RSS

Kebingungan Membawa Kedamaian

09 Agu

Kebingungan Membawa Kedamaian

Ahmad Zamhari Hasan

Orang di desaku, memanggilku Munu. Padahal nama asliku, adalah Muhammad Nurkholis. Mungkin karena aku tidak berpendirian pada salah satu kelompok; Muhammadiyah atau Nahdhatul Ulama, dua organisasi Islam yang ada di desaku, sedang organisasi Islam yang lain kalaupun ada, jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Rumahku yang terletak di tengah-tengah desa, berbaur dengan rumah-rumah penduduk dari kedua kelompok.

Meski bukan termasuk salah satu di antara keduanya, aku bangga pada mereka. Mereka hidup tentram, damai, dan saling menghormati. Perbedaan pendapat pasti ada, keduanya saling berupaya untuk memahami keadaan masing-masing. Setiap pertentangan yang muncul bisa diatasi.

Kecuali pertentangan kali ini; perbedaan menyangkut Idul Fitri. Jauh hari pimpinan pusat Muhammadiyah mengumumkan bahwa mereka akan melaksanakan Idul Fitri terlebih dahulu, sedang NU mengikuti pemerintah, sepakat melaksanakan sehari kemudian.

Orang-orang sibuk memikirkan pelaksanaan shalat Id, aku pusing pada diriku sendiri. Berdiri di mana, di antara dua persimpangan jalan. Mengikuti Muhammadiyah, hatiku tidak suka. Mengikuti NU, pikiranku tidak setuju. Dalam lubuk hati paling dalam, aku ingin agar keduanya berjalan seiring sesama. Memilih hati, mengabaikan akal yang merupakan karunia Allah, membuatku tergantung. Sebaliknya memilih akal, berarti menjauhkan diri dari hidayah Allah, sebab hidayah berjalan melewati pintu hati, bukan akal.

“Gimana, Munu? Mati kutu kau sekarang!” Rudi menyapaku di warung kopi, dekat pertigaan jalan desa.

“Bukan mati kutu, bingung! Aku tidak mengerti bagaimana mungkin kita berbeda melaksanakan Idul Fitri, padahal mendiami negara yang sama. Perbedaan antara Indonesia bagian Barat dengan Indonesia bagian tengah, hanya satu jam, sedang perbedaan dengan Indonesia Timur sekitar dua jam. Perbedaan yang begitu dekat, anehnya membuat kita berbeda menetapkan pelaksanaan hari raya Idul Fitri dalam hitungan hari. Kalau berbeda jam, misalnya orang-orang Muhammadiyah melaksanakan pukul 06.00 pagi, dan orang-orang NU melaksanakan pukul 07.00 pagi, wajar, karena jarak waktu hanya sejam. Tapi ini berbeda sehari.”

“Muhammadiyah menggunakan Hisap, dan NU menggunakan Rukyah, lumrah berbeda.”

“Lagi-lagi persoalannya, orang-orang Muhammadiyah menggunakan akal, dengan melakukan hisap. Sementara orang-orang NU menggunakan panca indera yang berpusat di hati. Kenapa antara keduanya tidak digabung?”

“Sok filosofis! Paling penting sebagai orang NU ikut pimpinan saja.”

“Tidak boleh begitu,” tegur Sudaryono dari belakang. “Kita harus memiliki pendirian dalam melakukan hari raya.”

“Apa? Aku tidak punya pendirian?” Rudi naik pitam.

“Buktinya hanya ikut-ikutan!” Suara Sudaryono juga meninggi.

“Kau juga ikut-ikutan. Kalau sesuai prinsip sendiri, mengapa tidak melaksanakan hari raya Sabtu?”

“Jangan ngawur!”

“Kau yang ngawur.” Keduanya tak mampu menahan amarah. Mereka berusaha saling mendekati, dan hampir terjadi perkelahian. Aku menghalangi, dengan berdiri di antara mereka.

“Tenang Rud! Kamu juga, Yon. Mari kita bicarakan secara baik-baik.” Nafas keduanya turun naik, terengah-engah menahan amarah.

“Duduk di tempat masing-masing dengan tenang!” perintahku.

“Hmmm hmmm!” Keduanya menarik nafas, dan duduk di sebelah kanan dan kiriku.

“Desa kita, hidup damai selama puluhan, bahkan ratusan tahun. Hanya masalah kecil begini akan ribut. Persoalan sepele yang kalian ributkan, bisa berujung pada pertengkaran yang lebih besar. Berapa banyak kerusuhan di negeri ini, yang awalnya disebabkan kelakuan anak muda yang tidak bertanggung-jawab seperti kita. Kita harus belajar menahan diri.” Kuperhatikan mereka berdua; Rudy menundukkan wajahnya, Sudaryono menatap ke depan.

“Persoalan antara suku Madura dan Dayak di Kalimantan, kerusuhan antar pemeluk agama di Maluku, dan kerusuhan antar kampung di Jakarta, beberapa contoh riil, dimana kita anak muda, menjadi penyebab awal, karena membiarkan emosi mengendalikan diri kita, bukan kita yang mengedalikan emosi. Begitu kerusuhan meletus, susah menyembuhkan luka yang terlanjur menganga lebar. Untung sudah reda sekarang. Jangan sampai kita memulai yang baru, dengan berbuat kerusuhan di desa ini. Kita sebagai generasi muda harus memberi tauladan yang baik sebagai generasi yang mampu mempertanggung-jawabkan segala tingkah lagku,” mereka diam mendengarkan dengan seksama. “Ayo, salaman!” Mereka saling pandang, lantas mengulurkan tangan masing-masing.

“Maafkan, aku Rud!”

“Aku, juga Yon.” Senyum di antara mereka merekah kembali, aku gembira melihatnya.

Perseteruan antara dua pemuda memang bisa di atasi, masalah lain muncul. Ada kecendrungan baru yang buruk beberapa hari menjelang hari raya. Orang-orang NU dan Muhammadiyah, mulai berkelompok saat pelaksanaan shalat Tarawih. Entah siapa yang mengatur, sebelah utara ditempati orang NU, dan sebelah selatan ditempati orang Muhammadiyah. Sebelumnya tidak pernah terjadi. Keluar dari masjid kembali secara berkelompok. Ini buruk menurutku. Jika semangat kekelompokan menjadi fanatismu buta, maka hanya tinggal menunggu percikan api kecil, untuk membakar seluruhnya.

Aku berusaha melobi pimpinan masing-masing untuk mengadakan pertemuan bersama, membahas masalah ini. Jika dibiarkan pengelompokan dan kasak kusuk, yang membicarakan yang satu dengan yang lain, dikhawatirkan akan menimbulkan kesalahpahaman. Kesalahpahaman yang akan membawa malapetaka yang tidak diinginkan. Mereka bersedia bermusyawarah di masjid pada malam Kamis.

“Saudara-saudara sekalian, pada pertemuan kali ini, kita akan membicarakan tentang pelaksanaan shalat Idul Fitri di desa tercinta ini. Mengingat Muhammdiyah akan melaksanakan hari Kamis, dan NU akan melaksanakan hari Jum’at. Bagaimana mengatur takbiran, mengatur shalat Idul Fitri, dan acara silaturrahim. Pertama dipersilahkan H. Abdul Karim pimpinan Muhammadiyah ranting desa ini memulai duluan, mengingat mereka akan melaksanakan besok.”

“Terima kasih. Aku cemas melihat perkembangan yang terjadi akhir-akhir ini, yang dipicu adanya perbedaan pelaksanaan shalat Idul Fitri. Sebagai pimpinan di sini aku melimpahkan mekanisme takbiran, shalat Id, dan silaturrahim pada pimpinan NU. Apapun keputusanya kami hormati.”

“Tidak terserah sampean saja!” seru Kiai Rahman ketua ranting NU.

“Berhubung saling menyerahkan, maka sebaiknya dibahas satu-satu, dicari pemecahan bersama, dan kita sepakati. Setuju?”

“Setujuuu!” sahut hadirin.

“Masalah pertama ialah takbiran. Apa pendapat kalian?”

“Mengenai takbiran, tidak usah takbiran keliling dan tidak usah memakai pengeras suara, cukup di rumah masing-masing. Tidak hanya berlaku bagi orang Muhammadiyah, termasuk pihak NU.”

“Saya, mewakili pihak NU setuju. Itu berarti saling menghormati, tanpa mengganggu salah satu pihak.”

“Bagaimana yang lain?”

“Setujuuu!”

“Untuk pelaksanaan shalat Id, sebenarnya bukan masalah, karena kami orang-orang Muhammadiyah biasa melaksanakan di tanah lapang. Rencananya di lapangan sepakbola desa, jadi kalian bisa menggunakan masjid. Hanya pengeras suara di pindah sementara ke lapangan,” usul Sudaryono.

“Tidak masalaaah!”

“Untuk silaturrahim,” aku menimpali. “Kita bisa saling berkunjung, hari Kamis orang-orang NU bersilaturahim ke rumah orang-orang Muhammadiyah, hari berikutnya giliran orang-orang Muhammadiyah yang bersilaturahim ke rumah orang-orang NU. Tentu bagi orang Muhammadiyah tidak usah menyuguhkan makanan, karena orang-orang NU sedang berpuasa. Bila pada masa mendatang terjadi sebaliknya, kebijakan ini tetap berlaku. Kalian setuju?”

“Sangat setujuuu!”

“Berarti kita telah menyepakati tiga hal pokok; takbiran tanpa pengeras suara di rumah masing-masing di malam takbiran, shalat Id di lapangan bagi Muhmmadiyah dan di Masjid bagi NU, ketiga silaturrahiem dilaksanakan dengan cara saling mengunjungi antara salah satu pihak. Kita sepakat berbeda, tetap dalam kesatuan.”

“Bagaimana denganmu, Munu? Muhammadiyah bukan, NU bukan.” Aku kaget, tak tahu harus berbuat apa.

“Ya, betuuul,” sahut hadirin kompak.

“A…ku,” aku berpikir keras. “Aku akan ikut kedua kelompok saja.”

“Ha ha ha!” mereka tertawa.

“Tidak boleh begitu, kamu harus punya pendirian yang tegas.”

“Sudahlah! Tidak perlu mempersoalkan Munu, paling penting permasalahan antar kita berhasil disepakati. Biarkan Munu dengan keyakinannya.” Pertemuan berakhir. Mereka saling berjabat tangan. Aku gembira melihat kenyataan ini, sekaligus bingung. Bagaimana dengan diriku?

Aku diam-diam berbuka puasa pada hari Kamis, tapi melaksanakan shalat Id pada hari Jum’at. Hitung-hitung mengakomodasi kedua kelompok. Mengenai mana yang benar hanya Allah yang tahu.

Seorang makmum hanya mampu mengikuti imam, tanggung jawab kebenaran berada di tangan mereka. Maka diperlukan sikap berhati-hati, teliti, dan melihat kenyataan di masyarakat, dalam menentukan suatu keputusan.

Warga desa benar-benar memahami prinsip musyawarah. Mereka menjalankan kesepakatan dengan patuh. Tidak ada pengelompokan dalam pergaulan, tidak ada perselisihan, dan tidak ada permusuhan. Kedua belah pihak saling mengerti, menyangkut keyakinan masing-masing.

Wonosari, 10 Januari 2003

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 9, 2008 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: