa saja untuk menuliskannya; esai, kolom, sastra atau ilmiah, tanpa harus khawatir dengan penilaian orang lain. Selama yang kita tulis bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga, teman, orang lain, umat Islam dan masyarakat pada umumnya, biarkan jari tangan kita bergerak di atas kyebord komputer, perasaan mengelana mencari ilham, ide-ide bermunculan di pikiran, citra-citra mengembara di imajinasi, dan intuisi muncul dari hati nurani, sehingga menghasilkan tulisan yang bermanfaat.

 

Asas utama dalam tulisan, bukan bagus tidaknya sebuah tulisan, berkualitas atau tidaknya sebuah tulisan, lumayan atau jeleknya sebuah tulisan, namun sejauh mana tulisan yang dibuat bermanfaat pada orang lain. Bermanfaat pada orang lain tidak mesti harus diterbitkan dengan royalti yang hanya sebesar 10% bagi penulis, melainkan dengan cara membuat wibe site atau situs gratis yang bisa dibaca siapa saja tanpa mengharap pamrih apapun. Di sinilah kenikamatan, kepuasan, dan kebahagiaan bagi seorang penulis sejati akan tercipta. Ini penting, sebab tidak semua tulisan yang diterbitkan adalah tulisan yang bagus, berkualitas, terjamin dan layak dibaca, bahkan dari pengalaman saya membaca banyak literatur buku yang diterbitkan justru sebagian seperti dipaksakan untuk terbit karena kepentingan tertentu. Sebaliknya banyak tulisan berkualitas yang tidak bisa diterbitkan, di samping karena penulisnya tak punya cukup uang untuk menerbitkan sendiri dan jikapun punya uang, tidak memiliki keberanian menerbitkan sendiri. Di samping itu, tulisan yang dibuat bukan representasi dari “kepentingan tertentu”, tulisan dinilai jelek, tidak bernilai komersial, dan tidak akan mendatangkan keuntungan. Frans Kafka, salah seorang pelopor sastra postmodern bisa dijadikan bukti kongkrit; seumur hidup karyanya tidak ada yang diterbitkan, malah menjelang ajal dia berwasiat pada sahabatnya Max Brod agar tulisan-tulisannya dibakar atau dibuang saja, namun sahabatnya tidak mengindahkan, justru menerbitkan setelah Frans Kafka meninggal dunia, sehingga orang-orang lantas terpana karena banyak hal-hal baru yang diungkap sang penulis, cara penulisannya berbeda, dan merupakan kritik yang tajam terhadap modernisme.

Sesuatu yang menarik dalam buku ini –saya sadari setelah selesai menulis- adalah upaya untuk mempertahankan nilai-nilai lama yang baik, baik yang berasal dari Al-Qur’an, Hadits atau kenyataan hidup sehari-hari, dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik; nilai-nilai yang berasal dari wiraswasta dan pakar marketing dari dalam dan luar negeri yang sukses, senyampang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Hal ini sesuai kaidah Usul Fiqh “Al-muhafadhah ‘alal qodimus sholeh wal akhdhu biljadidil aslah,” artinya mempertahankan nilai-nilai lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik.

Buku yang ada di hadapan anda ini, bisa juga disebut dengan tulisan yang tidak berpegang teguh pada metode penulisan yang baku. Buku ini diharapkan bukan sekedar merangsang para pedagang, pengusaha, dan wiraswasta untuk mampu mengembangkan usaha sesuai nilai-nilai Islam supaya berhasil, melainkan juga merangsang penulis dan pembaca yang kreatif untuk menghasilkan karya berbeda, inovatif, kreatif, jenius, dan bermanfaat, tanpa harus menjebakkan diri dalam metode penulisan tertentu. Dunia penulis adalah dunia penuh kebebasan berekspresi.

Syukur pada Allah atas segala rahmat, terutama rahmat berupa Al-Qur’an, terima kasih pada Nabi Muhammad atas Sunnah yang sangat bernilai, terima kasih KH. Abdullah Gimnastiar atau Aa Gym, Hermawan Kertajaya, Doug Hall, Marty J. Grunder, dan penulis-penulis lainnya yang dijadikan bahan kutipan. Terima kasih Emha Ainun Nadjib, Frans Kafka atas inspirasinya. Terima kasih pada para pedagang, wiraswasta dan pengusaha yang berpegang teguh pada ajaran-ajaran Islam.

Terima kasih pada KH. Idris Djauhari, KH. Tidjani Djauhari, KH. Maktum Jauhari dan keluarga besar Al-Amien Madura atas ilmu yang saya peroleh. Terima kasih pada adik Jumladi yang membuat desaign cover, kakak Jubeir sebagai teman diskusi, Joko Wirstan, Ust. Husein, H. Fathor dan keluarga besar Al-Azhar Wonosari, Bapak H. Hasan dan Ibu Sarrah, keluarga besar H. Sarrah di Bondowoso dan Bapak Hasan di Madura, Suhlal yang cerita suksesnya dimuat dalam tulisan ini, dan orang-orang yang meluangkan waktu, tenaga dan uang untuk bisa memiliki buku ini. Diharapkan karya ini membawa manfaat yang sebesar-besarnya pada siapapun yang membacanya.

 

PENDAHULUAN

Ada semacam konsesus tak tertulis di kalangan para pedagang, wiraswasta dan pengusaha, bahwa dalam mengelola usaha supaya berhasil, maka segala cara harus dilakukan; membohongi konsumen, menawarkan barang-barang dengan kuliatas yang hebat padahal biasa-biasa saja, melancarkan usaha dengan pergi ke dukun atau paranormal, memberikan janji-janji muluk walau tak ditepati, menjatuhkan para pesaing agar sukses sendiri, menjual barang murah yang tidak menyehatkan, dan berbagai macam trik lainnya. Dengan ini, maka para pedagang yang masih menggunakan paradigma agama dalam mengelola usaha, dipirkirakan akan gagal, sebab bertentangan dengan konsesus umum tadi. Benarkah para pedagang Muslim yang memegang prinsip Islam akan gagal dalam usahanya?

Tulisan ini merupakan jawaban terhadap pertanyaan di atas. Umat Islam yang bergerak di sektor perdagangan, wiraswasta, industri, kerajinan, peternakan, perikanan dan pertanian, justru harus tetap memegang nilai-nilai Islam dalam menekuni usaha yang dijalani, apapun jenis usahanya. Sebab dengan berpegang teguh pada nilai-nilai Islamlah, mereka akan mampu bertahan di saat krisis, dan mengembangkan usaha yang maksimal di masa mendatang. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Prinsip usaha dalam Islam adalah memberikan keuntungan pada pedagang dan pembeli, wiraswasta dan yang memanfaatkannya, pengusaha dan customer (pembeli/pelanggan/pemakai produk/konsumen), tidak boleh ada salah satu pihak yang dirugikan. Dengan prinsip ini, konsumen yang dalam teori ekonomi masa kini dianggap sebagai faktor utama kesuksesan sebuah usaha merasa puas, dilayani dengan baik, diberi produk yang berkualitas, halal dan mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan, tanpa ada perasaan dirugikan sedikitpun. Mereka akan senantiasa memanfaatkan produk-produk tersebut pada masa mendatang, yang tentu saja mendatangkan keuntungan yang besar, konstan, berkesinambungan bagi pedagang, wiraswasta dan pengusaha.

Berhubung timbul kesalahpahaman terhadap penerapan nilai-nilai Islam dalam dunia usaha, pada bab awal dijelaskan tentang paradigma rizki dalam Islam. Bab ini akan mengulas bagaimana cara Islam memandang rizki yang selama ini dipandang umat Islam dalam tiga cara berbeda, pertama; rizki manusia sudah dituntukan Allah, dengan demikian usaha manusia seberapa besarpun takkan bisa mempengaruhinya, akibatnya kemalasan dan sikap pasrah tanpa usaha menjadi budaya, kedua; manusia yang menentukan keberhasilan usahanya mencari rizki, Allah sama sekali tidak memiliki peranan, sehingga dalam menjalani usaha menghalalkan segala cara, ketiga; sebagian ada yang percaya rizki diatur Allah dan telah ditentukan, namun mereka tetap percaya dengan kerja keras, usaha yang gigih, perhitungan yang matang, bertawakkal menyangkut hasil, maka rizki mereka akan bertambah dan bisa merubah besar kecilnya rizki yang diperoleh. Kelompok ketiga di kalangan umat Islam masa kini adalah minoritas atau sebagian kecil yang meyakini dan melaksanakan hal tersebut, sebagian besar di antaranya berpegang pada keyakinan pertama dan kedua, sehingga banyak usaha yang dikelola umat Islam mengalami kebangkrutan, berpindah tangan, gagal, dan tidak berhasil.

Pembahasan dalam bab pertama diharapkan merubah paradigma yang salah dari para pedagang, wiraswasta, dan pengusaha Muslim, sehingga perlahan-lahan mereka berusaha memperbaiki usaha yang dikelola, menggali nilai-nilai Islam dalam Al-Qur’an dan Hadits, menerapkan nilai-nilai Islam dalam usaha yang dikelola, dan bertawakkal atas hasil yang diperoleh. Orang-orang Jepang berhasil dalam berbagai bidang industri mobil, alat-alat elektronik, Video Game, Play Stasion, dan bidang ekonomi lainnya yang menguasai pasar-pasar berbagai penjuru dunia, mereka tetap berpegang teguh pada budaya setempat dalam menjalankan setiap usaha yang dikelola. Sekarang China yang menjadi kekuatan baru ekonomi dunia dengan prinsip kualitas barang sama dengan harga yang lebih murah, mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh pada nilai-nilai budaya yang dianut, dengan tetap mencari, merumuskan dan melaksanakan nilai-nilai baru yang lebih baik tanpa meninggalkan sama sekali budaya yang dianut. Tidak ada alternatif lain bagi umat Islam yang ingin berhasil di bidang berbagai usaha yang ditekuni, dengan tetap berpegang teguh pada ajaran-ajaran dan nilai-nilai Islam dalam mengelola berbagai usaha tersebut, sedang nilai-nilai baru yang berasal dari peradaban modern atau postmodern harus disaring sebaik-baiknya dan diambil yang terbaik. Hanya dengan inilah mereka akan berhasil sebagai pedagang, wiraswasta, dan pengusaha di masa mendatang. Percayalah!

Dalam bab kedua baru dijelaskan beberapa prinsip dasar dari nilai-nilai Islam dalam menekuni usaha perdagangan atau wiraswasta, nilai-nilai tersebut seperti; Makna Wiraswasta Sejati, Meneladani Nabi Muhammad dalam Berdagang, Berusaha Hidup Mandiri, Cara Mengelola Usaha dari Awal, Kejujuran Modal Utama dalam Berdagang, Menerangkan Kondisi Barang yang Sebenarnya, Perhitungan Salah Satu Kunci Keberhasilan dalam Berdagang, Mengembangkan Usaha Pelan-Pelan, Cara Bersaing yang Sehat, Lancar Lebih Utama dari Keuntungan Besar, Mempermudah Proses Tawar Menawar, Bangga Dengan Kesuksesan Orang Lain, Kesabaran Salah Satu Kunci Sukses Berdagang, Memenuhi Hak Pekerja, Memahami Kebutuhan Pembeli, Melayani Pembeli Seperti Raja, dan Cerita Sukses Pedagang Muslim. Nilai-nilai tersebut yang sebagian besar diambil dari ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad, dipahami, dimengerti, dilaksanakan, dan dipraktekkan dalam menjalani usaha setiap hari. Sehingga bisa dibuktikan kebenarannya.

Islam menganjurkan pada pemeluk-pemeluknya untuk membuktikan setiap ajaran Islam yang diperintahkan, mempraktekkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pembuktian diri yang benar, akan memkokoh iman, memperkuat Islam, dan mengamalkan ihsan. Jika selama ini menjalankan usaha dengan banyak berbohong, mulai mengurangi sedikit-sedikit dan menghilangkan sama sekali, serta menggantinya dengan kejujuran. Kalau selama ini mempersulit tawar menawar, permudahlah agar mendapat pembeli yang banyak. Andai selama ini boros dengan pengeluaran tanpa perhitungan, mulailah memperhitungkan semua pengeluaran dan pemasukan yang diperolah. Bila selama ini para pekerja kurang dihargai dan dipenuhi hak-haknya, berikan yang terbaik pada mereka sehingga mereka juga memberikan yang terbaik juga. Manakala selama ini sering marah-marah pada pembeli dan para pesaing, mulai sekarang menjadikan pesaing sebagai sarana memperbaiki diri dan pembeli dilayani dengan penuh kesabaran. Demikian seterusnya, sampai seluruh nilai-nilai Islam menyatu dalam diri, yang secara otomatis dilaksanakan dalam menekuni usaha sehari-hari. Insya Allah, keberhasilan usaha tinggal menunggu waktu, momentum, dan kesempatan pada masa mendatang. Praktekkan!

Dalam bab tiga dijelaskan upaya para pedagang atau wiraswasta dalam upaya mengelola hutang piutang dengan baik, agar bisa memaksimalkan modal usaha untuk barang-barang yang cepat laku terjual, lancar, menguntungkan, dan memberikan laba yang banyak. Modal usaha yang diperoleh pedagang, ada yang berasal dari diri sendiri atau keluarga, pinjaman dari juragan atau grosir, dan pinjaman dari Bank. Modal yang berasal dari diri atau keluarga saja dikelola dengan baik, memperhitungkan pemasukan dengan pengeluaran dan digunakan semanfaat mungkin, apalagi modal dari juragan atau grosir dan pinjaman dari Bank.

Pengelolaan hutang piutang yang merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam mengelola usaha, maka para pedagang atau wiraswasta Muslim bisa mengoptimalkan usaha yang dikelola. Dalam bab ini nantinya akan jelas cara memanfaatkan modal dari diri atau keluarga, juragan, dan ini yang penting, cara memanfaatkan pinjaman di Bank. Selama ini para pedagang Muslim ada yang terlalu berani dengan pinjaman Bank, tanpa mengukur kemampuan diri dan memperhitungkan usaha yang dikelola, hasilnya bisa ditebak tak mampu membayar, tapi ada juga yang penakut untuk pinjam ke Bank, padahal dari perhitungan terhadap perdagangan yang dikelola sanggup membayar, dan jelas-jelas dibutuhkan untuk mengembangkan, meningkatkan, dan memperbesar usaha yang dikelola. Bagaimana bersikap dengan benar dalam hal ini, bisa dibaca dalam bab tiga. Catat dan perhitungkan!

Banyak yang salah paham dengan konsep sedekah dalam Islam, anjuran untuk sedekah dianggap sebagai upaya mengurangi harta yang dimiliki, mengurangi penghasilan yang diperoleh, dan memiskinkan diri. Paradigma yang keliru terhadap sedekah berusaha diluruskan dalam penjelasan bab empat. Justru konsep sedekah dalam Islam adalah merupakan upaya-upaya yang konstruktif, kreatif, dan istiqomah agar harta yang dimiliki seseorang menjadi bertambah banyak, penuh barokah, berdaya guna, bermanfaat, dan memberi makna pada pemiliknya. Para pedagang atau wiraswasta yang rajin bersedekah pada para pengemis, pengamin, anak jalanan, yatim piatu dan orang-orang miskin, akan mendapatkan simpati dari orang lain, sehingga menumbuhkan minat mereka untuk membeli pada pedagang yang bersangkutan.

Di samping itu, jelas-jelas, dalam salah satu ayat Al-Qur’an disebutkan bahwa sedekah akan mendapatkan imbalan yang banyak di dunia dan akhirat. Allah berfirman “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (Q.S Al-Baqoroh 261) Para pedagang yang rajin bersedekah cendrung memperoleh keberhasilan dalam usaha yang dikelola, dibanding para pedagang yang kikir bersedekah. Bersedekahlah!

Dengan menjalankan nilai-nilai Islam di atas dalam usaha yang dikelola, maka akan tiba waktunya bagi para pedagang Muslim untuk mentranformasikan diri dari pedagang kecil, menjadi pengusaha menengah, bahkan insya Allah menjadi pengusaha elit yang sukses. Proses tranformasi ini dijelaskan dalam bab lima; para pengusaha bisa mengetahui cara mengelola perusahaan yang baik, menghadapi persaingan usaha yang semakin kompleks, perubahan yang bergerak cepat di luar kendali, memperlakukan karyawan atau pekerja sebagai partner kerja yang menjadi jiwa perusahaan, dan memberikan yang terbaik terhadap customer, sehingga keberhasilan usaha terjamin.

Dalam bab V dijelaskan tata cara wiraswasta atau pedagang Muslim mengembangkan diri menjadi pengusaha yang sukses. Pengembangan dilalui secara alamiah dari pedagang kecil menjadi pengusaha menengah, lantas berusaha menjadi pengusaha elit. Dengan pengembangan secara alamiah akan membuat para pengusaha Muslim mampu bertahan atas segala kondisi, asal senantiasa kreatif, melakukan inovasi yang tepat, memberdayakan setiap divisi dalam perusahaan seoptimal mungkin, dan membentuk perusahaan yang tangguh.

Makanya dalam upaya transformasi menjadi pengusaha yang sukses, perlu dipahami bagaimana mengelola perusahaan pemasaran yang tangguh, kredibel, kuat, dan sukses. Ini dijelaskan dalam bab V juga sebagai kelanjutan dari pembahasan sebelumnya.

Pada lampiran tulisan ini, akan dijelaskan tentang tata cara umat Islam dalam mengeluarkan zakat harta yang dimiliki, untuk tulisan yang terakhir merupakan hasil tulisan bersama rekan-rekan Asatids di TPA/TQA/MQA Al-Azhar Wonosari Bondowoso –mereka tak mau disebutkan namanya, berarti sebagian keuntungan dari buku ini akan disumbangkan pada lembaga tersebut-, dalam mengelola zakat harta. Saya mengganggap tulisan tentang Panduan Praktis Menghitung Zakat Harta, akan memudahkan para pedagang, wiraswasta, pengusaha, bahkan seluruh umat Islam dengan berbagai macam profesi atau latar belakang, dalam menentukan zakat harta yang harus mereka keluarkan. Zakat dalam Islam untuk membersihkan harta yang dimiliki sehingga mendatangkan manfaat, barokah, menjauhkan dari penyakit, menjauhkan dari musibah yang tidak bisa ditanggung, dan berdaya guna pada pemiliknya, serta insya Allah membuat orang kaya menjadi bertambah kaya yang penuh barokah, bukan memiskinkan. Seorang pengusaha yang jatuh bangkrut bukan karena rajin sedekah atau berzakat, melainkan salah mengelola usaha, salah menjalankan usaha, keliru menerapkan taktik dan strategi, keliru mengoptimalkan apa yang dimiliki, tak mampu bertahan di saat krisis dan keliru memperhitungkan segala sesuatu secara matang.

Tulisan ini diharapkan mampu merubah paradigma umat Islam yang salah tentang rizki, membuat mereka menerapkan cara berdagang Islam dengan memegang nilai-nilai Islam dalam perdagangan, mengelola hutang piutang dengan baik, rajin bersedekah agar perdagangan menjadi laris dan lancar, dan mengembangkan diri dari pedagang kecil menjadi pengusaha menengah dan pengusaha kelas atas yang sukses.

Zakat Harta dikeluarkan setahun sekali dengan aturan tertentu, sedang sedekah adalah kedermawanan yang dilakukan saat melihat orang di sekitar kita membutuhkan bantuan tanpa memandang jangka waktunya, tanpa ketentuan besar kecilnya sumbangan. Zakat mensucikan harta setahun sekali, sedang sedekah tanpa batas waktu. Kedua hal tersebut, tidak akan memberatkan seseorang, jika dilakukan tanpa beban, ikhlas tanpa pamrih, dengan hati yang bersih, tanpa banyak pertimbangan, dan tanpa berupaya mengingat-ingatnya dalam imajinasi. Malah diri merasa bahagia dengan kebahagian orang lain, diri merasa bermanfaat pada sesama melalui harta yang dicari dengan susah payah.Sucikan hartamu!

Inilah yang bisa saya jelaskan dalam pendahuluan tulisan ini, semoga umat Islam, khususnya para pedagang, wiraswasta, dan pengusaha, bisa menjadi penggerak kebangkitan Islam di Indonesia, sekaligus menjadi penggerak kebangkitan Indonesia di mata dunia internasional. Jumlah mereka yang mayoritas memungkinkan hal ini. Umat Islam akan bangkit, bila dunia usaha mereka bergerak maju bukan mundur, sehingga memberikan manfaat yang banyak pada segala lapisan masyarakat.

 

Bumi Allah, 02 Desember 2009

 

 

 

BAB I

MEMAHAMI PARADIGMA RIZKI DALAM ISLAM

 

Antara Usaha dan Tawakkal

Orang hidup tentu memilki cita-cita yang ingin dicapai. Cita-cita sempat terlontar dalam masa kanak-kanak, remaja, dan dewasa. Dalam setiap masa perkembangan biasanya cita-cita yang diinginkan berbeda-beda dan berubah-ubah; sewaktu kecil ingin menjadi presiden, ketika remaja ingin menjadi dokter, dan saat dewasa ingin menjadi apa adanya sesuai berbagai aspek yang melingkupinya; realitas, lingkungan, keluarga, masyarakat, potensi diri. Ini berarti cita-cita pada masa kanak adalah keinginan pada sesuatu yang tidak mungkin, cita-cita waktu remaja adalah keinginan menjadi sesuatu yang mungkin, sedang cita-cita pada waktu dewasa adalah keinginan menjadi apa yang seharusnya dirinya.

Pada waktu dewasa, seseorang dipaksa keadaan untuk menentukan pilihan menyangkut masa depan yang ingin dilakoninya. Keputusan yang diambil berdasarkan kenyataan yang ada di hadapannya, bukan lagi berpijak pada impian yang ingin digapai. Dalam taraf dewasa inilah manusia menjadi apa yang mungkin tidak mereka cita-citakan, bukan menjadi seseorang sesuai keinginan diri. Diri dipaksa menyerah pada keinginan lingkungan dan keluarga, mengikuti realitas hidup yang membimbingnya, diri tak kuasa menolaknya. Maka jika ada orang yang berhasil sesuai keinginan diri, yang untuk itu harus bertentangan dengan keluarga, mengorbankan kebahagiaan diri, menabrak tradisi, bertentangan dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat, berarti orang tersebut adalah orang yang terhebat di dunia, sebesar dan sekecil apapun keberhasilannya.

Sebagai ilustrasi, saya awalnya bercita-cita menjadi seorang pengusaha yang sukses, lantas berubah ingin menjadi penulis yang terkenal seperti EMHA Ainun Najib, Khairil Anwar, Nurkholis Madjid dan Frans Kafka. Untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan, saya menyibukkan diri dengan beberapa kegiatan yang berkaitan dengan dunia tulis menulis; mengikuti berbagai lomba penulisan cerpen atau artikel di Pesantren dan di luar pesantren, menjadi “wartawan” kecil-kecilan di majalah Qolam, berusaha menerbitkan majalah Al-Hikam yang sukses terjual 1000 exemplar di kalangan santri Al-Amien Madura, membaca berbagai literatur; filsafat, keislaman, koran, dan majalah, dan berusaha menghasilkan karya tulis lain yang bermanfaat. Keterkaitan antara membaca dan menulis seperti yang diungkapkan Peter Bolsius, SJ “If you don’t read, you don’t write.” (Jika (seseorang) tidak membaca buku, maka dia tidak menulis) dalam bahasa berbeda dengan maksud sama “Seseorang belajar menulis dengan membaca buku yang baik, seperti halnya dia belajar bicara dengan mendengarkan pembicara yang baik,” Frank Laurence Lucas, ditulis Wisnubroto Widarso[1].

Semua usaha yang dirintis mengalami kebuntuan, kenyataan hidup memaksa saya untuk menjadi seorang pedagang kecil di pasar tradisional Wonosari; hal itu terpaksa dipilih akibat kegagalan untuk kuliah, kegagalan merantau di Bogor atau Jakarta, sampai kegagalan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.

Ini menunjukkan antara cita-cita dan realitas terdapat jarak yang teramat jauh, bahkan seringkali bertolak belakang. Banyak orang yang tidak menjadi seperti yang mereka cita-citakan ketika berhadapan dengan kenyataan hidup, maka cita-cita pada kecil dan remaja bagaikan fatamorgana, sedang cita-cita pada waktu dewasa adalah keterpaksaan hidup yang harus dijalani. Menghadapi kenyataan yang menggetirkan ini apa yang harus dilakukan?

Kebutuhan pragmatis yang disederhanakan menjadi kebutuhan perut, sandang, dan tempat tinggal memaksa kita menjalani kehidupan apa adanya. Sewaktu beranjak dewasa, ini akan menjadi kesadaran yang utuh, sehingga melakukan aktivitas apapun asal mendapatkan uang yang halal, adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Apakah perlu mengelak dari hal ini? Tentu tidak perlu. Menghadapi kehidupan bukan tentang bagaimana caranya hidup bahagia, tapi bagaimana caranya bisa menjalani kehidupan. Jadi pemenuhan kebutuhan pragmatis adalah sesuatu yang harus dijalani, senang atau tidak. Bagaimana dengan cita-cita mulia kita?

Setelah kebutuhan pragmatis terpenuhi, barulah kita berupaya untuk mewujudkan “real dream” yang diinginkan. Artinya dari berbagai cita-cita yang pernah muncul dalam benak kita, perlu dimunculkan satu cita-cita yang benar-benar disebut real dream, yang berusaha kita wujudkan seiring terpenuhinya kebutuhan pragmatis. Real dream inilah yang mulai kita rintis dari awal, sumber dananya berasal dari kelebihan materi dari pemenuhan kebutuhan pragmatis.

Berhubung real dream saya misalnya ingin menjadi seorang penulis yang bermanfaat, maka jalan menuju pintunya dikuak perlahan-lahan. Langkah awal adalah identifikasi bidang penulisan yang pernah digeluti pada waktu anak-anak, remaja atau menjelang dewasa. Berhubung dulu menggeluti penulisan cerpen, kolom, tulisan ilmiah, dan artikel, maka perlu memfokuskan diri pada salah satu bidang saja. Saya memutusakan untuk menekuni penulisan puisi, cerpen, novel dan kolom setelah berkonsultasi dengan orang-orang yang dianggap memahami diri kita pada masa lalu. Langkah kedua adalah membeli buku yang berkaitan dengan cerpen atau novel. Kegiatan menulis identik dengan kegiatan membaca, apa yang ditulis seseorang berhubungan dengan tulisan-tulisan yang ada sebelumnya. Antara membaca dan menulis seperti dua sisi mata uang yang menyatu. Langkah ketiga; menulis. Seseorang tidak akan menjadi penulis kalau tidak menulis seperti yang dikatakan Carmel Bird[2]. Dalam menulis melewati berbagai tahapan; menulis tangan, menulis di atas mesin ketik atau komputer, melakukan editorial, dan mengirimkan tulisan lewat jalur internet atau lewat pos, mengikuti berbagai perlombaan penulisan novel dan cerpen. Bagaimana kalau masih mengalami kegagalan?

Kegagalan mengaktualisasikan tulisan-tulisan yang dibuat belum tentu dikarenakan kualitas tulisan buruk, melainkan ada faktor-faktor lain. Faktor-faktor tersebut ialah minimnya penghargaan terhadap penulis di Indonesia, penerbit lebih memilih penulis terkenal daripada tulisan yang berkualitas dari penulis tak terkenal, mudahnya pembajakan karya tulis, dan menjadi penulis adalah pengabdian hidup yang tidak mesti dibayar dengan materi. Berhubung faktor-faktor eksternal sangat kuat terhadap keberhasilan dunia tulis menulis, maka jika kita sudah membulatkan tekad untuk menjadi penulis, teruslah menulis apa yang kita inginkan tanpa mempedulikan akan diterbitkan atau tidak, dan tidak usah mempedulikan penilaian orang, sebuah penilaian bersifat subjektif, relatif dan malah bisa membunuh kreativitas jika terlalu dijadikan patokan.

Demikian juga dalam mewujudkan cita-cita, banyak faktor yang menyebabkan seseorang mengalami kegagalan; latar belakang keluarga yang tidak mampu, pengertian orang tua, sikap malas, kesempatan, koneksi, sikap cepat puas diri, gila pujian, dan terlalu hanyut dalam angan-angan. Di antara berbagai faktor di atas ada faktor yang tidak kalah pentingnya yakni bertawakkal pada Allah. Manusia dapat berusaha jungkir balik, tapi mengenai hasil dari usaha hanya Allahlah yang tahu, meski manusia dapat memprediksinya lewat tanda-tanda yang ada –walau lebih banyak mengalami kekeliruan-Di sinilah urgensi pemahaman pada tawakkal.

Tawakkal pada Allah bukan diwujudkan dengan sikap pasrah tanpa daya upaya, tapi sikap tawakkal yang diwujudkan dengan memperkuat ibadah spritual. Sebagai seorang muslim diajarkan untuk membaca Al-Qur’an dan shalat Dhuha agar penghasilan mengalami peningkatan, berdzikir pada Allah secara ikhlas agar do’a dikabulkan, dan shalat tahajjdud di tengah malam. Inlah makna tawakkal yang hakiki. Jika masih mengalami kegagalan, kita perlu menengok nasihat KH. Moh. Idris, mungkin saja kita berdosa pada orang yang pernah berjasa pada kita, dan kita tidak pernah berterima kasih. Maka memohon maaf lewat silaturrahim yang tulus pada mereka adalah sebuah keharusan.

Saya masih ingat saat mondok dulu adalah orang yang mendewakan pikiran diatas segala-galanya, mungkin ini pengaruh dari membaca buku-buku filsafat dalam usia yang terlalu dini yakni 17 tahun, masalah tawakkal, doa, bahkan ibadah spritual diremehkan. Ke mesjid hanya seminggu sekali untuk menunaikan shalat Jum’at saja, tidak pernah ikut shalat jama’ah semenjak menjadi ustadz, selesai shalat langsung pergi tidak ingat berdzikir, bahkan terkadang melalaikan shalat wajib lima waktu. Sehingga kegagalan yang dialami dalam mewujudkan cita-cita menjadi penulis adalah wajar, mengingat sikap saya yang terlalu mendewakan pikiran. Kita bisa mengambil hikmah dari realitas ini; pikiran manusia tidak dapat diagung-agungkan sebagai sesuatu yang memastikan segala hal yang ada di dunia, adakalanya pikiran tak mampu menjangkaunya. Ini bukan berarti pikiran tidaklah penting, pikiran tetap penting tapi bukan segalanya.

Mengenai keterbatasan akal, pikiran atau nalar manusia juga dipertegas oleh Donald B Calne yang menyatakan:

“….. Janggalnya, salah satu sumbangan terbesar nalar boleh jadi justru penegasan batas-batas kemampuannya sendiri, sehingga manusia dapat menunaikan tanggung jawabnya yang lebih besar ….”[3]

Untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan usaha keras harus tetap dilakukan, pikiran dioptimalkan sedemikian rupa dengan batas-batas tertentu, memanfaatkan sahabat yang sukses, imajinasi dieksplorasi, dan bertawakkal kepada Allah yang diwujudkan dengan bebrapa usaha seperti yang disebutkan di atas.

Konsep tawakkal perlu dipahami dan dijalankan, karena sebagai manusia kita memiliki keterbatasan-keterbatasan. Keterbatasan ini diatasi dengan tawakkal. Bila hanya mengandalkan tenaga fisik atau pikiran semata tidak akan mencapai apa yang dicita-citakan. Bukti yang dialami saya adalah kenyataan yang sulit dihilangkan.

Meski konsep tawakkal akan diterapakan dalam kehidupan sehari-hari, tidak boleh menjadikannya sebagai langkah awal sebelum optimalisasi pikiran dan usaha. Jadi tawakkal adalaah langkah lanjutan setelah kerja keras dilakukan, imajinasi dimaksimalkan dan pikiran dimanfaatkan sebaik mungkin. Kita adalah manusia biasa yang harus menggapai apa yang diinginkan lewat proses usaha. Jadi tidak boleh kita hanya bertawakkal terus menerus siang malam, dengan melupakan usaha. Ini sama saja menafikan kehidupan dunia yang sedang kita jalani. Cita-cita tidak mungkin tercapai hanya dengan tawakkal saja, kecuali kita ingin menjadi seorang sufi yang meninggalkan urusan dunia.

Antara upaya sungguh-sungguh dengan tawakkal berjalan seirama menuju sesuatu yang diimpikan. Dalam hidup yang penuh dinamika ini terkadang kita membutuhkan keberuntungan. Itulah hebatnya dunia yang berbentuk bulat, semua kemungkinan bisa terjadi dalam kehidupan, tanpa seorangpun bisa mencegahnya.

Kegagalan menerbitkan tulisan, justru membuat saya semakin kreatif, yakni membuat tulisan di bidang perdagangan yang ada di hadapan pembaca ini –bidang yang saya geluti mulai akhir tahun 1998 sampai 2006- agar para pedagang, wiraswasta dan pengusaha Muslim bisa mengambil manfaat dari tulisan ini, sehingga mereka lebih berhasil di bidang yang ditekuni. Dalam bidang perdagangan, alhamdulillah berhasil mendapatkan target-target materi yang diinginkan, memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dan membeli hal-hal yang diinginkan lainnya agar berhasil menghasilkan karya tulis yang bermanfaat.

 

Memahami Ketentuan Rizki Allah

Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Q.S At-Thalaaq:3)

Suatu hari seorang pedagang menawarkan barangnya “Mas, mari! Mau beli apa? Barang di sini lengkap lengkap,“ dengan acuh pembeli berlalu tapi malah menuju kepada pedagang di sebelahnya. Mengapa bisa begitu?

Bila diperhatikan banyak sampai hal itu terjadi, di antaranya; etalase pedagang sebelah lebih bagus, rapi, bersih dan enak dipandang di samping mungkin pelayanan lebih baik tapi ada alasan lain yang tidak kalah pentingnya yakni rizki pedagang sebelah ditentukan Allah lebih baik darinya.

Memang untuk tiga hal, jodoh, rizki dan maut merupakan hal-hal yang ditentukan Allah, artinya Allah sengaja menetapkan rizki manusia, misal si Fulan rizkinya secangkir, atau si Fulin rizkinya setimba besar, sedang si Fulun rizkinya semangkok, namun tahukah manusia kadar rizkinya masing-masing? Tentu saja tidak. Setiap orang tidak mengetahui kadar rizkinya seberapa. Mengapa Allah memberitahukan pada manusia bahwa rizki mereka telah ditentukanNYA?

Ini merupakan rahasia Allah yang harus dipahami dengnan benar. Diberi tahukannya bahwa katentuan rizki ditentukan Allah, sementara setiap orang tidak mengetahui kadar rizkinya, menunjukkan dua hal yang harus dipahami setiap orang, kedua hal akan dijelaskan dalam paragraf di bawah ini.

Pertama, Allah menginginkan agar manusia berusaha bersungguh-sungguh, berikhtiar dengan optimal, sehingga memperoleh haknya yakni berupa rizki. Jadi tidak diberikan percuma oleh Allah, tapi lewat suatu proses dimana usaha manusia memegang peranan paling penting. Kepercayaan bahwa rizki Allah hanya sekian, sehingga kerja keras tidak diperlukan adalah sesuatu yang keliru.

Sikap pasrah pada ketentuan rizki Allah harus dihindari. Manusia memiliki kemampuan untuk berusaha, kemampuan inilah yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Tidak usah terfokus pada hasil, hasil memang perlu dievaluasi, tapi bukan berarti hasil adalah segalanya dari usaha yang ditempuh. Menghadapi hasil yang kurang optimal, kita tetap mampu bersikap bijaksana, tidak lantas menyalahkan sana sini, apalagi mencari kambing hitam.

Kedua, ditentukannya rizki oleh Allah seperti dipahami umat beragama, menunjukkan bahwa usaha manusia ada batasnya. Artinya manusia meskipun diciptakan sebagai makhluk sempurna punya titik lemah. Kelemahan manusiawi harus dimengerti agar manusia bekerja tidak hanya menggunakan otot dan pikiran, tapi juga hati. Hati ini harus dibersihkan manusia dari anasir-anasir yang mengotorinya agar suaranya benar-benar murni dan bisa menuntun menuju ke jalan yang benar lewat memperbanyak dzikir pada Allah.

Jadi bisa disimpulkan bahwa dalam mencari rizki Allah, manusia dituntut mengoptimalkan usaha dan mengembangkannya dengan berdzikir yang merupakan sarana menjernihkan hati nurani, sehingga tidak harus bekerja mati-matian atau workhalik, mempunyai penyakit kerja melampaui batas kemampuan diri.

Antara kerja optimal dan doa dikombinasikan secara seimbang agar penggunaan tenaga manusia disesuaikan kemampuannya. Bila tubuh bisa bekerja 8 jam sehari, maka gunakan delapan jam tersebut untuk bekerja seoptimal mungkin, tidak usah memaksakan diri bekerja melebihi itu, sebab akan menimbulkan efek negatif pada fisik, psikis dan kesehatan. Sebaliknya berusahalah untuk tidak kurang dari delapan jam perhari, kalau berkurang berarti pekerjaan yang dilakukan kurang optimal, yang akan berimbas pada hasik yang diperoleh.

Ini mengindikasikan bahwa ketentuan rizki Allah disesuaikan dengan upaya manusia dalam rangka mengoptimalkan tenaga, waktu, pikiran dan hati. Bila semua itu dilakukan secara optimal, insya Allah akan memperoleh hasil yang optimal.

 

Ketentuan Rizki Allah Bisa dirubah

“Kerja pontang panting yang diperoleh hanya segitu,” celetuk Ceking.

“Mungkin usahamu ada yang kurang,” sahut Gendut.

“Kurang bagaimana? Aku sudah mengeluarkan segenap kemampuan yang dimiliki, tapi hasil yang diperoleh tidak memuaskan.”

“Mungkin rizkimu ditaqdirkan hanya sekian, tidak lebih dan tidak kurang.”

“Dari mana kamu tahu bahwa kadar rizkiku hanya sedikit?”

“Buktinya kamu bekerja pontang panting segenap tenaga hanya memperoleh hasil yang sedikit. Berarti ungkapan yang mengatakan bahwa kalau kadar rizki seseorang hanya segelas, dia akan mendapatkan segelas, tidak mungkin mendapatkan dua gelas atau tiga gelas.”

“Kalau begitu, apa gunanya bekerja keras. Lebih baik bekerja santai saja, bukankah hasil yang kita peroleh sama. Bekerja keras menghasilkan sedikit, tidak bekerja keras juga menghasilkan sedikit. Apa bedanya?”

“Entahlah!”

Berbekal keyakinan seperti ada dalam dialog di atas, manusia lantas bekerja “apa adanya” tanpa berupaya untuk meningkatkan apa yang sudah diperoleh. Kalau bekerja sebagai tukang becak, buruh bangunan, buruh tani, dan penjual sayuran, hasil yang diperoleh digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup pada hari itu, tidak ada uang lebih untuk disimpan. Keesokan harinya dia akan mencari lagi. Bekerja sekedar upaya mempertahankan hidup. Dari sinilah mereka menarik kesimpulan bahwa rizki mereka yang ditentukan Allah hanya demikian adanya. Benarkah demikian? Apakah Allah menentukan rizki manusia agar mereka bekerja apa adanya?

Pekerjaan butuh proses, orang yang bekerja keras seperti yang disebutkan di atas perlu intropeksi diri ditinjau dari usaha fisik, mereka telah bekerja secara optimal, bahkan mungkin usaha yang mereka lakukan lebih gigih dari pada bos, pengusaha, juragan, dan tuan tanah. Tapi pada saat yang sama mereka melupakan bahwa usaha manusia untuk mendapatkan “jatah rizkinya yang ditentukan Allah”, bukan hanya usaha fisik, tapi masih ada tiga usaha yang belum mereka laksanakan yakni, mengoptimalkan pikiran, doa/zdikir, dan imajinasi. Mungkin timbul pertanyaan sederhana, bukankah pekerjaan di atas tidak membutuhkan pikiran dan imajinasi?

Pekerjaan apapun yang dilakasanakan manusia, pasti butuh perhitungan yang cermat, perencanaan, kalkulasi, agar bisa mencukupi kebutuhan hidupnya. Meskipun berprofesi sebagai tukang becak, ojek, buruh atau yang sejenisnya. Akankah sudah mereka pikirkan untuk tidak hanya menjadi buruh atau kulinya, tapi bagaimana caranya supaya hasil yang diperoleh bisa disimpan untuk masa depan. Disinilah urgensi pemikiran penting dalam konteks agar manusia berusaha memanfaatkan pikirannnya dalam rangka meningkatkan usaha yang dimiliki.

Kita perlu berkaca pada laporan Scan yang menyatakan: “Pikiran yang berkembang baik, gairah belajar yang tinggi, dan kemampuan memadukan pengetahuan dengan kerja adalah kunci-kunci baru menuju masa depan.”[4] Ini semakin memperkuat pendapat saya bahwa supaya berhasil dalam bidang usaha yang ditekuni memeperlukan pengerahan pikiran yang optimal, senantiasa mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan usaha yang dijalani, dan memadukan semua dalam kerja nyata keseharian, merupakan salah upaya meraih sukses dalam usaha pada masa mendatang.

Perkembangan dari tukang ojek/becak ke pemilikan alat sendiri, lalu memiliki alat lebih dari satu, sehingga rizkinya bertambah butuh penghematan dalam anggaran rumah tangga. Bila penghasilannya setiap hari Rp. 5.000,-, maka berusahalah berbelanja Rp. 4.750,-, sedang Rp. 250,- disimpan untuk investasi masadepan.

Di samping upaya optimalisasi pikiran, juga perlu berdoa, Mengapa doa itu penting? Usaha fisik dan otot sudah cukup optimal, tapi kita juga percaya bahwa Allahlah yang menentukan rizki kita. Oleh karena itu untuk “ mempengaruhi “ keputusan Allah kita perlu “MerayuNya” agar permohonan kita dikabulkan. Nah cara merayu dengan dzikir dan do’a tersebut. Untuk membuktikan kesimpulan ini boleh kita perhatikan kehidupan orang-orang yang sukses di kalangan umat Islam, rata-rata ibadah mereka bagus; shalat lima waktu, dhuha dan tahajjud dijadikan kebiasaan, minimal sudah naik haji sebagai simbol penunaian rukun Islam secara sempurna.

Selama kenal dan berbincang-bincang dengan mereka rata-rata dalam berdzikir dan berdo’a dilakukan secara optimal, bahkan ada yang di rumahnya ditradisikan mengaji bersama setiap malam Jum’at manis dan mengkhatamkan Al-qur’an di langgar, paling tidak setiap bulan sekali.

Sementara itu masyarakat miskin atau orang yang berprofesi seperti disebut di atas, rata-rata kurang tekun berdzikir/beribadah dan berdoa, bahkan sebagian besar di antaranya sama sekali meninggalkan ibadah spritual seperti shalat, puasa dan zakat. Hal ini diakibatkan kepercayaan mereka keliru bahwa rizkinya cuman segitu, padahal Allah memberi kesempatan kepada manusia untuk merubah takaran rizkinya agar lebih banyak dengan cara optimalisasi usaha fisik, pikiran dan do’a. Inilah relevansi ayat di bawah ini, dengan kenyataan masyarakat. Mungkin realitas ini juga dialami masyarakat di seluruh Indonesia dalam upaya memperoleh penghasilan secara optimal.

Bagi para pedagang mereka harus memperhatikan hal ini, sebab pedagang yang menunggu pembeli hakekatnya bersifat pasif, dalam pengertian mereka menunggu bola bukan menjemput bola. Usaha lahiriah berusaha disinkronkan dengan usaha batiniah, asal sesuai dengan ajaran Islam, bukan berarti terjebak dalam permainan dukun. Kitalah yang menentukan nasib sendiri, perkara hasil akhir adalah urusan Allah yang tidak perlu dipersoalkan, paling penting kerja keras, mengoptimalkan pikiran, imajinasi dan doa senantiasa dilakukan, siapa tahu bisa memperbaiki hasil yang ada.

Mengenai kehendak Allah untuk merubah rizki seseorang sesuai dengan usaha yang dilakukan, kerja keras, optimalisasi pikiran, perasaan dan hati, disampaikan dalam firmanNYA : “yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri , dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S Al-Anfaal:53)

 

 

 

Rizki Allah Sangat Luas

Dalam suasana krisis multi dimensi, permasalahan pokok yang melanda bangsa Indonesia adalah semakin minimnya lapangan pekerjaan. Pengangguran bertambah pesat dari waktu ke waktu tanpa bisa dibendung, baik pengangguran intelektual, pengangguran karena kehilangan pekerjaan, pengangguran biasa, sampai pengangguran yang dialami masyarakat terpencil.

Ada beberapa sebab timbulnya pengangguran seperti situasi politik dan ekonomi yang tidak stabil, korupsi merajalela, mutu pendidikan yang rendah; menciptakan para sarjana yang tidak mampu memahami realitas, tidak kreatif, dan mudah menyerah, dominasi orang-orang tertentu dalam dunia usaha, rendahnya etos kerja masyarakat, dan pandangan sempit tentang pekerjaan yang harus dijalani.

Langkah awal untuk mengatasi berbagai permasalahan ini adalah perlunya memiliki pemahaman yang utuh bahwa lapangan pekerjaan sebenarnya sangat banyak, beraneka ragam di berbagai tempat di segala penjuru Indonesia. Maksudnya adalah masyarakat Indonesia ketika gagal di suatu tempat bisa berupaya ditempat yang lain, atau dalam kata lain dia melakukan hijrah. Tidak boleh hanya terfokus pada satu tempat atau satu jenis pekerjaan saja. Ini untuk membuktikan bahwa rizki Allah memang benar-benar luas.

Hijrah yang dimaksud yakni berupaya pindah dari suatu tempat yang tidak produktif ke tempat yang produktif agar bisa mendapatkan pekerjaan, tak peduli jenis pekerjaan yang akan ditekuni asal halal. Manusia yang dikarunia berbagai kelebihan harus mampu menghasilkan kreativitas; mencari peluang, memanfaatkan sebaik mungkin, dan memanfaatkan kelebihan diri.

Sebagai ilustrasi para pengangguran intelektual tidak mesti memfokuskan diri untuk mendapatkan pekerjaan di kota besar atau mendapatkan pekerjaan di perusahaan. Mereka bisa memanfaatkan pengetahuan yang dimiliki untuk membangun atau bekerja di desanya. Seorang sarjana pertanian tidak malu untuk bertani, seorang sarjana manajemen tidak malu untuk berdagang, seorang arsitektur tidak malu menjadi tukang bangunan, seorang ahli mesin tidak malu membuka usaha bengkel, seorang ahli listrik tidak malu menjadi tukang listrik, seorang ahli elektronik tidak malu membuka usaha perbaikan elektro.

Langkah kedua adalah memiliki presepsi baru tentang pekerjaan. Artinya kita tidak lagi berpikiran untuk mencari pekerjaan, karena pekerjaan mencari bersifat pasif dan menunggu adanya lowongan pekerjaan, sehingga ketika krisis melanda tanpa kunjung akhir, para pengangguran semakin menumpuk di negeri ini. Kita dituntut memiliki persepsi baru bahwa kitalah yang harus menciptakan lapangan pekerjaan baru di lingkungan masing-masing, baik yang ada di kota maupun yang ada di desa. Dalam menciptakan lapangan pekerjaan disesuaikan dengan kemampuan yang kita miliki, sumber daya yang ada, modal dan keadaan setempat.

Menciptakan lapangan pekerjaan pasti melewati jalan yang berliku-liku, terjal, tantangan, kesulitan yang tidak ringan untuk dihadapi. Sebagai seorang muslim yang kuat kita harus mampu menghadapi semua itu dan menjadikannya sebagai motivasi untuk bekerja secara optimal, terutama tantangan dari dalam diri berupa sikap gengsi dan malas, tantangan dari luar yang berupa ejekan, dan minimnya hasil yang diperoleh. Percayalah bahwa semua akan menjadi mudah setelah kita lalui dalam kurun waktu tertentu.

Ketiga; menekuni pekerjaan secara sungguh-sungguh, melakukan evaluasi dalam kurun waktu tertentu dan menyesuaikan pengeluaran dengan pendapatan. Pekerjaan yanag ditekuni pasti akan mengalami peningkatan tidak mungkin statis apalagi berkurang. Cuman kadang-kadang kita kurang ulet dalam bekerja sehingga hasil yang diperoleh kurang maksimal.

Untuk menekuni pekerjaan perlu diciptakan kecintaan terhadapnya. Mencintai sebuah pekerjaan membutuhkan bermacam-macam trik, cara, variasi agar kebosanan bisa dihindari. Kalau bisa, pekerjaan dijadikan sebagai hobi yang disenangi, tidak ada hobi yang tidak disenangi. Di antara cara-cara yang ditempuh adalah memacu suasana yang kompetitif, melakukan yang terbaik pada pekerjaan, mencari hiburan saat bekerja (seperti membaca buku cerita, kolom, puisi saat dagangannya sepi), dan menikmati pekerjaan.

Pada akhirnya kita harus memiliki komitmen yang sama bahwa manusia merupakan makhluk yang sempurna dibanding makhluk lainnya. Kita tidak seharusnya menyerah pada keadaan. Dunia ini luas, rezki Allah juga luas, maka kita harus memanfaatkan hal ini secara optimal.

Keterangan di atas sesuai firman Allah: Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan , Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (Q.S Al-Israa’:70)

 

Berdoa Hanya Pada Allah

“Hei, kau ingin daganganmu laris?” ujar Ceking.

“Siapa yang tidak ingin dagangan laris?” Gendut balik bertanya.

“Aku punya seorang dukun ampuh di dekat alas Purwo, dukun tersebut telah mampu membuat banyak pedagang sukses. Bagaimana jika kita ke sana?” usul Ceking.

“Aku setuju!” balas Gendut. Mereka memutuskan untuk pergi ke alas Purwo menemui sang dukun. Sesampai di sana, wajah sang dukun nampak angker, hitam dan tidak terawat, mereka agak gugup menghadapinya, sang dukun tersenyum ada “konsumen” datang.

“Apa permintaan kalian?” tanya dukun setelah ngobrol beberapa lama.

“Saya minta agar dagangan laris, Mbah!” ujar Gendut.

“Saya juga, Mbah!” timpal Ceking.

“Hoooh hanya itu?” sambil manggut-manggut kepalanya, tangan kanan mengusap jenggot yang lebat. “Itu gambang!” Sang dukun lantas membacakan mantra yang aneh-aneh sambil memegang kemenyan dan batu. Setelah selesai. dia duduk dengan tenang kembali. “Kamu kemari Gendut!”

“Iya, Mbah!” Gendut mendekat.

“Bakar kemenyan di tokonya saat malam Jum’at manis, dan taruh batu ini di pojok tokomu, daganganmu akan menjadi laris manis.

“Baik, Mbah!” sahut Gendut. Ceking juga dipanggil, dia mendapat kemenyan dan batu seperti Gendut, hanya batunya disuruh ditanam dalam tanah.

“Ini, Mbah sebagai ucapan terima kasih dari kami,” Gendut menyerahkan uang Rp. 50.000,- demikian juga Ceking, Mbah bertambah senang dengan konsumen barunya yang dianggap tajir.

Mereka mempraktekkan apa yang diajarkan dukunnya, pada hari Jum’at dan Sabtu pengaruhnya sama tidak jauh berbeda, hanya pada hari Minggu dagangan mereka menjadi ramai, sebab hari pasaran dan masyarakat baru mendapat pembagian BLT. Keramaian hari Minggu membuat mereka yakin dengan petuah sang dukun, padahal keramaian hari Minggu disebabkan dua faktor berbeda yakni; pembagian BLT satu hari sebelumnya, dan karena memang pasarannya hari Minggu.

Kepercayaan pada dukun di kalangan pedagang, pengusaha, dan masyarakat secara keseluruhan telah menjadi budaya di Indonesia, padahal sang dukun sebenarnya tak mampu memperkaya seseorang atau membuat dagangan seseorang menjadi laris, sebab jika mereka mampu, mengapa tidak melakukannya sendiri, sehingga mereka menjadi kaya raya. Apalagi bagi dukun yang jelas-jelas tidak meminta pada Allah, justru akan membawa pada kesyirikan yang dosanya tidak diampuni Allah. Umat Islam harus menyadari hal ini.

Jika mereka ingin memohon sesuatu memintalah pada Allah, sesuai firmannya: Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan. (Q.S Al-Ankabuut:17) Apapun selain Allah tidak dapat memberikan rizki pada manusia yang diwujudkan dalam larisnya hasil perdagangan seperti dalam kasus di atas. Untuk apa meminta pada dukun, sedang Allah yang memberikan rizki pada mereka justru dijauhi, sehingga bukan keberuntungan yang diperoleh melainkan buntung. Dalam meminta rizki, mintalah secara langsung pada Allah lewat pelaksanaan shalat lima waktu yang khusuk, shalat sunnah, dzikir dan doa, insya Allah akan dikabulkan.

Dalam ayat berbeda Allah berfirman: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Q.S Al-Baqoroh:186) Ini merupakan maklumat Allah pada hamba-hambaNYA, Dia dekat dengan hamba-hambaNYA, hanya saja mereka yang tidak mau mendekat padaNYA, sehingga rizki dijauhkan Allah. Umat Islam yang senantiasa mendekatkan diri pada Allah, akan merasakan bahwa Allah selalu bersamanya dalam berbagai keadaan; gembira atau sedih, senang atau sengsara, menangis atau tertawa, terhimpit atau lapang dada, krisis atau normal, dan tenang atau stres, sehinga saat memohon sesuatu akan dikabulkan Allah.

Agar doa dikabulkan Allah, menurut Hujjatul Islam Imam Ghozali[5], ada beberapa adab dalam berdoa yakni; berdoa secara langsung pada Allah, merendahkan diri dan menundukkan hati tatkala berdoa, mengulang-ulang doa itu tiga kali, merasa yakin doa dikabulkan Allah, berdoa dengan menyebut asma Allah dan memujiNYA, merendahkan suara, berdoa menghadap kiblat dengan kedua tangan diangkat dan telapak tangan terbuka, berdoa pada waktu yang mustajabah buat berdoa; hari arafah, bulan suci ramadhan saat puasa sunnah, hari Jum’at, selesai shalat lima waktu dan tengah malam. Dengan etika yang baik dalam berdoa, insya Allah akan dikabulkan.

Terkabulnya doa dalam berbagai bentuk; doa langsung dikabulkan Allah dalam bentuk nyata, misalnya shalat istikharah untuk meminta pertimbangan akan jodoh seseorang, pada hari kelima shalat istikharah ditunjukkan dengan jelas lewat pertanda air yang mengalir jernih yang menandakan bahwa jodohnya tepat, doa yang pemberiannya ditunda, misalnya seseorang meminta agar perdagangan laris terjual, pada hari pertama sampai ketujuh tidak ada tanda-tanda dikabulkan, namun pada hari kedelapan saat seseorang menagih hutang dalam jumlah besar, justru dagangan sangat laris sekali lebih laris dibanding yang lainnya, sehingga hutang yang agak besar bisa dilunasi, ini berarti doanya dikabulkan pada saat orang tersebut benar-benar sangat membutuhkan, doa yang ditunda sampai beberapa tahun, seseorang berdoa agar tulisan-tulisannya yang dibuat bisa dimuat di media daerah atau nasional, orang tersebut bekerja keras menghasilkan tulisan resensi buku atau cerpen yang terbaik, mengirim beberapa kali gagal, baru tiga tahun kemudian sebuah resensinya dimuat di koran daerah, doa yang ditunda setelah ajal menjelang, seseorang mengabdikan hidupnya untuk menjadi seorang penulis, dia menghasilkan karya yang bermacam-macam seperti cerpen, puisi, novel, dan kolom, namun semasa hidup penulis Muslim yang taat tersebut, tak satupun tulisannya diterbitkan, namun ketika meninggal kumpulan cerpennya yang pertama terbit dianggap memberi nuansa baru dalam penulisan cerpen di Indonesia, sehingga banyak kritikus sastra yang menelaah cerpen-cerpennya, orang tersebut terkenal setelah meninggal, tiada beberapa lama semua tulisannya diterbitkan satu persatu, sehingga sang penulis dianggap pelopor sastra baru Indonesia. Beberapa kasus di atas menunjukkan bahwa Allah yang maha tahu untuk kebaikan yang mana dikabulkannya doa kita, apa demi kebaikan kita di masa kini atau masa yang akan datang, sehingga kita tidak harus uring-uringan, gusar, marah, dan kecewa karena merasa doa tidak dikabulkan, padahal doa dikabulkan dalam bentuk yang berbeda.

Bersyukur Pada Allah, Rizki Akan Bertambah

Dalam ayat pertama di sub bab sebelumnya, ada kaitan antara doa yang dikabulkan Allah dengan upaya manusia untuk mensyukuri nikmat Allah. Setelah Allah mengabulkan doa seseorang, dia harus mensyukurinya dengan berbagai cara yang diajarkan Islam. Dengan mensyukuri nikmat-nikmat Allah, maka rizki akan ditambah olehNYA. Allah berfirman: Dan, tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah kepadamu, dan jika kamu mengingkari , maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Q.S Ibrohim:7)

Alangkah perhatiannya Allah pada umat manusia, doa-doa mereka sudah dikabulkanNYA, Dia masih berusaha menambah rizki manusia hanya karena mereka bersyukur atas apa yang diperoleh. Saya tidak habis pikir dengan orang-orang yang mengagungkan akalnya menyatakan bahwa Allah tak punya kuasa atas manusia, manusia berkuasa atas dirinya sendiri, padahal ketika dirinya berdoa, doanya dikabulkan Allah, ketika bersyukur rizkinya ditambah Allah, bagaimana mungkin dia lantas mengingkarinya?

Umat manusia telah lama mengagungkan akal, memanfaatkannya untuk semua yang ada demi kepentingan manusia; kemajuan teknologi, sains, ilmu, komputer, dan filsafat telah membawa peradaban manusia pada jurang kehancuran. Kepesatan kemajuan tidak disertai dengan kemampuan manusia beradabtasi, sehingga kemajuan menelan manusia. Penemuan sains, membuat eksploitasi terhadap alam berlangsung secara membabi buta, sehingga kerusakan-kerusakan alam tak bisa dicegah, ketika sadarpun, pengrusakan terhadap tatanan ekologi tetap berlangsung sehingga berbagai musibah dunia seperti gempa bumi, tsunami, pemanasan global, banjir, tanah longsor, kekeringan, kemarau panjang, menjadi pemandangan umum yang biasa di masa mendatang. Semua itu terjadi karena manusia terlalu mendewakan akal, mereka tak sadar bahwa akal manusia terbatas, dan mereka masih belum mengoptimalkan potensi yang lain yakni hati nurani.

Hati nurani membimbing manusia untuk mengenal Allah, mendekat kepadaNYA, memohon padaNYA, dan memahami bahwa Allah senantiasa menolong hamba-hambaNYA yang bertakwa. Umat Islam yang menjauh dari Allah dan ajaran-ajaran Islam, dikarenakan hati nuraninya dibiarkan mati di dalam jiwanya, sedang umat Islam yang menyeimbangkan antara akal dan hati nurani akan dibawa pada kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Untuk membuktikan bahwa dengan dekat pada Allah, berdoa padanya lewat berbagai sarana, dan bersyukur atas nikmatnya akan membawa manusia memperoleh rizki yang berlimpah bisa dibuktikan di dunia perdagangan. Berikut adalah beberapa bukti kongkritnya.

Sewaktu saya dalam keadan terjepit untuk membayar hutang kios toko sebesar 10 juta rupiah, saya sangat dekat pada Allah dengan rajin shalat lima waktu, shalat tahajjud di malam hari, mengaji waqi’ah habis shalat Magrib, shalat Dhuha saat matahari telah terbit. Secara istiqomah berusaha saya lakukan setiap hari. Dalam setahun setengah saya mampu melunasi hutang tersebut, padahal menurut kalkulasi bisnis saya, itu baru terbayar dalam 2 tahun kemudian mengingat penghasilan harian saya, catatan pembukuan yang dilakukan setiap bulan, dan hal-hal lainnya, berarti ada percepatan 6 bulan yang terjadi karena dekat pada Allah dan memohon padanya. Sedang bentuk syukur yang saya lakukan adalah dengan bersujud syukur setiap kali mendapat tambahan rizki dan berusaha bersedekah pada orang-orang yang membutuhkan. Sebaliknya pada waktu saya “agak” menjauh dari Allah dengan terkadang melalaikan shalat lima waktu, tidak shalat Tahajjud dan Dhuha, tidak membaca ayat suci Al-Qur’an, tidak bersyukur atas apa yang diperoleh, tidak melakukan pencatatan omset dagangan setiap bulan sekali, justru dagangan saya sepi dan omset perdagangan berkurang.

Bukti di atas boleh dianggap terlalu personal, saya telah melakukan wawancara dengan para pedagang yang sukses di pasar wonosari, paling tidak ada tiga pedagang yang saya wawancarai, kesimpulan mereka sama; mereka dekat pada Allah lewat cara-cara yang saya lakukan di atas, mensyukuri nikmat dengan berkurban sapi tiap hari raya kurban, bahkan salah seorang di antaranya mengangkat anak asuh sebagai bentuk syukur pada Allah. Hasilnya kekayaaan mereka semakin bertambah banyak.

Kedua bukti di atas, baik secara personal atau hasil wawancara dengan para pedagang lain yang sukses mengindikasikan bahwa para pedagang yang ingin sukses harus dekat dengan Allah lewat shalat lima waktu yang khusu’, shalat tahajjud malam hari, shalat Dhuha pagi hari, mengaji Al-Qur’an malam hari, dzikir setelah sholat seikhlasnya dan berdoa memohon demi kebaikan diri, keluarga, dan umat Islam secara keseluruhan. Setelah itu mensyukuri nikmat Allah dengan cara; bersedekah terhadap hamba-hambaNYA yang dalam kekurangan, menolong anak yatim piatu, membantu fakir miskin, para pengemis, anak-anak jalanan, anak-anak terlantar, janda-janda miskin, orang tua jompo dan mengulurkan tangan setiap ada orang yang benar-benar membutuhkan. Bersedekah tidak akan mengurangi harta, justru akan menambah kekayaan seseorang, hal ini akan dijelaskan dalam bab berikutnya.

 

Allah Maha Pemberi Rizki

Kehidupan menyimpan misteri, teka-teka, sesuatu tak terduga, kebetulan, dan warna yang beraneka ragam. Dalam semua itu, karunia yang diterima manusia dari Allah susah dihitung dengan teknologi paling canggih sekalipun, andai manusia mau menghitung satu persatu secara terperinci, mulai di dalam rahim sang ibu, lahir kedua, remaja, dewasa sampai tua. Bentuk nikmat yang sering lupa dikalkulasi manusia adalah nikmat rizki dari Allah.

Memang ada klaim menggelitik dari sebagian orang, bahwa untuk sukses berusaha atau berwiraswasta tak harus mengingat Allah atau berpegang teguh pada nilai-nilai Islam, sebab orang Barat, Jepang, China, Singapura dan Malaysia sukses sebagai pengusaha atau wiraswasta kelas dunia yang tidak sekedar berhasil di level dalam negeri, namun merambah pasar regional dan multi nasional, padahal sebagian besar di antaranya non Muslim.

Allah dalam memberi rizki pada manusia tidak melihat dari latar belakang agama, suku, ras, dan warna kulit, semua akan mendapat rizki sesuai usaha masing-masing, strategi yang diterapkan, pengelolaan modal yang baik, kreativitas diri, inovasi, kecerdasan emosi dan berbagai faktor lain yang menentukan kesuksesan usaha mereka. Mengapa orang-orang non Muslim lebih berhasil dibanding para pengusaha atau wiraswasta Muslim? Hal ini perlu dianalisa dari beberapa faktor tadi. Paling tidak ada beberapa sebab sehingga mereka lebih berhasil. Pertama; mereka memegang kendali modal lewat pasar saham, pasar uang dan perbankan, sehingga setiap inovasi, kreasi, hasil karya, bisa diwujudkan dengan membuat produk-produk yang berkualitas tinggi, kedua; jaringan pemasaran mereka telah merambah batas-batas negara, wilayah dan daerah, ketiga; mereka berhasil membentuk jaringan usaha yang kuat ke seluruh dunia, keempat; mereka menggunkan segala cara agar berhasil dalam usaha, kelima; dalam mengekspansi pasar di suatu negara atau daerah, disesuaikan dengan budaya setempat agar berhasil, seperti motto HSBC dalam iklannya, keenam; mereka mampu memanfaatkan, bahkan mengatur kebijakan di suatu negara agar tidak kontra produktif dengan barang-barang yang mereka jual, ketujuh; mereka tetap berpegang teguh pada budaya yang dimiliki supaya berhasil, seperti orang Jepang dengan budaya Jepang, orang China dengan budaya China, orang Yahudi dengan budayanya sendiri, kedelapan; mereka memiliki jiwa atau mentalitas wiraswasta sejati. Dengan semua itu mereka menjadi para pemain global yang berhasil di dunia.

Umat Islam yang ingin berhasil harus mengambil beberapa paradigma di atas yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam agar mencapai keberhasilan yang sama atau malah lebih. Mengapa harus berpegang teguh pada nilai-nilai Islam, sebab dengan berpegang teguh dengan nilai-nilai Islam, umat Islam di Indonesia khususnya dan di dunia pada umumnya, memiliki sandaran budaya yang kuat, suatu budaya yang terbukti pernah mampu memimpin dunia di masanya dengan nilai-nilai Islam yang dipegang teguh masyarakat. Sandaran budaya umat Islam adalah ajaran-ajaran dan nilai-nilai Islam yang prinsip, dengan membuka diri pada nilai-nilai baru yang lebih baik senyampang tidak merusak nilai-nilai lama.

Orang-orang Barat bisa dikatakan berhasil menguasai dan mengontrol dunia saat ini, namun kehidupan sosial mereka jauh lebih buruk dari penduduk primitif yang pernah ada di bumi. Mereka berhasil secara lahiriah, batiniah mereka kering kerontang. Mereka berhasil mengeksploitasi dunia, gagal membuat dunia menjadi lebih baik, bahkan mempertahankan ekosistem yang adapun mereka gagal. Bahkan keberhasilan mereka membimbing kehidupan manusia menjadi lebih buruk dengan perang dunia I dan II, Teluk, Afganistan, Irak, Palestina dan negara-negara incaran lainnnya seperti Iran dan Sudan yang kebetulan mayoritas penduduknya Muslim. Salah satu sebabnya mereka berhasil dengan meninggalkan prinsip-prinsip dan nilai-nilai agama yang dianut.

Umat Islam yang sedang berusaha bangkit dari keterpurukan berbagai sendi kehidupan, tidak boleh mengulang kesalahan yang sama, maka nilai-nilai Islam dalam berbagai aspek kehidupan harus senantiasa digali, sehingga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi pedagang menggali nilai-nilai Islam di bidang perdagangan, bagi petani menggali nilai-nilai Islam di bidang pertanian, bagi peternak menggali nilai-nilai Islam bidang peternakan, bagi nelayan menggali nilai-nilai Islam bidang perikanan, bagi pengusaha menggali nilai-nilai Islam dalam mengelola perusahaan, bagi pejabat atau pegawai menggali nilai-nilai Islam di bidang pemerintahan, bagi politikus menggali nilai-nilai Islam bidang politik, bagi pekerja atau buruh menggali nilai-nilai Islam di bidang ruang lingkupnya, dan bagi yang bergerak di sektor jasa menggali nilai-nilai Islam di bidang jasa. Dalam konteks inilah, buku Rahasia Sukses Pedagang Muslim ini bisa dimanfaatkan umat Islam sesuai bidang usahanya yakni perdagangan, wiraswastaan dan perusahaan pemasaran. Nilai-nilai tersebut tidak sekedar dipahami, melainkan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan ini semua, maka para pedagang, wiraswastawam, dan pengusaha Muslim sebenarnya telah berusaha merasapi, memahami, dan mengamalkan ayat Al-Qur’an; Hai manusia, ingatlah akan ni’mat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi ? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling? (Q.S Fathir:3) Dengan menggali nilai-nilai Islam, berusaha menerapkan dalam berbagai sendi kehidupan, berarti umat Islam telah mengingat nikmat Allah yang berupa rizki, berusaha mensyukuri nikmat tersebut, diri selalu mengingat Allah setiap waktu, dan tetap berpegang teguh pada ajaran-ajaran dan nilai Islam, tidak berusaha berpaling pada kerancuan paradigma barat, sebagian besar nilai-nilai Barat yang tak lebih dari sampah, tidak berpaling pada “tuhan-tuhan” dunia lainnya. Keberhasilan dunia usaha dalam Islam adalah keberhasilan ajaran-ajaran prinsip dalam Islam dan penerapan nilai-nilai Islam dalam berbagai sendi kehidupan.

 

Umat Islam Harus Berusaha Menjadi Kaya

Dalam kehidupan ada kebaikan dan ada kejahatan, sedikit orang yang melakukan kebaikan dan banyak orang yang berbuat jahat. Ada orang-orang yang terpaksa berbuat jahat, tapi lebih banyak lagi yang memang sengaja menjadi penjahat. Apalagi dalam keadaan krisis yang tak kunjung berakhir, semakin memungkinkan untuk memperbanyak penjahat, sebab lapangan pekerjaan sulit, pengangguran bertambah banyak, kemiskinan merajalela, kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan hidup menurun, daya beli juga menurun, sehingga berbagai sektor kehidupan semakin sulit saja.

Ini diperparah pandangan hidup bahwa ‘mencari yang haram saja susah, apalagi mencari yang halal,’ sehingga yang tertanam dalam pikiran dan perasaan adalah bagaimana caranya agar bisa tetap hidup, bagaimana caranya mendapatkan uang, dan bagaimana caranya mendapatkan penghasilan, tak peduli apakah cara-cara yang dilakukan dengan berbuat jahat, tak peduli bila menyakiti sesama umat Islam, dan tak peduli apapun akibatnya. Bahkan untuk melaksanakan semua itu, nyawa menjadi taruhannya, suatu tindakan yang di luar akal sehat, tapi ada dalam kenyataan. Biasanya dalam situasi krisis akal sehat tak lagi bermanfaat.

Seorang pemuda paruh baya bunuh diri, awalnya neneknya berkata bahwa dirinya kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, ketika sang pemuda berusaha untuk ikut mencari uang lewat berjualan koran, ternyata hasil yang diperoleh belum mencukupi, dia terpaksa bunuh diri agar terhindar dari masalah, meski akan menghadapi masalah yang lebih besar di akhirat nantinya. Seorang anak kecil bunuh diri karena orang tuanya berulang kali menunggak uang sekolah, dia merasa malu saat ditagih gurunya terus menerus di sekolah, sedang orang tuanya tidak mampu membayar. Beberapa ibu tega menjual anak-anaknya di rumah sakit bersalin pada sindikat penjualan anak agar bisa mendapatkan sejumlah uang, sehingga bisa menghidupi keluarganya. Beberapa cerita di atas bukan fiksi semata, melainkan beberapa fakta yang terlihat jelas di televisi tentang keadaan masyarakat kita yang semakin memprihatinkan.

Umat Islam dalam krisis multi dimensi banyak yang jatuh miskin, sebagian di antaranya tergoda untuk pindah agama karena diiming-imingi kesejahteraan. Menjual aqidah dengan perut atau pemenuhan kebutuhan pokok sama artinya dengan dikubur hidup-hidup, jasad yang hidup tinggal kerangka, sedang hati nurani dan pikirannya telah terkubur dalam-dalam. Kita tidak usah terlalu menyalahkan Kristenisasi, jika umat Islam sendiri tidak berbenah mulai detik ini juga.

Penyebab semua itu adalah kemiskinan, entah miskin karena latar belakang keluarganya atau keadaannya memang miskin, atau justru miskin karena sistem yang berlaku di lingkungannya membuat seseorang menjadi miskin. Ini berarti kemiskinan bila tidak dikelola dengan baik justru berbahaya bagi lingkungan sekitar, dan bisa jadi kemiskinan membuat seseorang kalap, buta hati, mati pikiran, dan mati rasa, sehingga menghalalkan segala cara agar bisa tetap hidup. Saat perut kenyang mudah terlelap tidur, namun jika perut lapar terus menerus dan tak mampu mengenyangkannya, maka semua potensi yang dimiliki menjadi hilang, yang tersisa adalah sikap nekad agar kenyang.

Melihat realitas di atas, umat Islam tidak boleh jatuh miskin, mereka harus berusaha menjadi orang kaya. Islam memang mengajarkan sikap pasrah, tapi pasrah bukan berarti diam tak berbuat apa-apa, pasrah dalam Islam berkaitan dengan hasil yang diperoleh dari usaha-usaha yang gigih, baru hasilnya dipasrahkan pada Allah. Islam mengajarkan hidup sederhana, meski demikian itu bukan hambatan menjadi orang yang kaya, hidup sederhana adalah gaya hidup yang dijalani, sedang menjadi kaya upaya yang dilakukan manusia agar menjalani kehidupan lebih baik. Islam mengajarkan untuk tawadhu’ atau rendah hati, memang umat Islam harus bersikap rendah hati bukan rendah diri, rendah hati dalam menyikapi kehidupan, sedang menjadi kaya adalah cara manusia mewarnai kehidupan, justru dalam kekayaan mereka diharapkan menjadi padi, semakin tumbuh besar justru semakin menunduk, sehingga banyak mendatangkan manfaat.

Agar umat Islam menjadi kaya, maka beberapa langkah harus diambil. Pertama; generasi muda harus meningkatkan daya juangnya dalam upaya hidup mandiri tidak tergantung orang tua, mereka harus berlatih semenjak muda untuk mampu memenuhi hidup sendiri, sehingga ketika dewasa mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa bantuan orang tuanya, kedua; umat Islam tidak boleh gengsi melakukan pekerjaan apapun asal halal, sebab gengsi adalah wabah penyakit yang lebih berbahaya dari flu burung, karena terlalu memilih-milih pekerjaan yang sesuai sehingga menjadi pengangguran, padahal pengangguran adalah sampah masyarakat, ketiga; dalam menekuni suatu pekerjaan harus ditekuni secara sungguh-sungguh, sabar, dan tawakkal pada Allah, pekerjaan yang dijalani dicintai sepenuh hati sehingga memperoleh hasil maksimal, keempat; berusaha untuk senantiasa belajar sambil bekerja, rahasia sukses di masa mendatang adalah tergantung kemampuan manusia untuk menggabungkan antara kerja keras dengan proses belajar, lewat pembelajaran manusia bisa memperbaiki diri, mencari solusi terbaik dari masalah yang dihadapi, meningkatkan kualitas kerja, dan menentukan yang terbaik baginya, kelima; menyeimbangkan antara penghasilan dan pengeluaran, pengeluaran tidak boleh lebih besar dari penghasilan, uang yang diperoleh harus diatur dengan baik, sebagian untuk investasi modal, sebagian untuk memenuhi kebutuhan hidup, dan sebagian disimpan untuk persiapan masa mendatang yang tak pasti, keenam; mengelola modal dan hutang piutang dengan baik dalam menjalankan usaha yang dikelola, ketujuh; dengan menjadi orang kaya, umat Islam bisa lebih peduli pada nasib saudara-saudara muslim yang hidup dalam kekurangan, mereka bisa membantu dalam bentuk modal usaha, hutang, atau memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kekayaan yang diperoleh umat Islam dari hasil usaha bisa dimanfaatkan demi kepentingan umat Islam yang lainnya, sehingga nasib mereka menjadi terangkat dan lebih baik di masa mendatang. Di sinilah maknanya, mengapa untuk menjadi kaya sangat dianjurkan Islam, sebab itu dapat memperkuat Islam. Kita masih ingat bagaimana Nabi Muhammad SAW berdagang di waktu muda, lalu beliau mengawini Khadijah yang telah berumur 40 tahun dengan kekayaan berlimpah, tapi berkat hal itu Islam masa awal di Mekkah bisa survife dan berkembang.

Ada sebuah pertanyaan menggelitik, mengapa kami tidak kaya-kaya setelah bekerja keras membanting tulang siang dan malam? Bekerja keras bukan satu-satunya jalan untuk menjadi kaya, melainkan salah satu jalan menjadi kaya. Banyak faktor lain yang menentukan seperti cara kerja apa sudah maksimal, strategi yang dihunakan apa sudah tepat, bagaimana menghadapi persaingan usaha yang semakin keras, apa saja yang dilakukan guna menghasilkan yang maksimal, apa sudah melakukan diferensisai usaha, apa sudah memberikan pelayanan terbaik pada pembeli atau konsumen, dan sudahkah bertawakkal pada Allah dalam pengertian yang benar. Seandainya semua faktor yang dilakukan sudah benar namun belum kaya juga, berarti nasib kita memang demikian, jalani hidup apa adanya dengan menerima apa yang diperoleh, paling tidak kita sudah mampu memenuhi kebutuhan hidup sendiri tanpa menyusahkan orang lain.

Dunia senantiasa berputar, orang yang kaya bisa jatuh miskin, yang miskin bisa kaya, yang miskin bisa hidup berkecukupan, dan yang kaya bisa jatuh sengsara. Berapa banyak keluarga yang lantas jatuh miskin karena tidak mampu mengelola kekayaan dengan baik, dan berapa banyak yang awalnya miskin karena melakukan semua faktor untuk menjadi kaya, maka nasibnya berubah menjadi lebih baik. Karena dunia berputar, maka memiliki simpanan di Bank atau di celengan yang aman, bisa membantu saat kita dalam keadaan terjepit atau bangkrut.

Umat Islam tetap dituntut untuk rendah hati, hidup sederhana, hidup apa adanya, mensyukuri apa yang diperoleh, sabar, tawakkal dan besar hati meski sudah berhasil menjadi kaya raya. Kekayaaan dalam Islam adalah amanah yang harus dibagi pada sesama manusia. Umat Islam yang hidup berkecukupan bisa berusaha lebih keras lagi agar menjadi kaya, sedang yang miskin berusaha untuk hidup berkecukupan. Proses hidup inilah yang akan membawa kebaikan pada seluruh umat Islam pada masa mendatang.

 

Keseimbangan Kehidupan Dunia dan Akhirat

Allah berfirman: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari duniawi dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S Al-Qoshas: 77)

Setiap pemeluk agama Islam berkeyakinan bahwa kehidupan dunia adalah sementara dan merupakan sarana untuk mewujudkan kehidupan akhirat yang kekal. Segala yang dilakukan di dunia merupakan upaya mencapai kehidupan yang lebih baik di akhirat yakni di surga; tempat segala kebahagiaan, kesenangan, kenikmatan, rahmat, dan kepuasan hakiki diperoleh manusia. Meski kehidupan dunia dianggap perhentian sementara untuk kehidupan akhirat, namun Islam justru berusaha menyeimbangkan antara kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat.

Ini menandakan bahwa manusia bisa saja mewujudkan impiannya untuk menikmati kesenangan dengan lawan jenis lewat pernikahan, menikmati olah raga batin lewat shalat lima waktu, mengistitarahatkan organ-organ tubuh manusia saat puasa sehingga lebih baik setelah berpuasa, membersihkan jiwa dengan shahadat, membersihkan hati dengan dzikir, dan mewujudkan keinginan dengan doa. Inilah beberapa hal yang membuktikan bahwa Islam menjaga keseimbangan kebutuhan manusia antara hidup di dunia dan akhirat.

Islam menawarkan beberapa sarana agar manusia meraih kebahagiaan, bukan kesenangan semu yang ditawarkan narkoba, seks bebas, diskotik, minuman keras, dan judi, melainkan kebahagiaan hidup di dunia. Dalam meraih kebahagiaan ada beberapa aturan main yang harus dijalankan yang secara garis besar menyangkut hubungan vertikal dengan Allah dan hubungan sesama manusia atau horizontal. Kedua bentuk hubungan hakekatnya sama, meski keduanya bermuara menuju ridha Allah. Aturan main diwujudkan dalam pelaksanaan rukun Islam, rukun iman dan ihsan.

Inti setiap ajaran dalam Islam hakikatnya demi kepentingan manusia. Sebagai bukti beriman pada Allah adalah sebentuk keyakinan dalam jiwa terdalam manusia bahwa tiada tuhan selain Allah, itu berarti selain Allah adalah hal-hal kecil seperti uang, materi, harta, kekuasaan, cinta, berbagai filosofi kehidupan; idealisme, modernisme, nihilisme, postmodernisme juga kecil, dibandingkan dengan Allah sang pencipta, pengatur dan Maha segala, sehingga dengan keyakinan ini manusia bisa melakukan yang terbaik dalam hidupnya tanpa perasaan takut pada apapun. Shalat lima waktu diatur sedemikian rupa agar manusia bisa menjalankan segala aktivitas sehari-hari, disela-sela kegiatan tersebut dilakukan shalat supaya manusia bisa berkomunikasi dengan Allah secara langsung tanpa perantara, sehingga tidak hanya fisiknya berfungsi saat bekerja, juga batinnya hidup dengan shalat. Ihsan yang diwujudkan dengan melakukan segala sesuatu seakan-akan melihat Allah, dan jika tak bisa melakukan, maka saat melakukan sesuatu, ingatlah bahwa kita selalu bersama Allah, dari ihsan ini manusia bisa bersikap hati-hati dalam melakukan sesuatu, arif dan bijaksana, memperhitungkan segala sesuatu sebelum bertindak, dan menimbulkan prilaku positif dalam hidupnya. Jadi inti segala ajaran Islam demi kepentingan manusia.

Manusia berusaha mencari penghasilan dengan berdagang apa saja asal halal, tanpa melihat besar kecilnya suatu usaha, lantas hasil usaha digunakan untuk memberikan nafkah pada keluarganya dan sebagian disedekahkan, maka hakikatnya mereka telah menjalankan ajaran Islam dan tindakannya dijadikan bagian dari ibadah pada Allah. Melihat hal ini, dalam mengelola perdagangan, umat Islam harus melakukan yang sebaik-baiknya agar berhasil menjalani usaha. Guna menjadi pedagang muslim yang sukses, bisa dibaca dalam bab II nantinya.

Sesuatu yang tak lazaim, bila sebagian gerakan Islam dengan mengatasnamakan modernisme, liberalisme dan postmodernisme, justru berusaha menjauhkan umat Islam dari ajaran-ajaran Islam yang dianutnya. Menjauh dari ajaran-ajaran Islam akan membuat umat Islam menjauh dari hidayah dan rahmat Allah, serta menjauh dari usaha membangkitkan kejayaan Islam. Sebab ajaran-ajaran Islam sengaja dibuat demi kepentingan umat manusia supaya menjalani kehidupan yang lebih baik di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Umat Islam dituntut memiliki kesadaran kolektif tentang hal ini, sehingga segala macam tantangan yang sulit, kompleks, kabur, tak jelas, dan membingungkan bisa diatasi dengan tetap berpijak pada Islam.

Di samping kesadaran kolektif, kesadaran personal jauh lebih penting, sebab menyangkut kesadaran orang per-orang. Dalam kehidupan yang mana peran Ulama’ mulai dikikis zaman karena terlalu asyik dengan urusan politik, mencari uang, memperebutkan harta, dan mencari kesenangan sendiri, maka kesadaran personal, khususnya generasi muda, harus lahir dari diri sendiri bukan orang lain.

Seseorang memeluk agama Islam karena orang tuanya juga Muslim, sehingga secara otomatis ikut menjadi Muslim. Islam keturunan model ini tak akan tahan dengan tantangan perubahan zaman yang kompleks, maka umat Islam berdasarkan keturunan ini harus memperdalam pengetahuan keislamannya, berlatih mentaati ajaran-ajaran Islam tanpa paksaan, menyatukan iman dalam jiwa dan menjadikan ihsan sebagai hasil tingkah laku keseharian. Ini tidak hanya berlaku bagi umat Islam berdasarkan keturunan, bahkan sampai alumni pesantren –baik salaf, modern atau postmodern- harus senantiasa meningkatkan kualitas keislaman, keimanan dan keihsanannya agar tidak sekedar menjadi pemeluk agama Islam yang taat, melainkan menjadi motivator perubahan zaman menuju yang lebih baik, mempelopori kebangkitan Islam di Indonesia, dan membidani kebangkitan Islam di dunia.

Proses belajar tidak berhenti setelah lulus pesantren, namun proses belajar dilakukan sepanjang hayat, sehingga setiap aspek kehidupan yang dijalani merupakan pembelajaran menuju yang lebih baik, bukan malah stagnan, vakum, jalan di tempat dan tak berbuat apa-apa. Tantangan yang dihadapi umat Islam semakin dasyat, mengerikan, membahayakan, kompleks, dari berbagai aspek –baik yang kelihatan, samar-samar atau tidak kelihatan-, dan tak terduga, sehingga kalau generasi muda Muslim lemah, mudah puas, malas, tidak kreatif, tidak memiliki inisiatif, jumud, tidur, dan kropos, maka bersiaplah untuk digilas zaman atau sekedar menjadi masyarakat penonton sepanjang sejarah umat manusia.

 

BAB II

CARA BERDAGANG SECARA ISLAMI,

Alternatif Mengelola Usaha Perdagangan Pada Masa Mendatang

 

Makna Wiraswasta Sejati

Untuk memahami makna kata enterpreneur atau wiraswasta atau kewirawastaan, kita perlu memahami beberapa pandangan berikut ini:

“…Menurut Kuratko dan Horgetts (2001) enterpreneur berasal dari bahasa prancis entreprendre yang berarti mengambil pekerjaan (to undertake). Konsepnya mengenai enterpreneur sebagai berikut:

The enterpreneur is one who undertake to organize, manage, and assume the risk of a bussines.

Konsep ini memberikan arti bahwa kewirausahaan merupakan tindakan seseorang untuk membuat organisasi, mengelolanya dan menentukan resiko sebuah bisnis …”

Menurut Zimmerer dan Scarborough (2005) bahwa kewirausahaan merupakan keahlian seseorang menghadapi resiko di masa medatang dan bertumbuh mendapatkan profit dengan menggunakan seluruh sumber daya yang dimiliki sehingga mengalami peningkatan terhadap usaha tersebut.[6]

Seorang enterpreneur atau wiraswasta adalah seseorang yang mengelola usahanya dengan mengatur sedemikian rupa supaya memperoleh keuntungan, dengan menanggung resiko kerugian, usaha tersebut dikelola sebaik-baiknya menggunakan segala sumber daya yang dimiliki, sehingga bisa tumbuh dan berkembang pada masa mendatang. Seorang wiraswatawan yang berhasil, apabila mampu meningkatkan diri dari usaha kecil menjadi usaha menengah, syukur-syukur bisa meningkat lagi menjadi usaha atas.

Dalam konteks Islam, Nabi Muhammad bersabda; “Sesungguhnya Allah SWT suka kepada hamba yang berkarya dan terampil. Barang siapa bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka dia serupa dengan seorang mujahid fisabilillah.” (HR.Imam Ahmad) Menurut KH. Abdullah Gimnastiar Rasul adalah seorang entrepreunership atau wirausahawan. Mulai usia 8 tahun 2 bulan sudah mulai menggembalakan kambing. Pada usia 12 tahun berdagang sebagai kafilah ke negeri Syiria dan pada usia 25 tahun Rasul menikahi Khadijah dengan mahar 20 ekor unta muda. Ini menunjukan bahwa Rasul merupakan seorang wirausahawan yang sukses.[7]

Konsep Islam tentang wiraswasta, justru lebih bagus dari konsep sebelumnya, sebab dalam Islam menekuni usaha dengan bersusah payah dalam rangkah memenuhi kebutuhan hidup keluarga, tidak sekedar bermakna dalam kehidupan dunia, melainkan lebih dari itu, malah dianggap sejajar dengan pejuang di jalan Allah yang mendapat ganjaran surga, syaratnya usaha yang dikelola tidak menyimpang dari ajaran-ajaran Islam.

Realisasi dalam konsep ini, maka nilai-nilai Islam apa saja yang bisa diterapkan para wiraswasta atau pedagang dalam menjalankan usahanya, dijelaskan dalam sub-sub judul berikut. Dengan uraian ini umat Islam bisa berhasil menjalankan usaha dengan tetap tidak menyimpang dari ajaran Islam, sehingga usaha yang dikelola bermanfaat di dunia dan akhirat.

Dalam menjalankan usaha, diharapkan umat Islam dituntut untuk kreatif atau dalam bahasa hadits di atas yakni trampil. Kreativitas dibutuhkan dalam rangka mengembangkan usaha sampai taraf maksimal, optimalisasi sumber daya yang dimiliki, mengatur usaha secara profesional, dan menyenangi pekerjaan sebagaimana senang terhadap suatu hobi tertentu. Dengan kreativitas ini para wiraswasta Muslim bisa tumbuh dari pedagang kecil menjadi pedagang menengah atau atas. Bagaimana cara menumbuhkan dan mengembangkan kreativitas dalam mengelola suatu usaha. Dalam hal ini penjelasan dari Doug Hall seorang pakar pengembangan bisnis bisa dilaksanakan para wiraswasta.

“Tiga Hukum Kreativitas Pemodal:

  1. Eksplorasi Stimuli (Rangsangan). Stimuli adalah bahan bakar yang mengisi pertumbuhan bisnis – atau gagasan kreatif apa pun tentang hal ini. Isilah otak Anda dengan asupan stimulus multisensorik (rangsangan dari keseluruhan panca indera manusia, penulis), baik yang terkait, maupun tak terkait dengan tantangn yang Anda hadapi.
  2. Meningkatkan keragaman : Stimuli adalah katalisator yang memicu reaksi untuk mencetuskan ide-ide. Keragaman adalah bahan bakar yang meneruskan cetusan ide ke dalam reaksi berantai penciptaan ide yang berkelanjutan. Semakin besar perbedaan opini dan perspektif yang dapat Anda kumpulkan, akan semakin efektif usaha menghasilkan ide yang benar-benar dapat mengembangkan bisnis Anda.
  3. Menghadapi ketakutan: tingkat kedalaman stimuli dan besarnya perbedaan mengorbankan kemampuan Anda mengimajinasikan ide baru. Akan tetapi, hal itu muncul jika Anda mampu menghadapi ketakutan. Ketakutan secara langsung bisa menghancurkan kemampuan Anda menciptakan dan mengolah ide-ide baru.”

Dr. Chris Stormann yang menemukan bahwa ketiga variabel yakni; stimuli keragaman dan ketakutan dapat digunakan untuk memperkirakan jumlah ide berkualitas yang dihasilkan dengan tingkat keyakninan 99,99% (r=065) Selanjutnya Doug Hall menambahkan sehubungan penemuan tersebut:

“Ini adalah kabar baik. Ini berarti dunia ide dapat dijelaskan! Jika dibingungkan oleh sebuah ide, Anda memiliki tiga pilihan :

  1. Gunakanlah beberapa stimuli sebagai katalisator untuk benak Anda
  2. Lihatlah stimuli dari berbagai sudut pandang yang berbeda, geser perspektif Anda atau pinjamlah perspektif orang lain.
  3. Hadapi ketakutan yang menahan Anda menyatakan hal yang Anda percayai dan hal yang harus Anda lakukan.”[8]

Pandangan Doug Hall tentang tata cara melahirkan ide-ide brilian dan kreativitas yang bisa diterapkan dalam menjalankan usaha, ini bisa menjadi bagian dari upaya wiraswasta Muslim untuk mempelajari sesuatu yang baru dalam mengembangkan usaha. Paling penting apa yang disampaikan tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam, makanya saya kutip dalam tulisan ini.

Hasil jerih payah seorang wiraswasta dalam memenuhi kebutuhan keluarga, di samping itu juga dapat membantu umat Islam lain yang dalam hidup kekurangan. Inilah Islam, hasil usaha digunakan seoptimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarga, sekaligus memberi manfaat pada umat Islam secara keseluruhan lewat konsep sedekah dan zakat, sehingga ketidak adilan sosial bisa dihindari. Ini berbeda dengan sistem kapitalis yang justru memperkuat jargons yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin atau justru memperlebar ketidak adilan sosial.

Orang-orang miskin berhak atas harta orang kaya dalam konteks zakat, artinya zakat yang dikeluarkan para wiraswasta, pedagang atau pengusaha Muslim adalah hak-hak fakir miskin yang wajid dikeluarkan. Sedang sedekah merupakan bentuk kedermawanan dalam Islam yang akan mendapat ganjaran di dunia dan akhirat. Penerapan konsep keduanya yang akan membimbing wiraswasta Muslim berhasil mengembangkan usaha dengan sukses pada masa mendatang.

 

Meneladani Nabi Muhammad dalam Berdagang

KH Abdullah Gimnastiar menjelaskan secara panjang lebar kehidupan Nabi Muhammad sebagai seorang wiraswasta:

“Pada waktu Rasulullah masih kecil, beliau sudah mempunyai sebuah proyek untuk menjaga kehormatan harga dirinya agar tidak menjadi beban bagi kehidupan ekonomi pamannya, Abu Thalib, yang memang tidak tergolong kaya. Beliau mendapat upah dari mengembalakan beberapa ekor kambing milik orang lain, yang secara otomatis mengurangi biaya hidup yang harus ditanggung oleh pamannya ini. Pada usia 12 tahuan, sebuah usia yang relatif muda, beliau melakukan perjalanan dagang ke Syiria bersama Abu Thalib. Beliau tumbuh dewasa di bawah asuhan pamannya ini dan belajar mengenai bisnis perdagangan darinya. Bahkan ketika menjelang dewasa dan menyadari bahwa pamannya bukanlah orang berada serta memiliki keluarga besar yang harus diberi nafkah, Rasulullah mulai berdagang sendiri di kota Mekkah. Bisnisnya diawalai dengan sebuah perdagangan taraf kecil dan pribadi, yaitu dengan membeli barang dari satu pasar dan menjualnya kepada orang lain. Aktivitas bisnis lainnya dengan sejumlah orang di kota Mekkah pun dilakukan. Dengan demikian ternyata Rasulullah telah melakukan aktivitas bisnis jauh sebelum beliau bermitra dengan Khadijah. Dan inilah yang membuahkan pengalaman yang tak ternilai harganya dalam mengembangkan jiwa kewirausahaan pada diri Rasulullah. Ciri yang sangat khas dari aktivitas bisnis yang dilakukan oleh Rasulullah waktu itu adalah beliau sangat terkenal karena kejujurannya dan sangat amanah dalam memegang janji. Sehingga tidak ada satupun orang yang berinteraksi dengan beliau kecuali mndapat kepuasan yang luar biasa. Dan ini merupakan sebuah nuansa dengan pesona tersendiri bagi warga Jazirah Arab. Apalagi kemuliaan akhlaknya seakan menebarkan pesona indah kepribadiannya. Pun ketika beliau tidak memiliki uang untuk berbisnis sendiri, ternyata beliau banyak menerima modal dari orang-orang kaya Mekkah yang tidak sanggup menjalankan sendiri dana mereka, dan menyambut baik seseorang yang jujur untuk menjalankan bisnis dengan uang yang mereka miliki berdasarkan kerjasama. Tiada lain karena sejak kecil Rasulullah telah dikenal oleh penduduk Mekkah sangat rajin dan penuh percaya diri. Dikenal pula oleh kejujuran dan integritasnya dibidang apapun yang dilakukannya. Tak berlebihan bila penduduk Mekkah memanggilnya dengan sebutan Shiddiq (jujur) dan Amin (terpercaya). Salah seorang pemiliki modal itu adalah Khadijah, yang kelak menjadi istri beliau, yang menawarkan suatu kemitraan berdasarkan sistem bagi hasil (profit sharing). Dan, subhanallaah, kecakapan Rasulullah dalam berbisnis telah mendatangkan keuntungan, dan tidak satupun jenis bisnis yang ditanganinya mendapat kerugian. Selama bermita dengan Khadijah inilah Rasulullah telah melakukan perjalanan dagang ke pusat bisnis di Habasyah (Ethiopia) dan Yaman. Beliau pun empat kali memimpin ekspedisi perdagangan untuk Khadijah ke Syria dan Jorash.”[9]

Sebelumnya saya mohon maaf dan terima kasih pada KH. Abdullah Gimnastiar yang mampu menulis buku Manajemen Qolbu yang sangat dibutuhkan umat Islam, sehingga beberapa bagian dari buku, saya kutip agak panjang dalam tulisan ini dengan tanpa maksud lain, kecuali demi kepentingan umat Islam secara keseluruhan. Mengapa dikutip demikian?

Sebab saya ingin menulis secara utuh tentang perjalanan Nabi dalam menekuni dunia usaha atau perdagangan yang menjadi salah satu unsur penting dalam tulisan Cara Sukses Berdagang Secara Islami. Nanti akan dijelaskan beberapa nilai Islam yang bisa di terapkan dalam perdagangan agar berhasil menekuni usahanya, namun contoh kongkrit dari cara Nabi Muhammad menekuni dunia usaha perlu diketahui umat Islam sebagai teladan yang patut ditiru. Nah kutipan dari tulisan AA Gym ini diharapkan bisa melengkapi tulisan yang ada.

Jiwa wiraswasta Nabi sudah dirintis semenjak beliau berusia anak-anak, diperkuat lagi saat bersama pamannya Abu Thalib, diasah menjelang usia dewasa dalam bentuk berdagang secara langsung, dan benar-benar terjun dalam dunia bisnis sewaktu dewasa. Ini bermakna pada keluarga Muslim untuk mendidik jiwa wira usaha pada anaknya semenjak dini meski dari keluarga kaya sekalipun, apalagi dari keluarga biasa atau miskin. Jiwa wira usaha inilah yang akan membimbing anak-anak keluarga Muslim berhasil menekuni usaha secara mandiri pada masa mendatang. Dengan usaha mandiri yang berhasil, mereka tidak sekedar mampu mencukupi usaha sendiri sampai berhasil, melainkan bisa membantu orang tua yang tidak mampu, membantu kerabat sesuai kemampuan diri, membantu umat Islam lain yang membutuhkan. Sehingga secara keseluruhan, jika semua generasi Muslim mampu hidup mandiri dan berhasil, maka ekonomi umat Islam akan terangkat, dengan terangkatnya ekonomi umat, beberapa aspek lain kehidupan umat Islam akan terangkat pula, sehingga bisa menjadi titik awal dari kebangkitan Islam di Indonesia.

Kini tidak ada alasan lagi bagi umat Islam untuk menjalankan dunia usaha sesuai kaidah yang ada dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Memang cara berdagang Nabi diterapkan dalam zaman berbeda dengan kita, namun cara beliau berdagang mampu mencapai keberhasilan sesuai dengan keadaan masanya, padahal cara-cara yang ditempuh tetap berpegang teguh pada kejujuran, amanah dalam memegang janji, memberikan kepuasan pada pembeli, berakhlak mulia, kerja keras, ulet, ramah, dan baik hati. Sesuatu yang berusaha dijauhi para pedagang masa kini, sehingga mereka mengalami kegagalan dalam menjalani usaha yang dikelola.

Seperti dijelaskan di atas bahwa Nabi Muhammad dalam menjalankan usaha, modalnya bukan berasal dari diri sendiri, melainkan dari orang lain yang dikelola dengan sistem bagi hasil. Berhubung beliau menjalankan usaha dengan baik, jujur, amanah terhadap janji, percaya diri, bisa dipercaya, maka banyak orang yang memberikan modal usaha untuk bisa dikelola. Generasi muda Muslim yang terlalu terjebak pada modal dalam menjalankan usaha harus berkaca dari hal ini, modal bukan yang utama, yang utama adalah kejujuran dalam usaha, menjalankan usaha sebaik-baiknya, kerja keras, tepat pada komitmen yang dibuat, bisa dipercaya, baru modal dibutuhkan dalam menjalankan usaha. Makanya dalam merintis usaha, jangan takut merintis usaha Nol sampai berhasil. Perlu diingat keberhasilan merintis usaha dari nol, dilanjutkan dengan upaya-upaya yang kreatif, konstruktif, bermacam-macam, memperkuat usaha yang dikelola, melengkapi barang yang dijual sesuai kebutuhan pembeli, melakukan differensiasi usaha, mampu membaca situasi pasar dan bertindak tepat atasnya. Artinya di sini adalah mengembangkan usaha yang dirintis sampai taraf maksimal sehingga menghasilkan yang maksimal pula.

Dalam berbisnis Nabi Muhammad tidak terfokus pada suatu tempat. Beliau melakukan perjalanan ke pusat-pusat bisnis waktu itu yakni ke Habasyah (Ethiopia), Yaman. Empat kali memimpin ekspedisi perdagangan untuk Khadijah ke Syria dan Jorash. Apa maknanya bagi kita? Dalam menjalankan usaha kita harus memanfaatkan segala potensi yang ada di sekitar kita, baik potensi itu ada di pusat bisnis atau potensi yang ada di pasar tempat kita berjualan. Ketika seorang pedagang kulaan barang ke juragan, dia harus mencari grosir-grosir yang menawarkan harga lebih murah dengan kualitas sama, sehingga bisa dijual dengan harga yang bersaing dan bisa mendapat keuntungan lebih. Para pedagang tidak harus setia pada sebuah grosir, kecuali ada komitmen sebelumnya dengan syarat ketersediaan seluruh barang ditanggung dan kita mendapatkan hutang sebagai modal usaha, jadi banyak grosir lebih baik. Dalam peta persaingan yang semakin keras, para pedagang yang menjual barang lebih murah dengan kualitas sama yang akan disenangi pembeli.

Di samping itu dalam konteks ekspedisi yang dilakukan beliau di atas, menunjukkan suatu hukum ekonomi yang pasti bahwa perdagangan jarak jauh, misalnya mengirimkan barang dari satu tempat ke tempat lain, satu daerah ke daerah lain, satu propinsi ke propinsi lain, satu negara ke negara lain, menawarkan keuntungan yang lebih besar dari pedagang yang menetap di suatu tempat. Ini bisa menjadi salah satu bentuk ekspansi usaha ke tempat-tempat yang prospektif di masa mendatang.

Inilah beberapa hal yang bisa diteladani dari cara Nabi Muhammad SAW menjalankan usahanya. Dengan meneladani beliau dalam menjalankan usaha, insya Allah para pedagang akan berhasil menjalankan usahanya. Nilai-nilai yang diajarkan Nabi Muhammad dalam menjalankan usaha, disesuaikan dengan keadaan masa kini, diinterpretasi dengan cara berbeda meski maksudnya sama, diterapkan dalam keseharian para pedagang.

Meneladani Nabi Muhammad disertai memperbanyak membaca shalawat pada beliau akan membantu kelancaran usaha yang dikelola para pedagang. Di samping itu, siapa tahu para pedagang bisa mendapatkan syafaat dari beliau di akhirat kelak, tiada yang paling diharapkan umat Islam, selain syafaat dari beliau. Untuk apa kita meneladani tokoh-tokoh masa kini, yang secara lahiriah berhasil, kaya raya, hidup mewah, tapi memiliki akhlak yang tidak terpuji, batinnya kosong melompong dari nilai-nilai spritual, dan tidak bisa memberikan syafaat pada umat Islam. Sudah waktunya bagi Umat Islam untuk kembali meneladani Nabi Muhammad SAW dalam berbagai aspek kehidupan, sebab beliau merupakan contoh manusia paripurna yang pernah lahir di muka bumi. Sesuatu yang wajar, bila buku 100 tokoh paling berpengaruh di seluruh dunia, Nabi Muhammad SAW berada di peringkat pertama di atas tokoh-tokoh Barat yang paling hebat sekalipun.

 

Berusaha Hidup Mandiri

Usia manusia bertambah setiap waktu, dari masa bayi ke masa anak-anak, dari anak-anak ke remaja, dari remaja ke dewasa awal, dari dewasa awal ke tahap dewasa, dari dewasa menjadi tua dan mati. Setiap proses perkembangan usia ditandai dengan perubahan fisik, pola memenuhi kebutuhan hidup, dan perubahan tingkah laku. Orang tua yang baik akan mengajari anaknya untuk belajar mengatur uang dari masa anak-anak, sehingga saat dewasa tidak menjadi anak yang boros, mengajari anak-anaknya cara mencari uang dengan mengajaknya ke pasar atau toko atau tempat usaha, pada waktu pasar ramai memaksanya untuk membantunya dengan diiming-imingi sesuatu, ini bisa menjadi tahap pembelajaran awal sebelum mereka mampu mencari uang sendiri.

Selesai lulus SMU, MA atau Pondok, mereka diberi pilihan antara kuliah atau menjadi pedagang, wiraswasta, petani, nelayan, dan peternak. Setiap pilihan mengandung tanggung jawab dan konsukwensi yang berbeda.

Seorang anak yang memutuskan untuk kuliah, harus diberi pandangan agar tidak main-main, tidak terjebak narkoba dan seks di luar nikah, serta komitmen bahwa orang tua sanggup membiayai sampai semester lima. Komitmen ini penting agar sang anak berusaha mencari penghasilan sambil kuliah, selesai kuliah tidak pusing mencari pekerjaan. Beberapa alumni Pesantren yang berhasil merantau ke Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Malang dan Surabaya, mereka kuliah sambil bekerja, selesai kuliah pekerjaan sementara sudah ada sebelum memutuskan pekerjaan tetap yang ingin digeluti.

Setelah semester lima, orang tua perlu mengawasi apakah anaknya benar-benar kuliah sambil bekerja, jika benar tapi hasil yang diperoleh belum mencukupi untuk biaya kuliah, orang tua yang bijak tetap membantu keuangan anaknya dengan cara yang berbeda, misalnya saat liburan kuliah anaknya diminta berjualan di usaha orang tuanya dan diberi gaji seperti pekerja lain, malah mungkin sedikit lebih besar. Kalau anaknya mampu mengisi liburan kuliah dengan mendapatkan penghasilan dari usahanya sendiri, biarkan saja, orang tua tidak perlu memaksa anaknya membantu mereka.

Seseorang yang memutuskan untuk bekerja secara mandiri tanpa harus kuliah atau para sarjana yang ingin berwiraswasta, didukung secara penuh oleh orang tuanya dengan membantu permodalan, menyediakan sarana yang dibutuhkan, memberikan pandangan tentang dunia usaha yang akan digelutinya –pengalaman orang tua penting jika anak menekuni bidang yang sama-, dan ikut mengawasi tanpa ikut campur tangan. Bila dalam beberapa tahun sang anak bisa mandiri, cepat-cepat dicarikan jodoh untuknya agar tidak salah jalan, atau menyetujui pilihan jodoh anaknya.

Sebelum terjun ke dunia perdagangan, langkah pertama yang diambil adalah melakukan penelitian secara sederhana ke pasar-pasar tradisional berbeda, pasar swalayan dan berusaha mengetahui peta harga grosir. Pengetahuan awal yang dimiliki bisa dikelola untuk menentukan jenis usaha apa yang akan dilakukan, bagaimana prospeknya ke depan, persaingannya keras atau tidak, laku atau tidak barang yang akan dijual. Setelah menentukan jenis usaha yang akan ditekuni, langkah selanjutnya mengatur modal yang dimilki. Misalnya memiliki modal 5 juta, sebelumnya sudah ditentukan akan menjual sepatu dan sandal, dari yang 5 juta itu harus diatur dengan baik, misalnya: 1 juta buat kulaan macam-macam sepatu asal lengkap –jika harus ambil perlusin kita kulaan 1/4nya saja-, 500 ribu untuk macam-macam sandal japit –harus ambil minimal ½ lusin persatu macam merk/barang- dan 1 juta untuk sandal model –biasanya kodian, jadi harus ambil ¼ atau 5 nomer sandal-, berhubung dalam penelitian sebelumnya sepatu sandal berkaitan dengan tas sekolah/pet/ikat pinggang, maka sisanya yang tiga juta diatur lagi yakni 500 ribu buat ambil tas sekolah, 500 ribu buat ambil macam pet, dan 500 ribu untuk ikat pinggang, total uang yang dijadikan barang 4 juta rupiah, berarti masih ada sisa 1 juta. Mau kita apakan sisa uang?

Uang 1 juta kita simpan di rumah sementara atau disimpan di Bank. Dengan menyimpan 1 juta di tangan, maka kita bisa mengatur sirkulasi barang atau perputaran barang menurut kebutuhan dari pembeli, artinya kita sudah berjualan setiap hari, lantas kita mencatat barang apa saja yang laku -pencatatan penting bagi pedagang pemula, jangan pedulisan penilaian orang, jarang orang melakukan hal ini-, dari hasil pencatatan diketahui mana yang laku harian, tiga harian, mungguan dan bulanan, sehingga kita memutuskan dengan tepat sisa uang yang 1 juta akan diinvestasikan untuk jenis barang yang mana.

Bisa juga dalam tahap mengawali usaha, membantu usaha orang tua dulu adalah tindakan bijak, setahun kemudian baru membeli kios agar bisa berjualan sendiri. Orang tua yang baik punya persiapan untuk masa depan anaknya yang berupa kios atau toko atau tempat usaha lainnya untuk bisa berwiraswasta, memiliki simpanan uang untuk modal usaha mereka. Bagaimana seandainya tidak memiliki persiapan karena bangkrut, miskin, tak mampu dan hanya sanggup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari? Sang anak dituntut mau merintis usaha sendiri dari nol, mengembangkan perlahan, dan berusaha membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Seseorang yang merintis usaha sendiri dari nol dan berhasil jauh lebih sukses dari yang berhasil karena fasilitas usaha lengkap, meskipun jenis usaha yang pertama relatif kecil sedang yang kedua lebih besar. Orang yang pertama tidak sekedar memperoleh kebahagiaan lahiriah, melainkan juga kepuasan batiniah yang tak ternilai harganya.

Banyak orang yang bekerja apa saja agar bisa memenuhi kebutuhan hidup sendiri tidak tergantung orang tua atau orang lain, ada yang jadi buruh pabrik, kuli bangunan, tukang becak, petani, nelayan, pemulung, pedagang kaki lima, pedagang emperan toko, dan berbagai jenis usaha lainnya. Berhubung mereka mencari uang hasil keringat sendiri, maka dalam memanfaatkannya sesuai kebutuhan diri pada sekarang dan akan datang. Walaupun usaha yang dikelola relatif kecil, mereka berusaha tetap memiliki simpanan sebagai upaya persiapan atau menambah modal usaha.

Generasi muda dituntut berani merintis usaha dari nol seperti orang-orang di atas menjalaninya, jangan pedulikan penilaian orang, penilaian dari siapapun tidak bermanfaat dan bisa membahayakan jika dimasukkan ke hati, padahal kita sendirilah yang menjalani kehidupan. Penilaian orang sarana untuk memperbaiki diri, bukan menentukan apa yang akan dilakukan, jika bermanfaat diambil, dan jika tidak masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.

Seseorang yang belum memiliki pekerjaan tetap sebaiknya menunda untuk berumah tangga, sebab dapat menjadi beban bagi keluarga sendiri dan mertuanya. Harus bisa mendapatkan pekerjaan atau memperoleh penghasilan sendiri untuk berumah tangga. Dengan bekerja secara mandiri, kebutuhan istri dan calon anak-anaknya nantinya terjamin. Memang ada sebagian masyarakat yang kawin dulu baru mencari pekerjaan, sebagian kecil berhasil dan sebagian besar berakhir dengan kegagalan, malah menjadi beban keluarga dan masyarakat, yang berhasilpun karena mau bekerja apa saja asal halal, sehingga perlahan-lahan usahanya berkembang.

Generasi muda Muslim dituntut memperhatikan hal-hal di atas, di pundak merekalah harapan kejayaan Islam di masa mendatang. Bagaimana mereka mau menjadi penggerak kemajuan Islam, jika memenuhi kebutuhan hidup sendiri saja tidak mampu, bagaimana mau maju, bila menjadi sampah masyarakat sebagai pengangguran, bagaimana bisa mendapatkan penghasilan sendiri, andai malas, telalu memilih pekerjaan dan gengsi, bagaimana mau menjadi manusia paripurna, jika untuk makan saja berasal dari orang tua. Hidup mandiri, mengembangkan kemandirian perlahan-lahan, berkeluarga, melakukan yang terbaik bagi masyarakat dan menjadi orang yang bermanfaat pada masa mendatang, adalah tahapan hidup yang bisa dijalani. Selamat mencoba!

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tidak seorangpun makan suatu makanan pun yang lebih baik dari pada memakan dari hasil tangannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Daud ‘alaihis salam pun makan dari hasil tangannya sendiri.” (HR. Bukhari)

 

Mengelola Usaha Kecil dari Awal

“Hei, kamu kok capek-capek mondok hanya jadi pedagang kecil?” tanya Ceking sambil menyindir.

“Memangnya kenapa?” Gendut balik bertanya.

“Aneh saja. Seseorang yang berprestasi di pesantren, juara berbagai lomba karya tulis, organisatoris dan cerdas sepertimu seharusnya menekuni usaha lain yang lebih pantas.”

“Semua pekerjaan pantas untuk dijalani siapapun, paling penting kita menjalani dengan sepenuh hati.”

“Aku tahu berdebat denganmu seperti air yang berusaha membelah batu, aku cabut dulu, semoga sukses usahamu,” Ceking meninggalkan Gendut dengan senyum dikulum.

“Hhhm, hhhmm, hhhmmm,” Gendut menarik nafas dalam-dalam tiga kali. Sambil memperbaiki dagangannya, terlintas kenangan masa lalu yang indah di pesantren.

Gendut terkenal sebagai salah seorang murid yang berprestasi, selama mondok di TMI Al-Amien selalu berada di rengking 5 besar bahkan pernah sekali rengking satu, membaca buku mulai kelas I sampai menjadi Ustads. Gendut merajai lomba karya tulis di Al-Amien dengan menjadi juara I lomba menulis cerpen dan karya ilmiah, kelas IV dan VI aktif baca buku filsafat, mempelopori penerbitan SUASA (Suara Sastra Al-Amien) hampir sebagian besar isi SUASA adalah karya tulisnya, yang rutin menulis kolom setiap minggu dan mempelopori penerbitan majalah Al-Hikam PTA, ketika menjadi guru di Al-Amien; karya tulis dimuat di Harian Surya, penjadi peserta penulis karya ilmiah ICMI, dan juara I lomba baca tulis cerpen se Madura, pernah menjabat sebagai bagian pengajaran, Skretaris fasilitator dan ketua kelas VI. Dengan segudang prestasi dan piagam, garis nasib menaqdirkannya pada sejumlah kegagalan; gagal kuliah di Undip Semarang, padahal sudah ada jaminan beasiswa ICMI, tidak bisa kuliah di tempat lain, sebab orang tua usahanya jatuh bangkrut dan menerima takdir untuk tidak kuliah, sedang ICMI tidak memberi jaminan jika kuliah di tempat lain.

“Mas berapa harga tasnya?” seorang pembeli menyentakkan Gendut dari lamunan panjang.

“Oh, ya…ng ma…na?” Gendut gelagapan.

“Sampean ngelamun ya, tentu yang ini,” wanita itu tersenyum manis.

“Harganya Rp. 25.000,- “

“Boleh ditawar?” tanya wanita.

“Boleh! Tawar menawar di dalam pasar sudah biasa.”

“Rp. 10.000,- boleh.”

“Wah, tidak boleh, Bu. Begini saja, Rp. 22.500,-“

“Rp.12.500,-“

“Jika ibu benar-benar berminat, bagaimana kalau Rp. 20.000,-“

“Masih terlalu mahal. Rp. 15.000,- bagaimana?”

“Tambah sedikit, Bu!” Gendut berpikir sejenak sambil mengingat harga kulaannya yang mencapai Rp. 12.500,- berarti sudah ada keuntungan dari penawaran ibu tadi.

“Jika dikasih Rp. 15.000 kuambil,” ibu itu melangkah hendak pergi.

“Baiklah, Bu.” Gendut membungkus tas yang ditawar, ibu itu berbalik dan menyerahkan uang Rp. 15.000,- Gendut menerima dengan senang hati, sebab pada hari itu ada yang laku satu setelah berjualan mulai pukul 05.00 WIB pagi. Berhubung jarum jam menunjukkan pukul 11.30 WIB, Gendut mulai menutup dagangannya. Dia memasukkan seluruh barang dalam tempat khusus, lantas mengikat dengan tampar yang kencang, dan beranjak pulang menuju rumah.

Sekelumit kisah di atas, merupakan kisah nyata perjalanan salah seorang Alumni Pesantren yang berusaha memulai usahanya dengan berdagang. Dia memulai usaha dengan modal awal Rp. 800.000,- digunakan untuk kulaan tas sekolah, dompet, dan sandal japit. Berhubung di dalam pasar tradisional Wonosari Bondowoso, ada beberapa kios kosong yang tidak ditempati, dia bisa berpindah-pindah tempat untuk berjualan. Pada awal berjualan, laku dua dompet saja dan hanya mendapatkan uang Rp. 10.000,- dengan keuntungan Rp. 3.500,-, keuntungan dibelikan nasi bungkus seharga Rp. 1000,- sekali makan dan membeli bakso Rp. 2.500,-. Awal perjalanan hidup sebagai pedagang dimulai.

Ketika salah seorang temannya menyindirnya karena berdagang, dia tetap berusaha sabar, sebab baginya sebuah ejekan adalah sarana memperbaiki diri. Dia lebih meyakini usaha berdagangnya, lebih bersungguh-sungguh lagi, dan berusaha membuktikan bahwa bisa berhasil dengan berdagang.

Dia berjualan setiap hari dari pukul 05.00-12.00 WIB, uang yang diperoleh sebagian digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup, sebagian besar digunakan untuk menambah modal usaha. Lewat bantuan salah seorang famili yang memberikan pinjaman sebesar Rp, 500.000,- dia menambah daganganya dengan menjual sepatu. Dagangannya semakin bermacam-macam. Ini belum cukup, sebagian modal digunakan untuk kulaan ikat pinggang dan berbagai macam pet. Dengan barang yang bermacam-macam, maka usahanya bertambah maju. Ini menambah kecintaannya pada usaha yang digeluti.

Suatu malam, dia bermimpi disiksa dalam kubur tanpa pertanyaan oleh malaikat. Dia terbangun dari tidurnya, Nafasnya turun naik tidak beraturan, dada berdebar kencang, dan keringat membasahi tubuhnya. Dia ingat bahwa selama ini jarang shalat lima waktu. Dia menyegerakan diri untuk shalat subuh. Shalat yang dijalani seperti tetesan embun di padang pasir, mampu memuaskan rasa dahaga dan ketenangan di batinnya. Sejak itu dia berusaha melaksanakan shalat lima waktu sebaik-baiknya tanpa paksaan, shalat secara ikhlas lebih terasa nikmat dari shalat karena terpaksa. Dia mulai rajin membaca Al-Qur’an, terutama surat Al-Waqi’ah setiap habis shalat Magrib, sebab bisa membantu memudahkan memperoleh rizki, dia juga mulai berusaha shalat Dhuha setiap pagi dua rakaat dengan alasan yang sama.

Kini dia menjalankan usaha dengan prinsip kerja keras dan tawakkal, sehingga perlahan-lahan usaha semakin berkembang. Apalagi kemudian beberapa juragan sepatu dan sandal memberinya hutang yang bisa dilunasi menjelang hari raya. Omset dagangan bertambah, dengan demikian menambah pula penghasilan setiap hari. Dia mulai mengikuti arisan Rp. 5.000,- setiap hari, tiga bulan kemudian dapat Rp. 2.000.000,- Seluruh uang yang diperoleh diinvestasikan untuk usahanya. Pada waktu hari raya atau delapan bulan setelah berdagang, seluruh hutang-hutang dilunasi semua, dan di tangannya masih ada uang Rp. 1.000.000,- dan omset dagangan lumayan lengkap. Dengan laba bersih 1 juta di tangan selama tahun pertama berjualan, dia merasa berhasil dengan usahanya, dan lebih rajin lagi berdagang.

Memasuki tahun kedua, orang tuanya memberikan sedikit tempat di kiosnya yakni 1/3 untuk ditempati, dia merasa senang karena sudah memiliki tempat menetap walau masih nebeng di kios orang tuanya. Setelah arisan yang Rp. 5.000,- habis, dia memberanikan diri untuk mengikuti arisan Rp, 10.000,- setiap hari agar bisa mendapatkan uang 4 juta rupiah. Ini dilakukan agar modal usaha bertambah berkembang, sehingga keuntungan semakin besar.

Pada waktu itu, dia membuang percuma waktu di sore hari dengan bermain-main saja. Suatu saat salah seorang tokoh masyarakat di sana, Ust. Husein menawarinya untuk mengajar di Taman Pendidikan Al-Qur’an. Dia menerima dengan senang hati, walau hanya mendapat uang Rp 15.000,- setiap bulan, sebab materi bukan tujuannya, melainkan mengabdikan diri di tengah-tengah masyarakat dan mengisi waktu kosong yang dibuang percuma. Jadilah di pagi hari dia berdagang sampai siang, sore harinya mengajar di TPA.

Pada awal tahun ketiga, kios salah seorang familinya ada yang dijual seharga 10 juta rupiah, dia yang mendapat tawaran itu merasa ragu awalnya, sebab harga yang ditawarkan agak mahal di matanya, meski tempatnya lumayan strategis. Jika kita gunakan kriteria strategis dari A (sangat strategis), B (strategis), C (cukup), D (kurang strategis), maka tempat yang ditawarkan padanya masuk kriteria B. Berhubung uang di tangannya baru ada 3 juta rupiah hasil arisan yang disimpan di Bank, yang 1 juta sudah diinvestasikan pada barang. Dia memutuskan untuk membelinya asal tidak 10 juta kontan, ini disetujui famili yang menjual kiosnya, sehingga dia membayar uang muka 3 juta rupiah. Berhubung ada famili di Madura yang menjadi petani sukses sehingga hartanya yang berwujud emas cukup banyak, maka dia berangkat ke Madura meminjam uang. Mungkin berkat shalat lima waktu, shalat dhuha, rajin mengaji dan mengajar secara ikhlas, dengan gampang dia mendapatkan hutang 5 juta hasil penjualan emas, yang bisa dibayar jika sudah memiliki uang –pembayaran hutang agak longgar, bahkan sampai setahun lebih-. Lantas uang yang 5 juta digunakan untuk membayar sisa uang kios.

Dia berusaha lebih keras lagi, bekerja tekun, sabar, ibadah lebih rajin, dan mengajar juga rajin. Pada pertengahan tahun keempat bisa melunasi hutang yang di Madura, dan awal tahun kelima bisa melunasi sisa uang kios yang 2 juta, berhubung masih famili dari pembayaran uang kios, dia mendapat potongan harga Rp. 500.000,- Dia senantiasa bersujud syukur atas nikmat yang diperoleh.

Sebagai pedagang, tokoh kita ini telah berusaha semaksimal mungkin, atau dalam bahasa sekarang adalah bersikap profesional dalam menjalani usaha. Ini penting untuk diingat, sebab menjalani usaha apapun tanpa profesionalitas tidak akan berhasil. Pendapat ini diperkuat Elvyn G Masassya:

“…apapun yang tengah dijalani saat ini –profesi apa pun- semestinya harus dianggap yang terbaik, oleh karena itu, ia harus pula dikelola secara profesional, secara sungguh-sungguh.”[10]

Tokoh kita ini dianggap berhasil berdagang, sebab memulai usaha dengan modal kecil modal 800 ribu, bisa beli kios 10 juta dalam 3 tahun setengah, membeli komputer dan printer 5 juta, dan kebutuhan lainnya yang nilainya bisa mencapai 10 juta rupiah. Dia berdagang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, lalu menetap di toko yang dibelinya, bekerja keras setiap hari agar berhasil dan memasrahkan hasil lewat tawakkal pada Allah.

 

Cara Efektif dalam Berkomunikasi

Berikut tujuh pedoman berkomunikasi yang efektif seperti yang disampaikan Dr. Albert Ellis & Ted Crawford :

“Tujuh Pedoman:

Pedoman 1 : Terimalah partner anda “sebagaimana adanya.”

Pedoman 2 : Ekspresikanlah apresiasi anda sesering mungkin

Pedoman 3 : Berkomunikasilah dari integritas

Pedoman 4 : Bagikanlah dan jelajahilah perbedaan bersama partner anda

Pedoman 5 : Dukunglah tujuan partner anda

Pedoman 6 : Berikanlah hak untuk berbuat salah kepada partner anda

Pedoman 7 : Pertimbangkanlah kembali keinginan anda sebagai tujuan”[11]

Tujuh pedoman berkomunikasi di atas, bisa diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan; persahabatan, percintaan, perkawinan, organisasi, perusahaan, dan perdagangan. Namun dalam tulisan ini, dikhususkan penerapannya dalam perdagangan, sebab unsur komunikasi sangat penting dalam upaya mensuksesakan usaha yang dikelola, apalagi dalam era teknologi, informasi, dan globalisasi dewasa ini.

Sebelum memahami lebih jauh satu persatu dari setiap pedoman di atas, perlu kiranya dipahami konsep “partner” dalam perdagangan. Partner dalam perdagangan bermakna juragan atau bos yang menyediakan ketersediaan barang, bank yang memberikan pinjaman modal usaha, orang-orang yang bisa dipinjami uang untuk menambah modal, karyawan atau pekerja dan partner terpenting adalah para pembeli yang merupakan penentu utama kesuksesan perdagangan. Semua partner di atas harus diperlakukan dengan baik, diberi kepercayaan, menepati setiap komitmen yang dibuat, dilayani secara memuaskan, dan dibangun komunikasi yang menyenangkan.

Menerima keadaan partner apa adanya dalam komunikasi, itu artinya seorang pedagang harus berkomunikasi dengan juragan, bank, pemberi pinjaman lain, karyawan atau pekerja dan pembeli, dengan berusaha menerima segala kekurangan mereka, sehingga para pedagang menjalin komunikasi yang efektif. Menerima kekurangan merupakan salah satu upaya berkomunikasi apa adanya. Kekurangan bukan dijadikan senjata mematikan, melainkan sarana menerima partner apa adanya.

Dalam keadaan tertentu, kondisi pasar menurun karena pasar sepi atau daya beli masyarakat menurun, maka dalam melakukan pinjaman terhadap bank, juragan atau pemberi pinjaman, dilakukan secara hati-hati, jika terlanjur meminjam, berusaha memohon pengertian dengan keadaan yang menyulitkan para pedagang. Inilah urgensi perhitungan matang sebelum meminjam, memegang peranan penting.

Dalam menjalin komunikasi dengan karyawan/pekerja juga dilakukan sebaik mungkin.

Bagaimanapun bentuk komunikasi yang disampaikan pembeli, diterima apa adanya. Ada pembeli yang berbicara sambil cemberut, muka masam, pemarah, mudah tersinggung, bersikap seenaknya sendiri, sehingga memancing pedagang untuk melontarkan kata-kata yang tidak semestinya. Para pedagang dan pekerjanya dituntut menahan diri dalam menjalin komunikasi dengan pembeli.

Apresiasi berarti pembacaan, pemahaman, dan penafsiran para pedagang terhadap suatu hal. Dalam konteks para pedagang, pembacaan berkaitan dengan kemampuan membaca segala sesuatu yang ada di sekitar perdagangan; kondisi pasar, ekonomi nasional, kenaikan harga, keadaan partner, pemahaman berkaitan bagaimana semua hal tadi dipahami dengan baik, penafsiran berkaitan dengan menyusun langkah-langkah yang tepat, merealisasikan pemahaman dalam tindakan nyata, membuka paradigma baru, dan melakukan kreasi-kreasi yang efektif. Semua itu diekspresikan dengan baik, dikomunikasikan sesering mungkin dengan semua partner sehingga kepercayaan bisa dijaga dengan baik.

Berkomunikasi dengan integritas berarti berusaha berkomunikasi dengan partner melalui keutuhan kepribadian seseorang, tingkah laku yang baik, dan bisa diandalkan dalam menjalankan usaha. Jadi dalam berbicara harus menjaga sikap, tidak menyinggung perasaan lawan bicara, hati-hati melontarkan setiap kata, menghindari membicarakan kejelekan orang lain, merespon yang ada di sekitar secara bijaksana.

Perbedaan-perbedaan antara setiap individu pasti banyak dan bermacam-macam, semua perbedaan dijadikan sarana saling berbagi bersama partner. Lewat komunikasi bisa diketahui perbedaan-perbedaan yang ada, sehingga para pedagang bisa berbagi dengan mereka. Makanya dalam menjalin komunikasi unsur perbedaan ini diperhatikan dengan seksama, misalnya pembeli dari desa dan kota ada perbedaan cara-cara komunikasinya, pembeli dari desa cendrung berbahasa halus menggunakan bahasa daerah setempat, pembeli dari kota kadang menggunakan bahasa nasional. Kemampuan menggunakan bahasa daerah yang halus, dan bahasa Indonesia yang baik harus dimiliki para pedagang. Perbedaan juga bisa berhubungan dengan alat komunikasi yang digunakan; telepon, handphon, internet, faximili, atau alat lainnya yang semakin canggih. Semua potensi digunakan sebagaimana mestinya.

Setiap partner memiliki tujuan masing-masing yang bermacam-macam. Juragan, bank dan pemberi pinjaman memiliki tujuan agar dilunasi tepat waktu, diberi kepercayaan dengan menepati janji yang dibuat, mengambil barang pada juragan sesuai komitmen. Tujuan karyawan atau pekerja adalah mendapat pembayaran gaji secara rutin tanpa penundaan agar mereka bisa memenuhi kebutuhan hidup. Tujuan pembeli adalah membeli barang yang kualitas bagus dengan harga murah. Semua tujuan parter tadi berusaha didukung saat menjalin komunikasi dengan mereka, dan ini yang terutama yakni membantu memenuhi tujuan-tujuan mereka. Dengan terpenuhinya tujuan-tujuan mereka berarti kita menjaga kelangsungan usaha perdagangan agar bisa bertahan dalam kondisi apapun.

Setiap partner sebagai manusia pasti pernah berbuat salah, kesalahan yang dibuat dilihat secara manusiawi. Artinya karena setiap orang pasti berbuat salah, maka orang yang bijak adalah memaafkan kesalahan tersebut. Ini namanya para pedagang memberikan kesempatan pada partner untuk berbuat salah. Tentu partner para pedagang tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Kesalahan bisa berlangsung dalam proses komunikasi, dalam menyikapi sesuatu, membuat sebuah kebijakan, dan dalam tingkah laku. Ini bisa menjaga keharmonisan hubungan dengan partner.

Setiap pedagang memiliki keingingan yang bermacam-macam, berwarna warni, berbagai bentuk dan banyak sekali. Semua keinginan harus dipilah-pilah, mana yang keinginan semu, keinginan yang tidak nyata, keinginan yang realistis, dan keinginan yang dijadikan tujuan dalam hidup. Keinginan yang menjadi tujuan hidup para pedagang dijadikan pertimbangan utama dalam menetukan setiap kebijakan yang dibuat. Ini yang disebut mempertimbangkan kembali keinginan para pedagang sebagai tujuan. Jadi tujuan hidup kita bersumber dari keinginan yang berusaha diwujudkan dalam kenyataan.

Dalam berkomunikasi dengan pembeli, langganan, konsumen, atau customer, pembicaraan tidak harus tentang barang yang dijual atau produk tertentu, pembicaraan yang efektif justru jika menyangkut keluarga mereka, keinginan mereka, cita-cita mereka, harapan-harapan mereka, atau hal-hal sepele di sekitar mereka. Sebab mereka akan merasa diperhatikan, tidak sekedar dijadikan objek komunikasi.

Demikianlah tujuh pedoman berkomunikai bagi para pedagang, semoga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga para pedagang bisa meraih kesuksesan dalam usaha, mempertahankan apa yang dimiliki, mengembangkan dalam taraf yang optimal, menghasilkan keuntungan yang maksimal. Dengan itu semua para pedagang mampu bertahan dalam keadaans sesulit apapun, baik krisis tanpa kunjung akhir seperti sekarang atau lebih parah lagi, dan begitu krisis berlalu, sang pedagang bisa mendapatkan hasil yang lebih besar, siapa tahu dapat mentransformasikan diri menjadi pengusaha yang sukses.

 

Kejujuran Modal Utama dalam Berdagang

Suatu saat Gendut naik bus Patas jurusan Surabaya Banyuwangi. Begitu duduk di atas bus, para pedagang menawarkan berbagai dagangan. Mulai majalah, koran, fulpen, lampu, walkman, sampai kaca mata.

“Mas, saya punya kaca mata bagus nih!” Gendut berusaha tidak mempedulikan. “Di samping jual kaca mata, saya juga jam tangan bagus,” Gendut melirik sekilas. Suatu sikap yang keliru, karena pedagang tersebut menganggap bahwa dirinya tertarik.

“Kalau nggak mau yang ini, saya punya yang lebih bagus,” dia memperlihatkan jam lainnya.

“Tidak, terima kasih!”

“Ini cuman Rp. 75.000,-.”

“Tidak, saya tidak tertarik.”

“Bisa ditawar.” Pedagang itu terus memaksa, meski berulang kali Gendut menyatakan tidak. Berhubung pada saat itu dia membawa keris yang dititipkan kakek untuk diberikan pada Bapaknya, timbul akal bulus.

“Tidaaak!” teriak Gendut sambil mengeluarkan keris dari balik tas. Rupanya manjur juga, dia melangkah pergi.

Ilustrasi di atas menggambarkan bahwa penjual tersebut berusaha memaksa pembeli meskipun pembeli tidak berkenan. Ini merupakan salah satu cara kotor yang dilakukan seorang pedagang dengan target barangnya laku.

Masih banyak cara kotor yang dilakukan para pedagang seperti menambah kawat di timbangan sehingga berat barang bisa dikurangi, lewat cara ini pedagang bisa memperoleh laba tambahan. Modus pencurian timbangan membuat pembeli tidak menyadari bahwa barang timbangannya berkurang.

Cara lain yaitu pedagang tradisional khususnya di Pulau Madura menggunakan takaran 1 gantang sama dengan 2,5 Kg. Bila penjual menginginkan laba lebih maka takarannya tidak dipenuhkan hingga kalau ditimbang kembali tidak akan sesuai, dari situ penjual memperoleh laba tambahan, meskipun disadari caranya keliru. Para pedagang yang menerapkan cara yang haram ini, harus memperhatikan peringatan Allah dalam firmanNYA: “Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang- orang yang merugikan. Dan timbanglah dengan timbangan yang lurus.” (Q.S.As-Syuara:181-182)

Bagi pedagang sayuran, ketimun dan buah, terkadang yang jelek ditaruh di bawah, yang bagus ditaruh di atas, sehingga pedagang yang kulaan ke juragan menjadi merugi, yang otomatis merugikan pembeli nantinya.

Bagi pedagang konfeksi, sandal dan sepatu, cara memperoleh laba tambahan yakni, dengan bersilat lidah alias berbohong salah satu contoh waktu mengambil barang di grosir Rp. 15.000,- terus dia bilang kepada pembeli “wah kulaannya tidak boleh Rp. 20.000,- Mas ..!” Padahal ketika pembeli menawar Rp. 20.000,- langsung dikasih, di sini jelas sekali dia berbohong.

Memang untuk zaman edan ini, menemukan pedagang jujur seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW sangat sulit, tapi paling tidak ada upaya dari kalangan pedagang untuk bersikap jujur, meskipun terkadang terlanjur berbohong tanpa sengaja, bila terlanjur banyak beristigfar saja. Bila tidak mengindahkan etika berdagang tersebut, kita akan memperoleh implikasi negatif sendiri.

Menimbang dengan timbangan yang baik, tawar menawar dengan baik, berupaya tidak berbohong, berusaha memperoleh laba dari penjualan secara fair, jujur dan baik, Insya Allah makanan yang dimakan yang berasal dari laba berdagang tidak akan menjadi sekam dalam tubuh anak cucu kita masing-masing. Kalau yang mereka makan dari barang yang kotor dan haram, mau kita apakan generasi muslim pada masa mendatang.

Perlu diingat bagi para pedagang bahwa kejujuran adalah modal yang paling berharga dan sangat mahal harganya. Dengan bersikap jujur, mereka akan mendapatkan kepercayaan pembeli, menjadikannya sebagai pelanggan sampai masa mendatang, suatu bentuk keuntungan yang bertahan lama lebih baik dari keuntungan besar sesaat, yang menimbulkan kehilangan pelanggan. Tentu dalam menerjemahkan sikap jujur tidak harus menjibplak sama seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad, para pedagang perlu menyesuaikan dengan keadaan yang ada. Pada masa Nabi Muhammad berdagang, beliau menerangkan bahwa kulaannya sekian terserah pembeli mau memberikan keuntungan berapa. Zaman sekarang tidak mungkin seperti itu. Tapi inti ajaran beliau agar bersikap jujur dalam tawar menawar harus dipegang secara utuh, mengenai penerjemahannya di lapangan disesuaikan dengan keadaan.

Kejujuran dalam segala jenis usaha yang dikelola para pedagang, wirawasta, dan pengusaha akan menentukan kesuksesan usaha yang dikelola, sebab nilai kejujuran dalam usaha akan memberikan kepuasan pada pembeli, pelanggan, pemakai produk dan konsumen, sehingga memberikan keuntungan yang besar pada mereka.

Pada masa mendatang, yang mana persaingan semakin bertambah keras, dunia usaha bertambah sulit, dan kehidupan menjadi tak menentu, maka nilai kejujuran dalam usaha perdagangan dan bidang-bidang lainnya, memegang peranan utama bagi kesuksesan usaha yang dikelola. Kejujuran mendatangkan keuntungan yang besar, konstan, langgeng pada masa mendatang, sebab menimbulkan rasa puas pada pembeli, rasa ingin membeli kembali karena dihargai, dan merasa diperlakukan dengan baik. Maka para pedagang yang tidak jujur, bersiaplah untuk gulung tikar, digantikan para pedagang yang jujur.

 

Menerangkan Kondisi Barang yang Sebenarnya

“Boleh lihat sepatunya, Mas?” pinta seorang pembeli.

“Silahkan! Yang mana?” Gendut bertanya sopan.

“Itu yang sebelah atas!” jari tangan pembeli mengarah pada sepatu yang digantung.

“Baiklah, akan saya ambil!” Gendut mengambil sepatu tersebut, ketika diambil ternyata ada sebagian kainnya yang dimakan tikus, sebenarnya dia bisa menyembunyikan kerusakan tersebut, tapi dia tidak melakukannya. “Maaf, barang ini ada yang rusak sedikit.”

“Mana?” tanya pembeli. Gendut menunjukkannya pada pembeli.

“Apa sampean mau mencari yang lain saja.”

“Tidak usah! Saya suka yang ini asal harganya murah karena ada yang rusak sedikit.”

“Itu terserah sampean. Saya bisanya menjual seharga Rp. 30.000,- karena ada yang rusak, maka Rp. 25.000 tak apa.”

“Masih terlalu mahal, bagaimana jika Rp. 20.000,-“ usul pembeli. Gendut berpikir sejenak, sepatu tersebut telah lama ada di dagangannya, jika dikasih dia rugi Rp. 2.000- karena kulaannya Rp. 22.000,- tapi karena mempertimbangkan tidak bisa dikembalikan ke juragan lagi, maka dia memutuskan untuk memberikannya. Pembeli merasa puas karena membeli barang lebih murah walau ada sobeknya sedikit, sedang pedagang puas, sebab barang yang rusak tetap bernilai meski merugi dari modal.

Sikap Gendut merupakan sesuatu yang jarang dalam keseharian dunia dagang di sekitar kita, sebab sudah menjadi pandangan umum bagi para pedagang bahwa mereka harus menyembunyikan kelemahan dan sisi buruk dari produk yang ditawarkan, serta harus menampilkan kelebihan-kelebihannya agar supaya dagangan laku terjual. Maka menemukan padagang seperti gendut seperti mencari jarum di tumpukan jerami, akan sulit mendapatkannya.

Sesulit apapun mencari jarum dalam jerami, tetap harus dicari, saat ditemukan akan menjadi barang berharga yang tersimpan abadi dalam kenangan. Demikian juga sikap Gendut yang lain cukup menarik, akan mendatangkan kepuasan batin bagi dirinya dan pembeli, di samping keuntungan dalam jangka panjang akan diperoleh. Pembeli tersebut akan datang lagi lain kali, karena sudah memiliki kepercayaan dasar terhadap Gendut, sebuah kepercayaan yang sulit diperoleh. Selama ini dunia dagang identik dengan kebohongan, maka kejujuran dianggap barang mahal yang antik.

Kesadaran Gendut harus disosialisasikan dalam berbagai sektor kehidupan, khususnya di dunia perdagangan. Penyebarannya akan membuka paradigma baru terhadap pedagang Muslim khususnya, mereka akan berhasil berdagang dengan kejujuran bukan kebohongan. Kebohongan akan mendatangkan keuntungan jangka pendek, sedang kejujuran atau menjelaskan kondisi sebenarnya dari barang yang dijual, akan memberikan keuntungan jangka panjang yang besar.

Menerangkan kondisi barang yang sebenarnya juga jadi barang langka dalan dunia usaha kita. Sebagai bukti; orang dengan berani menjual bakso tikus yang dibenci siapapun, barang-barang kadaluarsa di jual bebas di pasar, bus kota dan berbagai tempat lainnya, obat-obat yang dibuang di tong sampah dipungut untuk dijual kembali, orang-orang menggunakan zat-zat kimia yang berbahaya terhadap berbagai jenis makanan tanpa rasa berdosa sedikitpun, para pedagang menjadikan kebohongan sebagai senjata agar barang laku terjual. Kenyataan-kenyataan di atas menunjukkan bahwa prilaku masyarakat kita tidak sekedar menjauh dari nilai-nilai agama, malah bisa membunuh sesama manusia secara perlahan-lahan, suatu prilaku yang luar biasa gilanya.

Dengan tidak menerangkan kondisi barang yang sebenarnya, orang-orang yang membelinya akan merasa dirugikan. Jika salah satu pihak dirugikan, barang yang dijual bisa haram, dan akan menimbulkan ketidakpercayaan pembeli, yang secara otomatis memberikan kerugian pada pedagang. Secara moril saja, hati tidak akan tenang menjual barang yang rusak tanpa menerangkan keadaan sebenarnya. Apalagi menjual barang yang kadaluarsa untuk makanan, mengandung zat kimia, obat-obatan dari tong sampah dan lain sebagainya. Mau dikemanakan generasi Muslim pada masa mendatang?

Memang dengan menerangkan keadaan barang yang sebenarnya membuat barang tidak laku terjual, yang bisa merugikan dalam jangka pendek. Kerugian ini tidak ada artinya jika dihitung dengan keuntungan yang didapat dengan mendapat kepercayaan dari pembeli. Kini tinggal dua pilihan bagi pedagang; apakah memilih keuntungan jangka pendek atau keuntungan jangka menengah dan panjang. Dengan memilih yang terakhir kelangsungan usaha akan terjamin, sedang memilih yang pertama kelangsungan usaha tidak terjamin.

Inilah indahnya prinsip berdagang dalam Islam, antara pembeli dan pedagang sama-sama diuntungkan, sehingga sama-sama menikmati hasil usaha yang halal. Karena halal, maka yang dimakan menjadi energi positif untuk bekerja maksimal dibidang yang digelutinya dan menghasilkan karya terbaik, sebaliknya akan berdampak buruk terhadap kreativitas diri, mematikan motivasi, menimbulkan penyakit fisik dan mental.

Hal ini sesuai hadits Nabi Muhammad SAW; “orang muslim adalah saudara sesama muslim, maka tidaklah halal jika seorang muslim menjual barang yang ada aib (cela/sobek/ciri) pada saudara muslim lainnya sampai dia mau menerangkan keadaan barang yang sebenarnya.” (HR. Ahmad)

 

 

 

 

Perhitungan Salah Satu Kunci Sukses dalam Berdagang

Allah berfirman: “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (Q.S Al-Israa’:29)

Sosialisme gagal total bersamaan dengan runtuhnya Uni Soviet dan Yugoslavia, jadilah sekarang sistem kapitalisme diakui sebagai sistem hidup masyarakat abad 21. Dalam sistem kapitalis struktur masyarakat diperjelas dengan kaya dan miskin, orang-orang marginal tersingkirkan bila tak mampu berkompetisi, berpotensi dan berprestasi, sedang masyarakat pemilik modal alias kapitalis mengusai sentral-sentral kehidupan manusia. Mereka dapat menentukan kebijakan politik tertentu sesuai keinginannya dengan memanfaatkan materi yang dimiliki.

Pengaruh dari kapitalisme ini menimbulkan kesenjangan antara yang kaya dengan yang miskin, kekayaan dianggap tujuan utama dalam hidup, sehingga orang-orang mengejar kekayaan dengan banyak cara, tak peduli apakah cara yang ditempuh baik atau tidak, tak peduli haram atau halal, tak peduli sesuai etika dalam bermasyarakat atau tidak, yang penting hidup kaya dengan segala fasilitas hidup. Oleh karena cara mendapatkannya kurang baik, maka dalam mengeluarkan uang tersebut jadi sembarangan dan royal tanpa perhitungan.

Gaya hidup masyarakat kelas menengah dan atas kita, demikian wah dan trendi. Menikmati gaya hidup yang berlebihan lewat pesta, mobil mewah, berpakaian serba Barat dengan merk-merk berkelas, berjudi menjadi kebiasaan, dan kehidupan malam dianggap kesenangan hakiki. Ketika krisis moneter menerpa tanpa mengenal kata akhir, mereka kalang kabut, usaha yang dikelola keluarganya bermasalah, dan sebagian di antaranya gulung tikar.

Masa krisis ini seharusnya menyadarkan rakyat Indonesia dengan latar belakang kelas yang berbeda yakni kelas atas, menengah dan bawah, bahwa situasi sulit yang sedang memayungi berbagai sektor kehidupan, khususnya kehidupan dunia usaha di Indonesia. Dengan menyadari hal ini, maka segala lapisan masyarakat dituntut hidup hemat, sederhana, dan memperhitungkan antara pengeluaran dengan penghasilan agar seimbang.

Dalam menikmati hasil jerih payah kita sendiri, berupaya dilakukan untuk mencukupi seluruh kebutuhan hidup yang primer dulu, sedang yang skunder ditunda sementara waktu, dan mementingkan kelangsungan usaha dibanding yang lainnya. Di sinilah urgensi “Perhitungan” dalam mengolah uang yang merupakan penghasilan halal. Maksud “perhitungan” berbeda antara kebutuhan kelas bawah, menengah dan atas yang penting disesuaikan dengan kebutuhannya masing-masing. Sebab cara mengkonsumsi makanan, gaya hidup, dan kebiasaan yang mereka lakukan berbeda.

Untuk kelas bawah yang penghasilannya hanya cukup untuk hari ini, sedang esok masih dicari. Prinsip untuk sekedar hidup harus dipegang teguh, dengan tidak lupa untuk berupaya menyimpan seadanya.

Bagi pedagang yang penghasilan bersihnya mencapai Rp. 20.000,-, ke atas perhari, maka diupayakan belanja perhari Rp. 10.000,-, sisanya yang lima ribu rupiah disimpan untuk mengantisipasi untuk kebutuhan mendadak keluarga, sebab dalam budaya masyarakat kebutuhan mendadak cukup banyak seperti perkawinan, persalinan, menjenguk orang sakit, melayat orang mati, sisa uang lima ribu rupiah disimpan untuk investasi barang. Dengan tidak melupakan fakir miskin, minimal bersedekah seminggu sekali.

Sedang golongan menengah dengan penghasilan seratus ribu ke atas perhari maka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari lima puluh ribu disesuaikan dengan gaya hidupnya, sedang sisanya dibagi dalam bentuk memenuhi kebutuhan anak, kebutuhan mendadak, dan sebagian untuk simpanan, tentu tidak boleh lupa mereka harus bersedekah minimal seribu rupiah perhari.

Untuk golongan kelas atas, dengan penghasilan satu juta rupiah ke atas perhari, Perhitungannya sama, tinggal membagi-bagi dalam bentuk kebutuhan sehari-hari, kebutuhan anak, kebutuhan gaya hidup, simpanan, sedekah dan investasi.

Klasifikasi kelas ini berdasarkan penghasilan yang diperoleh setiap hari, tentu bisa dikembangkan dengan klasifikasi penghasilan bulanan misalnya. Kriteria yang ditetapkan penulis, barang kali banyak kekurangan, cuman paling penting dari sekedar mempermasalahkan klasifikasi ini adalah bahwa penghasilan yang kita peroleh berapapun besarnya harus dikelola dengan baik. Jangan terjebak pada pemenuhan setiap keinginan yang muncul dalam diri kita, keinginan tak mengenal batas, berapapun penghasilan kita bila sekedar memenuhi keinginan tidak akan pernah mencukupi. Maka kosa kata penting dalam masalah perhitungan ini ialah mengendalikan keinginan. Penghasilan kecil bisa menjadi besar, bila dikelola dengan baik. Sebaliknya penghasilan besar bisa menjadi kecil, bila tidak dikelola dengan baik.

Berdasarkan klasifikasi di atas golongan kelas menengah ke atas memiliki kewajiban moril guna membantu masyarakat miskin, yatim piatu, janda terlantar, gelandangan dan orang-orang yang tergusur. Bila kewajiban moril ini tidak dilaksanakan hakekatnya mereka bersenang-senang di atas penderitaan orang lain, sehingga wajar mereka memperoleh efek langsung berupa kesedihan, penyakit, ketidakbahagiaan, kesepian, keterasingan di tengan keramaian. Di samping kewajiban zakat harta yang dikeluarkan setiap tahun, mereka juga memiliki kewajiban untuk bersedekah setiap saat melihat kebutuhan orang lain yang ada di sekitarnya.

Klasifikasi ini disesuaikan dengan harga kebutuhan pokok yang ada di lingkungan masyarakat Bondowoso yang mana harga berbagai kebutuhan pokok termasuk murah, hingga pembagian kelas sosial di atas mungkin tepat, tapi bagi masyarakat metropolis kota-kota besar lainnya berbeda kalkulasinya. Dalam masalah kelas sosial akan diperinci dalam bab V nantinya. Inti permasalahannya adalah perhitungan yang matang menyangkut pendapatan dan pengeluaran keuangan setiap harinya, dengan memilah-milah antara uang untuk belanja, investasi, simpanan dan sedekah, sehingga kelangsungan hidup pada masa mendatang menjadi terjamin, meski kebutuhan masa depan tidak dapat dipredikasi secara pasti.

Sungguh ironis sebagian umat Islam berlomba-lomba untuk menunaikan ibadah haji berulang kali, bahkan ada yang sampai lima belas kali, padahal di sekitarnya fakir miskin, orang yang hidup pas-pasan, yatim piatu, janda-janda terlantar dibiarkan begitu saja. Apakah jumlah yang banyak dalam berhaji menjamin mereka masuk surga? Belum tentu, bahkan bisa berakibat sebaliknya, sebab membiarkan orang-orang dalam kesusahan adalah dosa. Haji yang wajib sekali dalam seumur hidup. Jika kita merindukan tanah suci Makkah atau merindukan Allah lebih baik dieksperesikan dalam bentuk perhatian yang tulus pada hambaNya yang berada dalam kehidupan yang serba kekurangan. Mungkin ini lebih bermakna dari sekedar melaksanakan haji berulang kali. Renungkanlah umat Islam!

 

Mengembangkan Usaha Pelan-Pelan

“Bagaimana perkembangan usaha bisnismu, Ndut?” tanya ceking pada sahabatnya Gendut yang mengelola peternakan ayam.

“Fantastis, man!” jawab Gendut penuh rasa bangga. “Usahaku berkembang dengan pesat.”

“Aku penasaran ingin tahu ceritamu.”

“Bayangkan, awal mengelola peternakan ayam aku sudah memiliki 500 ekor ayam bertelur, modalnya kudapat dari orang tua dengan cara menjual sepeda motor. Dalam waktu singkat berkembang menjadi 2000 ekor.”

“Wow, hebat sekali!” puji Ceking.

“Siapa dulu?” sambil memperabiki kerahnya menunjukkan sikap sombong, dengan tenang kakinya disilangkan di depan sahabatnya.

“Bagaimana dengan keuntungannya?”

“Keuntungan bersih sekitar Rp. 50.000,- setiap hari, bahkan bisa lebih. Suatu pendapatan yang besar bukan?” Gendut mengusap kumisnya yang tidak teratur.

“Rp. 50.000,- dalam sehari, sebulan berarti Rp. 1.500.000,- X 12 bulan = Rp. 18.000.000,” Ceking berusaha menghitung-hitung secara kasar, maklum di pondok dulu dia adalah ahli matematika. “Berarti dalam dua atau tiga tahun kau bisa naik haji dengan orang tuamu.”

“Itu masalah kecil, aku ingin mengembangkan usaha sampai besar, hasilnya langsung akan kuinvestasikan, sehingga yang kukelola akan bertambah besar, dan aku menjadi pengusaha ayam yang sukses. Ha ha ha!” Gendut tertawa, perutnya bergoyang-goyang, dia gembira sekali.

“Menurutku ada yang janggal!” Ceking nyeletuk membuat Gendut menghentikan tawanya.

“Maksudmu?”

“Perkembangan usahamu terlalu pesat, menurut hukum alam sesuatu yang berkembang terlampau pesat akan berakibat buruk. Dari ayam 500 jadi 2000 dalam waktu relatif singkat. Ini tidak masuk akal bagiku, sebab sepengetahuanku, usaha apapun akan langgeng dan menguntungkan bila dikelola secara hati-hati dan pelan-pelan.”

“Kau kan hanya jadi pengamat, bukan peternak potensial sepertiku,” nada suara Gendut agak meninggi. “Pendapatmu bukan sebagai pelaku sehingga bisa di abaikan.”

“Ta…pi….”

“Mengapa tidak kita nikmati telur ayam rebus ini, mari silahkan!” Gendut mengalihkan perhatian pada hal lain. Mereka asyik menyantap telur rebus, Ceking malah mampu melahap lima butir telur.

Gendut berjalan dengan semua rencana dan ambisinya tanpa berusaha mendengarkan nasihat sahabatnya, bisa ditebak bagaimana akhirnya. Peternakan yang besar dengan jumlah ayam yang besar, perlahan mendatangkan masalah dalam penyediaan pakan, ketika pakan diperoleh harganya mulai merangkak naik, sebagian ayam ada yang mati karena pengaruh perubahan cuaca atau hal lainnya, sehinga tidak sampai dua tahun usaha yang dibanggakan gendut jatuh bangkrut. Ayam-ayamnya tinggal 500 ekor saja, hutang di sana sini menumpuk tidak mampu dibayar, dalam keadaan terdesak terpaksa orang tuanya turun tangan dengan menjual yang dimiliki seperti emas, TV dan aset lainnya. Usaha yang diharapkan bisa membahagiakan orang tuanya, justru merugikan dan menyengsarakan mereka.

Dalam beternak, berdagang atau usaha lainnya, keberanian berinvestasi adalah salah satu faktor yang membawa kesuksesan, namun keberanian yang dimaksud adalah keberanian berinvestasi disertai perhitungan yang matang dari segala aspek, bukan sekedar dari salah satu aspek. Usaha Gendut berkembang sangat pesat di luar kewajaran, aspek yang dilihat hanya keuntungan yang besar dengan jumlah ternak ayam yang besar pula, sedang aspek lain seperti ketersediaan pakan, turun naiknya harga pakan dan telur, perubahan cuaca, pengaruh persaingan dari peternak lain, dan daya beli masyarakat, tidak masuk dalam perhitungan, sehingga kebangkrutan menjadi keniscayaan.

Hikmah lain yang bisa dipetik adalah dalam mengembangkan usaha apapun, baik pertanian, peternakan, perikanan dan khususnya perdagangan, harus dilakukan secara pelan-pelan. Artinya kita harus berinvestasi terhadap barang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, memperhatikan kemampuan daya beli mereka, apa yang paling laku terjual dan strategi apa yang digunakan supaya laku terjual sehingga mendatangkan keuntungan.

Dalam kondisi pasar ramai, biasanya bulan Juni-Juli tahun ajaran baru sekolah dan puasa, kita membutuhkan modal tambahan agar barang-barang yang dijual lebih bermacam-macam dan lengkap, kita bisa meminjam uang lewat ketua arisan yang biasanya ada di pasar tradisional atau pinjam ke keluarga atau pinjam ke Bank tapi jangan terlalu banyak, sesuaikan dengan kebutuhan. Bila sanggup meminjam 2 juta dan diperkirakan akan mampu membayar, maka pinjamlah 2 juta, jangan lebih. Kita yang lebih tahu kemampuan sendiri dengan melihat kondisi pasar, daya beli masyarakat, perubahan yang terjadi di masyarakat -musibah gagal panen bisa melemahkan daya beli masyarakat-, dan aspek lainnya yang berkaitan dengan kemapuan kita untuk membayar.

Begitulah kita jalani rutinitas dagang sehari-hari, lama ke lamaan omset dagangan kita akan meningkat perlahan, barang semakin bermacam-macam dan lengkap, dan keuntungan kita akan semakin besar. Jika sudah mampu mengembangkan usaha sampai maksimal, boleh berpikir memperbesar toko atau membeli toko lain untuk meluaskan usaha, mencari peluang untuk menjadi grosir jika bisa, dan investasi di bidang lainnya yang menguntungkan, dengan tetap pada pijakan awal yakni mengembangkan usaha secara pelan-pelan dan penuh perhitungan matang.

Perkembangan bisnis secara perlahan akan membuat para pedagang mampu menghadapi segala kesulitan yang dihadapi dengan mencari solusi pemecahan yang terbaik. Dua tahun terakhir daya beli masyarakat menurun tajam, kebutuhan pokok semakin mahal, dan krisis ekonomi bertambah parah. Seorang pedagang yang mengembangkan usaha secara pelan-pelan dan penuh perhitungan akan memahami apa yang harus dilakukan yakni menjaga omset barang yang ada, tidak berusaha berinvestasi modal baru, tidak berniat meminjam uang di Bank, tidak akan berusha membeli toko baru, dan menjual barang yang diperkirakan laku dalam jangka pendek saja, sedang simpanan di Bank jika ada, tetap dibiarkan di sana, menunggu waktu yang tepat untuk diinvestasikan.

Satu keuntungan masa depan bagi para pedagang yang mengembangkan usaha pelan-pelan adalah akan bertahan dalam situasi serumit apapun. Jika pedagang yang lain bangkrut karena tak mampu menghadapi dan mencari solusi terbaik saat sulit, maka pedagang yang mengembangkan usaha pelan-pelan akan mampu tetap bertahan, sehingga saat krisis berlalu, mampu mengembangkan usaha sampai taraf maksimal. Orang-orang inilah nantinya yang akan menjadi emberio dari wiraswasta muslim yang berhasil di masa mendatang, sehingga para pedagang Muslim di seluruh Indonesia bisa bangkit, dan menunjukkan eksistensi dirinya.

Fondasi dasar sudah kuat, tiba saatnya untuk mengembangkan sayap yakni mengembangkan usaha lebih besar lagi. Jika memakai tahun sebagai acuan, 5 tahun pertama adalah untuk mempertahankan dan melengkapi usaha, 5 tahun selanjutnya adalah mengembangkan usaha yang sama di tempat lain, 5 tahun berikutnya meningkatkan diri menjadi grosir, dan 5 tahun mendatang berusaha menjadi pengusaha yang memproduksi barang. Tahapan-tahapan perkembangan berlangsung secara pelan tapi pasti. Jika tidak mampu mengembangkan diri dari pedagang eceran menjadi grosir, dari grosir menjadi pengusaha, kita tidak usah memaksakan diri, sebab dengan memaksakan diri justru menikam diri sendiri, artinya kita akan salah jalan jika memaksakan sesuatu yang tidak bisa dilakukan. Mungkin sampai di sanalah rizki yang diperoleh dari Allah, syukuri saja yang apa yang diperoleh, dengan senantiasa berusaha berbagi pada orang-orang yang kekurangan, siapa tahu rizki ditambah Allah.

Bersikap hati-hati, pelan-pelan dan penuh perhitungan tidak hanya bermanfaat bagi para pedagang saja, melainkan seluruh lapisan masyarakat dengan berbagai aspek usahanya, sebab itu akan membuat mereka berhasil menekuni usaha yang dilakukan. Seluruh umat Islam dituntut mampu mensinergikan prinsip-prinsip di atas dalam kehidupan sehari-hari agar mereka mampu bertahan di saat krisis, dan menjadi orang-orang yang mampu mengembangkan diri sampai taraf maksimal saat keluar dari krisis. Sehingga umat Islam tidak sekedar menjadi masyarakat konsumen, melainkan pelaku usaha dan produsen, tidak cuman menjadi masyarakat penonton melainkan menjadi yang ditonton, dan tidak hanya menjadi figuran melainkan aktor utama, entah kapan hal ini akan terwujud.

Apa yang dijelaskan di atas sesuai hadits Nabi Muhammad; Apabila engkau menghendaki suatu urusan, maka hendaklah dilakukan dengan pelan-pelan, sehingga Allah melapangkan (mental) dan menemukan jalan keluar (HR. Ibnul Mubarok)

 

Cara Bersaing yang Sehat

“Mau beli apa, Mas?” tanya Ceking pada seorang pembeli.

“Tas ini bagus juga, berapa harganya?” pembeli balik bertanya, Ceking menjadi senang karena pembeli ingin membeli tas dagangannya.

“Ini harganya Rp. 25.000,-“

“Mahal sekali!” tanpa ekspresi pembeli pergi ke pedagang sebelahnya, tentu Ceking agak marah.

“Tawar kenapa, jangan asal pergi begitu!” dengan suara agak meninggi, tapi pembeli tak menghiraukannya.

“Tas ini berapa?” tanya pembeli pada Gendut, pedagang sebelah Ceking.

“Rp. 17.500,-“ karena sudah tahu bahwa pembeli tersebut pergi tanpa menawar dengan harga Rp. 25.000,- maka Gendut menurunkan harga tawaran pertama.

“Tidak boleh Rp. 10.000,-“ sahut pembeli.

“Tentu tidak boleh, ini pasnya Rp. 15.000,-“ jawab Gendut.

“Rp. 12.500,- boleh?” tanya pembeli.

“Harganya sudah saya paskan.”

“Aku mencari ke tempat lain saja,” pembeli pergi ke Ceking kembali, di tempat Ceking dia menawar harga yang sama, ketika Ceking hendak memberikannya karena merasa panas dengan cara Gendut menawarkan barang, Gendut memanggil pembeli tersebut dan memberikan barangnya dengan harga Rp. 12.500,-. Begitu pembeli pergi, terjadilah percekcokan antara kedua pedagang tersebut, sehingga menimbulkan kegaduhan di pasar yang menarik perhatian banyak orang.

Pertengkaran-pertengkaran kecil sering terjadi di pasar tradisional khususnya, meski penyebabnya sepele, tapi terkadang menjadi besar. Pokok masalah yang sering dipertengkarkan adalah memperebutkan pembeli atau pelanggan.

Berhubung pokok masalah ada pada cara memperebutkan pembeli, maka aturan main harus dibuat antar sesama pedagang, dan aturan main yang diajarkan Nabi adalah “Janganlah sebagian di antara kalian menjual –sesuatu- atas penjualan orang lain,” Imam Bukhori dalam keterangannya di Kitabul Buyuu’ menyimpulkan bahwa tidak boleh menjual barang atas penjualan pedagang yang lain, tidak boleh menawar atas penawaran pedagang lainnya, hingga pedagang tersebut mengizinkan. Dari keterangan ini bisa dibuat kode etik singkat cara bersaing yang sehat.

Pertama: tidak boleh menjual barang atas penjualan pedagang lainnya. Dalam kasus Gendut dan Ceking, Gendut bersalah karena membiarkan pembeli sampai menawar barang Ceking padahal dia ingin menyepakati harganya, sedang Ceking bersalah sebab menyepakati harga dengan pembeli dilandasi rasa panas pada sikap Gendut, keduanya sama-sama menjual barang pada penjualan orang lain, sehingga terjadi pertengkaran. Seharusnya Gendut memperjelas apakah ketidaksepakatan harga berarti dia mengizinkan pembeli untuk menawar di tempat lain, jika pembeli sudah menawar di tempat lain, dia tidak boleh memanggilnya. Ceking harus paham bahwa pembeli tersebut mempermainkan pedagang dengan cara menawar barangnya, padahal sebelumnya melengos pergi saat ditawari harga mahal, maka sebagai pedagang yang baik dia tidak mengasih barang yang ditawar pembeli tersebut, meski harganya lebih mahal.

Kedua; tawar menawar dilakukan sampai selesai, bila tidak sepakat, biarkan pembeli pergi tanpa memanggilnya kembali. Gendut memanggil pembeli yang dalam masa kesepakatan harga dengan Ceking, sehingga menimbulkan pertengkaran, seharusnya Gendut tidak boleh memanggilnya kembali, sebab dia telah membiarkannya pergi.

Ketiga; bila seorang pembeli memegang barang seorang pedagang di areal toko pedagang tersebut, pedagang di sebelahnya tidak boleh memanggil, sebab dengan memanggil pembeli berarti dia telah merampas hak pedagang pertama tadi, sehingga bisa menimbulkan kesalahpahaman.

Keempat; Bila seorang pembeli dalam proses tawar menawar dan belum selesai proses tersebut, pedagang yang lain tidak boleh menawarinya barang. Pedagang pertama harus sadar bahwa saat pembeli pergi dari areal tokonya, maka pembeli berhak mencari di tempat lain, dia harus menyelesaikan tawar menawar sebelum pembeli pergi dari areal tokonya.

Kelima; pembeli meski dianggap raja tidak boleh menawar di dua tempat berbeda yang bersebelahan dengan berusaha mengadu antar pedagang lewat permainan harga atau hal lainnya. Pembeli harus memiliki etika tawar menawar sendiri agar tidak menimbulkan perselisihan antar pedagang. Perjelas dulu terjadi kesepakatan atau tidak, bila tidak boleh menawar di pedagang lain di sebelahnya.

Pada masa mendatang para pesaing bertambah banyak seiring semakin banyaknya jumlah penduduk, sedang berbagai bidang lain seperti industri, kerajinan, pertanian, dan peternakan belum mampu menampung tenaga-tenaga kerja baru, sehingga orang yang berdagang dengan menjual barang yang sama bertambah banyak pula. Dalam persaingan yang bertambah keras diperlukan strategi khusus, taktik jitu, dan langkah-langkah yang tepat agar mampu bertahanan, bahkan bisa mengembangkan usaha, dengan syarat tetap berusaha bersaing secara sehat. Pesaing jangan dijadikan musuh, melainkan sarana memperbaiki diri, memperbaiki cara menjual, memperbaiki cara melayani pembeli, memperbaiki etalase toko, memperbaiki cara membungkus barang, dan memperbaiki kelemahan lainnya.

Demikianlah beberapa aturan main dalam proses jual beli yang Islami dengan memegang prinsip sama-sama tidak dirugikan dan sama-sama menguntungkan kedua belah pihak. Islam membuat aturan main dalam perdagangan supaya umatnya menjalani usaha perdagangan dengan tenang, damai, tentram, dan tetap dengan hasil yang menguntungkan. Selamat menegakkan aturan main!

Berkaitan dengan kode etik berjual beli, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Penjual dan pembeli sama-sama memiliki “khiyar” (untuk melanjutkan jual beli atau membatalkan) selama mereka belum berpisah, atau sampai mereka berpisah. Jika keduanya bersikap jujur dan terbuka, maka jual beli mereka itu diberkati; tetapi kalau mereka bersikap tidak jujur dan tertutup, maka akan dihapus keberkatan jual beli mereka.” (HR. Bukhari)

 

Lancar Lebih Utama dari Keuntungan Besar

Modal kecil dengan keuntungan besar adalah prinsip berdagang yang sudah kuno dan masih diterapkan para pedagang di tengah-tengah masyarakat. Prinsip tersebut bisa menjadi bumerang bila diterapkan sekarang, sebab persaingan usaha yang ketat, perubahan zaman, perubahan tingkah laku pembeli, dan pergeseran waktu membuat prinsip di atas menjadi kurang tepat. Mengapa demikian?

Pedagang yang memegang prinsip tersebut akan berusaha menjual barang dengan harga mahal, sehingga margin keuntungan diperoleh cukup besar. Dengan demikian, pembeli yang membeli barang tersebut akan kaget saat mengetahui bahwa tetangganya membeli barang yang sama dengan harga lebih murah. Untuk membuktikannya dia membeli barang berbeda di tempat tetangganya membeli, berpura-pura menanyakan harga jual barang yang dibelinya dari pedagang yang menjual malal, ternyata benar. Dengan kesimpulan baru tersebut, pembeli akan beralih pada pedagang kedua yang memberikan harga lebih murah dengan margin keuntungan yang lebih kecil, sehingga pedagang yang menjual lebih mahal perlahan-lahan kehilangan pembeli-pembeli potensialnya di masa mendatang. Prinsip apakah yang sesuai dalam konteks kekinian?

Kelancaran usaha dalam harian dengan margin keuntungan kecil lebih diutamakan dari jarang laku dengan margin keuntungan yang besar. Dengan prinsip kelancaran usaha lebih penting dari margin keuntungan yang besar, maka keberlangsungan usaha di masa mendatang bisa terjamin, malah bisa ditingkatkan ke taraf yang lebih baik. Pedagang yang memegang prinsip ini akan mengumpulkan keuntungan sedikit demi sedikit, memutar sirkulasi barang pada yang cepat laku, menghindari untuk menyetok barang yang kurang laku, dan menambah investasi pada sesuatu yang jelas lancar.

Prinsip ini juga akan menjadikan penghasilan yang diperoleh menjadi konstan, bahkan bisa lebih karena mampu menjaring pembeli-pembeli baru dan pelanggan-pelanggan baru yang beralih padanya karena mereka merasa bisa menjual kembali barang tersebut dan masih mendapatkan keuntungan. Kemampuan menjaring pembeli dan pelanggan baru, membuat usaha yang digeluti berprospek cerah di masa mendatang.

Ada seorang pedagang di pasar Wonosari Bondowoso yang memiliki kios atau stan yang kurang strategis, namun jumlah pelanggan-pelanggannya luar biasa banyak mengalahkan kios yang lebih strategis tempatnya. Dia memegang prinsip asal lancar walau margin keuntungan relatif kecil dan berusaha mencari sales atau jaringan juragan yang juga kulaan barangnya lebih murah, sehingga bisa menjual barang dengan harga yang lebih murah juga. Saya kagum padanya dengan strategi jitunya tersebut yang mampu membuat kios tidak strategis menjadi strategis dan diminati banyak pembeli.

Meski memegang prinsip lancar lebih utama dari keuntungan besar, dengan konsekwensi margin keuntungan yang diperoleh berarti kecil, namun tetap diusahakan agar tidak melanggar kode etik sesama pedagang yakni tidak merusak harga pasaran, ini bila dalam suatu pasar tertentu telah ada kode etik, baik tertulis atau tidak tertulis. Jika sebaliknya, berarti harga diserahkan pada mekasisme pasar, maka penerapan prinsip di atas bisa dilakukan secara bebas.

Umat Islam dituntut untuk mampu membaca realitas baru ini agar bisa meraih kesuksesan di bidang perdagangan, dengan prinsip ini mereka akan mampu bersaing dengan para pedagang lainnya yang lebih mapan dan kuat. Ada kecendrungan pedagang yang memegang prinsip ini agar dagangannya lebih ramai, salah satu contohnya adalah Fulan (bukan nama sebenarnya) pedagang peralatan dapur di Bondowoso yang omset dagangannya mengalahkan pedagang manapun juga. Dia mengambil barang dengan jumlah besar dari pabrik sehingga mendapatkan harga yang lebih murah dan menjualnya dengan harga murah pula, walau berarti margin keuntungan kecil, namun karena pelanggan-pelanggannya bertambah banyak, maka dia bisa sukses di bidang yang ditekuninya semenjak muda.

Kisah Fulan cukup menarik, memulai usaha sebagai pedagang kecil peralatan dapur kebanyakan, dengan ketekunan, kerja keras, perhitungan dan tawakkal, perlahan-lahan usaha yang kecil ditingkatkan dengan mencari hubungan langsung dari pabrik, bukan dari tangan kedua. Berhubung omset membesar, dia mulai berani meminjam uang di Bank untuk mengembangkan usahanya, sebab jumlah pelanggan dari sesama pedagang yang kulaan barang padanya bertambah banyak. Jadi banyak pedagang-pedagang kecil di berbagai kota kecamatan di Bondowoso kulaan di toko Fulan yang terkenal murah karena berprinsip margin keuntungan kecil, tapi usaha berjalan lancar. Omset hariannya berkembang pesat, sehingga barang yang diambil dari pabrik langsung berjumlah besar, bahkan dikirim dalam truk-truk besar dalam beberapa hari sekali. Strategi ini sangat berhasil mengikat para pelanggan, apalagi setiap hari raya, dia menyediakan “hadiah atau bonus” pada setiap pelanggannya sesuai besar kecilnya mereka kulaan barang. Fulan mampu meningkatkan diri dari pedagang kecil menjadi pengusaha menengah.

 

Mempermudah Proses Tawar Menawar

Nabi Muhammad bersabda; “Allah menyayangi orang yang bersikap murah hati (toleran) baik ketika menjual, membeli atau menagih (hutang).” (HR. Bukhari)

Dalam sebagian besar pasar swalayan dan pertokoan standar, biasanya harga sudah ditentukan, tawar menawar tidak diperlukan, tapi dalam pasar tradisional, pedagang kaki lima, emperan toko, pertokoan kecil, dan sebagian pasar swalayan, tawar menawar menjadi bagian dari proses kesepakatan harga. Memberi harga pas bisa menguntungkan pada pembeli sebab pembeli membeli dengan harga standar, dan bisa merugikan kala melihat orang lain mendapatkan barang yang sama dengan harga lebih murah karena pintar melakukan tawar menawar barang. Pembeli yang pintar mengadakan tawar menawar memilih berbelanja pasar tradisional, sedang yang tidak pandai tawar menawar cendrung berbelanja di pasar swalayan dan pertokoan standar. Harus disadari bahwa keunggulan pasar swalayan bukan hanya itu, melainkan terletak pada gengsi yang ditawarkan, kenyamanan berbelanja, bisa jalan-jalan sambil belanja, dan kebersihan yang terjaga, sedang pasar tradisional bisa sebaliknya, meski sekarang sebagian mulai dibangun kembali dan diperbaiki.

Sebenarnya membeli di pasar tradisional akan jauh lebih menguntungkan dan murah, sebab mereka tidak perlu repot-repot membayar karyawan yang mahal, sewa tempat yang besar, dan biaya-biaya lainnya yang tak kalah besar. Margin keuntungan untuk konfeksi jadi sekitar Rp. 2.000,- – Rp. 20.000,- sudah dianggap besar di pasar tradisional, sedang di pasar swalayan/departmen store keuntungan Rp. 10.000,- sampai Rp. 20.000,- merupakan margin keuntungan terkecil, sedang yang terbesar bisa berlipat-libapat perbarang. Di sinilah mengapa pasar tradisional tetap mampu eksis asal melakukan beberapa pembenahan eksternal seperti; memperbaiki kios/toko, membuat etalase yang bagus, menjaga kebersihan pasar secara rutin, menjadikan pasar nyaman untuk berbelanja, dan memberikan pelayanan yang terbaik.

Salah satu bentuk pelayanan yang terbaik adalah mempermudah proses tawar menawar. Artinya saat melakukan tawar menawar jangan terlalu rumit, tetapkan dulu berapa kisaran harga terendah dan margin keuntungan terendah yang ingin dicapai, ketika tawaran pembeli telah sampai pada hal tersebut, pembeli suruh menambah sedikit, jika tak mau langsung barangnya dibungkus dan dikasihkan. Di sini tawar menawar menjadi simpel, mudah, praktis dan memberi kenyamanan pada pembeli, sehingga mereka kembali lagi untuk membeli barang yang berbeda di lain waktu.

Dalam kulaan barang ke grosir atau juragan juga jangan terlalu berbelit-belit, ada anggapan umum di kalangan pedagang bahwa jika mengambil barang berbelit-belit, lakunya juga sulit. Lebih baik mempermudah proses pengambilan barang di grosir, sehingga diharapkan dagangan lebih mudah laku. Biasakan sebelum ke grosir mencatat yang akan dibeli, catatan berdasarkan barang yang laku cepat dan lancar, sehingga barang diambil sesuai kebutuhan pembeli. Pedagang yang tidak mencatat, akan salah kulaan barang, artinya barang yang diambil jarang laku dan butuh waktu lama agar laku terjual.

Usahakan dalam transaksi barang dengan juragan atau pembeli dilakukan secara tunai, jika mendapat hutang dari juragan harus dikelola dengan baik proses pembayarannya, sedang dalam memberi hutang pada pembeli harus hati-hati. Pedagang pemula sebaiknya tidak memberikan hutang pada pelanggan-pelanggannya, mereka masih dalam proses belajar dan belum tahu prilaku para pembeli, setelah mengetahui dengan jelas alamat rumah, kemampuan membayar hutang dan kapasitas pembeli, baru diberi hutang secara bertahap.

Demikianlah beberapa trik agar bisa menguntungkan dalam mengelola usaha perdagangan. Dengan mempermudah transaksi barang, kita akan lebih cepat mendapatkan keuntungan dan barang berputar lebih cepat pula, serta mendapatkan kepuasan pembeli. Kepuasan pembeli adalah omset paling mahal bagi para pedagang yang ingin sukses.

 

Sumpah Dapat Menghilangkan Barokah

“Bagus juga barang ini, berapa harganya?” tanya seorang pembeli.

“Rp. 75.000,- harga sesuai kualitas barang,” sahut pedagang.

“Kalau saya tawar Rp. 40.000,- boleh.”

Demi Allah belum boleh kulaannya, Bu! Sampean tahu sendiri, harga barang sekarang mahal-mahal,” ekspresi pedagang nampak serius.

“Jika tidak boleh, ya sudah,” pembeli hendak beranjak pergi.

“Tunggu dulu, Bu! Bisa ditambah sedikit, nggak?” rayu pedagang.

“Jika dikasih saya ambil,” pembeli melanjutkan langkahnya.

“Baiklah, buat penglaris tidak apa-apa,” pedagang membungkus barang, pembeli yang hendak beranjak pergi kembali lagi, dia membayarkan sejumlah uang.

Transaksi di atas jadi, salah satunya karena pedagang bersumpah atas nama Allah bahwa kulaannya tidak boleh, aneh bin ajaib, walau tidak boleh kulaannya, tapi kesepakatan harga bisa dicapai, secara kasat mata pedagang merugi karena menjual di bawah harga kulaan, padahal hakikatnya dia untung, sebab sumpah dijadikan sarana melariskan dagangan, sedang isi sumpahnya penuh kepalsuan agar tetap laku dengan harga yang pantas, kulaan yang sebenarnya Rp. 30.000,-. Hanya demi keuntungan Rp. 10.000,- rela melakukan sumpah palsu.

Sumpah palsu menjadi kebiasaan buruk sebagian masyarakat Indonesia dalam berbagai sektor kehidupan, mulai perdagangan, perikanan, peternakan, pertanian, dan pengadilan. Para hakim, jaksa, pengacara, terdakwa dan saksi bersumpah atas nama agama masing-masing bahwa tidak akan berbohong, kenyataannya sumpah yang mereka nyatakan palsu belaka, buktinya mafia peradilan tetap eksis, para koruptor banyak yang bebas, jika dihukum dengan hukuman yang ringan, banyak pengusaha nakal yang dihukum ringan, padahal tingkat kesalahannya sangat berat. Para pejabat bersumpah untuk mensejahterakan rakyat, membela kepentingan rakyat dan bersumpah atas nama Tuhan mereka masing-masing, lihatlah ketika pemilu selesai dan jabatan sudah diraih, nama rakyat hilang dari peredaran. Betapa banyak pejabat yang membela kepentingan sebagian kecil orang agar mendapatkan keuntungan yang besar, padahal jelas-jelas hal tersebut melanggar sumpah. Sumpah palsu dijadikan sarana justifikasi untuk mendapatkan keuntungan bagi diri sendiri.

Kembali masalah sumpah palsu di bidang perdagangan, memang saat mempraktekkannya terbukti memberikan keuntungan dalam jangka pendek, namun diingat dalam jangka menengah dan panjang, pedagang tersebut akan merugi. Pembeli yang membeli barangnya merasa dibohongi dengan sumpah palsunya, sehingga dia tidak mau membeli lagi, susahnya dia akan menceritakan hal itu pada orang lain. Jadi sumpah palsu memberikan keuntungan sesaat yang cepat hilang.

Seandainya pedagang tersebut seorang Muslim, dia akan merasakan pukulan yang telak terhadap hati nuraninya. Hati nuraninya memberontak karena demi uang Rp. 10.000,- harus melakukan sumpah palsu dan berbohong lagi. Pemberontakan yang membawa ketidaktenangan hidup. Lidah merasakan makanan dan minuman yang lezat dengan uang Rp. 10.000,- tapi hati nurani merintih pilu yang tidak bisa disembuhkan dengan segala macam kelezatan. Di sinilah efek yang ditimbulkan bagi orang yang bersumpah palsu.

Allah sebagai pencipta dan penguasa telah mengatur rizki hambaNYA, hambaNYA berusaha memperoleh rizki tersebut, ketika rizki yang akan diberikan Allah diminta dengan cara yang salah yakni lewat sumpah palsu dan kebohongan, maka Allah bisa jadi mengagalkan rizki yang hendak diberikan pada kemudian hari atau tetap diberikan dengan menghilangkan barokah dari hartanya.

Kehilangan barokah atas harta yang dimiliki adalah bentuk kehilangan yang besar, sebab tanpa disadari seseorang, harta yang dimiliki justru berkurang setiap saat padahal penghasilan bertambah. Pengeluaran bertambah besar, meski penghasilan juga besar adalah salah satu bentuk kehilangan barokah. Berapa banyak orang yang bekerja pontang panting, siang malam, bahkan tidak mengenal waktu, namun hasilnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Berapa banyak orang yang berpenghasilan besar dipaksa mengeluarkan uang dalam jumlah besar juga, entah untuk menyembuhkan penyakit, membeli obat, gaya hidup, fashion dan hal-hal lainnya. Di sinilah mungkin orang tersebut kehilangan barokah.

Seorang pedagang yang kehilangan barokah terhadap hartanya, maka hartanya perlahan-lahan mulai menipis dan bisa menyebabkan kebangkrutan. Terkadang musibah bermacam-macam datang, mulai penyakit, pencurian, anak yang bermasalah, konflik dengan istri atau keluarga, sampai masalah-masalah lainnya, sehingga modal dagangan bukan bertambah banyak, malah cendrung berkurang.

Menghindari untuk bersumpah dalam berjual beli adalah jalan terbaik agar tidak kehilangan barokah atas harta yang dicari dengan susah payah. Lebih baik tidak bersumpah meski yang dikatakan benar, daripada terlanjur biasa bersumpah yang suatu saat membuat kita tergelincir kata, walau tak ingin berbohong, ternyata terjebak dalam kebohongan juga. Belajar berjual beli tanpa sumpah atas nama Allah, lebih menetramkan hidup kita, karena terhindar dari kehilangan barokah atas harta yang dimiliki.

Nabi Muhammad bersabda: “Sumpah palsu itu menghabiskan barang dagangan dan menghapuskan keberkatan.” (HR Bukhari)

 

Bangga Dengan Kesuksesan Orang Lain

“Huh, mengapa hanya dagangan Ceking yang ramai?” gerutu pedagang pertama.

“Ya, dagangan kita jarang pembeli, dia selalu ada pembeli,” balas pedagang kedua.

“Dia pakai dukun, kali,” Gendut turut menimpali.

”Siapa dukunnya kira-kira?”

“Mungkin orang Banten, dukun Banyuwangi atau paranormal dari Jakarta.”

“Wah banyak sekali dukunnya jika demikian.”

“Pantas yang lain sepi, dia ramai sendirian.”

Begitulah percakapan pedagang pertama, kedua dan Gendut, mereka merasa iri karena Ceking memiliki jumlah pembeli yang lumayan setiap harinya, sedang mereka merasa selalu sepi pembeli, padahal bisa jadi dagangan mereka sebenarnya lebih banyak lakunya dibanding Ceking, hanya karena sifat iri yang kuat, Ceking yang dijadikan kambing hitam.

Budaya iri, dengki dan hasud merupakan salah satu budaya negatif di kalangan umat Islam yang harus diminimalisir, jika bisa dihilangkan sama sekali. Proses pembudayaan sifat-sifat tersebut berlangsung secara turun temurun, diperkuat situasi yang ada, dan dijadikan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Hasilnya bisa ditebak, budaya tersebut menyatu dalam diri sebagian umat Islam, manakala melihat orang lain lebih berhasil atau dagangannya lebih laku terjual, maka sifat-sifat tersebut menggeliat dan menyeruak dalam bentuk ghibah atau membicarakan keburukan orang lain, melakukan gosib, yang bisa menjadi fitnah terhadap orang yang dianggap berhasil. Orang-orang yang membudayakan sifat iri, dengki, hasud dalam hatinya, hidupnya tidak akan tenang, bayang-bayang selalu dihantui keberhasilan orang lain, dan tidak pernah mampu sukses menjalani usahanya di masa mendatang. Bagaimana cara menghilangkan dan mengelola sifat-sifat tersebut?

Ketika orang lain berhasil di bidang perdagangan, timbulkan sikap positif bahwa keberhasilan yang diraih orang tersebut karena beberapa faktor yang mungkin tidak dilakukannya sebagai sesama pedagang. Beberapa faktor tersebut misalnya; lebih tekun dengan usaha perdagangannya, saat orang lain menutup tokonya dia tetap buka berjualan, memberikan pelayanan yang terbaik terhadap pembeli, lebih rajin memberi sedekah pada para pengemis, pengamen dan orang miskin, dan lebih rajin beribadah pada Allah untuk menyeimbangkan usaha dan tawakkal pada Allah. Dengan mengetahui beberapa sisi positif tersebut, pedagang yang mencoba untuk tidak bersikap iri dan dengki melainkan memacu diri untuk mempelajari rahasia kesuksesannya, bisa melakukan introspeksi diri terhadap usaha-usaha yang dijalaninya. Sudahkah semua faktor tersebut dijalani? Apa yang kurang dari dirinya yang harus diperbaiki? Bagaimana agar dia bisa berhasil dengan cara-cara benar?

Untuk membuktikan kebenaran tesis di atas, saya melakukan wawancara secara diam-diam pada beberapa pedagang tradisional Wonosari Bodowoso yang dianggap berhasil mengelola usaha perdagangannya, kesimpulan yang diperoleh sebagai berikut.

Pertama: Seseorang akan menerima hasil usaha sesuai dengan usaha-usaha yang dilakukannya, semakin keras seseorang berusaha, maka semakin besar pula peluang mendapatkan hasil yang maksimal, sebaliknya orang dengan usaha minim akan memperoleh hasil yang minim juga. Sebagai ilustrasi, pedagang yang dianggap sukses jam kerjanya mulai setelah shalat subuh pagi hari sampai pukul 17.00 WIB, terkadang untuk melayani pelanggan-pelanggan khusus, disediakan jasa antaran barang ke rumah-rumah mereka di malam hari, sedang pedagang lainnya; buka pukul 06.00 dan tutup pukul 14.00 WIB tanpa ada layanan khusus di malam hari. Melihat hal ini wajar jika yang bekerja lebih keras akan memperoleh hasil lebih maksimal.

Kedua: Usaha yang optimal diseimbangkan dengan ibadah yang optimal pula, sehingga antara usaha dan tawakkal berjalan beriringan. Pedagang yang berhasil membiasakan diri shalat tahajjud di malam hari, pagi shalat Dhuha, habis Magrib mengaji surat Waqi’ah tiga kali, selesai shalat lima waktu, berdzikir dan berdoa memohon pada Allah, sedang pedagang yang iri hanya mengandalkan kerja keras dan pergi ke dukun, padahal dukun yang muslim juga berdoa pada Allah, sedang dukun yang sesat meminta pada Jin atau setan, jika Allah yang mengatur dan memberikan rizki, mengapa tidak langsung meminta sendiri padaNYA tanpa perantara.

Ketiga; orang yang berhasil tidak pernah iri dan dengki dengan keberhasilan orang lain, malah melihat orang lain berhasil dia turut merasa bangga, sebab keberhasilan seseorang insya Allah membawa manfaat pada orang lain, sedang kegagalan seseorang bisa membawa petaka bagi orang lain. Justru dengan keberhasilan orang lain, dia lebih terpacu untuk mengoptimalkan usaha, introspeksi diri, memberikan yang terbaik pada pembeli atau pelanggan, dan lebih khusuk beribadah pada Allah.

Demikianlah hasil penelitian lewat wawancara yang secara sederhana saya lakukan. Dengan pengetahuan tersebut, saya berusaha mempraktekkan hal yang sama, alhamdulillah ternyata hasilnya memuaskan. Para pembaca yang memiliki sifat iri, dengki dan hasud, sebaiknya belajar menghilangkan perlahan-lahan, sifat-sifat tersebut disalurkan untuk membuat diri berbuat lebih supaya berhasil, dikelola untuk meningkatkan potensi diri. Kita boleh iri bila orang orang lain lebih dekat pada Allah, sedang kita menjauh dariNYA, maka kita termotivasi untuk lebih dekat padaNYA agar kehidupan menjadi lebih baik, tapi kita tidak boleh iri pada keberhasilan orang lain. Sifat dengki yang diwujudkan dengan tingkah laku negatif, berusaha dihilangkan dengan memperbanyak mengingat Allah saat sifat tersebut mulai menggoda kita. Jadi setiap kali muncul sifat dengki, kita beristigfar, bertahmid atau bertahlil, insya Allah perlahan-lahan sifat dengki akan hilang dengan sendirinya. Sifat hasud yang diwujudkan dengan membicarakan keburukan orang lain, mengadu domba seseorang dengan orang lain, memfitnah orang lain, dihilangkan dengan berusaha sedikit bicara banyak kerja, lebih baik diam daripada banyak bergosip atau membicarakan orang lain. Banggalah bila melihat orang lain sukses, orang lain pasti bangga dengan sikap kita.

Beberapa kesimpulan di atas, sesuai dengan firman Allah “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. bagi orang laki-laki ada bagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S An-Nisaa’:32)

 

Bersabar dalam Menekuni Usaha Perdagangan

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (Q.S. Ali Imran:200)

Bersabar merupakan suatu kata yang mudah untuk diucapkan, namun sulit untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Maka umat Islam yang mampu mencapai taraf kesabaran yang hakiki akan mendapatkan keberuntungan dari Allah. Berbentuk apa keberuntungan tersebut, hanya diketahui setelah kesabaran menjadi milik diri dan kita mengaplikasikannya dalam kenyataan.

Arti kata “ya ayyuhal ladzina ‘Amanuusbiruu” adalah wahai orang-orang yang beriman bersabarlah kalian atas kepayahan-kepayahan dan kesulitan yang menimpa kalian seperti penyakit, kemiskinan, kekurangan pangan, rasa takut, dan sebagainya yang merupakan kesukaran.[12]

Jelaslah bahwa makna sabar dalam kata pertama bermakna luas yakni bersabar dalam segala kesulitan yang dihadapi dalam menjalani hidup sehari-hari. Kesulitan-kesulitan yang dialami manusia setiap hari sangat banyak, kompleks, beraneka ragam dan bermacam-macam, baik kesulitan dari dalam diri sendiri, kesulitan dari luar diri, kesulitan dari lingkungan dan kesulitan dari negara yang didiami. Semua kesulitan dihadapi dengan sabar. Dalam konteks ini, saya akan membantasi sabar yang ada hubungannya dengan pedagang, baik kecil maupun besar.

Berdagang apapun, khususnya di pasar, harus mampu bersikap sabar dalam segala situasi, baik dalam menghadapi pasar sepi, menghadapi daya beli masyarakat yang menurun, menghadapi para pesaing, dan menghadapi para pembeli.

Pasar sepi ditanggapi dengan semakin mendekatkan diri pada Allah, sebab siapa tahu itu merupakan cobaan Allah bagi para pedagang. Mereka tidak boleh bertindak sebaliknya yakni mengkambing hitamkan Allah karena keadaan pasar yang sepi. Allah berfirman: Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku” (Q.S Al-Fajr:16)

Dalam berdagang, kadang pasar sepi, sedang dan ramai pada bulan-bulan tertentu. Para pedagang dalam menyikapinya dengan bersabar, tidak usah menyalahkan orang lain karena dagangan belum laku, tidak usah marah melihat dagangan orang lain laku terjual, sedang kita tidak, padahal kita berjualan mulai pukul pagi sampai siang ternyata dagangan belum laku-laku juga. Jika kita tetap bersabar menunggu pembeli, mengisi waktu untuk membersihkan barang, memperbaiki etalase kios atau toko, membersihkan keadaan sekitar toko, menunggu pembeli sambil membaca buku, atau melakukan kegiatan lain yang bermanfaat, insya Allah kesabaran akan terbayar dengan datangnya pembeli. Pedagang yang menggerutu, mengomel, menyalahkan orang lain karena lebih laku dan uring-uringan sendiri justru bisa memperburuk kesehatan, membuat stres dan menimbulkan konflik dengan orang lain. Pernah salah seorang teman saya yang berdagang di pasar tidak laku-laku dagangannya sampai siang, karena dia terus bersabar, tiada beberapa lama muncul seorang pembeli yang membeli barang sampai keungan Rp. 150.000,- inilah yang dimaksud kesabaran menghasilkan keberuntungan.

Daya beli masyarakat pada bulan Desember 2005-Januari-Februari 2006 dan selanjutnya dalam kondisi menurun, sebab hasil pertanian belum dipanen untuk masyarakat Bondowoso dan BLT baru cair akhir pertengahan Maret, sehingga kondisi pasar tradisional sepi semua. Menghadapi keadaan ini, para pedagang harus mampu bersikap sabar, nanti jika panen sudah tiba dan BLT cair pasar menggeliat atau ramai lagi, memang kemudian sepi kembali, baru ramai bulan Juni Juli, sepi lagi dan ramai lagi saat bulan puasa. Turun naiknya jumlah pembeli diakibatkan daya beli masyarakat yang menurun tidak usah membuat kita gusar, marah, mencari kambing hitam, menyalahkan orang lain, pergi ke dukun dan bertindak negatif lainnya. Dalam kondisi pasar sepi, para pedagang berdagang sekedar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dalam pasar ramai pedagang bisa menyimpan uang sebagai persiapan menghadapi pasar sepi, inilah cara mengatur keuangan yang baik.

Pembeli adalah raja yang harus dilayani dengan baik, kalau ada pembeli yang suka menawar murah, mengacak-acak barang tapi tidak membeli barang satupun, menyuruh pedagang untuk mengambil barang yang di atas, di samping dan di bawah, tapi kemudian tidak cocok, tidak boleh membuat kita marah. Dengan tetap berusaha tersenyum, paling tidak pembeli tadi bertanya-tanya pada diri sendiri, melihat kita mampu bersikap sabar. Saat itu dia memang tidak membeli, lain kali pasti dia datang membeli, malah bisa mengajak keluarga atau tetangga karena kita mampu bersikap sabar. Seandainya pembeli yang menawar murah, mengacak-acak barang, memilih-milih tidak ada yang cocok kita marahi, kita akan kehilangan satu pelanggan berikut keluarga dekat dengan tetanggnya, berapa besar kerugian yang ditanggung akibat tidak mampu bersikap sabar?

Juragan atau grosir merupakan salah satu aset perdagangan yang harus dijaga, sebab juragan memberi modal berupa barang sehingga kita bisa meningkatkan sirkulasi barang. Watak juragan bermacam-macam, ada yang lembut, kasar, tidak lembut tapi juga tidak kasar, rendah hati dan ada yang sombong, kita pahami watak mereka agar bisa bersikap tepat, sehingga hutang modal senantiasa mengalir ke dagangan kita. Jangan sampai juragan yang marah, ditanggapi dengan amarah juga. Api bisa dipadamkan dengan air demikian juga amarah bisa dipadamkan kesabaran. Hutang modal yang diterima dari juragan diatur pembayarannya dengan baik, jika tak sanggup membayar saat jatuh tempo, berterus terang dan meminta maaf bahwa lain waktu pasti dibayar, penundaan ini diusahakan untuk dibayar walau dengan gali lobang tutup lobang.

Para pesaing di pasar juga dihadapi dengan sabar, walau mereka menggunakan segala cara agar dagangan laku terjual. Bila dengan bersabar mereka masih menghalalkan segala cara, kita datangi secara baik-baik untuk bicara dari hati-hati, sehingga ditemukan titik temu aturan tak tertulis antara sesama pedagang di pasar. Sesama pedagang ada aturan main tak tertulis cara menghadapi pembeli, sedang mengenai perbedaan harga diserahkan pada mekanisme pasar, sebab pasar yang mengatur tinggi rendahnya harga sebuah barang, bila disepakati keuntungan minimum pada pelanggan dan pembeli umum jauh lebih baik.

Kesabaran yang ada, dilatih terus menerus di pasar, sehingga menjadi milik diri yang menyatu dalam jiwa. Makna “tashobaruu” adalah senantiasa membiasakan kesabaran, sedang “Robituu” adalah memperkuat kesabaran dalam diri. Sebab cobaan yang akan datang semakin dasyat, besar, tak terduga, dan terkadang memaksa kita untuk marah. Kesabaran jangan dianggap beban melainkan kebiasaan seperti halnya kita makan tiga kali sehari, sehingga dengan bersabar bukan menambah beban, melainkan menambah kebiasaan baru yang baik bagi kelangsungan hidup kita di masa mendatang.

Melatih kesabaran tidak semudah latihan senam pagi, sebab kesabaran menyangkut hubungan manusia satu dengan manusia lainnya yang diwarnai berbagai macam sifat buruk, intrik, politik kotor dan permainan hidup lainnya. Orang yang mampu bersikap sabar secara sempurna dalam berbagai aspek kehidupan, isnya Allah hidup bahagia, tenang, damai dan tentram serta mendapat keberuntungan seperti yang dijanjikan Allah.

Kesabaran sebagai salah satu kunci sukses berdagang adalah benar adanya bukan isapan jempol belaka. Pedagang yang sabar akan mendapatkan pelanggan yang banyak, pembeli baru yang bisa menjadi langganan tetap, dan mendapatkan keuntungan dari hasil perdagangannya. Sebaliknya pedagang yang pemarah akan kehilangan pelanggan dan prospek pembeli baru. Disinilah urgensi kesabaran bisa mendatangkan keberuntungan dalam usaha. Selamat bersabar!

 

Memenuhi Hak Pekerja

“Bayarlah upah/gaji pekerja yang merupakan hak mereka, sebelum kering keringatnya.” (HR. Bukhari)

Para pekerja di berbagai bidang; perhotelan, perusahaan, pariwisasata, industri, perikanan, peternakan, pertanian, perdagangan dan lain-lain adalah salah satu faktor penting kesuksesan sebuah usaha. Mereka bekerja keras sesuai dengan bidang kerjanya masing-masing, sehingga memenuhi hak-hak mereka adalah keharusan yang tidak bisa ditunda-tunda lagi.

Apalagi di bidang perdagangan, yang mana para pekerja atau karyawan merupakan tangan kanan yang berhubungan langsung dengan para pembeli, sedang kepuasan pembeli adalah faktor terpenting di bidang perdagangan. Naik turunnya jumlah pembeli berpengaruh terhadap keuntungan yang diperoleh, dengan demikian mempengaruhi secara langsung kesinambungan usaha.

Bahkan dalam mengelola suatu perusahaan, peran pekerja sangat vital. Berkat kerja keras, ketekunan, kegigihan dan keringat merekalah para pengusaha sukses menjalankan usahanya. Di samping itu pengusaha yang cerdas akan memanfaatkan keragaman ide-ide dari para pekerjanya untuk membuat kebijakan yang tepat, menghasilkan produk yang benar-benar dibutuhkan pasar, membuat produk berkualitas dengan harga yang terjangkau, sehingga menghasilkan keuntungan besar pada perusahaan, yang bisa mensejahterakan pengusaha dan pekerjanya.

Pemenuhan hak pekerja adalah kewajiban. Hal itu diwujudkan pada pemberian gaji sesuai kesepakatan kerja di awal, diberikan tepat waktu dan tidak menunda-nunda lagi. Penundaan dapat mempengaruhi kinerja pekerja, yang secara otomatis berpengaruh terhadap usaha yang dijalani, apalagi jika tidak membayar sama sekali, ini bisa menjadi bentuk kedzaliman terhadap pekerja yang sama artinya dengan memakan darah keringat para pekerjanya. Para pekerja memiliki keluarga yang harus dipenuhi kebutuhan hidupnya, mulai sandang, pangan, pakaian, pendidikan anak, dan kebutuhan bermasyarakat –saling membalas untuk perkawinan, khitanan, tujuh bulanan, kelahiran anak dan lain-lain-.

Pemberian gaji atau upah sesuai tenggat waktu yang disepakati bisa membuat pekerja melakukan tugas-tugasnya dengan baik, berusaha memaksimalkan tenaga yang dimiliki, memberi pelayanan yang terbaik pada pembeli, dan mengerahkan segala kemampuan supaya pemilik usaha, juragan atau bosnya bisa menikmati peningkatan keuntungan yang diharapkan juga bisa meningkatkan kesejahteraan mereka. Apalagi jika diberi bonus tambahan saat usaha yang dikelola untung besar.

Hubungan antara pemilik usaha dengan pekerja mulai diperbaiki dari sekarang. Maksudnya adalah pekerja jangan dianggap seperti pembantu yang bisa disuruh ke sana ke mari seenaknya pemilik usaha dan diperlakukan seperti halnya pembantu yang bisa dihardik, disakiti dan dipecat seenaknya. Dalam manajemen pemasaran masa kini, pekerja dianggap sebagai partner kerja bagi pemilik usaha, dengan demikian posisinya sejajar. Keduanya sama-sama berusaha untuk mendapatkan keuntungan dari pembeli, pemilik usaha bisa mendapat lebih besar yang juga berarti menanggung kerugian, sedang pekerja mendapat gaji atau upah sesuai kesepakatan tanpa beban menanggung kerugian. Hanya saja jika usaha yang digeluti jatuh bangkrut, keduanya mendapat akibat yang sama, maka dari sudut tanggung jawab hakikatnya keduanya sama.

Pekerja dan pemilik usaha sama-sama manusia dengan berbagai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Kelemahan harus diminimalisir, sedang kelebihan dioptimalkan untuk kesuksesan usaha. Dengan memperlakukan sebagai sesama manusia, maka hubungan antara keduanya berlangsung secara harmonis dalam upaya saling memahami hak dan kewajiban, serta melakukan yang terbaik agar usaha yang dikelola berkembang dan berhasil dengan baik.

Dalam skala yang lebih luas yakni perusahaan, hubungan antara pemilik perusahaan atau direksi dengan pekerja juga harus diperbaiki. Pekerja bukan lagi orang kedua di perusahaan, melainkan sama-sama orang pertama yang berusaha melakukan yang terbaik untuk perusahaan. Sebagai partner kerja, hak mereka untuk menerima gaji atau upah diberikan sesuai perjanjian, meski besar kecilnya tidak sama, namun gaji yang disepakati diberikan tepat pada waktunya. Pekerja juga diperlukan sebagai sesama manusia dengan berbagai macam sifatnya, saling pengertian harus dibina dengan baik, kerja sama dirapikan, dan menganggap sama-sama bertanggung jawab terhadap pembeli/konsumen, sehingga harus memberikan kepuasan pada mereka.

Hubungan antara pekerja dan perusahaan di negara kita sudah sampai dalam taraf yang mengkhawatirkan. Ini ditandai dengan bermacam-macam aksi demonstrasi pekerja, pemecatan massal terhadap karyawan karena bangkrut tanpa adanya pemenuhan hak-hak mereka, boikot kerja yang dilakukan pekerja karena tidak puas terhadap kebijakan perusahaan, undang-undang yang tidak memihak kepentingan pekerja atau buruh, dan berbagai macam tindakan lainnya yang menjurus pada anarkisme dan pengrusakan.

Memang banyak sebab yang melatarbelakanginya, seperti kenaikan harga BBM yang membuat biaya operasional perusahaan bertambah, pada saat bersamaan kebutuhan pekerja juga bertambah sehingga permintaan kenaikan gaji menjadi tuntutan, keduanya sama-sama menyulitkan perusahaan, apalagi diperparah dengan menurunnya daya beli masyarakat. Belum lagi persaingan usaha yang bertambah keras, sehingga perusahaan-perusahaan yang tidak mampu memperbaiki kinerja, meningkatkan kualitas, menyusun strategi baru, dan memperbaiki berbagai aspek –internal dan eksternal- akan segera gulung tikar, akibatnya pengangguran semakin menumpuk, kemiskinan merajalela, dan keadaan menjadi lebih sulit.

Hal ini masih belum melihat kemungkinan globalisasi dalam arti seluas-luasnya yang akan segera datang. Sekarang saja, saat pintu globalisasi mulai terbuka sedikit demi sedikit, perusahaan-perusahaan di Indonesia banyak yang tidak mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan dari Jepang, Malaysia, Singapura, AS, belum lagi kemungkinan hantaman produk-produk China yang terkenal murah dengan kualitas yang sama.

Para pekerja dituntut menyadari keadaan perusahaan yang semakin sulit, sedang perusahaan menyadari juga bahwa mereka harus melakukan beberapa langkah strategis, taktik jitu, kebijakan yang menguntungkan semua pihak, mencari pangsa pasar baru, dan berbagai langkah lainnya, sehingga pemecatan massal para pekerjanya bisa dihindari. Di sinilah fungsi pekerja dijadikan partner dan sesama manusia, sehingga di saat sulit, sama-sama memahami keadaan masing-masing. Dalam keadaan menguntungkan perusahaan tidak lupa untuk meningkatkan kesejahteraan para pekerja bukan dinikmati pengusaha dan direksi semata.

Tidak membayar gaji buruh yang sudah bekerja keras menyelesaikan pekerjaan, akan mendapat ganjaran yang berat di akhirat yakni dimusuhi Allah SWT, naudzubillah mindzalik. Nabi Muhammad bersabda: “Allah Azza wajalla berfirman: Tiga golongan yang pada hari kiamat kelak akan Aku musuhi: Orang yang memberi demi Aku, kemudian mengkhianati. Orang yang menjual manusia merdeka, lalu memakan hasilnya. Orang yang mengupah buruh, dan buruh itu telah menyelesaikan pekerjaannya, tetapi ia tidak memberikan gajinya.” (HR Bukhari)

Pemerintah sebagai penguasa yang menentukan berbagai kebijakan dituntut senantiasa introspeksi diri. Setiap kebijakan yang diambil dipertimbangkan secara matang berbagai aspeknya; efek positif dan negatif, nasib kebanyakan rakyat, kelangsungan dunia usaha, pengaruhnya terhadap sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, dan nasib para pekerja. Memang kenaikan BBM tidak bisa dihindari, tapi mestikah harus dua kali lipat? Dalam menyusun undang-undang dituntut memberikan keadilan bagi pekerja atau buruh dan pengusaha, bukan menguntungkan salah satu pihak dengan merugikan yang lainnya. Saya tidak tahu bagaimana keadaan kita ke depan, jika kebijakan-kebijakan yang diambil pemeritah secara pontensial menambah pengangguran, kemiskinan, penderitaan dan kesengsaraan rakyat.

 

Memahami Kebutuhan Pembeli

Pembeli merupakan faktor penentu utama dari kesuksesan sebuah usaha perdagangan, jenis apapun perdagangan yang ditekuni. Memahami beberapa aspek dalam diri pembeli yang membeli barang-barang para pedagang adalah keharusan, agar mereka merasa puas, senang, dan menimbulkan keinginan membeli kembali. Tulisan ini berusaha memberikan peta umum tentang kebutuhan pembeli.

Sebelum secara khusus memahami kebutuhan pembeli, kita perlu memahami kebutuhan manusia menurut salah seorang pakar kepribadian Barat yakni Maslow. Berikut adalah hirarki kebutuhan manusia menurut Maslow[13]:

 

Jenjang Need                    Deskripsi
Kebutu

tuhan

Berkem

bang

Self actualization

Needs

(metaneeds)

Kebutuhan orang untuk menjadi yang seharusnya sesuai dengan potensinya. Kebutuhan kreatif, realisasi diri, pengembangan self

 

Kebutuhan harkat kemanusiaan untuk mencapai tujuan, terus maju, menjadi lebih baik. Being values-17 kebutuhan berkaitan dengan pengetahuan dan pemahaman, pemakaian kemampuan kognitif secara positif, mencari kebahagiaan dan pemenuhan kepuasan alih-alih menghindari rasa sakit. Masing masing kebutuhan berpotensi sama, satu bisa mengganti yang lainnya

Kebutu

tuhan

Keturu

nn

Basic

Needs

 

Esteem needs

 

 

 

 

 

Love needs

Belongness

 

 

 

Safety needs

 

 

Psikological needs/fisiologis

Kebutuhan kekuatan, penguasaan, kompetensi, kepercayaan diri, kemandirian.

Kebutuhan prestise, penghargaan dari orang lain, status, ketenaran, dominasi, menjadi penting, kehormatan, apresiasi

 

Kebutuhan kash sayang, keluarga, sejawat, pasangan, anak. Kebutuhan menjadi bagian dari kelompok, masyarakat (kegagalan hal ini menjadi penyebab psikopatologis)

 

Kebutuhan keamanan, stabilitas, proteksi, struktur, hukum, keteraturan, batas, bebas, dari takut dan cemas

 

Kebutuhan homeostatik; makan, minum, gula, garam, protein, kebutuhan istirahat dan seks

 

Peta kebutuhan manusia di atas, menjelaskan kompleksitas kebutuhan manusia yang terdiri dari pemenuhan kebutuhan metaneeds atau kebutuhan aktualisasi diri manusia agar bermanfaat di tengah-tengah masyarakat, kebutuhan basic needs yang terdiri dari esteem needs, kebutuhan cinta dan dicintai, kebutuhan rasa aman, dan keterpenuhan kebutuhan fisik seperti makan, minum, protein, lemak, istirahat dan seks. Pemenuhan terhadap kebutuhan-kebutuhan tersebut membuat manusia bertingkah laku agar seluruhnya bisa terpenuhi.

Kebutuhan yang lebih rendah (basic needs) dipenuhi terlebih dulu sebelum mengejar kebutuhan yang lebih tinggi (metaneeds), meski ada orang yang melakukan sebaliknya. Tidak seorangpun yang basic needsnya terpenuhi 100%, mungkin kebutuhan fisik terpenuhi 85%, keamanan 70%, dicintai dan mencintai 50%, self esteem 40%, dan kebutuhan aktualisasi diri 10%, ini tidak bergerak lurus. Jadi tidak seorangpun yang semua kebutuhannya terpenuhi 100%. Inilah urgensi keterbatasan manusia, dalam keterbatasan mereka harus mampu mengatur berbagai kebutuhan dengan baik dengan memilih yang lebih bermanfaat, efektif, diprioritaskan dan tepat.

Dari peta di atas bisa dirumuskan tentang bagaimana seorang pembeli memanfaatkan barang yang mereka beli. Seorang pembeli berusaha memenuhi kebutuhan pokoknya dulu yakni beras, lauk, garam, sayuran, bumbu, air minum, dan alat-alat dapur. Dengan terpenuhinya kebutuhan fisik, dia akan berpikir untuk membeli pakaian yang cocok, tempat tinggal yang sesuai, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya, begitu semua terpenuhi baru berpikir untuk membeli alat-alat elektronik sebagai sarana mempermudah hidup, aksesoris, menikmati hiburan agar tidak stres, berlibur ke kawasan tertentu, menikmati kehidupan cinta dengan kekasih dalam batas-batas pergaulan yang boleh dan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan lainnya, serta terakhir berpikir untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk orang banyak seperti mengajar, membimbing masyarakat, menulis, berkreasi tanpa pamrih, dan membantu sesama manusia sebagai upaya aktualisasi diri.

Pemenuhan kebutuhan perut memegang peranan utama dibanding yang lainnya. Ini membawa konsukswensi bahwa naik turunnya jumlah pembeli di suatu pasar tergantung dari penghasilan yang diperoleh masyarakat di kawasan tertentu, bila penghasilan masyarakat hanya mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja yang berkenaan dengan kebutuhan perut tadi, maka secara otomatis produk-produk yang tidak berkaitan dengan tersebut susah untuk laku terjual. Sedang bila penghasilan masyarakat untuk kebutuhan fisik sudah terpenuhi, baru produk-produk barang lainnya laku terjual, sehingga investasi di produk-produk tersebut tetap diperlukan.

Sebuah kawasan menentukan tinggi rendahnya penghasilan masyarakat, misalnya untuk masyarakat Bondowoso yang umumnya bergerak di bidang pertanian, besar kecilnya penghasilan mereka tergantung sukses tidaknya panen, tinggi rendahnya harga produk pertanian, dan keadaan ekonomi Indonesia secara umum. Ketika produk pertanian dihargai murah meski panen berhasil, maka daya beli masyarakat menurun, sebab keuntungan yang diperoleh kecil malah merugi. Kalau panen gagal, maka daya beli masyarakat otomatis menurun. Jika BBM naik, maka bisa menyebabkan kenaikan barang-barang kebutuhan pokok masyarakat, daya beli masyarakat otomatis menurun. Ketiga faktor tadi sangat berperan penting terhadap daya beli masyarakat, yang dapat mempengaruhi ramai atau sepinya pembeli.

Dalam kawasan Industri seperti Sidoarjo, tentu faktor-faktor yang menentukan naik turunnya daya beli masyarakat tergantung dari sejauh mana perusahaan-perusahan industri yang ada bisa bertahan terhadap keadaan yang semakin sulit akibat kenaikan BBM atau krisis. Apakah mereka mampu menaikkan upah sesuai upah minimum yang ditetapkan, apakah kondisi perusahaan cukup sehat sehingga tidak perlu memecat karyawan-karyawannya. Apakah industri yang mereka kelola berjalan lancar atau tidak? Manakala perushaan-perusahaan industri bermasalah, sehingga gaji karyawan ditunda, atau diberikan di bawah standar upah, otomatis daya beli masyarakat menurun. Apalagi jika pemecatan massal berlangsung, keadaan menjadi tidak stabil, dunia usaha perdagangan menjadi tidak stabil juga.

Untuk kawasan atau daerah lain yang berbeda, berbeda pula yang mempengaruhi naik turunnya daya beli masyarakat. Satu kesamaan utama adalah pengaruh dari kenaikan BBM secara otomatis menurunkan daya beli masyarakat. Sehingga pemerintah sebagai pemegang kebijaksanaan dituntut bertindak arif, dengan memperhatikan keadaan masyarakat yang bertambah sulit.

Di samping faktor-faktor di atas, faktor musim-musim tertentu bisa menentukan naik turunnya daya beli masyarakat. Menjelang tahun baru dan Idul Adha, daya beli masyarakat meningkat karena mereka ingin menikmati malam tahun baru. Hari raya Idul Adha berpengaruh karena masyarakat berbondong-bondong untuk bersedekah, sehingga produk-produk yang berkaitan seperti sandal japit, damar, sarung, baju takwa, payung, dan lain-lain laku terjual. Menjelang dan setelah tahun ajaran baru, banyak keluarga yang membutuhkan alat-alat sekolah, baju sekolah, sepatu, tas, pet, dan lain-lain, sehingga daya beli meningkat. Puasa dan hari raya idul Fitri yang menjadi pintu terakhir bagi para pedagang berbagai jenis supaya laku terjual, daya beli masyarakat pasti meningkat seburuk apapun keadaan mereka, mereka tetap memaksakan diri membeli produk-produk yang dibutuhkan meski dengan menjual barang-barang yang dimiliki, berhutang, dan menggadaikan barang.

Musim hujan dan kemarau juga turut berpengaruh, sebab ada produk-produk yang dibutuhkan masyarakat di musim hujan atau kemarau. Tradisi masyarakat yang ada juga mempengaruhi daya beli, misalnya pada waktu peringatan 1 Shuro atau 1 Muharram yang mana di Solo, Surakarta dan Yogyakarta, ada tradisi tertentu yang mempengaruhi daya beli masyarakat di sana.

Dengan memahami berbagai kebutuhan masyarakat, faktor-faktor yang menentukan naik turunnya daya beli masyarakat, produk-produk apa saja yang dibutuhkan pada musim tertentu, para pedagang bisa menjual barang yang tepat pada waktu yang tepat. Para pedagang yang baik memiliki catatan yang lengkap tentang kebutuhan masyarakat pada musim tertentu, sehingga yang mereka jual berkaitan dengan barang-barang yang dibutuhkan tersebut.

Barang-barang yang laku setiap hari disediakan secara lengkap, barang yang laku tiga hari atau seminggu sekali asal ada, dan barang yang laku sesekali dalam sebulan tidak disediakan tak masalah. Modal diatur untuk melengkapi barang-barang yang diperkirakan laku dengan cepat dan dibutuhkan masyarakat.

Dalam keadaan daya beli masyarakat menurun, barang dibiarkan apa adanya dan diprioritaskan yang laku cepat, dalam pasar sedang atau daya beli meningkat sedikit, stok barang yang ada mulai ditingkatkan, boleh mengambil sebagian simpanan untuk investasi, dan dalam keadaan pasar ramai, seluruh simpanan dikeluarkan untuk melengkapi barang, mencari produk-produk baru yang diperkirakan laku, dan menambah hutang ke grosir atau juragan dalam jumlah besar, tapi tetap dengan perhitungan yang matang agar bisa melunasi hutang, baik dari grosir maupun dari Bank.

 

Melayani Customer Seperti Raja

Pembeli, pelanggan, konsumen, dan pemakai produk -untuk selanjutnya disebut customer yang bisa mewakili semua kosa kata tadi-, merupakan yang paling utama dalam keberhasilan suatu usaha, apapun jenis usaha yang dijalani. Karena itu wajar jika customer diperlakukan sebagai raja yang harus dilayani segala kebutuhannya dengan baik, dipuaskan keinginan-keinginannya, dipenuhi hak-haknya, dan diperlakukan sehormat mungkin. Dengan itu semua customer akan membelanjakan uangnya pada pedagang, wiraswasta, dan pengusaha, sehingga memberikan keuntungan yang besar, konstan, stabil, dan menjamin keberhasilan usaha yang ditekuni.

Customer sebelum memutuskan untuk membeli sesuatu, memiliki beberapa pertimbangan yang dipikirkan di benaknya atau di otaknya. Pertimbangan mereka berdasarkan kebutuhan terhadap barang, kegunaan barang, uang yang dimiliki, kualitas barang, harga barang, dan membandingkan dengan produk lain yang sejenis mengenai segala hal. Untuk itu, customer harus diberi kebebasan dalam memilih barang yang diinginkan.

Kebebasan memilih, membuat customer merasa memilih barang sesuai keinginannya, merasa puas, dan tidak mempedulikan nilai harga barang. Mereka menginginkan yang terbaik untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Customer jenis ini berasal dari kelas atas. Ada customer lain yang dalam memilih barang melihat harganya dulu, disesuaikan dengan uang yang tersedia, ini biasanya customer kelas menengah dan bawah. Antara jenis-jenis customer di atas memiliki ciri khas masing-masing, yang harus dilayani sesuai ciri-ciri tersebut. Masih ada pembeli dengan karakter berbeda, yang harus dilayani secara berbeda pula sesuai karakteristiknya masing-masing.

Secara umum pembeli menginginkan barang yang berkualitas bagus dengan harga murah dan dipakai awet. Keinginan ini lumrah dimiliki masyarakat pada umumnya, sebab mereka lebih disibukkan dengan memenuhi kebutuhan pokok yang semakin sulit di negeri Indonesia, dibanding membeli segala sesuatu yang di luar kebutuhan pokok tadi. Untuk itu perusahaan harus menyediakan produk yang sesuai kualifikasi mereka, agar para pedagang eceran di pasar swalayan dan tradisional berhasil menjual produk-produk perusahaan tadi dengan baik. Untuk jenis makanan ringan di luar kebutuhan pokok, strategi perang harga yang murah dengan kualitas baik akan menjadi persaingan yang menarik. Untuk jenis pakaian jadi atau belum jadi, sepatu, sandal, tas, pet, peci, sarung, dan berbagai produk lainnya, yang diinginkan adalah enak dipakai, warna sesuai dengan fisik atau warna kulit seseorang, awet, enak dilihat, nomer sesuai yang umum dipakai, model tidak ketinggalan zaman dengan harga yang terjangkau. Untuk jenis hasil pertanian, harga yang diambil dari petani harus sesuai dengan pengeluaran mereka yang besar, padahal masyarakat secara umum tidak menginginkan membeli produk-produk pertanian yang mahal, di sinilah dilemanya. Untuk bahan bangunan yang diinginkan adalah kekuatannya yang bisa bertahan lama, kuat, kokoh, dan tahan dalam berbagai situasi.

Manakala seorang customer menunjuk barang yang bermacam-macam di sebuah toko, pedagang melayani dengan senyum dikulum, meski pembeli lalu pergi tanpa permisi dan tidak membeli satupun barang. Seorang customer yang datang dengan wajah nampak garang, dilayani dengan senyum dikulum dan pelayanan yang baik. Customer yang marah-marah karena sesuatu, pedagang dituntut menahan amarahnya, kemarahan yang dibalas kemarahan, membuat pedagang kehilangan customer tadi. Customer yang bertingkah aneh-aneh sehingga menjengkelkan pedagang, tetap dilayani dengan baik. Apapun tingkah laku mereka, pedagang tetap memberikan pelayanan yang terbaik. Dengan pelayanan yang baik, customer yang pada saat itu tidak membeli satu barangpun, lain kali pasti datang membeli di tempat pedagang yang melayaninya dengan baik, bahkan bisa tidak mempedulikan harga yang ditawarkan, sebab dirinya merasa malu pada diri sendiri atas tingkah lakunya terdahulu.

Masalah kualitas bungkusan, banyak yang diremehkan para pedagang di pasar tradisional khususnya, padahal dari masalah yang sepele ini bisa menjadi masalah serius di mata customer. Sebagai contoh, ada seorang pembeli yang membeli dua sandal japit di kios saya, saya tidak hanya memberi bungkus yang biasa pada dua sandal japit, melainkan saya berikan satu tas plastik hitam yang agak besar, sebab pembeli tersebut memegang dua pakaian di tangan tanpa bungkusan plastik, reaksinya adalah ucapan terima kasih yang tulus dan tiada beberapa lama, pembeli tadi kembali lagi ke kios saya membeli barang lainnya yang dibutuhkan. Padahal ini sekedar masalah bungkusan barang, yang nilainya hanya Rp. 50,- perplastik, sedang keuntungan yang diperoleh bisa seratus kali lipat. Wajar jika pertokoan di pinggir jalan yang agak besar dan pasar swalayan, malah membuat bungkusan khusus yang mewakili nama toko mereka, sehingga pembeli di samping mendapat barang yang bagus, juga mendapatkan tas plastik bagus yang bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Kondisi barang yang dijual dijaga dari bermacam-macam debu, kotoran kecoak, tikus, dan yang membahayakan barang lainnya, serta membuat etalase toko menjadi semenarik mungkin, sehingga menimbulkan keinginan customer untuk datang melihat dan menimbulkan keinginan membeli barang. Etalase yang baik harus benar-benar diperhatikan, inilah daya tarik pertama bagi customer sebelum menyentuh barang yang diinginkan.

Customer yang merasa dilayani seperti raja, pasti kembali lagi pada pedagang yang telah memberinya kehormatan yang besar, sehingga keuntungan jangka panjang menanti di depan pelupuk mata. Mereka akan berusaha menjadi langganan tetap, asal tidak dikecewakan pedagang dengan kualitas produk yang jelek, mudah rusak, dan harga yang terlampau mahal.

 

Cerita Sukses Pedagang Kecil

Ada salah seorang alumni Pesantren yang mampu menerapkan nilai-nilai Islam dalam kegiatan perdagangan yang ditekuninya, namanya Suhlal. Dia mampu mengembangkan usaha penjualan alat-alat dapur dari beromset awal 6 juta menjadi 60 juta dalam jangka waktu empat tahun berjalan. Suatu prestasi yang luar biasa, yang dilakukan seorang pedagang, padahal dirinya memulai usaha di saat sulit yakni mulai sekitar tahun 2002-2006. Artinya dia mulai berdagang pada waktu krisis semakin memperparah berbagai sendi kehidupan, namun berhasil dengan gemilang melebihi saya yang menekuni bidang perdagangan juga. Jika cerita saya sukses sebagai pedagang kecil yang menulis, sedang kisah Suhlal ini adalah pedagang kecil tetap konsisten sebagai pedagang, sehingga mencapai hasil yang lebih maksimal.

Sebelum merintis usaha bersama istrinya di toko yang diwarisi kedua mertuanya, Suhlal pernah magang sebulan di kios yang saya kelola. Selama magang banyak prinsip berdagang yang dipelajarinya, namun semua itu tidak bermanfaat tanpa adanya upaya untuk terus menerus belajar, bekerja keras secara gigih, mengembangkan usaha, menghadapi tantangan, keberanian meminjam uang pada Bank dan berbagai hal lainnya yang dipahami selama berdagang sendiri. Proses magang sekedar pengetahuan awal yang tidak bermanfaat jika sang wiraswasta tidak mampu membuat terobosan baru.

Pada tahun pertama merintis usaha, dia sekedar menjadi pedagang eceran biasa yang tidak memiliki kemauan keras untuk mengembangkan lebih jauh lagi. Tuntutan kehidupan dalam keluarga, anak yang baru lahir, dan tuntutan hidup yang besar lainnya, membuat dirinya melakukan kreasi yang cerdas. Awalnya dia mengambil lemari kecil untuk tempat lauk pauk dari juragan seharga Rp.55.000,- yang dijual seharga Rp. 65.000,- sampai Rp. 75.000,-, lalu lewat kreativitas tangan, pikiran, imajinasi, dan karsanya, dia berusaha membuat lemari yang sama, awalnya membuat dua buah dengan modal Rp. 50.000,-, lalu membuat beberapa buah lagi sesuai permintaan pasar. Jelas keuntungan yang diperoleh dua kali lipat dari harga kulaan di juragannya, sehingga membuatnya lebih bersemangat, kerja keras, dan tekun berkreasi. Dia menjaga toko dari pukul 06.00 sampai 12.00 WIB, lalu setelah itu berkreasi membuat lemari tadi.

Perkembangan di atas bukan inti dari tindakan cerdas yang dilakukannya, melainkan kemampuan membaca situasi yang ada di pasar tradisional Wuluhan di Jember. Dalam pandangannya, ada peluang cara masyarakat sekitar membeli barang lewat ketua-ketua arisan. Banyak ketua arisan yang menawarkan pembelian berbagai peralatan dapur sesuai kesepakatan besarnya nilai uang arisan, jika kesepakatan arisan mencapai Rp. 150.000,- untuk dibelanjakan alat-alat dapur, maka sang ketua bersama anggota yang mendapatkan arisan waktu itu, akan membelanjakannya di toko tertentu di pasar wuluhan. Sementara itu ketua arisan kecil-kecilan ini lumayan banyak jumlahnya di berbagai wilayah sekitar pasar Wuluhan. Ini merupakan peluang emas bagi Suhlal sebagai pedagang. Bagaimana cara menarik ketua-ketua arisan menjadi pelanggan-pelanggan tetapnya?

Setiap ada orang yang membeli dalam jumlah besar, dia menanyakan apakah merupakan arisan atau pembelian pribadi, ketika pembeli mengatakan sebagai arisan, jurus ampuhnya mulai diterapkan dengan dua cara berbeda. Pertama; ketua arisan yang bersangkutan ditawari pembagian keuntungan dari total keuntungan yang diperoleh pedagang, misalnya dia berbelanja Rp. 150.000,- dengan sepuluh macam barang, keuntungan yang diperoleh pedagang Rp. 40.000,- maka sang ketua akan mendapatkan uang komisi Rp. 10.000,-. Kedua; ketua ditawari untuk mendapatkan satu nomer arisan dari pedagang, misalnya; anggota dari ketua arisan adalah 15 orang, setelah ke lima belas orang mendapat arisan dan membelanjakan di tangan pedagang, maka sang ketua menjadi orang keenam belas yang membelanjakan uangnya sebesar nilai arisan, jika nilai arisan Rp. 150.000,- sang ketua bebas membelanjakan sebesar uang tersebut. Kedua strategi jitu tersebut, ditambah dengan bonus tahunan menjelang hari raya sebagai pelanggan tetap. Inilah yang mampu meningkatkan jumlah pelanggan prospektif, hingga membuat usaha perdagangannya semakin lama semakin bertambah besar. Hampir tiap hari ada ketua arisan yang membelanjakan uangnya, berapa besar keuntungan yang diperoleh jika ketua-ketua arisan yang menjadi pelanggannnya berjumlah puluhan orang.

Pasar berbeda, berbeda pula cara masyarakat membeli sesuatu. Cara yang berbeda ini harus diperhatikan dengan benar, dicarikan strategi yang tepat untuk cara tersebut, dan membuat kebijakan yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada, kisah di atas hanya salah satu contoh kebijakan yang tepat di waktu, keadaan, dan tempat yang tepat pula.

Di samping menggaet pelanggan tetap, pembeli harian juga diberi pelayanan yang baik, margin keuntungan yang tidak terlalu besar, bungkusan yang bagus, pembeli yang membeli dalam jumlah banyak mendapat bonus tertentu, memperbaiki etalase toko, mencari jaringan juragan baru agar bisa menambah modal, dan melengkapi barang yang dijual.

Pada waktu bersamaan, dia memperoleh kepercayaan dari salah seorang juragan atau grosir, yang bisa berhutang dalam jumlah 4 juta misalnya, dalam sebulan membayar 2 juta di antaranya sudah bisa mengambil barang kembali. Kepercayaan juragan dengan hutang lunak tanpa bunga ini, diprioritaskan dulu sebelum yang lainnya. Sebab ini berkaitan langsung dengan pengadaan barang yang merupakan upaya melengkapi barang sehingga seluruh kebutuhan pembeli terpenuhi dengan baik. Di samping masih ada beberapa juragan lainnya yang memberi hutang.

Untuk mengatur keluar masuknya uang yang dikelola, dia juga mengikuti arisan setiap hari, uang hasil arisan sebagian diputar untuk modal secara langsung, sebagian disimpan di Bank sebagai persiapan menghadapi yang tak terduga di masa mendatang, invetasi pada waktu pasar ramai dan simpanan untuk keluarga.

Dengan semua langkah di atas, baru dipikirkan menambah modal dengan cara meminjam di Bank. Berhubung hasil kotor pada tahun kedua sebesar Rp. 200.000,- perhari dengan keuntungan bersih sebesar Rp. 40.000, maka Suhlal memutuskan untuk meminjam uang di Bank Danamon sebesar 10 juta rupiah. Tidak sampai tahun ketiga pinjaman di Bank berhasil dilunasi, dan dia mendapat tawaran pinjaman 50 juta, tapi lewat perhitungan matangnya dia hanya meminjam 25 juta, sebab nilai tersebut yang realistis baginya setelah omset perdagangan kotor perhari mencapai Rp. 400.000,- (ini nilai rata-rata berdasarkan naik turunnya pendapatan perhari, tentu kadang lebih besar dari itu pada hari tertentu dan lebih kecil sedikit dalam pasar sepi). Pada waktu bersamaan dia melakukan kredit sepeda motor sebesar Rp. 600.000,- perbulan agar bisa dilunasi dalam waktu cepat.

Musibah banjir bandang yang terjadi di Jember sempat membuat berbagai pasar tradisional ada di sana, termasuk di pasar Wuluhan menjadi sepi pembeli dalam beberapa waktu, sehingga membuatnya agak pusing dengan berbagai beban hutangnya yang mencapai Rp. 200.000,- setiap hari. Dasar orang kreatif, dia pulang sebentar ke Pakandangan Madura untuk menjajaki menanam rumput laut, dia menanam sejumlah modal pada orang tuanya untuk ditanami rumput laut pada musim tanam, perlu diketahui perawatan rumput laut tidak terlalu sulit, sedang keuntungannya lumayan besar. Di samping itu, kondisi sulit ini membuatnya lebih mendekat pada Allah lewat shalat tahajjud di malam hari, dzikir, mengaji Al-Qur’an dan doa memohon pertolongan padanya. Pada waktu berdagang berusaha beramal pada para pengemis, pengamen dan tukang amal yang datang meminta ke tokonya. Dengan melewati semua itu, perlahan-lahan masa sulit mulai bisa diatasi. Ketika saya tanya apa memakai dukun atau paranormal, jawabannya tidak sama sekali. Dia hanya percaya, yakin dan meminta pada Allah semata.

Memang orang yang berkembang dengan pesat pasti mendapat tantangan dari berbagai pihak, terutama sesama pedagang di pasar tradisional. Mereka tentu akan melakukan beberapa cara, baik positif atau negatif, untuk menggagalkan, bahkan menjatuhkannya. Semua tantangan dihadapi dengan besar hati, sabar, kepala jernih, keberanian, dan kerja keras, tanpa harus berusaha melayani secara berhadap-hadapan. Dengan itu semua dan bertawakkal pada Allah, tantangan yang menghadang bisa di atasi.

Tantangan juga datang dari diri dan keluarga. Tantangan dari diri adalah saat rasa putus asa mendera membuat orang menjadi tidak produktif, rasa malas membuat orang tidak kreatif, rasa lelah membuat orang cepat marah, dan perasaan negatif lainnya yang harus diatasi. Tantangan dari keluarga adalah tuntutan untuk hidup mandiri yakni memiliki rumah sendiri dan mengatur hidup secara mandiri yang harus ditempuh.

Tantangan dari lingkungan sekitar yang terkadang iri, dengki dan cemburu melihat orang yang berhasil, mereka kurang dibudayakan sikap turut bahagia dengan kesuksesan orang lain, sehingga ketiga sifat diatas dibiarkan menguasai jiwanya. Orang-orang tersebut tidak akan pernah bahagia dalam hidupnya. Menghadapi mereka dengan sabar adalah kuncinya, namun sabar bukan dalam pengertian takut yang berlebihan.

Demikianlah kisah sukses seseorang yang berupaya menerapkan nilai-nilai Islam dalam menjalankan usaha perdangannya, dan orang tersebut berhasil menjadi pedagang kecil kelas atas/lower upper yang sukses. Jika dalam kriteria kelas sosial bawah terdiri dari lower upper, lower middle, dan lower-lower, kisah Gendut di awal dari lower-lower ke lower middle, kisah Suhlal yang memulai usaha dari lower-lower, meningkat menjadi lower middle, dan akhirnya berhasil sebagai lower upper. Penjelasan lengkapnya ada dalam bab V. Sedang kisah Fulan sebelumnya lebih meningkat lagi, dia berpedagang dari lower middle atau pedagang kecil menengah, yang mampu mengembangkan diri lebih pesat menuju middles lower pedagang menengah bawah, inysa Allah meningkat menjadi middle upper pedagang menengah atas pada masa mendatang.

 

 

BAB III

MENGELOLA HUTANG PIUTANG DENGAN EFEKTIF

 

Mencatat Hutang Piutang Merupakan Kewajiban

“Apa? Kau tidak mau membayar hutangmu?” tanya Ceking.

“Perasaan saya sudah membayar hutang padamu, untuk apa membayar lagi,” jawab Gendut.

“Membayar hutang bukan pakai perasaan, tapi pakai uang. Ha ha ha!” Ceking mencoba bercanda.

“Jika sudah kubayar tidak usah kau tagih lagi,” kata Gendut dengan ekspresi serius.

“Ngapain aku repot-repot menagihnya seandainya sudah kau bayar. Ayo cepat bayar!”

“Aku tidak mau membayar,” ujar Gendut serius. “Apa ada buktinya bahwa aku tidak membayar hutangku?”

“Bukti?” Ceking diam sejenak. Dia tidak melakukan pencatatan terhadap hutang Gendut karena percaya bahwa ia akan membayar. Dia kesulitan mendapatkan bukti. “Bukti memang tidak ada karena aku tidak mencatatnya, tapi aku ingat benar bahwa kau pernah berhutang dan belum membayarnya.”

“Bukankah ingatan sama dengan perasaan? Sama-sama tidak bisa dijadikan bukti kuat bahwa telah terjadi hutang piutang yang belum terbayarkan.” Ceking akhirnya benar-benar tak berkutik, terpaksa dia merelakan hutang tersebut, dengan memaksakan kehendaknya agar Gendut membayar akan menimbulkan pertengkaran yang bisa menjurus ke tindakan yang tidak diinginkan. Dia memutuskan mengalah meski mengandung kerugian.

Sikap mengalah Ceking adalah hal positif bagi keharmonisan hubungan antara dirinya dengan Gendut, sesuatu yang mulai mahal harganya. Banyak orang yang merasa benar sendiri dengan sudut pandangnya sendiri, padahal kebenaran yang hakiki datang dari berbagai macam sudut pandang yang berbeda. Sikap Ceking telah menjadi contoh bahwa klaim kebenaran tidak bisa dilakukan seseorang sendirian. Sedang sikap Gendut yang tidak mau membayar dengan mempermainkan logika kata, hakikatnya lari dari tanggung jawab yang ada padanya, dalam hati kecilnya dia mengakui pernah berhutang meski meragukan pembayarannya, namun manakala ingatan didatangkan secara utuh, dia akan menyadari bahwa belum membayarnya. Penyesalan berkepanjangan akan selalu menyertainya dengan menolak kebenaran yang datang. Hidup dengan penyesalan adalah hidup yang tidak membahagiakan.

Salah satu aspek, Ceking patut dipuji dan Gendut patut dipersalahkan, namun dalam aspek berbeda keduanya melakukan kekeliruan yang sama yakni tidak mencatat hutang piutang. Ketiadaan catatan membuat klaim seseorang terhadap hutang yang dilakukan orang lain menjadi kurang absah dan kurang bukti, sehingga seseorang bisa mengelak. Dengan alat bukti berupa pencatatan yang rapi antara kedua belah pihak, maka tidak ada yang dirugikan, dan tidak akan menimbulkan efek negatif di kemudian hari.

Kecendrungan pedagang untuk tidak mencatat hutang-hutang dalam jumlah kecil, merupakan salah satu kelemahan para pedagang kita. Saya pribadi termasuk lemah dalam hal ini, sehingga sekali dua kali terjadi salah paham dengan pembeli karena mereka menolak membayar hutangnya sebab saya tidak mencatatnya. Saya tidak mencatanya karena jumlahnya kecil yakni antara Rp. 2.500,- sampai Rp.10.000,- berhubung pencatatan tidak ada, maka saya harus menanggung kerugian. Kerugian yang sedikit demi sedikit akan menjadi banyak, bila berlangsung berulang kali, sehingga kerugian yang diderita menjadi cukup besar.

Ada sebagian pedagang tradisional yang buta huruf, keadaan ini memaksanya untuk meminta bantuan orang lain supaya mencatatnya, sekaligus orang tersebut bisa dijadikan saksi bila ada masalah di kemudian hari. Kekurangan yang dimiliki seorang pedagang bukan alasan untuk tidak melakukan pencatatan hutang piutang. Demikian juga bentuk kekurangan lain seperti buta, bisu, dan tuli, harus diatasi dengan meminta bantuan orang lain.

Keberadaan saksi dalam pencatatan hutang dalam jumlah besar –besar kecilnya tergantung penilaian seseorang, Rp. 100.000,- bisa kecil bagi seseorang dan besar bagi para pedagang sayuran- sangat penting tanpa melihat apakah salah satu pihak memiliki kekurangan seperti diterangkan sebelumnya. Pembayaran hutang dalam jumlah besar sering menimbulkan masalah yang tidak diinginkan di kemudian hari, masalah tersebut bisa diatasi dengan keberadaan saksi yang diharapkan mampu bersikap adil.

Saksi dituntut bersikap adil dengan tidak memihak salah satu pihak jika terjadi konflik di kemudian hari, dia hanya memihak pada fakta dan pencatatan yang ada dan bagaimana kesepakatan awal mengenai pembayaran, apakah dulu disepakati membayar memakai cicilan atau angsuran, bertahap atau tunai dalam jangka waktu tertentu. Saksi yang adil akan mendatangkan kedamaian bagi dua belah pihak yang bertikai, dan bisa menjerumuskan bila prinsip keadilan dilanggar. Diusahakan saksi terdiri dari orang-orang kedua belah pihak dan satu saksi netral, sehingga manakala muncul masalah, bisa di atasi antar mereka.

Masalah hutang piutang bagi sebagian besar masyarakat Indonesia tanpa memandang perbedaan ras, suku, agama, dan budaya adalah hal yang biasa dalam kehidupan sehari-hari. Lagu Rhoma Irama; Gali Lobang Tutup Lobang adalah sebentuk penjelasan terhadap budaya masyarakat untuk saling meminjamkan uang satu sama lain dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Sebagai sebuah budaya, masalah sering timbul, masalah yang timbul harus diatasi secara bijaksana sesuai alat bukti, saksi dan pencatatan yang ada. Ada sebagian masyarakat yang membunuh tetangga atau familinya karena tak mampu membayar hutang, ada yang melakukan pembunuhan berantai karena alasan yang sama, dan banyak pertengkaran-pertengkaran terjadi karena masalah hutang piutang, di sinilah perlunya sikap bijaksana dalam menangani sebuah kasus.

Ketidakmampuan membayar hutang harus disikapi dengan berbagai macam cara agar tidak menimbulkan masalah; orang yang berhutang memberikan penagihan secara halus, jika yang berhutang meminta tenggat waktu, berilah waktu yang memadai, bila sampai waktunya belum membayar, maka beri tenggat waktu sekali lagi, jita tetap tak mau membayar, minta izin untuk menyita barang yang bernilai ekonomis dan dikembalikan bila yang berhutang mau membayarnya. Namun bila keadaan orang yang berhutang benar-benar tak mampu membayar, hartanya tidak bisa dijadikan sitaan, pemberi hutang bisa menunda pembayaran sampai orang tersebut mampu membayar atau mengiklaskan hutangnya, hal ini akan dijelaskan kemudian.

Komitmen orang yang berhutang harus jelas dan disesuaikan dengan keadaan. Makanya dalam meminjam uang ada kalkulasi khusus didasarkan pada berbagai pertimbangan; kemampuan membayar, penghasilan yang diperoleh setiap hari, pemenuhan kebutuhan pokok, dan manfaat dari hutang. Sebagai contoh; Ceking seorang pedagang dengan seorang istri dan dua orang anak yang sekolah di SD dan SMP, penghasilan harian Rp. 30.000,- bersih dari berdagang yang digunakan untuk belanja istri Rp. 10.000,- anak sekolah SD Rp. 2.000,- yang SMP Rp. 5.000,- dan Rp. 3.000 buat kebutuhan bermasyarakat yang disimpan khusus –tahlilan, khitanan, perkawinan, kehamilan dan lain-lain-, berarti ada sisa uang Rp. 10.000,- yang terakhir inilah kemampuan kita membayar hutang, maka saat memutuskan melakukan kredit sepeda motor, kredit bulanannya tidak lebih dari Rp. 300.000,- setiap bulan jika kita ingin tetap mampu membayar sampai pembayaran akhir kredit. Seseorang yang meminjam kredit sepeda motor di atas kemampuannya terebut akan tidak mampu membayar kredit dari hutang, sehingga akan menanggung kerugian yang tidak sedikit jumlahnya.

Sebuah komitmen tidaklah cukup tanpa kesesuaian dengan kemampuan membayar, di sinilah prinsip kehati-hatian dalam berhutang harus dipegang. Jangan sampai kehidupan kita yang sudah enak, tentram dan menyenangkan berubah menjadi prahara karena salah mengelola hutang.

Seorang Muslim yang baik akan berusaha melunasi hutang yang ditanggungnya dengan berbagai cara yang memungkinkan. Pembayaran akan berusaha dilakukan meski dalam keadaan kekurangan, sebab beban hutang akan ditanggung sampai mati. Usahakan dalam berhutang dicatat dengan baik, disertai dua orang saksi kedua belah pihak –saksi harus sama-sama bersikap adil-, diatur jangka waktu pembayarannya, juga ditulis kalau ada penundaan pembayaran karena sebab yang tidak diinginkan seperti banjir, longsor, gempa bumi, atau musibah lainnya, dan hal-hal yang berkaitan dengan sesuatu yang tak terduga di masa mendatang. Seorang Muslim yang memiliki komitmen untuk membayar hutang akan dibantu Allah asal tetap bekerja keras dan bertawakkal.

Dalam Islam konsep hutang piutang di atas dikaitkan dengan Takwa, sebab seseorang yang bertakwa; takut pada Allah, dekat pada Allah, bersikap tawadhu, qonaah, sabar, dan ikhlas, tentu akan takut untuk berhutang dan tidak membayarnya. Dia akan berusaha membayar hutangnya sebaik-baiknya demi kebaikannya dalam kehidupan di akhirat nanti. Maka seandainya ada orang yang mengaku bertakwa pada Allah dan meninggalkan beban hutang secara sengaja, hakikatnya dia seperti binatang Beo yang berbicara tanpa mengetahui makna yang dibicarakannya. Salah satu bentuk takwa adalah hubungan yang baik sesama manusia, yang dalam hal ini menyangkut masalah hutang piutang. Jika seorang Muslim meninggal dunia, salah seorang kerabat atau orang yang mewakili keluarga akan disuruh berpidato agar jika yang meninggal memiliki beban hutang, maka harus diurus dengan dengan keluarga yang ditinggalkan pembayarannya jika tidak diikhlaskan.

Urgensi dari berbagai penjelasan di atas adalah para pedagang Muslim harus memiliki catatan yang lengkap tentang segala macam piutang pembeli dan hutangnya untuk menambah modal usaha, pencatatan dilakukan tanpa melihat besar kecilnya nilai hutang. Ini demi kebaikan para pedagang yang bersangkutan, kebaikan para pembeli, dan kebaikan umat manusia yang dalam berhubungan tidak luput dari hutang piutang.

Hal ini sesuai firman Allah: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan, dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki . Jika tak ada dua oang lelaki, maka seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak keraguanmu. , kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan , maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S Al-Baqoroh:282)

 

Memanfaatkan Pinjaman Bank Guna Mengembangkan Usaha

Mengelola usaha berdagang harus berhati-hati, sabar, kerja keras, tekun, hidup sederhana, hemat, dan berhutang sesuai kemampuan yang dimiliki. Seorang pedagang sebenarnya bisa menentukan penghasilan bersih setiap hari dengan cara melakukan penghitungan terhadap barang yang dimiliki sebulan sekali, berapa modal usaha awal dikurangi barang pada akhir bulan, selirih antaranya merupakan keuntungan bersih, contoh; modal awal bulan 5 juta rupiah, pada akhir bulan modal yang dihitung berjumlah 6 juta, berarti selisih satu juta merupakan keuntungan bersih setiap bulan setelah dipotong memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, ini artinya keuntungan lebih dari 1 juta. Untuk pemula penghitungan bisa dilakukan setiap hari dengan menghitung antara modal dan keuntungan yang diperoleh, misalnya dalam berjualan sehari mendapat uang Rp. 200.000,- sedang modal dari yang tersebut adalah Rp. 170.000,- berarti ada kelebihan Rp. 30.000,- yang merupakan keuntungan. Penghitungan dilakukan setiap hari, dalam satu minggu bisa diprosentasekan, jika rata-rata setiap hari dapat keuntungan bersih antara Rp. 30.000,- sampai Rp. 40.000,- berarti keuntungan kotor yang diperoleh Rp. 35.000,-. Keuntungan kotor masih dipotong membiayai kebutuhan keluarga setiap hari sebesar Rp. 15.000,- (untuk kawasan dengan harga kebutuhan pokok tergolong murah seperti Bondowoso, kawasan lain berbeda perhitungannya) berarti masih ada sisa sebesar Rp. 20.000,- yang bisa digunakan untuk meminjam uang ke Bank dan simpanan untuk investasi ke depan. Mencatat penghasilan setiap hari adalah barang langka di kalangan pedagang di Indonesia, bahkan saya yang melakukan pencatatan seluruh barang setiap bulan sekali ditertawakan sesama pedagang dan orang-orang sekitar, padahal dengan pencatatan, saya mendapat banyak keuntungan; mengatur pengeluaran dan pemasukan uang dengan tepat, mengetahui kapan memperbanyak barang tertentu di musim tertentu pula, melakukan peminjaman yang tepat dengan kebutuhan yang tepat, dan membuat usaha perdagangan berkembang dengan pesat melebihi para pedagang yang tidak melakukan pencatatan.

Dengan perhitungan yang matang di atas, pedagang bisa berhutang pada Bank agar modal usaha bertambah besar, perhitungannya sebagai berikut; jika penghasilan bersih setiap bulan 1 juta, maka bisa meminjam ke Bank dengan nominal 10 juta dengan harapan bisa dicicil Rp. 500.000,- setiap bulan, sehingga bisa lunas dalam dua tahun pembayaran, sisa uang Rp. 500.000,- sebagian disimpan sebagai persiapan mengantisipasi hal-hal tak terduga dan sebagian diputar pada barang. Meminjam tidak boleh lebih dari itu. Bagi pedagang kecil yang ingin meminjam modal tak lebih dari 5 juta rupiah agar tidak kalang kabut nantinya saat membayar, sebab penghasilan setiap bulan seperti dicontohkan sebelumnya sebesar Rp. 20.000,- X 30 = Rp. 600.000,- dengan cicilan bulanan sebesar Rp, 300.000,- yang dilunasi dalam dua tahun, dan sisa uang Rp. 300.000,- sebagian disimpan, dan sebagian diputar kembali. Inilah bentuk kehati-hatian pedagang dalam berhutang, kehati-hatian disertai perhitungan matang.

Dengan perhitungan yang matang disertai penggunaan untuk hal-hal produktif, artinya kita meminjam uang di Bank sesuai kalkulasi di atas, uang yang dipinjam digunakan untuk menambah modal usaha perdagangan agar bisa berkembang dan bertambah maju, dalam konteks inilah bungan Bank halal hukumnya. Sebab peminjam tidak akan terbebani dengan bunga, dengan memutar uang lewat perdagangan berarti dia hakikatnya mendapatkan bunga yang lebih besar, bunga atau keuntungan usaha tersebut yang digunakan untuk membayar cicilan hutang, sehingga pedagang mendapat keuntungan ganda; modal bertambah dan keuntungan lebih besar, sedang Bank memperoleh laba yang bisa diputar kembali. Berhubung kedua belah pihak sama-sama menguntungkan, maka sesuai prinsip berdagang Islam, bunga Bank hukumnya halal. Ini diperkuat dengan hasil muktamar NU beberapa tahun lalu yang menghalalkan bunga Bank. Meski demikian, sekarang berkembang Bank Islam, maka jika di suatu wilayah terdapat Bank Islam, sebaiknya menggunakan Bank tersebut untuk meminjam modal, sebab Bank Islam menggunkan prinsip-prinsip Islam dalam pengelolaannya, bila tak ada, baru menggunakan Bank Umum.

Bagaimana cara meminjam pada Bank? Berikut uraian tata cara meminjam pada Bank yang disarikan dari dari pendapat Elvyn G Masassya.[14] Cara mendapat pinjaman Bank 5 C: Character; calon debitur merupakan orang yang baik, tidak pernah bermasalah dengan Bank tertentu, tidak menyukai judi, dan hal-hal negatif lainnya, Capital; kemampuan calon debitur dalam menyediakan modal sendiri, Capacity; kemampuan calon debitur dalam mengelola usaha; manajemen perusahaan, kalau perorangan pengalaman manajeman yang dimiliki di masa lalu, Condition of economy; usaha yang dikelola seiring perkembangan ekonomi, mempunyai prospek ke depan yang menjanjikan, Collateral; obyek usah yang bisa dijadikan anggunan, jadi anggunan tidak mesti rumah atau tanah. Macam-macam kredit: pertama; Kredit produktif; a. Modal; yang terbagi dalam; transaksional (modal yang digunakan untuk membeli suatu produk yang dipesan pelanggan atau sedang dalam transaksi berjalan; 3-6 bulan lunas) dan permanen (meminjam dengan membayar perbulan dalam jangka waktu dua atau beberapa tahun sesuai kesepakatan) b. investasi; pinjaman Bank yang digunakan untuk membangun pabrik, membangun lokasi baru sebagai ekspansi usaha, dalam hal Bank akan melihat izin usaha, izin lokasi, badan hukum, daftar wajib pajak, dan catatan keungan yang baik, kedua kredit konsumtif; yakni untuk kalangan menengah ke atas yang dianggap mampu.

Di samping berhutang terhadap Bank, para pedagang biasanya mendapat pinjaman dari juragan, bos, sales atau grosir –selanjutnya disebut grosir saja-, pinjaman diberikan dalam bentuk barang yang dibayarkan dalam jangka waktu tertentu, ada yang harian, tiga harian, mingguan, setengah bulanan dan bulanan. Hutang pada grosir harus diperhitungkan dengan matang dulu sebelum meminjam ke Bank, sebab hutang pada juragan menyangkut pembayaran tertentu yang berkaitan langsung dengan sirkulasi barang. Malah dalam masa sekarang, lebih baik meminjam pada grosir dari pada Bank, sebab hutang pada juragan tanpa bunga, namun dituntut mengambil barang secara teratur dan membayar cicilan hutang sesuai kesepakatan, sehingga pasokan barang menjadi lancar. Sebagian besar pedagang kecil lebih memanfaatkan hal ini dengan tidak meminjam pada Bank, tentu ini lebih baik bagi mereka. Sedang pedagang menengah dan besar, baru memikirkan pinjaman Bank dalam upaya meningkatkan usaha dan menghadapi persaingan usaha yang bertambah keras.

Bunga Bank bisa menjadi haram hukumnya jika yang meminjam menggunakan untuk hal-hal yang tidak produktif seperti membangun rumah, membeli mobil, dan membeli hal-hal yang tidak menghasilkan uang, sebab peminjam akan dirugikan dengan bunga yang harus ditanggungnya, padahal uangnya terlanjur digunakan untuk barang mati, sehingga peminjam dirugikan dan yang dipinjam turut dirugikan dengan ketidakmampuan peminjam membayar hutang-hutangnya.

Umat Islam dituntut mampu memanfaatkan pinjaman Bank untuk mampu bersaing dengan pedagang lainnya, mengembangkan usaha, meningkatkan penghasilan dan memperkuat usaha perdagangan. Tentu saja dalam meminjam disesuaikan kemampuan dan perhitungan matang seperti dijelaskan di atas. Pemanfaatkan Bank akan membuat usaha umat Islam berkembang, sehingga akan muncul pengusaha-pengusaha muslim yang kuat di masa mendatang. Di tangan merekalah kebangkitan Islam di Indonesia akan memegang peranan penting.

 

Memberi Hutang Lebih Utama dari Sodaqoh

Barang siapa menanti (sabar) akan pembayaran hutang orang yang berkesempitan, maka diberikan kepadanya ganjaran setiap hari, seakan bersedekah sebanyak itu hingga sampai waktu pembayaran. Apabila dia menghalalkan hutang pada waktu pembayaran karena yang berhutang belum bisa membayarnya, maka dia akan mendapat pahala sedekah sebesar nilai hutang setiap hari (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Para pedagang melakukan proses hutang pituang dengan dua cara: pertama; memberikan pinjaman pada pelanggan pilihan yang telah lama sebagai upaya agar tidak berpaling ke pedang lain, kedua; meminjam uang ke pihak lain, grosir, juragan, sales dan Bank untuk memperkuat usaha. Pada awal berdagang, memberikan hutang pada pembeli adalah kesalahan fatal, sebab belum mengenal para pembeli dan belum memiliki pelanggan tetap, baru kalau sudah berdagang agak lama, para pelanggan tetapnya diikat dengan hutang. Demikian juga dalam memanfaatkan hutang ke orang lain atau Bank, pada awal berdagang kelola yang ada dulu, setelah mengetahui barang-barang yang laku terjual dan pelanggan mulai banyak, baru meminjam ke famili terdekat, tetangga, juragan atau bos, dan orang lain dulu, setelah mampu membayar seluruh hutang, baru berpikir untuk meminjam ke Bank. Meminjam ke Bank adalah proses terakhir setelah mengetahui secara pasti untuk apa pinjaman tersebut digunakan, dengan demikian perlu diperjelas keuntungan yang diperoleh pada masa mendatang, tentu sebelumnya telah melakukan perhitungan matang seperti dijelaskan sebelumnya.

Menagih hutang yang macet pada pembeli dilakukan secara halus, sabar dan hati-hati, sebab pembeli tetap diharapkan mampu mengambil barang sambil membayar cicilan hutang. Jika diperlakukan dengan kasar, memarahi atau menghardiknya, maka kita akan menghadapi konsukwensi kehilangan pembeli sekaligus kehilangan uang karena pembeli tersebut tak mau membayarnya, padahal jika diperkarakan ke polisi dengan nilai uangnya terlalu kecil, hanya kerugian berlipat-lipat yang diperoleh, berbeda jika nilai hutangnya sangat besar.

Dengan bersabar terhadap hutang pembeli, kita mendapat dua keuntungan berbeda; yakni bertahannya pembeli atau para pelanggan kita, dan dengan sikap tersebut kita akan menabung pahala yang banyak sebagai persiapan menyambut kematian dan hari akhirat. Inilah Islam, setiap usaha apapun tetap bernilai ibadah, alangkah rugi orang yang berpaling darinya.

Orang-orang yang berhutang, banyak yang terjebak dalam keadaan tak mampu membayar karena beberapa hal di luar kendalinya; usaha yang dikelola bangkrut dengan meninggalkan sejumlah hutang, menderita sakit sehingga tak mampu bekerja lagi untuk memperoleh uang, datangnya berbacam musibah, kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dan keadaan yang semakin sulit.

Bila dengan berhati-hati, tetapi tetap tak mampu membayar hutang, maka diperlukan negoisasi ulang agar mendapat keringanan pembayaran, ini bisa terjadi karena keadaan seperti krisis yang tak kunjung akhir memaksa penghasilan menurun di luar perhitugan awal. Jika masih tak mampu membayar, maka berusaha mencari cara lain yang kreatif; seperti gali lubang di tempat lain untuk menutup lubang awal. Sudah gali lubang tutup lubang tetap tak mampu membayar sehingga usaha jatuh bangkrut. Apa lagi yang bisa dilakukan bila usaha jatuh bangkrut.

Di samping jatuh bangkrut usahanya, seseorang tak mampu membayar karena menderita penyakit kronis sehingga tak mampu bekerja lagi, dalam keadaan demikian sulit rasanya bagi penagih hutang untuk menagihnya, maka langkah terbaik adalah menunda sementara sampai sembuh, jika tidak sembuh-sembuh juga sebaiknya merelakan hutangnya.

Musibah banjir, longsor, kebakaran, hama untuk pertanian, tsunami, dan musibah-musibah lainnya bisa menghancurkan usaha yang dikelola manusia secara turun temurun dan bertahun-tahun. Sebagai misal banjir bandang di Jember yang meratakan pasar dengan tanah, padahal di dalam pasar ada kios, toko, stan dan barang-barang dagangan yang awalnya digunakan untuk membayar hutang, namun musibah menghancurkan segalanya sehingga tak mampu membayar. Orang yang bijak akan memberi hutang baru sehingga usaha bisa dikelola lagi, dengan demikian hutang lama bisa dibayar, atau merelakan hutang para pedagang, sehingga memperoleh simpati, ketenangan jiwa dan pahala yang berlimpah.

Dalam situasi bertambah sulit akibat kenaikan BBM membuat kehidupan masyarakat menjadi semakin sulit, kesulitan yang datang ini bila tak hati-hati akan menghancurkan rencana pembayaran hutang yang telah diperhitungkan dengan rapi. Seorang pedagang yang cerdas akan memperhitungkan segala situasi seperti ekonomi nasional, kenaikan BBM, TDL, dan berbagai aspek lainnya sebelum menentukan sikap yakni berhutang, sehingga perubahan apapun tetap membuatnya mampu membayar. Bila tak mampu mengantisipasi, jangankan untuk membayar hutang, untuk memenuhi kehidupan sehari-hari saja sulitnya minta ampun.

Kejadian luar biasa seperti penyakit demam berdarah, flu burung dan merebaknya bahan kimia di makanan mempengaruhi para pedagang di bidangnya masing-masing. Wabah demam berdarah membuat seseorang akan sibuk mengurus keluarga yang sakit dari berjualan di pasar, sehingga pemasukan menjadi berkurang malah tidak ada. Flu burung menyebabkan berbagai macam usaha peternakan terancam, para pedagang ayam, unggas dan burung dara juga terancam, dan malah bisa menyebabkan kematian, dalam keadaan demikian masih bisakah bedagang dengan tenang untuk membayar hutang? Merebaknya penggunaan formalin terhadap makanan membuat tahu, mie basah, ikan asin, ikan segar, bakso, pedagang mie merasakan menurun omset penjualan dan malah banyak yang menutup usahanya, tak peduli apakah mereka memakainya atau tidak.

Dengan berbagai macam latar belakang di atas, maka seseorang yang memberi hutang harus memiliki jiwa besar untuk mengikhlas hutang-hutang orang yang tak mampu membayar. Mereka tak mampu membayar bukan tak mau membayar, melainkan dipaksa keadaan tak mampu membayar, maka dengan mengikhlaskan hutang berarti kita telah membantu kehidupan sesama yang sangat berarti bagi mereka, bahkan diikhlaskannya hutang lebih berharga dari sedekah yang diperoleh seberapa besarnya sedekah tersebut.

Islam tidak menutup mata terhadap orang yang mengikhlaskan hutang-hutangnya, Allah akan memberikan pahala sebesar nilai hutang jika diberi penundaan pembayaran, dan sampai penundaan orang tersebut tak mampu membayar, sedang pemberi hutang mengikhlaskan hutangnya, maka setiap hari dia akan mendapatkan pahala sebesar nilai hutang, hitung sendiri betapa besar pahala yang diperoleh? Besarnya pahala akan memusnahkan dosa-dosa kita, baik disengaja atau tidak yang setiap hari bertambah, sehingga kita akan selamat di kehidupan akhirat hanya dengan mengikhlaskan hutang.

         Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu,jika kamu mengetahui.”

(Q.S. Al-Baqoroh: 280)

 

Hutang Tak Dibayar Tak Dapat Ampunan.

Setiap orang pernah berurusan dengan hutang piutang, baik besar atau kecil. Dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari terhadang seseorang dipaksa berhutang. Hutang yang dilakukan manusia harus dibayar, saking pentingnya masalah pembayaran hutang ini, Nabi Muhammad bersabda: “Bagi orang yang mati shahid diampuni setiap dosa-dosanya, kecuali hutang.” (HR. Bukhari, Nasa’I, Turmidzi, dan Ibnu Hibban) Seseorang yang berjuang di jalan Allah, lalu meninggal dunia, semua dosanya diampuni, sedang dosa yang berbentuk hutang tidak diampuniNYA. Mengapa yang lain diampuni, sedang hutang tidak?

Islam dalam konteks ini sangat memperhatikan hubungan manusia dengan manusia lainnya atau hubungan horizontal. Bila dosa-dosa lain yang berkaitan dengan Allah atau hubungan vertikal bisa diampuni Allah kecuali syirik atau menyekutukan Allah, maka untuk hutang yang menyangkut hubungan manusia dengan manusia, tidak diampuni Allah. Nabi sendiri sampai menyerahkan baju besinya yang sangat berharga untuk membayar hutang menjelang ajal beliau. Ini contoh bagaimana Nabi Muhammad berusaha menyerahkan hutang menjelang ajal beliau, padahal beliau bebas dari segala macam dosa karena sudah diampuni Allah, baik sebelum atau sesudah beliau wafat, apalagi kita yang tidak ada jaminan akan diampuni dosanya oleh Allah.

Dalam bab sebelumnya telah diterangkan kewajiban mencatat hutang tanpa melihat besar kecilnya nilai hutang. Ini tidak hanya dilakukan para pedagang yang memang pasti berurusan dengan hutang, melainkan seluruh umat Islam harus memiliki catatan yang baik tentang hutang-hutangnya. Catatan tersebut akan sangat berharga terutama menjelang ajal supaya tidak ada beban hutang yang tersisa. Bagi yang terlanjur tidak mencatat, maka mulai detik ini memaklumatkan diri untuk mencatatnya.

Ada sebagian orang yang senang berhutang, kesenangnan tersebut dilakukan dengan maksud untuk mengingkari hutang, sehingga dia banyak berhutang dan banyak yang tidak dibayar. Orang tersebut tidak menyadari bahwa dirinya sedang menggali neraka di bawah telapak kakinya dan menutup pintu surga. Kebiasan buruk berhutang dan tidak membayarnya, merupakan sikap berani menentang aturan agama Islam dan memberanikan diri terbakar di neraka.

Sebelum meninggal memang diumumkan agar hutang kita diurus oleh ahli waris yang masih hidup atau keluarga yang ada, dan jika bisa diikhlaskan hutang tersebut. Alangkah baiknya bila seseorang berusaha melunasi hutang-hutangnya saat masih hidup dengan tidak meninggalkan beban pada keluarga dan ahli waris. Beban tersebut bisa dibayar atau tidak oleh ahli waris dan keluarga, seandainya tidak dibayar, maka tamatlah riwayat kita.

Ahli waris atau keluarga yang ditinggalkan harus berusaha sekuat tenaga melunasi hutang orang yang meninggal dunia, entah itu Bapak, Ibu, Nenek, Kakek atau saudara, mereka harus berusaha melunasinya saat mampu membayar hutang-hutangnya.

Berkaitan hal ini, Allah berfirman: “Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan[]; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Annisa’: 11)

Jika diperlukan, lebih baik menjual harta-harta yang dimiliki agar kewajiban hutang terlunasi semua, sehingga salah satu beban hidup menjadi terbayar lunas sebelum ajal datang. Ajal seseorang tidak diketahui akan datang kapan saja, tidak peduli bayi, anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua, tak tahu pasti kapan ajal menjelang, maka berusaha melunasi hutang dalam keadaan sehat walafiat, segar dan masih muda adalah sesuatu yang terbaik dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Khusus bagi para pedagang, seluruh hutang piutang dicatat dengan baik, berusaha dilunasi saat mampu membayar tanpa menunda-nundanya lagi, sebab tidak diketahui bagaimana nasib mereka ke depan. Siapa yang bisa menebak datangnya kebakaran di tempat usaha, musibah longsor, banjir bandang, dan kebangkrutan, karena itu saat mampu membayar sebaiknya dilunasi hutang-hutangnya. Mengelola hutang dengan baik adalah salah satu kunci sukses bagi para pedagang yang sebagian modalnya dipinjami oleh juragan, bos atau grosir, orang lain dan Bank. Pengelolaan yang salah bisa mengakibatkan kebangkrutan.

Bagi umat Islam yang diberi rahmat berupa kelebihan harta oleh Allah, lebih baik bersedekeh dengan melunasi hutang saudara-saudara Muslim lainnya, dari pada bersedekah sekedar untuk dihormati atau mencari sensasi. Nilai sedekahnya bisa membantu seseorang lepas dari dosa yang tidak diampuni, dengan demikian orang yang membayarkan hutang milik saudara muslim lainnya akan mendapatkan ampunan dari Allah.

Jika seseorang memiliki hutang pada kita dan orang tersebut menjelang ajal atau sudah meninggal dunia, sedang kita masih dalam keadaan serba berkecukupan, merelakan hutang adalah sebentuk kebaikan yang tak ternilai harganya. Insya Allah itu bisa membantu kita di akhirat, sebagaimana kita telah membantu orang yang meninggal dari dosa yang tidak terampuni. Melakukan hal ini diperlukan sikap kebesaran hati, kepercayaan yang besar terhadap kekekalan hidup di akhirat, kemurnian jiwa, kebijaksanaan dan kesadaran membantu nasib sesama, namun dengan melakukannya, kita telah menjadi Orang Besar di mata Allah dan diri sendiri.

 

BAB IV

SEDEKAH SEBAGAI UPAYA MELARISKAN PERDAGANGAN

 

Sedekah Bisa Meningkatkan Penghasilan

Sedekah atau infaq adalah memberikan sesuatu pada orang lain dalam bentuk uang, pakaian, makanan, minuman atau hal lainnya, secara kasat mata merupakan bentuk pengurangan dari jumlah harta yang dimiliki seseorang, namun dilihat dari sudut berbeda yakni cara Islam memandangnya, justru sedekah merupakan salah satu upaya manusia, khususnya di bidang perdagangan, pertanian, perikanan, peternakan, dan bidang lainnya untuk meningkatkan penghasilan. Mengapa satu hal yang sama bisa kontradiktif dilihat dari sudut yang berbeda? Benarkah sedekah bisa meningkatkan penghasilan seseorang? Apakah ada fakta kuat yang mendukung tesis tersebut?

Ada semacam konsesus tak tertulis di kalangan umat Islam yang terjun dalam bidang perdagangan, pertanian, peternakan dan perikanan, bahwa besar kecilnya penghasilan yang diperoleh seseorang tidak punya makna atau tidak “barokah” atau “berkat” kata orang Madura dalam pengelolaannya. Yang dimaksud barokah adalah harta yang dimiliki bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memenuhi kebutuhan keluarga, bersifat langgeng atau tidak cepat habis, dan bisa digunakan untuk membantu orang lain. Mereka meyakini bahwa barokah akan diperoleh bila rajin mengeluarkan sedekah; bagi petani setiap kali panen, bagi nelayan setiap kali untung besar, dan bagi pedagang bisa setiap hari bersedekah pada pengemis, meski nilainya cuman 100 sampai 1000 rupiah.

Berbekal pandangan tersebut, saya mencoba menerapkannya saat berjualan sepatu, sandal, tas, pet, peci, ikat pinggang dan berbagai kebutuhan anak sekolah. Hari itu, dagangan saya yang berupa sepatu ATT dan sandal japit laku terjual, pada waktu bersamaan seorang pengemis yang buta matanya berjalan tertatih-tatih dengan tongkatnya, segera saya ulurkan uang 1000 rupiah. Tiada beberapa lama, barang-barang yang lain ikut laku terjual seperti pet, tas dan ikat pinggang, sehingga total penghasilan saya lebih besar dari hari sebelumnya. Keesokan harinya, setiap pengemis yang minta tidak saya beri, justru barang yang laku hanya tiga sandal japit dengan keuntungan yang kecil, sebab keuntungan sandal japit anatara 500 – 1500 rupiah perbarang. Untuk lebih meyakinkan saya bahwa sedekah bisa meningkatkan penghasilan, maka keesokan harinya, setiap pengemis yang lewat saya beri meski 200 rupiah, saya sengaja menyiapkan uang recehan untuk diberikan pada mereka, ternyata hasil yang diperoleh jauh lebih besar dari saat saya tidak bersedekah pada para pengemis. Ini saya buktikan lagi dalam berbagai kesempatan yang berbeda, alhamdulillah penghasilan saya lebih meningkat saat rajin bersedekah.

Dengan pendapatan yang lebih besar setiap hari, maka saya bisa mengatur keuangan dengan baik, sebagian uang diputar buat modal usaha, sebagaian untuk kebutuhan sehari-hari, dan sebagian lagi diberikan pada orang-orang yang membutuhkan, khususnya para pengemis. Dengan pengaturan yang tepat, usaha perdagangan bertambah maju, barang bertambah lengkap, modal bertambah besar, pembeli bertambah banyak, dan kebutuhan hidup bisa terpenuhi dengan baik, serta bisa sedikit menyumbang, itu berarti dagangan saya telah mendapatkan barokah dari penerapan konsep bersedekah.

Apa yang saya lakukan ternyata diperkuat dengan ayat Al-Qur’an yakni “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (Q.S Al-Baqoroh 261) Dalam ayat ini jelas bahwa infaq atau sedekah yang diberikan seseorang akan mendapatkan pahala yang berlipat-lipat di akhirat, dan di dunia akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar saat bersedekah seperti yang sudah saya buktikan di atas, harta kita lebih barokah. Ini berarti harta kita hakikatnya bertambah berlipat-lipat saat rajin bersedekah tanpa kita sadari. Sehingga jika kita mampu mengatur keuangan dengan baik, tahu-tahu simpanan di Bank sudah banyak dan omset dagangan cukup lengkap, inilah barokah harta yang dimiliki karena rajin bersedekah.

Fakta di atas menambah keyakinan saya bahwa sedekah benar-benar bisa meningkatkan penghasilan, memang saya tidak mengadakan studi lewat survei, tapi dari pengakuan beberapa teman yang berbeda lewat percakapan, apa yang saya yakini di atas sama dengan yang mereka yakini. Bukti lain, saat menjelang Idul Adha, sandal japit untuk sedekah sangat laku keras, sebab para petani di desa ramai-ramai bersedekah dengan membeli sandal japit, kain sarung, sampir, baju takwa, payung, lampu damar, dan tikar, total jumlahnya bisa mencapai Rp. 150.000,- sampai Rp. 500.000,- yang disedekahkan. Ini karena mereka berkeyakinan bahwa sedekah bisa memaksimalkan hasil pertanian dan membuat harta mereka lebih barokah. Demikian juga nelayan di pinggi pesisir pantai, bila mendapatkan hasil berlimpah, maka biasanya sebagian ikan dibagikan pada lingkungan sekitar secara percuma, setelah menjual sebagian besar di antaranya.

Melihat realitas ini, merupakan sebuah anjuran yang diharuskan bagi para pedagang, petani, peternak dan nelayan di kalangan umat Islam untuk membagi sebagian hartanya pada orang-orang yang membutuhkan. Paling tidak bagi para pedagang adalah jangan pernah menolak pengemis yang meminta-meminta ke tempat dagangan kita, bagi nelayan setiap untung besar berbagi pada orang lain, dan bagi petani setiap panen sebagian disedekahkan. Sedekah dalam Islam bukan kewajiban, melainkan anjuran, anjuran tidak memaksa pemeluknya untuk melaksanakan sedekah, tapi bagi yang melaksanakan anjuran tersebut akan mendapat keuntungan berlebih, bagi yang tak melakukannya, akan mendapat kerugian yang ditanggung sendiri.

Dalam konteks yang lebih besar, banyak perusahaan akhir-akhir ini yang rajin bersedekah pada orang-orang yang tertimpa musibah, seperti bantuan beberapa perusahaan besar guna membantu rakyat Aceh yang terkena musibah tsunami, bantuan obat-obatan dan sejumlah uang dari perusahaan Bodrek pada bupati Jember guna membantu masyarakat Jember yang tertimpa musibah banjir bandang, dan masih banyak perusahaan lain yang membantu dalam berbagai musibah yang akhir-akhir ini mulai mewabah di negeri Indonesia tercinta. Dengan menunjukkan diri sebagai perusahaan yang rajin membantu rakyat banyak, perusahaan mendapat imbal balik dari rakyat yang simpati. Waktu mereka membutuhkan produk-produk tertentu dalam kehidupan sehari-hari, produk-produk perusahaan yang dermawan pasti mereka prioritaskan. Mereka akan membeli produk-produk perusahaan yang rajin membantu masyarakat banyak. Di sinilah konsep bahwa sedekah justru meningkatkan penghasilan, bukan menguranginya, benar adanya.

Beberapa artis Barat, seperti Britney Spers, Justin Timberlike, Oprah, George Coloney, Tiger Wood, Puff Daddy dan yang lain-lain rajin beramal lewat berbagai macam lembaga sosial, baik yang dibentuk sendiri atau lembaga sosial lain, karena dengan rajin meramal, mereka nampak murah hati, sehingga disukai para penggemarnya yang tidak segan-segan untuk membeli produk mereka; kaset, fashion, minyak wangi dan CD/DVD. Hal yang sama dilakukan beberapa artis Indonesia, yakni saat berulang tahun, idul adha, dan momen lainnya, mereka berbagai dengan anak-anak yatim piatu dan orang miskin.

Orang-orang di atas, melakukannya bukan karena keyakinan beragama, melainkan karena yakin bahwa dengan memberi pada orang lain, maka harta mereka akan bertambah. Kita sebagai umat Islam harus lebih baik dari mereka dalam bersedekah, sebab kita melakukannya bukan sekedar agar harta bertambah, melainkan supaya mendapat pahala di akhirat dan bermanfaat pada sesama manusia. Jika konsep sedekah dilaksanakan seluruh umat Islam Indonesia, insya Allah krisis ini tiada lama lagi akan berakhir.

 

 

Kode Etik Bersedekah

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti , mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak mereka bersedih hati.”

(Q.S. Al-Baqoroh;262)

“Pak, kasihani kami!” keluh seorang pengemis

“Uh! Masih kuat bekerja, tapi pengemis. Dasar!” sahut Ceking.

“Inilah satu-satunya pekerjaan yang bisa kami tempuh.”

“Kau malas! Seharusnya memanfaatkan tenaga yang masih tersisa untuk bekerja apa saja asal halal. Jangan mengemis!”

“Sudahlah! Bapak ingin memberi atau tidak.”

“Nih terima!” Sambil melempar uang lima ratusan rupiah, dengan nada bersungut menahan amarah.

“Terima kasih!” ujar pengemis sebelum pergi, hatinya mendongkol sebab cara pedagang pemberi menyakiti hatinya.

Menjadi pengemis adalah sebuah pilihan pekerjaan yang dilematis, antara keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan mengorbankan perasaan malu, rendah diri, dan was-was. Tapi bagi sebagian masyarakat pilihan menjadi pengemis adalah sesuatu yang ditakutkan karena dia seakan-akan “menjual” sebagian eksistensi dirinya sebagai manusia. Memang ada dalam kebudayaan suatu desa tertentu seperti Pragaan Madura, yang menjadikan pengemis sebagai mata pencaharian yang utama, meski telah mampu membangun rumah, memiliki motor, dan kebutuhan rumah tangga terpenuhi, mereka tetap menekuni profesi tersebut. Ini adalah sebuah pengecualian.

Masalah ini perlu diteliti lebih lanjut oleh akademisi karena merupakan salah satu keunikan dalam masyarakat. Dalam aspek berbeda, ini akan menjadi noda bagi pengemis. Anggapan bahwa profesi pengemis adalah keterpaksaan, tuntutan yang mendesak, kebutuhan yang mau tidak mau harus dipenuhi, dan pekerjaan yang nista menjadi tampak keliru, sehingga menciptakan lebih banyak lagi pengemis walaupun mereka masih mampu bekerja. Ini sama dengan orang-orang yang menagih amal di masyarakat untuk kebutuhan pembangunan masjid, namun digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, sehingga orang-orang yang ikhlas ingin menyumbang untuk masjid menjadi fatamorgana, karena anggapan masyarakat bahwa uangnya akan digunakan untuk kepentingan diri sendiri sangat kuat.

Bagi sebagian masyarakat lain yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup, sehingga terpaksa mengemis, menjadi pengemis adalah sesuatu yang memuakkan dalam hidup dan sebenarnya tidak mereka senangi. Mereka paham bahwa Nabi Muhammad SAW tidak menyukai profesi pengemis –bukan pengemisnya-, sebab seorang pengemis sifatnya pasif menunggu pemberian orang, usaha yang dilakukannya minim, kesan menunjukkan kemalasan sangat kuat.

Kenyataan dalam masyarakat kita, para pengemis begitu banyak sekali, sesuatu yang tidak bisa dipungkiri. Krisis multi dimensi yang melanda masyarakat Indonesia tanpa kunjung berakhir menciptakan kemiskinan bertambah menumpuk, di samping bobroknya sistem yang ada, sehingga membentuk masyarakat yang timpang. Mereka yang kaya, memiliki koneksi, jabatan, kekuasaan, wewenang dan kesempatan berlomba-lomba memperkaya diri, yang lain dibiarkan terbengkalai. Perbedaan golongan atas dengan bawah demikian jauh jaraknya bagaikan langit dan bumi.

Walau posisi para pengemis lemah, tapi mereka memiliki hak dari harta yang dimiliki orang-orang kaya, hak tersebut bisa direalisasikan dalam bentuk sodaqah. Jadi orang-orang yang dikaruniai rizki lebih oleh Allah punya kewajiban moral untuk memberikan hak para pengemis itu, dengan cara memberi sebagian harta yang mereka miliki.

Dalam menyalurkan hak orang miskin ada tata cara khusus yang tidak boleh memberikan sesuatu pada mereka, sedang kita menyakiti hatinya, entah dengan menghardik, melempar uang yang kita berikan atau membicarakan kejelekan mereka (ghibah).

Berhubung pokok bahasan di sini adalah pedagang kecil, maka mereka perlu memperhatikan tata cara bersedekah pada pengemis, jangan seenaknya sendiri, apalagi sampai menyakiti hatinya. Jangan karena merasa memiliki uang, lantas kita bersedekah pada para penggemis tanpa memperhatikan perasaannya. Harus diingat bahwa doa orang tertindas atau pengemis sejati, langsung diterima Allah tanpa hijab. Jadi tidak boleh menyakiti hatinya berapapun besarnya uang yang kita sumbangkan kepada mereka, apalagi nilainya cuman Rp. 200,-.

Tata cara selanjutnya, tidak boleh berangan-angan dalam benak kita masing-masing bahwa telah berbuat sesuatu luar biasa kepada mereka, merasa alangkah baiknya kita dalam memberikan sumbangan tersebut. Merasa bahwa mereka tidak akan makan kalau tidak mendapat sumbangan dari kita, sehingga sumbangan yang demikian kecil nilainya bagi kita, dan besar nilainya bagi mereka, harus dianggap kalau yang diberikan itu belum seberapa dibanding rizki yang telah diperoleh.

Dua cara menyumbang di atas berlaku saat berseodaqah, menyumbang untuk masjid, membantu sahabat yang tertimpa musibah dan berzakat fitrah/harta. Antara penyumbang dengan yang disumbang sama-sama kedudukannya, berbeda rizki yang diperoleh. Ini menunjukkan bahwa Islam berupaya bersikap adil terhadap umatnya. Tiada beda antara yang kaya dan miskin, pejabat dan rakyat jelata, pedagang dan pengemis, semua memperoleh kedudukan yang sama disisi Allah. Maka para pengemis harus diperlakukan secara terhormat, sebab mungkin tanpa disadari kita turut berjasa menjadikan mereka pengemis.

Kode etik bersedekah lainnya yakni tidak boleh menyebut-nyebut yang disedekahkan kecuali untuk kebaikan, menyakiti orang yang kita beri, riya’ atau mengharap pujian dari orang lain, sebab semua itu akan mengurangi pahala dari sedekah yang kita berikan. Sesuai firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih . Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Q.S. Al-Baqaroh: 264)

Untuk yang menyakiti orang yang akan kita beri sudah dijelaskan di atas, sedang riya’ dan menyebut-nyebut pemberian belum dijelaskan secara terperinci, uraian berikut ini sebagai penjelasan.

Setiap kali melakukan kebaikan, kita sering terpancing untuk membicarakan dengan orang lain, ini merupakan sifat khas manusia yang bisa menjerumuskan, sebab kita akan terbiasa berbuat baik karena mengharap pujian dari orang lain. Menyebut-nyebut sedekah yang kita berikan pada orang juga merupakan suatu kebiasan hidup umat Islam Indonesia. Dengan demikian dia merasa telah melakukan sesuatu yang besar pada umat Islam lainnya, padahal yang dilakukannya tidaklah seberapa. Untuk menghilangkan kebiasan menceritakan apa yang sudah kita sedekahkan, maka kita berlatih untuk berbicara saat penting, bila tidak penting sebaiknya belajar untuk tidak bicara. Di sinilah urgensi pepatah “diam itu emas”. Lebih baik diam, jika kita bicara sekedar menceritakan apa yang sudah kita sedekahkan pada orang lain atau malah pembicaraan kita justru menyakiti hati orang lain atau memfitnah orang lain.

Menyebut-nyebut sedekah yang diberikan bisa positif, bila dimaksudkan untuk memberikan kesadaran pada umat Islam agar mereka juga rajin bersedekah seperti dirinya, tapi disampaikan cukup sekali bukan berulang kali. Jadi yang saya ceritakan saat bersedekah agar bisa meningkatkan penghasilan seperti dijelaskan sub judul sebelumnya, itu karena saya berharap umat Islam berbondong-bondong untuk bersedekah, dan saya telah membuktikan secara langsung. Ini sekedar upaya saya meyakinkan umat Islam, sehingga mereka bersedekah. Dalam konteks ini, menyebut-nyebutkan sedekah yang diberikan dibolehkan.

Riya’ atau ingin dipuji orang lain merupakan sifat manusia yang alami, sifat ini tidak boleh dibiarkan tumbuh subur sehingga menyatu dalam diri. Sebab jika sudah menyatu, segala aspek kehidupan kita dimotivasi oleh keinginan dipuji orang lain. Oleh karena itu, Islam melarang umatnya untuk bersedekah mengharap pujian dari orang lain. Pada awal bersedekah boleh-boleh saja kita mengharap pujian, tapi untuk selanjutnya, kita harus membiasakan diri untuk bersedekah tidak mengharap pujian dari siapapun juga.

 

Bersedekah pada Mereka Yang Membutuhkan

“Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (Q.S Al-Baqoroh 215)

Seorang suami diwajibkan untuk memberikan hartanya pada istri dan anak-anaknya. Kewajiban tersebut sudah lazim di tengah-tengah masyarakat. Bagiamana jika harta yang dimiliki masih berlebih setelah diberikan pada mereka, maka susuai pesan dalam ayat di atas kita membagi sebagian harta pada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang yang sedang dalam perjalanan. Mengapa mereka harus dibantu?

Orang tua telah bersusah payah membesarkan kita dari bayi yang tidak berdaya, sampai kita menginjak dewasa, sehingga bisa mencari penghasilan sendiri, baik dari hasil berdagang, bertani, melaut, mengajar, menjadi pengusaha, pegawai, karyawan, buruh, dan profesi lainnya. Andai kita berhasil dalam profesi yang digeluti, sewajarnya bila sebagian harta yang dimiliki, dinikmati orang tua kita juga. Bahkan jika bisa, kita harus memberikan mereka hari tua yang menyenangkan dengan cara menanggung semua kebutuhan hidupnya, bukan malah menyerahkan ke panti jompo seperti yang dilakukan beberapa kalangan di kota besar. Panti jompo adalah penjara bagi para orang tua, kehidupan mereka tidak lagi bebas, mereka terkungkung dalam bangunan yang luas tapi hakikatnya sempit. Anak yang berani menitipkan orang tuanya di panti jompo sama dengan memenjarakan orang tua mereka. Tidak ingatkah bahwa ketika bayi mereka benar-benar tidak berdaya, hanya karena kasih sayang, cinta dan perhatian dari orang tuanya, mereka bisa mampu hidup sampai dewasa? Para orang tua yang telah menjadi kakek dan nenek hakikatnya tak jauh berbeda dengan anak kecil, sehingga kita harus memperlakukan dengan baik.

Dalam satu keluarga, biasanya ada yang beruntung sampai mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, ada yang kurang beruntung, pekerjaan yang ditekuni belum menghasilkan yang maksimal, dan ada yang tidak beruntung, usahanya jatuh bangkrut atau tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup. Sebagai orang terdekat, sudah sewajarnya orang yang lebih beruntung membantu yang kurang atau tidak beruntung, sehingga nasib mereka bisa kebih baik. Bantuan tidak harus berupa uang, melainkan bantuan berupa dorongan moril, nasihat dan cara-cara memajukan pekerjaannya tak kalah penting dari uang. Seandainya berupa uang, bagaimana caranya supaya berdaya guna, misalnya usaha berdagangnya bangkrut, maka kita bantu modal usaha sebagai hutang, agar dia merasa bertanggung jawab dengan uang yang diperoleh, bila ternyata modal bisa diputar, sebaiknya diikhlaskan saja. Dalam membantu kerabat, kita harus kreatif, tidak seperti pemerintah yang memberikan BLT supaya rakyat tidak mengamuk akibat kenaikan BBM yang dua kali lipat.

Kerabat yang terdekat di samping keluarga adalah para tetangga, sebab terkadang peran tetangga lebih besar dari saudara kandung atau kerabat lainnya, mereka yang lebih tahu saat kita sakit atau membutuhkan sesuatu. Berbagi sebagian harta pada tetangga, hakikatnya sama dengan membantu hidup kita sendiri, sehingga mereka dengan suka rela akan membantu pula. Memang terkadang hubungan bertetangga mengalami pasang surut akibat adanya sikap iri, dengki, tamak, dan hasud dalam diri manusia, tapi apapun masalahnya tetangga tetap harus diperlakukan dengan baik.

Anak-anak yatim piatu adalah kesayangan para Nabi. Mereka hidup tanpa kedua orang tua, tentu hidup yang dijalani teramat sulit, bisa jadi mereka harus bekerja saat seharusnya bersekolah atau anak-anak yang lain bermain, mereka harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Membantu mereka sama artinya dengan menolong anak-anak kesayangan para Nabi, yang tentu saja disayangi Allah SWT. Jika kita rajin membantu anak-anak tersebut, insya Allah, Allah tidak akan menutup mata untuk membantu segala kesulitan yang kita hadapi.

Orang-orang menjadi miskin karena beberapa sebab, kurang mampu menyeimbangkan antara usaha, pikiran dan hati, bekerja keras tapi hasilnya tidak jauh berbeda, kurang dekat pada Allah malah melalaikan ajaran-ajaranNYA, dan karena faktor ekonomi nasional yang memiskinkan masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Karena sebabnya bermacam-macam, maka bantuan yang cocok terhadap mereka harus beraneka ragam disesuaikan dengan latar belakang kemiskinannya. Kalau mereka bekerja tanpa bertawakkal pada Allah, maka kita harus menganjurkan untuk dekat dengan Allah lewat penerapan ajaran-ajaranNYA, yang bisa membantu meningkatkan penghasilan. Kalau karena faktor pemiskinan yang dilakukan pemerintah, maka kita harus mendesak pemerintah agar meninjau beberapa kebijakannya yang memiskinkan rakyat, sehingga rakyat miskin tidak bertambah banyak, dan rakyat yang terlanjur miskin dipedulikan dengan berbagai bantuan langsung pada mereka. Sedang bagi kita yang mampu, membantu rakyat miskin adalah keharusan sesuai kemampuan masing-masing, tidak harus memaksakan diri. Kita bisa membantu mereka dengan cara yang berbeda seperti dicontohkan di atas.

 

Ikhlas Dalam Bersedekah

Dalam Islam terdapat tahapan-tahapan yang dilakukan umat Islam dalam rangka melaksanakan ajaran-ajaran Islam, sebagai contoh seorang muallaf sebelum diwajibkan mengeluarkan zakat, dia termasuk orang yang berhak menerima zakat, atau seorang anak diajari shalat mulai kecil sampai berusia 9 tahun, dalam usia 9 tahun orang tua harus memaksa anaknya untuk menunaikan shalat lima waktu, inilah bentuk kemudahan dalam menjalankan ajaran-ajaran Islam. Hal ini berlaku dalam prinsip bersedekah.

Pada awal bersedekah, boleh saja kita lakukan di depan orang banyak agar mendapat pujian, lalu terus membiasakan sedekah dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi para pedagang di pasar tradisional atau swalayan, sehingga sedekah menjadi kebiasaan seperti halnya membiasakan diri makan dan minum. Lewat proses pembiasaan, rasanya kita merasa risih bila bersedekah sekedar mengharap pujian, maka perlahan-lahan kita berlatih untuk bersedekah tanpa diketahui orang banyak, hal ini dilakukan terus menerus, sehingga sampai timbul rasa bersalah bila bersedekah di depan orang banyak, dari sini perlahan rasa ikhlas mulai masuk dalam diri. Pada tahap terakhir kita akan membiasakan diri untuk menyumbang secara ikhlas tanpa pamrih, tidak mengharap pujian dan tidak mengharap imbalan apapun, hanya mengharap ridha Allah. Untuk lebih jelasnya, hal ini akan dijelaskan dalam paragraf berikut.

Mengharap pujian dalam bersedekah bisa positif dan negatif, positif bila kita melakukannya agar tidak disebut orang yang kikir atau hanya memakan sendiri harta yang dicari, negatif bila setiap kali bersedekah kita mengharap pujian, sebab pujian bagi manusia adalah racun, sedang kritik atau makian adalah sarana memperbaiki diri. Pujian menimbulkan kebanggaan sesaat yang hilang dengan cepat bagai ditiup angin, untuk apa kita melakukan sesuatu sekedar mengharap pujian dari orang lain. Ada orang kaya di Madura yang membagikan zakat hartanya ke setiap keluarga di sebuah desa sebesar Rp. 25.000,- menjelang hari raya. Orang banyak yang kagum padanya. Pada waktu bersamaan, dia agak curang dalam melakukan timbangan tembakau, sehingga rasa simpati berubah menjadi antipati. Inilah efeknya jika sedekah sekedar harap pujian.

Bersedekah berharap mendapatkan balasan di dunia berupa harta yang berlipat ganda seperti diuraikan dalam sub judul; Sedekah Bisa Meningkatkan Penghasilan, ini sah-sah saja untuk memotivasi setiap orang agar rajin bersedekah. Namun harus dipahami, bahwa kita tidak boleh berhenti sampai di sini, artinya dalam bersedekah, kita tidak sekedar mengharap balasan yang berlipat-lipat, melainkan berupaya meningkatkan kualitas sedekah kita sampai proses yang sempurna. Jika bersedekah sekedar harap imbalan yang berlimpah, berarti kita tidak jauh berbeda dengan orang awam, sebab mereka melakukannya karena mengharap yang lebih besar dari yang dikeluarkannya. Ini sesuai peringatan Allah dalam firmanNYA “Dan janganlah kamu memberi memperoleh yang lebih banyak,” (Q.S. Al-Muddatsir:6) Ayat ini tidak bertentengan dengan ayat di atas yang menyatakan bahwa setiap sedekah atau infaq yang diberikan umat Islam akan mendapatkan imbalan yang berlipat-lipat di dunia dan akhirat. Bila ayat pertama berupaya mengajak umat Islam berlomba-lomba bersedekah dengan tawaran yang sangat menarik, yang kedua adalah harapan Allah agar umat Islam tidak berhenti sampai di situ, melainkan meningkatkan diri tingkatan sedekahnya dengan hanya mengharap ridha Allah atau ikhlas.

Bersedekah mengharap imbalan pahala di akhirat seperti yang dijanjikan Allah dalam beberapa ayat di Al-Qur’an, sehingga diharapkan pahala-pahala yang diperoleh bisa menghilangkan dosa-dosa yang dibuatnya atau mengharap lepas dari siksa kubur. Dalam tahap ini, sedekah seseorang telah mengalami peningkatan dari sekedar harap pujian, imbalan berlipat di dunia sampai mengharap pahala di akhirat. Sebagai muslim yang baik kita memang harus mengumpulkan pahala sebesar-besarnya sebagai bekal dalam kehidupan di akhirat nantinya.

Dari mengharap pahala di akhirat, kita tingkatkan ke bersedekah secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan orang lain. Saat hendak bersedekah kita cari tempat yang sepi dari penglihatan orang, menaruh di depan pintu rumah fakir miskin dan kita langsung melangkah pergi, bahkan diusahakan saat tangan kanan menyumbang tangan kiri tidak melihatnya. Ada kepuasan batin yang berbeda saat bersedekah secara sembunyi-sembunyi dibanding bersedekah secara terang-terangan, karena itu harus lebih sering dilakukan.

Ada kejadian unik di beberapa rumah fakir miskin di Bondwoso, mereka biasanya mendapati di depan pintu rumah ada bungkusan yang berisi beras, lauk dan terkadang uang, semenjak Habib Muhdor meninggal, kebiasaan tersebut hilang, di depan rumah mereka tidak ada bungkusan lagi. Barulah mereka sadar bahwa yang selama ini bersedekah adalah Habib yang baru meninggal dunia tersebut. Betapa rapi cara Habib tersebut bersedekah secara sembunyi-sembunyi, suatu suri tauladan yang patut ditiru. Allah berfirman: Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: “Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari yang pada bari itu tidak ada jual beli dan persahabatan .” (Q.S. Ibrohim:31)

Puncak dari kesempurnaan sedekah adalah kita bersedekah tanpa pamrih. Ketika memutuskan untuk bersedekah, tidak ada niat agar dipuji orang, tidak ada harapan mendapat imbalan berlipat di dunia, tidak ada harapan mendapat pahala di akhirat, yang diharap hanya ridha Allah. Sedekah hanya untuk Allah semata yang diberikan pada hamba-hambaNYA yang membutuhkan, tidak untuk yang lain. Pikiran berusaha dikosongkan, hati dibersihkan dari segala sifat yang buruk, perasaan diputihkan, dan tindakan memberi dilakukan sebaik mungkin secara sembunyi-sembunyi, sehingga ridha Allah terbuka lebar bagi kita. Memang untuk ikhlas tidak mesti dengan cara sembunyi-sembunyi, secara terang-terangan juga bisa, tapi bersedekah secara sembunyi-sembunyi dan ikhlas lebih baik.

Secara teori bersedekah secara ikhlas memang mudah, manakala dipraktekkan sulit sekali dilakukan. Sebab dalam hati kita tertanam beberapa sifat buruk seperti iri, dengki, hasud, takabbur/sombong, riya’(harap pujian orang lain), yang senantiasa menggoda kita untuk tidak ikhlas. Belum lagi godaan mengharap imbalan berlipat dari sedekah yang dikeluarkan, mengharap pahala di akhirat, dan mengharap surga. Sifat-sifat buruk dalam hati dibersihkan dengan memperbanyak dzikir, puasa dan shalat, sedang godaan-godaan itu dihilangkan dengan proses pembiasaan bersedekah harap ridha Allah semata. Di samping itu, kita harus meyakini bahwa sedekah yang diberikan hakekatnya masih bernilai kecil dan tidak seberapa dibandingkan dengan keseluruhan umat Islam yang dalam taraf fakir miskin, yatim piatu, dan orang-orang yang hidup dalam kekurangan, jumlah mereka semakin hari semakin besar, sedang kita hanya mampu bersedekah sebagian kecil di antaranya, bahkan 1% pun tidak sampai. Sikap ini akan membuat kita rendah hati dan bisa menyatukan ikhlas menjadi milik diri selamanya.

Orang yang mampu mencapai taraf keihkhlasan, perasaannya tenang, pikirannya jernih, hatinya bersih, buah tutur katanya halus dan penuh makna, nasihat-nasihatnya manjur dan sikap hidupnya penuh kebijaksanaan. Dengan kondisi demikian, pintu hidayah dan rahmat Allah sampai kepadanya, sehingga perlahan-lahan dia membentuk dirinya menjadi manusia paripurna mendekati Nabi Muhammad SAW. Intuisi atau pengetahuan yang diperoleh secara langsung tanpa proses pengindraan atau pengalaman, muncul dengan mudah dari dirinya. Orang yang mampu mencapai keikhlasan secara sempurna adalah orang yang pantas diikuti umat Islam dimanapun mereka berada, dan dialah pemimpin sejati umat Islam. Hal ini sesuai firma Allah: “Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S Yaasin:21)

Tahapan-tahapan bersedekah sengaja diuraikan pada kesempatan ini agar umat Islam bisa memperkuat keyakinannya terhadap Islam. Islam dalam menerapkan ajaran-ajaran disesuaikan dengan kemampuan diri umat Islam, jika hanya mampu bersedekah mengharap pujian pada tahap latihan awal boleh saja, jika mampu bersedekah harap yang lebih besar juga tak masalah, jika mampu bersedekah harap pahala akhirat termasuk bagus, jika mampu bersedekah secara sembunyi-sembunyi lumayan bagus, dan jika mampu bersedekah secara ikhlas, kita seperti telah sampai pada salah satu pintu ajaran inti Islam, yang membimbing kita ke hidayah dan rahmat Allah. Suatu pencapaian yang luar biasa bagi umat Islam. Keikhlasan inilah yang belum membudaya di kalangan umat Islam, sehingga mereka dijauhkan dari hidayah dan rahmat Allah, makanya krisis di bumi pertiwi Indonesia tak kunjung berakhir.

 

 

 

Bersedekah dalam Segala Kondisi

Situasi dalam kehidupan manusia senantiasa berputar, terkadang mereka dalam keadaan senang, sedih, dalam keadaan lapang dada, dalam keadaan terjepit, bagi pedagang terkadang menikmati pasar yang ramai, terkadang terjebak dalam pasar sepi. Semua kondisi memaksa manusia untuk menyesuaikan diri dengan keadaan, sehingga bisa tetap berdiri tegak, bahkan mampu mengatasi segala masalah untuk menghasilkan yang terbaik dalam hidupnya.

Islam telah meletakkan dasar bahwa orang yang kaya harus berbagi dengan orang miskin, mereka kaya karena ada yang miskin, tanpa orang miskin tidak disebut kaya, mereka kaya karena kerja keras orang di sekitarnya yang bisa jadi orang-orang miskin memberikan kontribusi di dalamnya. Sewaktu orang-orang kaya menginfakkan sebagian hartanya untuk orang-orang miskin, sebenarnya mereka baru sampai pada tahap awal melaksanakan sesuatu yang seharusnya dilakukan, mereka baru menjalankan sebagian kecil dari ajaran Islam. Mengapa demikian?

Sewaktu kaya, mereka masih dalam keadaan lapang atau serba berkecukupan, apa-apa yang dimiliki membuat mereka bisa hidup sejahtera dalam beberapa generasi mendatang. Hidup mereka belum merasakan perasaan sempit, terhimpit, dan terjebak dalam kesulitan seperti halnya orang-orang miskin. Baru ketika menyisihkan sebagian harta untuk orang-orang yang kekurangan saat mereka justru terhimpit, di sinilah nilai plus mereka berbeda, seandainya ini bisa mereka lakukan, maka mereka telah meningkatkan kualitas keislamannya menuju ihsan.

Dalam konteks pedagang, saat pasar ramai sudah sewajarnya mereka bersedekah sebab mereka dalam keadaan stabil, bisa mengatur keuangan dengan baik, penghasilan lumayan, dan modal usaha yang diputar cukup besar, tapi dalam keadaan pasar sepi mereka tetap berusaha menyumbang dalam keadaan diri serba terbatas, terhimpit memenuhi kebutuhan hidup sendiri, dan terjepit daya beli masyarakat yang menurun sehingga omset dagangan senantiasa berkurang karena digunakan memenuhi kebutuhan hidup, berarti mereka juga sedang membuka pintu ihsan. Para petani bersedekah di waktu panen sukses adalah kewajaran, namun saat panen gagal karena hama atau saat mereka belum panen yang mana memenuhi kebutuhan hidup sendiri susah atau saat harga gabah jatuh di pasaran sehingga panen merugi dan mereka membesarkan hati bersedekah, maka mereka sedang menuju pintu ihsan. Bagi para nelayan, berinfaq manakala ikan berlimpah di lautan adalah hal yang wajar, namun dalam keadaan ikan tidak berlimpah dan hidup sulit, mereka mampu berinfaq, maka mereka juga menuju pintu ihsan. Tentu kita bertanya-tanya, bagaimana cara masuk ke dalam rumah ihsan yang sesungguhnya?

Orang-orang yang mampu menyumbangkan sebagian hartanya dalam berbagai keadaan, terutama misalnya pedagang yang tetap berusaha bersedekah meski pasar dalam keadaan sepi atau daya beli masyarakat menurun atau dalam krisis, juga akan memperoleh dampak positif terhadap dagangannya. Orang-orang akan bersimpati karena kita tetap menyumbang padahal dalam keadaan serba sulit, simpati ini akan mendatangkan keinginan dari orang tersebut, keluarganya dan tetangga sekitar untuk membeli sesuatu ke toko kita. Inilah indahnya Islam, umat Islam yang memberikan manfaat pada orang lain, maka Allah pasti membantunya dengan cara yang bermacam-macam, termasuk memberi kelapangan saat dalam keadaan sempit, dagangan tetap laku padahal pasar sepi, dan memberikan sesuatu yang tak terduga dalam hidup kita.

Ihsan dalam konteks amal adalah melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain tanpa pamrih. Seseorang yang berusaha memberikan sebagian hartanya untuk orang lain yang membutuhkan, baik dalam keadaan susah atau senang, dalam keadaan lapang atau sempit, dalam keadaan krisis atau normal, maka dirinya sedang berusaha untuk bisa bermanfaat pada orang lain, dengan syarat yang dilakukan secara ikhlas tanpa pamrih apapun. Sedang ihsan dalam konteks ibadah adalah beribadah pada Allah seakan-akan kita melihatNYA, jika tidak melihatNYA, kita yakin seyakin-yakinnya bahwa Allah senantiasa melihat, bersama, dan mendampingi kita. Beribadah seakan-akan melihat Allah bisa senantiasa kita latih saat shalat lima waktu, shalat sunnah, puasa, dan dzikir, meski mungkin kita akan kesulitan melihatNYA karena keterbatasan sebagai manusia. Inilah istimewanya Islam, menyadari bahwa manusia serba terbatas, maka Islam menawarkan paradigma yang mudah dilakukan yakni senantiasa beribadah dengan berkeyakinan bahwa Allah senantiasa bersama kita dalam berbagai keadaan.

Kita harus ingat bahwa beribadah dalam Islam bukan hanya shalat, puasa, zakat, dzikir, doa dan haji, melainkan segala sesuatu yang diniatkan untuk ibadah bernilai ibadah. Seorang pedagang ketika berdagang diniatkan untuk memberikan nafkah pada keluarga dan orang-orang yang kekurangan hakikatnya adalah ibadah, seorang petani yang membanting tulang untuk menghidupi keluarga, usahanya diniatkan untuk menambah ketaatan pada Allah adalah ibadah, nelayan yang selalu berusaha mengingat Allah di lautan dan menafkahkan penghasilannya pada keluarganya adalah ibadah, kegiatan apapun dalam kehidupan sehari-hari yang diniatkan untuk mendekatkan diri pada Allah, mengingat Allah dan memberikan manfaat pada orang lain adalah ibadah.

Saya tidak menemukan keindahan ajaran Islam ini dalam agama manapun meski telah mempelajari sosiologi agama atau mempelajari berbagai macam bentuk agama yang lain. Umat Islam harus bangga dengan keislamannya. Apalagi menurut Max Weber salah seorang Bapak sosiolog Barat menyatakan bahwa hanya Islam dan Yahudi yang merupakan agama teguh pada prinsip monoteistik atau satu Tuhan, sedang Trinitas Kristen baru tampak memiliki kecendrungan monoteistik ketika dibedakan dengan bentuk-bentuk triteistik Hinduisme, Budhisme akhir dan Taoisme. Pengakuan Max Weber ini tambah mempertebal keyakinan kita terhadap Islam. Meski demikian kita tidak harus mengikuti agama Yahudi karena sama-sama satu Tuhan, sebab ajaran-ajaran mereka sudah menyimpang dari yang diajarkan rosulnya dan agama Islam telah menyempurnakan semua agama yang ada di bumi.[15]

Ihsan dalam konteks amal dan ibadah harus disinergikan dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk sinergi pertama seperti dijelaskan di atas yakni bersedekah dalam berbagai keadaan tanpa pamrih, sedekah yang dilakukan diupayakan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya pada umat Islam, dan senantiasa meyakini bahwa apa yang kita lakukan hakikatnya Allah selalu mengawasi dan bersama kita. Inilah bentuk sinergi ihsan yang harus dilakukan umat Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Apalagi sekarang krisis melanda negeri ini tanpa jelas kapan akhirnya. Awal krisis, umat Islam Indonesia belum merasakan dampaknya sebab berbagai komoditas seperti pertanian, perikanan, dan perdagangan ikut menjadi naik, sehingga imbas langsung krisis belum terasa, malah sebagian orang banyak yang mendapat keuntungan, buktinya jamaah haji melebihi kuota dan banyak orang membangun rumah. Tapi memasuki 2002 sampai sekarang dan mungkin yang akan datang, berbagai komoditas masyarakat tidak ikut beranjak naik, padahal kebutuhan masyarakat bertambah meningkat dan bertambah mahal akibat kenaikan BBM, maka krisis yang benar-benar krisis mulai terasa. Artinya inilah waktu yang tepat bagi umat Islam untuk mempraktekkan ihsan dengan cara membantu umat Islam lain yang dalam kekurangan meski kehidupan kita juga terasa sulit. Krisis tidak boleh membuat tingkah laku kita terjebak dalam krisis; melakukan kejahatan, pencurian, perampokan, dekadensi moral, memfitnah orang, melakukan segala cara untuk mendapatkan uang, menipu, dan berbagai tindakan negatif lainnya, namun krisis merupakan sarana umat Islam memperkokoh diri dan menerapkan ihsan dalam konteks yang benar.

Ihsan yang kedua yakni membuka pintu hati agar memberikan maaf pada orang-orang yang berbuat salah terhadap kita. Krisis juga berdampak pada perubahan prilaku masyarakat yang semakin di luar kendali, di luar akal sehat, suka iri, fitnah merajalela, hasud menyebar di mana-mana, dan kedengkian pada sesama mewabah, prilaku-prilaku tersebut bisa membuat seseorang menyakiti orang lain, baik disadari atau tidak -sebagian besar di antaranya disadari-. Jika kita ingin meningkatkan kualitas hidup menuju sinergi ihsan amal dan ibadah, maka kita selalu membuka pintu maaf pada orang-orang yang pernah berbuat salah pada kita, dalam memberikan maaf kita lakukan sebagai upaya melapangkan hati orang yang bersalah -orang yang bersalah dihantui perasaan bersalah terus menerus sehingga kehidupannya tidak tenang-, dan meyakini bahwa Allah bersama kita saat pintu maaf kita buka lebar-lebar bagi mereka.

Memberikan maaf pada orang yang berbuat salah pada kita sekali dua kali adalah biasa, tapi mampu memberikan maaf pada orang-orang yang selalu berbuat salah tanpa berusaha menghentikan tindakannya tersebut, malah berusaha mengajak orang lain untuk menyakiti hati kita, padahal kita tidak tahu apa kesalahan yang kita perbuat, maka ini adalah tingkatan yang paling sempurna dari ihsan lewat pemberian maaf. Sebab memberi maaf pada orang-orang tersebut, bukan jaminan bahwa tindakan-tindakannya yang menyakiti akan berhenti, tapi mungkin akan terus dilakukan meski kita sudah memaafkannya, sehingga seseorang yang mampu tetap melapangkan hatinya untuk memberi maaf adalah seseorang yang menuju paripurna sebagai manusia.

Meski menganjurkan bersedekah dalam segala keadaan, Islam tidak bermaksud memaksa umat Islam untuk memberikan hartanya sedang keluarganya hidup dalam kekuarangan, anaknya terlantar dan sehari-hari hanya sanggup makan nasi yang dikeringkan. Artinya prioritas utama tetap keluarga, baru kerabat, orang-orang di sekitar dan masyarakat luas seperti dijelaskan dalam sub bab Memberi Nafkah pada Mereka Yang Membutuhkan. Dalam keadaan sulit kita tetap bisa bermanfaat dengan cara tidak sekedar menyumbangkan harta, melainkan menyumbangkan tenaga, pikiran, dan sikap yang baik dalam, adalah bentuk-bentuk ihsan yang bisa kita lakukan. Berbuat baik tidak mesti diwujudkan dalam bersedekah, masih banyak cara lain di luar bersedekah yang bisa dilakukan umat Islam. Cara-cara tersebut disesuaikan dengan keadaan, kemampuan diri, kebutuhan, dan potensi yang dimiliki,

Ya Allah! Aku semakin yakin dengan Islamku, sebab Islam benar-benar menomorsatukan nasib umat di atas segalanya, memberikan kemudahan pada umat Islam dalam menjalankan ibadah sosial dan spritual, dan memudahkan umat Islam dalam menerapkan ihsan, suatu nilai-nilai yang sulit dicari tandingannya.

Jika kita sanggup menjalankan hal-hal di atas berarti kita telah berihsan seperti yang dianjurkan dalam ayat Al-Qur’an: “orang-orang yang menafkahkan, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (Berbuat Ihsan).” (Q.S Al-Imron: 134) Selamat berihsan!

 

Sedekah Sebagai Penyelamat Manusia

Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut : Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptkan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? “Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?” Allah menjawab, Ada, yaitu besi” (Kita mafhum bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi). Para malaikat pun kembali bertanya, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?” Allah yang Mahasuci menjawab, “Ada, yaitu api” (Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api). Bertanya kembali para malaikat, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?” Allah yang Mahaagung menjawab, “Ada, yaitu air” (Api membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air). “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?” Kembali bertanya para malaikta. Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, “Ada, yaitu angin” Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, “Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?” Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab, “Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya.”[16]

Betapa kuatnya kekuatan sedekah yang dilakukan secara ikhlas mengharap ridha Allah, sedekah yang dikeluarkan seseorang, saking ikhlasnya sehingga tangan kanan yang menyumbang, tangan kiri tidak mengetahuinya. Beberapa unsur yang sangat kuat seperti gunung, besi, api, air, dan angin masih kalah dengan kekuatan sedekah tersebut. Kedua tangan yang kelak akan akan hidup dan sanggup berbicara di akhirat sebagai saksi hidup tentang tingkah laku manusia, demikian juga akan bersaksi tentang sedekah yang diberikan seseorang. Tangan kanan yang senantiasa melakukan kebaikan, tangan kiri memperoleh tugas yang dianggap “buruk”, namun fungsi tangan kanan tak bermakna tanpa tangan kiri. Meski fungsi tangan kiri di atas sekedar “tidak melihat” saat tangan menyumbang, namun eksistensinya tetap sangat penting.

Gunung adalah salah satu ciptaan Tuhan yang kuat, ketika gunung meletus tak ada sesuatupun yang bisa menghadapinya. Legenda letusan gunung Krakatau yang legendaris, saking kuatnya sampai menutupi langit dengan muntahan debunya dalam beberapa kawasan, menimbulkan tsunami yang mengerikan, korban jiwa manusia yang besar (akan lebih besar dari tsunami Aceh jika terjadi pada zaman ini). Kekuatan gunung bisa diatasi dengan kekuatan besi atau dalam makna lain bisa diartikan teknologi manusia. Dalam tulisan KH. Abdullah Gimnastiar di atas bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi. Dalam pemahaman saya, gunung yang aktif bisa direkayasa manusia agar tidak menumpuk menjadi letusan yang mengerikan, dengan melubanginya menggunakan besi, gugusan gunung pasir bisa rata dengan tanah lewat kekuatan besi yang digunakan manusia, teknologi masa kini bisa memperkirakan kapan gunung meletus, seberapa besar letusan, kemana arah kawah gunung akan lewat, dan bagaimana pengaruhnya bagi manusia, hingga bisa diantisipasi manusia.

Besi yang mampu “mengalahkan gunung” tak ada artinya di hadapan api, api mampu melumat besi sebesar dan sekuat apapun. Bukti paling nyata di pabrik pengolahan besi, atau bukti lain saat kebakaran besar terjadi pada bangunan yang ditopang besi, justru bangunan bisa hancur lebur rata dengan tanah.

Sifat api yang membakar dan menghanguskan akan musnah dengan kekuatan air, makanya para pemadam kebakaran memadamkan api dengan air. Kekuatan air yang paling kuat bisa kita saksikan dalam musibah tsunami di Aceh yang mampu melumatkan bangunan sekokoh apapun rata dengan tanah, manusia yang jadi korban hampir mencapai hampir 200.000 korban jiwa di seluruh dunia, sebuah kapal tangker raksasa hanyut sampai berkilo-kilo meter dari lautan dibawa terjangan tsunami. Kekuatan air benar-benar mengerikan dan tak terbayangkan sebelumnya.

Air tak kuasa melawan hembusan angin, maka ombak di lautan mengikuti arah hembusan angin. Angin yang dasyat juga bisa mengangkat air yang besar menjadi gelombang yang mengerikan, sehingga menimbulkan istilah laut pasang yang sampai ke daratan dengan tinggi bisa mencapai dua meter. Angin bisa menaklukkan kekuatan dari air.

Semua kekuatan dasyat tersebut ternyata kalah dengan kekuatan sedekah yang dilakukan mengharap ridho Allah. Mengapa kekuatan sedekah demikian kuat? Sebab sedekah yang dilakukan secara ikhlas, tidak sekedar bermakna dalam kehidupan dunia yang fana, namun menjadi kekuatan besar di akhirat nanti yang akan menyelamatkan manusia dari cengkraman neraka yang dasyat, yang kekuatannya bisa mengalahkan unsur gunung, besi, api, air, dan angin.

Seseorang yang ikhlas dalam segala prilakunya sehari-hari, baik dalam konteks ibadah sosial maupun dalam konteks ibadah spritual, maka pada hari Akhirat akan bertemu dengan Allah SWT, suatu pertemuan yang sangat diharapkan umat Islam dalam berbagai lapisan. Sebagai analogi, kita saja saat ingin bertemu dengan kekasih yang sangat dicintai, jantung berdebar-debar, perasaan tak karuan, hati merasa bahagia, dan diri merasa senang tiada tara, apalagi bertemu dengan Allah. Hanya orang-orang terpilih yakni para Nabi, sahabat-sahabat Rasul, Ulama’ dalam arti sebenarnya, orang-orang yang bertakwa, ikhlas, selalu melaksanakan ihsan, senantiasa bersabar dalam menjalani kehidupan, berjuang di jalan Allah, berakhlak mulia yang akan bertemu denganNYA. Semoga kita semua termasuk dalam golongan orang-orang terpilih tersebut. Inilah salah satu kehebatan bersedekah secara ikhlas.

Alangkah indah logika yang dibangun di atas, suatu logika yang dijadikan manusia untuk mendapatkan pengetahuan, sehingga dengannya manusia bisa mengatasi berbagai permasalahan dalam hidup. Pengetahuan yang dimiliki manusia mengandung dua sisi berbeda, satu sisi bisa mensejahterakan manusia dengan hal-hal yang positif, baik, dan benar, sisi yang lain bisa menghancurkan manusia dengan kekuatannya yang merusak, jelek, menghancurkan, dan membunuh manusia seperti yang terjadi terhadap alat-alat militer hasil ciptaan manusia. Tiada jalan bagi manusia untuk menaklukkan kekuatan alam yang dasyat dengan ilmu pengetahuan, namun ilmu pengetahuan juga harus digunakan untuk menjadikan bumi lebih enak didiami manusia, mempertahankan ekosistem yang ada, menghijaukan hutan gundul, membangun secara terencana tanpa merusak lingkungan, mengurangi semaksimal mungkin efek rumah kaca dan pengaruh negatif dari alat-alat ciptaan manusia yang menipiskan lapisan ozon sehingga membuat bumi lebih panas, dan hal-hal lain demi kebaikan manusia di masa mendatang.

Apa makna semua ini bagi para pedagang? Para pedagang telah dianjurkan bersedekah sesuai tahapan-tahapan yang dijelaskan sebelumnya, pedagang yang paling baik di antara yang baik apabila menyempurnakan sedekah dengan tanpa pamrih apapun. Sehingga sedekah yang dilakukan tidak sekedar bermakna melariskan dagangan yang dikelola, melainkan lebih dari itu bisa menyelematkan para pedagang dari api neraka yang sangat ganas. Para pedagang yang jujur, baik hati, murah senyum, ramah, terkadang terpancing melakukan kesalahan secara tidak sengaja, kesalahan tersebut bisa ditebus dengan kekuatan sedekah.

Sedekah secara ikhlas bisa menjadi juru selamat bagi para pedagang, baik dalam kehidupan dunia, terutama dalam kehidupan di akhirat. Kita hidup sekedar menjejakkan kaki sementara di dunia, nanti kehidupan yang sebenarnya akan kita alami di akhirat. Maka dalam menekuni usaha perdagangan diupayakan agar sesuai dengan kode etik menjalankan dunia usaha, bersikap jujur, sabar, ramah, dan rajin bersedekah, khususnya sedekah secara ikhlas. Tak ada kekuatan apapun yang bisa menandingi kekuatan sedekah.

 

 

 

 

BAB V

MENGEMBANGKAN DIRI MENJADI PENGUSAHA ELIT

 

Dari Pedagang Kecil Menjadi Pengusaha Menengah

Klasifikasi kelas soial yang umum berlaku di masyarakat adalah upper-upper; kelas atas yang paling atas, midle upper; kelas atas yang menengah, lower upper; kelas atas bawah, ini semua digolongkan pada kelas sosial atas, upper middle, kelas menengah atas, middle-middle; kelas menengah yang menengah, lower middle; kelas menengah bawah, untuk kelas sosial menengah, dan upper lower; kelas bawah atas, middle lower; kelas bawah menengah, lower-lower; kelas sosial bawah yang bawah.[17]

Kelas atas yang terbagi dalam tiga kelas berbeda yakni; upper-upper digolongkan pada para pengusaha yang bergerak multi nasional atau regional seperti Liem Sio Liong, upper middle untuk para pengusaha yang bergerak secara nasional dengan memiliki beberapa perusahaan yang berbeda seperti Khairul Tanjung yang mengelola Bank Mega dan stasiun televisi Trans TV, upper lower adalah para pengusaha yang bergerak secara nasional dengan memiliki satu perusahaan atau dua perusahaan saja.

Kelas menengah yang terbagi dalam upper middle adalah pengusaha daerah yang sedang bergerak menjadi pengusaha nasional, middle-middle adalah pengusaha daerah yang bergerak di beberapa daerah tapi belum mencapai secara nasional, dan middle lower adalah pengusaha daerah yang bergerak di daerah saja. Ketika seorang pengusaha daerah telah bergerak secara nasional berarti hakikatnya dia telah meningkatkan diri menuju kelas sosial atas bawah.

Kelas bawah terbagi dalam lower upper untuk para pedagang yang membawahi beberapa pedagang lagi di bawahnya, lower middle untuk para pedagang yang menjual pada pembeli atau menjadi pengecer, dan lower-lower untuk para pedagang kecil atau kaki lima yang berdagang hari ini untuk memenuhi kebutuhan hidup waktu itu juga. Para pedagang kelas bawah bisa meningkatkan diri menjadi kelas menengah, asal perdagangan yang bersangkutan sudah bisa menyebar ke dalam beberapa Kabupaten di suatu propinsi, sehingga dirinya disebut pengusaha menengah bawah. Bagaimana cara meningkatkan diri dari pedagang kecil menjadi pengusaha menengah?

Saya memberikan ilustrasi dengan pedagang rumput laut di pesisir pantai, awalnya sang pedagang membeli rumput laut dari penduduk setempat untuk dijual lagi ke penyalur rumput laut, sambil dirinya turut menanam rumput laut sendiri. Dalam tiga tahun, sang pedagang meningkatkan diri tidak hanya membeli dari masyarakat setempat, melainkan dari desa berbeda, dan kecamatan berbeda, sehingga rumput laut yang dipasok ke penyalur semakin banyak. Suatu saat sang penyalur mempermainkan pedagang dengan menawar rumput laut di bawah harga pasaran, mengklaim kadar air terlalu banyak sehingga ditolak, dan alasan-alasan lainnya. Dirinya merugi lumayan besar.

Kerugian yang ada membuat dirinya berpikir kreatif, yakni berusaha mencari penyalur lain, sayangnya penyalur lain dalam keadaan stok yang banyak juga, sehingga dia terpaksa menjual pada penyalur pertama walau merugi. Dari sini timbul inisiatif untuk mencari pabrik yang mengolah rumput laut menjadi produk-produk jadi. Dengan minim pengalaman, berangkalah sang pedagang ke Surabaya, Bandung dan Jakarta menjajaki kemungkinan mengirim rumput laut, hasilnya gagal total.

Ini tidak menyurutkan niatnya untuk berusaha mencari pangsa pasar baru. Pada waktu berbeda dia datang lagi dengan pakaian perlente; dasi, jas, sepatu, kemeja, dan mobil yang mencarter di Rental mobil di Surabaya. Kali ini dia berhasil mempengaruhi sebuah pabrik di Surabaya. Mulailah sang pedagang mengirim barang ke pabrik dalam jumlah besar, sehingga keuntungan yang diperoleh sangat besar.

Berhubung pangsa pasar jelas, pabrik yang dituju sudah ada, stok barang dari petani-petani rumput laut mencukupi stok pengiriman, sehingga diperlukan modal tambahan supaya bisa dikembangkan menjadi lebih besar. Dalam konteks inilah sang pedagang yang berusaha menjadi pengusaha, mulai melakukan pinjaman di Bank Syari’ah untuk memperkuat usaha yang dikelola. Besar pinjaman disesuaikan dengan perputaran uang setiap pengiriman ke pabrik. Pinjaman ini bisa diperbesar saat mampu dilunasi, dan usaha dikembangkan untuk bisa diekspor ke luar negeri.

Lewat pengetahuan dari koran, majalah, buku dan penyuluhan dari pakar rumput laut, ada peluang mengelola usaha rumput laut lewat jalur ekspor ke beberapa negara tetangga, sebab rumput laut Indonesia kualitasnya sangat diakui asal pengelolaannya benar dengan kadar air yang sedikit. Dari sini sang pedagang berusaha mencari informasi eksportir rumput laut, mencari tahu cara-cara mengekspor barang, cara mendapatkan negara tujuan dan cara berurusan dengan Bea dan Cukai serta dinas Pajak. Setelah informasi lengkap, dia berusaha menembus pasar ekspor ke negara Asean, awalnya ada peluang terhadap negara Vietnam, dan dia memanfaatkan peluang dengan baik.

Pedagang yang merangkak dari pedagang kecil, ketika mampu mengirim ke pabrik, dia berusaha membawahi beberapa pedagang kecil lainnya agar mengirim rumput laut padanya. Demikian juga saat mampu mengekspor rumput laut, maka dia semakin memperluas kelompok-kelompok pedagang kecil yang dikelola agar stok barang mencukupi, dengan memberikan penjelasan tentang kualitas pengelolaan rumput laut sesuai standar ekspor, bila para pedagang kecil melanggar, barang tidak akan diterima atau ditolak. Karena standar mutu disepakati di awal, sehingga para pedagang di bawahnya menjaga komitmen tersebut, sebab apapun yang terjadi rumput laut mereka akan tetap dibeli asal sesuai standar.

Dengan menjadi pengusaha ekspor ke satu negara, hakikatnya dia telah meningkatkan diri dari pedadang kecil menjadi pengusaha menengah atas. Mengapa menengah atas? Pengusaha tadi tetap bergerak di daerahnya tidak berusaha bergerak secara nasional, dan ekspor pengiriman hanya pada satu negara bukan beberapa negara, sehingga kurang tepat disebut kelas atas. Namun dengan menjadi pengusaha menengah atas yang sukses, contoh pedagang kecil tersebut patut ditiru oleh para pedagang atau pengusaha lainnya.

Ketika sang pengusaha tadi bergerak memperluas para pedagang yang berada di bawahnya tidak hanya berasal dari satu daerah, melainkan beberapa daerah berbeda, memperluas pemasaran ke beberapa pabrik di Indonesia, bahkan berusaha membuat perusahaan pengolahan rumput laut sendiri, bahkan mampu memperluas ekspor ke beberapa negara, maka dia sedang berusaha untuk menjadi pengusaha kelas atas Indonesia. Jika berhasil, berari sang pedagang kecil berhasil mentransformasikan diri menjadi pengusaha elit yang sukses.

Menjadi pengusaha di Indonesia, berkaitan dengan tata cara berhubungan dengan para pejabat, yang sebagian masih bermental korup, maka sang pengusaha harus berhati-hati. Kalau ingin memberi pada pejabat diniatkan untuk memberi cuma-cuma, bukan supaya mendapat perlindungan kebijakan atau mendapatkan keuntungan dari kebijakan sang pejabat. Syukur-syukur dalam pemerintahan SBY koruptor diberantas sampai titik terendah, sehingga para pejabat tidak memanfaatkan jabatan untuk memberikan keuntungan pada pengusaha tertentu dan para pengusaha bisa bersaing secara sehat. Bersih dari korupsi dan pungutan liar merupakan kunci sukses keberhasilan dunia usaha di masa mendatang.

Beberapa prinsip dasar berdagang yang dijelaskan dalam Bab I, Bab II, dan Bab III harus tetap diperhatikam para pengusaha yang telah menjadi kelas menengah atau atas, dengan tetap menyesuaikan pada keadaan, perubahan yang terjadi, dan situasi persaingan yang ada, serta melakukan aktualisasi nilai-nilai yang ada dalam ketiga bab tersebut dalam menerapkan berbagai kebijakan di perusahan yang dikelola sang pengusaha. Inilah urgensi buku ini tetap memegang peranan penting bagi siapapun yang ingin memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan pemahaman yang benar tentang hal-hal di atas, para pengusaha perlu memperluas jaringan usaha yang dikelola. Jaringan usaha yang luas akan membantu kesuksesan usaha. Berikut beberapa tips mengembangkan usaha seperti yang disampaikan Marty J. Grunder Jr.

  1. Pasang foto-foto Anda di alat-alat pemasaran Anda
  2. Tulis artikel atau ulasan dan kirimkan
  3. Menjadi relawan.
  4. Menjadi orang yang disenangi orang lain
  5. Berbicara di depan kelompok
  6. Mngirimkan catatan pesan
  7. Mengirimkan kliping
  8. Mengajar [18]

 

Memasang foto-foto perusahaan dan foto-foto sang pengusaha di alat-alat pemasaran membuat banyak orang akan mengetahui perusahaan yang dikelola seorang wiraswasta, dengan mengetahui orang akan memanfaatkan produk perusahaan tersebut jika membutuhkan sesuatu, asal kualitas yang ditawarkan sama dengan kenyataan.

Menulis artikel di koran, akan membuat seorang wiraswasta lebih dikenal banyak orang, dengan dikenal akan membantu promosi perusahaan yang dikelola secara gratis.

Menjadi relawan dalam suatu organisasi sosial tertentu menyenangkan hati seseorang, sekaligus menjadi sarana efektif untuk memperluas persahabatan, memperluas koneksi usaha, dan membuat orang lebih mengerti siapa sebenarnya diri kita. Di samping itu akan menimbulkan simpati orang-orang di sekitar, sehingga mereka berhasrat memanfaatkan produk kita asal sesuai kebutuhan mereka.

Menjadi orang yang disenangi orang lain adalah pekerjaan mudah, asal dilakukan sepenuh hati, dengan sifat terbuka, membantu kesulitan orang lain tanpa pamrih, tersenyum pada saat yang tepat, dan ramah pada siapapun. Membuat diri seseorang disenangi berarti juga membuat perusahaan yang dikelola disenangi orang lain.

Berbicara di depan kelompok orang, tak peduli besar kecilnya kelompok tersebut akan membantu mempromosikan usaha yang dikelola. Demikian juga dengan mengirim catatan pesan pada teman, kerabat, dan orang lain, tentang perusahaan yang dikelola akan menjadi promosi yang murah, namun tepat sasaran.

Menggunting kliping tentang pelanggan sebuah perusahaan yang dimuat di media, tentang teman yang dimuat di media, tentang seseorang yang berkaitan dengan perusaan dan dimuat di media. Kliping-kliping tersebut dikirimkan pada yang bersangkutan. Ini akan menjadikan yang bersangkutan bersimpati karena merasa diperhatikan, sehingga membantu perusahaan yang kita kelola dengan membeli barang atau mengkonsumsi produk perusahaan.

Mengajar adalah sarana belajar yang efektif, sekaligus sarana memperkuat perusahaan yang dikelola seseorang. Dengan mengajar, baik dibayar atau tidak, membuat kita tidak sekedar berhasil dengan diri sendiri, melainkan membagi keberhasilan dengan orang lain, sehingga diharapkan mereka turut berhasil pula. Keberhasilan mereka akan membantu perusahaan yang kita kelola, secara langsung atau tidak.

Sekarang timbul pertanyaan, bagaimana mengelola perusahaan kelas menengah dan atas? Bagaimana membuat perusahaan yang tagguh? Apa saja yang harus dilakukan agar bisa membuat perusahaan pemasaran yang tangguh? Bagaimana menghadapi perubahan yang terjadi? Bagaimana menghadapi pesaingan usaha yang bertambah keras? Kebijakan-kebijakan apa yang harus diambil perusahaan? Strategi dan taktik apakah yang akan digunakan?

 

Dari Pedagang Kecil Menjadi Pengusaha Elit

Jika cerita pengusaha rumput laut merupakan cerita sukses dari pedagang kecil menjadi pengusaha menengah, berikut ini akan diceritakan kisah sukses seorang pedagang kecil yang mampu mentranformasikan diri menjadi pengusaha elit.

Dengan bermodalkan alat pemotong rumput senilai $25 X Rp. 9.000,- (jika kurs rupiah terhadap dollar AS sebesar Rp. 9.000,-) = 225.000,- yang dibeli di sebuah pasar loak, Marty Grunder Jr. memulai usahanya sebagai cara mengumpulkan uang untuk biaya kuliah. Pada tingkat akhir Universitas Dayton, usaha yang dikelola meningkat omsetnya menjadi $ 300.000, X Rp. 9.000,- = 270.000.000,-, luar biasa sekali. Pertumbuhan dan perkembangannya tidak berhenti sampai di sana, sebab Marty dengan perusahaannya yang bernama Grunder Lundscaping, mampu meningkatkan lagi menjadi $ 3 juta AS X Rp. 9.000,- = Rp. 27.000.000.000,- – saya sendiri merasa kesulitan menghitung jumlah nolnya- pertahun dengan pegawai berjumlah 40 orang,. Berkat kesuksesannya, dia mendapat sekitar tiga puluh penghargaan lokal dan nasional di AS. Tahun 1995 Marty mengembangkan sayap dengan membuat perusahaan Marty Grunder Inc. sebuah perusahaan konsultan bisnis yang memberikan bantuan pada para wiraswasta dalam bidang pemasaran, manajemen, dan menjadi motivator mereka. Dengan perusahaan keduanya, dia telah berbicara di berbagai seminar di seantero Amerika dan Kanada dengan penuh semangat disertai humor-humornya di hadapan ribuan orang. Bagaimana cara dirinya meraih kesuksesan?

Beberapa nilai atau prinsip yang diterapkankan Mary dalam menjalankan usaha, justru berkesesuaian dengan nilai Islam, padahal dia belum tentu seorang Muslim. Niliai-nilai tersebut adalah:

“….. perusahaan kami sedang berkembang, saya terus menerus mempelajari dan orang-orang dan perusahaan-perusahaan lain yang sukses. Kemudian, saya menemukan kesamaan di antara orang-orang dan perusahaan-perusahaan tersebut. Semua orang sukses yang saya amati mencintai pekerjaan mereka (menaruh minat pada hal yang mereka kerjakan). Mereka sangat berorientasi pada tujuan. Banyak dari mereka belajar bagaimana meraih sukses dengan biaya dari orang lain (dibayar untuk belajar). Mereka punya kelompok inti yang terdiri dari teman-teman dan guru-guru yang sangat sukses (mengelilingi diri dengan orang-orang sukses). Mereka sangat percaya kepada diri sendiri (percaya kepada diri sendiri). Mereka tak takut untuk bertanya –mengapa sesuatu itu terjadi seperti yang terjadi saat ini. Mereka memfokuskan diri pada satu ceruk bisnis saja. Mereka melakukan segalas sesuatunya dengan sedikit berbeda, dengan cara yang berlawanan dari norma umum, dan mereka tak takut untuk melanggar aturan. Dan, yang terakhir meski bukan berarti tidak penting, orang-orang sukses yang saya amati semua bekerja dengan sangat, sangat, sangat keras. …..” [19]

Melakukan pekerjaaan sesuai minat para wiraswasta masing-masing pada sesuatu adalah upaya melaksanakan pekerjaan yang ditekuni seseorang dengan sepenuh hati, segenap jiwa, kerja keras, gigih dan pantang menyerah, malah dalam mengerjakannya dilaksanakan secara menyenangkan, sehingga pekerjaan tersebut dicintai sepenuh hati.

Marty yang senang memotong rumput di belakang rumahnya, dengan memotong rumput dia mampu berkreasi sesuai keinginan-keinginannya. Saking senangnya dia memperlama untuk memotong rumput di belakang rumahnya, bahkan sampai sekitar 3 jam, akibatnya halaman belakang rumah tampak indah, enak dilihat, segar dan bagus. Dari minat ini timbul ide untuk kuliah sambi bekerja menjadi pemotong rumput dengan modal Rp. 225.000 (jika dirupiahkan). Namun dengan modal kecil, justru menghasilkan keuntungan yang luar biasa dalam beberapa tahun kemudian.

Apapun pekerjaan yang ditekuni seorang wirawastawan, harus dikerjakan sepenuh hati, dicintai pekerjaan tersebut, dan diatur dengan cara-cara yang profesional.

Dalam menekuni pekerjaan supaya berhasil harus memiliki tujuan yang pasti. Tujuan bisa terdiri dari tujuan jangka pendek, menengah dan panjang. Jika tujuan jangka pendek bertentangan dengan tujuan jangka panjang, maka tujuan jangka panjang yang diprioritaskan. Dan menurut Marty, sebuah perusahaan harus memiliki tujuan-tujuan; manajemen, finansial, pemasaran, sasaran waktu dan sasaran pribadi sang wiraswata harus diperhatikan sesuai dengan tujuan jangka pendek, menengah dan panjang.

Kebiasaan menuliskan setiap tujuan yang hendak dicapai seseorang adalah sebuah langkah cerdas menuju sukses. Dengan menulis tujuan yang bermacam-macam dan banyak, lalu dipilah-pilah mana yang bisa dilaksanakan dan tidak, menyusun tujuan utama dan beberapa tujuan cadangan jika rencana utama gagal, maka sang pengusaha sedang merintis jalan menuju kesuksesan.

Penulisan tujuan berkaitan dengan rencana matang untuk mencapai tujuan tersebut. Perencanaan dibuat serealistis mungkin, mudah dilaksanakan, sesuai dengan tujuan yang dibuat, dan dilaksanakan secara sungguh-sungguh.

Dibayar untuk belajar adalah upaya orang-orang yang ingin berhasil menekuni usaha, namun modal usaha bukan berasal dari kantong sendiri, melainkan dari kantong orang lain, bisa dalam bentuk bagi hasil atau meminjam modal. Sebab seseorang cendrung untuk bekerja optimal bila modal berasal dari orang lain, dan cendrung remeh jika modal berasal dari diri sendiri, sehingga usaha yang dikelola mengalami kegagalan.

Prinsip mengelilingi diri dengan orang-orang sukses, adalah upaya seseorang untuk menggali ide-ide cemerlang dari orang lain, belajar dari kesuksesan orang lain yang bisa diterapkan seseorang dalam usaha yang ditekuni, dan memiliki lingkungan yang kondusif agar sukses menjalankan usahanya. Terkadang seseorang yang hebat luar biasa, berbakat, dan cerdas, namun tanpa diikuti dengan lingkungan yang kondusif, jauh dari orang-orang sukses yang bisa membantu usahanya, sehingga sang wiraswasta mengalami kegagalan.

Dalam penerapan prinsip ini, bisa juga memanfaatkan jasa konsultan yang bagus sesuai bidang usaha perusahaan. Dalam mencari konsultan atau penasihat bisnis, usahakan mencari yang benar-benar pernah berhasil menerapkan konsep-konsepnya dalam perusahaan yang dikelola, menghindari yang pintar bicara, tapi praktik kosong, sebab apa yang diucapkan berdasarkan teori semata.

Unsur percaya pada diri sendiri, tidak hanya diterapkan Marty, tapi juga pakar marketing Indonesia Hermawan Kartajaya yang memberikan nasihat serupa. Dengan sikap percaya diri seseorang akan merasa superior (dalam istilah psikologi), kuat, kokoh, tegar menghadapi setiap tantangan, dan bisa mengoptimalkan segala potensi yang dimiliki dalam mengelola suatu perusahaan, bisa memimpin para pekerja dengan baik, dan menerapkan kebijakan-kebijakan yang benar.

Banyak bertanya adalah upaya seseorang mengetahui, memahami, dan menyikapi dengan benar, sebab banyak hal di sekitar para wiraswasta yang tidak dimengerti, aneh tapi nyata, penuh misteri, dan abu-abu, Untuk menjawab semua itu, diperlukan orang lain agar bisa menjawap pertanyaan-pertanyaan yang ada dengan sisi berbeda dengan yang dipahami sang wiraswasta. Di samping itu banyak bertanya, akan membuat seseorang memiliki ide-ide yang brilian dan bermacam-macam, meski berasal dari orang lain. Memang sebagian ide telah di hak patenkan, namun umumnya wilayah ini adalah wilayah bebas yang bisa dimasuki siapapun.

Fokus pada bidang usaha tertentu yang disenangi, dicintai dan dilaksanakan sepenuh hati adalah hal yang sangat penting. Sebab seseorang tidak mungkin mengerjakan banyak hal secara maksimal dalam semua yang ditekuninya. Paling banyak ada tiga pekerjaan berbeda yang bisa ditekuni, atau malah dua saja sudah cukup, asal menjadi yang terbaik, paling bagus, berkualitas, dan maksimal dalam bidang-bidang tersebut. Dalam hal ini Marty membuat nasihat yang tepat cara meninggalkan pekerjaan yang banyak, namun kurang fokus:

“Anda harus secara terus menerus mengevaluasi bisnis Anda dan senantiasa memfokuskan diri pada apa yang menjadi kekuatan Anda. Bagian dari proses ini adalah dengan meninggalkan bisnis yang tidak perlu saat Anda sedang berkembang. Anda harus meninggalkan bisnis Anda yang: (1) Tidak menguntungkan. (2) sebenarnya berjalan baik, namun bisa merusak reputasi yang Anda miliki. Misalnya, jika Anda dikenal sebagai ahli pemugaran rumah berkualitas tinggi, Anda harus benar-benar mulai meninggalkan pekerjaan-pekerjaan yang tak sesuai dengan dengan diskripsi itu. Bayangkan saja apa yang akan terjadi pada reputasi jam Rolex jika Anda bisa membeli jam itu di Matahari Departemen Store, misalnya. Anda juga jangan melakukan pekerjaan yang menyerap terlalu banyak sumber daya untuk memperoleh keuntungan. Dengan kata lain, tanyakan pada diri Anda sendiri adakah hal-hal yang lebih baik Anda kerjakan daripada mengalokasikan sumber dana sebanyak itu pada sebuah pekerjaan yang berkeuntungan rendah. (4) Tinggalkan juga semua pelayanan atau produk apa pun yang tak bisa menjadikan Anda sebagai penguasa pasar. Jika Anda tak bisa menjadi yang terbaik, jangan lakukan.”[20]

Sesuatu yang menarik dari beberapa nilai atau prinsip yang diterapkan Marty adalah dengan cara yang berlawanan dari norma umum. Kita semua harus memahami bahwa norma umum yang dilawan Marty adalah norma umum yang berlaku di AS dalam menjalankan usaha yang ditekuni atau menjalankan suatu perusahaan. Justru dengan melawan norma umum yang diterapkan di sana, mendekatkan apa yang diterapkannya dengan nilai Islam yang ada dalam Al-Qur’an dan Hadits. Dalam konteks kita di Indonesia, yang dimaksud melawan norma umum adalah melawan norma-norma yang selama ini dilaksanakan dunia usaha seperti; menghalangkan segala cara agar sukses, menipu pembeli, menawarkan barang yang tidak sama dengan yang diiklankan, berbohong pada pelanggan, kolusi dengan pejabat, korupsi, pungutan liar, menjadi alat politik partai dan nilai-nilai buruk lainnya yang masih diterapkan sampai sekarang, semuanya itu diganti dengan paradigma baru yakni nilai-nilai Islam dalam menjalankan usaha yang dikelola seperti dijelaskan dalam bab II dan dipertegas dengan nilai-nilai yang diterapkan Marty

Bekerja dengan sangat, sangat, sangat keras adalah prinsip paling utama dari seorang wiraswasta sejati, seorang pemalas tidak bisa menjadi seorang wirawastawan yang berhasil. Maka para wiraswasta harus mampu menerapkan prinsip kerja keras pada diri sendiri, sehingga bisa menjadi contoh nyata bagi bawahan, pekerja, karyawan atau buruh. Pandangan keliru bahwa para direksi atau komisaris di Indonesia duduk santai sambil bermain games atau internet sewaktu menjalankan usaha di kantor harus dihilangkan. Jam kerja dimanfaatkan secara optimal demi kesuksesan usaha yang dikerjakan. Apalagi dalam krisis yang semakin menyulitkan dunuia usaha, harus membuat para pengusaha bekerja lebih keras lagi. Dalam konteks ini perkataan Thomat Jefferson harus diperhatikan dengan seksama “Saya sangat percaya pada keberuntungan. Semakin keras saya bekerja, semakin banyak saya akan mendapatkannya.”[21]

Demikianlah beberapa nilai yang diterapkan Marty Grunder Jr. dalam menjalankan usaha bisnisnya sampai berhasil, para pengusaha harus berkaca pada semua itu agar berhasil menjalankan usahanya.

 

Bangkit di Saat Krisis

Krisis multi dimensi yang melanda Indonesia benar-benar membuat bangsa ini dalam stadium kritis, diibaratkan seorang pasien, kita sedang terserang penyakit kronis yang bila tidak ditangani dengan benar akan menyebakan kematian. Krisis yang tiga tahun terakhir bertambah parah dengan beberapa indikasi yakni musibah yang silih berganti datang; mulai tsunami Aceh, tanah longsor, banjir bandang dan banjir di berbagai penjuru yang menimbulkan korban jiwa yang banyak, dan ini yang lebih penting yakni masalah keterpurukan ekonomi Indonesia yang menyusahkan seluruh masyarakat. Masalah ekonomi adalah masalah yang paling krusial di berbagai penjuru dunia, termasuk di Indonesia, sebab menyangkut pemenuhan kebutuhan pokok manusia agar bisa menjalani kehidupan sehari-hari.

Kemerosotan ekonomi di mata rakyat, dunia usaha, dan perdagangan, bukan semata dilihat dari pasar saham dan kenaikan nilai kurs rupiah terhadap dollas AS, melainkan yang lebih penting adalah meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuan hidup, meningkatkan daya beli mereka lewat usaha-usaha terstruktur dan terkonsep rapi dari pemerintah agar usaha-usaha rakyat banyak seperti pertanian, perdagangan, industri kecil dan kerajinan, peternakan, perikanan, bisa dimaksimalkan, bukan malah semakin dimarjinalkan. Sedang kebijakan BLT dari pemerintah, sekedar hiburan bagi rakyat kecil sebagai kompensasi kenaikan BBM. Sebagai “hiburan” tentu manfaatnya sedikit bagi masyarakat, namun dibanding tidak sama sekali, kebijakan BLT sudah lumayan bagus, sebab dalam prakteknya mampu meningkatkan daya beli masyarakat di pasar-pasar tradisional, walau hanya sementara waktu.

Usaha-usaha tersebut di atas, ditinjau dari sudut pemerintah nampaknya kurang berhasil dijalankan pemerintah, maka orang-orang yang terlibat di dalamnya, khususnya dunia usaha yakni perusahaan, industri dan perdagangan, mampu melakukan usaha-usaha yang kreatif agar bisa survife di saat krisis, bahkan mampu mengembangkan dan meningkatkan lagi, sehingga menjadi pemicu pemulihan ekonomi di Indonesia.

Tidak sedikit perusahaan yang kretaif, inovatif, jenius, dan cerdas yang untung besar di saat krisis sedang berlangsung. Keberhasilan mereka harus dialirkan pada perusahaan-perusahaan lainnya, sehingga bisa mengembangkan diri dan memetik keberhasilan yang sama.

Dalam uraian berikut ini, akan dijelaskan tentang seluk beluk mengelola perusahaan yang berhasil dalam situasi krisis, dengan mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi, persaingan dunia usaha yang semakin tak terkendali, melayani Customer -pembeli/pelanggan/pengguna suatu produk- sebaik mungkin dan menjadikannya pelanggan tetap yang tak bergeser ke pesaing yang lain.

Penjelasan dalam buku ini dari bab-bab sebelumnya menerangkan tentang bagaimana caranya menjadi Pedagang Muslim yang sukses, dengan menjadi pedagang kecil yang sukses, dikembangkan menjadi pengusaha kelas menengah, sampai akhirnya menjadi pengusaha elit. Ini namanya mengikuti hukum alam, merangkak dari bawah menuju atas. Prosesnya tidak semudah yang diterangkan bermacam-macam teori, tapi paling tidak para pedagang memahami cara mentranformasikan diri, jikapun gagal mentranformasikan diri, maka menjadi pedagang kelas menengah juga bagus, dan tetap menjadi pedagang kecil yang sukses juga tak masalah. Meski tulisan ini lebih banyak mengupas cara mengelola perusahaan yang tangguh, namun pembahasan tentang pedagang pada umumnya tetap diperhatikan. Poin-poin penting dalam tulisan ini diambil dari buku Hermawan Ketajaya, Marketing Plus 2000, jadi pembahasan lengkapnya bisa dibaca dalam buku tersebut. Sedang saya menjelaskan menurut pemahaman saya sebagai seorang wiraswasta yang bercita-cita menjadi penulis, dengan harapan membawa manfaat sebesar-besarnya bagi para pengusaha Muslim dan pedagang pada umumnya.

 

Beberapa Unsur Penting dalam Dunia Usaha

Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu memahami beberapa unsur penting dalam dunia usaha yang harus senantiasa diperhatikan. Paling tidak ada empat unsur inti yakni; Company/perusahaan, Competitor/pesaing, Customer/konsumen/pembeli, Charge/perubahan disebut (4C), merupakan unsur-unsur penting dalam sebuah perusahaan. Untuk pedagang eceran atau grosir maka faktor company dirubah ke faktor Pedagang, maka jadi 1P3C yakni Pedagang, Competitor, Customer, Change. Tulisan ini bisa dimanfaatkan tidak saja oleh mereka yang memiliki perusahaan, melainkan juga para pedagang yang menjual barang-barang perusahaan. Sehingga keduanya bisa sama-sama menjalankan usaha secara maksimal supaya berhasil di bidang masing-masing, yang akan membawa perubahan signifikan terhadap ekonomi republik yang sekarat ini. Nantinya istilah company lebih sering digunakan, sebab pembahasan lebih pada bagaimana cara mengelola suatu perusahaan, maka orang-orang yang menjadi pedagang eceran/grosir bisa berkaca pada bagaimana sebuah perusahaan dikelola dengan baik, mampu menghasilkan yang terbaik, sehingga mendatangkan keuntungan dan customer yang banyak. Di samping itu siapa tahu para pedagang kecil atau eceran mampu mengembangkan diri, sehingga suatu saat nanti bisa juga membuat perusahaan dan menjalankan dengan sukses lewat pembelajaran dari cara perusahaan-perusahaan pemasaran dikelola dengan baik.

Company adalah faktor yang pertama yang harus senantiasa mampu melihat segala perubahan yang terjadi (change), memahaminya, menganalisanya dan menentukan kebijakan yang tepat dalam rangka menghadapi para pesaing (competitor) dan memberikan yang terbaik bagi pelanggan/pembeli (Customer). Hubungan antara keempatnya tidak harus bergaris lurus, bisa melingkar, bisa monologis (satu arah) atau dialogis (dari berbagai arah), tergantung situasi dan kondisi yang ada.

Beberapa istilah yang berkaitan customer -konsumen/pembeli/ pelanggan- pemakai suatu produk yakni User adalah pemakai produk perusahaan tertentu, uses jenis pemakaian atau digunakan untuk apa produk yang dibeli, usage adalah frekwensi pemakaian produk tadi, semuanya disebut dengan usership. Perubahan yang terjadi dalam usership akan mempengaruhi naik turunnya jumlah konsumen terhadap suatu produk. Jadi masalah costomer berkaitan mengapa mereka membeli produk, bagaimana mereka membeli produk, dimanfaatkan untuk apa produk tersebut, dan seberapa sering menggunakannya. Semua itu harus dianalisa secara teliti.

Di samping itu ada faktor lain Opportunity and trhreat atau kesempatan dan ancaman apapun yang akan mempengaruhi naik turunnya omset perusahaan yang berasal dari custumer atau naik turunnya jumlah konsumen/pembeli. Misalnya bagi pedagang/pengusaha sepatu dan tas, pada musim tahun ajaran baru, biasanya masyarakat membutuhkan barang tersebut, sehingga pedagang yang melengkapi jualan sepatu/tasnya yang akan mampu mendapatkan keuntungan maksimal, berarti musim tahun ajaran baru adalah kesempatan yang harus dimanfaatkan. Sedang bagi pengusaha di bidang yang sama merupakan peluang besar yang wajib dimanfaatkan. Ancaman bisa datang dari dalam diri; bila pedagang atau pengusaha malas berpikir, berkreasi, membaca (lingkungan dan buku), dan terlalu terjebak pada nilai-nilai lama, sedang ancaman dari luar lewat para pesaing yang bertambah, banyaknya produk yang sama di pasaran, perkembangan teknologi dan informasi, datang dari berbagai sudut dalam jumlah banyak juga. Kedua bentuk kesempatan dan ancaman harus dikelola dengan baik agar bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin. Ancaman bagi manusia tidak selalu negatif, malah bisa positif jika dikelola dengan baik.

 

Cara Menghadapi Persaingan Usaha

Driver utama perubahan yang memegang peranan penting yakni; teknologi, ekonomi dan pasar mendorong pergeseran persaingan dalam dunia usaha. Teknologi yang berkembang pesat terkadang melebihi kemampuan manusia yang membuatnya harus diantisipasi oleh dunia usaha, perkembangan ekonomi secara mikro di dalam negeri dan makro dari luar negeri membawa perubahan yang signifikan pada cara masyarakat memenuhi kebutuhan hidup dengan segala keinginannya, dan pasar yang semakin terbuka akibat pengaruh globalisasi akan membawa konsekwensi yang serius terhadap perusahaan. Ketiga driver utama tadi senantiasa diperhatikan, dipahami, dianalisa, dan dimanfaatkan sebaik mungkin. Bila tidak, maka banyak perusahaan yang tidak mampu bertahan dalam situasi yang semakin sulit di negeri kita Indonesia.

Dalam konteks di atas, ada beberapa langkah dalam menghadapi persaingan: pertama; harus melihat seberapa besar jumlah dan kekuatan para pesaing, kedua; bila pesaing bersifat agressiveness -tidak takut bermain dalam industri yang kita geluti dan ikut bermain di pasar, serta kreatif dalam menciptakan rule of the game-, dan substitutes bukan sekedar mengganti produk yang sudah ada, melainkan membuat produk untuk generasi berikutnya, sehingga kelangsungan usaha di masa mendatang lebih terjamin, ketiga; kemampuan dalam teknologi, tenaga maupun mesin yang digunakan para pesaing harus diperhatikan dan diantisipasi.

Menurut Hermawan Kartajaya: “Dalam teori manajemen kita sering membaca bahwa sumber daya perusahaan harus dikembangkan menjadi core kompetence, kemudian dikembangkan lebih lanjut menjadi keunggulan bersaing perusahaan. Dengan mentransformasi sumber daya menjadi keunggulan bersaing maka sebuah perusahaan akan punya daya saing dibanding perusahaan lain di dalam sebuah industri.”[22] Sumber daya perusahaan yang terdiri dari dana yang dikelola perusahaan, sumber daya manusia, teknologi, manajemen yang baik, dan lingkungan dioptimalkan semaksimal mungkin agar bisa menghadapi persaingan usaha yang bertambah sulit. Adapun peta persaingan usaha dan cara menanganinya adalah sebagai berikut:

The Strategic

Marketting Plus 2000

Conceptual Framework[23]

 

Competitive

Setting

Stable

(2C)

Interupted

(2.5C)

Complicated (3C) Sophisticated

(3.5C)

Chaos

(4C)

Customer

(C1)

Buyer Consumer Customer Client Partner
Competitor

(C3)

None Mild Strong Wild Invisible

Hilang

Change

(C4)

None Gradual Continuous Discontinuous Suprising

 

Perusahaan senantiasa dituntut meningkatkan kemampuan diri di berbagai bidang, mulai produksi, distribusi, pemasaran, peningkatan kualitas produk, segmentasi pasar, diferensiasi produk, peningkatan kualitas SDM, memberikan yang terbaik pada customer dan melayaninya sebaik mungkin, mengatur organisasi seperti organisme tubuh yang hidup, menentukan strategi dan taktik yang tepat menghadapi para pesaing, karyawan merasa memiliki customer, dan senantiasa memperhatikan perubahan yang bergerak cepat, sehingga perusahaan tidak sekedar survife, melainkan mampu menjadi perusahaan yang menguntungkan dalam segala kondisi. Inilah kesimpulan utama dari pemahaman terhadap peta persaingan yang selalu bergeser dari 2C ke 2.5 ke 3C ke 3.5C dan ke 4C. Berikut penjelasan terperincinya disertai langkah yang harus diambil perusahaan.

2 C; Dalam persaingan 2C, bagian produksi atau operasi dari company merupakan penggerak utama, fungsi-fungsi lain sebagai penunjang. Ke dalam yang ingin dicapai perusahaan adalah efisiensi, operasi dan standarisasi produk, sedang keluar yakni distribusi yang merata, ini karena faktor monopoli. Jadi dalam situasi monopoli suatu perusahaan pasti mendapatkan keuntungan yang besar asal produksi dan distribusi barang lancar. Kondisi ini di negara kita terjadi di masa Soeharto dan awal reformasi. Tapi sekarang masih ada monopoli seperti di PLN. Kondisi monopoli akan berrgeser seiring perkembangan waktu, maka jika PLN tidak juga mengantisipasi mereka akan digilas zaman pada masanya nanti. Kata kunci untuk perusahaan adalah menjadi produsen yang baik dan efisien.

2.5 C: peta persaingan sedikit meningkat, meski para pesaing belum leluasa bergerak. Perusahaan berubah dari produced oriented ke selling oreiented, perusahan harus memperhatikan masalah penjualan, perbaikan feature produk, dan promosi karena mulai ada gangguan kecil dari pesaing yang “kakinya masih diikat”. Bagian produksi bukan lagi raja melainkan ke bagian pemasaran, sehingga pengembangan produk dan peningkatan kualitas mulai diperhatikan agar bisa mendapat sebanyak mungkin konsumen. Kata kuncinya Selling atau penjualan. Kondisi ini awal reformasi sampai tahun 2000, memang tidak menutup kemungkinan sampai sekarang ada perusahaan yang menjalankan bisnis dalam peta 2.5C, kalau tidak berbenah secepatnya, perusahaan tersebut akan gulung tikar. Sedang contoh perusahaan yang dikelola dengan kondisi ini adalah Pertamina.

Data base mulai dibuat yang berisi nama, no telepon, alamat dan kebutuhan barang dari customer, meski belum mencakup keseluruhan aspek dari konsumen.

Bagi para pedagang secara umumnya, peta persaingan ini memaksa mereka untuk melengkapi barang yang dijual, memperbaiki etalase toko, memberikan pelayanan yang terbaik pada pelanggan yang dimiliki dan pembeli pada umumnya, rangsang pelanggan dengan bonus jika mencapai omset pembelian tertentu, dan bersabar dalam segala situasi.

3C: persaingan mulai bertambah keras. Perusahaan berubah ke pemasaran oriented, di sinilah konsep AIDA, attention/perhatian, interest/kepentingan, desire/keinginan dan action/tindakan mulai dijalankan terhadap customer, artinya kebutuhan-kebutuhan customer, kepentingan mereka terhadap produk-produk yang digunakan, keinginan-keinginan mereka diperhatikan dengan seksama, lalu perusahaan melakukan kebijakan-kebijakan yang tepat demi kepuasan customer.

Produk dijual pada pangsa pasar yang paling efektif, di sini segementasi pasar mulai dilakukan, produk diusahakan yang berbeda beda untuk melayani segmen-segmen yang berbeda-beda pula atau melakukan diferensiasi produk. Dengan prinsip pull and push secara efektif, produk dibuat untuk segmen-segmen khusus bisa diminati konsumen dan didorong secara efektif oleh penyalur dan pengecer. Kata kuncinya Marketer. Inilah kondisi antara tahun 2000-2004, sebagian perusahaan masih dalam merasa dalam kondisi ini, sehingga mereka terkadang lalai bahwa pergeseran peta persaingan ke 3.5 sedang berlangsung mulai tahun 2000 dan menguat gejalanya tahun 2004, sehingga tahun 2006 ke atas relatif malah bisa bergeser ke persaingan yang kacau atau persaingan 4C.

Dalam kondisi 3C ada beberapa langkah yang bisa ditempuh perdivisi dalam perusahaan, berikut penjelasan lengkapnya. Divisi produksi; terus menerus melakukan cost reduction agar produk yang sama dengan biaya lebih rendah, dan pengendalian kualitas yang ditingkatkan agar tidak dikeluhkan pelanggan/pembeli. Divisi R & D; bahu membahu dengan divisi pemasaran untuk memonitor perkembangan selera konsumen -jika sampai dikuasai pesaing maka pasar dengan mudah mereka kuasai-, ide mengembangkan produk baru bersama-sama dan memantau perubahan tekonologi/informasi yang berkaitan dengan prusahaan. Divisi personalia; mendidik SDM supaya berkualitas dan penciptaan budaya pemikiran yang pro pelanggan. Divisi keuangan; bekerja keras mencari sumber dana guna membiayai investasi baru, sebab pemasaran oriented membutuhkan produk-produk baru demi kepuasan pelanggan.

Data base tentang customer mulai dilengkapi yang tidak sekedar berisi; nama, alamat, nomer telepon, tapi juga gaya hidup tiap pelanggan, macam-macam kebutuhan, termasuk prilaku mereka dalam mengkonsumsi suatu produk. Data base penting untuk mengikat customer, melayani dengan baik, dan memberikan kepuasan pada mereka.

Semua divisi, khususnya divisi R&D dan bagian pemasaran, memantau prilaku kompetitor melalui deteksi terhadap harga, produk, saluran distribusi yang digunakan, hubungan pesaing dengan pemasok, promosi dan strategi yang digunakan, jika banyak pesaing, konsentrasi pada yang mengeluarkan produk-produk yang sama, dengan demikian bisa diperoleh strategi dan taktik yang akan digunakan.

Bagi para pedagang pada umumnya, mereka memaksimalkan setiap langkah dalam 2.5C, mencari-cari pelanggan-pelanggan baru yang potensial dengan memberikan diskon harga dan bonus yang besar, melakukan pemetaan pasar sepi, sedang dan ramai dengan menyusun langkah-langkah yang tepat, dan mencari jalur juragan atau grosir baru agar bisa mendapatkan barang yang berbeda dari yang lain, dan memanfaatkan pinjaman Bank untuk mengembangkan usaha.

3.5C: persaingan mulai liar dan sulit dikendalikan siapapun. Perusahaan berubah menjadi market driven, di sini pasar yang sudah disegmen dipilah-pilah lagi menjadi subsegmen yang sering disebut fragmen atau niche, mencari ceruk pasar kecil yang menguntungkan, makanya produk harus dibuat spesial untuk niche. Perlu keseimbangan antara pull dan push. Kata kuncinya Specialis. Kondisi ini terjadi tahun 2004 sampai sekarang.

Karena persaingan menjadi liar dan tak terkendali, maka produk-produk yang kalah saing di bidang harga dan kualitas serta tak mampu menangkap selera pasar akan tersingkir dengan sendirinya. Bahkan bisa bergerak sampai pada titik akhir yakni kualitas dan harga sudah ditekan semaksimum mungkin, sehingga yang ingin melanggar batas akan merugi.

Di sini masih ada arena berbeda untuk bersaing menurut Porter yakni timing & know-how; berusaha menjadi orang pertama yang bergerak dan masuk pasar duluan (timing) serta know how dengan memanfaatkan teknologi baru untuk menghasilkan produk baru. Dalam konteks ini divisi R&D sangat berperan sekali. Sedang beberapa divisi yang lain, lebih kreatif mengembangkan diri untuk menyesuaikan diri dalam kondisi 3.5 C, beberapa parameter perdivisi dalam kondisi 3C yang relevan dipertahankan dengan perubahan di sana sini agar lebih sesuai lagi.

Bagi para pedagang eceran di pasar tradisonal atau swalayan, mereka harus lebih berhati-hati karena persaingan semakin keras dan banyak, sedang daya beli masyarakat cendrung menurun. Mereka dituntut berusaha sekuat tenaga mempertahankan diri agar bisa tetap bertahan dengan strategi-strategi yang jitu; pelanggan potensial lebih diprioritaskan, bila menemukan pelanggan baru segera ikat dengan berbagai tawaran yang menarik, memberikan bungkusan yang bagus terhadap barang yang laku, memberikan pelayanan pada pembeli umumnya sebagai sebenar-benarnya raja bukan sekedar raja bayangan, dan menyesuaikan harga sesuai mekanisme pasar dengan prinsip dapat keuntungan sedikit tapi lancar.

4C: persaingan menjadi kacau. Perusahaan berubah menjadi customer driven, customer dianggap sebagai pemeran utama dalam perusahaan, data base yang dibuat sampai bisa mengetahui aspek kejiwaannnya yang bisa merubah cara membeli atau memanfaatkan barang. Fungsi perusahaan sebagai Service provider. Kondisi ini mulai ada tanda-tandanya sekarang, meski belum merupakan kondisi riil, mungkin untuk Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Medan, Batam, Bali dan Surabaya, kondisi ini sudah berlangsung, sedang di daerah-daerah lain dalam kondisi menuju ke arah 4C.

Dalam kondisi ini, para pesaing datang dari berbagai penjuru dunia seiring semakin diterimanya globalisasi, tanpa diduga tiba-tiba muncul pesaing baru di bidang yang sama. Pangsa pasar yang kecil direbut banyak pemain, sehingga bisa menimbulkan “kekacauan”. Maka konsentrasi perusahaan pada pelanggan individual yang mampu memberikan keuntungan pada perusahaan, perlunya “paket” barang dan pengalaman yang bernilai di mata pelanggan, disebut paket karena terdiri dari banyak kebutuhan pelanggan.

Pergeseran dari 3.5 C ke 4 C artinya pergeseran dari how ke to wich one, yang ditandai perubahan fungsi sebagai customer driven dan mengkonsentrasikan diri pada pelanggan individual, memperhatikan possisioning one to one. Hal inilah yang dilakukan produk-produk CNI di masa lalu, dan kini UFO yang membentuk jaringan pedagang sampai kalangan masyarakat bawah di pedesaan, sayangnya produk-produk yang ditawarkan terlalu mahal dan janji pengobatan gratis bagi orang miskin sebagai penarik perhatian hanya isapan jempol belaka, sebab orang miskin yang berobat tetap ditarik uang meski cuman Rp. 10.000,-. Prinsipnya mereka mencari pelanggan secara orang perorang, rumah ke rumah, dan dari suatu tempat ke tempat lainnya.

Situasi 4C bagi pedagang eceran di pasar tradisional dan swalayan kemungkinan kecil akan terjadi, sebab mereka memfungsikan diri sebagai penjual, tidak berkaitan dengan produksi barang, tapi hal ini patut diwaspadai jika situasi politik kacau, kebakaran pasar, kerusahan sosial dan bencana alam. Jika tidak, kondisi 4C tidak akan menimpa mereka.

 

Membentuk Perusahaan yang Tangguh

Ciri-ciri utama perusahaan yang tangguh; pertama; brand atau citra tertentu tentang perusahaan yang sangat kuat, yang harus dikembangkan sesuai situasi dan kondisi serta diback-up dengan kuat, misalnya orang yang membeli air mineral pasti menyebut Aqua padahal yang dibeli bukan produk perusasahaan Aqua, brand awalnya dibentuk dari pembuatan iklan yang baik, jitu, tepat dan menarik, lalu iklan tersebut diperkuat dengan iklan berbeda yang kualitasnya lebih baik, begitulah seterusnya, sehingga ingatan masyarakat terhadap suatu produk menjadi melekat sampai saat mereka menggunkan produk yang berbeda seperti Total, namun diingat sebagai Aqua, kedua; service atau pelayanan, perusahaan apapun namanya harus menganggap bergerak di bidang pelayanan agar senantiasa memuaskan customer, misalnya motto Astra “we are not selling Kijang, but we are in service bisiness,” perusahaan berusaha melayani semua kebutuhan customer dengan menyediakan berbagai sarana pendukung, sehingga customer merasa puas, ketiga; proses, sebuah perusahaan pemasaran terdari dari proses-proses yang semua proses ditujukan demi kepuasan konsumen atau pelanggannya, sehingga semua divisi yang ada di perusahaan seperti produksi, penjualan, personalia, karyawan, buruh dan lain-lain melakukan proses yang menyatu bukan berfungsi menurut divisi masing-masing.

Untuk mengembangkan perusahaan menjadi perusahaan unggulan yang tangguh, para pengusaha perlu berkaca pada beberapa cara yang ditempuh perusahaan-perusahaan unggulan di AS dalam mengelola SDM: Keseimbangan antara kemanusiaan dan aspek keuangan dalam agenda perusahaan, Komitmen perusahaan terhadap suatu strategi dasar, Prakarsa untuk merangsang peningkatan kinerja, Komunikasi yang terbuka dan saling percaya di antara sesama yang ikut berperan, Membangun hubungan di dalam dan di luar yang menawarkan keunggulan kompetitif, Kolaborasi, saling dukung, dan saling berbagi sumber daya, Inovasi; keberanian mengambil resiko, dan kesediaan belajar bersama, Gairah untuk bersaing dan terus memperbaiki diri.[24] Bila diteliti ternyata ada kesamaan yang jelas antara praktek perusahaan dan kecakapan emosi yang menjadi ciri para individu yang kinerjanya sangat prima.

Dalam membentuk perusahaan pemasaran yang tangguh, beberapa elemen penting seperti Stakholder, filosofi pemasaran, value, strategi, taktik, dan memahami customer sebagai faktor penentu, harus disinergikan secara benar.

 

  1. Stakholder Sebagai Sang Penentu

Stakeholder utama; a) cutomer sebagai pembeli/pengguna produk perusahaan yang paling memegang peranan penting, mereka harus diusahakan, dipelihara, ditingkatkan dan dilayani dengan baik b) people in the organization; orang-orang yang bekerja di perusahaan di semua tingkatan harus dipuaskan, disejahterakan dan diberi penghargaan atas prestasinya atau sanksi yang mendidik bila melanggar aturan, agar bisa memberikan pelayanan yang baik, jadi karyawan/pekerja/buruh tidak semata diperlakukan seperti robot yang menjalankan tugas, melainkan manusia dengan segara sifat, sikap, karakter dan prilakunya, c)shareholder; pemegang saham, pemilik perusahaan dan jajaran direksi/komisaris. People – Customer – Shareholder berinteraksi dalam perusahaan melalui proses, brand dan service, hubungan antar mereka seperti menyatu dalam lingkaran.

Seluruh komponen dalam stakholder, senantiasa mengembangkan kecakapan-kecakapan berikut dalam upaya meningkatkan kinerjanya di perusahaan: Kesadaran diri emosi; mampu membaca suasana emosi dan dampaknya pada kinerja, Semangat meraih prestasi; mencari lingkungan yang menyediakan data penting dan peluang untuk perusahaan, Adabtabilitas; keluwesan dalam menghadapi tantangan atau rintangan, Pengendalian diri; bekerja tetap efektif kendati di bawah tekanan ketimbang mudah panik, marah atau terkejut, Integritas; sikap dapat diandalkan yang melahirkan kepercayaan, Optimisme; ketangguhan dalam menghadapi kemunduran, Empati; memahami perasaan dan perspektif orang lain seperti klien, pelanggan atau sesama anggota perusahaan, Memanfaatkan keragaman; memanfaatkan perbedaan sebagai peluang, Kesadaran politik; memahami kecendrungan ekonomi, politik, dan sosial yang tengah berlangsung,. Pengaruh; kepiawaan dalam menggunakan strategi-strategi persuasi, Membina Ikatan; kekuatan hubungan pribadi antara orang-orang yang saling berjauhan dan antara bagian-bagian dalam perusahaan.[25] Sebagai salah satu bukti, ketika Daniel Goleman menyelesaikan tulisan ini, ekskutif puncak perusahaan Microsoft mengeluhkan kesadaran politik dalam perusahaan mereka. Lemahnya kesadaran politik, mendatangkan kerugian terhadap perusahaan tersebut.

Sedang cara memperlakukan karyawan/pekerja/buruh dalam perusahaan: Pertama; mereka harus memiliki sense of belonging atau rasa memiliki terhadap perusahaan karena itu dia melakukan segalanya untuk perusahaan. Kedua; mereka dituntut mengingat perkataan Kanosuke Matsushita “kemarin sebelum masuk perusahaan ini, kamu belum punya customer. Mulai hari ini, kamu punya customer.” Setiap orang di dalam perusahaan merasa melayani pelanggan dan memilikinya, sehingga memiliki tanggung jawab yang besar terhadap perusahaan dan mau menjalankan tugas sebaik-baiknya. Ketiga; mereka semua diperlakukan sebagai organisme hidup yang masing-masing bekerja dengan tugas masing-masing, tapi secara integral, tidak ada yang diistimewakan, semua diperlakukan sejajar, meski gaji atau penghasilan mereka berbeda-beda, jadi tidak hanya fisik yang dipuasakan dengan penghasilan melainkan juga jiwa. Prinsup utama organisme yang lahir, tumbuh, berkembang, dewasa, tua dan mati, harus diingat selalu.

Karyawan dalam sebuah perusahaan merupakan orang-orang penting, yang harus senantiasa diperhatikan kesejahteraan, diperlakukan dengan baik, dan dipantau perkembangannya. Pemantauan difokuskan pada peningkatan kemampuan yang dimiliki sesuai bidang yang digeluti, peningkatan pengetahuan, peningkatan keterampilan diri, kemampuan membaca keadaan di sekitar, kemampuan membaca para pesaing, dan kemampuan mengoptimalkan kinerja dalam perusahaan.

Semua itu bisa dicapai dengan mengadakan pelatihan terhadap para karyawan. Pelatihan yang dilakukan tidak sekedar terhadap karyawan yang baru masuk, namun juga terhadap karyawan lama secara berkala. Sebab motovasi seseorang dalam melaksanakan pekerjaan yang digelutinya, terkadang menurun, lemah, atau melempem, sehingga memerlukan pelatihan untuk menyegerkan. Pelatihan bisa dilaksanakan perusahaan, atau membayar pakar dari luar untuk melakukan pelatihan dengan catatan harus sesuai dengan visi dan misi perusahaan.

Dalam melakukan pelatihan di perusahaan, paling tidak mengandung tiga unsur berbeda. Tiga unsur penting yang ada dalam pelatihan para karyawan di perusahaan; pertama; mempertahankan kompetensi; ada kalanya karyawan yang dulunya produktif menjadi tak produktif di posisi baru, maka perlu upaya membangkitkan kembali kompetensi karyawan sekaligus mempertahankan ketika sampai pada level yang diinginkan, kedua; proses akselerasi; upaya mengejar ketertinggalan karena pesatnya perubahan yang terjadi, dan persaingan usaha yang semakin keras, sehingga para karyawan perlu dipacu untuk mampu menyesuaikan diri dengan keadaan baru, meningkatkan kemampuan diri, mengasah keterampilan, menambah pengetahuan dan menumbuhkan sikap positif dalam berbagai hal, membangun percaya diri; memacu semangat, membangkitkan motivasi, meningkatkan kualitas kerja, dengan tanpa bertentangan dengan visi dan misi perusahaan.[26]

 

  1. Filosofi Perusahaan Pemasaran[27]

Visi/Vision: perusahaan adalah gabungan dari strategi, bisnis dan konsep, yang ditujukan untuk memberikan kepuasan dan keuntungan pada stakeholder yang terdiri dari customer, people in the organization, dan shareholder. Customer merasa puas menggunakan produk-produk perusahaan, orang-orang yang bekerja di perusahaan mendapatkan kesejahteraan yang layak, diperlakukan sebagai manusia dan bertanggung jawab terhadap customer, sedang shareholder selaku pemilik modal mendapatkan keuntungan materi.

Misi/Mission; perusahaan adalah bisnis dari jiwa atau merupakan organisme hidup, bukan sekedar bagian dari tubuh, maka setiap orang yang terlibat dalam bisnis adalah marketer. Artinya orang-orang yang ada di dalamnya seperti oragnisme dalam organ-organ tubuh manusia yang menjalan tugas-tugasnya masing-masing sebaik-baiknya, namun tetap dalam kesatuan bukan terpecah-pecah, dan semuanya menjadi jiwa perusahaan yang hakiki, bukan sekedar bagian dari jiwa atau organ tubuh. Dengan demikian prinsip yang dipakai adalah semua untuk semua, dilakukan oleh semua agar semua memperoleh keuntungan, kesejahteraan, dan kebahagiaan, dan semua merasa menjual produk secara langsung pada customer.

Nilai/Values: Brand dan bukan produk yang ditawarkan ke customer, jadi perusahaan tidak hanya menjual sebuah produk, melainkan membuat brand yang diingat orang selalu, serta melekat dalam diri customer. Stakholder harus memfungsikan diri sebagai service bisiness dimana dan kapanpun, setiap orang di dalam perusahaan harus merasa memiliki customer secara langsung dan memberikan kepuasan dalam melaksanakan proses-proses pelayanan, baik secara langsung atau tidak, dan bukan sekedar berfungsi.

Nilai-nilai yang ditetapkan suatu perusahaan bukan sekedar nilai-nilai yang tertulis di atas kertas, melainkan diusahan untuk senantiasa diterapkan dalam setiap sendi di perusahaan, dalam hal ini Daniel Goleman menyatakan: “Perusahaan yang cerdas secara emosi perlu mempersempit perbedaan antara nilai-nilai yang diucapkan dan nilai-nilai yang dijalankan. Kejelasan semangat, dan misi perusahaan memungkinkan dimilikinya rasa percaya diri dalam pengambilan keputusan perusahaan.”[28]

  1. Mengatur Nilai, Strategi dan Taktik

Strategi-strategi bisnis menurut Porter: pertama, differentiation yakni mengusahakan supaya menghasilkan produk secara getting out of the crowd, agar tidak sama dengan produk orang lain/unik, khas dan menarik, kedua, cost leadership yakni menghasilkan produk yang sama dengan para pesaing, tapi dengan biaya yang paling rendah, ketiga, Bila mampu menggabungkan antara differentiation dan cost leadership, maka kondisi perusahaan kita sangat siap dalam menghadapi persaingan.

Perusahaan pemasaran memiliki tiga proses berbeda; value, strategi, dan taktik yang berada dalam suatu siklus tertutup dan timbal balik, artinya value yang dipegang perusahaan akan saling mempengaruhi dengan strategi dan taktik yang akan dilakukan perusahaan tersebut, demikian juga sebaliknya. Maka dari itu evaluasi harus dilakukan terhadap ketiganya dalam kurun waktu tertentu.

Strategi terdiri dari Segmentation, Targetting, Possitioning. Penjelasannya adalah sebagai berikut.

Segmentation atau membagi segmen-segmen pasar; variabel pasar berubah dari geografi, demografi, perilaku, sampai individu. Dalam kondisi 4C pasar dianggap sebagai kumpulan individu yang berbeda satu sama lain, jika 2 C berdasarkan geografi dalam arti kebutuhan dan keinginan mereka sama. Tiga cara lain membagi pasar yakni berdasarkan demografi untuk memilah-milah pasar atas faktor who to buy, variabel psykografi membagi pasar atas faktor why they buy, variabel perilaku, membagi pasar atas faktor how to buy dan mengacu pada perilaku yang terjadi secara kongkrit.

Targetting/target: target untuk 2C adalah semua orang, target 2.5C orang yang cocok, target 3C memilih orang secara efektif, target 3.5C memilih sedikit orang di antara banyak customer yang paling penting, dan target 4 C semua orang dianggap penting dan memusatkan perhatian pada pelanggan individu.

Possitioning/penempatan: Jika 2 C terposisi sebagai satu-satunya perusahaan yang menguasai, 4 C bisa punya posisi berlainan untuk setiap pelanggannya, di antara keduanya adalah yang baik yakni; lebih baik dari perusahaan lain, perusahaan yang berbeda dari perusahaan lain, dan perusahaan yang punya posisi berbeda pada setiap ceruk atau pangsa pasar yang berbeda.[29]

Gabungan dari ketiganya akan membentuk brand yang kuat. Brand adalah apa yang diketahui, dipahami, ditangkap dan disikapi pembeli terhadap suatu produk yang sangat kuat pengaruhnya terhadap mereka.

Di samping itu, perusahaan harus membuat differensiasi yang membedakan perusahaannya dengan perusahaan yang lain. Differensiasi yang dilakukan dalam bentuk produk yang berkualitas atau brand dari produk tersebut, bentuk pelayanan yang ditawarkan, perlakukan terhadap pekerja atau karyawan, dan manajemen perusahaan.

Bagaimana mekanisme kerja positioning- differensiasi – brand dalam menjalankan usaha di perusahaan, dalam hal ini Hermawan Kartajaya mengatakan bahwa perusahaan harus memposisikan diri dengan jelas di benak pelanggan dalam bentuk brand yang kuat bukan produk, tujuannya agar memiliki identitas di benak mereka. Positioning yang dibangun sesungguhnya adalah janji pada pelanggan. Agar janji yang terumus dalam positioning memiliki kredibilitas dan dipersepsi positif oleh pelanggan, maka didukung differensisiasi yang kuat –pembeda dari perusahaan lain- gabungan keduanya akan membentuk Brand integrity yang kuat, yang bisa melahirkan brand image, brand image yang kuat akan memperkuat positioning sebelumnya. Bila berjalan mulus, maka akan menciptakan “self reinforcing mechanisme” atau “proses penguatan terus menerus” di antara unsur segitiga positioning- differensiasi – brand atau biasa disebut PDB. Keberlangsungan hal ini secara konstan harus dijaga dengan baik oleh perusahaan dalam upaya mengembangkan usaha menjadi lebih baik pada masa mendatang.

Contoh kongkrit dalam hal ini adalah Aa Gym yang sukses sebagai muballig dan sukses juga sebagai pengusaha Muslim. Aa Gym membangun positioning sebagai Muballig yang menyampaikan dakwah secara moderat dengan bahasa yang akrab, sangat mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Behubung sebagian besar jamaahnya generasi muda, maka beliau disebut Aa yang dalam bahasa sunda berarti kakak, bukan Kiai, Ulama atau Ustad. Differensiasi Aa Gym yakni petuah-petuah berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits, khususnya menyangkut masalah hati (qolbu) dan retorika dakwah yang sejuk dengan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami, serta dibumbui humor, Aa Gym diterima secara luas, bahkan oleh non Muslim sekalipun. Differensiasi Aa Gym terletak pada Manajeman Qolbu Corporation yang menjadi medium untuk mempraktekkan apa yang diucapkan, terutama dalam berbisnis secara Islam. Aa Gym sangat peduli dengan memajukan ekonomi umat Islam dengan melakukan sinergi antara agama dan bisnis. MQ merambah berbagai bidang usaha yang bermacam-macam dan berhasil. Pesantren Daarut Tauhid yang diasuhnya memanfaatkan teknologi virtual masa kini lewat internet dan SMS, mempublikasikan ceramah-ceramah lewat artikel koran, buku, kaset dan CD, bahkan kini MQ merambah sinetron Islami di televisi. Aa Gym berhasil melaksanaka prinsip-prinsip PDB, sehingga memiliki brand awareness yang tinggi dan brand loyality yang kokoh. Setelah sukses sebagai muballig dan pengusaha Muslim, Aa Gym berusaha mempertahankannya, salah satu cara adalah tidak terlibat dalam partai politik tertentu. Ingat mempertahankan lebih sulit dari mendapatkan. [30]

 

  1. Memahami Customer Lebih Dalam

Enlightened sering digabung dengan leader yang menggambarkan pemimpin yang sudah tercerahkan, Enlightened customer adalah konsumen yang punya pandangan jauh ke depan dan bisa mempengaruhi orang lain supaya percaya pada visinya, itu karena dia terdidik/well educated, informationalized adalah konsumen yang memiliki banyak informasi tentang tentang berbagai produk sehingga memiliki banyak pilihan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya, karena Enlightened customer dan informationalized membuat mereka memiliki bargaining power yang semakin meningkat, apalagi jika ditambah dengan income yang besar.

Dalam memahami customer lebih dalam, maka kita harus mengetahui “Who” siapa mereka dari segala aspek, “Why” mengapa mereka memanfaatkan suatu produk, “How” bagaimana cara mereka memanfaatkan, menggunakan dan membeli produk tersebut.

“Who” mengandung tiga variabel: PertamaVaribel kelas sosial. Ada tiga variabel yang membentuk kelas manusia yakni pendidikan, penghasilan, dan profesi, jika ketiganya digabung menjadi social class atau kelas sosial manusia yang bisa dibagi dalam upper-upper, midle upper, lower apper untuk kelas atas, upper middle, middle-middle, dan lower middle, lapis tengah, dan upper lower, middle lower, lower-lower untuk kelas bawah, semua kelas sosial telah dijelaskan di atas menurut pemahaman saya sebagai penulis. Disebut kelas sosial karena hasil segmentasi menghasilkan kelompok orang yang lebih mudah melakukan sosialisasi satu sama lain. Kedua: Variabel yang berhubungan dengan individu seperti jenis kelamin, usia, etnis, suku bangsa, agama, dan lain-lain. Ketiga: Variabel daur hidup keluarga family life cycle, artinya siklus kehidupan dalam keluarga mulai anak-anak, remaja, bujangan, kawin, cerai, dan hidup sendiri; single mother atau single father. Dalam bertingkah laku, memenuhi kebutuhan hidup, mengkonsumsi sesuatu, dan membeli sesuatu, ketiga faktor “who” manusia di atas sangat berpengaruh sekali.

Variabel “Why” adalah membuat kriteria psikografis berdasarkan interest/kepentingan, attitude/sikap, dan opinion/pandangan, serta ditambah gaya hidup atau life style. Mengapa customer memanfaatkan suatu produk? Kepentingan mereka terhadap suatu produk itu apa? Bagaimana sikap-sikapnya dalam berjual beli? Apa saja pandangan-pandangan hidupnya? Bagaimana gaya hidupnya?

Variabel “How” berkaitan dengan tindakan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup dan keinginannya atau bagaimana mereka mengkonsumsi dan memanfaatkan suatu produk. Dalam bertindak, manusia tergantung dari “what, why dan how,” what artinya mengumpulkan informasi, why mengolah dan menganalisi informasi dan how adalah tindakan yang dipilih berdasarkan analisis-analisis yang dibuat yang sudah berupa alternatif-altenartif pilihan. Demikian cara manusia mengambil keputusan, demikian juga custumor. What way terlalu banyak terjebak dalam banyak mikir tanpa tindakan, sedang langsung what how keputusan yang diambil bukan berdasar analisis yang sistematis sehingga bisa merugikan.

Jika situasi bergeser dari 2C ke 3.5C maka “How” semakin memegang peranan penting karena: pertama; makin banyak pesaing baik secara langsung atau tidak membuat konsumen makin banyak pilihan, sehingga para pemain merebut pangsa pasar yang sama, maka memperkuat brand, diskon dan free-trial menjadi salah satu jurus andalan, kedua; jika yang pertama terjadi, maka bisa jadi “how” bisa merubah menjadi “why”, ketiga; konsumen semakin banyak memperoleh informasi dari manapun asalnya, sehingga timbul keinginan konsumen untuk mencari sesuatu yang baru, keempat; kecendrungan makin menguatnya para pengecer yang melakukan integrasi horizontal dimana-mana juga memberikan masalah baru bagi para pemain lama, artinya produk yang sama tapi lebih murah dari produk dengan brand yang bagus akan menyerbu pasaran, sehingga bisa merubah sikap konsumen, kelima; produsen mulai bergerak sendiri untuk mendapatkan pelanggan one to one lewat Telepon, Internet, Handphone, Fak, dan berbagai sarana lainnya, dengan harga yang lebih murah dan menawaran menarik.

Semua pengetahuan mendalam tentang customer diatur dalam data base yang yang selalu diperbaharui, dianalisa, diperhatikan dan dipahami dengan benar. Berikut cara mengoptimalisasikan pasar lewat data base: a) memperbesar base dari orang-orang yang mampu membeli, sehingga bisa menentukan strategi penjualan lewat cicilan, pembayaran mundur atau bikin produk yang lebih cocok b) mengetahui dengan jelas cara meningkatkan jumlah pelannggan yang bisa digali dari base yang sudah ada, c) mencari jalan agar memperbesar nilai pembeliannya.

Konsep prioritas dipegang teguh sebab kita tidak mungkin melayani semua orang, melainkan sebagian orang bahkan bersifat individual, konsep kedua variabilitas artinya memberikan pelayanan berdasarkan prioritas agar pelanggan yang progesif dan menguntungkan tidak lari, ketiga; fleksibilitas; berusaha memberikan banyak variasi tanpa harus mengeluarkan ongkos tambahan.

 

Penutup

Nilai atau value dari Marketing plus adalah brand, service and process, tiga elemen strategi; segmentation, targetting, and possisioning, sedang tiga elemen taktik; differentiation, marketing mix – meliputi 4 P; product/produk, Price/harga, Place/tempat dan promotion/promosi/iklan-; dan selling atau penjualan, baik langsung, tidak langsung atau lewat maya. Perbedaan strategi dan taktik menurut Hermawan Kartajaya adalah strategi what to do atau apa yang akan dilakukan, sedang taktik how to do atau bagaimana cara melakukannya. Jika kita membagi pasar (segemntation) menentukan sasaran (targeting), dan membuat diri kita tampil beda (possitioning), ketiganya merukan tujuan yang ingin dicapai.

PDCA: Plan, Do, Check, Action; perusahaan (company) membuat perencanaan yang baik, melaksanakan dengan baik, melakukan pengecekan ulang agar sempurna atau evaluasi, membuat kebijakan yang tepat dan melaksanakannya, begitu terus menerus, sehingga menghasilkan yang terbaik. Jadi dalam mengelola perusahaan harus menerapkan prinsip PDCA di atas yang disuaikan dengan perubahan yang terjadi (change), perkembangan para pesaing (competitor), dan naik turunnya jumlah pelanggan/pembeli (customer).

Jika ada perubahan (change) yang memberikan dampak pada pelanggan (customer) dan pesaing (competitor), maka perusahaan harus mempertimbangkan kembali posisinya (possitioning), inilah yang disebut reposisioning. Artinya perusahaan mampu bertindak tepat, benar, sesuai situasi dan kondisi. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan bisa memperkuat keadaan perusahaan, menambah jumlah pelanggan, menambah pelanggan baru, menemukan pangsa pasar yang kecil tapi prospektif, menghasilkan produk yang berkualitas dan bisa diterima pasar.

Para pedagang eceran di pasar tradisional dan swalawan juga dituntut melakukan reposisi pada saat perubahan terjadi karena persaingan yang bertambah keras dan banyak, yang mana kedua hal tersebut mempengaruhi jumlah pembeli, maka mereka perlu melakukan langkah-langkah yang tepat, strategi yang benar, taktik yang jitu, dan mencari produk-produk baru yang khas dan laku, sehingga posisi mereka semakin menguntungkan di saat perubahan terjadi.

Demikianlah beberapa penjelasan tentang cara-cara mengelola perusahaan pemasaran yang tangguh, kokoh, kuat dan sukses. Ini diharapkan menjadi inspirasi bagi pedagang kecil agar mampu mengembangkan diri menjadi pedagang yang sukses, pengusaha menengah dan menjadi pengusaha elit, yang mampu menjembatani kelesuan dunia usaha akibat krisis. Para pedagang, wiraswasta, dan pengusaha Muslim dituntut untuk mampu mengaktualisasikan nilai-nilai Islam dalam usaha mereka, sekaligus mampu merealisasikan nilai-nilai dalam mengelola perusahaan yang tangguh. Konsukwensinya, kesuksesan tinggal menunggu momentum yang tepat.

Pemerintah dan perbankan diharapkan memiliki perhatian yang besar terhadap dunia usaha di kalangan umat Islam yang mayoritas di republik tercinta ini, sebab dengan membantu mereka secara langsung, berarti telah berupaya mengatasi krisis dengan tepat, mengingat merekalah yang selama ini termarginalkan berbagai kebijakan yang ada, di samping faktor diri mereka sendiri. Perbankan diharapkan memberikan pinjaman dengan bunga lunak dan dengan jaminan yang tidak terlalu mengikat, artinya jaminan tempat usaha di pasar dengan segala barang yang dikelola, diharapkan sudah bisa dijadikan anggunan. Langkah ini telah ditempuh Bank Danamon di Jember, diharapkan Bank-Bank lainnya melakukan hal yang sama, sehingga dunia usaha di kalangan umat Islam khususnya, dan dunia usaha secara keseluruhan mampu bangkit dan menjadi motor penggerak kemajuan ekonomi Indonesia di masa mendatang. Sedang pemerintah diharapkan menyalurkan kredit usaha kecil dengan bunga lunak pada berbagai usaha kecil yang ada di pasar-pasar tradisional secara langsung, dengan itu semua para pedagang kecil bisa mengembangkan usaha menjadi pedagang menengah dan pengusaha elit yang sukses.

 

 

BAB VI

ZAKAT SEBAGAI SOLUSI BAGI UMAT

Betapa indahnya Islam memilih kalimat zakat untuk mengungkapkan hak harta yang wajib dibayarkan orang yang kaya pada orang yang miskin. Secara etimologis zakat berarti pensucian sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu”. (Q.S Asy-Syams: 9), dan zakat berarti memuji dan menghargai seperti firman Allah: “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci”. (Q.S. An-Najm: 32) Zakat juga bermakna tumbuh dan bertambah sebagaimana dikatakan zakatuz zar’i artinya tatkala tumbuhan sedang tumbuh merekah dan bertambah. Semua makna di atas akan terlihat jelas tatkala seseorang telah menunaikan zakat sebagaimana yang akan kami jelaskan dalam tulisan berikut ini.

Ulama syari’ah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan istilah zakat adalah hak yang berupa harta yang wajib ditunaikan dalam harta tertentu untuk diberikan kepada kelompok tertentu dan dalam waktu tertentu pula.

Zakat adalah hak orang lain bukan pemberian dan karunia dari orang kaya kepada orang miskin. Zakat adalah hak harta yang wajib dibayarkan. Syari’at Islam telah merumuskan harta yang wajib dikeluarkan dan kelompok orang yang berhak menerimanya, juga menjelaskan secara jelas tentang waktu yang tepat untuk mengeluarkan kewajiban zakat.

Allah memberi dorongan untuk berzakat dengan firmanNya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (Q.S At-Taubah: 103) Dan dari hadits Rasulullah bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah menerima sadaqah dan diambilnya dengan tangan kanan-Nya lalu dikembangkan untuk seseorang di antara kalian, seperti seseorang di antara kalian memelihara anak kuda yang dimilikinya, hingga sesuap makanan menjadi sebesar gunung Uhud”. (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi, hadits ini dishahihkan oleh beliau dari Abu Hurai-rah)

Sebaliknya Allah memberi peringatan keras pada orang-orang yang tidak menunaikan zakat dengan firman-Nya: “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih pada hari dipanaskan emas perak itu dalam Neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang akibat dari yang kamu simpan itu”. (Q.S At-Taubah: 34-35) Dan Rasulullah menjelaskan tentang bentuk siksa tersebut dalam haditsnya: “Tidaklah seseorang yang memiliki simpanan harta lalu tidak mengeluarkan zakatnya melainkan akan dipanaskan dalam Neraka Jahannam, lalu dijadikan lempengan-lempengan yang akan disetrikakan di punggung dan dahinya hingga Allah memutuskan perkara di antara hamba-Nya pada suatu hari yang dihitung sehari sama dengan lima puluh ribu tahun”. (Muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairah)

Pedih dan beratnya siksaan itu dikarenakan hak-hak orang miskin yang tertahan sehingga mereka harus merasakan kepedihan dan kesengsaraan hidup akibat dari ulah orang-orang kaya yang menahan zakat. Islam tidak hanya memberi sanksi di akhirat bahkan di dunia, Allah memerintahkan kepada negara untuk mengambil dengan paksa harta zakat dari mereka yang menghalangi zakat.

Negara Islam adalah negara yang pertama kali dalam sejarah yang mengobarkan peperangan dalam rangka membela hak orang fakir miskin sebagaimana yang terjadi pada zaman pemerintahan Abu Bakar Ash-Shidiq dengan tegas beliau memerangi orang-orang yang menghalangi zakat.

Zakat merupakan peraturan yang menjamin dan memberantas kesenjangan sosial yang tidak bisa ditanggulangi dengan mengumpulkan sedekah perorangan yang bersifat sunnah. Tujuan utama disyari’atkan zakat untuk mengeluarkan orang-orang fakir dari kesulitan hidup yang melilit mereka menuju kemudahan hidup mereka, sehingga mereka bisa mempertahankan kehidupannya dan tujuan ini tampak jelas pada kelompok penerima zakat dari kalangan gharim (orang terlilit hutang) dan ibnu sabil (orang yang sedang dalam bepergian kehabisan bekal). Zakat juga berfungsi sebagai pembersih hati bagi para penerima dari penyakit hasad dan dengki serta pembersih hati bagi pembayar zakat dari sifat bakhil dan kikir.

Adapun dampak positif bagi perekonomian antara lain mengikis habis penimbunan harta yang membuat perekonomian tidak normal, memperluas pemerataan, dan mengurangi ketidak adilan sosial.

 

KESIMPULAN

Kehidupan semakin lama bertambah sulit, masalah semakin kompleks, situasi krisis tak tahu sampai kapan, dan beberapa problem yang tak teratasi bertambah menumpuk. Dalam keadaan demikian, manusia dituntut untuk mengoptimalkan potensi yang dimilki; pikiran, imajinasi, intuisi, perasaan, emosi, motivasi dan hati nurani, sehingga melahirkan kreativitas yang bermacam-macam dalam upaya menyesuaikan diri dengan berbagai keadaan yang semakin tak menentu.

Inilah yang diharapkan mendorong dunia usaha; wiraswasta, pedagang, dan pengusaha, menghasilkan yang terbaik, dengan kualitas yang terjamin, produk yang bisa digunakan secara praktis, harga terjangkau, enak dipakai dan dilihat, sehingga ujung-ujungnya mampu mengangkat dunia usaha yang sekarat, menjadi berdiri tegak, untuk kemudian bangkit memberi inspirasi pada kemajuan berbagai aspek kehidupan di Indonesia. Kreativitas adalah kata kunci untuk keluar dari situasi tak menentu ini, sebab kreativitas akan mampu menghasilkan karya, solusi pemecahan, dan jalan keluar terbaik dari berbagai persoalan.

Kreativitas harus dibudayakan mulai dari pedagang kaki lima, emperan toko, pedagang kecil, pengusaha menengah sampai pengusaha elit, sehingga setiap orang di dalamnya berlomba-lomba melahirkan kreativitas yang berbeda-beda dan bermacam-macam, sampai dunia usaha bisa menjadi pelopor kemajuan. Daya beli masyarakat yang menurun, harga kebutuhan pokok yang mahal, kenaikan BBM, pengaruh perekonomian dunia yang memburuk akibat melambungnya harga minyak dunia atau perang, adalah sarana melahirkan kreasi-kreasi baru, sehingga bisa membuat produk-produk yang dibutuhkan masyarakat Indonesia pada umumnya dengan harga murah dan terjangkau, serta kualitas yang bagus.

Mentalitas bangsa Indonesia sebagai masyarakat “customer” yang hanya memanfaatkan produk-produk luar agar nampak kelihatan trendi, wah, gengsi, fashion, gaya hidup dan membuat kita selama ini terlena, harus mulai dikikis perlahan-lahan. Mereka harus berani, mampu, berkemauan, dan kerja keras untuk merubah dari “customer” menjadi “produsen” atau penghasil produk-produk yang berkualitas untuk dipakai masyarakat Indonesia sendiri, jika bisa ditingkatkan kualitasnya sehingga bisa diekspor ke luar negeri. Mahalnya harga dollar, sehingga membuat produk-produk impor menjadi bertambah mahal, seharusnya menjadi kesempatan emas bagi para pengusaha di dalam negeri untuk menjual produk yang berkualitas sama dengan harga lebih murah seperti yang dilakukan Negara China, tentu dengan maksud bukan menjiplak, melainkan menghasilkan kreativitas baru.

Inilah susahnya masyarakat Indonesia, mereka terbiasa hidup “enak” walau dijajah 3 ½ abad, dipimpin sang diktator Soekarno dan Soeharto, sehingga kalang kabut saat yang “tidak enak” di masa lalu menumpuk dalam masa reformasi sekarang, membentuk krisis tanpa ujung pangkal ini. Orang yang terbiasa hidup enak, tidak senang terhadap tantangan, stagnan, “nrimo”, pasrah tanpa usaha, sak madya40, , jumud, malas, dan tidak kreatif. Guncangan tsunami yang dasyat di Aceh, musibah yang datang silih berganti –banjir bandang, banjir, tanah longsor, gempa bumi, flu burung, busung lapar, dan musibah-musibah lainnya- belum menyadarkan masyarakat yang terbiasa hidup “enak” ini. Entah apa keadaan harus dibuat lebih parah agar seluruh komponen bangsa, dari berbagai lapisan masyarakat, ras, suku, agama, dan latar belakang ini menjadi lebih sadar. Entahlah! Namun yang pasti setiap orang dari kita tidak menginginkan hal tersebut terjadi.

Untuk itu, kinilah saatnya untuk meninggalkan gaya hidup “enak”, meniru Barat yang tak layak ditiru, hidup foya-foya, menjauh dari agama yang dianut atau untuk umat Islam menjauh dari ajaran-ajaran Islam, dan berbagai hal yang menghambat kita untuk mampu berdiri atas kaki sendiri, meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan membangkitkan dunia usaha, menyusun paradigma jauh ke depan yang penuh tantangan, dan melahirkan kreativitas.

Masyarakat harus memiliki kebanggaan dengan produk-produk dalam negeri yang lebih murah dengan kualitas tidak jauh berbeda. Produk-produk dari luar hanya akan memberikan keuntungan para para pengusaha Yahudi –sang penguasa ekonomi dunia-, orang-orang Eropa, Jepang, dan China, sedang kita akan tetap dininabobokkan sebagai masyarakat pemakai yang tidak punya kreativitas. Tahukah kita bahwa uang yang kita belanjakan untuk orang AS dan Eropa khususnya, sebagian digunakan untuk membuat hidup kita “enak” dari luarnya tanpa harga diri, bahkan menyerang saudara-saudara kita di Irak, Afganistan, dan Palestina? Entah negara Islam mana lagi yang akan diperangi.

Kita memang memiliki kelemahan dari sudut modal usaha, namun kelemahan ini bukan satu-satunya alasan keberhasilan dunia usaha untuk bangkit. Modal yang besar dibutuhkan ketika usaha yang dikelola berjalan lancar, pangsa pasar jelas dan propektif, daya beli masyarakat meningkat, dan usaha mulai berkembang pesat. Selama usaha masih dalam taraf biasa-biasa saja, daya beli masyarakat menurun, dan keadaan belum membaik, justru modal besar tidak terlalu dibutuhkan. Artinya ketergantungan pada modal besar berusaha dihindari dulu sebelum usaha yang dikelola dikembangkan sedemikian rupa. Faktor-faktor lain di luar modal, yakni kerja keras, kreativitas, keuletan, perhitungan yang matang, pengaturan hutang piutang yang ada, berpegang pada nilai-nilai Islam dalam berusaha, dan bertawakkal pada Allah, lebih dipriotaskan dulu daripada mengharap modal yang besar.

Sekarang waktunya untuk bangkit, atau biarkan saja bangsa ini hancur berkeping-keping pada masa mendatang. Bangun dari tidur atau tetap pulas dalam ketiak sejarah. Berkreasi atau stagnan dalam berbagai sendi kehidupan. Berkarya atau diam sama sekali. Hidup atau mati. Demikianlah beberapa pilihan yang ada di hadapan kita, tidak ada alternatif lainnya, harus memimilih salah satu. Dengan memilih yang pertama berarti secara sadar kita akan menghadapi segala tantangan yang ada, kesulitan yang menghadang, hidup sederhana, mencintai produk dalam negeri, berkreasi menghasilkan hal-hal baru yang sangat dibutuhkan, dan menjalani hidup yang tidak “enak”, inilah yang akan membawa kita pada kebangkitan sebagai bangsa Indonesia. Dengan memilih yang kedua berarti kita bersama-sama menggali lubang kuburan di atas tanah Indonesia, umat Islam akan selamanya menjadi masyarakat penonton atau penggembira, dan membawa perahu republik ini karam di lautan atlantik tak dapat ditolong lagi. Saya berharapa pilihan kita benar, dengan secara sengaja memilih yang pertama.

Memilih yang pertama berarti kita menginginkan yang terbaik dari kita, masyarakat, umat Islam dan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Sehingga semua pihak bahu membahu, memperkuat persatuan, meneguhkan keimanan dan keislaman, berjuang bersama, dan menyingsingkan lengan baju agar kita bisa keluar dari situasi tak menentu yang melanda republik tercinta ini.

Dalam konteks di atas inilah, buku ini ada di hadapan pembaca dengan segela keterbatasannya. Buku ini diharapkan merangsang kreativitas baru di dunia usaha kita, sehingga umat Islam Indonesia perlahan-lahan menjejakkan kakinya di daerah kemajuaan dan kebangkitan, bukan sekedar dijadikannya simbol-simbol Islam dalam berbagai aspek kehidupan, melainkan bagaimana caranya agar nilai-nilai Islam benar-benar menyatu dalam jiwa umat Islam dalam menjalani kehidupan masa kini dan masa datang. Kejayaaan masa silam Islam cukup dikenang, sekarang tibalah waktunya melahirkan kejayaan Islam yang baru dengan generasi muda baru yang penuh gairah, totalitas, kerja keras, ulet, tekun, sabar, motivasi tinggi, memiliki kecerdasan emosi dan spritual, kreatif, hidup sederhana dan bertawakkal pada Allah menyangkut hasil usaha yang diperoleh.

Para pedagang, wiraswasta dan pengusaha Muslim yang ingin berhasil harus kembali pada nilai-nilai ajaran Islam yang luhur dalam mengelola usahanya, sebagian di antaranya ada dalam bab I dan II, mengoptimalkan hutang piutang dalam bab III, menjadikan sedekah sebagai upaya mendapatkan keuntungan yang lebih besar, dan ikhlas dalam bersedekah dalam bab IV, mentranformasikan diri menjadi pengusaha menengah dan elit dalam bab V, melaksanakan kewajiban membayar zakat harta dan fitrah sehingga kehidupan umat Islam secara keseluruhan menjadi lebih baik di masa kini dan mendatang. Kata kuncinya; percaya, praktek, catat dan perhitungan, buktikan, berkembang dan berkreasi, sucikan harta. Selamat atau kiamat?

Wonosari, 10 September 2014

 

 

 

 

 

 

SEKILAS TENTANG PENULIS

 

Penulis dengan nama Ahmad Zamhari Hasan, aktif membaca sejak SD, membaca kreatif dan menulis sejak kelas III pesantren Al-Amien Madura atau setingkat kelas III SMP/MTs. Garis nasib menaqdirkannya hanya kuliah sampai semester III STIDA yang kini berubah menjadi IDEA dan kuliah informal DII di Pesantren Tinggi Al-Amien, serta menjadi pedagang kecil di pasar tradisional Wonosari. Lebih banyak belajar otodidak tentang sastra; cerpen, novel, drama dan puisi, skenario, filsafat, Islam, Marketing dan politik, dengan menyisihkan sebagian uang hasil berdagang untuk membeli buku-buku yang bermacam-macam.

Ketika mondok di Pesantren Al-Amien mempelopori lahirnya SUASA (Suara Sastra Al-Amien) aktif menulis kolom, cerpen dan artikel, menjadi staf redaksi majalah Qolam, mempelopori penerbitan majalah Al-Hikam. Pengalaman hidupnya adalah Mengajar di Pondok Pesantren Al-Amein Madura dua tahun, Mengajar Bahasa Indonesia di pondok pesantren Ciburuy Bogor satu tahun setengah, Mengajar Bahasa Indonesia di SMA Islam Pecalongan 3 bulan, Mengajar di TPA dan MQA Al-Azhar Wonosari 6 tahun.

Prestasi yang pernah dicapai adalah Juara baca tulis cerpen Se-Madura di Talang Sumenep, juara pertama karya tulis cerpen, ilmiah populer, dan artikel di Pesantren Al-Amien, dan tulisannya pernah dimuat di harian Surya saat berusia 22 tahun.

Karya tulis yang dihasilkan sampai sekarang adalah novel :Bagaimana? dua ontologi puisi; Menjangkau Tuhan, Aceh Tersenyum Bahagia, satu kumpulan cerpen; Setitik Harapan (17 judul dari 23 cerpen yang ditulis), Membuat Skenario film layar lebar : Bidadari Postmodern, skenario sinetron; Permainan Cinta, membuat kumpulan tulisan tentang Pembacaan Kreatif, dan buku; Cara Sukses Berdagang Secara Islami yang akan segera diterbitkan.

 

Ahmad Zamhari Hasan, Pengelola http://www.sampenulis.blogspot.com

Berhubung Kuliah Alternatif Online (KAO) dilakukan secara Gratis bagi siapa saja yang mau mengikutinya, maka perlu sumbangan dermawan ke No. Rekening 01081817202 Bank Muamalat cabang Jember atas nama SAMHORI.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[1] Buku Membangun Kualitas Bangsa, Bunga rampai sekitar perbukuan di Indonesia (hal 309), Kanisius Yogyakarta, 1997

 

[2] Menulis dengan Emosi, Pantuan Empatik Mengarang Fiksi, Carmel Bird, , Kaifa Bandung 2001

[3] Batas Nalar, Rasionalitas & Prilaku Manusia (hal xv), Within Reason, Rasionality and Human Behavior (1999), Donald B. Calne, penerjemah; Parakitri T. Simbolon, Kepustakaan Populer Gramedia, 2004

[4] Revolusi Cara Belajar, The Learning Revolution, Gordon Dryden & Dr. Jeannette Vos, Kaifa Bandung, Cet. III 2001

[5] Zikir dan Doa dalam Kesibukan, KH. Mawardi Labay El-Sulthani, PT. Al-Mawardi Prima Jakarta, cet. III 1996

[6] Wirausaha: Bisnis UKM (hal xxii-xxiii), Adler Haymans Manurung, Penerbit Buku Kompas, Cet. 5 2005

[7] KH. Abdullah Gimnastiar, “Etika Berwirausaha”, Manajemen Qolbu

[8] Disebut Tiga Kreativitas Pemodal karena ide-ide yang dilahirkan bisa menimbulkan inspirasi yang secara langsung mempengaruhi penjualan dan keuntungan, 3 Metode Canggih Melejitkan Kreativitas Bisnis, Jump Start Your Business Brain (hal 57-60), Doug Hall, penerjemah Mursid Widjanarko, Kaifa PT. Mizan Pustaka Utama Bandung, Cet. I 2004 57-60)

 

[9] KH. Abdullah Gimnastiar, “Kewirausahaan”, Manajemen Qolbu

[10] Cara Cerdas Memutar Uang (hal 144), Elvyn G Masassya, penyunting Eko B. Supriyanto, PT Elex Media Komputindo, 2001

[11] Making Intimate Connections, 7 pedoman Menjalin Hubungan dan Membangun Komunikasi yang Baik (hal 16), Dr. Albert Ellis & Ted Crawford, Grasindo Jakarta, 2004

[12] Penafsiran ini diambil dari buku terhemahan Ruuhul Bayaan karya Ismail Haqqi Al-Burushi hal 400, yang disunting prof. Dr. H.M Dahlan.

 

[13] PSIKOLOGI KEPRIBADIAN, karya ALWISOL, UMM Press Yogyakarta 2004

 

[14] Cara Cerdas Memutar Uang (hal 145-150), Elvyn G Masassya, penyunting Eko B. Supriyanto, PT Elex Media Komputindo, 2001

[15] Sosiologi Agama, The Sosiologi of Religion (1962), Max Weber, Penerjemah Mohammad Yamin, , IRCiSoD Yogyakarta, Cet. II 2002

[16] KH. Abdullah Gimnastiar “Dasyatnya Sedekah”, Manajemen Qolbu.

[17] Klasifikasi kelas sosial diambil dari buku Marketting Plus 2000, Hermawan Kartajaya, Kepustakaan Populer Gramedia, 2001

[18] Disarikan dari buku Cara Gampang Menjadi Kaya Melalui Bisnis, 9 Strategi Praktis membangun Bisnis yang Sukses (hal 144-149), Martin J. Grunder Jr. Penerjemah Lovely, Kaifa PT Mizan Pustaka Bandung, Cet. I Maret 2006

[19] Penerapan lengkapnya nilai-nilai yang dijalankan Marty bisa dibaca dalam buku Cara Gampang Menjadi Kaya Melalui Bisnis, 9 Strategi Praktis membangun Bisnis yang Sukses (hal 16), Martin J. Grunder Jr. Penerjemah Lovely, Kaifa PT Mizan Pustaka Bandung, Cet. I Maret 2006

[20] Cara Gampang Menjadi Kaya Melalui Bisnis (hal 187-188), 9 Strategi Praktis membangun Bisnis yang Sukses, Martin J. Grunder Jr. Penerjemah Lovely, Kaifa PT Mizan Pustaka Bandung, Cet. I Maret 2006

[21] Cara Gampang Menjadi Kaya Melalui Bisnis, 9 Strategi Praktis membangun Bisnis yang Sukses, Martin J. Grunder Jr. Penerjemah Lovely, Kaifa PT Mizan Pustaka Bandung, Cet. I Maret 2006

[22] Marketing Your Self, Kiat Sukses Meniti Karier dan Bisnis (hal 6), Hermawan Kartajaya, Editor Yuswohadi, Sunarto Ciptoharjono, MarkPlus&Co Jakarta, Cet. V 2005

[23] Diambil dari Mark Plus Prefessional Service, consultan, education, information yang ada dalam buku Marketting Plus 2000 (hal 31), Hermawan Kartajaya, Kepustakaan Populer Gramedia, 2001

  1. Kecerdasan Emosi Untuk Mencapai Puncak Prestasi, Daniel Goleman, penerjemah Alex Tri Kantjono Widodo, , PT Gramedia Pustaka Utama, Cet. Kelima, 2003

[25] Kecerdasan Emosi Untuk Mencapai Puncak Prestasi, Daniel Goleman, penerjemah Alex Tri Kantjono Widodo, , PT Gramedia Pustaka Utama, Cet. Kelima, 2003

[26] Mendesain Strategi Pelatihan Karyawan, Satmoko, SE & Soejitro Irmin, Seyma Media, Cet. I September 2004

[27] Filosofi ini dikembangkan dari Mark Plus Prefessional Service, consultan, education, information yang ada dalam buku Marketting Plus 2000 (hal 66), Hermawan Kartajaya, Kepustakaan Populer Gramedia, 2001

[28] Kecerdasan Emosi Untuk Mencapai Puncak Prestasi (hal 456), Daniel Goleman, penerjemah Alex Tri Kantjono Widodo, , PT Gramedia Pustaka Utama, Cet. Kelima, 2003

[29] Marketting Plus 2000 (hal 102-103), Hermawan Kartajaya, Kepustakaan Populer Gramedia, 2001

[30] Disarikan dari Marketing Your Self, Kiat Sukses Meniti Karier dan Bisnis hal (hal 8-17), Hermawan Kartajaya, Editor Yuswohadi, Sunarto Ciptoharjono, MarkPlus&Co Jakarta, Cet. V 2005

40 Ini kesimpulan Umar Kayyam terhadap inti budaya Jawa. “Nilai sak madya membuat orang Jawa tidak menyukai segala sesuatu yang nyekek, yang banget-banget, yang ekstrim. …..” (hal 302) Strukturalisme Levi-Strauss, Mitos dan Karya Sastra, Heddy Shri Ahimsa-Putra, Galang Press Yogyakarta, 2001

 

2 responses to “Buku Belajar Otodidak Sampai Mati

  1. reni iskandanti

    Maret 13, 2014 at 2:00 pm

    apakah bisa di ikuti oleh buruh migran indonesia

     
    • Penulis Sam

      Maret 18, 2015 at 9:35 am

      seluruh dunia boleh ikut KOG

       

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: