RSS

“Belajar Otodidak Sebagai Kuliah Alternatif”

01 Sep

Jumladi[i]

Judul buku : “Mau Kuliah Alternatif? Belajar Otodidak, Dong!”

Penulis : Ahmad Zamhari Hasan

Penerbit : Ka-Tulis-Tiwa-Press Jakarta

Tebal : 294 Halaman

Cet. : I, Mei 2007

Selama ini masyarakat Indonesia dihadapkan permasalahan hidup yang bertambah kompleks, abad 21 yang semakin tidak jelas arahnya, dan kerancuan berbagai nilai yang ada dalam kehidupan. Salah satu penyebabnya ialah ruang belajar hanya dipersempit pada universitas formal, padahal mereka bisa belajar otodidak tentang berbagai macam ilmu pengetahuan dan hal-hal yang dibutuhkan guna menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.

Belajar pada intinya ialah upaya seseorang untuk memahami, mengerti, mendalami sesuatu, sehingga menjadi arif dan bijaksana dalam menjalani kehidupan. Jika ruang belajar dibatasi pada ruang universitas formal, maka pada intinya manusia membelenggu dirinya dengan penjara yang dibuatnya sendiri. Ruang belajar manusia ialah semesta dan kehidupan sehari-hari. Paling tidak ada dua hal yang harus dilakukan supaya berhasil belajar seumur hidup.

Pertama; memperluas ruang belajar pada hakikat aslinya. Dengan paradigma baru ini, setiap orang dapat belajar pada; makhluk hidup, pergantian siang dan malam, pagi hari yang cerah, matahari, bulan, bintang, dan seluruh tata surya, angin, awan, hujan, pegunungan, tanah, bukit, pohon, tanaman, dan segala sesuatu yang ada di dalam tanah dan di antara langit dan bumi. Bukankah ini terlalu besar dan banyak untuk dipelajari? Untuk itu, otodidaktor (orang yang belajar otodidak) berupaya mempelajari dan memperdalam salah satu di antaranya yakni yang paling disenangi.

Sebagai misal, otodidaktor yang senang memikirkan manusia, dapat memilih salah satu bidang ilmu tentang manusia, contoh psikologi. Sebagai proses pembelajaran awal, otodidaktor dapat mencari file-file di internet tentang psikologi, mempelajarinya secara teliti dengan membuang informasi yang kurang akurat dan salah. Melanjutkan dengan pergi ke toko-toko buku untuk membeli buku-buku utama yang harus dipelajari. Membaca buku yang dibeli secara kreatif dengan menulis poin-poin pentingnya. Membandingkan apa yang dibaca dengan memahami karakter suatu masyarakat sebagai bentuk studi lapangan. Terakhir, menulis dalam bentuk makalah sampai mampu menghasilkan sebuah buku kelak.

Kedua; kehidupan sehari-sehari dari luar kelihatan seperti menjalani rutinitas harian yang membosankan, padahal sebuah keberhasilan di suatu bidang yang dipelajari merupakan akumulasi dari proses menjalani kehidupan sehari-hari. Ini bermakna, menjalani kehidupan sehari-hari dengan berbagai macam aktivitas, menyediakan ruang untuk berkontemplasi lewat ibadah spiritual; shahadat, shalat, puasa, dan zakat (haji jika mampu seumur hidup sekali), menyediakan waktu untuk membaca buku atau keadaan sekitar, dan berolah raga secukupnya sebagai bentuk relaksasi.

Dengan dua langkah yang dilakukan secara konsisten di atas, otodidaktor akan mampu menerapkan prinsip long live education atau belajar seumur hidup. Kemampuan menerapkan prinsip ini dalam kenyataan hidup merupakan cara paling efektif untuk mengatasi kompleksitas permasalahan dalam abad 21, dan mendorong seseorang untuk menjalani hidup apa adanya.

Ini juga merupakan langkah yang tepat dalam rangka mengatasi berbagai macam permasalahan yang ditimbulkan karena jurang pemisah antara ruang belajar di universitas dengan realitas kehidupan sehari-hari, yang sering dikeluhkan selama ini. Para otodidaktor, yang senantiasa berbaur dengan kehidupan masyarakat, menyelami permasalahan yang mereka hadapi, sekaligus hidup di tengah-tengah masyarakat sambil belajar otodidak, dapat berhasil tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga bermanfaat untuk orang lain dan masyarakat luas.

Di samping itu, manusia perlu lebih memahami dirinya dari aspek semua potensi yang dimiliki seperti; imajinasi, pikiran, perasaan, hati, kesadaran dan tubuh. Pemahaman ini dilanjutkan dengan upaya melakukan sinergi antar seluruh potensi, sehingga setiap langkah yang diambil merupakan yang terbaik dari yang baik.

Semua uraian di atas, dijelaskan secara terperinci dalam buku “Mau Kuliah Alternatif? Belajar Otodidak, Dong!” Sebuah buku baru yang menawarkan cakrawala baru, sekaligus mengeksplorasi dunia baru yakni Belajar Otodidak. Selama ini banyak pertanyaan orang yang dilontarkan tentang belajar otodidak, namun jawaban yang diperoleh kurang memuaskan. Buku ini bisa memberikan jawaban yang memuaskan.

Salah satu pertanyaan yang sering dikemukan orang, bagaimana cara belajar otodidak, sehingga mampu melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Hamka, D. Zawawi Imron, Emha Ainun Nadjib, KH. Moh. Idris Jauhari, bahkan Muhammad Yunus? Buku ini, menawarkan cara yang paling tepat dan terbaik untuk berhasil sebagaimana tokoh-tokoh besar sukses dalam hidupnya. Apalagi, dalam awal setiap bab, diawali dengan puisi yang mampu menggugah perasaan, menghidupkan imajinasi, menimbulkan inspirasi dan melahirkan perenungan sebelum membaca secara terperinci.

Sekarang, kesempatan terbuka lebat bagi akademisi dan otodidaktor untuk terus menerus belajar sepanjang hayat, dengan caranya masing-masing. Ibarat sedang menuju kota Singapura, bisa dilakukan secepat mungkin dengan pesawat terbang atau sedikit lebih lambat dengan kapal laut, paling penting dapat mencapai tujuan dengan usaha yang benar, cara yang benar, dan melewati jalan yang benar. Tidak kuliah formal di universitas, tidak bisa lagi dijadikan alasan untuk berhasil.


[i] Editor film animasi dan mahasiswa Unindra Jakarta

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 1, 2008 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: