RSS

Humor padu

04 Sep

SCRIPT I

“PADU”

Dalam panggung terdapat ruang kelas, enam meja dan enam kursi, satu meja guru dan kursinya, gambar-gambar yang mendukung untuk sekolahan PADU. Awalnya ada enam murid yang semuanya sudah tua, lalu muncul seorang guru sebagai pertanda diawalinya pelajaran (adegan). Dialog murid menggunakan logat orang tua.

Guru

Selamat malam anak-anak!

Murid I

Sekarang masih pagi, Bu!

Murid V

Guru yang masih muda saja udah pikun, apalagi kita.

Guru

(membuka kaca mata hitam) maaf anak-anakku manis! (melihat yang disebut anak-anak sudah tua) Hah! (mulut menganga lebar)

Murid II

Kemasukan kecoak mulutnya, BU!

Murid III

Bukan kecoak, tapi kodok, ha ha ha!

Semua

Ha ha ha! (suasana gaduh)

Guru

Saya ke sini akan mengajar anak-anak manis di kelas PADU atau paling tidak anak-anak TK, lha! Ini yang diajar malah pada bongkotan semua.

Murid IV

Teman-teman, Bu guru kurang gaul rupanya. PADU itu artinya Pendidikan Auu Dah Udzur, jadi para muridnya menjelang dikubur.

Guru

Oh! Begitu toh!

Murid VI

TK bukan Taman Kanak-Kanak, tapi Taman Kakek-Kakek.

Semua

Ha ha ha! (suasana gaduh kembali)

Guru

Diaaaam! (semua murid terdiam) Sekarang, saya akan memulai pelajaran menyusun pantun. Dalam menyusun pantun, bait satu dan dua sampiran, sedang bait tiga dan empat isi. Calon ahli kubur, pahaaam!

Murid I

Paham sih paham, kasih contoh, Bu!

Guru

Hidup di kota hidup dalam gedung

Mati di kota mati di bawah gunung

Jika anda sedang bingung

Janganlah banyak merenung

Murid II

Saya bisa, Bu!

Jalan-jalan ke pasar

Para pedagang ramai berjualan

Jika Bu Guru yang cantik nyasar

Mampir ke rumah jadi istri simpanan

Murid IV

Apa masih kuat?

Murid II

Fisik boleh keriput, tapi joni tetap menyala bagai daun muda. (mengepalkan tangan ke atas)

Guru

Pembicaraan kalian mulai ngelantur, ayo siapa lagi yang ingin berpantun

Murid VI

Saya, Bu!

Ancol pantai yang indah

Mata terbuai panorama tiada tara

Keindahan Bu Guru sungguh wah

Membuat kami basah senantiasa

Murid I

Apanya yang basah?

Murid VI

Sudah tidak usah dibahas!

Murid V

Basah-basah, seluruh tubuh

Ah ah menyentuh kalbu (nyanyi lagu dangdut sambil)

Kakek-kakek kembali ribut, guru berusaha menenangkan, setelah tenang dilanjutkan dengan pantun lagi.

Murid III

Aku juga ingin berpantun ria.

Jalan-jalan ke Los Angeles

Murid IV

Kejauhan, punya ongkos nggak

Murid VI

Bayar uang kontrakan aja ngutang, malah mau ke Los Angeles

Murid II

Mungkin ke los pasar kali?

Semua

Ha ha ha!

Murid III

Pantunku kan belum selesai, lihat kelanjutannya dong.

Jalan-jalan ke Los Angeles

Banyak orang yang apes

Kalau kita apes, nggak mungkin pergi bukan?

Semua

Mana pantunnya? (mereka melempari murid III dengan kertas, murid itu menghindari, adegan selesai)


SCRIPT II

“MABOK BAE”

Di atas panggung dibuat suasana perempatan jalan, ada empat orang dengan properti dua jrigen (1 minyak tanah, satunya bensin), minuman keras, produk pemanis, Remi, dan bak besar.

Orang I

Malam ini, kita benar-benar akan terbang ke angkasa (mencampur minyak tanah, bensin, minuman keras dan produk pemanis dalam bak besar)

Orang II

Terbang ke angkasa, apa ke liang lahat?

Orang III

Masa minuman keras dicampur minyak tanah dan bensin

Orang IV

Inilah seninya mabuk teman, jika minum mumanan keras biasa, kita tidak akan benar-benar mabuk. Dengan campuran ini, kita pasti mabuk

Mereka saling berbagi gelas, orang I, II, III sama-sama minum sungguh-sungguh, orang ke IV pura-pura saja, mereka mengambil minuman lagi, adegan sama.

Orang I

Ayo tos teman-teman!

Orang II

Sebelum tos, kita harus berikrar. Selamat Tinggal kesedihan

Orang III

Selamat tinggal kesadaran

Orang IV

Selamat! Karena sebentar lagi kita semua akan menjadi orang gila. Ha ha ha

Mereka tos bersama, lalu minum kembali, mereka sudah mulai mabuk.

Orang I

Wajahmu sangat cantik Amingwati, seperti bidadari di tong sampah

Orang II

Wajahmu jelek sekali Tora. Belakang panci yang hitam lebih bagus darimu.

Orang III

Hei! Dunia kok berputar-putar, aku seperti terayun-ayun di atas ayunan. Teman-teman ayo dorong aku (Orang IV mendorongnya, orang III terjatuh beneran)

Orang IV

(pura-pura mabuk) Aku lihat banyak kunag-kunang di sini (menunjuk para penonton) wow ada yang cantik seperti bulan, ada yang tampan seperti bintang.

Ketika mereka sedang mabuk, suara sirene polisi terdengar, bergegas mereka menyembunyikan semua properti di bawah bak besar yang dibalik, lalu salah seorang mengocok remi dan mulai membaginya. Saat itu dua polisi datang.

Polisi I

Saya dengar di sini ada tempat sekumpulan anak muda yang suka mabuk

Orang IV

Siapa yang mabuk? Kami asyik bermain poker nih!

Polisi II

Apa mungkin kita menerima laporan palsu

Orang II

Kami tidak menjual uang palsu, kalau gigi palsu ada. Nih! (menunjukkan gigi emasnya)

Orang III

Pak polisi tampan-tampan ya? (padahal polisinya cewek semua)

Orang I

Kami kumpulan orang yang terbuang, isi kehiduapan yang meradang, kalian semua kejang-kejang. Ha ha ha!

Polisi I

Untuk membuktikan kalian bersih atau tidak, kalian akan kami tes satu persatu, buat garis lurus Let!

Polisi II

Siap komandan (membuat garis lurus)

Polisi I

Ayo cepat berjalan di atas garis lurus ini

Orang I

Hanya berjalan saja, siapa takut? (dia berjalan sempoyongan di atas garis pertanda mabuk)

Polisi II

Sekarang giliran kamu orang hancur

Orang II

Saya bukan hancur, hanyak tak berbentuk saja (Amingwati berusaha salto, namun malah terjengkang)

Polisi I

Giliranmu, gendut!

Orang III

Sesam drum minyak tanah dilarang saling mengejek! (berjalan ke arah yang berbeda dengan garis)

Polisi II

Kau yang terakhir

Orang IV

Apa tidak kurang panjang garisnya?

Polisi II

Maksudmu?

Orang IV

Tes ini tidak ada artinya bagicu gitu lho! Sumpeh! (berjalan dengan tenang melewati garis)

Polisi I secara tak sengaja menambrak ember, lantas dia membukanya ternyata berisi jrigen dan botol minuman), tiga orang kaget melihat orang ke IV bisa, padahal mereka mabuk bersama.

Polisi I

Kalian tidak bisa mengelak lagi, bukan (mulai memborgol satu persatu)

Orang IV

Saya tidak mabuk, buktinya bisa melewati tes.

Polisi I

Kau bebas

Orang I, II, III

Dia berkhianat, sambil melemparinya dengan apa yang ada (orang ke IV berlarian ke luar panggung)

Polisi II

Dia yang benar karena tidak mau mabuk seperti kalian. Makanya lain kali, jangan Mabok Bae!

Orang I, II, III dibawa ke kantor polisi, sedang di panggung sebelah seorang penyanyi dangdut siap menyanyikan lagu Mabok Bae.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 4, 2008 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: