RSS

Buku KOG: Belajar Otodidak Sampai Mati


Cover depan

 

 

BELAJAR OTODIDAK

SAMPAI MATI?

Pembelajaran Seumur Hidup Sebagai Kebutuhan Mendesak Saat Ini!

 

 

 

 

 

 

 

 

AHMAD ZAMHARI HASAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6 Rahasia Belajar Otodidak (BO)

Memahami makna BO

Mengembangkan semua potensi manusia

Mengelola Pengalaman Hidup

Membaca Buku, Semesta dan Kehidupan

Keahlian menulis sebagai ketrampilan plus

Menjalani Kehidupan penuh makna

 

 

 

Daftar Isi [iii]

Kata Pengantar Penulis [viii]

Pendahuluan [xii]

 

BAB I

BELAJAR OTODIDAK

ALTERNATIF PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF

  1. Paradigma Belajar Otodidak (BO) [2]
  2. Prinsip Utama BO [4]
  3. BO dalam Tatanan Praktik [5]
  4. Menumbuhkan Sikap Percaya Diri [8]
  5. Merumuskan Rencana dan Tujuan [11]
  6. Implementasi dalam Program Harian [15]
  7. Beberapa Hal yang Perlu dikuasai [17]
  8. Cara Memaknai Sesuatu [17]
  9. Cara Menafsirkan Sesuatu [20]
  10. Cara Melakukan Tesis, Anti Tesis dan Sintesis [21]
  11. Cara Melakukan Kritik [23]
  12. Cara Sukses BO [25]
  13. Kegagalan adalah Potensi Menuju Sukses [26]
  14. Orang lain Sukses, Mengapa Anda Tidak? [29]
  15. Menggabungkan BO dengan Pekerjaan (31)
  16. Menemukan Gaya Belajar Sendiri [32]
  17. Kiat BO yang Efektif [35]
  18. BO yang Menyenangkan [39]

 

                                            BAB II

MEMAKSIMALKAN POTENSI DIRI

  1. Otak Salah Satu Anugerah Terbesar [44]
  2. Otak manusia [44]
  3. Dari Otak ke Pikiran [47]
  4. Cara Mengasah Pikiran [49]
  5. Cara Berpikir Kritis [51]
  6. Cara Berpikir Kreatif [53]
  7. Imajinasi Sang Penguasa Baru [56]
  8. Imajinasi [56]
  9. Membedakan Fantasi dengan Imajinasi [57]
  10. Menggabungkan Imajinasi dengan Pikiran [58]
  11. Memfungsikan Imajinasi dengan Tepat [59]
  12. Perasaan Sumber Daya yang Menentukan 61]
  13. Panca Indera dan Perasaan [61]
  14. Cara Mengelola Perasaan [62]
  15. Mencerdaskan Perasaan [64]
  16. Keberhasilan dalam Perspektif Baru [66]
  17. Hati Potensi yang Terlupakan [69]
  18. Hati [69]
  19. Antara Suara Malaikat dan Bisikan Setan [71]
  20. Menghidupkan Hati Nurani [73]
  21. Kesadaran Berada di Jalan yang Benar [79]
  22. Kesadaran [79]
  23. Kesadaran dan Tingkah Laku [81]
  24. Beberapa Etika Al-Qur’an [85]
  25. Muara Etika Al-Qur’an [92]
  26. Tubuh adalah Wadah Segala Potensi [95]
  27. Tubuh [95]
  28. Wadah Bukan Sekadar Wadah [98]
  29. Antara Tubuh dengan Jiwa [99]
  30. Menggabungkan Semua Potensi dalam Kesatuan [101]
  31. Cara Menarik Kesimpulan [101]
  32. Cara Membuat Keputusan [105]
  33. Mengoptimalkan Seluruh Potensi [107]

 

BAB III

MENGELOLA PENGALAMAN MANUSIA

  1. Masa Lalu Merupakan Pengalaman Berharga [112]
  2. Pentingnya Pengalaman Masa Kecil [112]
  3. Masa Lalu Bukan Barang Antik [113]
  4. Dengan Masa Lalu Menuju Masa Kini [115]
  5. Beradabtasi dengan Kehidupan Masa Kini [117]
  6. Masa kini adalah Kenyataan Yang dihadapi [117]
  7. Menjalani Hidup Masa Kini [119]
  8. Menikmati Masa Kini tanpa Melupakan Masa Depan

     [120]

  1. Masa Depan Yang Tidak Pasti [121]
  2. Memahami Nilai-Nilai Baru [121]
  3. Memaknai Nilai-Nilai Baru [124]
  4. Menjadi Tokoh Seribu Tahun Lagi [125]
  5. Meraih Pintu Masa Depan dengan Berpijak pada Masa Kini [127]
  6. Menjadi Pelopor Perubahan [128]
  7. Memahami Perubahan [129]
  8. Karakteristik Perubahan [132]
  9. Mengatasi Efek-efek Negatif dari Suatu Perubahan [136]
  10. Melakukan Perubahan terhadap Diri Sendiri [140]
  11. Mau Menjadi Pelopor atau Pengikut [142]

 

BAB IV

MEMBACA SEBAGAI KUNCI SUKSES UTAMA BELAJAR OTODIDAK (BO)

  1. Beberapa Cara Membaca [147]
  2. Cara Kreatif Membaca Buku [153]
  3. Cara Membaca Buku “How To” [157]
  4. Cara Membaca Buku Sastra [160]
  5. Cara Membaca Buku Ilmiah [161]
  6. Cara Cepat Membaca Buku [162]
  7. Membaca Universitas Kehidupan [165]
  8. Membaca Fenomena Semesta [166]
  9. Membaca Krisis Tak Kunjung Usai [169]
  10. Membaca Bencana-Bencana Alam [171]
  11. Membaca Kehidupan Sehari-Hari [173]
  12. Membaca Nasib sebagai Pemicu Semangat [175]
  13. Belajar dari Mana, Siapa dan Apa Saja [178]
  14. Belajar dari Mana Saja [179]
  15. Belajar dari Orang-Orang Terbaik di Bidangnya[182]
  16. Belajar dari Orang-Orang Biasa [185]
  17. Belajar dari Penyakit, Penderitaan,

      dan Kesedihan [187]

  1. Belajar dari Film, Televisi dan Dunia Maya [189]

 

BAB V

MENGUASAI BEBERAPA CARA MENULIS

  1. Mengapa Anda Ingin Menjadi Penulis? [195]
  2. Menumbuhkan Motivasi untuk Menulis [195]
  3. Fungsi Seorang Penulis [198]
  4. Menulis sebagai Panggilan Hidup [200]
  5. Mengupulkan Bahan-Bahan Tulisan [202]
  6. Memunculkan Ide-Ide Brilian [202]
  7. Kiat Menemukan Ilham [204]
  8. Melakukan Klasifikasi Pendapat [206]
  9. Melakukan Penelitian Lapangan [207]
  10. Melakukan Penelitian Kepustakaan [210]
  11. Cara-Cara Praktis dalam Menulis [211]
  12. Cara Menulis Puisi [212]
  13. Cara menulis Cerpen [216]
  14. Cara Menulis Kritik Sastra [219]
  15. Cara Menulis Ilmiah Populer [222]
  16. Cara Menulis Kolom [223]
  17. Cara Menulis Buku [225]

 

BAB VI

MENJALANI HIDUP PENUH ARTI

  1. Antara Kebutuhan Pragmatis dengan BO [232]
  2. Berwiraswasta Guna Memenuhi Kebutuhan

      Hidup [233]

  1. Menekuni Karir Profesional [236]
  2. Menekuni Usaha Tradisional [238]
  3. Bekerja Pada Orang lain [240]
  4. Menjalani Hidup Apa Adanya [243]
  5. Mengelola Tantangan dalam Menjalani Hidup [245]
  6. Mengelola Masalah dengan Cara yang Tepat [246]
  7. Menikmati Hidup; Baik atau Buruk [249]
  8. Cerita Sukses Otodidaktor Sejati [251]
  9. Rahasia Sukses KH. Moh. Idris Jauhari [252]
  10. “Prof. Dr.” HAMKA Teladan Paling Ideal [255]
  11. Cak Nun: Kisah Anak Jalanan Yang Sukses [257]
  12. Muhamad Yunus: Meraih Nobel Perdamaian dengan Menjadi Otodidaktor Sejati [259]
  13. Fauzi Shaleh: Pengusaha Muslim Idaman (261)
  14. Gus Dur, Tokoh Seribu Wajah (263)

 

Epilog [265]

Daftar Pustaka [270]

Sekilas Tentang Penulis [274]

Lampiran I Metode Mengetahui Gaya Belajar (275)

Lampiran II Memahami Kecerdasan Berganda (278)

 

 

 
Belajar Otodidak (BO)

relung peristiwa

 

jalan penuh liku-liku, duri-duri menghalangi tiap langkah, menghambat rencana-rencana masa depan,

menjauhkan cita dari harapan

kaki berjalan di lereng bukit, jalan setapak sempit berkelok-kelok, nestapa hidup arah bawah, harap raih tujuan arah atas, teman karib arah samping, emas kemilau arah depan, kabut terang arah belakang

kaki telusuri tepi jurang, ketakutan mengiringi perjalanan, bawah cipta ketakutan, atas cipta kecemasan, samping cipta kesepian, depan cipta kekosongan, belakang cipta kegelapan

raih bintang di angkasa nan elok, anugerah besar pada kehidupan, sumbangsih perubahan dunia mengkerut, bintang terbang menjauh, kabut hitam menemani

pelukan rembulan dalam keheningan malam, sejukkan jiwa gersang, hapus ketidakpastian dalam awang, rembulan menghilang dalam temaram, cinta suci tak kunjung sampai

ketidakberuntungan sahabat setia, pikiran tak terasah pintu kuliah, pisau berkarat jarang dibersihkan, tambang emas tak tergarap, kegagalan teman sejati, jalan-jalan berujung buntu, berkelok-kelok tak mendapatkan pintu, keadaan memaksa menyerah kalah

buaian mimpi raup semesta, bau harum negeri sejahtera, hati berkeras berkarya, pasar tak bisa menerima, orang-orang tak bernama, media milik siapa-siapa, bukan siapa tak dapat apa

arah jalan mana mesti ditempuh, semua sisi saling menutup, diri terperosok dalam penjara, kunci terali hilang entah ke mana

kehidupan menyisakan asa, asal peras keringat tanpa pamrih, melahirkan sesuatu, berarti kelak, demi anak cucu tercinta, menanam pohon kehidupan, tak dapat dinikmati hari ini, petik buah dari sorga, hidup bahagia bersama bidadari, tak melakukan apa-apa, petik prahara di neraka, sengsara bersama setan

siapa mendapat apa, tak dapat apa-apa tanpa kuasa, meraih bintang, bulan, cahaya, bisa dilakukan setiap masa, bernyanyi lagu-lagu ceria, menari di atas derita, nurani diliputi sengsara

—– Nasib—Sial—Buntu—Gagal —–

nasib rubah buruk rupa, sial peluang raih harapan, buntu sarana kuak jalan berbeda, gagal upaya mewarnai lukisan monalisa, hasilkan gading dalam belaian ajal

Wonosari, 07 januari 2005

 

 

  1. Paradigma Belajar Otodidak (BO)

BO adalah upaya yang dilakukan seseorang untuk membaca, memahami, mengerti, dan mendalami sesuatu, dengan melakukannya sendiri. Prinsip utama dalam BO adalah belajar sendiri, meski dalam proses pembelajaran yang dilakukan terdapat unsur belajar pada orang lain, namun maknanya bukan seperti yang dimaksud belajar formal dengan dibimbing seorang guru atau dosen secara langsung di ruang kuliah.

Ruang belajar bukan kelas, tapi semesta. Dalam semesta terdapat beragam hal yang bisa dipelajari, sehingga ilmu yang diperoleh sangat luas sekali. Menurut Michael R. LeGault, “…Dan juga, faktanya, lebih banyak pengetahuan dan pembelajaran yang didapat anak di luar sekolah, melalui pengalaman dan belajar sendiri….”1 Ini semakin menguatkan motivasi kita untuk belajar sendiri tentang segala hal yang ingin dipelajari, sebab anak-anak saja lebih efektif belajar sendiri di luar sekolah, apalagi orang dewasa.

Perlu diingat, ini tidak boleh membentuk otodidaktor (istilah baru untuk orang yang belajar sendiri) dalam paradigma mengetahui banyak hal tapi sedikit, paradigma yang menjebak seseorang mengetahui sesuatu yang dangkal, sedikit, kecil, padahal yang diperlukan pada masa mendatang adalah mengetahui sedikit hal tapi banyak. Dalam tahap awal, paradigma ini sah-sah saja digunakan, untuk selanjutnya perlu spesialisasi bidang yang ingin diketahui, dibaca, dipahami, dan dimengerti lebih mendalam. Setelah mengetahui banyak hal tapi sedikit, dilanjutkan dengan upaya menemukan bidang yang paling disenangi untuk dijadikan keahlian pada masa mendatang, keahlian yang bisa dijadikan sandaran hidup.

Sebagai perbandingan, awalnya saya BO tentang filsafat, pindah ke cerpen, pindah ke puisi, pindah ke novel, pindah ke skenario, pindah ke buku marketing, pindah ke buku tentang belajar dan pindah ke buku Islam. Dari proses pembelajaran ini, lantas saya mencari titik temu antara hal-hal yang pernah dipelajari menjadi satu bidang yang ingin diperdalam pada masa mendatang, titik temu tersebut ditemukan dalam upaya memperdalam posmo (wilayah filsafat) ke dalam sastra (cerpen, puisi, novel, drama, dan skenario) dengan cita-cita utama yakni menginspirasi masyarakat Indonesia supaya bangkit dari keterpurukan di berbagai bidang.

Proses yang dialami setiap orang dalam belajar pasti berbeda, sebab perjalanan hidup tidak persis sama, bersifat khas, dan adanya perbedaan metode pembelajaran yang dilakukan. Ini bukan suatu halangan untuk bisa berhasil BO, sebab semangat yang dianut setiap orang sama dalam konteks berusaha untuk belajar seumur hidup atau Lifelong Education.

Belajar sangat penting bagi siapa saja, sebab belajar upaya untuk menjadikan diri lebih berkembang, membantu peningkatan kualitas hidup, menjadikan seseorang mampu melaksanakan tugas sebagai khalifah di muka bumi, membantu menjalani hidup penuh makna, merasakan kebebasan yang betanggung jawab, dan bahkan mampu menjadikan manusia “merdeka” dalam makna yang hakiki seperti yang dinyatakan Hasan Hanafi “….. Pada awal Islam, belajar disejajarkan dengan kemerdekaan. Manusia terpelajar tidak akan pernah bisa dimiliki. Belajar adalah prasyarat kebebasan.”2

Ada beberapa yang hal perlu dipelajari sebelum memulai BO, seperti; prinsip utama BO, mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, penumbuhan sikap percaya diri agar bisa belajar dengan mantap, penuh keyakinan, dan percaya dengan kemampuan yang dimiliki, perlu juga menyusun rencana berikut tujuan yang hendak dicapai dan implementasinya pada program harian.

  1. Prinsip Utama BO

Sebuah metafora yang tepat bagi otodidaktor ialah bermetaformosis menjadi air yang secara perlahan mampu menembus batu yang kuat. Sekuat apa pun batu yang ada, pasti tertembus air setelah melewati proses waktu yang lama. Apa makna hal ini?

Dalam BO, bisa jadi dalam proses awal berhadapan dengan banyak kesulitan, rintangan, ejekan, hambatan, dan hal-hal yang mendorong otodidaktor tidak mau belajar lagi. Semua itu harus diatasi satu persatu dengan penuh kesabaran, ketekunan, keuletan, kegigihan, dan semangat pantang menyerah, sehingga sedikit demi sedikit dapat diatasi. Lihatlah air yang menembus batu, itu tidak dilakukan dengan mudah, meski dari luar kelihatan mudah, membutuhkan akumulasi energi bertahun-tahun untuk menembus batu.

Proses waktu yang lama untuk berhasil BO dijadikan sarana untuk memperluas pengetahuan, mengasah potensi yang dimiliki; pikiran, imajinasi, perasaan, kesadaran dan tubuh, dan memperkuat mentalitas diri. Air menetes sedikit demi sedikit untuk menggores pada tahap awal, memperdalam goresan, dan baru berhasil menembus batu. Paling tidak otodidaktor membutuhkan waktu 5 tahun untuk berhasil menjadi otodidaktor sejati. Emha Ainun Najdib butuh 5 tahun untuk belajar di universitas kehidupan Marlboro, malah saya butuh waktu 9 tahun untuk menulis buku ini (jika dihitung setelah lulus Pesantren TMI Al-Amien, berarti saya butuh waktu 12 tahun).

Berbekal buku ini, para otodidaktor insya Allah lebih mudah dalam BO, sebab telah memiliki buku panduan yang lumayan lengkap. Buku ini diibaratkan sebagai alat bantu untuk melubangi batu, sehingga proses waktu yang dibutuhkan untuk melubanginya relatif lebih cepat dan mudah. Namun perlu diingat, tidak ada yang instan dalam proses BO.

Ketika otodidaktor mampu mengatasi berbagai kesulitan dalam tahap awal di atas, maka selanjutnya terasa mudah. Ibarat air yang telah berhasil menembus batu, air itu mengalir ke arah mana saja untuk mengarungi samudera kehidupan. Hal ini bukan sekadar pendapat, melainkan sesuatu yang telah saya buktikan sendiri.

Saya butuh lima tahun untuk menghasilkan kumpulan cerpen 22 judul, dua ontologi puisi, dan satu novel, ini disebut tahap awal. Selanjutnya lahirlah; empat skenario film/sinetron, novel Bidadari Posmodern, dan buku Berniaga Dengan Iman, buku-buku ini masing-masing saya selesaikan dalam kurun waktu antara satu sampai tiga bulan, gampang dan cepat bukan? Mungkin inilah rahasianya mengapa Hamka menghasilkan 79 karya tulis, dan Emha Ainun Nadjib sebanyak 46 buku. Keduanya adalah contoh otodidaktor sejati yang diceritakan di akhir buku ini.

  1. BO dalam Tatanan Praktik

Sekarang adalah waktu yang tepat untuk memulai BO bagi siapa saja yang ingin berupaya untuk mengembangkan diri, memperdalam ilmu, mengoptimalkan potensi yang dimiliki, meningkatkan usaha atau pekerjaan dan memanfaatkan waktu luang yang terbuang percuma dengan kegiatan yang sangat bermanfaat, Nabi Muhammad bersabda; “Ada dua kenikmatan yang mayoritas manusia tertipu olehnya, yaitu kenikmatan sehat dan kenikmatan luang waktu,” (H.R Bukhari). Hanya dengan belajar sendiri seumur hidup, upaya otodidaktor mengerti kehidupan sehari-hari, memahami semesta dan menjadikannya sebagai tempat yang nyaman didiami makhluk hidup, bisa diaplikasikan dalam kenyataan.

Rasa puas karena menggangap menguasi suatu bidang ilmu tertentu adalah penyakit yang menggiring manusia menjadi robot. Sebab rasa puas ini dapat membunuh motivasi, mematikan kreativitas, memusnahkan semangat, dan membimbing pada “ketidakpahaman-ketidakpahaman” yang semakin menumpuk, sehingga mengakibatkan keputusasaan, tindakan anarkis, prilaku bawah sadar yang menyimpang, dan menghadirkan “kematian” lebih cepat dari waktu sebenarnya. Ilmu semakin diselami, semakin dalam dan bertambah luas. Tidak ada ilmu yang tetap, manusia saja yang menganggapnya demikian.

Menurut Claude Leroy, fisikawan terkemuka, hanya 4% jagad raya yang diketahui manusia, sedang 96% belum diketahui tersusun dari apa jagad raya ini (Koran Tempo, 20 Agustus 2008). Apakah Anda berhenti belajar padahal hanya tahu 4% saja?

Proses pembelajaran telah dilakukan manusia semenjak nenek moyang yakni Nabi Adam sampai sekarang. Sesungguhnya dalam tatanan konsep manusia lebih maju, namun dari sikap hidup belum tentu demikian. Buktinya dalam abad 21 ini masih ada penjajahan seperti yang dilakukan AS dan Inggris di Irak, mereka juga menginjak-injak hak asasi manusia dengan alasan memberantas terorisme, dan pembunuhan atas nama agama masih saja terjadi.

Salah satu sebabnya, adanya dikotomi antara ilmu-ilmu keduniaan dengan ilmu-ilmu ke akhiratan, atau memaknai ilmu sebagai pemahaman sempit untuk kehidupan dunia semata, padahal kehidupan berlanjut pada alam setelah kematian dan akhirat kelak. Ini dipengaruhi paradigma Barat yang melepaskan ilmu dari agama. Paradigma Islam mengenai ilmu berbeda dengan Barat, sebab dalam Islam tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan dunia, pemahaman ini saya peroleh dari KH. Moh. Idris Jauhari, yang juga diperkuat Prof. Dr. Qomaruddin Hidayat. Namun demikian dalam rangka menguasai ilmu pengetahuan baru, perkembangan teknologi, pemanfaatan informasi, dan hal-hal yang kini dikuasai Barat, umat Islam harus mampu belajar pada mereka dengan tetap berpegang teguh pada ajaran-ajaran Islam. Tapi proses belajar tersebut dalam makna Oksidentalisme seperti yang didengungkan Edward Said dan Hasan Hanafi, artinya umat Islam melakukan studi terhadap Barat dalam rangka menemukan pengetahuan mereka sendiri.

Dalam proses pembelajaran, umat Islam kadang menghadapi paradoksal, dan pertentangan dalam menjalani kehidupan, itu sesuatu hal yang wajar, asal tidak selamanya terjebak di sana. Ada saat seorang Muslim mampu memaknai segala sesuatu yang dipelajari dari Barat dengan segala efek-efek yang ditimbulkannya. Seseorang bisa jadi pernah bersikap liberal karena pengaruh belajar filsafat barat, pandangan yang membuatnya merasa tak memerlukan ibadah spritual, menganggap bahwa Al-Qur’an dan Hadits tidak kontekstual lagi, mengakalkan segala sesuatu, dan anggapan-anggapan lainnya. Tapi universitas kehidupan akan membuat orang yang “salah jalan” tersebut memahami bahwa sikapnya keliru, maka suatu waktu dia “pasti” merubah pandangan hidupnya. Pandangan hidup yang menggiringnya untuk semakin meyakini Islam, beriman, dan berbuat baik. Asal proses “liberal” yang dialami bukan karena iming-iming uang dan harta, melainkan karena proses pembelajaran.

Jika belajar di universitas formal terbatas sampai program Doktoral, maka BO pada universitas kehidupan tidak terbatas pada hal itu, justru ketika otodidaktor telah mampu menjadi “Doktor informal”, dirinya dituntut untuk lebih banyak menghasilkan karya, sebab problematika kehidupan semakin kompleks, ilmu yang dikuasai manusia baru gelombang kecil di tengah samudera lautan luas, manusia belum mampu berbicara langsung dengan Allah, manusia belum menyingkap semua misteri sunnatullah, manusia belum mampu menyingkap misteri dirinya, manusia belum mampu menyingkap jagad raya dan manusia belum mampu menjadi sebenar-benarnya manusia paripurna. Kapan proses belajar sebenarnya selesai? Kematian yang menghentikan proses BO.

  1. Menumbuhkan Sikap Percaya Diri

Menumbuhkan sikap percaya diri sangat penting dalam kehidupan setiap otodidaktor, termasuk dalam usaha BO. Dengan kepercayaan diri yang kuat bahwa belajar bisa dilakukan siapa saja karena hakikatnya setiap orang cerdas dan pintar dengan caranya masing-masing. Ini menjadi salah satu langkah penting supaya berhasil belajar sendiri. Untuk itu, enam langkah berikut direalisasikan satu persatu dalam proses BO.

Enam bahan vital rasa percaya diri;

  1. Keselamatan fisik, kebebasan dari bahaya fisik.
  2. Keamanan Emosi, Ketiadaan intimidasi dan rasa takut
  3. Identitas diri, Siapa aku? Mau ke mana? Apa tujuan hidup? Apa yang ingin dicapai? Apa yang akan dilakukan.
  4. Afiliasi, rasa memiliki.
  5. Kompetensi atau kemampuan, dan bisa melakukan apa yang diinginan.
  6. Misi, merasa bahwa hidup seseorang punya arti dan arah.”3

Otodidaktor merasa percaya diri, jika secara fisik dirinya tidak merasa mendapatkan ancaman dari siapa saja, dalam bentuk apa pun atau dari mana pun. Fisik merasa aman, apabila dijaga dengan mengatur makanan yang bergizi dan rajin berolah raga secara teratur, sedang aman dari ancaman luar dengan cara menjaga hubungan yang harmonis dengan orang lain atau masyarakat. Keduanya membimbing pada keamanan fisik.

Emosi otodidaktor memang tidak stabil, tergantung faktor dari dalam dan dari luar yang mempengaruhinya. Untuk itu, emosi harus dikendalikan dengan kekuatan kepribadian agar tidak berakibat buruk dalam kehidupan yang dijalani. Rasa amarah diredam dengan kesabaran, rasa benci diredam dengan cinta, rasa dendam diredam dengan kasih sayang, rasa ingin menyakiti orang lain diredam dengan rajin membantu orang, rasa ingin membunuh diredam dengan mengasuh anak orang, itulah beberapa contoh bentuk pengendalian diri. Dari kemampuan mengendalikan emosi, dilanjutkan dengan mengembangkan Kecerdasan Emosi. Artinya otodidaktor dituntut cerdas secara emosi, yang mana emosi dikelola dengan baik, bahkan bisa dijadikan kreativitas diri seperti menulis puisi atau cerita, menciptakan lagu, membuat komposisi musik, atau memainkan alat musik dari hati nurani.

Ancaman dari luar berusaha dikelola sebaik-baiknya dan diatasi dengan jalan keluar yang tepat, benar, dan menguntungkan semua pihak. Jika mengalah merupakan alternatif terbaik, lebih baik mengalah dari memaksakan diri untuk menjadi pemenang di atas penderitaan orang lain. Mengalah bukan berarti kalah, melainkan mengalah demi kemaslahatan umat manusia. Sebagai contoh; Nabi Muhammad setiap hari didzalimi, dianiaya dan diteror dengan bermacam-macam cara, namun beliau mengalah untuk tidak membalas, malah mendoakan orang-orang yang melakukan semua itu, akhirnya pemeluk agama Islam berkembang pesat dan mampu mencapai masa keemasan.

Sebagai manusia dengan segala kelebihan dan kelemahannya, kita bertanya-bertanya dalam diri; Siapa diriku? Mau ke dimanakan hidupku? Apa tujuan hidup? Apa yang ingin dicapai? Apa yang akan dilakukan? Pertanyaan-pertanyaan ini membimbing manusia pada upaya pengenalan dirinya sendiri dari segala aspek; emosi, pikiran, imajinasi, motivasi, hati nurani, nafsu, keinginan, sifat, sikap, kebutuhan, insting, dan tingkah laku. Semua itu harus dipahami dengan benar, sehingga otodidaktor mampu memahami dan mengendalikan dirinya sendiri. Dengan pemahaman terhadap diri, diteruskan dengan pemaparan secara kongkrit dan tertulis tentang arah dan tujuan hidup dalam jangka pendek, menengah dan panjang. Supaya lengkap ditambah dengan langkah-langkah kongkrit yang ingin dilakukan agar tujuan mulia atau cita-cita bisa tercapai dengan cara, proses, dan usaha yang benar.

Afiliasi atau rasa memiliki adalah sebentuk perasaan dalam diri bahwa kehidupan itu berharga, paling tidak untuk diri sendiri dan keluarga, lebih-lebih untuk masyarakat sekitar. Diri memiliki beberapa potensi, baik anugerah Allah atau lewat proses pembelajaran, yang bisa dijadikan sarana meraih kesuksesan dalam menjalani kehidupan. Jika memiliki kelemahan dalam memahami sebuah buku, masih ada cara untuk memahaminya yakni bertanya pada orang yang lebih tahu, membuka kamus (bahasa Indonesia dan Inggris wajib dimiliki), atau membiarkan yang tidak dipahami, lama kelamaan dengan membaca buku lain yang mirip, maka pemahaman muncul dengan sendirinya. Jangan biarkan kesulitan memahami sesuatu menjadi penghalang untuk belajar sendiri.

Setiap otodidaktor, hakikatnya telah memiliki kemampuan yang cukup memadai untuk memahami sesuatu yang diinginkan, yang dibutuhkan adalah keinginan kuat untuk BO secara sungguh-sungguh. Untuk mempermudah yang ingin dikuasai, mulai dulu dengan buku cerita, lalu buku “how to” yang praktis tentang sesuatu yang ingin dikuasai, membaca buku ilmiah yang ringan, menengah dan berat tentang hal yang sama, sehingga pengetahuan tentang sesuatu itu menjadi banyak, beragam, dari berbagai sudut pandang, dan lengkap. Pembacaan dilanjutkan dengan berusaha mengelola pengalaman dan membaca kehidupan sehari-hari atau semesta.

Jika umtuk kuliah formal butuh 3-5 tahun, maka otodidaktor dalam kurun waktu tersebut harus mampu menghasilkan karya tulis berkualitas dan mampu mempresentasikannya dengan uraian yang dalam. Bahkan jika bertekad dan bersungguh-sungguh mengikuti Kuliah Alternatif yang saya kelola, paling tidak butuh waktu 2 tahun. Kemampuan ini membimbing otodidaktor memiliki rasa percaya diri yang utuh, yakni berhasil meraih kesuksesan sebagaimana orang yang kuliah formal. Ibu pertiwi pernah melahirkan Hamka, Emha Ainun Nadjid, D. Zawawi Imron, KH. Moh. Idris Jauhari, dan Gus Dur yang secara kualitas tidak diragukan lagi.

Lewat karya tulis, hakikatnya otodidaktor bermanfaat untuk diri sendiri, sekaligus bermanfaat untuk orang lain. Manakala orang lain membaca karya tulis kita (dalam bentuk foto copy, web site, apalagi diterbitkan dalam bentuk buku dengan biaya sendiri), diharapkan mereka mendapatkan inspirasi, ilham, ilmu dan pengetahuan dari tulisan tersebut. Itu artinya hidup otodidaktor punyak makna dan arti. Apalagi sekarang, setiap orang dapat menulis apa saja lewat blog di internet. Blog saya ialah http://www.sampenulis.wordpress.com.

  1. Merumuskan Rencana dan Tujuan

Ada asumsi bahwa dalam menjalani hidup tidak perlu perencanaan, sebab hidup dalam perencanaan menjadikan kehidupan manusia seperti mesin berjalan. Dalam kenyataan hidup sebagian besar masyarakat Indonesia menjalani hidup tanpa perencanaan, baik karena terjebak asumsi keliru di atas maupun tidak. Hal ini tidak boleh dibiarkan terus menerus, perlu perubahan agar kehidupan mereka juga berubah menjadi lebih baik, bermakna, berhasil, dan mencapai hasil maksimal.

Perencanaan penting dalam upaya menyusun langkah-langkah yang praktis, masuk akal, mudah, aplikatif dan bisa diterapkan, bukan rencana-rencana muluk yang mengawang-awang di angkasa, namun tidak dapat dilaksanakan. Syarat utama sebuah perencanaan adalah bisa dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari guna mencapai tujuan tertentu. Berhubung perencanaan berkaitan dengan tujuan, maka tujuan dirumuskan terlebih dahulu.

Prinsip pencapaian sebuah tujuan bukan menghindari resiko, melaikan menghadapi dan mengantisipasi resiko yang timbul. Menurut Michael R. LeGault “Ketika tujuan utama di dalam masyarakat berubah menjadi bagaimana menghindari resiko, menjaga diri sendiri, kehidupan akan menjadi sebuah kebosanan. Pikiran kita tercekik. Suplai darah ke otak kita menyurut, dan jumlah synapses di otak kita berkurang. Sekali lagi, kita tidak terdorong untuk melakukan sesuatu. Kita bisa duduk-duduk saja dan secara kolektif membiarkan otak kita menciut dan membiarkan generasi penerus menangani konsekwensi yang timbul…”4 Dalam merumuskan tujuan terbagi; jangka pendek, menengah dan panjang.

Tujuan jangka pendek antara 3-6 bulan, otodidaktor memutuskan untuk memahami teori belajar otodidak melalui buku yang berkualitas, dan mempraktikkannya.

Tujuan jangka menengah antara 1-5/10 tahun, otodidaktor memutuskan untuk menyelesaikan skripsi S1nya di satu bidang, contoh; bagi yang memperdalam puisi dapat membaca buku Apresiasi Puisi Untuk Pelajar dan Mahasiswa, Karya Prof. Dr. Herman J. Waluyo, menulis ontologi puisi 22 judul yang terbaik, dan menulis ulasan tentang puisi setebal 100 halaman diketik 2 spasi.

Tujuan jangka panjang antara 5/10-25 tahun, otodidaktor memperdalam sastra secara keseluruhan, sebab puisi bagian dari sastra, mendalami kritik sastra terutama buku Kritik Sastra Indonesia Modern karya Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo, mendalami metode penelitian sastra, mendalami buku sastra kontemporer seperti buku Sastra dan Cultural Studies, Representasi Fiksi dan Fakta, karya Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna, lalu menyelesaikan tesis S2 berupa buku tentang sastra dan menulis ontologi puisi kedua 30 judul yang terbaik. Dalam jangka panjang juga diupayakan untuk menghasilkan masterpiece atau karya terbaik dari yang terbaik dalam bentuk satu ontologi puisi 40 judul dan satu buku tentang kritik sastra yang sehebat buku Pradopo atau buku karangan HB Yassin Paus kritikus sastra Indonesia.

Perlu dicatat, hakikatnya jangka panjang untuk kehidupan manusia sampai kematian menjemput; makanya orientasi BO sampai mati. Untuk itulah, perlu mempersiapkan bekal yang banyak guna menjalani kehidupan setelah mati, sebab akhirat itu nyata saat kematian datang. Jadi, hakikat kehidupan otodidaktor sejati ialah bahagia dunia akhirat dan mengajak orang lain guna menikmati hal yang sama.

Aplikasi dari pencapaian tujuan di atas dalam perencanaan adalah sebagai berikut.

Dalam jangka pendek, mempelajari buku ini dengan sungguh-sungguh, paling tidak butuh waktu 3-6 bulan untuk dapat menguasai seluruhnya. Jika membaca secara intensif, satu minggu selesai dengan perincian satu hari satu bab, tapi ketika hendak mempraktekkan, maka butuh waktu lebih lama, sebab membaca sambil mempraktekkan langsung apa yang dibaca.

Dalam jangka menengah, mulai memfokuskan diri pada satu bidang ilmu, misalnya puisi. Ketika hendak menulis puisi, perlu mencari ilham dari mimpi, mendengarkan bisikan hati nurani, mencari ilham dari intuisi, menyediakan waktu menikmati hembusan angin pagi atau malam, menikmati pemandangan alam, memahami realitas kehidupan masyarakat apa adanya, menyingkap misteri-misteri nasib baik atau buruk, memahami cara berkomunikasi dengan Tuhan yang sudah ada mediasinya yakni shalat, dizikir dan doa, lalu mencatat semua itu dalam puisi dan catatan pribadi yang suatu saat akan bermanfaat ketika memutuskan untuk menulis skripsi, tesis atau disertasi.

Sedang untuk jangka panjang, mendalami buku-buku yang disebutkan dalam rumusan tujuan, membuat makalah khusus dari setiap buku yang dibaca atau jika membaca buku lain yang terbaru bisa menulis resensi buku (batas buku baru 6 bulan setelah terbit), mendiskusikan isi buku dengan kelompok studi tertentu, orang yang berkompeten atau jika tak ada bisa dengan teman. Sedang bagi yang memperdalam puisi mulai menulis yang lebih berkualitas, menyelesaikan proyek “tesis S2” dengan tema baru, orisinil, menarik, dan bisa diterbitkan penerbit kelak, serta merancang proyek master piece atau terbaik dari yang baik dalam bentuk buku dan ontologi puisi. Untuk memahami master piece ini, perlu membaca kumpulan puisi Khairil Anwar, WS Rendra, Emha Ainun Nadjib, D. Zawawi Imron, dan Linus Suryadi, sedang untuk buku sastra seperti yang disebutkan sebelumnya (tentu jika ada buku baru yang lebih berbobot, harus membelinya). Meski telah menghasilkan master piece, tapi diri tidak boleh berhenti, tapi terus berupaya menghasilkan master piece lain. Jauh yang lebih penting, membantu orang lain untuk lebih berhasil dari diri kita sendiri.

Bagi yang memiliki gaya hidup tidak teratur, semraut, tidak disiplin dan memiliki ego sendiri yang kuat, dalam menjalani hidup biasanya perencanaan yang dibuat bersifat global, meski demikian perumusan tujuan tetaplah penting dilakukan sebagai pedoman. Memang implementasinya disesuaikan dengan kemauan, kesenangan, cara kerja dan keinginan diri. Ada kalanya orang dengan tipe ini suatu waktu aktif membaca buku terus, yang lain dibiarkan terbengkalai, ada kalanya menulis terus, membaca dilalaikan, ada kalanya menikmati hidup di tengah masyarakat, menikmati seni dalam masyarakat, menikmati dunia yang semraut dengan tidak melakukan yang lainnya. Paling penting berkarya, sedang caranya tergantung kebiasaan dan keunikan dari masing-masing individu.

Pentingnya perumusan tujuan juga disinggung Allah dalam Al-Qur’an “Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya.” (QS Ar-ruum 8). Allah saja memiliki tujuan dengan menciptakan langit, bumi dan manusia, mengapa kita hidup tanpa tujuan yang jelas?

  1. Implementasi dalam Program Harian

Otodidaktor memprogram waktu 24 jam dengan baik, misalnya; ibadah shalat wajib 5 waktu (berusaha shalat berjamaah di masjid) dan shalat sunnah 1 jam dalam sehari, mengelola usaha paling tidak butuh waktu antara 5-8 jam setiap hari (jika seorang pedagang bisa baca buku sambil usaha), 1 jam dipakai untuk membaca buku, 15 menit merenungkan apa yang dibaca, 15 menit mengaitkan yang dibaca dengan realitas kehidupan, 30 menit mencatat kesimpulan, kata kunci dari yang dibaca, untuk mencatat yang penting, ide, ilham, inspirasi atau menulis sesuai bentuk yang dikuasai, bisa sastra atau ilmiah sederhana, 30 menit sampai 1 jam untuk olah raga (bisa pagi atau sore hari), total waktu 14 jam, 1 jam mengajar atau membantu orang lain, 1 jam belajar bahasa, 2 jam untuk pekerjaan rumah atau rileks, dan sisanya dipakai untuk istirahat secara efektif. Pengaturan waktu disesuaikan dengan kesibukan, rencana masa depan, apa yang hendak dicapai, tujuan jangka pendek atau panjang, dan cita-cita yang ingin diraih.

Minimal setiap hari menyediakan waktu 1 jam secara konsisten untuk; membaca buku, kehidupan atau semesta, menulis ide, ilham, intuisi dan suara hati nurani, hidup bermasyarakat, berkontemplasi tentang berbagai hal yang berkaitan dengan puisi yang hendak ditulis, menulis puisi dan catatan dari buku yang dibaca.

Bagi yang hidup tidak teratur, terkadang membaca dan menulis lebih dari 1 jam, atau malah kegiatan menulis lebih diutamakan karena sedang menyelesaikan sebuah buku atau novel, tak masalah mengganti kegiatan membaca dengan menulis, asal tidak ditinggalkan sama sekali. Sedang yang tidak disibukkan dengan pekerjaan harian, bisa menyediakan waktu yang lebih banyak untuk BO, paling penting jangan biarkan waktu berlalu tanpa kegiatan yang bermanfaat.

Pada waktu rasa malas, bosan, merasa sia-sia, dan kejenuhan muncul, maka pertanyakan pada diri sendiri, mau diapakan hidup yang pendek ini? Apa hidup dibiarkan untuk makan, tidur dan bermain-main saja? Mengapa tidak melakukan sesuatu yang bermakna?

Supaya mempermudah BO, perlu memperluas kemampuan bahasa dan kemampuan menggunakan komputer.

Belajar bahasa Indonesia dengan cara; menghafalkan kata-kata sulit yang berasal dari bahasa asing atau daerah, mempelajari tata bahasa, mempraktikkan yang dipelajari dalam tulisan-tulisan sederhana, berkomunikasi dengan orang lain menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, sedang yang ingin belajar Bahasa Inggris, menghafal 5 kosa kata setiap hari dan mempraktekkan dalam tulisan atau komunikasi, mempelajari Tenses, mendengarkan film, berita, dan percakapan dalam bahasa Inggris, berkomunikasi dengan teman menggunakan bahasa Inggris, membuca buku cerita dalam bahasa Inggris dan menulis tulisan sederhana dalam bahasa Inggris. Bagi yang belajar Bahasa Arab; mempelajari buku cara praktis berbahasa Arab, menghapal 5 kosa kata setiap hari, membaca buku Ilmu Nahwu dan Sorrof, serta latihan berbicara, membaca atau mendengarkan cerita berbahasa Arab.

Menguasai program Microsoft Word secara optimal, dibutuhkan guna mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi saat menulis di komputer. Untuk menguasai program ini, bisa lewat jalur kursus atau belajar sendiri dengan komputer yang dimiliki. Paling baik jika telah menguasainya sewaktu masa-masa sekolah atau kuliah Diploma. Ingat kesulitan berhadapan dengan komputer terkadang menghentikan seseorang untuk berkarya. Memang dalam tahap-tahap awal menulis tangan adalah langkah terbaik, baru setelah memiliki sejumlah tulisan yang lumayan banyak, memutuskan untuk membeli komputer sendiri.

Belajar yang baik adalah dengan mengajar, maka otodidaktor berusaha untuk mengajar. Mengajar jangan diartikan sempit di dalam di kelas, sekolah atau pesantren (jika bisa lebih baik), tapi bermakna luas termasuk mengajari teman tentang sesuatu yang tidak diketahuinya, membantu anak-anak kecil menyelesaikan tugas-tugas sekolah, membantu adik dalam belajar, dan mengajar anak-anak jalanan, anak-anak terlantar atau anak-anak yang tidak mampu bersekolah. Paling penting adalah mengajar siapa pun asal bermanfaat untuk orang lain, sekaligus memanfaatkan apa yang dipelajari untuk kebutuhan orang lain.

  1. Beberapa Hal yang Perlu dikuasai

Dalam proses belajar, otodidaktor perlu mengetahui cara pemaknaan sesuatu, cara menafsirkannya, memahami dialektika Hegel sebagai bekal untuk BO, dan cara melakukan kritik. Dengan mengetahui makna sesuatu; bisa memahami kalimat, wacana dan bahasa. Dengan mengetahui cara menafsirkan sesuatu, maka mampu memahami apa yang dipelajari lebih mendalam. Dengan pemahaman terhadap tesis, anti tesis dan sintesis diharapkan memudahkan otodidaktor untuk melihat sesuatu dari berbagai macam sudut pandang sebelum menarik suatu kesimpulan, mengetahui cara melakukan kritik, dan melihat sesuatu secara jernih.

  1. Cara Memaknai sesuatu

Dalam proses pembelajaran, otodidaktor perlu mengetahui makna dari sesuatu yang dipelajari, sebelum sampai pada pemahaman. Dalam upaya mengetahui makna sesuatu, bisa ditempuh dengan membuka kamus atau Ensklopedi untuk kata-kata tertentu, meski tidak bisa dijadikan patokan sepenuhnya-, mengaitkan dengan pemahaman yang ada dalam benak otodidaktor sebelumnya, mengaitkan makna tersebut dengan kenyataan yang ada, dan menunda sementara waktu, baru setelah melakukan perenungan dan diam sejenak mencari makna yang tepat, maka makna hakiki sesuatu bisa diungkap.

Kamus atau Ensklopedi menjadi buku “pintar” yang menerangkan makna dari berbagai macam kata, tapi mengandalkan keduanya semata dalam memahami sesuatu, sama seperti orang yang matanya min parah tanpa kaca mata. Sebab makna sesuatu terus menerus berkembang, berubah dan kompleks, sedang Kamus atau Ensklopedi tidak berubah setiap hari. Tapi, Kamus atau Ensklopedi penting dalam rangka mengetahui makna kata saja, selanjutnya diperlukan langkah-langkah lanjutan sebagai berikut.

Setiap otodidaktor memiliki ‘horison harapan’ atau pengetahuan yang diperoleh sebelumnya. Horison harapan ini bisa membantu mengetahui makna sesuatu lebih mendalam, sebab berkenaan dengan hal-hal yang sudah diketahui sebelumnya yang tersimpan di dalam kesadaran atau alam bawah sadar. Sehingga hakikatnya Anda bisa memaknai sesuatu berdasarkan horison harapan tersebut. Misalnya, Anda ingin mengartikan makna sabun, secara otomatis horison harapan membimbing pada alat yang bisa membersihkan sesuatu. Ada pertanyaan, bagaimana mungkin bisa mengartikan sebagai alat pembersih bila tidak pernah melihat atau menyentuhnya?

Inilah perlunya mengaitkan horison harapan dengan kenyataan yang ada di sekitar kita, untuk bisa memahami sabun Anda perlu membeli sabun ke toko, melihat secara langsung, mencoba memakainya untuk membersihkan tubuh. Lalu hal itu diobservasi atau diverifikasi bahwa sabun adalah alat untuk membersihkan sesuatu, yang telah dibuktikan secara valid tanpa keraguan sedikit pun. Di kalangan akademisi, ini yang disebut dengan ilmiah.

Otodidaktor sudah mengetahui makna kata yang telah dibuktikan dalam kenyataan, namun tidak boleh berhenti sampai di sini, melainkan melanjutkan dengan mencari makna lain dari kata sabun. Untuk itu perlu memperluas pengalaman, merenung tentang kata tersebut, dan menjelajahi kemungkinan pemakaiannya. Pengalaman mengajarkan bahwa sabun adalah alat pembersih, maka ketika korupsi ingin dihentikan di Republik ini, bukankah sabun bisa digunakan? Jika sabun bisa membersihkan badan, pakaian dan peralatan dapur, mengapa sabun tidak digunakan untuk membersihkan mentalitas korupsi dari dalam diri. Untuk itu makna sabun diperluas dengan makna moralitas agama atau penegakan hukum yang tegas, lho kok begitu? Moralitas agama merupakan perisai, sekaligus pembersih yang efektif dalam diri seseorang agar tidak melakukan korupsi dalam bentuk apa pun, sedang penegakan hukum yang tegas akan menimbulkan efek jera untuk melakukan korupsi. Mari kita bersihkan korupsi dengan “sabun” yang paling ampuh! Ini disebut makna metafora.

Makna sebuah kata itu sangat kompleks dan tidak sesederhana yang dikemukakan di atas, dalam hal ini ungkapan berikut bisa jadi acuan “…..Barthes mendekati teks sebagai sebuah konstruksi berlapis, seperti bawang, yang mengartikulasikan makna-makna bervariasi (kerap bertentangan), yang memberi kemungkinan teks itu sendiri sebuah proses penguraian kritis namun tidak pernah memberi kemungkinan sebuah inti kebenaran yang solid….”5 Pengibaratan kata dengan bawang sesuatu yang cerdas dan bisa mengungkapkan kompleksitas makna dari kata, untuk itu otodidaktor dituntut senantiasa melakukan pembacaan yang kreatif seumur hidupnya untuk menangkap hakikat dari “bawang”.

Di samping itu, Anda dapat memaknai sesuatu dengan makna yang berbeda, tergantung pengetahuan, pengalaman, proses pembelajaran yang dialami, dan budaya yang mempengaruhinya. Perlu diingat, makna tidak pernah bersifat stagnan, melainkan terus berkembang bersamaan dengan perkembangan manusia dalam memaknai seseuatu. Menurut Aminuddin “…kondisi demikian juga sejalan dengan kenyataan bahwa hubungan antara bahasa, pikiran dan acuan, yang dimaknai tidak pernah bersifat tetap karena gambaran makna sesuatu proses berpikir subjek secara potensial senantiasa menampilkan gambaran makna baru.”6

  1. Cara Menafsirkan Sesuatu

Menafsirkan sesuatu dapat dilakukan dengan dua cara versi Schleiermacher; pertama; gramatical interpretation, terkait dengan pemahaman terhadap aspek bahasanya, kedua; psichological interpretation; menggali dari informasi dari pengarang tentang proses penciptaan karya tulisnya.7 Sebelum menafsirkan, otodidaktor perlu memahami dari aspek bahasa. Bahasa berkaitan dengan pengungkapan makna, makna berkaitan dengan pemahaman dan keterkaitannya dengan kenyataan, serta upaya pemberian makna baru sesuai dengan ruang dan waktu. Selanjutnya, agar pemahaman ini bisa lebih menyeluruh, perlu diketahui latar belakang pengarang, proses kreativitas dan pendapatnya tentang hal-hal yang diungkapkan. Kedua hal ini memungkinkan otodidaktor untuk menafsirkan teks.

Tulisan ini tidak membahas cara menafsirkan kitab suci, melainkan menafsirkan hal-hal yang memungkinkan untuk ditafsirkan. Misalkan wabah “super market, mall atau pusat perbelanjaan apa pun namanya,” bisa ditafsirkan dalam beragam makna; tempat orang-orang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, tempat orang membeli segala sesuatu yang diinginkan, tempat jalan-jalan sambil berbelanja, tempat cuci mata sambil makan enak, tempat memuaskan keinginan yang tak pernah terpuaskan, atau bisa ditafsirkan lebih jauh yakni mesin hasrat yang sengaja diciptakan agar manusia kehilangan identitasnya, tempat manusia memakai topeng-topeng untuk menyembunyikan wajah-wajah aslinya, tempat negara maju menjual barang pada negara-negara berkembang atau miskin, tempat yang bisa mengefektifkan mesin globalisasi, tempat penjajahan di bidang ekonomi berlangsung tanpa seorang pun menyadarinya.

Dengan pembacaan terakhir yang kritis, Anda mampu bersikap terhadap “super market, mall atau pusat perbelanjaan apapun namanya”, yakni menjadikannya sebagai sebenarnya “tempat”, tanpa kehilangan identitas diri, tanpa harus memakai topeng di balik “fashion”, mengisinya dengan produk-produk hasil krativitas diri atau hasil produksi dalam negeri, dan meningkatkan kemampun di bidang pemasaran agar bisa menjual kreativitas dengan harga yang layak. Kelemahan bangsa Indonesia bukan pada kemampuan menciptakan sesuatu, melainkan terletak pada ketekunan menghasilkan karya berkualitas dan kreativitas memasarkan hasil ciptaan yang layak dan laku dijual, sehingga membantu peningkatkan penghasilan.

  1. Cara Melakukan Tesis, Anti Tesis dan Sintesis

Dialektika Hegel yang berkenaan dengan tesis, anti tesis dan sintesis,8 sangat menarik untuk ditelaah agar otodidaktor mampu memperluas cakrawala berpikirnya. Keluasan cakrawala berpikir akan memperkuat pemahaman terhadap segala sesuatu yang ingin dipahami dengan lebih mendalam dan beraneka ragam.

Tesis ialah anggapan atau praduga seseorang tentang sesuatu yang ingin dipahami. Praduga ini muncul berkenaan dengan pengetahuan yang diperoleh, pengalaman hidup dan pengaruh dari kebudayaan tertentu. Misalkan Anda menduga bahwa setiap orang akan sukses mencapai cita-citanya. Tapi teman Anda merasa bahwa dirinya tidak sukses mencapai cita-cita, sehingga muncullah anti tesis tidak setiap orang sukses mencapai cita-citanya. Melihat dua kenyataan yang saling bertolak belakang, maka muncullah sintesis antara keduanya yakni orang akan sukses mencapai cita-citanya asal bekerja keras, pantang menyerah, memiliki mental yang kuat, belajar seumur hidup, rajin membaca dalam makna yang luas, dan sabar, sedang orang yang tidak sukses karena tidak mampu menjalankan nilai-nilai tersebut dalam kenyataan.

Tesis, anti tesis dan sintesis menghasilkan triad; anti tesis baru, tesis baru dan sintesis baru, begitulah terus menerus berlangsung sampai kiamat nantinya. Artinya proses ini berakhir dengan kematian manusia, sedang untuk semesta dengan kehancurannya. Hal inilah yang tidak dilakukan umat Islam.

Ketika Al-Ghazali melakukan tesis “Tahafudhut Falasifah” atau Kerancuan Filsafat, lalu Ibnu Rusyd melakukan anti tesis yakni “Tahafudhut Tahafudhut” atau Kerancuan dari Kerancuan, yang berusaha menggugat pemikiran Al-Ghazali, sayangnya proses ini terhenti sampai di sini. Lalu dengan cerdik orang-orang Barat mampu mengeksplorasi pemikiran Ibnu Rusyd atau Averus, sehingga mereka bisa mencapai kemampuan yang mencengangkan. Sedang umat Islam melarikan diri pada “tasawuf atau mistik” dalam arti sempit dan menyerah kalah pada kejumudan.

Seharusnya tidak berhenti sampai di sini, perlu eksplorasi pemikiran sampai ambang batas, asal tidak terjebak pada pemahanan seperti yang diinginkan Barat, yang “menjualnya” di negara-negara Islam dengan label bermacam-macam seperti Feminisme, Islam Liberal, dan berusaha menghujat “Al-Qur’an dan Sunnah” sebagai sesuatu tak berguna.

Berhubung Barat menguasai dunia dalam berbagai aspek kehidupan, mereka perlu belajar pada Barat dengan perspektif berbeda. Artinya umat Islam perlu belajar tentang cara-cara Barat mencapai kemajuan di bidang teknologi, informasi, pengetahuan alam atau sosial, dan cara-cara mengelola kekuasaan “dalam negeri”, tapi umat Islam tidak perlu belajar “Islam” pada Barat, sebab “Islam” Barat terlanjur dikotori virus-virus orientalisme yang justru merusak Islam.

Jika apa yang dimiliki Barat dianggap sebagai tesis, maka umat Islam perlu mencari, menemukan dan menghasilkan anti tesis, lalu menghasilkan sintesis di kemudian hari, sehingga cita-cita kebangkitan Islam bukan sekadar simbol yang bergentayangan di balik jubah, burdah, pakaian putih atau simbol-simbol keislaman lainnya, melainkan penerapan nilai-nilai Islam dalam berbagai aspek kehidupan umat Islam.

Dalam kontemplasi saya selama ini, kebangkitan Islam di Indonesia akan hadir dipelopori oleh umat Islam yang berprinsip “berdiri di atas atau bersama semua golongan dan memahami Islam yang rahmatan lil’alamien”. Sebab etika universal sudah mereka miliki, hanya saja mereka dituntut mampu mengekplorasi “tesis” yang dipelajari dari Barat di atas, dan menjadikan krisis sebagai sarana pembelajaran paling efektif untuk mencapai kemajuan di segala bidang. Jika dua hal tersebut dilakukan dengan baik, maka kebangkitan Islam di Indonesia tinggal menunggu momentum yang tepat.

Perlu diingat bahwa kebangkitan Islam di Indonesia, secara otomatis akan membawa kebaikan pada seluruh masyarakat dari latar belakang agama, suku, dan ras berbeda, sekaligus membawanya pada kemajuan yang mencengangkan di segala bidang kehidupan. Ini berarti kejayaan bangsa Indonesia di mata dunia internasional dapat diwujudkan dalam kenyataan yang hakiki.

  1. Cara melakukan kritik

Dalam melakukan kritik, bukan sekadar menyalahkan, melainkan mampu memberikan alternatif terhadap sesuatu yang dianggap salah, artinya kesalahan dijadikan sarana memperbaiki pandangan hidup yang keliru dan menjalani hidup yang lebih baik. Kritik di sini tidak diartikan sempit yakni mengkritik segala sesuatu tanpa menemukan alternatif yang tepat untuk keluar dari kesalahan atau mengulang kesalahan yang sama.

Teori dekonstruksi dari Derrida sangat menarik sekali sebagai contoh kritik yang bagus, dekonstruksi dalam makna menghancurkan sesuatu yang dianggap pusat, asal dan narasi besar, dengan menghasilkan narasi-narasi kecil. Teori Derrida ini merupakan pukulan paling telak yang pernah dilontarkan pemikir Barat terhadap kebudayaan mereka sendiri. Namun sebagian pemikir lain menganggap bahwa dekonstruksi Derrida seperti menghancurkan rumah tanpa mampu membangunnya kembali. Ini sebenarnya peluang bagi umat Islam untuk mampu membangun “bangunan baru” yang telah dihancurkan Derrida sampai berkeping-keping.

Globalisasi merupakan kedok Barat atau negara maju untuk menjual produk-produknya di negara-negara berkembang atau miskin, dengan demikian globalisasi tidak bisa diterima hitam di atas putih, melainkan harus dimaknai dengan cara berbeda oleh negara-negara berkembang dan miskin, sehingga rakyat mereka tidak sekadar menjadi pengkonsumsi dan penonton semata. Ini dilanjutkan dengan upaya sungguh-sungguh untuk mengkreasikan hal-hal baru, memperkuat pasar dalam negeri dari segala bidang, memperkuat kemampuan bersaing, memperkuat fundamental ekonomi, dan meningkatkan taraf hidup masyarakat agar usaha kecil dan menengah bisa berkembang. Sayangnya Indonesia “belum” melakukan semua itu, melainkan “memaksakan diri demi gengsi” dalam proses globalisasi yang akan berlangsung dalam hitungan hari dan jam.

Dalam skala yang lebih kecil, kita melihat masyarakat miskin semakin susah untuk memenuhi kebutuhan hidup, sikap kritis yang dibutuhkan bukan mengajari mereka tentang cara hidup hemat sebab “mereka sudah dipaksa untuk hemat”, melainkan bagaimana caranya supaya mereka mendapatkan pekerjaan, menawarkan modal usaha yang halal, atau paling tidak membantu kebutuhan pokok mereka yakni berupa beras, mie instan dan lauk pauk. Sebagai bentuk kepedulian, saya merintis Kuliah Alternatif bagi generasi muda yang tidak mampu kuliah formal, sehingga kemiskinan dan pengangguran dapat berkurang secara bertahap.

Paradigma kritik yang saya tawarkan adalah kritik dengan memberikan alternatif atau solusi yang tepat, bukan sekadar mengkritik orang tanpa mampu menawarkan solusi apa pun.

  1. Cara Sukses BO

Setelah memahami paradigma BO dan beberapa hal yang perlu dipelajari agar berhasil BO, maka perlu perspektif baru tentang pembelajaran yakni untuk sukses belajar dapat dilakukan melalui BO.

Para Otodidaktor yang sukses dalam sejarah secara kualitas tidak jauh berbeda dengan yang kuliah formal sepert; Hamka, Emha Ainun Nadjib, KH. Moh. Idris Jauhari, Gus Dur dan untuk orang Barat yang berhasil meraih hadiah Nobel yakni Albert Camus. Mereka berhasil karena BO dengan sungguh-sungguh, kerja keras, penuh keteknunan, ulet, pantang menyerah dan memahami cara BO yang benar. Untuk itu, perlu dipahami beberapa hal dalam upaya untuk meraih keberhasilan dalam BO.

Di samping itu, pada masa mendatang, karir dan pekerjaan di pemerintahan dan perusahaan ditentukan oleh keterampilan, kompetensi, dan keahlian yang dimiliki, ini memberikan peluang yang sama bagi yang kuliah di universitas, belajar non formal (termasuk BO) dan pelatihan sambil bekerja. Jika pendidikan formal memperoleh Sertifikat kompetensi lewat ujian akhir, baru mendapat STTB/DIPLOMA, sedang Pendidikan Non Formal dan Pelatihan Sambil Bekerja harus mengikuti ujian keterampilan untuk bisa mendapatkan paspor keterampilan SERTIFIKAT KOMPETENSI, keduanya akan mendapat peluang yang sama diterima di perusahaan swasta dan bekerja di birokrasi pemerintah. 9

Lawrence Larry Ellison, Bill Gates, Paul Allen, Michael Dell adalah nama-nama yang pernah masuk 10 besar orang terkaya dunia, dan mereka semua berhenti kuliah di tengah jalan, dari mana semua keberhasilan yang mereka raih jika bukan lewat BO? Menurut Valentino Dinsi “Ya, sudah dikatakan bahwa abad 20 adalah abad di mana gelar akademis dari universitas sangat penting, tapi tidak lagi di abad 21. Kecendrungan ini sudah dimulai di AS, Jepang, dan kemudian di seluruh dunia. Banyak yang drop out dan mulai! Bila Anda punya gelar, itu bagus, tapi jangan jadikan itu sebagai halangan. Jangan biarkan ijazah Anda menentukan jumlah yang bisa Anda dapatkan atau apa yang bisa Anda lakukan.”10 Ini memberi peluang yang sama pada siapa pun untuk berhasil dalam menekuni usaha, karir dan pekerjaan.

  1. Kegagalan adalah Potensi Menuju Sukses

Kehidupan yang Anda dijalani pasti mendapatkan aral rintangan yang tidak mudah, bahkan seringkali semua itu membimbing Anda pada kegagalan. Sekali gagal mencapai apa yang diinginkan atau cita-cita adalah hal lumrah, bagaimana dengan orang-orang yang mengalami kegagalan berulangkali dalam hidupnya, sehingga terjebak dalam stres, putus asa, bingung, kalut, bahkan na’udhubillah memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Agar terhindar dari semua itu, perlu ditemukan cara yang efektif dalam mengelola suatu kegagalan, sehingga kegagalan bisa dijadikan sarana meraih kesuksesan. Ini untuk membuktikan bahwa kagagalan adalah sarana meraih kesuksesan, atau kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.

Dalam hal ini, pengalaman dari Thomas Alva Edison perlu dijadikan contoh, dia gagal dalam 10.000 percobaan, mengenyam pendidikan tiga bulan, tapi menjadi salah seorang tersukses dalam sejarah yang memiliki 1.093 hak paten. Realitas hidup inilah yang membimbing pada ungkapannnya yang tersohor, “Kebanyakan orang gagal adalah orang yang tak menyadari betapa dekatnya mereka ke titik sukses saat mereka memutuskan untuk menyerah.”11 Pelajaran apa yang bisa dipetik dari hal ini?

Anda sering berusaha dengan sekuat tenaga, mengerahkan pikiran, menjalankan segala sesuatu sesuai rencana, bekerja keras, dan usaha-usaha lainnya, namun ternyata hasil yang diperoleh mengecewakan, bahkan bisa dibilang gagal sama sekali. Ketika Anda gagal, evaluasi kegagalan itu, lalu berusaha lagi, gagal lagi, evaluasi kegagalan itu, terus berusaha lagi, gagal lagi, evaluasi kegagalan itu, terus berusaha lagi, begitu terus menerus sampai berhasil. Bila usaha yang dilakukan belum seoptimal sejumlah percobaan Thomas Alva Edison yang gagal, Anda harus terus menerus berusaha sampai bisa berhasil. Thomas Alva Edison ketika ditanya tentang kegagalannya menjawab “Saya tidak gagal, tetapi menemukan 9994 cara yang salah dan hanya satu yang berhasil. Saya pasti sukses karena telah kehabisan percobaan yang gagal.”12 Yakinlah! Dengan itu semua, momentum kesuksesan tinggal menunggu waktu, dan waktu itu akan datang dengan sendirinya.

Di samping cara di atas, ada cara lain yang bisa ditempuh seperti yang saya lakukan. Perlu diketahui, hidup saya dipenuhi dengan berbagai kegagalan; gagal kuliah di perguruan tinggi padahal prestasi di Pondok Pesantren Al-Amien sangat bagus, menjadi pedagang kecil di pasar tradisional Wonosari Bondowoso yang menjauhkan saya dari upaya untuk belajar, karya tulis yang dikirim ke berbagai media via email selama enam tahun tidak pernah dimuat, dan skenario diterima “Satpam dan Resepsionis” di beberapa PH di Jakarta atau kasarnya ditolak. Bagaimana cara saya mengelola berbagai kegagalan tersebut?

Setiap kegagalan yang saya hadapi, selalu dipertanyakan dalam hati, apa makna kegagalan tersebut dalam kehidupan saya?

Dari pertanyaan singkat penuh makna ini, lantas saya mencoba mencari jawabannya; baik dengan membaca buku atau pun membaca realitas kehidupan. Jawaban dari setiap kegagalan yang saya alami ialah; inilah cara Allah mendidik saya agar kuat secara mental, memiliki semangat pantang menyerah, berusaha melakukan yang terbaik, dan meneguhkan tekad untuk menjadi penulis yang bermanfaat bagi umat manusia. Dari sini, kreativitas menulis saya mengalir seperti aliran sungai yang mengarah ke lautan. Bahkan, salah seorang ibu yang punya indera keenam berkata pada saya; “Air sumbermu sangat dalam sekali?” Sesuatu yang tidak membuat saya bangga dan sombong, justru itu adalah amanah Allah agar saya bisa menghasilkan karya tulis yang banyak dan bermanfaat, seperti yang dilakukan Imam Ghazali, Frans Kafka, dan Hamka.

Jika sekarang saya dianggap berhasil, –keberhasilan dalam perspektif baru seperti yang dijelaskan dalam bab II-maka keberhasilan yang diraih berkat kemampuan mengelola kegagalan-kegagalan yang dialami. Semua kegagalan itu benar-benar dijadikan sarana efektif untuk meraih keberhasilan. Dan ingat, seperti halnya Thomas Alva Edison, tidak boleh menyerah dengan kegagalan yang dialami, tapi terus berusaha sekuat tenaga, mengoptimalkan pikiran, mengerahkan imajinasi sampai ambang batas, belajar dari intuisi yang dilatih dengan banyak merenung dan dari mimpi, bekerja keras, tekun, tidak kenal kata putus asa, dan ini yang terpenting, saya senantiasa bertawakkal pada Allah. Bentuk tawakkal seorang Muslim yang benar adalah shalat lima waktu karena kebutuhan, shalat sunnah tahajjud, Dhuha dan Hajat, dzikir pada Allah secara tulus, menjadikan Al-Qur’an sebagai hidayah, menjadikan kehidupan Nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan, dan memasrahkan hasil usaha pada Allah SWT.

Cara lain untuk mengatasi kegagalan adalah dengan senantiasa bersemangat dalam melakukan segala sesuatu seperti yang dilakukan Valentino Dinsi, SE, MM, MBA “Saya orang yang bersemangat. Saya percaya, bisa sukses karena ditaqdirkan untuk sukses. Saya tolak semua kemungkinan yang buruk. Saya bersemangat tentang diri dan potensi saya.”13

  1. Orang Lain Sukses, Mengapa Anda Tidak?

Dengan BO, secara bertahap Anda sedang menumbuhkan gairah belajar yang tinggi, ini bisa membantu saat membaca buku dan keadaan atau semesta untuk memahami berbagai hal dalam kehidupan, dan menggabungkan semua itu untuk mencapai keberhasilan di masa mendatang. Agar lebih yakin, Anda perlu belajar pada tokoh-tokoh besar berikut ini agar berhasil dalam proses belajar otodidak.

Albert Enstein kecil suka melamun, menurut guru-gurunya di Jerman dia akan gagal di bidang yang ditekuninya; beberapa pertanyaannya merusak disiplin kelas, dan dia dianjurkan untuk tidak bersekolah. Namun dia tetap belajar, sehingga menjadi ilmuan terbesar sepanjang sejarah. Winston Churchil, pahlawan Inggris dan salah seorang orator ulung, lemah dalam pekerjaan di sekolah, kalau berbicara cadel atau gagap. Thomas Alfa Edison pernah dipukul gurunya karena banyak bertanya, sehingga dianggap mempermainkannya. Dia sering dihukum dan hanya tiga bulan mengenyam pendidikan sekolah. Untunglah ibunya seorang perintis belajar sejati; dia memiliki pengertian yang tidak lazim pada waktu itu bahwa belajar dapat menjadi kegiatan mengasyikkan. Dia membuat permainan untuk mengajarinya –dia menyebut eksplorasi- dunia pengetahuan yang mengasyikkan. Sang anak mula-mula kaget, namun kemudian menjadi bergairah. Sebentar kemudian dia mulai belajar dengan cepat sehingga ibunya tidak perlu mengajarinya. Bahkan dia terus mengeksplorasi, bereksprimen, dan mengajari dirinya sendiri. Enstein, Churchil dan Edison memiliki gaya belajar khas yang tidak sesuai dengan gaya sekolah mereka. Ketidaksesuaian yang terus berlanjut sampai sekarang, sehingga mungkin menjadi penyebab terbesar kegagalan sekolah. 14 Cerita tokoh-tokoh besar internasional ini memberikan peluang bagi Anda untuk berhasil dengan BO.

Berikut ini contoh pengusaha sukses dari Indonesia tanpa kuliah formal. Fauzi Shaleh hanya lulusan SMP, namun berkat Manajemen Basmalah mampu memberikan kesejahteraan pada karyawan-karyawannya dengan hampir 22 gaji pertahun, sehingga berhasil sebagai pengusaha Real Estate Pesona Depok dan Pesona Kahyangan. Irwan Hidayat hanya lulusan SMU, tapi mampu menjadikan perusahaan jamu Sido Muncul berkembang pesat di saat krisis menerpa Indonesia, bahkan kini berkembang menjadi perusahaan regional, Hamka hanya lulusan SR, tapi mampu meraih gelar Prof. Dr. padahal tidak pernah kuliah formal.

Orang-orang yang berhasil di atas sama seperti Anda, yakni orang biasa dengan segala kelemahamannya, namun mereka mampu menjadikan kelemahan sebagai potensi dalam kehidupan, berusaha dan bekerja dengan sangat keras, tidak pernah mengenal kata menyerah, dan mampu mengoptimalkan segenap potensi, sehingga berhasil menjadi orang besar. Itu berarti Anda memiliki peluang yang sama dalam upaya mencapai kesuksesan, baik yang kuliah formal atau BO, asal benar-benar memiliki motivasi kuat, semangat, gairah belajar dan keinginan kuat untuk menjadi orang yang berhasil. Namun harus diingat, semakin tinggi pohon, maka semakin kencang angin berhembus! Itu berarti tantangan, kesulitan, cobaan, ujian dan musibah yang menimpa bisa lebih besar atau dasyat dari yang sebelumnya diterima.

Realitas ini memperkuat motivasi Anda untuk berhasil, sebab orang-orang hebat sama seperti kita yakni orang-orang biasa yang berupaya sekuat tenaga untuk memberi manfaat pada orang lain dan dunia.

  1. Menggabungkan BO dengan Pekerjaan

Ada fenomena menarik di Indonesia, yakni banyak orang bekerja di bidang yang bukan diketahuinya secara mendalam atau sesuai yang dipelajarinya di universitas. Seorang insinyur teknik menjadi pedagang, sarjana agama menjadi sales, sarjana ekonomi menjadi buruh pabrik, sarjana komputer menjadi bendahara, sarjana pertanian menjadi skretaris, dan lain-lain. Bisa ditebak, bidang usaha yang ditekuni tidak mencapai hasil yang maksimal. Padahal “Pikiran yang berkembang baik, gairah belajar yang tinggi, dan kemampuan memadukan pengetahuan dengan kerja adalah kunci-kunci baru menuju masa depan Laporan Scans.15

Pikiran harus dikembangkan sedemikian rupa agar bisa dimanfaatkan secara maksimal, pembahasan lengkap tentang hal ini diuraikan dalam bab berikutnya.

Anda yang sedang menekuni usaha apa pun dituntut memiliki gairah atau semangat belajar yang membara. Memupuk semangat belajar bisa dilakukan dengan belajar sendiri, sehingga ilmu yang diperoleh semakin bertambah banyak dan luas. Baru dilanjutkan dengan langkah lanjutan yakni memadukan antara apa yang diketahui dengan pekerjaan yang ditekuni, sehingga kualitas, kreativitas dan produktivitas kerja menjadi meningkat, yang secara otomatis akan meningkatkan penghasilan. Jika situasi buruk membuat kehilangan pekerjaan, Anda bisa berkreasi sendiri, sebab sudah mampu memadukan antara pekerjaan dengan pengetahuan.

Memadukan antara kerja dan pengetahuan inilah yang menjadi salah satu pendorong kemajuan Indonesia masa mendatang. Sebab perpaduan tersebut dapat membuat kualitas kerja meningkat, kreativitas juga bisa ditingkatkan karena semangat bekerja dan belajar senantiasa membara, dan otomatis out put yang dihasilkan lebih baik. Ini diperkuat dengan upaya agar pengetahuan yang diperoleh semakin mendekatkan diri pada Allah, Nabi Muhammad bersabda “Barang siapa yang bertambah ilmunya, dan tidak bertambah mendapatkan petunjuk, tidak akan bertambah dekat pada Allah, malah menjauh dariNYA.”

Ilmu yang diperoleh telah dimanfaatkan dalam menekuni pekerjaan, lalu dilanjutkan dengan pemaknaan bahwa ilmu yang diperoleh tiada lain merupakan sarana mendekatkan diri pada Allah. Dengan semakin mendekatkan diri pada Allah, manusia mampu menjalani hidup dengan penuh kedamaian, ketentraman dan selalu dalam perlindungan Allah, tentu ini dilakukan setelah pengetahuan senantiasa ditambah dan kerja keras dilakukan.

Sebaliknya, apabila ilmu yang diperoleh untuk kerja tanpa nilai spritual sama sekali, itu berarti kehidupan dimanfaatkan untuk mengejar harta sebanyak-banyak, suatu kehidupan yang kering, tanpa makna dan hambar. Sebagai bukti, lihatlah gaya hidup orang Barat yang hidup untuk dunia semata, nilai-nilai kehidupan yang mereka anut rancu, menjadikan “sampah” sebagai emas dalam makna negatif, menjadikan “permukaan” sebagai kenyataan, dan selalu merasa takut pada kematian, sebab kematian dianggap akhir segalanya. Ini berbeda dengan seorang Muslim, yang menganggap kematian adalah kehidupan yang baru, sehingga bekal sebanyak-banyak harus dibawa pada kehidupan mendatang. Alangkah nikmatnya menjadi seorang Muslim.

  1. Menemukan Gaya Belajar Sendiri

Dalam pembahasan sebelumnya diketahui tentang cara-cara orang hebat mencapai keberhasilan, salah satu pelajaran terpenting dari mereka adalah menemukan gaya belajar yang unik dan khas dari setiap individu. Untuk menemukan gaya belajar sendiri perlu pemahaman tentang beberapa hal berikut ini.

Menurut Profesor Ken dan Rita Dun ada empat kombinasi gaya belajar seseorang. Pertama; Bagaimana Anda menyerap informasi; apakah pelajar visual, auditorial, atau kinestetis. Apakah belajar efektif dengan bergerak, melihat, mendengar atau menyentuh? Jika pelajar kinestetis, biasanya paling baik belajar dengan tindakan fisik dan mengetahui secara langsung lewat pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari. Jika pelajar visual biasanya cendrung menggambar dengan sebuah peta, sedang pelajar auditorial biasanya tidak suka membaca buku dan buku petunjuk, dia lebih suka bertanya untuk mendapatkan informasi. Kedua; Bagaimana Anda mengatur dan memproses informasi; apakah didominasi otak kanan, otak kiri, dan otak seimbang. Orang yang memilki otak kiri yang kuat mampu menyerap informasi secara logis, mereka menyerap dengan mudah bila informasi disampaikan dalam urutan logis dan linear. Sedang yang otak kanannya kuat; senang menemukan gambaran besar terlebih dahulu, mereka menyukai penyajian dalam bentuk; visualisasi, imajinasi, musik, seni dan intuisi. Jika keduanya bisa dirangkum bersama atau multiple intelegence centres (pusat-pusat kecerdasan berganda) seseorang akan menyerap dan memproses informasi dengan mudah. Ketiga; kondisi yang mempermudah seseorang dalam meraih, menyerap dan menyimpan informasi; emosi, sosial, lingkungan dan fisik. Lingkungan fisik; suara, cahaya, suhu, tempat duduk dan sikap tubuh mempengaruhi peroses belajar. Emosi berperan penting dalam belajar, dalam banyak hal emosi justru menjadi kunci sistem memori otak. Sebagian orang bertipe pagi, dimana dia mengalami kemudahan kalau belajar di pagi hari, dan sebagian lagi bertipe burung hantu; dia mengalami kemudahan kalau belajar sore atau malam hari. Keempat; Bagaimana Anda mengeluarkan informasi? Orang dari segala usia dapat belajar apa saja jika diberi kesempatan untuk melakukannya dengan gaya unik mereka dan kekuatan pribadi mereka sendiri. Gaya kerja didifinisikan sebagai cara orang yang termasuk dalam angkatan kerja untuk menyerap dan menyimpan informasi baru, sulit, berpikir atau berkonsentrasi, melakukan pekerjaan harian dan menyelesaikan masalah secara efektif.16

Dalam proses menemukan gaya belajar sendiri, Anda perlu memahami kelemahan dan kelebihan masing-masing. Kelemahan diri dicatat secara detil bersamaan dengan kelebihan yang dimiliki, lalu dibaca secara kritis dan kreatif. Kelemahan dijadikan sarana untuk lebih giat dalam belajar, dan kelebihan dimanfaatkan untuk menghasilkan pembelajaran yang efektif, sehingga gaya belajar sendiri ditemukan.

Sebagai ilustrasi, dalam upaya memahami gaya membaca yang sesuai dapat dilakukan pengetesan sendiri; suatu waktu membaca buku dengan duduk serius, bila apa yang dibaca mudah diingat dan dipahami, maka membacalah secara serius, suatu waktu membaca buku sambil mendengarkan musik, bila apa yang dibaca mudah diingat dan dipahami, maka membacalah sambil mendengarkan musik, suatu waktu membaca buku 30 menit, jalan-jalan sebentar, lalu membaca lagi, bila dengan gaya tersebut mudah diingat dan dipahami, maka membacalah diselingi jalan-jalan, bila membaca gambaran umum buku sebentar, lalu merenungkan apa yang dibaca sambil duduk santai, dan berusaha menyampaikan apa yang dibaca pada orang lain, sehingga mudah diingat dan dipahami, gunakanlah gaya ini dalam BO.

Untuk mempermudah mengetahui gaya belajar Anda sendiri, coba isi kolom Lampiran I di akhir buku ini.

Di samping itu, perkataan Barbara Prashing perlu diingat: “Kunci menuju sukses belajar dan bekerja adalah menemukan keunikan gaya belajar dan gaya bekerja Anda sendiri .”17 Anda dituntut untuk menemukan gaya unik dalam belajar dan bekerja, lalu menggabung keduanya dalam upaya meraih kesuksesan dalam bidang yang ditekuninya. Hanya diri Anda sendiri yang mengetahui gaya belajar unik Anda. Temukan, kembangkan, eksplorasi, dan tingkatkan!

  1. Kiat BO yang Efektif

Prinsip utama belajar: Pertama; koneksi pikiran tubuh. Belajar bukan hanya proses akademik, sebab bayi belajar dengan merangkak, merayap, berayun, berjalan dan menyentuh, begitu juga anak-anak dan dewasa. Seseorang mungkin tidak bisa lagi membentuk sel-sel otak cerebral contrial setelah lahir, tapi setiap orang bisa membentuk dendrit-dendrit –cabang-cabang koneksi dan penyimpanan otak- selama hidup. Prof Diamond membuktikan bahwa semakin efektif stimulasi fisik dan mental, semakin bagus pertumbuhan dendrit. Prof. Palmer di Minnesto AS membuktikan bahwa kegiatan fisik rutin di TK dapat meningkatkan kemampuan akademik anak berumur lima tahun, karena aktivitas fisik bisa mengembangkan otak. Kedua; koneksi pikiran otak, sebab otak dan pikiran tidak sama. Sederhananya; otak adalah perangkat keras (hardware), sedang pikiran adalah perangkat lunak (software). Otak bersifat biologis dan neurologis; ia punya neuron, sel glial, dendrit dan selaput meilin yang sama-sama menyediakan mekanisme biologis. Dalam konteks ini, pikiran adalah isi otak.18

Agar BO berlangung efektif, maka lingkungan harus dibuat sekondusif mungkin yang memungkinkan terlaksananya belajar sendiri. Untuk itu perlu memanfaatkan suasana, pemandangan alam, dan lingkungan di sekitar yang mendukung kegiatan belajar sendiri.

Misalnya, bagi yang tinggal di desa, perlu menyediakan ranjang sederhana (bahasa Maduranya lencak) atau kursi dan meja sederhana di luar rumah yang menghadap ke sawah, pepohonon atau taman, sedang yang tinggal di kota bisa menyediakan kursi dan meja di lantai dua rumah (jika tak punya di depan rumah saja) lalu di samping atau depan diletakkan foto tokoh idola (gambar Imam Ghazali), dan menghiasi suasana dengan bermacam-macam pot bunga agar suasana menjadi segar, tempat tersebut dijadikan sarana membaca atau menulis. Untuk yang tinggal di desa dengan suasana ysng indah, sangat mendukung BO, ketika lelah membaca dan menulis, bisa melihat pemandangan, bagi yang hidup di kota dapat memanfaatkan lukisan di dinding dan gambar langit di atap rumah, sehingga suasana menjadi menyenangkan. Untuk yang tidak betah duduk lama, perlu membaca sambil jalan-jalan, membaca buku sambil menggerak-gerakkan kaki, dan mendengarkan musik. Mendengarkan musik sambil membaca atau menulis sangat efektif, asal musik yang diputar sesuai kesenangan diri. Selesai membaca buku, perlu teman untuk saling berbagi informasi. Apa yang dibaca berusaha disampaikan pada teman tersebut agar lengket dalam ingatan dan tidak mudah lupa, di samping mendiskusikan berbagai hal, sehingga pengetahuan menjadi bertambah.

Pentingnya lingkungan yang kondusif untuk belajar dinyatakan Dr. Noburo Kabayashi dalam buku Creating the Future, “Lingkungan yang positif dan kaya-emosional bukan barang mewah tetapi sungguh merupakan kebutuhan untuk menciptakan pendidikan yang lebih baik pada abad ke-21.”19

Apa yang dipelajari dikukuhkan dengan mencatat kata-kata kunci yang harus senantiasa diingat, lalu dilanjutkan dengan berusaha fokus pada buku-buku yang dibaca sesuai dengan bidang yang ingin diperdalam. Jika ingin menguasai cerpen, maka bisa diperluas pada sastra yang lain seperti puisi, drama, novel dan kritik sastra.

Memanfaatkan gelombang otak kanan manusia; panjang gelombang otak berguna untuk tidur lelap, yang lain berguna untuk inspirasi, saat terjaga dari tidur dan menjalani kehidupan sehari-hari, dan frekwensi yang berguna untuk pembelajaran yang relaks dan efektif; kondisi Alfa. Pemanfaatan otak kanan bisa membantu dalam menentukan hasil dan sasaran; ambak (apa manfaatnya bagiku?) memvisualisasikan tujuan yang ingin dicapai dan menjadikan kesalahan sebagai umpan balik.20

Bersikap positif dalam memandang segala hal sangat penting dalam kehidupan. Artinya apa pun yang dibaca merupakan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan atau dalam berkarya jika ingin menjadi penulis. Ini akan membantu menumbuhkan sikap positif dalam memandang sesuatu. Lalu sikap positif diarahkan untuk bisa dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga diri bisa diterima lingkungan atau masyarakat, sekaligus membantu menjalani hidup apa adanya, tanpa terjebak pada ambisi buta, keinginan-keingan semu, dan hal-hal yang merugikan dalam hidup.

Membuat peta pikiran tentang apa yang dibaca dan visualisasikan. Belajar sendiri akan dikuasai dengan mudah apabila dilihat, didengarkan dan dirasakan secara langsung, maka memanfaatkan semua potensi yang dimiliki adalah tuntutan yang harus dijalani. Perkataan Tony Stockwel perlu diperhatikan “Untuk mempelajari sesuatu dengan cepat dan efektif, Anda harus melihatnya, mendengarnya, dan merasakannya.”21

Menggunakan konser musik aktif dan pasif. Menurut Lazanov, setiap orang memiliki keadaan belajar optimum sendiri. Keadaan ini ditandai dengan; detak jantung, kecepatan panas, gelombang otak menjadi berirama sinkron dan tubuh menjadi relaks, tetapi pikiran terkonsentrasi dan siap menerima informasi (pengetahun) baru. Inilah pentingnya musik untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga mudah ditangkap atau dipahami siswa. “Musik mengurangi stres, meredakan ketegangan, meningkatkan energi dan memperbesar daya ingat. Musik menjadikan orang lebih cerdas,” Jeanete Vos.22

Meruntuhkan tembok mental dalam belajar. Menurut Lazanov ada tiga tembok mental dalam belajar; pertama; kritis-logis, belajar tidak mudah. Mana mungkin mungkin belajar menyenangkan dan mudah? Kedua; intiutif-emosional, Saya ini bodoh, saya pasti tidak bisa melakukannya, ketiga; kritis-moral, belajar itu kerja keras, jadi harus menundukkan kepala.23 Tembok mental ini dihancurkan, dengan cara menumbuhkan sikap yang sebaliknya yakni belajar itu mudah jika dilakukan secara terus menerus, dan dijadikan kebiasaan hidup seperti halnya makan dan minum, perasaan diri bodoh atau tidak bisa memahami apa pun diganti dengan bahwa semua manusia hakikatnya sama “Sungguh kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik ciptaan,” (QS At Thien;4) hanya orang yang mampu mengembangkan seluruh potensinya yang akan berhasil di bidang yang ditekuninya. Memang belajar tidak mesti menundukkan kepala atau serius, melainkan juga bisa dilakukan dengan santai sambil menikmati pemandangan alam, menikmati bintang dan bulan, atau sambil mendengarkan musik yang disenangi.

Apa dipelajari berusaha disampaikan ke orang lain dalam bentuk diskusi atau dengan cara mengajarnya tentang apa yang kita pelajari. Proses ini merupakan upaya mengaktifan otak dan memperkuat proses pembelajaran yang dilakukan. Contoh; ketika mempelajari cerpen, coba cerpen yang dibaca, dirubah menjadi naskah drama, lalu ditampilkan oleh beberapa orang dalam panggung sederhana di suatu kesempatan. Dalam konteks ini, otodidaktor dapat bergabung dengan sebuah lembaga pendidikan agar bisa belajar sambil mengajar, sebab belajar yang paling efektif adalah dengan mengajar. “Mengajar, belajar dan mengetahui adalah aktivitas yang berbeda. Mengetahui –terutama mengetahui bagaimana belajar adalah ciri seorang terpelajar. Belajar adalah cara sederhana untuk mendapatkan hasil,” Prof Charles Wright, universitas Origon.24

  1. BO yang Menyenangkan

BO dengan menyenangkan; membaca buku, membaca semesta, membaca kehidupan, menulis, dan belajar apa pun jangan dijadikan beban dalam hidup, namun dilakukan dengan senang hati, riang dan gembira. Caranya adalah dengan menjadikan belajar sebagai hobi, sebagaimana orang hobi memancing, bermain games, nonton bola, dan hobi-hobi lainnya yang menyenangkan. Prinsip ini sangat penting agar program belajar yang dicanangkan berjalan secara sukarela tanpa paksaan. Bukankah menyenangkan melakukan sesuatu yang disukai dalam hidup, apalagi itu merupakan sesuatu yang bermanfaat untuk diri, orang lain, masyarakat dan umat manusia secara keseluruhan.

Rutinitas yang dijalani dalam BO, dibuat sedemikian rupa agar bisa menyenangkan. Belajar dengan menyenangkan akan memudahkan dalam memahami suatu pelajaran dan bisa lengket dalam ingatan. Jangan lupa prinsip dari ingatan yakni hanya mampu mengingat yang penting-penting saja dan berkesan saja.

Jika Anda merasa suntuk membaca buku selama satu jam, perlu menaruh buku dan berjalan-jalan sebentar, atau yang tinggal dekat hamparan sawah, pepohonan dan pegunungan bisa menikmati pemandangan alam, sedang yang tinggal di perkotaan, bisa menikmati kepadatan lalu lintas atau orang-orang yang berjalan atau mengalihkan dengan merawat bunga, menyiram tanaman, dan melakukan kegiatan lain yang bermanfaat. Jika malam hari, menikmati bulan atau kerlip bintang di angkasa. Setelah itu, meneruskan untuk membaca buku sampai waktu yang diinginkan.

Suatu saat timbul perasaan tidak berguna, suntuk, atau ingin berhenti belajar. Cara mengatasinya, lihatlah gambar-gambar tokoh idola, mereka semua adalah orang-orang yang bekerja keras, bisa berhasil berkat kepintaran menggabungkan antara kesenangan dengan pekerjaan, melewati proses waktu panjang dan melelahkan sebelum berhasil, berulangkali mengalami kegagalan dan bangkit kembali, mengerahkan segenap potensi supaya sukses, dan mampu menjadikan perasaan-perasaan negatif sebagai pemicu semangat untuk melangkah yang lebih baik. Ketika semangat timgbul kembali, mulailah belajar otodidak. Agar terdapat variasi dalam belajar otodidak, gunakan untuk menikmati kesenian masyarakat, belajar tradisi tertentu, dan kebudayaan yang khas di daerah sendiri.

Cara lain adalah menulis kegiatan apa saja yang paling menyenangkan dalam hidup, misalkan berjalan-jalan di pantai, memancing, menolong orang yang kesusahan, bermain play station atau games komputer, menonton televisi, lalu masukkan kegiatan belajar otodidak menjadi yang paling menyenangkan juga seperti; membaca buku, membaca keadaan, semesta dan kehidupan, menulis. Dengan memasukkan kegiatan-kegiatan BO dalam sesuatu yang paling menyenangkan, maka kelak di kemudian hari, otodidaktor akan mampu mencintai BO sebagaimana mencintai seorang kekasih. Rasanya ada sesuatu yang hilang atau timbul perasaan hampa, jika dalam satu hari dilalui tanpa BO.

1 Michael R. LeGault, Think, penyunting Rani Andriani Koswara (Jakarta: Trans Media, 2006), hal 241

2 Hasan Hanafi, Cakrawala Baru Peradaban Islam, Revolusi Islam untuk Globalisme, Pluralisme dan Egaliterisme Antar Peradaban, penerjemah Muhammad Saiful Anam dan Abduh, penyunting Arif Fakhruddin, (Yogyakarta: IRCiSoD, September 2003), hal 109

3 Gordon Dryden & Jeanette Vos, Revolusi Cara Belajar, The Learning Revolution, Belajar akan Efektif Kalau Anda dalam Keadaan “Fun”, penerjemah Word ++ Translation Service, penyunting Ahmad Baiquni (Bandung: Kaifa, 2001), hal 286

4 Michael R. LeGault , op cit hal 271

5 Dani Cavallaro, Critical and Cultural Theory, Teori Kritis dan Teori Budaya, penerjemah Laili Rahmawati, penyunting Helmi Mustofa, (Yogyakarta: Niagara Mei 2004), Hal 112

6 Aminuddin dkk, Analisis Wacana, Dari Linguistik Sampai Dekonstruksi, (Yogyakarta: Kanal, Desember 2002), hal 160

7 John B. Thomson, Filsafat Bahasa dan Herneutika, penerjemah Dr. Abdullah Khozin Afandi, (Surabaya: Visi Humanika, 2005)

8 Jostein Gaarder, Dunia Sophie, Sebuah Novel Filsafat, Penerjemah Rahmani Astuti, Penyunting Yuliani Liputo, (Bandung: Mizan Utama, 2004), hal 397

9 Keterampilan Menjelang 2020 Untuk Era Global, Lampiran Satuan Tugas Tentang Pengembangan Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan di Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, hal 26

10 Valentino Dinsi, SE, MM, MBA dkk, Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian, penyunting Iqbal Setyarso, riset M. Hariyanto, Ssi, MM, (Jakarta: LET’s GO Indonesia 2004), hal 42

11 Gordon Dryden & Jeanette Vos, op cit hal 282

12 Valentino Dinsi, SE, MM, MBA dkk, op cit hal 99

13 ibid hal 88

14 Gordon Dryden & Jeanette Vos, op cit hal 341

15 ibid hal 276

16 ibid hal 345-347

17 ibid hal 356

18ibid hal 369

19 Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, Cara Belajar Cepat Abad XXI, penerjemah Dedy Ahimsa, editor Purwanto, (Bandung: Nuansa, Mei 2002), hal 448

20 Gordon Dryden & Jeanette Vos, op cit hal 309

21 ibid hal 298

22 ibid hal 310

23 ibid hal 311

24 Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, op cit hal 358

 

 

 

 

Potensi Manusia (PM)

 

Persimpangan Jalan

 

Persimpangan jalan menghadang di depan pelupuk mata

melangkah ke barat, hati gelisah

melangkah ke timur, pikiran resah

melangkah ke selatan, nafsu bergelora

melangkah ke utara, badan merona

memilih tidak melangkah, menyalahi norma

Dalam kebingungan

kaki melangkah menurut nurani

sesekali ke barat, menghasilkan karya

sesekali ke timur, melahirkan karsa

sesekali ke selatan, menciptakan ceria

sesekali ke utara, menghadirkan sejahtera

semua arah adalah ada dalam ada

menafikan salah satu sirna segala

masing-masing berjalan sesuai irama

melantunkan arti seribu satu

Persimpangan jalan memiliki banyak makna

seperti kata yang mengalir memenuhi berbagai penafsiran

memenjaran pilihan ke salah satu arah

sama dengan memenjarakan kata dalam kamus

biarlah kata menunjukkan makna sendiri

seperti yang digagas presiden penyair

atau penjara-penjara kata kita musnahkan saja

hingga kata-kata berbicara tentang dirinya sendiri

Hidup adalah menjalani pilihan-pilihan

tidak memilih mati dalam hidup

memutuskan satu pilihan menimbulkan kesempitan

memilih segala pilihan

sesuai kenyataan-kenyataan

seirama nuansa-nuansa

seiring fakta-fakta

menjalani hidup penuh makna

 

Wonosari, 14 Oktober 2004


  1. Otak Salah Satu Anugerah Terbesar

a.Otak Manusia

Otak manusia itu sangat canggih, kompleks dan rumit, “Bahkan jagat raya, dengan jutaan galaksinya, pun tidak sanggup menandingi kompleksitas otak manusia yang menakjubkan. Otak manusia adalah cermin ketidak terhinggaan. Tidak ada batas, ruang lingkup, atau kapasitas bagi otak untuk tumbuh secara kreatif.” Norman Cousins dalam Head First: The Biology of Hope.1  

Meski tidak sepenuhnya setuju bahwa kompleksitas otak mengalahkan jagad raya, namun saya sepakat otak manusia memang luar biasa kompleks.

Untuk membuktikan betapa kompleksnya otak manusia, uraian berikut menjelaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan otak manusia; tiga jenis otak, empat gelombang otak, 10 Kecerdasan Berganda, tiga kekuatan otak dan lima memori.  

Tiga jenis otak; otak Reptil; batang otak yang ada dalam rongga kepala bagian dasar, muncul dari tulang punggung, ini juga dimiliki kadal, buaya dan burung, fungsinya mengontrol pernafasan jantung dan instink-instink; otak Mamalia; bagian tengah otak yang “membungkus” otak ibarat kerah baju, fungsinya mengendalikan emosi, memelihara kestabilan “lingkungan” tubuh, mengendalikan hormon, rasa lapar, rasa haus, seks, kesenangan, metabolisme, kekebalan tubuh, dan memori jangka panjang (ingatan), Neokorteks; tebalnya hanya seperdelapan inci dan bentuknya berupa lipatan-lipatan, tempat bersemayamnya kecerdasan, ini berhubungan dengan melihat, mendengar, mencipta, berpikir dan berbicara –semua kecerdasan yang lebih tinggi- membantu pengambilan keputusan, membentuk pengalaman, mengapresiasi segala sesuatu seperti musik, lukisan, dan lain-lain.2

Empat jenis gelombang otak: Beta; gelombang otak pikiran sadar, beroperasi 12-35 siklus perdetik, berfungsi mengawasi atau berjaga-jaga, menganalisa situasi, dan berbicara, Alfa; gelombang otak yang memiliki ciri relaksasi dan meditasi, beroperasi 8-12 siklus perdetik, fungsinya berkhayal dan berimajinasi, Teta; gelombang otak yang berkaitan dengan lamunan atau sebelum tidur, beroperasi 4-7 siklus perdetik, fungsinya memproses informasi hari itu dan hadirnya kilatan-kilatan isnpirasi, Delta; tidur lelap tanpa mimpi, siklusnya 0,5-3 perfetik. Pemanfaatan gelombang Alfa yang dalam keadaan rileks tapi sadar sangat membantu proses pembelajaran dan bisa membantu menyimpan memori-memori jangka panjang, gelombang Beta juga membantu untuk mengkonsentrasikan diri.3

8 Kecerdasan manusia menurut Howard Gardner peneliti IQ Konstan ditambah 2 Kecerdasan Berganda hasil eksplorasi saya sendiri setelah melakukan penelitian sederhana pada lebih dari 1000 orang selama 10 tahun, berarti total 10 Kecerdasan Berganda. Urutannya ialah Kecerdasan Linguistik (kemampuan berbicara dan menulis; Soekarno dan Rendra), Kecerdasan Logis Matematis (kemamapuan menalar, menghitung dan menangani pemikiran logis; Habibie, Bertrad Russel dan Zhu Rongji), Kecerdasan Kinestetis (kemampuan menggunakan anggota tubuh; Mechael Schumacher dan Ronaldo, Taufik Hidayat), Kecerdasan Musikal (kemampuan menggugah lagu, menyanyi dan memainkan musik; Iwan Fals dan Mechael Jakson), Kecerdasan Interpersonal (kecerdasan berhubungan dengan orang lain; Amien rais dan Barrack Obama), Kecerdasan Intrapersonal (kemampuan mengelola perasaan dan kesadaran diri; Khairil Anwar dan Pramudya Ananta Noer), Kecerdasan Naturalis (kemampuan mengelola sumber daya alam, Bob Sadino), Kecerdasan Otodidaktor (kemampuan belajar sendiri, Hamka dan Gus Dur), Kecerdasan Spritual (kemampuan spritual, Ary Ginanjar Agustian dan KH. Moh. Idris Jauhari).4      

Otodidaktor harus mampu mengetahui Kecerdasan Berganda yang dimiliki, paling tidak dua di antaranya yang paling menonjol, keduanya dikembangkan lebih lanjut sampai menjadi keahlian. Untuk itu, perlu mengisi Lampiran II supaya memahami kecerdasan mana yang paling menonjol dan dimanfaatkan secara maksimal dalam belajar otodidak (BO). Tes ini telah diuji pada lebih dari 1000 orang, hasilnya mencengangkan; mereka yakin bahwa setiap orang cerdas, mengetahui bidang ilmu yang ingin diperdalam pada masa mendatang, dan membuka pintu masa depan yang cerah.

Kekuatan otak manusia terbagi dalam; otak Kanan, otak Kiri, dan otak Seimbang. Untuk memahami kita termasuk yang mana, perlu diketahui ciri-cirinya. Ciri-ciri otak Kiri yang kuat; serius, sederhana, membosankan, hemat, mempercayai fakta, rapi dan terorganisasi, tujuan ide adalah keuntungan, lebih memilih metode keilmuan dan gaya berpikir bersifat logis. Ciri-ciri otak Kanan; humoris, rumit, menyenangkan, pemboros, percaya Instink, berantakan dan kacau, ide adalah ekspresi diri, lebih memilih perasaan sebagai solusi masalah, dan gaya berpikirnya bersifat radikal. Ciri otak Seimbang memiliki kekuatan ganda yang dimiliki otak kanan dan otak kiri.5

Perlu diketahui, untuk memiliki kekuatan otak yang seimbang perlu latihan. Bagi yang kuat otak kanannya, maka berusaha melatih otak kirinya, sedang bagi yang kuat otak kirinya, berusaha melatih otak kanannya, sehingga keduanya dimanfaatkan secara maksimal. Sebagai latihan, cobalah berlatih melakukan sesuatu yang sebaliknya; orang yang kuat otak kiri, biasanya berpikir logis atau masuk akal, sesekali perlu melakukan kebalikannya yakni berpikir radikal, sebab dalam menghadapi perubahan yang semakin kompleks, justru berpikir radikal dibutuhkan.

Lima tipe momori W-I-R-E-S menurut pakar ilmu saraf Dr. Murray Grossman dkk. Pertama Work (kerja); memori jangka pendek, memungkinkan seseorang mengingat beberapa hal secara bersamaan, seperti melambaikan tangan sambil berbicara dan membuka surat. Sebagian besar orang kehilangan efisiensi memori ini, saat berusia empat puluh tahun. Kedua Implicit (implisit); keahlian yang dikuasai antara belajar dan praktik biasanya tidak pernah lupa, seperti mempelajari cara mengendarai sepeda sampai bisa. Memori ini tidak menuntut kesadaran, hilangnya memori implisit akan menyebabkan gangguan mental. Ketiga Remote (jarak jauh/panjang); akumulasi data sepanjang hidup mengenai bermacam-macam topik yang luas. Penurunan usia menyebabkan menurunnya fungsi ini. Keempat Episodic; memori dari pengalaman seseorang yang khusus, contoh makanan yang dipilih pada rumah makan mana pekan lalu. Informasi yang memuaskan diri bisa diingat dengan baik. Kelima Semantic; memori terhadap kata-kata dan simbol-simbol berikut makna-maknanya adalah jenis memori yang tidak pernah hilang, menggambarkan pengetahuan seseorang tentang dunia.6

  1. Dari Otak ke Pikiran

Sudah dijelaskan tentang otak secara universal beserta bagian-bagiannya secara terperinci, kini kita perlu memahami fungsi utama dari otak yakni pikiran.

Manusia dilahirkan dengan anugerah pikiran yang luar biasa. Sampai luar biasanya anugerah berupa pikiran ini, sampai Descrates berkata “Aku berpikir, maka aku ada”, itu berarti identitas manusia terletak pada pikirannya. Hal inilah yang melahirkan gerakan rasionalisme di Barat, dan menyebar ke berbagai belahan dunia lainnya. Lantas setiap orang memiliki persepsi yang sama bahwa sesuatu yang bertentangan dengan pikiran adalah irrasional (tidak masuk akal) yang tidak perlu diperhatikan. Sayangnya kenyataan hidup sehari-hari menawarkan banyak irrasionalitas, sehingga perlahan-lahan upaya manusia untuk mendewakan pikirannya semata, mulai tergeser. Ini bukan berarti pikiran tidak lagi penting bagi manusia, pikiran tetap penting, tapi bukan segala-galanya. Artinya pikiran difungsikan sebagaimana mestinya, tanpa menafikan faktor lain dalam diri yang bisa membimbing pada kesuksesan.

Bahasa lain dari pikiran adalah nalar. Donald B. Calne menyatakan bahwa Nalar adalah kemampuan mental yang berguna untuk menyesuaikan pemikiran maupun tindakan dengan tujuan, menurut Herber A. Simon “Nalar adalah alat belaka. Nalar tidak dapat menentukan tujuan hidup; paling banter ia hanya dapat memberitahu kita bagaimana caranya sampai ke sana. nalar adalah senjata sewaan yang bisa kita gunakan untuk mencapai tujuan apa saja, baik atau buruk.” Ini mengindikasikan bahwa salah satu sumbangan terbesar nalar boleh jadi justru penegasan batas-batas kemampuannya sendiri, sehingga manusia menunaikan tanggung jawabnya yang lebih besar. 7 Berhubung nalar terbatas, maka sudah sewajarnya bila manusia tidak perlu mendewakannya.

Pikiran atau nalar sekadar memberikan berbagai macam pertimbangan pada manusia dalam upaya mengambil keputusan tentang sesuatu yang berarti dalam hidupnya, saat manusia hendak mengambil suatu keputusan, nalar sedikit berperan, yang berperan besar justru adalah pengalaman, horison harapan, pengaruh budaya, cara manusia menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan kecerdasan perasaan.

Kekuatan nalar betul-betul merupakan kekuatan manusia yang nyata, jelas, dan tidak boleh tidak bekerja dalam hampir semua kehidupannya, tetapi nalar tidak bisa memberi atau mengendalikan tujuan-tujuan yang terkait dengannya. Agar modul nalar bisa bekerja, diperlukan fungsi–fungsi otak lain seperti; ingatan, kesadaran, dan kemampuan mencipta serta mengubah lambang-lambang mental, tapi itu belum cukup guna mencapai tujuan-tujuan yang hendak dicapai, masih ada aspek lain yakni sikap budaya, kesempatan dan usaha yang gigih.8

Untuk membedakan manusia purba, klasik, pertengahan, modern dan posmodern adalah sejauh mana manusia mampu mengoptimalkan pikirannya. Jika manusia purba menggunakan pikiran untuk berburu, mengembangkan kerajinan tangan agar bisa menaklukkan alam, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan atau makhluk lain, secara perlahan-lahan manusia mengembangkan pikirannya sedemikian rupa, sehingga menghasilkan alat cetak pertama yang memungkinkan kebudayaan tulis menulis semakin meluas, ditemukannya teknologi untuk mengeksploitasi alam, dikembangkannya peralatan militer, dan berbagai perkembangan lain. Suatu perkembangan yang dianggap membawa kemajuan, namun sekaligus membawa pada kehancuran karena kemajuan yang dicapai tidak berpijak pada nilai-nilai luhur moral.

c.Cara Mengasah Pikiran

Pikiran diasah dengan berbagai cara; memikirkan kenyataan hidup, melakukan analisa (menjelaskan secara detil tentang sesuatu), melakukan sintesa (mengumpulkan ilustrasi, contoh, fakta, informasi dan topik-topik yang berkaitan dengan sesuatu yang hendak dijelaskan), membaca buku, membaca fenomena alam, membaca informasi lewat berbagai sumber termasuk internet, dunia maya, dan informasi lainnya, asal ekses-ekses negatif seperti pornografi bisa disingkirkan dulu.

Islam menganjurkan pemeluknya untuk senantiasa menggunakan pikirannya dalam memahami segala ciptaan Tuhan. Sebab dalam penciptaan langit dan bumi, perubahan siang dan malam terdapat tanda-tanda yang harus dipikirkan manusia supaya memperoleh ilmu dan memperkuat keimanan, Allah berfirman “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,” (QS Ali-Imran 190). Manusia dituntut mengoptimalkan pikiran untuk memahami realitas kehidupan, perubahan alam, bencana alam, dan segala ciptaan Allah, sehingga bisa hidup yang lebih baik. Ada beberapa langkah-langkah yang harus diampil untuk mengoptimalkan pikiran.

Selalu mempertanyakan segala sesuatu seperti; kenapa Indonesia sering terkena bencana alam? kenapa kita selalu sial? Apa makna dari suatu kejadian? Bagaimana memanfaatkan kelemahan menjadi kelebihan? Pertanyaan-pertanyaan ini untuk menggugah pikiran. Plutarch menyatakan “Pikiran bukan sebuah wadah untuk diisi, melainkan api yang harus dinyalakan,”10 pikiran yang dimiliki manusia perlu dinyalakan dengan cara-cara yang benar, sebab ibarat api yang tidak akan menyala kalau tidak dinyalakan. Pada zaman purba untuk membuat api lewat benturan batu atau gesekan kayu, dalam zaman posmodern, bisa memanfaatkan kemajuan yang ditawarkan sains, sastra dan teknologi.

Berpikir konseptual; memikirkan sesuatu secara berpola atau memiliki sistematika tertentu. Otodidaktor mencoba untuk berpikir secara runut atau teratur, misalnya memikirkan tentang BO; dipahami maknanya, mencari cara untuk bisa belajar, mempraktikkan BO dalam kehidupan nyata, dan berusaha berhasil lewat BO.

Berpikir analitis atau mendalam tentang sesuatu, bahasa lainnya adalah menguasai sedikit hal dengan banyak hal atau luas. Otodidaktor berusaha memahami sesuatu dari berbagai macam sudut pandang dan mendalam. Contoh; untuk mendalami mengenai cara BO, perlu membaca buku Revolusi Cara Belajar karya Gordon Dryden & Jeanette Vos, Cara Belajar Cepat Abad XXI karya Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, dan buku ini.

“Seorang manusia yang berpikir dan mengetahui cara berpikir selalu dapat mengalahkan sepuluh orang yang tidak berpikir dan tidak mengetahui cara berpikir.” George Bernard Swaw.11

  1. Cara Berpikir Kritis

Berpikir kritis merupakan salah satu senjata utama dari upaya otodidaktor untuk memahami sekaligus memberi makna pada segala hal yang dipelajari; “Bukan hanya nalar kritis diharapkan memainkan peran puncak di dalam sistem segala sesuatu yang baru ini, nalar kritis juga tidak bisa dikesampingkan untuk membuat keseluruhan konsep bisa dipahami….”12

Dalam abad 21 yang sedang dijalani ini, berbagai informasi, ilmu, paradigma, diskursus, wacana dan konsep hadir di tengah-tengah kehidupan kita, baik melalui internet, media massa, buku, maupun melalui kehidupan keseharian manusia. Berhubung manusia memiliki keterbatasan dalam mengingat semua hal, melainkan hanya mengingat yang penting, berguna dan melibatkan emosi, maka semua itu harus “diolah kembali” di dalam pikiran. Sarana pengelolaan yang paling tepat adalah dengan berpikir kritis, sehingga setiap informasi, ilmu, paradigma, diskursus, wacana dan konsep dibaca dengan penuh ketelitian, dicari korelasinya, ditelanjangi makna yang dikandung, ditelusuri maksud-maksud tersembunyi, dan mampu memberikan pemikiran alternatif.

Sebagai contoh, setiap buku yang ditulis seseorang tidak ada yang sempurna, pasti ada kekurangan di dalamnya, siapa pun yang menulis, entah orang biasa, Doktor, Profesor atau pakar di bidang tertentu. Kekurangan dari sebuah buku harus ditemukan, lalu dicarikan pemikiran lain yang lebih tepat. Di samping kekurangan yang tidak disengaja, juga ada kekurangan yang disengaja karena kepentingan tertentu di balik buku tersebut; pemiliki modal, lembaga yang menerbitkan, atau ideologi tertentu. Ini sangat berbahaya bagi pembaca, maka perlu dikritisi secara objektif, teliti dan telaten, lalu dilontarkan paradigma yang sebaliknya atau berbeda dengan tujuan mencari kebenaran hakiki. Hal ini diperkuat Michael R. LeGault “Namun, berpikir kritis bukan sekadar pencarian abstrak terhadap arti. Sebaliknya, dia memainkan peran signifikan, bahkan perlu di dalam kesejahteraan fisik dan mental kita.”13

Dalam menghadapi berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari; berinteraksi sosial, mengelola usaha, berkeluarga, dan menjalani rutinitas harian, juga harus memanfaatkan cara berpikir kritis. Hubungan sosial dengan masyarakat yang saling mempengaruhi antara individu dengan masyarakat; jangan sampai diri sekadar menjadi “budak” dari lingkungan sosial, melainkan berupaya dengan segala keterbatasan yang dimiliki untuk memberi warna baru yang lebih baik terhadap masyarakat. Dalam mengelola usaha senantiasa dianalisa dengan pemikiran kritis agar ditemukan penyebab-penyebab dari kemandegan, stagnanasi, dan ketidak berkembangan suatu usaha, lalu dicari solusi yang tepat dengan mempertimbangan segala sesuatunya. Kehidupan berkeluarga cendrung membuat sebagian orang tidak kreatif dan produktif disebabkan berbagai permasalahan yang ada di dalamnya, ini akan terus menerus menghantui jika tidak dipikirkan dengan kritis mengenai solusi pemecahannya. Rutinitas harian juga bisa menjadikan manusia seperti mesin yang berjalan, sebab menjalani hidup bagai putaran mesin tanpa mampu memberi makna berbeda, misalnya bagaimana caranya agar diri bisa memberikan sumbangsih pada orang lain.

Di samping itu, stres juga perlu dilihat secara kritis, sebab stres merupakan kelemahan diri dalam mengelola masalah, semakin kompleksnya permasalahan, hidup yang bertambah sulit akibat krisis tanpa kunjung usai. Menurut Michael R. LeGault, “Yang pasti adalah stres merupakan masalah yang timbul karena berbagai situasi yang sulit. Ini adalah salah satu kepastian dalam hidup. Tetapi kita sepertinya telah membiarkan ego kita menjadi terlalu rapuh dan sensitif. Sikap yang membiarkan sekecil apa pun menimbulkan kemarahan, frustasi, atau kepahitan adalah sebuah bentuk penyerahan psikis yang mengerosi gairah intelektual dan kreativitas hidup banyak orang. Tantangannya adalah bagaimana membebaskan diri kita dari hipnotis massal dan meraih kembali rasa keingintahuan kita, rasa bangga kita akan pengetahuan, sebagai lawan dari emosi murni, dan kekuatan sepenuhnya pemikiran kritis kita -pencegah stres terbaik.”14

  1. Cara Berpikir Kreatif

Berpikir kreatif ialah cara berpikir seseorang yang mampu melahirkan kreasi-kreasi baru, baik demi memenuhi kebutuhan hidup, memberi warna pada kehidupan, memaknai kehidupan, maupun demi kelangsungan proses belajar seumur hidup. Sistem kapitalis telah menyediakan alat-alat, prasarana, dan semua yang dibutuhkan manusia, sebagai warga Indonesia yang baik kita berusaha berpikir kreatif agar mampu menciptakan kreasi-kreasi usaha baru yang bisa melahirkan lapangan pekerjaan bagi diri dan orang lain. Memberi warna pada kehidupan tidak bisa dilakukan, bila diri tidak senantiasi mengekplorasi pemikiran agar melahirkan nilai-nilai baru yang sesuai dengan mayarakat masa kini dan mendatang. Kehidupan memiliki arti yang besar jika diri mampu memaknainya dengan perspektif-perspektif yang benar, tepat dan kontekstual. Proses belajar seumur hidup bisa dilakukan, manakala seseorang mampu mencari celah-celah untuk menjadikan pembelajaran sebagai sarana memahami, mendalami, mengerti, dan melahirkan “penemuan-penemuan” yang bisa dimanfatkan orang banyak.

Ini semua bisa dicapai dengan penggunaan metode Kupiah Kompi P seperti yang dikemukakan Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl.

“Kupiah Kompi P adalah akronim untuk mengingat bagaimana kita menjadi metodis seraya kreatif. “Kata” tersebut singkatan dari:

Ku-Kumpulkan –informasi yang banyak

Pi -Ber-Pikir Empat-Arah –lihat dari setiap sudut

A -Alternatif –munculkan banyak gagasan

K-om Kombinasi ulang –cari kombinasi terbaik gagasan-gagasan ini

Pi -Pilihlah –pilihalah mana kombinasi terbaik

P -Pengaruh –lakukan tindakan”15

Mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang sesuatu yang hendak dipelajari. Misalkan Anda sedang belajar tentang cara BO, semua informasi mengenai hal itu dicari lewat internet, membaca buku-buku tentang pembelajaran, dan mencari informasi tambahan lewat media massa. Informasi yang ada lalu dipilah-pilah mana yang kira-kira benar-benar dibutuhkan; entah untuk keperluan penulisan atau pengembangan teori belajar yang baru, dan menghubungkan semua informasi.

Informasi yang Anda kumpulkan, coba lihat dari empat arah berbeda; depan, belakang, atas dan bawah. Dari depan dilihat sejauh mana informasi-informasi yang ada dapat membantu kesuksesan seseorang dalam belajar sendiri sehingga berhasil sebagaimana orang yang kuliah formal. Dari belakang dilihat bisakah informasi yang ada membantu seseorang untuk bisa terus menerus belajar, tanpa terjebak pada masalah; apakah proses pembelajaran hanya melahirkan kegagalan, trauma atau rasa putus asa. Dari bawah dilihat sejauh mana informasi-informasi yang mampu membantu seseorang untuk mempelajari kehidupan sosial dan sehari-hari supaya memiliki makna lebih dari kehidupan yang dijalani kebanyakan orang. Dari atas dilihat sejauh mana informasi-informasi yang ada dapat membantu dalam memberikan nilai-nilai spritual pada berbagai aspek kehidupan, sehingga Anda bisa mendekatkan diri pada Allah.

Mencari gagasan-gagasan yang bisa dilahirkan, lalu berusaha menemukan gagasan yang berbeda. Untuk itu, teori dekonstruksi Derrida dijadikan alat bantu. Setelah informasi dirunut dalam poin-poin penting, maka lihat tema umumnya, lalu balik informasi itu, dari kebalikannya akan ditemukan gagasan baru, atau menjadikannya sebagai cara mencari celah pemikiran yang berbeda. Inilah yang bisa melahirkan orang-orang “jenius” di muka bumi.

Biasanya yang timbul tidak hanya satu gagasan melainkan banyak gagasan. Untuk itu, gagasan-gagasan yang ada dikombinasikan ulang, atau lakukan proses mulai dari awal kembali, cuman ini dilakukan terhadap gagasan-gagasan baru yang dimunculkan. Lalu dirumuskan gagasan terbaik yang bisa dirumuskan dalam suatu perencanaan yang matang dan bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Suatu contoh; berhubung selama ini belajar dibatasi di ruang universitas, maka BO harus menawarkan paradigma pembelajaran baru yakni belajar pada kehidupan, inilah gagasan terbaik yang dipilih.

Semua jenis ilmu tidak akan berguna jika tidak bisa dibuktikan dalam tindakan nyata. Berhubung yang hendak dipelajari tentang cara BO seumur hidup, maka mulai detik ini Anda memiliki komitmen untuk BO seumur hidup, tanpa tindakan ini, maka semua proses yang dijalankan dari awal menjadi suatu kesia-siaan belaka. Itu berarti informasi-informasi yang ada hanya menjadi sampah tak berguna.

  1. Imajinasi Sang Penguasa Baru
  2. Imajinasi

Menurut Paul Edwards imajinasi adalah “daya untuk membentuk gambaran (imaji) atau konsep-konsep mental yang tidak didapatkan secara langsung dari sensasi (pengindraan)16”. Dari definisi imajinasi ini jelas bahwa imajinasi adalah daya yang dimiliki setiap manusia dalam upaya menciptakan berbagai macam imaji atau gambaran tertentu yang diinginkan atau menciptakan konsep-konsep mental yang memungkinkan.

Setiap saat Anda dihantam berbagai macam citra yang mucul lewat iklan, informasi, film, tragedi, kenyataan hidup, dan fenomena kehidupan. Citra-citra yang ada secara tidak sadar tersimpan dalam memori Anda, dan secara langsung atau tidak langsung akan menimbulkan citra-citra baru. Citra-citra yang ada diolah sedemikian rupa sehingga menjadi imaji yang jika dimanfaatkan dengan baik akan berbuah ide yang cemerlang.

Imajinasi juga dalam kehidupan sehari-hari. Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna menyatakan, “Dengan pengertian bahwa imajinasi dan kreativitas adalah daya, energi, dan kekuatan, maka imajinasi dan kreativitas jelas mengimplikasikan subjek manusia, lebih khusus lagi subjek kreator. Imajinasi dan kreativitas tidak semata-mata terkandung dalam karya seni. Kehidupan praktis sehari-hari dipenuhi bahkan dikendalikan oleh imajinasi dan kreativitas. Perbedaannya, imajinasi dan kreativitas kehidupan sehari-hari didorong dan dengan demikian dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan praktis….” 17

Sewaktu Bill Gates berkunjung ke Jakarta pada tanggal 09 Mei 2008, dia menyatakan bahwa imajinasi lebih unggul dari ilmu pengetahuan. Hal ini juga dialami Enstein saat menemukan teori Relativitas yakni kemampuan imajinasi sebagai inspirasi ditemukannya ilmu pengetahuan. Dua fakta ini menunjukkan bahwa Anda dituntut untuk mengekplorasi imajinasi untuk menghasilkan sesuatu yang bermakna dalam kehidupan.

Untuk mengekplorasi imajinasi dalam kehidupan sehari-hari, perlu latihan-latihan; menjelang tidur mengimajinasikan tentang hakikat kehidupan yang dijalani, saat duduk melihat pemandangan mencoba melihat keagungan Allah sebagai penciptaNya, sewaktu menyendiri berimajinasi tentang sesuatu yang bisa dilakukan untuk sesama manusia, manakala melihat kejadian yang luar biasa berusaha berimajinasi tentang hikmah di balik itu. Semua latihan ini dilakukan setiap waktu sampai imajinasi menjadi hidup.

  1. Membedakan Fantasi dengan Imajinasi

“Jikalah fantasi (daya yang menghasilkan khayalan) itu biasanya dikaitkan dengan gambaran objek yang tidak mungkin dan memang tidak ada dalam kenyataan, maka imajinasi dipahami sebagai daya yang menghasilkan gambaran objek yang mungkin (=dapat ada) atau “logis”…”18 Pendapat H. Tejoworo ini menarik sekali untuk membedakan antara fantasi dan imajinasi, jika fantasi merupakan cara manusia mengan-angankan sesuatu tanpa mampu mencapai angan-angan tersebut dalam kenyataan, sedang imajinasi justru merupakan citra-citra (bahasa lain dari angan) yang ada dalam benak manusia, yang mana citra tersebut mungkin diwujudkan dalam kenyataan, tentu saja setelah melalui proses sedemikian rupa.

Untuk memudahkan hal ini, misalkan Anda membiasakan diri berangan-angan untuk mendapatkan istri yang cantik seperti Nadine (mantan putri Indonesia), ini yang disebut fantasi, sebab tidak mungkin Nadine mau menjadi istri Anda, namun manakala Anda memunculkan citra bahwa kecantikan tidak bersifat abadi, untuk itu kecantikan wanita dari segi prilaku, adab sopan santun, sikap dan watak, lebih diutamakan dari kecantikan lahiriah, maka Anda akan mendapatkan istri yang “sesuai”, inilah maksud dari imajinasi itu.

Agar terbiasa berimajinasi bukan berkhayal, dalam benak Anda harus dipenuhi dengan hal-hal yang “mungkin” dilaksanakan dalam kehidupan nyata. Pembiasaan ini memungkinkan Anda untuk mampu mengoptimalkan imajinasi, dibanding mengkhayalkan hal-hal yang tidak mungkin diwujudkan dalam kenyataan.

Peran imajinasi dalam kehidupan, seperti yang dikatakan Carmel Bird “…Imajinasi Anda memberi Anda kebebasan untuk membangun ulang dunia ini dengan menggunakan, seperti yang disarankan Marques, bahan-bahan realitas.”19 Kenyataan-kenyataan yang ada di sekitar, berusaha diimajinasikan dalam benak Anda, sehingga mampu memahami dunia yang didiaminya, lebih dari itu, imajinasi justru bisa mencipta ulang bentuk dunia, khususnya dalam karya sastra yakni novel, skenario, drama, puisi dan cerpen.

  1. Menggabungkan Imajinasi dengan Pikiran

Imajinasi bisa membentuk, membangun dan merekosntruksi sesuatu. “…Justru di dalam kemampuan rekonstruktif imajinasi itulah terdapat “orisinalitas” dalam pemaknaannya yang sudah bergeser. Kreativitas dan “orisinalitas” kini dilihat dari kemampuan mengkonstruksi, mendekonstruksi, dan mere-konstruksi imaji.”20 Bila disederhanakan; imajinasi bisa membangun sesuatu, bisa menghancurkannya, dan bisa membangun kembali, baik tetap menggunakan bahan-bahan yang lama atau sama sekali membangun yang baru. Berkaitan dengan sebuah gagasan atau ide, imajinasi bisa menciptakan suatu ide, bisa menolak sama sekali ide tersebut, dan bisa membangun ide baru berdasarkan pada ide yang lama atau benar-benar menemukan ide yang orisinil.

Berhubung imajinasi terkadang berkaitan dengan kemunculan ide baru, antara imajinasi dengan pikiran perlu bersinergi. Sinergi ini dalam rangka menjadikan ide yang dihasilkan, dapat diterapkan dalam kenyataan, bukan sekadar ide-ide yang mengawang-awang di angkasa tanpa makna. sinergi keduanya juga memudahkan dalam BO, sekaligus senjata ampuh untuk beradabtasi, berkreasi, berinovasi, dan menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi. Membiarkan imajinasi berkuasa membuat manusia hidup dalam dunia khayal atau dalam bahasa berbeda hiperealitas, sedang membiarkan pikiran berkuasa membuat manusia buta pada sisi spritual dan batin dirinya.

Pada tahap awal, bisa jadi imaji memegang peranan penting ketika seseorang merenungkan sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya, lalu perlahan-lahan citra-citra yang banyak itu dikerucutkan menjadi satu atau tiga citra, lalu diolah lagi menjadi satu citra yang mungkin. Di sinilah peran pikiran mulai bermain yakni mencari hal-hal yang bisa menguatkan citra yang mungkin tersebut, menemukan alasan-alasan yang tepat, memberikan pertimbangan-pertimbangan yang masuk akal, sehingga ketika suatu keputusan diambil dalam rangka mengatasi permasalahan yang dihadapi, maka solusi tersebut dianggap bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi.

  1. Memfungsikan Imajinasi dengan Tepat

Biasanya dalam kesendirian, suasana sunyi, termenung, dan terdiam sesaat, secara acak timbul citra tentang sesuatu, berbenturan dengan citra lain, dan begitulah terus menerus, sampai kita mampu mengolah citra ini menjadi “sesuatu” yang berarti bagi kehidupan. Kemampuan mengolah imajinasi merupakan langkah penting untuk mengoptimalisasikan imajinasi. Kalau kita saksikan film-film Hollywood yang meraih Box Office adalah film-film yang menunjukkan kekuatan imajinasi manusia, seperti film Cars, The Superman Begin, dan The Davici Code atau yang fenomenal di Indonesia Ayat-Ayat Cinta. Film-film ini tidak akan menghasilkan sesuatu yang spektakuler tanpa bantuan imajinasi.

Bahkan dalam kehidupan yang dijalani manusia posmodern ini, tidak jelas lagi antara apa yang disaksikan dalam film dengan kenyataan hidup, sebab orang-orang mencontoh mode pakaian, gaya rambut, gaya berjalan, dan gaya hidupnya. Kehidupan artis berusaha ditampilkan media dengan berbagai sudut pandang, ajaibnya para penonton, baik disadari atau tidak, meniru para artis dalam segala hal. Ini menunjukkan bahwa imajinasi kini menjadi penguasa baru dunia menggantikan akal.

Kenyataan ini sungguh memprihatinkan, sebab diam-diam tingkah laku artis yang berusaha ditiru justru tidak patut untuk ditiru, sehingga bisa menghancurkan sendi-sendi tradisi, bahkan merusak keyakinan beragama seseorang. Artis adalah “penghibur” yang seringkali bertingkah laku penuh kepura-puraan, jadi tingkah lakunya tidak boleh ditiru. Anda dituntut mengembangkan kepribadian sendiri yang khas supaya mampu menghadapi tantangan hidup yang semakin kompleks.

Keadaan ini diperparah dengan kemampuan mesin “simulasi” dalam menciptakan kenyataan-kenyataan yang bertentangan dengan kenyataan sebenarnya, yang mana mesin tersebut berfungsi berkat bantuan imajinasi. Akibatnya semakin mengacaukan kenyataan-kenyataan yang hakiki, sehingga pijakan manusia pada kenyataan menjadi rancu. Anehnya, manusia mengikuti segala hal yang dihasilkan mesin simulasi ini tanpa berupaya bersikap kritis dan konstruktif. Sesuatu yang wajar bila manusia menjadi semacam objek dari sesuatu yang mereka ciptakan sendiri.

Media cetak dan massa dengan segala kemampuannya yang hebat seringkali mampu menciptakan “simulasi”, yang mana kepentingan tertentu, pesan dari pihak lain, dan hasrat menjustifikasi kebenaran, diwujudkan dalam tampilan visual atau informasi di media. Kebenaran yang diciptakan dianggap “penonton dan pembaca” sebagai kebenaran yang harus diikuti, sehingga mereka semakin dibentuk olehnya.

Tiada jalan dari hal ini, kecuali menciptakan filter dalam diri masing-masing “penonton dan pembaca” agar mampu mengkritisi untuk menelanjangi kepalsuan dari hasil simulasi, mencari alternatif berbeda dalam melihat kenyataan yang sama, dan berusaha mendapatkan pandangan sendiri yang bisa menjadi anti tesis dari hasil ciptaan simulasi. Filter ini diperoleh dengan menjadikan BO sebagai upaya memahami, mengkritisi, melakukan anti tesis dan mencoba melakukan sintesis, sehingga manusia menemukan kebenaran yang hakiki, bukan kebenaran yang dipalsukan.

  1. Perasaan Sumber Daya Yang Menentukan
  2. Panca Indera dan Perasaan

Panca indera berkaitan dengan perasaan, di samping dengan pikiran seperti dalam penelitian ilmiah. Dalam kamus Bahasa Indoensia Panca indera adalah alat perasa lima macam: penglihatan, penciuman, perasa lidah, perasa tubuh dan pendengaran.21 Itu berarti bahwa panca indera berkaitan dengan perasaan manusia.

Indera penglihatan yang berupa mata berusaha melihat kenyataan yang dihadapi dengan segala kemampuan yang dimiliki; kelebihan dan kekurangan. Apa yang dilihat di depan mata terkadang bukan kenyataan yang hakiki, melainkan “topeng” dari kenyataan yang sebenarnya tersembunyi. Dalam melihat kenyataan, tidak bisa hanya melihat kurun waktu terntu, lantas memberikan penilaian, hasilnya penilaian tersebut tidak tepat yang merugikan atau menjerumuskan seseorang pada kesalahan, meskipun niatnya baik. Jadi, niat baik saja tidak cukup, jika tidak dibarengi dengan penglihatan yang benar terhadap kenyataan dari berbagai macam sudut pandang.

Indera penciuman berupa hidung tidak hanya berfungsi mencium yang berupa makanan, wanita, bau atau hal lainnya, melainkan juga sebagai saluran pernafasan yang sangat penting agar seseorang bisa menjadi rileks, santai dan gembira. Latihan pernafasan sangat dianjurkan agar indera-indera yang lain bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Berpikir, belajar dan membaca dalam keadaan rileks sangat membantu otodidaktor.

Indera perasa lidah dan mulut, sarana komunikasi efektif bagi otodidaktor, di samping bahasa tulisan. Bahkan beberapa teori seperti dialog, tuturan, dan speech act, merupakan upaya untuk mengotimalkan indera ini. Dialog dibangun dari beberapa orang yang memiliki pengetahuan yang sejajar tentang hal-hal yang didiskusikan, bila tidak sejajar, maka dialog atau beragam arah menjadi monolog atau satu arah. Bahasa lisan apa pun istilah akademisnya, salah satu bahasa yang sangat berperan dalam kehidupan masyarakat Indonesia semenjak dulu kala, khususnya yang berkaitan dengan hubungan sosial masyarakat. Bahasa lisan yang baik adalah bahasa yang menyejukkan bagi orang lain, menimbulkan rasa suka, menggugah semangat, menimbulkan inspirasi, dan bisa mengakomodir kepentingan orang lain dalam percakapan. Bahasa lisan berkembang setiap waktu dan hari, inilah keunggulan bahasa lisan dari bahasa tulisan.

Indera pendengaran sesuatu yang sering “dianaktirikan”, khususnya dewasa ini, sedang untuk indera tubuh dibahas kemudian. Orang lebih senang berbicara dibanding mendengarkan. Jika berbicara mulut sampai berbusa, tak peduli menyakiti orang lain atau justru menimbulkan masalah baru, ini didukung media dalam bentuk tayangan infortanment, jadilah gosib sebagai budaya. Padahal sesungguhnya, kebijaksanaan lahir dari kemampuan mendengarkan orang lain, mendengarkan suara alam, mendengarkan bisikin Tuhan dari hati, dan mendengarkan hikmah-hikmah yang diperoleh dalam menjalani kehidupan sehar-hari. Jika ini dilakukan, mungkin sebagian masalah di Republik ini bisa teratasi perlahan-lahan.

  1. Cara Mengelola Perasaan

Semua jenis perasaan manusia berusaha dikendalikan, diarahkan, dan disalurkan pada jalur yang tepat. Misalnya tidak terlalu sedih menghadapi kegagalan, tidak terlalu gembira menghadapi kesuksesan, menyalurkan kekecewaan pada hal yang positif, pantang menyerah tanpa mengenal kata putus asa, takut hanya pada Allah, berani menempuh resiko demi sebuah keberhasilan, bertekad melakukan yang terbaik dalam hidup, dan menyalurkan nafsu pada jalur yang tepat bukan sembarangan. Inilah salah satu contoh optimalisasi perasaan.

Perasaan tidak bisa dibiarkan melakukan segala sesuatu secara sendirian, melainkan dibimbing dengan pertimbangan moral, hati dan pikiran. Seseorang yang terlampau kuat perasaan bersikap sensitif atau peka dan mudah tersinggung, segala sesuatu dilihat dari sudut perasaan, akibatnya bukan solusi yang diperoleh, tapi masalah.

Perasaan yang kacau direlaksasi menggunakan pernafasan, mata dibuka lebar-lebar untuk melihat segala sisi dari sesuatu yang mengacaukan, telinga dibuka lebar-lebar untuk mendengarkan masukan-masukan yang membangun, lalu baca cara Islam melihat masalah tersebut sebagai pertimbangan moral, baru dibuat pemecahan masalah yang tepat.

Sewaktu BO, Anda akan dikacaukan dengan berbagai masalah seperti manfaat dari membaca buku; memang dari membaca mampu menghasilkan tulisan, tapi tulisan yang dihasilkan kadang tidak diterima media atau tidak bisa dimanfaatkan untuk orang banyak, padahal dirinya masih disibukkan dengan masalah komputer yang sering ngadat, penghasilan usaha yang tak tentu, dan masalah dari keluarga. Jika semua masalah itu menghentikan Anda untuk terus menerus belajar, maka itu berarti membiarkan Anda terjebak dalam “masalah” tanpa mampu menghentikan masalah, sebab begitu Anda berhenti belajar, maka semakin hari akan bertemu dengan ketidaktahuan yang tentu saja membimbing pada kesalahan-kesalahan yang berulang. Hanya keledai yang terjebak dalam lubang yang sama dua kali.

Bisa jadi, dalam kurun tertentu Anda berhenti sejenak untuk belajar, menyibukkan diri dengan hal-hal lainnya, tapi kesibukan ini tidak dibiarkan untuk menghentikan proses belajar yang dilakukan. Berhenti sejenak untuk memulai lagi, berhenti sejenak untuk memulai lagi, berhenti sejenak untuk memulai lagi, begitu terus menerus sampai ajal menjemput. Maka dalam konteks ini, seseorang telah berusaha menjadi sebenar-benarnya manusia, apa pun hasil yang diperoleh di kemudian hari.

Kunci utama keberhasilan BO ialah mengelola perasaan dengan benar; perasaan cemas dijadikan sarana untuk hati-hati, perasaan takut hanya pada Allah semata, perasaan sepi dijadikan upaya untuk banyak merenung, perasaan hampa justru potensi untuk meniadakan segala sesuatu dengan menjadikan Allah sebagai sandaran hidup, perasaan resah dan gelisah dijadikan sarana menggali nilai-nilai baru, perasaan sedih bisa jadi potensi untuk mendatangkan kebahagian, perasaan pesimis diganti dengan optimis dalam menghadapi segala hal, perasaan rendah diri diganti dengan rendah hati, perasaan menjadi orang tak berguna diganti dengan melakukan sesuatu yang bermanfaat, perasaan kurang mendapat perhatian diganti dengan memberikan perhatian pada orang lain, perasaan lemah diganti dengan kekuatan yang dilatih lewat pembelajaran, perasaan tidak berdaya diganti mentalitas baja, perasaan malas diganti semangat membara, perasaan bosan diganti dengan melakukan sesuatu yang berbeda-beda, dan perasaan manusia yang tidak diharapkan diganti dengan menjadi manusia yang memberi harapan pada orang lain.

 

  1. Mencerdaskan Perasaan

Perasaan merupakan potensi manusia yang sering terlupakan, padahal dalam beberapa hal faktor perasaan manusia menentukan keputusan yang hendak diambil, mengambil peran pikiran dalam diri manusia, dan menjadi salah satu sarana penopang kesuksesan. Dalam ilmu psikologi banyak ditemukan bahwa perasaan memegang peranan sangat penting dalam kehidupan kita.

Daniel Goleman yang mengenalkan teori “Emotional Intelegence” atau EQ, menurutnya ada lima wilayah emosi yakni; mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenal emosi orang lain, dan membina hubungan.22 Pembahasan tentang mengenal perasaan dan mengelola perasaan, cara memotivasi diri sudah dijelaskan dalam bab pertama sebelumnya, berarti yang belum ialah mengenal perasaan orang lain dan cara membina hubungan sosial yang baik.

Anda perlu mengenal perasaan orang lain agar bisa bersikap bijaksana. Dalam mengenal perasaan orang lain dilakukan dengan cara berkomunikasi secara kreatif. Ketika berbicara, coba perhatikan reaksinya dan tingkah lakunya dalam arti yang positif, bukan untuk memata-matai, melainkan lebih mengenal perasaan mereka.

Dari pengenalan awal diketahui ciri-ciri perasaan orang lain, lalu dari mengetahui mencoba untuk merasakan seperti yang dirasakannya. Misalkan seorang tetangga jatuh sakit, kita datang menjenguknya, ini bermakna mengibur sekaligus upaya memahami yang sedang dirasakannnya, sehingga ketika diri menderita sakit, lebih bisa bersikap bijaksana, bukan menyalahkan orang lain atau mencari kambing hitam.

Dengan mengenal perasaan orang lain, secara otomatis membuat Anda bisa berhubungan dengan mereka. Dalam skala yang lebih luas, Anda mampu membina hubungan sosial dengan masyarakat yang harmonis dengan prinsip saling memahami, saling memberi dan menerima, dan saling bertenggang rasa. Memang terkadang tidak selamanya suatu hubungan berlangsung harmonis, terkadang ada saja aral melintang, khususnya sifat iri, dengki dan hasud yang bisa merusak keharmonisan. Setiap masalah yang timbul berusaha diatasi dengan kepala dingin, pikiran jernih dan hati lapang.

Selanjutnya, berusaha menggali makna keberhasilan dalam perspektif baru, hal ini hasil eksplorasi saya dibantu Allah melalui intuisi dan hati nurani. Diharapkan hal ini dapat memberikan paradigma baru dalam melihat sebuah keberhasilan atau kesuksesan, sehingga setiap orang merasa berhasil dengan cara dan usaha masing-masing.

  1. Keberhasilan dalam Perspektif Baru

Keberhasilan dalam sistem kapitalis dilihat dari kekayaan, prestasi, pujian dan uang yang berlimpah ruah. Seseorang yang tidak kaya, maka dianggap gagal hidupnya. Dengan paradigma ini, jangan kaget bila “orang-orang terpelajar pun” rela menggadaikan diri demi hal-hal di atas, sesuatu yang harus dihindari otodidaktor. Akibat buruk dari paradigma yang kuno ini, orang-orang yang sukses bisa dihitung dengan jari, sedang yang lain dinilai gagal dan menjadi pecundang. Prinsip ini juga diterapkan di bidang olah raga yang hanya melahirkan satu pemenang, yang lain menjadi orang-orang yang kalah. Ini berarti kehidupan tidak adil, padahal sesungguhnya kehidupan hakikatnya adil, asal perpektif kemenangan dan keberhasilan dinilai dalam makna baru.

Dalam dunia olah raga, yang dianggap pemenang hanya satu orang atau satu tim, sedang yang lain dianggap kalah atau pecundang. Tradisi berpikir picik ini, salah satu dari sekian banyak hasil simulasi media dan didukung banyak orang, sehingga orang memberikan penghargaan yang besar pada pemenang atau juara. Padahal, yang paling penting sebenarnya proses atau upaya seseorang dalam suatu pertandingan atau kejuaraan, asal proses dan usahanya sudah dilakukan semaksimal mungkin, maka hakikatnya, dia pemenang meskipun realitasnya kalah. Dalam konteks ini, penghargaan pada proses dan usaha lebih diutamakan dibanding hasil yang diperoleh.

Berkaitan dengan profesi yang ditekuni, Anda harus melakukan sebaik-baiknya, menggunakan cara terbaik supaya mendapatkan hasil terbaik, bekerja keras sekaligus kerja cerdas, gigih pantang menyerah dan berupaya senantiasa menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi. Di samping itu, berusaha terus belajar, lalu memanfaatkannya untuk meningkatkan etos kerja, bekerja dengan pengetahuan, dan menjadikan pekerjaan sebagai salah satu bentuk ibadah spritual. Ini secara otomatis dapat meningkatkan karir dan penghasilan. Dari hasil jerih payah, sebagian yang diperoleh disedekahkan pada orang-orang yang membutuhkan, memberi modal pada anak jalanan untuk mulai berwiraswasta kecil-kecilan, dan menyantuni anak-anak yatim. Anda sebenarnya berhasil, meski belum memiliki rumah megah atau mobil mewah.

Untuk mengukur suatu keberhasilan; dari sudut kekayaan yang dimiliki Anda melihat ke bawah, bila ada orang di bawah Anda berarti hakikatnya telah berhasil, dari sudut ilmu yang dikuasai Anda melihat ke atas, jika ada orang yang lebih ilmunya, berarti Anda harus lebih keras memanfaatkan segenap potensi agar berhasil memperdalam ilmu yang dimiliki, berkaitan dengan hubungan sosial, Anda melihat ke samping supaya bisa membina hubungan yang harmonis dengan orang lain, dan dalam konteks hubungan dengan Allah, melihat pada para Ulama’ dan Nabi, jika ibadah spritual dan sosial belum setara, maka berusaha untuk mencapai kesetaraan. Inilah makna keberhasilan dalam Islam yang tentu saja bertolak belakang dengan paradigma kapitalisme.

Dengan melihat ke bawah, orang biasa yang hidup sederhana, hakikatnya berhasil, bukankah masih banyak orang yang hidup di bawah garis kemiskinan, apalagi orang yang hidup berkecukupan atau golongan menengah dan atas. Hanya saja, manusia dikendalikan oleh keinginan yang tiada henti, sehingga selalu merasa kurang dengan kekayaan yang dimiliki. Tentu, hal ini tidak boleh membuat Anda menyerah pada nasib atau keadaan, melainkan bagaimana caranya supaya mampu meningkatkan taraf hidup. Kunci utamanya ialah mensyukuri apa pun yang diperoleh setelah usaha optimal dari berbagai aspek, dan menjalani hidup apa adanya.

Ilmu semakin diperdalam bertambah luas dan dalam, sehingga Anda dipacu untuk terus menerus belajar agar mendapatkan ilmu yang bisa dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Supaya mendapatkan motivasi yang kuat dalam belajar, maka perlu menelusuri dan meneliti orang-orang yang mamiliki keilmuan yang hebat. Sebagai misal, Hamka merupakan contoh ideal dari otodidaktor yang mampu mensejajarkan diri dengan akademisi, Emha Ainun Nadjib contoh penyair dan sastrawan yang berhasil, KH. Moh. Idris Jauhari yang mampu meneladani gurunya KH. Zarkasyi menjadi contoh ideal bagi para santri yang ingin menjadi Ulama’ dalam makna hakiki. Jika otodidaktor belum mampu seperti mereka, maka dituntut terus menerus menimba ilmu. Sebab dengan ilmu yang luas dan dalam, insya Allah berhasil dalam kehidupan di dunia dan akhirat kelak.

Memiliki hubungan sosial yang baik, menjadi tugas utama otodidaktor, mengingat mereka dipaksa keadaan untuk langsung terjun di tengah-tengah masyarakat. Dalam membina hubungan sosal dengan tetangga dan masyarakat sekitar dilakukan secara harmonis tanpa menghilangkan jati diri. Artinya, otodidaktor dituntut mampu bersosialisasi dan beradabtasi dengan masyarakat, saat bersamaan integritas diri yang kuat membuat seseorang mampu bersikap sebaiknya-baiknya dalam berbagai situasi yang dihadapi, sehingga antara individu dan masyarakat dapat hidup berdampingan secara harmonis. Ini dapat dilakukan dengan cara berupaya aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan, peduli pada tetangga dan orang sekitar, dan bersikap bijaksana dalam menyelesaikan setiap persoalan.

Sedang berkaitan hubungan vertikal dengan Allah, otodidaktor dapat mencontoh para Nabi dan sahabat dalam menyeleraskan antara ibadah sosial dan sepritual, serta menegakkan Islam sebagai agama yang membawa kebaikan pada manusia, makhluk ciptaan Allah lainnya dan semesta. Misalnya, supaya menjadi seorang penguasa yang adil dapat mencontoh nabi Sulaiman, nabi Yusuf, Umar bin Khattab, Umar bin Abdul Aziz, dalam menghadapi ujian dan cobaan mencontoh nabi Yunus, nabi Isa, Abu Ubaidah, guna menjadi manusia paripurna dari berbagai aspek dapat mencontoh nabi Muhammad SAW. Insya Allah, hal ini membimbing otodidaktor mampu mengatasi berbagai macam problematika umat Islam, dan mampu menghadapi arus perubahan yang dasyat.

Dengan perpektif baru keberhasilan ini, diharapkan setiap orang mendapatkan kesempatan yang sama untuk berhasil, sebab ruang keberhasilan tidak dipersempit pada materi semata. Mari berlomba-lomba untuk berhasil dalam segala aspek kehidupan dengan cara yang baik dan demi kemaslahatan diri, keluarga dan masyarakat.

  1. Hati Potensi yang Terlupakan
  2. Hati

Menurut Imam Ghazali Al-Qolbu (hati jasmani) merujuk dua makna; hati jasmaniah, segumpal daging berbentuk bulat panjang dan terletak di dada sebelah kiri, yaitu segumpal daging yang mempunyai tugas tertentu yang di dalamnya ada rongga-rongga yang mengandung darah hitam sebagai sumber Ar-Ruh, dan kedua; pengertian yang lebih halus berkaitan dengan ketuhanan dan rohaniah yang berkaitan dengan hati jasmaniah; hati dalam arti kedua berkaitan erat dengan mukasyafah ilmu yang semata-mata didapat dengan ilham Allah tanpa belajar (istilah masa kini intuisi), dan memahami hati dalam konteks ini berarti berusaha membuka rahasia Ar-Ruh. 23

Hati ada empat macam menurut Nabi Muhammad SAW hati yang bersih, di dalamnya ada lampu yang bersinar, yang demikian inilah hati Mukmin, hati yang hitam terbalik, itulah hati orang Kafir, hati yang terbungkus dan terbalut dengan bungkusan, itulah hati orang Munafik, hati yang dicampur aduk, di dalamnya terdapat iman dan nifaq.

Dari keterangan di atas dipahami bahwa hati manusia adalah rahmat Allah yang sangat besar seperti halnya otak, malah dalam beberapa hal memiliki kelebihan yang tidak dimiliki otak. Sebab hati manusia menjadi sarana yang paling efektif untuk berkomunikasi dengan Allah, bahkan dalam pemahaman sufi, hati yang suci membimbing manusia mampu melihat Allah secara langsung atau apa yang disebut dengan mukasyafah atau tajalli.

Menurut Syaikh Aftadah al-Buruswi: “Sebagaimana lahiriah manusia memiliki dua mata, demikian pula dia memiliki dua mata dalam kalbunya. Apabila dua mata kalbu terbuka, dia akan menyaksikan tajallinya sifat-sifat. Kami mengatakan: “Dengan kedua mata itu ia menyaksikan tajallinya sifat-sifat” tiada lain karena tajallinya zat tidak dapat disaksikan kecuali dengan mata ma’nawi di balik mata kalbu yang tidak mempunyai biji mata…”24

Menghadapi kenyataan hidup yang tak menentu, situasi yang buruk, dan krisis, Anda dituntut untuk berbesar hati menghadapinya. Berbesar hati tidak dalam pengertian pasrah tanpa berbuat apa-apa, tapi bersikap tenang, bijaksana, sabar, dan memperkuat signal dengan Tuhan. Anda harus bijaksana melihat krisis, tenang menghadapi masalah, sabar pada musibah, dan tidak kalah pentingnya memperkuat hubungan dengan Allah.

Sewaktu terjepit Anda ingat Allah, maka seruan “Ya Allah, tolong saya ya Allah! (Oh my God, Help me God!)” merupakan bentuk ekspresi manusia pada saat membutuhkan Allah. Hanya jeleknya manusia butuh pada   waktu terjepit, sehingga signal dengan Allah menjadi tidak begitu dekat. Seharusnya signal ini tetap dipelihara setiap hari lewat ibadah spritual, dzikir dan doa, sehingga ketika terjepit, Allah benar-benar membantu kita. Hubungan manusia dengan Allah berlangsung dalam wilayah hati, maka menjaga hati sama artinya dengan menjaga hubungan manusia denganNya. Signal Allah hanya ditangkap dengan suara hati yang suci.

Dalam kehidupan sehari-hari seringkali Anda berbenturan dengan keberuntungan, ketidakberuntungan, kebetulan dan sesuatu yang di luar dugaan. Beberapa kenyataan inilah yang membimbing manusia menyadari keterbatasannnya, kesadaran yang membimbing pada Allah.

  1. Antara Suara Malaikat dan Bisikan Setan

Menurut Ary Ginanjar Agustian “Jika kita pelajari dan mendalami secara cermat, kita akan menyadari bahwa sebenarnya Pikiran Bawah Sadar baik menurut Napoleon Hils; atau Keajaiban Berpikir Besar menurut David J Scwartz, PhD; maupun Kecerdasan Emosi Robert K Cooper PhD; semuanya memiliki kaidah yang sama namun menyandang perbedaan nama saja. Inilah bentuk usaha pencarian mereka, mencari nilai-nilai kebenaran yang pada akhirnya, kelak akan tiba di satu sumber (secara sadar atau tidak sadar) -mengakui kebenaran Allah, Al-Qur’an serta ajaran Nabi Muhammad SAW. Bahwa suara hati sebenarnya dorongan yang berasal dari sifat-sifat keilahian menjadi sebuah kebenaran yang sesungguhnya mampu terbuktikan…”25 Ini membuktikan bahwa suara hati yang suci merupakan manivestasi dari cara manusia berdialog dengan Allah melalui Malaikat. Tapi saat bersamaan, terkadang setan juga berbisik lewat hati untuk menggoda manusia agar menempuh jalan yang salah.

Dalam Islam, niat yang baik meski belum dilaksanakan diganjar pahala, sedang niat buruk yang belum dilaksanakan tidak apa-apa dengan catatan tidak dilaksanakan secara terus menerus. Sebab niat jahat yang terus menerus dipelihara walau tidak dilaksanakan, justru memudahkan setan masuk dan membisikkan sesuatu yang jahat, akibatnya niat-niat jahat tersebut benar-benar dilaksanakan. Niat jahat juga akan mengotori hati, sehingga tersumbat untuk mendapat hidayah Allah. Lebih baik memperbanyak niat baik asal dilakukan tidak dengan main-main, sebab niat baik membawa kebaikan bagi diri dan orang lain, bila diimplementasikan dengan cara yang benar dan pada hal yang benar.

Bisikin setan adalah sebuah godaan yang benar-benar “maut” bagi manusia, sebab setan rela untuk dikutuk Allah untuk menjadi penghuni neraka jahannam kelak dengan syarat bisa merayu, menggoda, dan mengajak manusia pada kesesatan. Bisikan setan akan mudah memasuki hati yang dibiarkan kotor, jarang tersentuh dzikir Allah, jarang shalat, jarang puasa, dan jarang berbuat baik. Bisikan setan ibarat api, sedang sikap-sikap manusia di atas adalah kayu yang membakarnya.

Bisikan setan juga mudah mempengaruhi manusia, bila sifat-sifat buruk seperti; iri, dengki, hasud, ghibah, marah, dendam, benci, dan nafsu yang merusak, dibiarkan tumbuh subur dalam kehidupan sehari-hari. Melihat orang lain sukses atau bisa membeli sesuatu, diri iri. Tidak senang dengan orang lain tanpa alasan yang jelas, diri dengki. Suka mengajak orang lain untuk melakukan sesuatu yang buruk seperti mencuri, merampok, mencopet, menganiaya orang, memprovokasi kerusuhan, dan menyakiti orang lain, diri hasud. Suka membicarakan kejelekan orang lain, seakan-akan waktu tiada berlalu tanpa membicarakan kejelekan orang lain, diri ghibah. Membiarkan api amarah meluap-luap tanpa kendali. Suka mendendam pada orang lain. Lebih senang membenci sesorang dari menyukainya. Membiarkan nafsu seks, nafsu yang berupa keinginan-keinginan semu, dan nafsu jahat merasuki jiwa, sehingga hidup dalam kekacauan. Semua itu adalah segala sesuatu yang berusaha dihindari setiap orang agar setan tidak mudah menggodanya.

Dengan kemampuan menghindari bisikan-bisikan setan, perlahan-lahan hati menjadi terbuka; terbuka untuk menerima ilmu yang mampu dimanfaatkan untuk kepentingan orang banyak, terbuka untuk melakukan sesuatu yang baik, terbuka untuk menjadi sebenar-benarnya manusia, dan ini yang lebih penting; terbuka pada bisikan Malaikat yang berupa hidayah (petunjuk Allah), rahmat (kasih sayang Allah), intuisi (ilmu yang diperoleh secara langsung tanpa proses belajar), dan ilham (ide cemerlang yang muncul secara tiba-tiba). Alangkah indahnya hidup, bila mampu memiliki semua itu dalam kenyataan.

  1. Menghidupkan Hati Nurani

Adapun cara menjaga, merawat dan menghidupkan hati ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Uraian berikut penjelasan lengkapnya.

Memperbanyak dzikir pada Allah. Alih-alih membuang waktu secara percuma, lebih baik berdzikir pada Allah; alhamdulillah (ungkapan syukur pada Allah), Subhanallah (Maha suci Allah), La ila ha illallah (mengesakan Allah), Allahu Akbar (mengagungkan Allah), Allah (hanya menyebut asma Allah), dan berdzikir asmaul husna yang 99. Dzikir di sini tidak sekadar membersihkan hati dan menenangkan jiwa, melainkan juga menghidupkan hati agar mampu membisikkan hal-hal yang sangat berguna dalam kehidupan manusia. Dalam berdzikir diusahakan untuk diungkapkan secara tulus, sebab ketulusan itulah yang mendekatkan hati dengan Allah.

Shalat lima waktu merupakan kewajiban yang harus dijalankan setiap Muslim. Karena suatu kewajiban, maka sebagian Muslim mengerjakan dengan terpaksa, sering melalaikan, malah ada yang “berani” meninggalkan shalat sama sekali. Shalat yang dijalankan secara terpaksa tidak bisa dijadikan sarana efektif untuk berbicara langsung dengan Allah, sebab tidak dijalankan dengan khusu’. Khusu’ di sini bermakna; setiap apa yang dibaca dalam shalat dipahami maknanya, dirasakan dalam tubuh, dan diresapi dalam hati. Memang untuk mencapainya dibutuhkan proses latihan terus menerus sampai benar-benar dikuasai. Peresapan bacaan shalat dalam hati, akan menghidupkan komunikasi dengan Allah, sebab saat shalat seakan-akan Allah benar-benar nampak di hadapan kita, atau paling tidak kita yakin bahwa Allah menyaksikan saat kita shalat.

Shalat sunnah banyak macamnya; sebelum atau sesudah shalat wajib, shalat Tahajjud, Dhuha, hajat dan lain-lain, tapi dalam kesempatan ini difokuskan pada shalat sunnah tahajjud, dhuha dan hajat dengan beberapa pertimbangan. Shalat tahajjud merupakan paling utamanya shalat sunnah, shalat tahajjud dalam kesunyian tengah malam akan memudahkan komunikasi dengan Allah lewat hati, bahkan dalam penelitian kedokteran terbukti shalat tahajjud sebagai terapi efektif mengobati penyakit saraf dan stroke. Shalat dhuha merupakan sarana bagi Muslim agar melakukan aktivitas dengan baik, waktu pelaksanaannya pagi hari sampai sebelum dhuhur. Shalat hajat dilaksanakan agar keinginan-keinginan mulia dikabulkan Allah. Ketiga shalat sunnah ini juga diyakini kalangan intelektual Muslim atau ulul albab, dapat membantu setiap orang berhasil dalam hidupnya. Ingat makna keberhasilan yang telah dimaknai dengan cara baru, bukan dalam konteks kapitalisme.

Puasa selama satu bulan penuh menjadi sarana pembersihan hati yang efektif, jika dilaksanakan dengan benar, dilakukan secara tulus, dan mengisi bulan puasa dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Puasa yang benar ialah melaksanakan puasa tidak sekadar menahan lapar dan haus, melainkan mengendalikan hawa nafsu, mengganti sifat-sifat buruk dalam diri dengan sifat-sifat yang baik, menjaga panca indera; mata, mulut, telinga, hidung dan tubuh dari hal-hal yang maksiat atau dilarang Islam. Ketulusan dalam berpuasa sangat penting, sebab yang mengetahui puasa seseorang hanya Allah semata, ini berarti puasa adalah sarana efektif mendekatkan diri pada Allah melalui hati nurani. Mengisi puasa dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat adalah upaya seseorang untuk meningkatkan kualitas puasa sampai taraf yang maksimal; berdzikir pada Allah, membaca buku, beri’tikaf di masjid, membaca Al-Qur’an, dan menghasilkan karya tulis. Alhamdulillah, penulisan buku ini sebagian ditulis pada bulan puasa.

Insya Allah, malam Lailatur Qodar yang lebih baik dari 1000 bulan, akan datang dengan sendirinya bagi orang-orang yang mampu melakukan hal-hal di atas.

Zakat fitrah dan harta bagi Muzakki atau orang yang mengeluarkan zakat dapat membersihkan harta sekaligus membersihkan hati nurani, sedang untuk penerima zakat, hal ini merupakan salah satu upaya umat Islam untuk melakukan keadilan ekonomi di muka bumi. Islam mengakui adanya perbedaan kelas sosial, tapi pengakuan itu disertai catatan yakni dengan berusaha menerapkan keadilan pada semua kelas sosial, salah satunya adalah melalui zakat. Itu berarti pengelolaan zakat secara profesional bisa membantu penerapan keadilan di atas dalam kenyataan hidup, ini dilakukan dengan dua cara yakni melalui pengelola zakat yang dapat dipercaya atau mengelola sendiri. Untuk mengelola sendiri yakni dengan cara; memberikan modal usaha pada orang-orang miskin, bukan memberikan dalam bentuk uang yang mudah digunakan untuk kebutuhan konsumtif, menanggung biaya pendidikan anak yatim piatu, memberikan buku-buku yang bermanfaat pada generasi muda Muslim yang tidak mampu, dan menyediakan pekerjaan yang layak.

Haji ialah puncak dari semua hal di atas. Haji bagi Mukmin sejati ialah sarana menyempurnakan hati nurani dan menyempurnakan diri sebagai manusia. Saat seseorang melaksanakan ibadah haji dapat membayangkan ketika Nabi Muhammad SAW yang keluar dari gua Hira’ setelah menerima surat pertama Al-Qur’an yakni 5 ayat surat Al-‘Alaq, yang mana merupakan pengangkatan resmi Allah sebagai utusanNYA, dan menjadi bukti kongkrit kesucian hati beliau. Waktu itu beliau berumur 40 tahun, hati nurani bersih dan suci, memiliki sifat-sifat yang mulia, senantiasa melakukan kebajikan, dan menjadi contoh manusia paripurna. Dengan itu semua, insya Allah seseorang akan menjadi haji yang mambrur atau diterima di sisi Allah. Selama ini umat Islam melaksanakan haji demi gengsi, prestise, kebanggaan, gelar Haji yang disematkan dalam diri, kerinduan pada Allah tanpa berupaya untuk mengaplikasikan perintah Allah dan menjauhi laranganNYA, dan demi kesenangan batiniah semata. Sehingga, ibadah haji yang merupakan puncak dari rukun Islam belum bisa membawa umat Islam pada Kejayaan Islam yang sesungguhnya.

Bagi yang tidak mampu berhaji tidak usah khawatir, asal shalat, puasa, zakat dan beriman dengan benar, dan melakukan segala sesuatu yang telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW, hakikatnya “telah haji” dengan makna berbeda. Artinya setiap Muslim harus berupaya menjadi muslim dan mukmin sejati, dari upaya yang maksimal itulah yang dinilai Allah, baik mampu melaksakan ibadah haji atau tidak.

Sarana menghidupkan hati lainnya adalah membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an. Anjuran membaca Al-Qur’an bukan semata demi pahala yang bentuknya diperoleh pada kehidupan setelah kematian, melainkan sarana paling efektif untuk berbicara dengan Allah. Ayat-ayat Al-Qur’an merupakan firman Allah yang penuh mukjizat, mempunyai kebenaran mutlak, dan bersifat abadi sepanjang kehidupan manusia masih ada.

Bagi orang-orang yang dididik di pesantren, memahami ayat-ayat Al-Qur’an tidaklah sulit, sebab pengetahuan bahasa Arab sudah diajarkan. Sedang bagi yang tidak memiliki pengetahuan bahasa Arab, bisa membaca terjemahannya, percayalah nilainya tidak akan jauh berbeda, sebab itu tergantung pada ketakwaan seseorang pada Allah. Bagaimana cara memperoleh sesuatu dari hasil membaca Al-Qur’an?

Ketika membaca ayat-ayat Al-Qur’an, makna yang dikandung berusaha diresapi dalam hati, diusahakan sampai hati bergetar dan air mata menetes di pipi tanpa disadari, ayat-ayat yang bisa dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari berusaha diamalkan, ayat-ayat yang memperkuat mental dilekatkan dalam jiwa, ayat-ayat yang memberi inspirasi dalam karya tulis, berusaha dituangkan dalam tulisan, ayat-ayat yang bisa memunculkan ide-ide cemerlang, dieksplorasi menggunakan pikiran untuk mampu menghasilkan wacana atau paradigma baru, ayat-ayat yang mengajak untuk peduli pada orang miskin, yatim piatu, orang tidak mampu, pengemis, dan orang-orang terpinggirkan lainnya berusaha diwujudkan dengan membantu mereka sesuai kemampuan yang dimiliki; bisa membantu dengan uang bantulah dengan uang, bisa membantu dengan harta bantulah dengan harta, bisa membantu dengan ilmu bantulah dengan ilmu, bisa membantu dengan mengajak pada kebaikan ajaklah pada kebaikan, ayat-ayat yang mengajak pada nilai-nilai kejujuran, kesabaran, kesederhanaan, istiqomah atau konsisten, disiplin, kerja keras, semangat pantang menyerah, motivasi, dan kerendah hatian, berusaha disinergikan dalam diri.

Suatu waktu, saya pernah mengalami rasa putus asa, sebab banyak membaca buku dan menghasilkan karya tulis, tidak satu pun tulisan dimuat media, sedang buku-buku yang dihasilkan tidak diterbitkan setelah bertahun-tahun berkarya. Dalam rasa hampir putus asa, saya membaca ayat Al-Qur’an yang berbunyi Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.” (QS Fushilaat 49). Saya tersentak mendengar ayat itu, sebuah kesadaran muncul dalam benak. Saya merenung lama tentang kegagalan demi kegagalan, akhirnya saya memahami; itulah cara Allah mendidik, memperkuat; mental, keislaman, keimanan dan ketakwaan saya. Dari itu, saya memutuskan untuk terus menulis asal bermanfaat. Pada akhirnya, buku-buku yang saya tulis terbit satu persatu.

Hati nurani juga harus sering diajak bicara tentang berbagai hal yang dialami seseorang, sebab jika hati sering didiamkan, maka hati akan “membisu” saat benar-benar dibutuhkan. Di samping itu, hati nurani juga membantu manusia mencapai impian dan cita-cita, tentu dengan bantuan potensi manusia lainnya. Petikan dialog dalam novel Sang Alkemis karya Paulo Qoelho berikut dapat dijadikan bahan perenungan.

“Maka kami, hati manusia, bicara makin pelan dan makin pelan. Kami tak pernah berhenti bicara, tapi kami mulai berharap perkataan kami tidak terdengar: kami tak ingin orang-orang menderita karena mereka tidak mengikuti suara hati mereka.”

“Mengapa hati manusia tidak menyuruh mereka terus mengejar impian-impian mereka? Tanya si anak pada sang alkemis.

“Sebab itu akan membuat hati sangat menderita, dan hati tidak suka menderita.”26

Berbekal semua itu, Anda akan mampu mendengarkan suara-suara hati nurani yang lebih merdu dari lagu paling merdu, lebih indah dari yang paling indah, lebih bermakna dari yang paling bermakna, intuisi akan hidup selalu, ide-ide yang baik mengalir seperti aliran sungai, dan hidup menuju ridha Allah.

  1. Kesadaran Berada di Jalan yang Benar
  2. Kesadaran

Freud membagi kehidupan jiwa menjadi tiga tingkat kesadaran: Kesadaran conscious; berisi semua hal yang kita cermati pada saat tertentu. Isi daerah kesadaran merupakan hasil proses penyaringan yang diatur stimulus atau cue-ekternal. Isi-isi kesadaran bertahan secara singkat di sana lalu pindah ke daerah percencius yakni tingkat kesadaran yang menjadi jembatan antara sadar dan tak sadar dan unconscious ketidaksadaran. Dalam perkembangan selanjutnya kesadaran dibagi ke dalam Ego, Id dan Super Ego. Ego (concius); berisi semua hal yang kita cermati pada saat tertentu, Isi-isi kesadaran bertahan secara singkat di sana lalu pindah ke daerah percencius dan uncecius. Id: Sistem kepribadian yang dibawa sejak lahir, ia beroprasi di wiliyah uncencius mewakili segala aspek yang tidak disadari sepanjang hayat. Super-Ego: kekuatan moral dan etik dari kepribadian yang beroperasi dengan prinsip idealistik, berkembang dari ego.27

Kesadaran bisa dimaknai sebagai sesuatu yang disadari manusia dalam melakukan sesuatu dalam hidupnya. Berhubung tidak setiap sesuatu disukai dan diinginkan manusia, maka manusia berusaha menekannya ke alam bawah sadar, alam bawah sadar yang menyimpan segala sesuatu yang berusaha dihindari dan dihilangkan menurut Frued sangat menentukan dalam kehidupan manusia, tapi kenyataan hidup mengajarkan bahwa antara kesadaran dan ketidaksadaran sama-sama penting dalam kehidupan manusia, ini bisa menjadi sintesis menarik.

Bisa jadi manusia bertingkah laku sesuai dengan yang diinginkan kesadaran dan bisa jadi pada kurun waktu tertentu justru bertingkah laku sesuai dengan bimbingan alam bawah sadar. Sebagai contoh; ada orang yang berusaha untuk bersikap sabar, ketika dia bersabar justru orang lain menganggapnya penakut, sehingga mereka melakukan segala cara untuk menghina, menjelek-jelekkan, dan memancing amarah, suatu saat orang itu tak kuasa lagi menahan kesabaran, sehingga dia melakukan tindakan buruk pada orang yang menganiaya dirinya dengan segala cara, tindakan buruk ini dilakukan lewat alam bawah sadar, sebab kesadarannya selalu berusaha untuk bersabar.

Konsep Id-Ego-Super-Ego berusaha diperbaiki Henry Murray. Id; gudang semua kecendrungan impulsif yang dibawa semenjak lahir, Id menguasai enerji dan mengarahkan tingkah laku, sehingga menjadi dasar kekuatan motivasi kepribadian. Makna Ego lebih luas dari yang dikemukan Freud; ego menjadi pusat pengatur semua tingkah laku, secara sadar merencanakan tingkah laku, mencari dan membuat peluang untuk memperoleh kepuasan Id yang positif. Super Ego terkristalisasi saat berusia 5 tahun tidak tepat, sebab superego berkembang terus menerus sepanjang hayat merefleksi pengalaman manusia yang dewasa semakin kompleks dan canggih.28

Erik H. Erikson secara spesifik memperbaiki konsep Ego dengan istilah ego kreatif; kemauan berjuang aktif (otonomi), membantu diri menangani dunianya, lingkungan bukan semata-mata menghambat dan menghukum seseorang seperrti klaim Freud, tapi mendorong dan membantu individu. Sejumlah kualitas yang dimiliki ego kreatif; kepercayaan dan penghargaan, otonomi dan kemauan, kerajinan dan kompetensi, identitas dan kesetiaan, keakraban dan cinta, generativitas dan pemeliharaan, serta integritas.

“…Ego yang sempurna, digambarkan Erikson memiliki tiga dimensi; faktualitas, universalitas, dan aktualitas:

  1. Faktualitas: kumpulan data, fakta, dan metode yang dapat diverivikasi dengan metode kerja yang sedang berlaku. Ego berisi kumpulan data dan fakta dari hasil interaksi dengan lingkungan.
  2. Universalitas: kesadaran akan kenyataan (sens of reality) yang menggabungkan hal-hal yang praktis dan kongkrit dengan pandangan semesta
  3. Aktualitas: cara baru berhubungan yang satu dengan lainnya, memperkuat hubungan untuk mencapai tujuan bersama. Ego adalah realitas kekinian, yang terus menerus mengembangkan cara baru dalam memecahkan masalah kehidupan, menjadi lebih efektif, prospektif dan progesif.”29

Beberapa pandangan tentang kesadaran di atas, diharapkan membuat Anda mengetahui maknanya dari berbagai macam sudut pandang. Tidak perlu terpaku pada suatu pendapat yang dianggap benar, melainkan senantiasa berusaha mencari makna-makna baru dari kesadaran agar manusia mampu bersikap dengan benar. Di samping itu, pengetahuan manusia tentang kesadaran terus berkembang sampai detik ini, maka mencari dan menemukan pandangan baru yang benar-benar mewakili kesadaran menjadi tanggung jawab otodidaktor dalam menggali ilmu pengetahuan.

  1. Kesadaran dan Tingkah Laku

Allah berfirman; “Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (QS Al-Baqarah 11-12). Dalam tafsir Ibnu Katsir ayat ini ditujukan untuk orang munafik, Ibnu Jabir berkata; “Orang munafik merusak diatas (sic) bumi karena maksiat dan pelanggaran mereka terhadap larangan Allah serta mengabaikan perintah Allah dan ragu terhadap ajaran agama yang mengharuskan percaya dan yakin, juga mereka membantu pada orang-orang yang mendustakan ajaran Allah dan Rasulullah saw. Dan orang-orang munafik itu selalu merasa bahwa perbuatan kejahatan mereka itu sebagai sebagai perbaikan dan kebaikan.”30

Dalam ayat ini, diuraikan tentang klaim orang-orang tertentu yang senantiasa menggembar-gemborkan bahwa dirinya berusaha untuk memperbaiki kehidupan, padahal yang dilakukan adalah kejahatan demi kejahatan yang dibungkus dengan sangat rapi dalam bahasa eufemisme yang bermacam-macam. Menilik kenyataan hidup sekarang, di samping hal ini masih dilakukan orang-orang munafik di kalangan umat Islam, ini juga mirip dengan yang dilakukan Barat.

Barat senantiasa mengajak bangsa-bangsa lain untuk bersikap toleran, pluralis, menjunjung tinggi hak asasi manusia, demokrasi, memperbaiki ekologi dunia, dan semboyan-semboyan lainnya. Sayangnya apa yang mereka lakukan bertentangan dengan semua klaimnya; bukan bersikap toleran, tapi mereka melakukan segala acara agar orang lain hidup seperti mereka, bukannya menjujung tinggi pluralitas, malah berusaha sekuat tenaga agar “Islam” tak dianggap di bumi dengan mengaitkannya pada kekerasan, pemboman dan terorisme, bukannya menjujung tinggi hak asasi manusia, malah menginjak-injaknya demi alasan yang dibuat-buat, bukan mendukung pemerintahan yang demokratis, malah akan menggulingkannya jika tidak mematuhi mereka seperti yang terjadi di Aljazair, bukannya membuat dunia lebih enak didiami dengan perbaikan ekologi, malah berusaha menghancurkannnya dengan menciptakan nuklir dan senjata-senjata kimia yang bisa merusak alam.

Ini dibuktikan Michael R. LeGault “…. Budaya negara adidaya adalah budaya yang angkuh, gemar mendesak, kuat, fisikal, dan disibukkan oleh perdagangan dan pertukaran barang serta upaya melindungi kerajaan mereka dari serangan musuh (atau di masa sekarang ini, teroris). Negara adidaya selalu terpesona akan dirinya sendiri; bangsa Romawi kuno sepertinya berhasil menciptakan budaya selebritas dan berbagai penyerapannya pada kesuksesan dan kekuasaan. Prinsip dasarnya seperti ini: pengaruh budaya dan politik dari sebuah kekuatan imperealis pada bangsa lain selalu melebihi pengaruh bangsa lain kepadanya. Berbagai ketimpangan yang timbul sebagiannya disebabkan oleh berbagai konsekuensi yang dimiliki kekuasaan, bukan kebodohan. Dibatasi oleh samudera di sisi Barat dan Timur wilayahnya, AS juga secara geografis terisolir dari pengaruh budaya, bahasa, dan masyarakat asing.”31

Jika dalam Al-Qur’an yang disindir adalah orang-orang yang berbuat kerusakan dengan tidak menyadari apa yang dilakukan, Barat justru memanfaatkan seluruh kesadarannya untuk melakukan “ketidaksadaran kolektif” terhadap budaya lain, sehingga budaya lain berada dalam keadaan inferior, lemah, tak berdaya dan boneka yang bisa dimainkan. Kesadaran dimanipulasi bukan untuk menciptakan kebaikan, tapi menciptakan kerusakan demi kerusakan, padahal untuk memperbaikinya butuh proses waktu yang sangat lama.

Sebagian besar umat Islam di muka bumi, selalu menganggap silau apa yang dicapai Barat, padahal yang mereka silaukan tidak lebih adalah upaya pemanfaatan umat Islam untuk senantiasa tergantung pada mereka. Umat Islam secepatnya menyadari hal ini. Salah satu caranya adalah dengan berpedoman pada firman Allah “Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.” QS Al-Imran 178.

Orang-orang yang dikagumi, ditiru dan diadaptasi umat Islam tiada lain adalah orang-orang yang dibiarkan Allah untuk berbuat sesuka hati di muka bumi, tapi kelak Allah akan menyediakan siksa yang paling pedih bagi mereka. Untuk itu, tidak setiap hal ditiru dari Barat, melainkan harus berupaya menciptakan kreasi sendiri, tentu dengan cara melakukan pembacaan yang kreatif terhadap kebudayaan Barat. Jadi kebudayaan Barat sekedar dijadikan “bahan” untuk “kreasi” yang akan dibuat. Di samping itu, sebenarnya Barat telah melakukan proses ketidaksadaran terhadap umat Islam, hal ini dilakukan selama berabad-abad, agar mereka tidak dapat mampu bangkit, apalagi mampu menandingi Barat.

Menurut Carl Gustav Jung, ego yang menyaring semua pengalaman manusia, pengalaman yang tidak disetujui ego tersimpan dalam alam tak sadar pribadi personal unconceus sehingga isinya adalah pengalaman yang berusaha dilupakan, ditekan, dan yang gagal menimbulkan kesan sadar. Di dalam tak sadar pribadi, sekelompok ide (perasaan-perasaaan, pikiran-pikiran, persepsi-persepsi, ingatan-ingatan), bisa mengoraganisir menjadi satu, sehingga menimbulkan penyakit lebih dikenal dengan sebutan kompleks. Salah satu penyebabnya adalah tak sadar kolektif (unconceus collektife) evolusi manusia tidak hanya memberi cetak biru tubuh tetapi juga kepribadian, tak sadar kolektif adalah gudang ingatan laten yang yang diwariskan leluhur.32

Umat Islam kini berada dalam keadaan Kompleks tanpa mampu menemukan obat tersebut. Sebenarnya obat dari penyakit ini ialah berusaha untuk terus menerus belajar agar kesadaran yang “dikacaukan” bisa diperbaiki sedikit demi sedikit, lalu menumbuhkan kesadaran baru yang tercerahkan dengan cahaya Al-Qur’an, Sunnah dan bimbingan hati nurani, kesadaran baru diwujudkan dalam bentuk tingkah laku yang mampu menjadi filter terhadap serangan “ketidaksadaran” yang datang dari luar, dan sekaligus melahirkan tingkah laku mulia yang mampu memberikan kemaslahatan pada sesama umat Islam, sesama manusia, dan seluruh semesta. Inilah pentingnya BO seumur hidup.

  1. Beberapa Etika Al-Qur’an

Anda harus mampu menggali nilai-nilai moral dari Al-Qur’an, Sunnah dan hati nurani. Untuk itu, konsep Al-Qur’an tentang etika sangat penting agar bisa bersikap benar.

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah 177).

“Ayat ini mengandung garis-garis besar, dan kaidah yang sangat dalam dan aqidah yang lurus, ketika Allah menyuruh kaum mukminin pada awal pertamanya menghadap kiblat Baitul Maqdis, kemudian mengalihkan mereka ke Ka’bah, terasa berat bagi sebagian orang ahli kitab dan sebagian kamu muslimin, maka Allah menurunkan hikmatnya bahwa pengertian ibadat dan bakti ialah taat dan patuh kepada Allah, menurut perintahNya dan menghadap ke arah mana saja yang diperintahkan oleh Allah, dan mengikuti apa yang disyariatkan Allah itulah albirr (bakti) dan bertakwa atau iman yang sempurna, dan bukannya sekadar menghadap ke timur atau barat, jika tidak melalui perintah Allah dan syariatNya.”33

Ayat di atas menjelaskan fondasi utama dari etika Islam yakni: pertama; memperkuat keimanan pada Allah dan hari kemudian, beriman pada malaikat-malaikat, kitab-kitab yang diturunkan Allah pada umat manusia; Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur’an yang asli tanpa perubahan (berhubung hanya Al-Qur’an yang asli, maka beriman pada Al-Qur’an sudah cukup memadai), beriman pada para Nabi (minimal 25 di antaranya yang disebutkan dalam Al-Qur’an), dan beriman pada qadha’ dan qodar (keterangan tentang hal ini dalam ayat berbeda), kedua; menjalankan syariat Islam secara sukarela; shahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji jika mampu, mencari rizki dengan cara yang halal dan memakan harta yang halal pula, ketiga; berbuat baik atau menyedekahkan harta pada keluarga yang membutuhkan, anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang yang melakukan perjalanan di jalan Allah dan butuh pertolongan, dan membantu orang lain agar merdeka dari kebodohan, menepati janji yang diungkap pada Allah atau orang lain, baik secara langsung atau bernadzar di dalam hati, bersabar dalam segala kondisi; kaya atau miskin, gembira atau sedih, tenang atau kacau, dan damai atau perang.

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS An-Nahl 90) Ayat ini jelas mengajak agar Anda mau melakukan tindakan-tindakan yang terpuji dan bersikap adil; tindakan terpuji diwujudkan dalam sikap peduli pada keadaan lingkungan sekitar, makanya ini dikaitkan dengan konsep keadilan, sebab kepedulian pada keadaan sekitar akan mampu melahirkan keadilan. Memberi pada kerabat diwujudkan dalam hal-hal yang bisa membantu mereka keluar dari kesulitan yang dihadapi, membantu sesuai kemampuan dan memberikan kehidupan yang tentram dengan tidak bertengkar terhadap mereka. Anda tidak hanya melakukan kebajikan, keadilan dan membantu kerabat, melainkan juga dituntut untuk menghindarkan diri dari sikap-sikap yang mengarahkan Anda untuk melakukan tindakan-tindakan yang keliru, sekaligus menjauhkan diri dari sikap permusuhan dengan orang lain. Semua itu bisa dilakukan dengan terus menerus mempelajari segala sesuatu secara seksama, dengan proses pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari, seseorang akan mampu memperoleh pelajaran darinya.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS Al-Hujuraat 11) Budaya gosip yang berusaha menjelekkan orang atau kelompok lain berusaha dihindari, baik sesama muslim atau dengan non muslim, sebab itu akan menimbulkan sesuatu yang tidak diinginkan. Dari pada bergosip, lebih baik mengisi waktu dengan melakukan sesuatu yang bermanfaat. Menyalahkan diri sendiri atas segala sesuatu yang terjadi pada diri dan orang lain adalah sebuah kekeliruan, sebab dengan terus menerus menyalahkan diri sendiri, akan membuat diri menjadi lemah, sepi dan terkurung oleh penjara yang diciptakannya sendiri. Ini dilanjutkan dengan berusaha untuk tidak menyebut orang lain dengan julukan tertentu yang tidak disenanginya, sebab akan menyakiti hati mereka, meskipun hal ini “dibungkus” dengan lawakan.

“Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan” (QS Al-Mu’minuun 96). Pelajaran etika ini sangat bernilai sekali, membalas tindakan buruk orang lain dengan kebaikan, malah dianjurkan melakukan sesuatu yang lebih baik. Membalas keburukan dengan kebaikan, butuh kesadaran mental, rohani yang kuat dan hati nurani, sebab hakikatnya manusia cendrung membalas keburukan dengan keburukan. Melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kebiasaan ini, dapat dilakukan melalui proses latihan dalam kehidupan sehari-hari. Jika orang lain berusaha berbuat jahat, berusahalah untuk tersenyum dan mendoakan supaya menyadari yang dilakukan. Orang itu masih tetap berusaha berbuat jahat, berusahalah untuk memberikan sesuatu pada mereka tanpa pamrih apa pun. Masih tetap, berusahalah untuk bersilaturahmi untuk memberikan pengertian. Masih tetap, pasrahkan pada Allah dan tidak perlu takut terhadap mereka, sebab pelindung kita adalah Allah, Allah pasti akan melindungi, baik disadari atau tidak. Kenyataan ini didukung firman Allah “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS Ali Imran 159)

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Hujuraat 12). Anda harus berupaya untuk memperbanyak husnud dzan atau sikap positif, bukan memperbanyak su’ud dzan atau buruk sangka pada orang lain, sebab buruk sangka yang ditanam terus menerus akan melahirkan prilaku yang menggiring Anda untuk melakukan kesalahan demi kesalahan, baik disadari atau tidak. Salah satu caranya adalah tidak berusaha mencari-cari kesalahan orang lain, melainkan berusaha mengingat kebaikan-kebaikan yang dilakukannya, dan tidak membicarakan kejelekan orang lain. Untuk menghapus kesalahan-kesalahan yang dilakukan selama ini, tiada jalan lain kecuali bertobat atas tindakan-tindakan yang dilakukan selama ini, dalam bertaubat diiringi dengan upaya untuk meningkatkan ketakwaan pada Allah; baik dengan ibadah spritual, sosial, maupun menyebarkan kebaikan di muka bumi.

Allah berfirman: “Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari jenis kalian. Berat terasa olehnya beban yang menimpa kalian, sangat menginginkan kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS At Taubah 128). Kehadiran Nabi Muhammad sebagai utusan Allah bagi seluruh umat manusia, bukan hanya bagi orang Arab saja, dan beliau berasal dari manusia biasa bukan Malaikat. Karakter utama beliau yakni dibagi dalam tiga bagian. ‘Azizun Alaihi ma ‘Anittum (berat terasa olehnya beban yang menimpa kalian). Beliau mengkhawatirkan umat Islam ditimpa sesuatu yang buruk dan mendapat adzab Allah. Itu berarti benar-benar merasakan penderitaan yang dialami umat Islam dalam kehidupan dunia dan akhirat. Ini ditunjukkan dengan berulangkali beliau memohon pada Allah agar umat Islam bisa memperoleh ampunan dan syafa’at. Beruntunglah umat Islam, Allah mendengarkan doa nabi Muhammad. Harishun ‘alaikum (sangat menginginkan kalian). Al-Hirshu artinya permintaan sesuatu dengan sangat dibarengi dengan pengupayaannya, sebagaimana yang dikatakan dalam tafsir Al-Haddadi itu berarti beliau menginginkan dan mengupayakan agar umat Islam senantiasa menjaga keimanan dan memperkuatnya dengan keyakinan yang tidak goyah oleh apa pun jua. Bil Mu’minina ra-ufur rahim (amat belas kasihan dan penyayang pada kaum Mu’minin), Beliau juga sangat sayang sekali pada orang mukmin, sedang orang kafir tidak disayangi dan disantuni, bentuk kasih sayang tidak hanya diucapkan dengan kata-kata, melainkan diwujudkan dalam tindakan. Ini menunjukkan supaya Anda mau meneladani kehidupan nabi Muhammad dalam tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari, sebab “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS Al-Qalam 4) Jika kita pernah melihat secara langsung orang yang benar-benar baik, maka Nabi Muhammad lebih baik dari orang-orang yang terbaik sekali pun.

Sebagian ahli hikmat berkata: “Sungguh Allah swt. (sic) menciptakan ruh Muhammad, Dia menciptakan untuk Muhammad, bentuk ruhaniah sebagaimana keadaannya di dunia. Kemudian Allah swt. menjadikan bagian kepalanya dari berkah, kedua matanya terbuat dari malu, kedua bibirnya dari tasbih, wajahnya dari ridha, dadanya dari ikhlas, kalbunya dari rahmat, fuadnya dari penyantunan, kedua telapak tangannya dari kedermawanan, rambutnya dari tumbuhan surga, ludahnya dari madu surga. Betapa hebatnya, beliau pernah mengubah sungai yang airnya asin, menjadi tawar. Setelah Allah swt. menyempurnakan Nabi saw dengan sifat-sifat ini, maka Allah swt. mengutusnya kepada umat ini.”34

Untuk senantiasa berakhlak mulia, tiada lain kecuali senantiasa mengingat kehidupan setelah kematian yakni kehidupan akhirat yang menawarkan kehidupan hakiki pada manusia. Selalu mengingat kematian yang berarti mengingat akhirat akan membawa seseorang berusaha untuk selalu berbuat baik. “Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.” (QS: Shaad 46)

Kaitan antara etika Islam dengan peoses belajar adalah umat Islam dituntut mampu membaca keadaan, buku, kenyataan, dan informasi dengan benar. Sebab semua itu bisa mempengaruhi tingkah laku. Manakala Anda mendapatkan informasi atau pengetahuan, maka “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS: Al-Hujuraat 6) Memeriksa yang teliti dalam ilmu pengetahuan disebut observasi. Observasi secara teliti terhadap objek yang dijadikan bahan penelitian, dapat melahirkan tingkah laku yang disertai dengan ilmu.

Berbekal semua itu, lantas Anda berupaya untuk menjadi muslim dan mukmin sejati, tapi dengan tetap mengingat bahwa hal itu dilakukan bukan demi kepentingan Allah, melainkan demi kebaikan manusia itu sendiri. “Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: “Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.” Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS: Al-Hujuraat 17-18) Selama ini umat Islam merasa bahwa segala anugerah, petunjuk, rahmat, karunia, mukjizat, ilmu dan hikmah yang diajarkan Allah pada mereka dianggap untuk kepentingan Allah, padahal justru itu sangat bermanfaat untuk diri mereka sendiri. Jadi, saat Anda menjalankan syariat secara sukarela, beriman secara hakiki, melakuakan amal sholeh, berbuat baik, dan semua tindakan mulia lainnya, hakikatnya itu akan kembali pada Anda sendiri, baik dalam kehidupan dunia, atau pun kehidupan akhirat kelak.

Apa yang disebutkan tentang etika Al-Qur’an di atas, mungkin tidak mewakili keseluruhan dari etika Islam, paling tidak beberapa di antaranya yang berusaha diyakini dalam hati, diteguhkan dalam pelaksanaan ibadah spritual dan diwujudkan dalam tingkah laku sehari-hari.

  1. Muara Etika Al-Qur’an

“Demikianlah Kami mengulang-ulangi ayat-ayat Kami supaya (orang-orang yang beriman mendapat petunjuk) dan supaya orang-orang musyrik mengatakan: “Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu (dari Ahli Kitab)”, dan supaya Kami menjelaskan Al Quran itu kepada orang-orang yang mengetahui.” (QS: Al-An ‘Aam 105) Dalam ayat ini jelas disebutkan bahwa banyaknya pengulangan dalam Al-Qur’an agar Anda memiliki pengetahuan. Kata kunci pertama dari muara etika Islam ialah mengetahui. Mengetahui sesuatu bisa dilakukan lewat proses belajar. Itu berarti BO yang Anda lakukan bertujuan untuk memiliki pengetahuan yang dalam terhadap apa yang dipelajarinya.

“…Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS: An-Nuur 31) Manusia harus bertobat setiap kali berbuat kesalahan, dalam bertobat tidak berusaha mengulang kesalahan yang sama, sehingga sampai pada muara etika yang kedua yakni menjadi orang yang beruntung. Selama ini Anda mencari cara, berusaha sekuat tenaga, bekerja keras, dan mengerahkan segala kemampuan yang dimiliki mencapai hasil maksimal, tapi sayang hasil yang diperoleh kurang memuaskan. Ini menunjukkan keberuntungan dibutuhkan setiap orang, sehingga berhasil dalam melakukan interaksi sosial, berhasil mengarungi kehidupan dunia, dan berhasil di akhirat kelak. Keberuntungan dapat diperoleh dengan berpegang teguh pada etika Islam, yakni nilai-nilai kebaikan yang diajarkan Allah pada manusia, sehingga manusia bisa mencapai hal-hal yang disebutkan sebelumnya. Ingat! Beruntung di sini jangan dipersempit dengan harta atau uang, melainkan beruntung dalam makna yang luas.

“… Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (QS: Al-Baqarah 187). Muara ketiga dari etika Islam ialah agar manusia bertakwa. Makna takwa sesuai keterangan Alqur’an dalam beberapa ayat berbeda ialah takut hanya pada Allah, memelihara diri untuk tidak berbuat kesalahan dan dosa, pemaaf, bersikap adil, berbuat baik, tolong menolong dalam kebajikan, dermawan, mengikuti perintah-perintah Allah, dan menjauhi segala larangan-laranganNya. Dengan bertakwa secara hakiki ini, bisa menjadi yang sebaik-baik manusia di hadapan Allah; semua manusia sama di hadapanNya, kecuali yang paling bertakwa. Dengan bertakwa, manusia menjadi sebenar-benarnya manusia yang berusaha menjadi paripurna. Dengan bertakwa manusia mampu mengatasi berbagai macam problematika hidup.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS: Ali Imran 103). Maksud “habl” atau tali dalam ayat di atas bermakna; “Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah tali Allah yang kokoh, cahaya yang menerangkan, obat penyembuh yang berguna, pelindung bagi yang berpegang kepadanya dan aman bagi yang mengikutinya,” hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Ibnu Mardaweh dan Abdullah.35 Muara keempat dari etika Al-Qur’an ialah agar manusia mendapat petunjuk. Petunjuk di sini bukan seperti menunjukkan jalan yang tepat pada seseorang yang kesasar, melainkan petunjuk dalam makna “hidayah”. Hidayah Allah tidak diberikan pada sembarang orang, melainkan diberikan pada orang-orang tertentu yang memenuhi syarat-syarat tertentu. Salah satu syarat utama untuk mendapatkan hidayah Allah ialah menjalankan kehidupan sehari-hari dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan menjaga persatuan sesama umat Islam, sebab dengan terpecah belah umat Islam menjadi lemah dan tidak berdaya seperti yang dialami umat Islam Indonesia.

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS: Luqman: 12) Muara etika Islam selanjutnya ialah bersyukur pada Allah dan berterima kasih pada orang-orang yang berjasa, membantu, dan mendidik kita sehingga menjadi seperti sekarang ini. Dengan mensyukuri segala nikmat, rahmat, hidayah dan karunia Allah, manusia akan bisa bersikap apa adanya terhadap apa pun yang dialaminya. Sikap ini sangat penting supaya manusia menjalani kehidupan dengan baik dan tidak berusaha mencari kesalahan-kesalahan orang lain, apa lagi mau menyalahkan Allah. Wujud syukur pada Allah yang paling mudah bersujud syukur setiap kali mendapat rizki, rahmat, hidayah, ilham dan ilmu. Sedang berterima kasih pada sesama dalam rangka menjaga keharmonisan hubungan sosial dan menciptakan lingkungan yang nyaman bagi semua orang. Jadi, syukur dalam makna luas adalah menempatkan sesuatu sesuai proporsinya.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS: A-Baqarah 186) Muara etika yang terakhir adalah agar manusia senantiasa berbuat kebenaran. Kebenaran adalah suatu norma yang amat sulit bagi seseorang, sebab makna kebenaran bisa berbeda antara yang terima setiap orang. Meski demikian, setiap orang bisa senantiasa berbuat kebenaran jika niat ditujukan untuk sesuatu yang baik, dicari cara yang benar untuk mewujudkan niat, dilaksanakan dengan tingkah laku yang benar, dan tujuan yang ingin dicapai ialah kebenaran. Berapa banyak orang yang ingin berbuat kebenaran justru terjebak dalam kesalahan, itu karena mereka gagal dalam salah satu bagian di atas, atau belum sampai dalam taraf selalu berada dalam kebenaran. Untuk itu, mari kita berpegang teguh pada etika Al-Qur’an agar selalu berada dalam kebenaran.

Hidup dipenuhi dengan kabaikan, amal sholeh, niat tulus yang diwujudkan dengan sikap tulus, berusaha menjadi orang yang bermanfaat sesuai kemampuan diri, tiada hari tanpa upaya untuk membantu orang, tiada waktu untuk; menyakiti, membicarakan kejelekan orang, menghina, memfitnah, dan mendiskreditkan orang lain, dan senantiasa bertawakkal pada Allah apa pun yang diterima dan dihadapi.

Jadi, muara etika Islam ialah mengetahui, beruntung, bertakwa, mendapat hidayah, bersyukur dan selalu berada dalam kebenaran. Jika Anda mampu mencapai semua itu, insya Allah akan mencapai kebahagian hidup di dunia dan akhirat, menjadi manusia yang berusaha paripurna, dan menatap kematian dengan senyum dikulum. Semoga kita semua bisa mencapai itu semua. Amin!

  1. Tubuh adalah Wadah Segala Potensi
  2. Tubuh

“Apa yang disebut tubuh? Kita tidak bisa mendifinisikannya dengan mengatakan bahwa ia merupakan suatu medan daya, sesuatu media yang diperebutkan oleh berbagai macam daya. Karena di sini tidak ada “media”, tidak ada mendan daya, atau pun perang. Tidak ada kuantitas realita, karena semua realita adalah kuantitas atas daya dalam “hubungan ketegangan” bersama (VP 373/WP 635). Setiap daya berhubungan dengan yang lain dan daya tersebut bisa merupakan daya yang menguasai atau dikuasai. Apa yang menentukan suatu tubuh adalah hubungan antara daya yang dikuasai dan yang menguasai. Semua hubungan daya membentuk suatu tubuh – baik itu secara kimiawi, biologis, sosial, atau politik. Apabila ada dua daya yang tidak sama masuk ke dalam hubungan seperti ini maka akan terbentuk suatu tubuh. Inilah mengapa tubuh selalu merupakan buah kemungkinan, dalam pandangan Nietsche, dan tampak sebagai sesuatu yang “menakjubkan”, jauh lebih menakjubkan dibandingkan dengan kesadaran dan semangat…”36

Pernyataan di atas menunjukkan tidak ada definisi yang benar tentang tubuh, sebab berkenanaan dengan kompleksitas kerjanya yang sangat rumit, bahkan dalam bidang kedokteran pun yang sering berurusan dengan tubuh manusia, definisi pasti belum ditemukan.

Namun demikian, dalam konteks buku ini, tubuh diartikan sebagai organ yang menampung semua potensi manusia; pikiran, imajinasi, perasaan, kesadaran dan hati. Sebagai sesuatu yang mewadahi semua potensi manusia, maka peran tubuh sangat penting sekali, sama pentingnya dengan pikiran, imajinasi, perasaan dan hati nurani. Malah bisa jadi lebih penting, sebab pemfungsian potensi-potensi tersebut tidak dapat dilakukan tanpa adanya tubuh.

Menjaga agar tubuh selalu terjaga dengan baik adalah suatu keharusan. Sebagai ilustrasi, dalam sistem belajar cepat ditemukan kenyataan bahwa banyak pelajar yang mampu belajar dengan cepat setelah guru mampu mensinergikan antara gerakan fisik dengan belajar. Ini menunjukkan bahwa antara pikiran dan tubuh berjalan seiring.

Optimalisasi tubuh dalam abad 21 ini sudah menjadi komoditi yang mampu menghasilkan uang, baik lewat fashion atau gaya berpakaian, dunia hiburan, dan olah raga. Banyak orang yang berhasil di bidang semua itu, dan mereka juga bisa mempengaruhi dunia dan masyarakat luas, seperti Paris Hilton, Lionel Messi, dan Ronaldinho, meski pengaruh yang dihasilkan lebih banyak bersifat negatif. Umat Islam harus memasuki bidang-bidang itu, dengan berusaha menawarkan paradigma baru yang berkesesuaian dengan nilai-nilai Islam.

Jika pikiran, perasaan, imajinasi dan hati nurani butuh latihan-latihan khusus agar bisa dimanfaatkan sebaik mungkin, maka tubuh juga harus mendapatkan yang terbaik. Perwujudannya adalah dengan makan teratur, bergizi baik, minum secukupnya, mengatur istirahat, dan rutin olahraga.

Masalah makan dalam masa sekarang bukan sesuatu yang sepele atau dianggap “tabu” seperti dalam dunia sastra lama Indonesia, melainkan sesuatu yang penting dalam kehidupan manusia. Secara normal orang makan tiga kali sehari dengan pengaturan tertentu, meski ada sebagian orang yang makan dua kali sehari. Dalam tradisi masyarakat Indonesia, makan nasi menjadi kebiasaan dengan lauk pauk yang bermacam-macam, supaya lebih sehat ditambah buah-buahan dan susu. Meremehkan makan akan menimbulkan penyakit yang tentu berakibat pada kreativitas dan produktivitas manusia. Sesuatu yang menarik masalah makan ini ialah kenikmatan makan, bukan apa yang dimakan. Antara makan di restoran mewah sama nikmatnya dengan makan di pinggir jalan, padahal harga, jenis, mutu dan penyajian berbeda. Di sinilah letak keadilan Allah.

Mengatur istirahat yang cukup setiap hari diperlukan supaya seluruh organ dan potensi manusia memiliki saat yang cukup untuk menenangkan diri. Dalam masa istirahat, otak Beta dan Delta berfungsi, imajinasi bermain-main dalam ruang mimpi, di antara beberapa mimpi ada yang bisa dijadikan ilham dan sumber ide, ada yang bisa dijadikan sarana membantu pemecahan masalah, ada yang merupakan tanda-tanda tertentu menyangkut kehidupan di masa pendatang. Maka, mencatat mimpi yang berkesan dan bermakna harus dilakukan demi alasan-alasan di atas. Pembacaan terhadap mimpi dilakukan pikiran, meminta perasaan menyelami berbagai kemungkinan, dan mendengar suara-suara hati nurani tentang mimpi yang dialami.

Olah raga setiap hari minimal 15 menit agar sirkulasi darah lancar, pengeluaran keringat, pernafasan menjadi teratur, pengahancuran lemak negatif, dan menggerakkan seluruh organ yang ada dalam tubuh. Olah raga dilakukan dengan jalan kaki, jalan-jalan di tempat, berlari-lari kecil, menggerakkan tubuh dengan irama atau tanpa irama, dan hal-hal lainnya yang tidak perlu mengeluarkan sejumlah uang yang besar untuk membeli alat-alat fitnes. Pada hari libur bisa berolah raga lebih lama sambil menikmati suasana sekitar.

  1. Wadah Bukan Sekadar Wadah

Tubuh dalam penjelasan sebelumnya dimaknai sebagai wadah dari segala potensi manusia, namun ada pandangan lain yang menyatakan bahwa kesadaran yang menjadi sesuatu yang penting dalam kehidupan manusia berfungsi dalam tubuh. “…Roger Poole membenarkan pendapat ini: ‘kesadaran tidaklah “murni”, melainkan ada dalam sebuah membran daging dan darah’; ini menunjukkan bahwa ‘tubuh sebenarnya menghidupkan dunia, dan dengan demikian memproyeksikan nilai-nilai “tubuh” di atas dunia’ (Poole, 1990: 264-265).”37 Dari penjelaan Poole nampak bahwa tubuh tidak sekedar merupakan wadah dalam makna pasif, melainkan bersama dengan kesadaran turut membantu manusia untuk mewarnai kehidupan di dunia, mengisi kehidupan, dan turut memberikan sumbangsih pada pemberian nilai-nilai terhadap dunia.

Bahkan dalam proses mendapatkan pengetahuan peran tubuh sangat signifikan sekali, seperti yang dinyatakan Dani Cavallaro “Dalam menilai peran yang dimainkan oleh tubuh dalam mendapatkan pengetahuan, sebuah pembedaan harus ditarik antara skema tubuh (body schema) yang merujuk pada sebuah penyesuaian diri yang instinktif dan nonsadar terhadap lingkungan seseorang, dan citra tubuh (body image) yang mengacu pada tindakan-tindakan badaniah yang ditampilkan secara sengaja dan sadar…”38 Jadi dalam konteks skema tubuh; proses alam bawah sadar manusia dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan, sedang body image mengacu pada segala sesuatu yang dilakukan seseorang secara sadar. Karena dilakukan secara sadar, maka body image menjadi salah satu pengarah manusia untuk mencari dan menemukan pengetahuan.

Mau dibentuk seperti apa pun, dan dijaga menggunakan alat-alat tercanggih pun, setiap tubuh akan mengalami proses kematian. Dalam kematian wujud tubuh menjadi hancur dimakan rayap atau binatang-benatang tanah lainnya. Menurut Dani Carvallo “…Ia tak punya bentuk atau makna definitif. Karena itu, ia bertindak untuk mengingatkan kita bahwa hidup adalah struktur yang kompleks yang tak bisa diperkecil lagi menjadi sebuah keseluruhan organis, dan bahwa semua makhluk hidup yang diwujudkan lahir, tumbuh dan binasa dengan bergaul sepanjang waktu dengan tubuh yang mulai tumbuh, berkembang atau mati.”39

  1. Antara Tubuh dengan Jiwa

Ada beberapa pendapat tentang keterkaitan tubuh dengan jiwa; ada pendapat yang menyatakan tubuh terpisah dari jiwa, ada pendapat yang menyatakan bahwa tubuh menyatu dengan jiwa, ada pendapat yang menyatakan bahwa tubuh dan jiwa bersatu di dalam kehidupan dunia dan akan berpisah dalam kematian.

Pendapat terakhir adalah hasil pemikiran saya pribadi sebagai sintesis antara dua pendapat yang berbeda. Selama manusia menjalani hidup di dunia ini dengan segala macam kompleksitas hidup, hakikatnya antara keduanya menyatu dalam diri manusia. Berhubung keduanya menyatu, maka tidak dapat dipisahkan antara tubuh dengan jiwa. Sebagai bukti, kaki menginjak paku, secara otomatis perasaan mengatakan “aduuuh!” pada saat yang sama jiwa merasakan rasa sakit itu, sehingga seluruh yang ada dalam tubuh mengalami hal yang sama. Bukti kedua adalah kematian manusia; manusia mati dan dikuburkan. Sesuatu yang jelas-jelas di kubur adalah tubuh, kemanakah jiwa? Dalam hal ini mau tidak mau kita harus memahami pandangan Islam yakni; setelah kematian jiwa terbisah dari badan, lalu jiwa menghadapi Malaikat yang mengajukan beberapa pertanyaan menyangkut keyakinan, kepercayaan, tingkah laku, dan hal lainnya, baru ditentukan arah “kehidupan selanjutnya ke mana” surga atau neraka.

Berhubung tubuh menyatu dengan jiwa dalam kehidupan, sudah sewajarnya apabila keduanya mendapatkan perlakuan yang sama. Jika tubuh makan dengan teratur, maka jiwa harus diberi makanan ibadah wajib, jika tubuh diberi minuman, maka jiwa diberi dzikir yang tulus pada Allah, jika tubuh diberi istirahat, maka jiwa diberi istirahat juga, jika tubuh diberi olah raga, maka jiwa diberi amal sholeh, kebaikan, keridhaan/kerelaan atas taqdir apa pun, ketenangan, dan keharmonisan. Insya Allah dengan ini semua, tubuh dan jiwa selamat dan bahagia dalam kehidupan dunia dan akhirat.

Ketika manusia mati, mayatnya dikubur, kondisi mayat terwujud dalam beberapa bentuk; mayat hancur tak bersisa dimakan binatang-binatang tanah, mayat hancur tinggal tulang, mayat utuh bersama kain kafan meski sudah dikubur tahunan, mayat hilang meninggalkan bekas yang bersih (tiada tanda dimakan binatang tanah).

Apa yang dialami tubuh di atas, tergantung amal perbuatan manusia di dunia. Jika Anda menginginkan utuh mayat di kubur, bahkan jasad hilang dari kubur sebagai bentuk kesempurnaan lahir dan batin, maka dalam kehidupan sehari-sehari senantiasa beribadah spritual dan sosial, bertingkah laku yang baik, menjaga seluruh anggota tubuh dari kesalahan, makan dan minum barang-barang yang halal, beramal shaleh pada sesama dan semesta.

Sebagai manusia yang diciptakan Allah dengan sebaik-baiknya ciptaan, manusia dapat mencapai derajat yang tinggi melampaui makhluk lainnya. Inilah salah satu rahasia penciptaan manusia di bumi. Semua itu dicapai dengan kesempurnaan tubuh dan jiwa.

  1. Menggabungkan Semua Potensi dalam Kesatuan

Seluruh potensi manusia telah diuraikan secara panjang lebar sebelumnya, otodidaktor dituntut berusaha mengoptimalisasikan sedemikian rupa, sehingga dalam belajar otodidak dilakukan sebaik-baiknya dan mencapai hasil yang maksimal. Untuk itu, perlu sinergi antara keenam potensi dalam kesatuan.

Bentuk dari sinergi ini ialah otodidaktor berusaha menarik kesimpulan dengan cara yang benar, membuat keputusan yang tepat dengan melihat berbagai aspek, dan mengoptimalkan semua potensi secara maksimal. Insya Allah dengan itu semua, upaya otodidaktor mencapai tujuan yang diinginkan dan berhasil dalam menjalani kehidupan bisa dicapai.

  1. Cara Menarik Kesimpulan

Otodidaktor terlebih dulu memahami beberapa cara menarik kesimpulan yang pernah dilakukan manusia, seperti; teori koherensi, korespondensi, sintesis Kant, dialektika Hegel, dekonstruksi Derrida, dan sillet Ockham. Setelah dipahami, dilatih dalam upaya membuat sebuah kesimpulan, dan baru menentukan teori apa yang hendak diterapkan. Di samping itu, menggunakan multi teori tidak masalah, bahkan dianjurkan menemukan teori baru yang bermanfaat bagi seluruh umat manusia.

Teori koherensi; sesuatu dianggap benar jika merupakan hasil pemikiran logis penalaran (Rasionalisme; Parmenides, Plato, Descartes, Spionoza, dan Lebnis). Teori korespondensi; sesuatu dianggap benar apabila berkesesuaian dengan kenyataan (empirisme; Francis Bacon, Locke, Barkeley dan Hume). Kant berusaha mendamaikan keduanya bahwa pengetahuan itu diperoleh sebagai hasil dari pengalaman inderawi (teori korespondensi) dan pemahaman (teori koherensi).40 Kelanjutan dari hal ini yakni menjadikan bahasa sebagai titik pusat baru, pendapat ini dikembangkan Heidegger, Derrida, Ricour. Bahasa yang dimaksud adalah metafora.

Contoh dari teori koherensi ialah saya adalah manusia, manusia adalah makhluk yang berakal, maka saya adalah makhluk yang berakal. Contoh teori korespondensi ialah, apakah kenyataan dengan memanfaatkan indera manusia bisa membuktikan bahwa manusia merupakan makhluk berakal atau bukan, jika kenyataan membenarkan, maka pernyataan tersebut menjadi benar. Sedang contoh dari Immanuel Kant sebagai sintesis ialah, saya adalah makhluk yang berakal, pikiran menyatakan hal itu dan indera manusia turut membuktikan dengan kenyataan yang ada, benarkah saya sebagai manusia adalah makhluk yang berakal, setelah dibuktikan ternyata benar, barulah hal ini dianggap benar.

Teori dialektika Hegel menyatakan bahwa suatu kebenaran itu berasal dari tesis, anti tesis dan sintesis, juga merupakan salah satu cara untuk menarik kesimpulan. Hal ini sudah dijelaskan dalam bab I.

Muncul teori Dekonstruksi Derrida yang berusaha menghancurkan semua klaim kebenaran yang dihasilkan teori rasionalisme, korespondensi, Kant dan dialektika Hegel; tidak ada kebenaran yang mutlak, kebenaran yang dihasilkan narasi-narasi besar di atas bukan kebenaran absolut, melainkan “kebenaran-kebenaran dalam k kecil” seperti yang dilansir Nietsche. Teori dekonstruksi ini yang menghancurkan sekat Barat dengan Timur, Utara dan Selatan, dan konsep biner lainnya, sehingga semua manusia berada dalam posisi sejajar. Di samping itu, teori Derrida ini membuka cakrawala berpikir baru seperti yang dinyatakan John Lechte “… Akan tetapi, kecendrungan yang tampak jelas dalam oeuvre Derrida adalah untuk membangkitkan pengaruh, untuk membuka wilayah baru dalam dunia filsafat sehingga terus bisa menjadi ajang kreativitas dan penemuan baru …”41

Meski teori dekonstruksi mengandung “kebenaran”, tapi tidak bersifat mutlak, maka tidak bisa diterapkan dalam “ajaran dan keyakinan Islam”, sebab keduanya dalam konteks yang berbeda, yang satu berhubungan dengan pikiran, sedang yang satunya berkaitan dengan hati nurani. Tapi berkenaan dengan budaya Islam, hal ini perlu agar kebudayaan Islam mampu berkembang dan tidak stagnan, sehingga Kebangkitan Islam di Indonesia bisa diwujudkan dalam kenyataan.

Ada teori lain dalam menarik kesimpulan yakni Silet Ockham mengajukan kebersahajaan sebuah teori; apapun jangan dilipat gandakan tanpa alasan, jika dimungkinkan hipotesis dengan kekuatan serupa, kita seyogyanya memilih yang paling bersahaja, dan pisau Galileo; teori tanpa observasi hanya menunjukkan yang mungkin terjadi (might be), teori dengan observasi menunjukkan yang nyata (is).42

Silet Ockham sangat menarik sekali, artinya ketika seseorang berusaha membuat kesimpulan tentang sesuatu jangan diperumit, baik dengan istilah atau teori yang memutar, tapi justru menyederhanakan kesimpulan yang dibuat. Misalnya; untuk mengakomodasi konstruksi dari budaya Islam yang intelek dan kontemporer, umat Islam harus bersikap rasional dan menjauhkan diri dari irrasionalitas, sehingan humanisme mampu dijalankan dalam berbagai sendi kehidupan, hal ini bisa disederhanakan menjadi; untuk membangun kebudayaan Islam yang cerdas dan baru, maka umat Islam harus bersikap berdasarkan akal budi, sehingga mereka menjadi manusia yang sesungguhnya. Agar silet Ockham ini berfungsi dengan baik, perlu ditambah dengan observasi atau pengamatan langsung dan mendalam seperti yang ditekankan Galileo, agar teori yang ada bisa dimanfaatkan dalam kehidupan manusia, dan memberikan maslahat pada mereka.

Sebagai ilustrasi, upaya otodidaktor untuk mendapatkan kesimpulan yang benar. Apa pun bentuk “kebenaran” yang ditawarkan harus “diasah” dalam seluruh kawah candradimuka potensi yang dimiliki manusia; pikiran, perasaan, imajinasi, kesadaran, hati nurani, dan tubuh, dan berusaha diwujudkan dalam tindakan. Berhubung kebenaran yang disampaikan manusia tidak bersifat mutlak, dalam proses waktu dan tempat berbeda, kebenaran yang dihasilkan perlu dievalusi ulang, diuji ulang dengan fakta dan konteks yang baru, dan dilalaui proses “pengolahan potensi” dari awal, sehingga menghasilkan “kebenaran baru lagi”.

Ini merupakan jawaban dari mengapa salah seorang mujtahid Islam yakni Imam Syafi’ie memiliki istilah qoulul qodiem (fatwa lama) dan qoulul jadied (fatwa baru) di bidang Fiqh menyangkut beberapa hal yang sama, artinya masalah yang sama menghasilkan kesimpulan berbeda, sebab berbeda tempat, waktu, konteks dan fakta yang ditemukan. Apa yang dilakukan Imam Syafi’ie sengaja ditampakkan Allah pada umat Islam agar mereka senantiasa memanfaatkan segenap potensi semaksimal mungkin, sehingga bisa menyesuaikan diri dengan segala keadaan, memberikan warna terhadap kehidupan, menawarkan nilai-nilai baru yang lebih baik dan sesuai dengan waktu dan keadaan, dan menjelma menjadi manusia yang hakiki.

  1. Cara Membuat Keputusan

Sebelumnya telah diuraikan tentang pemahaman pada otak dan pikiran, beberapa cara berpikir, dan cara menarik kesimpulan. Semua itu dimanfatkan dalam rangka membuat suatu keputusan tertentu; baik keputusan kecil, keputusan sedang, maupun keputusan besar. Agar bisa membuat keputusan yang baik, berikut proses pengambilan keputusan menurut Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl.

“A-FAN” digunakan untuk mengambil keputusan. Kata itu adalah singkatan dari:

Assumtions = asumsi-asumsinya? Apa yang tengah saya putuskan? Berapa banyak informasi yang dibutuhkan? Apakah implikasinya?

For = untuk apa? Sudahkah bukti memperkuat opini saya? Sudahkah bukti benar-benar kuat? Apakah bisa dipercaya? Sejauhmana kepercayaan atasnya?

Againts = atas apa? Apa yang mungkin menjadi argumen dari sudut pandang saya? Bisakah masalah ini dilihat dari sudut yang berbeda? Bagaimana para penentang mengajukan argumen-argumennya?

Now what = lalu apa? Penilaian yang lebih hati-hati dan teliti atas semua hal di atas akan menghasilkan suatu keputusan yang tepat, baik dan bijaksana.43

Sebelum mengambil suatu keputusan, Anda membuat asumsi-asumsi tentang apa-apa yang hendak diputuskan. Asumsi-asumsi yang dibuat tidak hanya satu, melainkan beberapa asumsi, dari beberapa asumsi dimunculkan satu asumsi yang terbaik. Setelah itu, mencari informasi-informasi yang dibutuhkan mengenai hal, informasi-informasi ini dicatat yang penting-penting saja. Baru mencatat akibat-akibat yang ditimbulkan bila suatu keputusan dibuat.

Asumsi terbaik dianggap sebagai opini pribadi, lalu dimunculkan suatu pertanyaan kritis tentang kebenaran dari asumsi terbaik, atau sudahkah asumsi terbaik ini memiliki cukup bukti untuk dimunculkan menjadi sebuah keputusan. Jika bukti-bukti yang ada sudah mencukupi, perlu ditambah dengan kepercayaan Anda pada bukti-bukti yang ada, jika memang Anda mempercayainya tanpa keraguan, berarti keputusan yang diambil dianggap tepat.

Dari suatu keputusan, otomatis akan memunculkan pihak yang kontra atau menolak keputusan tersebut. Orang yang hendak mengambil keputusan harus memikirkan beberapa cara untuk bisa menangkis argumen-argumen yang disampaikan mereka, berimajinasi menjadi pihak yang kontra, merasakan apa yang mereka rasakan, menyadari sepenuhnya segala konsekwensi yang akan timbul, dan menggunakan kepekaan hati nurani. Ini memerlukan kemampuan untuk melihat suatu keputusan dari sudut pandang berbeda, kemampuan yang bisa dimiliki dengan cara berusaha menjadi pihak yang kontra terhadap keputusan yang dibuat.

Pada tahap akhir sebelum keputusan dibuat, Anda harus memberikan penilaian secara hati-hati, teliti, objektif, dan menerima pertimbangan-pertimbangan dari hati nurani. Evaluasi pada keputusan yang hendak dibuat mampu menghasilkan sebuah keputusan yang benar-benar terbaik, sehingga efek-efek negatif yang ditimbulkan telah diantisipasi jauh hari sebelumnya. Inilah yang disebut dengan menangkap ikan di air keruh tanpa menimbulkan riak air sedikit pun. Sayangnya cara-cara ini belum diterapkan di Indonesia, sehingga berbagai keputusan yang menyangkut orang banyak justru menimbulkan masalah yang lebih besar tanpa bisa diantisipasi. Mungkin, ini akan menjadi tugas mulia orang-orang yang belajar otodidak sepanjang hayat.

Menurut Michael R. LeGault “Cara kita membuat keputusan yang tepat dan menghasilkan kerja yang baik adalah sebuah teknik mental yang tidak seragam yang melibatkan emosi, observasi, intuisi, dan nalar kritis. Emosi dan intuisi adalah bagian mudahnya, bagian yang otomatis, skill observasi dan nalar kritis adalah bagian yang sulit, bagian yang didapatkan kemudian. Latar belakang penting bagi semuanya itu adalah dasar pengetahuan yang kuat. Semakin besar dasarnya, semakin mungkin seseorang memahami dan menguasai berbagai macam konsep, model, dan cara menginterpretasi dunia…”44

  1. Mengoptimalkan Seluruh Potensi

Imajinasi mengembara dalam dunia samudera khayalan untuk mencari citra-citra tentang suatu hal, lalu citra-citra yang ada dikumpulkan; baik yang sama, berbeda atau yang bertentangan, lalu dicari beberapa citra utama. Citra-citra utama diperas lagi menjadi satu citra yang bisa dijadikan bahan pertimbangan oleh pikiran untuk dikembangkan lebih lanjut.

Senantiasa melatih cara berpikir kritis dan kreatif, menggunakan pikiran untuk menemukan formulasi yang tepat dalam menarik kesimpulan dari sesuatu, menerusuri berbagai macam sudut pandang berbeda tentang kesimpulan tersebut, memikirkan alternatif-alternatif berbeda dari kesimpulan yang dibuat, mencari alasan-alasan yang tepat tapi bukan dibuat-dibuat dalam makna -alasan-alasan dijadikan pembenaran terhadap kesalahan yang dibuat-, dan berusaha menemukan ide-ide orisinil.

Perasaan perlu dicerdaskan; sebuah keberhasilan membutuhkan proses waktu yang lama, membutuhkan tenaga, membutuhkan semangat pantang menyerah, membutuhkan kegigihan agar berhasil sampai akhir, membutuhkan pengorbanan perasaan dalam hal-hal yang bertolak belakang dengannya (bertentangan dengan perasaan belum tentu salah), mengelola perasaan-perasaan negatif dengan baik, berusaha memahami perasaan orang lain dan menjalin hubungan harmonis dalam masyarakat, serta upaya pemaknaan keberhasilan dalam perspektif baru.

Hati nurani membisikkan suara-suara terntentu yang bisa jadi bertentangan dengan pertimbangan pikiran, untuk itu perlu sintesis antara keduanya agar menghasilkan sesuatu yang “benar”. Nurani juga akan memberikan pertimbangan moral yang harus diperhatikan. Terkadang dari suara hati nurani pilihan alternatif muncul yang bisa menjadi “nilai baru.”

Dalam bertingkah laku berusaha selalu dalam keadaan sadar, meski kesadaran saja tidak cukup untuk berbuat benar, tapi dengan kesadaran yang terjaga baik, otodidaktor bisa memaksimalkan semua potensi yang dimiliki manusia. Alam bawah sadar berusaha dikelola dengan baik, khususnya lewat bimbingan Al-Qur’an, sunnah dan hati nurani, sehingga bisa dimanfaatkan untuk kebaikan, kebajikan, ketulususan dan amal sholeh.

Tubuh senantiasa dijaga untuk tetap sehat dengan makan secara teratur, bergizi dan halal, bekerja optimal sesuai kondisi tubuh, istirahat yang cukup, dan berolah raga secara rutin. Sedang jiwa diberi waktu untuk relaksasi, berdzikir, beribadah, dan meresapi kehidupan dalam perenungan. Keduanya berjalan beriringan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik penuh makna, sehingga menjemput kematian dengan senyum dikulum.

Semua potensi manusia; pikiran, perasaan, imajinasi, kesadaran, hati, dan tubuh saling bersinergi dalam BO. Sebagai misal, imajinasi menerawang dunia citra atau khayalan yang mungkin untuk menemukan sesuatu yang berbeda, pikiran mengekplorasi lebih jauh guna membaca secara cerdas dan menghasilkan ide yang brilian, perasaan berusaha mewujudkannya dengan penuh kerja keras, semangat, kegigihan, ketekunan dan pantang menyerah, hati mengasahnya dalam dunia batin yang luas untuk menghasilkan kebenaran hakiki, melakukannya dengan penuh kesadaran tapi tetap memperhatikan saran alam bawah sadar, dan tubuh senantiasa sehat dalam proses pembelajaran seumur hidup.

 

—————————

1 Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, Cara Belajar Cepat Abad XXI,

penerjemah Dedy Ahimsa, editor Purwanto, (Bandung: Nuansa, 2002), hal 77

2 ibid hal 48-52

3 ibid hal Hal 64-65

4 Howard Gradner awalnya menyebut 7kecerdasan menurut Gordon Dryden & Jeanette Vos, Revolusi Cara Belajar, The Learning Revolution, Belajar akan Efektif Kalau Anda dalam Keadaan “Fun”, penerjemah Word ++ Translation Service, penyunting Ahmad Baiquni, (Bandung: Kaifa, 2001), hal 343-345. Tapi kemudian memperbaiki menjadi 8 kecerdasan menurut Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, Cara Belajar Cepat Abad XXI, hal 160, saya menyempurnakan menjadi 10 kecerdasan, lihat Lampiran II.

5 Doug Hall, 3 Metode Canggih Melejitkan Kreativitas Bisnis,

penerjemah Mursid Widjanarko, (Bandung: Kaifa, 2004), hal 145

6 Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, op cit Hal 71-72

7 Donald B. Calne, BATAS NALAR, Rasionalitas dan Perilaku Manusia, (Jakarta: KPG, 2004), hal 19

8 ibid hal 22

9 ibid hal 25

10 Gordon Dryden & Jeanette Vos, op cit hal 300

11 Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, op cit hal 53

12 Michael R. LeGault, Think, penyunting Rani Andriani Koswara, Trans Media Jakarta, cet.1 2006, hal 80

13 op cit hal 53

14 op cit hal 171

15 Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, op cit hal 279

16 H. Tedjoworo, Imaji dan Imajinasi Suatu Telaah Filsafat Postmodern, (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hal 21

17 Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna, Sastra dan Kultural Studies, Representasi Fiksi dan Fakta, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar S.U, 2005), hal 314

18 H. Tedjoworo, op cit hal 23

19 Carmel Bird, Menulis Dengan Emosi, Panduan Empatik Mengarang Fiksi, Penerjemah Eva Y, Penyunting Femmy Shahrani, (Bandung: Kaifa, 2001), hal 96

20 H. Tedjoworo, op cit hal 71

21 Budiono MA, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Dilengkapi dengan: Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indoensia, Tata bahasa-Pemahaman bahasa kosakata-kesusastraan, Karya Agung Surabaya 2005

22Valentino Dinsi, SE, MM, MBA dkk, Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian, penyunting Iqbal Setyarso, riset M. Hariyanto, Ssi, MM, Jakarta: LET’s GO Indonesia 2004, hal 75

23 Al-Ghozali, Ihya Ulumuddin edisi terjemahan, Kitab Keajaiban Hati

24 Ismail Haqqi Al-Buruswi , Terjemah Tafsir Ruhul Bayan Juz IX

, penyunting Prof. Dr. H.M.D Dahlan, hal 143

25 Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spritual ESQ: Emosional Spritual Quistion berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, pengantar Habib Adnan, penyunting Anisi R Handini A (Jakarta: Arga Wijaya Persada, 2001), hal 103

26 Paulo Qoelho, The Alchemist, Sang Alkemis, penerjemah Tanti Lesmana, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005), op cit hal 169

27 Alwisol, Psikologi Kepribadian, (Malang: UMM Press, 2005), hal 17-18

28 ibid hal Hal 229-230

29 ibid hal 111-112

30 Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier Jilid I, penerjemah; H. Salim Bahreisy, H. Said Bahreisy, (Surabaya, pt bina ilmu, 1993), hal 50

31 Michael R. LeGault, op cit hal 23

32 Alwisol, op cit hal 52-53

33 Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier Jilid I, op cit Hal 299

34 Ismail Haqqi Al-Buruswi , Terjemah Tafsir Ruhul Bayan Juz XI, op cit hal 210-219

35 Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier Jilid II, op cit hal 156

36 Gilles Deleuze, Filsafat Nietsche, penerjemah Heri Winarno, penyunting Suryanto Abdullah, Ikon Teralitera Yogyakarta, September 2002, hal 56

37Dani Cavallaro, Critical and Cultural Theory, Teori Kritis dan Teori Budaya, penerjemah Laili Rahmawati, penyunting Helmi Mustofa, (Yogyakarta: Niagara, 2004), Hal 179

38 ibid hal 180

39 ibid 191-192

40 H. Tedjoworo, op cit hal 25

41 John Lechte, 50 Filsuf Kontemporer, Dari Strukturalisme sampai Postmodernitas, penerjemah A Gunawan Admiranto, (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hal 171

42 Imam Al-Ghazali, Terjemah Mukhatsyar Ihya Ulumuddin, Kitab Keajaiban Hati

43 Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, op cit hal 257-259

44 Michael R. LeGault, op cit hal 12

 

 

Pengalaman Hidup (PH)

 

kertas putih bertuliskan mati

 

malam ini aku berjalan dalam kelam tak bertepi

setiap jejak langkah yang kulalui tak menemukan ujung yang pasti

perjalanan kehidupan mengalir dalam lautan mati

nafas-nafas kehidupan sesak dalam batin yang sunyi

dalam dunia luas imajinasi yang tak bertepi

aku merasakan hidup dalam deru

kehidupan manusia terbatas waktu

aku merasa terhimpit dalam lorong-lorong gelap tanpa cahaya

bumi tak lebih dari sebesar bola dunia

aku hidup dalam bayang-bayang kematian

—kematian—kematian—kematian

ujung hidup segenap insan

aku pernah dekat dengan suara-suara

tersiksa dua Malaikat tak kenal kompromi

tubuh tak kuasa menahan sakit tak terhingga

pikiran sirna dalam buaian derita segala derita

perasaan lebur dalam seliput nestapa

hati menjerit pilu menikmati sengsara

aku pernah dekat dengan suara-suara

memanggil lembut dalam daun telinga yang menganga

menghadirkan dunia lain yang tak sama

darah mengalir cepat ke ujung batas

jantung terpompa cepat ke pojok hempas

nafas mengalir sendu dalam selimut senja

diri tak mampu menguasai apa yang dialami

mendadak secarik kertas putih bertuliskan perjanjian

menawarkan kematian dan kehidupan

mati sirna segala rasa berganti neraka

hidup hadir segala macam derita dunia

aku linglung dalam menentukan yang mesti kujalani

aku bingung tak tahu menempuh jalan yang mana

aku tersesat dalam belantara tanpa jalan yang pasti

aku terombang ambing ombak tengah lautan fatamorgana

dalam kondisi carut marut tak menentu

aku tetap hidup dalam dunia penuh derita

kan menjalani apa yang ada

sampai secarik kertas menawarkan pernjanjian baru

Wonosari, 05 Juni 2003

 


  1. Masa Lalu Merupakan Pengalaman Berharga
  2. Pentingnya Pengalaman Masa Kecil

Pengalaman masa kecil adalah sesuatu yang sangat berharga bagi Anda, baik atau buruk masa kecil yang dialami. Seringkali saat dewasa, Anda mengkhayalkan diri menjadi anak kecil yang melakukan segala sesuatu menurut kesenangan sendiri; bermain-main, berpura-pura menjadi orang dewasa, dan melakukan hal-hal yang menggembirakan lainnya tanpa memikirkan cara beradabtasi dengan lingkungan dan orang lain, tanpa memikirkan cara memperoleh uang, dan tanpa memikirkan hal-hal sulit yang membuat orang dewasa hidup dalam ketidaktenangan.

Sebagian Anda mengalami masa kecil buruk; terlempar ke jalanan dengan berbagai macam sebab, tidak memperoleh kasih sayang memadai dari orang tua, dan hidup serba kekurangan. Trauma masa kecil merupakan pengalaman yang menyakitkan bagi yang mengalaminya. Namun percayalah, jika mampu menanganinya dengan baik, justru sedang mempersiapkan diri menjadi “orang besar” di kemudian hari. Penderitaan, kesusahan, pengalaman buruk atau traumatis dan ketidakberuntungan merupakan sarana memperkuat mentalitas, supaya di kemudian hari mampu menghadapi segala masalah dengan cara yang tepat. Sayangnya, sebagian di antaranya tak mampu melakukan hal ini, sehingga apa yang dialami justru memperburuk keadaan saat dewasa yakni terjebak menjadi penjahat, pelacur, perampok, maling, dan tindakan-tindakan buruk lainnya, bukan menjadi “orang besar”, melainkan merupakan sumber masalah baru. Semoga tulisan ini mengetuk hati orang yang mengalaminya agar berupaya merubah diri, paling tidak menjalani hidup apa adanya dengan penuh rasa syukur seperti apa pun jalan hidup yang dilalui.

Otodidaktor yang ingin menjadi penulis profesional, bisa menjadikan pengalaman masa kecil atau remaja sebagai harta tak ternilai, dan sumber tulisan yang paling berharga. Pengalaman masa kecil diramu sedemikian rupa menggunakan imajinasi, direnungkan dengan pikiran, diselami dengan perasaan, dan dinikmati dengan belaian hati nurani, sehingga menjadi sumber tulisan yang tidak pernah kering, membantu upaya menghasilkan tulisan yang berkualitas dan master piece atau karya terbaik.

Pengalaman masa kecil, kenangan berharga yang harus dinikmati, bukan diratapi sebagai trauma masa lalu. Menikmati hal-hal yang indah di masa kecil atau remaja adalah sebuah perjalanan masa lalu yang menyenangkan, bisa dinikmati dalam kesendirian di atas tempat tidur atau sambil duduk menatap pemandangan yang indah. Lupakanlah pengalaman buruk, jika tidak ingin digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat bagi diri atau orang lain.

  1. Masa Lalu Bukan Barang Antik

Sebagian orang menganggap masa lalu sebagai barang usang yang tidak bermanfaat, sehingga berusaha dihilangkan dalam ingatan dengan berbagai cara. Nyatanya, siapa pun tak mampu menghapus begitu saja masa lalu, maka cara yang tepat yakni bersikap tepat terhadap masa lalu. Masa lalu jangan dijadikan barang usang tak berguna, melainkan dijadikan “sampah organik” yang bisa diolah ulang menjadi pupuk, yang berguna untuk menyuburkan tanah dan menghidupkan tanaman.

Sebagian yang lain menganggap masa lalu seperti barang antik yang dibeli dengan harga mahal yang harus dijaga sedemikian rupa, dirawat, diayomi, dan dipajang agar enak dilihat, sedangkan kegunaannya dalam kehidupan masa kini tidak dipedulikan. Barang antik memang berharga mahal, namun semahal-mahalnya barang antik hanya pajangan yang enak dilihat. Barang antik tersebut harus dikelola agar bernilai bagi diri dan orang lain.

Ingatan masa lalu yang paling melekat, biasanya yang paling berkesan dalam kehidupan seseorang, itulah hakikat dari ingatan yakni mengingat hal-hal yang paling diingat. Alam bawah sadar setiap orang menyimpan berjuta-juta data atau bermilyar-milyar data sepanjang hidup, untuk itu yang diingat adalah sesuatu yang tak terlupakan. Pengalaman mengesankan ini dijadikan harta berharga untuk menjalani hidup masa kini, bukan malah dijadikan hambatan atau penghalang untuk menikmati hidup pada masa kini.

Masa lalu merupakan sesuatu yang sangat berharga melebihi barang antik dari jenis apa pun, baik masa lalu yang baik atau buruk, asal Anda mampu mengelolanya dengan cara yang baik.

Pengalaman buruk dijadikan pembelajaran sisi gelap kehidupan, sisi yang kadang perlu dilihat kembali agar tidak terjerembab ke dalam terowongan gelap yang sama. Pengalaman buruk dijadikan sarana memperkuat mentalitas seseorang, apa pun yang dihadapi nantinya bisa ditangani dengan baik. Pengalaman buruk dijadikan sarana mengokohkan motivasi, sehingga kualitas hidup dapat ditingkatkan.

Justru pengalaman baik terkadang membuat Anda terlena, terbuai dalam kemalasan, terbawa lamunan panjang tak bertepi, dan membuat lupa diri dengan keadaan sekitar. Jadi, tidak selamanya pengalaman baik bernilai baik, malah sebaliknya, jika tidak mampu disikapi secara proporsional. Pengalaman baik merupakan sesuatu yang senantiasa disyukuri, suatu tantangan untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, dan memompa semangat hidup supaya menjalani hidup penuh arti.

  1. Dengan Masa Lalu Menuju Masa Kini

Pintu masa kini dilewati dengan membuka pintu masa lalu, berarti masa lalu adalah sarana menuju masa kini. Mengaitkan masa lalu dengan masa kini merupakan upaya setiap orang agar mampu menjalani hidup lebih baik.

Pada masa lalu, terhitung semenjak dilahirkan ke muka bumi. Ketika lahir pertama kali, tangis adalah pembelajaran awal setelah mengalami “dunia lain” di rahim ibu tanpa mampu memahami maknanya. Dalam Islam; sewaktu di rahim ibu, janin telah melakukan perjanjian dengan Allah untuk hanya menyembah satu Tuhan yakni Allah; “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (QS Al-A’raf 172). Untuk itu, begitu lahir disunnahkan untuk diadzankan agar “perjanjian itu” melekat dalam sanubari anak-anak Muslim. Ketika dewasa mereka diharapkan menjadi muslim dan mukmin sejati.

Proses pembelajaran dilanjutkan pada masa kanak-kanak yakni belajar berbicara, belajar berjalan, dan belajar melihat keadaan sekitar dengan caranya masing-masing. Memang ilmu pengetahuan baru mengungkap studi tentang pengalaman anak-anak setelah umur dua tahun, sebelum itu pengalaman hilang tanpa seseorang pun memahami ke mana perginya. Pada masa ini, bayi belajar menggunakan gerakan tubuh, perasaan dan sebagian pikirannya. Satu hal yang harus diingat para orang tua, segala perlakuan mereka terhadap anak-anaknya dan tingkah laku mereka dalam kehidupan sehari-hari akan diingat dan dijadikan tiruan. Orang tua yang baik, menjaga tingkah lakunyanya, jangan sampai bertengkar di depan mereka. Hal ini diperkuat fakta bahwa Ryan sang pembunuh berantai, salah satu sebabnya karena orang tuanya sering bertengkar di depannya. Sekali lagi, JANGAN BERTENGKAR DI DEPAN ANAK ANDA.

Masa sekolah adalah sesuatu yang menyenangkan bagi setiap anak, mereka mulai belajar dalam suatu lingkungan yang kondusif bagi keingintahuannya terhadap berbagai hal. Sayangnya sistem sekolah di Indonesia, cendrung “menyamaratakan” rasa keingintahuan anak dalam bingkai pengetahuan yang seragam, padahal sesungguhnya setiap anak ingin belajar dengan cara sendiri, ingin mengembangkan bakat yang dimiliki sesuai kemauan diri, dan ingin menjadi “orang” di kemudian hari sesuai dengan yang disenanginya. Sekolah yang baik di masa depan adalah sekolah yang mampu mengembangkan bakat, kecerdasan, intelegensia, emosi dan potensi sesuai dengan yang disenangi anak didiknya. Melakukan sesuatu yang disenangi membuat setiap anak mampu mengoptimalkan segala potensi yang dimiliki. Ini bisa dilakukan siapa saja lewat proses BO yang akan menjadi alternatif pembelajaran pada masa depan.

Masa sekolah ini sangat penting bagi setiap orang yang ingin berhasil BO, sebab dalam masa ini proses pembelajaran bahasa; Indonesia, Arab (untuk pesantren), Inggris dan bahasa Asing lainnya, dilakukan secara intensif. Kemampuan di bidang bahasa ini harus dioptimalkan agar memudahkan saat BO. Di samping bahasa, persiapan untuk memperdalam bidang tertentu telah ditentukan pada waktu sekolah; bidang teknik, komputer, sosial, alam, budaya, politik, dan agama, sehingga ketika memutuskan untuk BO, “bekal masa lalu sekolah” telah memadai.

  1. Beradabtasi dengan Kehidupan Masa Kini
  2. Masa kini adalah Kenyataan Yang dihadapi

Masa kini bisa di artikan dengan berbagai macam sudut pandang; situasi yang dihadapi dalam konteks kekekinian, ruang dan waktu yang mengitari seseorang dalam konteks kekinian, dan dalam kaitannya dengan BO adalah proses awal untuk belajar seumur hidup.

Setuasi sekarang menyulitkan bagi setiap orang Indonesia; krisis dalam berbagai aspek tanpa kunjung akhir, musibah datang silih berganti bagai hujan yang turun di musim hujan, kehidupan sosial masyarakat yang rentan konflik karena berbagai kepentingan, dan belum pulihnya ekonomi mikro semakin memperburuk keadaan.

Secara global, dunia masa kini berada dalam masalah yang semakin kompleks, kerancuan nilai-nilai mewarnai segala aspek kehidupan, manusia sebagai makhluk “beradab” justru semakin tidak beradap, masalah ekologi yang tidak teratasi, semakin menyempitnya ruang dunia dengan adanya globalisasi, perkembangan teknologi atau digitalisasi, melambungnya harga minyak dunia dan berbagai problematika lainnya. Untuk semakin memahami dunia sekarang, pandangan Yasraf Amir Pilliang berikut ini, perlu dijadikan bahan perenungan dan pemikiran.

“Dunia yang dilipat adalah dunia yang mengarah pada tingkat entropi tinggi tersebut, yang di dalamnya pesan dan makna di dalam bahasa tidak lagi dianggap penting. Yang dianggap penting adalah kegairahan dalam permainan bahasa tanda (free play of sign) dan permainan bahasa (language game) itu sendiri, yang dengan itu orang mendapat kejutan (surprise), penarik perhatian (eye catcher), dan keterpesonaan. Di dalam dunia yang dilipat, unsur-unsur pembentuk bahasa dan komunikasi dimampatkan, diacak dan dipermainkan, bukan sebagai cara untuk penyampaian pesan atau penawaran makna, akan tetapi sebagai tindak ekstasi komunikasi, yaitu kegairahan dan kesenangan dalam proses komunikasi itu sendiri.”1

“Dunia yang dilipat, dengan demikian, adalah sebuah dunia ekses, yaitu dunia yang bertumbuh dan membiak ke dalam bentuk-bentuk yang berlebihan, melampaui, dan melewati batas. Masyarakat global kini hidup di dalam dunia ekses tersebut, yang didalamnya segala bentuk yang banal, tak berguna, remeh-remeh, enteng, murahan, diproduksi, disirkulasikan, dan dikonsumsi, sebagai cara untuk memenuhi tuntutan ontologis, bahwa segala sesuatu harus hadir (precence), ditampilkan, ditayangkan, ditampakkan, diimanenkan di dalam ruang waktu, yang di dalamnya, meme, ide, dan informasi harus terus berproduksi, tidak peduli apakah semuanya masih berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan, kemakmuran, dan kualitas hidup manusia.”2

Kehidupan yang semakin membingungkan ini bermakna dua hal; satu aspek hal ini menyulitkan dan aspek lain justru menjadi peluang bagi para otodidaktor. Ini menyulitkan karena sandaran nilai semakin rancu, ambigu, membingungkan dan tidak terpahami, jalan keluarnya adalah memperkuat keyakinan beragama Islam dalam diri setiap otodidaktor agar mampu menghadapi semua itu dengan cara yang benar, sebab keyakinan beragama meneguhkan mentalitas dan moralitas otodidaktor untuk mampu menghadapi segala sesuatu dengan tepat. Ini merupakan peluang bagi otodidakor dalam rangka menemukan nilai-nilai baru yang sesuai dengan ruang dan waktu kekinian, yang bisa menjadi alternatif bagi orang lain dalam menjalani hidup pada masa kini dan mendatang.

  1. Menjalani Hidup Masa Kini

Hidup pada masa kini adalah sesuatu yang sangat bernilai bagi setiap orang, sebab tidak setiap orang mengalaminya. Maka menjalani hidup pada masa kini dengan semua keterbatasan dan ketakterbatasan, kekurangan dan kelebihan, kesusahan dan kesenangan, penderitaan dan kegembiraan, kesengsaraan dan kebahagiaan, nasib buruk dan baik, dengan senyum dikulum dan mentalitas baja.

Menghadapi segala sesuatu dengan senyum merupakan sebuah hasil dari proses panjang seseorang dalam menjalani kehidupan, sebab tidak mudah menghadapi segala sesuatu dengan senyum dikulum, padahal keadaan, lingkungan dan budaya memaksa untuk menumpahkan amarah yang menggumpal di dada. Orang yang banyak senyum berarti mampu menghadapi kehidupan ini secara tepat, asal tidak senyum-senyum sendiri biar tidak dianggap gila.

Mentalitas baja juga merupakan proses dari hasil menjalani segala aspek kehidupan sampai sekarang. Mentalitas baja yang kuat menjadikan seseorang mampu menghadapi kompleksitas kehidupan ini, menjadikan kemarahan sebagai potensi, kesusahan sebagai proses penguatan mental, tantangan sebagai sesuatu yang dihadapi dengan kepala dingin, dan menyelesaikan masalah dengan tanpa menimbulkan masalah.

Agar kehidupan yang dijalani pada masa kini memiliki arti, otodidaktor senantiasa membaca tentang berbagai hal dalam kehidupan ini, belajar sendiri dengan banyak membaca buku, belajar sendiri untuk bisa memberikan manfaat pada orang lain sesuai kemampuan yang dimiliki, belajar sendiri untuk memahami semesta, belajar sendiri untuk mengerti tanda-tanda, dan belajar sendiri untuk memahami arah kehidupan pada masa kini.

Hasil pembacaan dipraktikkan dalam menjalani kehidupan sehari-hari, digunakan sebagai bahan tulisan, dan disampaikan pada orang lain tanpa pamrih. Ini menjadikan hidup yang dijalani pada masa kini lebih memiliki arti bagi diri dan orang lain.

Prinsip menjalani hidup masa kini ialah melakukan segala suatu yang nampak jelas di depan pelupuk mata dengan tidak menunda-nundanya, mengoptimalkan segenap potensi diri dalam belajar dan bekerja, dan menikmati hidup apa adanya.

  1. Menikmati Masa Kini tanpa Melupakan Masa Depan

Jika masa lalu merupakan pijakan menuju masa kini, maka masa kini merupakan kelanjutan untuk menuju pada masa depan. Masa depan tidak akan menjadi “sesuatu” tanpa masa lalu dan masa kini.

Untuk itu, dalam menjalani hidup masa kini harus turut pula memikirkan dan mengantisipasi masa depan, supaya Anda tidak menjadi “orang purba” di masa depan. Ingatlah! Segala sesuatu yang dilakukan pada masa kini akan “membentuk” masa depan Anda menjadi lebih baik atau lebih buruk.

Sayangnya kebudayaan modern Barat mengajarkan untuk menikmati hidup pada masa kini; masa kini adalah kenyataan, masa lalu hanya khayalan dan masa depan adalah fatamorgana. Kebudayaan yang salah ini juga dikuti masyarakat Indonesia yang senang hidup dengan “meniru-niru” segala sesuatu yang berasal dari Barat karena dianggap “maju, adiluhung, mulia, dan baru”, padahal hanya “sampah” yang dibuang ke negara kita dan kita ikuti secara patuh.

Karena hidup untuk masa kini, maka menikmatinya dengan rasa senang; pesta, alkohol, seks bebas, dan obat-obatan terlarang, dan menjalani hidup tanpa pijakan moral agama dijadikan “gaya hidup”, akibatnya kehidupan masa depan tidak dihiraukan lagi. Otodidaktor tidak boleh ikut-ikutan dengan gaya hidup ini, mereka harus menemukan gaya hidup alternatif; tetap menjalani hidup dengan penuh kegembiraan, tapi tidak melanggar nilai-nilai moral agama. Bagaimana caranya? Mari kita imajinasikan, pikirkan, rasakan dan renungkan dengan hati nurani agar jawabannya bisa ditemukan. Beberapa ilustrasi berikut sebagai perbandingan.

Ibadah spritual dijadikan kebutuhan hidup dan komunikasi dengan Allah, bekerja keras dan cerdas supaya dapat hasil maksimal, menikmati hasil jerih payah sesuai kebutuhan dengan menyisihkan sebagian kecil untuk bersenang-senang (asal tidak melanggar ajaran Islam) dan dibagikan pada orang-orang yang hidup dalam kemiskinan. Jika tidak mampu menyumbang materi, otodidaktor dapat menyumbang tenaga, pikiran dan doa.

Alam semesta dijaga kelestarian dan ekosistemnya agar kehidupan yang dijalani tidak terancam. Isu Globang Warning akibat pemanasan global dikarenakan rusaknya lingkungan, efek rumah kaca, industrialisasi, ekploitasi kekayaan alam secara berlebihan, dan hawa nafsu manusia untuk hidup secara berlebihan. Jika Anda ingin hidup lebih nyaman, jaga kelestarian dan keasrian lingkungan Anda sendiri. Jika setiap orang di bumi bersikap seperti Anda, maka dunia semakin nyaman didiami.

Sebagai sesama manusia, tanpa mengenal perbadaan Suku, Agama, Ras dan Keturunan, hidup saling berdampingan secara harmonis. Setiap pemeluk agama menjalankan keyakinan agama masing-masing. Sebab dalam setiap agama mengajarkan kasih sayang, keharmonisan, kebajikan, kepedulian, tolong menolong, juga menolak segala bentuk kejahatan, kemaksiatan, keculasan, kebohongan, korupsi dan manipulasi.

  1. Masa Depan yang Tidak Pasti
  2. Memahami Nilai-Nilai Baru

Paradigma yang diulas Yasraf Amir Pilliang dalam buku Dunia Yang Dilipat, Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan, mengenai nilai-nilai baru yang mewarnai kehidupan masyarakat dunia pada masa sekarang (meski dalam tulisan disebut masa mendatang, hakikatnya sedang berlangsung saat ini). Berikut ini uraian lengkapnya.

“Beberapa indikator perspektif kebudayaan pada masa mendatang; Pertama, perkembangan sistem teknologi tampaknya akan terus berlanjut dan akan mempengaruhi keputusan-keputusan estetik. Ia bahkan berkembang ke arah complex system (misalnya stock market, ekosistem, sosio-politikal sistem, sistem ruang angkasa, sistem kultural), bahkan ke arah chaos (istilah chaos di sini tidak dalam konotasi negatif). Bersamaan dengan itu akan tercipta pula semacam kompleksitas kebudayaan, baik dalam objek, teknologi, metodologi, dan idiom.

Kedua, tekanan ekonomi pasar bebas telah merubah konsep manusia posmodern tentang waktu, diri, individu, keluarga, masyarakat, ruang, waktu, bangsa dan negara. Ekonomi pasar bebas menuntut bahwa cara-cara fragmentasi budaya, kelenyapan batas, pastiche, kolase yang mencirikan posmodernisme tampaknya akan berlanjut pada abad 21. Namun, sekali lagi ia akan berhadapan dan dipengaruhi oleh batasan-batasan moral.

Ketiga, tekanan moral menyangkut kemanusiaan dan lingkungan yang terus berlanjut, termasuk tekanan-tekanan pada objek kebudayaan. Berkaitan dengan tekanan tersebut, Viktor Papanek menawarkan sebuah bangsa baru objek abad 21 yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut; mengutamakan keberlangsungan hidup di planet, etis dalam pengertian ramah lingkungan dan ekologis; makna dan bentuk baru objek didasari kebutuhan nyata, bukan kebutuhan atifisial, mengutamakan pemakai ketimbang penampakan, tema, semiotika, gesture, dan sebagainya; landasan estetik adalah moral dan etika ekologis. Keharusan untuk memenuhi label produk hijau untuk setiap produk ekspor di dalam ekonomi pasar bebas nanti, dapat dikatakan merupakan satu keberhasilan konsep-konsep budaya Papanek. Meskipun, pada kenyataannya banyak pihak industri yang memanipulasi label hijau ini sebagai senjata dalam persaingan global.” 3

Pemahaman yang benar terhadap nilai-nilai baru bisa menjadikan Anda mampu mengantisipasi masa depan dengan tepat. Yang pertama mencoba menerangkan tentang pengaruh teknologi terhadap kehidupan manusia, yang kedua lebih mengarah pada globalisasi dengan proyek utama yakni pasar bebas yang banyak mempengaruhi tingkah laku manusia, dan yang ketiga mengarah pada perlunya moralitas dijadikan sandaran hidup manusia masa depan.

Sesuatu yang menarik di sini adalah penekanan pada moralitas agar mampu mengatasi efek-efek negatif dari perkembangan teknologi dan informasi, globalisasi, digitalisasi, dan perubahan tingkah laku manusia. Sebagai Muslim, sudah selayaknya apabila Anda memperkuat keyakinan beragama, ingat “keyakinan” bukan sekadar “kepercayaan”, meskipun yang pertama berasal dari yang kedua. Ketika Islam menjadi keyakinan; nilai-nilai apa pun yang masuk dan dari mana pun; Barat, Timur, Selatan dan Utara, tidak akan mampu merubah keyakinan terhadap Islam.

Di samping itu, ledakan informasi dalam era globalisasi dan digitalisasi diperhatikan dengan seksama. Menurut Kevin Miller, salah satu akibat paling mengkhawatirkan dari ledakan Informasi bagi pengetahuan dan pemikiran kita adalah lebih banyak informasi yang disampaikan dengan buruk dan tidak dimengerti. Informasi yang berlebihan dengan kualitas minim akan menimbulkan kebingungan, menghambat upaya berpikir kritis dan malah tidak bisa berpikir jernih, dan efek yang paling berbahaya ialah “ketidaktahuan adalah rahmat,” dari pada tahu banyak tapi tak berguna, lebih baik tidak tahu, suatu kesimpulan yang menggiring manusia pada kebodohan. Untuk itu perlu mengingat kembali perkataan Enstein “informasi bukanlah pengetahuan,” 4 jika belum diolah, dianalisa, diverifikasi, dan dipikirkan secara kritis dan kreatif.

Masa depan bagi umat Islam juga bermakna kehidupan setelah kematian. Jika kita meyakini kehidupan setelah kematian, maka masa kini merupakan jembatan untuk mengarungi kehidupan masa depan. Perlu bekal yang cukup memadai untuk mengarungi kehidupan masa depan tersebut. Bekal bisa berupa amal sholeh (perbuatan baik), memiliki niat yang baik untuk melakukan sesuatu yang baik, menjadikan ibadah srpitual (shalat, puasa, zakat, dzikir, doa dan haji) sebagai kebutuhan bagi diri, berusaha tulus dalam melakukan kebaikan, melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, memperkuat keimanan dan ketakwaan, rendah hati bukan rendah diri, sabar, menepati janji, jujur dan menjadikan Islam sebagai alternatif kehidupan masa depan.

  1. Memaknai Nilai-Nilai Baru

Para otodidaktor memiliki peluang untuk belajar lewat elektronik dalam abad 21 ini, “Untungnya, revolusi teknologi-informasi menciptakan bentuk baru pendidikan interaktif berbasis elektronik yang akan berkembang menjadi sistem pembelajaran sepanjang hayat yang memungkinkan hampir setiap orang belajar tentang hampir setiap hal dari mana saja dan kapan saja,” Willian E. Halal dan Lesowit dalam The Futurist.5 Peluang ini dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan cara belajar memahami teknik belajar lewat elektronik ini.

Bentuk pembelajaran berbasis internet disebut dengan e-learning yang kini mulia diterapkan sebagian masyarakat Indonesia, sebagai contoh Aa Gym mempopulerkan pesantren Virtual atau maya, dan para santri Qoryah Thayyibah di Salatiga, mempelajari metode bertani secara organik, lalu mempraktikkannya. Para otodidaktor harus mampu mempelajari hal ini, sekaligus mempraktikkan langsung.

Sebagai gambaran cara belajar melalui Dunia Maya. Pertama; manfaatkan mesin pencari http://www.google.co.id atau http://www.yahoo.co.id untuk mencari informasi yang Anda inginkan, setelah itu copy atau downloud ke flash disk, Ipod, Hp atau Laptop. Kedua; bergabung dengan wibe site gratis sesuai dengan yang Anda sukai, untuk Ensklopedi gratis di http://www.wikipedia.com, untuk yang senang sosial dapat bergabung dengan http://www.facebook.com, untuk yang berwirausaha http://www.pengusahamuslim.com, untuk yang senang informasi dapat bergabung dengan http://www.kaskus.us, http://www.detik.com, http://www.pembelajar.com, dan melalui beberapa media yang online. Ketiga; membuat email atau blog, jika email berfungsi sebagai surat menyurat via internet, maka blog (www.wordperss.com atau http://www.multiplay.com) menjadi sarana Anda untuk menulis secara bebas, tidak peduli tulisan Anda bagus atau jelek, yang penting bermanfaat. Keempat; berkorespondensi dengan siapa saja di internet; penulis, pelajar, dosen, guru, profesor, pengusaha, pejabat, atau rakyat biasa, baik lewat Chatting, surat menyurat dengan email, dan sarana lainnya sebagai upaya berdiskusi guna menambah ilmu pengetahuan. Kelima; analisa dan kritisi setiap informasi yang diperoleh, jangan langsung diterima apa adanya.

Untuk menaklukkan era global, kemampuan BO tentang dunia maya atau internet benar-benar sangat dibutuhkan. Jack Ma, Chairman & Ceo Alibaba Group yang merupakan salah satu dari lima perusahaan internet terbesar di dunia dengan omset sekitar USD 4 milyar, padahal mulai belajar komputer pada tahun 1995, tapi berkat semangat pantang menyerah untuk belajar membuatnya berhasil. Awalnya dia mendirikan China Pages, lalu pada tahun 1999 mendirikan Alibaba.com, sempat mengalami pasang surut, sebelum mampu menjalin kerja sama dengan Yahoo.com tahun 2005. Inilah cikal bakal Alibaba Group yang terdiri dari situs maya e-comerce global, Alibaba.com dan Taobao, search engine, pembayaran online (Aliplay), dan bisnis perangkat lunak (Alisoft). (Seputar Indonesia, Juli 2007).

Untuk itu, semua potensi yang merupakan anugerah Allah yang berupa; imajinasi, pikiran, perasaan, hati nurani, intuisi, kesadaran dan tubuh yang harus dimanfaatkan secara optimal. Optimalisasi semua potensi dalam rangka memaknai nilai-nilai baru adalah suatu keharusan menuju hidup pada masa mendatang.

Imajinasi dibiarkan bebas untuk menemukan kemungkinan baru. Pikiran diasah untuk memikirkan beberapa alternatif jalan keluar dari kompleksitas masalah. Perasaan dijadikan penyeimbang pikiran dalam mencari jalan keluar yang tepat untuk masalah yang tepat, berbicara dengan hati nurani tentang berbagai hal agar ditemukan kedamaian, menghidupkan intuisi, menjadikan tingkah laku selalu dalam kesadaran yang benar, dan menjadikan tubuh sebagai orkestra yang memainkan irama yang indah.

Eksplorasi terhadap semua potensi dimanfaatkan dalam proses BO, sehingga otodidaktor berhasil menemukan nilai-nilai baru yang tetap berpijak pada landasan moral agama.

Kesuksesan otodidaktor salah satunya diukur sejauh mana mampu memberikan alternatif terhadap nilai-nilai baru yang tidak memanusiakan manusia. Jadi, meskipun menghasilkan banyak karya; baik karya tulis atau karya nyata di masyarakat, harus dilanjutkan dengan langkah mencari alternatif-alternatif baru secara kreatif lewat proses pembelajaran seumur hidup.

  1. Menjadi Tokoh Seribu Tahun Lagi

Anda diam-diam bermimpi seperti Khairil Anwar yakni hidup seribu tahun lagi. Hidup seribu tahun lagi adalah hidup yang tetap bisa dijalani dalam bentuk “nilai dan makna”, walau nyawa telah berpisah hidup dari badan. Kematian hanya mengubur jasad seseorang, sedang jiwa, nilai dan makna dari sumbangsih yang diberikan tetap abadi dalam benak orang-orang yang menjalani kehidupan pada masa depan.

Khairil Anwar tidak akan hidup seribu tahun lagi, jika dirinya tidak berpikir tentang masa depan, merasakan setiap hembusan kata dalam puisinya yang menginspirasi kehidupan masyarakat Indonesia sampai saat ini. Jadi, masa depan sama pentingnya dengan masa kini, jika ingin merasakan hidup seribu tahun lagi.

Untuk itu, setiap otodidaktor sesuai bidang yang disukainya, perlu memikirkan, mengimajinasikan, dan merenungkan masa depan agar bisa diwarnai dengan tinta-tinta emas sejarah yang bisa bersifat abadi. Ini akan terwujud bila dilakukan sepenuh hati, rasa, dan jiwa, dengan tanpa memikirkan imbalan apa yang diperoleh. Ingatlah! Sesuatu yang abadi tidak mesti bernilai harta.

Memang, kehidupan pada zaman ini memaksa setiap orang untuk menilai kesuksesan dari materi semata. Inilah gaya berpikir kapitalis yang harus dikikis perlahan-lahan, bahkan di negara maju hal ini mulai ditinggalkan. Jika segala sesuatu dinilai dengan uang atau materi, maka agama akan hilang di muka bumi, sebab nilai-nilai agama dibangun bukan dari fondasi materi atau uang. Ini bukan berarti uang dan materi tidak penting, keduanya tetap penting asal tetap dijadikan “alat” bukan “tujuan”.

Otodidaktor yang ingin hidup seribu tahun lagi perlu beberapa langkah berikut; menjadikan belajar sebagai kebiasaan hidup, melakukan pembacaan secara kritis dan kreatif, belajar melalui dunia maya, belajar pada tanda-tanda yang muncul dalam kehidupan dan sunnatullah, meneropong masa depan untuk dimaknai dalam konteks masa kini, mendalami Al-Qur’an yang otentik sepanjang masa, menggali nilai-nilai baru, dan menulis apa saja asal bermanfaat. Lewat media tulisan puisi Khairil Anwar bisa hidup seribu tahun lagi, maka otodidaktor bisa melakukan hal yang sama. Sedang pengetahuan yang berhubungan dengan karya tulis diuraikan dalam bab kelima. Ini harus dikuasai otodidaktor nantinya.

  1. Meraih Masa Depan dengan Berpijak pada Masa Kini

Pandangan Carl Gustav Jung tentang pentingnya masa depan bagi manusia sangat menarik sekali, Jung menolak pandangan Freud tentang pentingnya seksualitas, baginya kebutuhan seks sama dengan kebutuhan manusia terhadap makan, minum, spritual dan religius, dia juga menolak pandangan Freud yang terlalu terjebak pada masa lalu, baginya pandangan orang tentang masa depan, tujuan dan aspirasinya sama pentingnya dengan pengalaman masa lalu.6

Pintu masa depan terbuka depan di pelupuk mata, hanya akankah Anda mampu hidup di masa depan dengan cara yang benar, atau justru menjadi “sumber masalah” masa depan. Jika Anda terjebak menjadi yang kedua dari yang pertama, maka bisa dikatakan upaya BO gagal total, tapi jika sebaliknya, itu berarti salah satu pilar kehidupan telah ditegakkan, kesuksesan tinggal menunggu momentum.

Prinsip bahwa masa depan dibangun masa kini dan masa lalu dipegang teguh, dan terus menerus diperbaharui agar bisa menyesuaikan diri sekaligus menjadi pelopor pada masa mendatang. Menjadi “pelopor” dalam berbagai bidang yang ditekuni akan berhasil bila mampu menyikapi masa lalu sebagai sumber masa kini, dan masa kini merupakan sarana dan bekal menuju masa depan.

Penting untuk diingat mengenai kehidupan masa kini yakni kehidupan dijalani dengan penuh semangat, kerja keras, mental baja, kemampuan menggabungkan antara kerja dan pengetahuan, belajar tiada henti dengan berbagai cara, sabar, dan bertawakkal pada Allah apa pun hasil yang diperoleh, tawakkal adalah hal terakhir yang dilakukan setelah usaha yang super sangat optimal. Kehidupan masa kini memang harus dinikmati, tapi ingatlah bahwa kehidupan masa depan selama masih hidup dan setelah kematian menanti sumbangsih apa yang bisa diberikan pada kehidupan ini.

Arah kehidupan memang senantiasa berputar seperti halnya bumi berputar pada porosnya, jika saat ini Barat menjadi penguasa tunggal dunia dipimpin AS, tiada beberapa lagi China mungkin menyusul, nanti insya Allah ada kekuatan lain yang akan memimpin. Semoga kekuatan tersebut adalah Islam, sebab Islam memenuhi syarat untuk memimpin dunia dengan lebih bijaksana.

Menurut Hasan Hanafi “…. Spirit dunia, pergerakan sejarah, dan perubahan nasib boleh jadi merupakan fenomena global yang dialami setiap budaya. Tantangan adalah bagaimana mengetahui arah masa depan. Dunia global bagi pusat bisa jadi akhir masa modern dari Cogito (Descartes) ke Cogitatum (Husserl), dari Discours a la methode (Descartes) ke Againt Methode (Fayerabend), dari Critique of Pure Reoson (Kant) ke Farewel to Reason (Fayerabend), dari great restoration (Bacon) ke Dekonstruksionisme (Derrida), dari awal modern ke akhir era modern. Lingkaran eurosentrisme mungkin telah berakhir. Zeitgeist baru mungkin sedang berhembus dari Barat ke Timur, dari Utara ke Selatan, tanda ataukah realita, pertanda ataukah hukum sejarah, janji atau pemenuhan, siapa bisa menjawab? Tidak ada seorangpun yang tahu.” 7 Saya yakin yang dimaksud Hasan Hanafi adalah kebangkitan dunia Islam.

Indonesia yang penduduknya mayoritas muslim memenuhi syarat untuk menjadikan semua itu menjadi kenyataan bukan impian semata. Itu bisa terjadi, bila jutaan umat Islam mampu menjadikan masa lalu Islam sebagai sarana menuju masa kini, memberi warna pada masa kini, mengantisipasi depan dengan langkah-langkah brilian, dan menjadi otodidaktor yang sejati dengan tidak menyempitkan ruang belajar hanya di “sekolah atau universitas” saja.

  1. Menjadi Pelopor Perubahan

Untuk menjadi pelopor perubahan ke arah yang lebih baik, perlu dedikasi, usaha gigih, mental kuat, semangat pantang menyerah, pengetahuan, keyakinan Islam dan kemampuan untuk membaca masa depan. Untuk lebih jelasnya, uraian berikut mencoba mengulas tentang makna dan karakteristik perubahan, mengelola efek-efek negatif dari masa transisi dalam suatu perubahan, memulai perubahan dari diri sendiri, dan mempelopori suatu perubahan.

  1. Makna Perubahan

Perubahan menurut Heddy Shri Ahimsa Putra: pertama; sesuatu dianggap berubah mencerminkan asumsi-asumsi yang ada pada diri seseorang dengan mengatakan sesuatu telah berubah, ini biasanya dilekatkan pada sesuatu yang dianggap berbeda dengan sebelumnya, kedua; apa yang dikatakan berubah hakikatnya merupakan kelanjutan dari masa silam.8 Dari pendapat ini intinya ialah adanya asumsi tentang suatu perubahan, adanya sesuatu yang berbeda sehingga dianggap berubah, dan perubahan yang terjadi merupakan proses dari masa lalu menuju masa kini.

Makna perubahan ini mengindikasikan bahwa kehidupan manusia mengalami perubahan terus menerus, dengan kecendrungan ke beberapa bentuk; perubahan biasa, perubahan alami, perubahan radikal, dan perubahan yang tak terkendali. Perubahan biasa; perubahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, baik disadari atau tidak. Perubahan alami; perubahan yang terjadi karena proses alamiah atau berlangsung secara perlahan-lahan. Perubahan radikal; perubahan yang terjadi secara frontal sampai manusia kebingungan menghadapinya. Perubahan tak terkendali; perubahan yang menimbulkan kekacauan, sehingga manusia tak bisa memegang kendali atas perubahan tersebut.

Hakikat kehidupan senantiasa berubah senyampang kehidupan masih ada. Ini berarti setiap orang akan mengalami berbagai perubahan dalam hidupnya, hanya saja yang membedakan yakni cara menghadapi perubahan yang terjadi.

Orang yang optimis berusaha menghadapi perubahan, meski yang terburuk sekalipun, berupaya mencari jalan keluar yang tepat, menghadapi dengan kepala dingin, melakukan perenungan dan pemikiran yang matang, sehingga mampu menjadi salah seorang aktor perubahan. Orang yang pesimis cendrung bersikap defensif, malah akan menolak perubahan, mereka didukung kekuatan status quo atau kelompok mapan yang menikmati masa kejayaan kala sebuah perubahan belum terjadi. Sintesis keduanya cukup menarik untuk direnungkan, satu aspek tidak boleh terlalu optimis, sebab perubahan terkadang justru membawa dampak-dampak negatif yang tidak bisa diatasi, satu aspek sedikit rasa pesimis akan membuat orang-orang yang berusaha mempelopori atau terlibat dalam perubahan menjadi mampu mengantisipasi setiap permasalahan yang muncul.

Kelompok optimis biasanya memiliki semangat baja untuk menggerakkan perubahan, tapi karena optimisme yang tidak disertai visi, misi, paradigma dan tujuan dari perubahan, menjadikan perubahan yang ada di luar kendali mereka, sehingga perubahan justru memperburuk keadaan yang sudah buruk, bukan menjadi solusi yang tepat terhadap kompleksitas permasalahan yang muncul. Sebagai misal; pelopor reformasi memiliki semangat baja menggerakkan mahasiswa dan massa, demikian juga kelompok intelektual, sebagian militer, dan birokrat yang merasa mendapat peluang untuk “tampil”, tapi saat bersamaan visi, misi, paradigma dan tujuan tidak jelas, penuh kontradiktif, dan rancu, sehingga begitu reformasi berhasil menumbangkan Soeharto, justru krisis multi dimensi yang melanda Indonesia tanpa bisa diatasi sampai sekarang, meski kepemimpinan nasional telah berganti sebanyak empat kali.

Kelompok pesimis biasanya bersikap pasif dan menolak segala perubahan yang terjadi. Berhubung mereka bersikap pasif, maka mereka cendrung dijadikan “alat” kelompok tertentu yang menginginkan perubahan agar tidak terjadi. Contohnya; berhubung reformasi tidak mampu menawarkan solusi dari kompleksitas permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia saat krisis, ini diperparah dengan semakin menurunnya daya beli masyarakat atau pertumbuhan ekonomi tidak dapat dinikmati rakyat kecil, maka orang-orang yang pesimis ini merindukan masa-masa “jaya” Soeharto dulu, padahal sesungguhnya munculnya krisis karena kesalahan Soeharto yang menganak emaskan para konglomerat, salah mengelola perbankan sehingga menyebabkan krisis ekonomi, korupsi yang dibungkus rapi, dan sikap represif menjadikan rakyat seperti kambing-kambing yang digembalakan seorang pengembala, akibatnya ketika reformasi muncul seperti kuda yang lepas dari kandang setelah puluhan tahun tak pernah keluar kandang.

Reformasi mau tidak mau harus diterima masyarakat dengan segala konsekwensinya, sebab reformasi telah membawa perubahan yang sangat berarti di berbagai bidang; produk undang-undang lebih bisa “mengakomodasi” kepentingan rakyat (ada sebagian yang membela kepentingan kelompok tertentu), aparat kepolisian di bawah Jendral Soetanto menunjukkan perubahan yang positif dengan berbagai prestasi yang mencengangkan dan perubahan peran polisi yang lebih bisa memberikan pelayanan dari pada menakutkan rakyat (meski di daerah tertentu masih belum berubah), reformasi di militer terus menerus dilakukan yang bisa membawa efek positif, demokrasi bisa dilaksanakan tanpa menimbulkan pertumpahan darah, kerusuhan di berbagai daerah mulai bisa diatasi, proses demokrasi menuju arah yang positif, dan adanya semangat yang besar untuk memasukkan nilai-nilai Islam dalam seluruh sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Semua itu menimbulkan optimisme menatap masa depan, meskipun di sana-sini masih banyak masalah yang belum teratasi; usaha kecil dan menengah yang kurang mampu dijadikan basis ekonomi utama, belum banyaknya investor asing yang masuk membuat lapangan pekerjaan semakin sulit, menurunnya daya beli masyarakat, meningkatnya pengangguran dan kemiskinan. Jika semua permasalahan ini diatasi, kita optimis terhadap masa depan Indonesia.

  1. Karakteristik Perubahan

Beberapa karakteristik perubahan menurut Rhenald Kasali, Ph.D dalam bukunya Change: pertama; ia begitu misterius karena tak mudah dipegang, kedua; change memerlukan change maker(s) orang-orang yang berinisiatif melakukan perubahan, ketiga; tidak semua orang bisa diajak ke arah perubahan, malah bersikap sebaliknya, keempat; perubahan berlangsung setiap waktu, maka perubahan diciptakan setiap saat pula, kelima; perubahan memiliki sisi keras (uang dan teknologi) dan sisi lembut (manusia dan organisasi), keduanya harus diberi perhatian yang seimbang dan saling mengisi, keenam; perubahan pasti memerlukan biaya, waktu dan kekuatan, ketujuh; memerlukan usaha-usaha khusus dalam melakukan perubahan terhadap nilai-nilai dasar yang dianut masyarakat, kedelapan; setiap perubahan memunculkan banyak mitos seperti perubahan menciptakan kemajuan, padahal bisa sebaliknya bila salah mengelola, kesembilan; perubahan akan menimbulkan espektasi yang bisa menggugah emosi, memunculkan harapan, dan sekaligus menimbulkan kekecewaan-kekecewaan, kesepuluh; setiap perubahan akan menimbulkan rasa takut dan kepanikan, yang harus diantasipasi sedini mungkin.9

Misteri adalah sesuatu yang muncul penuh dengan berbagai pertanyaan yang sulit menemukan jawaban pasti. Misteri adalah sebuah kegelapan tanpa cahaya. Misteri adalah rahasia yang sulit dimengerti setiap orang yang mengalaminya. Menjadikan perubahan sebagai sesuatu yang misterius adalah memunculkan pertanyaan kritis yang sulit ditemukan jawabannya, untuk itu perlu perenungan dan pemikiran supaya ditemukan jawaban yang mendekati, meski bukan jawaban yang paling benar. Kegelapan diatasi dengan berusaha menemukan “obor” penerang yang berupa semangat untuk belajar terus menerus, membersihkan hati agar ditemukan sebintik cahaya penerang. Sedang sebagai sebuah rahasia, tentu dipahami setelah perubahan benar-benar terjadi, maka ketika perubahan tak terhindarkan, setiap orang harus memiliki tanggung jawab untuk turut serta memberi makna terhadap perubahan yang terjadi, sehingga perubahan menuju ke arah yang lebih baik.

Dalam proses perubahan, biasanya memunculkan orang-orang yang terlibat langsung untuk mempelopori atau menggerakkan perubahan, sebab setiap perubahan memunculkan aktor-aktor yang berjasa di balik itu. Otodidaktor diharapkan mampu menjadi salah seorang aktor perubahan, sebab dengan semangat belajar seumur hidup untuk memahami, mengerti, mendalami, memaknai, dan berbudi pekerti yang luhur, dilaksanakan tanpa mengenal rasa lelah dan putus asa. Setiap kesalahan, kekeliruan dan krisis dijadikan sarana pendorong untuk melakukan sesuatu yang lebih baik.

Karena tidak setiap orang bisa diajak untuk mengikuti perubahan yang ada, malah sebagian di antaranya justru berusaha menghalangi dengan segala cara, meskipun gagal juga. Otodidaktor harus masuk ke dalam arus perubahan, tapi bukan sebagai pengikut arus perubahan, melainkan berusaha memberi warna terhadap perubahan yang terjadi. Ini bisa dilakukan jika seluruh potensi manusia; imajinasi, pikiran, perasaan, kesadaran, hati nurani dan tubuh, bisa dioptimalkan.

Perubahan yang terjadi setiap saat dibaca dengan kritis, dipilah-pilah mana perubahan yang membawa dampak yang positif terhadap diri dan masyarakat, dan mana yang justru berakibat negatif. Perubahan yang tidak dihindarkan, harus diantisipasi dengan berusaha mencari nilai-nilai baru yang sesuai, yang mana nilai-nilai tersebut tidak bertentangan dengan inti ajaran Islam. Malah, Islam dijadikan sandaran nilai untuk menghadapi segala perubahan, tentu saja setelah mampu mengaktualisasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan praktis sehari-hari masyarakat, bukan dijadikan semboyan dan simbol semata.

Untuk melakukan perubahan dibutuhkan manusia dan organisasi, di samping uang dan teknologi. Sumber daya manusia ditingkatkan sedemikian rupa lewat jalur belajar sendiri, waktu kosong dimanfaatkan dengan kegiatan yang bernilai, dan kompetensi senantiasa ditingkatkan agar bisa merekayasa perubahan. Organisasi bukan sekadar sarana berkelompok, melainkan upaya berdialog untuk melahirkan paradigma perubahan, memperkuat kemampuan berogranisasi untuk menghadapi perubahan, dan membentuk organisasi solid yang bisa bekerja sama dengan segala macam organisasi lainnya supaya turut andil dalam perubahan yang terjadi. Uang dimanfaatkan untuk membiayai “ongkos-ongkos” perubahan dengan biaya yang seefisien mungkin, sehingga tidak sampai “menggadaikan diri” pada kepentingan tertentu yang menginginkan perubahan sesuai keinginan mereka. Pemanfaatan teknologi-teknologi baru yang bisa diajak bekerja sama dengan manusia, dan menanggulangi efek-efek buruk yang dibawa.

Pengorbanan waktu, tenaga, dan kekuatan dari setiap orang yang terlibat perubahan harus dipikul bersama agar lebih ringan. Untuk itu, orang yang mempelopori suatu perubahan dituntut mencetak orang-orang yang akan terlibat dalam perubahan tersebut, memanfaatkan waktu yang ada dengan baik, dan mengerahkan segenap kekuatan yang dimiliki untuk melahirkan perubahan.

Nilai-nilai dasar yang terlanjur dianut masyarakat dilihat dari berbagai macam sudut pandang; yang menghambat perubahan positif berusaha dihilangkan perlahan-lahan, yang mendukung arus perubahan berusaha diperkuat, yang tidak membawa efek buruk pada perubahan dibiarkan, dan mencoba mencari nilai-nilai baru yang lebih baik. Dalam konteks ini, konsep; menjaga nilai-nilai lama yang baik, dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik, dijadikan sandaran utama dalam memberikan penilaian terhadap tradisi-tradisi yang dianut masyarakat.

Mitos-mitos perubahan diarahkan pada sesuatu yang positif. Maka tidak setiap mitos dimusnahkan, melainkan mitos yang bisa dijadikan sarana motivasi untuk menggerakkan perubahan, justru disosialisakan, asal tidak dilihat secara hitam putih. Artinya mitos-mitos itu tetap harus dilihat secara kritis.

Setiap perubahan menimbulkan harapan sekaligus kecemasan, harapan terhadap sesuatu yang lebih baik pasti melewati jalan berliku-liku yang dilalui perubahan, sehingga tantangan apa pun berusaha diatasi dengan baik. Kecemasan pada segala sesuatu, justru menimbulkan masalah-masalah baru tanpa ditemukannya solusi yang tepat. Kecemasan dikelola agar tidak menghalangi, sebaliknya harapan jangan terlalu muluk, melainkan diwujudkan pada sesuatu yang mungkin bisa dicapai.

Manusia hidup antara rasa takut dengan berani, takut pada perubahan yang memperburuk keadaan, dan terlalu berani melakukan perubahan juga kurang baik. Bersikap di antara keduanya lebih baik. Ada kalanya perubahan ditakuti, sehingga segala sesuatu dipertimbangkan dengan matang, sedang keberanian dibutuhkan dalam melaksanakan suatu perubahan yang terencana.

Dalam melakukan perubahan, diperlukan strategi yang jitu. Strategi perubahan menurut Black & Gregersen (2002) via Rhenald Kasali Ph.D, yang membaginya dalam tiga kategori. Pertama; perubahan antisipatif; orang-orang yang menginginkan perubahan harus mengantisipasi segala sesuatu; positif dan negatif, sehingga dampak-dampak negatif bisa dicarikan solusi yang tepat, untuk itu diperlukan visi, paradigma dan misi yang jelas dari para pelopor peruhan. Kedua; Perubahan Reaktif, orang-orang melakukan reaksi terhadap perubahan yang terjadi, suatu reaksi yang tepat dibutuhkan agar tidak menjadi korban perubahan. Ketiga; Perubahan Krisis, dalam masa krisis, tidak stabil dan chaos, perubahan memaksa setiap orang untuk berubah, sebab orang-orang membutuhkan nilai-nilai baru yang dianggap bisa beradabtasi dengan perubahan yang ada, maka bagi para pelopor perubahan, krisis adalah suatu kesempatan, peluang dan momentum yang tepat untuk mempelopori suatu perubahan, sekaligus menawarkan nilai-nilai baru yang lebih baik.10

  1. Mengatasi Efek-efek Negatif dari Suatu Perubahan

Kebudayaan laten negatif yang dibawa masa transisi menurut Deal & Kennedy (1998) via Rhenald Kasali Ph.D;

  1. “Budaya Ketakutan (culture of fear)
  2. Budaya Menyangkal (culture of denial)
  3. Budaya Kepentingan Pribadi (culture of self

      interest)

  1. Budaya Mencela (culture of cynicism)
  2. Budaya Tidak Percaya (culture of distrust)
  3. Budaya Anomi (culture of anomie)
  4. Budaya Mengedepankan Kelompok (the rise of underground subcultures)”11

Ketakutan dikelola dengan baik, beberapa cara yang dikemukakan Doug Hall berikut, bisa ditempuh otodidaktor untuk menghadapi ketakutan; melakukan hal yang benar dalam betingkah laku, berbicara, dan dalam segala aspek kehidupan, memanfaatkan penderitaan yang dimiliki untuk mendapatkan keuntungan, ingat orang-orang besar adalah orang-orang yang banyak menderita, berusaha mencoba, dan selalu mencoba untuk berani, sebab tetesan air secara terus menerus dapat melubangi batu, mengurangi ongkos kegagalan dan meningkatkan keberanian; belajar dengan biaya murah untuk sukses, gagal dengan cepat dan bangkit dengan cepat, mengelola ketakutan sebagaimana mengelola modal usaha perdagangan atau pinjaman dari Bank; melakukan perencanaan jangka pendek dan panjang, memainkan kemungkinan bukan kepastian dengan cara memahami setiap resiko dan mengurangi efek negatifnya, melakukan sesuatu yang tidak sama dengan norma umum keliru yang berlangsung di sekitar kita, dan merubah kerangka acuan dengan melihat ke belakang secara menyeluruh.12

Menyanggah atau menyangkal pendapat orang lain, bahkan menolak apa pun yang dikatakannya dengan tanpa dasar dan argumen yang jelas, justru memicu timbulnya berbagai masalah baru. Ini berlangsung dalam era reformasi sampai sekarang; senang mencari-cari kesalahan orang lain, senang membicarakan keburukan orang, senang bergosip ria, senang mencari kambing hitam, dan senang melakukan sesuatu yang bisa menyakiti orang lain dengan perkataan-perkataannya. Otodidaktor dituntut mampu berbicara sesuai kebutuhan, lebih baik diam dari pada berbicara tentang sesuatu yang tidak diketahui.

Kepentingan menjadi sesuatu yang diagungkan sebagaimana akal pernah sangat diagungkan kebudayaan Barat. Setiap tindakan selalu dinilai sejauh mana kepentingan diri bisa diakomodir, jika tidak, maka pasti ditolak, meskipun itu sesuatu yang baik atau suatu perubahan yang bisa membawa umat Islam pada kehidupan yang lebih baik. Parahnya, orang-orang yang berusaha bersikap tulus dianggap memiliki kedok tertentu di balik sikap-sikapnya itu. Sehingga menimbulkan rasa takut berlebihan untuk bersikap tulus tanpa pamrih.

Suatu kebudayaan akan menjadi lebih baik, jika orang-orang yang ada di dalamnya berusaha bersikap tulus dalam segala tindakan, dengan meminimalisir kepentingan-kepentingan pribadi yang biasanya mengiringi setiap tindakan. Ketulusan untuk membantu orang lain agar berhasil belajar sendiri secara maksimal. Ketulusan membantu orang lain agar mampu melakukan pembacaan secara kritis dan konstruktif. Ketulusan membantu orang lain mampu menemukan solusi yang tepat dari permasalahan yang dihadapi. Ketulusan membantu orang lain agar interaksi sosial berlangsung secara harmonis. Ketulusan membantu orang lain agar keluar dari kebodohan dan kemiskinan.

Mencela orang lain atas tindakan keliru yang dilakukannya, padahal terkadang diri melakukan kekeliruan yang sama. Mencela bisa menjadi suatu budaya, jika saling mencela dilaksanakan bahan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari, sehingga seakan-akan tiada hari tanpa mencela orang lain.

Supaya tidak membiasakan diri mencela orang lain, cobalah untuk menjadi orang yang dicela, rasakan penderitaan menjadi orang yang dicela, jika ternyata justru menggelisahkan, menimbulkan kecemasan dan menimbulkan rasa takut, maka sedikit demi sedikit mulai mengurangi untuk mencela orang lain, sampai suatu kelak bisa menghilangkan sama sekali. Otodidaktor bukan sekadar menghindarkan diri mencela orang lain, melainkan juga berusaha menghibur orang-orang yang dicela dan memberikan pengertian pada mereka.

Kepercayaan, kini menjadi sesuatu yang mahal harganya, padahal dalam interaksi sosial justru nilai kepercayaan sangat penting sekali. Ketika seseorang berhubungan dengan perbankan, maka kepercayaan menjadi pegangan nomer satu. Ketika orang tua bekerja agar anaknya berhasil kelak, maka kepercayaan orang tua akan menjadi tanggung jawab bagi anaknya. Ketika seseorang berusaha beradaptasi dengan lingkungan, faktor kepercayaan sangat penting. Ini semua menunjukkan bahwa kepercayaan menjadi salah satu pijakan manusia. Namun bersikap selalu percaya pada orang lain, terkadang ditipu dan dipermainkan orang.

Dengan demikian otodidaktor perlu menumbuhkan sikap percaya pada orang lain, namun tetap berhati-hati agar kepercayaan tidak disalah artikan. Artinya otodidaktor percaya dengan proporsi tertentu, dan menyimpan sedikit rasa curiga. Tapi ingat, jangan sampai rasa curiga selalu menguasai diri, sehingga kepercayaan menjadi hilang, inilah yang terjadi pada bangsa Indonesia sekarang ini.

Serbuan kebudayaan luar akibat globalisasi menjadikan masyarakat Indonesia memiliki gaya hidup meniru orang Barat secara instan. Apa pun yang berasal dari Barat dianggap bagus, sedang apa pun yang berasal dari bangsa Indonesia sendiri dianggap jelek dan ketinggalan zaman. Sayangnya media cetak dan elektronik cendrung membenarkan hal ini dengan berbagai macam cara, simulasi, kemasan, dan bentuk, sehingga disadari atau tidak, masyarakat Indonesia perlahan-lahan kehilangan jati diri.

Ini harus menjadi bahan pemikiran bagi otodidaktor; pendapat, konsep, paradigma, dan filosofi mereka harus kebalikan dari hal itu. Mereka senantiasa berupaya menggali jati diri bangsa Indonesia dengan berusaha mewarnainya dengan nilai-nilai Islam yang luhur, suatu perangkat nilai yang pernah mampu membawa umat Islam di puncak kejayaan. Cara berpakaian masyarakat Indonesia yang sederhana dipadu dengan cara berpakaian Islam yang sopan, sehingga melahirkan fashion yang berasal dari jati diri bangsa. Dalam berpikir, Barat dijadikan obyek pembelajaran, sedang subyek tetap diri sendiri, sehingga bisa memberikan penilaian yang obyektif terhadap kebudayaan mereka. Gaya hidup Barat sangat kering dari nilai-nilai spritual, sebab mereka memisahkan agama dari kehidupan nyata sehari-hari, sedang umat Islam memadukan antara nilai spritual dan sosial untuk bisa berjalan beriringan.

Secara internal, kelompok-kelompok Islam yang ada cendrung berdiri sendiri tanpa mengadakan sinergi dengan kelompok-kelompok Islam yang lain, kecuali jika menyangkut masalah Palestina dan Libanon mereka kompak. Padahal sesungguhnya banyak masalah yang dihadapi umat Islam; kapitalisme pendidikan secara berlebihan, pengangguran, ketidakmapuan menggabungkan antara kerja dan pengetahuan, menjadikan ruang belajar hanya di sekolah dan universitas, kemiskinan secara struktural dan kultural tanpa bisa diatasi, dan setumpuk masalah lainnya yang harus dihadapi secara bersama-sama.

Secara eksternal, umat Islam diharapkan hidup berdampingan dengan orang-orang Kristen, Hindu, Budha, Khonghuchu, dan agama lainnya, sehingga paradigma “Islam Rahmatan Lill’alamien” (Islam menjadi rahmat bagi semesta) bisa diwujudkan dalam kenyataan. Dialog antar agama senantiasa dilakukan agar setiap permasalahan yang timbul bisa diatasi bersama. Dalam Islam tidak ada pemaksaan untuk memeluk agama Islam, sebab orang yang mendapat hidayah Allah yang memeluk agama tersebut. Maka, manakala menyangkut Indonesia atau kemaslahatan dunia, seluruh umat beragama harus bersatu padu.

 

  1. Melakukan Perubahan terhadap Diri Sendiri

Untuk mempelopori perubahan, otodidaktor dituntut mampu memahami dirinya sendiri dulu, pengembangan seluruh potensi yang dimiliki, dan melakukan perubahan terhadap diri sendiri. Menurut Soemarsono Soedarsono “…Bahwa proses mewujudkan perubahan adalah harus dimulai dengan mengubah diri sendiri dan tampil untuk menjadi suri tauladan.”13

Untuk mengubah diri sendiri perlu kesadaran personal dalam diri para otodidaktor, kesadaran personal berkaitan dengan usaha menjadi Muslim yang baik; memadukan antara ibadah spritual dan ibadah sosial, memiliki iman yang kokoh, dan keyakinan kuat dalam hati terhadap agama yang dianut. Dengan kemampuan ini, apa pun yang datang dari luar; budaya global, budaya konsumtif, budaya Barat, budaya Timur, bisa diseleksi dengan filter diri yang kuat, sehingga tidak perlu ditakuti, melainkan dipelajari guna menghasilkan nilai-nilai baru pada masa mendatang.

Aplikasi dari kesadaran personal berusaha disebarkan menjadi kesadaran sosial, artinya berusaha agar orang lain memiliki kesadaran yang sama. Cara efektif untuk sosialisasi adalah dengan bertingkah laku yang baik, melakukan kebajikan, mengerjakan amal shaleh, bersikap tulus pada segala sesuatu yang dilakukan, jujur, memenuhi komitmen janji, disiplin dalam makna positif, bijaksana, jujur, rendah hati, dan lebih banyak berkarya daripada berbicara. Ini semua akan menjadi suri tauladan yang baik bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan dunia, sesuatu yang lebih berpengaruh dari ceramah-ceramah yang “kering”.

Perubahan diri mampu mendorong perubahan sosial secara perlahan-lahan asal diikuti dengan upaya untuk menghasilkan karya yang dinikmati orang banyak; membuat yayasan yatim piatu, membuka pendidikan gratis bagi pemulung, anak jalanan dan orang miskin seperti PKBM Master Terminal Depok, mengajar di sekolah atau pesantren dengan tidak mendahulukan bayaran, membantu orang lain sesuai kemampuan diri, dan menghasilkan karya tulis yang dapat mendorong suatu perubahan, bahkan menciptakan suatu perubahan. Ini bisa dicapai dengan menjadikan belajar sendiri sebagai proyek seumur hidup yang berusaha diwujudkan dalam tindakan nyata, paling tidak menyediakan waktu 1-3 jam sehari untuk membaca dan menulis.

Ibarat setitik cahaya, diri seperti satu bintang di langit di antara ribuan bintang lainnya. Bintang yang satu tiada akan menerangi sebintik cahaya jika awan menutup langit. Dalam rangka menggeser awan lewat bantuan angin, sehingga satu bintang dapat bercahaya sempurna tuk menerangi manusia dan semesta, maka cahayanya harus jernih, kuat dan berbinar. Itu bisa dilakukan, jika eksistensi satu bintang sudah ditemukan (perubahan diri), terus menerus diasah supaya jernih dengan melajar otodidak, hasilkan sinar perubahan.

  1. Mau Menjadi Pelopor atau Pengikut

Pernyataan W Warner Burke; “You don’t change culture trying to change culture,”14 (kamu tidak bisa membuat perubahan budaya, tapi berusaha untuk melakukan perubahan budaya). Manusia hanya bisa berusaha sekuat tenaga untuk menghasilkan suatu perubahan ke arah yang lebih baik, tapi hasil dari usaha ditentukan pada akhir dari suatu peristiwa atau permainan hidup. Ini merupakan pemicu semangat agar lebih mementingkan proses dari hasil.

Dari pengalaman menekuni usaha BO sampai mampu menghasilkan tesis “S2” ini, proses selalu dijadikan pegangan hidup bukan hasil. Saya berusaha sekuat tenaga untuk berdagang sambil membaca buku, membaca realitas masyarakat, dan menghasilkan karya tulis bermacam-macam. Sebelum buku pertama terbit, penolakan demi penolakan saya terima, sehingga pernah hampir membuat saya putus asa. Tapi keyakinan saya pada Allah dan Islam, membuat saya mampu bertahan, dan justru menjadikan semua kegagalan sebagai energi positif untuk berhasil. Salah satu rahasianya karena saya lebih percaya pada proses; kerja keras, ketekunan, kegigihan, semangat pantang menyerah, mental yang kuat, spritualitas Islam yang kokoh, hati nurani yang dihidupkan, terus menghasilkan karya yang bermacam-macam meski dicibir banyak orang, terus belajar tiada henti, dan berbagi ilmu dengan yang membutuhkan, sedang hasil dipasrahkan pada Allah.

Di samping itu, diam-diam dalam pikiran dan hati nurani, saya membisikkan bahwa kebangkitan Islam akan lahir di Indonesia, itu mungkin dipelopori umat Islam yang memegang prinsip “rahmatan lil’alamien” dan sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat. Suara ini lahir, setelah melakukan perenungan terhadap prediksi kebangkitan Islam yang disampaikan Jamaluddin Al-Afghani, Moh. Abduh, Iqbal, Fazlurrahman, Nurkholis Madjid, dan Hasan Hanafi. Sebagai otodidaktor, saya berusaha membantu proses pencapaian itu semua dalam bentuk karya tulis.

Menjadi salah seorang yang turut andil terhadap perubahan besar yang dialami umat Islam menjadi energi yang selalu memompa semangat hidup. Jadi, impian sebagai pelopor perubahan bisa menjadi pemicu semangat bagi para otodidaktor untuk berusaha secara maksimal. Syukur-syukur dalam proses itu, para otodidaktor bisa menjadi pelopor di bidang masing-masing yang dikuasai, sesuatu yang akan menjadi tinta emas sejarah dan dikenang generasi mendatang. Jika pun tidak bisa menjadi pelopor, paling penting sudah berusaha sekuat tenaga, mengerahkan segenap potensi yang dimiliki dan bertawakkal pada Allah, perkara “hasil” atau “nasib” yang kurang baik tidak perlu diratapi. Allah akan menilai dari usaha yang dilakukan dari pada hasil dari usaha, sedang manusia sebaliknya.

Untuk menjadi pelopor di bidang tertentu; dapat berkaca pada Hatta yang mempelopori koperasi, pendidikan dan dunia tulis menulis, Khairil Anwar yang puisi-puisinya abadi dalam pelajaran sekolah sampai saat ini, Frans Kafka yang mengabdikan hidup untuk menulis, di dalam menulis, dan tanpa mendapat imbalan apa pun dari jerih payahnya, tapi dialah pelopor sastra posmodern, HB Yassin yang mempelopori kritik sastra, dan sejumlah pelopor lainnya, yang menjadikan hidup mereka sebagai sarana untuk memberikan sesuatu pada generasi mendatang. Generasi mendatang akan menghadapi kompleksitas hidup lebih rumit dari sekarang. Jika kita tidak turut andil memberikan sumbangan ide, pemikiran, perenungan, paradigma, misi, visi, dan wawasan, maka “kebudayaan lain” akan membentuk mereka, sehingga jati diri Indonesia dan Islam akan hilang ditelan deru globalisasi dan digitalisasi.

Di samping itu, kita dapat belajar pada budaya Kaizen yang diterapkan di Jepang. “Kaizen” adalah sebuah metode yang sangat dipegang teguh di Jepang. Ia adalah proses penyempurnaan secara terus menerus dan tiada henti. Kaizen inilah yang telah mengubah Jepang menjadi sebuah bangsa yang memiliki peradaban sangat maju, serta memiliki teknologi yang mengalahkan “Barat”…”15

Tekad yang kuat, usaha yang gigih, potensi diri yang optimal, dan tawakkal pada Allah adalah serentetan langkah yang harus ditempuh para otodidaktor, sehingga antara proses dan hasil bisa berjalan beriringan. Insya Allah mereka sukses di dunia seperti Hatta dan sukses di akhirat seperti para Nabi, sahabat dan Ulama’ yang berusaha merasakan penderitaan umat manusia dan memikirkan kemaslahatan mereka di masa kini dan mendatang. Insya Allah, dengan itu semua, pelopor-pelopor perubahan ke arah yang lebih baik, berkualitas, dan bermartabat akan lahir satu persatu sebagaimana bibit-bibit padi menghasilkan beras.

 

 

——————————————————————–

1 Yasraf Amir Pilliang, Dunia Yang Dilipat, Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan, (Bandung: Jalasutra 2004), Hal 83

2 ibid Hal 91

3 ibid hal 269-27

4 Michael LeGault, Think, penyunting Rani Andriani Koswara, Trans Media Jakarta, cet.1 2006, 174-178

5 Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, Cara Belajar Cepat Abad XXI,

penerjemah Dedy Ahimsa, editor Purwanto, (Bandung: Nuansa, 2002), hal 340

6 Alwisol, Psikologi Kepribadian, (Malang: UMM Press, 2005), hal 52

7 Hasan Hanafi, Cakrawala Baru Peradaban Islam, Revolusi Islam untuk Globalisme, Pluralisme dan Egaliterisme Antar Peradaban,

penerjemah Muhammad Saiful Anam dan Abduh, penyunting Arif Fakhruddin, IRCiSoD Yogyakarta, September 2003, hal 59-60

8 Heddy Shri Ahimsa Putra, Strukturalisme, Levi-Strauss, Mitos dan Karya Sastra, (Yogyakarta: Galang Press, 2001), hal 393-394

9 Rhenald Kasali, Ph.D, Change, (Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2005), Hal xxxiii-xxxv

10 ibid hal 93-95

11 ibid hal 273

12 Doug Hall, 3 Metode Canggih Melejitkan Kreativitas Bisnis,

penerjemah Mursid Widjanarko, Kaifa PT. Mizan Pustaka Utama Bandung, Cet. I 2004, hal 199-200

13 Soemarsono Soedarsono, Character Building, Membentuk Watak, Mengubah Pemikiran, Sikap, dan Perilaku untuk Membentuk Pribadi Efektif guna Mencapai Sukses Sejati, (PT Exel Media Komputindo 2002), hal 288

14 Rhenald Kasali, Ph.D, op cit hal 308

15 Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spritual ESQ: Emosional Spritual Quistion berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, pengantar Habib Adnan, penyunting Anisi R Handini A (Jakarta: Arga Wijaya Persada, 2001), hal 184

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Membaca (M)

 

Doa Tengah Malam

 

Air hujan mengalir deras membasahi jagad raya, malam yang sunyi hiruk pikuk mendengar nyanyian hujan, suara lembut melelapkan, suara keras memekakkan, suara deru-deru mengkhatirkan, tersimpan gumpalan amarah menghanyutkan.

Dalam pelupuk mata, air menari-menari bersama batu, kayu, tanah, lumpur menjelma prahara di Jember; pasar rata dengan tanah, rumah-rumah penduduk hancur lebur, pesantren tinggal puing-puing, pohon-pohon menerjang tanpa arah, lumpur menggulung apa yang ada di depan mata, mayat-mayat bergelimpangan.

Sketsa kehidupan bergeser ke Banjarnegara, tanah yang dianiya manusia menumpahkan kegusaran, pohon-pohon sebagai penopang telah habis dijarah atas nama pribadi atau diri-diri, ratusan rumah terbenam dalam tanah, bukit berganti tanah datar, orang-orang terkubur bersama, ratusan nyawa melayang sia-sia.

Luka lama akibat tsunami yang membenamkan bumi Aceh, tarian air yang menjelma prahara Situbondo, melumatkan daerah wisata Pacet Mojokerto, longsor gunung sampah di Bandung, nyanyian banjir di segala penjuru, belum hilang benar dalam awang-awang.

Aku menerawang segala peristiwa, hasrat diri hadir dalam tiap peristiwa, mengulurkan tangan, menghibur yang terbenam, memberikan senyum harapan, nyatanya diri diam seribu bahasa.

Aku wajib bertindak bersama terjangan hujan malam ini, kubasuh muka dengan wudhu, memulai irama tahajjud tengah malam,

dibalut hajat pada Ilahi, berdzikir dalam gelap,

menengadahkan tangan harap redam amarah hujan,

perlahan tapi pasti hujan bergerak pelan menjadi rintik-rintik.

Aku tak tahu pasti kaitan doaku dengan rintik air hujan, satu sudut keterkaitan keduanya lemah, kebetulan dijadikan fakta, satu sudut hasil praduga lemah tak bisa dijadikan pengetahuan, satu sudut ada kaitan antara perubahan hujan dengan doa tengah malam.

Aku bertindak sesuai apa yang harus dilakukan, tak peduli pada setiap penilaian, setiap penilaian mengandung kesalahan, setiap tindakan menimbulkan harapan, setiap kebaikan menimbulkan kebenaran, diam sama sekali berarti mati, bertindak tepat berarti hidup dijalani.

 

Wonosari, 08 Januari 2006


  1. Beberapa Cara Membaca

Membaca dilihat dari kaca mata Islam tidak semata supaya memperoleh pengetahuan, lebih dari itu, membaca merupakan perintah Allah yang ditujukan demi kebaikan manusia, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Allah berfirman “Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajari (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al Alaq 1-5)

Membaca diawali dengan menyebut asma Allah agar orang yang membaca mendapatkan manfaat, barokah, ilmu dan hikmah. Bermanfaat dalam makna, pembacaan yang dilakukan memberikan pengaruh positif pada diri dan orang lain. Barokah yakni pembacaan yang dilakukan menjadi langgeng dalam otak seseorang, sehingga kapan pun dibutuhkan tinggal diakses kembali. Ilmu merupakan hasil pembacaan yang dilanjutkan observasi atau penelitian lapangan dan kepustakaan, ilmu yang menggiring manusia mengetahui sesuatu yang tidak diketahuinya. Hikmah ialah sesuatu yang mendatangkan kebaikan pada banyak orang. Dalam konteks ini, seluruh pembacaan berhasil memperoleh itu semua dengan menyebut asma Allah SWT; Bismillahirahmanirrahiem.

Pembacaan dikaitkan dengan keterangan tentang proses penciptaan manusia yang berasal dari segumpal darah, mengandung makna; proses pembacaan yang dilakukan, termasuk upaya semakin memahami dirinya, sehingga menjadi sebenar-benarnya manusia.

“Tubuh” manusia telah berusaha dijelaskan sedemikian rupa dengan ilmu kedokteran, tapi belum benar-benar memahami “kompleksitas” kerja organ-organ tubuh manusia, buktinya seringkali penyakit datang tanpa obat yang bisa menyembuhkan. Memang akhir-akhir ini ilmu tentang Genetika memberikan titik terang yang cerah, tapi manfaat besarnya baru dirasakan pada masa mendatang.

Belum lagi jika berbicara keseluruhan potensi manusia; pikiran, perasaan, imajinasi, kesadaran dan hati nurani. Ini mengindikasikan bahwa ilmu tentang manusia seluas ilmu tentang semesta, semakin dipahami semakin meluas dan dalam, itu berarti proses manusia memahami dirinya tidak akan benar-benar terhenti sampai hari kiamat datang.

Kembali diungkapkannya perintah; “bacalah!” bermakna bahwa proses pembacaan harus dilakukan terus menerus, sehingga pemahaman terhadap sesuatu menjadi lebih dalam, luas, dan penuh makna. Perintah membaca dihubungkan dengan sifat Allah yang Maha pemurah, ini menunjukkan bahwa Allah memberikan ilmu pengetahuan pada hamba-hambaNya tanpa mengenal batas kecerdasan, latar belakang sosial, perbedaan agama, melainkan bagi seluruh manusia.

Setiap orang mendapatkan kesempatan yang sama untuk membaca, dan tentu saja akan memperoleh apa-apa yang diusahakan sesuai dengan kuantitas dan kualitas pembacaan. Ayat ini menjadi bukti kongkrit, mengapa ilmu pengetahuan dan teknologi kini dikuasai Barat, sedang umat Islam hanya menjadi “murid” dalam istilah Hasan Hanafi, umat Islam  menjadi pengikut tanpa mampu berkreasi, dan tak mampu menjadi aktor, melainkan senang sebagai penonton, sebab mereka belum benar-benar memahami makna hakiki dari ayat ketiga ini. Padahal dengan pemahaman yang benar inilah; Ibnu Shina berhasil mempelopori bidang kedokteran modern, Ibnu Rusyd dan Al-Farabi menjadi pelopor di bidang filsafat, Imam Ghazali yang dijuluki ‘Hujjatul Islam’, Muhammad bin Ahmad menjadi penemu angka 0 (nol), Al-Khawarizmi menemukan ilmu Aljabar, dan tokoh-tokoh Islam lainnya yang berhasil menemukan ilmu pengetahuan, sayang apa yang mereka peroleh, diambil Barat untuk dipelajari, sedang umat Islam asyik dengan spritual semata tanpa mampu menjadi khalifah Allah di bumi sebagai esensi penciptaan mereka.

Ada sebuah pandangan keliru di kalangan umat Islam yakni hanya Nabi Muhammad saja yang diajari langsung oleh Allah, sedang umat Islam lain tidak dapat melakukannya. Jika “langsung” bermakna pertemuan langsung dalam konteks Isra’ dan Mi’rajnya Nabi Muhammad, pernyataan di atas benar adanya. Tapi makna “langsung” tidak terbatas pada hal itu, melainkan “langsung” dalam makna perantara, seperti yang difirmankan Allah “Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.” Kalam dalam terjemahan Al-Qur’an berbahasa Indonesia diartikan; “Kalam adalah sarana tulisan dan bacaan sebagai kuncil (sic) ilmu dan pengetahuan agama.”1 Al-Qur’an adalah firman Allah yang diwujudkan teks tertulis, sehingga manusia bisa belajar langsung pada Allah melalui Al-Qur’an.

Ketika Nabi Muhammad menerima wahyu ayat-ayat Al-Qur’an, beliau mengalami sesuatu yang berat, bahkan beliau pernah langsung beruban ketika meneria suatu surat di dalamnya. Itu berarti, untuk mempelajari Al-Qur’an secara mendalam perlu “penguatan rohani manusia”.

Al-Qur’an sebagai firman Allah adalah sarana manusia untuk menimba ilmu langsung dari Allah. Sebagai analogi, Anda bisa jadi belum pernah bertemu dengan Hamka, tapi lewat buku-buku yang ditulisnya, Anda merasa belajar langsung dari Hamka, padahal hanya lewat membaca buku-buku yang ditulisnya. Analogi ini dapat diterapkan ketika Anda membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an mampu menggiring siapa saja untuk memahami semesta, menemukan ilmu pengetahuan, menghasilkan teknologi, memperbaiki akhlak atau prilaku, memahami manusia, berbagai macam hal lainnya, dan sarana belajar langsung pada Allah.

Sayangnya semua itu tidak mampu digali umat Islam, padahal Al-Qur’an bisa dipahami setiap individu dengan caranya masing-masing asal dilakukan dengan niat tulus dan ditujukan untuk kebaikan. Dalam sebuah hadis Qudsi disebutkan, “Aku selalu mengikuti sangka hamba-Ku terhadap diri-Ku dan aku bersamanya jika ia berdoa padaku,” (HR Ahmad) Hadits Qudsi ini sama dengan ayat 128 an-Nahl. Inna Allaha ma’al ladziinat taqau walladziina hum muhsinuun = Sesungguhnya Allah selalu membantu orang yang bertakwa dan mereka yang berbuat baik. (an-Nahl 128). Dan juga firman Allah kepada kedua Nabi, Harun dan Musa: Innanima’akuma asma’u wa araa = Sesunggunya Aku bersamamu mendengar dan melihat. (sura Thaha 46).2

Sedang maksud “penguatan rohani manusia” adalah manusia tidak dapat belajar langsung dengan Allah, jika jiwa, rohani dan hatinya tidak dibersihkan, dikuatkan dan dikokohkan. Pembersihan hati sudah dijelaskan sebelumnya, sedang penguatan atau pengokohan rohani dilakukan dengan melatih mental agar kuat terhadap berbagai macam cobaan, ujian dan musibah, senantiasa memanfaatkan waktu untuk berdzikir pada Allah, baik dzikir lisan atau hati, memikirkan “ayat-ayat” Sunnatullah yang ada pada semesta, bertingkah laku seperti Al-Qur’an berjalan, sesuatu yang telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW, berusaha memberi pada orang lain sesuai kemampuan yang dimiliki tanpa pamrih, memiliki sifat-sifat mulia, dan menjauhkan diri dari segala macam sifat-sifat buruk yang ada dalam diri seseorang. Wah! Kok sangat sulit untuk belajar langsung pada Allah? Karena sangat sulit itulah, maka bila ada orang yang mampu melakukannya berarti pantas disebut Tokoh Islam Sejati.

Di samping itu, Nabi Musa saja dalam suatu pertemuan dengan “cahaya Allah”, langsung pingsan karena tidak kuat, apalagi kita; manusia yang penuh salah dan dosa. Allah menggambarkan peristiwa ini dengan firmannya; “Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.” Tatkala Tuhan menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikanNYA gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.” (QS. Al-Araaf 143). Syaikh Abu Manshur berkata: “Maksud ‘bertajalli untuk gunung’ ialah apa yang dikatakan oleh al-Asy’ari bahwa Allah swt. di gunung menciptakan kehidupan, alam dan ru’yat sehingga Musa dapat melihat Tuhannya. Pendapat ini pun menetapkan keberadaan Allah yang dapat dilihat.” Namun setelah melihatNya, Musa jatuh pingsan karena kedasyatan peristiwa itu.3

Ayat kelima dari surat Al-’Alaq di atas menunjukkan bahwa Allahlah hakikatnya yang menganugerahkan pada manusia segala macam ilmu yang tidak diketahuinya. Coba selidiki kehidupan orang-orang yang berhasil mempelopori ilmu pengetahuan seperti Enstein, Thomas Alva Edison, Newton dan penemu-penemu lainnya, dalam catatan kehidupan mereka pasti disebutkan bahwa untuk mampu menemukan ilmu pengetahuan, mereka terkadang mendapatkan secara tiba-tiba, ilham yang muncul mendadak, dan intuisi atau ilmu yang diperoleh secara langsung. Sebagai ilustrasi pengalaman Newton dalam menemukan teori gravitasi; “Jutaan orang melihat apel yang jatuh dari pohon, tapi hanya Newton yang bertanya kenapa.” – Bernard Baruch, Pebisnis, Politikus.4 Pertanyaannya, dari mana Newton mendapatkan ilham hanya dengan melihat apel jatuh, padahal jutaan orang melihat hal yang sama? Jika tidak dari Allah, dari mana lagi. Lho! Bukankah dia bukan Muslim? Itu menunjukkan anugerah Allah diberikan pada siapa pun yang berusaha sekuat tenaga, semangat pantang menyerah, kerja keras dan cerdas, mengerahkan segenap potensi, dan belajar terus menerus tiada henti.

Umat Islam tidak mampu mencapai semua itu, jika mereka mudah menyerah kalah, mental seperti krupuk yang mudah diremas, ingin mendapatkan sesuatu dengan cara yang mudah, dan tidak mampu menjadikan hadits Nabi “Tuntulah ilmu dari pangkuan ibu sampai ke liang lahat” sebagai sarana untuk belajar seumur hidup, mereka “puas” dengan ilmu pengetahuan, apa yang dimiliki, dan apa yang dicapai, padahal hal itu seperti buih di tengah lautan.

Apa yang saya tulis di atas, jika benar berarti berasal dari Allah, jika salah berasal dari kelemahan saya. Allah yang lebih tahu dengan segala macam kebenaran hakiki.

  1. Cara Kreatif Membaca Buku

BO berkaitan dengan cara membaca, memahami, mengerti, dan mengaktulisasikan apa yang dibaca, baik dalam bentuk tulisan atau pun dalam bentuk pemaknaannya terhadap kehidupan yang sedang dijalani. Maka diperlukan sebuah cara yang paling efektif dalam membaca buku secara kreatif.

Dalam membaca buku secara kreatif ada sekitar sepuluh tahapan yang bisa dilakukan. Masing-masing dijelaskan dalam pembahasan berikut secara terperinci.

Pertama; Dalam memilih buku bacaan, Anda harus menemukan yang sesuai dengan apa yang hendak dikuasai, dengan berusaha mencari buku dari sumber pertama, paling tidak penjelasan seorang penulis handal tentang sumber pertama. Jika ingin mendalami tentang cara menulis karya ilmiah, maka buku yang dipilih adalah Komposisi karya Prof. Dr. Gorys Keraf, Lalu membeli buku ilmiah berkualitas di bidang pemikiran, misalnya buku Batas Nalar karya Donald B. Calne, Dunia yang Dilipat karya Yasraf Amir Piliang, dan Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spritual ESQ: Emosional Spritual Quistion berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam karya Ary Ginanjar Agustian. Buku-buku tersebut ditulis orang pertama, sekaligus ahli di bidang yang digelutinya. Di samping itu, untuk mendalami suatu bidang ilmu dan demi kepentingan penulisan buku dalam upaya menyelesaikan skripsi, tesis dan disertasi, otodidaktor perlu membeli beberapa buku tentang satu bidang dalam jangka pendek, contoh; ingin memperdalam Islam, maka belilah buku-buku keislaman sebanyak 20 buku dalam kurun waktu 2-5 tahun (waktu bagi otodidaktor untuk menyelesaikan skripsi S1), berhubung bidang keislaman juga luas, pilih satu bidang khusus; Islam dalam konteks budaya. Hindarilah membeli buku kumpulan tulisan, sebab biasanya secara kualitas diragukan, kecuali kumpulan esai kritik sastra HB. Yassin, kumpulan kolom Emha Ainun Nadjib dan Gunawan Muhammad, dan kumpulan tulisan ilmiah Nurkholis Madjid.

Kedua; Setelah membeli buku yang cocok dan benar-benar dibutuhkan, Anda baca kata pengantar, baru daftar isi, dan pendahuluan, hal ini sebagai gambaran umum dari buku. Gambaran umum dibutuhkan supaya lebih yakin dengan apa yang dibaca, bila ternyata yang dibaca kurang bermanfaat tinggalkan saja, tapi karena sudah terlanjur memilih sesuai tahapan pertama, mau tidak mau Anda harus melanjutkan pembacaan. Sejelek apa pun sebuah bacaan, pasti ada manfaatnya. Ada sebagian kecil penulis resensi buku yang berhenti sampai tahap ini dan mulai menulis resensi buku, bisa ditebak hasilnya kurang memuaskan.

Ketiga; Menyelesaikan bacaan secara utuh, sehingga sketsa yang ada di otak menjadi lebih jelas, jika kumpulan tulisan yang dibukukan dan kumpulan cerpen kita bebas memilih yang akan dibaca, dan jika buku utuh, Anda dituntut membaca secara utuh pula tanpa memilih sub judul yang sesuai dengan kehendak kita sendiri.

Keempat; membaca ulang secara cepat dengan membuat garis bawah atau menandai poin-poin penting yang bisa dibuat kesimpulan, ada yang mampu membaca utuh (poin ketiga) sambil mengambil garis bawah dengan resiko; kadang yang Anda garis bawahi ternyata sama, maka lebih baik kita baca ulang dan dilanjutkan dengan menggaris bawahi poin-poin penting. Proses ini penting, sebab suatu saat hendak membaca buku yang sama, Anda sudah bisa membaca cepat lewat garis bawah yang dibuat.

Kelima; menulis kesimpulan secara acak dalam komputer atau buku tulis. Tulis apa saja yang sudah digaris bawahi di atas, memang tidak semua yang digaris bawahi akan ditulis, melainkan memilih poin-poin yang paling penting saja dan berkaitan dengan tema tulisan yang hendak dibuat. Dalam menulis kesimpulan pada tahap ini, biarkan apa yang Anda tulis itu apa adanya, tanpa melihat keterkaitan antar paragraf.

Keenam; Baru pada tahap ini, Anda mengatur tulisan dalam paragraf-paragraf dengan memperhatikan mana yang paragraf utama dan paragraf penjelas, serta memperhatikan keterkaitan antar paragraf. Artinya Anda mengatur ulang paragraf-paragraf yang hendak ditulis, bila menggunakan komputer lebih mudah sebab tinggal memindah paragraf, bila menggunakan buku tulis sebaiknya ditandai dengan pensil mana paragraf utama dan mana paragraf penjelas, serta mengaitkan semua paragraf yang ada.

Ketujuh; Untuk memudahkan tahap keenam, Anda buat sub judul baru yang berbeda dari buku asli, mirip juga boleh asal tidak persis sama, sebab ini menandakan pemahaman kita terhadap buku. Dari sub judul yang dibuat, lantas mengatur paragraf sedemikian rupa dengan memasukkan pada sub-sub judul yang sudah dibuat. Dalam tahap ini, Anda bisa membuat judul tulisan yang akan dibuat, membuat judul diakhir penulisan lebih bagus, karena judul yang dibuat lebih mewakili tulisan, menarik dan sesuai dengan hasil pemahaman.

Kedelapan; melakukan telaah kritis pada beberapa kesimpulan yang ada dalam buku hasil bacaan, sehingga Anda menjadi pembaca yang kreatif. Ingat tidak ada karya tulis yang sempurna, setiap karya tulis pasti ada kekurangan (jangan takut jika tulisan dinilai jelek, sebab sebuah penilain itu relatif, jadi teruslah menulis, jika tidak berguna sekarang, nanti pasti beguna). Lebih berbahaya lagi, karya tulis yang menyimpan misi terselebung yang harus diuangkap agar tidak terperangkap. Di sinilah urgensi pembacaan kreatif ini, ketika Anda mampu menemukan kelemahan sebuah buku, mengungkap maksud yang tersembunyi dari sebuah tulisan, dan mengkritisinya dengan alasan yang masuk akal, maka Anda telah menjadi pembaca yang kreatif meski belum sempurna.

Sebaiknya, jika hendak menulis Resensi Buku pada tahap ini, hasil resensi buku jauh lebih bagus. Dalam menulis Resensi Buku ada beberapa tahap yang ditempuh: a) menulis judul resensi yang menarik dan aktual b) menulis judul buku yang dibaca, penulis, penerjemah (jika terjemahan), penerbit, cetakan keberapa dan tahun terbitnya c) Beberapa kesimpulan yang dibuat, Anda buang yang tidak perlu dan memperjelas maksud tulisan d) mengaitkan dengan kondisi yang ada di sekitar agar resensi buku nampak aktual e) memberi penilaian terhadap buku, kelemahan dan kelebihan serta kritik Anda terhadapnya f) membandingkan dengan buku yung sama (jarang penulis resensi buku melakukan tahap ini, tapi sebaiknya dilakukan karena menunjukkan wawasan Anda).

Kesembilan; beberapa buku yang dibaca (minimal 15 buku) ternyata memiliki keterkaitan, Anda dapat menulis buku baru dengan tema baru sesuai kehendak Anda. Jadi, Anda tidak terus menerus menjadi objek dari buku yang dibaca, melainkan bagaimana caranya menjadi subjek kreator baru dengan cara menjadi penulis berdasarkan apa yang dibaca. Inilah yang dimaksud dengan teori resepsi yakni menjadikan pembaca sebagai sentral baru dalam kebudayaan manusia masa kini.

Kesepuluh; mempraktikkan apa yang dibaca dalam kehidupan sehari-hari, menekuni usaha, meningkatkan karir atau pekerjaan, mengambil keputusan, menemukan kebenaran, menyelesaikan masalah, dan beradabtasi dengan perubahan.

Ingat prinsip utama membaca buku; BUKAN SEBERAPA BANYAK BUKU YANG DIBACA, MELAINKAN SEBERAPA BESAR MANFAAT DARI SATU BUKU. Prinsip ini baru saya temukan setelah membaca bermacam-macam buku, kurang lebih sekitar 100 buku. Makna dari prinsip ini; buku yang dibaca seseorang berusaha dilaksanakan dengan melalui sepuluh tahapan yang ada di atas, sehingga pemahaman terhadap buku menjadi utuh, bisa dimanfaatkan untuk keperluan tertentu; menulis resensi buku, menulis artikel, kolom, esai atau ilmiah populer, menulis sastra, memanfaatkan untuk membantu orang lain di bidang yang dikuasai, memanfaatkan untuk membentuk kepribadian seseorang, dimanfaatkan siapa pun yang membutuhkan, dan jika 5-20 tahun kemudian dibutuhkan untuk suatu keperluan, catatan masih ada dan tersimpan rapi. Manusia ingatannya terbatas, hanya hal-hal penting yang diingat dirinya, maka mencatat dalam bentuk kesimpulan atau dalam bentuk pembacaan kreatif seperti yang dicontohkan, akan membantu saat ingatan lupa atau mulai tumpul.

  1. Cara Membaca Buku “How To”

Buku “How To” adalah buku yang berisi cara-cara praktis melakukan sesuatu, yang biasanya bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Buku-buku jenis ini menjadi salah satu “best seller” yang digemari masyarakat, mulai buku-buku “how to” memasak, merawat tanaman, membudidayakan ikan, pengetahuan sofware di bidang komputer, sampai dengan cara menulis.

Buku “how to” bidang usaha berusaha dimiliki otodidaktor, membacanya secara kreatif, dan mengetahui cara memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya membaca buku Berniaga Dengan Iman, Kiat-Kiat Agamis Menjadi Saudagar, selesai dibaca dibuat kesimpulan-kesimpulan dan langkah-langkah yang diambil agar menjadi seorang pedagang yang sukses, lalu berusaha diterapkan dalam usaha perdagangan, supaya lebih berkembang. Dari itu semua, dibuat catatan-catatan baru berdasarkan pengalaman-pengalaman sendiri, siapa tahu ternyata apa yang ditulis di buku kurang lengkap, atau memiliki cara-cara lain agar sukses berdagang atau berniaga. Catatan yang dibuat selama bertahun-tahun, tentu eman jika tidak dimanfaatkan, lantas berusaha menyusun buku cara mengelola usaha sendiri, dengan sudut pandang yang berbeda dengan yang dibaca sebelumnya. Ini bisa dilakukan, jika ditambah dengan buku-buku sejenis paling tidak 15 buku.

Buku “how to” bidang sastra, misalnya buku cara menulis cerpen; Menulis dengan Emosi Pantuan Empatik Mengarang Fiksi karya Carmel Bird. Buku itu dibaca secara kreatif, yang memungkinkan otodidaktor memiliki catatan-catatan khusus. Pada waktu bersamaan, otodidaktor telah menulis beberapa cerpen. Cerpen yang ditulisnya, berusaha dibedah menggunakan cara-cara yang ada dalam buku tersebut. Hasil pembedahan terhadap cerpen, dibuatlah cerpen baru hasil editorial dari tulisan sebelumnya, insya Allah cerpen yang dihasilkan akan lebih baik. Usahakan jangan berhenti sampai di sana, melainkan melanjutkan dengan menulis cerpen-cerpen dengan sudut pandang berbeda-beda, paling tidak dituntut mampu menghasil 11 cerpen. Dari cerpen-cerpen yang ditulis, beberapa di antaranya dikirimkan ke media cetak; koran, majalah, tabloid dan jurnal yang sesuai dengan isi cerpen yang ditulis, untuk itu sebelum mengirim perlu membaca cerpen-cerpen yang ada dalam media tersebut agar mengetahui “selera” media yang bersangkutan, ini penting agar cerpen yang dikirim bisa dimuat dan menghasilkan uang. Jika setelah sebulan belum mendapat tanggapan, surat disertai perangko balasan agar dibalas (hindari mengirim via email), kirimkan ke media berbeda yang “selera”nya sama.

Bagaimana seandainya masih gagal dimuat? Teruslah menulis menghasilkan cerpen-cerpen yang berbeda, lalu yang memiliki kesatuan tema atau cerpen-cerpen terbaik dikumpulkan dalam kumpulan cerpen, paling tidak berisi 11 judul cerpen, lalu diajukan ke penerbit. Kalau di penerbit ditolak karena belum punya nama, bulatkan tekad untuk menerbitkan dengan uang sendiri dari hasil simpanan uang, uang yang dibutuhkan kurang lebih 5 juta rupiah, dan cari distributor yang bisa mengedarkan buku yang dicetak, lalu tunggu hasilnya.

Hasil terburuk, misalnya buku kumpulan cerpen ditolak media, ditolak penerbit dan tidak punya uang untuk menerbitkan sendiri, masih ada cara lain agar tulisan bermanfaat; kumpulan cerpen yang ditulis difoto copy lalu dijual pada orang-orang yang tertarik dengan cerpen, atau foto copy rangkap tiga dan memberi kesempatan pada tiga orang berbeda untuk membacanya, selesai dibaca, berikan pada tiga orang berbeda lainnya, begitu seterusnya sampai banyak orang yang membaca. Alternatif lain; Anda dapat membuat blog di internet sebagai tempat menuangkan tulisan-tulisan, ini gratis kok! Kenikmatan seorang penulis adalah saat buku dibaca orang lain.

Dengan dibaca banyak orang, hakikatnya telah banyak orang yang mendapatkan manfaat, inspirasi, ilham, ide, gagasan, dan pelajaran, itu berarti tujuan penulisan cerpen telah berhasil. Kumpulan cerpen yang ditulis juga bisa dijadikan mahar perkawinan, cara ini pernah ditempuh Hatta ketika menikahi istrinya, atau bisa diwariskan pada anak cucu kita nantinya, sehingga mereka memiliki “buku” yang merupakan hasil karya orang tuanya sendiri. Jadi tidak ada tulisan atau buku yang tidak bermanfaat.

Buku “how to” bidang komputer dipelajari otodidaktor sambil mempraktekkan langsung apa yang dibaca. Misalnya sedang membaca buku tentang Page Maker; buku tersebut dibaca dengan teliti per sub-bab, lalu diterapkan setiap bagian yang diajarkan dalam praktik langsung, sehingga apa-apa yang dipelajari lengket dalam ingatan, sekaligus bisa digunakan lagi saat dibutuhkan.

Bagi yang berhasil kuliah Diploma I komputer bidang apa saja, bisa menggunakan metode barter ilmu dengan teman yang kuliah Diploma I di bidang berbeda, contoh; seseorang kuliah Diploma I bidang Desaign Gravis, dia punya teman yang kuliah Diploma I Programer, maka pihak pertama bisa menguasai ilmu pihak kedua, demikian juga sebaliknya, sehingga begitu lulus Diploma I hakikatnya ilmu yang dimiliki seperti lulusan Diploma II. Lalu berusaha untuk belajar sendiri agar bisa menguasai ilmu-ilmu tambahan yang berkaitan dengan bidang yang dikuasai, sampai akhirnya memiliki kemampuan yang setara dengan sarjana S1. Hal ini pernah dipraktikkan Adi yang kini sedang merintis wira usaha di bidang Multimedia dan Company profile dengan teman-temannya di Jakarta.

  1. Cara Membaca Buku Sastra

Buku sastra yang terdiri dari kumpulan puisi, cerpen atau esai, novel, naskah drama, dan naskah skenario. Dalam membaca buku-buku tersebut berbeda dengan membaca buku “how to”, perbedaan ini akan dijelaskan sesuai dengan jenis buku sastra yang dibaca.

Membaca kumpulan puisi, seperti mengelana dalam lautan kata penuh imajinasi yang mengembara ke mana-mana, setiap kata mengandung makna, demikian juga setiap bagian dari puisi. Dalam tahap pertama membaca buku kumpulan puisi, bacalah dengan keras dulu agar timbul tema umum dari puisi, lantas setiap kata diartikan berikut hubungannya dalam satu larik, satu bait dan keseluruhan puisi, lalu ditafsirkan makna sesungguhnya yang diinginkan penulis puisi, dan terakhir berilah penilaian pada puisi yang dibaca. Jika seluruh tahapan dilakukan secara tertulis, maka tulisan bisa dibuat dalam bentuk esai sastra atau kritik sastra.

Membaca kumpulan cerpen berbeda, sebab cerpen ditulis dalam bentuk prosa, maka baca dulu satu cerpen, cari tema umum dari cerpen, telusuri cara penulis menceritakan tema tersebut, sudut pandang yang dipilih yang mana, setting cerita menarik atau tidak, gaya bahasanya khas atau meniru penulis lain, lakukan perbandingan dengan cerpen lain yang “mirip” dan beri penilaian pada cerpen. Hasil tulisan bisa dibentuk esai sastra atau kritik sastra.

Novel adalah prosa yang menceritakan sesuatu secara panjang lebar, maka bisa dibaca berhari-hari, kecuali novel pendek yang bisa dibaca lebih cepat. Selesai dibaca, dicari tema umumnya, ide yang disampaikan baru atau sudah kuno, isnpirasi apa yang dipetik dari novel tersebut, bagaimana cara mengaktulisasikan isi novel dalam realitas. Jika ingin menulis dalam kritik sastra, perlu ditelaah lebih mendalam unsur instrinsik dan ekstrinsik dari novel, baru dibuat penilaian terhadap novel tersebut.

Naskah drama dan skenario, biasanya lebih menonjolkan dialog dan karakter tokoh di dalamnya, itu berarti dialog yang ada dibaca secara teliti, dianalisa makna yang dikandung, lantas ditafsirkan maknanya, lalu dicari ide brilian yang disampaikan dan pesan yang diinginkan penulis, barulah diberi penilaian baik atau buruk.

Dalam membaca karya-karya di atas, diakhiri dengan penilaian, ini penting supaya pembaca mampu memberi warna terhadap apa yang dibaca dan bisa bersikap kritis, jadi bukan hanya diwarnai, melainkan juga mewarnai. Seorang pembaca bisa setuju, tidak setuju, menerima dengan catatan, bahkan menolak sama sekali dengan menganggap buku yang dibaca tidak berguna, sehingga ketika memutuskan membeli buku kelak, lebih hati-hati dan membeli buku yang benar-benar berkualitas. Di samping itu, ini akan membentuk otodidaktor menjadi sentral baru seperti yang diharapkan teori Resepsi di bidang sastra.

  1. Cara Membaca Buku Ilmiah

Buku ilmiah biasanya buku-buku yang ditulis dengan kerumitan tersendiri, sebab berhubungan dengan kata-kata ilmiah yang sulit, bagi pemula perlu membekali diri dengan kamus bahasa Indonesia atau kamus Ilmiah populer. Bagi yang terbiasa membaca buku hal itu tidak perlu, sebab pemahaman terhadap makna kata yang sulit, biasanya bisa dipahami lewat proses pembacaan atau membaca buku lain yang seide dengan sudut pandang berbeda. Pengalaman saya pribadi, tidak membekali diri dengan kamus, melainkan memahami sebuah buku sejauh pengetahuan yang saya miliki. Biasanya buku ilmiah terbaru menggunakan bahasa yang sederhana, sehingga lebih mudah dipahami.

Bagi yang ingin memperdalam bidang pertanian, perikanan, peternakan, dan kewiraswastaan, perlu membaca buku jenis tersebut yang diperkirakan benar-benar berkualitas dan bisa menggugah inspirasi, sekaligus dapat diterapkan dalam bidang pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.

Dalam membaca buku ilmiah, lakukan sepuluh tahapan dalam membaca buku secara kreatif, lalu baca ulang buku tersebut di lain waktu dengan membaca cepat dari garis bawah yang dibuat atau membaca kesimpulan yang dibuat, dari sana bisa menulis makalah baru sesuai bidang yang ditekuni, lantas makalah tersebut diedit sampai sempurna dan dikirimkan ke media. Usahakan setiap buku yang dibaca mampu menghasilkan satu naskah. Naskah-naskah yang ada disimpan di file komputer atau di dalam map khusus, jika sudah banyak, lantas dicari yang memiliki keterkaitan tema atara yang satu dengan yang lain. Baru memulai menulis buku berdasarkan naskah-naskah yang memiliki keterkaitan tema. Agar mudah dibuat kerangka karangan dulu yang detil.

  1. Cara Cepat Membaca Buku

Untuk membaca buku dengan cepat, perlu beberapa tahapan yakni menjadikan kegiatan membaca sebagai kesenangan, membiasakan membaca buku, proses membaca cepat dan berlatih membaca cepat. Semua tahapan dilaksanakan satu persatu, sampai timbul sebuah inspirasi “Oh! Inti buku ini ada di halaman sekian”, lalu jabarkan inspirasi itu dalam bentuk tulisan.

Membaca bisa dijadikan kesenangan, bila Anda menganggap bahwa membaca itu sesuatu yang menyenangkan seperti halnya bermain. Pada tahap awal, perlu membentuk anggapan dari dalam diri bahwa membaca adalah menyenangkan, perwujudannya ialah membaca buku-buku cerita; legenda, mitos, biografi, dan cerpen. Dari membaca buku cerita, kesenangan membaca akan timbul dengan sendirinya. Timbulkan semangat dalam diri bahwa dengan membaca hidup akan lebih baik, bermakna dan bahagia, ini berarti bahan bacaan beranjak ke buku-buku ilmiah. Tidak semua buku ilmiah susah dibaca atau “berat”, malah ada kecendrungan buku-buku baru ditulis dengan cara yang ringan, enak dibaca, dan sederhana, sehingga mudah dipahami semua kalangan.

Pembiasaan membaca telah dilakukan dengan menjadikannya sebagai kesenangan. Proses pembiasaan ini diperkuat dengan suatu dorongan dari dalam diri bahwa waktu kosong akan dimanfaatkan untuk membaca; apa pun yang dibaca, sehingga kebiasaan membaca bisa menjadi naluri dan kebutuhan. Rasanya ada sesuatu yang “hilang” bila tidak membaca. Jika perasaan ini benar-benar timbul, berarti membaca telah menjadi suatu kebutuhan dalam hidup.

Sekarang waktunya untuk memulai proses membaca buku secara cepat. Pertama; coba baca peta umum dari sebuah buku, biasanya ada dalam buku-buku best seller seperi Cara Belajar Cepat Abad XXI karya Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl. Kedua; dari peta umum, pahami semuanya dengan pemahaman diri sendiri, yang tidak dipahami dilihat penjelasannya dalam buku. Ketiga; tulis poin-poin penting dari buku. Keempat; uraikan poin-poin penting menggunakan bahasa sendiri, baik secara lisan atau tertulis. Dengan menjalankan semua proses ini, buku setebal 400 halaman bisa dibaca dalam waktu dua jam. Ini bisa dilakukan dengan melatihnya terus menerus, sehingga menjadi kebiasaan.  

Anda juga bisa menempuh Enam Rencana M-A-S-T-E-R untuk belajar dengan cepat menurut Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl. Pertama, Motivating Your Mind (memotivasi pikiran); kaya akal yakni relaks, percaya diri, dan termotivasi untuk belajar, memiliki sikap benar terhadap pembelajaran, melihat manfaat investasi waktu, tenaga dan uang. Kedua, Acquiring the informasi/fact (memperoleh informasi/fakta); memperoleh informasi, fakta dan ilmu melalui cara yang sesuai dengan gaya pembelajaran masing-masing individu, sehingga menyerap dan menguasai lebih mudah. Ketiga, Searching out the meaning (menyelidiki makna); mengetahui makna atau definisi sesuatu yang dipelajari dan memahaminya, dari proses ini lantas berusaha menesuri makna yang berbeda dari sumber yang lain, dan berupaya menemukan makna baru dari fakta yang ada, perlu diingat mengubah fakta menjadi menjadi makna membutuhkan optimalisasi seluruh potensi manusia. Keempat, Triggering the memory (memicu ingatan); melengketkan apa yang dipelajari dalam ingatan dengan cara; asosiasi (mengaitkan sesuatu dengan hal lain), kategorisasi (membuat pembatasan), mendongeng, kartu pengingat (kata kunci), peta konsep, musik, dan peninjauan. Kelima, Exhibiting what you know (memamerkan apa yang anda ketahui); membuktikan pada diri sendiri bahwa apa yang diketahui benar-benar mendalam, menyampaikan apa yang diketahui pada orang lain, melakukan presentasi atau diskusi, dan mengajar. Keenam, Reflecting how you are learned (merefleksikan bagaimana Anda belajar), mempraktekkan bagaimana cara belajar yang sesuai dengan gaya pembelajaran yang unik, dan merenungkan; sesuatu yang tidak dipahami, proses pembelajaran berlangsung, kesuksesan yang dicapai dalam sehari, dan evaluasi.(Cara Belajar Cepat Abad XXI, Bandung: Nuansa, 2002, hal 94-97)

  1. Membaca Universitas Kehidupan

Kehidupan menyimpan misteri yang banyak, penuh teka-teki dan menyimpan beragam problematika, yang semua itu perlu diungkap dalam upaya menjadikan kehidupan makhluk hidup di semesta ini bisa lebih nyaman. Untuk itu, kehidupan harus dibaca dengan berwarna-warni bentuk bacaan, sudut pandang berbeda-beda, dilihat dengan kaca mata jernih, dianalisa dengan pemikiran yang kuat, dimaknai dengan hati nurani suci, dicerna dalam imajinasi, dirasakan segenap rasa. Dalam konteks inilah urgensi membaca kehidupan bagi otodidaktor.

Allah berfirman; “Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahaminya, (QS. An-Nahl:12) dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran. (QS. An-Nahl:13) Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl:15) Ayat-ayat di atas menerangkan tentang perintah Allah pada manusia agar berusaha memahami semesta, kehidupan, dan beragam ciptaan Allah yang diperuntukkan bagi manusia. Semua itu dijadikan bahan perenungan, imajinasi, pemikiran, dan dimasukkan dalam hati nurani dalam rangka memperoleh ilmu pengetahuan, sekaligus sarana mendekatkan diri pada Allah.

Akademisi “lebih nampak” berada dalam situasi kampus yang megah, agung, kokoh, dan kuat, yang seakan-akan menjauhkan mereka dari realitas kehidupan, menjauhkan mereka dengan masyarakat sehingga bahasa yang digunakan susah dipahami, menjauhkan mereka dari warna-warna kehidupan sehari-sehari, sampai-sampai banyak sarjana pertanian tidak mau bertani, sarjana manajemen tidak mau berdagang atau berwiraswata, sarjana sosial tidak mau hidup di lingkungan rakyat pedalaman, rakyat miskin atau rakyat kecil, dan sarjana-sarjana dari jurusan berbeda-beda lainnya, yang lebih memilih mencari pekerjaan di perusahaan, pabrik, super market, mall, bidang jasa lain yang tidak berkaitan dengan mata kuliah sekali pun. Dalam konteks ini, beruntunglah para otodidaktor, mereka hidup di tengah-tengah masyarakat sehingga bisa mendalami segala hal, mereka senantiasa bersentuhan dengan masalah-masalah kehidupan begitu membulatkan tekad untuk BO, mereka merasakan setiap penderitaan yang timbul, menjadikan kekurangan sebagai kelebihan, dan menikmati semesta sebagai universitas terbuka untuk belajar banyak hal.

Memang tidak setiap sarjana bersikap seperti digambarkan di atas, sebagaimana tidak setiap otodidaktor mampu bersikap seperti yang digambarkan pula. Namun, tidak ada alasan bagi para otodidaktor untuk merasa rendah diri di hadapan orang-orang yang beruntung kuliah di universitas formal, sebab masing-masing terdapat kelebihan dan kelemahan.

  1. Membaca Fenomena Semesta

“Sesungguhnya dalam kejadian langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dengan siang, dan bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, juga apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu menghidupkan bumi yang telah mati dan mengeluarkan di atas bumi segala binatang yang melata, dan menjalankan angin, serta awan yang berjalan di antara langit dan bumi, semua itu sebagai bukti kebesaran kekuasaan Allah bagi kaum yang berakal pikiran sehat.” (Q.S Al-Baqarah:164)

Tentang latar belakang turunnya ayat ini, Ibnu Abbas r.a berkata, “Tokoh-tokoh Quraisy datang bertanya kepada nabi Muhammad saw., ‘Ya Muhammad kami mengharap dari padamu supaya minta kepada Tuhanmu untuk menjadikan bukit Shafa emas, untuk kami gunakan membeli kuda dan senjata, dan kami beriman kepadamu dan berjuang berperang bersamamu.’ Nabi Muhammad bersabda, “Kuatkan janjimu jika aku berdoa kemudian Tuhan menjadikan Shafa sebagai emas, sungguh kalian akan beriman kepadaku?” Maka mereka berjanji sungguh (sic). Maka Nabi saw berdoa, tiba-tiba datang Malaikat Jibril dan berkata, “Ya Muhammad Tuhan akan memberi permintaanmu untuk menjadikan Shafa sebagai emas, tetapi jika kaummu tidak beriman akan disiksa mereka dengan siksa yang tidak pernah disiksakan kepada seorang pun di alam ini.” Nabi Muhammad saw berkata, “jika demikian tidak ya Tuhan, biarkan aku ajak kaumku, sehari demi hari”. Maka Allah menurunkan ayat 164 ini. (HR Ibnu Mardawaih)5

Dalam konteks belajar seumur hidup, ayat di atas bermakna agar manusia senantiasa memikirkan tentang berbagai fenomena semesta; kejadian-kejadian yang ada di langit dan bumi, silih bergantinya malam dengan siang, apa yang ada di lautan, anugerah Allah yang berupa air, hembusan angin, awan yang berjalan di antara langit dan bumi, sehingga hasil pembelajaran bisa menguatkan keimanan seseorang sampai ke taraf yakin. Percaya saja tidak cukup, maka perlu observasi, penelitian dan analisa dengan pikiran berkenaan dengan fenomena semesta, inilah yang membawa pada keyakinan.

Kejadian yang ada di langit pernah diteliti ilmuan Muslim yakni Umar Kayyam yang melahirkan ilmu Astronomi, kejadian yang ada di bumi diteliti Al-Kindi sehingga melahirkan Fisika, Silih bergantinya malam dan siang melahirkan beragam ilmu, kehidupan bermasyarakat melahirkan ilmu sosial tentang cara manusia memaknai kehidupan yang dijalani, samudera laut yang luas menyimpan ilmu yang belum banyak diungkap, anugerah air yang menjadi kebutuhan dasar manusia dan seluruh makhluk hidup di bumi, keberadaan awan yang bisa menentukan hujan atau tidak juga perlu diteliti agar kekeringan bisa diatasi. Fenomena-fenomena semesta yang pernah diteliti ilmuan-ilmuan Muslim, lalu diteliti Barat sehingga melahirkan Galileo, Newton, Thomas Alva Edison, Enstein, Hawking dan ilmuan-ilmuan Barat lainnya, mereka memanfaatkannya untuk kepentingan masyarakat Barat, sehingga mampu mencapai kemajuan di bidang ilmu pengetahuan, sedang umat Islam menjadi penonton saja. Memang akhir-akhir ini, muncul ilmuan-ilmuan Muslim yang berhasil menemukan ilmu pengetahuan baru, tapi sayangnya mereka tidak memanfaatkan semaksimal mungkin untuk kemajuan umat Islam secara keseluruhan, kecuali yang dilakukan Muhammad Yunus peraih hadiah Nobel tahun 2006 dari Bangladesh.

Akhir-akhir ini muncul ilmu pengetahuan baru yakni Nanoteknologi, padahal ide awalnya ialah penelitian intensif terhadap pohon dan tanaman. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa di dalamnya terdapat mesin-mesin canggih yang terdiri dari molekul-molekul, yang bekerja secara otomatis sebagai sunnatullah dalam Islam atau hukum alam dalam paradigma Barat. Sayangnya umat Islam tidak mampu membaca sunnatullah yang ada di semesta, sehinggga mereka tidak mampu menciptakan ilmu Nanoteknologi. Pemanfaatan Nanoteknologi sedang merambah di berbagai aspek; tekonologi, ilmu pengetahuan, sosial budaya, dan alam.

Cara termudah BO dari semesta ialah; menikmati indahnya bintang-bintang di langit, bulan dan matahari yang menyinari bumi sesuai masa masing-masing; siang sarana bekerja untuk menghidupi keluarga, malam untuk perenungan, pemikiran, intuisi dan menelaah Al-Qur’an, sewaktu memakan binatang laut, senantiasa bersyukur karena merupakan salah satu rahmat Allah, air yang menjadi kebutuhan utama manusia dijaga dan diatur dengan baik agar menimbulkan kemaslahatan bukan mudharat seperti banjir dan tanah longsor, dan pada waktu hujan tidak turun-turun yang mengakibatkan berkurangnya air dan tanaman banyak yang mati, memohon pada Allah supaya menggerakkan awan yang dapat menghasilkan hujan. Bentuk pembelajaran seperti inilah yang bisa memperkokoh keimanan, sesuatu yang bisa membawa umat Islam dalam kebahagiaan di dunia dan akhirat.

  1. Membaca Krisis Tak Kunjung Usai

Indonesia dalam situasi sulit semenjak krisis multi dimensi melanda, khususnya krisis ekonomi yang tanpa kunjung berakhir. Sesungguhnya Allah telah membuat sebuah perumpaan indah dalam Al-Qur’an tentang hal ini; “Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir.” (QS. Yunus 24)

Indonesia adalah negeri yang makmur, menanam sesuatu tumbuh sendiri, tanah-tanahnya subur, kekayaan alam luar biasa berlimpah, tapi sayangnya mulai zaman dulu sampai sekarang tidak bisa dikelola dengan baik. Ketika krisis melanda, orang-orang Indonesia kelimpungan, stres dan putus asa, padahal mereka telah menikmati hidup enak, tentram dan tenang sebelumnya. Padahal Jepang dengan sumber daya alam terbatas mampu menjadi negara maju dengan peningkatan sumber daya manusia sampai taraf maksimal, sedang sumber daya manusia Indonesia “berjalan di tempat” jika tidak mau disebut antara hidup dan mati.

Krisis multi dimensi pada akhir abad 20 sampai awal abad 21, belum dapat diatasi secara keseluruhan. Orde Reformasi yang menjadi pengganti Orde Lama dan Orde Baru, justru tak mampu mengatasinya, sebab kehadiran reformasi tanpa disertai paradigma, konsep dan diskursus yang jelas, sehingga yang terjadi adalah hiruk pikuk “kemenangan palsu” yang berakhir dengan kekalahan demi kekalahan. Salah satu penyebabnya karena terlalu lama hidup “enak” dalam era Soeharto. Menurut Rhenald Kasali, Ph.D “Perjalanan bangsa-bangsa sebenarnya sama saja. Mereka yang terlalu lama menikmati kesenangan akan mengalami masa-masa sulit. Kata Jim Collins (2003), “Good is the enemy of great”. Kondisi bagus adalah lawan dari kejayaan. Bangsa yang sudah puas akan berhenti belajar dan menjadi angkuh. Pada saat itulah hidup kita mengalami ujian yang sesungguhnya.”6

Demokrasi memang sudah berlangsung dengan baik, bahkan melebihi yang dicapai AS sekali pun, sebab di sini setiap pemimpin, mulai dari desa sampai negara, dipilih melalui pemilihan umum langsung. Semoga di masa mendatang mampu melahirkan Pemimpin Sejati guna mengatasi hal ini, khususnya mengurangi kemiskinan, pengangguran, dan korupsi.

Krisis multi dimensi bukan kesalahan pemerintah semata, kita sebagai rakyat Indonesia turut bertanggung jawab terhadap apa yang dialami. Sebab kita “diam” seribu bahasa ketika Soeharto memerintah dengan semena-mena, berhutang sana sini sampai menumpuk, menanggung beban hutang BLBI akibat kekeliruan perbankan, mengeruk ekonomi rakyat banyak untuk kepentingan sebagian kecil konglomerat, IMF mengatur Indonesia seenaknya sendiri dan kesalahan-kesalahan lainnya yang dibiarkan begitu saja. Apalagi kita hidup penuh rasa curiga, saling menyalahkan, saling menjatuhkan, dan saling tidak percaya.

Kelemahan masyarakat Indonesia lainnya ialah mentalitas rapuh yang mudah menyerah kalah pada keadaan, kegagalan, kerancuan, dan pada orang lain, sehingga tidak mampu beradabtasi dengan arus perubahan yang terjadi, apalagi mewarnai perubahan dan menjadi pelopornya. Mentalitas inilah yang membuat Indonesia tidak akan pernah mampu merdeka dalam pengertian yang hakiki dalam berbagai aspek kehidupan.

Para otodidaktor harus mampu membaca semua itu, lalu berupaya menemukan alternatif-alternatif baru bagi masyarakat agar bisa mengatasi permasalahan, memberikan inspirasi dalam tulisan-tulisan yang ditulis dengan sepenuh jiwa dan raga, menyebarkan ketulusan atau sikap tanpa pamrih sebagai kebiasaan hidup keseharian, menjadikan moralitas sebagai pegangan hidup, menjadikan agama sebagai jalan hidup di dunia dan akhirat, menjadikan kejujuran sebagai sikap hidup, menerangi dengan cahaya-cahaya nurani yang mulai tertutup kegelapan, menghadirkan kedamaian, melahirkan ide-ide baru yang cemerlang dan aplikatif, dan menemukan solusi-solusi baru dalam kehidupan. Inilah makna pembacaan terhadap krisis di negeri ini.

  1. Membaca Bencana-Bencana Alam

Bencana alam datang silih berganti, gempa dan tsunami Aceh yang menelan korban jiwa ratusan ribu orang dengan kerugian materi yang sangat besar sekali, banjir bandang di Situbondo, Pacet, Jember, dan NTB, tanah longsor di Banjar negara dan gunung sampah Bandung yang menimbun ratusan nyawa, gempa dasyat di Yogyakarta yang efeknya sangat besar dengan korban jiwa ribuan orang, puluhan ribu orang terluka berat dan ringan, kerusakan yang dasyat terhadap bermacam-macam jenis bangunan, dan trauma mendalam bagi mereka yang mengalami, dan banjir bandang di beberapa daerah di Sulewesi, khususnya Sinjai Sulawesi Selatan yang banyak memakan korban jiwa, dan lumpur panas Lapindo yang menjadi prahara bagi masyarakat Sidoarjo dan Jawa Timur. Belum lagi ditambah musibah-musibah lain yang tak kalah mengerikan; banjir rutin setiap musim di beberapa kawasan, flu burung, musibah di bidang transportasi dan berbagai penyakit lainnya tanpa ditemukan obatnya. Pertanyaannya apa makna musibah tersebut bagi rakyat Indonesia? Pelajaran apa yang diberikan Allah pada umat Islam? Bagaimana menyikapi hal ini?

Setiap musibah dasyat terjadi, otodidaktor memperhatikan detil setiap kejadian, bahkan sangat dianjurkan untuk datang langsung membantu, jika tidak bisa bantulah dengan tulisan. Sebagai perbandingan, saya menulis tiga tulisan dalam bentuk opini ke harian Republika; Membudayakan Kesadaran Personal, ke harian Kedaulatan Rakyat; Gempa Yogya Bagi Indonesia, ke harian Media Indonesia; Islam Menangis, honor semua tulisan jika dimuat akan diberikan pada korban gempa di Yogyakarta dan Sebagian Jawa Tengah lewat media yang memuat tulisan, meski belum ada konfirmasi atas pemuatan tiga tulisan tersebut sampai buku ini ditulis, paling tidak saya telah berusaha membantu.

Cara kreatif memahami makna bencana alam adalah seperti yang dilakukan tokoh Hari dalam novel Bidadari Posmodern, ketika dirinya mengalami puncak putus asa, sehingga timbul ide untuk bunuh diri, tiba-tiba timbul dalam benaknya gambar-gambar orang-orang yang mati menggenaskan disapu gelombang tsunami di Aceh, diterjang banjir bandang di Situbondo, Pacet Mojokerto dan Jember, lalu dia sadar bahwa bunuh diri bukan jalan keluar terbaik dari penyelesaian masalah. Kesadaran muncul setelah merenungkan makna bencana-bencana alam bagi kehidupan manusia.7

Bencana alam yang terjadi seringkali karena kelalaian manusia dalam mengelola sumber daya alam, sehingga alam menjadi “marah” dan menyerang balik. Untuk itu, perubahan fungsi kawasan tertentu, penebangan hutan yang berlebihan, pemanfaatan sumber daya alam tanpa mengindahkan lingkungan, dihentikan mulai saat ini juga. Harus ada evaluasi menyeluruh terhadap eksploitasi sumber daya alam di Indonesia, sehingga bencana alam bisa dihindari.

Orang-orang yang belum ditimpa bencana alam, pandai-pandai membaca keadaan, jika ada tanda-tanda akan terjadinya bencana alam diantisipasi sedini mungkin dengan memelihara dan memperbaiki lingkungan sekitar. Sebagai seorang muslim, mereka bisa memohon pada Allah lewat dzikir yang tulus, shalat Tahajjud tengah malam dan hajat, membaca Al-Qur’an dan berdoa dengan khusu’ agar tidak tertimpa musibah. Ini dilakukan sepanjang waktu seumur hidup.

  1. Membaca Kehidupan Sehari-Hari

Menjalani hidup dalam rutinitas sehari-sehari seperti menjalani segala sesuatu secara sama namun berbeda, mengalami berbagai hal yang menyenangkan dan menyedihkan, melewati tantangan-tantangan, melakukan hal-hal yang sia-sia, sepele, kecil, dan remeh, bergaul dengan masyarakat dengan segala problematikanya, bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup; makan, minum, berkarya (bagi yang tidak berkarya berarti nonsens), dan tidur. Semua itu harus dibaca dengan bacaan yang kritis, kreatif, konstruktif, dan dari berbagai macam sudut pandang untuk mampu melahirkan kebijaksanaan dan kearifan.

Suatu hari Anda merasa dimusuhi orang lain tanpa sebab yang jelas, sebagai manusia biasa pasti marah, gelisah, risau, dan khawatir. Ini harus dikelola dengan baik, selidiki apa yang menyebabkan semua itu, temukan akar permasalahan, cari solusi terbaik, lakukan solusi tersebut, lalu perhatikan apa ada perubahan tingkah laku atau tidak. Jika tidak ada perubahan, lakukan sekali lagi sampai benar-benar yakin dengan solusinya. Jika tetap tidak ada perubahan, doakan pada Allah agar mereka yang memusuhi kita menjadi sadar terhadap apa yang dilakukan.

Pada hari yang berbeda, Anda berusaha melakukan sesuatu yang baik demi kepentingan masyarakat, namun mereka menganggap yang dilakukan menyimpan kepentingan terntentu, ada udang di balik batu, ada maksud di balik kebaikan, dan kecurigaan lainnya. Hadapi hal ini dengan kesabaran, sebab memiliki kesabaran dalam diri adalah anugerah terbesar dalam hidup. Dengan kesabaran, Anda kelihatan kalah dari luar, namun dilihat dalam aspek berbeda kitalah pemenangnya. Dengan kesabaran, Anda akan mampu menangkap makna di balik apa yang terjadi. Jika tidak percaya, alamilah hal ini dan bersikaplah sabar.

Ada seorang pengemis yang menggigil kedinginan di sebuah sudut pasar, malam telah beranjak, hati Anda merasa iba melihat keadaannya, maka tergeraklah untuk memanggil becak dan membawanya ke Puskesmas terdekat. Anda biayai biaya pengobatan, dan mengantarkannya sampai di rumah gedeknya yang pengap, sempit dan tidak terurus. Lalu keesokan harinya, Anda kunjungi dengan membawa kebutuhan pokok yang diperlukan. Di mata orang yang dibantu hal itu bernilai sangat besar sekali, pasti berulangkali dia akan berterima kasih, mendoakan kebaikan Anda, dan bersyukur pada Allah, padahal nilai bantuan yang diberikan tidak seberapa. Ini dakwah yang paling efektif dibanding berdzikir sambil menitikkan air mata, namun sikap hidup tidak berubah, berdakwah di masjid besar atau televisi, namun orang-orang yang hadir hanya menangkap kelucuan-kelucuan dari isi dakwah yang disampaikan.

Dalam konteks membaca kehidupan sehari-hari, Anda berusaha melakukan sesuatu yang bermakna bagi diri, keluarga, orang lain dan orang-orang yang hidup dalam kekurangan, sehingga makna kehidupan di balik semua peristiwa dalam kehidupan sehari-hari menjadi terang seperti terik matahari atau terang bulan pada pertengahan bulan Hijriah.

  1. Membaca Nasib Sebagai Pemicu Semangat

Nasib adalah ketentuan Allah yang sulit dipahami, susah ditebak, tidak jelas, dan hanya diketahui setelah suatu kejadian terjadi. Untuk itu, perlu dimengerti makna-makna nasib yang dialami setiap orang dalam perjalanan hidupnya. Sebagai perbandingan, tentu saja pengalaman pribadi saya akan diceritakan agar bisa menjadikan garis nasib sebagai perjalanan hidup yang wajar, namun mampu memicu semangat untuk menghasilkan karya yang bermanfaat dalam hidup umat manusia.

Sebagai alumni Pesantren Al-Amien (mondok selama 8 tahun), saya membiasakan diri terlibat dalam berbagai organisasi, aktif membaca buku semenjak masuk pondok sampai keluar, aktif menulis semenjak kelas III di pesantren -setingkat kelas III SMP-, mempelopori penerbitan mading SUASA dan majalah AL-HIKAM, meraih juara I berbagai lomba penulisan cerpen dan ilmiah populer, juara I lomba baca tulis cerpen se Madura di Talang Sumenep, pada usia 22 tahun tulisan dimuat di harian Surya berbentuk Kolom Mahasiswa, tapi garis nasib menaqdirkan saya gagal kuliah di Undip Semarang meski beasiswa ICMI sudah di tangan, jika lulus UMPTN. Gairah untuk kuliah di IAIN tidak tertarik, sebab lebih tertarik pada sastra, manajemen dan ilmu komunikasi. Pada saat yang sama orang tua jatuh bangkrut dan tidak mampu membiayai kuliah. Pertanyaannya, akankah upaya untuk belajar akan terhenti dengan gagal kuliah?

Cara membaca taqdir buruk tersebut adalah dengan merintis kembali upaya membaca kembali mulai tahun 2000 sampai sekarang. Setiap tahun, saya sediakan uang antara Rp. 150.000,- s/d Rp. 250.000,- untuk membeli buku bermacam-macam. Awalnya membeli dan membaca buku-buku filsafat, lalu mempelajari sastra; puisi, cerpen, novel, drama, skenario, kritik sastra, buku-buku marketting, dan terakhir memperdalam Islam kembali. Dari hasil pembacaan, saya menghasilkan; empat skenario, dua novel, 2 ontologi puisi dan 1 ontologi terbaik dari keduanya berikut puisi-puisi baru, satu kumpulan cerpen, satu buku pemasaran.

Garis nasib kembali membimbing pada kegagalan demi kegagalan, cerpen-cerpen ditolak berbagai media, beberapa Resensi Buku yang dikirim ke beberapa media juga gagal dimuat, ketika berangkat ke Jakarta tahun 2005 untuk menerbitkan kumpulan cerpen dan novel, menawarkan skenario ke beberapa PH di Jakarta, bahkan mengangkat seorang manajer untuk mempromosikan skenario, namun hasilnya kembali gagal. Lalu ada harapan meminta dana pada BAMUIS BNI untuk menerbitkan tulisan, namun lagi-lagi ditolak.

Terus terang, saya hampir putus asa, stres, sedih, kecewa dan menangis pilu sendirian. Dalam perenungan terhadap semua kegagalan ini, lalu terlintas dalam imajinasi; apa tidak sebaiknya saya terus menulis asal bisa bermanfaat untuk orang lain? Bukankah Frans Kafka seumur hidup karyanya yang berupa novel dan kumpulan cerpen tidak ada yang terbit, begitu terbit disebut pelopor sastra posmodern? Dari sini timbul semangat menulis kembali, maka lahirlah buku Berniaga dengan Iman, Kiat-Kiat Agamis Menjadi Saudagar dan skenario Bidadari Modern yang digubah menjadi sebuah novel dengan judul Bidadari Posmodern.

Saya kembali berusaha menerbitkan tulisan ke Yogyakarta dengan melakukan pinjaman uang terhadap asuransi Bumiputra sebesar Rp. 3.000.000,- dengan cicilan Rp. 162.000,- selama 2 tahun. Uang tersebut digunakan untuk membiayai penerbitan tulisan. Mulailah saya berhubungan dengan penerbit Pilar hampir dua Minggu, namun perjanjian deadlock atau gagal, lalu saya dipertemukan dengan Gus Zainal penerbit Kutub, alhamdulillah novel Bidadari Posmodern bisa diterbitkan bulan September lalu dengan jaminan saya menyumbang sebagian biaya penerbitan sebesar Rp. 2.000.000,-. Lalu buku Berniaga Dengan Iman, Kiat-Kiat Agamis Menjadi Saudagar Sukses juga sudah diterbitkan Kha-tulis-tiwa Press. Sesuatu yang gelap, berubah menjadi titik terang. Namun ini belum berakhir, dua buku yang terbit berhadapan dengan merosotnya daya beli masyarakat terhadap buku, sehingga belum laku secara optimal.

Garis nasib yang buruk juga dialami dalam upaya mencari jodoh, setelah cinta pertama dan kedua kandas dalam jurang terjal, saya sampai mengalami kegagalan meminang gadis untuk dijadikan istri sebanyak 7 kali, sehingga hidup sunyi, sepi, dan hampa, -alhamdulillah kini saya menemukan jodoh saya-. Tapi saya menangkap kegagalan ini sebagai cara bijak Allah agar terus menerus berkarya, dan bisa jadi, jika kawin, istri saya tidak akan mengizinkan pinjam uang untuk menerbitkan buku. Dengan kesendirian, saya bisa bebas mengatur keuangan, khususnya membiayai cita-cita mulia menjadi penulis, pelopor pendidikan Kuliah Alternatif bagi yang tidak mampu kuliah formal, dan merancang Pelatihan Learning For Living (LFL) sebagai pendukung utama.

Hampir dua tahun saya berusaha mewujudkan Kuliah Alternatif; dari Wonosari, Depok, Lombok Tengah NTB, Palembang, Samarinda, dan terakhir balik lagi ke Depok, tapi sulit sekali merealisasikannya. Memang saya dapat resistensi dari beberapa kelompok tertentu yang berusaha dengan segala cara menggagalkan impian ini. Tapi saya tidak pernah menyerah, sehingga Allah buka jalan kesepakatan dengan Nurrohim; PKBM Bina Insan Mandiri Terminal Depok.

Jika Pramudya Ananta Toer menganggap nasib buruk adalah hantu menakutkan, sehingga tidak percaya Tuhan sang penentu nasib. Sebaliknya, saya mempercayai nasib sebagai cara arif dari Tuhan untuk mengajarkan pada manusia agar mereka melakukan yang terbaik dalam hidupnya, menguji dengan musibah agar diuji secara psikis, mental dan fisik, dan memicu manusia agar mengoptimalkan semua potensi sampai ambang batas yang bisa diraih. Garis nasib adalah guru terbaik dalam kehidupan yang sangat bermakna bagi manusia, garis nasib adalah cara Tuhan berkomunikasi dengan manusia dengan cara yang lebih kreatif, jenius, penuh misteri, dan mengajarkan rahasia-rahasia tersembunyi dari diriNYA. Terima kasih bung Pram! Ucapan Anda untuk tidak percaya Tuhan membuat keyakinan saya pada Allah semakin dalam, saya selalu bersama dengan Allah dalam segala keadaan yang dialami; sedih atau senang, menangis atau gembira, sengsara atau bahagia, gagal atau berhasil, putus asa atau dalam keadaan baik, stres atau tenang, nasib buruk atau baik.

  1. Belajar dari Mana, Siapa dan Apa Saja

Nasihat orang bijak bahwa untuk menjadi orang yang baik harus bergaul dengan orang yang baik pula. Jika ini diterapkan dalam cara BO, maka untuk menjadi otodidaktor yang baik harus berlajar pada guru yang baik. Padahal dalam realitas kehidupan, mencari guru yang baik sulit sekali, maka dari itu dalam konteks BO, nasihat orang bijak di atas hanya bisa dimanfaatkan pada tahap awal, pada tahap lanjutan harus mampu memiliki paradigma baru.

Paradigma baru tersebut adalah mampu belajar dari mana saja tanpa melihat latar belakang, siapa saja orangnya, dan dari apa saja yang ditemui, dijumpai, dirasakan, dialami, dipikirkan, diimajinasikan, dan dibisikkan hati nurani. Dengan paradigma baru ini, maka tempat otodidaktor adalah dunia yang terbuka lebar, guru bagi otodidaktor adalah siapa saja yang mampu mengajarkan sesuatu yang sepele sekalipun, dan apa saja bisa dipelajari untuk dipetik maknanya, ditetemukan hikmah yang dikandung, didalami maksud tersembunyi, dan dijadikan sarana membentuk karakter diri yang mempuni terhadap tantangan zaman seberat apapun juga.

Tujuan dari semua pembelajaran adalah suatu supaya mampu memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, mengisinya dengan kegiatan-kegiatan yang bermakna, dan tidak membiarkan waktu berlalu dengan sia-sia. Menurut Benjamin Franklin; “Kalau anda cinta kehidupan, maka janganlah sia-siakan waktu, karena bahan mentah kehidupan tersusun dari waktu.”8

  1. Belajar dari Mana Saja

Ada pemahaman sempit dari sebagian umat Islam, bahwa segala sesuatu yang berasal dari Barat itu buruk, sampah, tidak berguna, tidak bermanfaat, sesuatu yang sia-sia, dan nonsens, sedang segala sesuatu yang berasal dari Timur Tengah yang merupakan asal muasal Islam dianggap baik, bermoral, bagus, dan benar. Pandangan sempit ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan orang-orang kerdil di Barat yang mengganggap bahwa segala sesuatu yang bukan berasal dari mereka adalah salah, keliru, menyimpang, dan tidak berguna.

Cara pandang ini harus dirubah, dengan cara mampu mempelajari apa pun dan dari mana pun asalnya. Pada awal pembelajaran, perlu memperdalam Islam sesuai sumber aslinya dalam upaya memperkuat keislaman dan mempertebal keimanan. Ketika keyakinan sudah mengakar dalam jiwa dan hati nurani, mulailah membuka diri, termasuk yang berasal dari Barat; film, fiksi, sastra, pengetahuan, dan ilmiah. Apa yang berasal dari Barat tidak akan mengganggu keislaman dan keimanan kita, malah seperti yang terjadi pada saya, justru memperkuat keislaman dan keimanan, sebab saya mampu mengkritisi setiap pemikiran, buku, imajinasi, dan pengetahuan yang berasal dari Barat.

Anda juga harus mampu belajar tidak hanya pada Barat atau Timur, melainkan juga Selatan dan Utara, jika arah dijadikan pedoman. Setiap sesuatu bermakna dalam kehidupan asal bisa dilihat dengan kaca mata pikiran yang jernih, imajinasi yang kreatif, perasaan yang tenang, dan hati nurani yang suci.

Dari Barat Anda BO cara mereka sampai bisa mencapai kemajuan seperti sekarang ini, sebab selama ini umat Islam hidup di angan-angan; mereka bermimpi shalat di bulan, padahal orang Barat yang pertama kali mendarat di Bulan, mereka ingin kaya raya tapi pemalas dan mental rapuh, mereka bermimpi hidup di planet Mars, namun orang AS yang bereksprimen secara intensif ke Planet tersebut. Realitas ini menunjukkan bahwa dari sutut ilmu pengetahuan, teknologi, sastra, dan metodologi, umat Islam perlu belajar dari Barat agar mereka tidak menumpuk kertas seminar untuk sampai ke bulan, melainkan berangkat dengan teknologi, ilmu pengetahuan, dan cara yang benar. Untuk itu generasi Muslim masa depan harus mampu menguasai bidang-bidang yang dimiliki orang Barat, asal tidak merubah keyakinan terhadap Islam.

Satu contoh sederhana belajar pada orang Barat; saya menonton film (sorry lupa judulnya, sebab film lama), dalam film tersebut seorang anak kecil yang menjadi aktor utama berusaha membantu 3 orang di sekitarnya secara tulus sampai orang yang dibantu keluar dari kesulitannya, 3 kebaikan yang dilakukannya juga dilakukan tiga orang yang dibantu, begitu seterusnya, sehingga kebaikan tulus tanpa pamrih ini menyebar di seluruh AS, pada ending film anak tersebut mati ditusuk teman sekolah yang dipukulnya sehari sebelumnya karena menganiaya sahabatnya. Dari film tersebut terbersit inspirasi, bagaimana jadinya jika setiap masyarakat Indonesia membantu 3 orang tanpa pamrih agar yang dibantu bisa mengatasi kesulitannya, maka kebaikan tanpa pamrih yang mulai hilang di bumi pertiwi, menjadi menyebar di bumi Indonesia. Sehingga mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam berhasil keluar dari kesulitan-kesuilitan yang dihadapi, hal ini akan membantu mengatasi krisis multi dimensi yang menimpa mereka. Di samping itu, Allah tidak pernah tidur, Dia selalu melihat tingkah laku hamba-hambaNYA, siapa tahu dengan itu, Dia membuka pintu barokah, rahmat, inayah, hidayah, dan rizki pada seluruh umat Islam di Indonesia. Insya Allah, kebangkitan Islam di dunia akan lahir di Indonesia, akan berlangsung tidak lama lagi. Inilah contoh sederhana BO pada orang Barat dengan cara yang benar.

“Meskipun terdapat persamaan esensi antara Islam dan Barat, aspek kesejarahan keduanya berbeda. Periode sejarah Barat bermula dua puluh abad yang lalu dan telah melalui masa klasik, pertengahan dan modern. Sejarah Islam baru mulai empat belas abad yang lalu dan hanya melewati dua periode; klasik, tujuh abad pertama, dan pertengahan, tujuh abad setelahnya. Islam datang pada akhir periode klasik Barat. Karena itu, masa klasik Islam berbarengan dengan masa pertengahan Eropa. Sementara masa pertengahan Islam berbarengan dengan masa modern Barat. Ketika Islam menjadi guru, Eropa menjadi muridnya. Tetapi ketika Eropa menjadi guru, dunia Islam menjadi muridnya. Eropa sekarang sedang mengakhiri masa modern dan belum tahu mau menuju kemana. Sementara Islam sedang mengakhiri masa pertengahan dan bergeser dari masa reformasi dua abad yang lalu menuju masa pencerahan.”9 Pendapat Hasan Hanafi ini menunjukkan bahwa Islam sedang dalam proses untuk mencapai kemajuan di segala bidang.

Tidak hanya BO dari Barat, tapi juga harus mampu belajar dari mana saja, termasuk dari orang-orang komunis China atau Rusia, Jepang, Afrika, dan Amerika Latin. Misalnya dari orang-orang China belajar tentang gaya hidup hemat dan prinsip berdagangnya yang luar biasa yakni menjual harga barang murah dengan kualitas tinggi atau paling tidak sama, dari Rusia yang merupakan perubahan dari Uni Sofyet kita belajar bahwa menjalani hidup tanpa Tuhan akan berakhir dengan kehancuran, dari Jepang kita belajar cara mengelola sumber daya alam yang terbatas, cara mengelola kehancuran dan keterpurukan, mentalitas baja, dan cara mengelola perekonomian sehingga berhasil menjadi salah satu negara maju, dari Afrika kita belajar bahwa warna kulit hakikatnya adalah warna kehidupan yang harus diterima apa adanya tanpa berusaha bersikap rasis, dari Amerika Latin kita belajar tentang bakat-bakat alam di bidang Sepak Bola khususnya yang mampu menghasilkan anak-anak ajaib seperti Pele, Maradona, Ronaldo dan Ronaldinho.

  1. Belajar dari Orang-Orang Terbaik di Bidangnya

Dalam kehidupan yang dijalani, seringkali Anda mengagumi, mengidolakan, mendambakan, bercita-cita, dan berambisi menjadi tokoh-tokoh tertentu yang dianggap berhasil dalam bidang mereka masing-masing. Mengidolakan seseorang memang sesuatu yang lumrah, namun menjadi kebablasan manakala sikap hidup yang salah, keliru, sesat, dan keluar dari koridor agama Islam diikuti tanpa bantahan. Inilah efek negatif mengidolakan seseorang.

Dunia ini melahirkan beragam tokoh yang berhasil sesuai dengan bidang yang digelutinya. Bill Gates menjadi terdepan di bidang software komputer, Enstein di bidang ilmu pengetahuan, Shalahuddin Al-Ayyubi seorang pemimpin militer yang bijaksana, Michael Schumacher dan Valentino Rossi menjadi pemecah semua rekor di bidang balap mobil dan motor, Iqbal menjadi salah satu tokoh Islam terkemuka, Jalaluddin Rumi menjadi penyair sufistik, Albert Camus menjadi pelopor sastra absurd. Masih banyak daftar tokoh-tokoh terbaik di bidangnya, mereka berhasil menjadi yang terbaik berkat usaha yang terbaik, pemikiran yang terbaik, kerja keras yang terbaik, dan melakukan segala sesuatu dengan standar tinggi, khususnya di bidang yang digeluti.

Indonesia juga melahirkan tokoh-tokoh hebat yang bisa dipelajari. Dari Soekarno kita belajar cara menghadapi penderitaan di penjara, memimpin bangsa sewaktu masih Dwi Tunggal dengan Hatta, kemampuannya berorasi di depan jutaan orang dan berbagai forum besar dalam dan luar negeri, dari Hatta kita belajar kreativitas menulis yang tak pernah mati, belajar berorganisasi yang benar, belajar dari buku dengan kreatif dan kritis, mempelopori ekonomi kerakyatan dan bidang pendidikan dan karakter diri yang kuat, dari Soeharto belajar cara mengelola ekonomi supaya mampu mensejahterakan rakyat, dari SBY kita belajar cara menangkap aspirasi rakyat lewat SMS dan pertemuan langsung dengan rakyat lewat open house, dan cara menghadapi rakyat yang sedang tertimpa bencana, dari Amien Rais kita belajar kemampuan intelektualnya yang luar biasa, dan kemampuan lobi yang brilian, dari Jendral Soetanto kita belajar ketegasannya mengungkap kasus-kasus besar yang selama ini menjadi misteri, kejujuran, dan keberaniannya mengatasi berbagi permasalahan, dari Tiger Wood kita belajar bahwa bermain golf itu sulit, banyak tantangan, penuh rintangan dan jalan berliku untuk berhasil menjadi yang terbaik, dari Valentino Rossi kita belajar cara menghadapi dan mengatasi tantangan dengan cara yang benar, bersikap tepat di saat yang tepat, dari Michael Schumacher kita belajar tentang kerja keras pantang menyerah, usia bukan halangan untuk meraih prestasi, kegigihan mencapai apa yang diinginkan, dari Ronaldo kita belajar bahwa kaki patah bukan halangan meraih prestasi lebih tinggi begitu sembuh dari sakit, kecaman, makian, dan hujatan adalah sarana melakukan sesuatu yang lebih baik di masa mendatang.

Mengambil pelajaran dari orang-orang terbaik yang berhasil dengan prinsip Jika anda tidak mau menerima apapun kecuali yang terbaik, anda akan sangat sering mendapatkannya dalam hidup Somerset Maugham10. Maka belajar dari mereka tidak sekadar berupaya sekuat tenaga untuk menjadi seperti mereka, melainkan menelusuri lebih dalam pada daya upaya, jerih payah, kerja keras, jatuh bangun, kegagalan, kesialan, dan masa-masa sulit yang dialami, sebelum menjadi yang terbaik. Semuanya terjadi tidak seperti membalikkan telapak tangan atau menggunakan sulap “abracadabra” langsung jadi, melainkan butuh proses.

Setiap otodidaktor memiliki motivasi, semangat, kerja keras, kegigihan, kecerdasan, keuletan, hati nurani dan imajinasi seperti mereka agar kelak menjadi yang terbaik di bidang yang digeluti. Dengan itu semua, setiap usaha untuk menselaraskan antara bekerja dan belajar, dijalankan dengan sepenuh jiwa dan perasaan senang, sehingga dijalankan secara maksimal, mengenai hasil lihatlah secara bijaksana dalam konteks masa kini dan akan datang.

Bisa jadi usaha terbaik yang dilakukan di bidang tulis menulis mengalami kegagalan seperti halnya Frans Kafka, seumur hidup karyanya tidak ada yang diterbitkan, tapi dialah pelopor sastra posmodern. Kita bisa belajar dari Frans Kafka dalam dua hal. Pertama; karya tulis yang diciptakan berusaha membuat dunia yang penuh teka-teki dan keanehan; pembaca bisa menemukan sesuatu untuk dirinya dalam karya-karyanya. Hal ini menyentuh salah satu elemen penting yang dijalani masyarakat modern. Kedua; membuka cakrawala baru tentang cara meng-ada seorang penulis pada masa mendatang, yang mana Kafka hidup demi karyanya, hidup di dalam karyanya, dan dalam pengertian fisik dibentuk olehnya. Sebagai bukti; bukan menjadi penulis profesional, malah pekerja di perusahaan asuransi pemerintah untuk memenuhi kebutuhan hidup pada siang hari, sore dan malam hari baru bisa menulis, dan Kafka ingin agar Max Brod membakar semua karyanya setelah dia meninggal dunia. Tapi Max Brod tidak setuju, dia justru menerbitkan lima volume karya lengkapnya, sehingga Kafka menjadi abadi, terkenal dan diakui sebagai pelopor sastra posmodern, padahal ketika hidup, dia tidak menikmati semua itu.11

Hal ini penting ditekankan, sebab para otodidaktor yang belajar secara sungguh-sungguh kemungkinan menghadapi realitas ini, dikhawatirkan saat ini benar-benar terjadi, segala daya upaya untuk membaca, menulis dan berkreasi terhenti karena hasil yang buruk dalam konteks kekinian.

  1. Belajar dari Orang-Orang Biasa

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak kita temukan orang-orang biasa, namun sikap hidup, hati nurani, mata batin, ketenangan, dan kemulyaan dirinya melebihi orang-orang terkenal, jika dilihat dengan kaca mata bijaksana. Kita harus banyak belajar dari mereka tentang cara menjalani hidup menjadi orang biasa, tapi kreativitas, karya, sumbangsih, pemikiran, hati nurani dan imajinasi dikerahkan untuk menghasil sesuatu yang terbaik bagi diri, keluarga, masyarakat, umat Islam dan umat manusia.

Orang-orang biasa bekerja setiap hari untuk memenuhi kebutuhan hidup, sebagian kecil di antaranya tidak menjadikan pekerjaannya sebagai tujuan, sekadar sarana agar bisa menjalani hidup, namun sebagian besar lainnya bersikap sebaliknya. Dalam bekerja, mereka berusaha dengan gigih, kerja keras dan pantang menyerah, lalu dalam aspek berbeda mereka berupaya memberikan sumbangsih bagi orang lain dalam bentuk yang mereka bisa. Misalnya, yang punya kreativitas tangan, membantu menyumbangkan kreativitasnya tanpa pamrih, yang punya keahlian menulis menyumbangkan tulisannya untuk orang yang membutuhkan, yang punya kekuatan fisik yang bagus, menjadi sukarelawan saat bencana datang melanda di sebuah kawasan.

Memang, untuk menemukan orang biasa yang bersikap luar biasa, dalam zaman ini seperti mencari jarum di tumpukan jerami, tapi itu bukan alasan untuk tidak belajar dari mereka. Sebab keberadaan mereka hakikatnya ada di mana-mana, sayangnya banyak orang yang tidak menyadari, atau malah tidak menyukai keberadaannya. Sebab dalam zaman yang mana segala hal diukur dengan materi, jika masih ada orang yang tulus membantu orang lain, ini aneh namanya, suatu keanehan yang tentu tidak disukai kebanyakan orang.

Dalam berkarya, apa pun bentuk karya yang dihasilkan, lakukanlah yang terbaik, meski tetap menjalani kehidupan ini sebagai orang biasa dengan sikap hidup yang luar biasa. Inilah gabungan dari konsep belajar dari orang yang terbaik dan orang biasa yang luar biasa.

Di samping itu, Anda bisa belajar dari siapa pun juga, termasuk dari seorang pengemis. Suatu hari saya memberikan uang pada pengemis sebesar Rp. 1.000,- (biasanya diberi 100 sampai 500 rupiah) dia berterima kasih sekali dan mendoakan dengan tulus, padahal uang yang diberikan nilainya tidak seberapa. Dari pengemis itu, saya belajar mensyukuri sebesar apapun rizki yang diperoleh, dan menerima apa saja taqdir atau nasib yang dialami; baik atau buruk.

Saya belajar dari Khairi Husni Afrendy dan Bapak Subhan Khotib yang berpuasa sepanjang tahun (sudah dilakukan lebih dari 5 tahun) untuk mencari kebenaran hakiki, cara melakukan shalat khusyu’, cara berkomunikasi dengan Allah, menikmati ibadah spritual sebagai kesenangan hakiki, belajar tentang kehidupan dari makna-makna yang tersembunyi, dan demi kebahagian keluarga di dunia dan akhirat, dari tokoh kecil dalam film lama, bisa belajar ketulusan tanpa pamrih, dari pengemis yang benar-benar menderita, bisa belajar cara mengatasi kesulitan hidup, dari guru kecil di desa yang berjuang dengan gaji seadanya, bisa belajar cara berjuang yang benar dan memaknai “jihad” dalam makna hakiki, bukan yang diterjemahkan secara salah oleh para terorisme. Semua orang yang disebutkan adalah tokoh-tokoh kecil yang mungkin bagi orang lain tidak bermakna, namun bagi saya sangat bermakna sekali.

Perbedaan antara intelektual, penulis, saintis, sastrawawan, penyair Muslim sejati dengan orang Barat adalah keyakinan terhadap Islam membuat mereka mampu menghadapi kehidupan dan kematian dengan senyum, sebaliknya orang-orang Barat menghadapi kehidupan dan kematian dengan kepiluan, keresahan dan bunuh diri sebab keyakinan agama dan ilmu pengetahuan mereka tak mampu menopang hidupnya.

  1. Belajar dari Penyakit, Penderitaan, dan Kesedihan

Setiap orang pasti pernah sakit dalam hidupnya, sakit yang diderita biasanya bermacam-macam sebab, namun yang membedakan dari setiap orang adalah cara menghadapi suatu penyakit. Ada cara orang biasa menghadapi penyakit, ada cara orang hebat menghadapi penyakit dan ada orang yang mampu belajar secara kreatif dari penyakit yang diderita.

Apa pun penyakit yang diderita, membuat paling tidak bagian-bagian tubuh terasa sakit, yang tentu saja berakibat pada rasa sakit di sekujur tubuh. Orang biasa akan menghadapi penyakit ini dengan berobat ke dokter, untuk yang tinggal di pedesaan terpencil mungkin pergi ke dukun, lalu diobati sampai sembuh dan penyakit sembuh. Begitu sembuh, penyakit yang diderita tidak berpengaruh terhadap perjalanan hidupnya, sehingga terkadang penyakit itu kambuh lagi atau terserang penyakit berbeda. Begitu berobat, sembuh lagi, dan sekali lagi tidak ada sesuatu pun yang bermakna dari penyakit yang diderita.

Ada orang yang hebat menghadapi penyakit, konon ada seorang sufi yang dari “duburnya” terus menerus keluar kotoran atau cairan, sehingga dia terpaksa berbaring di ranjang. Sebagai manusia biasa, awalnya dia mengeluh terhadap penyakitnya yang tidak sembuh-sembuh, lalu syahdan suatu waktu penyakitnya sembuh kembali, namun anehnya pengalaman batin yang dasyat yang senantiasa hadir menamani sewaktu sakit, ikut hilang ketika sembuh dari sakit. Akhirnya dia memohon agar bisa “menikmati” penyakitnya kembali, ternyata memang penyakitnya kambuh lagi. Saat bersamaan pengalaman batin yang luar biasa dialaminya sambil menikmati rasa sakit yang diderita. Suatu waktu ada teman sufi lain yang berusaha menyembuhkan, sang sufi justru melarangnya, sebab dia mencari ridha Allah berikut pengalaman-pengalaman batin luar biasa yang tak ternilai harganya.

Untuk bersikap seperti halnya sufi di atas memang sulit, namun dari apa yang dialaminya, ada pelajaran penting yang bisa dipetik yakni berusaha “menikmati” penyakit sebagai anugerah Allah bagi hamba-hambaNya. Sebagai sebuah anugerah tentu harus diterima dengan lapang dada, senyum, senang dan bahagia, siapa tahu dengan itu semua kita mampu mencapai keridhaan Allah, sesuatu yang paling dicari umat Islam. Di samping menikmati, juga menjadikan penyakit sebagai sarana memperbaiki cara diri memperlakukan fisik sesuai kemampaunnya, tidak menggunakan secara berlebihan. Dan tentu saja, tidak menggerutu, banyak mengeluh, dan membenci orang lain karena penyakit yang diderita. Inilah beberapa hal yang dilakukan untuk menjadi orang yang hebat dalam menyikapi penyakit.

Bagi otodidaktor sejati, penyakit dianggap sebagai ujian hidup yang dijalani dengan penuh kesabaran, berusaha mempelajari cara-cara makan, minum, tidur, dan bekerja agar tidak terulang kembali. Penyakit juga dijadikan sarana mendalami penderitaan, sebab banyak di luar sana orang yang lebih menderita dari yang dialaminya; orang-orang meninggal dalam banjir bandang, orang-orang yang meninggal tertimbun tanah longsor, orang-orang yang meninggal dihempas tsunami, orang-orang yang meninggal menjadi korban gempa, orang-orang yang menderita penyakit lebih parah, orang-orang yang menjalani hidup sangat menyedihkan, memilukan dan penuh penderitaan yang lebih parah dari sekedar ditimpa suatu penyakit tertentu. Dengan menyelami setiap penderitaan, maka hidup akan dijalani dengan arif dan bijaksana.

  1. Belajar dari Film, Televisi dan Dunia Maya

Menonton film, baik di bioskop, televisi, dan DVD, adalah sebuah hiburan bagi setiap orang. Hiburan ini bermakna lebih, jika menyaksikan film tidak sekadar menonton, melainkan untuk mendapatkan ilmu, ide, ilham, inspirasi dan pelajaran yang berarti dalam kehidupan, dalam konteks inilah gaya otodidaktor menonton film. Dengan prinsip ini berarti sambil menyelam minum air, sambil menikmati tontonan yang mengasikkan, bisa belajar berbagai hal dari film.

Film-film yang ditonton film Barat, mandarin atau Bollywood, dan film Indonesia. Memang geliat film Indonesia sedang dalam proses menjadi raja di negeri sendiri, namun paradigma yang ditawarkan terkadang masih berkiblat ke Barat, hanya sebagian kecil film yang berhasil menggali nilai-nilai keindonesiaan atau budaya suatu daerah, sayangnya film-film jenis ini biasanya gagal di pasaran, kecuali sinetron, masyarakat Indonesia cendrung menyukai sinetron buatan sendiri. Padahal apa yang diterima dari Barat, khususnya lewat media hiburan adalah “sampah” yang dijual ke negeri kita, “…orang-orang barbar tidak lagi sedang sedang menghantam pintu kota kita, mereka sudah masuk dan makan bersama kita. Nama mereka adalah J.lo, Ja Rule, dan Paris Hilton. Melalui kehebatan mantra jaringan televisi, perdiksi ilmiah mengenai adanya multi jagad dan realita telah diwujudkan melalui sistem hiburan di rumah kita. Realita apa yang anda saksikan? Temptation Island? Extreme make over? Fear Factor? Ah, terlalu banyak realita, tidak cukup waktu.”12

Dalam menonton, otodidaktor tidak sekadar bersifat pasif menjadi obyek suatu tontonan. Misalnya, sekarang sedang booming sinetron yang berlatar belakang Islam, sinetron-sinetron yang ditonton jenis ini harus diperhatikan dengan seksama, apakah Islam sekadar dimanfaatkan untuk hiburan atau benar-benar berusaha disebarkan ke dalam masyarakat dengan cara yang benar. Jika Islam hanya dijadikan tameng, topeng, kedok, figuran, dan pelengkap saja, maka harus dikritisi, sebab bisa merusak nilai-nilai Islam yang hakiki. Bahkan, sebagai otodidaktor dituntut untuk menulis skenario yang benar-benar Islami. Dalam konteks sinetron berhasil diwujudkan Kiamat Sudah Dekat dan Para Pencari Tuhan. Ini bisa dijadikan proyek percontohan dalam menggarap sinetron, sebab nilai-nilai Islam ditampilkan apa adanya, dan juga disukai penonton.

Dalam film-film Box Office Barat, kita belajar bagaimana imajinasi seseorang mengembara demikian jauh, produk-produk teknologi canggih dalam film Matrix, James Bond, Star Wars dan Mission Impossible, bisa dijadikan contoh perkembangan teknologi mampu mengungguli manusia pembuatnya, sehingga manusia dipacu untuk mengembangkan diri sampai taraf maksimal, sekaligus mengukuhkan secara spritual, agar perkembangan yang ada bisa diikuti lahir dan batin. Film-film Barat yang cendrung menafikan moral, Tuhan dan agama, justru menjadi pemicu untuk memperkuat keislaman dan keimanan seseorang, sebab dengan berpegang pada Islam akan jaya dari luar dan dalam, sedang Barat walau dari luar nampak sukses, gemilang dan berhasil, namun hakikatnya kehidupan mereka hampa, kosong, gersang dari dalam. Dari film-film Mandarin belajar cara mengoptimalkan fisik lewat ilmu bela diri agar senantiasa sehat. Dari film-film Bollywood belajar cara orang Timur menghadapi kemajuan, apakah dengan mencampakkan harga diri dengan meniru Barat utuh atau tetap berpegang pada jati diri suatu masyarakat atau bangsa dengan mengambil nilai-nilai yang lebih baik dari Barat. Tentu cara setiap orang berbeda dalam belajar pada sebuah film, ini sekadar sebuah ilustrasi umum cara belajar dari film.

Di samping itu, perlu mengingat batasan-batasan untuk menonton, jangan sampai sebagian besar waktu digunakan untuk menonton. Menonton TV sekadar untuk relaksasi dan hiburan sesaat, hal ini diperkuat dengan pernyataan Michael R. LeGeult “Menghempaskan badan di depan televisi dan mengosongkan pikiran dalam jangka waktu pendek setiap hari dapat menyegarkan kita; mengosongkan otak kita dalam jangka waktu yang lama akan merugikan diri kita sendiri.”13

Kini dunia maya di internet menawarkan beragam informasi yang canggih, cepat, aktual dan menampilkan dunia yang luas di layar komputer yang kecil. Dari internet dapat belajar apa saja sesuai bidang yang ingin diperdalam, tinggal mengklik mesin pencari misalnya http://www.google.co.id, lalu ketik topik apa yang ingin dipelajari, dalam waktu singkat muncul beberapa pilihan yang berkaitan dengan topik tadi, lalu klik topik yang diinginkan, maka informasi akan muncul dengan sendirinya, hanya perlu menyediakan flash disc untuk mendownload atau simpan di Hp/Ipod yang meory cardnya besar. Dari dunia maya juga bisa mencari teman lewat chating dari seluruh dunia, dan menikmati realitas maya yang berbeda dengan realitas kehidupan sehari-hari. Bagi yang tinggal jauh dari warnet (belum punya Hp atau Ipod yang bisa email), bisa belajar di dunia maya sebulan sekali, sedang bagi yang punya Hp canggih atau Ipod bisa belajar kapan saja sesuai kebutuhan dan kemauan. Ingat efek negatif dunia maya seperti informasi yang berlebihan, pornografi, kriminalitas, penipuan via maya harus dihindari, dan memahami mana yang “palsu dan hakiki”.

Namun perlu diingat, bahwa proses pembelajaran yang menggunakan media cetak, elektronik, teknologi digital dan internet harus berhati-hati, “Teori konspirasi dan TV/media sepertinya terus bergandengan tangan. Sekelompok kritikus sosial dan akademisi mengatakan bahwa mereka telah melihat berbagai tanda aliansi kotor antara media, korporasi, dan kekuasaan pemerintah selama lebih dari satu abad. Elemen utama dari semua pintalan konspirasi ini adalah sejenis aliansi antara antara media dan korporasi (termasuk para pemasang iklan) yang mengendalikan informasi, dan juga cara kita berpikir, atau bahkan mengendalikan kapan kita berpikir.”14

———————————————————-

1 Al-Qur’an Terjemahan Berbahasa Indonesia, Penyusun DISBINTALAD, Drs. H.A. Nazri Adlani, Drs. H. Hanafie Tamam, Drs. H.A. Faruq Nasution, (Jakarta, Sari Agung, 2001)

2 Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier Jilid I, penerjemah; H. Salim Bahreisy, H. Said Bahreisy, (Surabaya, pt bina ilmu, 1993), hal 321

3 Ismail Haqqi Al-Buruswi , Terjemah Tafsir Ruhul Bayan Juz IX, penyunting Prof. Dr. H.M.D Dahlan, (Bandung, c.v Diponegoro, 1998) hal 148-149

4 Martin J. Grunder Jr, Cara Gampang Menjadi Kaya Melalui Bisnis, 9 Strategi Praktis membangun Bisnis yang Sukses, Penerjemah Lovely, (Bandung: Kaifa 2006), hal 195

5 Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier Jilid I, op cit hal 285-286

6 Rhenald Kasali, Ph.D, Change, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama 2005), hal 50

7 Zamhari Hasan, Bidadari Posmodern, (Yogyakarta: Lintang Sastra. 2006), hal 142-144

8 Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, Cara Belajar Cepat Abad XXI, penerjemah Dedy Ahimsa, editor Purwanto, (Bandung: Nuansa, 2002), hal 120

9 Hasan Hanafi, Cakrawala Baru Peradaban Islam, Revolusi Islam untuk Globalisme, Pluralisme dan Egaliterisme Antar Peradaban, penerjemah Muhammad Saiful Anam dan Abduh, penyunting Arif Fakhruddin, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2003), Hal 63-64

10 Gordon Dryden & Jeanette Vos, Revolusi Cara Belajar, The Learning Revolution, Belajar akan Efektif Kalau Anda dalam Keadaan “Fun”, penerjemah Word ++ Translation Service, penyunting Ahmad Baiquni, Cet. III Kaifa Bandung 2001, hal 270

11 John Lechte, 50 Filsuf Kontemporer, Dari Strukturalisme sampai Postmodernitas, penerjemah A Gunawan Admiranto, (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hal 366-368

12 Michael R. LeGault, Think, penyunting Rani Andriani Koswara, (Jakarta: Trans Media, 2006), Hal 126

13 ibid hal 139

14 ibid hal

 

 

 

Keahlian Menulis (KM)

 

SMS TUHAN

CaraMU sampaikan pesan sungguh memukau, Kau buat diriku tersenyum terima berkah, Kau buat diriku tertawa riang terima hadiah, Kau kabulkan doa tengah malam dalam luapan air dari langit yang melimpah, daku terbang ke langit melewati pelangi, menerobos awan, berkedip bersama bintang, memeluk rembulan.

Dalam sekejap, semua hilang mengerjap, daku tersungkur ke jurang terdalam tak bertepi, terombang ambing dalam terjangan ombak ganas dalam malam sunyi, terjerembab dalam longsor prahara, terhempas ke karang terjal merana, daku terkulai tak berdaya.

Hidup atau mati, mundur atau maju, diam atau bergerak, stagnan atau kreatif, berhenti atau memulai, vakum atau menulis, sejumlah pilihan terpampang di depan pelupuk mata.

Batas antar pilihan dalam dunia lama nampak jelas, dalam dunia baru menjadi tidak jelas, kabur, abu-abu, samar, memilih tidak memilih sama dengan memilih, memilih untuk memilih sama dengan tidak memilih, menunda sementara waktu, diri berpusar dalam diri, menghirup semua raih apa yang ada,

meminum air kehidupan lepas dahaga.

Biarkan setiap pilihan berjalan seperti air mengalir ke tengah lautan!

Wonosari, 10 Januari 2006

 


  1. Mengapa Anda Ingin Menjadi Penulis?

Menulis adalah sebuah cara untuk memahami, menginterpretasi, memberi makna, dan mewarnai kehidupan. Dalam konteks ini, menulis bisa dijadikan sarana untuk berkarya, berkreasi, dan mengekplorasi potensi diri yang dianugerahkan Allah, sehingga cita-cita, tujuan mulia, dan harapan mampu diwujudkan menjadi nyata.

Untuk menjadi penulis, perlu menumbuhkan motivasi dalam diri Anda agar mau menulis dan berusaha sekuat tenaga menghasilkan karya tulis yang berkualitas. Di samping itu, juga perlu pemahaman tentang fungsi penulis bagi diri,     orang lain, dan semesta. Dengan motivasi yang kuat dan pemahaman fungsi diri sebagai penulis yang baik, maka menulis bisa dijadikan salah satu keahlian, suatu keahlian yang dibutuhkan bagi yang ingin memberikan sumbangsih pada umat Islam, bangsa Indonesia dan dunia.

  1. Menumbuhkan Motivasi untuk Menulis

Hal-hal yang memotivasi orang untuk menulis menurut George Orwell: pertama; Sekadar Egoisme, suatu dorongan dari dalam diri agar terkenal, dianggap jenius dan dikenang saat meninggal dunia, kedua; Antuisme Estetis, suatu dorongan perasaan untuk menyenangi hal-hal yang indah, menginspirasi orang lain dengan keindahan yang diciptakannya, dan kesenangan “mempermainkan” kata, kalimat dan bahasa agar bisa dinikmati dalam nuansa berbeda, ketiga; Impuls Historis, hasrat untuk melihat benda sebagaiman adanya, menemukan fakta-fakta yang sesungguhnya, dan suatu keperluan agar dipahami asal usulnya, keempat; Tujuan Politis; keinginan untuk merubah kehidupan menjadi lebih baik, berusaha mempelopori suatu perubahan, dorongan menggugah orang lain agar mau mengeksplorasi pikiran-pikirannya, dan hasrat untuk memberikan sumbangsih pada masyarakat dalam bentuk tulisan.1

Sebagian besar orang ingin menjadi terkenal, siapa tahu dengan menjadi terkenal menjadi lebih bermanfaat. Setiap orang ingin disebut jenius, sebuah pengakuan yang membawa seseorang mampu mengoptimalkan pikiran dan imajinasinya. Setiap orang ingin dikenang, sehingga saat meninggal ada sesuatu yang diwariskan pada generasi mendatang, sesuatu yang siapa tahu membawa arus perubahan baru ke arah yang lebih baik. Ketiga jenis motivasi ini ditumbuhkan dalam diri, disimpan dalam alam bawah sadar untuk bisa diakses kapan saja ketika merasa malas, bosan, jenuh, dan hampir putus asa.

Dalam proses menjadi terkenal, jenius dan dikenang, jangan sampai menghalalkan segala cara; membajak karya orang, lalu mengakuinya sebagai karya sendiri, melakukan apa saja asal terkenal, termasuk menjual harga diri, memanfaatkan orang lain demi kepentingan diri untuk mencapai tujuan, dan segala tindakan buruk lainnya asal tujuan terlaksana. Semua itu berusaha dihindari, agar ketika terkenal demi asas manfaat, diakui sebagai orang jenius digunakan untuk mencari dan menemukan paradigma baru yang membawa kehidupan pada kedamaian, ketentraman, kesejahteraan, dan kebahagiaan, sedang dikenang setelah meninggal tentang segala sesuatu yang positif, bernilai, berpengaruh, dan bermakna bagi orang lain.

Keindahan adalah anugerah terbesar dari Allah yang diterima manusia, sebab keindahan membimbing manusia untuk menikmati, berkreasi, mencipta, berkarya, dan memaknai demi kepentingan mereka. Menjadi seorang penulis, salah satunya karena menyenangi setiap keindahan, apa pun bentuknya. Keindahan berusaha ditranformasikan dalam tulisan sastra, karya seni, dan entertainment, sehingga memberi manfaat pada orang banyak, memberi warna pada dunia, dan menghiasi semesta dengan kedamaian.

Dalam menulis, Anda berusaha merangkai kata, dari kata menjadi kalimat, kalimat membentuk wacana atau diskursus, lalu terbentuklah bahasa. Bermain-main dengan kata untuk memperindahnya, sekaligus berusaha memaknai kata-kata yang ada dengan makna baru sesuai perubahan yang dihadapi manusia. Ini semua membimbing pada kreativitas menulis yang terus menerus mengalir seperti aliran air yang mengalir menuju laut, tak ada yang bisa menghalangi, justru penghalang-penghalang diterobos kekuatan air yang dasyat. Dalam konteks ini, wajar jika penulis bisa menghadirkan karya yang abadi.

Seorang penulis berusaha memahami benda sebagaimana adanya, tanpa merekayasa dengan teknologi yang tercanggih sekalipun, sebab benda-benda “menyuarakan” sesuatu yang berbeda pada setiap orang jika dilihat dari sudut pandang berbeda. Ia juga berusaha menemukan fakta-fakta yang sesungguhnya, fakta-fakta yang bisa membantu menuju kebenaran demi kebenaran. Bagaimana menuju kebenaran, jika fakta atau realita yang ada sudah direkayasa untuk kepentingan tertentu, yang pasti kebenaran tak pernah berhasil ditemukan. Menemukan fakta-fakta yang sesungguhnya membutuhkan penelitian yang seksama, penilaian kritis, dan melihat dari bermacam-macam sudut pandang. Kedua hal ini menggiring Anda untuk memahami sesuatu lebih mendalam, bersikap lebih bijaksana, dan mengetahui sumber asli dari sesuatu yang berusaha ditulis.

Keinginan untuk merubah kehidupan menjadi lebih baik, berusaha mempelopori suatu perubahan, dorongan menggugah orang lain agar mau mengeksplorasi pikiran-pikirannya, dan hasrat untuk memberikan sumbangsih pada masyarakat dalam bentuk tulisan yang dibuat, itu semua hakikatnya bermakna politis, tapi di sini politik dalam arti luas, bukan sekadar perebutan kekuasaan semata.

Terkadang situasi politik yang tidak menentu, krisis, dan kekacauan bisa melahirkan para penulis hebat dari rahim sejarah. Ini terjadi jika para penulis mampu menangkap peluang untuk menjadikan kehidupan manusia ke arah yang lebih baik.

Jika Anda sudah memiliki keempat motivasi di atas, paling tidak tiga di antaranya seperti George Orwell, maka yakinkan diri Anda bahwa siapa tahu Andalah orang yang dilahirkan sejarah untuk menjadi penulis seperti yang dilakukan Imam Ghazali, Iqbal, Jalaluddin Rumi, Frans Kafka, Derrida, Hamka, Hatta, Nurkholis Madjid, Emha Ainun Nadjib, D. Zawawi Imron, dan nama Anda akan turut disebut bersama mereka. Amien!

  1. Fungsi Seorang Penulis

Penulis ialah orang yang merangkai kata menjadi kalimat, kalimat menjadi wacana dan membentuk bahasa, baik ditulis tangan, di atas komputer, atau dengan media lainnya. Penulis tidak dibatasi pada orang yang telah mampu menerbitkan karya tulisnya, melainkan siapa saja yang menulis sesuatu untuk kepentingan diri, keluarga, orang lain, masyarakat, dan seluruh umat manusia. Jadi, orang yang menulis tangan puisi-puisinya di atas catatan buku harian atau media lainnya, hakikatnya adalah seorang penulis. Inti seorang penulis ialah menulis, jika tidak menulis, maka bukan penulis namanya.

Menulis bisa jadi untuk kepentingan diri sendiri agar wawasan semakin luas, bertambah pintar, dan upaya mewariskan pada anak cucu karya tulis yang bisa mereka manfaatkan dalam menghadapi kehidupan di masa mendatang. Menulis juga ditujukan untuk kepentingan orang lain, hasil tulisan yang berupa apa saja diserahkan pada orang lain agar dibaca, dari hasil pembacaan diharapkan ada manfaat, inspirasi dan hikmah yang dapat dipetik.

Menurut Jean-Paul Sartre “….Singkat kata, fungsi penulis adalah bertindak dalam setiap cara bahwa tak seorang pun dapat begitu dungu di hadapan dunia dan bahwa tak seorang pun boleh mengatakan dirinya tak tahu apa-apa mengenai semua itu …. Biarkanlah kata-kata menyusun dirinya secara bebas dan kata-kata akan membuat kalimat, serta setiap kalimat bermuatan bahasa dalam keseluruhannya dan mengarahkan kembali pada jagat seluruhnya. Diam itu sendiri terumuskan dalam hubungan dengan kata-kata, sebagaimana jeda dalam musik memberikan maknanya dari catatan-catatan di sekitarnya….”2

Orang menulis karena berusaha memahami dunia, manusia, makhluk hidup dan semesta, pemahaman ini membimbingnya untuk bertindak sesuai akal sehat, bimbingan hati nurani, kesadaran, bersikap bijaksana, dan mewarnai hidup dengan tinta-tinta emas sejarah. Perkembangan dunia bukan semakin mudah dipahami, melainkan semakin rumit, penuh teka teki, penuh misteri, penuh kerancuan, penuh ambiguitas, dan semakin tak menentu, dalam keadaan begini, seorang penulis diperlukan agar semua itu diketahui, dipahami, dimengerti, dan berusaha dimaknai dengan perspektif-perspektif baru. Jika pun tidak dapat memuaskan semua jawaban, paling tidak salah satu jawaban bisa dihasilkan.

  1. Menulis Sebagai Panggilan Hidup

Dalam hidup ini, kadang manusia tidak menyadari mana yang berupa keinginan, kebutuhan, dan tujuan hidup. Manusia cendrung dikendalikan oleh keinginan demi keinginan, ini dimanjakan dengan kemampuan “kapitalisme” membuat mesin hasrat yang menyediakan semua keinginan manusia, sehingga keinginan dijadikan tujuan hidup. Kebutuhan yang terbagi dalam kebutuhan primer, skunder dan gaya hidup berusaha dipenuhi dengan menentukan skala prioritas yakni mendahulukan kebutuhan primer, tapi sayangnya banyak yang terjebak dalam kebutuhan skunder dan gaya hidup, khususnya dalam abad 21 ini. Untuk itu, perlu mempertanyakan tujuan hidup kembali; apakah hidup sekadar menjalani rutinitas, mengikuti segala macam keinginan, dan memenuhi kebutuhan hidup, tidakkah tujuan hidup diarahkan untuk menjadikannya penuh makna, bermanfaat, dan menjadi manusia yang berusaha untuk sempurna.

Untuk mampu melaksanakan tujuan mulia di atas inilah, yang dapat menjadi motivasi bagi orang yang hendak menulis. Artinya menulis dijadikan upaya seseorang agar dirinya menjalani hidup penuh makna, memberi manfaat pada orang lain lewat tulisan dan berusaha menjadi manusia paripurna dengan cara menerapkan apa yang ditulis untuk diri sendiri, sehingga menjadi suri tauladan bagi yang lain.

Motivasi menulis sebagai panggilan hidup mulai ditumbuhkan dalam diri yang dapat menimbulkan semangat untuk menulis apa saja asal bermanfaat pada orang lain. Tidak perlu takut dengan kata-kata “ilmiah”, sebab pada masa kini, apa yang disebut ilmiah dan fiksi sudah tidak berjarak lagi, tinggal sejauhmana Anda mampu menghasilkan karya tulis yang benar-benar berkualitas. Untuk mencapai kualitas maksimal, maka proses pencarian bahan, pengumpulan data, penulisan, pembacaan ulang dan editorial dilakukan dengan sungguh-sungguh mengerahkan segenap potensi diri.

Menulis merupakan panggilan hidup, jika dalam menulis tidak ditujukan untuk materi, meski pun pada akhirnya akan mendapatkanya, menulis dilakukan sepenuh hati, menjelajahi samudera imajinasi, mengeksplorasi pikiran, menggunakan kecerdasan perasaan, melakukannya dengan kesadaran dan alam bawah sadar yang dikendalikan, dan melakukannya agar orang lain mendapat inspirasi, ilham, ide, hikmah, dan ilmu.

Apa yang dilakukan Imam Ghazali ketika menghasilkan master piece yakni kitab Ihya’ Ulum Al-Din dapat dijadikan suri tauladan. Sebelum menghasilkan karya monomental ini, beliau mengundurkan diri sebagai guru besar di Bagdad, lalu hidup sebagai sufi yang miskin, sering menyendiri, mengisi waktu dengan meditasi, dan latihan-latihan rohaniah lainnya. Dari proses ini, lahirlah karya monomentalnya itu yang abadi sampai sekarang, padahal ditulis sekitar tahun 1097 Masehi.3 Jelas di sini, Imam Ghazali dalam menulis tidak ditujukan untuk materi, berusaha secara tulus menghasilkan karya yang bermanfaat bagi umat Islam, menjalani hidup miskin yang diikuti dengan penguatan rohani lewat berbagai kegiatan, mendengarkan suara hati nurani, mendapatkan intuisi, menulis dengan sistematika yang baik lewat bantuan logika, dan menulis sebagai panggilan hidupnya.

Penulis-penulis Indonesia yang berhasil menghasilkan buku best seller seperti Valentino Dinsi, Ary Ginanjar Agustian, KH. Abdullah Gymnastiar, Danarto, dan A.A Nafis adalah orang-orang yang menjadikan menulis sebagai panggilan hidup, sehingga hasil karya mereka menjadi bermanfaat dan abadi. Apalagi di antara mereka menerapkan apa yang ditulis dalam tindakan nyata; pesantren, pelatihan, dan membentuk perusahaan yang tangguh.

Untuk mencapai itu semua, diperlukan latihan-latihan menulis, latihan mengumpulkan bahan tulisan, latihan menghasilkan bermacam-macam karya tulis sebelum memutuskan merperdalam satu bidang tertentu, dan latihan menulis dengan bahasa yang ringan, lancar, sistematis, enak dibaca, mudah dimengerti, dan bisa dipahami berbagai kalangan.

  1. Mengupulkan Bahan-Bahan Tulisan

Seseorang yang ingin menuangkan ide-ide, ilham atau isnpirasi agar bisa menulis, memerlukan bahan-bahan yang berkenaan dengan tema yang hendak ditulis. Bahan-bahan tersebut diperoleh dengan mengumpulkan pendapat, fakta, melakukan penelitian lapangan dan kepustakaan, dengan terlebih dahulu menemukan ide atau ilham yang hendak ditulis. Semua itu penting untuk meningkatkan kualitas tulisan, baik tulisan ilmiah maupun tulisan sastra.

  1. Memunculkan Ide-Ide Brilian

Mencari ide; ada yang bilang sulit, ada yang bilang mudah, dan ada yang bilang antara keduanya.

Orang yang merasakan kesulitan dalam memunculkan ide, barangkali belum membiasakan diri menuangkan ide-ide dalam tulisan atau dalam bentuk pendapat secara lisan, sehingga mencari ide dianggap seperti menegakkan benang basah, apalagi memunculkan ide yang brilian.

Bagi yang menganggap bahwa memunculkan ide adalah sesuatu yang mudah semudah membalikkan telapak tangan, sebab dirinya sudah membiasakan diri dalam menuangkan ide-idenya.

Bagi yang beranggapan antara mudah dan sulit, itu berarti orang tersebut terkadang memanfaatkan pikiran dan imajinasinya untuk mencari ide-ide dan menuangkan, namun terkadang juga tidak.

Ini nampaknya seperti simplifikasi terhadap masalah, tapi jika ditelusuri lebih dalam, justru merupakan hakikat yang sebenarnya. Orang membiasakan diri makan nasi setiap hari, maka ketika dia melakukan perjalanan ke suatu tempat, sedang makanan yang dikonsumsi setiap hari bukan nasi, maka makanan yang dimakan terasa tidak enak dan pencernaan kadang bermasalah. Hal ini tidak jauh berbeda dengan orang yang membiasakan diri memunculkan ide, maka dalam keadaan yang bagaimanapun ide-ide muncul begitu saja tanpa diminta. Untuk itu diperlukan latihan-latihan dalam memunculkan ide.

Berlatih menuangkan apa saja yang ada di benak dalam bentuk tulisan atau disampaikan ke orang lain, misalkan muncul dalam benak tentang makanan, tulislah segala hal yang berkaitan dengan makanan. Saat berbeda timbul dalam benak, mengapa harus makan nasi sedang orang Barat makan roti dengan daging. Muncul pertanyaan, mungkinkah orang Barat mampu menguasai dunia dengan sains, teknologi, ekonomi dan peralatan militer karena mereka tidak memakan nasi seperti orang Indonesia. Dari ide pertama, kedua dan ketiga terdapat pengembangan, dari ide yang biasa saja pada ide yang luar biasa, meski perlu informasi dan fakta tambahan untuk memperkuat ide tersebut.

Bentuk latihan di atas diintensifkan setiap hari, paling tidak diri memiliki komitmen bahwa tiada hari tanpa menemukan ide. Jika setiap hari dibiasakan memunculkan satu ide, maka dalam sebulan ada 30 ide, kalikan aja selama setahun, betapa banyaknnya ide yang muncul. Tentu saja dari sekian banyak ide, perlu dikelompok-kelompokkan mana yang merupakan ide yang sama, mana yang berbeda, lalu carilah ide yang paling unik dan mengandung kebaruan atau orisinalitas yang tinggi. Ide yang terakhir inilah yang dituangkan dalam bentuk tulisan, bisa dalam bentuk kolom, ilmiah populer, esai sastra, puisi, cerpen, drama, skenario dan novel. Jika dianggap benar-benar bagus untuk dibuat sebuah buku, maka mulailah menyusun kerangka karangan dari buku yang hendak ditulis, melakukan studi pendapat, lapangan dan kepustakaan.

  1. Kiat Menemukan Ilham

Ilham berbeda dengan ide, sebab ilham tidak muncul lewat pikiran, melainkan bisikan hati nurani tentang suatu hal. Ilham bisa muncul secara tiba-tiba tanpa mengandung kejelasan dari mana asalnya, mendadak muncul dan diri ingin menuangkan dalam bentuk pendapat atau tulisan. Ilham dapat muncul dari suara gaib yang muncul saat bermimpi; dalam mimpi tiada kejelasan antara khayalan dan kenyataan, setelah bangun tidur masih bisa dirasakan dan membekas dalam ingatan. Ilham juga muncul karena memiliki hubungan yang dekat dengan Allah lewat ibadah spritual yang intensif.

Ilham yang muncul secara tiba-tiba, biasanya didapatkan oleh orang yang sering berkomunikasi dengan dirinya sendiri tentang berbagai hal. Orang tersebut senang merenung sendirian tentang banyak hal di sekitarnya. Ini juga didorong keinginan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain atau masyarakat. Dalam perenungan segala sesuatu dijadikan bahan perenungan, sampai secara mendadak terlintas ilham tentang sesuatu. Suatu contoh; saat mondok di Pesantren TMI Al-Amien Madura, saya sering merenungkan tentang mading Pondok yang hanya berisi berita dalam bentuk Al-Amien Pos, lalu terlintas begitu saja ilham, kenapa tidak membuat mading tandingan yang berisi tulisan-tulisan sastra, maka lahirlah SUASA (Suara Sastra Al-Amien) yang sempat bertahan beberapa periode.

Kemunculan ilham dari hati nurani, bilamana Anda sering berusaha berbicara dengan hati nurani tentang berbagai hal yang dialami, jadi komunikasi tidak hanya dengan pikiran semata. Hati nurani diajak berembuk menyelesaikan masalah bersama dengan pikiran, sehingga solusi terbaik ditemukan. Misalkan seseorang berulangkali ditimpa musibah, kesialan dan ujian hidup, cara menghadapinya dengan berbicara pada hati nurani, yang akan membisikkan untuk bersabar, siapa tahu itu cara Allah untuk mengangkat derajat seseorang di dunia dan akhirat. Ilham berupa kesabaran ini, bila mampu dilaksanakan akan membentuk kepribadian orang menjadi lebih baik, dan bisa dijadikan bahan tulisan tentang upaya menghadapi musibah, kesialan dan ujian hidup.

Jika Anda membiasakan diri berpikir, berimajinasi dan merenung sebelum tidur tentang sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain, tentang apa yang hendak dilakukan demi kebaikan sesama, tentang tekad mewujudkan impian menjadi nyata, maka dalam tidur akan dipenuhi dengan mimpi yang bermacam-macam; ingat sebagian mimpi adalah bunga tidur, sebagian yang lain adalah ilham, dan sebagian adalah petunjuk Allah agar bertindak benar. Untuk itu, catatlah mimpi yang paling berkesan.

Umat Islam beruntung diwajibkan shalat lima waktu, puasa, zakat, haji, dan dianjurkan ibadah-ibadah sunnah lainnya. Mengapa beruntung? Sebab semua bentuk ibadah spritual tersebut adalah sarana berkomunikasi yang intensif dengan Allah, sehingga umat Islam senantiasa merasa bersama Allah dalam segala kondisi. Seseorang yang mampu melakukan ibadah spritual secara sukarela tanpa paksaan, ikhlas tanpa pamrih dan penuh ketulusan, insya Allah sering mendapatkan ilham yang tidak jelas sumbernya, padahal itu sebenarnya berasal dari Allah. Kemunculan ilham biasanya muncul saat benar-benar dibutuhkan, saat dalam puncak masalah, saat dalam suasana hampir putus asa, namun bisa dikendalikan karena ingat Allah.

Sebagai contoh perwujudan ilham dalam karya tulis ialah saat saya menulis buku ini. Dalam benak saya timbul ilham, mengapa saya tidak menulis pengalaman diri menyelami kehidupan BO, siapa tahu buku ini menjadi inspirasi dan buku pegangan bagi jutaan manusia. Lalu saya mulai berusaha mewujudkan ilham tersebut dalam tulisan dengan menulis pengalaman sendiri dulu karena sudah puluhan tahub belajar sendiri, mencari refrensi dari berbagai macam buku, membaca realitas kapitalisme pendidikan yang semakin tidak terjangkau semua kalangan, merenungkan tentang apa-apa yang ditulis, dan melakukan editorial sebaik-baiknya. Saat menyelesaikan buku ini, alhamdulillah tangan di atas kieboard komputer seperti menari-nari sendiri, saya hanya melakukan intervensi dalam beberapa hal, khususnya sistematika tulisan. Dari mana semua itu, jika bukan “bimbingan” Allah. Sebab saya merasa ilmu dan keahlian yang dimiliki seperti buih dalam samudera nan luas.

Saya merasa inilah tesis “S2” informal yang bisa diselesaikan, setelah dulu menyelesaikan skripsi “S1” informal berjudul Berniaga Dengan Iman, Kiat-Kiat Agamis Menjadi Saudagar Sukses.

  1. Melakukan Klasifikasi Pendapat

Setelah diperoleh ide atau ilham tentang sesuatu yang hendak dijadikan bahan tulisan, maka ide-ide atau ilham-ilham yang ada diklasifikasikan menjadi beberapa bagian, bagian-bagian yang dianggap sama disatukan, bagian-bagian yang berbeda dan tidak berkaitan ditaruh dulu, siapa tahu bermanfaat nantinya untuk kepentingan tulisan yang lain. Dari bagian-bagian yang mengandung kesamaan, dicari yang mengandung tema umum dan memperinci bagian-bagian lain dalam topik-topik khusus yang mendukung tema umum dalam bentuk kerangka karangan yang terperinci.

Ketika menulis, biasanya muncul bermacam-macam pendapat dalam diri seorang penulis tentang suatu masalah yang hendak ditulis, pendapat-pendapat yang muncul belakangan harus diuji kebenarannya dengan fatka-fakta yang ada, melakukan perbandingan dengan pendapat orang lain tentang masalah yang sama, mencari buku refrensi untuk memperkuat pendapat tersebut, baru menjadikannya sebagai bahan tulisan.

Bila pendapat yang muncul bertentangan dengan tema awal yang telah ditetapkan, maka pendapat yang akhir dijadikan anti tesis guna memunculkan sintesis baru nantinya. Ini justru akan mampu meningkatkan kualitas tulisan, sebab suatu masalah dilihat dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

Untuk itu, Anda perlu melakukan pengamatan yang mendalam terhadap tema yang hendak ditulis, pengamatan dilakukan dengan menggunakan sudut pandang berbeda. Pengamatan juga dilakukan dengan melakukan penelitian lapangan yang intensif dan mencari penguatannya dalam penelitian kepustakaan. Masalah keduanya akan dibahas kemudian. Semua itu dilakukan dengan pencatatan yang baik yang merupakan hasil pengamatan langsung dan tidak langsung.

  1. Melakukan Penelitian Lapangan

“Pengumpulan data untuk suatu tulisan ilmiah dapat dilakukan melalui observasi dan penelitian lapangan. Observasi adalah pengamatan langsung pada suatu obyek yang akan diteliti, sedangkan penelitian lapangan adalah usaha pengumpulan data dan informasi secara intensif disertai analisa dan pengujian kembali atas semua yang telah dikumpulkan. Observasi dapat dilakukan dalam suatu waktu yang singkat, sebaliknya penelitian lapangan memerlukan waktu yang lebih panjang.” Demikian pendapat Prof. Dr. Gorys Keraf tentang penelitian lapangan.4

Otodidaktor merupakan sosok yang bergaul dengan masyarakat, hidup di tengah-tengah masyarakat, menikmati hidup dalam suatu tradisi atau lingkungan tertentu, dan senantiasa melakukan pengamatan langsung tentang berbagai hal yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Pengamatan terhadap sesuatu dilakukan berulang kali, bertahun-tahun, sehingga menghasilkan hasil pengamatan yang baik, hanya saja, biasanya pengamatan-pengamatan tersebut dibiarkan dalam benak atau pikiran orang dan belum dituangkan dalam tulisan.

Orang yang ingin berhasil menjadi otodidaktor sejati dituntut memiliki catatan-catatan tertulis tentang berbagai hal yang terjadi di sekitarnya; ada catatan tentang prilaku menyimpang masyarakat, ada catatan tentang tradisi tertentu yang berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat, ada catatan tentang peran tokoh-tokoh tertentu yang banyak berpengaruh, ada catatan tentang pengalaman pribadi berhadapan dengan berbagai masalah, ada catatan tentang pengalaman pribadi hidup di tengah masyarakat, ada catatan tentang mengelola usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup, ada catatan tentang kehidupan keluarga, ada catatan tentang mimpi yang berkesan, ada catatan tentang cara-cara yang tepat untuk bersikap bijaksana, ada catatan tentang bencana alam, ada catatan tentang pengalamam buruk atau nasib sial, ada catatan tentang rentetan kegagalan, ada catatan tentang orang-orang yang sukses, ada catatan tentang orang-orang biasa yang bersikap seperti tokoh “besar”, dan catatan lainnya.

Percayalah! Semua catatan tersebut akan bermanfaat suatu waktu kelak ketika orang hendak menulis sastra, karya ilmiah atau buku, bahkan akan menjadi bahan-bahan tulisan utama yang sangat penting. Tinggal melakukan klasifikasi terhadap semua catatan, menyusun catatan baru yang berkaitan dengan tema yang hendak ditulis, mencari buku-buku refrensi, dan mulailah menulis.

Selanjutnya diperlukan analisa mendalam terhadap catatan-catatan baru yang merupakan hasil klasifikasi. Apa yang dicatat diuraikan dalam unit-unit bagian yang terperinci dalam bentuk alinea-alinea, sehingga penjelasan tentang suatu tema menjadi jelas, terperinci, dan bisa dipertanggung jawabkan. Analisa juga diperlukan dalam rangka menguji catatan-catatan yang ada, baik dengan hasil pengamatan baru yang dilakukan berulang-ulang, maupun dengan melakukan studi kepustakaan.

Dari hasil analisa akan tampak bahwa apa yang dianggap biasa bagi orang lain akan menjadi luar biasa di mata seorang penulis, apa yang dianggap sepele ternyata bernilai sesuatu yang luar biasa, apa yang dianggap sesuatu yang sia-sia bisa menjadi sesuatu yang berguna, apa yang disingkirkan orang lain ternyata itulah sebenarnya hakikat sesuatu, apa yang dibenci banyak orang belum tentu kebaikan, sebaliknya yang disukai belum tentu suatu kekeliruan, apa yang dianggap benar belum tentu benar dan apa yang dianggap salah belum tuntu salah. Semua itu akan dapat membimbing menjadi orang yang besar, sebab orang besar bukan orang yang membentuk sesuatu yang besar menjadi besar, melainkan orang yang mampu membentuk yang kecil, sia-sia, tidak berguna, sampah, kesalahan, kekeliruan, menjadi sesuatu yang besar, sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat luas.

Dalam melakukan penelitian lapangan, dilakukan dengan metode wawancara langsung lewat dialog, wawancara tertulis, dan metode angket. Orang yang hidup di tengah-tengah masyarakat, hakikatnya telah melakukan wawancara dengan dialog berulangkali dan setiap saat, hanya saja lemah dalam pencatatan dan tidak mengkonsep hal itu sebagai bahan tulisan tentang sesuatu yang hendak ditulis. Kedua bentuk kelemahan ini diatasi otodidaktor dengan perspektif baru yakni dengan rajin mencatat dan melakukannya untuk tujuan menulis. Wawancara tertulis diperlukan jika tokoh yang hendak diwawancara sibuk, lebih senang mengungkapkan dalam bahasa tulisan dari lisan, terpelajar, dan terbiasa berpikir sistematis. Sedang angket diperlukan untuk mengetahui perspektif banyak orang tentang masalah yang sedang ditulis, sehingga akan memparkaya kualitas tulisan. Jika studi lapangan lewat wawancara dalam dialog yang intesif telah dilakukan sesering mungkin dengan memfokuskan diri pada masalah yang hendak ditulis, lalu dicatat dalam catatan-catatan khusus, dan sengaja dilakukan sebagai bahan tulisan, maka wawancara tertulis dan metode angket tidak diperlukan lagi.

  1. Melakukan Penelitian Kepustakaan

Banyak buku yang telah ditulis orang tentang berbagai masalah dalam kehidupan manusia; makhluk hidup, benda mati, bumi, langit, semesta, dan hal-hal lain yang menumpuk di perpustakaan atau di toko buku. Maka sesuatu yang wajar jika seorang penulis melakukan penelitian kepustakaan tentang masalah yang hendak ditulis, sebab mungkin sudah banyak orang yang melakukan penelitian tentang masalah yang sama, sehingga sang penulis tidak perlu melakukan penelitian dari nol, melainkan dari bahan-bahan yang telah ada dalam buku.

Menurut Prof Dr. Gorys Keraf : “Dalam melakukan penelitian kepustakaan perlu dibedakan tiga golongan buku atau bahan bacaan yang diperlukan bagi suatu karya. Pertama, buku-buku atau bahan bacaan yang memberikan gambaran umum mengenai persoalan yang akan digarap. Tidak perlu dibuat catatan-catatan dari buku-buku semacam ini. Kedua, buku-buku yang harus dibaca secara mendalam dan cermat, karena bahan-bahan yang diperlukan untuk karya tulis itu terdapat di situ. Dari bahan-bahan semacam inilah pengarang harus membuat kutipan-kutipan yang diperlukan. Ketiga, bahan-bahan tambahan yang menyediakan informasi untuk mengisi yang masih kurang untuk melengkapi karya tulis itu.”5

Untuk buku-buku jenis pertama bisa dibaca di perpustakaan tanpa perlu membelinya, untuk jenis yang kedua harus memilikinya, minimal sejumlah lima buku, sedang yang ketiga diperoleh dari koran, majalah, tabloid, berita televisi, dan informasi dari internet. Pembacaan kreatif dikhususkan pada buku-buku jenis yang kedua. Tentang masalah cara membaca kreatif dapat dibaca kembali di bab sebelumnya.

Bagi Anda yang tinggal di kota besar dengan perpustakaan yang lengkap, kesulitan melakukan studi kepustakaan bisa diminimalisir dan tidak perlu modal besar untuk membeli buku, masalahnya maukah menyediakan waktu setiap hari untuk membaca buku di perpustakaan. Bagi yang tinggal di kota kecil, bahkan di desa yang tanpa perpustakaan, maka membeli buku adalah keharusan. Saya pribadi setiap tahun menganggarkan uang sekitar Rp. 150.000,- s/d Rp. 250.000,- (bahkan lebih ketika hendak menulis buku, saya pernah membeli buku hampir 1 juta rupiah di Yogyakarta) untuk membeli buku sesuai kebutuhan. Paling penting, jangan jadikan keterbatasan menjadi penghalang untuk menulis, malah harus memicu semangat lebih membara lagi.

Dalam melakukan kutipan terhadap sebuah buku dibedakan menjadi dua yakni kutipan langsung dan tidak langsung. Kutipan langsung biasanya diapit dengan tanda petik dengan menggunakan standar-standar tertentu, sedang kutipan tidak tidak langsung disatukan kedalam alinea atau paragraf.

  1. Cara-Cara Praktis dalam Menulis

Otodidaktor perlu kiranya mengetahui, memahami dan mengerti cara-cara praktis membuat karya tulis; puisi, cerpen, kritik sastra, karya ilmiah populer, kolom dan buku. Semua itu bisa menjadi bekal untuk mendalami cara menulis yang sederhana, praktis, mudah dan bisa dipraktekkan, ini diharapkan akan melahirkan penulis-penulis baru dengan perspektif yang baru juga. Sebab yang membedakan antara otodidaktor dan akademisi adalah cara pandang melihat sesuatu atau dalam bahasa keren sekarang yakni “horison harapan”.

Horison harapan otodidaktor lebih banyak berhadapan dengan realitas kehidupan sehari-hari, dunia nyata masyarakat, kenyaataan-kenyataan hidup, penderitaan, kesialan, penyakit, musibah dan dunia yang yang asli nyata, dunia yang senantiasa berubah sepanjang waktu. Otodidaktor biasanya minim melakukan studi kepustakaan, namun kaya studi lapangan. Sebaliknya akademisi melakukan studi lapangan dalam kurun waktu terbatas, tapi kaya studi kepustakaan, lantas hasilnya dibuat buku, padahal masyarakat yang ditulis ketika buku diterbitkan mungkin sudah berubah. Biarkan kekurangan dan kelebihan masing-masing, paling penting sama-sama berusaha menjadi “the best of the best” di bidang yang digelutinya.

Latihan menulis yang paling mudah ialah menulis apa saja yang ada di benak, biarkan tangan di atas kieboard komputer menari-nari sendiri, edit tulisan dengan menggunakan pikiran, arahkan alam bawah sadar dan imajinasi dalam sistematika tulisan, baca ulang tulisan berulang kali, edit kembali sampai mendekati sempurna, lalu berikan apa yang ditulis pada orang-orang yang membutuhkannya. Jika berbentuk makalah, artikel, kolom, dan opini bisa dikirim ke media cetak, siapa tahu dimuat dan mendapat imbalan yang pantas, namun bila tidak dimuat simpan saja, suatu waktu pasti berguna. Atau Anda dapat memuat tulisan di Blog gratis yang kini banyak tersedia di internet, sebagai perbandingan blog saya: http://www.sampenulis. wordpress.com.

  1. Cara Menulis Puisi

Menurut Prof. Dr. Herman J Waluyo dalam buku Apresiasi Puisi Untuk Pelajar dan Mahasiswa, ditinjau dari aspek bahasa, puisi paling tidak harus mengandung beberapa unsur, yakni: Pemadatan bahasa, kata-kata membentuk larik dan bait atau bahasa dipadatkan, Pemilihan kata khas puisi bukan bahasa prosa dan sehari-hari; kelam sunyi, kata-kata khas puisi terdiri dari; Makna kias atau yang bukar arti sebenarnya; hari mudaku telah pergi, Lambang; pengantian suatu hal/benda dengan hal/benda lain; Burung dara jantan, Persamaan bunyi/rima; persamaan bunyi yang harmonis, Kata kongkret; kuku-kuku besi bermakna kuda bersepatu besi, Pengimajian (pencitraan dalam puisi); kata atau susunan kata-kata dapat memperjelas apa yang dinyatakan penyair, apa yang digambarkan seolah-olah dilihat (imaji visual), didengar (imaji auditif) dan dirasa (imaji taktil), Irama atau Ritme; pengulangan bunyi, kata, frasa dan kalimat (puisi lama), Tata wajah atau tata letak kata yang tidak lazim (mutakhir).6 Namun di samping penjelasan di atas, dalam perkembangan terbaru penulisan puisi ada yang disebut dengan puisi yang diprosakan, artinya penulisan puisi bukan dalam bentuk larik, melainkan alinea atau paragraf sebagaimana penulisan prosa.

Berdasarkan penjelasan ini, saya lalu membuat cara praktis menulis puisi, cara ini merupakan pengembangan dari pemahaman teoritis di atas.

Pertama; biarkan imajinasi Anda mengembara tentang tema puisi yang akan dibuat, misal hendak menulis musibah gempa di Yogyakarta, bagi yang tidak mengalami secara langsung, bisa mengikuti berita visual di televisi, internet atau media cetak, lalu rasakan peristiwa demi peristiwa, biarkan citra-citra tentang hal itu terbuka lebar, baik yang berhubungan maupun tidak berhubungan. Lalu citra-citra yang semraut itu diatur pada satu titik fokus yakni dasyatnya musibah gempa di Yogyakarta.

Kedua; resapi tema tersebut dalam perasaan yang dalam, sehingga emosi Anda menjadi terlibat. Orang yang memiliki perasaan yang dalam akan turut menitikkan air mata melihat penderitaan masyarakat Yogya dan sebagian Jawa Tengah, perasaan haru dimasukkan dalam jiwa seakan-akan turut merasakan penderitaan yang sama.

Ketiga; tulis apa saja yang ada di benak Anda tentang tema tersebut, tulisan dibiarkan secara acak atau dalam bentuk paragraf. Contoh; gempa dasyat di Yogya benar-benar luar biasa; rumah-rumah hancur lebur, bangunan-bangunan runtuh, aspal dan tanah membelah, beribu-ribu orang meninggal dunia, sedang yang luka parah dan ringan mencapai puluhan ribu orang, sehingga rumah-rumah sakit tak bisa menampung, orang-orang yang tertimba bencana dan selamat, merasakan penderitaan yang dalam, sengsara, sedih, menangis dan trauma, mereka terpaksa tinggal di tenda-tenda pengungsian, baik yang di dekat rumah atau tenda yang diperuntukkan untuk sejumlah orang.

Keempat; dari tulisan yang berbentuk paragraf lantas Anda pilih kata yang menarik dengan mencari kata lain yang lebih menarik. Contoh; gempa dasyat di Yogya benar-benar luar biasa, diganti dengan kata-kata; gemuruh Yogya membahana segala penjuru dunia.

Kelima; mulai menulis puisi berdasar pilihan kata-kata tadi, misalnya;

gemuruh Yogya membahana segala penjuru dunia

tanah-tanah berbelah dua

bangunan-bangunan hancur tak bersisa

orang-orang berlarian ke mana-mana

hujan air mata mengalir di sungai

darah-darah berceceran

nyawa-nyawa melayang seperti daun dihembus angin

Keenam; mengganti kata yang kurang baik dengan yang lebih baik, mencari lambang, kata kongkret, menemukan irama atau ritme puisi dan membentuk tata wajah sesuai keinginan, maka jadilah sebuah puisi. Contoh;

gempa Yogya membahana segala penjuru dunia (kata gempa diganti gemuruh)

tanah-tanah berbelah dua

bangunan-bangunan hancur tak bersisa

(hancur diganti kata luluh lantak)

orang-orang berlarian ke mana-mana (berlarian diganti lari tunggang langgang)

hujan air mata mengalir di sungai (ditambah kata derita, agar akhir puisi menjadi seirama)

darah-darah berceceran (ditambah menghiasi luka-luka lama)

nyawa-nyawa melayang seperti daun dihembus angin (ditambah kata merana dan kata-kata seperti daun dibuang)

Setelah mengalami proses editorial, maka puisi yang ditulis akan menjadi;

gemuruh Yogya membahana segala penjuru dunia

tanah-tanah berbelah dua

bangunan-bangunan luluh lantak tak bersisa

orang-orang lari tunggang langgang ke mana-mana

hujan air mata mengalir di sungai derita

darah-darah berceceran menghiasi luka-luka lama

nyawa-nyawa melayang dihembus angin merana

Puisi yang baik paling tidak berisi empat sampai lima ciri-ciri kebahasaan puisi, tapi dalam tahap belajar berisi dua atau tiga di antaranya sudah bagus. Dalam puisi di atas ada pemadatan bahasa, ada bahasa lambang yakni gemuruh untuk menunjukkan betapa dasyatnya gempa yang terjadi, ada rima atau persamaan bunyi yang harmonis di setiap akhir larik puisi, ada makna kias yakni nyawa-nyawa melayang dihembus angin merana, ada kata-kata kongkret luka-luka lama, ada pengimajian yang kuat, sebab dalam menulis ini saya hanya mengandalkan imajinasi berdasarkan apa yang dilihat di televisi, jadi citra-citra yang hadir dibentuk karena turut merasakan penderitaan yang dalam dan agar rakyat Indonesia bisa mengambil hikmah, dan puisi di atas juga ada irama puisinya jika dibaca dengan sepenuh jiwa, sedang untuk tata letak dibentuk seperti biasa, tidak mengandung ide baru seperti halnya yang ditulis Sutarji Calzum Bakhri dalam puisi-puisinya.

Puisi juga dapat ditulis tanpa harus berpegang teguh pada teori-teori tertentu, melainkan menulis apa saja yang ingin ditulis apa adanya. Kelemahan penulis puisi yang teoritis adalah puisi-puisi yang dilahirkan terlalu terjebak pada aturan, sehingga kurang memperhatikan isi, sedang kelemahan penulis tanpa teori biasanya puisi-puisi yang ditulis susah diterima pasar atau media. Paling penting dalam menulis puisi adalah membiasakan diri untuk menulis tentang hal-hal yang menarik perhatian, menyentuh perasaan, sepele namun bermakna, tentang; ketidakadilan, kecurangan, keculasan, kejahatan, korupsi, mentalitas bangsa Indonesia, mentalitas masyarakat, dan hal-hal lainnya. Dengan membiasakan diri menulis, puisi-puisi yang dihasilkan akan meningkat secara kuantitaif dan kualitatif, meningkatkan derajat orang dari menulis sekedar hobi menjadi menulis sebagai jalan hidup. Intinya adalah menulislah mulai sekarang, baik berdasarkan teori atau tidak.

  1. Cara menulis Cerpen

Cerita pendek adalah prosa yang bercerita tentang suatu hal dengan panjang karangan dalam batas-batas tertentu, dengan menceritakan sesuatu yang terjadi atau tidak. Memang batas-batas panjang karangan cerpen berbeda-beda, ada cerpen Metaformosis karya Frans Kafka yang sangat panjang sekali, tapi ada juga cerpen yang terdiri dari tiga paragraf, aturan panjang karangan hanya berlaku jika cerpen dikirim ke media yakni diketik minimal 6 halaman kwarto dengan jarak 2 spasi atau 1200 kata. Hal yang disampaikan penulis dalam ceritanya bisa bersifat fiktif belaka, bisa berdasarkan kenyataan yang sebenarnya, dan bisa gabungan keduanya, paling penting penulis harus mampu membuat pembaca percaya tentang apa yang diceritakan.

Untuk memahami cara penulisan cerpen perlu dipahami unsur-unsur cerpen yang terbagi dalam unsur intrinsik atau berada dalam cerita ada enam yakni tema, tokoh/perwatakan, latar/setting, alur, teknik penceritaan, diksi atau gaya bahasa dan unsur ekstrinsik; hal-hal yang mempengaruhi cerita dari luar yakni budaya, sosial, politik, ekonomi, dan adat istiadat.

Tema berkaitan dengan pokok cerita yang ingin disampaikan penulis pada pembaca, perwatakan berkaitan dengan karakter-karakter tokoh dalam cerita, setting berkaitan dengan latar belakang tempat peristiwa yang diceritakan, suasana yang ada, situasi pada waktu diceritakan, tapi ada juga setting cerita tentang tempat atau waktu mendatang yang disebut cerpen ilmiah (di Indonesia sangat jarang), alur berhubungan dengan bentuk cerita yang disampaikan penulis, baik dalam bentuk alur balik atau menceritakan masa lalu, alur maju atau menceritakan masa sekarang dan akan datang, dan gabungan dari keduanya, teknik penceritaan berkaitan penggunaan cerita menggunakan orang pertama, orang ketiga, orang ketiga menggunakan gaya orang pertama, biasanya penulis profesional memiliki teknik penulisan tersendiri seperti Danarto dengan gaya Sufistiknya, diksi atau pemilihan kata, artinya kata-kata dipilih yang dianggap mampu menyampaikan apa yang ingin disampaikan seorang penulis, ada juga yang berpandangan bahwa diksi berhubungan dengan gaya bahasa orang dalam menyampaikan suatu cerita.

Dalam penulisan cerpen mutakhir unsur-unsur ekstrinsik terdiri dari budaya, sosial, politik, ekonomi, dan adat istiadat, mulai mendapat tempat di kalangan media, pembaca dan kritikus sastra. Sebab unsur ekstrinsik yang kuat, mampu menjadikan cerpen yang ditulis sebagai salah satu alat perubahan, penggerak manusia untuk hidup lebih baik, dan meningkatkan kualitas cerpen dari aspek asas manfaat terhadap umat manusia secara universal.

Dengan memahami kedua unsur di atas, kini mulailah menulis cerpen. Agar lebih mudah, Anda harus menemukan bahan yang hendak ditulis, bisa dari pengalaman masa lalu, pengalaman yang menyakitkan, pengalaman yang tak terlupakan, sesuatu yang berkesan dan bermakna bagi diri dan orang lain. Lalu berlatih menulis yang diingat! Khususnya pengalaman paling menyakitkan dalam hidup. Semua bahan untuk karya sastra tidak lain adalah kehidupan masa lalu saya, Marcel Proust.7 Berlatih menulis di buku harian. Orang yang kembali ke buku harian adalah orang yang mencari dirinya, penyusuran jalan menuju pengembangan dan kesadaran, jalan menuju kreatifitas, Anais Nin.8 Dalam mencari Inspirasi atau gagasan/ide dari masa lalu juga. Jika gagasan terlalu banyak untuk ditulis, bermeditasi sebentar atau merenung, dan mendengarkan mimpi, lalu mulailah menulis.

Dalam menulis cerita pada tahap awal, biarkan dulu cerita mengalir apa adanya, Anda hanya mengikuti tangan yang bergerak di atas kieboard komputer, setelah selesai istirahat sejenak atau melakukan kegiatan lain sekitar 30 menit, lalu baca ulang cerpen yang ditulis, dengan membaca ulang akan diketahui kelemahan-kelemahan yang ada dari beberapa unsur dalam suatu cerpen, berilah catatan tentang kelemahan-kelemahan tersebut, dan matikan komputer. Keesokan harinya cerpen dilihat mulai lebih mendetil; paragraf pertama harus dibuat menarik yang mampu mengajak pembaca untuk membaca lebih lanjut, lalu paragraf kedua, ketiga dan seterusnya sampai selesai, jika memang diperlukan bisa jadi sebuah paragraf dipindah dari tengah ke atas atau sebaliknya, edit juga pemilihan kata dan gaya bahasa yang digunakan, lalu buatlah ending cerita yang menarik, ending cerita terdiri dari happy ending atau akhir yang bahagia, bad ending atau akhir yang buruk, Quistion ending atau akhri cerita yang terbuka terhadap beberapa kemungkinan dan No ending atau tanpa ending cerita artinya cerita kelihatan selesai padahal sengaja tidak diselesaikan.

Menurut Carmel Bird terdapat beberapa kesalahan dalam penulisan cerpen yang berusaha dihindari seorang penulis. Klise; ungkapan-ungkapan yang tidak sesuai dengan yang kita tulis dan mengaburkan gambaran yang ingin ditulis. Jargon; menulis kehidupan orang dengan kata-kata yang diciptakan pekerja sosial dan psikolog, contoh jargon komputer update dan download. Kekeliruan bodoh; benda-benda mati dihidupkan seperti manusia. Metafora campur aduk yang tak jelas maknanya, tahi lalat pada jalan tol kehidupan politikus. Dialog kaku; perkataan orang tidak persis ditiru, tapi buatlah kesan pada pembaca bahwa dialog itu seperti yang pernah mereka katakan atau jangan dibuat-buat, perlu latihan menulis percakapan. Gambaran tentang sesuatu secara berlebihan, sehingga mengganggu cerita. Kata serapan; (berasal dari bahasa Inggris atau daerah) yang salah, harus hati-hati dalam penggunaannya.9

  1. Cara Menulis Kritik Sastra

Kritik sastra itu berhubungan dengan aspek penilaian, maka menurut HB Yassin dan Hudson via Pradopo “Kritik sastra ialah pertimbangan baik dan buruk karya sastra, penerangan, dan penghakiman karya sastra….”10 Berdasarkan definisi ini, maka kritik sastra berusaha menelanjangi, membuka yang tersembunyi yang disampaikan seorang penulis, memberikan kriteria-kriteria baik dan buruk sebuah karya sastra, memudahkan pembaca untuk memahami karya sastra dan baru melakukan penghakiman terhadap baik dan buruknya suatu karya sastra.

Untuk melengkapi definisi di atas, Anda perlu menyimak pendapat Abrams via Pradopo “kritik sastra merupakan studi yang berhubungan dengan pendefinisian, penggolongan, penguraian (analisis), dan penilaian (evaluasi) karya sastra …..”11 Sebuah karya sastra harus didefinisikan terlebih dahulu, dijabarkan makna-makna yang dikandungnya, termasuk ke dalam golongan aliran atau genre sastra yang mana; romantik, eksistensialis, realis, impresionis, naturalis, ekspresionis, surealis, psikologis, biografis, dan absurdis, lalu dianalisa dengan metode tertentu, diuraikan dengan penjelasan-penjelasan, dan terakhir memberikan penilaian terhadap karya sastra. Jika uraian ini dianggap menyulitkan, sekarang kita menulis kritik sastra dengan cara yang mudah saja.

Pada tahap pertama, kita baca dulu karya sastra yang hendak dikritik; puisi, cerpen, novel, drama, dan skenario, misalkan yang kita baca adalah kumpulan cerpen Danarto Godlob. Dalam membaca dilakukan secara kreatif seperti yang disarankan dalam cara membaca buku. Dari hasil pembacaan terhadap satu cerpen Godlob misalnya, lantas kita buat beberapa catatan tentang tema, alur, setting, penokohan dan pesan yang hendak disampaikan, di samping itu perlu juga dicatat kelebihan, kekurangan, dan kelemahan cerpen tersebut, alasan kenapa cerpen tersebut dianggap sebagai master piece dari Danarto, termasuk ke dalam aliran sastra yang mana atau membawa aliran baru dalam penulisan cerpen.

Perlu menulis kerangka karangan dari kritik sastra yang hendak ditulis, sebelum dijabarkan dalam paragraf atau alinea. Berdasarkan kerangka karangan yang ada, baru ditentukan satu catatan masuk ke bagian yang mana, catatan lain masuk ke bagian yang mana, sehingga saat dijabarkan dalam paragraf menjadi lebih jelas, mudah dan bisa dilaksanakan dengan baik.

Tulisan sebaiknya diawali dengan penjelasan tentang tema dari cerpen Godlob, lalu tempat dan suasana yang digambarkan dimana, alur ceritanya menggunakan alur yang mana dan menarik atau tidak, makna apa yang ingin disampaikan Danarto dalam cerpennya. Lalu dicari dalam cerpen kelemahan yang ada; misalnya ada dialog yang bila dibaca dengan teliti, ternyata mengaburkan siapa yang mengatakan dengan tanpa penjelasan. Sedang berkaitan dengan genre atau aliran sastra yang dibawa Danarto dalam cerpen tersebut, Anda perlu mengetahui pendapat kritikus-kritikus sastra lain tentang cerpen tersebut, misalnya cerpen Danarto dianggap pembawa arus perubahan baru dalam penulisan cerpen di Indonesia. Terakhir, baru Anda memberikan penilaian terhadap cerpen tersebut, baik setuju terhadap pendapat kritikus lain atau tidak setuju dengan alasan-alasan tentunya. Untuk itu, perlu dibandingkan dengan cerpen bagus lainnnya seperti karya AA. Navis Robohnya Surau Kami, dan cerpen terbaik Danarto lain yang berjudul Jejak Tanah.

Pendekatan yang ditempuh dalam melakukan kritik sastra seperti disampaikan Abrams dengan ulasan Suwardi Endraswara yang terbagi dalam: pendekatan ekspresif; berhubungan dengan pengarang, pendekatan obyektif; menitikberatkan pada teks sastra yang kelak disebut strukturalisme atau instrinsik, pendekatan memetik; penelitian sastra yang berhubungan dengan kesemestaan (universe), pendekatan pragmatik, penelitian sastra yang berhubungan dengan resepsi pembaca terhadap teks sastra.12

Demikianlah beberapa cara menulis kritik sastra, namun demikian seorang penulis kritik sastra tidak harus terjebak dalam teori-teori tertentu dalam penulisan kritik sastra, sebab hakikatnya HB. Yassin yang dianggap Paus Kritikus Sastra Indonesia memulai kritik sastra dengan tanpa berpegang pada teori-teori tertentu, melainkan menulis kritik sastra terapan yang diistilahkan oleh Pradopo, dengan menjelaskan makna dari karya sastra, menafsirkannya, dan memberikan penilain baik atau buruk terhadapnya atau melakukan penghakiman. Tapi harus diingat bahwa HB Yassin mengabdikan hidupnya untuk membaca dan menulis kritik sastra dengan penuh ketekunan sampai menjelang kematiannya.

Ada juga tulisan yang disebut dengan esai sastra, ini lebih mudah lagi, esai sastra adalah tulisan lepas tentang karya sastra, biasanya tidak berhubungan dengan penilaian untuk membedakannya dengan kritik sastra. Jadi dalam menulis sastra sekadar menggambarkan hal-hal yang berhubungan dengan karya sastra apa adanya.

  1. Cara Menulis Ilmiah Populer

Karya ilmiah adalah sebuah tulisan yang berdasarkan fakta yang sebenarnya, menggunakan metode tertentu, dan ditulis setelah melakukan penelitian, baik penelitian lapangan atau kepustakaan. Sedang karya ilmiah populer adalah karya ilmiah yang ditujukan untuk konsumsi media massa atau masyarakat umum.

Dalam penulisan karya ilmiah populer, ada yang menggunakan motode deduktif yakni kesimpulan umum dulu baru diberi penjelasan, ilustrasi, fakta, analogi, dan contoh-contoh, ada yang menggunakan metode induktif yakni uraian atau penjelasan, ilustrasi, fakta, analogi, dan contoh-contoh, baru diakhir tulisan diberi kesimpulan, sedang metode campuran adalah gabungan keduanya; kesimpulan diungkapkan terlebih dahulu, di akhir tulisan kesimpulan lebih dipertegas lagi. Cara mana yang ditempuh terserah penulis.

Sebelum memulai tulisan, buatlah kerangka karangan dulu. Kerangka karangan harus dibuat dengan jelas, untuk itu perlu beberapa langkah dalam menulis kerangka karangan seperti yang diungkapkan Prof. Dr. Gorys Keraf; merumuskan tema berdasarkan topik (pokok bahasan) dan tujuan yang ingin dicapai, melakukan inventarisasi atau pengumpulan bahan-bahan yang berkaitan dengan topik-topik bawahan yang berkaitan dengan tema, penulis mengadakan evaluasi terhadap topik-topik yang ditulis; relevansi masing-masing topik, topik mana yang dipertahankan dan dibuang, menentukan derajat topik mana yang utama dan mana yang penjelas, agar kerangka karangan bagus dalam menyusun tema atau tujuan dan inventarisasi, dilakukan secara berulang-ulang, dan terakhir menentukan pola penyusunan kerangka karangan; pola alamiah yakni suatu urutan unit-unit kerangka karangan sesuai dengan keadaan yang nyata di alam, dan pola logis yakni suatu urutan yang sesuai dengan akal budi atau pikiran manusia.13

Dari kerangka karangan yang ditulis, lalu dijabarkan dalam bentuk paragraf-paragraf, sehingga tulisan bisa diselesaikan dengan cepat. Namun demikian ada penulis yang sudah terbiasa menulis, justru tidak membutuhkan kerangka karangan yang dianggap membatasi ruang gerak, malah tulisan lebih mengalir tanpa menulis kerangka karangan. Bagi penulis pemula saran ini tidak cocok, sebab ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah “terbiasa” menulis.

Perlu diingat sebuah karangan ilmiah populer, terdiri dari pendahuluan (meski kata pendahuluan sering tidak ditulis di mass media), isi dan penutup. Dalam pendahuluan dijelaskan tentang beberapa hal yang menarik dari fakta yang ditulis agar pembaca tertarik untuk membaca, biasanya terdiri dari dua sampai tiga alinea, isi meliputi minimal dua sub judul sampai tiga sub judul yang masing-masing sub judul terdiri dari tiga sampai sembilan alinea, dan penutup yang biasanya terdiri dari satu sampai tiga alinea.

Selesai ditulis, diedit dulu; pungtuasi atau tanda-tanda yang dipakai dalam setiap kalimat atau paragraf, hubungan antar paragraf, kejelasan paragraf utama dengan paragraf penjelas, penggunakan bahasa Indonesia disesuaikan dengan Ejaan yang sudah disempurnakan atau menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan keseluruhan dari isi karangan. Sebaiknya editorial dilakukan sejam atau beberapa jam setelah tulisan selesai ditulis agar ketika mengedit lebih konsentrasi dan fokus, sehingga kesalahan bisa dihindari. Karya ilmiah populer biasanya dimuat di rubrik Opini di media cetak.

  1. Cara Menulis Kolom

Kolom adalah jenis tulisan yang merupakan gabungan antara cara menulis sastra dengan cara menulis ilmiah. Maka dalam menulis kolom, orang dituntut memiliki keahlian ganda agar kualitas kolomnya bagus. Meski demikian ini bukan syarat mutlak, melainkan sekadar upaya agar kolom yang dihasilkan lebih berkualitas. Dalam bahasa berbeda KH. Zainal Arifin Toha atau Gus Zainal mengatakan; “menurut saya, tulisan kolom adalah merupakan gabungan dari cerpen, puisi, artikel, esai, hikmah, bahkan juga cerita humor. Dengan kata lain, kolom adalah merupakan ramuan berbagai macam menu tulisan yang bersifat padat namun berisi.”14

Penulis kolom yang berhasil seperti Emha Ainun Nadjib, dikenal sebagai penyair dengan beberapa kumpulan puisi, cerpenis (meski cerpen-cerpennya dinilai kurang bagus) dramawan, memahami kreativitas penulis jalanan, memahami tulisan ilmiah dari lingkungannya di Yogya dan pengalaman pernah kuliah. Semua itu diaktualisasikan dalam penulisan kolom yang benar-benar berkualitas seperti Slilit Sang Kiai, yang dibukukan dengan judul sama dan berisi kolom-kolom Cak Nun yang benar-benar bagus.

Bagi penulis kolom yang berlatar belakang puisi atau cerpen, bisa mulai berlatih menulis karya ilmiah populer, lantas suatu waktu berusaha menulis dialog pendek menarik; diawal, tengah, akhir atau acak dalam tulisan ilmiah yang dibuat, dan baru membiasakan menulis kolom dengan gaya sendiri yang tidak mesti meniru orang lain, bagi yang tidak punya pengalaman menulis, berlatihlah menulis puisi atau cerpen, di lain waktu berlatih menulis ilmiah sederhana; pendahuluan, isi dan penutup, dan berusaha menggabung keduanya dalam bentuk tulisan yang baru, tentu setelah terlebih dahulu membaca kolom-kolom lain yang berkualitas.

Pengalaman saya menulis kolom di Pesantren TMI Al-Amien Madura; biasanya setiap minggu dan dua minggu sekali menulis kolom di mading SUASA selama setahun, sayangnya saya tidak punya inventarisasi kolom-kolom yang diberi judul rubrik Air Madurasmita. Sebelum menulis kolom, saya sudah membiasakan diri dengan buku-buku Cak Nun, bahkan saya akui dalam menulis kolom pada tahap itu meniru gaya Cak Nun, baru sepuluh tahun kemudian, saya mencari cara penulisan kolom sendiri. Dalam menulis kolom, biarkan ide-ide mengalir secara liar, baik dalam bentuk paragraf atau dialog, baru dalam proses editorial, paragraf atau dialog diatur sedemikian rupa, bahasa diperbaiki, pemikiran yang kurang ditambah, analisa dipertajam dan fakta-fakta baru yang menarik ditambahkan.

Bahan-bahan kolom diambil dari koran, majalah atau internet tentang sesuatu, contoh; konlik AS dengan Iran yang mayoritas penduduknya Muslim, ini bisa menjadi bahan yang menarik dalam penulisan kolom. Tentu sudut pandang penulisan kolom yang kita buat harus dibuat khas, unik, menarik dan dari sudut pandang berbeda.

  1. Cara Menulis Buku

Beberapa cara menulis sebelumnya, dijadikan sarana latihan untuk menulis buku suatu waktu kelak setelah mampu menjadikan menulis sebagai kebiasaan yang menyenangkan. Terkadang apa yang ditulis di atas mengalami kegagalan untuk dimuat di media cetak, kegagalan yang bisa menghentikan seseorang untuk menulis, maka dengan menjadikannya sebagai media latihan; tidak ada yang gagal, semua itu merupakan proses untuk mampu menulis buku pada masa pendatang.

Sebelum menulis buku, perlu membaca buku-buku best seller yang berkualitas sesuai dengan dengan bidang yang dikuasai sebelumnya. Dari buku itu dipelajari rahasia best sellernya, cara penulisan buku, sistematika tulisan, dan membuat beberapa catatan penting. Lalu motivasi diri bahwa siapa saja bisa menghasilkan buku best seller asal dilakukan dengan sungguh-sungguh, penuh ketekunan, teliti, konsisiten dalam menulis, niat tulus untuk Allah dan agar tulisan bermanfaat bagi orang banyak, memanfaatkan segenap potensi yang dimiliki, dan melakukan proses menulis dari awal sampai akhir dengan tujuan menghasilkan yang terbaik, yang bisa dilakukan diri. Mengenai hasil akhir, bertawakkal pada Allah dalam makna tawakkal yang benar.

Dengan demikian, untuk menulis sebuah buku, Anda tak perlu harus menjadi Doktor, asal punya tekad bulat untuk belajar sendiri, rajin membaca buku, rajin membaca semesta, rajin membaca Al-Qur’an dan Hadits dengan berusaha memahami makna-maknanya, insya Allah siapa saja bisa menulis buku.

Dalam memulai menulis buku, diawali dengan kerangka karangan, baru mengumpulkan data-data kepustakaan; terdiri dari buku utama yang dijadikan sandaran penulis dan dijadikan sumber kutipan utama dan buku-buku tambahan lain yang bisa dijadikan sumber refrensi, minimal harus menyiapkan 15 buku yang berhubungan untuk menulis sebuah buku, informasi yang berasal dari media massa; koran, tabloid dan majalah, yang berupa kenyataan-kenyataan yang ada dalam masyarakat, budaya dan lingkungan tertentu (secara kualitatif lebih dari kuantitatif untuk penelitian sosial), dan mencari data-data lain sesuai kebutuhan.

Supaya memudahkan dalam pengutipan sebuah buku; otodidaktor menyediakan kertas-kertas kecil secukupnya sebelum berangkat menuju perpustakaan, memilih buku yang berkaitan dengan yang hendak ditulis –minimal 5 buku-, melakukan pembacaan cepat, ketika menemukan tulisan yang hendak dikutip; ambil kertas yang disediakan, lalu tulis judul buku, penulis (dengan penerjemah jika buku terjemahan), penerbit, tahun penerbitan, dan halaman yang hendak dikutip, baru menulis tulisan yang hendak dikutip; jika kutipan langsung, semua ditulis utuh seperti aslinya, dan jika kutipan tak langsung hanya menulis poin-poin penting saja, begitulah seterusnya sampai seluruh buku bisa diselesaikan dengan pembacaan cepat. Pembacaan cepat bisa dilakukan dengan proses pembiasaan membaca buku.

Mencari bahan tambahan di media cetak dengan proses mirip dengan pengutipan sebuah buku, hanya saja yang ditulis adalah judul tulisan, tanggal, bulan dan tahun penulisan, dan jenis media yang dijadikan kutipan. Demikian juga ketika mencari data-data lewat internet.

Melakukan wawancara dengan orang-orang yang ahli, pengalaman dan memiliki ilmu di bidang yang hendak ditulis. Wawancara yang baik dilakukan dalam bentuk dialog, yang mana pihak yang diwawancarai tidak merasa diwawancarai, bentuk gampangnya adalah silurahmi ke rumah orang dan membicarakan tentang hal-hal yang berkaitan dengan sesuatu yang hendak ditulis.

Melakukan pembacaan kreatif terhadap kenyataan-kenyataan yang disaksikan langsung di tengah-tengah masyarakat. Mencatat semuanya dalam catatan khusus, bisa dalam buku harian atau buku catatan lainnya. Ini penting agar apa yang ditulis bersandar pada kenyataan, bukan praduga semata. Tapi ingat, kenyaataan sering menipu, maka penelitian yang dalam dibutuhkan untuk mengetahui kenyataan yang sesungguhnya.

Mulailah menulis dengan pendahuluan; menjelaskan tentang latar belakang penulisan, metode yang digunakan (metode acak tak apa-apa), garis besar yang hendak ditulis, tujuan penulisan dan hal-hal yang mendorong orang untuk menulis. Dari pendahuluan dilanjutkan dengan penulisan bab pertama; biasanya menulis tentang definisi, makna dari definisi tersebut, dan ilustrasi atau contoh. Dilanjutkan bab kedua; biasanya tentang segala sesuatu yang dibutuhkan orang untuk memahami yang dijelaskan di bab pertama. Diteruskan dengan bab ketiga; biasanya tentang hal-hal lain yang dianggap berhubungan dengan bab kedua yang tidak dijelaskan sebelumnya. Pada bab empat; biasanya seorang penulis berusaha menemukan “hal baru” yang bisa jadi berupa sintesis dari hal-hal yang ditulis sebelumnya. Baru pada bab kelima dilakukan penyimpulan terhadap apa yang ditulis mulai bab pertama sampai keempat. Sengaja disebut “kebiasaan” karena setiap buku memiliki ciri khas penulisan sendiri yang berhubungan dengan kebiasaan orang dalam menulis. Sedang kebiasaan yang dijelaskan dalam buku ini merupakan kebiasaan saya sendiri.

Data-data yang telah disediakan sebelumnya, dimasukkan ke dalam buku dalam setiap bab sesuai bidang kajian. Berhati-hatilah memasukkan data, jangan sampai menjadikan tulisan menjadi rancu dan tidak dipahami orang.

Prinsip dalam menulis buku adalah triad and error, artinya orang berusaha menulis sesuatu, melakukan kesalahan di dalamnya, memperbaiki kesalahan, melakukan kesalahan lagi, memperbaiki kesalahan lagi, begitu terus sampai buku menjadi sempurna. Itu artinya, kesalahan adalah sarana memperbaiki tulisan sampai menghasilkan yang terbaik, yang bisa dilakukan orang dalam menghasilkan karya tulis. Jangan jadikan kesalahan, penilaian buruk, dan kekeliruan sebagai trauma, melainkan upaya menyempurnakannya. Prinsip ini sama dengan menjalani hidup, hanya saja perlu ditambahkan dengan tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Selesai menulis buku secara keseluruhan, edit kembali untuk memperbaiki kesalahan penulisan, pemilihan kata yang salah, pemberian makna yang keliru, dan memperbaiki segala sesuatu yang dianggap keliru. Bisa jadi sebuah paragraf dipindah-pindah, tak masalah senyampang perbaikan merupakan penyempurnaan, bukan mengacaukan hasil tulisan. Editorial minimal dilakukan tiga kali untuk sebuah buku yang ditulis.

Dalam proses pengeditan, sebaiknya buku diserahkan pada teman atau orang lain untuk mendapat masukan yang konstruktif. Masukan jangan ditelan mentah-mentah, melainkan dipikirkan dan dianalisa secara seksama, jika masukan “lebih tepat” dari yang ditulis, tidak boleh segan untuk merubahnya.

Buku yang sudah diedit, diajukan ke penerbit. Biasanya penerbit besar “sulit” menerima penulis buku yang dianggap pemula dan tidak terkenal, maka seorang penulis baru harus mencari penerbit-penerbit kecil yang butuh buku untuk diterbitkan. Untuk mengetahui hal ini, perlu koneksi, orang lain yang punya jaringan, dan butuh pengetahuan yang luas. Penolakan dari sebuah penerbit bukan berarti tulisan jelek, sebab bisa jadi tulisan yang dibuat tidak sesuai dengan kehendak “pasar” dengan segala macam cita rasanya. Ada dua jalan jika ditolak; perbaiki tulisan sampai sempurna atau simpan dulu, dan berusaha menulis buku baru lainnya.

Seandainya telah menghasilkan tiga buku, namun tidak ada satu pun yang diterbitkan, beranikan diri untuk menerbitkan dengan uang sendiri; jika tebal halaman 100 halaman 1,5 spasi kertas kwarto, paling uang yang dibutuhkan maksimal 5-10 juta rupiah, jika bertambah tebal, bertambah besar pula uang harus disediakan. Banyak penulis besar yang sukses, justru setelah menerbitkan sendiri bukunya seperti Carmel Bird, atau malah seperti Frans kafka, yang karyanya baru diterbitkan setelah meninggal dunia, tapi justru dijuluki pelopor sastra posmodern.

Namun, jika ternyata tetap tidak bisa, maka Anda dapat berjualan buku di internet melalui blog gratis yang dibuat. Pembaca yang telah mentransfer uang, Anda kirimi tulisan ke email atau wibe site mereka atau biarkan mereka mendownlowd sendiri. Biayanya murah meriah. Hanya cara ini beresiko, sebab karya Anda dapat dijiplak orang.

————————————————————————–

1 Albert Camus dkk, Menulis Itu Indah, Pengalaman Para Penulis Dunia, penerjemah Ade Ma’ruf, penyunting Anas Syahrul Alimi, (Yogyakarta: Jendela, 2002), hal 46-48

2 ibid hal 79

3 M. Amin Abdullah, Antara Al-Ghazali dan Kant, Filsafat Etika Islam, penerjemah Drs. Hamzah, M.Ag, penyunting Husein Heriyanto, cet. I Agustus 2002, hal 31-32

4 Prof Dr. Gorys Keraf, Komposisi, Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa, (Ende: Nusa Indah, 2004), hal 188.

5 ibid hal 183

6 Prof. Dr. Herman J. Waluyo, Apresiasi Puisi Untuk Pelajar dan Mahasiswa, Gramedia Jakarta 2003

7 Carmel Bird, Menulis Dengan Emosi, Panduan Empatik Mengarang Fiksi, Penerjemah Eva Y, Penyunting Femmy Shahrani, Kaifa Bandung, 2001, hal 33

8 ibid hal 125

9 ibid hal 112-114

10 Prof Dr. Rachmat Joko Pradopo, Kritik Sastra Indonesia Modern, (Yogyakarta: Gama Press, 2002), hal 17

11 ibid hal 18

12 Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Sastra, (Yogyakarta: Pustaka Widyatama, 2006), hal 9

13 Prof. Dr. Gorys Keraf, op cit. hal 152-153

14 Zainal Arifin Thoha, Aku Menulis Maka Aku Ada, (Yogyakarta: Kutub 2005), hal 42

 

Hidup Penuh Arti (HPA)


 

 

Jalan Kebenaran

 

Susuri langkah kuak jalan, Halau duri jejak kaki.

Terik matahari sumber cahaya, Bias bulan dalam sanubari

Rintik hujan restu Ilahi, Himpun kekuatan perkuat diri.

Tegap langkah segudang semangat Hirup udara segar badan

Badan lemah hinggap penyakit, Gelap dunia selimuti diri.

Sakit ujian nilai harga, Kuak jalan arah berbeda

Lelah rasa hinggap badan, Lesu darah kurang tenaga.

Depan hari raih mimpi, Hilang rasa tinggal energi

Kelana pikir rumit seram, Hidup susah mati nelangsa.

Dunia abu bumi temaram, Batas pikir paham semesta

Relung imaji buka cakrawala, Hidup berbeda suasana rupa.

Jebak orang selimut fatamorgana Bimbing imaji dapat karsa.

Ada sadar ada tak sadar, Manusia jaga buka mata.

Tak sadar renung sadar, Gulita gelap terang cahaya

Tabir hati cermin kotor, Jatuh debu balut lumpur.

Dzikir hati bersih sinar, Pantul Kuddus dalam luhur

Kerah semua jalan nafas, Hutan belantara nikmat terasa.

Sabar air terobos batu, Susah mudah sulit gampang

Dekat jarak dekap bintang, Senyum hidup senyum mati.

Petaka berkah sengsara rahmat, Derap langkah jalan Allah

 

Wonosari, 31 Desember 2006


  1. Antara Kebutuhan Pragmatis dengan BO

Pada abad 20 pekerjaan yang ditekuni seseorang berkesesuaian dengan latar belakang pekerjaan keluarga. Orang dengan latar belakang keluarga pengusaha, cendrung untuk menjadi pengusaha, orang dengan latar belakang karir profesional, cendrung menjadi orang-orang profesional, demikian juga yang berlatar belakang wiraswasta, petani, nelayan, peternak, pegawai, pekerja, buruh dan guru. Namun, pada abad 21 hal ini berubah total, sebab perubahan zaman yang berlangsung dasyat menuntut setiap orang untuk memiliki keterampilan-keterampilan baru untuk mampu beradabtasi.

Di sinilah, upaya menggabungkan antara belajar dengan pekerjaan memegang peranan sangat penting. Ini bermakna, Anda dituntut menggabungkan antara usaha dengan ilmu pengetahuan guna memperoleh hasil yang lebih maksimal.

Bagi yang terlalu disibukkan pemenuhan kebutuhan hidup, BO dapat dilakukan dengan mengatur waktu yang fleksibel. Bagi yang tidak, tentu dapat mengatur sebaik-baiknya.

Sesungguhnya tantangan terbesar untuk mampu berhasil BO sampai program “Doktor” informal, adalah pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Jika masih bujangan mungkin semua rencana bisa dilaksanakan asal ada kemauan kuat, tapi jika sudah berkeluarga seringkali program BO dikalahkan; bekerja agar kebutuhan keluarga terpenuhi, mengasuh anak, membesarkan anak, dan mendidik mereka ke jenjang pendidikan yang tinggi. Pertanyaannya, akankah Anda membiarkan kehidupan berkeluarga mematikan cita-cita luhur BO seumur hidup? Tentu tidak, sebab kini BO seumur hidup menjadi keharusan bagi setiap orang.

  1. Berwiraswasta Guna Memenuhi Kebutuhan Hidup

“Seorang enterpreneur adalah seseorang yang mengelola usahanya dengan mengatur sedemikian rupa supaya memperoleh keuntungan, dengan menanggung resiko kerugian, usaha tersebut dikelola sebaik-baiknya menggunakan segala sumber daya yang dimiliki, sehingga bisa tumbuh dan berkembang pada masa mendatang. Seorang wiraswatawan yang berhasil, apabila mampu meningkatkan diri dari usaha kecil menjadi usaha menengah, syukur-syukur bisa meningkat lagi menjadi usaha yang besar.”1

Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda “Sesungguhnya Allah SWT suka kepada hamba yang berkarya dan terampil. Barang siapa bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka dia serupa dengan seorang mujahid fisabilillah” (HR.Imam Ahmad). Ini menunjukkan penghargaan Islam terhadap umatnya yang berusaha memenuhi kebutuhan hidup sendiri dan keluarga, bahkan jenis usaha yang dilakukan disamakan dengan orang yang berjuang di jalan Allah.

Untuk menumbuhkan jiwa wiraswata dilatih semenjak kecil dengan membantu orang tua dalam mengelola usaha, apa pun bentuk usaha yang dikelola asal halal. Bagi yang belum berpengalaman, namun memiliki niat untuk berwiraswasta, maka bisa dimulai saat ini juga, dengan cara memperhatikan dulu orang yang menekuni usaha sama, berusaha magang selama beberapa bulan, melakukan penelitian di beberapa pasar, pusat perbelanjaan dan pertokoan yang berbeda untuk menentukan jenis usaha, dan memilih usaha yang dalam jangka menengah dan panjang bisa memperoleh keuntungan, jadi bukan dari sudut jangka pendek saja. Dengan itu semua, baru memulai usaha sendiri dengan mencatat pengeluaran dan pemasukan barang atau uang, memperbanyak barang yang laku cepat, melengkapi barang yang dibutuhkan konsumen, senantiasa membaca situasi; ramai, sedang, cukup, dan sepi, dengan menentukan langkah yang tepat, memiliki simpanan uang meski sedikit demi sedikit, dan bertawakkal pada Allah dalam makna yang benar seperti dijelaskan sebelumnya.

Jika memulai usaha dari nol, sehingga belum memiliki tempat usaha sendiri, maka mulailah dengan memanfaatkan sumber daya yang ada. Jangan malu dan gengsi memulai usaha kecil, ini bisa dijadikan proses pelatihan sebelum menekuni usaha yang besar. Tentu hal ini membutuhkan proses waktu yang bertahun-tahun, namun dengan usaha yang optimal, hidup hemat, ketekunan, semangat membara, dan tawakkal pada Allah, semua itu bisa diatasi.

Keadilan Allah dalam menekuni usaha; tidak perlu pendidikan formal yang tinggi, malah banyak orang yang berpendidikan rendah lebih sukses dari yang berpendidikan tinggi. Menurut Ary Ginanjar Agustian “Banyak contoh di sekitar kita membuktikan bahwa orang yang memiliki kecerdasan otak saja, memiliki gelar tinggi, belum tentu sukses berkiprah di dunia pekerjaan. Seringkali justru yang berpendidikan formal lebih rendah, banyak yang ternyata mampu lebih berhasil. Kebanyakan program pendidikan hanya berpusat pada kecerdasan akal (IQ), padahal diperlukan pula bagaimana mengembangkan kecerdasan emosi seperti; ketangguhan, inisiatif, optimisme, kemampuan beradabtasi…”2

Ini diperkuat Valentino Dinsi, SE, MM, SH, “Tak ada lembaga formal yang benar-benar tepat untuk melahirkan enterpreneur. Setiap lembaga formal, mengajarkan Anda mengerjakan bisnis dan memutar uang orang lain. Mulaiah, melihat kekuatan itu pada diri Anda sendiri.”3

Para sarjana di bidang kewiraswastaan, manajemen, dan perdagangan, dunia wiraswasta menawarkan beragam pekerjaan yang bisa ditekuni, jangan terjebak mengharap pekerjaan di pabrik, perusahaan, bidang jasa, super maket, pusat perbelanjaan, dan bidang lainnya, padahal banyak hal yang bisa dilakukan dengan menekuni usaha sendiri dari nol. Keberhasilan di bidang ini akan memberi warna pada masyarakat, menawarkan pekerjaan baru pada orang lain, dan menjadikan diri hidup mandiri, bukan malah menjadi pengangguran intelektual.

Jika ingin menggabungkan antara gairah kerja dengan pengetahuan, maka buku-buku yang dipelajari berkesesuaian dengan bidang pekerjaan yang ditekuni; Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian karya Valentino Dinsi, SE, MM, MBA dkk, Change karya Rhenald Kasali Ph.D, Cara Gampang Menjadi Kaya Melalui Bisnis, 9 Strategi Praktis membangun Bisnis yang Sukses karya Martin J. Grunder, Berniaga dengan Iman, Kiat-Kiat Agamis Menjadi Saudagar Sukses, karya saya sendiri. Pembacaan dilakukan secara kreatif, sehingga bisa dimanfaatkan langsung dalam mengembangkan usaha yang dikelola. Di samping itu juga mencoba menyusun naskah di bidang wiraswasta, atau jika sudah punya kemampuan, mulailah menulis buku sendiri tentang kewiraswastaan.

  1. Menekuni Karir Profesional

Dari proses menjadi wiraswasta, biasanya sebagian di antaranya mampu mengembangkan usaha yang dikelola menjadi usaha besar yang berhasil, seperti Aa Gym, Valentino Dinsi, Ary Ginanjar Agustian, Surya Paloh, Bob Sadino, dan Fauzi Sholeh. Keberhasilan membentuk usaha yang besar tidak boleh membuat Anda puas, sebab lebih sulit mempertahankan dari pada mencoba keberhasilan dari awal. Cara Aa Gym berupaya mempertahankan keberhasilannya dengan menggunakan konsep PDB (Positioning, Differensiation, Brand) seperti dikemukakan Hermawan Kertajaya, bisa dijadikan contoh.

Aa Gym membangun positioning (menempatkan diri) sebagai Muballig yang menyampaikan dakwah secara moderat dengan bahasa yang akrab, sangat mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Behubung sebagian besar jamaahnya generasi muda, maka beliau disebut Aa yang dalam bahasa sunda berarti kakak, bukan Kiai, Ulama atau Ustad. Differensiasi Aa Gym yakni petuah-petuah berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits, khususnya menyangkut masalah hati (qolbu) dan retorika dakwah yang sejuk dengan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami, serta dibumbui humor, Aa Gym diterima secara luas, bahkan oleh non Muslim sekalipun. Differensiasi Aa Gym terletak pada Manajeman Qolbu Corporation yang menjadi medium untuk mempraktekkan apa yang diucapkan, terutama dalam berbisnis secara Islam. Aa Gym sangat peduli dengan memajukan ekonomi umat Islam dengan melakukan sinergi antara agama dan bisnis. Brand MQ terbentuk kuat, dengan kemampuannya merambah berbagai bidang usaha yang berhasil memperoleh keuntungan. Pesantren Daarut Tauhid yang diasuhnya memanfaatkan teknologi virtual masa kini lewat internet dan SMS, mempublikasikan ceramah-ceramah lewat artikel koran, buku, kaset dan CD. Aa Gym berhasil melaksanakan prinsip-prinsip PDB, sehingga memiliki brand awareness yang tinggi dan brand loyality yang kokoh. Setelah sukses, Aa Gym berusaha mempertahankannya, salah satu cara adalah tidak terlibat dalam partai politik tertentu. Ingat mempertahankan lebih sulit dari mendapatkan. 4

Dengan prinsip di atas Aa Gym mampu bertahan dalam kurun waktu yang agak lama. Memang, Aa Gym sedang mengalami masa-masa sulit setelah menikah dengan seorang wanita yang memiliki tiga anak. Dalam proses waktu ke depan, jika Aa Gym mampu bangkit kembali, hakikatnya merintis jalan kesuksesan yang kedua. Tidak semua orang mampu melakukan hal ini.

Alhamdulillah, akhir-akhir ini Aa Gym berada di jalur yang benar untuk meraih kesuksesan kembali, demi kejayaan Islam di Indonesia.

Salah satu catatan penting ialah proses pembelajaran senantiasa dilakukan untuk mempertahankan keberhasilan yang diraih dengan susah payah, sekaligus bangkit kembali saat terpuruk, demi kemaslahatan umat Islam. Tanpa pembelajaran yang terus menerus, tidak mungkin Anda mencapai hasil maksimal.

Untuk para pekerja profesional lainnya, BO ialah sarana meningkatkan karir sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Memang untuk Indonesia, keberhasilan menekuni jenjang karir biasanya diperoleh lewat koneksi, lobi politik, korupsi, dan cara-cara keliru lainnya, namun paradigma ini perlahan-lahan akan berubah di abad 21 ini. Hanya orang-orang yang berusaha untuk memperoleh pengetahuan yang sangat luas di bidang yang ditekuninya, lalu menerapkan ilmunya dalam menekuni karir, yang berhasil menjadi profesional sejati. Sejarah bisa membuktikan tesis ini.

Para pengusaha, wiraswasta dan profesional inilah yang menjadi cikal bakal kelas menengah baru, dan dari tangan mereka diharapkan bisa membantu Indonesia meningkatkan diri menjadi negara yang mandiri, sekaligus mentranformasikan diri menjadi negara maju pada masa mendatang. Sehingga masyarakat bawah turut merasakan efek positif dari keberhasilan mereka. Sebab keberhasilan mereka dapat menawarkan lapangan pekerjaan baru yang sangat dibutuhkan rakyat Indonesia.

  1. Menekuni Usaha Tradisional

Usaha tradisional yang terdiri dari pertanian, perikanan, dan peternakan dikelola sebaik-baiknya untuk mendapatkan hasil maksimal.

Menekuni usaha pertanian di sawah, kebun atau ladang, ditekuni secara tekun, bekerja keras dan ulet. Kelola pertanian dengan cara-cara baru yang terbukti lebih baik. Itu semua bisa dipelajari dari petani-petani lain yang berhasil dan berpengalaman, atau dengan membaca buku pertanian yang bisa diterapkan dengan mudah. Jika memungkinkan penggunaan alat teknologi pertanian baru, maka gunakanlah senyampang menguntungkan. Sebagai misal, bioteknologi menawarkan sebuah hasil yang lebih banyak dan besar, pertanian organik yang dipelopori Bob Sadino di Indonesia membuka peluang di bidang agro bisnis yang menguntungkan petani.

Setelah usaha yang optimal, baru bertawakkal dalam makna hakiki. Ketika menamam sesuatu, ingatlah pada Allah yang menumbuhkan tanaman, Allah berfirman; “Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya atau Kamikah yang menumbuhkannya? Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia hancur dan kering, maka jadilah kamu heran dan tercengang.” (QS. Al-waqiah 63-65).

Menekuni usaha perikanan, dengan mencari ikan di laut adalah pekerjaan menyenangkan sambil menikmati indahnya lautan dengan kekayaannya yang berlimpah. Pada awalnya, mengikuti nelayan yang punya sampan atau perahu dulu, pelajari cara-cara menangkap ikan, membaca musim, tempat-tempat yang disenangi ikan, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan usaha tersebut, jika sudah mengerti, baru membeli perahu atau sampan sendiri, tekunilah usaha mencari ikan dengan sungguh-sungguh dengan bertawakkal pada Allah dalam makna yang hakiki, lalu berusaha mengembangkan diri memiliki dua atau tiga perahu yang bisa memperkerjakan orang lain dan berusaha sampai bisa menjadi saudagar yang sukses.

Di samping itu, banyak peluang usaha kelautan di Indonesia yang belum dioptimalkan, misalnya pengolahan hasil laut menjadi makanan siap saji, ini merupakan peluang bagi para otodidaktor untuk mengisinya, bagaimana caranya? Belajar sambil bekerja adalah jawabannya. Allah berfirman; “Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl:14). Keberhasilan mengelola sumber daya di laut, dibarengi rasa syukur pada Allah melalui sedekah pada orang-orang miskin, yatim piatu dan orang-orang hidup dalam kekurangan.

Beternak kambing, sapi, kerbau, ayam, ikan tambak, dan udang dalam jumlah tertentu, harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, perhitungan matang, kerja keras, usaha mengerti musim penyakit tertentu, memahami keadaan binatang yang diternak, mencari cara memanfaatkan kotoran binatang menjadi bahan produktif, membuat kandang yang senantiasa bersih, memberi pakan yang cukup, dan bertawakkal pada Allah. Jika beternak dalam jumlah besar, jangan terburu-buru mengembangkan yang lebih besar, sebab perlu perhitungan matang menyangkut; perkembangan harga dan perubahan harga pakan dalam kurun waktu tertentu, adanya penyakit-penyakit seperti flu burung yang membahayakan peternakan. Untuk mengambil pelajaran di bidang peternakan, Allah berfirman; “Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.” (QS. An-Nahl:66)

Ajaibnya, sampai pada kotoran kambing, sapi dan binatang lainnya bermanfaat bagi manusia jika dikelola dengan baik. Ini merupakan peluang bisnis yang belum dikelola secara profesional.

Jangan malu dan gengsi menjadi petani, nelayan dan peternak, sebab pekerjaan apa pun mulia, asal dilakukan dengan cara-cara yang tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Sudah tiba saatnya bagi sarjana-sarjana di bidang-bidang tersebut untuk terjun dan menekuninya secara profesional supaya dikembangkan menjadi usaha-usaha unggulan di masa mendatang, sehingga masyarakat memiliki ragam pekerjaan untuk ditekuni.

Apa yang ditekuni di bidang pertanian, perikanan, dan peternakan, dibaca dengan kreatif; fenomena-fenomena yang terjadi, siklus-siklus alam tertentu, cara-cara masyarakat mengelolanya, konsep barokah harta, tradisi bersedekah pada saat panen, mendapat ikan berlimpah atau hasil peternakan untung besar, hubungan antara hamba-hamba Allah dengan orang-orang yang menekuni usaha, tradisi-tradisi lain yang berkaitan dengan bidang-bidang tersebut. Hasil pembacaan diaktualisasikan dalam tindakan nyata untuk memperbaiki bidang yang dikelola, menulis dalam bentuk sastra atau karya ilmiah, dan menulis buku tentang bidang tersebut. Untuk itu perlu buku-buku refrensi, komputer, printer, dan bahan-bahan studi banding, yang dibiayai dari hasil bertani, berlayar dan beternak.

  1. Bekerja Pada Orang lain

Untuk Anda yang bekerja pada orang lain. Bekerjalah dengan sepenuh hati. Prinsip bekerja pada orang lain ialah Anda memberi nilai yang lebih dalam pekerjaan yang ditekuni. Jika Anda dibayar 1 juta setiap bulan, maka nilai Anda harus lebih dari uang yang telah dibayarakan perusahaan, sehingga Anda tetap bekerja dengan nyaman dan aman. Jangan terlalu banyak protes, membantah (bukan hal prinsip menyangkut pekerjaan), dan bertingkah laku yang membuat bos Anda marah. Inilah resiko yang ditanggung ketika bekerja pada orang lain.

Dalam bekerja terus menerus mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut, untuk itu perlu banyak bertanya, berdialog, bergaul, dan membaca buku praktis tentang bidang yang digeluti. Jika kemungkinan jenjang karir bisa ditingkatkan, langgeng, tidak berubah, dan dapat bekerja di sana sampai ajal menjelang, maka tetaplah berkarir di sana selamanya. Namun kalau sebaliknya seperti perkembangan yang terjadi akhir-kahir ini, perlu hidup hemat, perhitungan pengeluaran dengan pemasukan, dan memiliki cadangan simpanan, sehingga dapat menekuni usaha lain dengan modal yang sudah disiapkan, atau membuka usaha bersama dengan orang-orang yang senasib –bagi yang dipecat secara massal-, atau mencari sumber dana dengan cara yang benar dan menguntungkan untuk memulai usaha baru dari nol.

Ingat! Abad 20 merupakan zaman persaingan dengan saling menjatuhkan antara yang satu dengan lainnya akibat pengaruh teori evolusi Darwin yang terbukti keliru, tapi abad 21 adalah zaman KERJA SAMA. Anda tidak akan berhasil jika bergerak sendirian, perlu bekerja sama dengan orang lain. Mumpung bekerja pada orang lain, belajarlah bekerja sama dengan atasan, rekan kerja dan bawahan, dengan tetap membuka hubungan silaturrahmi dengan orang luar. Perbuatan baik yang Anda lakukan merupakan investasi masa depan yang insya Allah dipetik hasilnya ketika tidak bekerja pada orang lain lagi.

Bekerja pada orang lain, sebenarnya bagi yang cerdas adalah sarana untuk memiliki usaha sendiri di bidang yang sama dikelola dengan cara berbeda, disesuaikan dengan perubahan yang terjadi, membaca peta persaingan dengan baik, dan mengelola secara profesional. Tidak perlu takut untuk mengelola sendiri asal segala sesuatu dimengeti, kelebihan dan kelemahan mampu ditangani, mendapatkan sumber modal yang cukup (cukup tidak bermakna besar, sebab yang dianggap berhasil bila modal sedikit dijadikan modal yang besar), dan memiliki keyakinan dalam jiwa akan berhasil menekuninya. Bukankah Bill Gates mampu membuat perusahaan Microsoft setelah keluar di perusahaan lamanya di bidang komputer?

Bagi yang terjebak menjadi anak jalanan, pengangguran, “salah jalan”, dan pekerjaan lain yang sebenarnya bukan “pekerjaan”. Kenyataan Hidup jangan dibiarkan membimbing seseorang melakukan hal-hal yang tidak baik, tapi justru menjadikan hidup sebagai sarana untuk selalu memperbaiki diri dan menjadi orang yang lebih baik.

Menjadi anak jalanan memang “sesuatu yang tidak diinginkan” siapa pun, apalagi yang kini menjalaninya, mereka menjalani karena keterpaksaan. Untuk itu, dengan usaha yang gigih, bisa menyimpan uang sedikit demi sedikit, lalu suatu waktu merubah diri untuk menekuni usaha lain seperti berdagang kecil-kecilan dari hasil uang yang dikumpulkan. Usaha ini jika dilakukan dengan sungguh-sungguh dan bertawakkal pada Allah dengan benar, insya Allah akan bisa merubah nasib mereka.

Pengangguran adalah sebuah penyakit yang harus disembuhkan, tidak ada yang bisa menyembuhkan, kecuali keinginan yang kuat dalam diri orang tersebut untuk mau menekuni pekerjaan apa saja asal halal. Semua potensi diri dimanfaatkan dengan dibantu proses belajar terus menerus, bertawakkal pada Allah, maka “pekerjaaan harus dibuat” sendiri, jangan mengharap dari pemerintah, organisasi masyarakat, dan institusi lainnya. Tentu menciptakan pekerjaan tidaklah mudah, justru karena itu menantang setiap manusia untuk menaklukkannya. Ingat, manusia dibekali potensi lengkap untuk “menaklukkan semesta dan kehidupan,” mungkinkah masalah pekerjaan membuat sesorang untuk menyerah?

Orang-orang yang “salah jalan” atau menekuni dunia hitam harus mempercayai bahwa ada kehidupan setelah kematian, ada balasan di dunia dan akhirat atas setiap apa yang dilakukan, dan banyak orang di sekitar yang menderita akibat perbuatan mereka. Tiada jalan lain, kecuali perlahan-lahan merubah diri; berusahalah melihat akibat dari perbuatan yang dilakukan terhadap orang lain, coba menjadi diri mereka, apa yang dirasakan? Lalu putuskan untuk mencari jalan agar mendapatkan harta dengan cara yang halal, jalani pekerjaan tersebut sepenuh hati, perluas pengetahuan dengan buku ini, dan bertawakkal pada Allah.

Merubah diri dari jahat menjadi baik, memang tidak mudah, namun jika berhasil hakikatnya orang tersebut adalah sebaik-baiknya manusia, lebih baik dari orang yang dididik, dibesarkan dan hidup di tengah-tengah orang baik. Hasil dari perbuatan baik mendatangkan kemaslahatan, hasil dari tobat diampuni Allah, hasil menekuni usaha halal menjadi “jihad di dunia” dalam makna lain, dan alangkah indahnya hidup dengan berbagi kebaikan pada orang banyak. Allah berfirman: “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Maidah 38-39)

Semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan dibaca secara kreatif, diaktualisasikan dalam bentuk kerja yang lebih baik, dibuat tulisan-tulisan sederhana sebagai warisan berharga pada anak cucu. Inilah salah satu bentuk menyeimbangkan antara gairah kerja dengan pengetahuan.

  1. Menjalani Hidup Apa Adanya

Ada yang menganggap hidup ini adalah panggung sandiwara, jadi hidup identik dengan kepura-puraan dan permainan. Ada yang menganggap hidup ini sangat kejam yang membuat manusia menderita, sengsara, menangis, dan penuh asburditas seperti yang disampaikan Albert Camus. Ada yang menganggap hidup adalah perhentian sementara sebelum menikmati keabadian hidup di akhirat. Ada yang menganggap hidup adalah menjalani segala sesuatu apa adanya. Apa pun anggapan orang tentang kehidupan, paling penting setiap orang harus mampu mempertanggung jawabkan segala tingkah lakunya, sikap hidupnya, apa yang dijalani, dan pendirian-pendiriannya, sebab semua itu membawa konsekwensi pada kehidupan masa mendatang di dunia dan akhirat.

Untuk itu, perlu kesadaran penuh tentang kematian, menyadari kematian sama dengan menyadari tentang kehidupan. Sebab kematian yang menjadi akhir hidup manusia di dunia, bisa menjadi semangat hidup untuk mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat, bermartabat, bernilai, berdaya guna, bermakna bagi diri, keluarga, orang lain, umat Islam dan umat manusia secara universal. Apalagi jika seorang Muslim, percayalah Islam mampu membawa kita pada kehidupan hakiki di akhirat, asal kehidupan ini dimaknai dengan benar, diisi dengan sesuatu yang bermanfaat, diwarnai dengan kebaikan, dihiasi dengan amal soleh, dilukis dengan ihsan, dan dicatat dengan tinta emas karya terbaik dari yang terbaik.

Menjalani hidup apa adanya dengan tetap mempercayai kehidupan setelah kematian yang lebih hakiki dan kekal, insya Allah hidup bisa dijalani dengan baik, tentram, tenang, dan menyenangkan, jika pun ada masalah, ujian, cobaan, musibah dan kekacauan, bisa ditangani dengan baik. Setiap tantangan dihadapi dengan sikap yang tepat, setiap masalah diselesaikan dengan kepala dingin, setiap kesalahan ditebus dengan seratus kebaikan, setiap nasib buruk diterima dengan lapang dada, setiap cobaan tambah mendekatkan diri dengan Allah, setiap musibah dicari maknanya dalam kehidupan, setiap bencana alam dijadikan kekuatan untuk memasrahkan segala sesuatu pada Allah, setiap tingkah laku diwarnai dengan ketulusan, setiap pikiran buruk diganti dengan pikiran yang baik, setiap niat buruk dirubah dengan niat yang luhur, setiap orang dijadikan guru yang mengajarkan sesuatu walaupun sepele atau remeh, setiap sesuatu pasti mengandung makna jika ditelusuri lebih mendalam, setiap tangis akan melahirkan senyum, setiap senyum akan melahirkan tangis, setiap kesedihan akan mendatangkan tawa, setiap kegembiraan akan meneteskan air mata, setiap waktu yang berlalu diisi dengan yang bermakna, setiap hari diisi dengan kebaikan, setiap bulan diisi dengan satu karya, setiap tahun paling tidak membantu tiga orang secara tulus agar bisa mengatasi kesulitan yang dihadapi, setiap sepuluh tahun menghasilkan sesuatu yang paling bermakna dalam kehidupan, sewaktu ajal menjelang dihadapi dengan senyum dikulum.

  1. Mengelola Tantangan dalam Menjalani Hidup

Tantangan dalam kehidupan bagai lauk pauk dengan nasi, terasa tidak nyaman atau tidak mengenakkan jika tidak ada. Maka tantangan dalam kehidupan tidak mesti ditakuti seperti hantu atau sebagai sesuatu yang menghambat seseorang untuk bisa berhasil di kemudian hari. Justru adanya tantangan merupakan warna kehidupan yang lebih indah, penuh warna, liku-liku, dan romantika yang berkesan.

Saat Anda mendapatkan suatu tantangan yang hebat, baik dari dalam diri atau dari luar, secara naluriah sebagai manusia dia akan berusaha sekuat tenaga dan memanfaatkan segenap potensi yang dimiliki agar bisa mengatasi tantangan. Berkat itu semua, tantangan dihadapi dan hidup dijalani dengan lebih baik. Di samping itu, kesan mendalam atau pengalaman tak terlupakan biasanya diperoleh dengan melewati tantangan tersebut. Ini merupakan sumber ide untuk menghasilkan karya tulis.

Mengelola suatu tantangan seperti menggunakan pisau; bermanfaat atau mengancam. Akan bermanfaat dengan mengelola secara kreatif, jenius, cerdas dan baik, yakni dengan mengatur sedemikian rupa cara-cara paling efektif atau menemukan gagasan terbaik untuk mengatasi tantangan, mengatasi tantangan dengan penuh keyakinan dan rasa percaya diri.

Keberhasilan Anda mengelola tantangan dalam lingkungan sosial akan menimbulkan keharmonisan keluarga, tetangga, dan masyarakat. Keharmonisan dijalin dengan memberikan sesuatu paling bermakna bagi mereka. Memberikan sesuatu yang berupa; menjaga hubungan yang baik, memberikan bantuan yang tulus, merubah hidup mereka menjadi lebih baik, dan ini yang terpenting menghasilkan karya yang bisa menjadi corong perubahan zaman, menjadi inspirasi bagi banyak orang, menjadi pegangan bagi mereka untuk menjalani hidup yang semakin tak menentu, menjadikan kehidupan manusia lebih bermartabat dan semesta menjadi tempat yang nyaman dan tentram.

Tantangan bagi otodidaktor sejati adalah salah satu sarana meraih kesuksesan dalam belajar, salah satu proses yang harus dilalui untuk menjadi orang yang sukses, salah satu pemicu semangat dan salah satu cara menjalani hidup yang lebih baik pada masa mendatang. Justru dengan adanya tantangan, Anda termotivasi untuk mengoptimalkan segenap potensi yang dimiliki, tanpa adanya tantangan hidup akan membosankan, gersang, kering dan hampa.

Cobalah ingat ketika Anda dalam posisi benar-benar terjepit, saat itu Anda berusaha sekuat tenaga, memanfaatkan semua potensi yang dimiliki dan gigih berjuang untuk keluar dari posisi tersebut sambil memasrahkan hasil pada Allah. Bukankah jalan keluar selalu terbuka lebar dan Anda berhasil dengan baik? Itulah salah satu misteri manusia.

  1. Mengelola Masalah dengan Cara yang Tepat

Menjalani hidup, tidak selamanya berjalan seperti aliran air yang mengalir ke sungai tanpa hambatan atau tidak menjadi prahara bagi manusia, melainkan menjadi sesuatu yang bermanfaat dalam kehidupan mereka. Ada kalanya air berubah menjadi banjir biasa, banjir bandang, menghanyutkan tanah atau tanah longsor, ada kalanya di tengah perjalanan aral melintang menghambat air untuk sampai ke laut. Metaformosis air menjadi sesuatu yang merusak atau musibah, dan aral melintang, kita sebut dengan masalah yang dihadapi seseorang.

Masalah yang dihadapi, ada yang berupa sindrom gangguan kurang perhatian, cirinya hiperaktif (gelisah, suka berlari, memanjat secara berlebihan, dan sering meninggalkan tempat duduk di kelas) impulsif (asal ngomong, suka menyela, sulit menunggu giliran) dan tidak acuh (suka lupa, sulit tertib, mudah kehilangan barang dan ceroboh). Menurut Thomas Amstrong “mereka tidak terganggu jiwanya. Mereka mungkin punya gaya tersendiri dalam berpikir, memperhatikan dan bertingkah laku. Faktor lingkungan sosial dan keluarga yang menciptakan gangguan mental terhadap mereka.” Ludwig van Beethoven, punya sifat buruk, berprilaku kasar, buruk dan jika marah mengerikan, tapi justru berhasil menjadi komponis kenamaan. Cara mengatasinya dengan; merubah kebiasaan makan, pendidikan fisik, olah raga, mengikuti kursus seni bela diri, menggunakan musik yang menentramkan, perlu penyaluran energi, seni kreatif dan pelatihan komputer.5

Tentu masalah yang dihadapi manusia bukan hanya sindrom gangguan kurang perhatian, melainkan banyak masalah lainnya yang cukup kompleks, beragam dan sangat sulit diatasi. Banyak cara yang dilakukan seseorang dalam mengatasi masalah yang dihadapinya. Ada orang yang mampu mengelola masalah dengan baik, sehingga hidup bahagia, tenang, aman, dan tentram, namun ada juga yang sebaliknya. Dari pengalaman pribadi dalam mengelola suatu masalah, paling tidak ada lima cara yang bisa dilakukan.

Pertama; mencari konpensasi atau pelarian pada hal-hal biasa yang positif; berteriak nyaring di tepi pantai atau di dalam air, membasuh air di kepala dalam waktu agak lama, mengungkapkan pada teman yang bisa dipercaya, menangis seorang diri, menyendiri sambil merenung, berkonsultasi pada psikolog atau guru BP, berjalan-jalan ke tempat yang disenangi, refreshing ke Taman Fantasi jika punya uang, nonton film/sinetron komedi, tidur sampai puas, atau memukul-mukul air di kamar mandi dengan keras sebagai pelampiasan amarah, berlari sekencang-kencangnya. Sebaliknya kompensasi yang negatif berusaha dihindari, seperti; narkoba, seks bebas, minum alkohol, pesta yang berlebihan, lesbian, homoseksual, sebab mengakibatkan kehidupan seseorang semakin rusak, kacau, stres, putus asa, lemah, tidak menentu, dan menimbulkan masalah baru yang tidak diinginkan.

Kompensasi positif perlu dilakukan supaya tekanan terhadap diri dari masalah yang dihadapi menjadi berkurang. Berkurangnya tekanan ini penting dalam upaya menyelesaikan suatu masalah. Tapi perlu dipahami, cara ini biasa dilakukan orang kebanyakan, Anda harus mampu mencari kompensasi yang lebih baik.

Kedua; menjadikan masalah sebagai sarana meningkatkan kreativitas diri; menumpahkan masalah dalam karya tulis; cerpen, puisi, drama, novel kolom, esai dan karya ilmiah; seluruh emosi dituangkan dalam tulisan, tak peduli hasilnya bagus atau jelek. Setelah sehari atau seminggu lihat kembali, edit ulang menjadi tulisan yang bagus dan kirim ke media cetak, siapa tahu dimuat, sehingga bisa menghasilkan uang. Jika pun tidak dimuat, paling tidak Anda telah menulis sesuatu yang bisa dimanfaatkan siapa pun. Siapa tahu kawan, saudara, tetangga atau orang lain terjebak masalah yang sama, Anda bisa memberikan tulisan yang dibuat agar bermanfaat bagi mereka, atau minimal Anda mewariskan tulisan pada anak cucu kelak.

Untuk menjadikan masalah sebagai kreativitas, Anda dituntut untuk memiliki bekal ilmu di bidang ini seperti yang dijelaskan dalam bab Menguasai Beberapa Cara Menulis.

Ketiga; memecahkam masalah dengan cara cerdas; jika putus asa, frustasi, stres atau bernasib buruk, lihat orang sekeliling, ternyata banyak yang lebih buruk keadaannya dari Anda, ingat mayat-mayat tak terurus di Aceh yang dibiarkan berhari-hari sampai membusuk, bukankah keadaan Anda hakikatnya lebih baik dari mereka, seberapa buruknya masalah yang menimpa. Dari sini timbulkan semangat dalam diri bahwa masalah yang dihadapi adalah ujian dari Allah, Anda akan menjadi orang yang lebih kuat dan dimulyakan Allah dengan melewati ujian tersebut sebaik-baiknya. Lalu bangkitkan dalam diri bahwa masalah yang dihadapi adalah jalan meraih kesuksesan, sarana menjadi yang lebih baik di masa mendatang, dan berani untuk memperbaiki diri dengan cara tidak mengulang kesalahan yang sama. Masalah adalah jalan menuju sukses?

Setiap orang memiliki kelebihan masing-masing, hanya saja ada yang mampu mengoptimalkan kecerdasan secara maksimal, lumayan, baik, cukup, dan ada yang kurang mampu memanfaatkannya dengan berbagai macam latar belakang. Cara paling efektif memanfaatkan kecerdasan adalah senantiasi berpikir tentang makna kehidupan, alam sekitar, lingkungan, manusia, berimajinasi tentang hal-hal yang baik untuk perbaikan diri dan masyarakat, merasakan segala sesuatu apa adanya tanpa melebih-lebihkan, menghidupkan hati nurani dengan memperbanyak ingat pada Allah, memanfaatkan Tes Kecerdasan Berganda di akhir buku ini dan membaca buku yang bermanfaat.

Keempat; memecahkan masalah dengan menjadi muslim sejati yakni mendekatkan diri pada Allah lewat shalat 5 waktu yang khusu’, membaca Al-Qur’an untuk mendapat ilham, intuisi (pengetahuan yang datang secara langsung pada diri seseorang) dan hikmah, berlatih shalat tahajjud di malam hari; mengadukan semua masalah pada Allah, shalat Dhuha setelah matahari terbit sampai sebelum tiba waktu Dhuhur, shalat hajat dua rakaat, rajin bersedekah dan beramal shaleh, insya Allah mendapat jalan keluar, baik secara langsung atau tidak langsung.

Kelima; persempit ruang lingkung masalah, membuat beberapa alternatif penyelesaian, memilih alternatif terbaik, dan hadapi konsekwensinya dengan kepala dingin, hati tenang, dan perasaan senang. Inilah inti dari sikap arif dan bijaksana. Ingat! Tidak setiap orang mampu melakukan hal ini, maka siapa pun yang mampu melakukannya adalah salah satu orang yang terhebat di dunia ini.

  1. Menikmati Hidup; Baik atau Buruk

Hidup terkadang berjalan baik, terkadang berjalan tidak seperti yang diinginkan, malah lebih sering nasib buruk menghampiri, meski jika ditelaah lebih dalam nikmat atau rahmat Allah lebih besar dari nasib buruk yang dialami seseorang. Untuk itu, hidup perlu dinikmati dengan berbagai cara agar yang baik tidak membuat lupa diri dan yang buruk tidak membuat putus asa atau naudzubillah sampai membimbing pada keputusan untuk bunuh diri.

Alangkah menyenangkan jika kehidupan berjalan dengan baik, tidak ada kejahatan, tidak ada kecemasan, tidak ada kegelisahan, tidak ada ketakutan, tidak ada nasib buruk dan tidak ada “hantu”. Hidup mungkin seperti merasakan kenikmatan surga. Menjalani hidup seperti ini, hanya ada dalam angan, tidak ada dalam kenyataan, sebab kenyataan hidup mengharuskan semua itu ada. Di samping itu, andai hidup berjalan baik terus menerus, mungkin akan membosankan, hidup hanya hitam dan putih tanpa ada wilayah abu-abu, hidup menjadi kering dan tanpa makna.

Sesuatu yang buruk, nasib sial dan ketidakberuntungan, hakikatnya warna kehidupan yang harus dijalani dengan lapang dada sebagai sarana memperoleh rahmat, berkah, hadiah, pujian atau keberuntungan. Sebab itu semua membuat kepribadian Anda lebih kuat, membentuk karakter yang kuat, mewarnai kehidupan dengan kanvas berbeda-beda, memperindah kehidupan dan salah satu bekal untuk meraih kesuksesan. Tanpa itu semua, kehidupan akan berakhir dengan biasa-biasa saja.

Untuk menjadi orang yang luar biasa, tokoh hakiki, dan bermakna dalam kehidupan, Anda dipaksa menjalani kesialan, nasib buruk, ketidakberuntungan, malah itu bisa berlangsung terus menerus, namun berkatnya Anda akan memperoleh derajat yang tinggi di dunia dan akhirat. Sayangnya kehidupan ini hanya mengajarkan derajat tinggi di dunia saja, sedang derajat yang tinggi di akhirat dianggap fatamorgana, padahal keduanya ada dalam ada, hanya saja satu yang nampak nyata, yang satunya bersifat maya, tapi bukankah antara yang nyata dan maya kini sudah tidak berbentuk lagi?

Boleh jadi Anda gagal memperoleh derajat yang tinggi di dunia, namun di akhirat kelak, justru menjadi salah satu yang memperoleh derajat tertinggi mengalahkan derajat orang-orang yang tinggi di dunia. Maka dalam menghasilkan karya tulis yang bermanfaat, menghasilkan karya terbaik, memberi sumbangsih pada masusia atau semesta, dan melakukan sesuatu yang bermakna, tidak sekadar dilihat dalam kepentingan sempit di dunia, namun juga demi kepentingan akhirat kelak. Hidup di dunia, paling sekitar 100 tahun, lebih sering antara 60-70 tahun, sedang hidup di akhirat abadi selamanya.

Kegagalan memperoleh derajat yang tinggi di dunia bukan suatu masalah, sebab dijanjikan derajat yang lebih tinggi di akhirat asal diterima dengan lapang dada, ikhlas, tanpa sikap menyalahkan Tuhan, taqdir, alam dan manusia, tetap berusaha menghasilkan yang terbaik, membulatkan tekad untuk mengabdikan hidup demi sesama, semesta dan Tuhan.

Ingat cerita Uwais Al-Qarni dari Yaman yang mengabdikan hidup untuk mengasuh ibunya, padahal beliau sangat mencintai Nabi Muhammad SAW dan ingin menjenguknya di Madinah, tapi sampai Nabi meninggal tidak dapat bertemu. Justru karena itu, Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat Nabi paling terkemuka setelah Abu Bakr Shiddiq, diharap agar meminta doa khusus pada Uwais Al-Qarni, sebab beliau termasuk Penduduk Langit. Dalam kehidupan sehari-hari Uwais Al-Qarni hanya orang biasa, tidak kaya dan tidak terkenal pada zamannya. Justru setelah meninggal namanya harum dan membahana sepanjang zaman. Jangan khawatir wahai orang miskin, yatim piatu, dan orang awam, Anda dapat mencapai derajat yang sangat tinggi melebihi siapa pun saja! Allah Maha Adil!

  1. Cerita Sukses Otodidaktor Sejati

Kurang lengkap rasanya, jika belum menghadirkan kisah-kisah sukses para otodidaktor dari berbagai latar belakang dan beberapa bidang yang berbeda. Kisah-kisah ini diharapkan dapat memompa semangat, menimbulkan inspirasi, menggugah siapa saja untuk benar-benar mau BO seumur hidup, dan berhasil dengan makna keberhasilan dalam perspektif baru.

Diawali dengan kisah KH. Moh. Idris Jauhari yang berhasil mengembangkan Pesantren Al-Amien menjadi salah satu lembaga pendidikan yang besar. Kisah kedua ialah HAMKA, contoh paling ideal otodidaktor sejati dan berhasil meraih gelar sampai Profesor Doktor dari rahim universitas kehidupan. Artinya Hamka menjadi tauladan bagi otodidaktor untuk berhasil meraih gelar seperti para akademisi. Dilanjutkan dengan kisah Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun, yang dibesarkan di jalanan Marlboro Yogyakarta sebelum menjadi Tokoh Nasional. Anak-anak jalanan, orang-orang terlantar, dan fakir miskin tidak perlu khawatir, mereka bisa berhasil sebagaimana Cak Nun sukses menjadi sastrawan, penyair, seniman, sutradara, dan penulis. Kisah peraih hadiah Nobel perdamaian 2006 Muhammad Yunus juga pantas dipelajari, sebab berhasil setelah menjadi otodidakor sejati. Kisah pengusaha Muslim Fauzi Shaleh yang sukses berkat kemampuan menggabungkan antara BO dengan usaha yang gigih dan tawakkal pada Allah. Diakhiri dengan kisah Gus Dur, tokoh seribu wajah yang paling kontroversial di Indonesia.

  1. Rahasia Sukses KH. Moh. Idris Jauhari

Ini merupakan kisah sukses dari KH. Moh. Idris Jauhari, pengasuh pesantren Al-Amien Prenduan Madura yang membawahi TMI, TMaI, Ma’had Tahfid, Pondok Tegal, dan Pondok Putri I, IDIA (Institut yang berupaya menjadi universitas Islam), padahal tidak pernah kuliah formal, tentu tidak melupakan jasa-jasa tokoh lain seperti KH. Tidjani Djauhari almarhum (semoga Allah menerima amal kebaikannya dan mengampuni dosanya).

Selesai menempuh pendidikan di pondok Modern Gontor Ponorogo, Kiai Idris muda langsung kembali mengelola pesantren Tarbiyatul Mu’allimien Al-Islamiyah Al-Amien Madura bersama Aba beliau. Pernah berpamitan pada KH. Zarkasyi gurunya (almarhum, semoga Allah menerima di sisiNya bersama para Nabi dan Auliya’) untuk kuliah, namun justru Kiai Idris muda diberi nasihat “Belajar dari santrimu dan muridmu. Nggak jauh beda!” Suatu isyarat agar beliau langsung terjun mengasuh pesantren TMI dan BO.

Pernyataan KH. Zarkasyi bahwa belajar sambil mengajar santri atau murid tidak jauh berbeda dengan kuliah di universitas, sangat menarik untuk dianalisa. Belajar sambil mengajar adalah suatu proses timbal balik yang efektif, yang mana murid bisa mendapatkan ilmu, sedang sang guru yang telah bisa memanfaatkan ilmunya, secara otomatis memperoleh tambahan ilmu yang penuh barokah, nafi’ (bermanfaat), dan mendapat hikmah. Proses timbal balik dalam belajar sambil mengajar inilah yang membantu keberhasilan Kiai Idris mencapai kesuksesan seperti sekarang ini.

Dalam proses timbal balik ini, sang guru akan termotivasi untuk memperdalam berbagai macam ilmu yang diajarkan pada murid-muridnya, apa yang dipelajari langsung dimanfaatkan untuk mengajar, sehingga lengket dalam ingatan, bermanfaat, dan secara otomatis mengembangkan segenap potensi yang dimiliki.

Dari pengakuan Kiai Idris sendiri, dalam proses belajar yang dilakukan waktu muda, beliau menyempatkan waktu setiap bulan sekali (kadang dua bulan sekali) selama kurun waktu 5-6 tahun sowan ke gurunya KH. Zarkasyi untuk bertanya tentang berbagai permasalahan yang dihadapi, bertanya untuk mendapatkan pengetahuan, dan bertanya agar kesulitan diatasi. Di samping itu, beliau juga belajar pada Ust. Ghufron, alumni Universitas Kairo Mesir mengenai ilmu bahasa Arab.

Keinginan yang besar untuk BO, membuat Kiai Idris muda juga terus menerus belajar sendiri; baik dari Al-Qu’an dan Sunnah, belajar dari buku-buku yang bermacam-macam, kenyataan hidup yang dialami, belajar dari masyarakat, dan belajar dari semesta. Semua hasil pembelajaran berusaha diterapkan langsung di pesantren yang diasuhnya. Proses ini membawa Kiai Idris menjadi Ulama’ dalam makna hakiki, yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk membesarkan pondok pesantren Al-Amien Prenduan Madura.

Terkadang menerima tamu dari berbagai macam tempat, kesibukan mengasuh pesantren, dan kesibukan menangani berbagai permasalahan yang dihadapi pesantren, malah membuat proses belajar dalam makna membaca buku-buku yang bermacam-macam menjadi terhambat. Namun, justru hal ini menjadi salah satu rahasia sukses beliau, sebab dengan berinteraksi langsung bersama masyarakat dari bermacam-macam latar belakang, dan aktivitas padat mengasuh pesantren adalah proses BO melalui tindakan nyata.

Adapun rahasia sukses beliau yakni, Pertama; motivasi dari dalam diri untuk tidak mau kalah dengan orang yang “beruntung” bisa kuliah formal. Motivasi ini mendorong beliau untuk terus menerus belajar sambil menerapkan langsung hasil pembelajaran dalam rangka mengasuh pesantren Al-Amien. Sesungguhnya belajar sesuatu dan memanfaatkan yang dipelajari merupakan inti pembelajaran. Kedua; barokah doa dari guru memegang peranan penting dalam kesuksesan beliau. Makna Barokah menurut beliau ialah apabila sesuatu itu berkembang lebih banyak, bahkan tidak habis-habis. Contoh; ikan di lautan ditangkap dan dikonsumsi setiap hari, tapi tidak pernah habis-habis.

Barokah doa guru inilah yang kini mulai menghilang dari dunia pendidikan di Indonesia, sehingga murid-murid yang dihasilkan sering gagal, malah bertingkah laku buruk, tak mampu berkreasi untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak, dan ilmu yang diperoleh semakin menjauhkan mereka dari Allah. Padahal konsep ilmu dalam Islam adalah semakin bertambah ilmunya, maka semakin mendekatkan diri pada Allah, sehingga Allah memberinya hidayah, rahmat, taufik, dan intuisi atau ilmu ladunny.

  1. Moh. Idris Jauhari juga berusaha menghasilkan karya tulis sendiri untuk buku-buku pelajaran yang dipelajari santri-santrinya, seperti ilmu Sorrof, ilmu pendidikan atau Tarbiyah dan buku pelajaran lainnya, menghasilkan karya berbentuk juklak-juklak, mengkonsep tentang pengelolaan pendidikan pesantren, buku Generasi Robbi Rhodhiya; panduan mengelola, membentuk dan menciptakan keluarga yang Islami, DZIKRULLAH Sepanjang Waktu dan buku Pesantren Masa Depan, Pelopor Kebangkitan Islam di Indonesia. Beliau juga aktif mengisi seminar, diskusi dan ceramah di Madura, Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Bali, NTB dan hampir di seluruh Indonesia. Bagaimana mungkin ini dilakukan seseorang yang tidak kuliah formal, melainkan lulusan Pondok Modern Gontor Ponorogo yang setara dengan SMU/MA.

Karya beliau lainnya ialah alumni-alumni pesantren Al-Amien yang menyebar di seluruh pelosok penjuru negeri, mulai Sabang sampai Merauke, baik yang berhasil menjadi Kiai atau Ulama’, tokoh masyarakat, guru atau Ustads, wiraswastawan, intelektual, cendikiawan, dan “orang biasa yang luar biasa” dengan prinsip “orang yang paling baik ialah yang paling bermanfaat”. Saya yakin, ibu pertiwi Indonesia berhutang jasa pada beliau, seorang Kiai yang mengabdikan hidup untuk pesantren dan berhasil di bidangnya. Semoga Allah meridhoi langkah mulia beliau ini. Amien!

Apa yang telah beliau lakukan merupakan teladan terbaik bagi para pengelola pesantren, pendidik dan santri.

 

  1. “Prof. Dr.” Hamka Teladan Paling Ideal

HAMKA (1908-1981) atau Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah (selanjurnya disebut Hamka), lahir pada 17 Februari 1908 di kampung Molek, Maninjau Sumatera Barat. Ayahnya ialah Syeikh Abdul Karim bin Amrullah atau dikenali sebagai Haji Rasul, seorang pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau.

Hamka mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga kelas dua. Ketika usia Hamka mencapai 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di sana Hamka mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. Hamka juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto dan Ki Bagus Hadikusumo. Sayangnya Ulama’-Ulama’ sekarang tidak melakukan hal yang sama.

Rahasia sukses Hamka terbagi dalam tiga hal. Pertama; pengaruh dari orang tua yang berlatar pendidikan agama Islam yang kuat, memiliki kesadaran tentang pentingnya belajar, dan mendorong anaknya untuk terus menerus belajar. Kedua; Sistem pembelajaran di langgar dan surau pada zaman dulu di daerah Hamka sangat kuat, sehingga membantu proses kesuksesannya dalam BO. Mungkin hal ini perlu disemarakkan lagi di Indonesia, sehingga masjid bukan sekadar tempat ibadah spritual, melainkan juga tempat menimba ilmu, memang untuk sebagian kota besar sudah terlaksana, sedang di kota-kota lain masih belum dilaksanakan, apalagi di desa. Ketiga: Hamka tidak membedakan antara ilmu pengetahuan dari Barat dan Timur. Hamka BO berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik berasal Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, Hamka dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Hamka meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Surjopranoto, Haji Fachrudin, Ar Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang handal.

Hamka awalnya bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padang Panjang pada tahun 1929. Hamka kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam Jakarta, dan Universitas Muhammadiyah Padang Panjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, diangkat menjadi Rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960 menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan itu ketika Sukarno menyuruhnya memilih antara menjadi pegawai negeri atau aktif dalam Masyumi.

Hamka pernah memimpin Majalah Panji Masyarakat, Pedoman Masyarakat, Mimbar Agama, dan menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif; novel dan cerpen. Karya tulis terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (5 jilid) dan novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastra di Malaysia dan Singapura yakni: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Merantau ke Deli. Secara keseluruhan buku yang dihasilkan sekitar 79 buah. Suatu pencapaian yang amat sangat luar biasa.

Hamka menerima anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa, Universitas al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelar Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia.6

  1. Cak Nun: Kisah Anak Jalanan Yang Sukses

Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun lahir di Jombang, 27 Mei 1953, anak keempat dari 15 bersaudara. Cak Nun hanya sempat kuliah sampai Semester I Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Sebelumnya dia pernah ‘diusir’ dari Pondok Modern Gontor Ponorogo karena melakukan ‘demo’ melawan pemerintah pada pertengahan tahun ketiga studinya, kemudian pindah ke Yogya dan menyelesaikan sekolah di SMA Muhammadiyah I.

Proses BO Cak Nun dimulai 1970-1975, hidup menggelandang di Malioboro Yogya. Ketika itu Cak Nun belajar sastra pada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius dan sangat mempengaruhi perjalanan hidupnya. Lalu Cak Nun mendapat kesempatan untuk mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Program di Universitas Iowa, AS (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985), yang dipergunakan sebaik-baiknya, sehingga berhasil dalam BO.

Rahasia sukses Cak Nun dalam BO: Pertama; Cak Nun meleburkan diri dalam kehidupan jalanan, menyerap makna-makna kehidupan dari sana, berkreasi dalam keterbatasan, dan berusaha memberi warna “harum” pada lingkungannya, Kedua; berkat jasa Umbu Landu Paranggi, guru sufi misterius yang dalam tradisi mistik bisa dianalogikan dengan Nabi Khidzir yang banyak mengajar hikmah, intuisi, hati nurani, dan ilmu nafi’, ketiga; Cak Nun berusaha berbagi apa yang diperoleh –dalam bentuk pengetahuan dan harta- pada orang lain secara tulus, suatu ketulusan yang mampu meningkatkan kreativitas dan produktivitas.

Untuk yang pertama dan ketiga, Anda bisa melakukan hal serupa, sedang untuk yang kedua belum tentu menemukan guru yang sehebat Umbu Landu Paranggi. Tapi sebenarnya Anda bisa belajar dari buku-buku dalam abad 21 ini, memanfaatkan yang dipelajari untuk kepentingan orang lain, dan berusaha berkarya secara tulus karena Allah dan upaya melanjutkan misi dakwah Nabi Muhammad, insya Allah Anda mendapat “guru hebat” dengan cara masing-masing yang berbeda, perlu diingat ini butuh proses waktu lama, kerja keras, ketekunan, kesabaran, dan tawakkal pada Allah.

Kunci sukses lainnya ialah Cak Nun terjun langsung di masyarakat dan melakukan aktivitas-aktivitas yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik, sinergi ekonomi guna menumbuhkan potensi rakyat. Cak Nun memiliki aktivitas rutin bulanan dengan komunitas Masyarakat Padang Bulan, ia juga berkeliling ke berbagai wilayah Nusantara, rata-rata 10-15 kali per bulan bersama Musik Kiai Kanjeng, dan rata-rata 40-50 acara massal yang umumnya dilakukan di luar gedung. Di samping itu, pemikiran yang dilontarkan berusaha mendekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.

Hasil karya Cak Nun terbagi di bidang teater, puisi, dan buku (kumpulan kolom/esai). Di bidang teater; menghidupkan multi-kesenian Yogya bersama Halim HD, networker kesenian melalui Sanggarbambu, aktif di Teater Dinasti, dan Musik Kiai Kanjeng. Menulis 16 buku puisi, yang terbaik di antaranya: Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978), 99 Untuk Tuhanku (1983), Lautan Jilbab (1989), Seribu Masjid Satu Jumlahnya ( 1990), Cahaya Maha Cahaya (1991), Sesobek Buku Harian Indonesia (1993). Buku kumpulan kolom/esai lebih 30 buku, yang terbaik di antaranya: Dari Pojok Sejarah (1985), Indonesia Bagian Penting dari Desa Saya (1994), Slilit Sang Kiai (1991), Mati Ketawa Cara Refotnasi (1998). 7

  1. Muhammad Yunus: Meraih Nobel Perdamaian dengan Menjadi Otodidaktor Sejati

Masyarakat Indonesia berharap-harap cemas menjelang pengumuman hadiah Nobel perdamaian 2006, sebab Susilo Bambang Yudhoyono presiden mereka menjadi salah seorang nominator. Tanpa dinyana penghargaan ini jatuh pada Muhamad Yunus dan Grameen Bank Bangladesh. Apa gerangan yang membuatnya bisa mendapatkan hadiah Nobel?

Prof. Dr. Muhammad Yunus adalah seorang akademisi yang memiliki kepedulian besar terhadap upaya memberantas kemiskinan di negaranya Bangladesh. Sewaktu melakukan studi lapangan dengan para mahasiswanya, dia prihatin dengan kemiskinan yang dialami sebagian besar masyarakat Bangladesh, tapi belum menemukan cara yang tepat untuk mengatasinya. Hal ini membuat dirinya bingung karena teori-teori ekonomi yang dipelajarinya tidak menawarkan solusi dari masalah tersebut.

Mendadak timbul ilham, tidak mungkin berhasil mengurangi kemiskinan bila tidak bergaul secara langsung dan menjalani hidup seperti mereka. Dengan sedikit kegilaan di mata kolega-koleganya sesama akademisi, Muhammad Yunus mencampakkan gelar Prof. Dr. yang diraih dengan susah payah, untuk menjalani hidup sebagai orang biasa-biasa saja. Dalam konteks ini, Muhammad Yunus berubah fungsi dari akademisi menjadi otodidaktor sejati. Terima kasih! Muhammad Yunus Anda akan menjadi inspirasi bagi milyaran manusia untuk mau BO seumur hidup, tidak peduli dengan gelar yang disandangnya.

Proses menjalani hidup bersama orang-orang miskin, kaum papa, orang yang tidak mampu dan hidup dalam kekurangan membuatnya tergerak membantu mereka dengan permodalan. Mulailah beliau meminjakan uang pada mereka, sayangnya justru beliau kadang ditipu; orang-orang yang berhutang tidak mau membayar hutangnya, padahal dalam memberi hutang tidak disertai jaminan. Meski demikian, hal ini menjadi cikal bakal lahirnya Grameen Bank.

Sempat terlintas dalam benaknya, bagaimana mungkin beliau yang mau berbuat baik pada sesama justru dibalas dengan tipuan dan perbuatan yang tidak baik. Dalam proses skeptisisme –hal ini dialami Imam Ghazali sebelum melahirkan buku Ihya’ Ulumuddin-, munculllah ilham bahwa orang yang dikasih pinjaman harus memikul tanggung jawab bersama. Orang-orang yang mau meminjam uang dilakukan secara bersama, minimal sepuluh orang. Bila ada yang tidak membayar, ini dipikul bersama oleh orang sembilan orang lainnya, tapi seandainya tidak mampu membayar karena adanya bencana, musibah dan hal-hal yang di luar kehendak seseorang, maka dibebaskan dari tanggungan hutang. Konsep jenius inilah yang membawa keberhasilan dalam pengelolaan Grameen Bank untuk orang-orang miskin, sehingga mampu mengurangi kemiskinan sampai 10% di Bangladesh.

Muhammad Yunus mendatangi langsung orang-orang miskin, mempelajari tentang kemungkinan usaha yang dikelola, mengumpulkan sebanyak sepuluh orang dan memberikan pinjaman pada mereka. Ini dilakukan dengan semangat juang yang pantang menyerah, penuh pengorbanan, kerja keras, dan memasrahkan hasil usaha pada Allah. Jika Indonesia ingin mengatasi problem kemiskinan, maka langkah Muhammad Yunus harus ditiru. Para otodidaktor yang lahir pada masa depan, diharapkan mau menjadi Muhammad Yunus-Muhammad Yunus baru, sehingga kemiskinan di Indonesia bisa diatasi.

Muhammad Yunus, pelopor dan pendiri Grameen Bank yang kini memiliki 2.226 cabang di 71.371 desa dan mampu menyalurkan kredit puluhan juta dollar AS per bulan kepada 6,6 juta warga miskin, padahal modal awal hanya 27 dollar AS. Untuk jasanya ini, sangat pantas beliau mendapatkan hadiah Nobel perdamaian, sebab “Ini penghargaan bagi kaum miskin!” seru pria sederhana tersebut.

Pelajaran yang bisa dipetik ialah berbuat baik saja tidak cukup, jika tidak disertai dengan pengetahuan, semangat e. Fauzi Shaleh: Pengusaha Muslim Idaman

Tidak lengkap rasanya, jika cerita sukses otodidaktor sejati dari kalangan pengusaha Muslim tidak dimasukkan. Setelah melakukan peneliatian mendalam, sosok Fasuzi Shaleh sebagai pengusaha real estate Pesona Depok dan Pesona Kahyangan sangat tepat dijadikan suri tauladan.

Fausi Shaleh hanya mengenyam pendidikan sampai SMP, lalu menyibukkan diri untuk bekerja apa saja asal halal dalam kehidupan metropolis Jakarta yang terkenal kejam, yakni bekerja sebagai pencuci mobil di sebuah bengkel, lalu bekerja sebagai petugas keamanan di sebuah perusahaan. Setelah berhenti, Fauzi Shaleh mulai merintis usaha Real Estate dengan membeli tanah dan membangun rumah, modal awal hanya 30 juta rupiah pada tahun 1989.

Untuk mendukung keberhasilan, setiap malam Jum’at Fauzi Shaleh dengan 12 pekerjanya selalu mengaji Yasin bersama, dzikir dan berdoa supaya usahanya berhasil. Berhubung usaha dengan tawakkal berjalan beriringan, beliau berhasil menjualnya seharga 51 juta rupiah yang digunakan untuk membeli tanah, membangun rumah dan menjual kembali.

Lewat pembacaan yang cerdas terhadap kenyataan, Fauzi Shaleh mendirikan PT. Pedoman Tata Bangun tahun 1992, yang mampu membangun dan menjual perumahan mewah Pesona Depok sebanyak 470 unit dan 360 unit. Beliau lalu membangun Pesona Kahyangan 1 dan 2 sebanyak 1600 unit, dengan berusaha mengembangkan sayap pada Pesona Kahyangan 3 dan 4. Harga yang ditawarkan antara 200 sampai 600 juta.

Tradisi pengajian dan wiridan tetap dipertahankan setiap malam Jum’at, bahkan dalam sekali sebulan mengadakan pengajian Akbar yang dihadiri seluruh pekerja, karyawan, kerabat dan masyarakat sekitar. Masing-masing yang hadir diberikan 3 stel gamis untuk shalat dan sarung. Sebuah bentuk tawakkal pada Allah yang mampu dilakukan secara konsisten.

Pada ulang tahunnya yang ke 45, Fauzi Shaleh memberikan hadiah 50 unit mobil pada 50 dari 100 karyawan tetapnya, selain bonus sekali gaji bagi kurang lebih 2000 pekerja. Jika ditotal setiap pekerja mendapatkan 22 gaji dalam setahun, jauh melebih pegawai negeri yang hanya mendapatkan 13 gaji.

Rahasia sukses Fauzi Sholeh dalam BO di dunia wira usaha terbagi dalam beberapa hal berikut ini.

Pertama; menerapkan “Manajemen Basmalah” secara konsisten. Maksudnya usaha diniatkan karena Allah, dikelola bersama dan bertawakkal dengan benar dalam bentuk pengajian setiap malam Jum’at, sebulan sekali untuk pengajian Akbar, setiap 17 Agustus, tahun baru, hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Kedua; kepedulian pada nasib pekerja dan karyawan ditunjukkan dengan memberikan kesejahteraan yang benar-benar layak, bahkan melebihi standar penggajian yang ada, wajar seluruh pekerja bahu membahu menghasilkan bangunan yang bermutu, bagus dan sesuai idaman setiap orang. “Mereka bekerja seperti di perusahaan sendiri,” kata Fauzi Shaleh.

Ketiga; kemampuan BO tentang kenyataan, kehidupan dan dunia real estate, menghasilkan “Manajemen Basmalah”, yang dapat diterapkan pengusaha lainnya agar berhasil dalam setiap usaha yang dikelola.

Keempat; bersikap dermawan dengan membagi 60% keuntungan untuk kegiatan sosial, 40% diputar sebagai modal, justru membuat Fauzi Shaleh lebih kaya dunia dan akhirat. Nilai uang yang disumbangkan sejak empat tahun lalu sekitar 70 milyar. Semoga amal shaleh ini diterima Allah. Amien!

Apa yang dilakukan Fauzi Shaleh teladan bagi para pengusaha dan bos, di samping membuktikan bahwa mengelola usaha dengan cara yang Islami merupakan alternatif baru dalam abad 21 yang penuh ketidakpastian ini.

 

1 Zamhari Hasan, Berniaga Dengan Iman, Kiat-Kiat Agamis Menjadi Saudagar Sukses, (Jakarta: Ka-Tulis-Tiwa Pres, 2006), hal 23

2 Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spritual ESQ: Emosional Spritual Quistion berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, pengantar Habib Adnan, penyunting Anisi R Handini A (Jakarta: Arga Wijaya Persada, 2001), hal 41

3 Valentino Dinsi, SE.MM.MBA dkk, Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian, penyunting Iqbal Setyarso, riset M. Hariyanto, Ssi, MM, (Jakarta: LET’s GO Indonesia, 2004), Hal 22

4 Hermawan Kartajaya, Marketing Your Self, Kiat Sukses Meniti Karier dan Bisnis, Editor Yuswohadi, Sunarto Ciptoharjono, (Jakarta: MarkPlus & Co, 2005), hal 12-17

5 Gordon Dryden & Jeanette Vos, Revolusi Cara Belajar, The Learning Revolution, Belajar akan Efektif Kalau Anda dalam Keadaan “Fun”, penerjemah Word ++ Translation Service, penyunting Ahmad Baiquni, (Bandung: Kaifa, 2001), hal 299

6 Disarikan dan ditulis ulang Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, 27 September 2006.

7 Disarikan dan ditulis ulang Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, 23 Agustus 2006.

8 Diolah dari http://blog.myquran.org/wirausaha/dibalik-kisah-sukses-pemilik-pesona khayangan & peona depok, 03 Juni 2007

9 Pembacaan Kreatif terhadap Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, 27 Februari 2008.

 

 

 

EPILOG

 

Dalam fenomena mutakhir, didengungkan tentang kematian pengarang, dan kehidupan pembaca. Hal ini dapat menjadi bahan perenungan para otodidaktor.

Saat penulis menyelesaikan karyanya, apa pun hasil karya tulis yang dihasilkan, hakikatnya seorang penulis telah mati. Di sini mengandung makna bahwa apa pun yang terjadi terhadap karya tulis nantinya, pengarang tidak dapat melakukan intervensi terhadap tulisannya, kecuali penulis melakukan perbaikan-perbaikan dalam New Edition yang dihasilkan dalam cetakan selajutnya seperti halnya buku ini, dengan syarat buku yang dihasilkan laku terjual.

Berbicara laku atau tidak, hukum pasar yang menentukan. Hukum pasar berhubungan dengan selera pembaca, kemampuan daya beli, kebutuhan terhadap buku, kualitas dari buku, cara penyampaian, dan usaha seorang penulis untuk benar-benar menghasilkan karya tulis yang terbaik. Penulis harus mampu memahami pembacanya dari berbagai macam sudut pandang, sehingga karyanya bisa diterima. Meski demikian, Anda tidak harus “berkompromi” dengan pasar menyangkut apa yang disebut “selera rendah”, melainkah berupaya menghasilkan master piece.

Buku ini adalah master piece saya selama menempuh pendidikan S2 informal dalam universitas kehidupan. Seperti diungkapkan sebelumnya, begitu otodidaktor menghasilkan master piece, maka dirinya dituntut untuk melahirkan master piece-master piece lainnya pada masa mendatang, baik untuk mendapatkan gelar Doktor, Profesor, maupun gelar manusia paripurna. Ini baru satu langkah di antara jutaan langkah ke depan. Hal ini tentu membuat seorang penulis terus menerus hidup abadi.

Alhamdulillah baru-baru ini, saya telah menyelesaikan buku Pelatihan; Learning For Living (LFL) 3 Langkah Sederhana Menuju Kesuksesan Dunia dan Akhirat. Artinya, Anda dapat mengikuti Pelatihan tentang Belajar Otodidak (BO), Wirausaha Islam, dan Mukmin Sejati, sekaligus mendapatkan buku tersebut. Tujuan utama Pelatihan ialah agar Anda sukses dengan cepat, tepat, benar dan bermanfaat, sehingga dapat menjalani hidup yang bahagia di dunia dan akhirat. Informasi ; www. sampenulis.wordpress.com.

Bersamaan dengan kematian penulis, pembaca merasakan roh kehidupan baru, andai yang dibaca merupakan buku yang bernar-benar berkualitas.

Pembaca terbagi dalam pembaca sezaman dan pembaca sepanjang zaman. Bagi pembaca sezaman dengan penulis, maka interaksi antara pembaca dan penulis bisa terus berlangsung melalui email sam_penulis@yahoo.com, otodidaktor@yahoo.co.id atau blog saya di atas. Interaksi ini bermakna pembelajaran antara satu otodidaktor dengan otodidaktor lainnya. Otodidaktor sejati mau berbagi ilmu, informasi dan pemikiran pada sesama secara tulus, sebab pengetahuan semakin dibagi pada orang, justru semakin meluas dan banyak. Jadi, ini merupakan pembelajaran alternatif dalam abad 21. Bagi pembaca sepanjang zaman, buku ini diharapkan memiliki nilai seperti Ihya’ Ulumuddin karya Imam Ghazali yang abadi.

Dalam penelusuran saya mengenai prinsip barokah dalam Islam bermakna kemampuan seseorang untuk memberikan secara cuma-cuma apa yang dimiliki berupa ilmu pengetahuan, harta, keahlian dan kecerdasan pada orang yang membutuhkan. Sebagai misal; saya kadang memberikan makalah tema-tema tertentu pada orang lain yang membutuhkan, bagi guru atau Kiai diserahkan kesimpulan buku Revolusi Cara Belajar, bagi penulis puisi dan cerpen diserahkan metode penulisan keduanya yang berasal dari dua buku berbeda, pada santri saya serahkan tulisan Sumbangan Pemikiran Untuk Santri Kelas Akhir. Alhamdulillah! Dengan berbagi pada orang lain, Allah memberi kemudahan pada saya dalam menyelesaikan buku ini. Para otodidaktor dituntut mempraktikkan teori Barokah ini.

Hidup butuh perjuangan dan pengorbanan, hal ini berlaku dalam BO. BO insya Allah berhasil bila Anda mau mengorbankan uang, tenaga, dan waktu, juga berjuang untuk senantiasa mengembangkan semua potensi sampai taraf yang maksimal. Dalam proses pembelajaran, jangan memikirkan keberhasilan, melainkan memikirkan bagaimana caranya semua potensi dikembangkan sampai ambang batas. Insya Allah keberhasilan datang dengan sendirinya.

Dalam konteks ini, otodidaktor berupaya memperkuat mentalitas dalam diri supaya tahan menghadapi berbagai macam permasalahan, tantangan, kegagalan, musibah, cobaan dan ujian. Kelemahan mendasar masyarakat Indonesia umumnya ialah memiliki mental lemah dan keinginan mendapatkan segala sesuatu secara mudah. Kelemahan ini dimanfaatkan Portugis, Belanda dan Jepang pada masa penjajahan dulu, serta dimanfaatkan Barat dalam bentuk “penjajahan baru” dengan bermacam-macam wujud, baik yang nampak jelas, samar maupun misterius. Untuk membentuk mental yang kuat dibutuhkan latihan-latihan secara lahir dan batin secara terus menerus, sehingga perlahan-lahan membentuk tembok mental yang kokoh, kuat dan tahan banting.

Para otodidaktor yang membaca buku ini beruntung, sebab memiliki panduan dalam upaya meraih keberhasilan dalam BO. Ibarat air yang menembus batu, maka otodidaktor berdasarkan buku ini, memiliki alat untuk melubangi batu secara perlahan-lahan, sehingga air kehidupan mengalir lancar yang membawa manfaat besar pada umat manusia. Alat ini berfungsi optimal, jika digunakan dengan cara yang benar, memahami fungsi penggunaan alat secara efektif dan efisien, menggunakannnya dalam pembelajaran yang dilakukan, dan dimanfaatkan untuk mencapai tujuan yang benar.

Setiap otodidaktor dituntut berupaya secara sungguh-sungguh dalam mempelajari buku ini, merenungkan hal-hal yang perlu direnungkan, mempraktekkan teori-teori yang dibaca, membuat kesimpulan sendiri yang sesuai dengan karakter atau kepribadian seseorang, dan menjadikan belajar sebagai kebiasaan hidup dalam keseharian sampai ajal menjelang.

Sebagai ilustrasi, buku berisi 6 rahasia BO: pertama, memahami seluk beluk belantara BO, kedua, upaya mengembangkan potensi manusia seluruhnya yakni pikiran, imajinasi, perasaan, hati, tubuh, dan kesadaran, ketiga, lorong waktu yang membelah masa lalu, masa kini dan mendatang dalam rangka melakukan perubahan yang sistematis, terencana, terstruktur, visioner dan aplikatif, keempat; membaca fenomena alam, semesta, kehidupan dan teks sehingga pembelajaran berhasil dilakukan, kelima, memiliki keahlian menulis agar dapat hidup sepanjang zaman lewat maha karya agung, keenam, upaya “kompromi” dengan kehidupan, satu aspek mampu memenuhi kebutuhan prakmatis, dalam aspek berbeda mampu tetap belajar sepanjang hayat, wujudnya ialah menikmati hidup apa adanya.

Dari buku ini diharapkan memunculkan para otodidaktor hebat di masa mendatang seperti Hamka, KH. Moh. Idris Jauhari, Emha Ainun Nadjib, D. Zawawi Imron, Fauzi Shaleh, Irwan Hidayat, Bob Sadino, Gus Dur, dan Muhammad Yunus. Jika Anda bersungguh  sungguh, tekun, gigih dan mampu mengoptimalkan segenap potensi seperti mereka, jangan kaget nama Anda disebut bersama mereka suatu waktu kelak, atau malah Anda justru melebihi dari pencapaian mereka.

Sebagai bagian dari aplikasi dari apa yang ditulis, maka saya membentuk Kuliah Alternatif Online bagi siapa saja yang tidak beruntung kuliah formal di Perguruan Tinggi. Buku ini akan menjadi mata kuliah utama. Jadi, keberhasilan buku ini merupakan bentuk riil untuk mewujudkan Kuliah Alternatif. Semoga Allah meridhai langkah mulia ini. Amien!

Saya juga berinisiatif bahwa hasil pelatihan Learning For Living (LFL) Belajar Untuk Hidup, digunakan untuk mensubsidi Kuliah Alternatif dan Pelatihan Gratis untuk fakir miskin, anak jalanan, dan masyarakat marjinal.

Bumi Allah, 4 Desember 2009

 

Daftar Pustaka

 

Abdullah, M. Amin, Antara Al-Ghazali dan Kant, Filsafat Etika Islam, penerjemah Drs. Hamzah, M.Ag, penyunting Husein Heriyanto, Bandung: Mizan, cet. I Agustus 2002

Agustian, Ary Ginanjar, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spritual ESQ: Emosional Spritual Quistion berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, pengantar Habib Adnan, penyunting Anisi R Handini A, Jakarta: Arga Wijaya Persada 2001

Al-Qu’an Digital Ver 2.1, Jumadil Akhir 1425 (Agustus 2004) Website http://www.alquran-digital.com

Al-Qur’an Terjemahan Berbahasa Indonesia, Penyusun DISBINTALAD, Drs. H.A. Nazri Adlani, Drs. H. Hanafie Tamam, Drs. H.A. Faruq Nasution, Jakarta: Sari Agung, 2001

Ahimsa Putra, Heddy Shri, Strukturalisme, Levi-Strauss, Mitos dan Karya Sastra, Yogyakarta: Galang Press, 2001

Al-Buruswi , Ismail Haqqi, Terjemah Tafsir Ruhul Bayan Juz IX, penyunting Prof. Dr. H.M.D Dahlan, Bandung: c.v Diponegoro, 1998

Al-Ghazali, Terjemah Mukhtasyar Ihya ‘Ulumuddin, Kitab Keajaiban Hati

Alwisol, Psikologi Kepribadian, UMM Press 2004, Malang: Cet. IV Agustus 2005

Aminuddin dkk, Analisis Wacana, Dari Linguistik Sampai Dekonstruksi, Kanal Yogyakarta, Desember 2002

Bird, Carmel, Menulis Dengan Emosi, Panduan Empatik Mengarang Fiksi, Penerjemah Eva Y, Penyunting Femmy Shahrani, Bandung: Kaifa, 2001

Budiono MA, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Dilengkapi dengan: Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indoensia, Tata bahasa-Pemahaman bahasa kosakata-kesusastraan, Surabaya: Karya Agung, 2005

Camus, Albert, dkk, Menulis Itu Indah, Pengalaman Para Penulis Dunia, penerjemah Ade Ma’ruf, penyunting Anas Syahrul Alimi, Yogyakarta: Jendela, Cetakan pertama Maret 2002

Camus, Albert, Mite Sisifus, Pergulatan Dengan Absurditas, penerjemah Apsari D, penyunting Prasetya Adiseputra, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama 1999

Cavallaro, Dani, Critical and Cultural Theory, Teori Kritis dan Teori Budaya, penerjemah Laili Rahmawati, penyunting Helmi Mustofa, Yogyakarta: Niagara, Cet. I Mei 2004

Calne, Donald B. BATAS NALAR, Rasionalitas dan Perilaku Manusia, Jakarta: KPG, 2004

Danarto, Kumpulan Cerpen: Godlob, Yogyakarta: Matahari, Cet. II April 2004

Dinsi, Valentino, SE, MM, MBA dkk, Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian, penyunting Iqbal Setyarso, riset M. Hariyanto, Ssi, MM, Jakarta: LET’s GO Indonesia 2004

Dryden, Gordon & Jeanette Vos, Revolusi Cara Belajar, The Learning Revolution, Belajar akan Efektif Kalau Anda dalam Keadaan “Fun”, penerjemah Word ++ Translation Service, penyunting Ahmad Baiquni, Cet. III Kaifa Bandung 2001

Deleuze, Gilles, Filsafat Nietsche, penerjemah Heri Winarno, penyunting Suryanto Abdullah, Yogyakarta: Ikon Teralitera, September 2002

Endraswara, Suwardi, Metodologi Penelitian Sastra, Yogyakarta: Pustaka Widyatama, Cet. III April 2006

Gaarder, Jostein, Dunia Sophie, Sebuah Novel Filsafat, Penerjemah Rahmani Astuti, Penyunting Yuliani Liputo, Bandung: Mizan Utama, Cet XV 2004

Grunder Jr, Martin J. Cara Gampang Menjadi Kaya Melalui Bisnis, 9 Strategi Praktis membangun Bisnis yang Sukses, Penerjemah Lovely, Bandung: Kaifa PT Mizan Pustaka, Cet. I Maret 2006

Hasan, Zamhari Bidadari Posmodern, Yogyakarta: Lintang Sastra, Maret 2006

Hasan, Zamhari Berniaga Dengan Iman, Kiat-Kiat Agamis Menjadi Saudagar Sukses, Jakarta: Ka-Tulis-Tiwa Pres, cetakan I 2006

Hanafi, Hasan, Cakrawala Baru Peradaban Islam, Revolusi Islam untuk Globalisme, Pluralisme dan Egaliterisme Antar Peradaban, penerjemah Muhammad Saiful Anam dan Abduh, penyunting Arif Fakhruddin, Yogyakarta: IRCiSoD, September 2003

Hall, Doug, 3 Metode Canggih Melejitkan Kreativitas Bisnis, penerjemah Mursid Widjanarko, Bandung: Kaifa, Cet. I 2004

Kafka, Frans, Kumpulan cerpen, Metaformosis, penerjemah Ribut Wahyudi, Saut Pasaribu, Yudi S.T Widiyantoro, penyunting Hartono Hadikusumo, Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, Cet. I Februari 2001

Kasali, Rhenald, Ph.D, Change, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama, 2005

Kumpulan Cerpen: Jejak Tanah, Cerpen Pilihan Kompas 2002, Jakarta: Buku Kompas, 2002

Kartajaya, Hermawan Marketing Your Self, Kiat Sukses Meniti Karier dan Bisnis, Editor Yuswohadi, Sunarto Ciptoharjono, Jakarta: MarkPlus & Co, 2005

Keterampilan Menjelang 2020 Untuk Era Global, Lampiran Satuan Tugas Tentang Pengembangan Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan di Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta

Lechte, John, 50 Filsuf Kontemporer, Dari Strukturalisme sampai Postmodernitas, penerjemah A Gunawan Admiranto, Yogyakarta: Kanisius, 2001

LeGault, Michael, Think, penyunting Rani Andriani Koswara, Jakarta: Trans Media, cet.1 2006

Nafis, A.A Kumpulan Cerpen: Robohnya Surau Kami, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, cet 12 2005

Pradopo, Rachmat Joko, Prof Dr. Kritik Sastra Indonesia Modern, Yogyakarta: Gama Pres, Maret 2002

Pilliang, Yasraf Amir, Dunia Yang Dilipat, Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan, Bandung: Jalasutra, 2004

Qoelho, Paulo, The Alchemist, Sang Alkemis, penerjemah Tanti Lesmana, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005

Ratna, Nyoman Kutha, Prof. Dr. Sastra dan Kultural Studies, Representasi Fiksi dan Fakta, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, S.U, Cet. I September 2005

Rose, Colin dan Malcolm J. Nicholl, Cara Belajar Cepat Abad XXI, penerjemah Dedy Ahimsa, editor Purwanto, Bandung: Nuansa, cetakan ketiga Mei, 2002

Soedarsono, Soemarsono, Character Building, Membentuk Watak, Mengubah Pemikiran, Sikap, dan Perilaku untuk Membentuk Pribadi Efektif guna Mencapai Sukses Sejati, Jakarta: PT Exel Media Komputindo, 2002

Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier Jilid I dan II, penerjemah; H. Salim Bahreisy, H. Said Bahreisy, Surabaya: pt bina ilmu, 1993

Thomson, John B, Filsafat Bahasa dan Herneutika, penerjemah Dr. Abdullah Khozin Afandi, Surabaya: Visi Humanika, 2005

Tedjoworo, H. Imaji dan Imajinasi Suatu Telaah Filsafat Postmodern, Yogyakarta: Kanisius 2001, hal 23

Thoha, Zainal Arifin, Aku Menulis Maka Aku Ada, Yogyakarta: Kutub, Cet. I Agustus 2005

Waluyo, Herman J. Prof. Dr. Apresiasi Puisi Untuk Pelajar dan Mahasiswa, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003

Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia

http://blog.myquran.org/wirausaha/dibalik-kisah-sukses-pemilik-pesona khayangan & peona depok

 

SEKILAS TENTANG PENULIS

Penulis dengan nama Ahmad Zamhari Hasan, 10-11-1974, aktif membaca dan menulis sejak kelas III pesantren Al-Amien Madura atau setingkat kelas III SMP/MTs. Garis nasib menaqdirkannya hanya kuliah sampai semester III STIDA yang kini berubah menjadi IDIA dan kuliah informal DII di Pesantren Tinggi Al-Amien. Lebih banyak BO tentang sastra, cerpen, novel, drama dan puisi, skenario, filsafat, Islam, dan politik.

Mempelopori lahirnya SUASA (Suara Sastra Al-Amien) yang membuatnya aktif menulis kolom, cerpen dan artikel, menjadi staf redaksi majalah Qolam, mempelopori penerbitan majalah Al-Hikam.

Karya tulis yang dihasilkan adalah novel : Bidadari Posmodern, Berniaga Dengan Iman, Kiat-Kiat Agamis Menjadi Saudagar Sukses (keduanya sudah terbit), novel Pengabdi Kemulyaan Cinta Sejati, tiga ontologi puisi; Menjangkau Tuhan, Aceh Tersenyum Bahagia, dan SMS TUHAN, satu kumpulan cerpen; Setitik Harapan 17 judul dari 23 cerpen yang ditulis, membuat kumpulan tulisan tentang Pembacaan Kreatif, Learning For Living (LFL) 3 Langkah Sederhana Menuju Kesuksesan Dunia dan Akhirat.

Buku “BELAJAR OTODIDAK SAMPAI MATI, Pembelajaran Seumur Hidup Sebagai Kebutuhan Mendesak Saat Ini!” merupakan gabungan antara pengalaman BO 9 tahun -14 tahun jika dihitung semenjak lulus Pesantren Tinggi Al-Amien-, dan pembacaan kreatif terhadap berbagai macam literatur. Buku ini selesai berkat bantuan Allah dengan segala macam caraNya yang sungguh sangat luar biasa. Email: sam_penulis@yahoo.com, otodidaktor@yahoo.co.id. No Hp. (08176956688). Blog; sampenulis.wordpress.com.

 

 

 

Lampiran I

                     Metode Mengetahui Gaya Belajar

Lingkari atau silang satu huruf di antara a, b, dan c yang cocok bagi Anda; kepribadian, minat atau kesenangan, dan prilaku.

  1. a) Duduk tegak saat membaca buku
  2. b) Sering mengangguk-anggukkan kepala sambil membaca
  3. c) Suka mempermainkan fulpen/kertas dan menggerakkan

kaki sambil membaca

  1. a) Menjalankan bisnis atas dasar hubungan personal antar

wajah

  1. b) Suka menjalankan bisnis melalui telepon/Hp
  2. c) Suka melakukan urusan seraya mengerjakan sesuatu, makan

sambil membicarakan bisnis.

  1. a) Melihat lurus ke depan atau memandang ke pendidik
  2. b) Melihat ke kiri dan ke kanan atau ke bawah saat

pembelajaran.

  1. c) Melihat ke kanan (padahal bukan kidal) ke atas saat

pembelajaran

  1. a) Jika berbicara cepat
  2. b) Berbicara dengan suara yang berirama
  3. c) Berbicara dengan lambat atau terpatah-patah.
  4. a) Punya ingatan visual yang bagus -ingat sesuatu walau

beberapa hari lalu.

  1. b) Menghapal kata-kata atau gagasan yang pernah diucapkan
  2. c) Ingat lebih baik menggunakan alat bantu
  3. a) Tidak merasa bosan duduk lama mendengarkan materi

pembelajaran

  1. b) Senang belajar di ruangan
  2. c) Merasa bosan duduk lama dan senang belajar di luar.

7a)senang membaca buku

  1. b) Senang bertanya
  2. c) Senang belajar secara langsung atau praktik

8 a) Suka mengisi TTS dan menonton

  1. b) Suka mendengarkan radio, drama dan diskusi
  2. c) Menyukai kegiatan sosial maupun olahraga, seperti relawan

guru, Tim Sar atau lintas alam.

9 a) Selera berpakaian penuh gaya

  1. b) Selera berpakaian yang penting merk
  2. c) Selera berpakaian sederhana

10a) Menyatakan emosi dengan ekspresi muka

  1. b) Mengungkapkan emosi dengan kata-kata/kalimat
  2. c) Mengungkapkan emosi melalui gerak tubuh (memukul)

11a) Aktivitas kreatif; menulis, menggambar dan melukis

  1. b) Aktivitas kreatif; berdongeng, bermain musik, menyanyi,

berdebat dan berfilosofi

  1. c) Aktivitas kreatif; kerajinan tangan, berkebun, menari dan

olah raga

12a) Saat diam suka melamun atau menatap ke angkasa

  1. b) Saat diam suka bercakap-cakap dengan dirinya sendiri
  2. c) Saat diam selalu merasa gelisah, tidak bisa duduk tenang

Setelah menjawab, coba dihitung jawaban terbanyak!

Kalau jawabannya banyak a) berarti Anda Pembelajar Visual

  1. Memperhatikan pembicara dengan seksama,
  2. Membuat catatan dari buku yang dibaca
  3. Membuat kata kunci dari catatan, dan peta konsep.
  4. Perlu memanfaatkan waktu kosong dengan merenungkan sesuatu, membaca, menulis, dan menggambar.
  5. Membiasakan diri untuk berbicara di depan umum
  6. Kata Kunci; Melihat, Membaca dan Berbicara.

Kalau jawabannya banyak b) maka Pembelajar Auditori;

  1. Merekam catatan di buku, Ipod atau Hp, lalu mendengarkan hasil rekaman pada waktu berbeda.
  2. Perlu merangsang diri untuk banyak bertanya,
  3. Berbicara pada diri sendiri waktu merenung.
  4. Memperdalam suatu bidang ilmu sesuai minat dan kesenangannya sebagai kunci sukses.
  5. Mengisi waktu kosong dengan berdongeng/bercerita pada orang lain, bermain musik, bernyanyi, berdebat dan berfilosofi.
  6. Kata Kunci Menderngar dan bertanya.

Kalau jawabannya banyak c) maka Pembelajar Kinestetik;

  1. Selalu ingin bergerak dan senang belajar di alam terbuka
  2. Paling baik belajar dengan tindakan fisik dan mengetahui secara langsung lewat pengalaman nyata.
  3. Membaca sambil menggerak-gerakkan kaki/tangan.
  4. Fokus pada buku yang dibaca selama 10 menit, lalu jalan-jalan sambil mencerna yang dibaca, begitu terus sampai waktu 1 jam belajar tiap hari selesai.
  5. Menggunakan waktu kosong untuk; membuat kerajinan tangan, berkebun, merawat tanaman, dan olah raga.
  6. Kata kunci belajar sambil bergerak dan kreativitas fisik.

 

Daftar isian ini merupakan hasil pembacaan kreatif saya terhadap buku Revolusi Cara Belajar karya Gordon Dryden & Jeannete Vos (empat gaya belajar), diperbaiki dengan buku Cara Belajar Cepat Abad 21 karya Colin Rose & Malcolm J. Nicholl (menjadi 3 gaya belajar karena pembelajar taktil dan kinestetik sama).

 

 

 

Lampiran II

Memahami Kecerdasan Berganda

 

Lingkari atau silang dua kolom (a,b,c,d,e,f,g,h,i,j ), misalnya a) dan g) yang cocok bagi Anda; kepribadian, pemikiran, prilaku, minat, kesenangan dan keinginan.

  1. a) suka membaca buku
  2. b) suka berhitung
  3. c) suka seni, menggambar atau memahat
  4. d) suka menyanyi
  5. e) suka melakukan kegiatan fisik
  6. f) suka bekerja sama
  7. g) senang melihat sisi batiniah manusia
  8. h) senang memelihara binatang peliharaan
  9. i) senang belajar sendiri
  10. j) senang membaca Al-Qur’an secara rutin
  11. a) sensitif (peka) terhadap pola
  12. b) suka pada ketepatan dari segala sesuatu
  13. c) suka menggunakan metavora (perbandingan)
  14. d) sensitif terhadap nada
  15. e) memiliki kontrol terhadap obyek/sasaran
  16. f) pintar berhubungan dengan orang lain
  17. g) selalu melakukan penilaian terhadap diri sendiri
  18. h) dapat mengenali dan menamai pohon, tumbuhan, dan bunga

yang berbeda

  1. i) teguh pada prinsip yang dianut
  2. j) suka mempelajari sejarah para Nabi atau Ulama’
  3. a) berpikir sistematis (runut atau teratur)
  4. b) suka berpikir abstrak (tidak beraturan)
  5. c) mengungkapkan hasil pikiran dengan gambar
  6. d) sensitif terhadap warna nada musik
  7. e) berpikir mekanik ( seperti putaran mesin )
  8. f) cerdas dalam mempengaruhi orang lain
  9. g) perasaan lebih kuat dari pikiran
  10. h) suka berpikir teknis
  11. i) berpikir radikal
  12. j) berpikir melingkar
  13. a) mampu berargumentasi (berpendapat dengan alasan kuat)
  14. b) menyukai keadaan yang teratur
  15. c) mudah membaca peta, grafik dan diagram
  16. d) sensitif terhadap kekuatan emosi musik
  17. e) belajar dengan bergerak lebih menyenangkan
  18. f) menikmati berada di tengah-tengah orang banyak
  19. g) memiliki kesadaran terhadap kemampuan diri
  20. h) suka bertani atau memancing
  21. i) menyukai keadaan yang tidak teratur
  22. j) memahami tanda-tanda dari fenomena alam
  23. a) teratur dalam melakukan berbagai hal
  24. b) suka berpikir logis (masuk akal)
  25. c) memiliki indera warna yang hebat
  26. d) sensitif (peka) terhadap susunan musik yang rumit
  27. e) memiliki respon dan reflek yang bagus
  28. f) memiliki banyak teman
  29. g) peduli pada tujuan hidup
  30. h) senang bekerja di kebun atau halaman rumah
  31. i) memiliki insting (naluri yang alami) sangat bagus
  32. j) memiliki indera keenam yang bersifat spritual
  33. a) menguasai bahasa asing dengan mudah dan baik
  34. b) suka menghitung segala sesuatu dengan angka
  35. c) mengingat berdasarkan gambar lebih mudah
  36. d) mampu membuat lirik/syair/puisi
  37. e) mahir dalam kerajinan tangan
  38. f) mampu berkomunikasi dengan baik
  39. g) memiliki motivasi diri yang tinggi
  40. h) berminat pada masalah sosial dan motivasi manusia
  41. i) senang belajar pada hal-hal kecil dan sepele
  42. j) senang shalat dan berdzikir (baik sendiri atau bersama)
  43. a) senang menguasai beberapa bahasa
  44. b) suka memecahkan masalah
  45. c) menggunakan semua indera untuk membayangkan sesuatu
  46. d) sensitif terhadap irama musik
  47. e) belajar dengan melibatkan diri dalam proses belajar
  48. f) menikmati kegiatan bersama
  49. g) ingin berbeda dari orang kebanyakan
  50. h) senang informasi tentang jagad raya dan bumi
  51. i) mampu melihat makna sesuatu dari sudut yang berbeda
  52. j) mendengarkan suara hati nurani dan melaksanakannya
  53. a) suka permaianan kata-kata
  54. b) senang melakukan percobaan-percobaan ilmiah
  55. c) senang seni akting dan membuat video
  56. d) terkadang suka pada suatu kekuatan di luar dirinya
  57. e) gampang mengingat yang dilakukan bukan yang dikatakan
  58. f) mampu bernegoisasi (tawar menawar) dengan baik
  59. g) amat sadar pada kekuatan dan kelemahan diri
  60. h) menyenangi isu pemanasan global
  61. i) senang mengajar atau membantu orang dengan ilmu
  62. j) menjadi orang yang paling bermanfaat sebagai prinsip hidup
  63. a) punya ingatan tajam tentang hal-hal sepele
  64. b) suka mencatat secara teratur
  65. c) suka menonton film atau drama
  66. d) menyenangi alat musik tertentu
  67. e) resah jika tidak melakukan apa-apa
  68. f) suka menengahi pertengkaran
  69. g) sadar diri
  70. h) suka pada lingkungan asri atau alami
  71. i) senang mempelopori hal-hal baru
  72. j) melakukan segala sesuatu karena mengharap ridha Allah

10 a) senang belajar bahasa

  1. b) senang belajar matematika
  2. c) senang belajar melukis
  3. d) senang belajar seni musik
  4. e) senang belajar ilmu terapan
  5. f) senang belajar ilmu sosial
  6. g) senang belajar ilmu humaniora (kemanusiaan)
  7. h) senang belajar ilmu alam
  8. i) senang belajar ilmu apa saja seumur hidup
  9. j) senang belajar ilmu agama

 

Sekarang hitung berapa jumlah masing masing kolom

  1. a)       ……… Kecerdasan Linguistik
  2. b)       …….. Kecerdasan Matematis Logis
  3. c)       …….. Kecerdasan Visual Spasial
  4. d)       …….. Kecerdasan Musikal
  5. e)       …….. Kecerdasan Kinestetis
  6. f)         …….. Kecerdasan Interpesonal
  7. g)       …….. Kecerdasan Intrapersonal
  8. h)       …….. Kecerdasan Naturalis
  9. i)         …….. Kecerdasan Otodidaktor
  10. j)         …….. Kecerdasan Spritual

 

CARA MUDAH UNTUK BO

Kecerdasan Linguistik; bercerita, bermain permainan ingatan dengan nama, melakukan permainan kosa kata, belajar menguasai bahasa asing, mengerjakan teka-teki silang, padukan membaca dan menulis, menulis dengan kata-kata sendiri, berdebat, berdiskusi dan berceramah atau pidato. (Hamka, Hatta, Ibnu Taimiyah)

Kecerdasan Matematis Logis; rangsang dengan pemecahan masalah, lakukan permainan berhitung dengan komputer atau kalkulator, gunakan logika, miliki tempat untuk menghimpun semua hal, biarkan segala sesuatu diselesaikan secara bertahab, gunakan berpikir deduktif (Asumsi, bukti, contoh, ilustrasi, opini), gunakan prediksi (perkiraan) dan padukan kemampuan menghitung dengan materi lain. (Habibie, Enstein)

Kecerdasan Visual Spasial; gunakan gambar untuk belajar, membuat buku corat coret khusus, padukan seni menggambar dengan pelajaran lain, melakukan visualisasi, gunakan gambar di dinding sebagai perangsang, berpindah ruang untuk mendapatkan pandangan baru, gunakan mimik, gunakan grafik komputer, mengikuti kursus komputer desaign grafis, menggunakan peta konsep, sketsa, poster dan berlatih membuat iklan atau video. (Dedy Mizwar, Affandi,George Wasington)

Kecerdasan Musikal; bermain alat musik, belajar lewat lagu, belajar diiringi musik lebih baik, bergabung dengan kelompok paduan suara, menulis musik, padukan musik dengan bidang lain, membuat gambar dengan musik, belajar melalui puisi yang panjang, dan membaca bersama, menciptakan jenis musik tertentu, dan mengarang musik di komputer. (Iwan Fals, Bethhoven)

Kecerdasan Kinestetik; gunakan latihan fisik, belajar sambil bergerak, dramatisasikan proses belajar, melakukan kerajinan tangan, olah raga sebagai sarana memfokuskan diri, gunakan permainan peran dan pelajaran lapangan, menulis di buku harian atau catatan, belajar teknik dan praktik langsung (Michael Schumacer, Valentino Rosi, Taufik Hidayat, Thomas Alva Edison)

Kecerdasan Interpersonal; lakukan aktivitas pembelajaran bersama, belajar kerja sama, memberi banyak waktu bersosialisasi, gunakan teknik belajar berpasangan, gunakan keterampilan berkomunikasi, padukan dengan semua mata pelajaran, jadikan proses belajar mengasyikkan, bekerja dengan tim, ajari orang lain, gunakan sebab akibat. (Amien Rais, Hermawan Kertajaya, Jack Ma)

Kecerdasan Intrapersonal; lakukan pembicaraan dari hati-ke hati, melakukkan pengembangan diri untuk mendobrak rintangan belajar, berpikir dan mendengarkan, lakukan studi mandiri, beri waktu merenungkan diri, dengarkan intuisi anda, refleksikan apa yang dirasakan atau dipikirkan dalam tulisan, kontrol proses belajar diri, ajarkan bertanya dan ajarkan penguasaan diri. (Emha Ainun Nadjib, Frans Kafka)

Kecerdasan Naturalis; bertani atau berkebun sambil mencari cara-cara bercocok tanam yang baru, menangani secara langsung baru memahami rahasia dari sesuatu, belajar pada jagad raya, lingkungan dan bumi tentang bermacam-macam hal, menguasai tentang tanaman yang bernilai ekonomi tinggi seperti pertanian organik, mengelola lingkungan yang hijau dan Asri, dan mencintai keindahan alam. (Bob Sadino, Fauzi Shaleh).

Kecerdasan Otodidaktor; belajar dari hal-hal kecil, sepele dan sederhana, membantu orang lain mendapatkan kemudahan dalam menyerap suatu makna dan hikmah, senang melakukan kontemplasi untuk mencari ilham, mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat, mempelopori sesuatu yang dianggap baru, senang membaca buku, pengalaman atau kenyataan, menjadikan kegagalan sebagai pembelajaran dan mempraktikkan apa yang diketahui. (Emha Ainun Najib, D Zawawi Imron)

Kecerdasan Spritual; melakukan introspeksi diri terhadap perjalanan hidup yang dijalani, membaca dan mendalami Al-Qu’an/Hadits sebagai sarana mendapatkan ilmu atau hikmah, mendekatkan diri pada Allah melalui dzikir dan ibadah supaya komunikasi berlangsung intensif, dan berdakwah pada orang lain setelah diri mencapai taraf tertentu sehingga tugas pewaris para Nabi dijalani dengan baik, mengajar sebagai kesenangan dalam hidup, dan senang melakukan amal sholeh (KH. Idris Jauhari, Ilham Arifin, Ary Ginanjar Agustian)

Setiap orang sebenarnya memiliki banyak Kecerdasan Berganda melebihi yang disebutkan di atas, hanya untuk pengembangan keberhasilan proses BO, peningkatan karier dan pekerjaan masa depan, perlu memfokuskan diri untuk mendalami satu atau dua kecerdasan berganda saja.

Manfaat memahami berbagai gaya belajar dan kecerdasan berganda adalah:

  1. Untuk dapat BO dengan mudah, dan memudahkan Anda menerapkan prinsip belajar seumur hidup, sebab telah mengetahui cara yang paling efektif dan mudah.
  2. Untuk mengendalikan hidup Anda. Semua orang memiliki gaya yang khas, menurut Dr. Robert Sternberg sebagai gaya mengatur. “Cara yang disukai siswa dalam menggunakan kecerdasan mereka,” katanya “sama pentingnya dengan kumpulan kecerdasan itu sendiri.” Sebenarnya semua orang perlu mengatur aktivitasnya sendiri. Dan dalam melakukannya, mereka akan memiliki gaya pengaturan diri yang membuat mereka nyaman. Otak, perasaan dan hati mengendalikan aktivitas seperti pemerintah; legislatif (menciptakan, menfungsikan, membayangkan dan merencanakan), ekskutif (penerapan dan tindakan) yudikatif (penilaian, evaluasi dan perbandingan). Pemerintah mental ini melibatkan ketiga fungsi, setiap orang memiliki salah satu yang dominan.
  3. Untuk guru dan orang tua; mereka bisa memahami bermacam-macam gaya belajar dan kecerdasan berganda yang dimiliki anak didik atau anaknya, sehingga bisa melayani semua perbedaan yang ada sesuai kebutuhan. Bagi orang tua bisa menghilangkan kasih sayang berlebihan pada salah satu anak karena ternyata mereka semua berpotensi atau memiliki kecerdasan berbeda sesuai dengan gaya masing-masing, hanya masalahnya belum dioptimalkan.
  4. Bagi yang menekuni suatu profesi tertentu, menguasai kecerdasan berganda akan membantu menangani kesulitan-kesulitan yang dihadapi saat menekuni pekerjaan, sebab diri telah memahami kecerdasan berganda yang dimiliki.
  5. Bagi yang berwiraswasta, hal ini membantu memudahkan mereka untuk menemukan gaya uniknya dalam bekerja, memberikan cara yang tepat menangani masalah-masalah yang timbul, menumbuhkan kreativitas, inovasi dan terobosan baru yang dibutuhkan.

 

Beberapa cara mengetahui 8 Kecerdasan Berganda Howard Gardner merupakan hasil pembacaan kreatif saya terhadap buku Revolusi Cara Belajar karya Gordon Dryden & Jeannete Vos, diperbaiki dengan buku Cara Belajar Cepat Abad 21 karya Coline Rose & Malcolm J. Nicholl, saya sempurnakan dengan dua konsep baru yakni Kecerdasan Spritual dan Kecerdasan Otodidaktor, jadi bentuk soal jawab adalah rekayasa saya pribadi.

 

Tes Kecerdasan Berganda dan Gaya Belajar telah diuji coba pada kurang lebih sekitar 1000 orang di Madura, Palembang, Samarinda, Jabodetabek dengan hasil; setiap orang yakin bahwa dirinya cerdas, menghancurkan tembok penghalang agar sukses dalam belajar, mampu belajar dengan gaya masing-masing, mengetahui apa yang harus dilakukan untuk sukses dan mampu belajar mandiri.

 

 

 

 

 

 

Anda ingin menaklukkan abad 21? Anda berhasrat menjalani hidup yang bahagia dunia dan akhirat? Anda mau Sukses belajar sendiri? Anda membutuhkan panduan untuk Belajar Otodidak (BO) yang lengkap? Anda bertekad untuk berhasil dengan segala keterbatasan yang dimiliki?

 

BACA BUKU INI, ANDA PASTI UNTUNG

 

Selama ini belajar dipersempit pada ruang sekolah atau universitas, padahal ruang belajar sebenarnya adalah semesta. Rutinitas hidup sehari-hari dijadikan kebiasaan tanpa makna, padahal merupakan media pembelajaran yang paling baik. Akselarasi perubahan tidak diimbangi dengan kemampuan untuk menyesuaikan diri, sebab pembelajaran sudah dianggap selesai. Kompleksitas masalah membuat manusia kebingungan, padahal manusia makhluk yang sempurna. Konon, Anda hidup di Akhir zaman, padahal apa yang telah Anda dilakukan?

Solusi terbaik dari semua itu ialah berupaya Belajar Otodidak (BO) seumur hidup.

Ini merupakan rahasia kesuksesan Nabi Muhammad SAW sebagai manusia paripurna terbaik sepanjang zaman; “Tuntutlah Ilmu dari Pangkuan Ibu sampai ke Liang Lahat.”

Buku ini dibutuhkan bagi siapa saja yang menjalani kehidupan dalam abad 21 ini, termasuk diri Anda Sendiri.

 

“MENGAPA BUKU INI BARU ADA SEKARANG?”

 

 

 

 

 

 

2 responses to “Buku KOG: Belajar Otodidak Sampai Mati

  1. reni iskandanti

    Maret 13, 2014 at 2:00 pm

    apakah bisa di ikuti oleh buruh migran indonesia

     
    • Penulis Sam

      Maret 18, 2015 at 9:35 am

      seluruh dunia boleh ikut KOG

       

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: