RSS

Semoga Jabodetabek Bebas Banjir!

01 Sep

 

Jakarta kena banjir, sudah biasa.

Jakarta kena banjir bandang, biasa.

Jakarta lumpuh total oleh banjir bandang, luar biasa.

Jakarta tersapu banjir lima tahunan, luar biasa.

Jakarta hampir seluruhnya kena banjir, luar biasa.

(puisi banjir tahun 2007)

Tahun kemarin, sejak 1 Februari sampai 5 Februari 2007, Jakarta mandi besar oleh banjir, baik yang berasal dari hujan di wilayah Jakarta sendiri, maupun kiriman dari Bogor dan Depok. Orang membandingkan dengan banjir 2 Fenruari 2002, ternyata hal ini lebih besar lagi, bahkan ada yang berpendapat, bahwa banjir ini merupakan yang terbesar dalam kurun waktu 20 tahun terakhir ini. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi, padahal teknologi semakin maju, Jakarta semakin kaya dan merupakan ibu kota dari bumi pertiwi Indonesia?

Alam adalah ciptaaan Allah yang dibentuk sedemikian rupa supaya nyaman didiami manusia. Allah tidak berhenti disitu, melainkan juga membuat “sunnatullah” di jagad raya, yang sebagian di antaranya dibaca oleh Newton sebagai teori gravitasi, Enstein dengan teori relativitas, munculnya nanoteknologi dan berbagai penemuan lainnya yang bermanfaan bagi manusia. Musim hujan dan kemarau juga bagian dari sunnatullah.

Sayangnya anugerah alam yang luar biasa ini dieksploitasi manusia dengan mengatasnamakan pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan rakyat, pertambahan penduduk, dan setumpuk alasan lainnya, sehingga penebangan hutan secara berlebihan dibolehkan, hutan dirubah menjadi pemukiman penduduk, pohon-pohon ditebang untuk membuat mall, rumah mewah dan “kota baru”, wilayah yang seharusnya menjadi resapan air dirubah fungsinya, sehingga bisa ditebak jika kemudian alam yang kokoh menjadi lemah.

Ketika alam melemah, maka hujan yang seharusnya menjadi rahmat, sebab dengan hujan tanaman tumbuh subur, ketersediaan air bagi manusia mencukupi, dan seluruh makhluk hidup dapat eksis di bumi, tapi kini justru hujan berubah menjadi prahara, bencana dan musibah. Setiap kali musim hujan, orang-orang diresapi rasa takut terkena banjir. Alhasil, seharusnya mereka bersyukur, malah meratapi diri dengan bencana yang dialami.

Jika Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) hujan secara bersamaan atau berbeda hitungan jam saja, bisa ditebak Jakarta pasti banjir, hanya tinggal melihat besar kecilnya banjir. Jika intensitas hujan tinggi dan berlangsung sehari atau dua hari, maka banjir bandang tinggal ditunggu kedatanggannya oleh masyarakat Jakarta.

Salah seorang pakar lingkungan mengatakan bahwa sebuah wilayah harus memiliki 40% sebagai daerah resapan air, sedang di Jakarta wiliayah ini hanya tinggal 6%. Wilayah puncak Bogor yang seharusnya menjadi penahan air, kini dipenuhi bangunan sehingga air otomatis turun ke sungai. Beberapa “kota baru” bermunculan di wilayah Jabodetabek, yang sebagian besar di antaranya tidak memperhatikan pembangunan saluran air yang memadai, dan memanfaatkan lahan yang seharusnya diperuntukkan bagi pemohonan. Alhasil, banjir paling dasyat menimpa Jakarta selamaempat hari berturut-turut, suatu “prestasi yang menyedihkan.”

Ketika banjir melanda, para pejabat sibuk melakukan kunjungan; mulai presiden, wakil presiden, menteri Gubernur, walikota, Bupati sampai artis berlomba-lomba membantu, sayangnya “niat baik” saja tidak cukup tanpa dibarengi sebuah skema atau konsep kerja yang jelas, sehingga warga yang tertimpa musibah banjir seharunya makan secara teratur, tidur di tempat yang nyaman –minimal tidak terkena hujan atau angin malam-, mendapatkan pengobatan gratis, mendapatkan pakaian yang memadai, dan semua hal yang menjadi hak mereka, justru yang terjadi sebaliknya. Para pengungsi tidur di tempat terbuka, bahkan ada yang tidur di pekuburan, tempat pengungsian mereka sangat memprihatinkan, mereka makan secara tidak teratur, dua orang meninggal karena kedinginan, layanan kesehatan hanya ada tempat tertentu, dan setumpuk kesialan lainnya, sehingga musibah banjir ini demikian memprihatinkan dilihat dari berbagai aspek, padahal bantuan datang seperti “banjir yang tidak beraturan”.

Tanpa bermaksud menyalahkan pemerintah, hanya bermaksud memberi masukan. Seharusnya pemerintah memiliki sebuah sentral penanganan bencana, memang sudah ada Satkorlak, tapi fungsinya kurang optimal. Dari pusat penanganan bencana ini, pemerintah membentuk hal serupa di tingkat Propinsi, Kabupaten dan Kecamatan, khususnya di wilayah-wilayah rawan bencana. Ketika musibah berlangsung, pusat penanganan bencana yang ada di Kabupaten atau Kecamatan langsung bertindak sesuai situasi kondisi yang ada dengan mengerahkan sumber daya yang dimiliki seluruhnya. Sedang pusat penanganan bencana yang ada di Propensi atau pusat mengadakan rapat secara intesif untuk memikirkan strategi yang tepat dalam menangani bencana dengan mengantisipasi segala kemungkinan yang ada. Selesai rapat bagi tugas dan laksanakan dengan berkoordinasi dengan satuan penanganan bencana yang ada di Kabupaten dan Kecamatan. Pusat komonda tetap di tangan Pusat Penanganan Bencana Propensi atau pemerintah pusat. Sehingga seluruh wilyayah dan masyarakat yang tertimpa bencana dapat diberi “pelayanan”, tempat pengungsian yang layak, dan makan secara teratur, sedang bagi yang sakit memperoleh pengobatan gratis.

Untuk daerah yang rawan banjir, di gudang Pusat Penanganan Bencana tingkat kecamatan dan kabupaten terdapat persediaan; perahu karet yang cukup, tenda yang memadai (sesuai dengan jumlah penduduk), truk khusus banjir, makanan, air bersih dan obat-obatan disediakan “sebulan menjelang banjir tiba”, dan peralatan lainnya yang dibutuhkan masyarakat. Seluruh aset ini dijaga dengan baik dan dikembalikan ke tempat semula selesai musibah banjir. Sehingga jika dibutuhkan di wilayah lainnya tinggal memindahnya dengan truk.

Begitu musibah selesai di atasi, pemerintah secepatnya mengambil langkah-langkah agar tidak terulang kembali; melarang penebangan pohon, melarang penggantian lahan resapan air menjadi wilayah pemukiman atau “kota baru”, melarang membuang sampah sembarangan dengan sanksi yang berat, melarang pembangunan di sekitar sungai, mengeruk sungai-sungai yang ada di seluruh Jabodetabek, menanam pohon sebanyak-sabanyaknya, membangun rumah susun bagi masyarakat yang tinggal di pinggir sungai dan bangunan mereka harus dihancurkan rata dengan tanah, membangun kembali seluruh sungai yang ada di Jabodetabek, melihat tata letak kota secara keseluruhan dengan memperbaiki yang selama ini telah keliru, memperbaiki seluruh saluran air yang ada, menyelesaikan pembangunan banjir kanal Timur dan Utara, dan Jakarta berkoordinasi dengan Jawab Barat dan Banten dalam rangka menyelamatkan Jakarta sebagai ibukota propinsi dari musibah banjir.

Sebagian agenda pemerintah, baru melaksanakan sebagian kecil di antaranya, sehingga terbukti tidak pernah mampu menangani banjir. Sudah tiba waktunya bekerja, bekerja dan bekerja untuk menangani banjir, di banding rapat, rapat, dan rapat yang “kerjanya amburadul”. Ada kalanya menyelesaikan masalah yang besari dimulai dengan menyelesaikan masalah-masalah kecil, berkembang pada yang menengah dan menyelesaikan masalah yang besar, sehingga seluruhnya dapat diatasi dengan baik. Kapan hal ini dapat berlangsung? Tentu saat ini juga. Jika tidak, siklus lima tahunan akan menjadi siklus tahunan. Lho! Hah! Wah! Aduuh!

Siapa tahu dengan langkah-langkah di atas, pada tahun 2008-2009 Jakarta terbebas dari banjir. Pada warga Jabodetabek, mari berdoa bersama-sama agar wilayah tersebut bebas dari banjir.

Ya Allah, bebaskanlah Jabodetabek dari banjir! Alfattehah!

Amien!

 

Depok, 30 Agustus 2008

 

* Penulis Buku Berniaga Dengan Iman, Kiat-Kiat Agamis Menjadi Saudagar Sukses Novel; Bidadari Posmodern, buku “BELAJAR OTODIDAK SAMPAI MATI, Pembelajaran Seumur Hidup Sebagai Kebutuhan Mendesak Saat Ini!” (belum terbit) yang merupakan edisi revisi dari buku “Mau Kuliah Alternatif? BELAJAR OTODIDAK, Dong!”  2007, Ka Tulis Tiwa Press Jakarta, yang bisa Anda beli langsung pada penulis, hubungi (08176956688) Segera terbit Learning For Living (LFL); 3 LANGKAH SEDERHANA MENUJU KESUKSESAN. Kini menjadi Trainer Pelatihan Learning For Living untuk Pelajar, Mahasiswa dan Umum tentang Belajar Otodidak, Wira Usaha Islam dan Mukmin Sejati. Blog  ; www. sampenulis.wordpress.com, Email;sam_penulis@yahoo.com, otodidaktor@yahoo.co.id

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 1, 2008 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: