RSS

Tulisan Lepas


Beberapa Tokoh Inspirasi

Anda Ingin Sukses? Tirulah Tokoh-Tokoh Berikut Ini!

Fauzi Sholeh hanya lulusan SMP, pernah luntang-lantung hidup susah di Jakarta. Beberapa profesi pernah ditempuh seperti penyemir sepatu dan satpam, sebelum akhirnya terjun dalam bisnis perumahan. Awalnya berbekal uang 30 juta membeli tanah dan membangun rumah di atasnya. Saat membangun rajin membaca Yasin bersama tukangnya sebagai bentuk Tawakkal pada Allah. Alhamdulillah laku sebesar 50 Juta yang diinvestasikan pada tanah dan perumahan. Hal ini terus berkembang, sehingga beliau memiliki Perumahan Pesona Depok dan Pesona Kahyangan yang jumlahnya ribuan dengan harga rumah ratusan juta rupiah. Hebatnya lagi, beliau memberikan kesejahteraan pada karyawannya sebanya 22 gaji (normalnya 12, jika ikut PNS 13 gaji), bahkan 100 Karyawan Tetap diberi mobil. Luar biasanya lagi, sedekah beliau beberapa tahun terakhir hampir mencapai 100 milyar. SemogaAllah menerima amal baik beliau! Amien! Inilah teladan bagi pengusaha Muslim di Indonesia dan Dunia. Bagi saya, beliau adalah Abdurrahman Bin Auf Modern.

Frans Kafka suka menulis cerpen, novel dan tulisan lepas di sela-sela pekerjaannya di perusahaan asuransi, kebiasaan dipertahankan sampai meninggal dunia. Sebelum meninggal berpesan pada sahabatnya Max Brod untuk membakar karya-karyanya, tapi justru Max Brod menerbitkan karyanya. Hasilnya, jusrtu dia disebut pelopor sastra Posmodern (itu lho, zaman setelah modern). Padahal seumur hidup karyanya tidak ada yang dimuat media dan diterbitkan. Tapi setelah kematian, kesuksesan diraihnya.

Hamka hanya lulusan SR, tapi berkat kegigihan belajar seumur hidup, belajar dari satu langgar ke langgar lain pada Ustads di masanya, belajar sendiri ilmu yang berasal dari Timur Tengah dan Barat, akhirnya membuat beliau mampu menulis Tafsir Al-Azhar, padahal penafsir 30 Juz baru bisa dilakukan oleh Prof. Dr. Quraish Shihab. Hamka berhasil karena meneladani Nabi Muhammad SAW yakni Belajar Otodidak Seumur Hidup. Kisah lengkap ada di buku “Mau Kuliah Alternatif? BELAJAR OTODIDAK, Dong!”

Emha Ainun Jadjib selama 5 tahun “kuliah” di jalanan Marboro Jokjakarta bersama anak jalanan, pengasong dan orang terlantar. Cak Nun banyak belajar sendiri berbagai macam ilmu, sehingga rumahnya penuh dengan buku. Rumahnya dijadikan sarana berkumpul, berdiskusi dan berkaraya bagi banyak orang sekitar. Kebiasaan membaca dan belajar otodidak inilah yang membimbingnya meraih keberhasilan sebagai penyair, kolomnis, dan sastrawan tingkat Nasional dan Regional. Anak jalanan atau masyarakat marjinal dapat mengikuti jejaknya. Kisah lengkap ada di buku “Mau Kuliah Alternatif? BELAJAR OTODIDAK, Dong!”

Ibnu Hajar Al-Haithami mondok selama 10 tahun tapi merasa bodoh, awalnya bersabar, tapi pada tahun ke 10 saat sisi manusianyatidak tahan, dengan penuh rasa putus keluar dari pondok berjalan tanpa arah tujuan sampai di sebuah gua, dia istirahat. Di dalam gua, dia melihat air menetes perlahan-lahan dan ketika memindahkan pandangan ke tempat lain, ada batu berlubang akibat tetesan air. Dari sini muncul ilham “Masa manusia kalah dengan air, pasti dengan usaha yang gigih pantang menyerah akan berhasil juga.” Akhirnya beliau kembali ke pondok lagi, mulai belajar lebih tekun dengan pandangan baru yang terbuka. Hasilnya, belajar jadi mudah, sehingga banyak ilmu yang diserap. Wajar jika beliau mampu melahirkan Ulama’ dan Ilmuan di masanya.

Jika kisah hidup Anda ada kemiripan dengan salah satu tokoh di atas, tirulah langkah-langkah mereka dalam meniti tangga kesuksesan. Meniru sesuatu yang baik dari orang lain adalah sesuat yang dianjurkan, meski suri tauladan kita yang hakiki adalah Nabi Muhammad SAW. Sebab beliau merupakan manusia paripurna bagi segenap umat manusia sepanjang zaman.

Bersyukur Atas Kesuksesan Orang Lain

Suatu hari Nabi Muhammad bersiap-siap mengajar para sahabat. Tapi “pengajian atau majlis taklim” dalam bahasa orang sekarang, belum juga dimulai. Melihat kekhawatiran para sahabat, nabi berujar; “Tunggu, ahli surga sebentar lagi muncul.”

Mendengar hal itu, tentu saja para sahabat menunggu dengan rasa penasaran yang luar biasa. Muncullah Abu Bakr Shiddiq yang keimanannya melebihi seluruh penduduk langit dan bumi, tapi bukan beliau yang dimaksud. Muncullah Umar bin Khattab yang membuat umat Islam berani beribadah terang-terangan, tapi bukan beliau yang dimaksud. Muncullah Usman Bin Affan yang dermawan, tapi bukan beliau yang dimaksud. Muncullah Ali bin Abi Thalib, pasti beliau seru para sahabat sebab merupakan singa Allah yang ahli ilmu, tapi ternyata bukan. Tiada beberapa lama, muncullah seorang pemuda biasa yang kurang dikenal, tapi ternyata pemuda tersebutlah yang termasuk ahli surga. Tentu saja para sahabat bingung tidak mengerti. Nabi mengatakan bahwa pemuda tersebut sujud syukur setiap kali tetangganya mampu membeli sesuatu atau merasakan kebahagiaan.

(Maaf cerita ini saya peroleh dari seorang penceramah di Depok, jadi belum tahu haditsnya, jika ada pembaca yang mengetahui atau mempelajari hadits tersebut, mohon saling berbagi ilmu demi kebenaran)

Walau mendengar cerita tersebut sekitar setahun lalu lebih, tapi saya tidak pernah melupakannya. Entah mengapa, saya tercenung lama mendengar kisah penuh hikmah tersebut. Saya benar-benar merasa tersentuh bukan sekadar karena pemuda tersebut yang disebut ahli surga, bukannya para sahabat Nabi terkemuka yang disebut di atas, tapi lebih itu ialah kebesaran hati pemuda sesuatu yang perlu kita teladani.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa hubungan antara satu tetangga dengan tetangga lainnya berlangsung kurang harmonis karena sifat iri dan dengki yang ada pada setiap orang. Jika tetangga mampu membeli mobil, maka tetangga sebelah merasa iri dan bergosip macam-macam tentang tetangganya. Malah suatu waktu memaksakan diri untuk membeli mobil walau secara financial tidak mampu. Hasilnya, sebuah kehidupan yang tidak nyaman dan tentram tentunya. Sedang pemuda ahli surga justru merasa bahagia, malah bersujud syukur ketika tetangganya bahagia.

Hubungan antar teman yang akrab terkadang rusak karena sifat iri atas kemampuan temannya yang secara financial, emosional atau intelektual, sehingga persahabatan bisa menjadi musuh abadi. Sedang pemuda di atas justru berharap sahabatnya untuk lebih berhasil dari dirinya dengan bersujud syukur jika mendapatkan sesuatu atau meraih prestasi.

Hubungan antar saudara terkadang terjadi saling iri atau dengki, sehingga ada hasrat menjatuhkan atau minimal tidak mau membantu saudaranya karena takut lebih hebat dari dirinya. Sedang sang pemuda justru bersujud syukur kalau saudaranya berhasil, malah bersedia membantu dengan ilmu, harta dan doa untuk mendukungnya.

Hubungan antara ustads dengan ustads lain yang ahli ceramah, antara satu tokoh masyarakat dengan tokoh masyarakat lain, dan antara satu Kiai dengan Kiai lain, terkadang rusak jika salah satu pihak memiliki jamaah lebih banyak, punya hubungan yang dekat dengan kekuasaan atau lebih terkenal. Sedang pemuda ahli surga justru membantu dengan ilmu yang dimiliki agar Ustad, tokoh masyarakat dan Kiai lebih bermanfaat bagi masyarakat luas.

Hubungan antar teman sekantor, berusaha mencari muka pada bos dan terkadang saling menjatuhkan. Sedang sang pemuda malah berharap temannya lebih cepat dipromosikan dan naik jabatan supaya mampu menghidupi keluarganya, sedang sang pemuda masih bujangan.

Hubungan antar pegawai negeri terkadang rusak karena berharap lebih cepat naik jabatan, jika ada yang dipromosikan, kasak kusuk beredar dengan cepat dan fitnah pun menyebar. Sedang pemuda ahli surga justru memberikan dukungan moril agar orang lain sukses, malah ditambah bersujud pada Allah karena memperoleh karunia Allah.

Inilah daftrar alasan kenapa pemuda tersebut menjadi ahli surga. Jika Anda ingin menjadi ahli surga, maka tirulah daftar sikap hidup di atas dalam kehidupan sehari-hari. Insya Allah Anda mendapatkan keistimewaan yang sama dari Allah. Mudah saat membacanya, tapi Anda akan berhadapan dengan “musuh” dari dalam diri sendiri saat berusaha melaksanakannya. Taklukkan “musuh” dalam diri Anda, surga merindukan kehadiran Anda. Hikmah yang dapat dipetik dari hal di atas ialah;

Lawan sifat iri dan dengki yang ada dalam diri kita masing-masing, malah harus dihancurkan berkeping-keping tanpa sisa.

Berbahagialah saat orang lain bahagia dan tersenyumlah saat orang lain tersenyum

Bersujud syukur setiap mendengar sahabat, teman, saudara, kerabat, tetangga, dan orang lain memperoleh sesuatu yang menyenangkan atau meraih kesuksesan.

Berbesar hati untuk membantu orang lain walau diri sendiri lebih membutuhkan

Sebarkan kebaikan di muka bumi dengan menyenangi kelebihan orang lain dan menutupi kekurangannya

Marilah kita berlomba-lomba menjadi ahli surga dengan meneladani pemuda di atas. Ini merupakan sebuah dorongan motivasi bagi generasi muda agar melakukan sesuatu yang bermanfaat pada orang lain dengan langkah sederhana dan biasa saja, namun bernilai luar biasa. Semoga kita semua mampu mengamalkan hal ini! Amien!

1000 Kegagalan 1000 Kesuksesan

 

            Selama ini banyak di antara kita yang senantiasa mengalami kegagalan demi kegagalan, baik karena faktor diri sendiri, maupun dari luar. Tahukah Anda semakin banyak Anda gagal, maka kesuksesan akan Anda raih semakin besar asal tidak mengenal kata menyerah. Buktinya?

            Ibnu Hajar belajar 10 tahun, berarti ribuan kali gagal belajar, tapi tetap merasa bodoh, padahal teman-temannya banyak lulus dan berhasil. Justru karena tidak menyerah dan mampu mengambil ilham dari air yang menembus batu, hasilnya beliau menjadi Ulama’ terkemuka di zamannya dan banyak menghasilkan Ulama’ lainnya. Thomas Alva Edison gagal dalam 9944 percobaan, ketika berhasil pada percobaan yang ke 9945, maka kesuksesan besar diraih; dunia menyala terang berkat jasanya, 1033 hak paten berkaitan dengan bidang tersebut dimilikinya, dia kaya untuk diri sendiri, sekaligus anak keturunannya kaya raya.

            Saya pribadi mengalami ribuan kali kegagalan dalam hidup ini, tapi Alhamdulillah justru mengalami perkembangan yang hebat dalam kehidupan spiritual dan hasil karya tulis. 3 buku terbit karena kegagalan; “Berniaga Dengan Iman,” “Mau Kuliah Alternatif? Belajar Otodidak, Dong!”, dan novel Bidadari Posmodern. Sudah selesai ditulis buku Pelatihan Learning For Living (LFL) 3 Langkah Sederhana Menuju Kesuksesan Dunia dan Akhirat. Alhamdulillah, blog saya ini semakin padat isinya karena selama bulan Ramadhan, Allah memberi ide dan ilham yang banyak untuk ditulis. Belum lagi karya tulis lain yang telah saya tulis. Untuk hal spiritual, biarlah Allah yang tahu karena bukan buat konsumsi publik.

            Hal inilah yang membimbing saya guna menulis Rumus Kegagalan; 1000 Anda Gagal, maka 1000 kesuksesan menanti Anda. Dasarnya dalam Al-Qur’an “Sesunguhnya setelah kesulitan ada kemudahan” diulang kembali pada ayat selanjutnya; “Maka sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan,” tidak mungkin Allah mengulang dua kali jika tidak karena ingin meyakinkan hamba-hambaNya bahwa di balik kesulitan yang dihadapi, ada kemudahan, dan dibalik kegagalan ada kesuksesan, asal tentu saja terus berusaha mengerahkan segenap potensi yang dimiliki dengan tidak mengenal kata “PUTUS ASA”.

            Cobalah Anda hitung berapa kali Anda gagal dalam mencapai sesuatu seumur hidup, lalu hitung juga berapa kenikmatan, kebahagiaan, dan keindahan yang Anda peroleh? Insya Allah Anda mulai menyadari rumus baru ini.

            Bagimana dengan orang yang hidup miskin, terlantar dan teraniaya! Coba selidiki mendalam, mereka masih bernafas, masih dapat merasakan nikmatnya makan, masih dalam keadaan Muslim dan Mukmin. Bukankah cobaan berupa kemiskinan, penganiaayaan dan tersingkirkan sudah mendapatkan Tiket Gratis ke surga asal Muslim atau Mukmin? Kebahagiaan akhirat tiada bandingan dengan kebahagiaan di dunia ini.

 

 

Terburu-Buru Pangkal Kegagalan

 

            Selama ini banyak orang Indonesia yang ingin sukses, berhasil dan meraih cita-cita yang mereka idam-idamkan sejak kecil. Sayangnya, dalam proses mencapai semua itu, banyak masyarakat Indonesia yang berjatuhan di tengah jalan.

            Awalnya mereka sungguh merusaha mencapai sesuatu, bekerja sekuat tenaga, mengerahkan pikiran, imajinasi dan hati, setelah ada titik terang, di sinilah kesalahan timbul. “Titik terang” sudah dianggap penemuan baru yang segera berusaha dipublikasikan, disebarkan dan dipasarkan.

            Setelah tersebar, bahkan dipublikasikan di media cetak atau elektronik, justru banyak masalah bermunculan pada pada produk yang “terlanjur” dipasarkan. Hasilnya, semua menjadi hancur, kacau dan menghasilkan kegagalan yang menimbulkan frustasi. Inilah yang terjadi pada Blue energy dan banyak kegagalan lainnya.

            Salah satu masalahnya, orang Indonesia serba terburu-buru dalam melakukan dan menghasilkan sesuatu, hasilnya kegagalan. Seharusnya sebuah produk yang dihasilkan, diuji coba dulu dalam berbagai macam situasi dan kondisi, lakukan hal ini sampai-sampai tidak ada celah kekurangan. Sebab inilah yang dikenal Jepang dengan prinsip Kaizen yakni;

“Kaizen” adalah sebuah metode yang sangat dipegang teguh di Jepang. Ia adalah proses penyempurnaan secara terus menerus dan tiada henti. Kaizen inilah yang telah mengubah Jepang menjadi sebuah bangsa yang memiliki peradaban sangat maju, serta memiliki teknologi yang mengalahkan “Barat”… (ESQ, Ary Ginanjar Agustian, hal 184).

Setelah produk ini dipasarkan, jangan lalu ongkang-ongkang kaki menikmati keberhasilan, melainkan berusaha menyempurnakan produk yang dihasilkan, sehingga nantinya mampu menarik investor “Berkantong Tebal.”  Bahkan sampai tahap ini pun, perbaikan dan penyempurnaan terus menerus dilakukan.

Di samping itu, masalah lain yang dihadapi ialah proses pemasaran di 3 bulan atau tahun pertama biasanya mengalami kesulitan, tapi setelah itu pintu kesuksesan terbuka perlahan-lahan. Buatlah produk Anda menjad “Brand” yang mudah diingat orang, saat menggunakan produk Anda orang merasa “inilah yang dibutuhkan selama ini”, dan perkuat brand dengan melakukan hal-hal yang bersifat sosial agar menimbulkan simpati.

 

Bumi Allah, 17 Ramadhan

ERA KEBANGKITAN TUHAN?

Ahmad Zamhari Hasan*

Tuhan, telah lama menghilang dari berbagai diskusi tentang filsafat, sosiologi, dan antropologi. Keengganan membahas masalah ini, khususnya di bidang filsafat, mungkin karena terlalu disibukkan dengan berbagai macam masalah kemanusian yang menghantam manusia dari berbagai sudut, di samping tema kemanusiaan dianggap basi oleh sebagian orang. Dalam era postmodern (meski tidak setiap orang sependapat dengan istilah ini) segala sesuatu mengalami perombakan total. Lha wong semua meta-narasi dunia; idealisme, realisme, modernisme, positivisme, sampai agama mengalami dekonstruksi ulang, apalagi masalah Tuhan?

Dalam buku berjudul asli God and Philosophy ini, Eteienne Gilson seorang profesor di bidang filsafat dan sejarahnya, mencoba menghangatkan kembali diskusi tentang Tuhan. Mungkin yang jadi pertanyaan banyak orang masih aktualkah mendiskusikan Tuhan dalam zaman tak menentu ini?

Amerika semena-mena di Afganistan dan Irak dengan alasan demokrasi, musibah alam silih berganti menimpa berbagai bangsa di dunia, Aids merajalela tanpa kendali, bumi bertambah panas akibat menipisnya lapisan ozon, hutan menyisakan sejumlah daratan yang berkurang, nilai-nilai dalam kehidupan tak menentu, etika tidak lagi jadi sandaran hidup, agama disandang kulit luarnya saja, inilah sejumlah permasalahan yang sedang melanda dunia. Manusia bertambah pintar, tapi dunia tidak bertambah membaik, dua kontradiksi yang tak bisa diterima akal budi.

Dunia kini sedang berduka cita menghadapi musibah tak terduga yakni gempa berkekuatan 8,9 SR menurut BMG AS dan disertai tsunami yang menghantam sembilan negara Asia, bahkan sampai Afrika. Jumlah korban tewas sampai tulisan ini ditulis sekitar 23.700 –kemungkinan besar masih akan bertambah banyak- mengingat dasyatnya tsunami menelan apa saja. Indonesia sendiri termasuk salah satu negara yang paling parah karena NAD dan Sumut merupakan tempat terdekat dengan pusat gempa, bahkan menurut perkiraan jumlah korban bisa mencapai 10.000 orang, dengan kerugian yang tak ternilai harganya. Alam menumpahkan kemarahan, ada apa sebenarnya? Apakah hal ini berkaitan dengan eksploitasi manusia terhadap alam yang tanpa ambang batas? Mungkinkah pengaruh pemanasan global? Atau Tuhan sedang menguji manusia? Dalam kondisi terjepit orang menoleh kembali pada pencipta dan pengatur kehidupan yakni Tuhan.

Pembahasan Tentang tuhan dalam buku ini diawali dengan filsafat pada zaman Yunani mengenai Tuhan, Tuhan dan filsafat Kristen, Tuhan dan filsafat modern, dan diakhiri dengan Tuhan dan dunia Kontemporer.

Kebudayaan Barat bila diteliti secara detil diawali dengan zaman Yunani, sebab “mbahnya” suhu seperti Thales, Aristoteteles dan Plato pencetus filsafat berasal dari sana. Rujukan pada filsafat Yunani dalam membahas Tuhan wajar mulai dari sana. Tokoh Yunani yang dianggap mempeloporinya adalah Thales yang pernyataannya dikutip Aristoteles yakni “segala sesuatupada hakekatnya penuh dengan dewa.” Pada bagian lain Thales mengatakan bahwa inti segala sesuatu adalah air. Lantas filsuf Barat beberapa abad kemudian melakukan interpretasi bahwa dewa tertinggi dan kosmogenetik, merupakan satu kesatuan ilahi, yakni air.

Kesimpulan sederhana ini digugat habis oleh Etienne Gilson, setelah melakukan penelitian sejarah terhadap pernyataan-pernyataan Thales yang dikutip Aristoteles dan pernyataan Aristoteles sendiri, penyederhanaan kesimpulan tersebut keliru. Sebab tidak ada kutipan langsung atau tak langsung dari keduanya yang menunjukkan bahwa kesimpulan tadi berasal dari mereka. Ini murni kesalahan interpretasi filsuf Barat terhadap pernyataan Thales. Di sinilah John Barnet pengadakan pembacaan ulang yang cerdas, yang mana maksud Thales dengan pernyataan di dunia penuh dengan para dewa bukan bermakna “dewa-dewa” melainkan serangkaian energi fisik dan alam semata-mata seperti air, misalnya yang menurut ajarannya sendiri, merupakan prinsip pertama segala sesuatu.

Berdasar hal ini Etienne Gilson punya kesimpulan yang menarik membuat kita terbelalak. Menurutnya filsuf-filsfuf Yunani sebenarnya telah mampu merampungkan evolusi teologi natural Yunani, tapi hal ini tidak dilakukan karena khawatir kehilangan dewa-dewa mereka.

Pandangan Plato dalam larik-larik terkenal dari Republik sebagai definisi tentang dewanya cukup menarik untuk diperhatikan, “pencipta segala sesuatu yang imdah dan benar, bapak dari cahaya dan tuan dari cahaya di dunia yang tampak ini, dan sumber langsung dari nalar dan kebenaran dalam intelektual; dan inilah kekuatan yang harus menjadi tempat berpaling bagi manusia yang bermaksud bertindak secara rasional, baik dalam kehidupan publik maupun pribadi.” Definisi Plato ini menyerupai definisi Tuhan dalam agama Kristen (hal: 76).

Pada masa Kristen filsafat memunculkan St. Agustinus yang melakukan telaah ulang terhadap karya Plato, baik secara langsung maupun tidak langsung yakni pembacaan terhadap Platonis. Sedang Thomas Aquinas melakukan pembacaan terhadap Aristoteles, sehingga kalau Aristoteles pencetus semesta metavisika, Thomas Aquinas adalah seorang teolog.

Sayangnya sebagai seorang sejarawan filsafat seharusnya Etienne Gilson tidak melakukan pemutusan sejarah dalam membahas tentang Tuhan, maksud saya adalah pemutusan sejarah Islam. Mau tidak mau catatan sejarah filsafat tidak bisa dipalsukan pernah melewati filsafat Islam pada masa jayanya yang dihancurkan oleh Al-Ghozali dengan Thahafutdzut Falasifah (Kerancuan Filsafat), dan mencoba dibangkitkan kembali oleh Ibnu Rusd atau lebih dikenal sebagai Averus di Barat dengan bukunya Thahafutdzut Thahafut (Kerancuan dari Kerancuan). Hal ini diakui oleh Jeroslav Pelikan, Profesor pada universitas Yale AS, yang memberikan prakata dalam edisi bahasa Inggris.

Apalagi dalam buku Sosiologi Agama yang merupakan terjemahan dari buku The Sociology of Relegion, Max Weber menyatakan bahwa hanya Islam dan Yahudi yang merupakan agama teguh pada prinsip monoteistik, sedang Trinitas Kristen baru tampak memiliki kecendrungan monoteistik ketika dibedakan dengan bentuk-bentuk triteistik Hinduisme, Budhisme akhir dan Taoisme. Pengakuan Max Weber ini tambah meyakinkan kita tentang perlunya pembahasan Islam tentang Tuhan dalam suatu telaah terhadap masalah tersebut.

Pada zaman modern muncul Descrates dengan kesimpulan yang cukup berpengaruh sampai sekarang yakni membiarkan agama sebagaimana adanya; perkara iman semata-mata, bukan pengetahuan intelektual atau pembuktian rasional. Di sini termuat ide Descrates untuk membedakan antara hikmah kebijaksaan filosofis dengan hikmah kebijaksanaan teologis. Inilah yang membedakan antara dirinya dengan Thomas Aquinas dan St. Agustinus.

Thomas Aquinas berhasil mengubah Pikiran Tertinggi Aristoteteles menjadi Sang “Dia yang ada” dalam agama Kristen. Konsekwensinya dia mampu menaikkan prinsip filosofis pertama sampai pada Tuhan. Dengan berangkat dari hal ini, Descrates pun menggunakan Tuhan sebagai prinsip filosofis pertama.

Immanuel Kant dan Aguste Comte muncul di era kontemporer, yang pertama mempelopori kritisme terhadap teologi natural, bahkan dianggap “berhasil” menghancurkan sendi-sendi metavifisika, sedang yang kedua mengenalkan pendekatan ilmiah yang berdasar pengamatan, atau lebih dikenal sebagai pelopor positivisme.

Dari sinilah era baru dunia sains dan teknologi tampil ke permukaan serta menjadi primadona, hasilnya adalah ancaman kehancuran kehidupan manusia yang dipercepat. Seperti yang dijelaskan dalam pendahuluan di atas bahwa berbagai masalah yang timbul di dunia seperti semakin canggihnya mesin perang memakan pembuatnya sendiri, kloning, menipisnya lapisan ozon, liberalisasi tanpa mengenal budaya, timbul dari sains dan teknologi. Maka wajar dalam suatu pemberian hadiah nobel sempat dicetuskan ide keghancuran sains telah dianggap tiba, sebab berbagai efek negatifnya di luar kendali manusia sebagai penciptanya.

Para ilmuan seakan-akan hidup atau berpura-pura hidup dalam dunia penampakan semata-mata, padahal seringkali yang nampak di permukaan menipu, memunculkan kepalsuan dan tidak bisa dijadikan sandaran. Sedang yang tidak nampak atau tidak diamati dianggap tidak ada, padahal terkadang di sanalah asal hakikat sesuatu. Ini merupakan simplifikasi masalah yang luar biasa menggelikan, yang membawa manusia modern meninggalkan Tuhan dan agama.

Hidup dalam zaman tanpa Tuhan, apa bedanya dengan hidup pada masa purba ketika Tuhan belum berhasil ditemukan manusia. Mitos-mitos baru zaman ini dianggap sebagi dewa-dewa beru yang diagungkan dan disembah secara diam-diam. Sehingga mereka hidup dalam ketidakmenentuan. Maka mengingat Tuhan kembali sebagai pencipta dan pengatur adalah keharusan. Ini yang coba dihilangkan sebagian ilmuan modern; karena menganggap berbagai peristiwa, hakekat materi yang tak terjangkau, organisme rumit yang tak jelas pembuatnya tapi teratur rapi, adalah peristiwa-peristiwa kebetulan, tanpa menyadari bahwa ada pembuat dan pengaturnya. Ciri khas arogansi manusia yang belum sanggup menangani bencana alam, sudah melangkah ke taraf Tuhan yakni menciptakan manusia lewat kloning.

Buku ini berusaha mengajak pembacanya untuk kembali pada Tuhan agar tidak kehilangan arah dalam menjalani hidup. Tapi kelemahan buku ini adalah tidak mengantarkan pembaca seperti yang coba diilustrasikan Komarudin Hidayat, guru besar filsafat Universitas Islam Jakarta, yang mana dalam pertemuan antara filsuf dan sufi dalam sebuah forum debat terbuka, sang filsuf menimpali Guru Sufi “saya gembira bertemu dengan teman saya sang sufi, ternyata apa yang dia rasakan dan dia cari tentang Tuhannya sama dengan yang saya pikirkan sebagai penganut ajaran filsafat…” Artinya buku ini tidak menawarkan jalan untuk bertemu dengan Tuhan lewat jalan pikiran sebagaimana halnya sang Sufi yang bertemu dengan Tuhannya lewat jalur hati.

Kekurangan-kekurangan yang ada tidak mengurangi kualitas buku tipis ini, sebab tetap menarik untuk dibaca dan ditelaah karena banyak hal yang membuat kita mampu memahami Tuhan secara benar. Buku ini cocok untuk dibaca mahasiswa, filsuf, sarjana, rohaniawan, ilmuan dan penikmat filsafat.

Wonosari, 28 Desember 2004

Contoh Tulisan Cara Membaca buku secara kreatif:

PERAN NALAR BAGI MANUSIA*

Admad Zamhari Hasan*

Nalar Sebagai Alat

Nalar adalah kemampuan mental yang berguna untuk menyesuaikan pemikiran maupun tindakan dengan tujuan, menurut Herber A. Simon nalar adalah senjata sewaan yang bisa kita gunakan untuk mencapai tujuan apa saja, baik atau buruk. Ini mengindikasikan bahwa salah satu sumbangan terbesar nalar boleh jadi justru penegasan batas-batas kemampuannya sendiri, sehingga manusia menunaikan tanggung jawabnya yang lebih besar.

Nalar cuman menyumbang bagaimana keputusan dibuat manusia, sedang mengapa sebuah keputusan dibuat lebih didorong naluri mempertahankan diri, kebutuhan emosional dan sikap budaya. Nalar lebih merupakan fasilitator daripada inisiator, kita memakai nalar untuk mendapatkan yang kita mau, bukan untuk menentukan yang kita mau.

Kekuatan nalar betul-betul merupakan kekuatan manusia yang nyata, jelas, dan tidak boleh bekerja tidak bekerja dalam hampir semua kehidupannya, tetapi nalar tidak bisa memberi atau mengendalikan tujuan-tujuan yang terkait dengannya. Agar modul nalar bisa bekerja ada diperlukan fungsi–fungsi otak lain seperti; ingatan, kesadaran, dan kemampuan mencipta serta mengubah lambang-lambang mental, tapi itu belum cukup guna mencapai tujuan-tujuan yang hendak dicapai, masih ada aspek lain yakni sikap budaya, kesempatan dan usaha yang gigih.

Jika inteleginsia mencakup seluruh kemampuan intelektual, maka nalar salah satu bagiannya. Nalar adalah sebuah piranti yang telah ber-evolusi melalui seleksi alam selama juataan tahun, ia disusun oleh organisme yang hidup, dan demi kepentingan oragnisme yang hidup, namun harus disadari sejauh yang diketahui kekuatan otak (brain power) tidak berubah sejak homo sapiens manusia pertama kali ada.

Silet Ockham mengajukan kebersahajaan sebuah teori; apapun jangan dilipat gandakan tanpa alasan, jika dimungkinkan hipotesis dengan kekuatan serupa , kita seyogyanya memilih yang paling bersahaja, pisau Galileo; teori tanpa observasi hanya menunjukkan yang mungkin terjadi (might be), teori dengan observasi menunjukkan yang nyata (is). Hingga hari ini seperti di masa Galileo, berbagai kebudayaan masih memaksakan nilai-nilai yang jelas-jelas bertentangan dengan hasil observasi, dan orang masih mendukung nilai-nilai semacam itu meski jelas bertuburukan dengan nalar.

Beberapa penyakit gangguan kejiwaan adalah skizofenia; jiwa dilanda haluisinasi, delusi dan gangguan pikiran yang berpuncak pada hancurnuya kepribadian, depresi; suasana hati sarat dengan rasa sendu dan rasa bersalah dan sering merasa gempar, tapi kepribadian tetap utuh, Alzheimer; otak mengecil dan terjadi perubahan-perubahan yang khas pada sel-sel saraf yang bisa dilihat dengan miskroskop, kecerdasan merosot dan sejumlah besar sel saraf mati, kemerosotan mental; melemahnya ingatan, bahasa dan penalaran, bagian otak yang terkena adalah yang mengolah informasi.

Kita tidak boleh mengharapkan akal budi manusia mampu memahami segala hal dalam alam semesta, hanya apa yang penting saja dalam upaya kita bertahan hidup di masa yang lalu, kini dan akan datang.

Fungsi Nalar dalam Kehidupan

Etika sering kali dilihat dalam konteks rugi laba, padahal tidak setiap etika bisa dilihat dalam konteks itu, maka kelenturan nilai-nilai etis diperlukan agar bisa menghadapi perubahan dan masyarakat mengikutinya secara sukarela. Moralitas pada dasarnya menyangkut penyelesaian konflik anatara kompetisi dan koperasi, namun nalar tidak menentukan tujuan ini. Etika punya satu tujuan biologis yaitu menyeleraskan serba kebutuhan masyarakat dengan serba kebutuhan orang perseorang. Kepentingan masyarakat dan individu harus disesuaikan-diseimbangkan sehingga antara kerjasama dan persaingan bisa berjalan baik, dan masyarakat yang punya patokan atau norma-norma bisa dipatuhi individu. Nilai-nilai etika dalam zaman edan semakin kacau balau karena krisis multi dimensi yang dialami manusia pada abda 20 dan awal abad 21.

Pemerintah adalah penerjemah kaidah-kaidah etika ke dalam praktik dengan menciptakan, menafsirkan dan menegakkan hukum, sedang legislatif berusaha mengontrol dan membuat undang-undang. Pemerintah dipilih rakyat melalui demokrasi, maka pemerintah yang baik adalah yang memperhatikan aspirasi, kepentingan, dan kebutuhan seluruh rakyatnya. Demokrasi membutuhkan kerja sama, sehingga kepentingan individu bisa didamaikan dengan kepentingan masyarakat dan penyesuaian yang bersifat rasional bisa dilakuakan untuk perubahan yang terus terjadi. Kelemahan demokrasi adalah kelambanan; tindakan tegas dan cepat sulit diambil bila golongan-golongan dalam masyarakat bertarung secara sengit.

Motivasi adalah doronganuntuk mendapatkan hadiah mental sekaligus menghindari hukuman mental. Pernyatan logis, alalisi rugi laba, dan percobaan ilmiah bersifat netral, tapi semua itu harus menimbulkan ganjaran psikologis dengan tujuan seperti prestise, yang pada gilirannuya memuaskan emosi seperti kebanggaan. Hasrat menyimpan tenaga menembak, membakar, menyetir, menggerakkan, menyemangati, merangsang dan menggemparkan kita, sedang nalar mengandung stabilitas yang kukuh, yang tenang, tanpa gejolak, berjarak, tak berpihak, sungkan, tak pilih bulu, terpisah dan dingin.

Collin McGinn model gejala mental dibagi dua; sensasi (sensations); menyadari adanya dunia luar, merasakan emosi dan mengalami fungsi-fungsi jasmaniah serta persepsi, sensasi bisa menimbulkan tindakan melalui kebutuhan pemuasan nafsu, kedua; attitudes; memikirkan poposisidan mempertimbangkan yang akan dilakukan, jadi aatitude yang menentukan tindangan. Menurut filsuf lain sensasi terbatas pada pengalaman langsung sedang persepsi seharusnya dipakai untuk bentukan-bentukan mental lebih halus yang kita himpun dan tafsirkan sebagai citra-citra mengenai dunia luar, persepsi lebih dipengaruhi pengalaman kita sebelumnya.

Kaitan antara nalar dan bahasa menurut J.J Jenkins; pikiran tergantung bahasa, pikiran adalah bahasa, bahasa tergantung pada pikiran, menurut miller; apa yang sudah terbiasai disebut pikiran tidak lain daripada satu sisi mata uang logam yang sisi lainnya adalah bunyi yang bertekanan (articulate sound), sementara mata uang logam tunggal tak berbelah, jadi bukan pikiran bukan juga bunyi tetapi kata (word), Ludwig Wittgenstein mengatakan “batas-batas bahasa saya adalah batas-batas dunia saya.” John Locke menganggap kata-kata terkadang-kadang sanggup mengungkapkan pikiran, tetapi terkadang tidak. Frank Benson berkesimpulan bahwa bahasa dan pikiran merupakan dua fungsi otak secara terpisah, buktinya kerusakan otak bisa menyebabkan putusnya hubungan bahasa dengan pikiran dan nalar.

Bahasa merupakan sistem lambang yang sangat tertata rapi guna menyampaikan informasi; lambang itu bisa disimpan, diingat dan diolah dengan otak. Para ahli tatabahasa menyimpulkan adanya selapis tata susunan yang jadi landasan bagi perbendaharaan kata dan tatabahasa, suatu sistem semantik yang bertugas menafsirkan arti. Tata susunan itu bekerja dengan mulus tanpa kita sadari, namun demikian cara kerjanya sedikit diketahui. Arti dalam kata atau kalimat menjadi salah satu unsur penting prasarana nalar, arti ini yang menimbulkan silang sengketa pendapat, yang lebih berguna menganggap arti sebagai mata rantai yang menghubung kan kalimat dengan dan pikiran-kalimat “berarti” pikiran yang ditimbulkannya, pikiran akan menimbulkan kalimat dan kalimat kembali memantulkan pikiran. Unsur-unsur pokok bahasa ber-evolusi menurut seleksi alam dengan alasan; kaidah-kaidah serupa untuk membentuk kalimat terkadung dalam semua bahasa, anak-anak membuat kalimat sebelum bersentuhan dengan bahasa yang membuatnya mengetahui tatabahasa, ada gangguan bahasa yang berkaitan dengan saraf otak yang mengakibatkan sebagaian kemampuan membuat kalimat lenyap atau utuh, yang menunjukkan tugas khusus untuk kemampuan tersebut di otak.

Keunggulan manusia purba diperoleh melalui; pergaulan pribadi yang trampil di dalam masyarakat (kepentingan diri dan kerjasama yang membutuhkan nalar), bahasa memperbaiki komunikasi dan memperluas nalar, dan kecekatan tangan. Manusia yang mengalami proses evolusi yang panjang, mereka hidup berkelompok dengan bahasa, budaya, kebiasaan, kepercayaan yang berbeda-beda, senantiasa belajar dari apa yang dilakukan sehingga kebudayaan manusia senantiasa berkembang, meski jika dianggap maju masih dipertanyakan, sebab terbukti manusia abad 20 yang dianggap maju melahirkan perang dunia I dan II, perang Teluk, perang Bosnia, pembantaian di Rwanda, perang saudara, dan penjajahan di Irak, tindakan mereka tak jauh berbeda dengan homo sapiens pada masa primitif.

Sains modern dengan penelitian ilmiahnya telah mampu membawamanusia pada “kemajuan yang mencengangkan di segala bidang kehidupan, sampai-sampai manusia sebagai subjek berubah menjadi objek hasil dari sains dan teknologi. Bahkan seperti di singgung di atas manusia justru menjadi korban dari sains dan teknologi yang dihasilkannya. Maka wajar bila surat undangan Nobel XXV 1998 memperingatkan, “mengamati dunia kita akhir-akhir ini, timbul kesan bahwa kita telah sampai pada akhir sains, bahwa sains sebagai upaya bersama, universal, dan bersifat objektif, sudah selesai.” (hal: 14). Revolusi China menunjukkan betapa mudahnya kekuatan politik memanfatkan sentimen antiintelektual dengan menjadikannya gerakan rakyat besar-besaran yang menghancurkan kesenian, sains dan kedokteran, terjadi pada bangsa yang menjadi pelopor nalar dalam sejarahnya.

Berkaitan dengan niaga atau dunia usaha, laba adalah tujuan manusia dan nalar menyediakan cara mendapatkannya. Niaga hanyalah mesin adaptasi yang membantu kita menyesuaikan diri senyampang dengan makin banyaknya dan beragamnya orang yang berusaha menambah kekayaan dan meraih pengetahuan. Emosi memegang peranan penting dalam niaga, sebab manusia dalam berhubungan satu sama lain melibatkan emosi. Pebisnis yang suka membantu akan lebih mudah mendapat pertolongan di saat sulit dan dalam jangka panjang akan berhasil. Pebisnis yang berhasil tetap bekerja karena mereka menikmati bekerja sebaik mungkin bukan sekedar cara mendapatkan uang.

Antara Nalar dan Agama

Agama harus menjawab semua pertanyaan tentang bagaimana kita hidup seharusnya, dan nalar membuat jawaban itu taat asas dan terjalin rapi. WN Pahnke mengungkapkan ciri-ciri umum pencerahan batin; kesatuan diri dengan dunia lahir dan batin, transedensi; waktu dan ruang, mencapai keadilan, elation/keterbuaian yang ditafsirkan kebahagian dan kedamaian, awe/takwa; dengan perasaan suci dan takjup, keyakinan bahwa kebenaran tertinggi sudah dicapai melalui intuisi, paradoz/salawan kerena ketakcocokan (inconsstence) tampak ketika gambaran pengalaman religius bisa dikupas kemudian, transiency/kesejenakaan; pengalaman religius bila dibandingkan dengan pengalaman biasa yang bertahan lebih lama, impack/dampak; pengalaman religius yang terus menerus pada kepribadian, pemahaman dan prilaku. Menurut Planck “Hanya saja bagi seorang yang beragama, Tuhan timbul pada awalnya, bagi seorang ilmuan pada akhir semua pemikiran ilmiahnya.”

Agama Kristen pernah melakukan inkuisi pada St. Agustutinus yang menghukum penjara, sita harta dan pembuangan terhadap siapa saja yang bertentangan dengan penafsiran Bibel gereja. Pada 1348 inkuisisi menghukum bakar 17.000 orang Yahudi di Erfurt, Stasbour dan Bavaria (hal; 251). Bagaimana Inkuisi menghukum Galileo yang sependapat dengan Copernicus bahwa bumi mengelilingi matahari yang bertentangan dengan Bibel, pada waktu berbeda pendiri Kristen Protestan Martin Luther King mendukungnya, meski pada tahun 1992 Paus Johanes Paulus II memulihkan nama baiknya. Agama Kristen dan Islam juga pernah melahirkan perang Salib yang menimbulkan banyak korban jiwa, meski penelitian tentang perang tersebut bukan masalah agama melainkan politik dan ekonomi. George Bush menerus Phobia ini dengan memerangi Irak dan hendak menyerang Iran, saat yang sama AS mendukung Israel meski membunuhi penduduk Palestina yang dianggap sebagai bumi Muslim. Para teroris menggunakan jargons agama guna melakukan bom bunuh diri, pembantaian dan perlawanan terhadap Barat.

Beberapa kejadian inilah yang menimbulkan skeptisisme terhadap agama, sehingga penulis buku Donald B. Calne menawarkan jalan tengah antara dogmatisme dan skeptisisme terhadap agama, kata Bertrad Russel “ …seorang yang dogmatis menerima hipotesis tanpa mengindahkan fakta, seorang skeptis menolak segala hipotesis dengan mengabaikan fakta. Dua-duanya irrasional. Orang yang bernalar menerima hipotesis yang paling mungkin untuk sementara, sambil terus menerus mencari fakta baru yang tidak cocok dengan hipotesis tersebut,” (hal; 421)Jalan tengah ini konon ditempuh Planck dan Enstein, sehingga penulis buku menganjurkan pembaca untuk mengikutinya.

Dari kulit luar hal ini kelihatan betul, tapi tidak benar malah menyesatkan. Kesimpulan ini akan membimbing seseorang untuk beragama tanpa agama atau beragama tanpa perlu menjalankan ibadah agama yang dianjurkannya, sehingga yang ditaati hanya nilai spritual agama semata. Inilah perlunya sikap hati-hati dalam membaca sebuah buku. Kita harus mampu bersikap kritis, melakukan telaah ulang dan berusaha membuat kesimpulan sendiri yang bisa jadi berbeda.

Cara beragama yang benar yakin pada kebenaran ajaran-ajaran agama, menjalankan syariat dengan ketulusan dan kesukarelaan, menanamkan iman dalam hati, membimbing pikiran pada jalan yang benar, menggiring imajinasi pada karya, mewarnai dunia dengan ihsan dalam berbagai aspek kehidupan, mengamalkan amal shaleh, dan menjadikan diri bermanfaat di tengah-tengah masyarakat. Mampu melaksanakan semua itu dalam kehidupan akan membimbing pada kebahagiaan di dunia dan akhirat. Alangkah indahnya hidup ini!


* Pembacaan kreatif atas buku BATAS NALAR, Rasionalitas dan Perilaku Manusia karya Donald B. Calne, Penernerbit KPG Jakarta 2004, 458 halaman.

STUDI KULTURAL

Ilmiah Populer:

MEMBUKA CAKRAWALA BARU*

Ahmad Zamhari Hasan

Sastra dan Studi Kultural

Sastra merupakan salah satu aspek yang memegang peranan penting dalam kebudayaan karena; pertama; penyediaan sumber data, baik lisan maupun tulisan, sebagai sumber data sastra bersifat fiksi dan fakta beserta varian genrenya, dengan medium utamanya adalah bahasa yang direpresentasikan dalam wacana, yang mana sistem simbol bahasa selalu menunjuk sesuatu yang lain kedua; perananannya dalam pemunculan teori poststrukturalisme, sehingga melahirkan pendekatan studi kultural.

Sastra berarti sesuatu yang tertulis dari kata literature, sedang culture berarti mengolah, mengerjakan yang dalam arti luas diartikan cara manusia mengelola alam, kebudayaan mengolah alam melalui kemampuan akal, sedang sastra mengolah alam melalui kemampuan tulisan, Keduanya berfungsi sama yakni meningkatkan kehidupan manusia. Intensitas hubungan keduanya dilihat dengan dua cara, pertama; stagnasi dalam strukturalisme memunculkan keterkaitan antara sastra dan kebudayaan, sebab strukturalisme terlalu asyik dengan unsur instrinsik dan melalaikan unsur ekstrinsiknya kedua; lahirnya perhatian terhadap studi kebudayaan sebagai studi kultural, yang didalamnya banyak dibicarakan kritik sastra, studi kultural muncul pertama kali di Inggris lewat Centre of Contemporery Cultural Studies (CCCS) 1964, sedang di Indonesia melalui studi magister kultural studies di universitas Udayana Bali, 1996.

Menurut E.B Taylor kebudayaan adalah keseluruhan aktivitas manusia, termasuk pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan lainnya. Definisi mutakhir kebudayaan menurut Marvin Haris yakni seluruh aspek kehidupan manusia dalam masyarakat, yang diperoleh dengan cara belajar, termasuk pikiran dan tingkah laku. Tiga wujud kebudayaan menurut Koentjadiningrat; a)kebudayaan sebagai kompleks ide, gagasan, nilai, norma dan peraturan b) kebudayaan sebagai kompleks aktivitas kelakukan berpola manusia dalam masyarakat c) kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia Di samping kebudayaan dalam tradisi Barat dikenal peradaban (civilazation dari akar kata civis, civitas yang berarti warga negara, negara kota) yang dalam perkembangannya lebih dikenal sebagai bentuk kebudayaan dengan nilai-nilai yang lebih tinggi, seperti kesenian dan ilmu pengetahuan. Beberapa ciri peradaban menurut Huntington; secara entitas kultural peradaban berkaitan dengan agama-agama besar, sehingga mengatasi suku, ras, etnis dan negara, bersifat komprehensif sebab merupakan totalitas dan memiliki derajad integrasi tertentu, peradaban cepat berubah, hidup sangat lama, berkembang tetapi mengalami kemunduran, beradabtasi dan berpengaruh terhadap kehidupan manusia, peradaban merupakan entitas kultural bukan politik sehingga mencakup beberapa kesatuan politik, negara, federasi kekaisaran, bahkan juga multinasional.

a. Sastra dan Kebudayaan

Sastra dan kebudayaan memiliki obyek yang sama yaitu manusia dalam masyarakat, manusia sebagai fakta sosial dan manusia sebagai makhluk kultural. Dikaitkan dengan fungsinya, karya sastra melakukan secara tidak langsung dengan bahasa metaforis konotatif, sedang aspek-aspek kebudayaan lain menggunakan bahasa langsung, baku dan bahasa logis denotatif. Obyek formal karya sastra adalah teks itu sendiri, sedang obyek formal studi kebudayaan kejadian-kejadian empiris yang ada dilapangan, sebagais studi konteks. Karya sastra membangun dunia melalui kata-kata, melalui hubungan paradigmatis, sistem tanda dan sistem simbol, kata-kata menunjuk sestau yang lain di luar dirinya, sehingga peristiwa-peristiwa baru muncul secara terus menerus, kata-kata juga memiliki aspek dokumenter yang menembus ruang dan waktu, melebihi aspek-aspek kebudayaan lainnya.

Studi kultual dibangun atas dasar kompetensi sastra dan kebudayaan, keduanya memiliki bidang kajian masing-masing. Kajian sastra meliputi; teori, krtik dan sejarah sastra, dengan melibatkan proses produksi; pengarang, penerbit, pembaca, lembaga sensor dan maesenas, sebagai kualitas otonom sastra terdiri dari unsur intrinsik; inseden, plot, teknik cerita, komposisi cerita, perwatakan dan gaya bahasa, sedang unsur ekstrinsik; unsur historis, sosiologis, psikologis dan filsafat religius. Setiap aspek dikaji dengan metode tertentu sebagai alat yang hasilnya tergantung bagaimana penggunaannya.

Karya sastra memiliki dua ciri; a) otonom; yang diperoleh melalui hubungan unsur2 dengan totalitas b) komunikatif; yang diperoleh melalui hubungan karya dengan sistem kultural. Disinilah strukturalisme berubah menjadi semiotika, karya sastra sebagai petanda, yang menandai lahirnya studi kultural dan postrukturalisme. Sumbangan terpenting postrukturalisme adalah pergeseran paradigma dari pusat ke pinggiran-pinggiran yang mana banyak terdapat masalah-masalah kemasyarakatan yang belum terpecahkan.

Masalah lain yang perlu dipahami dari karya sastra dalam kaitannya dengan kebudayaan adalahsudut pandang yang dilihat dari a) sebagai aktivitas kreatif karya sastra penuh dengan makna b) karya sastra merupakan entitas kosong, sebagai manifestasi bahasa biasa, bahkan disusun secara gramatikal.

Menurut Barker (2004:8) konsep kunci studi kultural adalah praktik pemaknaan, yang dibangun melalui tanda khususnya tanda-tanda bahasa, dengan kalimat lain memahami kebudayaan berarti memahami makna sebagaimana dihasilkan secara simbolis melalui bahasa. Beberapa indikator perkembangan sastra dan kebudayaan serta studi kultural: a) adanya perubahan paradigma bahwa sastra dan kebudayaan tidak sekedar berfungsi bagi pengarang secara induvidual melainkan juga masyarakatb) karya sastra dan kebudayaan merupakan gejala kebudayaan terdiri dari unsur-unsur, totalitas, antarhubungan, sistem dan kemampuan mengadakan regulasi c) dengan menggabungkan dua disiplin berbeda yakni sastra dan kebudayaan sangat dimungkinkan ditemukannya teori-teori baru, misalnya yang sudah teruji kesahihannya adalahresepsi, interteks, feminis, postkolonial dan dekontruksi d) letak geografis Indonesia yang sangat luas dimungkinkan untuk penelitian sastra dan kebudayaan.

Kehadiran studi kultural dipicu beberapa faktor; a) stagnasi relevansi teori-teori dengan asas strukturalisme yang melahirkan postrukturalisme b) stagnasi penelitian monidisplin yang melahirkan multidisiplin, akibat kemajuan teknologi yang pesat berimbas pada masalah2 estetika, etika dan nilai-nilai kebudayaan pada umumnya c) sekularisasi religi yang memerlukan keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan d) arus globalisasi memerlukan konservasi budaya lokal.

Perkembangan studi kultural pesat di Asia selatan, khusunya India dengan salah tokohnya Ashis Nandy dengan tesis bahwa untuk keluar dari hegemoni Barat maka budaya no-Barat harus mendifinisikan budaya mereka sesuai dengan kondisi, konsep dan kategori masing-masing.

Kaitan antara sastra dan studi kultural; a) sastra merupakan bagian integral kebudayaan b) teori-teori yang dimanfatkan dalam studi kultural adalah teori-teori postrukturalisme, sedangkan sebagian besar teori-teori tersebut diperoleh melaluikompetensi sastra c) kelahiran studi kultural di Inggris diawali pergeseran paradima pemahaman sastra dari sastra tinggi ke sastra populer d) dengan anggapan dunia adalah teks, maka keseluruhan aspek kebudayaan dapat dijelaskan secara tekstual e) keraguan terhadap realitas, isu utama sebagaimana disajikan postmodernisme, dapat dijelaskan melalui independensinya dengan ciri-ciri fiksional yang terkandung dalam sastra.

b. Kematian Pengarang dan Kebangkitan Pembaca

Salah satu faktor penting dalam karya sastra adalah pengarang, maka kita perlu memahaminya sebagai salah satu elemen penting. Pengarang memiliki kekhasan, yang mungkin diperoleh dari proses belajar atau pembawaan, sehingga dia melahirkan sesuatu yang baru, yang berbeda, atas dasar peristiwa-peristiwa yang sudah ada, sehingga pengarang bisa disebut penemu dan pencipta dunia kehidupan. Tapi saat bersamaan pengarang dikondisikan secara sosial , sehingga karya sastra bersifat sosial, makanya dalam sastra lama nama pengarang tidak ditulis karena sastra dianggap milik masyarakat, sedang dalam sastra modern nama penulis dianominitaskan yang mengandung makna karya sastra sebagai sebagai dunia sosia kultural yang bisa menghasilkan dimensi-dimensi studi kultural.

Pengarang dalam karya sastra menciptakan karakter tokoh-tokoh yang bisa jadi merupakan imajinasinya, namun dalam kritik sastra dianalisa sejauh mana tokoh-tokoh khayalan memiliki keterkaitan dengan tokoh-tokoh yang ada dalam masyarakat. Dalam kaitan inilah terdapat hubungan antara sastra dan kebudayaan dalam studi kultural.

Bagi pengarang, orisinalitas didasarkan seberapa jauh karyanya berbeda dari orang lain, sedang bagi pembaca seberapa jauh karya tersebut dapat menghasilkan makna yang berbeda-beda. Jadi bahasa sastra merupakan bahasa biasa hanya yang luar biasa bagaimana bahasa diekploitasi dan bagaimana bangunan suatu cerita dibangun sebab susunan cerita harus merupakan susunan baru bagi pembaca dan pengarang.

Sastrawan berfungsi ganda; mengevokasi keindahan ke dalam kualitas estetis sekaligus menampilkan isi sebagai pergumulan manusia sejagat, juga melahirkan epigon-epigon yang pada gilirannya menampilkan arus sosial yang melahirkan genre, angkatan dan madzhab.

Secara sosiologis pengarang, karya sastra, semestaan yang diacu, dan pembaca, merupakan unit-unit fakta sosial yang saling berkaitan sebagai kualita interpendensi.

Dalam era kontemporer, munculnya teori resepsi menggeser pososi pengarang sebagai subjekl kreator menjadi objek, pembaca yang semula dianggap sebagai objek, kini menjadi subjek kreator baru. Pengarang yang pada masa kejayaan Romantik dianggap Dewa pencipta dunia rekaan baru, kini eksistensinya telah dianggap mati. Kematian pengarang ditandai dengan proses penyelesaian kegiatan menulisnya, begitu tulisan rampung, pengarang tidak dapat melakukan apapun terhadap karyanya yang menyebar dalam dunia pembaca. Berarti bermakna atau tidak sebuah karya, kini tergantung pada pembaca yang berusaha memahami, menelusuri makna-makna yang dikandungnya, dan melakukan penulisan baru dengan pembacaannya, disinilah maksud dari kematian pengarang, dan kehidupan baru pembaca. Pembaca menjadi sentral penemuan makna-makna baru, horison harapan baru, dan penciptaan dunia baru.

c. Sastra dan Masyarakat

Masyarakat sastra ditandai berbagai kepentingan; a) citra estetis b) ilmu pengetahuan c) manfaat pragmatis d) nilai ekonomis dan nilai dokumentasi. Sastra memiliki tujuan-tujuan tertentu sesuai dengan kecendrungan masyarakat yang melatarbelakanginya, terjadi tarik menarik anatara keduanya, silang sengketa antara hakikat dengan manfaat, visi, misi, kualitas emosiaonal dan intelektual, sastra sebagai proyek individu dan transindividual. Hubungan antara sastra dengan masyarakat pada tingkat teoritis bisa dilihat melalui proposisi orang lain pada uimumnya (Meadean) dan kaca cermin (Cooleyan). Unsur masyarakat; individu, sifat (karakterologi), peristiwa/kejadian, latar, interaksi, sedang unsur sastra; tokoh-tokoh, sifat (karakterisasi), peristiwa/kejadian, latar, bahasa (lisan/tulisan), plot dan sudut pandang, yang tidak terkandung dalam masyarakat adalah plot dan sudut pandang/fokalisasi.

Analisis peranan dalam karya sastra memiliki lima kemungkinan makna; a) berbeda dengan tokoh-tokoh, sebagai status, peranan mereupakan dimensi dinamis b) sebagai dimensi dinamis peranan berhubungan langsung dengan karakterisasi/penokohan c) sebagai karakterisasi, maka peranan akan berhubungan dengan sudut pandang d) melalui sudut pandanglah akan dihasilkan plot, pandangan dunia aspeks estetis lainnya e) aspek-aspek kultural lainnya dapat dilacak melalui peranan tersebut. Sastra modern lebih kompleks sebab menampilkan kehidupan manusia dari berbagai segi, yang pada gilirannya dapat dipecahkan dengan memanfaatkan berbagai cara. Keuntungan yang diperolah melalui status peranan dan fokalisasi; a) penelitian diperoleh melalui latar belakang sosiologi/status peranan, tetapi dalam rangka estetika karya sastra (fokalisasi) b) karya sastra tidak dianggap sebagai objek statis melainkan dinamis c) analisis karya sastra pada gilirannya akan menjadi studi kultural bukan semata-mata fiksional.

Sumbangan terpenting karya sastra adalah kemampuannya mentranformasikan sekaligus mengabadikan kejadian-kejadian dalam kehidupan sehari-hari, sebagai interaksi sosial, ke dalam peristiwa-peristiwa sastra, sebagai pelaku fiksional dan mengubah kualitas pragmatis sedemikian rupa ke dalam perinstiwa-peristiwa rekaan sebagai kualitas estetis, serta kemampuannya menyingkap dimensi-dimensi yang tersembunyi baik disengaja atau tidak.

d. Cara melakukan Penelitian

Dalam melakukan penelitian atau kritik terhadap karya sastra, sebaiknya menggunakan pendekatan multidisiplin ilmu bukan monodisiplin ilmu, agar menghasilkan sesuatu yang lebih bermakna. Dalam bahasa poststrukturalis, pembaca tidak sekedar menjadi konsumen tapi menjadi produsen sekaligus dengan cara menulis yang berkualitas. Cara menggunakan multidisiplin ilmi dalam penelitian adalah; a) menentukan terlebih dahulu disiplin ilmu utama yang akan digunakan sebagai payung penyangga b) tiap-tiap ilmu dimungkinkan untuk menggunakan teori dan metodenya masing-masing. Manfaatnya; a) bagi subyek peneliti memperluas wawasan pemahaman mengenai mengenai sastra secara keseluruhan b) bagi karya sastra yang diteliti akamn melahirkan dimensi-dimensi yang baru secara terus menerus c) bagi metode dan teori akan memungkin lahirnya metode dan teori baru.

Proses penelitian kualitatif menurut Denzin dan Lincoln ada lima tahapan; a) penetapan peneliti sebagai subyek multikultural, dengan etika dan politik penelitian b) penetapan paradigma dan sudut pandang interpretatif c) penetapan strategi penelitian d)penetapan pengumpulan data dan analisis data secara empiris d) penetapan cara-cara menginterpretasi- kan dan menyajikan hasil penelitian. Atas penjelasan ini Bogdan dan Biklen memberikan lima ciri metode kualitatif; a) setting penelitian yang bersifat alamiah sebagai sumber data langsung b) penelitian bersifat diskriptif, data berupa kata-kata dan gambar, bukan angka-angka c) lebih mengutamakan proses dari hasil luaran,sebab hubungan bagian yang sedang diteliti jauh lebih jelas apabila diamati dalam proses penelitian d) makna merupakan tujuan utama e) penelitian cendrung bersifat induktif.

Modernisme dan Postmoderninsme

Ciri-ciri modernisme; a)industrialisasi b)kontrol/kekuasaanc)kapitalisme d)modernisme, sedang keterputusan postmodernisme darinya dalam lima ciri; a) pengetahuan tidak bersifat universal, transeden dan metavisis, tapi spesifik dalam ruang waktu tertentu b) pengetahuan bersifat perspektifal, tidak ada pengetahuan total yang mampu memahami obyektifitas dunia ini c) pengetahuan bukanlah cara-cara pemahaman yang murni dan netral, pengetahuan terlibat dalam rezim kekuasaan d) dalam pemahaman yang dipentingkan bukan kedalaman, tapi diskripsi dan analisis permukaan dengan kondisi historis dan material tertentu d) pengetahuan bukanlah evolusi historis melainkan diskontinu, keterputusan epistimologis sepanjang waktu. Postmodernisme membedakan tiga realitas; realitas obyektif, realitas virtual (dianggap seolah-olah nyata dari kenyataan yang sesungguhnya, kenyataan dalam dunia TV) dan realitas sosial.

Dua alasan kuat bahwa postmodernisme dan postrukturalisme merupakan kelanjutan dari modernisme dan strukturalisme adalah pertama ciri-ciri penting yang ada dalam postmodernisme dan postrukturalisme hakekatnya sudah ada dalam modernisme dan strukturalisme, tapi postmodernisme dan postrukturalisme berusaha menyempurnakannya, meninggalkan ekses-ekses negatifnya dan mengungkapkan yang tersembunyi, terabaikan dan terpinggirkan, kedua; sebagain tokoh postmodernisme dan postrukturalisme juga tokoh strukturalisme dan modernisme.

Teori-Teori dalam Studi Kultural

Adalah poststrukturalisme yang memberi ruang pada karya sastra lewat berbagai macam metode pendekatan; semiotika, resepsi, interteks, feminis, postkolonial dan dekontruksi Derridean. Di samping beberapa pendekatan di atas, berikut akan dijelaskan teori-teori lainnya seperti; teori Marxis, Hegemoni, dan interaksi simbolik.

Konsep-konsep Marxis telah dimanfaatkan hampir pada semua bidang ilmu, khusunya humaniora. Marxisme memiliki konsep dasarbahwa superstruktur ideologis, dalam hal ini karya sastra seolah-olah ditentukan oleh infrastruktur materialnya yakni masyarakat, jadi karya sastra bersifat historis. Jadi fungsi konsep Marxis terhadap karya sastra menunjukkan relevansi posisi karya sastra terhadap masyarakat. Seorang harus melibatkan diri secara langsung sehingga ia dapat mengetahui secara detil tentang masyarakat yang hendak dilukiskannya. Kelompok Marxis terbagi dalam; a) marxis ortodok yang menerima doktrin Karl Max sebagai kebenaran mutlak tokoh Georg Lukacs b) New Marxis (strukturalis; W Adorno, kontemporer; Mikhail Bakhtin, Gramsci) menganggap pandangan2 Marx sebagai sumber inspirasi. Warisan kelompok Marxis yang paling berharga adalah ideologi, menurut Eagleton, teks merupakan ideologi sebab teks tidak dimaksudkan untuk mencerminkan sejarah secara keseluruhan, melainkan untuk menghasilkan efek tertentu. Arti ideologi: a) ilmu pengetahuan mengenai cita-cita b) cara berpikir seseorang atau kelompok c) paham yang dikaitkan dengan kelompok tertentu. Perkembangan marxis di Indonesia dipengaruhi citra PKI yang terlanjur menjadi citra buruk bagi bangsa, sehingga seluruh nilai-nilai yang dibawanya ikut dibumi hanguskan. LEKRA suatu lembaga sastrawan untuk partai komunis mencetuskan ide karya sastra untuk masyarakat, muncul Manifest kebudayaan untuk menandinginya dengan semboyan humanisme universal. Pernyataan Marx yang berkaitan dengan sastra tahun 1840 “keberadaan sosial menentukan keberadaan manusianya,” mendasar seluruh kritik sastra. Studi kultural Inggris mengadopsi konsep Marxis melalui dua ciri; a. asumsi bahwa masyarakat kapitalis terbagi secara tdak seimbang atas kelas, gender dan etnis b. gagasan materialis tentang sejarah.

Hegemoni dari akar kata hegeisthai (Yunani) berarti memimpin, kepemimpinan, kekuasaan yang melebihi kekuasaan lainnya. Bagi Foucolt kekuasaan tidak memiliki asal usul dan tidak bersifat tunggal, sedangkan bagi Gramsci kekuasaan (hegemoni) mengalir ke bawah mengarah pada perjuangan kaum tertindas untuk menentang kekuasaan tunggal. Dengan menulis dalam penjara maka gagasan-gagasan Gramsci lebih orisinil sebab dia menulis dari sudut pandang yang tidak terlibat. Salah satu penjelasan teori hegemoni tentang pengaruh globalisasi adalah kesadaran untuk selalu waspada agar tidak terjebak dalam arena permainan yang sengaja disediakan oleh negara dominan, misalnya shoping centre, mall dan hiburan lain yang memanfaatkan teknologi canggih, tidak menutup kemungkinan di dalamnya terkandung maksud-maksud tersembunyi politik hegemoni (hal:186). Di samping itu, hegemoni wacana harus lebih diwaspadai menutur visi kontemporer sebab keseluruhan bentuk fisik dapat diubah ke dalam wacana, sebagai bentuk yang diceritakan. Contoh Hegemoni Barat pasca klonial yang dilihat dari teori postkolonial menunjukkan bahwa wacara Barat dan non-Barat, Barat dan Pribumi, negara maju dan negara berkembang, negara industri dan negara agraris dicekokkan sebagai bentuk hegemoni pertam terhadap yang kedua. Menurut Gramsci hegemoni dapat dicapai melalui kombinasi antara paksaan dan kerelaan. Menurutnya ada tiga bentuk gagasan; a) bahasa; sarana utama yang berpengaruh sangat besar b) pendapat umum; tempat dibangun dan melawan ideologi c) foklor; sistem kepercayaan, opini, takhayul yang berpengaruh menopang hegemoni, berfungsi mengingat masyarakat tanpa paksaan. Fungsi teori hegemoni dalam karya sastra adalah penelitian kaitannya dengan relasi-relasi sastra dengan masyarakat dan hubungan pengarang dengan masyarakat. Karya sastra adalah energi melaluinya keseluruhan aspek kultural termanivestasikan.

Ciri-ciri teori interaksi simbolik; a) Realitas tidak berada di luar dunia nyata, realitas diciptakan secara kreatif pada saat bertindak b) manusia mendasarkan pengetahuannya pada dunia nyata yang terbukti berguna; manusia mendifinisikan dunia sosial menurut kegunaannya, dan dalam memahami seorang aktor kita menganalisa apa yang dilakukannya. Empat tahapan teori interaksi simbolik; tahapan impuls ( gerak hati yang menampilkna rangsangan spontan dan kebutuhan untuk melakukannya sesuai rangsangan), tahapan resepsi (tindakan memahami obyek rangsangan sebagai akibat kemampuan aktor dalam memilih dan menolak rangsangan), tahapan manipulasi (tindakan jeda berkenaan dengan objek yang diterima, karena manusia berpikir), tahapan konsumsi (pelaksanaan untuk mengambil tindakan sebagai pemuasan dorongan hati). Melalui bahasa sebagai simbol manusia melakukan interaksi simbolik, hanya dengan interaksi simbolik yang memungkinkan terbentuknya masyarakat. Dampak interaksi simbolik terhadap karya sastra adalah dimanfaatkannya pemahaman dengan memberikan intensitas pada peranan tokoh-tokoh, bukan status. Mead mengiidentifikasikan self dalam I (saya, subjek yang bertindak) terkandung identitas psikologis, nonreflektif, diri dengan faktor-faktor impulsif dan kreatif, dan bertindak, sedang me (aku, diri sebagai objek) terkandung keseluruhan diri sosial, juga terkandung perspektif perbandingan dengan orang lain, dan memberikan pengarahan sesuai harapan dan difinisi masyarakat.. Menurut Ritzer I lebih diprioritaskan karena dalam proses sosial I merupakan sumber masalah baru, I terkandung nilai-nilaiterpenting, perubahan terjadi dalamn kompetensi I,perwujudan diri yang memungkinkan untuk mengembangkan kepribadian, masyarakat primitif didominaisi me dan masyarakat modern didominasi oleh I. Peranan teori interaksi simbolik adalah meneliti tentang hubungan antarindividu beserta pengalamannya sebagai manusia budaya.

Teori aktor jaringan; jaringan sebagai kunci memahami suatu karya , sekaligus menggeser objek dan entitas lain ke posisi sekunder, mengubah pelaku biasa (tokoh) menjadi pelaku tindakan (actans) sehingga pelaku bukan semata-mata manusia sebagai tokoh melainkan juga benda-benda tak bernyawa lain, tokoh menjadi struktur luar sedang aktans menjadi struktur dalam. Pembaca akan memperoleh pengertian mengenai jaringan bila menempatkan para pelaku menurut kedudukan aktans. Ciri-ciri lain aktor jaringan adalah pertama; menurut Bakhtin konmstruksi dialogios karya sastra tidak bisa dianalisis secara linguistik melainkan translinguistik, kata-kata terpusat pada lokus jama sehingga terjadi dialog atas dialog, wacana atas wacana, bahkan struktur atas struktur, tokoh-tokoh bebas dari dominasi sang kreator, tokoh-tokoh merepresentasikan personalitasnya masing-masing, kedua: perhatian terhadap struktur mikro (aktor individual) dan struktur makro (berhubungan dengan aktor dengan sekala luas; kelompok, masyarakat, dan perusahaan. Perbedaan teks dialogis dan monologis, teks dialogis tidak berusaha mempersatukan kesadaran para tokoh sedang teks monologis memiliki logika tunggal, homogen dan relatif seragam.

Teori resepsi menempatkan pembaca ke posisi sentral, secara umumnya maknanya penerimaan, penyambutan, tanggapan, reaksi dan sikap pembaca terhadap suatu karya sastra, teori resepsi terbagi dua; a) secara sinkronis, penelitian dalam kaitannya pembaca sezaman b) secara diakronis, penelitian terhadap pembaca sepanjang zaman, yang kedua lebih utama karena pertama; perubahan pandangan terhadap karyasebagai akibat perubahan horison harapan, paradigma dan sudut pandang, kedua; pergeseran penilaian ini menjadi tolok ukur seberapa jauh masyarakat telah berubah. Relevansi teori resepsi; pertama pembalikan fundamendal dari penulis sebagai pencipta pertama ke pembaca sebagai pencipta kedua, kedua pergeseran pemahaman dari pembaca individual ke pembaca transindividual, dari tunggal ke jamak. Tiga konsep yang diintrodusir dari teori resepsi: konkretisasi; relevansi secara bebas ruang-ruang kosong dalam karya sastra, kompetensi pembaca; perangkat konvensi dalam diri pembaca dalam rangka memahami karya sastra, horison harapan; kerangka pemahaman terhadap karya sastra atas dasar pembacaan terdahulu. Keindahan dalam karya sastra menurut teori resepsi bersifat nisbi bukan keindahan abadi, kualitasnya tergantung situasi sosial budaya pembaca, yang memaluinya pembaca dapat menggali dan memahami aktivitas kultural secara berbeda-beda. Menurut Zoetmulder pembaca modern ingin dikejutkan, ingin sesuatu yang sama sekali baru, estetita pertentangan menurut pemahaman Lotman. Tujuh ciri relevansi horison harapan dan peranan sejarah dalam teori resepsi menurut Jauss; a) sejarah sastra dibangun atas dasar pengalaman kesustraan sebelumnya b) pengalaman kesastraan harus bebas dari praduga yang skeptis, seperti kecurigaan terhadap kemampuan karya sastra dalam menghasilkan makna c) jarak antara horison harapan dengan karya sastra menjadi tolok ukur kualitas estetis d) horison harapan selalu membangkitkan pertanyaan, bagaimana manusia kontemporer dapat memahami karya masa lampau, sekaligus menolak diktum filologis, bahwa makna karya sastra ditentukan satu kali untuk selamanya e) kualitas pada saat memahami sebuah karya sastra sekaligus cara membandingkannya dengan karya-karya yang telah dibacanya f) karya sastra tidak dipahami semata-mata cermin atau proses sejarah, melainkan bagaimana ciri-ciri fiksional dan faktual tersebut dijembatani sehingga aspek2 penerimaan dan kesejarahan dapat menampilkan makna baru.

Kerangka teori interteks menurut Kristiva pencetusnya bahwa setiap teks harus dibaca dengan latar belakang teks lain, berarti tidak ada satu tekspun yang dapat dibaca secara mandiri. Agar pemahaman secara intertekstual bisa dicapai maksibal, ada beberapa konsep yang harus diperhatikan menurut strukturalis; recuperation (prinsip penemuan kembali), naturalitation ( prinsip untuk membuat yang semula asing menjadi biasa), motivaution ( prinsip penyesuaian, bahwa teks tidak arbiter atau tidak koheren) vraisamblation (integrasi satu teks dengan teks lainnya, menurut Totorov ada tiga ciri; a) sebagai model hubungan teks tertentu dengan teks lain yang tersebar di masyarakat, yang disebut opini umum b) hubungan teks dengan genre tertentu c) kedok yang menutupi teks itu sendiri, tetapi yang memungkinkannya untuk menghubungkan nya dengan realitas, bukan pada hukum-hukumnya sendiri). Culler mengungkapkan lima cara menghubungkan satu teks dengan teks lainnya; a. teks yang diambil langsung dari dunia nyata b. teks kultural general, teks dari dunia nyata yang tunduk terhadap pola pola kebudayaan tertentu c. teks sebagai konversi genre, sebagai teks artificial literer sehingga terjadi perjanjian anatara penulis dan pembaca d. teks yang dikutip secara implisit dan eksplisit dari genre-genre di atas, dengan menambah intensitas makna dan kualitas otoritasnya e. intertekstualitas secara khusus, dengan mengambil teks sebagai dasar dan titik pijak proses kreatif, misalnya teks sebagai parodi dan ironi. Proses peniruan dalam teori kontemporer sangat berlawanan dengan pandangan tradisional. Peniruan interteks adalah proses identifikasi objek ke dalam level yang lebih tinggi sekaligus karya yang dihasilkan menjadi baru, seolah-olah dilihat untuk pertama kali. Karya tiruan belum tentu lebih rendah, tergantung daru sudut pandang mana melihatnya. Suatu karya asli dalam pengertian kaya yang diciptakan dalam keadaan kosong tanpa referensi dunia lain, hakekatnya tidak ada. Dalam interteks tidak ada makna asli, makna tidak melekat pada objek, semua objek menjadi bermakna sebab makna diperoleh melalui perluasan, pergantian, dan pembaharuan dalam arti seluas-luasnya. Hipogram adalah kata-kata yang terikat dalam kalimat yang secara oragnisaatoris merefleksikan prasyarat matriks kata—kata inti, pengarang secara sadar atau tidak menggunakan hypogram untuk melahirkan matriks atau kata-kata kunci y7ang melahirkan model dan serial variannya. Teori interteks juga berkaitan dengan pastiche; karya yang disusun atas adaptasi dan persamaan2nya dengan masa lampau, bricotage, transformasi material melalui komposisi, juga berkaitan dengan simulasi (Baudrilard) proses penciptaan bentuk-bentuk yang baru, tetapi bentuk aslinya tidak ada, hasilnya disebut simulacrum, juga berkaitan dengan teori dialogis dari Bakhtin bahwa dari orang lain lewat dialog kita bisa memahami sesuatu, bahkan sesuatu yang tersembunyi bisa tersingkap.

Teori feminis dipelopori Virginia Woolf dan Simone de Beuvoir, fase pertama berarti emansipasi yakni perjuangan hak, kedua fase gender yakni perjuangan dalam kaitannya dengan degradsi perempuan sebagai akibat struktur sosio kultural. Teori feminis banyak memperjuangkan gender dalam karakterisasi tokoh-tokohnya dalam sastra.

Teori postkolonial memegang peranan dalam menghilangkan oposisi biner antara barat timur, juga menyingkap belang orientalis yang mengandung ideologi barat, dan menghancurkan mitologi ciptaan barat bahwa timur lemah, inferior, lebih percaya takhayul dan terlalu religius.

Dekonstruksi bisa diartikan pengurangan atau penurunan intensitas bentuk yang sudah tersusun, sebagai bentuk yang sudah baku, dalam teori kontemporer diartikan penghancuran, perlucutan pembongkaran, penolakan dan berbagai istilah dalam kaitannnya dengan penyempurnaan arti semula. Menurut Kristiva dekonstruksi merupaka gabungan antara hakikat destruktif dan konstruktif. Ketidakpastian makna dijelaskan Derrida dalam differ Ence/differ Ance yang berarti membedakan (dengan konotasi spasial) dan menunda (dengan konotasi temporal). Secara genealogis segala sesuatu adalah mungkin. Masa krisis adalah masa untuk membangun kembali menurut Gramsci, maka dekonstruksi harus diikuti dengan konstruksi, sekaligus menggantikannya dengan cara-cara yang baru sehingga memperoleh temuan-temuan yang baru.

Tiada Batas Fiksi dan Fakta

Selama ini timbul kesalahpahamanan menyangkut dikotomi fiksi dan fakta sebagaimana kesalahpahaman yang ditimbulkan akibat doktrin Barat bahwa mereka lebih segalanya dari Timur. Untuk mengatasi kesalahpahaman ini, maka perlu kita pahami lewat teori dekonstruksi Derridean, dekonstruksi menghancurkan sekat fiksi dan fakta dengan mendekonstruksi superioritas fakta sebab tidak ada fakta yang sesungguhnya artinya validitas fakta tergantung dari sudut mana melihatnya dan siapa yang melihatnya, berarti fakta bersifat subjektif, dalam sastra fakta dilihat dari sebagaimana penglihatan narator bukan kreator, sebab narator yang menghasilkan keberagaman aspek-aspek kultural, bukan pengarang secara faktual. Bolehlah pengarang disebut sebagai kreator yang mampu menghasilkan karya yang mempuni, tapi proses pemaknaan terhadap karya tergantung para pembaca, yang dalam hal ini terbagi dalam pembaca sezaman dan sepanjang zaman. Lewat proses perubahan waktu, ruang, kultur, dan pemahaman baru, makna karya yang semula dimaksudakan pengarang bisa berbedayang dipahami pembaca, disinilah pergeseran pembaca sebagai narator memegang peranan penting, tentu yang dimaksud adalah pembaca kritis, yang melakukan telaah ulang pada bacaan sekaligus menulis ulang karya baru sebagai hasil analisanya.

Dekonstruksi memberi pemahaman baru tentang Kebenaran (K besar), tak ada Kebenaran yang ada kebenaran-kebenaran, kebenaran hanya tersisa sebagai jejak sebab sudah ada kebenaran lain di belakangnya, demikian seterusnya. Fakta dianggap sebagai Kebenaran karena merujuk pada kenyataan yang sesungguhnya, sedang fiksi dianggap kebenaran (dengan k kecil) sebab merujuk pada kebenaran yang mungkin terjadi. Melalui kritik sastra, lantas sastra yang semula hanya dianggap fiksi semata lantas ditelanjangi, diteliti, dianalisa, dan dipahami sehingga kenyataan yang mungkin terjadi ternyata menjadi kenyataan yang sesungguhnya. Ini berkat jasa postrukturalis dan postmodernisme, yang dimanfaatkan studi kultural untuk meneliti karya sastra.

Kenyataan didekonstruksi sebagai bukan semata-mata legitimasi sejarah, sedang rekaan sebagai semata-mata legitimasi sastra, sebab kenyataan dalam sejarah adalah kenyataan yang dipilih sejarawan sebagai kajiannya, sehingga kenyataan tidak dibiarkan berbicara apa adanya. Jadi kenyataan dalam sejarah bersifat subjektif tergantung pada sejarawan yang menulis dalam memilih kenyataan-kenyataan yang ditulisnya. Di sisi lain sastra yang dianggap rekaaan semata-mata, juga mampu melakukan yang sama dengan sejarah dalam mengungkapkan kenyataan, seperti cerita Diponegoro dipuisikan oleh Khairil Anwar dengan muatan yang sama, bahkan kelebihan sastra bisa menceritakan masa yang akan datang, jadi lebih bersifat filosofis.

Dalam menghasilkan sebuah karya sastra; cerpen, drama, dan novel, pengarang memang mengembangkan kemampuan individual, namun dalam mengembangkan karakterisasi tokoh-tokoh, disesuaikan dengan yang ada dalam masyarakat, ini berarti bersifat transindividual. Karya sastra besar seperti Para Priyayi Umar Kayyam, Godlob Danarto dan Saman Ayu Utami, adalah karya-karya yang tetap berpijak pada masyarakat dimana mereka tinggal. Ini mengindikasikan bahwa karya sastra sebagai refleksi dari masyarakat yang melahirkannya. Sudah sewajarnya bila karya sastra tetap berpijak kepada kenyataan.

Memang karya sastra memanfaatkan imajinasi dan kreatifitas dengan perangkat bahasa konotatif, yang merupakan hakikat dari karya. Kebenaran-kebenaran yang dihasilkan secara keseluruhan berasal dari hakikat itu, sebagaimana kebenaran agama dengn keyakinan dan kebenaran pengetahuan dengan penemuan ilmiah. Imajinasi dalam menghasilkan suatu karya tetap berpijak kepada kenyataan yakni kenyataan yang mungkin terjadi. Jadi hakekatnya karya sastra tetap berpijak pada kenyataan. Misalnya cerpen dengan tokoh tanpa kepala, ini sebagai ilustrasi bahwa para pemimpin dalam memimpin rakyatnya tidak menggunakan otak lagi, jadi kepala diidentifikasi sebagai kebijaksanaan. Peranan karya sastra dalam studi kebudayaan, khususnya dalam mengungkap aspek-aspek kebudayaan tidak jauh berbeda dengan disiplin ilmu lain; sosiologi, arkeologi, sejarah, psikologi, dan ilmu bahasa. Relevansi masing-masing tergantung dari tujuan penelitian, obyek yang dikaji, teori dan metode yang digunakan.

Hubungan antara studi kultural, sosiologi dan antropologi sebagai berikut; hubungannya dengan sosiologi saling tumpang tindih karena mempermasalahkan manusia dalam masyarakat, perbedaaannya genesis masyarakat dalam sosiologi sastra adalah sosiologi, sedang genesis masyarakat dalam studi kultural adalah antropologi, sosialogi condong pada masyarakat modern, perkotaan, masyarakat industri, sedang antropologi condong pada mayarakat primitif, masyarakat sederhana, dan kesukuan. Sosiologi masuk ilmu sosial, sedang antropologi pada ilmu humaniora. Semua perbedaan ini berusaha dieliminil oleh studi kultural Ingris dengan seolah-olah menggabungkan antara keduanya sosiologi dan antropologi. Obyek penelitian meliputi; komponen ideal (intelektual dan nilai-nilai kreatif), komponen sosial (konstitusi dan pola-pola prilaku) dan kompenen material (benda-benda artefak yang dihasilkan kebudayaan) dengan menghilangkan sekat pemisah antardisiplin. Sedang dalam sastra dan kebudayaan tidak dibedakan antara sastra tinggi dan kelas dua, budaya tinggi dan budata populer. Segala aktivitas adalah teks sehingga bisa dikaji dan dianalisis sebagaimana membaca teks. Jadi studi kultural berhasil menjalin kembali hubungan antara kebudayaan tinggi dengan kebudayaan populer yang selama ini dilihat secara dikotomis.

Wonosari, 28 Januari 2006

Membudayakan Kesadaran Personal

Ahmad Zamhari Hasan*

Kehidupan manusia masa kini semakin tak menentu, perkembangan teknologi di luar kendali sang pembuatnya, informasi yang awalnya menjadi alat kini berubah menjadi tujuan, semakin kaburnya perbedaan antara; subyek dengan obyek, fakta dengan fiksi, realitas dengan simulasi, krisis global dan nasional yang datang silih berganti, nilai-nilai moralitas yang tak lagi diacuhkan, gaya hidup yang memuakkan, manusia yang tak lagi mampu memahami dirinya, agama dijadikan simbol bukan pegangan hidup, dan banyak masalah lainnya yang menghantam semesta, bumi dan manusia.

Dalam konteks umat Islam, ini diperparah dengan kalangan yang disebut Ulama’, tokoh masyarakat, Habib, Kiai, dan pemuka adat berlomba-lomba “hidup” dalam gaya baru dengan barometer utamanya adalah materi dan uang, sehingga umat Islam seperti kehilangan induknya. Mereka seperti anak-anak ayam yang dibiarkan berjalan sendiri tak tentu arah, tujuan dan tanpa rencana, sehingga yang tampak di hadapan adalah rasa frustasi, stres, mental krupuk, mudah menyerah, lemah, pemalas, hidup dengan cara mudah, menghalalkan segala cara, Islam sekedar jadi pajangan di KTP, simbol-simbol Islam dari permukaan kuat padahal rapuh, dan terdera penyakit “nasib” bahwa keadaan yang demikian tidak bisa dirubah.

Realitas inilah yang mendorong saya menawarkan paradigma Kesadaran Personal sebagai alternatif kehidupan pada umat Islam di masa mendatang. Bagaimana bentuk dari paradigma ini? Bisakah paradigma ini menjawab tantangan zaman? Apa yang semestinya dilakukan generasi Muslim? Semua jawaban dari pertanyaan tersebut akan dijawab dalam uraian berikut.

Politik Adalah Kesalah Masa Lalu

Sejarah selalu menawarkan pengalaman-pengalaman yang hampir serupa, sayangnya umat Islam tidak pernah mampu belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalunya. Anehnya mereka seperti “senang” terpuruk pada kesalahan yang sama berulang kali, padahal agama mereka mengajarkan untuk menjadikan kesalahan sebagai sarana memperbaiki diri dan tidak terjebak dalam kesalahan yang sama. Salah satu kesalahan terbesar umat Islam adalah kesalahan politik.

Tiada catatan yang lebih mengagumkan dari cara umat Islam Indonesia berjuang untuk memperoleh kemerdekaan, bahu membahu dalam kehidupan tidak menentu orde lama, menjadi orang pinggiran di era orde baru, burusaha eksis dalam era reformasi sekarang, namun intinya sama yakni mereka menjadi permainan politik. Islam bukan dijadikan tujuan politik melainkan alat politik. Perlu diingat bahwa Islam dijadikan tujuan dalam politik tidak mesti sama dengan pendirian negara Islam, yang dalam konteks Indonesia, menurut saya kurang relevan lagi.

Pada masa lalu, bagaimana partai-partai Islam yang jaya di masa Sarikat Islam dan Masyumi, namun sayangnya keduanya hancur dilindas sejarah karena permainan politik Soekarno. Pada masa orde baru diwakili PPP yang lagi-lagi sebenarnya menjadi kaki tangan Soeharto daripada membela kepentingan umat Islam. Pada era reformasi muncul partai-partai Islam PKS, PBB, PNU, dan partai nasionalis yang hakikatnya partai Islam juga PAN, PBR, dan PKB. Namun lagi-lagi kesalahan masa lalu diulang yakni Islam dijadikan alat politik, tokoh-tokoh partai ramai-ramai memperkaya diri tanpa mempedulikan umatnya, konflik internal lebih utama dariprogram partai, pemilihan ketua lebih penting dari pemberdayaan umat. Meskipun secara permukaan partai-partai Islam kuat, hakikatnya mereka kropos, kurang profesional, manajemen organisasi partai yang buruk, dan kelemahan lainnya memungkinkan umat Islam untuk menoleh pada Partai Demokrat, Golkar, dan PDIP. Sehingga kesimpulan akhirnya adalah umat Islam dalam politik seperti pion-pion dalam permainan catur, mereka tak berkutik dibawah kendali orang-orang kuat di belakangnya; menteri, luncur, gajah, kuda, dan raja.

Keadaan ini menuntut umat Islam untuk tidak mengulang kesalahan yang sama dulu, sebelum melangkah lebih jauh. Artinya diperlukan “tobat politik” dari berbagai lapisan masyarakat, mulai lapisan elit politik, kelas menengah dan masyarakat bawah. Mereka bertobat untuk tidak menjadikan Islam sebagai alat politik. Tokoh-tokoh elit politik memberikan contoh cara berpolitik yang santun, beradab dan sesuai dengan nilai-nilai Islam. Cara-cara menarik massa dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan Sunnah untuk memilih partai tertentu, mulai dihilangkan. Umat Islam harus lebih cerdas dalam menyikapi program realistis setiap partai yang menawarkan kehidupan yang lebih baik pada mereka. Mereka perlu berkontemplasi, berpikir lama, dan jika perlu beristikhoroh untuk memilih partai yang benar. Partai-partai yang mengklaim partai Islam namun tidak tanduknnya tidak mencerminkan nilai-nilai Islam, partai-partai yang sekedar memanfaatkan simbol-simbol Islam, dan partai-partai yang mementingkan diri sendiri dari umat Islam harus, dihindari untuk dipilih. Hati nurani dijadikan barometer pemilihan suatu partai atau pemimpin bangsa di masa depan.

Langkah “tobat politik” dilanjutkan dengan membentuk kesadaran personal di bidang politik. Artinya umat Islam dituntut memiliki kesadaran yang utuh terhadap Islam, mereka memahami inti ajaran Islam, melaksanakan ibadah spritual dan sosial secara bersamaan, dan menjadikan Islam sebagai pegangan hidup, bukan yang lain. Jikapun mereka terlibat dalam suatu partai tertentu, tetap Islam yang dijadikan sandaran utama. Politik dijadikan alat untuk memperjuangkan nilai-nilai Islam.

Nilai-nilai luhur Islam di bidang politik berusaha digali, dianalisa, dicerna, diperhatikan untuk kemudian ditanamkan dalam diri sendiri, sehingga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai Islam seperti; kejujuran, ikhlas, kesabaran, amal sholeh, cerdas secara emosional, intelektual dan spritual, istiqomah atau konsisten, kerja keras, tawakkal, dan ihsan bisa diterapkan dalam sendi-sendi politik umat Islam. Memang ini sulit dan butuh proses waktu yang lama, namun bila tidak dimulai dari detik ini juga, maka kembali umat Islam akan terpuruk pada kesalahan yang sama, mereka akan menjadi orang-orang pinggiran terus menerus.

Pemberdayaan Ekonomi Umat Islam

Disibukkan dengan masalah-masalah politik membuat umat Islam juga menjadi orang-orang pinggiran di bidang ekonomi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sebagian besar aset ekonomi Indonesia “dikuasai” sebagian “kelompok” kecil masyarakat yang nota bene bukan umat Islam. Umat Islam malah hanya bisa memperebutkan “kue” ekonomi yang kecil dimanfaatkan sebagian besar masyarakat. Bisa ditebak, mereka terpuruk sekedar menjadi buruh, pekerja, karyawan, orang suruhan, pedagang eceran, pedagang asongan dan pedagang kaki lima.

Tulisan ini bukan mempertebal rasa iri, dengki, hasud dan anarkis terhadap “kelompok kecil” yang menguasai aset ekonomi, melainkan adalah membuka cara pandang umat Islam agar mau bekerja keras, gigih pantang menyerah, kreatif, cerdas, tekun, sabar, dan tak kenal rasa putus asa dalam mengelola usaha di bidang perekenomian sesuai bidang usaha masing-masing.

Para sarjana Muslim yang “terbiasa” berpikir bekerja di perusahaan besar, merubah cara berpikirnya agar mau mengelola usaha kecil dari nol, lalu mengembangkan perlahan-lahan, sehingga menjadi besar. Sulitnya lapangan pekerjaan adalah tantangan yang tepat untuk mengkreasikan diri, itu jika mereka tertantang sebagai muslim sejati. Bahkan, mereka dituntut keadaan untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru di dunia wiraswasta.

Inilah perlunya penanaman jiwa wiraswasta yakni membentuk mental untuk berusaha sendiri dengan memanfaatkan peluang sekecil apapun, dengan modal apa adanya, mengerahkan segenap potensi; pikiran, perasaan, tenaga, dan hati nurani, dalam mengelola usaha, menjadikan setiap tantangan sebagai sarana meningkatkan kemampuan diri, melakukan pencatatan dan evaluasi secara berkala, berupaya mengembangkan usaha, dan bertawakkal pada Allah. Inilah hakikat wiraswasta muslim sejati.

Orang-orangMuslim di berbagai perusahaan, menjadikan pekerjaan di sana sebagai langkah awal untuk belajar segala sesuatu dalam mengelola suatu perusahaan, sehingga di kemudian hari, mereka mengkreasikan diri untuk mendirikan perusahaan kecil, mengelola secara profesional, menerapkan prinsip-prinsip usaha yang benar, dan memasarkan produk dengan cara-cara baru yang markettible, sehingga bisa dikembangkan menjadi perusahan menengah, syukur-syukur berkembang menjadi perusahaan kelas atas.

Para buruh atau pekerja di suatu tempat usaha orang lain, berusaha hidup hemat untuk mengumpulkan modal usaha sedikit demi sedikit, ketika dianggap cukup memberanikan diri untuk mengelola usaha sendiri yang dikelola dengan lebih baik karena telah mengetahui kelebihan, kelemahan, pelayanan, dan cara mengelola usaha dari pekerjaan sebelumnya.

Umat Islam yang menjadi pedagang kecil, kaki lima dan eceran, berupaya sekuat tenaga agar mampu bertahan dalam keadaan yang semakin sulit ini, hidup sederhana agar bisa memiliki simpanan uang untuk digunakan pada waktu yang tepat, bekerja keras dengan gigih walau daya beli masyarakat menurun, jangan pernah memarahi pembeli untuk alasan apapun, meningkatkan mutu pelayanan yang terbaik, menawarkan harga yang kompetitif, rajin bersedekah pada para pengemis, pengamen dan anak jalanan agar harta menjadi penuh barokah, dan bertawakkal pada Allah dengan cara rajin shalat lima waktu, berdzikir dari mulut dan hati, mengaji Al-Qur’an (jika bisa mengkajinya) shalat Tahajjud dan shalat Dhuha, insya Allah usaha yang dikelola akan meningkat dan bertambah besar. Saya pribadi telah membuktikan tesis ini sendiri.

Inilah makna dari kesadaran personal di bidang ekonomi, umat Islam harus berupaya mengelola usaha sesuai nilai-nilai Islam yang sebenarnya tidak kaku, praktis, mudah, dan malah bila dilaksanakan dengan sungguh-sungguh justru menjadi salah satu sarana untuk sukses. Penerapan nilai-nilai Islam di bidang ekonomi dimulai dari hal yang mudah dan sederhana; menyediakan uang receh untuk pengemis atau pengamen, memberikan kepuasan pada pembeli dengan pelayanan yang baik, membaca buku, membersihkan dagangan, memperbaiki etalase toko, memikirkan langkah ke depan, memperhitungkan pengeluatan dan pemasukan dengan mencatat seluruh barang minimal sebulan sekali, atau berdzikir pada Allah sambil menunggu pembeli, bersyukur apapun yang diperoleh baik besar maupun kecil, dan bertawakkal dalam makna yang benar. Konsekwensinya, mereka akan mampu melakukan ibadah spritual dengan benar, mampu beribadah di bidang ekonomi yang benar, sehingga keberhasilan usaha tinggal menunggu momentum yang tepat.

Dalam upaya menerapkan nilai-nilai Islam di bidang ekonomi, saya telah membuat buku dengan judul Kiat-Kiat Sukses MenjadiPedagang yang Agamis, Dari Pedagang Kecil Menjadi Pengusaha Elit, yang bisa dimanfaatkan umat Islam.

Memperbaiki Kehidupan Sosial Umat Islam.

Kehidupan sosial umat Islam dimana-mana cendrung mengarah pada penjauhan dari nilai-nilai Islam. Memang di beberapa kota besar seperti Jakarta dan Bandung Semarang, dan Yogyakarta ada fenomena penguatan simbol-simbol Islam seperti semakin banyaknya orang yang memakai jilbab, masjid penuh jamaah dari berbagai kalangan, pengajian atau majlis taklim semakin subur, jamaah dzikir penuh sesak, namun ini baru kelihatan dari simbol-simbol, sementara penyebaran nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, masih jauh harapan dari kenyataan. Iindikasi-indikasi ini tampak di kota-kota yang mana umat Islam “maju selangkah” di banding yang lain. Bagimana dengan kota-kota lain di luar yang disebutkan di atas?

Bisa ditebak, jika di kota-kota utama hanya tampak dari permukaan atau simbol (meskipun ini sudah lumayan baik dari tidak sama sekali), maka di kota-kota lain terjadi erosi nilai-nilai agama, krisis ekonomi yang memburuk membuat banyak masyarakat yang mudah putus asa, terjebak kriminalitas, dan menghalalkan segala cara agar bisa menghidupi diri, generasi muda terjebak dalam seks bebas, narkoba, dan kehilangan identitas diri, ibadah shalat cukup pada hari Jum’at, malah banyak yang meninggalkan sama sekali. Fenomena ini juga terjadi di berbagai daerah, sebab “Tokoh-Tokoh Islam” ramai-ramai tergiur untuk terjun di bidang politik dan sibuk mencari materi dari mengurus umatnya, efeknya masyarakat berjalan dengan nilai-nilainya sendiri tanpa arah dan tujuan.

Melihat realitas ini, umat Islam perlu menanamkan kesadaran personal di bidang sosial ini. Mereka secara sendiri-sendiri dituntut mampu belajar dari segala hal di sekitar seperti makna di balik tsunami Aceh, banjir bandang yang terjadi diberbagai daerah, banjir tiap musim hujan, musibah Merapi di Yogyakarta atau Jawa Tengah, krisis ekonomi tanpa kunjung akhir, musibah flu burung, kekeringan, busung lapar dan kesulitan-kesulitan lainnya. Saya memiliki kesimpulan sederhana bahwa semua musibah tersebut adalah ujian bagi umat Islam agar mereka kembali kepada agama mereka yakni Islam.

Umat Islam mulai tahun 1998 sampai sekarang diberi ujian yang bermacam-macam, banyak, kompleks, dan datang silih berganti agar umat Islam secara mental punya kesiapan menghadapi segala kondisi, kesipan mental ditumbuhkan dengan kesadaran pada pelaksanaan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari secara sukarela bukan paksaan. Ketika umat Islam menunaikan shalat lima waktu dengan kemauan sendiri bukan sekedar kewajiban, membantu umat Islam lain yang dalam kesusahan, rajin bersedekah sesuai kemampuan diri, dan berusaha shalat Dhuha dan Tahajjud, maka makna ujian dari semua musibah telah dipahami umat Islam. Namun jika sebaliknya, mereka saya yakin akan diuji terus menerus oleh Allah, naudzubillah mindzalik.

Kesadaran personal di bidang sosial membimbing umat Islam untuk melakukan hubungan sosial yang baik dengan berbagai pihak di sekitarnya; tetangga, teman, para pesaing, sesama Muslim, orang non muslim, dan seluruh masyarakat dari berbagai lapisan, sehingga perlahan-lahan nilai-nilai Islam di bidang sosial tumbuh dengan sendirinya. Ini bisa menjadi cara yang efektif untuk menyebarkan nilai-nilai Islam di bidang sosial di dalam kehidupan masyarakat.

Kebangkitan simbol-simbol Islam disinergikan dengan kesadaran personal yang kuat, sehingga secara individu umat Islam menjadi bertambah kuat keislamannya, bertambahkokoh keimananannya, dan bisa menerapkan konsep ihsan dalam kehidupan sehari-hari. Ihsan dalam makna umat Islam yang berupaya melapangkan dada guna membuka pintu maaf untuk siapa saja, menanamkan kesabaran dari dalam diri sampai menjadi milik, melakukan amal sholeh, dan menjadikan setiap tingkah laku senantiasa dalam pengawasan Allah, konsekwensinya diri bisa menjauhkan dari sesuatu jahat, merusak, korupsi, tercela dan menyakiti orang lain. Semua hal yang negatif berusaha dihindari semaksimal mungkin, meskipun sebagai manusia biasa mungkin akan terjebak dalam kesalahan.

Membentuk Budaya Islam yang Kokoh

Kemajuan yang dicapai berbagai bangsa di dunia, mulai AS, Eropa, Jepang dan China adalah contoh kongkrit bangsa-bangsa yang berpegang teguh pada budayanya masing-masing, sehingga mereka berhasil di berbagai bidang. AS dan Eropa dengan budaya pop atau intelektualnya, Jepang dengan budaya sendiri yang khas seperti cara berpakaian, menyambut tamu, mentalitas diri yang kuat, China dengan budaya kunonya yang sangat kokoh dan dipegang teguh sampai sekarang. Bagaimana dengan umat Islam di Indonesia?

Umat Islam terlena dalam “buaian” media-media yang mengarahkan mereka untuk bertingkah laku seperti orang-orang Barat; gaya hidup trendi, konsumtif, hidup untuk kesenangan, citra diri lebih penting dari kepribadian, menjadikan kekayaan sebagai tujuan hidup, memfungsikan diri seperti robot atau mesin, dan prilaku lainnya. Karena hanya meniru-niru saja, maka wajar budaya asli Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim menjadi kabur, kehilangan identitas, dan tak mampu beradaptasi dengan zaman yang semakin tak menentu ini.

Tiada jalan lain untuk keluar dari krisis budaya selain umat Islam menumbuhkan kesadaran personal di bidang budaya. Artinya mereka mulai menggali nilai-nilai Islam yang kontekstual dengan kondisi dan situasi masyarakat Indonesia, lalu secara perlahan-lahan mulai menumbuhkan dalam kesadaran diri bahwa nilai-nilai tersebut akan dijadikan budaya alternatif bagi tatanan kehidupan umat Islam secara khusus, dan akternatif bagi tatanan kehidupan dunia yang kini dalam proses penghancuran.

Ini dimulai dari hal-hal yang sepele, misalnya orang Indonesia terkenal ramah, sikap ramah ini jangan hanya dipermukaan, tapi dilakukan secara tulus dari dalam hati nurani sehingga tidak sekedar membahagiakan turis, melainkan membahagiakan seluruh umat manusia. Tamu dalam Islam harus disambut dengan baik, maka mereka berusaha menjamu tamunya dengan kemampuan yang dimiliki. Silaturrahmi atau saling kunjung mengunjungi antara sesama umat Islam dijadikan kebiasaan, sehingga bisa saling bantu dan tolong. Memberi maaf pada orang lain, orang yang diberi maaf berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Membantu tetangga atau orang miskin di sekitar sesuai kemampuan diri, sehingga kecemburuan sosial bisa dihindari. Mental mudah menyerah dan mencari cara mudah dalam berusaha diganti dengan mental baja dan kerja keras yang dilatih terus menerus dalam kehidupan sehari-hari. Sikap pasrah atau “nrimo” dalam bahasa Jawa yang salah kaprah harus diubah dengan tawakkal yang benar, berusaha dulu secara maksimal baru memasrahkan hasil usaha pada Allah, ini cara pasrah yang benar.

Nilai-nilai luhur di atas, berusaha disatukan lewat kesadaran personal di bidang budaya, lalu diperkuat dengan kesadaran bersama sehingga menjadi kebiasaan masyarakat secara umum atau tradisi, itu akan membentuk menjadi sikap budaya masyarakat Indonesia yang baru. Berbekal semua itu, umat Islam Indonesia akan memiliki budaya yang digali dari nilai-nilai Islam disesuaikan dengan konteks masyarakat Indonesia, yang insya Allah akan mampu bertahan terhadap hantaman budaya manapun. Bukankah budaya Islam pernah mampu memimpin dunia ketika Barat sedang dalam kebodohan?

Kesimpulan

Menumbuhkan kesadaran personal di bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya dilakukan secara perlahan-lahan, diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari, dilatih terus menerus, dievaluasi secara personal atau bersama, dicari nilai-niali baru yang lebih baik, dan dijadikan kebiasaan hidup. Memang tidak ada yang mudah dalam hidup, tapi itu bukan halangan untuk mencoba melakukannya, bukan rintangan untuk bisa dilaksanakan dalam kehidupan. Justru karena sulit, kita akan mendapatkan kebahagiaan tersendiri manakala mampu melaksanakannya.

Kesadaran personal di bidang politik, membuat umat Islam mampu memilih pemimpin politik yang tepat dan benar, menimbulkan stabilitas politik dan rasa aman, kesadaran personal di bidang ekonomi menjadikan umat Islam mampu meningkatkan tarf hidup, meningkatkan usaha yang dikelola, dan menjalani kehidupan dengan bahagia, kesadaran personal di bidang sosial membentuk tatanan kehidupan yang harmonis, saling menguntungkan dan membahagiakan, kesadaran personal di bidang budaya akan memperkuat sendi-sendi kehidupan umat Islam, memperkokoh sikap hidup, dan menjadikan umat Islam memiliki identitas diri yang bisa menjawab tantangan zaman.

Melaksanakan semua itu butuh proses waktu, kerja keras, kegigihan, kesabaran, mental baja, semangat, keinginan yang kuat, dan tawakkal pada Allah, sehingga apa yang dilakukan umat Islam seiring dengan ridha Allah atau iradah Allah. Dengan semua itu, maka kebangkitan Islam di Indonesia dalam makna hakiki, insya Allah tidak akan lama lagi. Amien ya robbal ‘alamien!

LOGOS VS MITOS

Pertarungan Sepanjang Zaman*

Ahmad Zamhari Hasan

Memahami Gerakan Kiri Baru di AS

Ciri-ciri Radikal gerakan kiri baru di AS: Pertama; Ingin mengubah sistem universitas yang dalam pandangan mereka terkait dengan sistem kapitalis modern yang manipulati, mereka melakukan protes pada dosen liberal, koran liberal dan kegiatan lain yang berbau style borjuise. Kedua; pembebasan rakyat kecil yang menjadi korban struktur sosial yang tidak adil, terutama radikal negro. Ketiga; usaha-usaha mengadakan proyek aksi demi gerakan universal bagi kaum miskin tanpa melihat perbedaan ras. Keempat; kontra perang Indocina/vietnam. Kelima; gerakan-gerakan bawah tanah untuk mewujudkan masyarakat alternatif dengan menghapus struktur masyarakat kapitalis yang ada.

Cita-cita mereka terwujud melalui pemenuhan lima kriteria; melakukan aktifitas revolusionir guna bersikap kritis terhadap definisi-definisi dan norma-norma terselubung yang diberikan penguasa dan kelasnya, kedua; menempatkan kelompok revolusionir pada masyarakat yang hendak dilawan, ketiga; berkonfrontasi dengan sistem nilai yang berlaku dengan terus mencari kontradiksi-kontradiksinya dalam praktek, keempat; menawarkan pengalaman hidup alternatif baik secara secara sosial maupun individual, kelima; harus mengkongretkan pandangan-pandangan teoritis dan pengalaman-pengalaman alternatif mereka dalam pranata-pranata baru dan proyek-proyek baru sebagai kontra yang sudah ada.

Sargent mengidentifkasikan gerakan-gerakan kiri baru tahun 70 an dalam tujuh ciri; basis nilai pertama praksis dan aksi, perjuangan aksi lebih didahulukan dari teoritis atau sekedar diskusi dan memperdebatkan teori, mereka anti intelektualisme, anti saintisisme dan anti modernisasi, basis nilai kedua; jati diri sebagai perlawan pada sistem nilai modern yang mengasingkan individu, basis nilai ketiga; mereka ingin membentuk komunitas baru sebagai alternatif dari kecendrungan masyarakat kapitalis yang borjuis, basis nilai keempat; persamaan, suatu nilai yang berhubungan dengan gerakan-gerakan untuk mendapatkan hak-hak sipil yang adil, basis nilai kelima; kebebasan sebagai kontra sistem kapitalis yang mengkerdilkan individu, basis nilai keenam; demokrasi partisipatoris; dalam pengambil keputusan melibatkan kelompok-kelompok kecil yang berkepentingan agar mereka dapat memberikan suaranya, ketujuh revolusi; ada revolusi tanpa kekerasan, tapi ada yang dengan kekerasan.

Kegagalan gerakan kiri baru di AS karena bertabrakannya beberapa nilai yang mereka perjuangkan, seperti persamaan kontradiksi dengan kebebasan, nilai-nilai demokrasi parsipatoris tidak bisa diterapkan dalam kenyataan, dan revolusi dengan menghancurkan sluruh tatanan yang ada adalah mustahil, serta kekerasan yang dilakukan dalam revolusi menyebabkan masyarakat menjadi anti terhadap gerakan mereka.

Kritik Habernas Terhadap Postmodern

Kelemahan-kelemahan pemikiran postmodern menurut Habernas; pertama; modernisasi disamakan dengan akumulasi modal, teknologisasi, birokratisasi, sekularisasi dan seterusnya, padahalsemua itu hanya instrumental dari akal sehat Barat.

Kedua; para pemikir postmodern menggunakan pemahaman ahistoris dan netral atas konsep modernitas, mereka menjadi pengamat yang seakan-akan bisa meninggalkan cakrawala sejarah dengan menjadi postmodern.

Ketiga; Neitsche dan para ahli warisnya mengalami kesulitan untuk meninggalkan modernitas dan kesadaran historisnya, kalau tidak masuk dalam mistik atau daya estetis, mereka terperangkap dalam kritik total yang menikam dirinya sendiri.

Dua strategi postmodern sebagai ahli waris Nietsche; Battile dan Foucolt masuk ke dalam strategi pembukaan kedok kehendak untuk berkuasa, sedangkan Heidiger dan Derrida masuk dalam kritik terhadap metafisika. Heidiger menghajar modernitas dengan sejarah Ada, alam pemikiran sebuah masyarakat dan kebudayaan ditentukan oleh sebuah prapaham kolektif mengenai peristiwa dan realitas, semua konsep tentang materi, roh, rasio adalah cara tafsir dari kenyataan yang dibawa rasionalisme Barat, masyarakat Barat melupakan perbedaan antara Ada (Sein) yaitu kenyataan absolut dan adaan (seinde) yaitu kenyataan yang keberadaannya dimungkinkan oleh Ada, akibatnya Ada selalu cendrung diasalkan pada adaan-adaan, dan dalam modernitas yang dipandang sebagai Ada adalah subjektum, pikiran rasional manusia. Lantas Heidiger mengusulkan bahasa puisi dan bahasa psudo sakral yang memperjelas kesulitannya untuk meninggalkan modernitas, sayangnya Heidiger menolak kritik dengan bentuk pemikiran istimewa. Menurut Derrida teks selalu lepas dari penulisnya dan dapat ditafsirkan sampai tak terhinggaoleh pembaca manapun secara lepas konteks, tak ada teks rujukan, yang ada intertekstualitas, jadi teks dianggap hilang yang tersisa hanyalah bekas, pandangan ini menurut Habernas merupakan bahasa lain dari ungkapan Neitsche tak Kebenaran yang ada kebenaran-kebenaran, Derrida berhasil menelanjangi patologi modernitas. Battile dan Foucolt sepert Madzhab Frankrut masuk dalam kritik ideologi. Menurut Battile sejarah masyarakat kapitalis adalah penyeragaman, sejarah rasionalisasi adalah pendisiplinan, artinya unsur heterogen masyarakat dihomogenisasikan, dia mengusulkan untuk membangkitkan kembali kedaulatan manusia dengan menghapus kesadaran moral modern dan manusia menurut unsur-unsur heterogennya yang erotis sekaligus sakral yang melampaui rasio, sayangnya Battile meninggalkan rasio sama sekali. Sedang Foucolt melihat perkembangan ilmu-ilmu sosial modern erat kaitannya dengan pendisiplinan dan penyingkiran ketidakwarasan, praktek eksllusi penyakit mental lalu dianggap sebagai dominasi rasio modern, disini kehendak berkuasa barbaju lain kehendak untuk kebenaran. Menurutnya juga sejarah itu ilusi yang berpangkal pada ego dan subjek. Habernas respek pada Foucult karena keprihatinan sama dengan Teori Ktritisnya; positivisme adalah sebentuk kekuasan.

Pemikiran postmodernisme adalah simtom suatu krisis dalam sebuah paradigma rasio yang berpusat pada subjek, yaitu paradigma yang secara sempit dimutlakkan dalam proyek-proyek modernisasi selama ini.

Kritik terhadap pemikiran Habernas adalah pemikiran-pemikirannya terjebak dalam kecendrungan yang disebut fondasionalisme yakni pandangan bahwa pengetahuan kita memiliki fondasi yang bersifat objektif. Dalam karya Konowlegd and human interest pendirian fondalismenya secara eksplisit lewat penjelasannya bahwa pengetahuan bersifat kuasi-transedental sebagaimana diperlihatkan pada tiga kepentingan kognitif, sedang dalam The Theory of Communication Action, tindakan komunikatif bukan fondasilistis karena pendirian fondasionalitas secara tak langsung rentan untuk menjadi totaliter dan jatuh dalam objektifisme, sementara itu tanpa dasar kebenaran menjadi relatif dan jatuhlah anti-fondalisme dalam relativisme, disinilah kebimbangan Habernas terlihat.

Logos VS Mitos

Mitos dan logos adalah upaya manusia untuk mengatasi Khous atau kekacaubalauan, dan karena mansuia tidak tahan dengan hidup di dunia tanpa mendapat jawaban mengapanya kehidupan dan realitas. Mitos saudara tua, sedang logos yang datang kemudian, tampil lebih maju, menawarkan kosmos yang lebih leluasa didiami, mudah diterima dan dimenegerti.

Pertama; pada Yunani kuno tokoh protagonis adalah Parmedian “yang Ada itu ada, yang Tidak Ada tak mungkin ada” perjalanan Orphisme dari gelap ke terang adalah kemenangan protagis atas antagonisnya mazhab Pythagorean.

Kedua; pada masa modern protagonis bermetaformosa menjadi ilmu-ilmu alam (sains), sedang spekulasi metafisika teologis sebagai antagonisnya, buktinya kemajuan teknis pada abad 18. Janji pencerahan oleh Marquis de Condercet; penyebaran kekuatan-kekuatan rasional dalam masyarakat akan membawa sauatu kemajuan yang tidak sekedar berupa pertumbuhan ekonomi dan pembangunan material, namun terutama terwujudnya tujuan sejarah, yaitu kesempurnaan tak terbatas umat manusia juga bersifat etis, tapi adanya perang dunia, bom atom hirosima dan nagasaki, barbarisme Nazi, perang Teluk dan perang Bosnia, menghancurkan janji pencerahan. Sains memiliki empat asas etis universal; keyakinan adanya kebenaran objektif, keyakinan akan adanya metode-metode untuk mendekati kebenaran tersebut, keyakinan tentang kemungkinan dicapainya konsesus, dan keyakinan bahwa konsesus dicapai tanpa paksaan. Basis epistemologisnya adalah fenomenalisme yakni fondasi terakhir pengetahuan adalah pengalaman inderawi, maka segala sesuatu yang melampaui pengalaman adalah mustahil, berarti mengingkari metavisika, Allah, Hakikat dan Kebaikan.

Ketiga; setelah mengingkari dan menyingkirkan mitos dan profanisasi, sekularisasi, dan rasionalisasi agama, moralitas, metafisika, sains yang awalnya menjadi pembebas justru berubah perwatakannya seteleh serentetan kejadian yang menghancurkan alam dan manusia, sang logos yang dipuja, dibela dan diamini secara sukarela berubah menjadi mitos baru.

Keempat; para pemikir modernis berhasil menghancurkan mitos sampai ke akar-akarnya, dalam menghancurkan mitos mereka lakukan bersamaan dengan sama sekali meninggalkan modernitas, sayangnya logos baru ciptaan mereka menjadi kabur, dan pandangan-pandangan mereka sebagian menikam diri sendiri.

Kelima; Habernas berusaha membangkitkan logos dengan tetap berpijak pada pencerahan Barat yang dirintis oleh Hegel, dia berhasil menunjukkan bahwa logos yang berubah menjadi mitos yaitu karena mitos dipahami sebagai rasio instrumental yaitu kemampuan akal budi mengontrol proses-proses objektif melalui kerja, padahal logus juga bahasa dan komunikasi, maka juga merupakan rasio komunikatif yakni kemampuan akal budi untuk memahami maksud-maksud orang lain melalui hubungan timbal balik. Ilmu-ilmu sosial positifistis bermanfaat meneliti proses-proses sistemek kuasi objektif seperti sistem ekonomi dan birokrasi yang bekerja menurut rasio instrumental, sedang pendekatan untuk dunia sosio kultural menggunakan teori tindakan komunikatif yang digagas Habernas. Dia mengungkapkan patologi modernitas, berusaha memperbaikinya dengan tetap berpijak pada modernitas.

Apa yang bisa kita petik dari arena perdebatan antara Logos dan Mitos ini? Pertama; rasio manusia tidak bisa memahami segala sesuatu secara sempurna, kita ambil contoh Habernas yang secara brilian melakukan kritik terhadap postmodern dan menawakan wacana baru untuk memperbaiki modernisme, tapi ternyata pemikirannya yang dianggap sempurna masih dalam kebimbangan ketika dirinya dalam satu aspek terjebak dalam fondalistastis dan menolaknya, kedua; seberapa banyak kelemahan postmodern, kritiknya pada modernisme hakikatnya dibenarkan Habernas meski sebagian, ini menunjukkan bahwa modernisme yang juga dipaksakan pada negara berkembang seperti Indonesia harus dilihat secara kritis, tidak bisa diterima apa adanya, sebab kita akan mengalami keambrukan seperti yang terjadi di Barat sebagai Suhu modernisme, Ketiga; kita jangan terlalu fanatik pada sains atau teknologi atau penemuan ilmiah, sebab keberannya bersifat relatif tergantung ruang dan waktu, sikap fanatik inilah yang merubah logos menjadi mitos, keempat; konsep liberalisme yang diagungkan Barat dan dibawa ke Indonesia oleh kelompok Islam Liberal, ternyata di negara asalnya AS pernah berusaha dihancurkan oleh gerakan Kiri Baru meski gagal, kegagalan mereka bukan menunjukkan kebenaran liberalisme, melainkan banyak orang AS yang muak pada konsep liberalisme karena terbukti membimbing manusia menjauh dari agama dalam segala aspek kehidupan sehingga jumlah umat Islam di sana meningkat tajam, liberalisme ekonomi terbukti menyengsarakan negera berkembang dan miskin secara makro, secara mikro membuat yang kaya semakin kaya dan yang miskin termarginalisasikan, liberalisme budaya terbukti membuat masyarakat terjebak dalam seks bebas, berjiwa konsumtif, menjadikan hiasan seperti pakaian sebagai tujuan, dan melahirkan budaya pop, bagaimana mungkin kita mengikuti sesuatu yang terbukti keliru, menyesatkan dan membutakan diri kita?

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: