RSS

zaman keanehan

09 Agu

ZAMAN KEANEHAN

Bersikap tulus sesama

Tanpa harap imbal jasa

Barang aneh dalam masa

Orang berbuat mendapat apa

Tanpa apa-apa tidak ada sikap

Seorang yang tak berpamrih

Dianggap gila

Seorang yang ikhlas

Diduga menyimpan sesuatu di balik muka

Seorang yang tak ingin apa-apa

Diklaim menginginkan apa-apa

Zaman ini adalah keanehan-keanehan

Menjelma menjadi nyata

Menjarah adalah biasa

Korupsi adalah nyata

Maling berdasi adalah pahlawan

Diagungkan semua dapat bagian

Kebohongan milik semua

Kelicikikan alat kesuksesan

Keangkuhan bekal kebenaran

Kecongkakan suara kenyataan

Kejujuran barang langka

Ketulusan jadi legenda

Kebaikan perlahan sirna

Dalam zaman penuh gelora


MENGHIAS DUNIA

Topeng peng peng

Kedok dok dok

Perisai sai sai

Tirai rai rai

Menutup mata dunia

Memperindah pandangn

Menghalangi hakekat

Menelanjangi kepalsuan

Topeng peng peng

Kedok dok dok

Perisai sai sai

Tirai rai rai

Menjalani hidup sampai mengkerut

Menghias mulut dengan pemanis rasa

Merekah bibir gincu-gincu merah

Warna permukaan warna tersembunyi

Kebaikan-kebaikan terselimuti

Kebenaran-kebenaran ternodai

Keburukan-keburukan terwujudi

Kesamaran-kesamaran memenuhi

Topeng peng peng

Kedok dok dok

Perisai sai sai

Tirai rai rai

Hidup zaman ini

Membongkar topeng mengingkari

Memusnahkan kedok melangkahi

Meremukkan perisai menyalahi

Menghancurkan tirai melewati

Norma-norma zaman tak berbentuk

Bersikap arif pada yang tampak

Bijaksana melihat yang tertangkap

Mampu menyingkap yang tersingkap


MENELUSURI PILIHAN

Persimpangan jalan menghadang di depan pelupuk mata

Melangkah ke barat, hati gelisah

Melangkah ke timur, pikiran resah

Melangkah ke selatan, nafsu bergelora

Melangkah ke utara, badan merona

Memilih tidak melangkah, menyalahi norma

Dalam kebingungan

Kaki melangkah mengikuti naluri

Diri patuh pada arah yang dituju

Sesekali ke barat, menghasilkan karya

Sesekali ke timur, melahirkan karsa

Sesekali ke selatan, menciptakan ceria

Sesekali ke utara, menghadirkan sejahtera

Semua arah ada dalam ada

Tidak bisa menafikan salah satu

Masing-masing berjalan sesuai irama

Melantunkan arti seribu satu

Persimpangan jalan memiliki banyak makna

Seperti kata yang mengalir memenuhi berbagai penafsiran

Memenjaran pilihan ke salah satu arah

Sama dengan memenjarakan kata dalam kamus

Biarlah kata menunjukkan makna sendiri

Seperti yang digagas presiden penyair

Atau penjara-penjara kata kita musnahkan saja

Sehingga kata-kata berbicara tentang dirinya sendiri

Hidup adalah memilih berbagai pilihan

Tidak memilih bukan berarti mati

Memilih segala pilihan bukan berarti bunglon

Memutuskan satu pilihan bukan berarti picik

Biarkan diri-diri memutuskan yang dikehendaki

Wonosari, 14 Oktober 2004


SAHABAT KEHIDUPAN

Jalan yang kutempuh penuh liku-liku

Duri-duri menghalangi setiap langkah

Menghambat rencana-rencana yang dibuat

Menjauhkan cita dari harapan

Aku berjalan di lereng bukit terjal

Jalan setapak sempit berkelok-kelok

Menyaksikan ke bawah rasa ngeri datang

Melihat ke depan tujuan yang ingin dicapai menjauh

Aku menelusuri tepi jurang

Senantiasa bersama ketakutan dalam derap langkah

Memandang ke belakang yang tampak kegelapan

Menengok ke samping tak ada jalan keluar

Melongok mata memandang tak menemukan yang dicari

Aku hidup bersama kecemasan

Menyelimuti malam, memeluk siang

Tak ada waktu tersisa

Semua sirna dalam kewas-wasan

Aku ingin meraih bintang di angkasa

Memperssembahkan pada Indonesia

Sebagai sumbangsih pada negara

Bintang menjauh, kabut hitam menemani

Aku asa pada pelukan rembulan

Hangat menyejukkan jiwa

Gelisah terhadap ketidakpastian

Rindu belaian kasih kunjung sampai

Aku adalah sahabat ketidakberuntungan

Memiliki pikiran tak terasah

Dikaruniai pisau tak dapat ditajamkan

Memperoleh emas tak dapat disaring

0Menyerah pada keadaan

Aku teman kegagalan

Setiap jalan yang ditempuh buntu

Berusaha keluar tak menemukan jalan

Melewati berkelok-kelok tak mendapatkan pintu

Membelai kemulekan dalam mimpi

Mencium bau ranum dunia khayal

Aku berkeras melahirkan karya

Pasar tak mampu menerima

Hasil orang-orang tak berguna

Media miliki siapa-siapa

Bukan siapa tak dapat tempat

Kemana harus kucari jalan

Sementara semua sisi saling menutup

Melingkupi diri dalam penjara

Kunci terali hilang entah ke mana

Kehidupan masih menyisakan asa

Asal peras keringat tanpa pamrih

Melahirkan sesuatu berarti kelak

Demi anak cucu tercinta

Menanam pohon kehidupan

Tak dapat dinikmati diri

Memetik buah dari sorga

Hidup bahagia bersama bidadari

Memetik prahara di neraka

Hidup sengsara bersama setan

Siapa dapat memilih mendapat apa

Tidak mendapat apa-apa tanpa kuasa

Aku bisa menggapai dunia pada hari ini

Bernyanyi lagu-lagu ceria

Menari di atas derita

Nurani diliputi sengsara

Pilihan yang tak diharapkan

Nasib

Sial

Buntu

Gagal

Adalah teman sejati dalam kehidupan

Aku tak pernah menyerah pada nasib

Aku tak takut kesialan

Aku tak khawatir jalan buntu

Aku tak cemas kegagalan

Menghasilkan gading dalam belaian ajal


MATI TERTAWA

Aku pemuja kesenangan

Gerik gerik menuju keceriaan

Tingkah laku tentang kegembiraan

Senyum

Sumringah

Tawa

Terbahak

Ceria

Adalah detik-detik waktu yang dilewati

Diskotik

Cafe

Dunia gemerlap

Pesta

Mall

Dolly

Konser

Pertunjukkan

Bioskop

Tempat-tempat keramat sehari-hari

Hidup hanya sebentar tuk menikmati

Segala yang tersedia

Kerja alat kesenangan

Kreatifitas alat keceriaan

Peras otot alat kegembiraan

Pikiran alat kebahagiaan

Inilah alasan hidup

Inilah bekal mati yang tak berarti

Hidup sesaat dihayati

Mati ketiadaan hakiki


MERANA

Penjarah menjadi raja

Menguasai kerajaan

Memerintah sekehendak hati

Tak peduli hati nurani

Para pemimpin bermunculan

sebagai pemimpin kelompok

Bukan negarawan

Bukan pemimpin rakyat

Penghamba kekuasaan

Pengamat berbicara sampai berbusa

Ekonom berdebat sampai berbisa-bisa

Cendikiawan mengabdi pada harta

Intelektual berlomba-lomba menghamba

Pejabat berpikir tetap berkuasa

Pegawai tuan yang tidak ingin menjadi hamba

Petani menjadi budak keserakahan

Nelayan menjadi babu di lautan

Pedagang kecil menjadi sapi perahan

Pengusaha merampok kekayaan

Republik tidak menyisakan sisa-sisa


KEJAHATAN RAJA DUNIA

Kebenaran berada di atas puncak gunung

Berdiri agung di bawah langit

Terbang tinggi di angkasa

Menjauh dari bumi

Tempat manusia bersemayam

Kebenaran menyimpan kepalsuan

Butuh waktu menyingkap topengnya

Maka klaim pada kebenaran

Adalah klaim pada kepalsuan

Apa yang benar sekarang

Menjadi kekeliruan esok hari

Menjadi abu-abu pada masa depan

Menjadi barang rongsokan dalam kehidupan

Orang-orang berilusi

“Kejahatan tidak pernah menang melawan kebenaran”

Legenda

Cerita

Mitos

Media

Mengamini secara patuh

Kenyataan tak pernah mengamini

Kenyataan mengungkapkan apa yang ingin dinyatakan

Bertahun-tahun diperintah seperti budak adalah kejahatan

Kita diam seribu bahasa

Sudah tahu wakil rakyat hendak menjarah

Kita memilihnya atas nama agama

Sadar orang yang memimpin adalah Durna

Kita terpesona

Kita membanggakan Durna masa kini

George Bush

Tony Blair

Fidel Castro

Hambali

Dr. Azhari

Osamah bin Laden

“Bukankah kejahatan lebih unggul dari kebenaran?”

MENDALAMI PUASA

Cahaya bulan menyinari hari

Menerbitkan rentetan waktu terbaik sepanjang tahun

Menyambut senyum, mendapat pahala

Menyambut bahagia, mendapat sorga

Menyambut sedih, mendapat neraka

Cahaya bulan menyinari hari

Kumpulan waktu paling bermakna dalam hidup

Menahan lapar dari nasi

Menahan haus dari air

Menahan diri dari yang halal dalam sinar matahari

Menahan mulut dari bisa

Menahan suara dari kata

Menahan bisikan dari nafsu

Cahaya bulan menyinari hari

Sejumlah hari dalam bulan menyinari yang lain

Membaca ayat-ayat tertulis rapi

Menemukan hakekat makna bagi diri

Membaca ayat-ayat tak tertulis

Menemukan jati diri

Menundukkan wajah di atas sajadah

Melantunkan dzikir setiap waktu

Menyatukan diri dengan Ilahi

Mendekatkan hati pada yang punya

Memperoleh segala harapan berupa ridha

Abadi sepanjang masa


MAKNA BELUM TENTU BERMAKNA SAMA

Mata sendu menyiratkan luka

Kerut di kening menyuratkan gelisah

Muka masam menandakan marah

Senyum manis menunjukkan bahagia

Tawa renyuh menciptakan senang

Senyum sinis menggambarkan dendam

Makna tanda-tanda dari berbagai zaman

Tak mengalami perubahan sampai kini

Padahal segala sesuatu berubah

Sistem tanda yang dibakukan tertulis

Tercetak abadi

Dalam kehidupan sehari-hari

Berbagai tanda-tanda mengalami perombakan total

Dalam buku tidak ada yang berubah

Kehidupan sehari-hari lebih menawarkan banyak kemungkinan dari buku

Belajar dari kehidupan sehari-hari keharusan tak terbantahkan

Pelajar

Mahasiswa

Guru

Dosen

Profesor

Masyarakat

Senantiasa menggali tanda-tanda yang ada

Tidak terjebak dalam buku-buku mati

Hidup yang mengalir sungai-sungai perubahan

Jangan dihambat mengatasnamakan perpustakaan

Punya makna dalam kurun waktu tertentu

Mata sendu belum tentu bermakna luka

Kerut belum tentu bermakna gelisah

Muka masam belum tentu bermakna marah

Senyum belum tentu bermakna bahagia

Tawa renyah belum tentu bermakna senang

Senyum sinis belum tentu bermakna dendam

Kehidupan sehari-hari menawarkan makna berbeda-beda


paham butuh

raih malam raup siang

peras keringat alir darah

kencang otot keluar tenaga

puncak pikir segenap rasa

korban hati manis mulut

gapai cita capai mimpi

penuhi lumbung isi sesuap

KESEMPURNAAN

Menerangi manusia dengan cahaya

Menyentuh hati nurani

Membangkitkan pikiran

Mengendalikan perasaan

Mencapai kesempurnaan

ANGKA-ANGKA MUKJIZAT

Di antara kegelapan-kegelapan, terdapat cahaya

Dalam kesunyian malam-malam, mengandung sinar kehidupan

Di atas hitam-hitam, ada sebekarkas terang yang diharapkan

Asa yang datang, menunggu waktu sekali setahun

Konon antara tanggal ganjil di akhir bulan

21, 23, 25, 27, 29

Angka-angka mukjizat

Terkjebak angka tak dapat apa-apa


SATU KATA

Kilau

Silau

Risau

Parau

Dunia

Rasa

Karsa

Cipta

Karya

Jelma

Hidup

Pulas

Mimpi

Malas

Sepi

nafas

Mati

Dunia

Hidup

Mati

Karib

Manusia

Akhirat

Hidup

Hidup

Hidup

Manusia


Terali

Sepi

Sendiri

Sunyi

Damai

Gemuruh

Baur

Dalam

Diri

OH

Oh

Ah

Dah

Ku

Pah

Wonosari, 16 Oktober 2004


HIDUP ABADI

Usia berkurang setiap saat

Karya turut berkurang

Hidup menjalani taqdir

Melewati hari tanpa arti

Padi menguning ingin dipetik

Dinikmati memenuhi kebutuhan

Memanen padi yang kempes

Usia dibiarkan lewat tanpa makna

Umur boleh berkurang

Badan boleh bertambah rusak

Raga boleh menua

Karya tak ikut mati

Kreasi tak ikut sirna

Hidup jadi abadi


PUNCAK KESEDIHAN

Bukit runtuh

Menyebar jatuh

Menimbulkan resah

Meningggalkan keluh kesah

Mata-mata merona merah

Hujaman pisau-pisau kepiluan menancam

Berdararah-darah

Tercabik-cabik

Terkoyak-koyak

Menghujam ulu kesedihan

Hujan air mata menerpa

Kecewa

Sengsara

Merana

Menyatu dalam syahdu

Bersatu di lain waktu

Wonosari, 10 Oktober 2004

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 9, 2008 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: