RSS

makalah romadhon

09 Agu

Optimalisasi Potensi Diri

Upaya Mewujudkan Impian Menjadi Kenyataan

Zamhari Hasan[i]

Setiap manusia memiliki impian; ingin menjadi anak pintar, orang yang berguna, orang kaya, orang terhormat, ingin menjadi; pegawai, dokter, presiden, penulis terkenal, tokoh masyarakat dan lain-lain. Nah bagaimana cara mencapai impian kita? Menjadi pokok bahasan dalam tulisan ini.

Para santri atau pelajar sebagai generasi penerus masyarakat, memiliki tanggung jawab untuk mempelopori upaya-upaya yang dilakukan guna mencapai impian mereka, bukan malah menjadi sumber masalah baru. Sebab para santri atau pelajar yang berjiwa muda memiliki tenaga yang enerjik, keberanian, kemauan yang kuat, tekad, semangat, dan kekuatan yang membara untuk melakukan sesuatu yang spektakuler. Ada beberapa langkah yang bisa ditempuh untuk mencapai impian yakni meliputi lima potensi dasar yang dimiliki manusia; pikiran, imajinasi, perasaan, fisik, dan hati. Kelima potensi ini dioptimalisasikan sedemikian rupa, sehingga impian yang selama ini mengawang-awang di angkasa, bisa didaratkan di bumi.

Optimalisasi Pikiran

Manusia dilahirkan dengan anugerah pikiran yang luar biasa. Sampai luar biasanya anugerah yang berupa pikiran ini sampai Descrates berkata “Aku berpikir, maka aku ada”. Jadi identitas manusia terletak pada pikirannya. Hal inilah yang melahirkan gerakan rasionalisme di Barat, dan menyebar ke berbagai belahan dunia lainnya. Lantas kita memiliki persepsi yang sama bahwa sesuatu yang bertentangan dengan pikiran adalah irrasional (tidak masuk akal) yang tidak perlu diperhatikan. Sayangnya kenyataan hidup sehari-hari menawarkan banyak irrasionalitas sehingga perlahan-lahan upaya manusia untuk mendewakan pikirannya semata mulai tergeser. Ini bukan berarti pikiran tidak lagi penting bagi manusia, pikiran tetap penting, tapi bukan segala-galanya. Artinya pikiran harus difungsikan sebagaimana mestinya, tanpa menafikan faktor lain dalam diri yang bisa membimbing pada kesuksesan.

Pikiran perlu diasah terus menerus dengan berbagai cara; memikirkan kenyataan hidup, menganalisa persoalan, membaca buku, membaca fenomena alam, membaca informasi lewat berbagai sumber termasuk internet. Sebab seperti yang dikatakan Plutarch “Pikiran bukan sebuah wadah untuk diisi, melainkan api yang harus dinyalakan.” Pikiran yang dimiliki manusia perlu dinyalakan dengan beberapa cara tadi, sebab ibarat api yang tidak akan menyala kalau tidak dinyalakan. Pada zaman purba untuk membuat api lewat benturan batu atau gesekan kayu, dalam zaman postmodern, bisa memanfaatkan kemajuan yang ditawarkan teknologi.

Optimalisasi pikiran adalah upaya seseorang untuk mengoptimalkan pikiran yang dimiliki sampai batas maksimal, sehingga ide-ide brilian lahir setiap saat. Ide-ide yang ada akan menjadi acuan dasar menyusun langkah guna menyikapi kenyataan hidup.

Optimalisasi Imajinasi

Menurut Paul Edwards imajinasi adalah “daya untuk membentuk gambaran (imaji) atau konsep-konsep mental yang tidak didapatkan secara langsung dari sensasi (pengindraan)1”. Dari definisi imajinasi ini jelas bahwa imajinasi adalah daya yang dimiliki setiap manusia dalam upaya menciptakan berbagai macam imaji atau gambaran tertentu yang diinginkan atau menciptakan konsep-konsep mental yang memungkinkan. Perbedaan antara fantasi dan imajinasi terletak pada kemungkinan dari imaji atau konsep mental, dalam fantasi gambaran tentang sesuatu yang tak mungkin, sedang imajinasi berkaitan dengan sesuatu yang mungkin.

Setiap saat kita dihantam berbagai macam citra yang mucul lewat iklan, informasi, film, tragedi, kenyataan hidup, dan fenomena kehidupan. Citra-citra yang ada secara tidak sadar tersimpan dalam memori kita, dan secara langsung atau tidak langsung akan menimbulkan citra-citra baru dalam diri kita. Biasanya citra-citra ini lantas diasah oleh pikiran untuk selanjutnya mampu melahirkan ide-ide yang cemerlang.

Biasanya dalam suasana kesendirian, sunyi, termenung, dan terdiam sesaat, secara acak timbul citra tentang sesuatu, berbenturan dengan citra lain, dan begitulah terus menerus, sampai kita mampu mengolah citra ini menjadi “sesuatu” yang berarti bagi kehidupan. Kemampuan mengolah imajinasi merupakan langkah penting untuk mengoptimalisasikan imajinasi. Kalau kita saksikan film-film terbaru Hollywood yang meraih Box Office adalah film-film yang menunjukkan kekuatan imajinasi manusia, misalnya dalam film Charles Anggel terbaru, Bad Boys II, The Hulk, dan The Medallion. Film-film ini tidak akan menghasilkan adegan-adegan yang spektakuler tanpa bantuan imajinasi.

Peran imajinasi penting tidak hanya untuk industri film, iklan, penulis, tapi untuk bisnisman, insinyur, pengacara, dokter, penyiar, designer, pialang, penulis, pedagang, petani, murid dan profesi apapun. Dengan imajinasi yang kuat akan membawa warna baru pada profesi yang sedang digeluti.

Optimalisasi Perasaan

Perasaan merupakan potensi manusia yang sering terlupakan, padahal dalam beberapa hal faktor perasaan manusia menentukan keputusan yang hendak diambil, mengambil peran pikiran dalam diri manusia, dan menjadi salah satu sarana penopang kesuksesan. Dalam ilmu psikologi sekarang banyak ditemukan bahwa perasaan memegang peranan sangat penting dalam kehidupan kita. Hanya masalahnya bagaimana kita mampu menjadikan perasaan sebagai sarana mewujudkan impian?

Perasaan manusia yang meliputi sedih, gembira, marah, takut, berani, tekad, kecewa, putus asa dan nafsu. Semua jenis perasaan ini dioptimalisasikan dalam pengertian mampu dikendalikan, diarahkan, dan disalurkan pada jalur yang tepat. Misalnya tidak terlalu sedih menghadapi kegagalan, tidak terlalu gembira menghadapi kesuksesan, menyalurkan kekecewaan pada hal yang positif, pantang menyerah tanpa mengenal kata putus asa, takut hanya pada Tuhan, berani menempuh resiko apapun, bertekad melakukan yang terbaik dalam hidup, dan menyalurkan nafsu pada jalur yang tepat bukan sembarangan. Inilah salah satu contoh optimalisasi perasaan.

Optimalisasi Hati

Menghadapi kenyataan hidup yang tak menentu, situasi yang buruk, dan krisis, kita dituntut untuk berbesar hati menghadapinya. Berbesar hati tidak dalam pengertian pasrah, tapi bersikap tenang, bijaksana, sabar, dan memperkuat signal dengan Tuhan. Kita harus bijaksana melihat krisis, tenang menghadapi masalah, sabar pada musibah, dan tidak kalah pentingnya memperkuat hubungan dengan Allah.

Memperkuat hubungan dengan Allah lewat; shalat lima waktu secara khusuk sehingga kita merasa sedang berbicara denganNYA, memperkuat dengan Dhuha dan Tahajjud, berdzikir guna menyucikan hati yang setiap hari dikotori debu-debu kehidupan, memasrahkan hasil usaha pada Allah setelah melakukan kerja keras secara gigih:

Artinya; jika kamu memiliki keinginan yang kuat, maka bertawakkallah pada Allah.

Biasanya dalam posisi terjepit kita ingat Tuhan, maka seruan “Oh my God, thank’s God, Help me God!” adalah bentuk ekspresi manusia yang pada saat terjepit membutuhkan Tuhan dalam dirinya. Hanya jeleknya manusia butuh pada saat terjepit, sehingga signal hubungan manusia dengan Tuhan menjadi tidak begitu dekat. Seharusnya signal ini tetap dipelihara setiap hari, sehingga ketika terjepit Tuhan benar-benar membantu kita. Hubungan manusia dengan Tuhan berlangsung dalam wilayah hati. Maka menjaga hati sama artinya dengan menjaga hubungan manusia dengan Tuhan.

Hati yang bersih akan mendekatkan diri pada Tuhan, dan membuat kita mampu menyikapi segala sesuatu sebagaimana mestinya. Jadi optimalisasi hati diwujudkan pada berbagai upaya kita untuk melakukan hal-hal yang baik pada sesama dan pada Tuhan, seperti; jujur, adil, rendah hati, toleran, dan ibadah.

Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita berbenturan dengan keberuntungan, ketidakberuntungan, kebetulan dan sesuatu yang di luar dugaan. Beberapa kenyataan sosial inilah yang membimbing manusia menyadari keterbatasannnya, kesadaran yang membimbing pada kekuatan besar yang berada di luar diri yakni Tuhan.

Optimalisasi Fisik

Fisik manusia merupakan organ yang menampung semua potensi manusia; pikiran, imajinasi, perasaan, dan hati. Menjaga agar fisik selalu terjaga dengan baik adalah suatu keharusan, agar optimalisasi ini membawa hasil yang maksimal. Sebagai ilustrasi, dalam sistem belajar cepat ditemukan kenyataan bahwa banyak pelajar yang mampu belajar dengan cepat setelah guru mampu mensinergikan antara gerakan fisik dengan belajar. Ini menunjukkan bahwa antara pikiran dan fisik berjalan seiring sesama.

Optimalisasi fisik mengandung pengertian, kita harus mampu memberikan yang terbaik pada fisik agar berfungsi dengan benar. Perwujudannya adalah dengan makan yang teratur, bergizi baik, mengatur istirahat, dan rutin olahraga.

Berbekal fisik yang sehat, kerja keras bisa dilakukan. Kata paling penting dalam suasana krisis adalah kerja keras. Putaran waktu digunakan untuk bekerja keras mencapai yang diinginkan. Tanpa kerja keras mustahil mencapai apa yang diimpikan. Kerja keras bisa dilakukan dalam kondisi fisik yang prima.

Penutup

Kita perlu melakukan optimalisasi pikiran, imajinasi, perasaan, hati, dan fisik dalam berupaya mencapai apa yang kita impikan. Artinya seluruh potensi dasar manusia dikembangkan, difungsikan dan dimaksimalkan sedemikian rupa, sampai impian tidak lagi menjadi impian, tapi menjadi kenyataan yang benar-benar ada.

Dalam situasi krisis yang terjadi seperti yang terjadi di negara kita, diperlukan langkah-langkah brilian yang dimulai dari diri kita para santri dan pelajar sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang majemuk. Langkah-langkah yang diambil dilakukan secara intergral, mulai dari rakyat kecil, para santri dan pelajar, generasi muda, kelas menengah, pemerintah, sampai seluruh lapisan masyarakat.

Jadi upaya optimalisasi ini harus dilakukan secara bersama oleh seluruh santri dan pelajar, didukung pesantren atau sekolah dengan mengambil kebijakan yang memegang prinsip “memberi kail bukan ikan,” biar mereka yang merubah kail menjadi ikan. Upaya merubah kail menjadi ikan memerlukan optimalisasi pikiran, imajinasi, perasaan, hati, dan fisik.


1 H. Tedjoworo, Imaji dan Imajinasi Suatu Telaah Filsafat Postmodern, Kanisius 2001


[i] Penulis buku : CARA SUKSES BERDAGANG SECARA ISLAMI, Dari Pedagang Kecil Menjadi Pengusaha Elit dan Novel : Bidadari Postmodern yang segera diterbitkan penerbit Saka.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 9, 2008 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: